MAKALAH KELOMPOK KEPERAWATAN ANAK
ASUHAN KEPERAWATAN SINDROM GAWAT NAFAS (SGN)
Disusun Oleh Kelompok 2 :
Hidayati (1811316024) Nodi Gusti Randa (1811316035)
Lestari (1811316025) Anggi Persadanta (1811316036)
Yunita (1811316026) Hermayunita (1811316037)
Minah Sari (1811316027) Delvia Nora (1811316038)
T. Ramadhani (1811316028) Chindi Hastuti (1811316039)
Betris Melda (1811316029) Agustina Batuara (1811316040)
Poppy Tia Andria (1811316030) Aprini Yulian Sari (1811316041)
Maulana Ifdatul (1811316031) Ridha Fadila (1811316042)
Muhammad Roni (1811316032) Welycia Febriyenti (1811316043)
Ika Kemala Sari (1811316033) Fitri Annisa (1811316044)
Dwi Ayu Humaira (1811316034) Okta Yolanda (1811316045)
Dosen Pembimbing :
Dr. Meri Neherta, S.Kp, M.Biomed
PROGRAM B STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Asuhan
Keperawatan Sindrom Gawat Nafas (SGN)” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada bapak/ibu Dosen mata kuliah Keperawatan
Anak, Ilmu Keperawatan Fakultas UNAND Padang yang telah memberikan tugas ini kepada
kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Padang , April 2019
Kelompok 2
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................................... 1
B. Topik Pembahasan ................................................................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................................................................... 3
A. Definisi SGN .............................................................................................................................. 3
B. Tanda dan Gejala SGN ............................................................................................................ 4
C. Patofisiologi dan Pathways SGN ............................................................................................. 5
D. Manifestasi Klinis ..................................................................................................................... 8
E. Klasifikasi SGN ......................................................................................................................... 8
F. Pemeriksaan Diagnostik dan Penunjang SGN ....................................................................... 9
G. Asuhan Keperawatan pada Bayi dengan SGN................................................................... 9
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 16
A. Kesimpulan .............................................................................................................................. 16
B. Saran ........................................................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 17
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan pernapasan yang sering ditemukan pada bayi baru lahir (BBL) termasuk
Respiratory Distress Syndrome (RDS) atau Idiopatic Respiratory Distress Syndrome
(IRDS) yang terdapat pada bayi premature. Sindrom gawat nafas pada neonatus
(SGNN) dalam bahasa inggris disebut respiratory distress syndrome, merupakan
kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperkapnea.Sindrom ini dapat trerjadi
karena ada kelainan di dalam atau diluar paru.Oleh karena itu, tindakannya
disesuaikan sengan penyebab sindrom ini.Beberapa kelainan dalam paru yang
menunjukan sindrom ini adalah pneumothoraks/pneumomediastinum, penyakit
membram hialin (PMH), pneumonia, aspirasi, dan sindrom Wilson-Mikity
(Ngastiyah, 1999).
Kegawatan pernafasan (Acute Respiratory Distress syndrome) pada anak merupakan
penyebab utama kematian pada bayi baru lahir, diperkirakan 30% dari semua
kematian neonatus disebabkan oleh penyakit ini atau komplikasinya. Penyakit ini
terjadi pada bayi prematur, insidennya berbanding terbalik dengan umur kehamilan
dan berat badannya. 60-80% terjadi pada bayi yang umur kehamilannya kurang dari
28 minggu, 15-30% pada bayi antara 32-36 minggu, sekitar 3% pada bayi yang lebih
dari 37 minggu.
B. Topik Pembahasan
1. Definisi SGN
2. Tanda dan Gejala SGN
3. Patofisiologi dan Pathways SGN
4. Manifestasi klinis SGN
5. Klasifikasi SGN
6. Pemeriksaan penunjan dan diagnostik SGN
7. Asuhan Keperawatan SGN
1
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah proses perkuliahan diharapkan mahasiswa mampu memahami dan
mengetahui tentang Asuhan Keperawatan pada Bayi dengan SGN.
