Bab I Tinjauan Umum Senyawa Aktif dan Sediaan
I.1 Deskripsi Umum Senyawa Aktif
Guaifenesin mengandung tidak kurang dari 98,0% d an tidak lebih dari 102,0%
C10H14O4 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan (FI V, 506)
a. Nama kimia : 3-(o-Metoksifenoksi)-1,2-propanadiol [93-14-1] C10H14O4 (FI V,
2014: hal 506)
b. Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai agak kelabu, bau khas lemah rasa pahit (FI V,
2014: hal 506)
c. Kelarutan : Larut dalam air, etanol, kloroform dan propilen glikol, agak sukar larut
dalam gliserin (FI V, 2014: hal 506)
I.2 Definisi Bentuk Sediaan Terkait
Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi (FI V, 2014: hal 52)
I.3 Golongan obat
Obat bebas (KMK RI NO. 2380/A/SK/VI/83)
I.4 Penandaan pada wadah, leaflet atau brosur
(KMK RI NO. 2380/A/SK/VI/83 Pasal 3 ayat 1)
I.5 Nomor Registrasi (dengan uraian/penjelasan penomoran) & nomor bets
Berdasarkan permenkes RI No 1010/Menkes/Per/XI/2008 Tentang Registrasi Obat
Nomor Registrasi: DKL 1802700110 A1
D : obat dengan nama dagang
K : golongan obat keras
L : produksi dalam negeri (lokal)
18 : tahun penandaan obat jadi
027 : nomor urut pabrik di Indonesia
001 : nomor urut obat jadi yang disetujui oleh pabrik
10 : nomor urut sediaan (tablet)
A : kekuatan obat jadi
1 : kemasan untuk kekuatan obat jadi tersebut.
Nomor Batch Guaifenesin Tablet 18.10.001
18 : tahun produksi
10 : kode bentuk sediaan
001 : nomor urut pembuatan
(Badan POM, 2013: 223)
Bab II Uraian dan Analisis Farmakologi
II. 1 Nama Obat dan Sinonim
a. Nama kimia / umum ZA
Nama zat aktif : Guaifenesin (FI V : 506)
b. Golongan Farmakologi
Guaifenesin sebagai ekspektoran (AHFS 2011)
c. Golongan Kimia
Derivat Guaikol
II.2 Bentuk Senyawa Aktif
Guaifenesin dalam bentuk bebas karena dapat larut dalam air, etanol, kloroform dan
propilen glikol sehingga tidak perlu dalam bentuk garam (FI V, 2014: hal 506).
II. 3 Mekanisme Kerja dalam Tubuh
a. Efek farmol : batuk (cough) (AHFS 2011)
b. Mekanisme kerja : mengurangi viskositas sekresi dengan meningkatkan jumlah
cairan saluran pernapasan. (AHFS 2011)
II.4 Nasib Obat dalam Tubuh (ADME)
Absorbsi : guaifenesin diserap dengan baik dari saluran gastrointestinal
Distribusi : -
Metabolisme : -
Eksresi : didalam urin
(Martindale Ed 36, 2009: hal 1561)
II.5 Indikasi & Dasar Pemilihan
Pengobatan batuk (cough) (AHFS, 2011)
II.6 Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap guaifenesin karena sensitifitas seseorang berbeda-beda, ada
pasien yang memiliki sensitifitas rendah dan ada juga yang memiliki sensitifitas tinggi.
Pada pasien dengan senisitifitas respon imun tinggi akan menyebabkan terjadinya reaksi
sensitifitas atau alergi (AHFS, 2011)
II.7 Dosis
Orang dewasa
Persiapan konvensional : 200 – 400 mg setiap 4 jam hingga 2,4 gram setiap hari
Tablet pelepasan diperpanjang 600 mg : 600 mg atau 1,2 gram setiap 12 jam, hingga
2,4 gram setiap hari (AHFS, 2011).
II.8 Cara Pakai
Dikonsumsi bila terjadi batuk disertai lendir, apabila batuk menetap selama > 1 minggu,
cenderung kambuh, atau disertai demam, ruam, atau sakit kepala persisten segera
menghubungi dokter (AHFS, 2011).
