Anda di halaman 1dari 98

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker

Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA


Periode 01 – 30 November 2017

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA

DI

APOTEK BOUTY MEDIKA

Jalan Brigjend Sudiarto No. 34, Surakarta

Periode 01 – 30 April 2019

Oleh:
Dhenis Clarista Wijayanti, S.Farm 1820364011
Serliandi, S.Farm 1820364063

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2019

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXIII Universitas Setia Budi Surakarta


i
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


PROGRAM PENDIDKAN PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI
DI
APOTEK BOUTY MEDIKA
Jalan Brigjend Sudiarto No. 34, Surakarta
01 – 30 April 2019

Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Apoteker


pada Program Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi

Oleh :

Dhenis Clarista Wijayanti, S.Farm 1820364011


Serliandi, S.Farm 1820364063

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing PKPA Apotek Bouty Medika


Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Apoteker Penangung Jawab Apotek

Dra. Pudiastuti, R.S.P, MM., Apt Tiara Ajeng Listyani, S. Farm., Apt.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


ii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat

dan karunia-Nya, sehingga kami dapat melaksanakan dan menyelesaikan Praktek

Kerja Profesi Apoteker (PKPA) serta menyususn Laporan PKPA di Apotek Bouty

Medika dengan baik dan lancar. Praktek Kerja Profesi Apoteker di apotek

dilakukan oleh mahasiswa program profesi sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi.

Praktek Kerja Profesi Apoteker yang dilaksanakan bulan Mei 2018 di

Apotek Bouty Medika ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan,

keterampilan, dan pengalaman dalam pengelolaan apotek kepada mahasiswa serta

meningkatkan kemampuan dalam mengabdikan profesinya kepada masyarakat.

Kegiatan PKPA ini terlaksana dengan baik tidak terlepas dari bantuan

berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini,

kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan bimbingan serta kerja sama

yang telah diberikan selama dan sesudah pelaksanaan Pratek Kerja Profesi

Apoteker kepada :

1. Dr. Djoni Tarigan, MBA., selaku Rektor Universitas Setia Budi Surakarta.
2. Prof. Dr. R.A. Oetari, SU., MM., M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi

Universitas Setia Budi Surakarta.


3. L.V. Yulie Andriati, selaku PSA Apotek Bouty Medika yang telah memberikan

izin dan kesempatan kepada kami untuk dapat melaksanakan PKPA.


4. Dewi Ekowati, M.Sc., Apt., selaku Ketua Program Pendidikan Profesi

Apoteker Universitas Setia Budi yang telah memberikan izin kepada kami

untuk melaksanakan PKPA Program Pendidikan Profesi Apoteker USB yang

telah memberikan pengetahuan dan pandangan mengenai perapotekan.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


iii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

5. Dra. Pudiastuti, R.S.P, MM., Apt selaku dosen pembimbing PKPA Apotek

Universitas Setia Budi yang telah banyak memberikan petunjuk, bimbingan,

nasehat sebelum dan setelah kami melakukan PKPA.


6. Tiara Ajeng Listyani, S.Farm., Apt selaku APA di Apotek Bouty Medika, yang

telah membimbing, mengarahkan dan memberikan pengetahuan tentang

perapotekan dan seluk beluk mengenai Apotek Bouty Medika.


7. Semua staf dan karyawan Apotek Bouty Medika, yang telah membantu dan

mengarahkan kami dalam melaksanakan PKPA di Apotek Bouty Medika.


8. Orang tua dan keluarga kami tercinta atas dukungan moril, material dan doa

yang telah diberikan kepada kami.


9. Teman-teman Profesi Apoteker angkatan XXXIV Universitas Setia Budi

Surakarta dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu yang

telah memberikan bantuan dan dukungan selama pelaksanaan PKPA ini.


Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh

dari kata sempurna. Kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun dari semua pihak demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan

ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi Apotek Bouty Medika,

almamater, mahasiswa seprofesi seta pembaca pada umumnya .


Surakarta, April 2019

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR GAMBAR x

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


iv
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

DAFTAR LAMPIRAN xi

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker 3

1. Tujuan umum 3

2. Tujuan Khusus 4

C. Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Apotek 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6

A. Pengertian Apotek 6

B. Peraturan Perundang-Undangan Perapotekan 7

C. Tugas dan Fungsi Apotek 9

D. Persyaratan Apotek 9

1. Perizinan Apotek 9

2. Syarat Permohonan Izin Apotek 10

3. Sarana dan prasarana apotek 11

E. Tata Cara Pemberian Izin Apotek 13

F. Perubahan Izin Apotek 16

G. Pencabutan Surat Izin Apotek 17

H. Sumber Daya Manusia 18

I. Pelayanan Kefarmasian di Apotek 21

1. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan

21

2. Pelayanan Farmasi Klinik 25

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


v
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

J. Penggolongan Obat 37

4. Obat Bebas 37

3. Obat Bebas Terbatas 37

4. Obat Keras 38

5. Narkotika 40

6. Obat Wajib Apotek (OWA) 41

K. Pengelolaan Resep 42

L. Pengelolaan Narkotika 43

1. Pemesanan Narkotika 44

2. Penyimpanan Narkotika44

3. Pelaporan Narkotika 45

4. Pelayanan Narkotika 46

5. Pemusnahan Narkotika 46

M. Pengelolaan Psikotropika 47

1. Pemesanan Psikotropika 48

2. Penyimpanan Psikotropika 48

3. Pelaporan Psikotropika 48

4. Pemusnahan Psikotropika 49

N. Golongan Obat Tradisional 49

1. Jamu 50

2. Obat Herbal Terstandar 50

3. Fitofarmaka 51

O. Pengelolaan Obat Wajib Apotek dan Obat Tanpa Resep 52

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


vi
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

P. Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa 53

Q. Jalur Distribusi Obat 53

R. Perpajakan 54

BAB III TINJAUAN TENTANG TEMPAT PRAKTEK KERJA PROFESI

APOTEKER 57

A. Sejarah Apotek Bouty Medika 57

B. Struktur Organisasi 59

C. Tenaga Kerja dan Tugasnya 60

1. Apoteker Pengelola Apotek (APA) 60

2. Apoteker Pendamping 62

3. Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) 62

4. Administrasi 63

5. Pembantu Umum 64

D. Jam Kerja 64

E. Komunikasi, Informasi dan Edukasi64

F. Denah Apotek 65

BAB IV KEGIATAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA) DI

APOTEK BOUTY MEDIKA 66

A. Pengelolaan Apotek Bouty Medika 66

1. Perencanaan 66

2. Pengadaan 67

3. Penerimaan 68

4. Penyimpanan Barang 69

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


vii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

5. Penjualan 70

6. Pemusnahan 70

B. Sistem Managerial Administrasi Apotek Bouty Medika 71

1. Defecta 72

2. Surat Pemesanan 72

3. Penerimaan barang 72

4. Buku Faktur Lunas 73

5. Penerimaan Resep 73

6. Map Resep 73

7. Map Faktur Hutang 73

8. Map Faktur Lunas 73

9. Laporan Penggunaan Narkotika dan Psikotropika 73

C. Sistem Pelayanan Kefarmasian Apotek Bouty Medika 75

1. Pelayanan Resep 75

2. Pengelolaan Resep 77

3. Penjualan Obat Wajib Apotek (OWA) 77

4. Penjualan Obat Bebas dan Komoditi lainnya 77

5. Penjualan Alat Kesehatan 78

6. Bangunan 78

7. Perpajakan 79

8. Gaji dan Kesejahteraan Karyawan 79

BAB V PEMBAHASAN 81

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 88

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


viii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

A. Kesimpulan 88

B. Saran 89

DAFTAR PUSTAKA 91

LAMPIRAN 94

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


ix
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur Permohonan Izin Pendiriaan Apotek........................................16

Gambar 2. Obat bebas........................................................................................37

Gambar 3. Obat bebas Terbatas..........................................................................37

Gambar 4. Obat Keras........................................................................................38

Gambar 5. Logo Narkotika.................................................................................40

Gambar 6. Logo Jamu........................................................................................50

Gambar 7. Logo obat herbal terstandar..............................................................50

Gambar 8. Logo Obat Fitofarmaka.....................................................................51

Gambar 9. Skema Jalur Distribusi Obat.............................................................54

Gambar 10. Struktur Organisasi Apotek Bouty Medika.......................................59

Gambar 11. Struktur Organisasi Apotek Bouty Medika Disertai.........................60

Gambar 12. Denah Apotek Bouty Medika...........................................................65

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


x
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Etiket dan Kemasan Bungkus Puyer Apotek Bouty Medika.......95

Lampiran 2. Copy Resep Apotek Bouty Medika..............................................96

Lampiran 3. Tampilan Surat pemesanan (SP) Apotek Bouty Medika..............97

Lampiran 4. Tampilan program komputerisasi Apotek Bouty Medika............98

Lampiran 5. Tampilantransaksi order pembelian (untuk order barang)...........98

Lampiran 6. Tampilan Transaksi Input Pembelian (Stok Barang Masuk dan


Penentuan HJA)...........................................................................99

Lampiran 7. Hasil Cetak Form Transaksi Pembelian.......................................99

Lampiran 8. Transaksi Penjualan HV / Bebas / OWA....................................100

Lampiran 9. Transaksi Penjualan Dengan Resep Dokter...............................100

Lampiran 10. Rekap Penjualan Kasir...............................................................101

Lampiran 11. Tampilan Penerimaan Barang Kosinyasi...................................101

Lampiran 12. Tampilan Transaks iPenjualan Tempo (Hanya Melayani untuk


Apotek Grup dan Karyawan).....................................................102

Lampiran 13. Tampilan Pemusnahan Obat Kadaluarsa (Total barang yang


dimusnahkan dianggap sabagai kerugian Apotek).....................102

Lampiran 14. Tampilan jenis rekap data di Apotek Bouty Medika..................103

Lampiran 15. Format nempil Obat-obatan ke Apotek Lain..............................103

Lampiran 16. Tampilan Pembayaran via Transfer Apotek...............................104

Lampiran 17. Tampilan Bukti Transfer ApotekBouty Medika.........................104

Lampiran 18. Surat Pesanan Obat Mengandung Prekursor Farmasi................105

Lampiran 19. Contoh Faktur Pemesanan Barang.............................................105

Lampiran 20. Form Surat Pemesanan Narkotik...............................................106

Lampiran 21. Form Surat Pemesanan Psikotropika.........................................106

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


xi
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

Lampiran 22. Daftar Mutasi Barang Apotek Bouty Medika............................107

Lampiran 23. Design Layout Penyimpanan Obat di Apotek Bouty.....................108

Lampiran 24. Gambar Apotek Bouty Medika..................................................109

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


xii
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemenkes No 9 Tahun 2017 tentang Apotik, menyatakan bahwa apotek

adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh

Apoteker. Fungsi apotek adalah sebagai tempat pengabdian Apoteker yang telah

mengucapkan sumpah jabatan, dan sebagai sarana farmasi untuk melakukan

peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat dan sarana

penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan

masyarakat secara meluas dan merata (Permenkes RI 2016).

Apotek memiliki peran dalam membantu mewujudkan tecapainya derajat

kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Undang-Undang Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 36 tahun 2009, menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan

sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan

setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis serta telah

ditetapkan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Setiap

elemen masyarakat baik individu, keluarga, berhak memperoleh pelayanan atas

kesehatannya maka diperlukan adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang

bermutu, merata dan terjangkau oleh semua elemen masyarakat. Fasilitas

pelayanan kesehatan yang dimaksud salah satunya adalah apotek.

Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam

membantu mewujudkan tecapainya derajat kesehatan yang optimal bagi

masyarakat sebagai salah satu upaya pembangunan nasional melalui pendekatan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


1
2
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),

penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang

dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Upaya tersebut

dapat dilakukan dengan pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan,

persediaan obat-obatan yang memadai, berkualitas, aman, distribusi yang merata,

harga yang terjangkau oleh masyarakat luas serta meningkatkan ketepatan dan

efisiensi penggunaannya. Upaya kesehatan yang dilakukan perlu didukung pula

oleh sarana kesehatan yang memadai meliputi rumah sakit, apotek, dan lain-lain.