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami definisi SGN
b. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tanda dan gejala SGN
c. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami patofisiologi dan pathways
SGN
d. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami manifestasi klinis SGN
e. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami klasifikasi SGN
f. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang dan
diagnostik SGN
g. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami metode konsep asuhan
keperawatan pada bayi dengan SGN
2
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi SGN
Sindrom gawat nafas neonatus merupakan suatu sindrom yang sering ditemukan pada
neonatus dan menjadi penyebab morbiditas utama pada bayi berat lahir rendah
(BBLR) sehingga SGNN disebut juga sebagai penyakit membran hialin (PMH)
karena PMH merupakan bagian terbesar dari sindrom gawat nafas pada masa
neonates.Penyakit membran hialin umumnya terjadi pada bayi prematur. Angka
kejadian PMH pada bayi yang lahir dengan masa gestasi 28 minggu sebesar 60%-
80%, pada usia kelahiran 30 minggu adalah 25%, sedang pada usia kelahiran 32-36
minggu sebesar 15-30%, dan pada bayi aterm jarang dijumpai.
Di negara maju PMH terjadi pada 0,3-1% kelahiran hidup dan merupakan 15-20%
penyebab kematian neonatus. Di Amerika Serikat diperkirakan 1% dari seluruh
kelahiran hidup,yang artinya 4000 bayi mati akibat SGNN setiap tahunnya. Di
Indonesia, dari 950.000 BBLR yang lahir setiap tahun diperkirakan 150.000 bayi di
antaranya menderita SGNN, dan sebagian besar berupa PMH.Penyakit membran
hialin pada bayi kurang bulan (BKB) terjadi karena pematangan paru yang belum
sempurna akibat kekurangan surfaktan.
Tanpa surfaktan, alveoli menjadi kolaps pada akhir ekspirasi, sehingga menyebabkan
gagal nafas pada neonatus.Pelbagai faktor ibu dan bayi berperan sebagai faktor risiko
untuk terjadinya PMH pada BKB namun sebagian di antaranya masih kontroversial.
PMH yang terjadi pada bayi kurang bulan tersebut bervariasi dari yang ringan sampai
yang berat.Pada PMH ringan tidak memerlukan ventilasi mekanik sedangkan PMH
berat memerlukan ventilasi mekanik.Semakin berat derajat PMH, semakin berat
keterlibatan kardiovaskular.Terapi optimal PMH menuntut teknologi canggih yakni
pemberian ventilasi mekanik dengan atau tanpa pemberian surfaktan eksogen. 1- 10
Kelainan kardiovaskular padaPMH ringan belum terlalu banyak diteliti, sedang pada
PMH berat kelainan kardiovaskular yang dijumpai antara lain disfungsi faal sistolik
3
dan diastolik ventrikel kiri dan kanan, hipertensi pulmonal persisten, penurunan isi
sekuncup dan curah jantung, bahkan bisa menyebabkan hipotensi sampai syok.
Kelainan kardiovaskular yang lain adalah gangguan faal jantung seperti penurunan
pengisian ventrikel kiri, periode pra-ejeksi yang memanjang, dan waktu ejeksi yang
memendek. Masalah kardiovaskular lain yang terjadi pada bayi yang sembuh dari
PMH adalah terjadinya duktus arteriosus persisten (DAP). Dengan bertambahnya
harapan hidup bayi berat lahir rendah, terlihat pula peningkatan jumlah bayi dengan
DAP. Karena gangguan faal kardiovaskular pada SGNN berhubungan dengan proses
pematangan paru, dalam hal ini defisiensi surfaktan, maka prognosis kelainan
kardiovaskular pada PMH berkaitan erat dengan tingkat kelainan paru.
