BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan perubahan lingkungan
yang cepat seperti yang terjadi di Indonesia, menyebabkan perusahaan harus
secara terus-menerus memantau pasar dan menyesuaikan diri terhadap
perubahan pasar. Perusahaan kini harus memikirkan kembali misi bisnis dan
strategi pemasaran mereka secara kritis. Perusahaan masa kini tidak bergerak
dalam pasar dengan saingan yang sudah diketahui dan sudah pasti, atau
pilihan pelanggan yang stabil, melainkan perang antar saingan yang terus
berubah, kemajuan teknologi, hukum baru, kebijaksanaan perdagangan yang
terkelola dan turunnya kesetiaan pelanggan.
Perusahaan bersaing dengan perlombaan yang aturan dan rambu-
rambunya terus berubah, garis akhirnya tidak ada dan tidak ada “kemenangan
permanen”. Mereka harus terus berlomba, dan berharap mereka bergerak
searah dengan keinginan masyarakat. Oleh karenanya adalah menjadi
keharusan bagi perusahaan untuk menjalankan atau membuat strategi-strategi
yang tepat agar dapat memenuhi sasaran yang efektif. strategi yang dilakukan
harus sesuai dengan keadaan perusahaan. Dimana harus diperhitungkan
1
jumlah dana yang tersedia dengan besarnya manfaat yang diperoleh dari
kegiatan strategi yang dijalankan perusahaan.
Sebagaimana diketahui bahwa keadaan dunia usaha bersifat dinamis,
yang selalu mengalami perubahan yang terjadi setiap saat dan adanya
keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu strategi
pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting untuk keberhasilan
perusahaan umumnya dan pada bidang pemasaran khususnya. Disamping itu
strategi pemasaran yang diterapkan harus ditinjau dan dikembangkan sesuai
dengan perkembangan pasar dan lingkungan pasar tersebut. Dengan demikian
strategi pemasaran harus dapat memberikan gambaran yang jelas dan terarah
tentang apa yang dilakukan perusahaan dalam menggunakan setiap
kesempatan atau paduan pada beberapa sasaran pasar.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana strategi pemasaran yang paling sesuai dengan keadaan
perusahaan untuk dapat tumbuh dan berkembang dalam persaingan.
C. Batasan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, penulis berusaha untuk memudahkan
pembahasan agar lebih terarah, maka penulis membatasi kepada masalah
pemasaran, dalam hal ini hanya masalah strategi pemasaran dalam.
meningkatkan volume penjualan produk maupun jasa dalam suatu perusahaan.
D. Tujuan Penulisan
2
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dengan lebih
pasti strategi pemasaran yang paling sesuai dengan keadaan perusahaan untuk
dapat tumbuh dan berkembang dalam persaingan.
BAB II
3
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pemasaran
Pemasaran (Marketing) adalah proses penyusunan komunikasi
terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau
jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
Sedangkan definisi lain, dikemukakan oleh Philip Kotler dalam bukunya
Marketing Management Analysis, Planning, and Control, mengartikan
pemasaran secara lebih luas, yaitu: Pemasaran adalah: Suatu proses sosial,
dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan
mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai
dengan individu dan kelompok lainnya. Pemasaran adalah suatu proses sosial
dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan
mempertukarkan prosuk yang bernilai kepada pihak lain (Kotler, 1997).
Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang
kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Proses dalam pemenuhan
kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep pemasaran.
Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman
barang (place), dan mempromosikan barang (promotion). Seseorang yang
bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar.
B. Strategi Pemasaran
1. Definisi
4
Strategi pemasaran merupakan hal yang sangat penting bagi
perusahaan dimana strategi pemasaran merupakan suatu cara mencapai tujuan
dari sebuah perusahaan. Hal ini juga didukung oleh pendapat Swastha
“Strategi adalah serangkaian rancangan besar yang menggambarkan
bagaimana sebuah perusahaan harus beroperasi untuk mencapai tujuannya.
Sehingga dalam menjalankan usaha kecil khususnya diperlukan adanya
pengembangan melalui strategi pemasarannya. Karena pada saat kondisi kritis
justru usaha kecillah yang mampu memberikan pertumbuhan terhadap
pendapatan masyarakat. Pemasaran menurut W. Y. Stanton pemasaran adalah
sesuatu yang meliputi seluruh sistem yang berhubungan dengan tujuan untuk
merencanakan dan menentukan harga sampai dengan mempromosikan dan
mendistribusikan barang dan jasa yang bisa memuaskan kebutuhan pembeli
aktual maupun potensial. Berdasarkan definisi di atas, proses pemasaran
dimulai dari menemukan apa yang diinginkan oleh konsumen. Yang akhirnya
pemasaran memiliki tujuan yaitu :
a. Konsumen potensial mengetahui secara detail produk yang kita
hasilkan dan perusahaan dapat menyediakan semua permintaan mereka
atas produk yang dihasilkan.
b. Perusahaan dapat menjelaskan secara detail semua kegiatan yang
berhubungan dengan pemasaran. Kegiatan pemasaran ini meliputi
berbagai kegiatan, mulai dari penjelasan mengenai produk, desain produk,
5
promosi produk, pengiklanan produk, komunikasi kepada konsumen,
sampai pengiriman produk agar sampai ke tangan konsumen secara cepat.
c. Mengenal dan memahami konsumen sedemikian rupa sehingga
produk cocok dengannya dan dapat terjual dengan sendirinya.
Dari apa yang sudah dibahas di atas ada beberapa hal yang dapat
disimpulkan, bahwa pembuatan produk atau jasa yang diinginkan oleh
konsumen harus menjadi fokus kegiatan operasional maupun perencanaan
suatu perusahaan. Pemasaran yang berkesinambungan harus adanya
koordinasi yang baik dengan berbagai departemen (tidak hanya di bagian
pemasaran saja), sehingga dapat menciptakan sinergi di dalam upaya
melakukan kegiatan pemasaran.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Pemasaran
Struktur dari sistem pemasaran terbentuk oleh dua komponen
subsistem lingkungan utama. Yaitu subsistem lingkungan internal dan
subsistem lingkungan external.
a. Lingkungan Internal
Lingkungan internal adalah kegiatan-kegiatan internal perusahaan
yang dapat dikendalikan. Artinya, untuk mencapi tuuan dan menjalankan
strategi pemasaran, pemasar mampu melakukan pengendalian atau
pengaturan atas operasi kegiatan-kegiatan tersabut seperti apa yang
dikehendaki perusahaan. Perusahaan dapat melakukan alokasi sumber
6
daya secara produktif melalui koordinasi faktor manusia dan alat-alat
manajemen. Pengendalian yang tidak optimal akan menghambat
efektivitas kegiatan operasi organisasi. Oleh karena itu, analisis
lingkungan internal merupakan faktor penentu untuk menyusun strategi
pemasaran. Bisnis yang mempunyai konsep produk (product driven),
misalnya mengutamakan kegiatan produksinya lebih dominan daripada
kegiatan-kegiatan yang lain. Akan tetapi, bisnis yang mempunyai konsep
dasar (market driven), akan berusaha untuk memahami mengendalikan
pasar dan persaingannya.