Orientasi pelayanan kefarmasian pada saat ini telah diperluas, yakni dari

drug oriented (paradigma lama) menjadi patient oriented (paradigma baru) yang

mengacu kepada pharmaceutical care (asuhan kefarmasian). Sebagai konsekuensi

perubahan orientasi tersebut maka apotek perlu dipimpin oleh seorang profesional

di bidangnya yaitu Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang handal baik dari segi

fungsi teknis kefarmasian maupun fungsi non-teknis kefarmasian. Seorang APA

dituntut mempunyai kemampuan dalam bidang manajemen pengelola apotek

sebab di dalam usaha bisnis apotek terdapat unsur dagang (bisnis), sosial dan

profesi. Seorang APA juga dituntut untuk dapat memahami segala permasalahan

yang sering timbul dalam suatu apotek serta mampu mengambil tindakan korektif

untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu seorang APA juga dituntut untuk

senantiasa meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat

berinteraksi langsung dengan pasien.

Pengetahuan dan pengalaman tentang kondisi nyata yang terjadi di apotek

diperoleh melalui kerjasama antara Program Studi Profesi Apoteker Fakultas

Farmasi Universitas Setia Budi dengan Apotek. Salah satu diantaranya

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


3
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

menyelenggarakan latihan kerja bagi calon apoteker di Apotek Bouty Medika,

sehingga calon apoteker mengetahui dan memahami permasalahan yang banyak

dijumpai di apotek serta mendapatkan pengalaman praktis tentang pengelolaan

diapotek.

B. Tujuan Praktek

1. Tujuan umum

a. Memberikan gambaran mengenai fungsi, peran, dan tugas seorang

apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan


b. Mempersiapkan para calon apoteker agar dapat menjadi apoteker yang

profesional, berwawasan luas, mandiri, handal, dan bertanggung jawab

dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan masyarakat sesuai

dengan etika profesinya

2. Tujuan Khusus

a. Memberikan kesempatan kepada calon Apoteker untuk mengetahui secara


langsung kegiatan farmasi di Apotek meliputi aspek administrasi dan
perundang-undangan yang meliputi aspek legal pendirian Apotek dan
pelayanan di Apotek.
b. Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diharapkan dapat membekali calon
Apoteker dengan pengetahuan praktis dan keterampilan dalam mengelola
Apotek, serta memahami peran seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA)
yang mempunyai kemampuan manajerial, kemampuan professional dan
kemampuan berkomunikasi dalam memberikan komunikasi, informasi,
dan edukasi.

C. Manfaat

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


4
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

Mahasiswa mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab apoteker

dalam mengelola apotek, mendapat pengetahuan manajemen praktis di apotek,

mendapatkan pengalaman praktis pekerjaan kefarmasian di apotek serta mampu

Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang profesional.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Apotek

Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek

kefarmasian oleh Apoteker (Menkes RI 2017). Praktek kefarmasian oleh Apoteker

di apotek berupa pelayanan kefarmasian yang menurut Peraturan Menteri

Kesehatan RI Tahun 2016 adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung

jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud

mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.


Ketentuan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang

perapotekan yang berlaku hingga sekarang adalah Permenkes No. 9 Tahun 2017,

yaitu :

1. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
2. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli
madya farmasi dan analis farmasi.
3. Surat Tanda Registrasi Apoteker yang selanjutnya disingkat STRA adalah
bukti tertulis yang diberikan oleh konsil tenaga kefarmasian kepada apoteker
yang telah diregistrasi.
4. Surat Izin Apotek yang selanjutnya disingkat SIA adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada apoteker sebagai
izin untuk menyelenggarakan apotek.
5. Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
pemerintah daerah kabupaten/kota kepada apoteker sebagai pemberian
kewenangan untuk menjalankan praktik kefarmasian.
B. Landasan Hukum Apotek

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


5
6

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Landasan hukum yang mendasari pendirian dan pengelolaan apotek :

1. Undang-undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

2. Undang-undang RI No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.

3. Undang-undang RI No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

4. Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

5. Undang-undang RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

6. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun 2015 tentang Peredaran,

Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan

Prekursor Farmasi.

7. Peraturan Pemerintah RI No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 47 Tahun 2016 tentang

Fasilitas Pelayanan Kesehatan

9. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 73 Tahun 2016 tentang Standar

Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

10. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 35 Tahun 2014 tentang Standar

Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

11. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang

Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

12. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 889/Menkes/Per/V/2011 tentang

Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.

13. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/Sk/X/2002 tentang

Perubahan Atas Permenkes RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang

Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


7

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

14. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 437/Menkes/SK/VII/1990 tentang

Daftar Obat Wajib Apotek.

15. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar

Obat Wajib Apotek No.2.

16. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1176/Menkes/SK/X/1999 tentang

Daftar Obat Wajib Apotek No.3.

C. Tugas dan Fungsi Apotek

Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 tahun 2017 bab IV tentang

Penyelenggaraan Apotek menyebutkan bahwa apotek mempunyai fungsi sebagai:

1. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai.

2. Pelayanan Farmasi Klinik, termasuk di komunitas

Untuk mencapai fungsinya, maka dalam Permenkes RI No. 73 tahun 2016

diatur Standar Pelayanan Kefarmasian yakni tolak ukur yang dipergunakan

sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan

kefarmasian.

D. Persyaratan Pendirian Apotek

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017

Tentang Apotek, pendirian apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:

a. Lokasi
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mengatur persebaran

Apotek di wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam

mendapatkan pelayanan kefarmasian

b. Bangunan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


8

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Bangunan apotek harus bersifat permanen dan memiliki fungsi

keamanan, kenyamanan, kemudahan dalam pemberian pelayanan

kepada pasien serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang

termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan orang lanjut usia.

c. Sarana, prasarana, dan peralatan

1) Bangunan Apotek paling sedikit memiliki sarana ruang yang berfungsi:


a. penerimaan Resep;
b. pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas);
c. penyerahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
d. konseling;
e. penyimpanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;dan
f. arsip.

2) Prasarana apotek paling sedikit terdiri atas:

a. instalasi air bersih;

b. instalasi listrik;

c. sistem tata udara;dan

d. sistem proteksi kebakaran.

3) Peralatan apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam

pelaksanaan pelayanan kefarmasian antara lain meliputi rak obat, alat

peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi,

komputer, sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan pengobatan

pasien dan peralatan lain sesuai dengan kebutuhan.

d. Ketenagaan

Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan apotek dapat

dibantu oleh apoteker lain, Tenaga Teknis Kefarmasian dan/atau

tenaga administrasi. Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian wajib

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


9

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

memiliki surat izin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.
E. Perizinan

Ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek berdasarkan Peraturan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 BAB III Pasal 12,

13 dan 14. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 Tahun 2017 BAB III Pasal

12 menyatakan :

1. Setiap pendirian apotek wajib memiliki izin dari Menteri.


2. Menteri melimpahkan kewenangan pemberian izin sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.


3. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa SIA.
4. SIA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi

persyaratan.

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 Tahun 2017 BAB III Pasal 13

menyatakan:

a. Untuk memperoleh SIA, apoteker harus mengajukan permohonan tertulis

kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir

1.
b. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditandatangani oleh

apoteker disertai dengan kelengkapan dokumen administratif meliputi:

fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli, fotokopi Kartu Tanda

Penduduk (KTP), fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker, fotokopi

peta lokasi dan denah bangunan, daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
c. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima permohonan

dan dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen administratif

sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


10

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

menugaskan tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap

kesiapan apotek dengan menggunakan Formulir 2.


d. Tim pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus melibatkan unsur

dinas kesehatan kabupaten/kota yang terdiri atas: tenaga kefarmasian dan

tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.


e. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim pemeriksa ditugaskan,

tim pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan setempat yang dilengkapi

Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

dengan menggunakan Formulir 3.


f. Paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja sejak Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota menerima laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan

dinyatakan memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

menerbitkan SIA dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas

Kesehatan Provinsi, Kepala Balai Besar POM, Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi dengan menggunakan Formulir 4.


g. Dalam hal hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5)

dinyatakan masih belum memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota harus mengeluarkan surat penundaan paling lama dalam

waktu 12 (dua belas) hari kerja dengan menggunakan Formulir 5.


h. Tehadap permohonan yang dinyatakan belum memenuhi persyaratan

sebagaimana dimaksud pada ayat (7), pemohon dapat melengkapi persyaratan

paling lambat dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan diterima.
i. Apabila pemohon tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan

sebagaimana dimaksud pada ayat (8), maka Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penolakan dengan menggunakan

Formulir 6.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


11

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

j. Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA

melebihi jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Apoteker

pemohon dapat menyelenggarakan apotek dengan menggunakan BAP

sebagai pengganti SIA.

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 Tahun 2017 BAB III Pasal 14

menyatakan :

a. Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA, maka penerbitannya bersama

dengan penerbitan SIPA untuk Apoteker pemegang SIA.


b. Masa berlaku SIA mengikuti masa berlaku SIPA.
Apoteker ber-SIK

Permohonan ijin
dengan form APT-1
Kepala Dinas Kesehatan Jika pemeriksaan tidak
dilakukan, apoteker membuat
Kabupaten/Kota surat pernyataan siap
Maksimal 6 hari menugaskan melaukan kegiatan ke Dinkes
Kabupaten/Kota, dengan
dengan form APT-2 tembusan kepada Dinkes
Tim DinKes Kabupaten/Kota Propinsi dengan Form APT-4
dan Kepala Balai Besar POM
Maksimal 6 hari melaporkan
hasil pemeriksaan dengan
form APT-3
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota

Belum memenuhi Memenuhi persyaratan Belum memenuhi


persyaratan (12 hari kerja) ( 12 hari kerja ) persyaratan (12 hari kerja)

Surat Penundaan Form Surat Ijin Apotek Surat penolakan Form


model APT-6 Form model APT-5 model APT-7

Diberi kesempatan Melaksanakan


melengkapi (1 bulan) pembukaan

Surat Ijin Apotek


Form model APT-5

Gambar 1. Skema proses perizinan pendirian apotek

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


12

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Apotek yang melakukan perubahan alamat di lokasi yang sama atau

perubahan alamat dan pindah lokasi, perubahan Apoteker pemegang SIA, atau

nama Apotek, wajib mengajukan permohonan perubahan izin kepada Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan setempat oleh tim

pemeriksa.

Apabila APA meninggal dunia, maka dalam jangka waktu dua kali dua

puluh empat jam ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara

tertulis kepada Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kotamadya. Apabila pada apotek

tersebut tidak terdapat apoteker pendamping, maka pada pelaporan mengenai

Apoteker Pengelola Apotek telah meninggal dunia kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten atau Kotamadya disertai dengan laporan mengenai penyerahan resep,

obat-obat narkotika dan psikotropika, obat-obat keras dan kunci tempat

penyimpanan narkotika dan psikotropika.

F. Penyelenggaraan

Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 tahun 2017 bab IV tentang Penyelenggaraan

Apotek menyebutkan bahwa;

1. Apotek wajib memasang papan nama Apotek yang memuat paling sedikit

informasi mengenai nama Apotek, nomor SIA, alamat dan papan nama praktik

Apoteker yang memuat paling sedikit informasi mengenai nama apoteker,

nomor SIPA, dan jadwal praktik Apoteker.


2. Setiap Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian harus bekerja sesuai dengan

standar profesi, standar prosedur operasional, standar pelayanan, etika profesi,

menghormati hak pasien dan mengutamakan kepentingan pasien.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


13

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

3. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Apotek harus menjamin ketersediaan

Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai yang aman,

bermutu, bermanfaat, dan terjangkau.

4. Pengadaan obat dan/atau bahan obat di Apotek menggunakan surat pesanan

yang mencantumkan SIA dan harus ditandatangani oleh Apoteker pemegang

SIA dengan mencantumkan nomor SIPA.

G. Pencabutan Surat Izin Apotek

Suatu apotek yang sudah berjalan dapat dicabut izinnya apabila:

melanggar Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-

Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, Undang- undang No. 35 tahun

2009 Narkotika dan peraturan lainnya; tidak lagi memenuhi persyaratan apotek;

PSA melanggar peraturan perundang-undangan.

Keputusan pencabutan dibuat oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten

atau Kota dan disampaikan langsung kepada yang bersangkutan dengan tembusan

Menteri Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Balai Besar

POM. Pencabutan dilakukan setelah diberi peringatan tiga kali berturut-turut

dengan selang waktu 2 bulan atau telah dibekukan minimal 6 bulan. Bila izin

apotek dicabut, APA wajib mengamankan sediaan farmasi yang ada dengan cara :

1. Inventarisasi narkotika, psikotropika dan obat lainnya serta resep.

2. Narkotika dan psikotropika dimasukkan dalam lemari terkunci.

3. APA wajib melaporkan tentang penghentian kegiatan.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


14

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Pembekuan dapat dicairkan sepanjang telah memenuhi persyaratan lagi

dan dibuktikan dengan laporan pemeriksaan oleh Tim Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota atau petugas Balai Besar POM.

