Anda di halaman 1dari 7

3.

4 Gangguan kesehatan akibat kerja


Penyakit akibat kerja yang dapat diderita oleh pekerja UD. Usaha Maju adalah Low Back
Pain (LBP), Myalgia, Dermatitis Kontak Iritan, ISPA, Konjungtivitis, Tinitus, Trauma.
Gangguan kesehatan akibat kerja ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Low Back Pain (LBP)
LBP merupakan penyakit yang seringkali dialami oleh pekerja UD. Usaha Maju,
akibat dari posisi saat bekerja yang kurang baik. LBP adalah suatu sindroma klinis dengan
manifestasi berupa nyeri dan rasa tidak nyaman di daerah sudut bawah kosta (tulang rusuk)
sampai lumbosacral (sekitar tulang ekor). 1
Berdasarkan etiologi, LBP dibedakan menjadi viscerogenik, vaskulogenik,
neurogenik, spondilogenik, miogenik dan psikogenik. Menurut Harsono salah satu faktor
risiko LBP adalah posisi saat bekerja yang kurang baik. Cara melakukan pekerjaan harus
mengikuti ergonomi kerja. Beberapa cara kerja yang sesuai dengan ergonomi diuraikan
berikut ini.
a. Cara mengangkat barang yang benar

Gambar 3.8 Cara mengangkat beban yang benar

b. Cara membawa barang


 Pembebanan tidak melebihi 30 - 40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja
dalam jangka waktu 8 jam sehari.
 Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban maksimum untuk tenaga kerja
Indonesia adalah 40 kg.
 Tidak mengangkat beban lebih dari 4.5 kg pada posisi duduk.
 Tidak mengangkat beban lebih dari 16-20 kg saat berdiri.
 Tidak mengangkat, menurunkan atau membawa beban lebih dari 55 kg tanpa bantuan
mekanis yang tersedia.

Gambar 3.9 Contoh bantuan mekanis pembawa barang

c. Posisi bekerja
 Hindari kegiatan melakukkan kepala dan leher kedepan (menunduk) atau
melekukkan kebelakang (mendongak).
 Hindari melekukkan badan kedepan (membungkuk).
 Hindari gerakan memutar dan asimetrik. Jika harus berputar usahakan hanya sampai
dua pertiga putaran.
 Usahakan untuk menggunakan kursi dengan sandaran (backrest), dan duduk pada
posisi bersandar pada sandaran (posisi tegak).
 Pada pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar, posisi tubuh tegak dan lekukan siku
pada posisi 90 – 120 derajat, sehingga tubuh berada optimal untuk mengeluarkan
tenaga.
 Jika bekerja pada posisi berdiri, usahakan dapat sesekali duduk pada waktu senggang
untuk relaksasi otot kaki.
Pada pekerja UD Usaha Maju ini, posisi sering berdiri dan duduk membungkuk serta
salah posisi mengangkat barang dapat menyebabkan gangguan ini.
2. Myalgia
Myalgia adalah nyeri otot yang merupakan gejala dari banyak penyakit dan
gangguan pada tubuh. Pada umumnya penyebab myalgia adalah penggunaan otot yang
salah atau otot yang terlalu tegang. Myalgia merupakan suatu bentuk respon tubuh
terhadap berbagai kemungkinan kondisi.
Myalgia terbagi menjadi beberapa jenis yaitu; Fibromyalgia, Myofascial pain, Nyeri
otot pasca latihan (post exercise muscle soreness), dan nyeri otot akibat penggunaan yang
berlebihan (overuse injury). Pekerja UD. Usaha Maju memiliki resiko myalgia karena
sering mengangkat beban berat seperti kayu, alat-alat, yang mana hampir setiap hari
mereka lakukan. Hal ini membuat penggunaan otot yang berlebihan sehingga otot-otot
kekurangan oksigen dan menghasilkan asam laktat dan menyebabkan myalgia.2

