Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH: PENYAKIT BAKTERIAL DAN MIKAL


DERMATOFITOSIS

Dosen Penanggung Jawab Praktikum:

Drh. Agustin Indrawati, M. Biomed

KELOMPOK 3

Avrita Reza Melyana B04160159


Bagus Wibisono B04160162
Priyadarshinee B04168007

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN DAN KESMAVET


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penyakit zoonosis yang banyak menginfeksi pecinta hewan kesayangan adalah


dermatofitosis. Dermatofitosis (ringworm) merupakan keratinisasi berlebih yang terdapat
pada permukaan terluar kulit (epidermis) termasuk kuku dan rambut. Dermatofitosis
disebabkan oleh infeksi fungi yang termasuk dalam genus dermatofita di antaranya
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton ( Chaitra dan Bala, 2014). Kejadian
dermatofitosis pada anjing dan kucing yang diakibatkan ketiga genus zoophytic ini telah
dilaporkan di seluruh belahan dunia. Kejadian dermatofitosis oleh M. canis pada kucing
dilaporkan lebih tinggi dibanding pada anjing (Grøndalen et al., 2004). Menurut Bernado
et al (2015) sebuah penelitian menunjukkan bahwa 82% dari 89 sampel kucing positif
mengalami dermatofitosis yang disebabkan M. canis.

Gejala klinis hewan penderita dermatophytosis meliputi alopesia, eritema, papula,


pustula, bersisik dan berkerak. Peradangan pada pinggir lesi yang ditemukan di daerah
wajah dan badan merupakan lesi tipe klasik yang sering ditemukan (Outerbridge 2006).
Dokter hewan praktisi memerlukan metode diagnosis dermatofitosis baik secara
konvensional maupun molekuler. Lampu Wood’s adalah perangkat yang sering
digunakan oleh dokter hewan praktisi untuk mengetahui adanya invasi dermatofit pada
permukaan kulit dan rambut. Metode lain dengan pemeriksaan langsung kerokan rambut
dan kulit di bawah mikroskop atau kultur sampel kerokan kulit dan rambut. Kedua metode
tersebut dapat saling melengkapi untuk meneguhkan diagnosis (Bond, 2010).

Laporan kejadian dermatofitosis sering diabaikan walaupun tingkat kejadian di


lapangan sangat tinggi. Kejadian infeksi M. canis di Italia mencapai 98% pada kucing
(Proverbio et al., 2014). Kasus yang disebabkan oleh M. canis dilaporkan lebih sedikit
pada kucing jantan dewasa dibanding kucing betina dan anakan kucing. Laporan hasil
penelitian pada anjing menunjukkan 34% anjing di Yogyakarta positif menderita
dermatofitosis (Soedarmanto et al., 2014). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan
observasi adanya infeksi M. canis pada kucing penderita dermatitis.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi sampel kerokan kulit hewan yang di duga
mengalami dermatofitosis.
TINJAUAN PUSTAKA

