Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM KAJIAN SAINS BIOLOGI

“Pembentukan CO2 dalam proses respirasi pada


tumbuhan (kecambah)”

Disusun oleh:

1. Anik Mufida (18070795006)


2. Maya Fahridatul I. (18070795023)

3. Anggita Intan K.D (18070795052)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

PASCASARJANA
PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN SAINS
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan memiliki ciri makhluk hidup sebagai proses kehidupan yaitu bernafas
(respirasi). Respirasi yaitu proses masuknya oksigen dan keluarnya karbondioksida sebagai hasil
proses respirasi. Respirasi salah satu proses metabolisme primer yang merupakan proses esensial
bagi kehidupan tumbuhan. Proses respirasi mengeluarkan energi kimia Adenosin trifosfat (ATP)
sebagai penggerak respirasi. Sel pada tumbuhan menggunakan respirasi seluler sebagai alat
untuk mengubah energi tersimpan menjadi bahan kimia yang dikonsumsi oleh sel individual.
Pada praktikum ini kita akan mengidentifikasi hasil dari respirasi pada tumbuhan. Gas karbon ini
juga berperan penting dalam proses produksi gula dan tepung pada tumbuh-tumbuhan. Selain itu
juga merupakan sumber karbon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan semua tumbuhan berwarna
hijau, dan secara tidak langsung untuk semua organisme. Zat-zat yang membangun tubuh
organisme hidup, baik yang berupa gula, protein, lemak atau lainlainnya, semuanya mengandung
karbon. Karbon dioksida dengan zat kapur berperan bagi pembentukan tulang atau kerangka
organisme. Salah satu parameter kimia yang ada di dalam parairan yaitu gas
karbondioksida(CO2) yang dipengaruhi kualitas air.
Ketersediaan gas ini dalam perairan jumlahnya lebih sehingga akan mempengaruhi
organisme-organisme yang melakukan proses respirasi sedangkan kekurangan gas ini akan
mempengaruhi organisme dalam proses fotosintesis. Karbondioksida (CO2) tidak bertambah
banyak pada kedalaman yang lebih besar kecuali di lapisan dekat dengan dasar, demikian pula
dengan pH. Karena Kalsium karbonat yang diendapkan didaerah trophogenic jatuh perlahan-
lahan ke dasar dan bertemu dengan karbondioksida (CO2) agresif didaerah tropholytic, serta
menambah kosentrasinya di lapisan bawah (Barus, 2002).
Untuk mengetahui kadar karbondioksida (CO2) diperlukan metode pengukuran
konsenterasi larutan menggunakan metode titrasi (titrasi asam-basa) yaitu dengan penambahan
indikator PP (phenoftalein).