II.9 Efek Samping
Ketidaknyamanan pada gastrointestinal, mual dan muntah yang kadang terjadi telah
dilaporkan dengan guaifenesin, khususnya dalam jumlah yang sangat besar dosis
(Martindale Ed 36, 2009: hal 1561)
II.10 Toksisitas
Resiko overdosis dan toksisitas termasuk kematian pada anak-anak < 2 tahun yang
menerima obat ekspektoran, antihistamin, penekan batuk dan dekongestan hidung
dalam kombinasi untuk menghilangkan gejala infeksi saluran pernapasan atas. Dosis
yang tepat tidak ditetapkan (AHFS, 2011). Batu saluran kemih telah dilaporkan pada
pasien yang mengkonsumsi sejumlah besar over-the-counter persiapan yang
mengandung guaifenesin Analisis spektroskopi1 mengungkapkan bahwa batu terdiri
dari garam kalsium beta- (2-methoxyphenoxy) - asam laktat, yang merupakan metabolit
dari guaifenesin (Martindale Ed 36, 2009: hal 1561)
II.11 Interaksi Obat
Tidak ada interaksi obat
II.12 Penggunaan pada Kondisi Khusus
Pasien pediatric
Anak 2 hingga < 6 tahun (persiapan konvensional) : 50-100 mg setiap 4 jam, hingga
600 mg setiap hari
Anak 2-6 tahun (persiapan rilis diperpanjang) : 300 mg setiap 12 jam, hingga 600 mg
setiap hari
Anak 6 hingga <12 tahun (persiapan konvensional) : 100-200 mg setiap 4 jam,
hingga 1,2 gram setiap hari
Anak ≥ 12 tahun (tablet diperpanjang) : 600 mg atau 1,2 gram setiap 12 jam, hingga
2,4 gram setiap hari
(AHFS,2011)
II.13 Peringatan
Batuk terus-menerus
Jangan digunakan untuk pengobatan sendiri untuk batuk kronis atau terus-menerus
misalnya asma, bronchitis kronis, emfisema atau batuk yang disertai dengan dahak
berlebihan, harus dengan arahan dokter.
Penggunaan kombinasi tetap
Ketika menggunakan kombinasi tetap dengan agen lain misalnya acetaminophen,
chlorpheniramine, dextromethorphan, efedrin harus mempertimbangkan tindakan
pencegahan dan kontraindikasi yang terkait.
(AHFS, 2011)
II.14 Cara Penyimpanan
Stabilitas penyimpanan diwadah rapat (AHFS, 2011)
II.15 Contoh Sediaan yang Beredar di Pasaran serta Kekuatannya (AHFS, 2011)
Tablet
Hytuss® 100 mg
Organidin® 200 mg
Tablet, extended release
Mucinex® 600 mg
Kapsul
Hytuss-2X® 200 g
Larutan
100mg/ 5mL
Phanasin® Diabetic Choice® (with parabens and propylene glycol)
Diabetic Tussin® EX (with aspartame and methylparaben)
Ganidin® NR
Guiatuss® Syrup
Mucinex® (with parabens and propylene glycol)
Robitussin® Chest Congestion (with propylene glycol)
II.16 Analisis Farmakologi
1. Guaifenesin dalam bentuk bebas karena dapat larut dalam air, etanol, kloroform dan
propilen glikol sehingga tidak perlu dalam bentuk garam (FI V, 2014: hal 506).
2. Rasionalitas pemilihan bentuk sediaan
Guaifenesin dibuat sediaan tablet karena zat aktif mempunyai rasa pahit sehingga
dibuat dalam sediaan tablet agar mengurangi rasa pahit.
3. Pemilihan indikasi digunakan untuk obat batuk (cough)
4. Cara pemilihan dosis beserta alasan
Dosis yang digunakan untuk satu tablet yaitu 100 mg, karena pada dosis tersebut
dipilih karena dengan dosis tersebut sudah memiliki efek terapi berdasarkan
literatur, karena tablet guaifenesin 100 mg ditujukan terutama penggunaannya untuk
anak-anak telah memberikan efek terapi.
5. Perhitungan dosis
Dosis lazim anak-anak = 50-100 mg, tiap 4 jam setiap hari (AHFS,2011)
Dosis lazim dewasa = 200-400 mg, tiap 4 jam setiap hari(AHFS,2011)
6. Alasan pemilihan kekuatan sediaan
Dosis yang digunakan berdasarkan pustaka-pustaka untuk Guaifenesin adalah 100
mg (AHFS, 2011).
Kesimpulan Analisis Farmakologi
1. Kekuatan sediaan : tablet Guaifenesin 100 mg
2. Indikasi : Pengobatan batuk (cough) (AHFS, 2011)
3. Dosis dan Aturan Pakai
Dosis dan lama penggunakan berdasarkan usia dan sesuai petunjuk dokter
Dosis lazim anak-anak = 50-100 mg, tiap 4 jam setiap hari (AHFS,2011)
Dosis lazim dewasa = 200-400 mg, tiap 4 jam setiap hari(AHFS,2011)
III. Analisis Preformulasi, Formulasi dan Usulan Formulasi
III. 1 Pendekatan Formulasi
a. Formula Utama Tablet Guaifenesin
Item Bahan (mg/tablet) 1000 tablet Fungsi
1 Guaifenesin 100 Zat aktif
2 Starch 1500 22,93 Pengisi
3 Microcrystalline Cellulose NF 13,59 Penghancur
4 Starch 1500 5,73 Pengikat
5 Stearic acid NF 0,72 Lubrikan
6 Magnesium stearat 0,36 Lubrikan
7 Aerosil 1,4 Glidan
8 Aquades q.s Pelarut
Formula Alternatif Tablet Guaifenesin
Item Bahan (mg/tablet) 1000 tablet Fungsi
1 Guaifenesin 69,77 Zat aktif
2 Starch 1500 16,00 Pengisi
3 Microcrystalline Cellulose NF 9,48 Penghancur
4 Starch 1500 4,00 Pengikat
5 Stearic acid NF 0,50 Lubrikan
6 Magnesium stearat 0,25 Lubrikan
(Niazi, 2009. Hal 308)
b. Metode pembuatan
Metode pembuatannya dengan menggunakan granulasi basah, karena guaifenesin
berbentuk hablur sehingga mempunyai laju alir yang buruk, sehingga dibuat metode
granulasi dan sifatnya yang tahan panas, yaitu suhu sekitar 79-83 °C sehingga
menggunakan metode granulasi basah. Digunakan metode granulasi agar
memperbaiki laju alir dan meningkatkan kompresibilitas.
