Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN DAN TEKNIK LABORATORIUM IPA

PERCOBAAN TUAS DUA LENGAN

Oleh :

Kelompok IX

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

September, 2018
HALAMAN PENGESAHAN
PERCOBAAN TUAS DUA LENGAN

Oleh :

Kelompok IX

Yogyakarta, 20 September 2018

Anggota :
1. Angganie Kanthi Aryanti (17312241010)

2. Vikhi Qomariyah (17312241001)

3. Candrawati Irma Muamalah (17312244022)

4. Faridatul Liana (17312241005)

Diserahkan pada tanggal .........................................., Jam ..................

Mengetahui,

Dosen Pembimbing/Asisten Praktikum

(...................................................................)
A. Judul
Tuas Dua Lengan
B. Tujuan
Mempelajari keseimbangan dan keuntungan mekanik pada tuas
C. Dasar Teori

Pengertian pesawat menurut fisika adalah setiap peralatan yang memudahkan


manusia untuk melakukan usaha (kerja). Jadi, istilah pesawat tidak hanya digunakan
untuk pesawat terbang, televisi, radio dan peralatan yang rumit ataupun canggih lainnya.
Obeng, pensil, sendok dan cangkir juga termasuk pesawat. Karena peralatan-peralatan
tersebut dirancang sederhana, maka disebut dengan pesawat sederhana. Macam-macam
jenis pesawat sederhana diantaranya tuas, bidang miring, katrol dan roda gigi
(Wulandari, 2013).

Sistem kerja tuas terdiri atas tiga bagian yaitu beban, titik tumpu dan kuasa.
berdasarkan posisi bagian-bagian sistem kerjanya, maka tuas dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu tuas pertama, kedua dan ketiga (Suryatin, 2006).

Linggis merupakan salah satu jenis tuas. Tuas lebih dikenal dengan nama
pengungkit. Pada umumnya, tuas atau pengungkit menggunakan batang besi atau kayu
yang digunakan untuk mengungkit suatu benda. Terdapat tiga titik yang menggunakan
gaya ketika mengungkit suatu benda, yaitu beban, titik tumpu, dan titik kuasa. Beban
merupakan berat benda, sedangkan titik tumpu merupakan tempat bertumpunya suatu
gaya. Gaya yang bekerja pada tuas disebut kuasa. Tuas dapat digambarkan secara
sederhana (Muslimin, 2013: 17).

Berdasarkan posisi atau kedudukan beban, titik tumpu, dan kuasa, tuas
digolongkan menjadi tiga, yaitu tuas golongan pertama, tuas golongan kedua, dan tuas
golongan ketiga (Sandy, 2012).

a. Tuas golongan pertama

Posisi titik tumpu pada tuas jenis pertama berada diantara beban dan kuasa.
Makin panjang lengan kuasa, maka makin kecil gaya yang diperlukan untuk mengungkit
beban. Pada tuas yang berada dalam keadaan setimbang, secara matematis keuntungan
mekanis tuas jenis pertama dapat dirumuskan sebagai berikut :

B x lb = F x If
Keterangan:

F = Gaya Kuasa (N)

B = Berat Beban (N)

If = Lengan Kuasa (m)

lb = Lengan Beban (m)

Contoh tuas golongan pertama ini di antaranya adalah gunting, linggis, jungkat-
jungkit, dan alat pencabut paku (Sandy, 2012).

b. Tuas golongan kedua

Pada tuas golongan kedua, kedudukan beban terletak di antara titik tumpu dan
kuasa. Contoh tuas golongan kedua ini di antaranya adalah gerobak beroda satu, alat
pemotong kertas, dan alat pemecah kemiri, pembuka tutup botol (Sandy, 2012).

c. Tuas golongan ketiga

Pada tuas golongan ketiga, kedudukan kuasa terletak di antara titik tumpu dan
beban. Contoh tuas golongan ketiga ini adalah sekop yang biasa digunakan untuk
memindahkan pasir (Sandy, 2012).

D. Metode Percobaan
1. Tempat dan Waktu Percobaan
a. Tempat : Ruang Laboratorium IPA FMIPA UNY
b. Waktu : Senin, 17 September 2018
c. Pukul : 13.40 - 14.45 WIB
2. Alat dan Bahan
a. Dasar statif
b. Kaki statif
c. Batang statif panjang
d. Batang statif pendek
e. Balok pendukung
f. Neraca pegas 1,5 N
g. Beban 50 g
h. Neraca pegas 3,0 N
i. Stekes pegas
j. Tuas
k. Penggaris logam
3. Langkah-Langkah Percobaan
a. Menggantungkan beban 50 gram pada lengan kanan tuas posisi lubang ke 12 (
lengan beban = lg = 18 cm
b. Menggantungkan dinamo meter 3,0 N pada lengan kiri tuas di posisi lubang
ke 12 ( lengan gaya kuasa = If = 18 cm )
c. Menarik dinamo meter ke arah bawah sampai tercapai keadaan seimbang
( posisi anak panah tuas menunjukan nol atau mengarah vertikal ke bawah)
d. Membaca gaya kuasa (F) yang ditunjukan oleh skala dinamo meter dan
mencatatnya ke dalam tabel hasil pengamatan
e. Mengulangi langkah a sampai dengan d diatas dengan mengubah jumlah
beban dan posisinya sesuai tercantum di bawah ini.
f. Melengkapi seluruh isian tabel hasil pengamatan
g. Memeriksa kebenaran hukum keseimbangan :
Beban x lengan beban = gaya kuasa x lengan kuasa (B x lb = F x If)

