Anda di halaman 1dari 9

3.

1 Pengertian Penyusutan dan Deplesi

Menurut PSAK No. 17 pengertian depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang
dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode
akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Deplesi diartikan sebagai pengurangan biaya (cost) yang disebabkan pengelolaan sumber
daya menjadi persediaan seperti penurunan nilai pada tambang dan hutan kayu. Artinya
deplesi merupakan penyusutan alamiah sehingga tidak bisa Anda perbaharui.

3.2 Metode Metode Penyusutan

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Biaya Penyusutan

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)


Harga Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya penyusutan.
Harga perolehan menjadi dasar penghitungan seberapa besar depresiasi yang harus
dialokasikan per periode akuntansi. Harga ini diperoleh dari sejumlah uang yang
dikeluarkan dalam memperoleh aktiva tetap hingga siap digunakan.

2. Nilai Residu (Salvage Value)


Merupakan taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut dijual
pada saat penarikan atau penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak selalu ada,
ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual
pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini
tidak dianjurkan, alangkah baiknya jika aktiva dapat di daur ulang.

3. Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time)


Sebagian besar aktiva memiliki dua jenis umur, yaitu umur fisik dan juga umur
fungsional. Umur fisik dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu aktiva dikatakan
masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva tersebut masih dalam kondisi baik
(walaupun mungkin sudah menurun fungsinya).

Sedangkan umur fungsional biasanya dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut


dalam penggunaanya. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fungsional apabila
aktiva tersebut masih memberikan kontribusi bagi perusahaan. Walaupun secara fisik
suatu aktiva masih dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki
umur fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan model
atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva mesin atau peralatan
yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah tidak sesuai
dengan jaman. Kondisi ini biasanya terjadi pada jenis aktiva yang bersifat dekoratif
seperti furniture, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Dalam penentuan beban
penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal
dengan umur ekonomis.

1
Metode – Metode Penyusutan

1. Metode Garis Lurus (Straight-Line Method)

Metode ini disebut juga Straight-Line Method dan merupakan metode yang paling sering
digunakan untuk menghitung beban penyusutan. Metode ini fokus pada penyusutan sebagai
fungsi dari waktu dan bukan dari fungsi penggunaan.

Rumus perhitungannya sebagai berikut:

 Biaya Penyusutan = ( Biaya Perolehan Aset – Nilai Residu ) : ( Masa Manfaat Aset )
 Beban penyusutan = ( Rp500 juta – Rp50 juta ) : 5 = Rp 90 juta

Namun penggunaan metode ini dinilai kurang realistis karena kegunaan aktiva sama setiap
tahunnya.

2. Metode Beban Menurun (Decreasing Charge Method)

Metode ini merupakan metode penyusutan dipercepat dimana menyediakan biaya penyusutan
lebih tinggi pada tahun awal dan beban rendah pada periode selanjutnya. Fokus utama pada
metode ini adalah beban penyusutan lebih banyak pada tahun awal karena aktiva mengalami
penurunan pada tahun tersebut.

Metode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu :

a) Metode Jumlah Angka Tahun

Perhitungan penyusutannya menggunakan pecahan dengan pembilang angka tahun


(5+4+3+2+1=15) dan jumlah tahunnya menjadi penyebut. Pada metode ini, pembilang
menurun tahun demi tahun dan penyebut tetap konstan (5/15, 4/15, 3/15, 2/15 dan 1/15).
Berikut ilustrasinya:

Harga Beban Nilai Buku


Pecahan Akumulasi
Tahun Perolehan Penyusutan Akhir Tahun
Penyusutan Penyusutan (Rp)
(Rp) (Rp) (Rp)
1 450.000.000 5/15 150.000.000 150.000.000 350.000.000
2 450.000.000 4/15 120.000.000 270.000.000 230.000.000
3 450.000.000 3/15 90.000.000 360.000.000 140.000.000
4 450.000.000 2/15 60.000.000 420.000.000 80.000.000
5 450.000.000 1/15 30.000.000 450.000.000 50.000.000

