Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

OBSTRUKSI SALURAN NAPAS ATAS

Disusun oleh :
Amorrita Puspita Ratu
(1102013023)

Pembimbing :
dr. Yosita Rachman, Sp.THT-KL

Kepaniteraan Klinik Telinga Hidung Tenggorokan


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Bhayangkara tk.I R.S.Sukanto-Jakarta
Periode 7 Agustus - 8 September 2017
BAB I
PENDAHULUAN

Obstruksi jalan napas menyebabkan gejala sesak napas. Sesak napas


adalah kesukaran bernapas yang dirasakan oleh pasien sebagai suatu gejala subjektif.
Kelainan sesak napas dapat disebabkan oleh kelainan rongga dada,
kelainan paru, sumbatan saluran napas, kelainan vaskuler paru dan lain-lain. Sesak
napas di bidang THT terutama disebabkan oleh sumbatan saluran napas atas,
sumbatan bronkus secara mekanik disebabkan oleh gangguan ventilasi, dan drainase
sekret bronkus. Secara fisiologis, bronkus yang sangat erat hubungannya dengan
ventilasi dan drainase paru, daya pertahanan paru, tekanan intrapulmonal,
keseimbangan sirkulasi dan tekanan karbondioksida. Drainase paru secara normal,
bila terdapat infeksi traktus trakheobronkhial dilakukan dengan gerak silia, batuk
sehingga sekret yang terkumpul dapat dikeluarkan sebelum terjadi penyempitan
saluran napas.
Apapun yang mempengaruhi mekanisme fisiologis tersebut
menyebabkan terjadinya sumbatan bronkus. Faktor lain adalah silia yang tertutup oleh
edema mukosa dan sekret kental yang disebabkan oleh peradangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Sistem Saluran Nafas Atas

Gambar 1. Anatomi saluran nafas atas

a. Hidung

Di dalam hidung (nasus) terdapat organum olfactorium perifer. Fungsi


hidung dan cavitas nasi berhubungan dengan:
a. Fungsi penghidu
b. Pernafasan
c. Penyaringan debu
d. Pelembapan udara pernapasan
e. Penampungan sekret dari sinus paranasales dan ductus
nasolacrimalis
Bentuk luar hidung sangat bervariasi dalam hal ukuran dan bentuk,
terutama karena perbedaan pada tulang rawan hidung. Punggung hidung yang
meluas dari akar hidung di wajah ke puncaknya (ujung hidung). Hidung
meliputi bagian eksternal yang menonjol dari wajah dan bagian internal berupa
rongga hidung sebagai alat penyalur udara. Hidung bagian luar tertutup oleh
kulit dan disupport oleh sepasang tulang hidung.
Rongga hidung terdiri atas :
 Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi
 Dalam rongga hidung terdapat rambut yang berperan sebagai penapis
udara
 Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar
karena 94 strukturnya yang berlapis
 Sel silia yang berperan untuk mlemparkan benda asing ke luar dalam
usaha untuk membersihkan jalan napas.

Gambar 2 Rongga hidung

Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan


menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang
disebut septum. Masing-masing rongga hidung dibagi menjadi 3 saluran oleh
penonjolan turbinasi atau konka dari dinding lateral. Rongga hidung dilapisi
dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang
disebut mukosa hidung. Lendir di sekresi secara terus-menerus oleh sel-sel
goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke
nasofaring oleh gerakan silia.
Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke
bagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi
atas 2 bagian, yakni secara longitudinal oleh septum hidung dan secara
transversal oleh konka superior, medialis, dan inferior.
Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-
paru. Jalan napas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan
serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru. Hidung
bertanggung jawab terhadap olfaktori atau penghidu karena reseptor olfaksi
terletak dalam mukosa hidung. Fungsi ini berkurang sejalan dengan
pertambahan usia.

