Anda di halaman 1dari 18

PRODUKTIVITAS SEKUNDER PERAIRAN

Kelompok 3
1. Tri Sultan (C251180031)
2. Eva Muhajirah (C251180091)
3. Adiara Firdhita Alam Nasyrah (C251180111)
4. Findiani Dwi Astari (C251180171)

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ........................................................................................................ 1

Pendahuluan ................................................................................................................ 3

Latar Belakang........................................................................................................... 3
Tujuan ........................................................................................................................ 4
Ruang Lingkup Materi .............................................................................................. 5
Landasan Teori ........................................................................................................... 6

Pengertian umum produktivitas sekunder ................................................................. 6


Penyusun produktivitas sekunder .............................................................................. 6
Faktor yang mempengaruhi produktivitas sekunder ................................................. 7
a. Pengaruh Karakter Populasi ....................................................................................... 7
b. Faktor Lingkungan....................................................................................................... 8
c. Predator dan kompetisi ................................................................................................ 9
d. Lake morphology, lateral zonation, allocthous input .............................................. 9

Formula perhitungan produktivitas sekunder .......................................................... 11


a. Produktivitas sekunder zooplankton.................................................................. 13
b. Produktivitas sekunder ikan ..................................................................................... 13

c. Produktivitas sekunder bentik ........................................................................... 15


Peranan produktivitas sekunder ............................................................................... 21
Penutup ...................................................................................................................... 28

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 29


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ekosistem dikenal dengan adanya produsen dan konsumen, sehingga dikenal


juga adanya produktivitas oleh produsen dan produktivitas oleh konsumen. Produsen
melakukan pembentukan bahan organik dari senyawa anorganik yang larut dalam air
dibantu oleh fiksasi energi matahari secara biokimia (fotosintesa). Konsumer mendapat
energinya melalui perubahan partikel bahan organik hidup melalui makanannya.
Sementara dekomposer memperoleh energi dari penguraian bahan organik mati
menjadi unsur-unsur anorganik dan hanya mengambil bahan-bahan yang terlarut atau
melalui perubahan organik yang ada (dekomposisi, demineralisasi) berupa detritus
organik (Sahami et al, 2014).
Autotrof adalah organisme yang tidak memerlukan material sebagai satu
sumber energi. Selanjutnya heterotroph adalah organisme yang memakan materi
organik sebagai sumber energi. Adanya proses perpindahan energi pada sebuah rantai
makanan selalu menyebabkan terjadinya pengurangan jumlah energi pada setiap
tingkat trofik melalui proses makan dan memakan. Energi cahaya matahari yang masuk
ke dalam komponen biotik melalui produsen diubah menjadi energi kimia yang
tersimpan di dalam senyawa organik. Energi kimia mengalir dari produsen ke
konsumen dari berbagai tingkat trofik melalui jalur rantai makanan. Energi kimia
tersebut digunakan organisme untuk pertumbuhan dan perkembangan. Kemampuan
organisme dalam ekosistem untuk menerima dan menyimpan energk disebut
produktivitas ekosistem (Sahami et al, 2014).
Produktivitas ekosistem terbagi menjadi dua yaitu produktivitas primer dan
produktivitas sekunder. Kedua produktivitas ini sangat berkaitan erat. Produktivitas
pada arah produsen disebut produktivitas primer (dasar), sedangkan pada arah
konsumen disebut produktivitas sekunder. Dimulai dari autotrof berperan sebagai
produsen dalam suatu komunitas sebab autotrof dapat melakukan fotosintesis dan
menghasilkan energi dan nutrisi yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh
konsumen (heterotrof) untuk dapat bertahan hidup. Kecepatan organisme heterotrof
mengubah energi kimia dari bahan organik yang dimakannya menjadi energi kimia
yang baru di dalam tubuhnya disebut produktivitas sekunder. Produktivitas sekunder
ini dapat didefinisikan sebagai massa kering dari suatu organisme atau akumulasi
biomassa di suatu area dalam jangka waktu tertentu dengan satuannya adalah
(g/m2/year). Oleh karena itu, produktivitas sekunder sangat penting dalam
keseimbangan suatu ekosistem perairan karena dapat menjadi indikator kondisi ekologi
perairan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka kita perlu mengetahui lebih jelas
mengenai produktivitas sekunder perairan.
Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai produktivitas sekunder


perairan meliputi: pengertian umum, penyusun, faktor yang mempengaruhi, formula
perhitungan, serta peranan bagi perikanan.
Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai produktivitas
sekunder perairan serta dapat dijadikan referensi bagi para pembaca.
RUANG LINGKUP