Lingkungan internal besifat universal meliputi keseluruhan fungsi-
fungsi yang dilakukan oleh setiap bisnis. Akan tetapi tidak setiap bisnis
menjalankan kegiatan kegiatan fungsi tersebut. misalnya suatu perusahaan
hanya melakukan kegiatan produksi saja, fungsi pemasaran dilakukan oleh
perusahaan lain sebagai distributornya. Pada struktur sistem lingkungan
pemasaran, aspek lingkungan internal dibedakan antara lingkungan aspek
pemasaran (market) dan aspek non-pemasaran (non-market). Pemahaman
lingkungan internal (fungsi pemasaran dan non-pemasaran) pada
umumnya perlu ditekankan pada aspek Sumberdaya (resource) organisasi,
manusia (human), serta manajerial dan teknologi.
1) Aspek sumberdaya organisasi meliputi kekayaan, kemampuan, dan
posisi pasar. Mampu mendukung strategi dan dipercaya dapat
berpengaruh terhadap usaha merealisasi tujuan organisasi.
7
2) Aspek manusia. Sumberdaya manusia merupakan kekuatan
perusahaan, tetapi sebaliknya dapat juga sekaligus sebagai ancaman
perusahaan apabila tidak dikendalikan dengan baik.
3) Aspek alat-alat manajemen dan teknologi, yaitu meliputi sitem
informasi, organisasi, dan teknik-teknik operasional. Penguasaan
manajemen atau teknologi mampu memberikan kekuatan kepada
perusahaan. Akan tetapi, pengendaliannya memerlukan investasi yang
tidak sedikit.
b. Lingkunga Internal pasar ( Internal Market Environment)
Pada umumnya aspek pemasaran meliputi kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan:
1) Perencanaan barang (product)
2) Penetapan harga (price)
3) Program promosi (promotion), dan
4) Saluran distribusi (place)
Kegiatan-kegiatan (four p‘s) tersebut seringkali disebut sebagai
bauran pemasaran (marketing mix). Philip kotler menambahkan dua unsur
pemasaran lagi, yaitu kekuatan politik (political power), dan hubungan
masyarakat (public relation) sehingga menjadi enam unsur pemasaran.
Bauran pemasaran yang terakhir ini dikenal sebagi megamarketing. Dalam
8
bukunya maximarketing,stan rapp menambahkan dua lagi unsur
pemasaran (double D’s), yaitu sistem basis data (database) informasi
pelanggan dan dialog (dialogue) antara pemasar dan pasarnya.
c. Lingkungan Internal non-pasar (Internal Non-Market
Environment)
Aspek non-pemasaran adalah kegiatan-kegiatan fungsional atau
operasional perusahaan (selain kegiatan pemasaran) antara lain adalah:
1) Produksi
2) Personalia
3) Keuangan
4) Penellitian dan pengembangan
5) Administrasi dan sebagainya.
d. Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal kegiatan pemasarn adalah pengaruh-
pengaruh tidak langsung yang berada diluar kekuasaan atau kendali
pemasar. Pengaruh-pengaruh tersebut akan memaksa pemasar untuk
menyesuaikan arah dan srateginya agar tetap survive dilingkungannya.
Situasi maupun perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan ini
dapat memberikan peluang -peluang atau hambatan-hambatan yang dapat
9
dimanfaatkan atau diatasi oleh pemasar. Akan tetapi seberapa luas peluang
maupun hambatan pemasaran tergantung dari kemampuan atau kepekaan
pemasar (sense of business) untuk melihatnya.
Tidak setiap pemasar mampu manangkap atau bahkan
“menciptakan” peluang-peluang atau hambatan-hambatan
tersebut.misalnya deregulasi otomotif yang dikeluarkan pemerintah, Bagi
perusahaan tertentu (misalnya importir mobil mewah) dapat merupakan
peluang untuk mengembangkan usaha, tetapi bagi perusahaan lain
(eksportir mobil sederhana) dapat merupakan ancaman.
e. Lingkungan Eksternal-Mikro
Lingkungan mikro perusahaan terdiri dari para pelaku dalam
lingkungan yang langsung berkaitan dengan perusahaan yang
mempengaruhi kemampuannya untuk melayani pasar, yaitu:
1) Perusahaan
Yaitu struktur organisasi perusahaan itu sendiri. Strategi pemasaran
yang diterapkan oleh bagian manajemen pemasaran harus
memperhitungkan kelompok lain di perusahaan dalam merumuskan
rencana pemasarannya.
2) Pemasok (Supplier)
10
Para pemasok adalah perusahaan-perusahaan dan individu yang
menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh perusahaan dan para
pesaing untuk memproduksi barang dan jasa tertentu.
3) Para Perantara Pemasaran
Para perantara pemasaran adalah perusahaan-perusahaan yang
membantu perusahaan dalam promosi, penjualan dan distribusi
barang/jasa kepada para konsumen akhir. Para perantara pemasaran ini
meliputi :
a) Perantara, adalah perusahaan atau individu yang membantu
perusahaan untuk menemukan konsumen. Mereka terbagi dua
macam, yaitu agen perantara seperti agen, pialang dan perwakilan
produsen yang mencari dan menemukan para pelanggan dan/atau
mengadakan perjanjian dengan pihak lain, tetapi tidak memiliki
barang atau jasa itu sendiri.
b) Perusahaan Distribusi Fisik, perusahaan seperti ini
membantu perusahaan dalam penyimpanan dan pemindahan
produk dari tempat asalnya ketempat-tempat yang dituju.
c) Para Agen Jasa Pemasaran, seperti perusahaan atau
lembaga penelitian pemasaran, agen periklanan, perusahaan media,
dan perusahaan konsultan pemasaran,kesemuanya membantu
perusahaan dalam rangka mengarahkan dan mempromosikan
produknya ke pasar yang tepat.
11
d) Perantara Keuangan, seperti bank, perusahaan kredit,
perusahaan asuransi, dan perusahaan lain yang membantu dalam
segi keuangan.
4) Para Pelanggan
Yaitu pasar sasaran suatu perusahaan yang menjadi konsumen
atas barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan apakah individu-
individu, Iembaga-lembaga, organisasi-organisasi, dan sebagainya.
5) Para Pesaing
Dalam usahanya melayani kelompok pasar pelanggan,
perusahaan tidaklah sendiri. Usaha suatu perusahaan untuk
membangun sebuah sistem pemasaran yang efisien guna melayani
pasar gelati disaingi oleh perusahaan lain.
6) Masyarakat Umum
Sebuah perusahaan juga harus memperhatikan sejumlah besar
lapisan masyarakat yang tentu saja besar atau kecil menaruh perhatian
terhadap kegiatan-kegiatan perusahaan.
f. Lingkungan Eksternal-Makro
Lingkungan makro terdiri dari kekuatan-kekuatan yang bersifat
kemasyarakatan yang lebih besar dan mempengaruhi semua pelaku dalam
lingkungan mikro dalam perusahaan, yaitu:
12
1) Lingkungan Demografis/Kependudukan
Lingkungan demografis/kependudukan menunjukkan keadaan dan
permasalahan mengenai penduduk.