 Vaskularisasi dan Persarafan


Pendarahan dinding medial dan lateral cavitas nasi terjadi melalui
cabang arteria spheno palatina, arteria ethmoidalis anterior dan arteria
ethmoidalis posterior, arteri palatina mayor, arteri labialis superior, dan rami
lateralis arteria facialis. Plexus venosus menyalurkan darah kembali ke dalam
vena sphenopalatina, vena facialis, dan vena ophtalmica.
Persarafan bagian dua pertiga inferior membran mukosa hidung
terutama terjadi melalui nervus nasopalatinus, cabang nervus cranialis V2.
Bagian anterior dipersarafi oleh nervus ethmoidalis anteior, cabang nervus
nasociliaris yang merupakan cabang nervus cranialis V1. Dinding lateral cavitas
nasi memperoleh persarafan melalui rami nasales maxilaris (nervus cranialis
V2), nervus palatinus major, dan nervus ethmoidalis anterior.
 Fungsi Rongga Hidung
Terdapat 3 fungsi Rongga Hidung, antara lain :
a. Dalam hal pernafasan, udara yang diinspirasi melalui rongga hidung akan
menjalani tiga proses yaitu penyaringan (filtrasi), penghangatan, dan
pelembaban. Penyaringan dilakukan oleh membran mukosa pada rongga
hidung yang sangat kaya akan pembuluh darah dan glandula serosa yang
mensekresikan mukus cair untuk membersihkan udara sebelum masuk ke
Oropharynx. Penghangatan dilakukan oleh jaringan pembuluh darah yang
sangat kaya pada ephitel nasal dan menutupi area yang sangat luas dari
rongga hidung. Dan pelembaban dilakukan oleh concha, yaitu suatu area
penonjolan tulang yang dilapisi oleh mukosa.
b. Epithellium olfactory pada bagian meial rongga hidung memiliki fungsi
dalam penerimaan sensasi bau.

c. Rongga hidung juga berhubungan dengan pembentukkan suara-suara fenotik


dimana ia berfungsi sebagai ruang resonansi.
b. Faring
Faring merupakan saluran yang memiliki panjang kurang lebih 13 cm
yang menghubungkan nasal dan rongga mulut kepada larynx pada dasar
tengkorak. Faring meluas dari dasar cranium sampai tepi bawah cartilago
cricoidea di sebelah anterior dan sampai tepi bawah vertebra cervicalis VI di
sebelah posterior. Dinding faring terutama dibentuk oleh dua lapis otot-otot
faring. Lapisan otot sirkular di sebelah luar terdiri dari tiga otot konstriktor.
Lapisan otot internal yang terutama teratur longitudinal, terdiri dari muskulus
palatopharyngeus, musculus stylopharingeus, dan musculus
salphingopharingeus. Otot-otot ini mengangkat faring dan laring sewaktu
menelan dan berbicara.
 Fungsi Faring

Nasofaring  ada saluran penghubung antara nasopharinx dengan telinga


bagian tengah, yaitu Tuba Eustachius dan Tuba Auditory
 ada Phariyngeal tonsil (adenoids), terletak pada bagian
posterior nasopharinx, merupakan bagian dari jaringan
Lymphatic pada permukaan posterior lidah
 Mempunyai fungsi respiratorik.
Orofaring  Merupakan bagian tengah faring antara palatum lunak dan
tulang hyoid. Refleks menelan berawal dari orofaring
menimbulkan dua perubahan, makanan terdorong masuk ke
saluran pencernaan (oesephagus) dan secara simultan katup
menutup laring untuk mencegah makanan masuk ke dalam
saluran pernapasan
 Mempunyai fungsi pencernaan makanan
Laringofaring  Merupakan posisi terendah dari faring. Pada bagian
bawahnya, sistem respirasi menjadi terpisah dari sistem
digestil. Makanan masuk ke bagian belakang, oesephagus
dan udara masuk ke arah depan masuk ke laring.
 Vaskularisasi dan persarafan
Arteria tonsillaris, cabang arteria facialis melintas lewat musculus
constrictor pharyng superior dan masuk ke kutub bawah tonsil. Tonsila
palatina juga menerima ranting-ranting arterial dari arteria palatina ascendens,
arteria lingualis, arteria palatina descendens, dan arteria pharyngea ascendens.
Ketiga muskulus konstriktor faring dipersyarafi oleh plexus
pharyngealis (nervus glossopharyngeus) yang terletak pada dinding lateral
faring, terutama pada muskulus konstriktor faringealis medius. Susunan secara
bertumpang tindih muskulus konstriktor menyisakan empat celah pada otot-
otot tersebut untuk struktur yang memasuki faring.

c. Laring

Laring tersusun atas 9 Cartilago (6 Cartilago kecil dan 3 Cartilago


besar). Terbesar adalah Cartilago thyroid yang berbentuk seperti kapal, bagian
depannya mengalami penonjolan membentuk “adam’s apple”, dan di dalam
cartilago ini ada pita suara. Sedikit di bawah cartilago thyroid terdapat cartilago
cricoid. Laring menghubungkan Laringopharynx dengan trachea, terletak pada
garis tengah anterior dari leher pada vertebrata cervical 4 sampai 6.

