Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Pemerintah Indonesia mendirikan BUMN dengan dua tujuan utama, yait tujuan yang
bersifat ekonomi dan tujuan yang bersifat sosial. Dalam tujuan yang bersifat ekonomi, BUMN
dimaksudkan untuk mengelola sektor-sektor bisnis strategis agar tidak dikuasai pihak-pihak
tertentu. Bidang-bidang usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti perusahan
listrik dan minyak, dan gas bumi. Dengan adanya BUMN diaharapkan dapat terjadi peningkatan
kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang berada disekitar lokasi BUMN. Tujuan
BUMN bersifat sosial antara lain dapat dicapai melalui perekrutan tenaga kerja oleh BUMN.
Upaya untuk membangkitkan kerja dalam mendukung kelancaran proses kegiatan usaha. Hal ini
sejalan dengan kebijakan pemerinta untuk memberdayakan usaha kecil, menengah dan koperasi
yang berada disekitar lokasi BUMN.

Namun dalam kurun waktu 50 tahun semenjak BUMN dibentuk, BUMN secara umum
belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Perolehan laba yang dihasilkan masih
sangat rendah. Sementara itu, ssat ini pemerintah Indonesia masih harus berjuang untuk melunasi
pinjaman luar negeri yang disebabkan oleh krisis ekonomi tahun 1997 lalu. Dan salah satu upaya
yang ditempuh pemerintah untuk dapat meningkatkan pendapatannya adalah dengan melakukan
privatisasi BUMN.

Namun demikian, privatisasi BUMN telah mengandung Pro dan Kontra dikalangan
masyarakat. Sebagaian masyarakat berpendapat bahwa BUMN adalah aset Negara yang harus
tetap dipertahankan kepemilikannya oleh pemerintah, walaupun tidak mendatangkan manfaat
kara terus merugi. Namun adapula kalangan masyarakat yang berpendapat bahwa pemerintah
tidak perlu sepenuhnya memiliki BUMN, yang penting BUMN tersebut dapat mendatangkan
manfaat yang lebih baik bagi Negara dan masyarakat Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PRIVATISASI BUMN

2.1.1. Pengertian Privatisasi


Terdapat banyak defenisi yang diberikan oleh para pakar berkenaan dengan istilah privatisasi.
Beberapa pakar bahkan mendefenisikan privatisasi dalam arti luas, seperti J.A. Kay dan D.J.
Thomson sebagai “means of changing relationship between the govermengt and private sector”.
Mereka mendefenidikan privatisasi sebagai cara untuk mengubah hubungan antra pemerintah
dan sektor swasta

Istilah privatisasi sering diartikan sebagai pemindahan kepemilikan industri dari pemerintah ke
sektor swasta yang berimplikasi kepada dominasi kepemilikan saham akan berpindah ke
pemegang saham swasta. Privatisasi adalah suatu terminology yang mencakup perubahan
hubungan antara pemerintah denga sektor swasta, diman aperubahan yang paling signifikan
adanya disnasionalisasi penjuln kepemilikan public.

Sesuai Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, pengertian
Privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain
dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan
masyarakat, serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. Berdasarkan pengertian
privatisasi tersebut maka Kementerian Negara BUMN mengenai privatisasi adalah: Mendorong
BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan guna menjadi champion dalam
industrinya serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan sahamnya.

2.1.2. Tujuan Privatisasi

Pada dasarnya kebijakan privatisasi ditunjukkan untuk berbagai aspek harapan, dilihat dari aspek
keuangan, pembenahan internal manajemen (jasa dan organisasi) ekonomi dan politik. Tujuan
privatisasi

1. a. Dari sisi pembenahan internal manajemen:


1. Meningkatkan efesiensi dan produktifitas
2. Mengurangi peran Negara dalam pembuatan keputusan
3. Mendorong penetapan harga komersial, organisasi yang berorientasi pada
keuntungan dan perilaku bisnis yang menguntungkan.
4. Meningkatkan pilihan konsumen

1. b. Dari sisi ekonomi tujuanya adalah :


1. Meperluas kekuatan pasar dan meningkatkan persaingan.
2. Mengurangi ukuran sektor public dan membuka pasar baru untuk modal swasta.

1. c. Dari segi politik


1. 1. Mengendalikan kekuatan asosiasi/perkumpulan bidang usaha bisnis tertentu
dan memperbaiki pasar tenaga kerja agar lebih fleksibel;
2. Mendorong kepemilikan saham untuk individu dan karyawan serta memperluas
kepemilikan kekayaan;
3. Memperoleh dukungan politik dengan memenuhi permintaan industri dan
menciptakan kesempatan lebih banyak akumulasi modal spekulasi;
4. Meningkatkan kemandirian dan individualisme.

2.1.3. Manfaat Privatisasi BUMN

Manfaat dari program privatisasi pada dasarnya dapat ditinjau berdasarkan manfaat bagi
perusahaan BUMN itu sendiri, manfaat bagi negara serta manfaat bagi masyarakat

1. a. Bagi Pemerintah

Manfaat privatisasi bagi Negara adalah membantu memperkuat kapitalisasi pasar modal,
mengembangkan sarana investasi, menjadi sumber pendanaan bagi APBN (dari hasil divestasi),
membantu mengembangkan sektor riil, dan mendorong perbaikan iklim investas

1. b. Bagi Perusahaan BUMN

Bagi perusahaan BUMN yang bersangkutan privatisasi diharapkan dapat memberikan manfaat
dalam hal:

(a) memperbaiki penerapan dan praktik Good Corporate Governance (GCG),

(b) mendapat akses dan sumber pendanaan baru untuk pertumbuhan perusahaan sehingga dapat
meningkatkan kinerja perusahaan, dan

(c) dalam hal privatisasi melalui Strategic Sale (SS) bermanfaat untuk pengembangan pasar, alih
teknologi, networking dan peningkatan daya saing perusahaan.