B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah membuktikan pembentukan CO2 dalam proses respirasi pada
tumbuhan (kecambah).
BAB II
DASAR TEORI
A. Respirasi
Bernafas artinya melakukan pertukaran gas, yaitu mengambil oksigen (O2) ke
dalam paru-paru yang disebut proses inspirasi dan mengeluarkan karbondioksida (CO2)
serta uap air (H2O) yang disebut proses ekspirasi. Sedangkan respirasi adalah seluruh
proses sejak pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2,
H2O dan energi. Pertukaran gas O2 dan gas CO2 berlangsung melalui proses difusi. Alat-
alat pernafasan dapat berupa paru-paru, insang, trakea maupun bentuk lain yang dapat
melangsungkan pertukaran gas O2 dan gas CO2.
Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad
hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam
menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi
dapat disamakan dengan pernapasan. Namun demikian, istilah respirasi mencakup
proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada
semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel. Apabila
pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa
pemecah, respirasi tidak hanya melibatkan oksigen.
Respirasi dapat berlangsung dengan 2 cara, yaitu :
1. Respirasi Aerob (Oksidasi)
Proses ini merupakan pemecahan molekul dengan menggunakan oksigen, reaksi
umumnya sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O + 675 kalori
Pada umumnya dalam keadaan normal manusia menggunakan cara ini.
2. Respirasi Anaerob
Proses ini merupakan pemecahan molekul tidak menggunakan oksigen. Reaksi
umumnya sebagai berikut:
C6H12O6 → 2C2H5OH + CO2 + 28 Kalori
Pada proses respirasi anaerob terjadi pemecahan molekul yang sempurna, karena
masih dihasilkan zat organik sehingga energinya belum terbebaskan semua. Pada
proses tersebut hanya terhenti sampai glikolisis dan terbentuk asam laktat, sehingga
energi yang dihasilkan sedikit dan dampaknya mengakibatkan kelelahan pada tubuh.
Proses ini umumnya terjadi pada organisme tingkat rendah, yaitu pada ragi dan
bakteri. Pada organisme tingkat tinggi proses ini hanya berlangsung dalam keadaan
darurat, yaitu apabila persediaan oksigen kurang mencukupi. Ini terjadi ketika otot
bekerja terlalu keras dan berlebih.
a. Faktor yang mempengaruhi laju respirasi
1. Ketersediaan substrat
Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan
respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan
respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya, bila substrat tanaman
tinggi, maka akan melakukan respirasi dengan laju yang tinggi pula.
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya
pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara
organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak
banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan
tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
3. Suhu
Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor
Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan
suhu sebesar 10oC. Namun hal ini tergantung pada masing – masing spesies.
4. Tipe dan umur tumbuhan
Masing – masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme. Dengan
demikian, kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing – masing
spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding
tumbuhan yang tua.
B. Indikator phenoftalein
Fenolftalein adalah pewarna yang berperan sebagai indikator pH. Fenolftalein adalah
senyawa kimia dengan rumus molekul C20H14O4 dan sering ditulis sebagai "HIn" atau "PP"
dalam notasi singkat. Fenolftalein sering digunakan sebagai indikator dalam titrasi asam–
basa. Untuk aplikasi ini, senyawa ini berubah warna dari tak berwarna dalam larutan asam
menjadi merah muda dalam larutan basa.
Fenolftalein sedikit larut dalam air dan biasanya dilarutkan dalam alkohol untuk
digunakan dalam berbagai percobaan. Senyawa ini bersifat asam lemah yang dapat
membebaskan ion H+ dalam larutan. Molekul fenolftalein tidak berwarna, dan ion
fenolftalein berwarna merah muda. Jika basa ditambahkan ke dalam fenolftalein,
kesetimbangan molekul ⇌ ion bergeser ke kanan, menyebabkan ionisasi lebih banyak
karena pembebasan ion H+. Hal ini diprediksi menurut prinsip Le Chatelier.
Fenolftalein biasanya digunakan sebagai indikator keadaan suatu zat yang bersifat
lebih asam atau lebih basa. Prinsip perubahan warna ini digunakan dalam metode
titrasi. Fenolftalein cocok untuk digunakan sebagai indikator untuk proses titrasi
HCl dan NaOH. Fenolftalein tidak akan berwarna (bening) dalam keadaan zat yang asam
atau netral, namun akan berwarna kemerahan dalam keadaan zat yang basa. Tepatnya pada
titik pH di bawah 8.3 fenolftalein tidak berwarna, namun jika mulai melewati 8.3 maka
warna merah muda yang semakin kemerahan akan muncul. Semakin basa maka warna yang
ditimbulkan akan semakin merah.
Fenolftalein juga merupakan salah satu komponen indikator universal, bersama
dengan metil merah, bromotimol biru, dan timol biru.

Fenolftalein (Indikator asam-basa)