3. Dermatitis Kontak Iritan


Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit non-imunologis. DKI
lebih sering di hubungkan dengan pekerjaan yang sering terpapar dengan bahan-bahan
iritan seperti sabun, pembersih lantai, serbuk kayu, dan semen.
Pada pekerja UD Usaha Maju ini, salah satu proses kerja yang berisiko dermatitis
kontak iritan adalah saat pekerja kontak dengan serbuk kayu dari hasil pengamplasan dan
diperparah dengan pekerja yang tidak menggunakan alas kaki (sandal/sepatu). Serbuk kayu
merupakan salah satu iritan yang dapat mengiritasi kulit apabila sering terpapar.3

4. ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang
menyerang salah satu atau lebih dari saluran pernapasan, mulai dari hidung (saluran atas)
hingga alveoli (saluran bawah) beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga
telinga tengah dan pleura.ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai
14 hari.
Penyebab ISPA adalah bakteri, virus, debu atau asap yang halus dan tidak terlihat,
dapat masuk ke lapisan mukosa hingga terdorong menuju faring karena tidak dapat
disaring oleh rambut yang ada pada hidung. Umumnya udara yang tercemar bisa
menyebabkan pergerakan silia hidung lambat, kaku, hingga dapat berhenti. Akibatnya,
saluran pernafasan teriritasi karena tidak dapat membersihkannya dari bahan yang
tercemar. Tanda dan gejala ISPA sebagian besar dari gejala saluran pernapasan hanya
bersifat ringan seperti batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit
kepala tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik.
Berdasarkan uraian diatas, salah satu penyebab ISPA pada para pekerja UD Usaha
Maju adalah seringnya terpapar dengan debu serbuk kayu dari hasil pemotongan kayu
ataupun penghalusan kayu. Salah satu upaya sederhana yang dianjurkan sebagai
pencegahan untuk risiko ISPA ini adalah penggunaan masker, menjaga kebersihan diri dan
lingkungan.4

5. Rhinitis Alergi
Rhinitis Alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada
pasien atopi yang sebelumnyya sudah tersensitasi dengan allergen yang sma serta
dilepaskannya suatu mediatoe kimia ketika terjadi paparann ulangan dengan allergen
spesifik tersebut
Tanda dan gejala pada umumnya yaitu, bersin-bersin, kedua mata gatal dan
kemerahan, produksi lendir beming dan encer dari hidung, hidung tersumbat dan sulit
bernafas. Pekerja UD. Usaha Maju beresiko terkena rhinitis alergi karena sering terpapar
debu dan serbuk kayu yang dapat menyebabkan alergi sehingga memicu rhinitis alergi. 5

6. Konjungtivitis
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva. Penyakit ini adalah penyakit
mata yang paling sering di alami oleh pekerja yang bekerja di luar ruangan, karena
lokasinya, dimana konjungtiva terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor
lingkungan lain yang mengganggu seperti debu dan lain-lain
Tanda dan gejala umum pada konjungtivitis yaitu mata merah, terdapat kotoran pada
mata, mata terasa panas seperti ada benda asing yang masuk, mata berair, kelopak mata
lengket, penglihatan terganggu, serta mudah menular mengenai kedua mata.
Berdasarkan urian di atas, salah satu penyebab konjungtivitis pada pekerja UD Usaha
Maju adalah karena terpapar percikan debu atau serbuk kayu dari hasil pemotongan kayu
ataupun penghalusan kayu tersebut. Salah satu upaya sederhana yang dianjurkan sebagai
pencegahan untuk risiko konjungtivitis adalah penggunaan kacamata untuk melindungi
mata.6

7. Tinitus
Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa
adanya rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan
ini dapat berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi
lainnya.
Tinitus dibagi menjadi tinitus objektif dan tinnitus subjektif. Dikatakan tinitus
objektif apabila suara tersebut dapat didengar juga oleh pemeriksa atau dengan auskultasi
disekitar telinga. Sedangkan dikatakan tinnitus subjektif apabila suara tersebut hanya
didengar oleh pasien sendiri.
Berdasarkan uraian diatas, pekerja UD Usaha Maju dapat beresiko terkena tinitus,
karena sering terpapar oleh suara bising dari alat-alat yang digunakan, sehingga dapat
membuat secara cepat degenerative traktus audiotorik mulai dari sel-sel rambut, getar
koklea sampai pada pusat saraf pendengaran. 5