Gambar 3. Anatomi laring

Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.


Laring juga melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas:
Epiglotis daun katup kartilago yang menutupi ostium ke
arah laring selama menelan
Glotis ostium antara pita suara dalam laring
Kartilago Thyroid kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari
kartilago ini membentuk jakun ( Adam’s Apple )
Kartilago Krikoid satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam
laring (terletak di bawah kartilago thyroid )
Kartilago Aritenoid digunakan dalam gerakan pita suara dengan
kartilago thyroid
Pita suara ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang
menghasilkan bunyi suara; pita suara melekat
pada lumen laring.

2.2 Definisi Obstruksi Saluran Napas Atas


Obstruksi saluran napas atas adalah sumbatan pada saluran napas atas (laring)
yang disebabkan oleh adanya radang, benda asing, trauma, tumor dan kelumpuhan
nervus rekuren bilateral sehingga ventilasi pada saluran pernapasan terganggu.

2.3 Penyebab dan Gejala Klinis Obstruksi Saluran Napas Atas


Obstruksi saluran napas bagian atas disebabkan oleh trauma, tumor, infeksi
akut, kelainan kongenital hidung atau laring, difteri, paralysis satu atau kedua plika
vokalis, pangkal lidah jatuh ke belakang pada penderita yang tidak sadar karena
penyakit, cedera, atau narkose maupun karena benda asing.
Obstruksi saluran napas bagian atas ditandai dengan sesak napas, stridor
inspiratore, ortopne, pernapasan cuping hidung, dan cekung di daerah jugularis-
supraklavikula-interkostal. Selanjutnya penderita akan sianotik dan gelisah.

Kelainan Kongenital
Atresia koane
Koane dapat menyumbat total atau sebagian, di satu atau dua sisi, akibat
kegagalan absorpsi membran bukofaringeal. Obstruksi mungkin berupa membran
atau tulang. Gejalanya ialah kesulitan bernapas dan keluar sekret hidung terus
menerus. Diagnosis mudah dibuat dengan timbulnya sianosis pada waktu diam yang
menghilang pada waktu menangis, dan melihat sumbatan di belakang rongga
hidung. Pengobatan dengan pembedahan.

Sindrom Piere Robin


Sindrom ini terdiri dari trias gejala yaitu mikrognasia, celah langit-langit, dan oleh
karena mikrognasia, lidah jatuh ke belakang mengakibatkan obstruksi jalan napas
atas. Kadang sindroma ini disertai defek pada mata.

Selaput (web) glotis dan stenosis glotis


Pita suara terbentuk dari membran horizontal primordial yang terbelah pada
garis tengah. Kegagalan pemisahan mengakibatkan berbagai derajat stenosis glotis,
mulai dari selaput pada komisura anterior sampai atresia total glotis. Biasanya
ditandai suara parau sedangkan pada bayi menifestasinya berupa suara serak dan
menangis tidak keras. Derajat sesak dan disfonia tergantung dari luasnya kelainan.
Pengobatan sementara pada bayi atau anak dengan businasi. Diperlukan
tindakan bedah untuk memisahkan pita suara melalui tirotomi.
Obstruksi di subglotis jarang ditemukan, yaitu berupa penyempitan jalan napas
setinggi rawan krikoid.

Radang
Angina Ludwig
Angina Ludwig ialah selulitis di dasar mulut dan leher akut yang invasif,
menyebabkan udem hebat di leher bagian atas yang dapat menyumbat jalan napas.
Kuman penyebab biasanya streptokokus atau stafilokokus. Infeksi biasanya berasal
dari lesi di mulut seperti abses alveolar gigi atau infeksi sekunder pada karsinoma
dasar mulut. Kelainan ini cepat meluas melalui ruang fasia tertutup dan dapat
menyebabkan udem glotis yang dapat mengancam jiwa karena obstruksi jalan napas.
Karena radang dasar mulut ini lidah terdorong ke palatum dan ke dorsal, ke arah
dinding dorsal faring sehingga menutup jalan napas.
Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dibantu dengan pemeriksaan
biakan dan uji kepekaan kuman dari nanah.
Bila dapat dibuat diagnosis dini maka pemberian antibiotik kadang-kadang
memberikan hasil yang memuaskan. Bila pembengkakan leher dan dasar mulut tidak
segera berkurang maka dilakukan dekompresi terhadap ruang fasia yang tertutup di
dasar mulut dan leher, selanjutnya dipasang pipa penyalir.