antara
pH di bawah 8.2
pH 10.0 dan 13.0

tak berwarna ⇌ fuchsia

Fenolftalein memiliki empat kondisi yang berbeda dalam larutan: Pada kondisi asam
sangat kuat, ia dalam bentuk terprotonasi, menghasilkan warna jingga. Pada kondisi asam
kuat, ia berbentuk lakton yang tak berwarna. Dalam bentuk fenolat terdeprotonasi tunggal
(bentuk anion dari fenol) memberikan warna merah muda yang sangat dikenal. Dalam
larutan basa kuat, warna mearh muda fenolftalein perlahan memudar dan menjadi tak
berwarna di atas pH 13.0. Reaksi pemudaran yang menghasilkan ion OH3− yang tak
berwarna terkadang digunakan dalam mata pelajaran kinetika reaksi.
Kepekaan fenolftalein terhadap pH digunakan dalam aplikasi lain:
 Indikator fenolftalein digunakan untuk menunjukkan apakah suatu larutan bersifat basa atau
tidak. Dalam percobaan ini, sebelum air kapur (bersifat basa) dalam gelas 3 ditiup, warnanya
merah muda karena PP akan berwarna merah jika berada dalam larutan basa. Setelah ditiup
selama 7 menit, kandungan CO2 dapat merubah warna menjadi putih keruh, hal ini berarti
larutan tersebut sudah tidak bersifat basa lagi.
 Beton secara alami memiliki pH tinggi karena pembentukan kalsium
hidroksida ketika semen Portland bereaksi dengan air. Oleh karena beton bereaksi dengan
karbon dioksida di atmosfer, pH turun menjadi 8.5 – 9. Jika larutan 1% fenolftalein
diaplikasikan pada beton normal, ia akan berubah warna menjadi merah muda. Jika tetap tak
berwarna, ini menunjukkan bahwa beton telah mengalami karbonasi.
 Fenolftalein digunakan dalam mainan, misalnya sebagai komponen tinta yang bisa hilang,
atau warna yang menghilang pada rambut Hollywood Hair Barbie. Dalam tinta, fenolftalein
dicampur dengan natrium hidroksida, yang bereaksi dengan karbon dioksida di udara.
Reaksi ini menyebabkan turunnya pH di bawah batas bawah perubahan warna karena ion
hidrogen dibebaskan berdasarkan reaksi:
OH−(aq) + CO2(g) → CO32−(aq) + H+(aq)
 Fenolftalein juga digunakan sebagai obat. Aktivitasnya di dalam tubuh adalah akan
dilarutkan oleh garam dan empedupada usus kecil. Senyawa ini memiliki
aktivita laksatif sehingga digunakan sebagai obat pencahar. Aktivitas laksatifnya
disebabkan oleh perangsangan pada usus besar. Fenolftalein mulai bekerja 4 hingga 8 jam
setelah pemberian, tanpa efek samping sakit perut dan kejang-kejang. Efek samping dari
fenolftalein adalah menimbulkan gangguan bagi ginjal. Fenolftalein sebanyak 10 hingga
15 % akan diserap oleh tubuh dan bersifat sedikit beracun bagi tubuh. Pemakaian
fenolftalein dapat menyebabkan urin menjadi berwarna kemerahan karena fenolftalein juga
merupakan indikator pH yang bersifat basa.
BAB III
METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. 10 botol plastik
b. Selang plastik kecil (d=0,5 cm)
c. Cutter
d. Erlenmeyer
e. Pipet tetes
2. Bahan
a. Larutan kapur
b. Kecambah umur 2-3 hari
c. Indikator PP

B. Prosedur Percobaan
PERCOBAAN 1
1. Siapkan dua (2) set rangkaian alat percobaan seperti gambar berikut.

2. Isilah botol 1, 2 dan 4 pada kedua rangkaian alat itu dengan air kapur
3. Untuk perlakuan: penuhilah botol 3 dengan kecambah segar Untuk kontrol : penuhilah
botol 3 dengan kecambah mati
4. Tutuplah dengan rapat semua botol, kemudian pasanglah pompa pada botol 1 seperti
gambar.
5. Pompakan udara 15 kali sehingga udara bergerak dari botol 1 ke arah botol 4
6. Biarkan percobaan itu selama 20 menit
7. Amati warna air kapur pada botol 1, 2 pada perlakuan dan kontrol
8. Bandingkan warna air kapur pada botol 4 antara perlakuan dan kontrol
9. Catat hasil pengamatanmu !
PERCOBAAN 2
Lakukan langkah percobaan 1 (langkah 1-5)
1. Menuangkan sampel air (botol 4) tersebut sebanyak 100 ml ke dalam Erlenmeyer.
2. Menuangkan larutan PP sebanyak 5 tetes ke dalam Erlenmeyer
3. Mengamati perubahan warna pada sampel air tersebut pada Erlenmeyer, bila warna
merah muda berarti mengandung CO2
4. Apabila sampel air belum menunjukan warna merah muda, ditambah ulangi cara tersebut
sampai 3 kali.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan Kelompok 1
a. Tabel Pengamatan Percobaan 1
WARNA AIR KAPUR
PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 + ++
BOTOL 4 + ++++
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + +
BOTOL 4 + ++
*) + = jernih
++ = agak keruh
+++ = keruh
++++ = sangat keruh
b. Tabel Pengamatan Percobaan 2 (Penambahan Indikator PP)
WARNA AIR KAPUR
PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 ++ ++
BOTOL 4 ++++ xxx
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + +
BOTOL 4 ++ x
*) + = jernih x =merah muda
++ = agak keruh xx =merah muda keunguan
+++ = keruh xxx =ungu
++++ = sangat keruh
2. Tabel Pengamatan Kelompok 2
a. Tabel Pengamatan Percobaan 1
WARNA AIR KAPUR
PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 + ++
BOTOL 4 + +++
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + +
BOTOL 4 + +
+ = jernih
++ = agak keruh
+++ = keruh
++++ = sangat keruh