Dermatofitosis adalah salah satu kelompok dermatomikosis superfisialis yang


disebabkan oleh jamur dermatofit, terjadi sebagai reaksi pejamu terhadap produk
metabolit jamur dan akibat invasi oleh suatu organisme pada jaringan hidup. 1 Terdapat
tiga langkah utama terjadinya infeksi dermatofit, yaitu perlekatan dermatofit pada keratin,
penetrasi melalui dan di antara sel, serta terbentuknya respon pejamu (Adiguna 2010).
Patogenesis dermatofitosis tergantung pada faktor lingkungan, antara lain iklim yang
panas, higiene perseorangan, sumber penularan, penggunaan obatobatan steroid,
antibiotik dan sitostatika, imunogenitas dan kemampuan invasi organisme, lokasi infeksi
serta respon imun dari pasien.
Terdapat tiga genus penyebab dermatofitosis, yaitu Trichophyton, Microsporum,
dan Epidermophyton yang dikelompokkan dalam kelas Deuteromycetes (Hay 1998).
Dari ketiga genus tersebut telah ditemukan 41 spesies, terdiri dari 17 spesies
Microsporum, 22 spesies Trichophyton, 2 spesies Epidermophyton (Rippon 1988). Dar
i 41 spes ies yang telah d ikenal, 17 spesies diisolasi dari infeksi jamur pada manusia, 5
spesies Microsporum menginfeksi kulit dan rambut, 11 spesies Trichophyton meninfeksi
kulit, rambut dan kuku, 1 spesies Epidermophyton menginfeksi hanya pada kulit dan
jarang pada kuku. Spesies terbanyak yang menjadi penyebab dermatofitosis di Indonesia
adalah: Trichophyton rubrum (T. rubrum), berdasarkan penelitian di RS Dr. Cipto
Mangun Kusumo Jakarta tahun 1980. 1 Pada penelitian yang dilakukan di Surabaya pada
2006–2007 ditemukan spesies terbanyak yang berhasil dikultur adalah M. audiouinii
(14,6%), T. rubrum (12,2%), T. mentagrophytes (7,3%).
Penegakan diagnosis dermatofitosis pada umumnya dilakukan secara klinis, dapat
diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan pemeriksaan dengan lampu wood
pada spesies tertentu. Pada pemeriksaan dengan KOH 10–20%, tampak emeriksaan
dengan KOH 10–20%, tampak dermatofit yang memiliki septa dan percabangan hifa
(Ervianti 2002).
Terjadinya penularan dermatofitosis adalah melalui 3 cara yaitu:antropofilik,
transmisi dari manusia ke manusia. Ditularkan baik secara langsung maupun tidak
langsung melalui lantai kolam renang dan udara sekitar rumah sakit/klinik, dengan atau
tanpa reaksi keradangan (silent “carrier”). Zoofilik, transmisi dari hewan ke manusia.
Ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung melalui bulu binatang yang
terinfeksi dan melekat di pakaian, atau sebagai kontaminan pada rumah / tempat tidur
hewan, tempat makanan dan minuman hewan. Sumber penularan utama adalah anjing,
kucing, sapi, kuda dan mencit. Geofilik, transmisi dari tanah ke manusia. Secara sporadis
menginfeksi manusia dan menimbulkan reaksi radang.6 Untuk dapat menimbulkan suatu
penyakit, jamur harus dapat mengatasi pertahanan tubuh non spesifik dan spesifik. Jamur
harus mempunyai kemampuan melekat pada kulit dan mukosa pejamu, serta kemampuan
untuk menembus jaringan pejamu, dan mampu bertahan dalam lingkungan pejamu,
menyesuaikan diri dengan suhu dan keadaan biokimia pejamu untuk dapat berkembang
biak dan menimbulkan reaksi jaringan atau radang. Terjadinya infeksi dermatofit melalui
tiga langkah utama, yaitu: perlekatan pada keratinosit, penetrasi melewati dan di antara
sel, serta pembentukan respon pejamu (Verma 2008).
MATERIAL DAN METODE KERJA

Alat dan bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah scalpel, gelas objek, cover
glass, ose dan jarum, cawan petri, dan mikroskop. Sedangkan bahan-bahan yang
digunakan adalah KOH 10%, Lactophenol Cotton Blue (LPCB), aquades, selotape, media
biakan SDA (Sabouraud Dextrose Agar), dan sampel kulit. Hewan sebelumnya diduga
menderita dermatofitosis dengan gejala klinis berupa kebotakan dengan batas yang jelas
pada daerah leher. Sampel kulit dikerok dengan scalpel yang steril dan dimasukkan ke
dalam plastik bersih yang berpenutup dan di bawa ke laboratorium untuk pemeriksaan
lanjut.