Prosedur Eksperimen

1. Percobaaan I

a. Variabel Bebas : Berat beban (W)

b. Variabel Terikat : Gaya kuasa (F)

c. Variabel Kontrol : Lengan beban (lb) dan lengan kuasa (lf)

2. Percobaaan II

a. Variabel Bebas : Lengan beban (lb)

b. Variabel Terikat : Gaya kuasa (F)

c. Variabel Kontrol : Berat beban (W) dan lengan kuasa (lf)

3. Percobaaan III

a. Variabel Bebas : Lengan kuasa (lf)

b. Variabel Terikat : Gaya kuasa (F)

c. Variabel Kontrol : Berat beban (W) dan lengan beban (lb)


E. Data Hasil Percobaan

Satuan Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3


Jumlah
Beban Buah 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Berat
Beban (w) N 0,5 1 1,5 1 1 1 1 1 1
Posisi
Beban - 12 12 12 6 3 6 3 6 6
Lengan
Beban (lB) cm 18 18 18 9 4,5 4,5 9 9 9
Posisi
Neraca N 12 12 12 12 12 12 6 6 3
Lengan
Kuasa(lF) cm 18 18 18 18 18 9 18 9 4,5
Gaya
Kuasa(F) N 0,5 0,9 1,4 0,4 0,2 0,2 1 1,5 1,9
w x IB N.cm 9 18 27 9 4,5 4,5 9 9 9
F x IF N.cm 9 16,2 25,2 7,2 3,6 1,8 18 13,5 8,55
Keuntungan
Mekanik w/F 1 1,1 1,07 2,5 5 5 1 0,67 0,52
Keuntungan
Mekanik lF/Lb 1 1 1 2 4 2 2 1 0,5

F. Analisis Data Hasil Percobaan


Percobaan 1 : Percobaan 1 :
1. w x IB = 0,5 x 18 = 9 N.cm 1. F x IF = 0,5 x 18 = 9 N.cm
2. w x IB = 1 x 18 = 18 N.cm 2. F x IF = 0,9 x 18 = 16,2 N.cm
3. w x IB = 1,5 x 18 = 27 N.cm 3. F x IF = 1,4 x 18 = 25,2 N.cm
Percobaan 2 : Percobaan 2 :
1. w x IB = 1x 9 = 9 N.cm 1. F x IF = 0,4 x 18 = 7,2 N.cm
2. w x IB = 1 x 4,5 = 4,5 N.cm 2. F x IF = 0,2 x 18 = 3,6 N.cm
3. w x IB = 1 x 4,5 = 4,5 N.cm 3. F x IF = 0,2 x 9 = 1,8 N.cm
Percobaan 3 : Percobaan 3 :
1. w x IB = 1 x 9 = 9 N.cm 1. F x IF =1 x 18 = 18 N.cm
2. w x IB = 1 x 9 = 9 N.cm 2. F x IF = 1,5 x 9 = 13,5 N.cm
3. w x IB = 1 x 9 = 9 N.cm 3. F x IF = 1,9 x 4,5 = 8,55 N.cm

Mencari Keuntungan Mekanik :


Percobaan 1 :
Mencari keuntungan mekanik
1. w/F = 0,5/0,5 = 1
Percobaan 1 :
2. w/F = 1/0,9 = 1,1
1. lF/Lb = 18/18 = 1
3. w/F = 1,5/1,4 = 1,07
2. lF/Lb = 18/18 = 1
Percobaan 2 :
3. lF/Lb = 18/18 = 1
1. w/F = 1/0,4 = 2,5
Percobaan 2 :
2. w/F = 1/0,2 = 5
1. lF/Lb = 18/9 = 2
3. w/F = 1/0,2 = 5
2. lF/Lb = 18/4,5 = 4
Percobaan 3 :
3. lF/Lb = 9/4,5 = 2
1. w/F = 1/1 = 1
Percobaan 3 :
2. w/F = 1/1,5 = 0,67
1. lF/Lb = 18/9 = 2
3. w/F = 1/1,9 = 0,52
2. lF/Lb = 9/9 = 1
3. lF/Lb = 4,5/9 = 0,5

G. Pembahasan

Percobaan mengenai tuas dua lengan telah dilaksanakan dengan tujuan untuk
mempelajari keseimbangan dan keuntungan mekanik pada tuas. Percobaan mengenai
tuas dua lengan ini telah dilaksanakan pada Senin, 17 September 2018 pada pukul 13.40
sampai dengan 14.45 WIB di ruang Laboratorium IPA FMIPA UNY. Praktikan pertama
kali menyiapkan bahan dan alat praktikum. Kemudian merancang statif dengan alat yang
tersedia pada KIT Mekanika. Setelah statif terbentuk maka praktikan melakukan
percobaan menggunakan tuas dua lengan dengan berbagai variasi.