c. Eksipien
Formula utama
1. Starch 1500 (HOPE, 2009: hal 691)
- Pemerian : agak kasar hingga halus, putih untuk bubuk berwarna off-white. Ini
tidak berbau dan memiliki sedikit rasa yang khas.
- Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol (FI IV, 1995)
- Stabilitas : bahan stabil tetapi higroskopis
- Inkompatibilitas : -
- Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan : diluent dan disintegran (HOPE)
2. Mycrocristaline Cellulosa NF (HOPE, 2009: hal 129)
- Pemerian : kristal yang putih, tidak berbau, tidak berasa bubuk terdiri dari partikel
berpori.
- Kelarutan : Kelarutan sedikit larut dalam 5% b / v larutan natrium hidroksida;
praktis tidak larut dalam air, asam encer, dan paling organik pelarut.
- Fungsi : pengikat, beberapa dapat digunakan sebagai pelumas dan disintegran.
- Stabilitas : bahan higroskopis yang stabil. Bahan curah harus disimpan dalam
wadah tertutup dengan baik dalam tempat yang sejuk dan kering.
- Inkompatibilitas : Selulosa mikrokristalin tidak sesuai dengan oksidasi kuat agen
3. Asam stearate (rowe, HOPE, 2009: hal 697)
- Pemerian : Asam stearat adalah keras, berwarna putih atau agak kuning, agak
bubuk putih mengkilap, kristal atau putih atau putih kekuningan. Memiliki sedikit
bau (dengan ambang bau 20 ppm) dan rasa menyarankan lemak.
- Kelarutan : Kelarutan Bebas larut dalam benzena, karbon tetraklorida, kloroform,
dan eter; larut dalam etanol (95%), heksana, dan propilen glikol; praktis tidak larut
dalam air
- Stabilitas : Asam stearat adalah bahan stabil; antioksidan juga dapat ditambahkan.
- Inkompatibilitas : Asam stearat tidak sesuai dengan sebagian besar hidroksida
logam dan mungkin tidak sesuai dengan basa, zat pereduksi, dan oksidator.
- Fungsi : lubrikan, pelumas tablet
4. Magnesium Stearat (HOPE, 2009: hal 404)
- Pemerian : sangat halus, berwarna putih, memiliki bau samar asam stearat dan rasa
yang khas
- Kelarutan : Kelarutan Secara praktis tidak larut dalam etanol, etanol (95%), eter
dan air; sedikit larut dalam benzena hangat dan etanol hangat (95%).
- Inkompatibilitas : Tidak cocok dengan asam kuat, alkali, dan garam besi.
Magnesium stearat tidak bisa digunakan dalam produk yang mengandung aspirin,
beberapa vitamin.
- Stabilitas : Magnesium stearat stabil dan harus disimpan dalam keadaan tertutup
wadah di tempat yang sejuk dan kering.
- Fungsi : lubrikan, pelican
5. Aerosil (HOPE, 2009: hal 185)
- Pemerian : silika berasap submikroskopik dengan ukuran partikel sekitar 15 nm,
berwarna putih kebiruan, tidak berbau, tidak berasa, bubuk amorf.
- Kelarutan : Kelarutan Secara praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan
asam, larut dalam larutan panas alkali hidroksida. Membentuk dispersi koloid
dengan air.
- Inkompatibilitas : Tidak sesuai dengan diethylstilbestrol
- Stabilitas : bersifat higroskopis tetapi mengadsorpsi dalam jumlah besar air
tanpa pencairan. Ketika digunakan dalam sistem berair pada pH 0-7,5, silikon
dioksida koloid efektif dalam meningkatkan viskositas suatu sistem
- Fungsi : glidan
6. Aquades ( FI V, 2014: hal 56 dan HOPE, 2009 : hal 766)
- Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau
- Kelarutan : Kelarutan Dapat bercampur dengan sebagian besar pelarut polar
- Inkompatibilitas : air dapat bereaksi dengan obat dan eksipien lain yang rentan
terhadap hidrolisis (dekomposisi dalam kehadiran air atau uap air) di ambient
dan ditinggikan suhu.
- Stabilitas : stabil di semua keadaan fisik (es, cair, dan uap air)
- Fungsi : pelarut
III. 2 Kesimpulan Formula Utama dan Alternatif
Sediaan yang akan dibuat dalam bentuk tablet 100 mg. Formula utama maupun
formula alternatif tiap tabletnya mengandung 100 mg Guaifenesin.
