Anda di halaman 1dari 9

RANCANG BANGUN ALAT PENDETEKSI KADAR BORAKS PADA MAKANAN MENGGUNAKAN SENSOR

WARNA TCS3200 BERBASIS ARDUINO UNO R3.


Iwanto1), Dr. Dedi Suryadi2), Hendro Priyatman3)
Jurusan Teknik Elektro,Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
iwansnipes99@gmail.com1), ddysuryadi@gmail.com2), Priyatmanhendro@roketmail.com3)

ABSTRAK

Makanan jajanan saat ini sebagian besar menggunakan bahan pengawet berbahaya, bahan pengawet tersebut yaitu
Boraks. Pedagang menggunakan bahan kimia tersebut dengan alasan agar makanan menjadi lebih tahan lama, padahal nantinya
akan dikonsumsi oleh manusia. Namun karena kurang pengetahuan masyarakat tentang makanan yang mengandung bahan
kimia berbahaya. Maka dari itu dirancang sebuah alat otomatis berbasis mikrokontroler Arduino Uno R3. Sistem yang berbasis
mikrokontroler Arduino Uno R3 ini dapat menguji makanan dengan praktis dan efektif yang menunjukan kuantitatif, karena
tidak memakan waktu yang lama untuk melihat hasilnya. Sensor warna TCS3200 digunakan untuk mendeteksi sampel makanan
yang mengandung Boraks dicampur dengan perahan air Kunyit sesuai takaran. Kemudian sensor akan mendeteksi warna yang
berubah setelah semuanya sudah bereaksi, dan alarm buzzer akan berbunyi bila hasilnya positif mengandung Boraks. Hasil
pengujian akan ditampilkan pada layar LCD 2x16, dimana keluaran berupa deteksi boraks dan persentase hasilnya atau bebas
boraks (DETEKSI BORAKS, %, BEBAS BORAKS).