Berdasarkan data hasil percobaan, didapatkan bahwa nilai w × lb tidak mutlak


sama dengan nilai F × lF. Akan tetapi hasilnya telah mendekati. Dan nilai keuntungan
mekanis tuas juga memiliki nilai yang berbeda. Hal ini belum sesuai dengan dasar teori
yang ada menurut (Sandy, 2012) yaitu besarnya B x lb = F x If yang dikarenakan oleh
beberapa hal yaitu adanya kesulitan untuk membuat tuas dalam keadaan setimbang,
sehingga pembacaan nilai gaya kuasa pada neraca pegas tidak tepat saat tuas dalam
keadaan setimbang serta kesalahan pembacaan skala pada neraca pegas.

Namun dari data pertama pada percobaan I dan data pertama pada percobaan III
yaitu ketika panjang lengan beban sama dengan panjang lengan kuasa didapatkan
kesesuaian bahwa dalam keadaan setimbang pada tuas akan berlaku dari percobaan I
yaitu dengan memvariasikan berat beban, akan mempengaruhi besar gaya kuasa yang
dibutuhkan untuk membuat tuas dalam keadaan setimbang. Semakin besar berat beban,
maka semakin besar pula gaya kuasa yang dibutuhkan. Sehingga didapat berat beban
sebanding dengan gaya kuasa. Dari percobaan II yaitu dengan memvariasikan posisi
beban yang berarti mengubah panjang lengan beban juga memengaruhi besar gaya kuasa
yang dibutuhkan untuk membuat tuas dalam keadaan setimbang. Dari data hasil
eksperimen didapatkan bahwa semakin dekat posisi beban dari titik tumpu, semakin kecil
gaya kuasa. Sehingga didapatkan bahwa lengan beban sebanding dengan gaya kuasa.
Dari percobaan III yaitu dengan memvariasikan posisi neraca pegas yang berarti
mengubah panjang lengan kuasa dapat memengaruhi besar gaya kuasa yang dibutuhkan
untuk membuat tuas dalam keadaan seetimbang. Dari data hasil eksperimen didapatkan
bahwa semakin dekat posisi neraca pegas (kuasa) dari titik tumpu, semakin besar gaya
kuasa. Sehingga didapatkan hubungan lengan kuasa berbanding terbalik dengan gaya
kuasa.

Dari tiga percobaan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa berat beban, panjang
lengan beban dan panjang lengan kuasa dapat mempengaruhi besar gaya kuasa yang
dibutuhkan untuk membuat tuas dalam keadaan setimbang. Sehingga pada tuas berlaku
hubungan yaitu keuntungan mekanis pada tuas akan semakin besar ketika posisi gaya
kuasa dibuat semakin jauh dari titik tumpu (memperbesar lengan kuasa) dan posisi beban
dibuat sedekat mungkin dengan titik tumpu (memperkecil lengan beban) misalnya saat
membuka pintu, dengan membuka pintu menggunakan pegangan pintu yang ada di ujung
pintu terasa lebih mudah daripada mendorong pintu dibagian tengahnya atau mendorong
di bagian pintu yang dekat dengan engsel. Karena dengan mendorong di bagian ujung
pintu, yang paling jauh dengan engsel, berarti memperbesar lengan kuasa sehingga pintu
terasa lebih mudah untuk dibuka karena gaya kuasa yang dibutuhkan lebih kecil.

H. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan mengenai Tuas Dua Lengan
dapat disimpulkan bahwa berat beban, panjang lengan beban dan panjang lengan kuasa
dapat mempengaruhi besar gaya kuasa yang dibutuhkan untuk membuat tuas dalam
keadaan setimbang. Sehingga pada tuas berlaku hubungan yaitu keuntungan mekanis
pada tuas akan semakin besar ketika posisi gaya kuasa dibuat semakin jauh dari titik
tumpu (memperbesar lengan kuasa) dan sebaliknya.

I. Saran
a. Meningkatkan ketepatan dalam membuat tuas keadaan setimbang

b. Meningkatkan ketelitian dalam pembacaan skala pada neraca pegas.

J. Daftar Pustaka
Muslimin, dkk. 2013. Panduan Praktikum Konsep Dasar IPA 2. Makassar : Universitas
Negeri Makassar.

Sandy.2012. Pengertian dan Jenis-jenis Pesawat Sederhana. http://www.


gunadarma.ac.id. Diakses pada tanggal 19 September 2018 pada Pukul 19.57
WIB.

Suryatin. 2006. Fisika. Jakarta: Grasindo.

Wulandari. 2013. Pesawat Sederhana. Jakarta: Graditama.

K. Lampiran