1. c. Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat, privatisasi diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu memperluas


kepemilikan (penjualan saham melalui pasar modal), menciptakan lapangan kerja karena
peningkatan aktivitas ekonomi, dan memperbaiki kualitas jasa & produk melalui pertumbuhan
perusahaan serta peningkatan partisipasi dan kontrol masyarakat investor terhadap perusahaan.

2.1.4. Metode Privatisasi

Banyak metode yang ada dalam rangka pelaksanaan privatisasi.BUMN di Indonesia, namun agar
dapat berjalan dengan baik tentunyapemilihan strategi privatisasi haruslah direncanakan dengan
matangagar berhasil dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Jenis BUMN,kondisi BUMN, serta
situasi sosial politik dari suatu negara jugaadalah beberapa faktor yang menentukan sukses
tidaknya privatisasidilakukan. Beberapa strategi yang dapat dipilih, antara lain publicoffering,
private sale, new private investment, sale of assets,fragmentation, management/employee buy
out, kontrak manajemen,kontrak/sewa aset, atau likuidas

1. Public Offering

Pada strategipublic offering, pemerintah menjual kepadapublik semua atau sebagian saham yang
dimiliki atas BUMNtertentu kepada publik melalui pasar modal. Umumnya, pemerintahhanya
menjual sebagian dari saham yang dimiliki atas BUMNtersebut. Strategi ini akan menghasilkan
suatu perusahaan yang dimiliki bersama antara pemerintah dan swasta. Proporsi kepemilikan
pemerintah atas BUMN ini akan menurun.

Public offering ini cocok untuk memprivatisasi BUMN yang cukupbesar, memiliki potensi
keuntungan yang memadai dalam waktudekat dapat direalisasi. BUMN harus bisa memberikan
informasi lengkap tentang keuangan, manajemen, dan informasi lainnya,yang diperlukan
masyarakat sebagai calon investor.

Public offeringini akan dapat terealisasi apabila telah tersedia pasar modal, atau suatu badan
formal yang dibentuk dalam rangkamenginformasikan, menarik, dan menjaring publik. Di
samping ituharus cukup tersedia likuiditas di pasar modal tersebut. Metode public offering telah
dipilih dalam rangka privatisasi beberapaBUMN di Indonesia, antara lain PT. SemenGresik, PT.
Indosat,PT. Timah, PT. Telkom, PT. Aneka Tambang, dan Bank BNI.

1. Private Sale

Pada strategi ini, pemerintah menjual semua atau sebagiansaham yang dimiliki atas BUMN
tertentu kepada satu atau sekelompok investor tertentu. Calon investor pada umumnya sudah
diidentifikasi terlebih dulu, sehingga pemerintah dapat memilihinvestor mana yang paling cocok
untuk dijadikan partner usahanya.Strategi private sale ini fleksibel, tidak harus melalui pasar
modal.Cocok untuk privatisasi BUMN yang memiliki kinerja rendah, yang belum layak untuk
melakukan public offering. BUMN ini memerlukan investor yang memiliki usaha di bidang
industri yang sama, memiliki posisi keuangan yang kuat, dan memiliki kinerja dan teknologi
yang baik. Strategi ini juga cocok untuk negaranegara yang belum memiliki pasar modal, atau
belum memiliki badan formal yang mampu menjaring investor.

1. New Private Investment

New private investment dapat ditempuh oleh pemerintah apabila pemerintah atau BUMN
menghadapi keterbatasan untuk mengembangkan usaha BUMN tersebut. Dalam hal ini,
pemerintah tidak menjual saham yang dimiliki atas BUMN, tetapi mengundang investor untuk
menyertakan modal, sehingga modal BUMN akan bertambah. Penambahan modal tersebut
sepenuhnya masuk ke BUMN, dan tidak ada dana yang diterima oleh pemerintah secara
langsung. Kebijakan ini akan menyebabkan proporsi kepemilikan saham pemerintah atas BUMN
tersebut menjadi berkurang. New private investment cocok untuk mengembangkan BUMN,
namun BUMN mengalami kekurangan dana, misalnya dalam rangka meningkatkan kapasitas
produksi atau menyediakan infrastruktur dalam rangka peningkatan produksi. Jadi sasaran
utamanya bukan untuk menjual BUMN tersebut.
1. Sale of Assets

Pada strategi ini pemerintah tidak menjual saham yangdimiliki atas saham BUMN tertentu, tetapi
menjual aset BUMNsecara langsung kepada pihak swasta. Alternatif lain, pemerintahtidak
menjual aset BUMN secara langsung, tetapimenggunakannya sebagai kontribusi pemerintah
dalampembentukan perusahaan baru, bekerjasama dengan pihakswasta. Dalam memilih mitra
usaha, tentunya pemerintah akanmemilih pihak-pihak yang telah dikenal sebelumnya.
Kebijakanpenjualan aset ini lebih fleksibel dan lebih mudah dilaksanakan,dibandingkan menjual
perusahaan secara keseluruhan. Kebiajakanini cocok untukdilaksanakan apabila menjual
perusahaan secarakeseluruhan merupakan target yang sulit dicapai. Pemerintah dapatmenjual
seluruh aset yang dimiliki BUMN, write off semua utang, dan melikuidasi BUMN tersebut.