Kata kunci : Boraks, Arduino Uno R3, Sensor Warna TCS3200, Buzzer, LCD2x16

tidak berakibat buruk secara langsung, tetapi boraks akan


1. Latar Belakang
menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh
Saat ini pengunaan bahan tambahan makanan yang manusia secara kumulatif. Larangan penggunaan boraks juga
dilarang masih sering ditemukan, bahkan semakin meningkat diperkuat dengan adanya Permenkes RI No
terutama pada pengusaha pangan yang umumnya dihasilkan 235/Menkes/VI/1984 tentang bahan tambahan makanan,
oleh industri kecil atau rumah tangga. Makanan yang baik bahwa natrium tetraborate yang lebih dikenal dengan nama
(sesuai standar POM) untuk manusia adalah yang memenuhi boraks digolongkan dalam bahan makanan yang dilarang
persyaratan kesehatan dan kebersihan. Di indonesia pada digunakan dalam makanan, tetapi pada kenyataannya masih
umumnya, setiap makanan dapat dengan leluasa beredar, dan banyak bentuk penyalah gunaan dari zat kimia tersebut
dijual tanpa harus terlebih dahulu memalui BPOM kesehatan (Subiyakto, 1991).
lebih dari 70% makanan yang beredar dan dijual dihasilkan 2. Tinjauan Pustaka dan Teori Deteksi Kadar Boraks
oleh produsen yang masih jauh dari memenuhi persyaratan Pada Makanan
kesehatan dan layak konsumsi masalah yang sering kita Rancang bangun alat pendeteksi boraks yang terkandung
hadapi dari waktu ke waktu adalah masalah dibidang pada tahu dan bakso ikan, sudah dilakukan
keselamatan yaitu keracunan makanan (Asterina, dkk. 2008).
pada beberapa penelitian sebelumnya, komponen yang
Salah satu jenis pengawetan makanan saat ini yang digunakan yang mana cara kerja sistem juga berbeda-beda.
banyak digunakan yaitu boraks. Boraks banyak sekali Rancang bangun alat deteksi bakso daging
digunakan dalam industri seperti pengawetan makanan dalam terkontaminasi boraks dengan menggunakan sensor cahaya
pembuatan mie basah, lontong, ketupat, tahu, bakso, sosis, TSL230 berbasis mikrokontroler atmega8 (Tria Yuli
bahkan dalam pembuatan kecap. Padahal zak kimia ini Andariska 2013). Pada penelitian ini peneliti masih
merupakan bahan beracun dan bahan berbahaya bagi manusia menggunakan sensor TSL230 yang berfungsi sebagai detektor
sehingga sangat dilarang digunakan sebagai bahan baku boraks menggunakan mikrokontroler ATMega8 yang
makanan atau additive. berfungsi sebagai pengontrol sistem dari sinyal masukan dan
keluarannya, dan pada penelitian ini masih menggunakan
Boraks adalah senyawa kimia turunan dari logam berat LED dan buzzer sebagai indikator boraks, belum
boron (B). Boraks merupakan anti septik dan pembunuh menggunakan LCD sebagai penampil.
kuman. Bahan ini banyak digunakan sebagai bahan anti Rancang bangun alat pendeteksi boraks pada makanan
jamur, pengawet kayu, dan anti septik pada kosmetik, boraks menggunakan sensor warna berbasis mikrokontroler (semi
biasa disebut dengan nama natrium tetraborat (NaB4O7 10 Utari 2015) pada penelitian ini membahas tentang penelitian
H2O), Jika larut dalam air akan menjadi hidroksida dan asam yang hampir sama, dan pada perancagan ini menggunakan
borat. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks ATMega8 sebagai pengontrol sistem utamanya.
Perancagan dan pembuatan alat pendeteksi warna dilakukan secara bertahap yaitu mendeteksi frekuensi warna
menggunakan sensor warna TCS3200 pada proses produksi dasar secara simultan.
kaleng berbasis arduino (Dede Sutisna dan Eko Ihsanto 2011)
Pada penelitian tersebut membahas alat pendeteksi dengan 3.2. Perancangan Perangkap Keras dan Lunak
sensor yang hampir sama yaitu sama-sama menggunakan Perancagan perangkap keras terdiri dari bagian
sensor warna TCS3200 dan di kendalikan dengan arduino uno rangkaian sensor warna TCS3200, rangkaian Liquit Crystal
R3, tapi dengan prinsip penelitian yang berbeda dengan Display (LCD), dan rangkaian buzzer sebagai indikator.
mendeteksiproses produksi kaleng, apa bila ada terjadi
kendala kaleng tercampur dengan desain yang berbeda, maka
alat pendeteksi akan mengimformasikan melalui alaram
menandakan adanya warna kaleng yang bermasalah. Dan