IV. Pembuatan & Evaluasi Farmasetik Sediaan Akhir
IV. 1 Metode Pembuatan Sediaan
Metode pembuatannya dengan menggunakan granulasi basah, karena guaifenesin
berbentuk hablur sehingga mempunyai laju alir yang buruk, sehingga dibuat metode
granulasi dan sifatnya yang tahan panas, yaitu suhu sekitar 79-83 °C sehingga
menggunakan metode granulasi basah. Digunakan metode granulasi agar
memperbaiki laju alir dan meningkatkan kompresibilitas.
IV. 2 Perhitungan & Penimbangan (Niazi, Sarfaraz, 1949)
Formula Utama
Sediaan ini dibuat sebanyak 1000 tablet + 10% untuk evaluasi dan susut saat proses
produksi.
1. Guaifenesin : 100 mg x 1000 + 10% = 110.000 mg = 110 g
2. Starch 1500 : 22,93 mg x 1000 + 10% = 25.223 mg = 25,223 g
3. Mycrocristalline Celullosa : 13,59 mg x 1000 + 10% = 14.949 mg = 14,949 g
4. Starch 1500 : 5,73 x 1000 + 10% = 6303 mg = 6,303 g
5. Asam Stearat : 0,72 mg x 1000 + 10% = 792 mg = 0,792 g
6. Magnesium Stearat : 0,36 mg x 1000 + 10% = 369 mg = 0,369 g
7. Aerosil : 1,4 mg x 1000 + 10% = 1540 mg = 1,54 g
8. Aquades : q.s
Formula Alternatif
1. Guaifenesin : 69,77 mg x 1000 + 10% = 76747 mg = 76,747 g
2. Starch 1500 : 16,00 mg x 1000 + 10% = 17600 mg = 17,6 g
3. Mycrocristalline Celullosa : 9,48 mg x 1000 + 10% = 10428 mg = 10,428 g
4. Starch 1500 : 4,00 x 1000 + 10% = 4400 mg = 4,4 g
5. Asam Stearat : 0,50 mg x 1000 + 10% = 550 mg = 0,55 g
6. Magnesium Stearat : 0,25 mg x 1000 + 10% = 275 mg = 0,275 g
IV. 3 Prosedur Pembuatan Sediaan (Niazi, Sarfaraz, 1949)
1. Granulasi: bahan 1 dan 2 preblend selama 2 menit sebelum dilakukan granulasi
dengan air untuk mendapatkan kelembapan yang tepat.
2. Massa basah selama 3 menit.
3. Ukur granulasi.
4. Pelumas melewati layar 60-mesh sebelum pencampuran.
5. Aerosil dilewatkan melalui 30 mesh layar bersama dengan MCC.
6. Semua bahan kecuali pelumas dicampur selama 10 menit.
(Niazi, 2009. Hal 308)
IV. 4 Pengawasan dalam Proses (IPC)
Proses produksi tablet dilakukan selama proses produksi (In Process Control) oleh
personil QC. IPC dilakukan pada tahap krisis selama proses pembuatan tablet meliputi :
Langkah Produksi Peralatan Parameter Kritis Parameter
Pengujian
Penimbangan I Timbangan Kebersihan Cemaran Mikroba
Pencampuran II Mixer Pencampuran Keseragaman kadar
- Waktu campuran dalam pencampuran
- Kecepatan pengaduk/
penyetelan
- Kecepetan pengaduk
potong/ penyetelan
- Volume masa granul
Granulasi basah III Pengaduk · Granulasi : - Pemerian
berkecepata · Waktu pengadukan - Perolehan hasil
ntinggi · Kecepatan pengaduk/ pengolahan
penyetelan
Oscillating · Kecepetan pengaduk
Granulator potong/ penyetelan
Mesh · Penyaring/ penghalus
· Ukuran Penyaring
Pengeringan IV Alat - Waktu - Bilangan kuman
pengeringan - Suhu aliran udara - Perolehan hasil
Fluidbed masuk/keluar pengolahan
Dryer - Susut pengeringan
Pengayakan V Oscillating - Ukuran penyaringan - Produk degradasi
Langkah Produksi Peralatan Parameter Kritis Parameter
Pengujian
Granul Granulator - Penyetelan - Ukuran partikel
Mesh - Kecepatan - Bulk density
- Tap density
- Perolehan hasil
pengolahan
Lubrikasi, VI Pengaduk - Waktu - Keseragaman
Pencampuran - Kecepatan pengadukan kadar dalam granul
Akhir - Volume masa granul - Ukuran partikel
- Bulk density
- Tap density
- Perolehan hasil
pengolahan
Pencetakan VII Mesin · Kecepatan Pencetakan · Pemerian
Pencetak tablet · Dimensi tablet
Tablet · Gaya tekanan · Keseragaman
pencetakan bobot tablet
· Keseragaman
kadar tablet
· Kekerasan
· Keregasan
· Kecepatan disolusi
· Produk degradasi
· Perolehan hasil
pencetakan
IV. 5 Uji Mutu Farmasetik Sediaan Akhir
A. Prosedur evaluasi
1. Distribusi ukuran partikel
Dalam melakukan analisis granulometri digunakan susunan pengayak dengan berbagai
ukuran. Mesh terbesar diletakkan paling atas dan dibawahnya disusun pengayak dengan
mesh yang makin kecil dari mesh dengan no 20,40,60,80 dan penampung. Timbang
granul 100 gram masukan kedalam alat. Nyalakan alat selama 15 menit, kemudian
timbang bobot granul dari tiap mesh.