2) Lingkungan Ekonomi.
Lingkungan ekonomi menunjukkan sistem ekonomi yang diterapkan,
kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan ekonomi.
3) Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik menunjukkan kelangkaan bahan mentah tertentu
yang dibutuhkan oleh perusahaan.
4) Lingkungan Teknologi
Lingkungan teknologi rnenunjukkan peningkatan kecepatan
pertumbuhan teknologi, kesempatan pembaharuan yang tak terbatas,
dan semakin banyaknya peraturan yang berkenaan dengan perubahan
teknologi.
5) Lingkungan sosial/budaya
Lingkungan ini menunjukkan keadaan suatu kelompok masyarakat
mengenai aturan kehidupan, norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku
dalam masyarakat.
3. Mengembangkan Strategi Pemasaran
13
Menurut McCarthy ddk (1998) setiap langkah yang dilakukan dalam
mempormulasikan strategi pemasaran harus diorientasikan pada upaya untuk
mencapai kepuasan pelanggan.Kepuasan pelanggan merupakan kunci utama
dari konsep pemasaran dan strategi pemasaran. Ini berarti bahwa proses yang
ditempuh oleh setiap pihak boleh jadi bermacam-macam sesuai dengan
kesanggupan dan karakteristik masing-masing tetapi tujuan akhirnya tetap
akan bermuara pada tercapainya kepuasan konsumen atau consumer
satisfaction.
Boone and Kurt (1987) berargumentasi bahwa pengembangan a
profitable marketing strategy dimulai dari the identification of attractive
opportunities (mengidentifikasi peluang), kemudian defines the target market
(tentukan pasar sasaran) dimana perusahaanakan mencurahkan seluruh
aktivitas pemasarannya secara langsung. Pernytaan yang hampir sama, juga,
dikemukakan oleh Zikmund dan D’Amico (1989) yang menegaskan bahwa
terdapat tiga langkah utama di dalam pengembangan strategi pemasaran,
yaitu:
a. Identifying and evaluating opportunities (mengidentifikasi dan
menilai peluang).
b. Analysis market segments and selecting target markets
(menganalisis segmen-segmen pasar dan memilih pasar sasaran
c. Planning a marketing mix strategy that will satisfy customer’s
needs and meet theobjectives and goals of the organisation (merencanakan
strategi bauran pemasaran yangakan memuaskan kebutuhan-kebutuhan
pelanggan dan sesuai dengan tujuan organisasi.
14
Cravens (1994) berkomentar bahwa dalam langkah kedua, disamping
menganalisis segmen pasar dan memilih pasar sasaran, adalah sangat penting
bagi perusahaan untuk menentukan positioning strategy (strategi penempatan
pasar). Maksudnya, dalam langkah kedua tersebut pihak perusahaan harus
menentukan posisi produknya di pasaran; bagaimana produk dan atau merk
yang ia ciptakan akan dipersepsikan dan diposisikan oleh para konsumen.
Strategi pemasaran modern secara umum terdiri dari tiga tahap yaitu:
segmentasi pasar (segmenting), penetapan pasar sasaran (targeting), dan
penetapan posisi pasar (positioning) (Kotler, 2001). Setelah mengetahui
segmen pasar, target pasar, dan posisi pasar maka dapat disusun strategi
bauran pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari strategi produk, harga,
penyaluran/ distribusi dan promosi (Assauri, 1999).
a. Segmentasi Pasar (Segmenting)
Secara umum, terdapat tiga falsafah dasar sebagai pedoman bagi
perusahaan untuk mendekati pasar, yakni pemasaran masal dimana keputusan
untuk memproduksi dan mendistribusi produk secara masal, pemasaran
berbagai produk yang menyajikan pilihan produk berbeda untuk segmen
berbeda, dan pemasaran terarah yang mengembangkan produk untuk pasar
yang spesifik.
1) Pemasaran masal, di mana para penjual memproduksi secara
masal, mendistribusikan secara masal, dan mempromosikan secara
masal satu produk kepada semua pembeli. Pemikirannya, bahwa biaya
15
produksi dan harga menjadi murah dan dapat menciptakan pasar
potensial paling besar.
2) Pemasaran berbagai produk, di mana penjual memproduksi dua
macam produk atau lebih yang mempunyai sifat, gaya, mutu, ukuran
dan sebagainya yang berbeda. Pemikirannya, bahwa konsumen
memiliki selera berbeda yang berubah setiap waktu, dan selalu mencari
variasi serta perubahan.
3) Pemasaran terarah, di sini penjual mengenali berbagai segmen
pasar, memilih satu atau beberapa di antaranya, dan mengembangkan
produk serta bauran pemasaran yang disesuaikan dengan karakteristik
masing-masing konsumen.
Produsen atau perusahaan modern, kini menjauhi pemasaran masal dan
pemasaran berbagai produk, dan mendekati pemasaran terarah. Penjual dapat
mengembangkan produk yang tepat untuk setiap pasar sasaran dan
menyesuaikan harga, saluran distribusi, dan iklannya untuk mencapai pasar
sasaran secara efisien. Dengan menggunakan pemasaran terarah, yang
semakin dekat dengan bentuk pemasaran mikro, perusahaan menyesuaikan
program pemasaran pada kebutuhan dan keinginan dari segmen geografik,
demografik, psikografik, atau tingkah laku, yang telah ditentukan secara
sempit. Bentuk akhir dari pemasaran terarah adalah pemasaran yang
disesuaikan, yaitu bila perusahaan menyesuaikan produk dan program
pemasaran pada kebutuhan pelanggan secara spesifik.
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat
heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar)
16
yang bersifat homogen (Kotler, 2001). Dengan kata lain, segmentasi pasar
adalah kegiatan membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang terbedakan
dengan kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku berbeda yang mungkin
membutuhkan produk atau bauran pemasaran terpisah.
b. Target Pasar (Targetting)
Dalam menetapkan sasaran pasar (target pasar), perusahaan terlebih
dulu harus melakukan segmentasi pasar, dengan cara mengelompokkan
konsumen (pembeli) ke dalam kelompok dengan ciri-ciri (sifat) yang hampir
sama. Setiap kelompok konsumen dapat dipilih sebagai target pasar yang akan
dicapai. Penentuan target pasar sangat penting karena perusahaan tidak dapat
melayani seluruh konsumen atau pembeli yang ada di pasar. Adapun yang
dimaksud dengan target pasar adalah kelompok konsumen yang mempunyai
ciri-ciri atau sifat hampir sama (homogen) yang dipilih perusahaan dan yang
akan dicapai dengan strategi bauran pemasaran (marketing mix). Target pasar
perlu ditetapkan, karena bermanfaat dalam :
1) Mengembangkan posisi produk dan strategi bauran pemasaran.