b. Tabel Pengamatan Percobaan 2 (Penambahan Indikator PP)


WARNA AIR KAPUR
PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 ++ x
BOTOL 4 +++ ++
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + xx
BOTOL 4 ++ x

+ = jernih x =merah muda


++ = agak keruh xx =merah muda keunguan
+++ = keruh xxx =ungu
++++ = sangat keruh

3. Analisis Data
a. Berdasarkan warna yang ditunjukkan pada percobaan tersebut, kaitkan hubungan antara
tumbuhan hidup dan tak hidup dengan kadar CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi!
Kelompok 1 Pada eksperimen di atas, jelas ditunjukkan bahwa tumbuhan hidup
(kecambah pada kelompok perlakuan) dapat menghasilkan CO2
dalam proses respirasi yang dilakukan dengan pemompaan botol,
sedangkan tumbuhan tak hidup (kecambah pada kelompok
kontrol) CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi tidak dapat
menghasilkan CO2 dalam proses respirasi yang dilakukan dengan
pemompaan botol.
Berdasarkan percobaan 1 dapat diamati bahwa tumbuhan hidup
(kecambah segar) setelah perlakuan percobaan respirasi
menghasilkan perbedaan kadar CO2, hal ini ditandai dengan
perubahan botol air kapur pada kelompok tumbuhan hidup
(kecambah segar) yang semula jernih menjadi agak keruh dan
keruh, semakin banyak CO2 maka air kapur jernih semakin keruh.
Sedangkan botol air kapur pada kelompok tumbuhan hidup
(kecambah mati) yang semula jernih tidak ada perubahan warna,
hal ini membuktikan kecambah mati tidak menghasilkan kadar
CO2 karena tidak mengalami respirasi.

Kelompok 2 Berdasarkan percobaan 1 dapat diamati bahwa tumbuhan hidup


(kecambah segar) setelah perlakuan percobaan respirasi
menghasilkan perbedaan kadar CO2, hal ini ditandai dengan
perubahan botol air kapur pada kelompok tumbuhan hidup
(kecambah segar) yang semula jernih menjadi agak keruh dan
keruh, semakin banyak CO2 maka air kapur jernih semakin keruh.
Sedangkan botol air kapur pada kelompok tumbuhan hidup
(kecambah mati) yang semula jernih tidak ada perubahan warna,
hal ini membuktikan kecambah mati tidak menghasilkan kadar
CO2 karena tidak mengalami respirasi.
Pada percobaan 2 botol yang berisi air kapur agak keruh dan keruh
hasil perlakuan pada percobaan 1 ditetesi larutan erlemeyer
mengalami perubahan warna dari yang semula merah muda
menjadi agak keruh, hal ini membuktikan bahwa larutan indikator
PP dapat merubah warna merah muda pada air kapur yang bersifat
basa menjadi keruh (sudah tidak bersifat basa lagi) karena pada
tanaman kecambah segar setelah perlakuan mengalami respirasi
menghasilkan kadar CO2. Sebaliknya pada kelompok tumbuhan
mati (kecambah mati) botol yang berisi air kapur jernih setelah
ditetesi dengan laurtan PP warnanya tetap menjadi merah muda
atau merah muda keunguan, hal ini membuktikan bahwa tanaman
kecambah mati tidak menghasilkan kadar CO2 atau tidak
mengalami respirasi sehingga air kapur tetap bersifat basa.