pada kesimpulan alat ini masih dipengaruhi pada cahaya luar
yang dapat mempengaruhi kondisi ke akuratan pembacaan
sensor maka diperlukan penutup warna hitam untuk
menghalagi cahaya luar pada sensor. Dalam satu kaleng tidak
memiliki nilai data RGB yang sama. Tingkat keakuratan
pembacaan warna ditentukan oleh vaktor teknis yaitu posisi Gambar.3.2 Rangkain Deteksi Kadar Boraks
penempatan sensor tidak berubah dan harus pada kondisi Gambar 3.2 merupakan rangkain perancagan sistem kadar
cahaya yang stabil. boraks pada makanan. Sistem yang dirancang terdiri dari
board Arduino Uno R3, sensor pendeteksi warna TCS3200,
Secara umum penelitian yang telah dipaparkan tersebut Buzzer,dan LCD. Pada Gambar dapat dilihat antar muka
digunakan untuk mendeteksi bahan kimia pada macam- sistem secara keseluruhan serta koneksi pin yang digunakan.
macam makanan, namun sistem yang dibuat masih
mendeteksi boraks, belum melebar pada penelitian lainnya, 3.3 Perancangan Pendeteksi Boraks Pada Makanan
dan penulis membuat pengembangan penelitian dengan
Rancang bangun alat pendeteksi kadar boraks pada tahu dan Dalam hal ini, tugas akhir yang akan dirancang adalah sistem
bakso ikan menggunakan sensor warna TCS3200 berbasis pendeteksi kadar boraks. Secara umum sistem pendeteksi
Arduino Uno R3. kadar boraks dapat dilihat pada Gambar 3.3
Catu Daya
3. Rancang Bangun Alat Deteksi Kadar Boraks Pada
Makanan Menggunakan Sensor Warna TCS3200
Berbasis Arduino Uno R3 Warna
Perancagan sistem pendeteksi boraks yang dibuat terdiri Makanan + LCD 2x16
dari beberapa bagian, bagian mikrokontroler sensor warna, Kunyit
alarm, serta bagian penampil. Board
Arduino Uno
3.1. Perancangan Bahan dan Alat R3
Sistem alat pendeteksi boraks pada makanan ini Sensor
menggunakan sistem kendali lupterbuka (open loop) karena Buzzer
TCS3200
karena output tidak mempengaruhi input. Input yang masuk
adalah warna dari sampel makanan yang dibaca oleh sensor Gambar 3.3 Diagram Blok Deteksi Boraks
warna TCS3200 sudah berbentuk data digital dan diproses
oleh Arduino Mega output tersebut berupa tulisan atau suara
sesuai dengan sampel yang diidentifikasi. Untuk diagram blok Alur kerja sistem dimulai dari pembacaan frekuensi
sistem alat pendeteksi boraks ini dapat dilihat pada Gambar warna oleh sensor TCS3200. Frekuensi warna yang dibaca
3.1. oleh sensor warna akan diproses oleh arduino sebagai
pengendali. Pada saat mendeteksi warna coklat maka arduino
Frekuensi Persentase akan menampilkan bahwa makanan tersebut mengandung
Warna Makanan LCD dan Boraks boraks dan persentase kandungan boraks pada LCD 2x16
Arduino Uno TCS3200 sebagai penampil serta mengaktifkan buzzer. Sebaliknya
Buzzer
apabila warna yang terdeteksi selain dari warna coklat, maka
arduino akan menampilkan bahwa makanan tersebut bebas
Gambar 3.1. Diagram Blok Perancagan Perangkat Keras dari kandungan boraks. Warna yang akan dibaca merupakan
warna hasil campuran antara objek (makanan yang akan diuji)
Alat ini dirancang untuk mengidentifikasi boraks dengan kunyit. Data dan pengujian yang akan diukur pada
menggunakan sensor warna TCS3200 sebagai sensor penelitian ini meliputi tegangan keluaran catu daya (adaptor),
pembaca warna cara kerja sensor warna TCS3200 ini nilai RGB dari keluaran sensor warna TCS3200, serta
pengukuran dan pengujian alat secara keseluruhan. Setelah Warna yang akan dideteksi oleh sensor warna TCS3200
melakukan pengujian dan pengukuran selanjutnya melakukan adalah warna dari sampel makanan. Hasil pengukuran nilai
analisis data hasil pengujian pengukuran. Tahap akhir dari RGB pada masing-masing sampel makanan akan ditampilkan
perancangan sistem pendeteksi kadar boraks adalah pada tampilan serial monitor editor Arduino IDE
perancangan dan pembuatan casing dan tata letak posisi menggunakan Laptop (notebook).
rangkaian serta sensor pembacaan pada casing, sehingga
terlihat lebih rapi dan minimalis. Alur diagram kerja sistem 4.2 Pengujian Nilai RGB Pada Tiap Sampel
pendeteksi kadar boraks dapat dilihat pada gambar 3.5. 4.2.1 Data Hasil Pengujian Nilai RGB Pada Sampel
Mulai Boraks