PRODUKTVITAS SEKUNDER

Penyusun Faktor yang Mempengaruhi Teknik Perhitungan


Produktivitas Sekunder Produktivitas Sekunder Produktivitas Sekunder

Peranan Produktivitas Sekunder


terhadap Perikanan
LANDASAN TEORI

Pengertian Umum

Produksi sekunder adalah ukuran gabungan dari kepadatan populasi hewan,


biomassa, dan pertumbuhan dari waktu ke waktu (Benke 1993). Dengan demikian,
produksi sekunder mengkonversi kelimpahan hewan dan data biomassa menjadi
ukuran fungsional aliran energi melalui ekosistem. Produksi sekunder merupakan
ukuran ideal dalam menentukan fungsi nursery di ekosistem pantai, yaitu kemampuan
untuk mendukung kepadatan yang besar dari juvenil organisme laut dan mentranfer ke
habitat lepas panta, sebagai ukuran keseluruhan dari biomassa, pertumbuhan dan
sintasan organisme (Rose et al. 2007).
Menurut Asriyana dan Yuliana (2012) Produksi merupakan suatu akibat yang
dapat dilihat dari beberapa proses fisiologis. Downing (1984) dan Asriyana dan
Yuliana (2012) berpendapat bahwa produktivitas sekunder merupakan sejumlah
jaringan atau banyak jaringan yang dihasilkan oleh suatu perairan per unit waktu per
unit luas. Hilangnya energi atau zat selama metabolisme merupakan salah satu proses
penting dalam produksi. Bila produksi dipertimbangkan sebagai jumlah zat yang
terkumpul maka dalam somatic Growth dari reproduksi dapat dianalisa dalam
percobaan yang membutuhkan waktu yang lama tanpa mengukur zat metabolisme yang
hilang. Akan tetapi, bila energi yang menjadi pokok cakupan maka pengetahuan
menganai hilangnya suatu energi dan siklusnya yang sangat perlu diketahui.
Nilai produktivitas sekunder dapat menunjukkan dinamika fungsi suatu
ekosistem. Pengukuran produktivitas sekunder dapat menduga potensial kalori dari
produsen sekunder (konsumen tingkat I) ke trofik level berikutnya atau ke rantai
makanan dekomposer. Secara fungsional produsen sekunder merupakan makanan bagi
trofik level yang lebih tinggi sebagai regenerator nutrien (Fleeger dan Palmer 1982).
Produktivitas sekunder adalah instrumen pokok untuk evaluasi potensi suatu
trofik sebagai salah satu komponen dari ekosistem. Sebagai contoh, invertebrata bentik
dapat merepresentasikan hubungan antara produsen primer dan ikan dalam aliran
energi serta daur bahan organik (Tumbiolo & Downing, 1994).
Produktivitas sekunder merupakan fungsi dari lingkungan (ketersediaan
makanan, suhu, kadar oksigen terlarut, dan kedalaman). Kajian mengenai produktivitas
dapat digunakan sebagai indikator ekologis dan kesehatan suatu perairan (Kirgiz 1988
in Ozkan et al. 2010).
Menurut Sutini, 1989 bahwa produktivitas sekunder adalah banyaknya jaringan
hewan yang diproduksi oleh suatu perairan per unit waktu per luas.
Estimasi produktivitas sekunder dapat digunakan untuk meningkatkan
pemahaman mengenai isu-isu ekologi seperti transfer energi dalam komunitas,
pengelolaan sumberdaya perairan (Downing 1984), dan analisis rantai makanan
(Petracco et a., 2003 dalam Nur’aini).
Penyusun Produktivitas Sekunder
Ada beberapa penyusun produktivitas sekunder perairan yaitu zooplankton,
ubur-ubur, larva, dan ikan. Zooplankton merupakan konsumen I yang berperan besar
dalam menjembatani transfer energy dari produsen primer (fitoplankton) ke jasad
hidup yang berada pada trofik level lebih tinggi (golongan ikan dan udang). Ada 3
golongan zooplankton yang penting dalam perikanan yaitu (Asriyana dan
Yuliana,2012):
1. Rotifera
2. Cladocera
3. Copepoda
Rotifera
Organisme ini mempunyai ciri-ciri yaitu kehidupannya tidak mengenal stadia
(organisme dewasa menghasilkan telur dan telur berkembang menjadi dewasa kembali
tanpa melalui tahap metamorfosa), merupakan organisme bioindikator terhadap
pencemaran bahan organik atau dapat dikatakan populasinya sangat ditentukan oleh
fluktuasi bahan organik yang ada di perairan tempat hidupnya. Yang termasuk
golongan ini adalah Brachionus dan Keratella.