H. Sumber Daya Manusia

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 35 tahun

2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, pelayanan kefarmasian

di apotek diselenggarakan oleh Apoteker, dapat dibantu oleh Apoteker

pendamping dan atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang memiliki Surat Tanda

Registrasi, Surat Izin Praktik atau Surat Izin Kerja. Personalia yang mendukung

kegiatan di apotek antara lain Apoteker Pengelola Apotek (APA), Apoteker

Pendamping, Apoteker Pengganti, Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK), Kasir dan

Tenaga lain-lain seperti satpam.

Dalam melakukan Pelayanan Kefarmasian Apoteker harus memenuhi

kriteria:

1. Persyaratan administrasi

a. Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi

b. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)

c. Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku

d. Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)

2. Menggunakan atribut praktik antara lain baju praktik, tanda pengenal.

3. Wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan atau Continuing Professional

Development (CPD) dan mampu memberikan pelatihan yang

berkesinambungan.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


15

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

4. Apoteker harus mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri,

baik melalui pelatihan, seminar, workshop, pendidikan berkelanjutan atau

mandiri.

5. Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan perundang

undangan, sumpah Apoteker, standar profesi (standar pendidikan, standar

pelayanan, standar kompetensi dan kode etik) yang berlaku.

Dalam melakukan Pelayanan Kefarmasian seorang apoteker harus

menjalankan peran yaitu:

a. Pemberi layanan, harus berinteraksi dengan pasien dan mengintegrasikan

pelayanannya pada sistem pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.

b. Pengambil keputusan, harus mempunyai kemampuan dalam mengambil

keputusan secara efektif dan efisien.

c. Komunikator, mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik dengan

pasien atau profesi kesehatan lainnya sehubungan dengan terapi pasien.

d. Pemimpin, Kepemimpinan yang diharapkan meliputi keberanian

mengambil keputusan yang empati dan efektif, serta kemampuan

mengkomunikasikan dan mengelola hasil keputusan.

e. Pengelola, mampu mengelola sumber daya manusia, fisik, anggaran dan

informasi secara efektif, mengikuti kemajuan teknologi informasi dan

bersedia berbagi informasi tentang obat dan hal-hal lain yang berhubungan

dengan obat.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


16

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

f. Pembelajar seumur hidup, terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan

keterampilan profesi melalui pendidikan berkelanjutan (Continuing

Professional Development atau CPD).

g. Pengajar, bertanggung jawab untuk mendidik dan melatih apoteker

generasi mendatang juga kesempatan memperoleh pengalaman dan

peningkatan keterampilan.

h. Peneliti, menerapkan prinsip atau kaidah ilmiah dalam mengumpulkan

informasi Sediaan Farmasi dan Pelayanan Kefarmasian dan

memanfaatkannya dalam pengembangan dan pelaksanaan Pelayanan

Kefarmasian.

i. Wirausahawan, terjun menjadi wirausaha dalam mengembangkan

kemandirian serta membantu mensejahterakan masyarakat.

I. Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73

tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi :

1. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan

a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat

kesehatan, dan bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit,

pola konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.


b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan

sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan.
c. Penerimaan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


17

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis

spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam

surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.


d. Penyimpanan
1) Obat/bahan Obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam

hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain,

maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi

yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang- kurangnya memuat nama

obat, nomor batch dan tanggal kadaluwarsa.


2) Semua Obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai

sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.


3) Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan

barang lainnya yang menyebabkan kontaminasi


4) Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan

dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.


5) Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan

FIFO (First In First Out).


e. Pemusnahan dan Penarikan

1) Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis

dan bentuk sediaan. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak yang

mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan

disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh

Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki

surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan

berita acara pemusnahan menggunakan Formulir 1.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


18

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

2) Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat

dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan

oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakar

atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara

Pemusnahan Resep menggunakan Formulir 2 dan selanjutnya

dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

3) Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis

Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4) Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standard/ketentuan

peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar

berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau

berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall)

dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.

5) Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan

terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri.

f. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah

persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan

atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk

menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan,

kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian

persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


19

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

elektronik. Kartu stok sekurang- kurangnya memuat nama Obat, tanggal

kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.


g. Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan

Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan

(surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau

struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan

internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen

Apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.

Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk

memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan, meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan

lainnya.

2. Pelayanan Farmasi Klinik

Pelayanan farmasi klinik di apotek merupakan bagian dari pelayanan

kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan

dengan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dengan

maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pelayanan farmasi klinik meliputi:

a. Pengkajian dan pelayanan

resep

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


20

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Kegiatan pengkajian resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik dan

pertimbangan klinis. Kajian administratif meliputi: nama pasien, umur,

jenis kelamin dan berat badan; nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP),

alamat, nomor telepon dan paraf, dan tanggal penulisan resep. Kajian

kesesuaian farmasetik meliputi: bentuk dan kekuatan sediaan, stabilitas, dan

kompatibilitas (ketercampuran obat). Pertimbangan klinis meliputi:

ketepatan indikasi dan dosis obat, aturan, cara dan lama penggunaan obat,

duplikasi dan/atau polifarmasi, reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi,

efek samping obat, manifestasi klinis lain), kontra indikasi, dan interaksi.

Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka apoteker

harus menghubungi dokter penulis resep. Pelayanan resep dimulai dari

penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan sediaan farmasi, alat

kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat,

pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap

alur pelayanan resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan

pemberian obat (medication error).

b. Dispensing

Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian

informasi obat. Setelah melakukan pengkajian resep dilakukan hal sebagai

berikut:

1) Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan resep, yakni menghitung

kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep dan mengambil obat yang

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


21

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan nama obat,

tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat.

2) Melakukan peracikan obat bila diperlukan

3) Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi: warna putih untuk

obat dalam atau oral; warna biru untuk obat luar dan suntik:

menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi atau

emulsi.

4) Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat

yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan

yang salah.

Setelah penyiapan obat selesai, maka dilakukan hal sebagai berikut:

1) Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan

kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan

serta jenis dan jumlah obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan

resep);

2) Memanggil nama pasien;

3) Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;

4) Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat;

5) Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang terkait

dengan obat antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang

harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat

dan lain-lain;

6) Penyerahan obat kepada pasien dengan cara yang baik, mengingat

pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil;

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


22

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

7) Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau

keluarganya;

8) Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh

Apoteker (apabila diperlukan);

9) Menyimpan resep pada tempatnya;

10) Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan menggunakan

formulir yang ditentukan.

Apoteker di apotek juga dapat melayani obat non resep atau

pelayanan swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien

yang memerlukan obat non resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan

obat bebas atau bebas terbatas yang sesuai.

c. Pelayanan informasi obat

(PIO)

PIO merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker dalam

pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi dengan

kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada

profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai obat

termasuk obat resep, obat bebas dan herbal.


Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan

metode pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif,

efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping,

interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat dan

lain-lain.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


23

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Kegiatan PIO di apotek meliputi:

1) Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan;

2) Membuat dan menyebarkan buletin atau brosur atau leaflet,

pemberdayaan masyarakat (penyuluhan);

3) Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien;

4) Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi

yang sedang praktik profesi;

5) Melakukan penelitian penggunaan obat;

6) Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah;

7) Melakukan program jaminan mutu.

PIO harus didokumentasikan untuk membantu penelusuran kembali

dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan formulir yang

ditentukan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi PIO:

1) Topik pertanyaan;

2) Tanggal dan waktu PIO diberikan;

3) Metode PIO (lisan, tertulis, lewat telepon);

4) Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti

riwayat alergi, apakah pasien sedang hamil atau menyusui, data

laboratorium);

5) Uraian pertanyaan;

6) Jawaban pertanyaan;

7) Referensi;

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


24

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

8) Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, per telepon) dan data

Apoteker yang memberikan PIO.

d. Konseling

Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan

pasien atau keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman,

kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam

penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk

mengawali konseling, Apoteker menggunakan three prime questions.

Apabila tingkat kepatuhan pasien dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan

metode Health Belief Model. Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa

pasien atau keluarga pasien sudah memahami obat yang digunakan.

Kriteria pasien atau keluarga pasien yang perlu diberi konseling:

1) Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati atau

ginjal, ibu hamil dan menyusui).

2) Pasien dengan terapi jangka panjang atau penyakit kronis (misalnya:

TB,DM, AIDS, epilepsi).

3) Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus (penggunaan

kortikosteroid dengan tappering down atau off).

4) Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin,

fenitoin, teofilin).

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


25

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

5) Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk

indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk

pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat

disembuhkan dengan satu jenis obat.

6) Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.

Tahap kegiatan konseling:

1) Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien

2) Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui three

prime questions, yaitu:

a. Apayang disampaikan

dokter tentang obat

Anda?

b. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obat

Anda?
c. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan

setelah Anda menerima terapi obat tersebut?

3) Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada

pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat

4) Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah

penggunaan obat

5) Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


26

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda tangan

pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan

dalam konseling dengan menggunakan formulir yang ditentukan.

e. Pelayanan Kefarmasian di

rumah (home pharmacy care)

Kegiatan ini khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan

pengobatan penyakit kronis lainnya. Jenis pelayanan kefarmasian di rumah

yang dapat dilakukan oleh Apoteker, meliputi:

1) Penilaianatau pencarian (assessment) masalah yang berhubungan

dengan pengobatan

2) Identifikasi kepatuhan pasien

3) Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah,

misalnya cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin

4) Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum

5) Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat

berdasarkan catatan pengobatan pasien

6) Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah dengan

menggunakan formulir yang ditentukan.

f. Pemantauan Terapi Obat

(PTO)

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien

mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan

memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


27

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Kriteria pasien:

1) Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.

2) Menerima obat lebih dari 5 jenis.

3) Adanya multidiagnosis.

4) Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.

5) Menerima obat dengan indeks terapi sempit.

6) Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang

merugikan.

Kegiatan:

1) Memilih pasien yang memenuhi kriteria.

2) Mengambil data yang dibutuhkan yaitu riwayat pengobatan pasienyang

terdiri dari riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat dan riwayat

alergi; melalui wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau

tenaga kesehatan lain

3) Melakukan identifikasi masalah terkait obat. Masalah terkait obat antara

lain adalah adanya indikasi tetapi tidak diterapi, pemberian obat tanpa

indikasi, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis

terlalu rendah, terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan atau

terjadinya interaksi obat

4) Apoteker menentukan prioritas masalah sesuai kondisi pasien dan

menentukan apakah masalah tersebut sudah atau berpotensi akan terjadi

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


28

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

5) Memberikan rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang berisi

rencana pemantauan dengan tujuan memastikan pencapaian efek terapi

dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki

6) Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah

dibuat oleh Apoteker harus dikomunikasikan dengan tenaga kesehatan

terkait untuk mengoptimalkan tujuan terapi.

7) Melakukan dokumentasi pelaksanaan pemantauan terapi obat dengan

menggunakan formulir yang telah ditentukan.

g. Monitoring Efek Samping

Obat (MESO)

Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang

merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang

digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau

memodifikasi fungsi fisiologis.


Kegiatan:

1) Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi

mengalami efek samping obat.

2) Mengisi formulir MESO

3) Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional dengan

menggunakan formulir yang ditentukan.

Faktor yang perlu diperhatikan:

1) Kerjasama dengan tim kesehatan lain.

2) Ketersediaan formulir MESO.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


29

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

J. Administrasi Umum

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/Menkes/SK/IX/2004,

dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di Apotek, perlu dilaksanakan kegiatan

administrasi yang meliputi :

1. Administrasi Umum, meliputi: pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika,

psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


2. Administrasi Pelayanan, meliputi: pengarsipan resep, pengarsipan catatan

pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.


Administrasi di apotek dimulai dari perencanaan pembelian barang,

pengadaan barang, pengelolaan dan laporan barang masuk dan keluar.

Pengelolaan administrasi dilakukan asisten apoteker dibantu karyawan non asisten

apoteker.

1. Administrasi untuk Pengadaan Barang

a. Buku Defecta

Buku defecta digunakan untuk mencatat persediaan obat atau barang

yang habis atau menipis, dengan buku defekta ini persediaan barang yang

menipis atau kosong dapat dikontrol. Buku defekta ini menjadi dasar

untuk membuat surat pesanan ke PBF.

b. Surat Pesanan

Surat pemesanan tersusun rangkap tiga, surat pesanan ditanda tangani

oleh APA. Rincian perlembaranya yaitu: lembar pertama asli untuk PBF,

lembar kedua untuk bagian gudang apotek, lembar ketiga arsip pembelian.