Inisialisasi SensorTCS3200,
Arduino Uno R3, LCD, dan
Tabel 4.1 Pembacaan nilai RGB sampel boraks tetes 1-10
Buzzer BORAKS (1) BORAKS (2) BORAKS (3) BORAKS (4) BORAKS (5)
No R G B R G B R G B R G B R G B
Sensor TCS3200 Membaca 1 40 92 24 46 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Warna
2 40 92 24 46 99 26 55 114 31 56 115 31 58 118 32
3 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 58 118 32
Warna Terbaca?
Tidak
4 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
5 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Ya
6 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Hasil Warna yang Terbaca
Sensor TCS3200
7 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
8 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
9 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Ya Tidak 10 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Warna Coklat Terbaca?
11 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
12 40 92 24 45 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Menampilkan Persentase
Kandungan Boraks pada LCD 13 40 92 24 46 99 26 55 114 31 56 115 31 59 118 32
Menampilkan Bebas Boraks
Pada LCD
BORAKS (6) BORAKS (7) BORAKS (8) BORAKS (9) BORAKS (10)
Mengaktifkan Buzzer
No R G B R G B R G B R G B R G B
1 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
2 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
Selesai
3 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
Gambar 3.3 alur diagram kerja sistem 4 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
5 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
4. Pengujian Dan Analisis 6 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
4.1 Rangkaian Pengujian Sensor Warna TCS3200 7 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
Pengujian ini bertujuan untuk melihat nilai RGB pada 8 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
masing-masing sampel makanan yang terukur oleh sensor 9 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
warna TCS3200. RGB merupakan nilai dari frekuensi warna 10 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
merah (Red), warna hijau (Green) dan warna biru (Blue). 11 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
Besarnya nilai RGB yang terukur pada satu objek berbeda 12 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
dengan nilai RGB yang terukur pada objek yang lainnya.
13 64 125 34 60 121 33 63 123 34 68 130 36 70 130 36
Nilai yang didapat ini juga dipengaruhi pada intensitas cahaya
yang terdapat pada tempat sensor TCS3200 mendeteksi
4.2.2 Analisis Data Hasil Pengujian dan Pengukuran Nilai
warna.
RGB Pada Sampel Boraks
Pengujian sensor warna TCS3200 dilakukan untuk Tabel 4.1 merupakan hasil pengujian sampel boraks
mengetahui apakah sistem dan program yang dirancang pada setiap tetes dari tetes 1-10. Dapat dilihat pada tabel
berjalan dengan baik atau tidak. Pengujian dilakukan untuk diatas selama 10 kali pengambilan nilai RGB. Frekuensi nilai
memperoleh nilai referensi RGB dari masing-masing warna R (Boraks) yang terukur dari tetes 1-10 adalah 40, 45, 55, 56,
sampel boraks. Referensi dari nilai RGB ini yang dijadikan 58, 64, 60, 63, 68, 70, nilai frekuensi G (Boraks) yang terukur
acuan pada program Arduino dalam memfilter warna sampel adalah 92, 99, 114, 115, 118, 125, 121, 123, 130, 130, dan
boraks yang digunakan. Rangkaian sensor dan program yang nilai frekuensi B (Boraks) yang terukur adalah 24, 26, 31, 31,
dirancang harus dapat bekerja dengan baik agar sistem yang 32, 34, 33, 34, 36, 36. Dari hasil pengukuran dapat dilihat
bahwa hasil pengujian cenderung mendekati, namun beberapa
dirancang dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan.
hasil pengujian nilai RGB yang berbeda, dan ada juga yang
sama. Perbedaan hasil pengujian nilai RGB pada setiap tetes,
dapat disebabkan oleh intensitas cahaya luar yang terkena sama walaupun tetessannya berbeda. Perbedaan hasil
kesensor warna TCS3200 dan objek (sampel tetes boraks) pengujian nilai RGB pada setiap tetes, dapat disebabkan oleh
tersebut yang kurang merata. Selain itu jarak antara sensor intensitas cahaya luar yang terkena kesensor warna TCS3200
warna TCS3200 dengan objek (sampel tetes boraks) juga dan objek (sampel tetes boraks) yang kurang merata. Selain
mempengaruhi nilai RGB yang terukur. Semakin jauh jarak itu jarak antara sensor warna TCS3200 dengan objek (sampel
sensor warna TCS3200 dengan satu sampel, maka semakin tetes boraks) juga mempengaruhi nilai RGB yang terukur.
tinggi/rendah pula nilai RGB yang dihasilkan. Semakin jauh jarak sensor warna TCS3200 dengan satu
sampel, maka semakin tinggi/rendah pula nilai RGB yang
4.2.3 Data Hasil Pengujian Nilai RGB Pada Sampel terukur.
Boraks+Bakso 4.2.5 Data Hasil Pengujian Nilai RGB Pada Sampel
Boraks+Tahu
Tabel 4.2 Pembacaan nilai RGBsampel boraks+bakso tetes 1-
10 Tabel 4.3 Pembacaan nilai RGB sampel boraks+tahu tetes1-
BORAKS(1)+BAKSO BORAKS(2)+BAKSO BORAKS(3)+BAKSO BORAKS(4)+BAKSO BORAKS(5)+BAKSO BORAKS(1)+TAHU BORAKS(2)+TAHU BORAKS(3)+TAHU BORAKS(4)+TAHU BORAKS(5)+TAHU
No R G B R G B R G B R G B R G B No R G B R G B R G B R G B R G B
1 40 90 24 59 121 32 62 126 34 69 132 36 61 123 33 1 41 94 24 46 103 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32
2 40 94 24 59 120 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 2 40 94 24 47 103 27 56 117 31 57 116 31 60 120 32
3 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 3 41 94 24 47 102 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32
4 40 94 24 58 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 4 41 94 24 47 103 27 56 117 31 57 116 31 60 120 32
5 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 5 41 94 24 47 103 27 57 117 31 57 116 31 60 120 32
6 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 6 41 94 24 47 103 27 57 116 31 57 116 31 60 120 32
7 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 7 40 94 24 47 103 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32
8 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 8 41 94 24 47 103 27 57 116 31 57 116 31 60 120 32
9 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 9 41 94 24 47 103 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32
10 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 10 41 94 24 47 103 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32
11 41 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 11 41 94 24 47 103 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32
12 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 12 40 94 24 47 103 27 56 117 31 57 116 31 60 120 32
13 40 94 24 59 121 32 63 125 34 68 132 36 61 122 33 10 13 41 94 24 47 103 27 56 116 31 57 116 31 60 120 32

