Anda di halaman 1dari 10

PERENCANAAN DESAIN PERKUATAN STRUKTUR BANGUNAN

EKSISTING AKIBAT PENAMBAHAN LANTAI


(STUDI KASUS : HOTEL SEA SENTOSA CANGGU)

Kadek Oxi Arimbawa1), I Ketut Yasa Bagiarta2), Cok Agung Yujana3)


1) Jurusan Teknik, Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali

Oxi_arimbawa@yahoo.com

ABSTRAK
Penambahan lantai pada bangunan direncanakan atas dasar kurangnya ketersediaan fasilitas kamar
dan lahan akibat melunjaknya wisatawan yang berlibur di Canggu Bali, penambahan lantai bangunan
eksisting tetap dipertahankan sehingga tidak perlu dibongkar. Kegagalan komponen struktur beton
bertulang diakibatkan karena struktur tersebut mengalami perubahan fungsi, kesalahan tahap perencanaan,
dan kesalahan tahap pelaksanaan sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada beton, untuk menangani hal
tersebut diperlukan adanya sistem perkuatan yang efektif. Concrete jacketing adalah salah satu perkuatan
dan perbaikan dengan cara menyelimuti beton eksisting dengan beton baru yang ditambahkan tulangan
baru sesuai dengan kebutuhan beban kerja. Ketidak mampuan struktur dapat di evaluasi dari rasio momen
ultimite dibagi momen nominal struktur eksisting setelah adanya penambahan lantai, jika rasio lebih besar
dari 1,0 maka struktur dianggap perlu perkuatan. Hasil analisis menunjukan bahwa terdapat 3 jenis balok
B2, B4, dan B7 yang perlu di perkuat karena alih fungsi, untuk kolom terdapat 2 jenis kolom C1 dan C3
yang perlu diperkuat dikarenakan tidak mampu menahan gaya aksial, sedangkan keseluruhan pondasi untuk
jarak yang terjauh diperkuat dengan tambahan bore pile dan pile cap baru.

Kata kunci: penambahan lantai, perkuatan beton, penyelimutan beton

DESIGN PLANNING FOR STRENGTHENING OF EXISTING BUILDING


DUE TO FLOOR ADDITION
(CASE STUDY: HOTEL SEA SENTOSA CANGGU)

ABSTRACT
The addition floors in the building is planned on the basis of the lack availability room and land
facilities due to the increase of tourists on vacation in the Canggu Bali, the addition the existing building
floor is maintained so it does not need to be dismantled. Failure of reinforced concrete structure components
is caused because the structure undergoes a change in function, a planning error, and an error in the
implementation stage so that it can cause damage to the building, to deal with this, an effective
reinforcement system is needed. Concrete jacketing is one of the reinforcement and repairs by covering the
existing concrete with new concrete which is added with new reinforcement according to the workload
requirements. The inability of the structure can be evaluated from the ultimite moment ratio divided by the
nominal moment of the existing structure after the addition of the floor, if the ratio is greater than 1.0 then
the structure is considered to need reinforcement. The results of the analysis show that there are 3 types of
B2, B4, and B7 that need to be strengthened because of the conversion of functions, for columns there are
2 types of columns C1 and C3 which need to be strengthened because they are unable to withstand axial
forces, while the entire foundation for the farthest distance is additional bore pile and new pile cap.

Keywords: additional floor, concrete retrofitting, concrete jacketing.


Kadek Oxi Arimbawa1), I Ketut Yasa Bagiarta2), Cok Agung Yujana3)

1 PENDAHULUAN
Sea Sentosa Canggu adalah sebuah hotel terpadu yang terletak 2,8 hektar dengan pilihan suite satu
atau dua kamar tidur dengan ukuran yang sangat murah dan dua penthouse bertingkat terletak di puncak
hotel. Sea Sentosa di bangun pada tahun 2009 dan terletak di Echo Beach Canggu, salah satu pantai terbaik
di Bali dan dikenal oleh peselancar di seluruh dunia.
Penambahan lantai pada bangunan ini direncanakan atas dasar kurangnya ketersediaan fasilitas
kamar dan lahan akibat melunjaknya wisatawan yang berlibur di Canggu Bali. Jumlah penambahan lantai
bangunan dari 4 lantai menjadi 6 lantai yang nanti 2 lantai tambahan tersebut sama dengan fungsi ruang
lantai 4 pada bangunan eksisting, dari bangunan ini direncanakan penambahan lantai bangunan dengan
tetap mempertahankan 4 lantai bangunan eksisting sehingga tidak perlu dibongkar.
Perkuatan struktur merupakan suatu langkah untuk meningkatkan kapasitas suatu bangunan yang
dianggap masih lemah karena saat ini telah terbit peraturan SNI terbaru yang telah ditetapkan. Dalam
perhitungan analisis akan didapatkan dimensi ukuran balok, kolom, dan pondasi yang lebih besar untuk
menahan gaya tersebut, maka dilakukan perkuatan terhadap bangunan eksisting dengan menggunakan
metode concrete jacketing pada balok dan kolom, metode penambahan bore pile pada pondasi dengan
tambahan pile cap baru

