MAKALAH
PSIKOLOGI ANALITIS
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KELOMPOK
MATA KULIAH : PSIKILOGI KEPRIBADIAN
DOSEN PENGAMPU : Kharis,M.Pd
DI SUSUN OLEH :
1. Anik Arifatun Nikmah 2117060
2. Khanifah 2117073
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
STAINU TEMANGGUNG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Segaja puja dan puji kami haturkan kepada Allah, tuhan semesta alam yang yang telah
memberikan rahmat dan hidayahnya serta taufik-Nya sehingga kami dalam keadaan sehat wal-
afiyat. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan terhadap gusti kita sebagai
madinatul ilmi Nabi Muhamad SAW.
Syukur Al-hamdulillah kami panjatkan atas suksesnya penyusunan makalah ini. Makalah
disusun sebagai tugas kelompok. Karena itu kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang
terkait, terutama dosen pembimbing, orang tua kami dan sahabat yang telah berpartisipasi demi
terselenggaranya makalah ini sehingga penyusunan makalah ini berjalan dengan lancar selasai
tepat waktu.
Kami menyadari dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurang baik
dalam segi tulisan Maupun kata-kata, oleh karena itu kami mohon saran dan kritiknya demi
kesempurnaan makalah ini untuk kesempurnaan terutama ilmu kami.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................................2
DAFTAR ISI....................................................................................................................................3
BAB I...............................................................................................................................................4
PENDAHULUAN...........................................................................................................................4
A. Latar Belakang......................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................4
C. Tujuan Masalah.....................................................................................................................5
BAB II.............................................................................................................................................6
PEMBAHASAN..............................................................................................................................6
A. Pengertian Psikologi Analitis Secara Umum........................................................................6
B. Struktur Pysche atau Kepribadian menurut teori Carl Gustav jung.....................................6
C. Dinamika Psyche atau Kepribadian......................................................................................9
D. Perkembangan Pysche atau Kepribadian............................................................................15
BAB III..........................................................................................................................................17
PENUTUP.....................................................................................................................................17
A. Kesimpulan.........................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Carl Gustav Jung merupakan salah satu tokoh pionir dalam bidang Psikologi eksistensi
kemanusiaan (humanistic-existensial psychology). Carl Gustav Jung berasal dari daratan
eropa, sesuai dengan tempat perkembangan ilmu psikologi dan merupakan pakar dalam
psikoanalisa. Pada dasarnya teori dari Carl Gustav tersebut lebih berhubungan dengan
bidang psikologi dan psikoterapi karena Jung merupakan salah satu tokoh yang
berpengaruh dalam bidang psikologi.
Jung sendiri merupakan seorang psikiater yang juga merupakan pendiri dari psikoanalisa
modern. Jung merupakan salah satu tokoh besar dalam bidang psikoanalis modern yang
merupakan kelanjutan dari teori psikoanalitis dari Sigmund Freud. Tetapi mempunyai
teori yang sama sekali berbeda dengan pendahulunya, Sigmund Freud, bahkan ada
beberapa kritik dari mereka terhadap teori dari Freud. Dalam beberapa literatur
disebutkan bahwa meskipun freud dan beberapa tokoh lain yang muncul setelahnya
masih membahas mengenai psikoanalisa tetapi terdapat perbedaan pendapat yang cukup
tajam antara teori psikoanalitis klasik (Freud) dan psikoanalisis baru (Jung, Adler, Rank,
Horney, Fromm, Sullivan, dll).
Kita dapat melihat bahwa Freud merupakan penggagas awal dari teori psikoanalisa yang
kemudian dikembangkan oleh banyak tokoh yang sekaligus memunculkan berbagai teori
baru, dan bahkan Jung sendiri merupakan pionir yang terkenal dalam bidang analisis
mimpi (dream analysis). Tulisan dan karya karya Jung khususnya dipengaruhi oleh
religiusitas yahudi. Seperti dialog jung dengan freud tentang mimpi, yaitu confrontation
with the unconscious. Kita dapat melihat bahwa teori Jung tetap dipengaruhi oleh
pandangan dari Freud dan juga religiusitas yahudi, karena Jung beragama Kristen. Dan
teori teori Carl Gustav Jung banyak digunakan oleh para pastor dalam melakukan
bimbingan kepada jamaahnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian Psikologi Analitis?
