Anda di halaman 1dari 14

Proses produksi 1

Dosen : Novri Jenita Marbun

Nama kelompok :
Wulandari
Surya saputra

Jurusan teknik industri


2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya lah sehingga penulisan makalah proses produksi ini dapat terselesaikan
dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah dengan judul “proses manufactur joening” ini kami susun untuk
memenuhi tugas mata kuliah proses produksi 1 yang diberikan oleh ibuk Novri Jenita
Marbun Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan harapan dapat membantu
pembaca untuk lebih memahami lagi tentang proses manufactur joening ini untuk
memperlancar proses pembelajaran.
Namun demikian tentu saja dalam penyusunan makalah kami ini masih
terdapat banyak kekurangan dalam penulisan dan pemilihan kata yang kurang tepat.
Dengan ini, kami memohon maaf jika dalam pembuatan makalah ini banyak
kekurangan. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Dumai, 24 Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i


KATA PENGANTAR ........................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan masalah ....................................................................... 1
C. Tujuan ......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ragam bahasa............................................................. 2
B. Penting nya ragam bahasa .......................................................... 2
C. Macam-macam ragam bahasa .................................................... 3
1. Ragam baku lisan dan tulisan ............................................... 3
2. Ragam sosial dan fungsional ................................................ 4
3. Ragam bahasa berdasarkan media ........................................ 4
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 6
B. Saran ............................................................................................ 6
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Proses penyambungan logam (joining) biasanya dilakukan dengan
prosespengelasan, dimana bagian yang disambung dicairkan, kemudian
dicampur dan membeku bersama membentuk sambungan/joint. Karena
melibatkan pencairan logam, maka terjadi perubahan sifat fisik dan mekanik
yang rumit. Perubahan sifat ini sangat mempengaruhi kualitas sambungan
secara keseluruhan. Salah satu solusi cara mengatasi hal-hal tersebut dengan
proses diffusion bonding. Dengan proses diffusion bonding tidak terjadi
perubahan sifat fisik dan mekanik secara mencolok dan kualitas sambungan
yang didapat juga lebih baik.Pada Penelitian ini digunakan spesimen baja dan
besi cor kelabu. Struktur baja terdiri atas ferrit + perlit, sedangkan pada besi
cor kelabu strukturnya terdiri dari ferrit / perlit + grafit. Alasan pemilihan baja
dan besi cor kelabu dalam penelitian ini adalah transformasi fasa dari kedua
material dan faktor-faktor yang mempengaruhi sambungan tersebut belum
banyak diteliti dan dilaporkan, sehingga kita mendapatkan referensi untuk
proses penyambungan difusi yang baru. Proses penyambungan difusi tanpa
vakum merupakan bagian dari metodepenyambungan difusi. Metode ini
dipilih sebagai altenatif karena pada proses penyambungan difusi memerlukan
ruang hampa udara untuk proses penyambungan. Peralatan tungku pemanasan
dengan kondisi vakum sangat mahal sehingga metode penyambungan difusi
tanpa vakum menjadi solusi yang menarik. Pada penyambungan difusi tanpa
vakum dapat dilakukan ditungku perlakuan panas biasa atau tungku induksi,
dan yang akan kita gunakan untuk penelitian ini adalah tungku perlakuan
panas biasa.
B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa yang maksud dengan proses manufactur joining
2. Bagaimana ragam baku lisan dan tulisan?
3. apa pengertian ragam social dan fungsional?
4. Apa makna ragam Bahasa berdasarkan media?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ragam bahasa
2. Untuk mengetahui bagaimana ragam bahasa baku lisan dan tulisan
3. Untuk mengetahui pengertian ragam social dan fungsional
4. Untuk mengetahui makna ragam bahasa berdasarkan media