1. Fragmentation

Pada strategi fragmentation ini, BUMN direorganisasi ataudipecah-pecah (fragmentation)


menjadi beberapa perusahaanatau dibuat suatu holding company dengan beberapa
anakperusahaan. Salah satu atau beberapa anak perusahaankemudian dijual kepada pihak swasta.
Kebijakan ini akan menghasilkan beberapa pemilik baru atas satu BUMN sehingga diharapkan
dapat menciptakan suasana bisnis yanglebih kompetitif. Strategi ini cocok untuk menjual BUMN
yang besar dengan harga yang mahal. Karena mahal biasanya tidak banyak calon investor yang
tertarik untuk membeli. Dengan dipecah-pecah, harganya menjadi lebih murah dan alternatif
untuk seorang investor untuk membeli menjadi lebih banyak, dimana ia dapat memilih bagian
yang paling menarik untuk dibeli.

1. Management/Employee Buy Out

Pada strategi ini, Pemerintah mengalokasikan sejumlahsaham untuk dibeli oleh para manajer
dankaryawan BUMN, ataukoperasi karyawan BUMN. Strategi ini cocok untuk
transferkepemilikan BUMN dari pemerintah kepada para manajer dankaryawan BUMN. Dengan
memiliki saham, para manajer dan karyawan BUMN diharapkan akan bekerja lebih serius,
sehinggakinerja BUMN akan meningkat. Strategi ini juga cocok untuk BUMNyang akan
diprivatisasi, namun belum layak untuk melakukan publik offering karena kinerjanya yang
kurang baik. Daripada BUMN dilikuidasi, maka strategi ini merupakan alternatif yang lebih
baik.

1. Kontrak Manajemen

Dalam strategi kontrak manajemen, pemerintahmengundang perusahaan swasta untuk


“mengelola” BUMN selamaperiode tertentu, dengan memberikan imbalan tertentu
(dituangkandalam kontrak kerjasama). Perusahaan tersebut harus bergerakdibidang yang sama,
memiliki pengalaman yang cukup, memilikiteknologi dan sumber daya manusia yang lebih baik.
Strategikontrak manajemen dimaksudkan untuk
1. meningkatkan kinerjaBUMN, melalui peningkatan efisiensi dan atau efektifitas
penggunaan aset BUMN,
2. memperoleh keuntungan yang optimal,
3. transfer manajemen, budaya kerja, skill, dan teknologi.

Tidak ada transfer kepemilikan dalam strategi ini. Privatisasi yang dilakukan hanya bersifat
privatisasi pengelolaan, bukan privatisasikepemilikan. Strategi kontrak manajemen dapat dipakai
sebagaistrategi antara sebelum privatisasi kepemimpinan dilaksanakan.Kontrak manajemen
merupakan strategi yang baik apabila kondisiBUMN belum layakuntuk dijual. Strategi ini dapat
dipakai untukmeningkatkan kinerja BUMN, baik untuk BUMN yang memberikan pelayanan
umum kepada masyarakat, maupun BUMN yang akan diprivatisasi kepemilikannya.

1. Kontrak/Sewa Aset

Kontrak/sewa aset adalah strategi di mana pemerint mengundang perusahaan swasta untuk
menyewa aset atau fasilitas yang dimiliki BUMN selama periode tertentu.

Pemerintah/BUMN dengan segera akan mendapatkan uang sewa dari perusahaan penyewa, tanpa
melihat apakah perusahaan tersebut memperoleh keuntungan atau tidak. Perusahaan penyewa
berkewajiban untuk memelihara aset atau fasilitas yang disewanya.Aset atau fasilitas yang
disewa bisa termasuk SDM yang mengelola fasilitas atau aset tersebut.

Strategi ini cocok untuk meningkatkan return on assets (ROA), sehingga aset BUMN bisa
dimanfaatkan secara optimal. PT. Tambang Timah (Indonesia) telah menerapkan metode ini.
Demikian pula Port Kelang dan National Park Facilities dari Malaysia, serta Port of Singapore
dari Singapura. BUMN-BUMN tersebut telah menyewakan asset yang dimiliki dalam rangka
meningkatkan ROA.

1. Likuidasi

Likuidasi merupakan alternatif terakhir yang dapat dilakukan pemerintah terhadap BUMN.
Alternatif ini dapat dipilih apabila BUMN tersebut adalah BUMN komersial, bukan BUMN
public utilities atau memberikan public services, tetapi dalam kenyataannya tidak pernah
mendapatkan keuntungan dan selalu menjadi beban negara

1. Initial Public Offering (IPO)

Initial Public offering merupakan strategi privatisasi BUMN dengan cara menjual sebagian
saham yang dikuasai pemerintah kepada investor publik untuk yang pertama kalinya. Artinya,
saham BUMN tersebut belum pernah dijual melalui pasar modal pada waktu sebelumnya.
Metode IPO dapat menghasilkan dana segar dalam jumlah yang besar bagi pemerintah, tanpa
harus kehilangan kendali atas BUMN tersebut. Investor publik pada umumnya membeli saham
untuk tujuan investasi, dengan persentase kepemilikan yang relatif kecil.
Pada umumnya mereka tidak bermaksud untuk ikut serta dalam kegiatan operasional
perusahaan. Dengan demikian IPO ini cocok untuk dipilih apabila nilai saham yang akan
diprivatisasi jumlahnya cukup besar, BUMN memiliki kondisi keuangan yang baik, memiliki
kinerja manajemen yang baik, tersedia cukup waktu untuk melaksanakan IPO, serta cukup
tersedia likuiditas dana di pasar modal.

1. Right Issue (RI)

Right Issue adalah strategi privatisasi BUMN dengan cara menjual sebagian saham yang dikuasai
pemerintah kepada publik, di mana BUMN tersebut telah melakukan penjualan saham melalui
pasar modal pada waktu sebelumnya.

Pada dasarnya metode Right Issue tidak jauh berbeda dengan metode initial public offering.
Metode Right Issue tidak menyebabkan pemerintah lepas kendali atas BUMN yang diprivatisasi
selama masih menjadi pemegang saham mayoritas.