2. Administrasi Untuk Penyimpanan Barang

a. Buku pembelian

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


30

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Buku pembelian ini sebagai buku penerimaan barang. Pencatatan

dalam buku ini dilakukan setiap hari berdasarkan faktur. Dalam buku ini

tercantum tanggal, nomor urut, nama PBF, nomor faktur, nomor Batch,

nama barang, jumlah, harga satuan, diskon yang diperoleh, total harga dan

total pembayaran. Pengeluaran setiap hari dijumlah, pada akhir bulan

ditotal untuk perhitungan pengeluaran apotek.


b. Kartu Utang
Kartu utang digunakan untuk mencatat hutang dagang. Kartu utang

dagang dibuat per PBF dalam kartu utang tercantum tanggal faktur, nomor

faktur dan angka nominal faktur (jumlah tagihan). Apabila sudah

pembayaran utang, kartu diberi tanda lunas dan diberi tanda pelunasan.
c. Buku Catatan Harian Narkotika Dan Psikotropika
Setiap pengeluaran dan pemasukan obat-obat narkotika dan

psikotropika dicatat dalam buku stok khusus. Satu buku digunakan untuk

mencatat satu macam obat.


d. Kartu stock
Kartu ini mencatat pemasukan obat ke gudang dan pengeluaran obat

dari gudang ke etalase pelayanan.

3. Administrasi untuk penjualan barang

a. Daftar Harga

Daftar harga obat tercantum dalam sistem Apotek harus sama dengan

buku daftar harga baik berupa harga-harga obat dengan merk dagang,

generik maupun bahan baku. Penyusunan nama berdasarkan urutan abjad

dan bentuk sediaan. Harga yang dicantumkan yaitu HNA (Harga Netto

Apotek) + PPN dan HJA (Harga Jual Apotek).

b. Laporan Harian

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


31

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Laporan harian adalah laporan hasil semua pemasukan dari penjualan

obat bebas, bebas terbatas, OWA dan penjualan resep setiap hari.

c. Laporan penggunaan narkotika dan psikotropika

Laporan ini dibuat tiap bulan dan di mana laporan narkotika dan

psikotropika dilaporkan tiap bulan. Dalam laporan tersebut tercantum

nama obat, persediaan awal, penambahan/pemasukan yang meliputi

tanggal pembelian, jumlah, nama PBF, pengurangan atau penggunaan,

persediaan akhir dan keterangan.

K. Pajak Apotek

Pajak secara bebas dapat dikatakan sebagai suatu kewajiban bagi warga

negara berupa pengabdian sebagai peran aktif warga negara dan anggota

masyarakat untuk membiayai berbagai keperluan negara yang berupa

pembangunan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam undang-undang dan

peraturan-peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara (Sari 2013).

Macam-macam pajak yang perlu diketahui adalah :

1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

PPN adalah pajak yang harus dibayar apotek pada setiap pembelian

obat dari PBF. Besarnya PPN adalah 10 %.

2. Pajak Reklame atau Iklan (papan nama apotek)

Pajak ini dikenakan terhadap pemasangan papan nama apotek, lokasi

dan lingkungan apotek.

3. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


32

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Pajak ini dikenakan setiap tahun dan besarnya tergantung pada luas

tanah, bangunan serta lokasi apotek.

4. Pajak Penghasilan Pribadi (PPh 21)

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap Subjek Pajak

atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu tahun pajak

(Resmi 2009). Besarnya pajak ditentukan berdasarkan penghasilan netto

pertahun dikurangi PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Pembayaran pajak

penghasilan pribadi dengan ketentuan:

Tabel 1. Pajak Penghasilan Pribadi

Tarif
Lapisan penghasilan Kena pajak Tidak NPWP
Ber NPWP
Sampai dengan Rp. 50.000.000,00 5% 6%

(5% + 20 % x 5%)

>Rp.50.000.000,00 s/d Rp.250.000.000,00 15 % 18%

>Rp.250.000.000,00 s/d Rp.500.000.000,00 25 % 30%

>Rp.500.000.000,00 30 % 36%

5. Pajak Penghasilan Final (PP No. 46 Tahun 2013)

Pajak Penghasilan Final adalah Penghasilan dari usaha yang diterima

atau diperoleh Wajib Pajak dengan Peredaran bruto (omzet) yang tidak

melebihi 4,8 miliar dalam 1 tahun. Pajak yang terutang dan harus dbayar

adalah 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto (omzet).

Untuk tahun pertama operasional apotek karena belum memiliki laba

bersih sehingga SSP (Surat Setoran Pajak) nihil dan untuk SPT (Surat Pajak

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


33

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Tahunan) baru dibayar setelah memiliki laba bersih operasional dalam

setahun.
L. Penggolongan Obat

Penggolongan obat dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan

ketetapan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas,

obat bebas terbatas, obat wajib apotek, obat keras, Psikotropik dan Narkotik.

1. Obat Bebas, adalah obat yang tidak dinyatakan sebagai obat Narkotika atau

Psikotropika atau obat keras atau obat bebas terbatas yang dapat diberikan

tanpa resep dokter.


2. Obat Bebas Terbatas, adalah obat keras yang dapat diserahkan kepada pasien

tanpa resep dokter dalam jumlah terbatas. Tanda peringatan pada obat bebas

terbatas:

P.No.1 Awas! Obat Keras. Bacalah aturan memakainya.

P.No.2 Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan.

P.No.3 Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.

P.No.4 Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar.

P.No.5 Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan.

P.No.6 Awas! Obat Keras. Obat wasir, jangan ditelan

3. Obat Keras, yatu hanya boleh diserahkan dengan resep dokter, untuk

dipergunakan secara parenteral, baik dengan cara suntikan maupun dengan cara

pemakaian lain dengan jalan merobek rangkaian asli dari jaringan, semua obat

baru yakni semua obat yang tidak tercantum dalam Farmakope Indonesia dan

Daftar Obat Keras atau obat yang hingga saat dikeluarkannya Surat Keputusan

ini secara resmi belum pernah di impor atau digunakan di I3ndonesia terkecuali

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


34

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

apabila oleh Departemen Kesehatan telah dinyatakan secara tertulis, bahwa

obat baru itu tidak membahayakan kesehatan manusia.


4. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan

Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan

saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan

perilaku.
5. Narkotika, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman

baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau

perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa

nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam

golongan-golongan.
6. Obat Wajib Apotek (OWA), adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh

Apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter.

M. Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa

Obat kadaluarsa di Apotek Bouty Medika dapat dikembalikan (retur) ke

PBF sebelum 3 atau 4 bulan sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Untuk obat

rusak atau obat yang telah kadaluarsa dan tidak dapat dikembalikan ke PBF

dimusnahkan dengan cara dihancurkan dan dibuang ke air mengalir ataupun

dikubur untuk yang berbentuk cairan diencerkan terlebih dahulu sebelum dibuang.

N. Jalur Distribusi Obat

Distribusi khusus untuk obat-obatan daftar O (Opium = Narkotik), di

Indonesia hanya dilakukan oleh PBF Kimia Farma. Obat - obat daftar G

(Gevaarlijk=obat keras atau OKT) disalurkan oleh PBF hanya kepada tiga macam

penyalur saja, yaitu PBF lain, apotek, dan IFRS dengan Apoteker. Penyaluran obat

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


35

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

daftar G ke dokter, klinik, Rumah Sakit tanpa Apoteker, BKIA, Puskesmas

dilakukan oleh Apotek. Obat daftar W (Obat Bebas Terbatas) dan Obat Bebas oleh

PBF dapat disalurkan kepada apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit dengan

Apoteker, dan toko obat. Jalur distribusi obat yang berlaku di Indonesia saat ini

adalah jalur distribusi obat yang ditetapkan dalam Paket Deregulasi Oktober 1993

yaitu sebagai berikut :

Pabrik Farmasi Importir Farmasi

Pedagang Besar Farmasi PBF lain

B W G O
Hanya Obat
Kimia Farma

Apotek lain Apoteker IFRS dengan


Apoteker

Toko Obat Dokter R.S tanpa


Berizin Apoteker

KONSUMEN/PASIEN

Gambar 2. Skema Jalur Distribusi Obat

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


36

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

BAB III

TINJAUAN TENTANG

TEMPAT PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

A. Sejarah Apotek Bouty Medika

Apotek Bouty Medika merupakan suatu apotek swasta yang berlokasi di

Jalan Brigjen Sudiarto No. 34 Gading, Surakarta Telp/Fax (0271) 631423. Apotek

Bouty Medika pertama kali didirikan oleh Ibu LV. Yulie Andriati yang sebelumnya

didirikan pertama kali dengan nama Apotek Bukti Sehat, kemudian pada tanggal 5

oktober 2010 secara resmi berganti nama menjadi Apotek Bouty Medika.

Apoteker Pengelola Apotek (APA) pada saat itu adalah Bapak Nur Dwi Panca

Juni Prasetyo, S.Farm, Apt., hingga akhir tahun 2015 kemudian pada bulan april

2016, tanggung jawab sebagai Apoteker Pengelola Apotek selanjutnya

dilimpahkan kepada Ibu Tiara Ajeng Listyani, M.Farm, Apt., hingga sekarang.

APA bertanggung jawab penuh terhadap pengelolaan dan kebijaksanaan apotek.

Apotek Bouty Medika juga memiliki dua orang Apoteker Pendamping yaitu Ibu

Rosa Juwita Hesturini, S.Farm., Apt. dan Ibu Hartanti, S.Farm., Apt.

Dalam menjalankan usaha Apotek Bouty Medika menganut sistem apotek

group yang terdiri dari 3 Apotek yaitu Apotek Bouty Medika, Apotek Jati Medika,

dan Apotek Badan Sehat. Manfaat adanya apotek grup akan memberikan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


37

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

keuntungan yaitu saling menguatkan satu dengan yang lain seperti mengantisipasi

stok ED maupun meminjam stok (nempil).

Apotek Bouty Medika mempunyai tujuan untuk memberikan pelayanan

kefarmasian secara terpadu yang meliputi pelayanan obat atas dasar resep dokter

serta memberikan informasi yang diperlukan pasien dalam hal pemberian obat

agar dapat tercapai hasil pengobatan yang diinginkan, pelayanan obat tanpa resep

dokter kepada masyarakat atau pembelian obat bebas juga dapat dilakukan di

apotek ini, melakukan swamedikasi, menyediakan perbekalan farmasi lainnya,

serta sebagai tempat Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) bagi calon Apoteker.

Apotek Bouty Medika sudah memiliki sarana dan prasarana yang memadai seperti

adanya tempat parkir, ruang tunggu, ruang apoteker, gudang obat, ruang peracikan

obat dan toilet.

Adapun visi dari Apotek Bouty Medika yaitu Apotek Bouty Medika

sebagai sarana pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kepada

masyarakat dari semua kalangan dengan obat yang lengkap, harga terjangkau serta

servise dan pelayanan yang memuaskan.

Misi Apotek Bouty Medika yaitu :

1. Melaksanakan pelayanan kefarmasian yang baik. Memberikan pengobatan

kepada pasien dengan cepat, tepat, akurat, dengan harga terjangkau dan

pelyanan yang memuaskan, serta dengan penuh etika dalam menyampaikan

informasi obat kepada masyarakat sebagai orientasi non profit dari apotek.
2. Melaksanakan pengelolaan apotek degan baik. Menyediakan obat dan

perbekalan farmasi yang lainnya secara lengkap dengan tetap memperhatikan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


38

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

mutu dan keabsahannya, juga dapat menghasilkan keuntungan untuk terus

dapat menjalankan usaha sehingga apotek juga dapat memiliki orientasi profit.
3. Meningkatkan kesejahteraan karyawan apotek Bouty Medika.

B. Struktur Organisasi

Pelaksanaan pelayanan kefarmasian di Apotek Bouty Medika menjadi


tanggung jawab dari apoteker dan dibantu oleh personalia yang mempunyai tugas
dan tangung jawab masing-masing sehingga dapat memberikan pelayanan
kesehatan secara optimal kepada masyarakat serta menjadikan apotek menjadi
lebih maju dan berkembang. Adapun struktur organisasi di Apotek Bouty Medika
yaitu.

PSA

APING APA

TTK ADMINISTRASI PEMBANTU UMUM

Gambar 3. Struktur Organisasi Apotek Bouty Medika

Struktur organisasi Apotek Bouty Medika terdiri dari seorang PSA yaitu

Ibu L.V. Yulie Andriati, seorang APA yaitu Ibu Tiara Ajeng Listyani, S.Farm.,

Apt., dua APING yaitu Ibu Rosa Juwita Hesturini, S.Farm., Apt. dan Ibu Hertanti

S.Farm., Apt. TTK sebanyak dua orang yaitu, Bapak Badar (Abah) dan Agenta.