Trauma
Menelan bahan kaustik
Larutan asam kuat seperti asam sulfat, nitrat dan hidroklorit, atau basa kuat seperti
soda kaustik, potasium kaustik dan ammonium bila tertelan dapa mengakibatkan
terbakarnya mukosa saluran cerna. Pada penderita yang tak sengaja minum bahan
tersebut, kemungkinan besar luka baker hanya pada mulut dan faring karena bahan
tersebut tidak ditelan dan hanya sedikit saja masuk ke dalam lambung. Tetapi pada
mereka yang coba bunuh diri akan terjadi luka bakar yang luas pada esofagus bagian
tengah dan distal karena larutan tersebut berdiam di sini agak lama sebelum
memasuki kardia lambung.
Diagnosis didasarkan riwayat menelan zat kaustik dan adanya luka bakar di
sekitar dan di dalam mulut. Kasus kecelakaan biasanya terjadi pada anak usia
dibawah enam tahun, sedangkan kasus bunuh diri pada dewasa.

Trauma trakea
Trauma tajam atau tumpul pada leher dapat mengenai trakea. Trauma tumpul tidak
menimbulkan gejala atau tanda tetapi dapat juga mengakibatkan kelainan hebat
berupa sesak napas, karena penekanan jalan napas atau aspirasi darah atau emfisema
kutis bila trakea robek.
Dari pemeriksaan photo roentgen dapat dilihat benda asing, trauma penyerta
seperti fraktur vertebra servikal atau emfisema di jaringan lunak di mediastinum,
leher dan subkutis.
Trauma tumpul trakea jarang memerlukan tindakan bedah. Penderita
diobservasi bila terjadi obstreksi jalan napas dikerjakan trakeotomi. Pada trauma
tajam yang menyebabkan robekan trakea segera dilakukan trakeotomi di distal
robekan. Kemudian robekan trakea dijahit kembali.

Trauma intubasi
Pemasangan pipa endotrakea yang lama dapat menimbulkan udem laring dan trakea.
Keadaan ini baru diketahui bila pipa dicabut karena suara penderita terdengar parau
dan ada kesulitan menelan, gangguan aktivitas laring, dan beberapa derajat obstruksi
pernapasan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian kortikosteroid. Bila obstruksi
napas terlalu hebat maka dilakukan trakeotomi.
Stenosis trakea adalah komplikasi pemasangan pipa endotrakea berbalon dalam
waktu lama. Tekanan balon menyebabkan nekrosis mukosa trakea disertai
penyembuhan dengan jaringan fibrosis yang mengakibatkan stenosis.
Pengobatan stenosis ini berupa peregangan bagian yang stenosis dalam waktu
lama, tetapi seringkali perlu dilakukan reseksi segmental trakea dan anstomosis
ujung ke ujung.

Dislokasi krikoaritenoid
Trauma pada laring dapat menyebabkan dislokasi persendian krikoaritenoid
yang mengakibatkan suara parau disertai obstruksi jalan napas bagian atas. Pada
pemeriksaan roentgen leher tampak dislokasi struktur laring, penyempitan jalan
napas, dan udem jaringan lunak.
Penanganannya berupa trakeotomi, kemudian dislokasi direposisi secara
terbuka dan dipasang bidai dalam. Kelambatan penanganan dislokasi krikoaritenoid
dapat mengakibatkan stenosis laring.

Paralisis korda vokalis bilateral


Kedua pita suara tidak dapat bergerak sedangkan posisinya paramedian dan
cenderung bertaut satu sama lain waktu inspirasi. Penderita mengalami sesak napas
hebat yang mungkin memerlukan intubasi dan atau trakeotomi.