Right issue cocok untuk dipilih apabila nilai saham yang akan diprivatisasi jumlahnya cukup
besar, BUMN pernah melakukan penawaran saham melalui IPO, memiliki kondisi keuangan
yang baik, memiliki kinerja manajemen yang baik, tersedia cukup waktu untuk melaksanakan
Right Issue, serta tersedia likuiditas dana di pasar modal.

1. Strategic Sales

Strategic sales (SS) merupakan strategi privatisasi untuk menjual saham BUMN yang dikuasai
pemerintah kepada investor tunggal, atau sekelompok investor tertentu. Beberapa metode yang
termasuk didalam SS antara lain strategic private sale, new private investment,
management/employee buy out dan fragmentation.

Pada dasarnya, SS dimaksudkan untuk mendatangkan dan melibatkan investor baru dalam
pengelolaan BUMN. Disamping membawa dana segar, diharapkan investor baru juga membawa
sesuatu yang strategis untuk meningkatkan kinerja BUMN seperti teknologi baru, budaya,
metode kerja yang efektif dan efisien, perluasan penguasaan pasar dan sebagainya.

Dengan demikian pemilihan investor baru sangatlah selektif dikaitkan dengan permasalahan
yang ada di BUMN yang akan diprivatisasi.

Strategic Sales merupakan pilihan yang baik bila BUMN yang diprivatisasi memiliki kinerja
yang kurang baik atau permasalahan keuangan yang kurag sehat. Strategi ini juga dapat
dilaksanakan dalam waktu yang relatif cepat dengan biaya yang lebih kecil bila dibandingkan
dengan IPO, sehingga cocok untuk strategi privatisasi dengan waktu yang relatif terbatas atau
nilai saham yang diprivatisasi kecil, atau bila pasar modal sedang dalam kondisi kekurangan
likuiditas

2.1.5. Pro dan Kontra Privatisasi


Sebagai sebuah kebijakan yang menyangkut kepentingan public, program privatsasi
masih disikapi secara pro dan kontra.

ü Alasan-Alasan yang mendukung privatisasi

1. a. Peningkatan efisiensi, kinerja dan produktivitas perusahaan yang


diprivatisasi.BUMN sering dilihat sebagai sosok unit pekerja yang tidak efisien, boros,
tidak professional dengan kinerja yang tidak optimal, dan penilaian-penilaian negatif
lainnya. Beberapa faktor yang sering dianggap sebagai penyebabnya adalah kurangnya
atau bahkan tidak adanya persaingan di pasar produk sebagai akibat proteksi pemerintah
atau hak monopoli yang dimiliki oleh BUMN. tidak adanya persaingan ini
mengakibatkan rendahnya efisiensi BUMN.

Hal ini akan berbeda jika perusahaan itu diprivatisasi dan pada saat yang bersamaan didukung
dengan peningkatan persaingan efektif di sektor yang bersangkutan, semisal meniadakan
proteksi perusahaan yang diprivatisasi. Dengan adanya disiplin persaingan pasar akan memaksa
perusahaan untuk lebih efisien. Pembebasan kendali dari pemerintah juga memungkinkan
perusahaan tersebut lebih kompetitif untuk menghasilkan produk dan jasa bahkan dengan
kualitas yang lebih baik dan sesuai dengan konsumen. Selanjutnya akan membuat penggunaan
sumber daya lebih efisien dan meningkatkan output ekonomi secara keseluruhan.

1. b. Mendorong perkembangan pasar modal. Privatisasi yang berarti menjual


perusahaan negara kepada swasta dapat membantu terciptanya perluasan kepemilikan
saham, sehingga diharapkan akan berimplikasi pada perbaikan distribusi pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat.Privatisasi juga dapat mendorong perusahaan baru yang masuk
ke pasar modal dan reksadana. Selain itu, privatisasi BUMN dan infrastruktur ekonomi
dapat mengurangi defisit dan tekanan inflasi yang selanjutnya mendukung perkembangan
pasar modal.
2. c. Meningkatkan pendapatan baru bagi pemerintah.Secara umum,
privatisasi dapat mendatangkan pemasukan bagi pemerintah yang berasal dari penjualan
saham BUMN. Selain itu, privatisasi dapat mengurangi subsidi pemerintah yang
ditujukan kepada BUMN yang bersangkutan. Juga dapat meningkatkan penerimaan pajak
dari perusahaan yang beroperasi lebih produktif dengan laba yang lebih tinggi. Dengan
demikian, privatisasi dapat menolong untuk menjaga keseimbangan anggaran pemerintah
sekaligus mengatasi tekanan inflasi

ü Alasan- Alasan yang menolak program Privatisasi BUMN

Beberapa alasan yang diajukan oleh pihak yang mendukung program privatisasi sebagaimana
telah dipaparkan di atas, dinilai tidak tepat oleh pihak-pihak yang kontra.

Alasan bahwa privatisasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan yang
diprivatisasi dianggap tidak sesuai dengan fakta. Sebab jika itu yang menjadi motifnya, maka
seharusnya yang diprivatisasi adalah perusahaan-perusahaan yang tidak efisien, produktivitasnya
rendah dan kinerjanya payah. Sehingga dengan diprivatisasi, diharapkan perusahaan tersebut
berubah menjadi lebih efisien, produktivitasnya meningkat, dan kinerjanya menjadi lebih bagus.

Padahal, pada kenyatannya yang diprivatisasi adalah perusahaan yang sehat dan efisien. Jika ada
perusahaan negara yang merugi dan tidak efisien, biasanya disehatkan terlebih dahulu sehingga
menjadi sehat dan mencapai profit, dan setelah itu baru kemudian dijual.