Bagian adminitrasi yaitu Ibu Puji dan Bapak Dayan dan pembantu umum, yaitu

Bapak Ripto dan Bapak Adman.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


39

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

C. Tugas dan tanggung jawab

Pembagian tugas dan wewenang masing-masing karyawan disusun untuk

menunjang kelancaran pengelolaan apotek sehingga pelayanan kefarmasian di

Apotek Bouty Medika dapat berjalan dengan baik. Tugas, tanggung jawab dan

wewenang masing-masing bagian di Apotek Bouty Medika adalah sebagai berikut

Apoteker Pengelola Apotek (APA)

1. Apoteker Pengelola Apotek

Tugas dan kewajiban Apoteker Pengelola Apotek, yaitu:

a. Memimpin dan mengawasi seluruh kegiatan apotek. Termasuk

mengkoordinir kerja karyawan serta membagi tugas sesuai tanggung

jawabnya.
b. Mengatur dan mengawasi penyimpanan obat serta kelengkapan obat

sesuai dengan syarat-syarat teknis farmasi terutama di ruang peracikan.


c. Menyesuaikan harga dan kalkulasi harga obat yang akan dijual sesuai

dengan kebijakan harga yang ditetapkan.


d. Pembinaan dan memberi petunjuk tentang standar operational prosedur

pekerjaan kefarmasian kepada karyawan terutama dalam pemberian

informasi dan edukasi kepada pasien.


e. Bekerja sama dengan bagian administrasi menyusun laporan manajerial

serta pertanggungjawaban.
f. Melakukan strategi perkembangan apotek dan evaluasi kinerja agar dapat

memberikan hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja.


g. Mengatur dan mengawasi hasil penjualan dan pembelian barang setiap

hari.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


40

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

h. Membuat laporan narkotika dan psikotropika, laporan mutasi barang,

laporan obat-obat rusak dan atau kadaluarsa, laporan pemusnahan obat

dan atau resep, laporan rekap faktur pembelian dan stok barang.
i. Mengatur dan mengawasi pengeloaan perbekalan farmasi setiap hari.
j. Mempertimbangkan saran dan pendapat yang diterima dari para

karyawan lainnya untuk perbaikan pelayanan dan kemajuan apotek.

Tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek yaitu :

a. Bidang keuangan : penggunaan secara efisien, pengamanan dan

kelancaran.
b. Bidang persediaan barang : pengadaan yang sehat, ketertiban

penyimpanan dan kelancaran.


c. Bidang inventaris : penggunaan yang efisien serta pemeliharaan dan

pengamanannya.
d. Bidang personalia : kenyamanan kerja, efisiensi dan strategi.
e. Bidang umum : kelancaran, penyimpanan dan pengamanan dokumen-

dokumen.

Wewenang. Apoteker mempunyai wewenang memimpin seluruh kegiatan

apoteknya, diantaranya mengadakan kontrak perjanjian jual beli dengan

pihak ke III, membuka rekening bank (menandatangani cek/giro).

2. Apoteker Pendamping

Tugas dan kewajiban Apoteker Pendamping, yaitu :

a. Menggantikan kedudukan APA, bila mana APA berhalangan hadir pada

jam kerja apotek.


b. Mengatur dan mengawasi pelayanan obat dan barang setiap hari.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


41

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

c. Melakukan pelayanan informasi obat baik kepada konsumen, maupun

kepada tenaga kesehatan lainnya.


d. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) terjadwal

terutama pada konsumen.


e. Dalam melaksanakan segala tindakan, terutama dalam hal-hal penting

yang mendasar strategis, harus mendapat persetujuan dari APA.

Tanggung jawab Apoteker Pendamping yaitu :

Apoteker Pendamping bertanggung jawab penuh kepada APA dan

melaksanankan tugas dan fungsi sebagai apoteker pendamping sesuai dengan

petunjuk dan atau instruksi dari APA.

3. Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK)

Tugas dan kewajiban. Adapun tugas dan kewajiban TTK adalah melakukan

pekerjaan sesuai dengan profesinya sebagai tenaga teknis kefarmasian yaitu :

a. Memberikan pelayanan obat bebas dan resep, mulai dari menerima

pasien sampai menyerahkan obat yang diperlukan.

b. Mengerjakan pembuatan sediaan obat dalam resep.

c. Menyusun buku defecta dan buku harian penerimaan resep dan obat

bebas.

d. Memelihara buku harga dan kalkulasi harga obat yang akan dijual sesuai

dengan kebijaksanaan harga yang dikeluarkan PBF (price list).

e. Menyusun resep-resep menurut nomor urut dan tanggal kemudian

dibendel dan disimpan.

f. Menyusun obat-obat, mencatat, dan memeriksa keluar masuknya obat

dengan rapi.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


42

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

g. Mencatat dan membuat laporan keluar masuknya obat.

h. Menyusun dan mencatat obat-obat yang mendekati kadaluwarsa.

i. Memelihara kebersihan ruang peracikan, lemari obat, gudang, rak obat,

menyusun obat dengan kartu stok yang rapi, dan mengontrolnya.

j. TTK pada keadaan darurat dapat menggantikan pekerjaan sebagai kasir

dan administrasi.

Tanggung Jawab Tenaga Teknis Kefarmasian atau asisten apoteker yaitu

bertanggung jawab kepada apoteker sesuai dengan tugasnya dan tanggung

jawabnya.

Wewenang Tenaga Teknis Kefarmasian atau asisten apoteker yaitu memiliki

wewenang untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian sesuai dengan

petunjuk/instruksi dari APA dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Administrasi

Tugas dan kewajiban administrasi, yaitu:

a. Mencatat penjualan, pembelian, tagihan dan pengeluaran setiap hari.

b. Membuat laporan bulanan dengan merealisasikan data untuk Apoteker.

c. Membuat laporan keuangan apotek, omset, pembelian dan laba rugi

apotek, laporan tahunan tutup buku dan surat-menyurat.

d. Mengawasi dan membuat catatan daftar hadir karyawan.

e. Membuat laporan pajak yang harus dibayar setiap bulan.

Tanggung Jawab. Administrasi bertanggung jawab kepada APA.

Wewenang. Administrasi memiliki wewenang dalam kegiatan administrasi

pembukuan sesuai dengan petunjuk/instruksi dari APA dan perundang-

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


43

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

undangan yang berlaku.

5. Pembantu Umum

Tugas dan kewajiban pembantu umum, yaitu:


a. Menjamin kebersihan diseluruh lingkungan kerja apotek
b. Mengelola sampah apotek dengan penuh tanggung jawab
c. Membantu TTK dalam pengadaan dan penyiapan obat
Tanggung jawab Pembantu umum yaitu :
Bertanggung jawab langsung kepada pimpinan apotek dan melaksanakan

tugas sesuai instruksi dan petunjuk pimpinan apotek.

B. Jam Kerja

Apotek Bouty Medika dibuka setiap hari mulai pukul 08.00-22.00 WIB

sedangkan untuk hari minggu dan hari libur nasional, hanya ada shift sore dimulai

dari jam 16.30-22.00 WIB. Jam kerja personalia dirinci sebagai berikut:

Hari senin-sabtu :

a. Shift pagi : pukul 08.00-15.00 WIB

b. Shift sore : pukul 14.00-22.00 WIB.

C. Komunikasi, Informasi dan Edukasi

Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) di Apotek Bouty

Medika sudah berjalan dengan baik yaitu pemilihan obat dan pemberian informasi

yang diperlukan pasien antara lain nama obat, kandungan obat, indikasi, dosis,

cara menggunakan, lama penggunaan, kontraindikasi, efe samping dan anjuran

khusus.

D. Denah Apotek
1. Pintu Masuk Apotek
15
2. Etalase Susu
11 3. Etalase Alkes
12 13 14
4. Meja
5. Etalase Suplemen
6. Etalase Obat Herbal
7. Etalase Obat Herbal
16

17

9
10

Program Profesi Apoteker Angkatan


8 XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta
44

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

8. Meja Racik
9. Meja Administrasi
10. Penyimpanan
5 6 7 Narkotika

19 18
11. Kulkas Penyimpanan
Obat
3 4

12. Penyimpanan Obat

20
Keras
25 24
13. Penyimpanan Obat

21
2 Keras
26 23 14. Penyimpanan Obat
27 22 Keras
15. Westafel
16. Meja
17. Penyimpanan Obat
1 Tetes Dan Prekusor
18. Etalase Obat Generik
19. Etalase Obat Herbal
20. Etalase Obat Sirup
21. Etalase Alat Rumah
Tangga
22. Etalase Alat Rumah
Tangga
23. Etalase Inhaler
(Vicks)
24. Komputer Kasir
25. Meja Kasir
26. Etalase Obat Bebas
27. Meja Konseling

Gambar 4. Denah Apotek Bouty Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

BAB IV

KEGIATAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)

DI APOTEK BOUTY MEDIKA

Kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Bouty Medika

dimulai pada tanggal 01 - 30 April 2019 dan dibagi menjadi 2 shift. Shift pagi

dimulai dari jam 08.00-15.00 WIB dan shift sore jam 14.00-21.00 WIB. Kegiatan

Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Bouty medika yaitu kegiatan pelayanan

Farmasi yang meliputi: memeriksa kesesuaian barang datang dengan faktur dan

dengan surat pesanan, menyimpan barang, pelayanan resep, swamedikasi,

pelayanan informasi, komunikasi, edukasi dan informasi kepada pasien,

pengarsipan faktur. Kegiatan PKPA di Apotek ini mahasiswa tidak hanya

mendapat pengetahuan tentang apotek secara langsung melalui praktek tetapi juga

berbagai materi tentang pelayanan kefarmasian dan manajemen apotek.

Apotek Bouty Medika merupakan suatu apotek swasta yang sudah

menerapkan konsep GPP (Good Pharmacy Practice) dalam rangka menjamin

kualitas, keamanan, dan khasiat obat. Secara umum, petugas yang bekerja

dibagian pelayanan/penjualan telah melayani pasien dengan ramah, biasanya

dimulai dengan sapaan dan tawaran bantuan serta diakhiri dengan ucapan terima

kasih sebagai penutup. Petugas juga bersikap santun dan informatif dengan selalu

berbicara dengan bahasa yang baik. Petugas selalu tanggap dan cepat menangani

keluhan serta membantu mengatasi kesulitan konsumen. Misalnya, jika konsumen

tidak mampu menebus obat maka dicarikan obat dengan zat aktif atau khasiat

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


45
46

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

sama dengan harga yang lebih terjangkau atau ditebus sebagian dulu atau ditebus

setengahnya. Keadaan tersebut perlu terus dipertahankan dan sedapat mungkin

ditingkatkan karena keramahan petugas merupakan salah satu unsur pendorong

untuk menimbulkan minat pelanggan dalam melakukan pembelian.

A. Pengelolaan Apotek Bouty Medika

Pengelolaan obat di apotek terdiri dari perencanaan, pengadaan,

penyimpanan, pendistribusian, dan penggunaan. Proses pengadaan barang di

Apotek Bouty Medika dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut :

1. Perencanaan

Perencanaan barang di Apotek Bouty Medika dilakukan dengan metode

konsumsi, metode epidemiologi dan metode konsinyasi. Metode konsumsi yaitu

suatu metode perencanaan yang berdasarkan pada permintaan konsumen dilihat

dari kecepatan pendistribusian atau penjualan obat tersebut pada periode

sebelumnya. Metode epidemiologi yaitu metode perencanaan yang berdasarkan

pada banyaknya kasus penyakit yang sedang berkembang di masyarakat. Metode

konsinyasi yaitu perencanaan penjualan yang dititipkan oleh supplier kepada

apotek.

Perencanaan barang dimulai dengan mengecek stok fisik barang,

mengecek rak tempat barang yang akan dipesan, dan menulis dibuku defecta.

Buku defecta ditulis berdasarkan sediaan farmasi yang sudah habis atau stok

tinggal sedikit dengan mempertimbangkan fast moving dan slow moving. Sediaan

farmasi yang fast moving adalah obat-obat yang terjual cepat dan distribusinya

berlangsung lancar dimana dilakukan pembelian sering tetapi dalam jumlah yang

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


47

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

wajar dan untuk sediaan farmasi slow moving menunggu apabila stok obat tinggal

sedikit maka ditulis dibuku defecta kemudian apoteker akan mempertimbangkan

sediaan farmasi apa saja yang harus dibeli, hal ini untuk menghindari stok kosong.