2 PERKUATAN
2.1 Perkuatan Struktur dengan Metode Concrete Jacketing
Concrete jacketing merupakan teknik perkuatan dengan cara melapisi seluruh atau sebagian
permukaan elemen struktur dengan beton baru dengan atau tanpa disertai dengan penambahan tulangan
longitudinal maupun tulangan transversal. Beton baru yang ditambahkan harus memiliki kuat tekan yang
lebih tinggi atau minimal sama dengan beton struktur yang diperkuat untuk memaksimalkan penambahan
kemampuan tekan struktur (Rosyidah, 2010).
Agar perkuatan concrete jacketing ini dapat bekerja secara maksimal, maka ada beberapa spesifikasi
minimum yang harus dipenuhi. Menurut dokumen CED 39 (7428), spesifikasi minimum yang harus
dipenuhi antara lain :
1. Mutu beton pembungkus yang harus lebih besar atau sama dari mutu beton existing.
2. Untuk kolom yang tulangan longitudinal tambahan tidak dibutuhkan, minimum harus
diberikan tulangan 12 mm di keempat ujungnya dengan sengkang 8 mm.
3. Minimum tebal jacketing 100 mm.
4. Diameter tulangan sengkang minimum 8 mm tidak boleh kurang 1/3 tulangan longitudinal.
5. Jarak maksimal tulangan sengkang pada daerah ¼ bentang adalah 100 mm, dan jarak vertikal
antar tulangan sengkang tidak boleh melebihi 100 mm.

Gambar 1. Perbandingan Desain Balok Gambar 2. Perbandingan Desain Kolom


Sebelum dan Setelah Diperkuat Sebelum dan Setelah Diperkuat

Gambar 3. Perbandingan Desain Pondasi Sebelum dan Setelah Diperkuat


2.2 Desain Elemen Struktur Perkuatan
2.2.1 Balok
1. Kuat lentur balok
Menghitung kuat lentur balok:
a. Gaya tekan beton (Cc)
𝐶𝑐 = 0,85. 𝑓𝑐′ . 𝑎. 𝑏 (1)
b. Gaya tekan baja tulangan (Cs)
𝐶𝑠 = 𝐴′𝑠 . 𝑓𝑠′ (2)
c. Gaya tarik baja tulangan (Ts)
𝑇𝑠 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 (3)
Menghitung momen nominal (Mn) dan momen rencana (Mr) dapat dihitung menggunakan rumus
berikut:
𝑑
𝑀𝑛𝑐 = 𝐶𝑐 . (𝑑 − ) (4)
2

𝑀𝑛𝑠 = 𝐶𝑠 . (𝑑 − 𝑑 ) (5)
𝑀𝑛 = 𝑀𝑛𝑐 + 𝑀𝑛𝑠 (6)
𝑀𝑟 = ∅. 𝑀𝑛 (7)

Gambar 4. Regangan Tegangan dan Gaya Dalam Balok Setelah Diperkuat

2. Kuat geser balok


Menghitung kuat geser balok:
a. Gaya geser rencana, gaya geser nominal, gaya geser yang ditahan oleh beton dan sengkang
dirumuskan sebagai berikut:
Pasal 11.1.1 hal.87 SNI 03-2847-2013
∅. 𝑉𝑛 ≥ 𝑉𝑢
𝑉𝑛 = 𝑉𝑐 + 𝑉𝑠 (8)
b. Gaya geser yang ditahan beton (Vc) dihitung dengan rumus:
Pasal 11.2.1.2 hal. 89 SNI 03-2847-2013, untuk komponen struktur yang dikenai geser dan
lentur saja, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
𝑉𝑐 = 0,17𝜆. √𝑓′𝑐 . 𝑏. 𝑑 (9)
Pasal 11.4.7.1 hal. 93 SNI 03-2847-2013 bila Vu melebihi øVc, maka tulangan geser harus
dihitung sebagai berikut:
𝐴 .𝑓 .𝑑
𝑉𝑠 = 𝑣 𝑦𝑡 (10)
𝑠
c. Dihitung luas begel terpasang Av,t dengan rumus:
𝑛
𝜋.𝑑𝑝2 .𝑆
𝐴𝑣,𝑡 = 4 (11)
𝑠
Dengan Av,t harus ≥ Av,u