2) Memudahkan penyesuaian produk yang dipasarkan dan strategi
bauran pemasaran yang dijalankan (harga yang tepat, saluran distribusi
yang efektif, promosi yang tepat) dengan target pasar.
3) Membidik peluang pasar lebih luas, hal ini penting saat
memasarkan produk baru.
4) Memanfaatkan sumber daya perusahaan yang terbatas seefisien
dan seefektif mungkin
5) Mengantisipasi persaingan
17
Dalam memilih pasar yang dituju (target pasar), perusahaan dapat
menempuh tiga alternatif strategi, yaitu: (1) Strategi yang Tidak Membeda-
bedakan Pasar (Undifferentiated Marketing), (2) Strategi yang Membeda-
bedakan Pasar (Differentiated Marketing), (3) Strategi yang Terkonsentrasi
(Concentrated Marketing).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi strategi target pasar, antara lain :
1) Sumber-sumber perusahaan.
2) Homogenitas produk.
3) Tahap-tahap dalam siklus kehidupan produk.
4) Homogenitas pasar.
5) Strategi pemasaran pesaing.
c. Pemposisian Produk di Pasar (Positioning)
Positioning adalah tindakan merancang penawaran dan citra
perusahaan sehingga menempati suatu posisi kompetitif yang berarti dan
berada dalam benak pelanggan sasarannya (Kotler, 1997). Positioning
merupakan elemen yang sangat utama dalam suatu strategi pemasaran. Sebuah
perusahaan dapat menentukan posisinya melalui persepsi pelanggan terhadap
produknya dan produk pesaingnya sehingga akan dihasilkan peta persepsi.
Dengan menggunakan informasi dari peta persepsi itu, dapat dikenali berbagai
strategi penentuan posisi antara lain :
1) Positioning menurut atribut produk
2) Positioning menurut manfaat
3) Positioning menurut harga/ kualitas.
4) Positioning menurut penggunaan/ penerapan.
5) Positioning menurut pemakai.
6) Positioning menurut pesaing.
7) Positioning menurut kategori produk
18
Setelah kita menentukan dan memilih pasar sasaran, maka langkah
selanjutnya adalah menentukan strategi pokok untuk masuk ke dalam
persaingan bisnis dan pasar yaitu :
1) Memposisikan produk Anda di pasar sebagai langkah merebut
pasar di pikiran konsumen (mind share).
2) Strategi diferensiasi produk Anda (differentiation) sebagai langkah
strategis untuk membedakan produk Anda dengan produk pesaing dalam
pikiran konsumen (mind share).
3) Strategi penguatan merek (branding) dari propduk Anda sebagai
langkah strategis untuk menahan konsumen agar tetap loyal, setia, bangga,
dan puas dengan cara memasarkan dan menjual secara experiential
(pengalaman) dan emotional (emosi) di hati para calon konsumennya
(heart share).
4. Bauran Pemasaran (marketing mix)
Marketing mix atau bauran pemasaran adalah perangkat alat pemasaran
taktis yang dapat dikendalikan, yang dipadukan oleh perusahaan untuk
menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran. Bauran pemasaran adalah
empat komponen dalam pemasaran yang terdiri dari 4P yakni
a. Product (produk)
b. Price (harga)
c. Place (tempat, termasuk juga distribusi)
d. Promotion (promosi)
19
Karena pemasaran bukanlah ilmu pasti seperti keuangan, teori bauran
pemasaran juga terus berkembang. Dalam perkembangannya, dikenal juga
istilah 7P dimana 3P yang selanjutnya adalah People (Orang), Physical
Evidence (Bukti Fisik), Process (Proses). Penulis buku Seth Godin, misalnya,
juga menawarkan teori P baru yaitu Purple Cow. Pemasaran lebih dipandang
sebagai seni daripada ilmu, maka seorang ahli pemasaran tergantung pada
lebih banyak pada ketrampilan pertimbangan dalam membuat kebijakan
daripada berorientasi pada ilmu tertentu.
Pandangan ahli ekonomi terhadap pemasaran adalah dalam
menciptakan waktu, tempat dimana produk diperlukan atau diinginkan lalu
menyerahkan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
konsumen (konsep pemasaran).
BAB III
KASUS STRATEGI PEMASARAN PT.SINAR SOSRO
A. Latar Belakang
Tradisi minum teh berasal dari daratan Cina telah menyebar ke seluruh
dunia termasuk di Indonesia. Masyarakat Indonesia sangat meyukai teh dan
lebih nikmat lagi jika ditambahkan dengan gula. Semua golongan dapat
mengkonsumsi teh karena murah, cocok untuk kapan saja, dimana saja dan
dapat disajikan sesuai dengan keinginan. Sekitar tahun 1940, tradisi minum
teh bangsa Indonesia umumnya dilakukan pagi hari dalam cangkir dan
20
disajikan hangat. Semakin berkembangnya jaman, semakin dinamisnya
kegiatan masyarakat. Kegiatan masyarakat yang dinamis, panasnya cuaca,
serta hal lainnya yang dapat membuat dahaga. Pekerjaan yang banyak dengan
waktu yang sedikit membuat mereka butuh minuman yang praktis. PT. Sinar
Sosro bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Nama Teh Botol Sosro sudah tidak
asing lagi didengar. SOSRO merupakan pelopor teh siap minum dalam
kemasan pertama di Indonesia dan namanya diambil dari nama keluarga
pendiri yakni SOSRODJOJO. Peran PT. Sinar Sosro menyediakan minuman
teh dalam kemasan dengan kualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat pecinta teh.
B. Strategi Pemasaran PT.Sinar Sosro
1. Profil PT. Sinar Sosro
Tahun 1940, keluarga Sosrodjojo memulai usahanya di sebuah kota
kecil bernama Slawi di Jawa Tengah. Pada awal memulai bisnisnya, produk
yang dijual adalah teh kering dengan merek Teh Cap Botol dan daerah
penyebarannya masih di sekitar wilayah Jawa Tengah. Tahun 1953, untuk
memperluas bisnis, keluarga Sosrodjojo memperkenalkan produk Teh Cap
Botol yang sudah sangat terkenal di Jawa Tengah ini ke ibukota Jakarta. Awal
ide perkenalan produk ini dengan pengalaman tes cicip (on plaSce test) di
pasar tradisional terhadap teh tubruk cap botol. Demonstrasi pertama the
langsung diseduh ditempat dan disajikan pada calon konsumen yang melihat.
