Anda di halaman 1dari 4

Journal Reading

DIETARY TRIGGER FACTORS OF MIGRAINE AND TENSION-


TYPE HEADACHE IN A SOUTH EAST ASIAN COUNTRY

Oleh:

Fiqi Quinta Decroli 1840312266

Pembimbing:

dr. Restu Susanti, Sp.S, M. Biomed

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RSUP DR M. DJAMIL PADANG

2019

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 1


Makanan yang Menjadi Faktor Pencetus Timbulnya Migrain dan Tension-Type
Headache di Negara Asia Tenggara

Pendahuluan
Sakit kepala merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di dunia. Jenis
sakit kepala primer dengan prevalensi tertinggi adalah tension-type headache dan
migrain. Di negara Malaysia, prevalensi dalam satu tahun dapat mencapai 26,5%
untuk tension-type headache dan 9,0% untuk migraine.
Faktor diet, konsumsi alkohol, dan melewatkan jadwal makan pencetus
timbulnya migrain dan tension-type headache. Jenis makanan yang dapat menjadi
pencetus migrain adalah coklat, keju, dan kopi. Ketika makanan tersebut dihindari,
sakit kepala cenderung akan membaik.
Malaysia merupakan salah satu negara berkembang di Asia Tenggara, yang
memiliki 3 kelompok etnis utama, yaitu etnis melayu, etnis tiongkok, dan etnis india.
Multi etnis ini ini dapat merepresentasikan populasi Asia. Tidak banyak literatur
mengenai jenis makanan sebagai faktor pencetus sakit kepala di Asia tenggara,
terutama Malaysia. Kita berhipotesa bahwa etnis melayu memiliki faktor pencetus
yang berbeda dengan etnis lainnya.

Tujuan

1. Untuk mengetahui faktor pencetus migrain dan TTH pada pasien di Malaysia,
dengan etnis melayu, tiongkok, dan india.

Metode

Kriteria Pasien

Pasien dengan migrain dan TTH, dengan gejala sakit kepala minimal 1 kali
dalam 3 bulan terakhir, berusia diatas 18 tahun, pada periode April 2010 hingga Juni
2017, dan telah menyetujui mengikuti penelitian secara legal.

Pasien diminta untuk mengisi kuesioner dengan 25 daftar makanan dan


minuman yang memiliki potensi menjadi pencetus migrain atau TTH. Pasien diminta

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2


untuk melingkari “Ya’ jika makanan tersebut dapat mencetus migrain atau TTH, dan
melingkari “Tidak” jika makanan tersebut tidak mencetus migrain atau TTH.

Hasil

Total 715 pasien memenuhi kriteria inklusi, dan 31 tidak memenuhi kriteria
dikarenakan data yang tidak lengkap, sehingga ada total 684 pasien dengan migrain
dan TTH secara keseluruhan.

Pasien dengan migrain sejumlah 319 orang (46,6%) dan sebanyak 365 pasien
dengan TTH (53,4%). Subtipe dengan jumlah terbanyak yaitu frequent TTH (212
pasien, 31%). Subtipe lainnya yaitu migrain tanpa aura (188 pasien, 27,5%), migrain
dengan aura (106 pasien, 15,5%) dan infrequent TTH (50 pasien, 7,3%), dan migrain
kronik (91 pasien, 28,8%).

Secara keseluruhan, 255 (37,3%) pasien mengaku bahwa jenis makanan


tertentu dapat menjadi pencetus timbulnya migrain atau TTH; 141 (44,2%) pasien
dengan migrain, dan 114 (31,2%) pasien dengan TTH. 158 (23,1%) pasien
mengatakan bahwa melewatkan jadwal makan dapat mencetuskan migrain atau TTH,
dimana 98 (30,7%) pasien dengan migrain, dan 60 (16,4%) pasien dengan TTH.

Jenis makanan lainnya yang dapat menjadi faktor pencetus migrain atau TTH
yaitu kopi (136 pasien, 19,9%), diikuti dengan coklat (51 pasien, 7,5%), dan makanan
yang mengandung MSG (38 pasien, 5,6%).

Berdasarkan etnis, etnis melayu cenderung memiliki pengaruh diet yang dapat
mencetuskan migrain dibandingkan etnis india. Selain itu, etnis melayu cenderung
memiliki pengaruh diet yang mencetuskan TTH dibandingkan etnis tiongkok. Etnis
melayu juga memiliki pengaruh diet yang mencetuskan TTH dibandingkan etnis
india.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 3


Diskusi

Sebanyak 23,1% pasien mengatakan bahwa melewatkan jadwal makan dapat


mencetus migrain atau TTH. Hal ini sedikit lebih rendah dibanding penelitian lainnya
(39-82%). Kemudian diikuti dengan konsumsi kopi, dan coklat. Kopi menjadi puncak
faktor pencetus migrain, sejalan dengan penelitian lainnya. Penelitian lainnya juga
menyebutkan bahwa alkohol dapat memprokasi episode migrain. akan tetapi,
konsumsi alkohol di negara Malaysia lebih rendah dibanding negara lain. Etnis,
budaya, dan gaya hidup memiliki peran penting sebagai faktor pencetus, demikian
juga dengan faktor geografi.

Terdapat bukti bahwa adanya peningkatan IgG, kalsitonin, dan nitrit oksida
dalam terjadinya migrain. Sehingga, penilaian IgG spesifik terhadap makanan
merupakan cara yang ideal untuk mendeteksi jenis makanan yang dapat
memprovokasi migrain / TTH pada suatu individu. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara mengganti pola diet, sehingga episode migrain dapat dicegah. Pembatasan diet
sesuai dengan antibodi IgG dinilai bermanfaat dalam menurunkan frekuensi serangan
migrain.

Konseling dengan dokter dan nutritionist penting untuk dilakukan. Klinisi


dapat memberikan masukan berupa penggantian pola makan dan dapat
mempertimbangkan makanan alternatif. Sebagai contoh, pasien dapat disarankan
untuk tidak minum kopi lebih dari satu gelas pada satu hari.

Perbedaan dampak faktor pencetus terhadap jenis etnis masih belum


diketahui. Hal ini dikaitkan dengan adanya perbedaan budaya. Oleh sebab itu, masih
diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Kesimpulan

Melewatkan jadwal makan dapat menjadi pencetus migrain dan TTH. Selain
itu, coklat dan kopi secara signifikan dapat mencetuskan timbulnya migrain
dibandingkan TTH.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 4