2
b) Metode Saldo Menurun

Metode saldo menurun menggunakan biaya penyusutan (dalam persentase) berupa beberapa
kelipatan dari metode garis lurus. Misalnya, tarif saldo menurun berganda untuk aktiva 10
tahun akan menjadi 20% (dua kali biaya garis lurus, yaitu 1/10 atau 10%). Berikut
ilustrasinya:

Harga Nilai Buku Akumulasi Nilai Buku


Penyusutan
Tahun Perolehan Awal Tahun Tarif Penyusutan Akhir Tahun
(Rp)
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 500.000.000 500.000.000 40% 200.000.000 200.000.000 300.000.000
2 500.000.000 300.000.000 40% 120.000.000 380.000.000 180.000.000
3 500.000.000 180.000.000 40% 72.000.000 428.000.000 108.000.000
4 500.000.000 108.000.000 40% 43.200.000 456.800.000 64.800.000
5 500.000.000 64.800.000 - 14.800.000 485.200.000 50.000.000

3. Metode Aktivitas (Unit Penggunaan atau Produksi)

Pada metode ini mengansumsikan penyusutan sebagai fungsi dari produktivitas atau
penggunaan dan bukan dari segi berlalunya waktu. Dengan gambaran diatas, penentuan umur
penyusutan mesin produsi tidak memiliki masalah tertentu karena penggunaan relatif mudah
diukur.

Misalkan mesin produksi digunakan 4.000 jam di tahun pertama, maka beban penyusutannya
dapat dihitung sebagai berikut:

Beban penyusutan = [( Rp 500 juta – Rp 50 juta ) x 4.000]: 30 ribu = Rp60 juta.

Namun metode ini memiliki keterbatasan karena tidak tepat digunakan pada situasi
penyusutan berdasarkan waktu dan bukan aktivitas.

4. Metode Depresiasi Khusus

Dalam pengertian depresiasi sudah dijelaskan bahwa tujuannya adalah untuk mengetahui
penyusutan manfaat aset perusahaan. Namun pada beberapa khasus, perusahaan tidak bisa
memilih salah satu metode depresiasi diatas karena aktiva yang terlibat memiliki karakteristik
yang unik atau membutuhkan penerapa khusus.

Ada dua metode khusus yang bisa Anda terapkan pada kasus tersebut yaitu:

 Metode kelompok dan gabungan; sering digunakan pada aktiva yang cukup homogen
dan memiliki fungsi yang hampir sama.
 Metode campuran dan kombinasi; diterapkan sesuai dengan keinginan akuntan.

3
3.3 Penurunan Nilai Aktiva Tetap

Dalam PSAK 48, Penurunan Nilai Aset (impairment) terjadi apabila jumlah tercatatnya
melebihi jumlah terpulihkan. Jumlah terpulihkan suatu aset atau unit penghasil kas adalah
jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya.
Pada setiap akhir periode pelaporan, entitas menilai apakah terdapat indikasi aset mengalami
penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, maka entitas mengestimasi jumlah
terpulihkan aset tersebut.

PSAK 48 ini menerapkan untuk akuntansi penurunan nilai terhadap semua aset, kecuali :

1) Persediaan (lihat PSAK 14: Persediaan);


2) Aset yang timbul dari kontrak konstruksi (lihat PSAK 34: Akuntansi Kontrak
Konstruksi);
3) Aset pajak tangguhan (lihat PSAK 46: Akuntansi Pajak Penghasilan);
4) Aset yang timbul dari imbalan kerja (lihat PSAK 24: Imbalan Kerja);
5) Aset keuangan yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 55: Instrumen Keuangan:
Pengakuan dan Pengukuran;
6) Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (lihat PSAK 13: Properti Investasi);
7) Biaya akuisisi tangguhan, dan aset tidak berwujud, yang timbul dari hak kontraktual
penanggung berdasarkan kontrak asuransi yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK
28: Kontrak Asuransi; dan
8) Aset tidak lancar (atau kelompok lepasan) yang diklasifi kasikan sebagai dimiliki
untuk dijual sesuai dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual
dan Operasi yang Dihentikan.