Brachionus Keratella
Cladocera
Organisme ini dicirikan oleh adanya stadia dalam siklus hidupnya yaitu
organisme dewasa menghasilkan telur, telur berkembang menjadi stadia muda,
selanjutnya memasuki stadia dewasa kembali. Yang termasuk golongan ini adalah
adalah Moina, Evadne, Daphnia, Podon, Penilia dan Ceriopdaphnia.

Daphnia Penilia
Copepoda
Seperti halnya golongan cladocera, copepoda mempunyai beberapa stadia
dalam siklus hidupnya yaitu stadia dewasa menghasilkan telur, selanjutnya telur
berkembang dalam stadia naupliar, kemudian stadia kopepodit dan selanjutnya
kelambali ke stadia dewasa. Yang termasuk golongan ini adalah Calanoid, Cyclopoid
dan Harpakthocoids.

Calanoid Cyclopoid

Faktor-faktor yang mempengaruhi


1. Pengaruh Karakter Populasi
1.1 Age, Lifespan, and Voltinisme
Lamanya hidup atau usia relatif individu dalam suatu populasi juga
tampaknya mempengaruhi produksi. Beberapa penulis menyatakan bahwa P/B
menurun seiring usia (Hibbert 1976; Waters 1977; Banse & Mosher 1980)
dalam Downing (1984). Pengaruh voltinisme (jumlah generasi per tahun)
konsisten dan berkelanjutan dengan efek jangka hidup. Produksi sekunder dan
P/B meningkat dengan jumlah generasi yang dihasilkan per tahun.
1.2 Body-Size
Ukuran tubuh pada produksi sekunder adalah salah satu dari beberapa
hubungan yang telah diuji secara eksplisit. P/B akan menurun dengan
meningkatnya ukuran tubuh dalam populasi namun sejauh ini masih sulit untuk
menginterpretasikan secara mekanis (Janicki & DeCosta 1977; Waters 1977;
Finlay 1978; Banse & Mosher 1980; Benke & Wallace 1980) dalam Downing
(1984).
1.2 Taksonomi dan Status Trofik
Perbedaan fisiologis dan ekologi antara unit taksonomi menyebabkan
perbedaan dalam produktivitas sekunder. Makarewicz & Likens (1979) dalam
Downing (1984) menyatakan bahwa perbedaan dalam P/B untuk rotifera di
antara danau mungkin karena perbedaan taksonomi. Schindler (1972),
menunjukkan bahwa P/B lebih tinggi untuk rotifera dibandingkan dengan
plankton lainnya, sehingga produktivitas rotifera yang rendah dapat disebabkan
oleh estimasi biomassa yang tidak akurat. Taxa herbivora umumnya dianggap
lebih produktif daripada detritivora atau karnivora.

2 Faktor Lingkungan
2.1 Temperatur
Produktivitas sekunder adalah salah satu metode untuk
mengkuantifikasi ketersediaan biomassa organisme heterotrof bagi tingkat
trofik selanjutnya dalam suatu rantai makanan. Produktivitas suatu perairan
sangat ditentukan oleh sifat fisika dan kimia serta organisme hidup pendukung
lainnya. Suhu perairan merupakan faktor pembatas dari proses produksi di
perairan. Suhu yang terlalu tinggi dapat merusak jaringan tubuh fitoplankton,
sehingga akan mengganggu proses fotosintesa dan menghambat pembuatan
ikatan-ikatan organik yang kompleks dari bahan organik yang sederhana serta
akan mengganggu kestabilan perairan itu sendiri. Suhu perairan yang berkisar
antara 260C – 300C merupakan pendorong aktivitas mikroorganisme dalam
perombakan bahan organik (Yuningsih et al., 2014). Suhu perairan
mempengaruhi keberadaan zooplankton secara fisiologis, sehingga perbedaan
suhu akan mempengaruhi umur dan ukuran zooplankton, serta komposisi dan
kelimpahan zooplankton. Suhu mempengaruhi proses biologis di dalam tubuh
zooplankton, sehingga akan mempengaruhi sistem metabolisme dan siklus
hidupnya. Hal ini akan berdampak terhadap pertumbuhan populasi.
2.2 Food production, availability and quality
Faktor makanan sangat memegang peranan dalam produktivitas
sekunder pada dinamika zooplankton di ekosistem estuari. Proses suksesi
populasi zooplankton secara alamiah sangat bergantung pada ketersediaan
makanan. Perilaku makan zooplankton memainkan peranan penting dalam
proses aliran energi dalam rantai makanan di estuari. Sebagai contoh perilaku
makan copepoda yang tidak hanya memakan fitoplankton tetapi memakan
naupilus dari copepoda itu sendiri sehingga jaring makanan yang ada
bertambah kompleks. Beberapa jenis copepoda biasanya memangsa larva ikan.
Proses saling makan memakan ini menyebabkan rantai makanan yang ada di
estuari menjadi kompleks (Asriyana dan Yuliana, 2012).
2.3 Konsentrasi oksigen
Kandungan oksigen mempengaruhi produktivitas sekunder pada
zooplankton. Kandungan oksigen yang meningkat akan diikuti meningkatnya
jumlah dan kelimpahan zooplankton. Distribusi zooplankton yang dipengaruhi
oleh ketersediaan oksigen memiliki hubungan dengan faktor lingkungan lain
yaitu temperatur, salinitas dan arus. Semakin tinggi temperatur maka
kandungan oksigen semkain menurun organik (Yuningsih et al., 2014).

3 Predator dan kompetisi


Pemangsaan merupakan interaksi antara predator dengan mangsanya melalui
proses pemangsaan untuk kelangsungan hidup suatu oranisme predator dan
hubungan antara predato dan mangsanya sangat erat. Hal ini mempengaruhi nilai
produktivitas sekunder dalam suatu perairan. Tingginya predator pada suatu
perairan akan mengibatkan membentuk komunitas/populasi baru yang mengusai
suatu perairan dan mengakibatnya putusnya rantai makanan. Diduga organisme
yang di mangsa predator berhubungan dengan nilai produktivitas sekunder
perairan karena organisme tersebut lambat dalam bereproduksi atau lambat dalam
menghasilkan organisme baru (Momot 1978). Rendahnya produksi ini
menyababkan produktivitas sekunder juga rendah.
Populasi predator yang menguasai suatu ekosistem perairan akan
menyebabkan terjadinya kompetisi, baik dalam kompetisi memperoleh makanan
maupun tempat untuk pemijahan. Kompetisi ini merupakan interaksi antara
berbagai organisme predator untuk mendapatkan sumberdaya yang sama yang
ketersediannya di perairan sangat terbatas. Adanya kompetisi tersebut
menyebabkan terjadinya pembagian sumberdaya atau makanan, migrasi dan
kematian karena tidak dapat memperoleh makanan yang dibutuhkannya. Hal ini
menjadi tumpang tindih dalam mencari makanan pada suatu ekosistem perairan.
Kompetisi interspesifik dapat mempengaruhi kepadatan populasi karena kompetisi
tersebut dapat memengaruhi tingkat kematian, kelahiran, pertumbuhan dan
kelangsungan hidup individu dalam populasi Asriana dan Yuliana (2012). Tingkat
kematian yang tinggi akan menurunkan produksi sekunder di ekosistem perairan
(George 1975). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingginya predator
akan menyebabkan rendahnya produktivitas sekunder yang diakibatkan oleh
kompetisi antar predator.

4 Lake morphology, lateral zonation, allocthous input


Karakteristik morfologi dari ekosistem atau mempengaruhi produktivitas
sekunder. Menurut Johnson 1974, Zytkowicz 1976, Matuszek 1978, Brylinsky
1980 dalam Downing 1984) bahwa danau dangkal mendukung tingkat
produktivitas sekunder yang lebih tinggi (Johnsom 1974 dalam Downing 1984) yg
menyatakan bahwa luas permukaan danau yg penting krn danau yg lebih besar
kurang diperkaya oleh sumber allochronous atau bahan organic dari ekosistem.
Bahan organik berperan penting sebagai sumber energy dan daur ulang
unsur hara pada perairan umum baik tipe mengalir/tergenang (Whitlen et al, 1897
dalam Husna, 2010).
Penambahan kandungan bahan organik ini akan mempengaruhi
produktivitas sekunder karena salah satu metode yang digunakan untuk
menghitung produktivitas sekunder suatu perairan adalah dengan menghitung
pertumbuhan dan pertambahan biomassa populasi. Kedua hal tersebut berkaitan
erat dengan ketersediaan makanan (bahan organik) bagi heterotrof.
Teknik Perhitungan Produktivitas Sekunder
1. Produktivitas Sekunder Zooplankton
Dalam perikanan yang termasuk dalam penyusun produktivitas sekunder
adalah Zooplankton, ubur-ubur dan herbivora. Zooplankton memiliki siklus hidup
yang berbeda-beda, maka dalam pengukurannya menggunakannmetode
pendekatan yang berbeda pula (Asriyana dan Yuliana, 2015).
a. Metode Continue
Metode ini digunakan untuk zooplankton yang melakukan beberapa kali
pemijahan dalam setahun, seperti golongan Cladocera dan Copepoda. Metode
yang umum digunakan meliputi metode turnover dan growth incerement.
b. Metode Discontinue
Metode ini digunakan oleh golongan zooplankton yang hanya satu kali
melakukan pemijahan dalam setahun, seperti golongan Rotifera dan udang.
Metode yang umum digunakan meliputi metode cohort, incerement sum,
instant growth rate dan Allen curve.