Alasan untuk meningkatkan pendapatan negara juga tidak bisa diterima. Memang ketika terjadi
penjualan aset-aset BUMN itu negara mendapatkan pemasukan. Namun sebagaimana layaknya
penjualan, penerimaan pendapatan itu diiringi dengan kehilangan pemilikan aset-aset tersebut.
Ini berarti negara akan kehilangan salah satu sumber pendapatannya. Akan menjadi lebih
berbahaya jika ternyata pembelinya dari perusahaan asing. Meskipun pabriknya masih
berkedudukan di Indonesia, namun hak atas segala informasi dan bagian dari modal menjadi
milik perusahaan asing

2.1.6. Dampak Privatisasi BUMN di Indonesia

Dampak kebijakan privatisasi BUMN jelas terlihat pada perubahan kebijakan pemerintah dan
regulasi. Dimana dapat dikatakan sebagai sarana transisi menuju pasar bebas, aktivitas ekonomi
akan lebih terbuka menuju kekuatan pasar yang lebih kompetitif, dengan adanya jaminan tidak
ada hambatan dalam kompetisi, baik berupa aturan, regulasi maupun subsidi. Krbijakan
privatisasi dikaitkan dengan kebijakan eksternal yang penting seperti tariff, tingkat nilai tukar,
dan regulasi bagi investor asing.

Dampak lain yang sering dirasakan dari kebijakan privatisasi yaitu menyebarnya kepemilikan
pemerintah kepada swasta, megurangi sentralisasi kepemilikan kepada suatu keompok atau
konglimerat tertentu. Sebagai sarana transisi menuju pasar bebas, aktivitas ekonomi akan lebih
terbuka maju kekuatan pasar yang lebih kompetitif, dengan jaminan tidak ada hambatan dalam
kompetisi, baik aturan, regulasi maupun subsudi.untuk itu diperlukan perombakan hambatan
masuk pasar dan adopsi sebuah kebijakan yang dapat membantu perkembangan dan menarik
investasi swasta dengan memindahakan efek keruwetan dari kepemilikan pemerintah.

Seharusnya program privatisasi ditekankan pada manfaat transformasi suatu monopoli public
menjadi milik swasta. Hal ini terbatas pada keuntungan ekonomi dan politik. Dengan pengalihan
kepemilikan, salah satu alternative yaitu dengan melakukan pelepasaan saham kepada rakyat dan
karyawan BUMN yang bersangkutan dapat ikut melakukan control dan lebih memotivasi kerja
para karyawan karena merasa ikut memiliki dan lebih semangat untuk lebih berpartisipasi dalam
rngka meningkatkan kinerja BUMN yang sehat. Hal ini datpat berdampak pada peningkatan
produktifitas karyawan yang berujung pada kenaikan keuntungan.

Privatisasi BUMN di Indonesia mulai direncanakan pemerintah sejak tahun 1990-an. BUMN-
BUMN yang telah diprivatisasi seperti PT Telkom (persero)Tbk., PT. Perusahaan Gas Negara
(persero) Tbk., PT bank Mandiri (persero) Tbk,. PT Bank BNI 46 (persero) TBK., PT Indosat
(persero) Tbk., ternyata mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap likuiditas dan
pergerakan pasar modal.
Selain itu, metode privatisasi yang dilakukan pemerintah pun kebanyakan masih berbentuk
penjualan saham kepada pihak swasta. Hal ini menyebabkan uang yang diperoleh dari hasil
penjualan saham-saham BUMN tersebut masuk ketangan pemerintah, bukan masuk ke dalam
BUMN untuk digunakan sebagai tambahan pendanaan dalam rangka mengembangkan usahanya.

Bagi pemerintah hal ini berdampak cukup menguntungkan, karena pemerintah memperoleh
pendapatan penjualan sahamnya, namun sebenarnya bagi BUMN hal ini agak kurang
menguntungkan, karena dengan kepemilikan baru, tentunya mereka dituntut untuk melakukan
berbagai perubahan. Namun, perubahan tersebut kurang diimbangi tambahan dana segar yang
cukup, sebagian besar hanya berasal dari kegiatan-kegiatan operasionalnya terdahulu yang
sebenarnya didapatnya denga kurang efesien.

Dari segi politis, masih bnyak pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi saham kepada
pihak asing ini. Pasalnya, kebijakan ini dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip nasionalisme.
Privatisasi kepada pihak asing ini dinilai akan menyebabkan terbangnya keuntungan BUMN
kepada pihak asing, bukannya kembali kepada rakyat Indonesia.

2.2. REVORMASI BUMN

Upaya pemerintah untuk melakukan reformasi BUMN telah dimulai pada tahun 1980-an melalui
penerbitan Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 1988 yang dijabarkan lebih lanjut dengan Surat
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 740 dan 741 tahun 1989. Regulasi ini memberikan
wewenang kepada BUMN untuk menggunakan berbagai perangkat reformasi seperti
restrukturisasi, penggabungan usaha (merger), kerjasama operasi (KSO) dan bentuk-bentuk
partisipasi swasta laintermasuk penawaran saham kepada masyarakat dan penjualan strategis.

Sektor-sektor yang dibuka bagi partisipasi pihak swasta tidak saja dalam sektor yang kompetitif,
tetapi juga dimungkinkan dalam bentuk kerjasama usaha di sektor infrastruktur, transportasi dan
energi. Sebagai akibat dari kebijakan reformasi BUMN di atas, dalam kurun waktu 1990-1998
pihak investor swasta, asing dan domestik diundang untuk berpartisipasi dalam memiliki saham
BUMN.

Sebagian saham negara pada enam BUMN besar telah ditawarkan melalui Bursa Efek Jakarta,
Surabaya New York dan London dalam kurun waktu tersebut. Penjualan saham ini sangat sukses
dalam terminologi pasar modal, di mana sebesar US$ 4,34 miliar berhasil diperoleh dari
penjualan tersebut. Sebanyak 55% dari hasil penjualan masuk kepada Pemerintah serta 45%
kepada perseroan-perseroan.