Pengungkapan

Untuk setiap kelompok aset, entitas mengungkapkan hal berikut ini:


a) Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode
tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi
penurunan nilai.
b) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama
periode tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup
rugi penurunan nilai yang dibalik
c) jumlah rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan laba rugi
komprehensif lainnya selama periode itu.
d) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam
laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode tersebut.

4
3.4 Deplesi Sumber Daya Alam

Deplesi adalah penyusutan yang terjadi pada benda yang bersifat alami dan tidak dapat
diperbaharui.

Perbedaan depresiasi dengan deplesi adalah sebagai berikut:

Depresiasi Deplesi
Pengakuan terhadap pengurangan manfaat Pengakuan pengurangan kuantitatif pada
ekonomi yang terjadi pada aktiva tetap. sumber daya alam.
Digunakan untuk aktiva tetap yang bisa Digunakan untuk aktiva tetap yang tidak bisa
diganti bila sudah habis. langsung diganti dengan yang sama jika
sudah habis.
Alokasi harga perolehan ke pendapatan, Pengakuan terhadap perubahan langsung
pada periode bersangkutan untuk suatu darisumber daya alam menjadi barang yang
perusahaan yang dihitung berdasarkan hasil bisa dijual.
produksi.

Metode Perhitungan Deplesi

Dalam pehitungan deplesi, setidaknya perhatikan aspek-aspek berikut ini:

a. Harga perolehan aktiva.


Jika sumber daya alam, harga perolehannya adalah pengeluaran dimulai sejak
mendapatkan izin sampai sumber daya alam itu dapat diambil hasilnya. Jika
pengeluaran itu terlalu kecil, maka dilakukan penilaian atas sumber daya alam tersebut.
b. Taksiran nilai sisa apabila sumber alam sudah selesai dieksploitasi.
c. Taksiran hasil yang secara ekonomis dapat dieksploitasi.

3.5 Penyajian dan Analisis Aktiva Tetap

Depresiasi

PT. ABC pada Januari 2012 membeli mesin dengan Harga Perolehan Rp 20.000.000, Nilai
Residu sebesar Rp 5.000.000, Umur Ekonomis selama 5 tahun. Berapa penyusutan tiap
tahunnya?
Jawaban :
Perhitungan :
Depresiasi = Harga Perolehan – Nilai Residu
Umur Ekonomis
= 20.000.000 - 5.000.000
5
= Rp 3.000.000
Membuat tabel untuk mengetahui jumlah penyusutan tiap tahunnya :

5
Tahun Depresiasi Akumulasi Total Akumulasi Nilai Buku Aktiva
Ke- (D) Penyusutan (K) Penyusutan (N)=N-K
0 20.000.000
1 3.000.000 3.000.000 3.000.000 17.000.000
2 3.000.000 3.000.000 6.000.000 14.000.000
3 3.000.000 3.000.000 9.000.000 11.000.000
4 3.000.000 3.000.000 12.000.000 8.000.000
5 3.000.000 3.000.000 15.000.000 5.000.000

Membuat Jurnal

Jurnal penyusutan di tahun 2012 adalah

Biaya Depresiasi Mesin 3.000.000

Akumulasi Depresiasi 3.000.000

Jurnal penyustan di tahun 2013 adalah

Biaya Depresiasi Mesin 3.000.000

Akumulasi Depresiasi 3.000.000

Catatan : Nilai depresiasi adalah selalu sama di tahun 1 – 5

Jurnal mencatat penyesuaian Nilai Mesin di akhir tahun pertama

Akumulasi Depresiasi 3.000.000

Mesin 3.000.000

Jurnal mencatat penyesuaian Nilai Mesin di akhir tahun kedua

Akumulasi Depresiasi 3.000.000

Mesin 3.000.000

6
*INFO TAMBAHAN

Apabila di awal tahun ke-2 dibuat jurnal pembalik yaitu

Mesin 3.000.000

Akumulasi Dpresiasi 3.000.000

Maka jurnal di akhir tahun kedua bunyinya

Akumulasi Depresiasi 6.000.000

Mesin 6.000.000

Catatan :
Dengan adanya penyesuaian dimaksudkan untuk mengetahui Nilai buku mesin di akhir tahun
pertama, kedua, ketiga sampai kelima.. Jadi Nilai mesin di akhir tahun pertama adalah
20.000.000-3.000.000 = 17.000.000 dan di akhir tahun ke dua adalah 17.000.000-
3.000.000=14.000.000 dst.