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Proses manufactur joening


Joining adalah proses penyambungan logam yang bersifat permanen dan sulit
untuk dipisahkan kembali. Proses ini dilakukan untuk menyambungkan dua bagian
logam atau lebih baik logam yang sejenis maupun tidak sejenis. Penyambungan bagian-
bagian logam ini dapat dilakukan dengan berbagai macam metode sesuai dengan kondisi
dan bahan yang digunakan. Setiap metode penyambungan yang digunakan pada suatu
konstruksi sambungan harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.
B. jenis-jenis proses manufactur joening
 Welding
Welding (pengelasan) adalah proses penyambungan material, dimana
dua/lebih material bersatu pada permukaan kontak dengan menggunakan
panas / tekanan tertentu. Proses ini menggunakan material filler sebagai
media penyambung.
1. Kelebihan dari welding (pengelasan) :
a. Pengelasan menghasilkan penyambungan yang
b. permanen dan beberapa komponen menjadi satu k
(single entity)
c. Penyambungan bisa lebih kuat daripada material yang
disambung (tergantung dari filler dan teknik
pengelasan)
d. Ekonomis
e. Peralatan pengelasan mudah untuk dipindahkan
(portable)
2. Kekurangan dari welding (pengelasa)
a. Pada umumnya dilakukan secara manual dan
bergantung pada operator (cost and skill)
b. Menggunakan energi yang tinggi sehingga aspek
keselamatan kerja menjadi kritis
c. Proses perawatan menjadi sulit
(disassembly,component, replacement etc)
d. Cacat pada pengelasan sulit terdeteksi dan dapat
mengurangi kekuatan penyambungan
3. Jenis-jenis proses welding (pengelasan)
a. Busur listrik

Pengelasan Busur Listrik merupakan jenis las yang paling banyak dipakai di
dunia industri karena pengelasan ini praktis, murah, efisien, dan memiliki
produktivitas tinggi dengan hasil sambungan yang cukup berkualitas.
Pengelasan busur listrik mendapatkan panas dari busur listrik yang tercipta
antara ujung elektroda dengan logam induk. Busur listrik tersebut tercipta
dari reaksi arus pendek akibat dari terjadinya kotak ujung elektroda dengan
logam induk.
b. Resistansi listrik
Pengelasan Resistansi Listrik adalah proses pengelasan yang banyak di
aplikasikan pada industri produksi massal. Pengelasan resistansi listrik
memanfaatkan hambatan listrik (resistance) dari material untuk menciptakan
arus pendek dan mencairkan logam yang sedang di las. Pada saat yang
sama titik sambungan tersebut di tekan dan membentuk sambungan las saat
membeku.
c. Solid state welding

Pengelasan Fase Padat (Solid State Welding) sedikit berbeda dengan


proses pengelasan yang lain dimana fase cair logam merupakan kunci,
tetapi pada pengelasan fase padat kebanyakan prosesnya tidak mengubah
logam menjadi fase cair dahulu. Sehingga proses las ini memiliki nama lain
yaitu Penyambungan Fase Padar (Solid State Bonding). Memiliki banyak
kemiripan dengan pengelasan resistansi listrik, hanya saja pada proses ini
pengelasan sepenuhnya menggunakan energi mekanik tanpa menggunakan
energi listrik.
d. Termokimia

Pengelasan Termokimia (Termochemical Welding) merupakan pengelasan


yang menggunakan reaksi kimia sebagai sumber panas. Pengelasan seperti
Oxy-Acetylene Welding dimana sumber panasnya adalah dari hasil
pembakaran gas asetilen bertekanan juga dapat dikategorikan sebagai
pengelasan termokimia.

 Brazing

Brazing merupakan cara pengelasan dua buah logam dengan


menggunakan bahan tambah yang titik cairnya jauh lebih rendah dibanding
dengan titik cair logam yang akan disambung. Brazing dilakukan dengan
menggunakan temperature yang rendah. Brazing dapat pula disebut soldering.
Prinsip brazing yaitu Keberhasilan setiap operasi Brazing tergantung pada celah yang
relatif kecil dan permukaan yang bebas dari oksida dan zat kontaminasi lainnya.
 Soldering
Soldering merupakan proses penyambungan dua benda kerja atau lebih,
namun tidak terjadi fusi antara benda kerja yang disambung tersebut.
Logam filler (disebut solder) dicairkan dengan temperatur yang relatif
rendah (lebih rendah dari temperatur logam filler pada proses brazing).
Cairan logam filler selanjutnya mengisi celah dan pori-pori pada kedua
permukaan benda kerja yang saling menempel. Kelonggaran yang
dibutuhkan untuk melakukan soldering berkisar antara 0,075-0,125 mm
(0,003-0,005 in). Pengecualian untuk permukaan yang telah dilapisi
timah, di mana kelonggaran yang digunakan pada kasus ini sekitar 0,025
mm (0,001 in).
1. Kelebihan soldering
a. Energi yang dibutuhkan relatif rendah dibandingkan dengan
brazing dan pengelasan.
b. Variasi metode pemanasan beragam.
c. Hasil sambungan memiliki konduktivitas listrik dan panas yang
baik.
d. Mampu menghasilkan sambungan yang kedap udara (gas) dan
kedap air (cairan).
e. Mudah diperbaiki dan dikerjakan ulang.
2. Kekurangan soldering
a. Kekuatan sambungan lemah, kecuali diperkuat dengan
sambungan-sambungan mekanik.
b. Sambungan memiliki kemungkinan menjadi lemah atau cair
apabila diaplikasikan pada temperatur yang tinggi.
 Adhesive bonding