2. Apa saja struktur Psyche atau Kepribadian menurut teori Carl Gustav jung?
3. Bagaimana Dinamika Pysche atau Kepribadian menurut Carl Gustav jung?
4. Apa saja perkembangan Pysche atau Kepribadian?
C. Tujuan Masalah
1. Menjelaskan pengertian Psikologi Analitis .
2. Menjelaskan struktur Pysche atau Kepribadian menurut teori Carl Gustav jung.
3. Menjelaskan Dinamika Pysche atau Kepribadian menurut Carl Gustav jung.
4. Menjelaskan perkembangan Pysche atau Kepribadian
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Psikologi Analitis Secara Umum
Dalam perjalanan sejarahnya yang singkat, psikologi telah didefinisikan dalam berbagai
cara. Secara etimologis “Psikologi” berasal dari bahasa Yunani: Psyche dan logos. Psyche
artinya jiwa dan logos berarti ilmu. Dalam bahasa Arab, psikologi disebut dengan “Ilmu
an Nafsi”. Yang belakangan kemudian dikembangkan menjadi satu ilmu bernama
“Nafsiologi”. Dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan “Ilmu Jiwa”. Sedangkan para ahli
psikologi terdahulu, mendefinisikan bidang mereka sebagai “suatu kegiatan mental”.
Dengan berkembangnya aliran behaviorisme tahun 1930-an sampai 1960-an yang
menekankan pada studi yang dapat mengukur fenomena,secara objektif, maka psikologi
didefinisikan sebagai “studi mengenai perilaku”. Namun setelah Psikologi kognitif dan
fenomenologis menyusul perkembangan tersebut, maka definisi psikologi sekarang
mencakup acuan mengenai “studi mengenai proses perilaku dan mental”.
Sedangkan pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian Analitis
adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu
sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan
pemahaman arti keseluruhan.
B. Struktur Pysche atau Kepribadian menurut teori Carl Gustav jung
Jung tidak berbicara tentang kepribadian melainkan tentang psyche. Adapun yang
dimaksud dengan psyche ialah totalitas segala peristiwa psikis baik yang disadari maupun
tidak disadari. Jadi jiwa manusia terdiri dari dua alam :
1) Alam sadar : penyesuaian terhadap dunia luar.
2) Alam tak sadar : penyesuaian terhadap dunia dalam.
Dalam kenyataannya daerah kesadaran itu hanya merupakan sebagian kecil saja daripada
alam kejiwaan.
1. Struktur Kesadaran
Kesadaran mempunyai dua komponen pokok, yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa, yang
masing-masing mempunyai peranan penting dalam orientasi manusia dalam dunianya.
a. Fungsi Jiwa
Jung berpendapat bahwa fungsi jiwa ialah suatu bentuk aktivitas kejiwaan yang secara
teori tiada berubah dalam lingkungan yang berbeda-beda. Jung membedakan empat fungsi
pokok, yang dua rasional, yaitu pikiran dan perasaan, sedangkan yang dua lagi irrasional,
yaitu pendirian dan intuisi.
b. Sikap Jiwa
Sikap jiwa ialah arah daripada energi psikis umum atau libido yang menjelma dalam
bentuk orientasi manusia terhadap dunianya.
Berdasarkan atas sikap jiwanya manusia dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu :
1). Manusia-manusia yang bertipe Inovers
Menurut jung,Inovers adalah membalikkan energy psikis ke dalam sebuah orientasi
terhadap subjektivitas.orang yang inovers selalu mendengarkan dunia batin mereka
dengan semua bias,fantasi,mimpi,dan persepsi yang terindividualisasikan.Segala yang
dilakukannya didasakan pada pandangan subjektif mereka.