2. Pengadaan

Pengadaan sediaan farmasi diapotek bouty medika berdasarkan buku

defecta, yakni sediaan farmasi yang sering dicari konsumen di sediakan dalam

jumah besar sedangkan untuk obat yang harganya mahal dan jarang dicari

disediakan dalam jumkah secukupnya. Apotek Bouty Medika Tidak melakukan

pengadaan obat psikotropika dan narkotika. Pengorderan barang dilakukan di

pedagang besar farmasi (PBF) milik apotek grup yaitu Bouti Usabda Farma

(BUF) dan apabila tidak terseda di PBF Bouti Usabda Farma maka dilakukan

pengorderan ke PBF lain, proses order ke PBF lain hanya dilakukan pada hari

senin dan kamis karena harus menulis surat pesanan terlebih dahulu antara obat

umum dengan precursor. Proses order di PBF BUF dapat dilakukan setiap hari

melalui media sosial (whatsApp) dan barang yang di order akan dating hari itu

juga, Jika telah sesuai surat pesanan maka maka surat pesanan asli dan faktur asli

dikembalikan ke BUF pada pengiriman berikutnya.

Surat Pemesanan (SP) dibuat rangkap 2 dan ditandatangani Apoteker

Penanggungjawab (APA) dengan mencantumkan SIPA serta stempel opotek. Obat

yang tergolong prekursor dipesan dengan Surat Pemesanan rangkap 3, yang terdiri

dari:

a. Nomor surat pesanan


b. Nama, jabatan, nomor SIPA
c. Nama PBF, alamat, nomor telepon
d. Nama obat, zat aktif prekursor, bentuk dan kekuatan sediaan, satuan, jumlah
Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta
48

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

dalam angka dan huruf.


e. Nama, alamat, nomor telepon apotek, SIA
f. Tanggal pemesanan, nama, tanda tangan, nomor SIPA dan stempel apotek.

Pengadaan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen,

pengadaan dilakukan oleh APA dengan menyesuaikan kebutuhan sehingga

meminimalkan penumpukan barang atau stok mati diapotek.

3. Penerimaan

Penerimaan barang dilakukan oleh apoteker yang memiliki SIPA atau TTK

yang memiliki STRTTK. Barang atau obat yang baru diterima, diperiksa nama

barang, keadaan fisik (bentuk dan kemasan), nomor batch, tanggal kadaluwarsa

barang atau obat) serta mencocokkan jenis dan jumlah barang yang diterima

dengan faktur dan surat pesanan asli kemudian ditanda tangani oleh TTK/APA

yang menerima disertai nama terang, nomor SIPA/SIPTTK, stempel apotek, dan

tanggal penerimaan. Apabila barang yang diterima rusak atau tidak sesuai maka

barang langsung dikembalikan (return). Faktur asli diserahkan ke distributor

untuk penagihan jika dibeli dengan sistem kredit, lembar copy disimpan sebagai

arsip apotek jika sudah lunas maka faktur asli diserahkan ke apotek. Mahasiswa

PKPA diberi kesempatan untuk menerima barang didampingi oleh TTK atau APA.

Perjanjian pengembalian jika barang tersebut ED (Expire Date) dengan

PBF dilakukan dengan batas waktu 1 sampai 3 bulan sebelum ED. Obat yang

mendekati ED dikelompokkan tersendiri biasanya dilakukan diskon atau

kembalikan ke PBF berdasarkan perjanjian yang disepakati dan barang yang

mendekati ED akan dijual terlebih dahulu. Obat yang rusak atau telah

kadaluwarsa yang tidak dapat dikembalikan ke PBF maka dapat dilaksanakan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


49

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

pemusnahan bersamaan dengan pemusnahan resep dengan cara dibakar atau

ditanam.

Setelah barang sudah diterima, maka barang akan dicatat/diinput dan

diberi harga sesuai dengan faktur yang sebelumnya sudah dicek. Obat bebas dan

obat bebas terbatas diletakkan di depan untuk penjualan langsung. Obat lainnya

disimpan di belakang. Obat generik disimpan di tempat terpisah dengan obat

paten. Obat disusun berdasarkan bentuk sediaan, dan alfabetis

4. Penyimpanan Barang

Tujuan penyimpanan barang adalah agar barang yang disimpan dalam

keadaan aman, mudah diawasi, menjaga stabilitas obat dan menjamin kelancaran

pelayanan. Penyimpanan obat dan perbekalan farmasi di Apotek Bouty Medika

berdasarkan golongan obat (obat bebas, bebas terbatas, keras, prekursor,

tradisional, generic). Bentuk sediaan obat (tablet, krim, sirup dan suppositoria),

suhu penyimpanan (suppositoria, ovula dan lactobacillus) dan obat fast moving

(generik – paten) yang disusun secara alfabetis. Obat generik dikelompokkan

tersendiri dan disusun secara alfabetis dan berdasarkan bentuk sediaannya. Obat

dengan merk dagang disusun secara alfabetis dan bentuk sediaannya. Pengeluaran

barang dilakukan dengan sistem FIFO (First in First Out), sedangkan obat yang

mempunyai waktu kadaluarsa (ED) menggunakan sistem FEFO (First Expired

First Out).

5. Penjualan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


50

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Penjualan sediaan farmasi berdasarkan dengan resep dokter, swamedikasi,

konseling, obat program (diskon khusus, poster, adanya pemberian sesuatu),

penataan dietalase agara terlihat oleh pasien.

6. Pemusnahan

Pemusnahan dilakukan jika obat rusak atau kadaluarsa, untuk menghindari

hal terseebut di apotek bouty medika menerapkan sistem cek barang dengan teliti

saat barang pertama kali datang di apotek dan di tanda tangan oleh pihak apotek,

jika barang ED pendek atau tidak sesuai pesanan maka dapat langsung

dikembalikan (retur). Jika obat yang mendekati ED maka disimpan pada rak

khusus barang-barang ED. Untuk barang yang ED kurang 6 bulan maka

penjualannya diutamakan sedangkan barang yang Ednya kurang dari 3 bulan

maka dikembalikan ke supplier sesuai dengan perjanjian yang disepakati

seblumnya. Barang yang dikembalikan ke supplier tidak akan ditukar dengan

uang tetapi akan ditukar dengan barang yang ED nya lebih panjang atau

pemotongan tagihan pada bulan selanjutnya.

Pemusnahan dilakukan setiap 6 bulan sekali bersamaan dengan stok

opname. Obat-obatan yang umum dimusnahkan dapat dengan cara direndam atau

dipendam atau dikubur atau dibuang ke closed. Pemusnahan tersebut harus

didokumentasikan. Obat-obatan narkotika dan psikotropika dimusnahkan dan

disaksikan oleh pihak Dinas Kesehatan. Resep dimusnahkan setiap 5 tahun sekali

atau menunggu panggilan dari Dinas Kesehatan untuk dimusnahkan secara

bersamaan.

E. Sistem Managerial Administrasi Apotek Bouty Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


51

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Sistem managerial di apotek bouty medika meliputi manajemen

administrasi keuangan (rekap kasir harian, rekap uang kas bulanan), pembelian

apotek, pelunasan apotek (tunai atau transfer), dan inkaso.

Pengelolaan keuangan dilakukan dengan mencatat setiap pendapatan dan

pengeluaran dalam buku kas harian apotek yang berisi jumlah pendapatan dan

pengeluaran tiap harinya. Pendapatan dihitung setiap pergantian shift dicocokan

antara uang fisik dengan jumlah yang tercantum dikomputer, kemudian di catat

dibuku harian pendapatan. Pengecekan pembukuan rutin dilakukan sehingga bila

terjadi ketidaksesuaian dapat segera diketahui. Pembukuan di Apotek Bouty

Medika dikelola secara teratur setiap hari, dilakukan oleh TTK di bawah

pengawasan APA yang selanjutnya di cek oleh manajer. Bagian administrasi

membuat pembukuan dan laporan. Pembukuan dan laporan di Apotek Bouty

Medika meliputi:

1. Defecta

Buku defecta digunakan untuk mencatat nama obat/barang yang habis

atau obat/barang baru yang harus segera dipesankan untuk memenuhi

kebutuhan ketersediaan obat di apotek. Keuntungan dengan adanya buku ini

adalah mempermudah pengecekan dan stock barang, menghindari adanya

duplikasi pemesanan suatu barang sehingga ketersediaan barang di apotek

dapat dikontrol dan mempercepat proses pemesanan. Apotek Bouty Medika

menggunakan sistem baru yaitu komputerisasi, sehingga pencatatan sisa stok

dilakukan dengan sistem komputerisasi.

2. Surat Pemesanan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


52

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Surat pemesanan dibuat dengan sistem komputerisasi yang tercantum

dalam surat pemesanan adalah tanggal pemesanan, nama PBF yang dituju, nama

barang, satuan dan jumlah sediaan farmasi, tanda tangan APA dan stampel apotek.

Surat pemesanan dibuat rangkap dua dengan lembar asli diberikan ke PBF dan

yang satu dibuat arsip apotek.

3. Penerimaan barang

Penerimaan barang diinput dengan komputerisasi yang dilakukan

berdasarkan faktur yang diterima dan tanda terima barang. Data yang diinput

meliputi jenis barang, jumlah barang, harga satuan, diskon, total barang, ED,

nomor batch, nama PBF, harga total dicocokkan dengan yang diinput dan harga

total yang ada difaktur dimana keduanya harus sama.

4. Buku Faktur Lunas

Pembukuan semua faktur yang meliputi : nama PBF, nomor faktur, tanggal

faktur datang, jumlah total biaya dalam faktur.

5. Penerimaan Resep

Resep yang masuk diinput secara komputerisasi data yang tercantum

meliputi nomor resep, tanggal resep, nama pasien, alamat pasien, umur pasien,

nama dokter, nama dan jumlah obat, jenis resep racikan atau non racikan, jumlah

harga per obat, per resep dan total harga yang harus dibayar oleh pasien.

6. Map Resep

Map ini digunakan untuk menyimpan resep yang disusun berdasarkan

nomor urut resep masuk dan disusun berdasarkan tanggal resep dibuat dan resep

ini disimpan selama 5 tahun.

7. Map Faktur Hutang

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


53

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Map ini untuk menyimpan faktur yang belum dibayar atau hutang.

8. Map Faktur Lunas

Map ini digunakan untuk menyimpan faktur yang sudah dibayar lunas.

F. Sistem Pelayanan Kefarmasian Apotek Bouty Medika

Pelayanan kefarmasian di Apotek Bouty Medika terdiri dari penjualan obat

bebas, obat tradisional, alat kesehatan, kosinyasi, pelayanan obat bebas terbatas,

Pasien dan
obat wajib apotek, pelayanan obat keras, atau keluarga
pelayanan pasien
resep, menyerahkan resep
barang-barang lain

sebagai kelengkapan pelayanan, komunikasi, informasi dan edukasi kepada


Resep di kaji oleh APA secara
administrasi, farmasetis dan klinis
pasien.
Resep yang tidak
memenuhi syarat
1. Pelayanan
maka resepResep Resep yang memenuhi syarat maka resep dilayani
ditolak
Resep yang datang dikaji secara administrasif, farmasetik dan klinis jika
Cek ketersediaan stok obat
memenuhi syarat maka dilanjutkan mengecek stok obat dikomputer dan stok fisik

diapotek jika tersedia maka resep dihargai Dosis,


dan meminta
jumlah obat,persetujuan
dan harga kepada
hitung oleh APA
pasien, jika pasien setuju maka pasien membayar dan resep diberi stempel lunas.
Pasien(TTK)
Kemudian resep diberikan kebagian peracikan obat membayar harga
untuk resep
menyiapkan obat

sesuai resep.
Obat disiapkan dan atau diracik oleh TTK dicek
oleh APA

Penulisan etiket, copy resep, dan atau kwitansi


oleh TTK dan dicek oleh APA

Penyerahan obat dan KIE kepada pasien oleh


APA

Pasien paham dan menerima obat


Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta

Resep diarsip selama 5 tahun lalu dimusnahkan


54

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Gambar 5. Skema Pelayanan Resep di Apotek Bouty Medika

2. Pengelolaan Resep

Resep yang sudah dikaji lengkap secara administrasi sesuai ketentuan yang

berlaku, serta telah dilayani dan diserahkan kepada pasien kemudian resep

distaples dengan faktur penjualan kasir. Resep kemudian disimpan di laci

penyimpanan resep sementara. Pada akhir bulan resep tersebut dibendel per bulan

diurutkan berdasarkan nomor dan tanggal resep. Resep yang telah disimpan

melebihi jangka waktu lima tahun dapat dimusnahkan. Pemusnahan resep

dilakukan oleh apoteker dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang

dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep, selanjutnya dilaporkan

kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

3. Penjualan Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas dan Obat Wajib Apotek

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


55

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Penjualan bebas meliputi penjualan obat bebas, obat bebas terbatas,

kosmetika, dan produk customer goods lainnya (madu, habbatussauda).