Deplesi

Sebidang lahan (tanah) yang terdapat kandungan tambang dibeli seharga Rp20.000.000,00.
Taksiran isinya sebesar 150.000 ton. Tanah tersebut setelah dieksploitasi nilainya ditaksir
sebesar Rp2.000.000,00. Deplesi per ton dihitung sebagai berikut:

Deplesi = Rp. 20.000.000,00 – Rp 2.000.000,00 : 150.000 = Rp 120,00 Per TON

Jika di tahun pertama, lahan tersebut bisa di eksploitasi sebanyak 40.000 ton, maka total
deplesi pada tahun tersebut sebesar = 40.000 x Rp. 120.000 = Rp. 4.800.000

Jurnal untuk mencatat deplesi:

Deplesi Rp 4.800.000,00
Akumulasi deplesi Rp 4.800.000,00

Apabila perusahaan telah menaksir di muka biaya deplesi dan kenyataannya perhitungan
taksiran berbeda degan kenyataannya, maka perlu diadakan revisi. Koreksi deplesi ini bisa
dilakukan dengan cara berikut ini:

 Deplesi pada tahun lalu dan masa yang akan datang sudah dicatat dikoreksi. Pada saat
adanya perubahaan. Dihitung lagi deplesi perunit kemudian dilakukan koreksi.

Contohnya deplesi yang terlalu besar, jurnal koreksinya sebagai berikut:

7
Akumulasi deplesi Rp. Xxx
Laba tidak dibagi (koreksi laba tahun lalu) Rp. Xxx

 Deplesi tahun lalu sudah dicatat tidak di koreksi, tetapi deplesi tahun yang akan
datang dilakukan dengan data yang terakhir. Deplesi pada tahun lalu tidak dikoreksi,
tetapi deplesi untuk tahun berjalan dan tahun yang akan datang dilakukan revisi.

Contoh biaya pembangunan bertambah sebesar Rp. l.800.000,00. Setelah di eksploitasi dalam
tahun kedua sebanyak 30.000 ton, tambang ditaksir masih mengandung 90.000 ton.
Perhitungan deplesi pada tahun kedua didapat sebagai berikut:

Harga perolehan pertama 20.000.000


(-) Nilai sisa 2.000.000
Deplesi tahun pertama 4.800.000
(6.800.000 )
13.200.000
(+) Biaya pembangunan tahun kedua 1.800.000
Jumlah yang akan di deplesi Rp. 15.000.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua
Hasil eksploitasi tahun kedua (ton) 30.000
Taksiran isi tambang pada akhir tahun kedua (ton) 90.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua (ton) 120.000

Deplesi per ton dalam tahun kedua = Rpl5.000.000,00 :120.000 = Rp125,00.

Deplesi tahun kedua = 30.000 ton x Rp125,00 = Rp3.750.000,00

Pada Aktiva tetap milik perusahaan yang mengolah SDA, kegunaan aktiva terbatas sampai
selesainya ekploitasi SDA. Maka Depresiasi aktiva tetap dapat dihitung dengan taksiran hasil
sumber alam.

8
Daftar Pustaka

https://www.maxmanroe.com/vid/finansial/akuntansi/pengertian-depresiasi.html

http://jurnal2ekonomi.blogspot.com/2018/04/jurnal-penyusutan-dengan-metode-garis.html

https://www.akuntansilengkap.com/akuntansi/pengertian-deplesi-beserta-metode-contoh-
soal-dan-jawaban/

http://fadhilaww.blogspot.com/2015/01/akm-1a-penyusutan-aktiva-tetap-tidak.html