2). manusia yang bertipe Ekstravers
Berlawanan dengan inovers,ekstravers adalah sikap yang mengarahkan energy psikis
keluar sehingga seseorang diorientasikan menuju sesuatu yang objektif dan menjauh dari
sikap subjektif.Orang yang ektravers lebih banyak dipengaruhi lingkungan sekitar mereka
daripada dunia batin mereka sendiri.
c. Tipologi Jung
Sikap Jiwa Fungsi Jiwa Tipe Ketidaksadarannya
Ekstravers Pikiran Pemikir ekstravers Perasa introvers
Perasaan Perasa ekstravers Pemikir introvers
Pendriaan Pendria ekstravers Intuitif introvers
Intuisi Intuitif ekstravers Pendria introvers
Introvers Pikiran Pemikir introvers Perasa ekstravers
Perasaan Perasa introvers Pemikir ekstravers
Pendriaan Pendria introvers Intuitif ekstravers
Intuisi Intuitif introvers Pendria ekstravers
d. Persona
Menurut Jung persona adalah cara individu dengan sadar menampakkan diri ke luar. Jung
sendiri memberi batasan persona sebagai “kompleks fungsi-fungsi yang terbentuk atas
dasar pertimbangan-pertimbangan penyesuaian atau usaha mencari penyelesaian, tetapi
tidak sama dengan individualitas.”
2. Struktur Ketidaksadaran
Ketidaksadaran mempunyai dua lingkaran, yaitu ketidaksadaran pribadi dan
ketidaksadaran kolektif,
a. Ketidaksadaran Pribadi
Ketidaksadaran pribadi berisikan hal-hal yang diperoleh oleh individu selama hidupnya.
b. Ketidaksadaran Kolektif
Berlawanan dengan alam bawah sadar personal yang dihasilkan dari pengalaman-
pengalaman individu, ketidaksadaran kolektif diwariskan dan diturunkan dari generasi-
generasi sebagai potensi psikis. Karena itu, kandungan dari alam bawah sadar kolektif
kurang lebih sama bagi setiap orang di semua budaya.
Isi dari ketidaksadaran kolektif menagaktifkan dan memengaruhi pikiran, emosi, dan
tindakan seseorang. Alam bawah kolektif bertanggung jawab pada banyak mitos,
legenda, dan keyakinan religius manusia. Ketidaksadaran kolektif tentunya tidak disadari.
Sehingga akan membuat kita bertanya-tanya mengenai bagaimana orang dapat
mengetahui atau menyadari ketidaksadaran tersebut. Ketidaksadaran tersebut diperoleh
secara tidak langsung, yaitu melalui manifestasi ketidaksadaran yang berbentuk gejala
dan kompleks, mimpi, dan arketipe.
1) Gejala dan Kompleks
Kedua hal ini masih dapat disadari. Symptom adalah “gejala dorongan” dari jalannya
energi yang normal, yang dapat berbentuk symptom kejasmanian maupun kejiwaan.
Symptom adalah tanda bahaya yang memberitahu bahwa ada sesuatu dalam kesadaran
yang kurang, sehingga perlu perluasan ke alam bawah sadar.
Sedangkan yang dimaksud dengan kompleks adalah bagian kejiwaan kerpribadian yang
telah terpecah dan lepas dari kontrol kesadaran dan kemudian memiliki kehidupan sendiri
dalam kegelapan alam ketidaksadaran, yang kemudian dapat menghambat prestasi bagi
alam kesadaran.
2) Mimpi, Fantasi, dan Khayalan
Mimpi memiliki hukum dan bahasa sendiri. Di dalam mimpi, soal-soal sebab-akibat,
ruang dan waktu tidak berlaku, bahasanya bersifat lambang dan karenanya untuk
memahaminya perlu ditafsirkan. Bagi Jung, mimpi memiliki fungsi konstruktif, yaitu
mengkompensasikan keberatsebelahan dari konflik. Mimpi sering merupakan manifestasi
daripada ketidaksadaran kolektif. Selain mimpi, Jung juga mengemukakan pula fantasi
dan khayalan sebagai bentuk manifestasi ketidaksadaran.