Namun cara tersebut memakan waktu lama sehinggu calon konsumen
cenderung tidak jadi mencoba karena tidak sabar. Pada uji berikutnya teh telah
21
diseduh terlebih dahulu dan dimasukkan ke dalam panci-panci besar untuk
dibawa ke pasar menggunakan mobil bak terbuka. Tetapi cara ini masih gagal
karena teh yang dibawa sebagian besar tumpah akibat struktur jalan yang
belum sebaik sekarang. Akhirnya dicobalah memasukkan teh ke dalam
kemasan botol agar praktis dibawa dan berangkat dari itu mereka berpikir
penggunaan kemasan botol adalah alternative paling praktis untuk
menghadirkan kenikmatan teh untuk konsumen. Tahun 1969 muncul gagasan
untuk menjual teh siap minum (ready to drink tea) dalam kemasan botol dan
pada tahun 1974 didirikan PT. SINAR SOSRO yang merupakan pabrik teh
siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan dunia.Sejak awal,
Sosro memiliki filosofi untuk menjalankan bisnisnya yaitu ‘Niat Baik’. Arti
dari filosofi ini adalah memberikan produk yang tidak membahayakan
kesehatan, dengan proses produksinya dilakukan secara aman bagi
lingkungan. Oleh sebab itu, setiap produk Sosro dapat dikonsumsi segala usia
sepanjang hari.
2. Visi, misi dan Tujuan PT. Sinar Sosro
a. Visi
Menjadi perusahaan minuman yang dapat melepas rasa dahaga konsumen,
kapan saja, dimana sja, serta memberikan nilai tambah kepada semua
pihak yang terkait (total beverage company)
b. Misi
1) Membangun merk Sosro sebagai merek teh yang alami,
berkualitas, dan unggul.
22
2) Melahirkan merk dan produk minuman baru, baik yang berbasis
teh maupun non-teh, dan menjadikannya pemimpin pasar dalam
kategorinya masing-masing.
3) Membangun dan memimpin jaringan distribusi.
4) Menciptakan dan memelihara komitmen terhadap pertumbuhan
jangka panjang, baik dalam volume penjualan maupun penciptaan
pelanggan.
5) Membangun sumber daya manusia dan melahirkan pemimpin yang
sesuai dengan nilai-nilai utama perusahaan.
6) Memberikan kepuasan kepada para pelanggan.
7) Menyumbang devisa bagi negara.
c. Slogan:
1) Sosro Ahlinya Teh
2) Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro
C. Analisis SWOT
1. Strength Opportunity
a. Harga terjangkau
b. Top brand
c. Produk terbuat dari daun teh pilihan
d. Produk yang berkualitas
e. Brand menunjukkan bahwa produk ini asli Indonesia
f. Memiliki berbagai macam packaging yang menarik
g. Pengemasannya sangat baik dan mencegah dari global warming
h. Produk teh botol sosro dan produk lainnya bisa dijumpai di
berbagai tempat.
i. Jalur distribusi luas, mencakup warung dan supermarket.
j. Adanya kunjungan pabrik bisa meningkatkan kepercayaan
konsumen.
k. Teh botol sosro telah masuk ke pasar internasional.
2. Weakness Threat
a. Komposisi gula dalam teh botol sosro sangat banyak sehingga
tidak cocok dikonsumsi penderita diabetes mellitus
23
b. Botol yang digunakan kurang fleksibel untuk dibawa dan mudah
pecah • Banyaknya kompetitor yang bermain dalam pasar yang sama
c. Maraknya tempat makan atau kafe yang menyediakan minuman
teh lain.
3. Pengembangan Bisnis
Untuk pengembangan bisnis minuman teh selanjutnya dilakukan
oleh dua perusahaan, PT. Sinar Sosro dan PT. Gunung Slamat (sister
company). Masing-masing perusahaan ini memiliki konsentrasi produk teh
yang berbeda, yaitu:
a. PT. SINAR SOSRO, perusahan yang memproduksi Teh Siap
Minum Dalam Kemasan.
b. PT. GUNUNG SLAMET, perusahaan yang memproduksi Teh
Kering Siap Saji.
Bisnis SOSRO sampai dengan saat ini sudah dijalankan oleh tiga
Generasi SOSRODJOJO. Sejak awal tahun 1990, bisnis ini telah mulai
dikelola oleh cucu Bapak Sosrodjojo atau dapat juga disebut dengan Generasi
Ketiga.
Seiring dengan perkembangan bisnis perusahaan, maka sejak Tanggal
27 November 2004, PT Sinar Sosro dan PT Gunung Slamat bernaung dibawah
perusahaan induk (holding company) yakni PT Anggada Putra Rekso Mulia
(Grup Rekso).
4. Target pasar
24
Target pasar yang diincar oleh sosro adalah orang yang sedang
melakukan perjalanan sehingga butuh penghilang dahaga secara praktis dan
mudah didapat. Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering
melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki. Sosro menyadari bahwa
segmen konsumen ini memiliki keinginan hadirnya minuman yang dapat
menghilangkan dahaga di tengah kelelahan dan kondisi panas selama
perjalanan. Atribut kepuasan ini dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan
minuman teh dalam kemasan botol yang praktis dan tersedia di kios-kios
sepanjang jalan. Sosro mengedukasi masyarakat agar tidak merasa aneh untuk
meminum teh dalam kemasan botol dan dengan penyajian dingin. Untuk
menambah nilai kepuasan teh botol ini disajikan dingin dengan menyediakan
boks-boks es pada titik-titik penjualannya (penggunaan kulkas pada saat itu
belum lazim).
5. Pengembangan brand dan produk (Perubahan model botol
dari waktu ke waktu)
Model botol untuk kemasan teh botol mengalami 3 kali perubahan yakni:
a. Botol versi I, dikeluarkan pada tahun 1970 dengan merek TEH
CAP BOTOL SOFTDRINK SOSRODJOJO.
b. Botol versi II, dikeluarkan pada tahun 1972 dengan merek TEH
CAP BOTOL (dengan penulisan ”CAP” lebih kecil, sehingga orang lebih
membaca TEH BOTOL), selain itu Penulisan Soft Drink dihilangkan, dan
tulisan TEH BOTOL diganti dengan warna merah putih yang
25
menggambarkan produk asli Indonesia. Penulisan Sosrodjojo juga
disingkat menjadi SOSRO dalam logo bulat merah.
c. Botol Versi III. Pada tahun 1974, terjadi perubahan design botol
yang ke-III. Design botolnya tidak seperti botol versi I & II. Dengan
bentuk botol yang baru dan perubahan pada penulisan merk TEH BOTOL
SOSRO pada kemasannya. Design botol ke-III ini diperkenalkan seiring
dengan didirikannya pabrik PT. SINAR SOSRO yang pertama di daerah
Cakung, Jakarta.
d. Teh Botol Sosro merupakan sebuah contoh merek yang telah
dikembangkan dan dipertahankan selama puluhan tahun. Bermula sebagai
adopsi dari merek teh melati produksi keluarga Sosrodjojo, yang kemudian
dikembangkan sehingga menjadi sebuah merek yang sangat dekat dengan
pelanggan melalui strategi-strategi yang dilakukan. Hasil dari usaha itu
adalah hingga kini Sosro menjadi pemimpin dalam kategori teh dalam
botol, bahkan dapat bersaing dengan perusahaan multinasional yang ikut
bermain dalam kategori ini.