Metode

Pemeriksaan pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan langsung dengan


menempelkan sampel dari kerokan kulit pada gelas objek. Kemudian sampel ditetesi
larutan KOH 10% dan ditunggu sekitar 15 menit. Larutan KOH 10% ini adalah untuk
melisiskan jaringan sehingga dapat terlihat hifa dan makrokonidia. Selanjutnya sampel
diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif 40x .
Identifikasi berikutnya yaitu menanam sampel kerokan kulit pada media biakan
SDA yang diberi antibiotik, kemudian diinkubasikan pada suhu kamar selama 7 hari.
Hasil biakan tersebut kemudian diamati baik secara makroskopis dengan mengamati
morfologi koloni dan secara mikroskopis dengan mengamati morfologi mikroskopisnya.
Pengamatan morfologi mikroskopis dilakukan secara natif, yaitu dengan
menggunakan selotape yang ditempelkan ke gelas objek yang ditetesi LPCB dan dibuat
slide culture dengan teknik Riddel. Penentuan kapang dilakukan dengan mengidentifikasi
berdasarkan morfologi hifa, konidia dan konidiosporanya.
PEMBAHASAN

Pengamatan pada sampel yang digunakan merupakan kerokan kulit kucing yang
terkena dermatofitosis. Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh cendawan pada
bagian kutan/superfisial atau bagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu,
kuku, rambut dan tanduk). Trichopyton spp dan Microsporum spp, merupakan 2 jenis
kapang yang menjadi penyebab utama ringworm pada hewan. Di Indonesia yang
menonjol diserang adalah anjing, kucing. Penyebab ringworm ialah cendawan dermatofit
yaitu sekelompok cendawan dari genus Epidermophyton, Microsporum dan
Trichophyton. Cendawan dermatofit penyebab ringworm menurut taksonomi tergolong
fungi imperfekti (Deuteromycetes), karena pembiakannya dilakukan secara aseksual,
namun ada juga yang secara seksual tergolong Ascomycetes (Pohan A, 2009).
Selanjutnya kerokan kulit diperiksa secara mikroskopis lalu ditemukan adanya
hifa dan makrokonidia yang diduga Microsporum canis. Selanjutnya dibiakan dengan
menggunakan media selektif dermatofita, agar mencegah pertumbuhan kapang lainnya.
Kapang dibiakan selama 1 minggu lalu dilakukan pengamatan koloni. Kecepatan
pertumbuhan kapang yang diduga dermatofita tidak terlalu cepat, dengan warna putih
dibagian depan dan cream dibagian belakang, memiliki tektur cottony dan topografi
verrucose. Selanjutnya pembuatan slide kultur (Riddle), di inkubasi selama 1 minggu
kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan penambahan LCB. Ditemukan
hifa dan makrokonidia, hifa yang ditemukan bersepta dan bercabang sedangkan
makrokonidia yang ditemukan berbentuk simetris dengan ujung bulat, dengan dinding
yang tebal, ciri-ciri tersebut sesuai dengan ciri Microsporum canis. Microsporum canis
bersifat ectothrix dan zoofilik yang terdapat pada kucing, anjing, kuda, dan kelinci,
gambaran mikroskopis dari kultur adalah macroconidia berbentuk spindle, berdinding
tebal dan kasar. Microconidia berbentuk clubbing dan berdnding halus, sedangkan M.
gypseum bersifat ectothrix dan geofilik. Gambaran makroskopisnya makrokonidia
berbentuk spindle, dinding tipis 3-6 septa, dan mikrokonidianya sedikit dan berbentuk
clubbing (Pohan., A. 2009).
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah sanitasi kesehatan, lingkungan maupun
hewannya. Terdapat 5 kelompok macam obat dengan berbagai cara dapat dipakai untuk
menghilangkan dermatofit, yaitu: (1). Iritan, dilakukan untuk membuat reaksi radang
sehingga tidak terjadi infeksi dermatofit; (2). Keratolitik, digunakan untuk
menghilangkan dermatofit yang hidup pada stratum korneum; (3) Fungisidal, secara
langsung merusak dan membunuh dermatofit; (4). Perubah. Merubah dari stadium aktif
menjadi tidak aktif pada rambut. Salah satu cara yang efektif untuk penanggulangan
adalah mencegah penyebaran sehingga tidak terjadi endemik, peningkatkan masalah
kebersihan, perbaikan gizi dan tata laksana pemeliharaan. Hewan kesayangan harus
terawat dengan cara memandikan secara teratur, pemberian makanan yang sehat dan
bergizi sangat diperlukan untuk anjing dan kucing. Vaksinasi adalah pencegahan yang
baik. Di Indonesia pemakaian vaksin dermatofit belum dilaksanakan. Pengobatan dapat
dilakukan secara sistemik dan topikal. Secara sistemik dengan preparat Griseofulvin,
Natamycin, dan azole peroral maupun intravena dengan cara topikal menggunakan
fungisida topikal dengan berulang kali, setelah itu kulit hewan penderita tersebut disikat
sampai keraknya bersih; setelah itu dioles atau digosok pada tempat yang terinfeksi.
Menurut Ahmad RZ (2009), selain menggunakan obat-obat tersebut, dapat pula dengan
obat tradisional seperti daun ketepeng (Cassia alata), Euphorbia prostate dan E.
thyophylia.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa hewan
yang diperiksa kulitnya mengalami dermatofitosis yang diakibatkan oleh Microsporum
canis.