b. Berdasarkan percobaan tersebut, prediksikan apakah dengan menambah laju pemompaan


dapat meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi tumbuhan kecambah!
Kelompok 1 Ya, penambahan laju pemompaan pada botol dapat meningkatkan
kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah. Hal ini karena
pemompaan diilustrasikan sebagai proses respirasi yang dilakukan
pada tumbuhan kecambah. Semakin banyak dan cepat laju
pemompaan yang dilakukan maka akan meningkatkan kadar CO2
dalam proses respirasi kecambah, dan sebaliknya semakin sedikit
dan lambat laju pemompaan yang dilakukan maka tidak akan
meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah.

Kelompok 2 Ya, penambahan laju pemompaan pada botol dapat meningkatkan


kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah. Hal ini karena
pemompaan diilustrasikan sebagai proses respirasi yang dilakukan
pada tumbuhan kecambah. Semakin banyak dan cepat laju
pemompaan yang dilakukan maka akan meningkatkan kadar CO2
dalam proses respirasi kecambah, dan sebaliknya semakin sedikit
dan lambat laju pemompaan yang dilakukan maka tidak akan
meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah.

c. Pembahasan
Pada percobaan ini untuk membuktikan bahwa respirasi menghasilkan CO2 digunakan 4
botol yang masing-masing diisi air kapur dengan volume yang sama. Kapur berfungsi
sebagai indikator terjadinya respirasi pada tumbuhan dengan keluarnya gas CO2. Pada
botol kecambah mati warna nya jernih, hal ini menunjukkan tidak terjadi proses respirasi
sehingga air pada botol tampak lebih jernih, dikarenakan kapur mengendap didasar air.
Sedangkan pada botol yang berisi dengan kecambah air pada botol tampak lebih keruh.
Hal ini disebabkan karena pada botol yang berisi kecambah mengalami proses respirasi,
yaitu menghasilkan karbon dioksida. Gas karbondioksida ini kemudian dilepaskan dalam
udara bebas yang ada dalam botol, selanjutnya gas karbon ini akan bersiklus didalam
botol bergerak menempati ruangan-ruangan dalam botol. Air kapur (Ca(OH)2) sebagai
indikator adanya molekul CO2 hasil respirasi. Persamaan reaksinya adalah :
Ca(OH)2 (aq) + 2CO2(g) è Ca(CO3)2 (s) + H2O(l)
Menurut Sasmitadiharja (1990) laju respirasi meningkat cepat hingga mencapai puncak
selama perkecambahan, kemudian menurun ketelah mencapai usia matang (dewasa).
Kecepatan laju respirasi dapat dilakukan dengan penambahan laju pemompaan pada botol
sehingga dapat meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah.
Penambahan Indikator fenolftalein pada percobaan ini yaitu untuk mendeteksi
kandungan dari CO2 pada kecambah segar dan mati. Dalam percobaan ini, sebelum air kapur
(bersifat basa) dalam gelas 1 dipompa sebanyak 15 kali. Perubahan warna yang
ditunjukkan pada tumbuhan mati warnanya berubah menjadi merah muda, sedangkan
pada kecambah segar warnanya berubah menjadi pink keunguan, hal ini menunjukkan
tumbuhan segar dapat melakukan respirasi lebih baik sehingga kandungan CO2 yang
dihasilkan lebih banyak.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan kecambah hidup
menghasilkan CO2 yang ditandai dengan warna air kapur yang sangat keruh pada botol hasil
proses respirasi dan perubahan warna menjadi ungu, sedangkan tumbuhan kecambah mati
tidak menghasilkan CO2 yang ditandai dengan warna air kapur yang agak keruh pada botol
hasil proses respirasi dan perubahan warna menjadi merah muda. Penambahan laju
pemompaan pada botol dapat meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah
Indikator PP dapat merubah warna merah muda pada air kapur yang bersifat basa
menjadi keruh (sudah tidak bersifat basa lagi) karena pada tanaman kecambah segar setelah
perlakuan mengalami respirasi menghasilkan kadar CO2. Sebaliknya pada kelompok
tumbuhan mati (kecambah mati) botol yang berisi air kapur jernih setelah ditetesi dengan
laurtan PP warnanya tetap menjadi merah muda, hal ini membuktikan bahwa tanaman
kecambah mati tidak menghasilkan kadar CO2 atau tidak mengalami respirasi sehingga air
kapur tetap bersifat basa.