Tumor
Papiloma laring rekuren (papilomatosis laring infantil)
Tumor epithelial papiler yang multipel pada laring ini disebabkan oleh papova
virus yang banyak didapatkan di lembah sungai Missisipi (AS). Penderitanya sering
mempunyai veruka kulit yang mengandung virus. Biasanya kelainan sudah mulai
pada usia dua tahun. Jika si ibu mempunyai veruka vagina maka kelainan ini dapat
terjadi pada bayi usia enam bulan.
Gejala khas berupa disfonia dan sesak napas yang bertambah hebat sampai
terjadi sumbatan total jalan napas.
Terapi terdiri dari pembedahan dengan mikrolaringoskopi. Eksisi papiloma
dilakukan tanpa mengikutsertakan jaringan sehat. Kadang digunakan laser CO2,
pembedahan dingin atau radiasi ultrasonik. Angka kekambuhan tinggi sehingga
perlu dilakukan pembedahan berulang kali.
Papiloma pada orang dewasa merupakan lanjutan dari papilomatosis infantile
atau tumbuh pada usia pertengahan dan tetap sebagai satu lesi tunggal terbatas pada
satu korda.
Kedua keadaan ini dapat berubah jadi karsinoma sel skuamosa. Perubahan ke
keganasan terjadi khusus pada penderita yang sebelumnya pernah mendapat
radioterapi. Penanganannya sama seperti pada anak-anak, hanya tidak memerlukan
trakeotomi.
Neoplasma tiroid
Karsinoma tiroid dapat berinvasi ke laring dan mempengaruhi jalan napas. Adanya
invasi ini harus dicurigai bila tumor tiroid tidak dapat digerakkan dari dasarnya,
disertai suara parau dan gangguan napas. Pada pemeriksaan photo roentgen leher
terlihat distorsi laring atau bayangan suatu massa yang menonjol ke lumen laring
dan trakea.
Kadang tumor tiroid berada pada saluran napas atas secara primer. Diduga
tumor primer di laring atau trakea bagian atas berasal dari sisa tiroid yang terletak
dalam submukosa yang melapisi krikoid dan cincin trakea atas yang ditemukan pada
1-2 % populasi. Tumor ini harus dieksisi dengan laringektomi.
Udem angioneurotik
Udem angiopneurotik mukosa laring adalah salah satu penyebab obstruksi laring
yang disebabkan oleh alergi. Gejala berupa suara parau yang progresif setelah
kontak dengan menghirup atau menelan alergen tanpa tanda infeksi. Kadang
diperlukan trakeotomi untuk menyelamatkan jiwa.

2.4 Diagnosis Obstruksi Saluran Napas Atas


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang.
Gejala dan tanda sumbatan yang tampak adalah :
· Serak (disfoni) sampai afoni
· Sesak napas (dispnea)
· Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.
· Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium,
supraklavikula dan interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-otot
pernapasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.
· Gelisah karena pasien haus udara (air hunger)
· Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui letak
sumbatan, diantaranya adalah :
· Laringoskop. Dilakukan bila terdapat sumbatan pada laring. Laringoskop dapat
dilakukan secara direk dan indirek.
· Nasoendoskopi
· X-ray. Dilakukan pada foto torak yang mencakup saluran nafas bagian atas.
Apabila sumbatan berupa benda logam maka akan tampak gambaran radiolusen.
Pada epiglotitis didapatkan gambaran thumb like.
· Foto polos sinus paranasal
· CT-Scan kepala dan leher
· Biopsi

2.5 Stadium Obstruksi Saluran Napas Atas


Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium:
Stadium I : Adanya retraksi di suprasternal dan stridor. Pasien tampak tenang
Stadium II : Retraksi pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam,
ditambah lagi dengan timbulnya retraksi di daerah epigastrium. Pasien sudah mulai
gelisah.
Stadium III : Retraksi selain di daerah suprastrenal, epigastrium juga terdapat di
infraklavikula dan di sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea.
Stadium IV : Retraksi bertambah jelas, pasien sangat gelisah, tampak sangat
ketakutan dan sianosis, jika keadaan ini berlangsung terus maka penderita akan
kehabisan tenaga, pusat pernapasan paralitik karena hiperkapnea. Pada keadaan ini
penderita tampaknya tenang dan tertidur, akhirnya penderita meninggal karena
asfiksia.