BORAKS(6)+BAKSO BORAKS(7)+BAKSO BORAKS(8)+BAKSO BORAKS(9)+BAKSO BORAKS(10)+BAKSO


BORAKS(6)+TAHU BORAKS(7)+TAHU BORAKS(8)+TAHU BORAKS(9)+TAHU BORAKS(10)+TAHU
No R G B R G B R G B R G B R G B
1 64 126 35 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 No R G B R G B R G B R G B R G B
2 64 126 35 68 131 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 1 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 37
3 65 126 28 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 2 64 125 34 60 122 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
4 64 126 35 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 3 64 125 34 60 122 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
5 64 126 34 68 131 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 4 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
6 64 126 34 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38
5 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
7 64 126 35 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38
6 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 37
8 64 126 35 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38
9 64 126 34 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 7 64 125 34 60 123 33 63 124 34 68 130 35 70 131 36
10 64 126 35 68 130 36 71 131 36 63 118 33 73 137 38 8 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
11 64 126 35 68 130 36 71 131 36 63 118 33 73 137 38 9 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
12 64 126 35 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 10 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
13 64 126 35 68 130 36 71 131 37 63 118 33 73 137 38 11 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
12 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
4.2.4 Analisis Data Hasil Pengujian dan Pengukuran Nilai 13 64 125 34 60 123 33 63 124 34 67 130 35 70 131 36
RGB Pada Sampel Boraks+Bakso 4.2.6 Analisis Data Hasil Pengujian dan Pengukuran Nilai
RGB Pada Sampel Boraks+Tahu
Dari Tabel 4.2 diatas merupakan hasil pengujian sampel
boraks+bakso pada setiap tetes dari tetes 1-10. Dapat dilihat Dari Tabel 4.3 diatas merupakan hasil pengujian sampel
perubahan nilai RGB yang dihasilkan pada tabel diatas selama (Boraks+Tahu) pada setiap tetes dari tetes 1-10 dapat dilihat
10 kali percobaan pengambilan nilai RGB. Frekuensi nilai R perubahan angka yang dihasilkan dari tiap tetes sampel
(Boraks+Bakso) yang terukur dari tetes 1-10 adalah 40, 59, boraks+tahu pada tabel diatas selama 10 kali percobaan
63, 69, 61, 65, 68, 71, 63, 73, nilai frekuensi G pengambilan nilai RGB. Frekuensi nilai R (Boraks+Tahu)
(Boraks+Bakso) yang terukur adalah 94, 121, 125, 132, 122, yang terukur dari tetes 1-10 adalah 41, 47, 56, 57, 59, 64, 60,
126, 130, 131, 118, 137, dan nilai frekuensi B 63, 67, 70, nilai frekuensi G (Boraks+Tahu) yang terukur
(Boraks+Bakso) yang terukur adalah 24, 32, 34, 36, 33, 35, adalah 94, 108, 117, 117, 117, 125, 122, 124, 130, 131, dan
36, 36, 33, 38. Dari hasil pengukuran dapat dilihat bahwa nilai frekuensi B (Boraks+Tahu) yang terukur adalah 24, 27,
hasil pengujian cenderung mendekati, beberapa hasil 31, 31, 32, 34, 33, 34, 35, 36. Dari hasil pengukuran dapat
pengujian nilai RGB yang berbeda, dan namun ada juga yang dilihat bahwa hasil pengujian cenderung mendekati, beberapa
hasil pengujian nilai RGB yang berbeda, dan namun ada juga Pada Gambar 4.2 diatas merupakan data hasil pengujian
yang sama walaupun tetesnya berbeda. Perbedaan hasil pada sampel boraks tetes pertama menampilkan bahwa sampel
pengujian nilai RGB pada setiap tetes, dapat disebabkan oleh tersebut mengandung boraks, dengan nilai persentase (10%),
intensitas cahaya luar yang terkena ke sensor warna TCS3200 data yang ditampilkan adalah data yang dihasilkan dari sampel
dan objek (sampel tetes boraks) tersebut. Selain itu jarak boraks 1tetes dengan selang waktu 15 detik. Selanjutnya
antara sensor warna TCS3200 dengan objek (sampel tetes pengujian akan dilakukan pada sampel berikut, hasil tampilan
boraks) juga mempengaruhi nilai RGB yang terukur. Semakin dapat dilihat pada Gambar 4.3.
jauh jarak sensor warna TCS3200 dengan satu sampel, maka
semakin tinggi/rendah pula nilai RGB yang terukur. 4.3.2 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 2tetes

Analisis hasil pengujian dan pengukuran sensor warna


TCS3200 terhadap semua sampel (Boraks murni,
Boraks+Bakso Ikan, Boraks+Tahu), nilai RGB (Boraks
murni, Boraks+Bakso Ikan, Boraks+Tahu) yang terukur
adalah 40,40,41, nilai frekuensi R, nilai frekuensi G 92, 94,
94, dan nilai frekuensi B 24, 24, 24, nilai yang dihasilkan
tersebut dari hasil pengukuran sampel (Boraks murni,
Boraks+Bakso ikan, Boraks+Tahu) pada tetes sampel yg
pertama dapat dilihat bahwa hasil pengujian cenderung
mendekati, namun ada beberapa hasil pengujian nilai RGB Gambar 4.3 pembacaan warna sampel tisu 2tetes
yang berbeda. Pada gambar 4.3 diatas merupakan data hasil pengujian
pada sampel boraks tetes ke 2 menampilkan bahwa sampel
4.3 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks tersebut mengandung boraks, dengan nilai persentase (20%),
Rangkaian sensor yang diuji adalah sensor warna data yang ditampilkan adalah data yang dihasilkan dari
TCS3200 pada tiap sampel makanan yang telah disediakan. sampel boraks pada selang waktu 15 detik. Selanjutnya
Rangkaian sensor warna TCS3200 yang dirancang harus pengujian akan dilakukan pada sampel 3 tetes, hasil tampilan
dapat bekerja dengan baik. Agar sistem yang dirancang dapat dapat dilihat pada Gambar 4.4.
bekerja sesuai dengan yang diinginkan, berikut merupakan
hasil pengujian pada LCD 2x16. Hasil tampilan dapat dilihat 4.3.3 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 3tetes
pada Gambar 4.3.

Gambar 4.1 tampilan dari pembacaan warna sampel


Pengujian pada tampilan gambar LCD 2x16 diatas
menampilkan bahwa sampel tersebut tidak mengandung Gambar 4.4 pembacaan warna sampel tisu 3tetes
bahan kimia boraks, dengan nilai persentase (0%). Data yang Pada Gambar 4.4 diatas merupakan data hasil
dihasilkan selama selang waktu 15detik. Selanjutnya pengujian pada sampel boraks tetes ke 3 menampilkan
pengujian akan dilakukan pada sampel lainnya, hasil tampilan bahwa sampel tersebut mengandung boraks, dengan nilai
dapat dilihat pada Gambar 4.2 persentase (30%), data yang ditampilkan adalah data yang
dihasilkan dari sampel boraks pada selang waktu 15 detik.
4.3.1 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 1tetes Selanjutnya pengujian akan dilakukan pada sampel 4 tetes,
hasil tampilan dapat dilihat pada Gambar 4.5.