Saham- saham perusahaan tersebut memiliki prestasi sangat baik di bursa efek Jakarta dan
menjadi saham unggulan di bursa tersebut. Dalam kurun waktu yang sama dilakukan dua
penjualan strategis (strategic sales), yaitu PT Intirub pada tahun 1991 dan diikuti oleh PT Aneka
Gas Industri pada tahun 1997.

Jumlah saham pemerintah yang dilepas dalam program privatisasi di atas tidak lebih dari 49%,
kecuali dalam kasus penjualan strategis PT Intirub, PT Aneka Gas Industri dan Terminal
Kontainer Jakarta.
Meskipun demikian langkah penawaran saham ini minimal memberikan pengalaman kepada
pemerintah dan publik mengenai inisiatif privatisasi serta mendorong transparansi dan
akuntabilitas pengelolaan perusahaan. Reformasi BUMN telah menjadi progam negara dengan
dimasukkannya masalah pengelolaan dan privatisasi BUMN pada butir 12 dan 28 Garis-garis
Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999 – 2004.

Secara umum reformasi BUMN diperlukan untuk memperbaiki kinerja dan kondisi-kondisi yang
dirasakan menghambat perekonomian dan memperburuk keuangan Pemerintah.

Alasan-alasanumum perlunya tindakan reformasi BUMN adalah:

ü Biaya produksi yang relatif tinggi menyebabkan tingkat laba yang yang dicapai menjadi
rendah dan ketidaksanggupan perseroan untuk membiayai perluasan usaha dari laba yang
ditahan.

ü Keuangan Pemerintah menyebabkan investasi baru tidak dapat dibiayai dari APBN,baik
melalui dana segar Pemerintah, maupun proyek pemerintah yang dialihkan sebagai aset (PMP)
serta adanya kebijakan nasional untuk mengurangi subsidi.

ü Tidak banyak sumber daya baru yang dapat diharapkan dari sistem perbankan karena saat ini
masih dalam proses recovery Kerjasama usaha yang selama ini dijalankan oleh BUMN, hanya
memiliki peranan terbatas dan tidak dapat menggantikan restrukturisasi BUMN itu sendiri.
Dengan reformasi BUMN diharapkan tercipta peluang-peluang baru untuk investor swasta dalam
negeri dan asing sehingga akan membantu mengembalikan kepercayaan investor dan dengan
demikian akan memulihkan perekonomian dari resesi dan sekaligus juga menciptakan akses
kepada modal, teknologi dan pasar.

Karena alasan-alasan tersebut diatas, Pemerintah sejak awal tahun 1998 bertekad untuk
merestrukturisasi BUMN.Untuk itu dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

1. Menyatukan tanggung jawab reformasi dan pembinaan BUMN dari yang pada awalnya
di Departemen Teknis ke Menteri Negara BUMN, melalui Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 12 dan 13 diikuti dengan PP Nomor 50 dan 64 tahun 1998, kemudian
diperbaharui dengan PP Nomor 96 dan Nomor 98 tahun 1999, diikuti PP Nomor 1 dan
Nomor 89 tahun 2000, terakhir dengan PP Nomor 64 tahun 2001.
2. Percepatan langkah restrukturisasi dan privatisasi BUMN.antara lain dengan
memperbanyak metode privatisasi
3. Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2000, Pemerintah juga telah
merestrukturisasi unit-unit kegiatan pelayanan Pemerintah yang sudah mandiri menjadi
suatu badan usaha bisnis (BUMN), diantaranya adalah Yayasan TVRI menjadi Perjan
TVRI dan RRI menjadi Perjan RRI, serta Swadana Rumah Sakit Umum menjadi Perjan
Rumah Sakit
4. Memaksimalkan nilai/kepentingan Pemegang Saham, antara lain mendorong peningkatan
value creation serta value of the firm
5. Menyiapkan rencana jangka panjang bagi reformasi BUMN, terutama dalam hal
privatisasi.
2.2.1. Peranan Pemerintah dimasa Depan

Butir-butir reformasi BUMN seperti yang dimuat dalam GBHN mengandung semangat bahwa
masa mendatang secara bertahap Pemerintah akan lebih berkonsentrasi dan memposisikan diri
sebagai pembuat kebijakan untuk menjamin bahwa semua pelaku ekonomi mendapat
kesempatan yang sama (level playing field). Dengan berkonsentrasi sebagai regulator,

Pemerintah dapat menghindari benturan kepentingan sebagai pembuat kebijakan dan pelaku
ekonomi. Pemerintah tetap memiliki komitmen untuk mengembangkan sektor korporasi, dengan
tidak mengabaikan pengembangan usaha kecil, menengah dan koperasi. Tujuannya adalah
menciptakan kondisi dan mendorong agar perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat
memberikan sumbangan yang terbaik bagi kesejahteraan bangsa dan bagi konsumen. Sesuai
dengan perannya sebagai regulator, pemerintah akan lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan
perangkat regulasi sebagai berikut:

Pengelolaan dan keberadaan BUMN akan diatur melalui perangkat Undang-undang;