Pembelian obat bebas dilakukan secara langsung dengan membayar ke kasir, obat

yang keluar di input dikomputer meliputi nama obat, jumlah dan harganya dan

obat langsung diserahkan pada pasien. Penjualan obat wajib apotek merupakan

penjualan obat keras yang dapat diberikan apotek oleh APA kepada pasien tanpa

resep dari dokter. Penjualan OWA harus disertai informasi yang diperlukan pada

pasien.

Pembelian obat bebas dan obat OWA

Pelayanan

Kasir (obat yang keluar di input di input di komputer

Penyerahan obat pada pasien

Gambar 6. Skema alur penjualan obat bebas dan obat wajib apotek

4. Penjualan Alat Kesehatan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta

Pembelian obat bebas dan obat OWA


56

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Apotek Bouty Medika menyediakan alat kesehatan seperti termometer,

alat kontrasepsi, pispot, spuit, pipet, kasa pembalut, kapas, plester, sarung tangan,

masker dan lain-lain. Cara menghitung harga alat kesehatan yaitu:

5. Bangunan

Bangunan apotek Bouty Medika telah memenuhi syarat yang telah

ditetapkan antara lain atap dari genteng dan tidak bocor, dinding kuat dengan

permukaan rata dan mudah dibersihkan, langit-langit berupa enternit, lantai

keramik, tidak lembab dan ruangan mempunyai ventilasi dan sistem sanitasi yang

baik. Bangunan apotek Bouty Medika terdiri dari ruang:

a. Ruang kerja apoteker


b. Ruang kerja manajer dan atau administrasi
c. Ruang penerimaan resep
d. Ruang peracikan dan atau penyiapan obat
e. Ruang konseling
f. Ruang kasir
g. Ruang tunggu pasien
h. Tempat parkir

6. Perpajakan

Apotek Bouty Medika yang merupakan usaha perseorangan (swasta) yang

dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jenis pajak yang harus

ditanggung oleh Apotek Bouty Medika adalah:

7.1. Pajak penghasilan. Pajak ini berasal dari usaha yang diterima atau

diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu (PP nomor 46 tahun

2013). Besarnya pajak adalah 1% dari penghasilan bruto dalam satu tahun.

7.2. Pajak Bumi dan Bangunan. Pajak ini dikenakan setiap tahun dan

besarnya tergantung pada luas tanah dan bangunan serta lokasi usaha.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


57

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

7.3. Pajak Pertambahan Nilai. Pajak ini dikenakan saat pembelian obat

dari PBF yang besarnya 10%.

7.4. Pajak Reklame. Pajak ini dikenakan terhadap pemasangan papan

nama apotek, besarnya berdasarkan jenis, ukuran papan nama apotek, memakai

pencahayaan atau tidak. Pajak ini dibayarkan satu tahun sekali. Bila papan

reklame dibuat oleh sponsor yang bekerjasama dengan apotek, maka pembayar

pajak reklame adalah sponsor tersebut.

7.5. Retribusi Sampah. Retribusi yang dikenakan untuk pengelolaan

sampah setiap bulannya yang besarnya telah ditetapkan.Kebersihan lingkungan

merupakan suatu hal yang mutlak diwujudkan di apotek.

7.6. Pajak listrik, PAM dan Telepon. Pajak tersebut dibayarkan setiap

bulannya berdasarkan banyaknya penggunaan.

7. Gaji dan Kesejahteraan Karyawan

Gaji karyawan meliputi: gaji pokok, kesejahteraan dan tuslah yang

besarnya tergantung dari jumlah resep yang masuk. Besarnya gaji pokok

berpedoman pada upah minimum regional wilayah karisedenan Surakarta yang

telah ditentukan oleh Pemerintah Provinsi dan berdasarkan pada jabatan dan lama

kerja (intensif).

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

BAB V

PEMBAHASAN

Bentuk pelayanan kefarmasian yang dapat dilakukan oleh seorang

Apoteker di apotek sesuai dengan Permenkes No 9 tahun 2017 tentang apotek,

yang menyatakan bahwa apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian yang

merupakan tempat dilakukannya praktek kefarmasian oleh Apoteker. Pelayanan

kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada

pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan tujuan meningkatkan mutu

kehidupan pasien.

Apotek merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan, dimana fungsi

apotek adalah menyediakan obat-obatan dan alat kesehatan yang dibutuhkan

masyarakat untuk mencapai kesehatan yang optimal dan melindungi masyarakat

dari penggunaan obat-obatan yang tidak rasional, dalam hal ini juga apotek dapat

melakukan swamedikasi untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu, yang

ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara

tepat, aman dan rasional. Apotek harus mengutamakan kepentingan pasien

(patient oriented) yaitu dengan cara menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan

perbekalan farmasi yang bermutu baik, serta memberikan informasi penggunaan

obat yang rasional sehingga angka kejadian medication error dapat diminimalkan.

Apotek juga memiliki fungsi sebagai suatu institusi bisnis dimana apotek dapat

menghasilkan laba yang mendukung kelangsungan hidup apotek itu sendiri,

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


58
59

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

keuntungan yang didapat bisa dipergunakan untuk mengembangkan dan

meningkatkan kenyamanan dan mutu dalam pelayanan kefarmasian di apotek.

Apotek Bouty Medika merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan

yang didirikan di Jalan Brigjen Sudiarto No. 34 Gading, Surakarta merupakan

apotek dengan lokasi yang sangat strategis karena terletak dekat dengan pusat

kota, dekat dengan sekolah, tidak terlalu jauh dengan pusat pertokoan, cukup

mudah di jangkau oleh berbagai kendaraan, berada di daerah yang padat

penduduk dan terdapat beberapa dokter praktek disekitar apotek sehingga menjadi

pasar potensial apotek yang cukup menjanjikan.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan sangat tinggi terbukti

dengan banyaknya masyarakat yang melakukan swamedikasi di apotek Bouty

Medika sehingga Apoteker terjun langsung atau bertatap muka dengan pasien

sehingga dapat memberikan pelayanan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi)

yang jelas baik mengenai aturan penggunaan obat kepada pasien, memberikan

saran kepada pasien yang berkaitan dengan manfaat dan efek samping atau

bahaya obat yang digunakan. Apotek Bouty Medika menyediakan tempat untuk

pasien berkonsultasi dengan Apoteker sehingga pasien merasa nyaman dan

dengan adanya konsultasi tersebut pasien dapat memilih dan menggunakan obat

yang tepat serta meningkatkan kepercayaan pasien kepada apoteker.

Apotek Bouty Medika menggunakan sistem penjualan yang baik dimana

untuk obat-obat bebas, alat-alat rumah tangga, vitamin dan suplemen diletakkan

di rak-rak depan sehingga konsumen dapat melihat jenis-jenis obat dan dapat

memilih sesuai dengan keinginannya, penjualan dengan sistem ini memberikan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


60

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

beberapa keuntungan bagi Apotek yaitu dapat menghemat tenaga karyawan

karena konsumen dapat mengambil sendiri apa yang mereka butuhkan serta dapat

meningkatakan pendapatan apotek dan keuntungan bagi konsumen yaitu pasien

dapat memilih obat-obat yang mereka butuhkan.

Pelayanan di Apotek Bouty Medika dibagi menjadi dua shift yakni shift

pagi dan shift sore. Jadwal kerja tiap hari Senin – Sabtu terbagi menjadi shift pagi

mulai pukul 08.00 s/d 15.00 WIB, shift sore mulai pukul 15.00 s/d 22.00 WIB.

Khusus untuk hari minggu dan hari libur nasional buka dari sore jam 16.00-22.00

WIB.

Selain menjadi sarana dalam melakukan pelayanan kefarmasian, apotek

juga merupakan unit bisnis retail yang melakukan pengelolaan perbekalan farmasi

dan menjalankan standar pelayanan farmasi. Pengelolaan apotek tidak lepas dari

pelayanan farmasi yang berorientasi kepada pasien (patient oriented) dan sistem

manajerial yang baik agar bisnis berjalan dengan lancar. Konsep pengelolaan

bisnis dan pelayanan farmasi ini harus berjalan beriringan agar apotek dapat

mendatangkan keuntungan dan menyediakan pelayanan farmasi yang memuaskan

bagi pelanggan. Kepuasan konsumen sangat erat kaitannya dengan pelayanan

pegawai / karyawan oleh karena itu pelayanan di Apotek Bouty Medika sangat

ramah, murah senyum, cepat, tepat, berpakaian rapi, bersih, mudah berkomunikasi

dan berinteraksi dengan pasien sehingga pasien merasa nyaman untuk membeli

obat ataupun untuk berkonsultasi yang akan meningkatkan kepercayaan pasien.

Seluruh karyawan di Apotek Bouty Medika sangat kekeluargaan sehingga

memberikan rasa yang nyaman sehingga dapat bekerjasama dan dapat

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


61

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik.

Tugas Apoteker Penanggung jawab Apotek (APA) di apotek yaitu

bertanggung jawab dalam mengawasi pelayanan resep, memberikan pelayanan

informasi obat (PIO), menyediakan obat yang berkualitas dan terjamin

keasliannya, terampil melakukan pekerjaan kefarmasian, serta kegiatan yang

berhubungan dengan administrasi dan keuangan. Apoteker Pendamping (APING)

memiliki tanggung jawab yang hampir sama dengan APA dan dapat menggantikan

peran APA jika APA tidak berada di tempat. TTK bertanggung jawab

menyelesaikan tugas pelayanan kefarmasian sesuai dengan batas pekerjaan yang

ditugaskan kepadanya, seperti pembayaran inkaso, input data faktur ke komputer

yang meliputi faktur pembelian dan faktur pelunasan.

Apotek juga harus menyediakan beberapa fasilitas yang mendukung

sehingga konsumen akan merasa nyaman. Adapun beberapa fasilitas yang

disediakan oleh Apotek Bouty Medika seperti menyediakan ruang tunggu yang

nyaman, alat timbangan berat badan, tempat parkir yang gratis dan luas.

Pelayanan pasien di Apotek Bouty Medika selalu berorientasi pada kepuasan

pasien / konsumen dengan mengutamakan obat yang diperlukan serta pelayanan

yang cepat tanpa mengabaikan ketepatan dan ketelitian pemilihan obat.

Pelayanan resep di apotek Bouty Medika selalu berorientasi dalam

meningkatkan kepuasan pasien atau konsumen dengan mengutamakan obat yang

diperlukan serta pelayanan yang cepat tanpa mengabaikan ketepatan dan ketelitian

pemilihan obat. Peningkatan pelayanan terutama diarahkan pada kelengkapan obat

yang lebih beragam dan dengan harga yang dapat dijangakau oleh semua kalangan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


62

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

masyarakat, apabila obat dalam resep tidak tersedia di Aptek maka Apotek akan

berusaha untuk nempil di Aotek lain sehingga pasien akan merasa sangat terbantu.

Pada penerimaan resep diawali dengan skrining resep, pengecekan stok,

memberikan harga dan disepakati pasien/keluarga pasien, dilanjutan dengan

peracikan oleh TTK. Setelah itu pemberian etiket dan pemeriksaan ulang

terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat disertai dengan

pemberian informasi obat. Resep yang sudah dikerjakan disimpan menurut

tanggal penulisan resep.

Alur pengelolaan sediaan farmasi, alkes, dan bahan medis habis pakai di

apotek Bouty Medika terdiri dari pengadaan, penerimaan, penyimpanan,

pendistribusian, pemusnahan, dan pelaporan.

Pengadaan barang di apotek Bouty Medika berdasarkan buku defecta,

sehingga dilakukan pengecekan persediaan obat yang tersisa dan mencatata

sediaan yang habis setiap harinya dan ditulis di buku defecta untuk selanjutnya

dilakukan pemesanan. Kegiatan pemesanan di Apotek Bouty Medika dilakukan

setiap hari hal ini bertujuan unttuk menhgindari terjadinya kekosongan

obat/sediaan dan pemesanan dilakukan dalam jumlah yang disesuaikan dengan

pola penjualan d apotek terutama untuk obat-obat yang banyak dicari konsumen

di pesan dalam jumlah yang banyak akan tetapi untuk obat-obat yang harganya

mahal dan jarang dicari konsumen maka di pesan/disediakan dalam jumlah yang

sedikit hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya expaied date. Apotek Bouty

Medika hanya melakukan pemesanan obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras,

obat OWA, prekursor, alat kesehatan dan beberapa perlengkapan rumah tangga.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


63

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Aptek Bouty Medika tidak melakukan pemesanan obat narkotika dan

psikotropika.