4.3.4 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 4tetes

Gambar 4.2 pembacaan warna sampel tisu 1tetes


Gambar4.9 pembacaan warna sampel tisu 7tetes

Gambar 4.5 pembacaan warna sampel tisu 4tetes


Pada Gambar 4.5 diatas merupakan data hasil Pada Gambar 4.9 diatas merupakan data hasil
pengujian pada sampel boraks tetes ke 4 menampilkan pengujian pada sampel boraks tetes ke7 menampilkan
bahwa sampel tersebut mengandung boraks, dengan nilai bahwa sampel tersebut mengandung boraks, dengan nilai
persentase (40%), data yang ditampilkan adalah data yang persentase (70%), data yang ditampilkan adalah data yang
dihasilkan dari sampel boraks pada selang waktu 15 detik. dihasilkan dari sampel boraks pada selang waktu 15 detik.
Selanjutnya pengujian akan dilakukan pada sampel 5tetes, Selanjutnya pengujian akan dilakukan pada sampel 8 tetes,
hasil tampilan dapat dilihat pada Gambar 4.6. hasil tampilan dapat dilihat pada Gambar 4.10

4.3.5 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 5tetes 4.3.8 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 8tetes

Gambar4.10 pembacaan warna sampel tisu 8tetes


Gambar 4.6 pembacaan warna sampel tisu 5tetes Pada Gambar 4.10 diatas merupakan data hasil
Pada Gambar 4.6 diatas merupakan data hasil pengujian pada sampel boraks tetes8 menampilkan bahwa
pengujian pada sampel boraks tetes ke 5 menampilkan bahwa sampel tersebut mengandung boraks,dengan nilai persentase
sampel tersebut mengandung boraks, dengan nilai persentase (80%), data yang ditampilkan adalah data yang dihasilkan
(50%), data yang ditampilkan adalah data yang dihasilkan dari sampel boraks pada selang waktu 15detik. Selanjutnya
dari sampel boraks pada selang waktu 15 detik. Selanjutnya pengujian akan dilakukan pada sampel 9 tetes, hasil
pengujian akan dilakukan pada sampel 6 tetes, hasil tampilan tampilan dapat dilihat pada Gambar 4.11
dapat dilihat pada Gambar 4.7
4.3.9 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 9tetes
4.3.6 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 6tetes

Gambar 4.7 pembacaan warna sampel tisu 6tetes Gambar4.11 pembacaan warna sampel tisu 9tetes
Pada Gambar 4.7 diatas merupakan data hasil Pada Gambar 4.11 diatas merupakan data hasil
pengujian pada sampel boraks tetes ke 6 menampilkan bahwa pengujian pada sampel boraks tetes ke9 menampilkan bahwa
sampel tersebut mengandung boraks, dengan nilai persentase sampel tersebut mengandung boraks, dengan nilai persentase
(60%), data yang ditampilkan adalah data yang dihasilkan (90%), data yang ditampilkan adalah data yang dihasilkan
dari sampel boraks pada selang waktu 15 detik. Selanjutnya dari sampel boraks pada selang waktu 15 detik. Selanjutnya
pengujian akan dilakukan pada sampel 7 tetes, hasil tampilan pengujian akan dilakukan pada sampel tetes terahir 10 tetes,
dapat dilihat pada Gambar 4.8. hasil tampilan dapat dilihat pada Gambar 4.12

4.3.7 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks 7tetes


4.3.10 Pengujian Alat Terhadap Sampel Boraks No
sampel
jumlah takaran persentase perubahan
Hasil
10tetes boraks warna (%)
1 Boraks 1 tetes 10% positif
2 tetes 20% positif
3 tetes 30% positif
4 tetes 40% positif
5 tetes 50% positif
6 tetes 60% positif
7 tetes 70% positif
8 tetes 80% positif
9 tetes 90% positif
10 tetes 100% positif
Gambar4.11 pembacaan warna sampel tisu 10tetes 2 Tahu 1 tetes 10% positif
Pada Gambar 4.13 diatas merupakan data hasil pengujian 2 tetes 20% positif
pada sampel boraks tetes ke10 menampilkan bahwa sampel 3 tetes 30% positif
tersebut terdeteksi boraks yang sangat kuat, dengan nilai 4 tetes 40% positif
persentase (100%), yang bila mana tertelan oleh manusia akan 5 tetes 50% positif
menyebabkan kematian. 6 tetes 60% positif
7 tetes 70% positif
4.4 Pengujian Rangkaian Keseluruhan Deteksi Kadar 8 tetes 80% positif
Boraks 9 tetes 90% positif
10 tetes 100% positif
Setelah melakukan pengukuran dan pengujian blok
3 Bakso 1 tetes 10% positif
rangkaian, selanjutnya dilakukan pengujian dan pengukuran 2 tetes 20% positif
rangkaian keseluruhan dari sistem deteksi kadar boraks pada 3 tetes 30% positif
makanan. Data yang akan diuji berupa kinerja sensor Warna 4 tetes 40% positif
TCS3200 terhadap sampel makanan yang telah disiapkan. 5 tetes 50% positif
6 tetes 60% positif
4.4.1 Tujuan Pengujian dan Pengukuran Deteksi Kadar 7 tetes 70% positif
Boraks 8 tetes 80% positif
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui warna 9 tetes 90% positif
10 tetes 100% positif
maksimum yang di respon, kemampuan sensor Warna
TCS3200 mendeteksi atau merespon setiap warna yang 4.4.5 Analisis Hasil Pengujian Rangkaian Secara
terbaca. saat melakukan pengujian secara berulang-ulang. Keseluruhan
Dari tabel di atas dapat terlihat hasil pengujian alat pada
setiap sampel yang telah disiapkan oleh penulis. Data
4.4.2 Rangkaian Pengujian dan Pengukuran Secara
pengujian diambil dari 10 kali percobaan dari masing-masing
Keseluruhan
Pengujian yang akan dilakukan pada rangkaian deteksi sampel dari tetes ke 1-10, dapat terlihat hasil ditabel
kadar boraks pada makanan adalah: Tegangan terukur pada percobaan diatas menunjukan bahwa hasil uji makanan yang
sensor arduino uno, serta respon jarak sensor warna TCS3200 mengandung bahan pengawet (boraks) positif mengandung
untuk mendeteksi sampel makanan, dan kinerja rangkaian boraks dan ada juga sebagian sampel tidak terdetek karena
secara keseluruhan untuk melihat daya tahan alat yang akan di eror dipengaruhi oleh cuaca, cahaya, sudut yang tidak
gunakan beraturan dan jarak sensor ke objek.