B. Saran
Pada percobaan ini terdapat kekurangan, dimana kecambah mati ketika ditambahkan
indikator PP menunjukkan perubahan warna, namun warna pada kecambah segar lebih
pekat. Pengamat belum menemukan teori yang menyatakan bahwa kecambah yang mati
masih terdapat kandungan CO2 meski sedikit.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell dan Reece. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Krisdianto, dkk. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Banjarbaru: FMIPA


UniversitasLambung Mangkurat.

Suyitno. 2007. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta: FMIPA UNY.
LAMPIRAN
Kelompok 1
LEMBAR KERJA MAHASISWA

APAKAH TUMBUHAN BERNAFAS?

KEGIATAN
PERCOBAAN

Membuktikan pembentukan CO2 dalam proses


respirasi pada tumbuhan (kecambah)

APA YANG
PERLU
DIPERSIAPKAN?
Alat dan bahan :
c. Alat
6. 10 botol plastik
7. Selang plastik kecil (d=0,5 cm)
8. Cutter
9. Erlenmeyer
10. Pipet tetes
d. Bahan
d. Larutan kapur
e. Kecambah umur 2-3 hari
f. Indikator PP

Tumbuhan memiliki ciri makhluk hidup sebagai proses kehidupan yaitu bernafas
(respirasi). Respirasi yaitu proses masuknya oksigen dan keluarnya karbondioksida
sebagai hasil proses respirasi. Respirasi salah satu proses metabolisme primer yang
merupakan proses esensial bagi kehidupan tumbuhan. Proses respirasi
mengeluarkan energi kimia Adenosin trifosfat (ATP) sebagai penggerak respirasi.
Sel pada tumbuhan menggunakan respirasi seluler sebagai alat untuk mengubah
energi tersimpan menjadi bahan kimia yang dikonsumsi oleh sel individual. Pada
praktikum ini kita akan mengidentifikasi hasil dari proses respirasi pada tumbuhan.
EXPLORATION

CARA KERJA

PERCOBAAN 1
10. Siapkan dua (2) set rangkaian alat percobaan seperti gambar berikut.

11. Isilah botol 1, 2 dan 4 pada kedua rangkaian alat itu dengan air kapur
12. Untuk perlakuan: penuhilah botol 3 dengan kecambah segar Untuk kontrol : penuhilah
botol 3 dengan kecambah mati
13. Tutuplah dengan rapat semua botol, kemudian pasanglah pompa pada botol 1 seperti
gambar.
14. Pompakan udara 15 kali sehingga udara bergerak dari botol 1 ke arah botol 4
15. Biarkan percobaan itu selama 20 menit
16. Amati warna air kapur pada botol 1, 2 pada perlakuan dan kontrol
17. Bandingkan warna air kapur pada botol 4 antara perlakuan dan kontrol
18. Catat hasil pengamatanmu !

PERCOBAAN 2
Lakukan langkah percobaan 1 (langkah 1-5)
5. Menuangkan sampel air (botol 4) tersebut sebanyak 100 ml ke dalam Erlenmeyer.
6. Menuangkan larutan PP sebanyak 5 tetes ke dalam Erlenmeyer
7. Mengamati perubahan warna pada sampel air tersebut pada Erlenmeyer, bila warna
merah muda berarti mengandung CO2
8. Apabila sampel air belum menunjukan warna merah muda, ditambah ulangi cara
tersebut sampai 3 kali.