1. Penegasan kembali praktek-praktek


2. Corporate Governance yang akan mengatur pelaksanaan pengelolaan BUMN;
3. Penetapan prosedur pelaksanaan privatisasi untuk menjamin transparansi dan persaingan
yang adil serta menjamin terdapatnya manfaat bagi publik dari program privatisasi
tersebut;
4. Kebijakan persaingan untuk menjamin perusahaan-perusahaan dan produk-produk baru
agar bebas masuk ke pasar, hilangnya kartel dan bentuk lain monopoli atau perilaku
monopoli;
5. Insentif untuk meningkatkan investasi, masuknya pengusaha-pengusaha dan usaha-usaha
baru, dengan manajemen dan kepemilikan yang beragam;
6. Pemberian bantuan dengan cara memberikan pelatihan, penelitian, pengembangan pasar,
bantuan manajemen serta jasa lainnya, sejalan dengan konsultasi terpadu antara
Pemerintah dan sektor korporasi untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan
Indonesia akan dapat sepenuhnya kompetitif di dalam maupun di luar negeri;
7. Pemerintah tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya dalam memberikan pelayanan
kepada publik. Langkah-langkah untuk memastikan bahwa kegiatan perseroan-perseroan
yang masih dibebani tugas untuk mencapai sasaran jasa pelayanan masyarakat secara
nasional, misalnya distribusi benih atau pupuk atau pengadaan jasa transportasi di daerah
terpencil, tetap akan berlanjut melalui mekanisme komersial yang akan diatur selanjutnya

2.2.2. Sasaran Program Reformasi BUMN

A. Sasaran Nasional

Sasaran utama program reformasi BUMN adalah untuk:

1. Menjamin adanya peningkatan pertumbuhan kinerja BUMN


2. peningkatan efisiensi dan keuntungan guna menunjang pemulihan ekonomi nasional serta
untuk meningkatkan mutu
3. pelayanan yang diberikan BUMN kepada masyarakat;
4. Terwujudnya BUMN yang tangguh dan mampu bersaing di pasar global;
5. Memperbaiki keuangan negara melalui peningkatan pendapatan dan mengurangi atau
6. menghilangkan penambahan dana kepada BUMN;
7. Mengurangi peranan pemerintah, terutama dalam sektor-sektor industri yang telah
kompetitif;
8. Mengembangkan pasar modal;
9. Memperluas kepemilikan masyarakat atas BUMN dan redistribusi kekayaan

1. B. Sasaran Financial

Sasaran program reformasi BUMN di bidang finansial dapat dibagi dalam dua komponen yaitu
untuk perseroan dan untuk pemerintah.

1. 1. Sasaran finansial untuk perseroanadalah: untuk meningkatkan daya saing


BUMN terhadap perusahaan swasta dan meningkatkan laba. Pencapaian sasaran tersebut
akan membuat BUMN mampu melakukan ekspansi usaha baik menggunakan sumber
dana internal (laba ditahan) maupun melalui hutang-hutang komersial tanpa
mengharapkan bantuan pendanaan pemerintah.
2. 2. Sedangkan sasaran reformasi BUMN bagi pemerintahadalah:

ü Meningkatkan pendapatan Negara melalui pajak atas penghasilan perusahaan, penghasilan


karyawan, dan pajak tak langsung lainnya, serta melalui penerimaan dividen atas saham
pemerintah di BUMN.

ü Memberikan kontribusi terhadap APBN melalui privatisasi BUMN.

ü Mengurangi beban pemerintah melalui penghilangan subsidi secara bertahap.

ü Pemerintah dapat membebaskan diri dari tanggungan BUMN yang merugi ataupun tidak
memiliki prospek pengembangan di masa datang.

1. C. Sasaran BUMN Bagi Konsumen

Bagi perseroan, reformasi BUMN berarti memungkinkan manajemen untuk mengelola perseroan
secara profesional berdasarkan standar kemampuan dan keahlian bertaraf internasional.
Tujuannya tidak lain yaitu untuk memenuhi kepentingan pemegang saham sebagai investor
maupun konsumen.

Reformasi BUMN juga berarti mengurangi peran pemerintah dalam pengelolaan perusahaan.
Apabila industri tersebut akan diregulasi, dengan tetap menyeimbangkan pertanggung-jawaban
tersebut, pengelola perusahaan harus melaksanakan beberapa sasaran tambahan yang ditetapkan
oleh regulator seperti adanya kewajiban layanan publik. Para manajer profesional akan tahan uji
dan sadar terhadap resiko pengambilalihan manajemen perusahaan oleh manajer dan investor
baru dalam rangka peningkatan kinerja perusahaan.
Manfaat reformasi BUMN bagi konsumen adalah untuk menjamin bahwa konsumen akan
mendapatkan barang dan jasa yang berkualitas dengan harga yang bersaing seperti di dalam
industry yang kompetitif dan industri yang bersaing dengan barang-barang impor. Sementara itu
di industi. yang perlu diregulasi seperti telekomunikasi, energi atau air bersih, tujuan pemerintah
sebagai regulator adalah untuk merangsang persaingan dan menjamin harga produk serendah
mungkin.

Apabila pemerintah menetapkan harga pada tingkat di bawah harga yang wajar, maka
pemerintah dapat memberikan subsidi sepanjang keuangan Negara memungkinkan.

2.2.3. Restrukturisasi dan Privatisasi Sebagai Alat Reformasi Bumn

Salah satu alat reformasi BUMN adalah restrukturisasi dan privatisasi disamping beberapa alat
lainnya seperti deregulasi dan debirokratisasi. Terdapat tiga alasan utama mengapa
restrukturisasi dan privatisasi BUMN perlu dilaksanakan dengan segera yaitu:

1. Perbaikan kinerja BUMN dan peningkatan value Pengalaman privatisasi di negara lain
menunjukkan bahwa pemilik baru dari sebuah BUMN lazimnya melakukan perbaikan
secara lebih efektif, mengingat adanya modal, teknologi, keahlian dan/atau jaringan
pemasaran yang baru.

1. Mendorong terbentuknya good governance (perusahaan yang sehat, transparan dan


akuntanbel serta pemerintahan yang efektif) Setelah lebih dari setengah abad merdeka,
kita perlu mendorong usaha-usaha kearah pembentukan pemerintahan yang efektif.
Privatisasi menjadi salah satu mesin pendorong bagi upaya tersebut sehingga tugas-tugas
pemerintahan yang berkaitan dengan dunia usaha akan lebih terfokus, efisien dan
ditekankan pada perancangan dan penyempurnaan regulasi tingkat sektoral serta
penetapan kebijakan sektor yang jelas dan kondusif bagi investasi.