bobot penampug
% Fraksi = x 100 %
jumlah bobot penampung+bobot semua mesh
2. Laju Alir dan Sudut Istirahat
Massa tablet ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam corong flowmeter, diratakan
bagian atasnya dan ditutup bagian bawahnya. Alat dijalankan dan diukur waktu
kecepatan alirnya. Kecepatan laju alir ini dinyatakan dalam gram/detik. Pengukuran
sudut istirahat dilakukan setelah serbuk mengalir bebas, diukur tinggi dan diameter
puncak (cone) yang terbentuk, kemudian timbang bobotnya, masukkan nilainya
kedalam rumus sebagai berikut:
Tan Ɵ = h/r
Keterangan: Ɵ = sudut istirahat
h = tinggi granul
r = jari – jari serbuk
Tabel 3. Hubungan Sifat Alir Terhadap Sudut Istirahat
Sudut Istirahat Sifat Alir
25 – 30 Bagus Sekali
31- 35 Baik
36 – 40 Cukup Baik
41 – 45 Agak Baik
46 – 55 Buruk
56 – 65 Sangat Buruk
>66 Sangat Buruk Sekali
Sumber: United State Pharmacopeia 29, 2006
4. Kerapatan Nyata, Kerapatan Mampat, Kompresibilitas.
Massa tablet dimasukkan ke dalam tabung nesler 100 ml dan dibaca volume awal yang
terlihat ketika masa tablet dimasukkan (V1). Kerapatan massa tablet diperoleh dengan
cara mengetuk – ngetuk tabung nesler menggunakan alat Tapped Density Tester
sebanyak 250 kali selama 1 menit sampai volumenya tetap stabil (V2), tim Kemudian
dimasukkan nilainya kedalam rumus sebagai berikut :
Bobot Granul
Bobot Nyata =
Volume granul awal
Bobot Granul
Bobot Mampat =
Volume granul konstan
Bobot Mampat – Bobot Nyata
Kompresibilitas = 𝑥 100%
Bobot Mampat
Tabel 4. Hubungan Antara Sifat Aliran Serbuk dengan Kompresibilitas
Indeks Kompresibilitas (%) Sifat Alir
<10 Sangat Baik
11 – 15 Baik
16 – 20 Cukup Baik
21 – 25 Agak Baik
26 – 31 Buruk
32 – 37 Sangat Buruk
>38 Sangat Buruk Sekali
Sumber : United State Pharmacopeia 29, 2006
b. evaluasi tablet
1. Penampilan Tablet
Penampilan umum suatu tablet sangat penting bagi penerimaan konsumen, bagi
pengontrolan keseragaman antar bahan serta antar tablet yang satu dengan yang lainnya.
Pengontrolan penampilan umum tablet melibatkan pengukuran sejumlah perlengkapan
seperti bentuk, warna, bau, rasa, bentuk permukaan.
2. Keseragaman Ukuran
Sebanyak 20 tablet diuji diukur diameter dan tebalnya satu persatu menggunakan alat
jangka sorong. Uji keseragaman ini kecuali dinyatakan lain diameter tablet tidak lebih
dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet. (Depkes RI, 1995).
3. Kekerasan Tablet
Sebanyak 20 tablet diuji kekerasannya satu persatu menggunakan alat penguji kekerasan
yaitu Stokes Monshato Hardness Tester, dengan cara tablet dimasukkan kedalam ujung
alat secara vertical, kemudian putar sekrup pada ujung yang lain sehingga tablet
tertekan. Lalu pemutaran dihentikan sampai tablet pecah. (Depkes RI, 1995)
Bobot < 300 mg = 4-7 kg/cm3 (Newton)
Bobot 400 – 700 mg = 5-12 kg/cm3
4. Keseragaman Bobot
Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan
sebagai berikut : ditimbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang
satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang
dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu
tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang
ditetapkan kolom B. Jika tidak cukup 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet; tidak satu
tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata- rata yang ditetapkan
kolom A dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot
rata-rata yang ditetapkan kolom B (Depkes, 1979). Penyimpangan bobot rata-rata tablet
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Penyimpangan Bobot Rata – Rata Tablet (Depkes, 1979)
Penyimpangan Bobot Rata – Rata (%)
Bobot Rata – Rata (mg)
A B
<25 15% 30%
26 – 150 10% 20%
151 – 300 7.5% 15%
>300 5% 10%
Persyaratan :
A= Bobot rata – rata + ( 5% rata – rata) = batas atas
B = Bobot rata – rata – (10% rata – rata) = batas bawah
5. Kerapuhan Tablet
Alat penguji friabilitas yaitu friabilator Roche. Alat ini memperlakukan sejumlah tablet
terhadap gabungan pengaruh goresan dan guncangan dengan memakai sejenis kotak
plastik yang berputar pada kecepatan 25±1 rpm. Biasanya tablet yang telah ditimbang
diletakkan di dalam alat itu, kemudian dijalankan sebanyak 100 putaran. Tablet
kemudian dibersihkan dan ditimbang ulang. Tablet yang masih utuh ditimbang
kemudian dihitung kehilangan bobotnya dan dinyatakan dalam presentase
menggunakan rumus sebagai berikut:
W1 – W2
Kehilan gan Bobot (%) = 𝑥 100%
W1
Keterangan:
W1 = berat tablet awal dalam gram
W2 = berat tablet setelah uji dalam gram
Kehilangan bobot yang diizinkan tidak lebih dari 1 % (USP 32, 2009)
(Lachman, Lieberman & Schwartz, 1990)
7. Uji Waktu Hancur
Enam buah tablet dimasukkan ke dalam alat uji waktu hancur (disintegration Tester).