Didapati penurunan kematian pada bayi dengan berat lahir 1500 gram dan masa
kehamilan > 34 minggu, bahkan tercatat tingkat kematian 0% untuk bayi berat lahir
1500 gram dan 25% untuk bayi berat lahir lebih kecil. Memang perawatan intensif
dapat menurunkan angka kematian, tetapi disisi lain dapat menambah kelainan
neurologis dan kelainan perkembangan, baik mental maupun kognitif di masa depan,
yang sulit diperbaiki.
B. Tanda dan Gejala SGN
Gejala dan tanda klinis yang ditemui pada SGNN adalah: dispnu, merintih (grunting),
takipnu (pernafasan lebih 60x/menit), retraksi dinding toraks dan sianosis.1-12 Gejala
– gejala ini timbul dalam 24 jam pertama sesudah lahir dengan derajat yang berbeda,
tetapi biasanya gambaran sindrom gawat nafas sudah nyata pada usia 4 jam.
Tanda yang hampir selalu didapat adalah dispnu yang akan diikuti dengan takipnu,
pernafasan cuping hidung, retraksi dinding toraks, dan sianosis. Diagnosis dini dapat
ditegakkan bila telah ada gambaran sindrom tersebut, terlebih lagi bila disertai dengan
adanya faktor-faktor risiko.
Faktor – faktor risiko yang dapat kita pertimbangkan untuk meramalkan terjadinya
SGNN adalah prematuritas, masa kehamilan, jenis kelamin, ras, riwayatkehamilan
sebelumnya, bedah kaisar, diabetes, ketuban pecah lama, penyakit ibu. Gambaran
radiologis kelainan paru pada PMH dibagi atas 4 derajat yaitu derajat 1 pola
4
retikulogranular (PRG), derajat 2 bronkogram udara (BGU), derajat 3 sama dengan
derajat 2 namun lebih berat dengan mediastinum melebar, derajat 4 kolaps seluruh
paru sehingga paru tampak putih (white lung).
C. Patofisiologi dan Pathways SGN
Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap sepenuhnya untuk berfungsi
sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal ini merupakan faktor kritis dalam
terjadinya RDS. Ketidaksiapan paru menjalankan fungsinya tersebut terutama
disebabkan oleh kekurangan atau tidak adanya surfaktan.
Surfaktan adalah substansi yang merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga
tidak terjadi kolaps pada akhir ekspirasi dan mampu menahan sisa udara
fungsional/kapasitas residu fungsional (Ilmu Kesehatan Anak, 1985). Surfaktan juga
menyebabkan ekspansi yang merata dan menjaga ekspansi paru pada tekanan
intraalveolar yang rendah.Kekurangan atau ketidakmatangan fungsi surfaktan
menimbulkan ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli saat
ekspirasi.
Bila surfaktan tidak ada, janin tidak dapat menjaga parunya tetap mengembang. Oleh
karena itu, perlu usaha yang keras untuk mengembangkan parunya pada setiap
hembusan napas (ekspirasi) sehingga untuk pernapasan berikutnya dibutuhkan
tekanan negatif intratoraks yang lebih besar dengan disertai usaha inspirasi yang lebih
kuat.
Akibatnya, setiap kali bernapas menjadi sukar seperti saat pertama kali bernapas (saat
kelahiran). Sebagai akibat, janin lebih banyak menghabiskan oksigen untuk
menghasilkan energi ini daripada yang ia terima dan ini menyebabkan bayi kelelahan.
Dengan meningkatnya kelelahan, bayi akan semakin sedikit membuka alveolinya.
Ketidakmampuan mempertahankan pengembangan paru ini dapat menyebabkan
atelaktasis.
Tidak adanya stabilitas dan atelektasis akan meningkatkan pulmomary vascular
resistance (PVR) yang nilainya menurun pada ekspansi paaru normal. Akibatnya,
terjadi hipoperfusi jaringan paru dan selanjutnya menurunkan aliran darah
5
pulmonal.Di samping itu, peningkatan PVR juga menyebabkan pembalikan parsial
sirkulasi darah janin dengan arah aliran dari kanan ke kiri melalui duktus arteriosus
dan foramen ovale.