Pemesanan (order) di Apotek Bouty Medika dilakukan setiap hari dengan

memesan (order) ke PBF Bouti Usabda Farma (BUF) yang merupakan PBF milik

apotek group dan pemesanan dilakukan ke beberapa PBF lain apabia sedian

tersebut tidak tersedia di PBF Bouti Usabda Farma. Barang yang dipesan hari itu

akan tiba pada hari yang sama. Sehingga tidak terjadi penumpukan barang di

apotek. Pemesanan menggunakan Surat Pemesanan (SP) umum dimana SP

rangkap 2 dan ditandatangani APA atau TTK dengan mencantumkan No.SIPA

atau SIPTTK serta stempel apotek. Setiap surat pemesan dapat digunakan untuk

satu PBF dan dapat digunakana untuk memesan obat bebas, OWA, obat keras, dan

obat prekursor sesuai yang dibutuhkan apotek.

Pemesanan dilakukan dengan membuat Surat Pesanan (SP) barang yang

telah ditandatangani oleh APA dan dibuat rangkap 2, satu untuk PBF dan yang lain

untuk arsip apotek. Pemesanan obat-obat yang mengandung prekursor dilakukan

menggunakan SP prekursor dimana SP ini dibuat rangkap 3 yang ditandatangani

oleh APA dengan mencantumkan nomor SIPA serta stempel apotek. Setiap 1 SP

dapat diisi lebih dari satu item obat yang mengandung prekursor. Perincian SP

rangkap 3 ini yaitu, 1 lembar untuk arsip apotek sedangkan 2 lembar lainnya

dikirimkan ke PBF.

Barang yang sudah di pesan ke PBF Bouti Usabda Farma (BUF) akan

dikirim ke Apotek Bouty Medika saat itu juga, pada saat penerimaan barang

datang diperiksa kesesuaiannya dengan SP, meliputi nama obat, jumlah,

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


64

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

spesifikasi jenis barangnya, tanggal kadaluwarsa, dan nomor batch. Proses

pemeriksaan ini dilakukan oleh APA/TTK. Jika semua persyaratan telah terpenuhi

maka faktur ditandatangani, diberi No. SIPA/SIPTTK, dan diberi stempel apotek.

Faktur asli dan beberapa copy faktur dikembalikan ke PBF, dan apabila pembelian

secara kredit maka itu yang akan digunakan untuk penagihan, sedangkan

tembusannya diserahkan ke apotek digunakan untuk input barang dan

penyesuaian harga. Saat jatuh tempo, faktur asli digunakan sebagai bukti

penagihan oleh PBF. Pembayaran faktur dilakukan saat jatuh tempo (28 hari) oleh

Apoteker.

Penyimpanan obat dan perbekalan farmasi di Apotek Bouty Medika

berdasarkan golongan obat (obat bebas, bebas terbatas, keras, prekursor,

tradisional, generik), bentuk sediaan obat (tablet, krim, sirup dan suppositoria),

suhu penyimpanan (suppositoria, ovula dan lactobacillus) dan obat fast moving

(generik–paten) disusun secara alfabetis sehingga memudahkan dalam

pengambilan untuk pelayanannya. Pengeluaran barang dilakukan dengan sistem

FIFO (First in First Out), sedangkan obat yang mempunyai waktu kadaluarsa

(ED) menggunakan sistem FEFO (First Expired First Out). Barang yang

mendekati ED diusahakan dijual dengan menawarkannya kepada pasien atau

dikembalikan kepada PBF yang bersangkutan sesuai dengan perjanjian awal.

Pelayanan kefarmasian di Apotek Bouty Medika meliputi pelayanan resep,

pelayanan obat bebas, bebas terbatas, OWA, swamedikasi, dan KIE yang

berorientasi pada pasien. KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) kepada

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


65

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

pasien sangat penting diberikan supaya terapi obat yang diharapkan bisa tercapai

dengan baik. KIE ini meliputi nama obat dan bentuk sediaan, aturan pakai, jangka

waktu penggunaan, efek samping obat, penyimpanan obat, dan hal-hal yang perlu

diperhatikan saat minum obat.

Apotek Bouty Medika juga telah memberikan kemudahan pada mahasiswa

PKPA untuk belajar, memperoleh pengalaman bekerja di apotek. Kegiatan Praktek

Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Bouti Medika meliputi pelayanan obat

resep dan non-resep, peracikan obat, pembuatan surat pesanan, mempelajari

manajemen pengelolaan obat di apotek, swamedikasi kepada pasien dan

mempelajari sistem pengadaan dan penataan obat.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah dilakukannya Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Bouty

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


66

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Medika, maka dapat disimpulkan :

1. Apotek Bouty Medika merupakan tempat untuk melakukan pekerjaan

kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi yang telah menjalankan

fungsinya sebagai tempat pengabdian profesi apoteker yang baik.

2. Pengelolaan obat di Apotik Bouty Medika telah dilakukan dengan baik dan

menyeluruh mulai dari pengadaan, penyimpanan, dan pengaturan barang,

administrasi sampai penyeraan obat kepada pasien.

3. Apotek Bouty Medika telah memberikan pelayanan bagi pasien yang ingin

melakukan swamedikasi dan KIE untuk obat wajib apotek (OWA) meliputi

komunikasi mengenai pemilihan obat dan pemberian informasi yang

diperlukan pasien antara lain nama obat, kegunaan obat, dosis, cara

menggunakan, indikasi, dan anjuran khusus oleh Apoteker atau Tenaga

Teknis Kefarmasian.

4. Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Bouty Medika telah banyak

memberikan pengetahuan, informasi dan pengalaman baru bagi mahasiswa

untuk mengetahui ruang lingkup apotek secara langsung untuk bekal para

calon apoteker nantinya dalam menghadapi dunia kerja.

B. Saran

1. Perlu ditingkatkan monitoring yang lebih baik lagi dalam administrasi obat,

misalnya stok di komputer dengan aslinya dapat sama.


2. Jika memungkinkan perlunya pemberian label harga pada obat, alkes, dan

BMHP di etalase depan, agar memudahkan dalam pelayanan, meningkatkan

efektifitas dan efisiensi kerja, serta meminimalkan waktu tunggu pasien.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


67

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

3. Kerjasama yang sudah terjalin dengan baik antara Fakultas Farmasi Profesi

Apoteker Universitas Setia Budi dengan Apotek Rahmah perlu dikembangkan

dan dipertahankan.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

DAFTAR PUSTAKA

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1997. Undang - Undang RI No. 5 tahun 1997


tentang Psikotropika. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2009. Undang - Undang RI No. 35 tahun 2009


tentang Narkotika. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor: 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2009. Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia Nomor: 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1978. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.


28/Menkes/Per/1/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1981. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.


26/MenKes/Per/1/1981 tentang Pengelolaan dan Perizinan Apotek.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1993. Peraturan Menteri Kesehatan No.


917/Menkes/Per/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi.Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1993. Peraturan Menteri Kesehatan No.


922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin
Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesahatan. 1993. Peraturan Menkes No.924/


Menkes/Per/X/ 1993 tentang Obat Wajib Apotek No 2.Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1993. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor: 919/Menkes/Per/X/1993 tentang Kriteria Obat yang
Dapat Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2000. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor: 949/Menkes/Per/VI/2000 tentang Penggolongan Obat.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


68
69

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

[Depkes] Departemen Kesahatan. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor: 889/Menkes/Per//V/2011 tentang Registrasi, Izin
Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesahatan. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor: 35 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Kesahatan. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor: 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia No. 3 tahun 2015 tentang Tentang Peredaran, Penyimpanan,
Pemusnahan dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor Farmasi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesahatan. 1993. Surat Keputusan Menkes No. 1176


Menkes/SK/X/ 1999 1993 tentang Obat Wajib Apotek No 3.Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan No.


1332/Menkes/SK/X/2002 tentang perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Ijin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.


1027/MenKes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Keuangan. 2012. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia.


Nomor: PMK-162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak. Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak.

Departemen Keuangan. 1983. Undang – Undang No. 7 Tahun 1983 tentang


Pajak Penghasilan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak.

Departemen Keuangan. 2008.Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 tentang


Perubahan Keempat Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak.

Departemen Keuangan. 2013. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 tentang


Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha Yang Diterima atau
Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.Jakarta:
Direktorat Jenderal Pajak.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


70

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Departemen Kesahatan. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor: 9 tahun 2017 tentang Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak


Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh
Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 30 April 2019

LAMPIRAN

L
A
M
PI
R
A
N

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


71
72

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 1. Etiket dan Kemasan Bungkus Puyer Apotek Bouty Medika

449/005/SIA/2016
APA : Tiara AjengListyani, S.Farm, Apt/SIPA : 19900707/SIPA_33.71/2016/2038

Etiket Obat Dalam

APA : Tiara Ajeng Listyani, S.Farm, Apt

Etiket Obat Luar

Kemasan Bungkus Puyer

KemasanBungkus tablet

Kemasan Bungkus Tablet

Lampiran 2. Copy Resep Apotek Bouty Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


73

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 3. Tampilan Surat pemesanan (SP) Apotek Bouty Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


74

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 4. Tampilan program komputerisasi Apotek Bouty Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


75

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 5. Tampilantransaksi order pembelian (untuk order barang)

Lampiran 6. Tampilan Transaksi Input Pembelian (Stok Barang Masuk


dan Penentuan HJA)

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


76

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 7. Hasil Cetak Form Transaksi Pembelian

Lampiran 8. Transaksi Penjualan HV / Bebas / OWA

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


77

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 9. Transaksi Penjualan Dengan Resep Dokter

Lampiran 10. Rekap Penjualan Kasir

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


78

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 11. Tampilan Penerimaan Barang Kosinyasi

Lampiran 12. Tampilan Transaks iPenjualan Tempo (Hanya Melayani


untuk Apotek Grup dan Karyawan)
Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta
79

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 13. Tampilan Pemusnahan Obat Kadaluarsa (Total barang yang


dimusnahkan dianggap sabagai kerugian Apotek)

Lampiran 14. Tampilan jenis rekap data di Apotek Bouty Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


80

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 15. Format nempil Obat-obatan ke Apotek Lain

ApotekBoutyMedika
Jl. BrigjendSudiarto No. 34 Gading Solo
APA : Tiara AjengListyani, S.Farm., Apt
19900707/SIPA_33.72/2016/2038

KepadaYth :
Apotek _____________________

Mohon nempil obat-obatan sbb:


1. …………………………………………….
2. …………………………………………….
3. …………………………………………….

Terimakasih,

Surakarta,

Hormat Kami

Lampiran 16. Tampilan Pembayaran via Transfer Apotek

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


81

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 17. Tampilan Bukti Transfer ApotekBouty Medika

Lampiran 18. Surat Pesanan Obat Mengandung Prekursor Farmasi

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


82

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 19. Contoh Faktur Pemesanan Barang

Lampiran 20. Form Surat Pemesanan Narkotik


Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta
83

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 21. Form Surat Pemesanan Psikotropika

Lampiran 22. Daftar Mutasi Barang Apotek Bouty Medika

Lampiran 23. Design Layout Penyimpanan Obat di Apotek Bouty

KK
UU
LL
KK
AA
SS
XVI
RAK
II
XV
K
RA

XVI
RAK
XV
K
RA

RAK
RAK
XVII
XVII
R
A RAK
XIV
RAK
XIV

K
X
RA
V
K
XII
I
RAK
RAK
XII
XII

RA
K
X
RAK
XI

RAK KASIR RAK


III
IV
RAK II

RAK

KV
RA
I

RA

R
IX
K

A
K
VI
RAK VII

R
A
K
VI
II
PINTU MASUK
Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta
84

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 24.
Gambar
Apotek Bouty
Medika

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


85

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta


86

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Universitas Setia Budi di Apotek BOUTY MEDIKA
Periode 01 – 31 Mei 2018

Lampiran 25. Design Layout Ruangan Apotek Bouty Medika

Toilet

Wastafel Pintu belakang

Meja kerja
administrasi

Meja kerja karyawan


dan apoteker

Ruang meracik dan


penyiapan obat

Meja apoteker
Penerimaan resep Kasir

Ruang konseling

Parkir Pasien Parkir karyawan


Ruang tunggu pasien
Pintu masuk

Parkir Pasien Parkir karyawan

Program Profesi Apoteker Angkatan XXXVI Universitas Setia Budi Surakarta