2.6 Tindakan pada Obstruksi Saluran Napas Atas


Pada prinsipnya penanggulangan pada obstruksi atau obstruksi saluran napas
atas diusahakan supaya jalan napas lancar kembali.
Tindakan konservatif
Pemberian antiinflamasi, antialergi, antibiotika serta pemberian oksigen intermiten,
yang dilakukan pada obstruksi laring stadium I yang disebabkan oleh peradangan.
Tindakan operatif/resusitasi
Memasukkan pipa endotrakeal melalui mulut (intubasi orotrakea) atau melalui
hidung (intubasi nasotrakea), membuat trakeostoma yang dilakukan pada obstruksi
laring stadium II dan III, atau melakukan krikotirotomi yang dilakukan pada
obstruksi laring stadium IV

Untuk mengatasi gangguan pernapasan bagian atas ada tiga cara, yaitu :
1. Intubasi
Intubasi dilakukan dengan memasukkan pipa endotrakeal lewat mulut atau
hidung.
Intubasi endotrakea merupakan tindakan penyelamat (lifesaving procedure) dan
dapat dilakukan tanpa atau dengan analgesia topikal dengan xylocain 10%.
Indikasi intubasi endotrakea adalah :
- Untuk mengatasi obstruksi saluran napas bagian atas.
- Membantu ventilasi.
- Memudahkan mengisap sekret dari traktus trakeobronkial.
- Mencegah aspirasi sekret yang ada di rongga mulut atau berasal dari lambung.
Keuntungan intubasi, yaitu:
- Tidak cacat karena tidak ada jaringan parut.
- Mudah dikerjakan.
Kerugian intubasi, yaitu:
- Dapat terjadi kerusakan lapisan mukosa saluran napas atas.
- Tidak dapat digunakan dalam waktu lama.
Orang dewasa 1 minggu, anak-anak 7-10 hari.
- Tidak enak dirasakan penderita.
- Tidak bisa makan melalui mulut.
- Tidak bisa bicara.
Komplikasi yang dapat timbul yaitu stenosis laring atau trakea.
Teknik intubasi endotrakea:
- Posisi pasien tidur telentang, leher fleksi sedikit dan kepala ekstensi
- Laringoskop dengan spatel bengkok dipegang dengan tangan kiri, dimasukkan
melalui mulut sebelah kanan, sehingga lidah terdorong ke kiri. Spatel diarahkan
menelusuri pangkal lidah ke valekula, lalu laringoskop diangkat keatas, sehingga
pita suara dapat terlihat.
- Dengan tangan kanan, pipa endotrakea dimasukkan melalui mulut terus melalui
celah antara kedua pita suara kedalam trakea.
- Kemudian balon diisi udara dan pipa endotrakea difiksasi dengan baik.
- Jika menggunakan spatel laringoskop yang lurus maka pasien yang tidur
telentang itu pundaknya harus diganjal dengan bantal pasir, sehingga kepala mudah
diekstensikan maksimal.
- Laringoskop dengan spatel yang lurus dipegang dengan tangan kiri dan
dimasukkan mengikuti dinding faring posterior dan epiglotis diangkat horizontal
ketas bersama-sama sehingga laring jelas terlihat.
- Pipa endotrakea dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui celah
pita suara sampai di trakea. Kemudian balon diisi udara dan pipa endotrakea difiksasi
dengan plester.

Gambar 3. Teknik pelaksanaan intubasi endotrakea


2. Laringotomi (Krikotirotomi)
Laringotomi dilakukan dengan membuat lubang pada membran tirokrikoid
(krikotirotomi).
Krikotiromi merupakan tindakan penyelamat pada pasien dalam keadaan gawat
napas. Bahayanya besar tetapi mudah dikerjakan, dan harus dikerjakan cepat
walaupun persiapannya darurat.
Krikotirotomi merupakan kontraindikasi pada anak di bawah usia 12 tahun,
demikian juga pada tumor laring yang sudah meluas ke subglotik dan terdapat
laringitis.
Bila kanul dibiarkan terlalu lama maka akan timbul stenosis subglotik karena
kanul yang letaknya tinggi akan mengiritasi jaringan-jaringan di sekitar subglotis,
sehingga terbentuk jaringan granulasi dan sebaiknya diganti dengan trakeostomi
dalam waktu 48 jam.
Teknik krikotirotomi:
- Pasien tidur telentang dengan kepala ekstensi pada artikulasi atlantooksipitalis.
- Puncak tulang rawan tiroid mudah diidentifikasi difiksasi dengan jari tangan kiri.
- Dengan telunjuk jari tangan kanan tulang rawan tiroid diraba ke bawah sampai
ditemukan kartilago krikoid. Membran krikotiroid terletak di antara kedua tulang
rawan ini. Daerah ini diinfiltrasi dengan anestetikum kemudian dibuat sayatan
horizontal pada kulit.
- Jaringan di bawah sayatan dipisahkan tepat pada garis tengah.
- Setelah tepi bawah kartilago terlihat, tusukkan pisau dengan arah ke bawah.
- Kemudian masukkan kanul bila tersedia. Jika tidak, dapat dipakai pipa plastik
untuk sementara.