3) Arketipe
Arketipe adalah imaji-imaji masa lalu yang berasala dari alam bawah sadar kolektif.
Arketipe dibawa sejak lahir dan tumbuh pada ketidaksadaran kolektif selama
perkembangan manusia, jadi tak tergantung pada manusia perseorangan. Arketipe tidak
dapat direpresentasikan secara langsung, namun ketika diaktifkan, dia mengaktifkan diri
lewat beberapa mode, utamanya lewat mimpi, fantasi, dan delusi. Oleh karena itu, harus
diingat bahwa arketipe hanya dapat dibatasi secara material, orang hanya dapat
menggambarkannya tapi tidak dapat mencandranya.
Beberapa bentuk khusus dari ketidaksadaran :
a). Bayang-banayang
Didalam kepribadian terdapat juga baying-bayang,yaitu segi lain atau bagian gelap
daripada kepribadian,kekurangan yang tak disadari.
b). Anima dan Animus
Merupakan karakteristik gender manusia. Animus berarti karakter maskulin yang ada
pada wanita, dan Anima berarti suatu karakteristik wanita (feminim) yang ada pada pria.
c). Proyeksi : Imago
Proyeksi merupakan bentuk penempatan isi-isi batin sendiri kepada obyek-obyek di luar
dirinya secara tidak sadar. Peristiwa ini terjadi secara mekanis, tidak disadari. Jung
menamakan isi kejiwaan yang diproyeksikan kepada orang lain itu imago.
C. Dinamika Psyche atau Kepribadian
Menurut Jung, struktur psyche itu tidak statis melainkan dinamis, senantiasa bergerak
terus-menerus. Dinamika ini disebabkan oleh energi psikis yang disebutnya sebagai
libido. Pengertian libido di sini dipergunakan seperti energi dalam ilmu alam, jadi sebagai
abstraksi yang menyatakan relasi-relasi dinamis.
1. Hukum atau Prinsip Psyche
a. Hukum Pasangan Berlawanan
Psyche (kepribadian) adalah suatu sistem energi yang tertutup,cnamun tidak sempurna.
Hal ini karena energi dari sumber di luarnya dapat masuk atau ditambahkan ke sistem ini.
Kenyataan bahwa psyche adalah sistem yang dapat dipengaruhi atau dimodifikasi oleh
sumber-sumber dari luar berarti bahwa psyche tidak pernah mencapai stabilitas yang
sempurna, yang dicapai hanyalah stabilitas nisbi, hanya untuk sementara.
Psyche dinyatakan sebagai sistem energi yang tertutup karena psyche memiliki prinsip
mengatur diri sendiri, yang berlangsung atas dasar hukum-hukum tertentu. Hukum
pokoknya adalah hukum kebalikan atau lebih tepatnya hukum berlawanan, tidak ada
suatu sistem yang mengatur diri sendiri tanpa kebalikan.
Sebelumnya telah ditemukan hukum psikologis seperti ini, yang disebut enantiodromia
yang berarti segala sesuatu pada suatu kali akan berubah menjadi kebalikan atau
lawannya. Contohnya ialah perubahan dari siang menjadi malam.
b. Prinsip Ekuivalens
Prinsip yang mengatur energi psikis itu juga “analog” dengan prinsip-prinsip yang
mengatur energi-energi dalam ilmu alam. Prinsip ini analog dengan hukum penyimpanan
energi dalam thermodinamika, yang mengatakan bahwa sesuatu nilai menurun atau
hilang, maka jumlah energi yang didukung oleh nilai itu tidak hilang dari psyche
melainkan akan muncul kembali dalam nilai baru. Jadi, dalam seluruh sistem kejiwaan itu
banyaknya energi tetap hanya distribusinya yang berubah-ubah.
c. Prinsip Entropi
Hukum ini menyatakan bahwa apabila dua benda yang berlainan panasnya bersentuhan,
maka panas akan mengalir dari yang lebih panas kepaqda yang lebih dingin. Bekerjanya
prinsip ini menghasilkan keseimbangan kekuatan. Prinsip ini diambil oleh Jung untuk
menggambarkan dinamika psyche, yaitu distribusi energi di dalam psyche itu selalu
menuju keseimbangan.
2. Arah dan Intensitas Energi
Gerak energi memiliki arah, arah gerak ini dibedakan menjadi gerak progresif dan gerak
agresif. Progresi ialah gerak ke kesadaran dan berbentuk proses penyesuaian yang
melibatkan aliran maju energi psikis. Sedangkan gerak regresif terjadi bila dengan
gagalnya penyesuaian secara sadar dan kerenanyalah ketidaksadaran terbangunkan,
terjadilah penumpukan energi yang berat sebelah dan berakibat isi-isi ketidaksadaran
menjadi terlalu penuh energi dan kekuatannya bertambah besar.
Dari ketegangan itu, nampak bahwa progresi memiliki nilai positif dan regresi memiliki
nilai negatif. Namun menurut Jung, regresi juga punya nilai positif: bila progresi terjadi
atas dasar keharusan penyesuaian terhadap dunia luar, maka regresi itu terjadi atas
keharusan penyesuaian ke dalam, jadi penyesuaian dengan hukum batin sendiri.
Progresi dan regresi hanya fase dalam bekerjanya energi. Regresi merupakan pertanda
bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam individu, sekaligus sebagai jalan untuk
memperkaya jiwa, dengan memanggil gambaran-gambaran yang ada dalam
ketidaksadaran ke dalam kesadaran.
3. Interaksi Antara Aspek-aspek Psyche atau Kepribadian
Keempat fungsi jiwa yang pokok dan kedua sikap jiwa serta berbagai sistem yang
membentuk keseluruhan kepribadian berinteraksi satu sama lain dalam tiga cara, yaitu:
a. Sesuatu sistem atau aspek mengompensasikan kelemahannya terhadap yang lain.
Kompensasi dapat terjadi pada pasangan-pasangan berlawanan dsan dengan mudah dapat
ditunjukkan dalam hal fungsi jiwa dan sikap jiwa. Orang yang pikirannya berkembang
namun perasaanya tidak berkembang akan menimbulkan ketegangan yang mengganggu
keseimbangan jiwa dan menuntut kompensasi, begitu pun sebaliknya. Kompensasi dapat
dipenuhi misalnya dengan mimpi atau fantasi.
b. Sesuatu sistem atau aspek menentang sistem atau aspek yang lain.
Pertentangan terjadi antara berbagai aspek dalam kepribadian, antara pikiran dan
perasaan, antara intuisi dan pendriaan, antara persona dan anima atau animus. Pasangan
yang telah disebutkan selalu saling berlawanan, berhubungan secara komplementer dan
kompensatoris, dan hal ini menyebabkan psyche atau kepribadian selalu bersifat dinamis.
c. Satu atau dua sistem mungkin bersatu untuk membentuk sintesis.
Aspek-aspek yang disebutkan di atas tidak selamanya bertentangan, melainkan juga dapat
saling menarik atau mengadakan integrasi atau sintesis. Persatuan yang saling
berlawanan ini oleh Jung dinilai disebabkan oleh adanya transcedent function, yang
memiliki kemampuan untuk mempersatukan segala kecenderungan yang saling
berlawanan dan mengolahnya menjadi kesatuan yang sempurna dan ideal.
D. Perkembangan Pysche atau Kepribadian
Jung meyakini bahwa kepribadian berkembang lewat serangkaian tahapan yang
memuncak pada individualisasi atau realisasi diri.
Jung mengelompokkan tahap hidup menjadi empat bagian yaitu sebagai berikut.