1. Mengurangi beban Negara Negara tidak sanggup untuk memiliki perseroan dengan biaya
tinggi atau tidak efisien, terutama perseroan yang bidang usahanya adalah kompetitif dan
dapat dikelola lebih baik oleh swasta.

1. Privatisasi adalah bagian dari reformasi struktural yang akan menolong bangsa Indonesia
keluar dari resesi saat ini, terutama dengan penyerahan pengelolaan sektor-sektor yang
tidak menyangkut hajat hidup orang banyak

2.2.4. Kendala Reformasi BUMN

Kendala serius yang harus diatasi dalam pelaksanaan reformasi BUMN secara cepat:

1. Kapasitas pasar modal saat ini tidak dapat menampung pelaksanaan privatisasi sejumlah
besar BUMN melalui penawaran umum karena masih terbatasnya aliran dana dalam
negeri dan investasi portofolio dari luar negeri.
2. Keterbatasan pengalaman dalam mengelola program reformasi yang sebesar ini. Sebagai
contoh kegiatan perencanaan, penempatan karyawan dan pengoperasian dari badan-badan
regulator yang baru tentu akan memerlukan waktu.
3. Belum adanya kesamaan persepsi dalam upaya reformasi BUMN membutuhkan
sosialisasi yang menyeluruh kepada stakeholder (Manajemen, karyawan, DPR-MPR,
masyarakat dll).
4. Kendala regulasi sektoral yang sering kali tidak sinkron tujuan reformasi

2.2.5. BUMN Penerapan Good Corporate Govermance (GCG) dan BUMN Online

Kajian empiris maupun pengalaman di lapangan sekilas membuktikan bahwa investor akan
kembali menanamkan modalnya di suatu perekonomian baik melalui pasar saham, obligasi
maupun dalam sector riil, jika negara tersebut telah berhasil menunjukkan kesungguhannya
dalam nenerapkan Good Corporate GovernmentInvestor sesungguhnya ingin merasa yakin
bahwa:

1. Modal yang ditanamkannya akan digunakan sesuai dengan interest mereka.


2. Keuangan perusahan dilaporkan secara tepat waktu dan transparan sehingga keputusan
investasiyang dilakukan telah berdasarkan data yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan.
3. Direksi sebagai eksekutif maupun komisaris sebagai pengawas adalah orang-orang
terbaik yang akan membawa perusahaan mencapai peningkatan nilai maksimum
sebagaimana yang diinginkan shareholders, dan bukannya kepentingan mereka sepihak.

Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah telah membuat komitmen dalam penerapan
praktek- praktek GCG dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor S–106/M-PM.PBUMN/2000
pada tanggal 17 April 2000 yang menyerukan agar BUMN melaksanakan praktek-praktek GCG.
Pedoman lebih lanjut mengenai GCG dituangkan dalam bentuk Surat Keputusan Menteri Negara
Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN Nomor KEP–23/M–PM.PBUMN/2000 mengenai
Pengembangan Praktek GCG dalam Perusahaan Perseroan (Persero).

Praktek-praktek Good Corporate Governance didasarkan pada tiga prinsip dasar yakni
transparansi, kemandirian dan akuntabilitas.

Transparansi

adalah keterbukaan dalam melaksanakan suatu proses dan keterbukaan dalam mengungkapkan
informasi yang material dan relevan ( disclossure).

Kemandirian

diartikan sebagai keadaan dimana Persero bebas dari pengaruh/tekanan pihak lain yang tidak
sesuai dengan mekanisme korporasi.

Akuntabilitas
Diartikan sebagai adanya sistem pertanggungjawaban dalam pelaksanaan tugas dan wewenang
yang dimiliki organ persero. DPR, Meneg BUMN (sebagai pemegang saham BUMN),
Departemen Teknis, Komisaris/Dewan Pengawas dan Direksi bertanggungjawab terhadap
perannya masing-masing dalam menjaga kekayaan rakyat Indonesia di BUMN yang
bersangkutan.

Praktek-praktek Good Corporate Governance yang diperkenalkan kepada BUMN antara lain
adalah sebagai berikut:

1. Peran dan tanggung jawab Komisaris/ Dewan Pengawas akan didorong untuk lebih aktif
dalam mengawasi dan memberikan pendapat kepada Direksi dalam pengelolaan BUMN;
2. Peran dan tanggung jawab Direksi akan diperjelas, khususnya sehubungan dengan tujuan
utama masing-masing BUMN;
3. Pembentukan Komite Audit sebagai sub-komite Komisaris secara bertahap
akan diterapkan kepada seluruh BUMN;
4. Kriteria seleksi (fit and proper test) dan proses penunjukan yang transparan dan terencana
bagi Komisaris/ dan Direksi akan diimplementasikan.
5. Surat Penunjukan bagi Komisaris/Dewan Pengawas dan Direksi secara formal
menjelaskan ntara lain tugas, tanggungjawab serta harapan-harapan Pemerintah
6. Dokumen Statement of Corporate Intent (SCI) akan diterapkan bagi semua BUMN yang
100% sahamnya dimiliki Pemerintah. Dokumen ini merupakan dokumen pernyataan
maksud perusahaan yang telah disetujui oleh BUMN dan Pemerintah sebagai pemegang
saham/ yang intinya memuat target-target kinerja dan indikator-indikator lain yang harus
dicapai dan dipertanggungjawabkan oleh BUMN serta sistem pemantauan pencapaian
target-target kinerja

Beri Nilai