Kolaps baru (atelektasis) akan menyebabkan gangguan ventilasi pulmonal yang
menimbulkan hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah konstriksin vaskularisasi
pulmonal yang menimbulkan penurunan oksigenasi jaringan dan selanjutnya
menybabkan metabolismeanareobik.
RDS atau sindrom gangguan pernapasan adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri
dan mengikuti masa deteriorasi (kurang lebih 48 jam) dan jika tidak ada komplikasi
paru akan membaik dalam 72 jam. Proses perbaikan ini, terutama dikaitkan dengan
meningkatkan produksi dan ketersediaan materi surfaktan.
6
Pathways
Bayi lahir prematur
Inadekuat Surfaktan Lapisan lemak belum
Alveolus kolaps
Resiko gangguan
Ventilasi berkurang hipoksia Termoregulasi:
hipotermia
Peningkatan usaha Cedera paru
Nafas Pembentukan membran
Edema hialin
Takipnea
Pertukaran gas tergganngu Mengendap di alveoli
Pola nafas tidak efektif
Refleks hisap Penguapan meningkat
menurun
Resiko kekurangan
Intake tidak volume cairan
adekuat
Kekurangan nutrisi
7
D. Manifestasi Klinis
Penyakit membran hialin ini mungkin terjadi pada bayi prematur dengan berat badan
100-2000 gram atau masa gestasi 30-36 minggu. Jarang ditemukan pada bayi dengan
berat badan lebih dari 2500 gram. Sering disertai dengan riwayat asfiksia pada waktu
lahir atau tanda gawat bayi pada akhir kehamilan. Tanda gangguan pernapasan mulai
tampak dalam 6-8 jam pertama. Setelah lahir dan gejala yang karakteristik mulai
terlihat pada umur 24-72 jam. Bila keadaan membaik, gejala akan menghilang pada
akhir minggu pertama.
Gangguan pernapasan pada bayi terutama disebabkan oleh atelektasis dan perfusi paru
yang menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan gambaran klinis seperti dispnea
atau hiperpneu, sianosis karena saturasi O2 yang menurun dan karena pirau vena-
arteri dalam paru atau jantung, retraksi suprasternal, epigastrium, interkostal dan
respiratory grunting. Selain tanda gangguan pernapasan, ditemukan gejala lain
misalnya bradikardia (sering ditemukan pada penderita penyakit membran hialin
berat), hipotensi, kardiomegali, pitting oedema terutama di daerah dorsal tangan/kaki,
hipotermia, tonus otot yang menurun, gejala sentral dapat terlihat bila terjadi
komplikasi.
E. Klasifikasi SGN
8
F. Pemeriksaan Diagnostik dan Penunjang SGN
Untuk mendiagnosis keterlibatan kardiovaskular serta PMH yang mendasarinya,
selain berdasarkan gejala klinis, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium, foto dada, elektrokardiografi, ekokardiografi,
angiokardiografi.Pemeriksaan penunjang dengan foto dada masih merupakan
prosedur yang amat penting dalam mendiagnosis kelainan kardiovaskular.
Keunggulan ekokardiografi dalam mendiagnosis kelainan jantung adalah kemampuan
dalam memberi informasi mengenai status perikardium, miokardium, endokardium
dan katup jantung. Doppler berguna untuk menegakkan kelainan struktur jantung dan
pembuluh darah, menetapkan atau memperkirakan derajat kelainan katup dan
hemodinamik, dan menilai keterlibatan kardiovaskular karena penyakit lain.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan analisis gas darah. Pada
pemeriksaan kimia darah akibat adanya asidosis metabolik pada bayi akan terlihat
peninggian asam laktat dan asam organik lain. Tinggi rendahnya asam laktat
tergantung dari berat ringannya penyakit. Bila kadarnya lebih dari 45mg/dl, maka
prognosis penyakit akan buruk. Pada pemeriksaan darah juga akan ditemukan pula
tanda asidosis metabolik lain seperti merendahnya bikarbonat.