Kekuatan merek yang dimiliki oleh Sosro merupakan hasil dari
penerapan strategi yang baik dalam pembentukan merek. Hal ini dapat kita
lihat dari langkah-langkah yang dilakukan PT. Sinar Sosro dalam
mengembangkan merek Teh Botol Sosro, yaitu pertama kali mengenalkan teh
siap minum dalam kemasan botol. Sosro memiliki target pasar yang jelas,
dengan target orang yang sedang melakukan perjalanan. Pada waktu itu,
strategi promosi yang dilakukan juga baik dengan menetapkan harga tidak
lebih dari biaya parkir pada waktu itu (mengingat target adalah orang yang
26
sedang melakukan perjalanan). Pada waktu pengenalan produk, Sosro juga
memiliki keunggulan kompetitif karena merupakan teh siap minum dalam
kemasan botol yang dipasarkan pertama kali di Indonesia.
Sosro melakukan positioning dengan mengedukasi masyarakat agar
tidak merasa aneh untuk meminum teh dalam kemasan botol dan dengan
diasajikan dingin. Karena pada awal kemunculan produk, masyarakat
Indonesia masih terbiasa untuk minum teh yang disajikan panas. Ternyata
proses diferensiasi yang dilakukan Sosro membuahkan hasil baik, sehingga
Sosro dikenal sebagai minuman teh dalam kemasan botol yang dapat
memberikan kesegaran. Dalam perkembangannya, untuk bersaing dengan
kompetitor Sosro mulai melakukan kampanye bahwa dengan mengkonsumsi
teh akan membuat tubuh menjadi sehat, karena teh mengandung anti oksidan.
Hal ini menambah keunggulan kompetitif dari Sosro.
Positioning yang dilakukan oleh Sosro juga didukung oleh marketing
mix yang baik. Hal ini ditunjukan dari integrasi yang baik dari komponen-
komponen 4P. Contoh adalah bahwa pengembangan produk berasal dari
strategi promosi, hubungan antara penentuan harga dengan saluran distribusi.
Strategi penjualan yang dilakukan Sosro adalah dengan
mengembangkan saluran distribusi secara luas dan terus menerus.
Mengutamakan availability dan kualitas produk sehingga berbuah pada
kesetiaan pelanggan. Pengembangan proses yang dilakukan oleh Sosro adalah
dengan mengintegrasikan supply chain, seperti memiliki kebun teh sendiri.
27
Berbeda dengan proses distribusi produk dilakukan dengan bekerja sama
dengan banyak agen penjualan untuk memperluas cakupan distribusi dari
Sosro. Brand Sosro telah terbentuk melalui proses yang panjang. Sosro telah
berhasil mengembangkan merek Teh Botol Sosro menjadi merek dengan
brand equity yang kuat. Beberapa hal yang dapat dicermati dalam
pembentukan brand equity ini adalah :
a. Brand Awareness yang dimiliki Teh Botol Sosro dapat dikatakan
telah memasuki tingkatan top of mind. Hal ini dapat dilihat dari Teh Botol
Sosro dapat menjadi pemimpin pasar dalam kategori teh siap minum
dalam kemasan botol.
b. Perceived Quality dari Teh Botol Sosro telah terbukti selama
puluhan tahun. PT. Sinar Sosro telah berhasil menjaga kualitas produk ini
sehingga mendapat anggapan baik dari konsumen.
c. Brand Association dari Teh Botol Sosro kuat, dapat dilihat bahwa
ketika orang menyebut teh botol kemudian yang menjadi maksud dari teh
botol itu sendiri adalah Teh Botol Sosro.
d. Brand Loyalty dari Teh Botol Sosro juga kuat. Ini merupakan hasil
dari pengembangan saluran distribusi, menjaga kualitas, dan strategi
promosi yang dilakukan dengan jargon “apapun makanannya minumannya
teh botol sosro”.
Hasil dari brand equity yang kuat ini telah dirasakan oleh Sosro yaitu
memudahkan PT. Sinar Sosro untuk melakukan pengembangan pasar, seperti
misalnya dengan mengenalkan produk Fruit Tea untuk kalangan muda dan
Tebs untuk pengkonsumsi minuman berkarbonasi. Selain itu PT. Sinar Sosro
28
juga menikmati profit margin yang lebih besar, yang terlihat dari profit margin
antara agen dan distributornya. Kekuatan brand equity perlu dijaga agar
jangan menjadi merek generik. Hal menarik untuk brand Teh Botol Sosro
adalah karena justru penggunaan kata “Teh Botol” kemudian memberikan
asosiasi pada Sosro sendiri, yang menjadi keunggulan dari brand ini, sehingga
tidak menjadi merek generik.
Selain itu kekuatan brand equity harus dijaga agar tetap bisa
menghadapi kompetisi yang semakin ketat, karena ketika sebuah poduk dari
sebuah produsen berhasil maka kemudian produsen lain akan mengeluarkan
produk serupa. Hal ini terjadi pada munculnya teh dalam botol dari
bermacam-macam produsen. Fenomena ini menjadi menarik, karena sebelum
Sosro mengeluarkan produk teh dalam botol, sebuah perusahaan multinasional
telah melakukan survey tentang potensi penjualan teh dalam kemasan di
Indonesia dan hasil survey menyatakan bahwa potensi yang ada tidak cukup
menjanjikan. Dalam melakukan pengembangan brand PT. Sinar Sosro
menerapkan beberapa strategi. diantaranya adalah :
a. Line Extension dengan mengeluarkan produk Fruit Tea dengan
pangsa pasar generasi muda, dan juga peluncuran produk Tebs untuk
menarik minat pelanggan yang mengkonsumsi minuman berkarbonasi.
Kedua produk ini dapat meraih sukses di pasar, terutama untuk produk
Fruit Tea yang kemudian mulai menggerogoti pasar dari minuman
berkarbonasi.
29
b. Brand Extension dengan meluncurkan produk Air Minum Dalam
Kemasan (AMDK) dengan merek PRIMA. Walaupun dengan dukungan
saluran distribusi yang baik namun PRIMA tidak dapat merebut pasar
AMDK yang sudah dikuasai oleh AQUA.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebuah merek adalah aset yang sangat
penting bagi perusahaan. Dengan memiliki brand equity yang kuat, sebuah
perusahaan mendapatkan banyak keunggulan kompetitif. Untuk menghadapi
persaingan di era perekonomian global peranan merek menjadi semakin
penting. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman PT. Sinar Sosro dalam
mengambangkan merek Teh Botol Sosro, sehingga hingga kini masih dapat
menjadi market leader dalam kriteria teh dalam kemasan, dan bahkan
melahirkan merek-merek baru yang juga dapat bersaing dan berkompetisi di
pasar bahkan dengan perusahaan multinasional sekalipun.
6. Pengembangan distribusi
Sosro mengembangakan proses integrasi supply chain mulai dari
bahan baku, pengelolaan, packaging sampai produk tersebut didistribusikan ke
end user. Bahan baku teh untuk produk-produk PT. SINAR SOSRO disuplai
oleh PT. GUNUNG SLAMET, sedangkan bahan baku teh tersebut dikelolah
oleh PT. AGRO PANGAN selaku sister company. Bahan baku teh untuk PT.