C. Macam-Macam Ragam Bahasa


1. Ragam Baku Lisan Dan Tulisan
Ragam baku lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media
lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu
pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal
itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan
kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-
unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan
karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami
makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Ciri-ciri ragam lisan:
1. Memerlukan orang kedua atau teman bicara
2. Tergantung kondisi, ruang, dan waktu .
3. Berlangsung cepat
4. Tidak harus memperhatikan gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa
tubuh.
5. Kesalahan dapat langsung dikoreksi
Contohnya; “Sudah saya kembalikan novel itu”
Ragam baku tulisan adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan
tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya.[1][1] Dalam ragam tulis, kita berurusan
dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata.
Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur
tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata,
kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh dari ragam baku tulisan adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll.
Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan
benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.
Ciri Ragam Bahasa Tulis :

1. Tidak memerlukan kehadiran orang lain.


2. Tidak terikat ruang dan waktu
3. Kosakata yang digunakan dipilih secara cermat
4. Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
5. Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap
6. Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
7. Berlangsung lambat
8. Memerlukan alat bantu
Contohnya: “Saya sudah membaca novel itu”

2. Ragam Sosial Dan Fungsional

Ragam Sosial yaitu ragam bahasa yang sebagain norma dan kaidahnya
didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam
masyarakat. Contohnya ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau
persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial.
Ragam fungsional, yaitu disebut juga profesiona, adalah ragam bahasa yang
dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya.
Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaan nya.

3. Ragam Bahasa Berdasarkan Media

Ragam bahasa adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menunjuk salah
satu dari sekian variasi yang terdapat dalam pemakaian bahasa. Sedangkan ragam itu
timbul karena kebutuhan penutur akan adanya media komunikasi yang sesuai dengan
konteks sosialnya.

Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :

a) Ragam Bahasa Lisan


Ragam bahasa lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media
lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu
pemahaman dan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi
ciri kebakuan nya

b) Ragam Bahasa Tulis

Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan


tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan
dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosakata. Dalam
penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak
ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat
yang
diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan
besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam
bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata,
penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan
unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan


media tulis seperti kertas dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis,
kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata. Dengan kata lain dalam
ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk
kata atau pun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan,
dan penggunaan tanda baca daam mengungkapkan ide. Ragam tulis yang standar kita
temui dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga
dapat menemukan ragam tulis non standar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda


menurut topik yang dibicarakan, orang yang dibicarakan, serta menurut media
pembicaraan. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan tulisan.
Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan ejaan bahasa yang telah
disempurnakan (EYD), sedangkan ragam bahasa lisan diharapkan para warga
Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa dengan baik serta bertutur kata
sopan sebagai pedoman yang ada.
B. Saran
Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya kita semua mempelajari
ragam bahasa yang kita miliki, kemudian mempelajari dan mengambil hal-hal yang
baik, yang dapat kita amalkan dan kita gunakan untuk berinteraksi dangan orang-
orang disekitar kita dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 1994. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. NTT:


Nusa Indah.
Rahardi, Kunjawa. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta :
Penerbit Erlangga
http://pendidikanmatematika2011.blogspot.com/2012/04/reski-andika-
saing.html (Senin 7 maret, 11.05)
http://merrycmerry.blogspot.com/2011/10/makalah-bahasa-indonesia-ragam-
bahasa.html
(senin 7 maret, 11.17)
http://irfanisprayudhi.wordpress.com/2013/09/30/arti-fungsi-dan-ragam-
bahasa (senin 7 maret , 11.17)