G. Asuhan Keperawatan pada Bayi dengan SGN
1. Pengkajian
a. Indentitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama,
tanggal pengkajian.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat maternal
Menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi seperti perdarahan
plasenta, tipe dan lamanya persalinan, stress fetal atau intrapartus.
2) Status infant saat lahir
Prematur, umur kehamilan, apgar score (apakah terjadi asfiksia), bayi lahir
melalui operasi caesar.
9
c. Data dasar pengkajian
1) Kardiovaskular : bradikardia > 100x/menit dengan hipoksemia berat,
murmur sistolik, denyut jantung DBN
2) Integumen : pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral, pitting
edema pada tangan dan kaki, Mottling
3) Neurologis : immobilitas, kelemahan, penurunan suhu tubuh
4) Pulmonary : takipnea, nafas grunting, pernapasan cuping hidung,
pernapasan dangkal, retraksi suprasternal dan substernal, sianosis,
penurunan suara nafas, crakles, episode apnea
5) Status behavioral : letargi
d. Pemeriksaan diagnostik
1) Sert rontgen dada : untuk melihat densitas atelektasi dan elevasi diafragma
dengan over distensi duktus alveolar
2) Bronchogram udara : untuk menentukan ventilasi jalan napas
e. Data laboratorium
1) Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan bahan cairan
amnion untuk janin yang mempunyai predisposisi RDS
2) Lesitin/spingomielin (L/S) ratio 2 : 1 atau lebih mengindikasikan maturitas
paru
3) Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu
4) Tingkat phospatydylinositol
5) AGD : PaO2 < 50 mmHg, PaCO2> 50 mmHg, saturasi oksigen 92%-94%,
pH 7,3-7,45.
6) Level potassium : meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel
alveolar yang rusak
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologis (defisiensi
surfaktan dan ketidakstabilan alveolar)
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-
alveolar
c. Resiko gangguan termoregulasi : hipotermia berhubungan dengan berada di
lingkungan yang dingin
d. Kekurangan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
10
e. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi
3. Perencanaan keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologis (defisiensi
surfaktan dan ketidakstabilan alveolar)
Tujuan yang diharapkan : Pola nafas kembali efektif
Kriteria Hasil :
Pengembangan dada simetris
Irama pernapasan teratur
Bernapas mudahTidak ada suara nafas tambahan
Rencana Tindakan
Intervensi Rasional
Monitor kecepatan, irama, Mengetahui apakah ada
kedalaman dan upaya nafas gangguan dalam bernafas
Monitor pergerakan, Mengetahui kemampuan
kesimetrisan dada, retraksi dada bernafas klien
dan alat bantu pernafasan
Posisikan klien untuk Klien merasa nyaman
memaksimalkan ventilasi dan
mengurangi dispnea
Berikan oksigen sesuai program Mempertahankan oksigen arteri
Alat-alat emergensi disiapkan Kemungkinan terjadi kesulitan
dalam keadaan baik bernapas akut
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-
alveolar
Tujuan yang diharapkan : pertukaran gas kembali normal
11
Kriteria hasil :
1. Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat
dengan GDA dalam rentang normal.