2.2.2 Kolom
1. Kuat lentur kolom
Menghitung kuat lentur kolom
a. Luas tulangan total (Ast)
Menurut Pasal 10.9.1 hal.78 SNI 03-2847-2013, luas total (Ast) tulangan longitudinal
(tulangan memanjang) kolom harus memenuhi syarat berikut:
0,01. 𝐴𝑔 ≤ 𝐴𝑠𝑡 ≤ 0,08. 𝐴𝑔 (12)
b. Gaya tarik dan gaya tekan pada penampang kolom sama seperti perhitungan balok
c. Kolom dengan beban aksial tekan kecil:
0,10.fc’.Ag (13)
d. Penampang kolom pada kondisi beban sentris
Jika penampang sentris maka e = o
Kadek Oxi Arimbawa1), I Ketut Yasa Bagiarta2), Cok Agung Yujana3)

Diperoleh persamaan beban sentris (Po) sebagai berikut:


𝑃𝑜 = 0,85. 𝑓𝑐 ′ . (𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 ) + 𝐴𝑠𝑡 . 𝑓𝑦 . (14)
Pasal 10.3.6.1 dan 10.3.6.2 hal.75 SNI 03-2847-2013 persamaan beban sentris untuk
komponen struktur untuk komponen struktur dengan tulangan sengkang adalah:
∅𝑃𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,80. ∅[0,85. 𝑓′𝑐 . (𝐴𝑔 − 𝐴𝑠𝑡 ) + 𝐴𝑠𝑡 . 𝑓𝑦 ] (15)
e. Untuk menghitung momen nominal (Mn) dan momen rencana (Mr) dapat sama seperti
perhitungan balok.

Gambar 5. Regangan Tegangan dan Gaya Dalam Kolom Setelah Diperkuat

f. Diagram interaksi kolom

Gambar 6. Diagram Interaksi Kolom M-N


(Sumber: Asroni, 2010)

2. Kuat geser kolom


Menghitung kuat geser kolom
Untuk perhitungan kuat geser kolom sama seperti perhitungan kuat geser balok, Pasal 11.2.1.2
hal. 89 SNI 03-2847-2013, untuk komponen struktur yang dikenai tekan aksial, rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:
𝑁𝑢,𝑘
𝑉𝑐 = 0,17 (1 + ) 𝜆. √𝑓′𝑐 . 𝑏. 𝑑 (16)
14.𝐴𝑔

2.2.3 Pondasi
Berikut adalah syarat perhitungan daya dukung pondasi untuk mengetahui kapasitas kekuatan
Pondasi :
1. Daya dukung vertical tiang (Pa)
𝑞 ×𝐴 𝑇 ×𝐴𝑠𝑡
𝑃𝑎 = 𝑐 𝑝 + 𝑓 (17)
𝐹𝐾1 𝐹𝐾2
2. Daya dukung ijin tarik (Pta)
(𝑇 ×𝐴𝑠𝑡 )×0,70
𝑃𝑡𝑎 = 𝑓 + 𝑊𝑝 (18)
𝐹𝐾2
3. Efisiensi kelompok tiang (Eg)
(𝑛−1)𝑚+(𝑚−1)𝑛
𝐸𝑔 = 1 − 𝜃 (19)
90𝑚𝑛
4. Beban maksimum tiang (Pmaks)
𝑃 𝑀 ×𝑀 𝑀 ×𝑌
𝑃𝑚𝑎𝑘𝑠 = 𝑢 ± 𝑦 ∑ 𝑚𝑎𝑘𝑠 2 ± 𝑥 ∑ 𝑚𝑎𝑘𝑠
2 (20)
𝑛𝑝 𝑋 𝑌
3 METODE
3.1 Lokasi Perencanaan
Lokasi bangunan yang digunakan untuk perencanaan perkuatan struktur bangunan eksisting adalah
bangunan Hotel Sea Sentosa Canggu yang terletak di Jl. Pantai Batu Bolong, Canggu, Kuta Utara,
Kabupaten Badung, Bali 80361.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Evaluasi Struktur Eksisting
Evaluasi dan pemeriksaan struktur eksisting dilakukan dengan program SAP2000 v.15 dengan tahap
pemodelan, pembebanan, dan rekapitulasi MDN.