Gambar 4. Krikotirotomi yang dilakukan pada obstruksi laring stadium IV


3. Trakeostomi
Trakeostomi adalah suatu tindakan bedah dengan mengiris atau membuat
lubang sehingga terjadi hubungan langsung lumen trakea dengan dunia luar untuk
mengatasi gangguan pernapasan bagian atas.
Indikasi trakeostomi adalah:
1. Mengatasi obstruksi laring.
2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran pernapasan atas.
3. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus.
4. Untuk memasang alat bantu pernapasan (respirator).
5. Untuk mengambil benda asing di subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas
bronkoskopi.
a. Keuntungan trakeostomi yaitu:
- Dapat dipakai dalam waktu lama.
- Trauma saluran napas tidak ada.
- Penderita masih dapat berbicara sehingga kelumpuhan otot laring dapat dihindari.
- Penderita merasa enak dan perawatan lebih mudah
- Penderita dapat makan seperti biasa.
- Menghindari aspirasi, menghisap sekret bronkus.
- Jalan napas lancar, meringankan kerja paru.
Kerugian trakeostomi, yaitu:
- Tindakan lama.
- Cacat dengan adanya jaringan sikatrik.
Jenis irisan trakeostomi ada dua macam:
- Irisan vertikal di garis median leher.
- Irisan horizontal.
Berdasarkan jenis trakeostomi:
- Trakeostomi letak tinggi, yaitu di cincin trakea 2-3.
- Trakeostomi letak tengah, yaitu setinggi trakea 3-4.
- Trakeostomi letak rendah, yaitu setinggi cincin trakea 4-5.
Untuk perawatan trakeostomi, yang harus diperhatikan adalah:
1. Kelembaban udara masuk.
- Dapat dilakukan dengan uap air basah hangat.
- Nebulizer.
- Kassa steril yang dibasahi diletakkan di permukaan stoma.
2. Kebersihan dalam kanul.
- Jangan tersumbat oleh sekret, dianjurkan disuksion ½-1 jam pada 24 jam pertama
dan tidak boleh terlalu lama setiap suksion, biasanya 10-15 detik. Bila lama
penderita bisa sesak atau hipoksia atau cardiac arrest.
- Lakukanlah berkali-kali sampai bersih.
3. Anak: kanul dibersihkan setiap hari kemudian pasang kembali.

Pengangkatan kanul dilakukan secepatnya, atau dengan indikasi berikut:


- Tutup lubang trakeostomi selama 3 menit, penderita tidak sesak.
- Dalam 25 jam tidak ada keluhan sesak bila lubang trakeostomi ditutup waktu
tidur, makan dan bekerja.
- Penderita sudah dapat bersuara.
Komplikasi trakeostomi:
- Waktu operasi:
Perdarahan, lesi organ sekitarnya, apnea dan shock.
- Pasca operasi:
Infeksi, sumbatan, kanul lepas, erosi ujung kanul atau desakan cuff pada
pembuluh darah, fistel trakeokutan, sumbatan subglotis dan trakea, disfagia,
granulasi.
Teknik trakeostomi:
- Penderita tidur telentang dengan kaki lebih rendah 30˚ untuk menurunkan tekanan
vena di daerah leher. Punggung diberi ganjalan sehingga terjadi ekstensi. Leher
harus lurus, tidak boleh laterofleksi atau rotasi.
- Dilakukan desinfektan daerah operasi dengan betadin atau alkohol.
- Anestesi lokal subkutan, prokain 2% atau silokain dicampur dengan epinefrin
atau adrenalin 1/100.000. Anestesi lokal atau infiltrasi ini tetap diberikan meskipun
trakeostomi dilakukan secara anestesi umum.
- Dilakukan insisi.
- Insisi vertikal: dimulai dari batas bawah krikoid sampai fossa suprasternum,
insisi ini lebih mudah dan alir sekret lebih mudah
- Insisi horizontal: dilakukan setinggi pertengahan krikoid dan fossa sternum,
membentang antara kedua tepi depan dan medial m.sternokleidomastoid, panjang
irisan 4-5 cm.
Irisan mulai dari kulit, subkutis, platisma sampai fasia colli superfisial secara
tumpul. Bila tampak ismus, maka ismus disisikan ke atas atau ke bawah. Bila
mengalami kesukaran dan tidak memungkinkan, potong saja.
- Bila sudah tampak trakea maka difiksasi dengan kain tajam. Kemudian
suntikkan anestesi lokal kedalam trakea sehingga tidak timbul batuk pada waktu
memasang kanul.
- Stoma dibuat pada cincin trakea 2-3 bagian depan, setelah dipastikan trakea
yaitu dengan menusukkan jarum suntik dan letakkan benang kapas tersebut.
Kemudian kanul dimasukkan dengan bantuan dilator.
- Kanul difksasi dengan pita melingkar leher, jahitan kulit sebaiknya jahitan
longgar agar udara ekspirasi tidak masuk ke jaringan dibawah kulit.

Gambar 5. Trakeostomi yang dilakukan pada obstruksi laring


stadium II dan III
4. Perasat Heimlich (Heimlich Maneuver)
Perasat heimlich adalah suatu cara mengeluarkan benda asing yang menyumbat
laring secara total atau benda asing ukuran besar yang terletak di hipofaring.
Prinsip mekanisme perasat heimlich adalah dengan memberi tekanan pada paru.
Diibaratkan paru sebagai sebuah botol plastik berisi udara yang tertutup oleh
sumbatan. Dengan memencet botol plastik itu sumbatan akan terlempar keluar.
Perasat heimlich ini dapat dilakukan pada orang dewasa dan juga pada anak.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur lambung, ruptur hati dan fraktur
iga.
Teknik perasat heimlich:
- Penolong berdiri di belakang pasien sambil memeluk badannya.
- Tangan kanan dikepalkan dan dengqan bantuan tangan kiri, kedua tangan
diletakkan pada perut bagian atas.
- Kemudian dilakukan penekanan pada rongga perut kearah dalam dan kearah
atas dengan hentakan beberapa kali. Diharapkan dengan hentakan 4-5 kali benda
asing akan terlempar keluar. Pada anak, penekanan cukup dengan memakai jari
telunjuk dan jari tengah kedua tangan.
- Pada pasien yang tidak sadar atau terbaring, dapat dilakukan dengan cara
penolong berlutut dengan kedua kaki pada kedua sisi pasien. Kepalan tangan
diletakkan di bawah tangan kiri di daerah epigastrium.
- Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan ke atas beberapa kali udara dalam
paru akan mendorong benda asing keluar.

Gambar 6. Perasat heimlich


DAFTAR PUSTAKA

Adams GL, Boies LR, Jr. Highler PA. Boies Buku Ajar THT. Edisi 6. Effendi H.
Santoso RAK. Editor. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1993.
Ballenger JJ. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi 13.
Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta. 1994.
B.Jenny, R.D.Ratna (editor). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta: 2003 : 243 - 253.
C Allen,MD, Christopher L Slack, MD, Arlen D Meyers,MD,MBA (editor).
http://www.emedicine.com.
D Gerard,MD. Epiglotitis. Dalam: Daniel J Kelley MD, Francisco Talavera,
PharmD, PhD, Gregory C Allen,MD, Christopher L Slack, MD, Arlen
D Meyers,MD,MBA (editor). http://www.emedicine.com.
D Gerard,MD. Croup Dalam: Daniel J Kelley MD, Francisco Talavera, PharmD,
PhD, Gregory
Hermani B, Abdurrachman. Penanggulangan sumbatan laring. Dalam: S.A.Efiaty,
I.Nurbaiti.
Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Editor. Kepala dan Leher dalam: Buku ajar ilmu
bedah. Edisi revisi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997.
Soepardi EA, Iskandar N. Editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga-hidung-t
enggorok. Edisi 5. Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2005.

Anda mungkin juga menyukai