Setiap tabung diisi satu tablet dan ditutup dengan cakram penyangga, kemudian diturun
naikkan keranjang ke dalam penanggas air dengan temperature 37°C secara teratur 30
kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal
pada kasa keranjang. (Farmakope Indonesia Edisi IV,1995). (Lachman, Lieberman &
Schwartz, 1990)
8. Uji Disolusi
Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang
tertera dalam masinig-masing monografi untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali
dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk
kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing monografi.
Uji disolusi pada tablet guaifenesin dilakukan dengan menggunakan peralatan disolusi
standar USP pada suhu 37 ± 0,5ºC, apparatus (keranjang) dengan medium 900 ml air
dan putaran 50 rpm selama 45 menit. Dan akhirnya didapatkan eliqueot diperiksa
dengan spektrofotometer UV pada 274nm.
Interpretassi kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, persyaratan
dipenuhi bila jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan tabel
penerimaan. Lanjutkan pengujian sanpai tiga tahap kecuali bila hasil pengujian
memenuhi tahap S1 atau S2. Harga Q adalah jumlah zat aktif yang terlarut seperti yang
tertera dalam masing-masing monografi (Depkes RI, 1995).
Tabel 7. Penerimaan Uji Disolusi
Tahap Jumlah yang diuji Kriteria Penerimaan
S1 6 Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5%
S2 6 Rata-rata dari 12 unit (S1+S2) adalah sama dengan
atau lebih besar dari Q dan tidak satu unit sediaan
yang lebih kecil dari Q-15%
S3 12 Rata-rata dari 24 unit (S1+S2+S3) adalah sama
dengan atau lebih besar dari 2 unit sediaan yg lebih
kecil dari Q-15% dan tidak satu unit pun yang lebih
kecil dari Q-25%
IV. 6 Pengemasan Sediaan Jadi
Tablet Guaifenesin dalam kemasan primer yaitu botol dan kemasan sekunder box.
V. Analisis Masalah & Penyelesaiannya yang Berkaitan dengan Pengujian Mutu
Serta Usulan Teknik Metode Analisis yang akan Digunakan
V. 1 Gugus fungsi, jenis ikatan, rangka molekul & ion yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk analisis
Gugus fungsi : Gugus eter, gugus alkohol
Jenis ikatan : C=C, C-O,C-H
FI V,2014
V. 2 Data spektrofotometri (UV, IR)
Guaifenesin terukur oleh spektrofotometri UV pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 274 nm (FI V, 2014).
Data UV
Data IR
Frekuensi (cm-1) Penjelasan
1597 C=C
1512 C=C
1259 C–O
744 C–H
V. 3 Stabilitas dan Kemurnian
a. Stabilitas : stabil pada suhu ruang, terhindar dari sinar matahari langsung dan dalam
wadah tertutup rapat (AHFS, 2011)
b. kemurnian
Jarak lebur Antara 78° dan 82°, tetapi rentang awal dan akhir peleburan tidak lebih
dari 3°.
Susut pengeringan Tidak lebih dari 0,5%, lakukan pengeringan dalam hampa udara,
pada tekanan tidak kurang dari 10 mmHg dan suhu 60° hingga bobot tetap.
Logam berat Tidak lebih dari 25 bpj. (FI ed V, 2014 : hal 506)
V. 4 Metode-metode analisis yang diusulkan dalam pengujian mutu bahan baku
dan sediaan
1. Bahan baku guaifenesin
- identifikasi dengan menggunakan titrasi
- Penetapan kadar dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi
(FI ed V, 2014 : hal 506)
2. tablet guaifenesin
- identifikasi dengan menggunakan titrasi dan spektrofotometri IR
- Penetapan kadar dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi
(FI ed V, 2014 : hal 507-508)
V.5 Preparasi (penyiapan sampel)
Timbang dan serbukkan tidak kurang dari 20 tablet. Timbang saksama sejumlah serbuk
tablet setara dengan lebih kurang 200 mg guaifenesin, masukkan ke dalam labu tentukur
100-ml, tambahkan lebih kurang 60 ml air, kocok selama lebih kurang 15 menit.