2. Bebas dari gejala distres pernafasan.
Rencana Tindakan :
Intervensi Rasional
Pantau dispnea, takipnea, bunyi Data dasar untuk menentukan
napas, peningkatan upaya intervensi lebih lanjut
pernapasan, ekspansi, paru, dan
kelemahan
Monitor intake dan output Menjaga keseimbangan cairan
cairan
Jaga alat emergensi dan Persiapan emergensi terjadinya
pengobatan tetap tersedia seperti masalah akut pernafasan
ambu bag, ET tube, suction,
oksigen
Batasi pengunjung Mengurangi tingkat kecemasan
c. Resiko gangguan termoregulasi : hipotermia berhubungan dengan berada di
lingkungan yang dingin
Tujuan yang diharapkan : Hipotermia dapat teratasi
Kriteria hasil :
1) Suhu axila 36-37˚C
2) RR : 30-60 X/menit
3) Warna kulit merah muda
4) Tidak ada distress respirasi
5) Tidak menggigil
6) Bayi tidak gelisah
7) Bayi tidak letargi
12
Rencana Tindakan :
Intervensi Rasional
Monitor gejala dari hopotermia : Data dasar dalam menentukan
fatigue, lemah, apatis, perubahan intervensi
warna kulit
Monitor status pernafasan Mengetahui adanya gangguan
pernafasan
Pindahkan bayi dari lingkungan Menaikkan suhu tubuh bayi
yang dingin ke dalam
lingkungan / tempat yang hangat
(didalam inkubator atau lampu
sorot)
Segera ganti pakaian bayi yang Pakaian yang dingin dan basah
dingin dan basah dengan pakaian akan membuat bayi
yang hangat dan kering, berikan memperburuk kondisi bayi
selimut.
d. Kekurangan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan : Nutrisi dapat tercukupi
Kriteria hasil :
Tidak terjadi penurunan BB > 15 %.
Bayi tidak muntah
Bayi dapat minum dengan baik
Rencana Tindakan :
Intervensi Rasional
13
Observasi reflek menghisap dan Mengetahui apakah ada
menelan bayi. gangguan dalam menghisap dan
menelan bayi
Observasi intake dan output. Mengetahui status nutrisi bayi
Berikan cairan IV dengan Memenuhi kebutuhan kalori
kandungan glukosa sesuai bayi
kebutuhan neonates
Rujuk kepada ahli diet untuk Menentukan diet yang tepat bagi
membantu memilih cairan yang bayi
dapat memenuhi kebutuhan gizi
e. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi
Tujuan yang diharapkan : Resiko kekurangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria hasil :
1) Turgor pada perut bagian depan kenyal, tidak ada edema, membranmukosa
lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan BB.
2) Output urin 1-2 ml/kg BB/jam, ubun-ubun datar, elektrolit darah dalam
batas normal.
Rencana Tindakan :
Intervensi Rasional
Observasi suhu dan nadi. Mengetahui adanya indikasi
kekurangan volume cairan
Observasi adanya tanda-tanda Menentukan intervensi lebih
dehidrasi atau overhidrasi. lanjut
Berikan terapi intravena sesuai Mempertahankan keseimbangan
dengan anjuran dan berikan cairan
14
dosis pemeliharaan, selain itu
berikan pula tindakan-tindakan
pencegahan
Cairan membantu distribusi
Berikan susu dan cairan
obat-obatan dalam tubuh serta
intravena sesuai kebutuhan
membantu menurunkan demam.
Cairan bening membantu
menambahkan kalori serta
menanggulangi kehilangan BB
15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sindrom distres pernafasan adalah perkembangan yang iatur pada sistem pernafasan
atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai hyaline
membran disease. Penyebab terjadinya RDS yaitu kurang/tidak adanya surfaktan
dalam paru-paru. Namun terdapat beberapa faktor predisposisi, yaitu bayi dari ibu
diabetes, persalinan sebelum umum kehamilan 37 minggu, kehamilan multijanin,
persalinan SC, persalinan cepat, asfiksia, stress dingin, dan riwayat bayi terkena RDS.
B. Saran
Semoga tersusunnya makalah ini, dapat berguna bagi penulis dan rekan-rekan
mahasiswa lainnya. Dan semoga bisa menjadi sebuah referensi dalam proses
pembelajaran mata ajar keperawatan anak. Sebagai penulis, kami merasa masih
banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca sangat kami harapkan agar penyusunan makalah
ini bisa mencapai kesempurnaan.
16
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman. 1985. Ilmu kesehatan anak 1. Bagian ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran
indonesia. Jakarta
Ngastiyah. 1999. Perawatan anak sakit. Jakarta: EGC
17
18