0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
273 tayangan3 halaman

Tatalaksana Krisis Hiperglikemik DM

Komplikasi diabetes yang berbahaya seperti hipoglikemia, ketoasidosis diabetikum (KAD), dan sindrom hiperosmolar hiperglikemia (SHH) memerlukan diagnosis dan penanganan yang tepat. Jurnal 1 membahas penatalaksanaan hipoglikemia, KAD, dan SHH dengan memberikan terapi insulin, cairan, elektrolit, dan bikarbonat. Jurnal pembanding membandingkan akurasi diagnosis antara KAD dan SHH, menunjukkan pentingnya algoritma khusus SHH untuk me

Diunggah oleh

esy andri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
273 tayangan3 halaman

Tatalaksana Krisis Hiperglikemik DM

Komplikasi diabetes yang berbahaya seperti hipoglikemia, ketoasidosis diabetikum (KAD), dan sindrom hiperosmolar hiperglikemia (SHH) memerlukan diagnosis dan penanganan yang tepat. Jurnal 1 membahas penatalaksanaan hipoglikemia, KAD, dan SHH dengan memberikan terapi insulin, cairan, elektrolit, dan bikarbonat. Jurnal pembanding membandingkan akurasi diagnosis antara KAD dan SHH, menunjukkan pentingnya algoritma khusus SHH untuk me

Diunggah oleh

esy andri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REVIEW JURNAL DENGAN METODE PICO

Jurnal 1 :
Tatalaksana Penurunan Kesadaran Pada Penderita Diabetes Mellitus
Author : Ian Huang
pISSN: 1978-3094 ● Medicinus. 2016;6(1):18-25
Jurnan Pembanding :
Expedited diagnosis and management of inpatient hyperosmolar hyperglycemic nonketotic
syndrome
Darlene G. McCombs, DNP (Clinical Supervisor)1, Susan J. Appel, PhD, APRN-BC, CCRN,
FAHA (Professor)2, & Marcie E. Ward, MSN, APRN-BC (Nurse Practitioner)
Jurnal of American Association of Nurse Practitioners.

Problem Krisis hiperglikemik yaitu ketoasidosis diabetikum (KAD)


atau status hiperosmolar hiperglikemia (SHH), dan
asidosis laktat maupun hipoglikemia serta uremik
ensefalopati merupakan komplikasi pada penderita
diabetes mellitus (DM) yang mengancam jiwa. Terapi yang
spesifik untuk masingmasing kondisi tersebut mutlak
diperlukan untuk mengurangi angka mortalitas pada
komplikasi tersebut.

Intervention Tatalaksana Hipoglikemik penangananan yang difokuskan


untuk meningkatkan kadar glukosa plasma harus segera
dilaksanakan, baik dengan asupan makanan oral,
dekstrosa intravena, atau glukagon intramuskular.
1. Jumlah asupan oral yang dianjurkan pada orang
dewasa adalah sekitar 20 gram;2,7 setiap 5 gram
glukosa meningkatkan sekitar 15 mg/dL kadar glukosa
darah. Asupan oral yang dapat diberikan antaralain,
pisang, madu, permen, tablet glukosa atau 100-150 ml
minuman manis (non-diet cola, teh manis, atau
minuman berglukosa lainnya),
2. Intravena dekstrosa yang merupakan terapi pertama
pada jurnal ini pada pasien dengan penurunan
kesadaran yang tidak dapat menerima asupan oral,
akan tetapi jurnaal mengatakan 50 ml dekstrosa 50%
dinilai toksik untuk jaringan, oleh karena itu pemberian
75- 100 ml dekstrosa 20% atau 150-200 dekstrosa 10%
lebih dianjurkan.
3. Pada jurnal ini juga terdapat terapi glukagon sebagai
terapi alternatif hipoglikemi dalam keadaan absen dari
akses intravena akan tetapi pada penderita DM tipe 2,
pemberian glukagon juga menstimulasi pengeluaran
insulin sehingga relatif tidak efektif dan berefeksamping
mual dan muntah.