Pada pengujian sampel Tahu tetes pertama hasilnya


4.4.3 Prosedur Pengujian dan Pengukuran Secara positif mengandung boraks dengan nilai persentase 10%, pada
Keseluruhan pengujian sampel tetes ke2 tidak terdetek dikarenakan eror
Pengujian rangkaian keseluruhan dilakukan untuk atau pengaruh sensor warna terhadap sampel pengujian, pada
melihat kinerja sistem deteksi kadar boraks pada makanan tetes ke3 hasilnya positif mengandung boraks dengan nilai
yang dirancang. Data pengujian yang diambil berupa kinerja persentase 30%, pada pengujian tetes ke4 positif mengandung
sensor warna TCS3200 dalam merespon warna RGB dan eror boraks dan dengan nilai persentase yang berbeda 20% yang
dalam pembacaan objek atau sampel warna. Pengukuran seharusnya 40% dikarenakan jarak sensor terhadap sampel,
dimulai pada saat awal sensor warna TCS3200 mendeteksi pada tetes ke5 hasilnya positif mengandung boraks dengan
warna pada sampel makanan. nilai persentase 50%, pada tetes ke6 hasilnya positif
mengandung boraks dengan nilai persentase 50% hasilnya
4.4.4 Data Hasil Pengujian dan Pengukuran Secara mendekati nilai persentase seharusnya, pada tetes ke7
Keseluruhan hasilnya positif mengandung boraks dengan nilai persentase
70%, pada tetes ke8 hasilnya positif mengandung boraks
dengan nilai persentase 80%, pada tetes ke9 hasilnya positif
mengandung boraks dengan nilai persentase 90% dan 70%
dikarenakan hasil sampel yang terbaca oleh sensor warna 6. Alat identifikasi makanan yang menggandung boraks
mendekati hasil sampel tetes ke7, dan pada tetes sampel tahu ini sudah bekerja dengan baik berdasarkan hasil dari
yang terahir hasilnya positif mengandung boraks dengan nilai uji coba bab 4. Pada sampel bakso dan tahu dapat
persentase 100%. memperoleh warna yang dihasilkan pada tiap sampel
memiliki keakuratan warna yang berbeda-beda contoh
Pada pengujian sampel Bakso tetes pertama hasilnya sampel tetes 1-10 memiliki ketebalan warna yang
positif mengandung boraks dengan nilai persentase 10%, pada berbeda-beda sehingga alat dapat mengidentifikasi
tetes ke2 hasilnya positif mengandung boraks dengan nilai hasil dengan baik.
persentase 20%, pada tetes ke3 hasilnya positif mengandung 7. Jarak sensor terhadap objek sangat berpengaruh pada
boraks dengan nilai persentase 20% mendekati hasil yang hasil pembacaan RGB oleh sensor warna TCS3200
seharusnya, pada tetes ke4 hasilnya positif mengandung
boraks dengan nilai persentase 60% yang seharusnya 40%, 5.2 Saran
pada tetes ke5 hasilnya positif mengandung boraks dengan Saran untuk pengembangan alat identifikasi makanan
nilai persentase 30% yang seharusnya 50% dikarenakan hasil yang menggandung kadar boraks berbasis Arduino Uno R3
sampel yang terbaca oleh sensor warna, pada tetes ke6 ini adalah :
hasilnya positif mengandung boraks dengan nilai persentase 1. Alat identifkasi makanan yang menggandung kadar
60%, pada tetes ke7 hasilnya positif mengandung boraks boraks berbasis Arduino Uno R3 ini dapat
dengan nilai persentase 50% mendekati hasil yang ditentukan, dikembangkan lebih luas, misalnya dengan cara
pada tetes ke 8 hasilnya positif mengandung boraks dengan menambahkan sensor lain agar lebih akurat.
nilai persentase 70% mendekati hasil yang ditentukan, pada 2. Menambahkan bentuk bahan makanan yang lebih
tetes ke9 tidak terdetek dikarenakan eror atau pengaruh sensor banyak lagi seperti berbentuk bahan cair.
warna terhadap sampel yang mulai redup warnanya, pada 3. Menambahkan pendeteksian bahan kimia lainnya tidak
tetes yang terahir hasilnya positif mengandung boraks dengan hanya pokus pada boraks, contohnya tawas, formalin