Encerkan dengan air sampai tanda, jika perlu saring untuk mendapatkan larutan yang
jernih. Pipet 2 ml larutan ke dalam labu tentukur 100-ml, tambahkan 45 ml metanol P,
encerkan dengan air sampai tanda. (FI ed V, 2014 : hal 507)
V.6 Masalah analisis yang disebabkan kadar dan matriks dalam sampel
Kadar guaifenesin dalam tablet cukup besar 100 mg namun sediaan tablet cukup banyak
mengandung eksipien yang dapat menyebabkan ketidaktepatan dalam analisis, sampel
yang mengandung banyak komponen didalamnya akan mempunyai kromatogram
dengan banyak peak. Bahkan tak jarang antar peak saling bertumpuk (overlap). Hal ini
akan menyulitkan dalam identifikasi dan perhitungan konsentrasi. Sehingga
membutuhkan ketelitian dalam menganalisis.
V.7 Usulan pengujian mutu bahan baku dan sediaan
1. Pengujian Bahan Baku (FI ed V, 2014 : hal 506)
a. Identifikasi bahan baku
- Gerus halus sejumlah serbuk tablet setara dengan lebih kurang 100 mg guaifenesin
dengan 10 ml kloroform P, saring. Uapkan 1 ml filtrat pada kaca arloji. Campur residu
dengan 1 tetes formaldehida P dan beberapa tetes asam sulfat P: terjadi warna merah
ceri tua hingga ungu.
- Waktu retensi puncak guaifenesin pada kromatogram Larutan uji sesuai dengan
Larutan baku seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar.
b. Penetapan kadar bahan baku
Penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi
Fase gerak : Gunakan berbagai campuran Larutan A dan Larutan B seperti tertera pada
Sistem Kromatografi. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem
seperti tertera pada Kromatografi.
Larutan baku : Buat larutan Guaifenesin BPFI dalam Larutan B hingga kadarnya lebih
kurang 0,5 mg per ml.
Larutan uji : Timbang saksama 25 mg zat, masukkan ke dalam labu tentukur 50-ml.
Larutkan dan encerkan dengan Larutan B sampai tanda.
Larutan resolusi : Buat larutan dalam Larutan B hingga tiap ml mengandung
Guaifenesin BPFI 0,5 mg dan Guaiakol BPFI 0,02 mg.
Sistem kromatografi : Lakukan seperti tertera pada Kromatografi. Kromatograf cair
kinerja tinggi dilengkapi dengan detektor 276 nm dan kolom 4,6 mm x 25 cm dan berisi
bahan pengisi L1, dengan ukuran partikel 5 µm. Laju alir lebih kurang 1 ml per menit.
Kromatografi diprogram sebagai berikut:
Prosedur : Lakukan kromatografi terhadap larutan resolusi, rekam kromatogram dan
ukur respons puncak seperti tertera pada prosedur waktu retensi relatif isomer β
guaifenesin, guaifenesin dan guaiakol berturut-turut lebih kurang 0,9; 1,0 dan 1,3 dan
resolusi, R, antara puncak guaifenesin dan puncak guaiakol tidak kurang dari 3.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons
puncak seperti tertera pada prosedur simpangan baku relatif untuk penyuntikan ulang
tidak lebih dari 1,0%. Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih
kurang 10 µl) larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram
dan ukur respons puncak. Hitung jumlah dalam mg guaifenesin, C10H14O4, dalam zat uji
yang digunakan dengan rumus:
ru
50 C
rs
C adalah kadar Guaifenesin BPFI dalam mg per ml larutan baku ru dan rs berturut-
turut adalah respons puncak larutan uji dan larutan baku. Hitung persentase C10H14O4
dalam zat uji. Untuk nilai ini tambahkan persentase isomer β guaifenesin yang diperoleh
dari uji Kemurnian kromatografi.
2. Pengujian tablet guaifenesin (FI ed V, 2014 : hal 507-508)
a. identifikasi tablet guaifenesin
- Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan dan didispersikan dalam
kalium bromida P, menunjukkan maksimum hanya pada bilangan gelombang yang
sama seperti pada Guaifenesin BPFI. Spektrum serapan ultraviolet larutan 40 µg per ml
dalam metanol P menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang
sama seperti pada Guaifenesin BPFI .
- Campur lebih kurang 5 mg zat dengan 1 tetes formaldehida P dan beberapa tetes asam
sulfat P: terjadi warna merah tua hingga ungu.
b. Penetapan kadar tablet
penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi
Fase gerak : Buat campuran air-metanol P-asam asetat glasial P (60:40:1,5), saring.
Jika perlu lakukan penyesuaian, menurut Kesesuaian sistem seperti tertera pada
Kromatografi.
Larutan asam benzoat : Timbang saksama sejumlah asam benzoat P, larutkan dalam
metanol P hingga kadar lebih kurang 2 mg per ml.
Larutan resolusi : Timbang saksama sejumlah guaifenesin, larutkan dalam air dengan
pengocokan hingga kadar lebih kurang 2 mg per ml. Pipet 2 ml larutan dan 5 ml Larutan
asam benzoat ke dalam labu tentukur 100-ml, tambahkan 40 ml metanol P, encerkan
dengan air sampai tanda. Kadar larutan ini mengandung guaifenesin lebih kurang 40 μg
per ml dan asam benzoat lebih kurang 100 μg per ml.
Larutan baku : Timbang saksama sejumlah Guaifenesin BPFI, larutkan dalam air
dengan pengocokan hingga kadar lebih kurang 2 mg per ml. Pipet 2 ml larutan ke dalam
labu tentukur 100-ml, tambahkan 45 ml metanol P, encerkan dengan air sampai tanda.
Kadar larutan lebih kurang 40 μg per ml.
Larutan uji : Timbang dan serbukkan tidak kurang dari 20 tablet.Timbang saksama
sejumlah serbuk tablet setara dengan lebih kurang 200 mg guaifenesin, masukkan ke
dalam labu tentukur 100-ml, tambahkan lebih kurang 60 ml air, kocok selama lebih
kurang 15 menit. Encerkan dengan air sampai tanda, jika perlu saring untuk
mendapatkan larutan yang jernih. Pipet 2 ml larutan ke dalam labu tentukur 100-ml,
tambahkan 45 ml metanol P, encerkan dengan air sampai tanda.
Sistem kromatografi : Lakukan seperti tertera pada Kromatografi. Kromatograf cair
kinerja tinggi dilengkapi dengan detektor 276 nm dan kolom 4,6 mm x 25 cm berisi
bahan pengisi L1 dengan ukuran partikel 10 μm. Laju alir lebih kurang 2 ml per menit.
Waktu retensi relatif guaifenesin dan asam benzoat berturut-turut adalah lebih kurang
0,7 dan 1,0. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan
ukur respons seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku relatif pada penyuntikan
ulang tidak lebih dari 2,5%.
Prosedur : Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 20 μl)
Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram dan ukur
respons puncak utama. Hitung jumlah dalam mg guaifenesin, C10H14O4, dalam serbuk
tablet yang digunakan dengan rumus:
ru
50 C
rs
C adalah kadar Guaifenesin BPFI dalam μg per ml Larutan baku; rU dan rS berturut-
turut adalah respons puncak dari Larutan uji dan Larutan baku.
GANESIN® TABLET
Guaifenesin 100 mg
KOMPOSISI :
Tiap tablet mengandung : Guaifenesin……………………………………….. 100 mg
KHASIAT/FARMAKOLOGI :
Mengurangi viskositas sekresi dengan meningkatkan jumlah cairan saluran pernapasan.
INDIKASI:
Batuk dimana diperlukan pengeluaran dahak
ATURAN PAKAI :
Dewasa : 3 kali sehari 1-2 tablet
Anak-anak : 3 kali sehari ½-1 tablet
PERINGATAN DAN PERHATIAN :
Penggunaan pada wanita hamil, wanita menyusui dan anak di bawah usia 2 tahun harus di bawah
pengawasan dokter
EFEK SAMPING :
Ketidaknyamanan pada gastrointestinal, mual dan muntah
KONTRA INDIKASI :
Pasien hipersensitif terhadap guaifenesin
CARA PENYIMPANAN :
Simpan dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari langsung
KEMASAN:
Botol @ berisi 1000 tablet
No. Reg: DKL 1802700110 A1
Diproduksi Oleh:
PT. CENDANASARI Tbk.
Bandung – Indonesia
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
American Society of Health System Pharmacists. 2011. AHFS Drug Information.
United States of America.
Badan POM. 2013. Petunjuk Penerapan CPOB 2012, jilid 1. Badan POM
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta. Kemenkes RI
Depkes RI.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta. Kemenkes RI
Depkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta. Kemenkes RI
Dibbern, H. W., R. M. Muller, and E. Wirbitzky, 2002, Pharmaceutical Substance (UV
and IR) and Pharmaceutical Cosmetic Excipients (IR) :Germany
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 02380/A/SK/VI/83 Tentang Tanda Khusus Obat
Keras Daftar G
Lieberman, H.A., Lachman L., Schwartz, J.B., 1990, Pharmaceutical Dosage Forms :
Tablets, Vol 2 Revised and Expanded, Marcel Dekker Inc., New York.
Niazi, Sarfaraz. 2009. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations,
second edition. USA. Informa Healthcare USA.
Permenkes RI No 1010/Menkes/Per/XI/2008 Tentang Registrasi Obat
Roberson, J, C.1987. Instrumental Data For Drug Analysis, Second Edition, Volme 3.
Elsivier Science Publishing
Rowe, Sheskey, dan Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, sixth
edition. London. Pharmaceutical Press.
The United State Pharmacopeial Convention. (2006). The United States Pharmacopeia
(USP). 30th Edition. United States