DAFTAR PUSTAKA

Adiguna MS. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia. Dalam: Budimulya U,


Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S, editor. 2004.
Dermatomikosis Superfisialis Edisi ketiga. Jakarta(ID): Balai Penerbit FKUI.

Ahmad., R.Z. 2009. Permasalahan & Penanggulangan Ring Worm Pada Hewan.
Jakarta(ID) : Lokakarya.

Bernado F, Lança M, Guerra M, Martins HM. 2005. Dermatophytes isolated from pet, dogs
and cats, in Lisbon, Portugal (2000-2004). RPCV 100(553-554): 85-88.

Bond R. 2010. Superficial Veterinary Mycoses. Clinics Dermatology 28(1): 226–236.

Chaitra P, Bala NK. 2014. Onychomycosis: Insights in disease development. Muller J Med
Sci Res 5(1): 101-105.

Cholis M. 2004. Imunologi Dermatomikosis Superfisialis. Dalam: Budimulya U,


Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S, editor.
Dermatomikosis Superfisialis. Edisi ketiga. Jakarta(ID): Balai Penerbit FKUI.

Ervianti E, Martodiharjo S, Murtiastutik D, editor. 2002. Etiologi dan Patogenesis


Dermatomikosis Superfisialis Simposium Penatalaksanaan Dermatomikosis
Superfisialis Masa Kini. Surabaya, Indonesia.

Grøndalen J, Saevik B, Sørum H. 2004. Companion Animal as Reservoir Zoonotic


Diseases. Norwegian Vet J 11(1): 213-287.

Hay RJ, Moore M. 1998. Mycology. Dalam : Champion RH, Burton JL, Durns DA,
Breathnach SDM, editors. Text Book of Dermatology. 6th ed. Oxford(US):
Blackwell Science .

Outerbridge CA. 2006. Mycologic Disorders of the Skin. Clinical Technic Small Animal
Practice. 21(1): 128-134.

Pohan A. 2009. Mikologi. Fakultas Kedokteran UNAIR.

Proverbio D, Perego R, Spada E, Bagnagatti, Della AP, Ferro E. 2014. Survey of


Dermatophytes in Stray Cats with and without Skin Lesions in Northern Italy. Vet
Med Int J Article. ID 565470: 1-4.

Rippon JW. 1988. Medical Mycology The Pathogenic Fungi. 3 rd ed. Philadelphia(US) :
WB Saunders Company

Soedarmanto I, Purnamaningsih H, Raharjo S, Yanuartono, Ikliptikawati DK, Sakan GY.


2014. Isolasi dan Identifikasi Microsporum canis pada Anjing Penderita
Dermatofitosis di Yogyakarta. J Veteriner. 15(20): 212-216.

Verma S, Hefferman MP. 2008. Superficial Fungal Infection: Dermatophytosis,


Onichomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Wolff K, Goldsmith L, Katz S,
Gilchrest B, Paller A, Leffell O, editors. Fitzpatrick’s. Dermatology in General
Medicine. 7th ed. New York(ID): McGraw-Hill