*) bagan di halaman berikutnya


Dimasukkan
Erlenmeyer
100ml

Ditetesi
PP 5 tetes

Pink Selain pink

Dititrasi
NaOH

TABEL PENGAMATAN
PERCOBAAN 1
WARNA AIR KAPUR
PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 + ++
BOTOL 4 + ++++
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + +
BOTOL 4 + ++

*) + = jernih
++ = agak keruh
+++ = keruh
++++ = sangat keruh
TABEL PENGAMATAN
PERCOBAAN 2 (PENAMBAHAN INDIKATOR PP)
WARNA AIR KAPUR
PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 ++ ++
BOTOL 4 ++++ xxx
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + +
BOTOL 4 ++ x

*) + = jernih x =merah muda


++ = agak keruh xx =merah muda keunguan
+++ = keruh xxx =ungu
++++ = sangat keruh

ANALISIS DATA

1. Berdasarkan warna yang ditunjukkan pada percobaan tersebut, kaitkan


hubungan antara tumbuhan hidup dan tak hidup dengan kadar CO 2 yang
dihasilkan pada proses respirasi!
Pada eksperimen di atas, jelas ditunjukkan bahwa tumbuhan hidup (kecambah pada
kelompok perlakuan) dapat menghasilkan CO2 dalam proses respirasi yang
dilakukan dengan pemompaan botol, sedangkan tumbuhan tak hidup (kecambah
pada kelompok kontrol) CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi tidak dapat
menghasilkan CO2 dalam proses respirasi yang dilakukan dengan pemompaan botol.
2. Berdasarkan percobaan tersebut, prediksikan apakah dengan menambah laju
pemompaan dapat meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi tumbuhan
kecambah!
Ya, penambahan laju pemompaan pada botol dapat meningkatkan kadar CO2 dalam
proses respirasi kecambah. Hal ini karena pemompaan diilustrasikan sebagai proses
respirasi yang dilakukan pada tumbuhan kecambah. Semakin banyak dan cepat laju
pemompaan yang dilakukan maka akan meningkatkan kadar CO2 dalam proses
respirasi kecambah, dan sebaliknya semakin sedikit dan lambat laju pemompaan
yang dilakukan maka tidak akan meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi
kecambah.
Kelompok 2

LEMBAR KERJA MAHASISWA

APAKAH TUMBUHAN BERNAFAS?


Kelompok : 2

KEGIATAN
PERCOBAAN

Membuktikan pembentukan CO2 dalam proses


respirasi pada tumbuhan (kecambah)

APA YANG
PERLU
DIPERSIAPKAN?
Alat dan bahan :
a. Alat
1. 10 botol plastik
2. Selang plastik kecil (d=0,5 cm)
3. Cutter
4. Erlenmeyer
5. Pipet tetes
b. Bahan
a. Larutan kapur
b. Kecambah umur 2-3 hari
c. Indikator PP

Tumbuhan memiliki ciri makhluk hidup sebagai proses kehidupan yaitu bernafas
(respirasi). Respirasi yaitu proses masuknya oksigen dan keluarnya karbondioksida
sebagai hasil proses respirasi. Respirasi salah satu proses metabolisme primer yang
merupakan proses esensial bagi kehidupan tumbuhan. Proses respirasi
mengeluarkan energi kimia Adenosin trifosfat (ATP) sebagai penggerak respirasi.
Sel pada tumbuhan menggunakan respirasi seluler sebagai alat untuk mengubah
energi tersimpan menjadi bahan kimia yang dikonsumsi oleh sel individual. Pada
praktikum ini kita akan mengidentifikasi hasil dari proses respirasi pada tumbuhan.
EXPLORATION

CARA KERJA

PERCOBAAN 1
1. Siapkan dua (2) set rangkaian alat percobaan seperti gambar berikut.

2. Isilah botol 1, 2 dan 4 pada kedua rangkaian alat itu dengan air kapur
3. Untuk perlakuan: penuhilah botol 3 dengan kecambah segar Untuk kontrol : penuhilah
botol 3 dengan kecambah mati
4. Tutuplah dengan rapat semua botol, kemudian pasanglah pompa pada botol 1 seperti
gambar.
5. Pompakan udara 15 kali sehingga udara bergerak dari botol 1 ke arah botol 4
6. Biarkan percobaan itu selama 20 menit
7. Amati warna air kapur pada botol 1, 2 pada perlakuan dan kontrol
8. Bandingkan warna air kapur pada botol 4 antara perlakuan dan kontrol
9. Catat hasil pengamatanmu !