Tatalaksana Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dan Status


Hiperosmolar Hiperglikemia (SHH)
Penanganan pada KAD dan SHH meliputi koreksi
dehidrasi, hiperglikemia ketonemia, dan gangguan
elektrolit, serta identifikasi faktor pencetus dan monitoring
pasien yang ketat.
Penanganan KAD :
1. Terapi Bikarbonat
Penggunaan bikarbonat pada KAD masih kontroversial
karena para peneliti percaya ketika badan keton
berkurang, akan terdapat jumlah bikarbonat yang cukup
kecuali pada keadaan asidosis berat. pada pasien
dewasa dengan pH <6,9 pemberian 100 mmol natrium
bikarbonat (2 ampul) dalam 400 ml larutan isotonik yang
disertai 20 mEq KCl dengan kecepatan pemberian 200
ml/jam selama 2 jam sampai pH vena >7,0. Apabila pH
masih <7,0, pemberian bikarbonat diulang setiap 2 jam
sampai pH mencapai >7,0. Akan tetapi jurnal
megatakan pemberian bikarbonat pada pasien SHH
tidak diperlukan.
2. Terapi Fosfat
Pemberian 20-30 mEq/L kalium fosfat dapat
ditambahkan pada cairan pengganti. Kecepatan
maksimal pemberian fosfat yang dinilai aman pada
hipofosfatemia berat adalah 4,5 mmol/jam (1,5 ml/jam
K2PO4). Jurnal ini menyatakan belum ada studi
mengenai pemberian fosfat pada penderita SHH
Penanganan KAD dan SHH :
3. Terapi Insulin
Pemberian insulin baik secara intravena continuous
atau dengan injeksi SC atau IM merupakan tatalaksana
utama pada KAD. pada SHH, kecepatan pemberian
insulin 0,05 U/kg BB/jam (3-5 U/jam) dan ditambahkan
dengan pemberian dextrosa 5-10% secara intravena.
evaluasi terhadap glukosa darah kapiler dijalankan
setiap 1-2 jam dan darah diambil untuk evaluasi
elektrolit serum, glukosa, BUN, kreatinin, magnesium,
fosfos, dan pH darah setiap 2-4 jam.
4. Terapi Cairan
Pemberian resusitasi cairan dengan NaCl 0,9%
intravena dengan kecepatan 15-20 ml/KgBB/jam atau
1-1,5 L/jam dengan pemantauan status hidrasi setiap
jam. Namun jurnal ini mengatakan perubahan
osmolaritas serum pada SHH tidak boleh lebih dari 3
mOsm/jam.
5. Kalium
Pencegahan hipokalemia dilakukan dengan pemberian
kalium yang dimulai setelah konsentrasi serum kalium
turun dibawah batas atas dari nilai normal laboratorium
(5,0-5,2 mEq/L). 20-30 mEq kalium dalam setiap liter
cairan infus cukup untuk menjaga serum kalium dalam
batas normal.

Comparison Adapun jurnal pembanding dengan judul “Laporan


Peningkatan Kualitas Diagnosis dan penatalaksanaan
hiperosmolar rawat inap yang dipercepat sindrom
nonketotik hiperglikemik” pada jurnal ini membahas
mengenai tingkat akurasi dalam membedakan antara dua
krisis hiperglikemik (diabetes ketoasidosis [DKA] dan
sindrom nonketotik hiperglikemik hiperosmolar [HHNKS])
HHNKS adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa
didefinisikan oleh kadar glukosa tinggi lebih dari 600 mg /
dL, osmolaritas serum efektif lebih besar dari 320 mOsm /
kg, celah anion kurang dari 12, dan telusuri sampai +1, jika
ada, keton.
Algoritma spesifik HHNKS sangat penting untuk
mempercepat diagnosis yang akurat, mengelola secara
tepat, meminimalkan kematian, mengurangi lama
perawatan, dan menghindari kembalinya pasien dengan
kasus yang sama. Sampel dalam penelitian ini berjumlah
911. Dari tinjauan catatan retrospektif ditunjukkan n = 436
memenuhi kadar glukosa darah yang menggambarkan
HHNKS dan hanya 9 sampel yang tepat dignosis tipe
diabetes nya yaitu DM tipe 2 dengan HHNKS.

Outcome Komplikasi pada penderita diabetes mellitus (DM) yang


mengancam jiwa harus pada keadaan gawat darurat
memerlukan penegakkan diagnosis yang akurat dan
tatalaksana yang spesifik mutlak dibutuhkan pada kondisi
kegawat daruratan ini.

Anda mungkin juga menyukai