Sinar Sosro berasal dari:
a. Perkebunan Teh Gunung Rosa di Cianjur
b. Perkebunan Teh Gunung Manik di Cianjur
c. Perkebunan Teh Gunung Cempaka di Cianjur
30
d. Perkebunan Teh Gunung Satria di Garut
e. Perkebunan Teh Daerah Neglasari di Garut
f. Perkebunan Teh Daerah Cukul di Pangalengan
g. Perkebunan Teh Daerah Sambawa di Tasikmalaya
Dan sampai dengan tahun 2008, PT. Sinar Sosro telah memiliki 10
pabrik yang tersebar di beberapa wilayah, yaitu: pabrik Cakung, pabrik
Tambun, pabrik Pandeglang, pabrik Cibitung, pabrik Bali, pabrik Ungaran,
pabrik Serdang, pabrik Gresik, pabrik Mojokerto, pabrik Palembang. Dalam
pengembangan bisnisnya, PT. SINAR SOSRO telah mendistribusikan
produknya ke seluruh penjuru Nusantara, melalui lebih dari 150 kantor cabang
penjualan, serta beberapa Kantor Penjualan Wilayah (KPW). Selain
mendistribusikan, kantor penjualan juga bertugas dalam penarikan kembali
botol – botol kosong (returnable glass bottle). Di bawah kantor penjualan,
selanjutnya jalur distribusi memiliki tiga tingkat :
1. Agen / Sub-distributor / Wholesaler yang dilingkungan Sinar Sosro
disebut Dister.
2. Sub-Wholesaler, yang sering juga disebut sub agen.
3. Retailer (pengecer) untuk tingkat Dister dikenal Dister Aktif (DA)
dan Dister Pasif (DP). DA tidak hanya menunggu pembeli dating ke
tempatnya, tapi juga mendistribusikan produk hingga tingkat pengecer.
Sedangkan DP hanya menunggu pembeli datang ke tempatnya. Adapun
untuk level pengecer, Sinar Sosro menyegmentasikan dalam 7 segmen
(dalam istilah mereka klasifikasi outlet) yaitu : kantin / kafe, lokasi makan
(resto), street market (toko, warung, PKL), supermarket, hotel dan tempat
hiburan, institusi (koperasi), dan end user.
31
Selain itu, produk PT. SINAR SOSRO sudah merambah pasar
Internasional dengan upaya mengekspor produk-produk dalam kemasan kotak
dan kaleng ke beberapa Negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei
Darussalam, sebagian Timur Tengah, Afrika, Australia, dan Amerika. Sosro
dikenal memiliki jaringan distribusi yang sangat mengakar. Keputusan
mengenai pergudangan dan pengendalian persediaan juga merupakan
keputusan distribusi. Ketersediaan (availability) menjadi kunci sukses
pemasaran. Pihak Sosro selalu memantau outlet-outlet Sosro dari pengaruh
pesaing (competitor) yang berniat menggantikan Teh Botol Sosro.
7. Pengembangan harga
Sesuai dengan target pasar sosro yaitu orang yang sedang melakukan
perjalanan, maka pada waktu itu sosro menetapkan harga tidak lebih dari
biaya parkir. Tetapi, sejak terjadinya krisi ekonomi moneter pada bulan Juli
1997 menimbulkan berbagai perubahan dalam lingkungan perusahaan. Pada
masa ini kondisi ini Sosro terpaksa menaikkan harga produk teh botol sosro
karena komponennya masih menggunakan bahan baku impor dan untuk
mengantisipasi menurunnya daya beli konsumen akibat munculnya
perusahaan pesaing. Saat ini, untuk 1 teh botol sosro seharga Rp.2.500,00.
Dengan adanya perubahan harga ini, konsumen tetap membeli teh botol sosro
karena produk ini sudah terpercaya dan harga masih tetap terjangkau.
8. Pengembangan pemasaran
32
Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering
melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki. Atribut kepuasan ini
dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan minuman teh dalam kemasan
botol yang praktis dan tersedia di kios-kios sepanjang jalan. Kini SOSRO
telah menjadi perusahaan minuman yang besar dan otomatis strategi
pemasaran yang dipakai pun semakin besar pula. Promosinya kini bukan
menggunakan metode cicip rasa tetapi kini banyak iklan-iklan sosro yang
terlihat di berbagai stasiun televisi, internet, majalah, surat kabar, radio, dan
berbagai acara-acara besar maupun kecil. Situs websitenya juga dibuat
semenarik dan sejelas mungkin untuk konsumen yang ingin mengetahui
tentang PT. Sinar Sosro.
Kunjungan pabrik juga menjadi salah satu cara untuk memasarkan
produk dengan memperlihatkan proses pembuatan teh botol sosro untuk
meyakinkan konsumen. Hasilnya dapat terlihat saat riset media Nielsen
mencatat, Teh Botol Sosro menguasai 70 persen pasar minuman nasional.
Antara tahun 1995-1996, terjadi perubahan peta pasar minuman teh botol.
Kala itu muncul Tekita dari PT Pepsi Cola dan Grup Salim. Kehadirannya
cukup mengguncangkan karena didukung oleh perusahaan-perusahaan besar,
punya diferensiasi kuat – isi 300 ml, sementara Teh Botol Sosro cuma 220 ml
– serta punya modal besar. Kehadiran Tekita ini pastinya bertujuan untuk
menggerogoti Teh Botol Sosro yang sudah menguasai 70% lebih pangsa pasar
minuman teh dalam botol.
33
Tetapi berbagai keunggulan ini tidak digali lebih intens oleh Sosro.
Padahal, dengan kampanye komunikasi Sosro yang begitu-begitu saja, sudah
terjadi pertumbuhan pasar lebih dari 10%, melebihi pertumbuhan industri
yang mencapai 6%-7%. Jika komunikasinya digarap lebih baik, pasti ada
lonjakan yang berarti. Kehadiran Frestea yang didukung oleh perusahaan
multinasional diyakini bakal mengubah peta pasar minuman teh dalam
kemasan. Buktinya, Frestea, menurut data AC Nielsen terus mengalami
lonjakan pertumbuhan. Data tahun 2003, ia tumbuh 12%. Bagaimanapun, Teh
Botol Sosro sudah sangat tua, sementara konsumen baru sudah disergap oleh
produk-produk teh baru.
Langkah yang dilakukan Tehbotol Sosro diantaranya adalah dengan
mengubah tag line menjadi: “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol
Sosro.” Kampaye baru yang dibuat tahun 2002, terlihat berbeda dan
menggeser objek target pasar, bukan lagi remaja, tapi keluarga. Selain
memperkenalkan tema baru Apapun makannya, minumannya Teh Botol Sosro,
Teh Botol Sosro juga menggencarkan program promosi. Salah satunya yang
terkenal dengan program promosi Struk Rejeki Teh Botol. Kegiatan yang
dilangsungkan September 2004, merupakan bentuk lain strategi kampanye
dengan target audiens konsumen Teh Botol Sosro.
Program ini bertujuan mengapresiasi konsumen dengan undian
berhadiah. Apa yang dilakukan Teh Botol Sosro selama ini sekedar
mengakuisisi konsumen. Sosro terus mencari market share tanpa melakukan
edukasi pasar. Sudah sepantasnya, sebagai pemimpin pasar Sosro berbuat
34
seperti Aqua yang tetap melakukan edukasi pasar dengan sangat baik. Yang
justru melihat yang banyak mendidik peminum teh adalah Sariwangi
(Unilever). Apa yang terjadi, lewat kampanye komunikasi dari tahun ke tahun,
Sosro hanya berorientasi memperbesar pasar. Bahkan, promo-promo yang
dilakukan, juga memperkuat tujuan mendongkrak penjualan. Seharusnya
Sosro melakukan turning into believer. Bahwa Sosro harus bisa menjadikan
pembeli percaya kepadanya. Sebab loyalitas konsumen tidak bisa dibiarkan
begitu saja. Dengan ketatnya persaingan saat ini, peminum Sosro berisiko
mudah diakuisisi merek yang lain.
Strategi pemasaran Sosro saat ini cenderung pada penguasaan channel.
Sosro, misalnya menjalin kerja sama dengan resto dan food court untuk
penjualan produknya. Ia melakukan co-bundling di beberapa resto terkenal,
seperti KFC, Hoka-Hoka Bento, dan lainnya. Tetapi di sisi lain secara merek
Sosro berhasil mengukuhkan merek lokal yang melegenda. Keunggulan
komunikasi Teh Botol Sosro adalah kemampuannya memakai pernyataan
yang sangat riil dalam masyarakat. Yang menguntungkan Sosro, secara riil ia
memang pemimpin pasar. Sebelum jargon itu ada, di lapangan memang
demikian kenyataannya. Kekuatan jargon ini bisa menerjemahkan apa yang
benar-benar terjadi di dunia nyata. Dan itu semakin memperkuat mereknya.
Ekuitas merek Sosro saat ini sangat baik. Hal itu dicirikan dengan
penguasaan pasar dan popularitasnya. Selain membangun merek, harus juga
terus melakukan regenerasi. Kalau luput menggarap konsumen generasi muda,
akan diisi merek lain. Dan yang tak kalah penting adalah memahami
35
perkembangan zaman, termasuk kepedulian masyarakat terhadap kesehatan.
Konsumen akan mencari tahu apakah yang dikonsumsinya ini benar-benar
aman. Kalau konsumen menemukan sesuatu diluar dugaan, habislah
bisnisnya. Perlu diperhatikan juga oleh Sosro, masyarakat Indonesia ke depan
akan semakin makmur. Suatu saat akan banyak kalangan konsumen yang
mulai memperhatikan kelebihan kalori. Mereka akan mengurangi konsumsi
gula, sehingga orang akan mulai meninggalkan minum teh yang manis.
BAB IV
PEMBAHASAN
Seperti yang telah dijabarkan tentang bagaimana penerapan strategi
pemasaran pada suatu perusahaan. Karena semakin hari, semakin banyak
pesaing yang ikut berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Strategi
pemasaran dan bisnis adalah tahapan -tahapan yang diikuti dengan
perhitungan atau teori, dari perkenalan produk sampai closing. Agar bisa
36
dinikmati konsumen, penerapan strategi tersebut bisa kita lakukan di setiap
perusahaan, dan itu bisa dilihat dari analisis lingkungan dari perusahaan
tersebut.
Starategi pemasaran dan bisnis dapat dimulai dari memperkenalkan
keberadaan perusahaan ,metode dan profile perusahaan, tingkatkan pelayanan
pada masyarakat,selalu adakan evaluasi secara berkala terhadap kinerja
perusahaan, membuat program–program yang melibatkan massa, dan lain-
lain. Jadi dapat kita simpulkan,bahwa strategi pemasaran merupakan suatu
strategi untuk mempromosikan barang atau jasa dari perusahaan yang kita
kelola,dengan memakai alat promosi berbagai media. Seperti kasus di atas
tentang strategi pemasaran dan bisnis yang dilakuakan oleh PT. Sinar Sosro,
yang di mulai dari pengamatan-pengamatan yang mendetail.adapun strategi-
starategi yang dikembangkan oleh pihak perusahaan. Antara lain dengan
melakukan;
1. Analisis swot
2. Pengembangan bisnis
3. Target pasar
4. Pengembangan brand dan produk
5. Pengembangan distribusi
6. Pengembangan harga, dan
7. Pengembangan_pemasaran
Dalam melakukan pengembangan brand PT. Sinar Sosro menerapkan
beberapa strategi. Diantaranya adalah :
37
1. Line Extension dengan mengeluarkan produk Fruit Tea
dengan pangsa pasar generasi muda
2. Brand Extension dengan meluncurkan produk Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK) dengan merek PRIMA..
Berkat strategi-strategi unggul yang dikembangkan oleh pihak
manajemen perusahaan tesebut, PT.sinar Sosro menjadi perushaan
yang telah sukses dalam menghadapi persaingan pasar saat ini.
38
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, dapat mengambil kesimpulan bahwa sudah selayaknya
perusahaan memiliki Strategi Pemasarannya sendiri sebelum mereka menjalankan
ataupun memasarkan produk / jasanya. Strategi pemasaran yang dibuat hendaknya
haruslah mempertimbangkan situasi dan keadaan perusahaan baik keadaan intern
perusahaan itu sendiri atau lingkungan mikro perusahaan, maupun keadaan ekstern
perusahaan atau yang dikenal dengan lingkungan makro perusahaan. Perusahaan yang
berjaya mampu mempertahankan serta meningkatkan lagi penjulannya ditengah-tengah
pesaingnya adalah perusahaan yang telah berhasil menetapkan strategi pemasarannya
serta strategi bersaingnya dengan tepat.
Adapun penentuan strategi bersaing hendaknya dilakukan dengan
mempertimbangkan kepada besar dan posisi masing-masing perusahaan dalam pasar.
Karena perusahaan yang besar mungkin dapat menerapkan stretegi tertentu yang jelas
tidak bisa dilakukan oleh perusahaan kecil. Demikian pula sebaliknya, bukanlah menjadi
sesuatu hal yang jarang terjadi bahwa perusahaan kecil dengan strateginya sendiri mampu
menghasilkan tingkat keuntungan yang sama atau bahkan lebih baik daripada perusahaan
besar. Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan semua hal diatas, maka dapat
dipastikan perusahaan akan dapat menentukan dengan baik strategi pemasaran serta
strategi bersaingnya, untuk tetap maju dan berkembang di tengah-tengah persaingan.
D. Saran
Dalam strategi pemasaran hendaknya produk yang dibuat oleh suatu perusahaan
harus selalu mengikuti selera konsumen dan perkembangan jaman, dan selalu up to date
dalam mencari informasi dan peluang bisnis. diharapkan para pengusaha dapat
mempertahankan harga tanpa meninggalkan kualitas mutunya, dan jika bisa harga dapat
diturunkan sehingga terjangkau kalangan ekonomi menengah ke bawah.