4.1.1 Pemodelan Struktur Eksisting


Pemodelan Struktur eksisting bangunan Hotel Sea Sentosa Canggu dengan 3 lantai, panjang
bangunan 55,55 meter, dan lebar 17,18 meter sebagai berikut:

Gambar 8. Pemodelan Struktur Eksisting

4.2 Perhitungan Pembebanan


Perencanaan pembebanan dalam analisis struktur ketika evaluasi dilaksanakan dengan program
SAP2000 v.15 terdiri dari beban vertikal (gravitasi) dan beban lateral (angin dan gempa) sesuai dengan
peraturan Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain (SNI 1727:2013) dan
Tata Cara Perhitungan Perencanaan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non-Gedung (SNI 1726-
2012)

4.3 Perhitungan Pembebanan


Kombinasi pembebanan yang digunakan dalam perencanaan struktur beton adalah peraturan
Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung (SNI 2847-2013).

4.4 Pemeriksaan Struktur Eksisting


4.4.1 Pemeriksaan Balok Eksisting
Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan balok eksisting adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Pemeriksaan Balok Eksisting


Panjang Luas Tulangan
Dimensi Tul. Terpasang
Tipe Momen Balok (mm) Mu Mr Rasio
No
Balok Desain (kNm) (kNm) Mu / Mr
b h
L (mm) Tekan Tarik As' As
(mm) (mm)
Tumpuan 9 D16 5 D16 1808,6 1004,8 222,75 259,53 0,86
1 B1 300 500 4350
Lapangan 9 D16 5 D16 1808,6 1004,8 226,31 259,53 0,87
Tumpuan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 365,20 175,81 2,08
2 B2 250 450 5000
Lapangan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 141,39 175,81 0,80
Tumpuan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 37,77 90,35 0,42
3 B3 200 300 6150
Lapangan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 29,16 90,35 0,32
Tumpuan 5 D16 3 D16 1004,8 602,88 158,35 110,34 1,44
4 B4 200 400 4350
Lapangan 5 D16 3 D16 1004,8 602,88 157,31 110,34 1,43
Tumpuan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 39,60 72,76 0,54
5 B5 150 350 2850
Lapangan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 12,22 72,76 0,17
Tumpuan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 116,09 203,73 0,57
6 B6 300 500 6150
Lapangan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 77,52 203,73 0,38
Tumpuan 9 D16 4 D16 1808,6 803,84 98,88 258,17 0,38
7 B6' 300 500 6150
Lapangan 9 D16 4 D16 1808,6 803,84 55,37 258,17 0,21
Tumpuan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 151,16 154,83 0,98
8 B7 250 450 5000
Lapangan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 61,16 154,83 0,39
Tumpuan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 29,67 88,04 0,34
9 B8 200 400 6150
Lapangan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 22,89 88,04 0,26
Tumpuan 3 D16 2 D16 602,88 401,92 8,10 37,66 0,22
10 BP 150 250 6150
Lapangan 3 D16 2 D16 602,88 401,92 3,66 37,66 0,10

Sumber : Hasil analisis


Kadek Oxi Arimbawa1), I Ketut Yasa Bagiarta2), Cok Agung Yujana3)

Dari hasil rekapitulasi pemeriksaan tulangan longitudinal balok eksisting diatas, dapat dilihat
terdapat 2 jenis balok saja yang tidak mampu memikul gaya yang terjadi yaitu balok B2 dengan rasio 2,08
pada bagian interior dan balok B4 dengan rasio 1,44 pada bagian eksterior.

4.4.2 Pemeriksaan Kolom Eksisting


Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan kolom eksisting adalah sebagai berikut:

Tabel 2 Pemeriksaan Kolom Eksisting


Luas
Dimensi Tinggi Jumlah Tulangan Rasio
Tipe (mm) Mu Pu ∅Mn ∅Pn Rasio Diagram
No Kolom Tulangan Mu /
Kolom b h (kNm) (kNm) (kNm) (kNm) Pu / ∅Pn Interaksi
(mm) (n) ∅Mn
(mm) (mm) Ast
1 C1 300 300 3150 8 1607,68 43,0711 963,681 92,5538 1285,89 0,4653628 0,749427 OK!

2 C2 300 600 3150 16 3215,36 68,1946 1737,36 399,887 2571,779 0,1705346 0,675549 OK!

3 C3 100 500 1500 8 1607,68 18,7504 782,544 139,333 914,6096 0,1345728 0,855604 OK!

Sumber : Hasil analisis

Gambar 9. Contoh Diagram Interaksi Kolom Eksisting


Dari hasil rekapitulasi pemeriksaan tulangan longitudinal kolom eksisting diatas, dapat dilihat
bahwa seluruh kolom eksisting masih mampu menerima gaya yang terjadi dan masih aman.

4.5 Perencanaan Struktur Eksisting dengan Lantai Tambahan


4.5.1 Pemodelan Struktur Eksisting dengan Lantai Tambahan
Adapun pemodelan bangunan eksisting dengan lantai tambahan adalah sebagai berikut:

Gambar 10. Pemodelan Struktur Eksisting dengan Lantai Tambahan

4.5.2 Pemeriksaan Balok Eksisting dengan Lantai Tambahan


Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan balok eksisting dengan lantai tambahan
adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Pemeriksaan Balok Eksisting dengan Lantai Tambahan
Panjang Luas Tulangan
Dimensi Tul. Terpasang
Tipe Momen Balok (mm) Mu Mr Rasio
No
Balok Desain (kNm) (kNm) Mu / Mr
b h
L (mm) Tekan Tarik As' As
(mm) (mm)
Tumpuan 9 D16 5 D16 1808,6 1004,8 220,34 259,53 0,85
1 B1 300 500 4350
Lapangan 9 D16 5 D16 1808,6 1004,8 225,63 259,53 0,87
Tumpuan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 383,37 175,81 2,18
2 B2 250 450 5000
Lapangan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 162,87 175,81 0,93
Tumpuan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 36,01 90,35 0,40
3 B3 200 300 6150
Lapangan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 29,24 90,35 0,32
Tumpuan 5 D16 3 D16 1004,8 602,88 158,71 110,34 1,44
4 B4 200 400 4350
Lapangan 5 D16 3 D16 1004,8 602,88 156,29 110,34 1,42
Tumpuan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 40,99 72,76 0,56
5 B5 150 350 2850
Lapangan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 12,73 72,76 0,17
Tumpuan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 154,64 203,73 0,76
6 B6 300 500 6150
Lapangan 7 D16 4 D16 1406,7 803,84 73,92 203,73 0,36
Tumpuan 9 D16 4 D16 1808,6 803,84 179,93 258,17 0,70
7 B6' 300 500 6150
Lapangan 9 D16 4 D16 1808,6 803,84 80,97 258,17 0,31
Tumpuan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 278,67 154,83 1,80
8 B7 250 450 5000
Lapangan 6 D16 4 D16 1205,8 803,84 91,55 154,83 0,59
Tumpuan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 48,03 88,04 0,55
9 B8 200 400 6150
Lapangan 4 D16 2 D16 803,84 401,92 33,45 88,04 0,38
Tumpuan 3 D16 2 D16 602,88 401,92 8,36 37,66 0,22
10 BP 150 250 6150
Lapangan 3 D16 2 D16 602,88 401,92 3,77 37,66 0,10

Sumber : Hasil analisis

Dari hasil rekapitulasi pemeriksaan tulangan longitudinal balok eksisting dengan lantai tambahan
diatas, dapat dilihat terdapat 3 jenis balok yang tidak mampu memikul gaya yang terjadi yaitu balok B2
interior dan B4 eksterior sama seperti balok eksisting sebelum lantai tambahan, untuk balok B7 interior
yang tidak mampu menerima beban akibat alih fungsi ruang rasio yang didapat mencapai 1,8.

4.5.3 Pemeriksaan Kolom Eksisting dengan Lantai Tambahan


Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan kolom eksisting dengan lantai tambahan
adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Pemeriksaan Kolom Eksisting dengan Lantai Tambahan


Luas
Dimensi Tinggi Jumlah Tulangan Rasio
Tipe (mm) Mu Pu ∅Mn ∅Pn Rasio Diagram
No Kolom Tulangan Mu /
Kolom b h (kNm) (kNm) (kNm) (kNm) Pu / ∅Pn Interaksi
(mm) (n) ∅Mn
(mm) (mm) Ast
1 C1 300 300 3150 8 1607,68 43,053 1522 92,5538 1285,89 0,4651673 1,183247 TIDAK!

2 C2 300 600 3150 16 3215,36 67,608 2493 399,887 2571,78 0,1690684 0,9693546 OK!

3 C3 100 500 1500 8 1607,68 18,598 1067 139,333 914,61 0,1334797 1,1668858 TIDAK!

Sumber : Hasil analisis

Gambar 11. Diagram Interaksi Kolom C1 dan C3 Eksisting dengan Tambahan Lantai yang Mengalami
Overstress
Dari hasil rekapitulasi pemeriksaan tulangan longitudinal kolom eksisting dengan lantai tambahan
diatas, dapat dilihat terdapat 2 jenis kolom yang tidak mampu memikul gaya yang terjadi yaitu kolom C1
dan C3 akibat 2 lantai tambahan baru di atasnya dengan rasio 1,18 dan 1,16 dikontrol menggunakan
diagram interaksi kolom.
Kadek Oxi Arimbawa1), I Ketut Yasa Bagiarta2), Cok Agung Yujana3)

4.5.4 Pemeriksaan Pondasi Eksisting Akibat Lantai Tambahan


Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan pondasi eksisting dengan lantai tambahan
adalah sebagai berikut

Tabel 5. Pemeriksaan Pondasi Eksisting Akibat Tambahan Lantai


Daya Daya Beban Kontrol Kontrol
Jumlah Gaya
Tipe Jenis Dimensi Dukung Dukung Maks. 1 Efisiensi
No Tiang Kedalaman Aksial P<
Pmaks
Pondasi Pondasi (mm) (m) Tekan Tarik Tiang <
Pa.Eg.n
n P (Ton) Pa (Ton) Pta (Ton) Pmaks (Ton) Eg Pta.Eg
PancangMini
1 F1 250 3 10 165,7067 54,455 8,556 55,29002113 0,817889 TIDAK! TIDAK!
Pile
PancangMini
2 F2 250 4 10 256,1889 54,455 8,556 64,11487087 0,817889 TIDAK! TIDAK!
Pile
PancangMini
3 F3 250 5 10 310,6933 47,735 3,852 62,44382083 0,844 TIDAK! TIDAK!
Pile
4 F4 Bore Pile 300 1 3 180,5487 53,35147 2,724516 182,80436 1 TIDAK! TIDAK!

Sumber : Hasil analisis

Dari hasil rekapitulasi pemeriksaan daya dukung pondasi eksisting dengan lantai tambahan diatas,
didapat hasil bahwa seluruh daya dukung pondasi eksisting tidak mampu menerima penyaluran beban
struktur yang berada di atasnya, dengan demikian pondasi harus juga dilakukan perkuatan dengan
menambah pondasi baru yaitu jenis pondasi bore pile dengan pile cap baru.

4.6 Perencanaan Perbaikan Struktur Eksisting Akibat Lantai Tambahan dengan Perkuatan
4.6.1 Peningkatan Kinerja Struktur Eksisting
Seperti pada evaluasi bangunan eksisting dengan penambahan lantai, pemodelan perkuatan
struktur bangunan Hotel Sea Sentosa Canggu dengan metode concrete Jacketing dengan menggunakan
software SAP2000 v.15 sebagai berikut:

Gambar 12. Penampang Balok yang Gambar 13. Penampang Kolom yang
Diselubungi Beton Bertulang Diselubungi Beton Bertulang
4.7 Pemeriksaan Struktur Eksisting Lantai Tambahan dengan Perkuatan
4.7.1 Pemeriksaan Balok Setelah Diperkuat
Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan balok eksisting setelah diperkuat adalah
sebagai berikut:
Tabel 6. Pemeriksaan Balok Eksisting Setelah Diperkuat
Panjang Luas Tulangan
Dimensi Tul. Terpasang
Tipe Momen Balok (mm) Mu Mr Rasio
No
Balok Desain (kNm) (kNm) Mu / Mr
b h
L (mm) Tekan Tarik As' As
(mm) (mm)
Tumpuan 10 D16 15 D16 2009,6 3014,4 563,33 637,69 0,88
1 B2 450 600 5000
Lapangan 6 D16 11 D16 1205,8 2210,6 205,04 458,51 0,45
Tumpuan 7 D16 9 D16 1406,7 1808,6 288,46 349,13 0,83
2 B4 400 550 4350
Lapangan 5 D16 10 D16 1004,8 2009,6 327,91 369,70 0,89
Tumpuan 8 D16 10 D16 1607,7 2009,6 395,55 430,82 0,92
3 B7 450 600 5000
Lapangan 6 D16 10 D16 1205,8 2009,6 195,83 423,20 0,46

Sumber : Hasil analisis


Dari hasil rekapitulasi pemeriksaan tulangan longitudinal balok eksisting akibat lantai tambahan
diatas, didapat rasio masing-masing penampang yang telah diperkuat rata-rata sebesar 0,87, dengan
demikian dapat dikatakan penampang yang telah diperkuat dapat ekonomis dan aman.
4.7.2 Pemeriksaan Kolom Setelah Diperkuat
Adapun hasil pemeriksaan diagram interaksi kolom eksisting setelah diperkuat adalah sebagai
berikut:

Gambar 14. Diagram interaksi Kolom C1 dam C3 Eksisting dengan Perkuatan


Dari hasil diagram interaksi kolom diatas dapat dilihat dengan perkuatan penampang kolom yang
tadinya overstress dengan adanya penyelubungan beton dan tambahan tulangan penampang kolom sudah
mampu menerima gaya yang terjadi.

4.7.3 Pemeriksaan Pondasi Setelah Diperkuat


Adapun rekapitulasi gaya dalam dan hasil pemeriksaan pondasi eksisting setelah diperkuat adalah
sebagai berikut:
Tabel 7. Rekapitulasi Pondasi Setelah Diperkuat
Jumlah Daya Daya Beban Kontrol Kontrol
Tiang Tiang Gaya
Tiang Dukung Dukung Maks. 1 Efisiensi
Tipe Jenis Dimensi Eks. Perk. Kedalaman Aksial Pmaks
No Total Tekan Tarik Tiang P<
Pondasi Pondasi (mm) (m) <
n = n,e + Pta Pa.Eg.n
n,e n,p Pta.Eg
n,p P (Ton) Pa (Ton) (Ton) Pmaks (Ton) Eg
PancangMini
1 F1 250 3 10 194,9045 54,455 8,556 39,48290335 0,809467 OK! OK!
Pile
5
F1.P Bore Pile 300 2 3 194,9045 53,35147 2,724516 39,99741132 0,809467 OK! OK!
PancangMini
2 F2 250 4 10 283,424 54,455 8,556 35,70712188 0,769222 OK! OK!
Pile
8
F2.P Bore Pile 300 4 3 283,424 53,35147 2,724516 36,06833 0,769222 OK! OK!
PancangMini
3 F3 250 5 10 324,3604 54,455 8,556 36,6865825 0,726833 OK! OK!
Pile
9
F3.P Bore Pile 300 4 3 324,3604 53,35147 2,724516 37,46155518 0,726833 OK! OK!

4 F4 Bore Pile 300 1 3 180 53,35147 2,724516 36 0,705185 OK! OK!


5
F4.P Bore Pile 300 4 3 180 53,35147 2,724516 36,40989541 0,705185 OK! OK!

Sumber : Hasil analisis

Dari hasil perkuatan pondasi eksisting dengan adanya penambahan pondasi baru yaitu pondasi
bore pile seluruh pondasi eksisting sudah mampu menerima beban lantai tambahan.

5 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari evaluasi dan perbaikan diatas adalah sebagai berikut:
1. Hasil evaluasi struktur bangunan eksisting sebelum dan sesudah penambahan lantai bangunan
Hotel Sea Sentosa Canggu antara lain:
a. Berdasarkan hasil evaluasi struktur bangunan eksisting menunjukan kinerja struktur eksisting
sebagian besar masih mampu menerima beban yang terjadi, terdapat 2 tipe balok saja yang
mengalami overstress yaitu balok B2 dengan rasio 2,08 dan B4 dengan rasio 1,44, sedangkan
untuk kolom keseluruhan masih aman.
b. Berdasarkan hasil evaluasi struktur bangunan eksisting dengan lantai tambahan, menunjukan
bahwa struktur bangunan eksisting yang direncanakan mendapatkan penambahan 2 lantai di
atasnya menunjukan tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan pembebanan dan
tambahan 2 lantai yang terjadi pada struktur bangunan eksisting, hal tersebut ditunjukan oleh
Kadek Oxi Arimbawa1), I Ketut Yasa Bagiarta2), Cok Agung Yujana3)

ketidakmampuan beberapa elemen seperti balok B7 dengan rasio 1,8 akibat alih fungsi ruang,
untuk kolom C1 dengan rasio 1,18 dan C3 dengan rasio 1,16 pada lantai dasar saja, untuk
pondasi F1, F2, F3, dan F4 seluruh tipe pondasi dengan jarak terjauh tidak aman.
2. Desain yang tepat untuk perkuatan struktur bangunan eksisting Hotel Sea Sentosa Canggu
dengan lantai tambahan yang dilakukan dalam perencanaan ini adalah menggunakan metode
concrete jacketing. Concrete jacketing merupakan teknik perkuatan dengan cara melapisi
seluruh atau sebagian permukaan elemen struktur dengan beton baru disertai dengan
penambahan tulangan longitudinal maupun tulangan transversal. Beton baru yang ditambahkan
harus memiliki kuat tekan yang lebih tinggi atau minimal sama dengan beton struktur yang
diperkuat untuk memaksimalkan penambahan kemampuan tekan struktur.
3. Hasil desain perkuatan struktur bangunan eksisting Hotel Sea Sentosa Canggu menggunakan
teknik concrete jacketing antara lain:
a. Seluruh elemen dari penampang struktur yang diperkuat seperti penambahan dimensi serta
tulangan dapat memenuhi persyaratan kontrol struktur dengan baik
b. Struktur bangunan yang telah diperkuat menjadi memiliki kekuatan yang lebih besar dari
yang disyaratkan pada pemeriksaan struktur daripada kondisi eksisting ketika sama-sama
dibebani oleh penambahan dua lantai baru di atasnya.
c. Struktur balok dan kolom pada bangunan Hotel Sea Sentosa Canggu yang telah diperkuat
dengan metode concrete jacketing pada seluruh kolom pada lantai dasar tipe C1 dan C3
dengan ketebalan beton perkuatan 10 cm masing-masih sisi dan tambahan 4 tulangan
longitudinal masing-masing sisi dengan besi D19, untuk balok B2, B4, dan B7 diberikan
ketebalan beton 10 cm pada sisi samping dan 15 cm pada bagian bawah serta penambahan
besi sesuai beban yang terjadi telah memiliki kapasitas yang cukup dari segi kekuatan dan
kekakuan dalam menahan kombinasi beban gravitasi dan beban gempa nominal yang terjadi
pada bangunan.
d. Penambahan lantai pada bangunan Hotel Sea Sentosa Canggu terlihat sangat mempengaruhi
kekuatan dari pondasi eksisting bangunan secara signifikan yaitu tipe pondasi F1, F2, F3, dan
F4. Maka dilakukan perhitungan kebutuhan bore pile pada masing-masing tipe pondasi
secara menyeluruh, dengan penambahan pondasi bore pile diameter 30 cm, pondasi F1
sebanyak 2 buah bore pile, F2 F3 F4 sebanyak 4 buah bore pile, dan tambahan pile cap ke
masing-masih pondasi tambahan pada pondasi eksisting.

DAFTAR PUSTAKA
Asroni, A. (2010). Kolom, Fondasi dan Balok "T" Beton Bertulang Edisi pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Badan Standardisasi Nasional. (2012). SNI 1726:2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
Struktur Gedung dan Non Gedung. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2013). SNI 1727:2013 Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan
Gedung dan Struktur Lain. Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2013). SNI 2847-2013 Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan
Gedung. Badan Standardisasi Nasional.
Budiono, Bambang, dkk. (2017). Contoh Desain Bangunan Tahan Gempa dengan Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus dan Sistem Dinding Struktur Khusus di Jakarta, Bandung : ITB
Imran, S., & Hendrik, F. (2009). Perencanaan Struktur Gedung Beton Bertulang Tahan Gempa. Bandung:
ITB.
Kaontole, J.T., Sumajouw, M.D.J., Windah, R.S. (2015). Evaluasi Kapasitas Kolom Beton Bertulang yang
Diperkuat Dengan Metode Concrete Jacketing. Jurnal Sipil Statik, Vol. 3, No. 3.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jss/, diunduh 15 April 2018
Kusuma, T. B. (2009). Desain Sistem Rangka Pemikul Momen dan Dinding Struktur Beton Bertulang
Tahan Gempa. Surabaya: ITS Press.
Pamungkas, A., & Harianti, E. (2013). Desain Pondasi Tahan Gempa. Yogyakarta: ANDI.
Parwata, W. (2017). Pengaruh Penambahan Lantai Pada Struktur Gedung Kontor SKPD Dinas Pertanian,
Peternakan, Dan Perkebunan Provinsi Bali, Tugas Akhir Program Studi Teknik Sipil Universitas
Warmadewa, Denpasar
Rosyidah, A., Rinawati, Wiratenaya D., & Pattisia M. A. (2010). Perkuatan Struktur pada Bangunan
Rumah Tinggal 3 Lantai. http://jurnal.pnj.ac.id/index.php/politeknologi/article/view/480/240,
diunduh 10 April 2018.
Yasa, P. Adi (2016). Analisis Prilaku dan Kinerja Rangka Beton Bertulang dengan dan Tanpa Breising
Kabel CFC, Tugas Akhir Program Studi Teknik Sipil Universitas Udayana, Bali