nilai persentase 100%. dll.
4. Meminimalis rancangan fisik alat yang dibuat.
Boraks yang digunakan 50% boraks=5gram boraks 5. Menambahkan sumber tenaga yang lebih besar agar alat
kristal, 5gram air putih. Kunyit yang digunakan 15%= bisa bertahan lebih lama dan tidak bergantung pada
10gram kunyit bubuk, 56,2gram etanol. sumber listrik dari PLN.
Air Tahu = 0,1 ml
Air Bakso = 0,1 ml 6. Daftar Pustaka
Kunyit = 0,2 ml Eko Herianto, Ayub Subandi 2015. Rancang bangun alat
1 tetes boraks = 0,03 ml otomatis pendeteksi makanan yang mengandung
bahan pengawet berbahaya berbasis mikrokontroler.
5. PENUTUP Jurusan Teknik Komputer, Unikom Bandung
5.1 Kesimpulan Tri Yuli Andariska 2013. Rancang bangun alat deteksi bakso
Dari hasil pengujian alat identifikasi makanan daging terkontaminasi boraks dengan menggunakan
menggandung boraks berbasis Arduino Uno R3, maka dapat sensor cahaya TSL230 berbasis Mikrokontroler
ditarik kesimpulan sebagai berikut : Atmega8. Universitas Islam Negeri Sunan Kaligaja
1. Deteksi kadar boraks pada makanan berhasil dirancang Yogyakarta
menggunakan Arduino Uno R3 sebagai pengendali Sumi Utari 2015. Rancang bangun alat pendeteksi boraks
utamanya. pada makanan menggunakan sensor warna berbasis
2. Alat Identifikasi makanan menggandung boraks mikrokontroler. Politeknik Negeri Sriwijaya.
memiliki respon input sensor warna berubah–ubah Sri Ratna Sari Wulan 2015. Identifikasi formalin pada bakso
sesuai dengan kondisi warna makanan yang terbaca dari pedagang bakso. Program Studi Kedokteran Hewan
oleh sensor warna TCS3200 dari setiap sampel. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makasar.
3. Sensor pada alat identifikasi makanan mengandung Gunawan, B dan Sudarmaji, A, 2013. Pendeteksian Formalin
boraks ini akan lebih efektif membaca data jika alat Pada Bahan Dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan,
ditempatkan pada tempat yang gelap atau berada Prosiding SNST ke-4, Fakultas Teknik Universitas
didalam task arena sensor warna TCS3200 sangat Wahid Hasyim, Semarang.
sensitif terhadap pengaruh intensitas cahaya luar. Kamaludin, A. 2009. Analisis Kadar Formalin Dalam Bakso
4. Sensor akan stabil membaca warna jika kondisi sensor Dari Produsen Bakso Dibeberapa Kecamatan Di Kodya
warna ditempelkan pada sampel makanan tersebut. Yogyakarta. Program Pascasarjana. Universitas Negri
5. Hasil identifikasi makanan yang menggandung boraks Yogyakarta
dapat terbaca dengan cara menampilkan di LCD2x16, Putri, P. 2011. Identifikasi Boraks Dalam Makanan. Jurusan
ialah pada sampel makanan yang telah dicampurkan Kesehatan Lingkugan Prodi DIII Politeknik Kesehatan
tetesan boraks tiap sampelnya. Kemenkes Semarang
Singih, H, 2013. Uji kandugan formalin pada ikan asin
menggunakan sensor warna, Jurnal ELTEK, Vol 11 No
01, Politeknik Negeri Malang.
Susanti, S. 2010. Penetapan Kadar Formaldehid Pada Tahu
Yang Dijual Di Pasar Ciputat Dengan Metode
Spekrofotometri Uv-Vis Disertai Kolorimetri
Menggunakan Pereaksi Nash. Skripsi Program Studi
Farmasi, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta
Bagus Kurniawan Imron 2015.Rancang bangun alat
pendeteksi kadar formalin dalam makanan. Unikom
Bandung
Syhaban Rangkuti, 2017. Arduino Uno R3. Informatika
Bandung
Rora, Marchi. 2015. Rancang Bangun Alat Pendeteksi
makanan yang mengandung formalin berbasis deret
sensor.. Thesis. Politeknik Negeri Sriwijaya.

Biografi
Iwanto. Lahir di Desa Paloan, Kecamatan Sengah Temila
Kab Landak. Pada tanggal 04 Januari 1991, mendapatkan
gelar S.T. (Sarjana) Teknik Elektro tgl 25 juni tahun 2018
dari Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura.