Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Matahari mengitari bumi dalam lintasan menbdekati lingkaran. Bulan mengitari

bumi dalam lintasan yang menyerupai lingkaran pula ? kenapa benda-benda tersebut

tetap berada pada lintasannya ? Kenapa benda-benda tersebut tidak terlempar ke luar ?

berarti ada gaya yang menahan benda-benda tersebut ke arah pusat lintasannya. Lalu

gaya apakah itu ? bukankah antara bumi dan bulan haya ada ruang kosong ? Dalam

pembahasan mengenai Hukum Gravitasi Universal kita akan mencoba untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep benda-benda langit menurut John Kapler ?

2. Bagaimana konsep Sir Isaac Newton terhadap benda yang memiliki massa ?

3. Apakah pengarus gaya gravitasi terhadap bentuk bumi ?

4. Bagaimana hubungan antara percepatan gravitasi di muka bumi dengan bentuk

muka bumi ?

1.3 Tujuan penulisan

1. Mengetahui konsep benda-benda langit menurut ketiga Hukum Kepler.

2. Mengetahui konsep Gravitasi Universal Newton terhadap benda-benda dengan

massa m.

3. Mengatahui pengaruh gaya gravitasi terhadap bentuk Bumi.


4. Mengetahui hubungan antara percepatan gravitasi di muka Bumi dengan bentuk

muka Bumi itu sendiri.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Untuk mengetahui konsep dasar dalam Hukum Gravitasi Universal.

2. Menjadi pustaka untuk bacaan dan referensi belajar.


BAB II

ISI

2.1 Hukum Kapler

Hukum kapler ditemukan oleh seorang matematikawan yang juga merupakan

seorang astronom Jerman yang bernama Johannes Kepler (1571-1630). Penemuaanya

didasari oleh data yang diamati oleh Tycho Brahe (1546-1601), seorang astronom dari

Denmark.

Sebelum ditemukan hukum ini, manusia zaman dulu menganut paham

geosentris, yaitu sebuah paham yang membenarkan bahwa bumi merupakan pusat alam

semesta. Anggapan ini didasari pada pengalaman indrawi manusia yang terbatas, yang

setiap hari mengamati matahari, bulan dan bintang bergerak, sedangkan bumi dirasakan

diam. Anggapan ini dikembangkan oleh astronom Yunani Claudius Ptolemeus (100-170

M ) dan bertahan hingga 1400 tahun. Menurutnya, bumi berada di pusat tata surya.

Matahari dan planet-planet mengelilingi bumi dalam lintasan melingkar.

Kemudian pada tahun 1543, seorang astronom Polandia bernama Nicolaus

Copernicus ( 1473-1543) mencetuskan model heliosentris. Heliosentris artinya bumi

beserta planet-planet lainnya mengelilingi matahari dalam lintasan yang melingkar.

Tentu saja pendapat ini lebih baik dibanding pendapat sebelumnya. Namun, ada yang

masih kurang dari pendapat Copernicus yaitu dia masih menggunakan lingkaran sebagai

bentuk lintasan gerak planet.


Pada tahun 1696 Kapler menerbitkan buku pertamanya di bidang astronomi

dengan judul The Mysteri of the Universel. Di dalam buku itu ia memaparakan

kekerangan dari kedua model diatas yang tiada keselarasan antara lintasan-lintasan orbit

planet dengan data pengamatan Tycho Brahe. Oleh karenanya Kepler meninggalkan

model Copernicus juga Ptolemeus lalu mencari model baru. Pada tahun 1609, barulah

ditemukan bentuk orbit yang cocok dengan data penngamatan Brahe, yaitu bentuk elips.

Kemudian penemuaannya tersebut dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul

Astronomia Nova yang juga disertai hukum keduanya. Sedangkan hukum ketiga Kepler

tertulis dalam Harmonices Mundi yang dipublikasikan sepuluh tahun kemudian.

2.1 Hukum Kepler

Pada Hukum Kepler I menerangkan mengenai bentuk bentuk jalur orbit planet.

Adapun bunyi hukum kepler I adalah:

"Lintasan seluruh planet yang mengelilingi matahari memiliki bentuk elips dengan

matahari merupakan pusat atau fokus dari planet planet tersebut"


Gambar 3. Model Lintasan menurut hukum 1 Kapler

Berdasarkan bunyi diatas menjelaskan bahwa planet yang mengelilingi matahari

berbentuk lintasan elips. Dari gambar diatas matahari berada di titik F1 maupun F2.

Planet ditandai dengan r1 oleh F1 serta r2 oleh F2. Apabila planet berubah posisi maka

jarak antara r1 maupun r2 juga berubah. Garis a merupakan sumbu semimayor

sedangkan 2a merupakan mayor. Garis b merupakan semiminor sedangkan 2b

merupakan minor. Garis c merupakan titik fokus yng menimbulkan rumus c2= a2+b2.

Untuk menentukan bentuk elips menggunakan rumus eksentrisitas (e) elips. Dengan

eksentrisitas elips yang semakin kecil akan membuat bentuk elips menyerupai bentuk

lingkaran. Apabila eksentrisitas elips yang semakin besar maka bentuk elips akan

semakin tipis serta memanjang. Perbandingan garis c dengan garis a dapat ditulis

menjadi e=c/a. Untuk nilai dari eksentrisitas besarnya antara lebih dari 0 dan kurang

dari 1.

Saat planet berada jauh dari matahari maka planet tersebut terdapat pada titik aphelion.

Letak planet tersebut dapat dilihat pada gambar diatas yaitu berada disebelah ujung kiri
elips atau sebelah kiri dari F1. Untuk menghitung jarak aphelion dapat menjumlahkan

antara jarak a dengan jarak c. Apabila planet terletak pada bagian ujung kanan elips atau

berada disamping F2 maka planet tersebut berada dititik perihelion. Saat tersebut adalah

saat dimana planet berada dekat dengan matahari. Untuk menghitung jarak perihelion.

Hukum Kepler II

Pada Hukum Kepler II menerangkan mengenai kecepatan pada saat planet melakukan

orbit. Bunyi hukum kepler II adalah:

" Planet yang bergerak menuju orbit membuat garis khayal yang telah ditarik oleh

matahari menuju planet mencakup daerah yang luasnya sama dengan waktunya"

Hukum Kepler II

Pada gambar diatas dapat saya jelaskan mengenai hukum kepler II. Pada gambar diatas

memiliki luas yang sama. Dengan kurun waktu yang sama maka garis khayal pada

planet akan tetap memiliki luas yang sama pula. Apabila planet bergerak sesuai pada

gambar b ke c atau titik aphelion maka orbit planet tersebut memiliki kecepatan yang

kecil atau lambat. Namun apabila planet bergerak sesuai pada gambar d ke e atau titik

perihelion maka orbit planet tersebut memiliki kecepatan yang besar atau cepat. Dapat

disimpulkan bahwa kecepatan maksimun pada orbit planet apabila planet berada pada
titik perihelion namun kecepatan minimun pada orbit planet apabila planet berada pada

aphelion.

Hukum Kepler III

Hukum Kepler III menerangkan mengenai periode revolusi saat planet mengelilingi

matahari. Dengan bunyinya yaitu

"Kuadrat periode setiap planet sebanding dengan pangkat tiga jarak rata rata dari

Matahari"

T21 𝑇22
3 =
𝑟1 𝑟22
= Konstan

Penjelasan
T1=periode planet pertama
T2= Periode planet kedua
r1= jarak planet pertama dengan matahari
r2= jarak planet kedua dengan matahari
Rumus diatas dapat digunakan untuk menghitung hukum kepler III.
2.2 Hukum Gravitasi Newton

Hukum Gravitasi Newton

Hukum gravitasi universal Newton menyatakan bahwa benda di alam semesta

saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan hasil dari massa dan

berbanding terbalik dengan kuadrat dari jarak antara mereka. (Secara terpisah

menunjukkan bahwa besar massa berbentuk bulat simetris tarik-menarik seolah-olah


semua massa terkonsentrasi di pusat-pusat mereka.) Ini merupakan hukum fisika umum

yang berasal dari pengamatan empiris yang Isaac Newton sebut induksi.[1] ini adalah

bagian dari mekanika klasik dan dirumuskan dalam karya Newton berjudul Philosophiæ

Naturalis Principia Mathematica ("the Principia"), terbit perdana pada 5 Juli 1687.

(Ketika buku Newton disajikan pada 1686 ke Royal Society, Robert Hooke mengklaim

bahwa Newton memperoleh inverse hukum kuadrat darinya.) Dalam bahasa modern,

hukum ini menyatakan bahwa :

Setiap titik massa menarik setiap massa titik lain dengan gaya sepanjang potong

dari kedua titik. Gayanya berbanding lurus dengan hasil dari dua massa dan berbanding

terbalik dengan kuadrat dari jarak antara mereka :

dimana :

 F adalah gaya antara massa,

 G adalah konstanta gravitasi,

 m1 adalah massa benda pertama,

 m2 adalah massa benda kedua, dan


 r adalah jarak antar pusat dari benda

Menggunakan satuan SI , F diukur dalam newton (N), m1 dan m2 dalam

kilogram (kg), r dalam meter (m), dan konstanta G kira-kira sama dengan

6,674×10−11 N m2 kg−2. Nilai dari konstanta G pertama kali secara akurat ditentukan

dari hasil percobaan Cavendish experiment Oleh ilmuwan inggris Henry Cavendish

pada tahun 1798, meskipun Cavendish tidak menghitung nilai numerik untuk G.[2]

penelitian ini juga merupakan tes pertama teori gravitasi Newton antara massa di

laboratorium. Itu terjadi 111 tahun setelah penerbitan buku Newton "Principia" dan 71

tahun setelah kematian Newton, sehingga tidak ada rumus Newton yang menggunakan

nilai G; sebaliknya ia hanya bisa menghitung kekuatan relatif terhadap kekuatan lain.

Hukum gravitasi Newton menyerupai hukum kekuatan listrik Coulomb , yang

digunakan untuk menghitung besarnya gaya listrik antara dua benda bermuatan.

Keduanya hukum kuadrat-terbalik, di mana gaya berbanding terbalik dengan kuadrat

jarak antara benda. Hukum Coulomb memiliki produk dari dua muatan pada produk

dari massa, dan konstanta elektrostatik pada konstanta gravitasi.

Hukum Newton telah digantikan oleh teori relativitas Einstein umum, tetapi terus

digunakan sebagai pendekatan yang sangat baik dari efek gravitasi. Relativitas

diperlukan hanya ketika ada kebutuhan untuk presisi ekstrem, atau ketika berhadapan

dengan medan gravitasi yang sangat kuat, seperti yang ditemukan pada benda yang

sangat besar dan padat, atau pada jarak sangat dekat (seperti orbit Merkurius

mengelilingi matahari).
Tafsiran newton terhadap hukum kapler

Hukum Kepler 1

Hukum Kepler yang pertama berbunyi :

“Setiap planet bergerak dalam lintasan elips dan matahari berada disalah

satufokusnya”

Pada waktu itu pernyataan ini dianggap radikal, karena kepercayaan yang berlaku

pada saat itu memandang bahwa orbit harus didasari dengan lingkaran sempurna.

Pengamatan ini sangat penting pada saat itu karena mendukung pandangan alam

semesta menurut Kopernikus. Ini tidak berarti ia kehilangan relevansi dalam konteks

yang lebih modern.

Pada saat itu Kepler sendiri tidak mengetahui alasan mengapa planet bergerak

dengan cara demikian. Ketika mulai tertarik dengan gerak planet-planet, Newton

menemukan bahwa ternyata hukum-hukum Kepler ini bisa diturunkan secara matematis

dari hukum gravitasi universal dan hukum gerak Newton. Newton juga menunjukkan

bahwa di antara kemungkinan yang masuk akal mengenai hukum gravitasi, hanya satu

yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak yang konsisten dengan Hukum Kepler.
Dimensi paling panjang pada orbit elips diatas disebut sumbu mayor alias sumbu

utama, dengan setengah panjang a. Setengah panjang ini disebut sumbu semiutama alias

semimayor. F1 dan F2 adalah titik Fokus. Matahari berada pada F1 dan planet berada

pada P. Tidak ada benda langit lainnya pada F2. Total jarak dari F1 ke P dan F2 ke P

sama untuk semua titik dalam kurva elips. Jarak pusat elips (O) dan titik fokus (F1 dan

F2) adalah ea, di mana e merupakan angka tak berdimensi yang besarnya berkisar antara

0 sampai 1, disebut juga eksentrisitas. Jika e = 0 maka elips berubah menjadi lingkaran.

Kenyataanya, orbit planet berbentuk elips alias mendekati lingkaran. Dengan demikian

besar eksentrisitas tidak pernah bernilai nol. Nilai e untuk orbit planet bumi adalah

0,017. Perihelion merupakan titik yang terdekat dengan matahari, sedangkan titik

terjauh adalah aphelion.

Hukum Kepler 2

Hukum Kepler kedua ini berbunyi : “Luas daerah yang disapu oleh garis antara

matahari dengan planet adalah sama untuk setiap periode waktu yang sama”.

Pada selang waktu yang sangat kecil, garis yang menghubungkan antara matahari

dengan planet melewati sudut (misal : dθ ). Garis tersebut melewati daerah sapuan yang

berjarak r, dan luas daerah sapuan dA=1/2 r2 dθ . Sementara laju planet ketika melewati

daerah itu adalah dA/dt. disebut kecepatan sektor.

r dθ /dt
dA/dt = 1/2 2
Hal yang paling utama dalam Hukum II Kepler adalah kecepatan sektor

mempunyai harga yang sama pada semua titik sepanjang orbit yang berbentuk elips.

Ketika planet berada di perihelion, nilai r kecil, sedangkan dθ/dt besar. Ketika planet

berada di aphelion, nilai r besar, sedangkan dθ/dt kecil.

Hukum Kepler 3

Planet yang terletak jauh dari matahari memiliki perioda orbit yang lebih panjang

dari planet yang dekat letaknya. Hukum Kepler ketiga menjabarkan hal tersebut secara

kuantitatif.

“Kuadrat waktu yang diperlukan oleh planet untuk menyelesaikan satu kali orbit

sebanding dengan pangkat tiga jarak rata‐rata planet‐planet tersebut dari matahari”.

Jika T1 dan T2 mewakili periode dua buah planet berbeda, dan r1 dan r2 mewakili

jari-jari semimayor antara dua planet tersebut, maka dapat ditulis sebagai persamaan :

𝑇 𝑟
( 1) = ( 1)
𝑇2 𝑟2
Dengan kata lain persamaan diatas dapat ditulis kembali sebagai persamaan

baru sebagai berikut :

𝑟13 𝑟23
𝑇12 = 𝑇22

ini berarti untuk setiap planet harus memiliki nilai r3 / T2 yang sama.

Berikut adalah data mengenai jari-jari semimayor dan waktu periode planet-

planet yang menjadi dasar pemikiran Kepler terhadap hukum Kepler 3.

Pendekatan Hukum Kepler 3 dengan Hukum Newton

Menurut pendapat Isaac Newton, Hukum Kepler 3 dapat diturunkan secara

matematis dan da[at dihubungkan dengan Hukum Newton mengenai Gaya Gravitasi

Universal dan pergerakan sentripetal. Dari rumus awal hukum Kepler 3


𝑟13 𝑟23
𝑇1 2 = 𝑇22

apabila ditinjau dengan hukum Newton kedua dan hukum gerak melingkar, maka

dapat dituliskan dalam persamaan berikut :

δF = ma ….. Persamaan hukum Newton II

Frad = m arad …...Persamaan Gerak melingkar

dengan arad adalah percepatan sentripetal = v2 /r

apabila ditinjau dengan hukum Newton kedua dan hukum gerak melingkar, maka

dapat dituliskan dalam persamaan berikut :

𝑚1 𝑚 2
𝐹𝑔 = G ……persamaan Gaya GravitasiBumi
𝑟2

sehingga jika diturunkan dengan pendekatan Hukum Newton II akan menjadi

persamaan sebagai berikut :

∑ 𝐹 = m.a

𝑚1 𝑚 𝑀 𝑣12
G =m
𝑟12 𝑟1

m1 adalah massa planet pertama (akan dibandingkan dengan planet kedua) , mM

adalah massa matahari. r 1 adalah jari-jari rata-rata planet terhadap matahari, sedangkan

v1 adalah kelajuan orbit rata-rata planet pertama. Waktu yang diperlukan sebuah planet
untuk menyelesaikan satu orbit adalah T1, di mana jarak tempuhnya sama dengan

keliling lingkaran ( 2πr1 ). Dengan demikian, besar v1 adalah :

2𝜋𝑟1
𝑣1=
𝑟1

Kemudiankitasubsitusikan𝑣1 padapersamaansebelumnyadengan𝑣1 diatas .

2𝜋𝑟1
𝑚1𝑚𝑀 𝑇1
G = 𝑚1 ( )
𝑟12 𝑟1

𝑚1𝑚𝑀 4𝑟𝜋2
G = 𝑚1
𝑟12 𝑇12

𝑇12 4𝜋2
= …….. Persamaan 1
𝑟13 𝐺𝑚𝑀

Apabila metode yang sama dilakukan untuk planet kedua dengan jari-jari dan

massa yang berbeda maka akan didapat persamaan umum yang sama. Dengan r2 , m2,

T2 berturut-turut adalah jari-jari rata-rata planet dengan matahari, massa planet dan

periode orbit planet.

𝑇12 4𝜋2
= …….. Persamaan 2
𝑟13 𝐺𝑚𝑀
Perhatikan ruas kanan pada persamaan 1 dan persamaan 2, nilai antara ruas kanan

persamaan 1 dan 2 adalah sama. oleh karena itu, maka apabila persamaan 1 dan 2

digabungkan maka akan menjadi persamaan hukum Kepler 3.

𝑇12 𝑇22
=
𝑟13 𝑟23

𝑇 𝑟
( 1) = ( 1)
𝑇2 𝑟2

Hukum Kepler 3 relevan dengan konsep gerak melingkar dan gaya gravitasi

universal hasil temuan Isaac Newton dan dapat dibuktikan secara matematis.

Sistem dua benda langit

Gerak planet mengitari Matahari. Satelit yang mengelilingi Bumi dan bintang-bintang

yang mengitari pusat Galaksi, diatur oleh gaya sentral yang bekerja sepanjang garis

lurus yang
menghubungkan benda langit terhadap sumber gaya tersebut. Aturan untuk

menerangkan gaya

sentral ini lazim disebut hukum gravitasi Newton, “ Gaya tarik menarik antara dua titik

massa adalah berbanding langsung dengan hasil kali massa mereka serta berbanding

terbalik dengan

jarak kuadratnya”. Dinyatakan dalam pernyataan, Hukum Newton

Dengan G = konstanta gravitasi

mi massa ke – i

r jarak m1 ke m2

Satuan yang dipilih mengikuti aturan berikut;

1. Jika m dalam gram dan r dalam sentimeter maka G=6,67 10-8 cgs

2. Jika m dalam massa matahari dan r dalam satuan astronomi maka nilai G adalah

0,017202

(disebut konstanta Gauss, simbol, k)

Pengaruh gravitasi terhadap bentuk bumi

Semua benda di lama semesta ini memiliki massa, sehingga juga memiliki

gravitasi. Selain memiliki gravitasi, juga memiliki medan gravitasi yang saling

mempengaruhi satu sama lainnya. Contohnya pengaruh gravitasi matahari dan gravitasi

bumi mengakibatkan revolusi bumi agar bumi tidak tertarik ke dalam matahari, begitu

juga pengaruh gravitasi bumi dan bulan, mengakibatkan bulan mengelilingi bumi.
Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang

mempunyai massa di alam semesta.Contoh : Sebuah apel jatuh ke tanah diakibatkan

oleh gaya gravitasi bumi yang menarik apel tersebut ke pusat gravitasi bumi. Gaya

gravitasi ini menarik benda-benda disekitarnya menuju pusat gravitasi.

Pengaruh Gaya Gravitasi Matahari dan Gravitasi Bumi

Nilai gravitasi matahari adalah 27.94 G (nilai G yang diakui sekarang = 6,67 x

10-11 Nm2/kg2 (kekuatan gravitasi bumi)), yaitu sekitar 28 kali kekuatan gravitasi bumi.

Dengan percepatan gravitasi permukaan yaitu = 274.0 m/s2, dibanding kan bumi = 9.8

m/s2.

Pengaruh gaya gravitasi matahari dan gravitasi bumi mengakibatkan bumi berputar pada

porosnya (berotasi) dan bumi mengelilingi matahari (berevolusi). Gravitasi matahari

menarik bumi ke pusat matahari, sedang gaya gravitasi bumi tetap mempertahankan

posisi bumi, sehingga menghasilkan gaya sentrifugal yang membuat bumi berputar pada

porosnya dan mengelilingi matahari agar tidak tertarik ke pusat gravitasi matahari atau

tetap berada pada orbitnya.

Pengaruh Gaya Gravitasi Bumi dan Gravitasi Bulan

Nilai gravitasi bulan adalah 17% G (1 G = kekuatan gravitasi bumi), yaitu

sekitar 0,17 kali kekuatan gravitasi bumi. Dengan percepatan gravitasi permukaan yaitu

= 1,6 m/s2, dibanding kan bumi = 9.8 m/s2.Gravitasi bumi menarik bulan ke pusat

bumi, sedang gaya gravitasi bulan tetap mempertahankan posisi bulan, sehingga

menghasilkan gaya sentrifugal yang membuat bulan berputar pada porosnya dan
mengelilingi bumi agar tidak tertarik ke pusat gravitasi bumi atau tetap berada pada

orbitnya.

Pengaruh gaya gravitasi bumi dan bulan adalah pasang-surut air laut. Gaya

gravitasi bulan menarik air laut ke arah bulan sehingga memengaruhi ketinggian ombak

dan permukaan laut. Karena bulan mengitari bumi, maka akan ada saat di mana satu sisi

dari bumi lebih dekat dengan bulan. Bagian yang dekat dengan bulan inilah yang akan

mengalami air laut pasang, sedangkan bagian lainnya yang tidak dekat dengan bulan

mengalami air laut surut. Pasang-surut air laut juga berkaitan dengan fase bulan.

Biasanya, air laut akan mengalami pasang tinggi pada saat bulan purnama.

Selain itu juga, pengaruh gaya gravitasi bumi dan bulan adalah menjauhnya

bulan dari bumi sekitar 3,8 cm tiap tahun.

Orbit planet

Orbit planet-planet di Tata Surya memang semuanya berada dalam satu bidang.

Demikian juga dengan orbit satelit dari planet-planet tersebut. Semuanya berada dalam

satu bidang yang sama. Semua planet bisa memiliki orbit pada bidang yang sama ini

terkait dengan pembentukannya di dalam Tata Surya.

Tata Surya terbentuk dari awan gas dan debu raksasa yang kita kenal sebagai nebula.Di

dalam nebula inilah bintang dilahirkan.Atau kalau di dalam Tata Surya, Matahari lahir

di dalam nebula ini.Awalnya partikel-partikel debu berkumpul membentuk awan

sferis.Awan gas dan debu ini berputar dan kemudian menarik lebih banyak

materi.Interaksi gravitasi partikel-partikel di awan menyebabkan awan


berkondensasi.Pada saat itu radiusnya mengecil, tapi momentum sudutnya tidak

mengecil sehingga rotasinya makin cepat.Awan pun mengalami keruntuhan.

Saat terjadi keruntuhan, rotasi awan semakin cepat.Tapi tidak semua bagian dari awan

ini ditarik ke pusat. Partikel di sekitar bidang yang tegak lurus sumbu rotasi mengalami

gaya sentrifugal yang membuat mereka tidak mendekati pusat melainkan melawan

gravitasi. Akibatnya awan memipih dan membentuk piringan yang berputar di

sekeliling inti yang sangat rapat.

Semakin banyak massa yang dikumpulkan di pusat piringan, maka temperatur juga

meningkat tajam sehingga memberi kemampuan yang cukup untuk terjadinya reaksi

nuklir. Atom hidrogen kemudian mengalami pembakaran menjadi helium menandai

kelahiran Bintang.Sementara itu gas dan debu di piringan pipih yang berputar

disekeliling bintang pun saling berinteraksi di dalam piringan.Bertabrakan dan

berakumulasi membentuk planet-planet yang kemudian mengitari Bintang. Inilah yang

menyebabkan planet-planet memiliki orbit pada bidang yang sama dengan Bintang.

Periode orbit

Periode orbit adalah waktu yang diperlukan bagi suatu benda untuk melakukan satu

orbit penuh mengitari benda lain.Jika disebutkan tanpa mendalami astronomi, maka

rujukannya adalah periode sidereal suatu benda astronomis, yang dihitung terhadap

bintangnya.

Ada beberapa jenis periode orbit untuk benda-benda yang mengitari Matahari

(atau benda langit lainnya):


 Periode sidereal adalah siklus sementara yang dibutuhkan suatu benda untuk

melakukansatu orbit penuh relatif terhadap bintangnya. Ini dianggap sebagai

periode orbit sejatibenda tersebut.

 Periode sinodis adalah interval sementara yang dibutuhkan suatu benda

untuk muncul kembali di titik yang sama relatif terhadap dua benda lain (node

linier), contohnya ketika Bulan relatif terhadap Matahari dilihat dari Bumi

kembali ke fase iluminasi yang sama. Periode sinodis adalah waktu yang

berlangsung antara dua konjungsi berturut-turut dengan garis Matahari-Bumi

dalam urutan linier yang sama. Periode sinodis berbeda dari periode sidereal

karena Bumi mengorbit Matahari.

 Periode drakonitik atau periode drakonik adalah waktu yang berlangsung

antara dua perlintasan benda melalui node menaiknya, titik orbitnya tempat

benda tersebut melintasi ekliptika dari belahan selatan ke utara. Periode ini

berbeda dari periode sidereal karena kedua bidang orbit benda dan bidang

ekliptika berpresesi terhadap bintang tetap, sehingga persimpangan mereka,

yaitu garis node, juga berpresesi terhadap bintang tetap. Meski bidang

ekliptika sering bersifat tetap di posisi yang ia tempati pada epos tertentu,

bidang orbit benda tersebut masih berpresesi dan mengakibatkan periode

drakonitik berbeda dari periode sidereal.

 Periode anomalistik adalah waktu yang berlangsung antara dua perlintasan

benda di periapsis-nya (pada planet di tata surya, disebut perihelion), titik

pendekatan terdekatnya terhadap benda yang menariknya. Periode ini berbeda


dari periode sidereal karena sumbu semimayor benda berjalan dengan sangat

lambat.

 Periode tropis Bumi (atau disebut juga "tahun") adalah waktu yang

berlangsung antara dua penjajaran sumbu rotasinya dengan Matahari, juga

dilihat sebagai dua perlintasan benda di asensio rekta nol. Satu tahun Bumi

memiliki interval yang sedikit lebih pendek daripada orbit Matahari (periode

sidereal) karena sumbu inklinasi dan bidang khatulistiwanya secara perlahan

berpresesi (berotasi dalam istilah sidereal), kembali sejajar sebelum orbit

selesai dengan interval yang sama dengan kembalinya siklus presesi (sekitar

25.770 tahun).
BAB III

Penutup

3.1 kesimpulan

Ketiga Hukum Kepler yang ada, di mana telah dijelaskan dalam Bab II yaitu

Hukum 1 Kepler yang menjelaskan tentang orbit benda langit, Hukum II Kepler

mengenai luasan konstan, dan Hukum III Kepler tentang periode.

Hukum Gravitasi Universal Newton pada dasarnya menekankan bahwa setiap

benda yang memiliki masa m, memiliki gaya gravitasinya sendiri yang besarnya

ditentukan oleh besar massa dan kuadrat jarak antara kedua benda.

Gatya Gravitasi memberi pengaruh terhadap bentuk muka bumi, pada tempat-

tempat yang bukan pada khatulistiwa, gaya berat tidak menuju pusat bumi, dan tidak

tegak lurus permukaan bumi, sehingga permukaan bumi ini akan mendapat gaya dan

bergeser kearah khatulistiwa, sampai gaya berat ini tegak lurus permukaan bumi.

Karena itu bentuk bumi akan elipsioda. Memampat dikedua kutubnya dan

menggelembung di khatulistiwa.
Perbedaan percepatan gravitasi dipermukaan bumi ini bervariasi dikarenakan

topografi yang juga bervariasi dimana percepatan gravitasi berbanding terbalik dengan

jarak antara benda yang terkena gaya gravitasi dengan pusat masa benda yang menarik

benda tersebut, contoh praktisnya ialah percepatan gravitasi di pegunungan sedikit lebih

rendah dengan percepatan gravitasi di lembah. Namun percepatan gravitasi rata-rata di

permukaan bumi ialah 9,8 𝐴 = 𝑚/𝑠 2 .

3.2 Saran

melihat begitu luasnya tinjauan ilmu pengetahuan bumi dan antariksa serta

konsep-konsep fisika yang ada dialam semesta ini adalah sangat mungkin menemukan

atau setidaknya mengembangkan konsep baru untuk mempeluas obyek penelitian dan

riset yang ada dan yang aka ada. Seperti halnya tokoh-tokoh yang beberapa kali telah

kita sebutkan diatas, diantaranya Tycho Brahe yang mengamati gerak planet dari bumi,

John Kepler yang menemukan keteraturan dari hasil pengamatan pendahulunya Tycho

Keple, serta Isaac Newton yang melakukan sintesa terhadap temuan-temuan dan ide-ide

dari pendahulunya dan menemukan hubungan-hubungan yang dapat disastrakan lewat

Bahasa matematis.