1. Masa Kanak-kanak
Masa kanak-kanak oleh Jung dibagi menjadi tiga bagian yaitu anarkis, monarkis, dan
dualistis. Fase anarkis dicirikan oleh kesadaran yang khas dan sporadis. Pengalaman
masa anarkis kadang memasuki kesadaran sebagai imaji-imaji primitif, tidak sanggup
diverbalkan secara akurat.
Fase monarkis dicirikan oleh perkembangan ego dan permulaan pemikiran logis dan
verbal. Selama waktu ini anak-anak mulai melihat diri mereka secara objektif dan sering
menyebut dirinya dengan kata ganti orang ketiga. Sedangkan pada masa dualistis, anak-
anak mulai menyebut diri mereka dengan kata ganti orang pertama dan menyadari
eksistensi mereka sebagai individu yang berbeda.
2. Masa Muda
Periode dari masa pubertas ke paruh baya disebut masa muda. Anak muda berjuang
meraih kemandirian psikis dan fisik dari orang tua mereka, menemukan belahan jiwanya,
membentuk keluarga, dan merebut sebuah tempat di panggung dunia ini.
Menurut Jung, masa muda seharusnya merupakan sebuah periode peningkatan aktivitas,
kematangan seksualitas, tumbuhnya pemahaman dan kesadaran bahwa era kanak-kanak
yang bebas dari masalah tidak akan kembali lagi. Kesulitan utama yang dihadapi di masa
ini ialah menaklukkan kecenderungan alamiah untuk mengandalkan kesadaran sempit
masa kanak-kanak agar terhindar dari masalah-masalah yang terus mengganggu seumur
hidup.
3. Masa Paruh Baya
Jung berpendapat, usia paruh baya ialah 35 hingga 40 tahun. Meskipun di usia ini dapat
menghadapkan orang-orang paruh baya kepada peningkatan kecemasan, namun hidup
paruh baya juga menjadi periode potensial yang menakjubkan. Jika orang-orang paruh
baya mempertahankan nilai-nilai sosial dan moral dari hidup mereka sebelumnya, maka
mereka menjadi sangat kolot dan fanatik dalam upayanya mempertahankan daya fisik
dan ketangkasan mereka. Ketika menemukan bahwa ideal mereka mulai bergeser, mereka
bisa berjuang dengan penuh rasa putus asa untuk mempertahankan daya tarik fisik dan
ketangkasan mereka.
4. Usia Senja
Seiring dengan senja kehidupan yang semakin mendekat, manusia mengalami penyusutan
kesadaran. Jika di kehidupan sebelumnya manusia takut pada kehidupan, maka di masa
ini dan selanjutnya mereka takut pada kematian. Rasa takut pada kematian adalah tujuan
hidup di mana hidup hanya dapat dipenuhi saat kematian dilihat dalam terang ini.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Psikologi berasal dari bahasa Yunani: Psyche dan logos. Psyche artinya jiwa dan logos
berarti ilmu. Dalam bahasa Arab, psikologi disebut dengan “Ilmu an Nafsi”. Sedangkan
para ahli psikologi terdahulu, mendefinisikan bidang mereka sebagai “suatu kegiatan
mental”. Sedangkan pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesias, Analitis adalah
penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta
hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti
keseluruhan, jadi psikologi analisis sebagai studi ilmiah mengenai proses perilaku dan
proses mental. Struktur Pysche atau Kepribadian menurut teori Carl Gustav jung yaitu
struktur kesadaran dan struktur ketidaksadaran, adapun dinamika Psyche atau
Kepribadian menurut Carl Gustav Jung meliputi hukum-hukum atau prinsip-prinsip
psyche, arah dan Intensitas Energi .
Perkembangan Pysche atau Kepribadian meliputi : Masa Kanak-kanak,Masa
Muda,Masa paruh baya,Masa usia lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Sumadi Suryabrata., 2008. Psikologi kepribadian. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
http://selawatidwi.blogspot.com/2012/06/mengenal-tokoh-psikologi-carl-gustav.html
http://farihinoceans.blogspot.com/2012/04/psikologi-umum-pengertian-psikologi.html