8. Trauma
Trauma adalah kejadian yang bersifat holistic dan dapat menyebabkan hilangnya
produktif seseorang. Trauma terbagi menjadi 2 yaitu trauma tumpul dan trauma tajam.
Trauma tumpul sering terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor ( KKB) dan jatuh,
sedangkan trauma tajam (tusuk/penetrasi) seringkali diakibatkan oleh luka tembak atau
luka tikam.
Pekerja UD Usaha Maju, seringkali menggunakan alat-alat / benda-benda yang tajam
atau tumpul dan mengangkat beban yang mana beresiko menjadi trauma apabila tidak hati-
hati dalam pemggunaannya. Sehingga trauma adalah salah satu resiko dari pekerjaan
tersebut. 7

3.5 Standar kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)


Sebuah tempat kerja harus memiliki standar kotak P3K sesuai standar dari Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia tahun 2008. Hal ini dimaksudkan
agar pada saat para pekerja mengalami kecelakaan akibat kerja, dapat ditangani dengan cepat
(pertolongan pertama) sehingga risiko infeksi penyakit dapat diminimalisir. Pada tempat usaha
Mabel UD. Usaha Maju, didapatkan beberapa penyakit yang dialami oleh para pekerja pada
setiap proses pembuatan mabel seperti risiko trauma (luka robek, luka tusuk, dsb). Namun
apabila tidak memiliki kotak P3K maka penyakit-penyakit yang dialami oleh para pekerja, tidak
dapat diobati secara cepat. Berikut adalah standar kotak P3K yang harus ada pada tempat kerja.

Tabel 3.2Standar Kotak P3K pada Tempat Kerja


KOTAK A KOTAK B KOTAK C
No. ISI (Untuk < 25 (Untuk 26-50 (Untuk 51-100
pekerja/buruh) pekerja/buruh) pekerja/buruh)
1. Kasa steril terbungkus 20 40 40
2. Perban (lebar 5 cm) 2 4 6
3. Perban (lebar 10 cm) 2 4 6
4. Perban (lebar 1,25 m) 2 4 6
5. Plester cepat 10 15 20
6. Kapas (25 g) 1 2 3
7. Kain segitiga (mittela) 2 4 6
8. Gunting 1 1 1
9. Peniti 12 12 12
10. Sarung tangan sekali pakai 2 s3 4
11. (pasangan) 2 4 6
12. Masker 1 1 1
13. Pinset 1 1 1
14. Lampu senter 1 1 1
15. Gelas untuk cuci mata 1 2 3
16. Kantong plastik bersih 1 1 1
17. Aquades (100 ml lar. Saline) 1 1 1
18. Povidon iodin (60 ml) 1 1 1
19. Alkohol 70% 1 1 1
20. Buku panduan P3K di tempat kerja 1 1 1
21. Buku catatan. Daftar isi kotak 1 1 1
DAFTAR PUSTAKA
1. Universitas Sumatera Utara, Low Back Pain. Available at:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../4/ChapterII.pdf%0A [Accessed May 23,
2017].
2. Yatim, faisal. 2006. Penyakit tulang dan persendian. Jakarta : Pustaka Populer Obor
3. Siregar R. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. 2nd Ed. Jakarta: EGC. 2004
4. World Health Organization, 2008. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang
cenderung menjadi epidemi dan pandemi. Available at:
http://www.who.int/csr/resources/publications/WHO_CDS_EPR_2007_8BahasaI.pdf.
[Accessed May 23, 2017].
5. Utama, Hendra.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan
Leher. Edisi tujuh. Jakarta : BP FKUI; 2014
6. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata. Edisi keempat. Cetakan ke 3. Jakarta :BP FKUI; 2013.
7. Eliastam, Michael. 1998. Penuntun Kedaruratan Medis. Jakarta. EGC