PERCOBAAN 2
Lakukan langkah percobaan 1 (langkah 1-5)
1. Menuangkan sampel air (botol 4) tersebut sebanyak 100 ml ke dalam Erlenmeyer.
2. Menuangkan larutan PP sebanyak 5 tetes ke dalam Erlenmeyer
3. Mengamati perubahan warna pada sampel air tersebut pada Erlenmeyer, bila warna
merah muda berarti mengandung CO2
4. Apabila sampel air belum menunjukan warna merah muda, ditambah ulangi cara
tersebut sampai 3 kali.

*) bagan di halaman berikutnya


Dimasukkan
Erlenmeyer
100ml

Ditetesi
PP 5 tetes

Pink Selain pink

Dititrasi
NaOH

TABEL PENGAMATAN
PERCOBAAN 1

WARNA AIR KAPUR


PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 + ++
BOTOL 4 + +++
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + +
BOTOL 4 + +

*) + = jernih
++ = agak keruh
+++ = keruh
++++ = sangat keruh
TABEL PENGAMATAN
PERCOBAAN 2 (PENAMBAHAN INDIKATOR PP)

WARNA AIR KAPUR


PERCOBAAN
SEBELUM SESUDAH
PERLAKUAN
BOTOL 1 DAN 2 ++ x
BOTOL 4 +++ ++
KONTROL
BOTOL 1 DAN 2 + xx
BOTOL 4 ++ x
*) + = jernih x =merah muda
++ = agak keruh xx =merah muda keunguan
+++ = keruh xxx =ungu
++++ = sangat keruh
ANALISIS DATA

1. Berdasarkan warna yang ditunjukkan pada percobaan tersebut, kaitkan hubungan antara
tumbuhan hidup dan tak hidup dengan kadar CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi!
Berdasarkan percobaan 1 dapat diamati bahwa tumbuhan hidup (kecambah segar) setelah perlakuan
percobaan respirasi menghasilkan perbedaan kadar CO2, hal ini ditandai dengan perubahan botol air
kapur pada kelompok tumbuhan hidup (kecambah segar) yang semula jernih menjadi agak keruh dan
keruh, semakin banyak CO2 maka air kapur jernih semakin keruh. Sedangkan botol air kapur pada
kelompok tumbuhan hidup (kecambah mati) yang semula jernih tidak ada perubahan warna, hal ini
membuktikan kecambah mati tidak menghasilkan kadar CO2 karena tidak mengalami respirasi.
Pada percobaan 2 botol yang berisi air kapur agak keruh dan keruh hasil perlakuan pada percobaan 1
ditetesi larutan erlemeyer mengalami perubahan warna dari yang semula merah muda menjadi agak
keruh, hal ini membuktikan bahwa larutan indikator PP dapat merubah warna merah muda pada air
kapur yang bersifat basa menjadi keruh (sudah tidak bersifat basa lagi) karena pada tanaman
kecambah segar setelah perlakuan mengalami respirasi menghasilkan kadar CO2. Sebaliknya pada
kelompok tumbuhan mati (kecambah mati) botol yang berisi air kapur jernih setelah ditetesi dengan
laurtan PP warnanya tetap menjadi merah muda atau merah muda keunguan, hal ini membuktikan
bahwa tanaman kecambah mati tidak menghasilkan kadar CO2 atau tidak mengalami respirasi
sehingga air kapur tetap bersifat basa.

2. Berdasarkan percobaan tersebut, prediksikan apakah dengan menambah laju pemompaan


dapat meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi tumbuhan kecambah!
Ya, penambahan laju pemompaan pada botol dapat meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi
kecambah. Hal ini karena pemompaan diilustrasikan sebagai proses respirasi yang dilakukan pada
tumbuhan kecambah. Semakin banyak dan cepat laju pemompaan yang dilakukan maka akan
meningkatkan kadar CO2 dalam proses respirasi kecambah, dan sebaliknya semakin sedikit dan
lambat laju pemompaan yang dilakukan maka tidak akan meningkatkan kadar CO2 dalam proses
respirasi kecambah.
Dokumentasi

Percobaan Kandungan Kadar CO2 (Segar)

Kandungan Kadar CO2 (Mati) Penambahan indikator PP