2. Produktivitas Sekunder Ikan


Beberapa metode yang dikenal untuk mengukur produksi sekunder ikan
di perairan (Asriyana dan Yuliana, 2012), yaitu sebagai berikut :
a) Metode Biomassa
Metode biomassa dapat dihitung melalui beberapa metode seperti berat
basah dan berat kering, nilai kalori dan melalui analisis protein, lemak,
karbohidrat dalam materi organik.
1. Berat Basah dan Berat Kering
Biomassa ikan diketahui dengan menimbang biota dalam keadaan
basah. Penentuan berat basah dari material tertentu yang telah difiksasi
dengan formalin berbeda dengan berat basah material dalam keadaan
hidup. Metode dalam penentuan berat basah telah berkembang dan saat ini
metode Ulomski’s direkomendasikan untuk mennetukan berat basah.
Selain itu berat kering juga dapat menentukan berat konstan dari
organisme. Beberapa metode tersedia dalam penentuan berat tersebut,
termasuk pengeringan dalam sebuah desikator (CaCl2, H2SO4 dan gel
silika), di bawah kondisi vakum, Lyophilization, di bawah sinar infra
merah atau di dalam oven.
Untuk mengeringkan sampel dengan berat 15-20 mg secara lengkap,
sampel dikeringkan dalam desikator selama 20-25 hari tetapi hanya
beberapa jam dalam oven (Lovegrove, 1962 dalam Weinberg, 1971).
Pengeringan dengan oven lebih sering digunakan karenda sederhana dan
cepat, sedangkan metode lain hanya digunakan jika akan menentukan
lemak dan senyawa lain sedang dioksidasi. Dalam mengeringkan sampel
biologi membutuhkan suhu antara 50 sampai 1050C dan tidak boleh
melebihi suhu maksimum karena akan mempengaruhi hasilnya. Untuk
biota yang berukuran 100 – 300 mg berat basah direkomendasikan
dikeringkan pada suhu 100 – 1050C selama 2 – 3 jam.
2. Nilai Kalori
Nilai kalori biota ikan dapat diketahui melalui nilai kalori tubuh
sebenarnya, kalorimeter langsung, metode pembakaran basah dan
penghitungan nilai kalori sampel berdasarkan komposisi kimia.
Suatu kelompok yang siklus hidupnya pendek memiliki suatu regresi
yaitu:
Log P = 0,8262 Log R – 0,0948
Dengan:
P = Produksi (Kcalm-2tahun-1)
R = Respirasi (Kcalm-2tahun-1)
Jika pengukuran besarnya respirasi dalam suatu musim dapat
diterima maka produksi dapat diestimasi secara dini. Bila kondisi
lingkungan berubah maka persamaan berubah menjadi:
Produksi = Assimilasi – Respirasi – Ekskresi
Besarnya asimilasi tergantung jenis makanan apa yang dimakan.
Tanpa dimakan maka asimilasi alan nol sedang respirasi menjadi positif.
Produksi dapat positif atau negatif tergantung beda antara besarnya
asimilasi dan yang hilang. Produksi yang negatif terjadi karena makanan
yang terbatas. Ikan yang berpuasa akan kehilangan sejumlah berat badan
dan hal ini tidak dapat berlangsung lama karena tergantung juga
kemampuannya untuk bernapas.

Nilai kalori dari materi kering disebagian besar organisme tawar dan
laut berhubungan langsung dengan rasio antara materi organik dan fraksi
mineral dari materi kering dan dinyatakan dalam persamaan:
𝑌
Y = 0,0559 X pada ᵟ 𝑋 = 0,28 kcal.g-1
dengan:
Y = Nilai kalori (kcal/gram berat kering)
X = Persentase materi organik pada sampel

Dalam proses metabolism, energi hilang sebagai panas. Metode yang


paling baik untuk mengukur produksi panas adalah dengan kalorimeter
langsung dengan instrument bomb calorimeter. Dasar metode ini yaitu
adanya pembakaran sampel yang menghasilkan kelebihan oksigen
dibawah tekanan tinggi di dalam bomb yang dicelupkan dalam air.
Kalorimeter sangat sensitif dan stabil. Oleh karena itu untuk memonitor
ikan kecil di suatu perairan dapat dilakukan bila system pengukuran
langsung digunakan. Metode kalorimeter ini sangat dianjurkan, hanya
saja alatnya sangat mahal dan membutuhkan keterampilan yang cermat.
Selain metode di atas juga terdapat metode pembakaran basah yang
pada dasarnya terdiri atas perlakuan pada sampel dengan larutan yang
beroksida tinggi seperti K2Cr2O7 atau KIO3. Perbedaan antara nilai asal
dari pembawa oksida dengan nilai setelah oksidasi menghasilkan jumlah
oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik dalam
sampel. Dengan adanya data tersebut dan bantuan koefisien oxycalorific
maka nilai kalori sampel dapat diketahui. Dari semua metode dalam
perhitungan nilai kalori menunjukkan bahwa hasil yang paling akurat
adalah nilai kalori yang ditentukan dengan kalorimeter langsung.
Kemungkinan metode tersebut berkurang dengan cepat oleh kenyataan
peralatan yang dibutuhkan umumnya tidak tersedia di laboratorium.
Selain itu prosedurnya relatif kompleks yang membuat metode ini tidak
praktis, ketika banyak sampel harus dibakar.
Metode pembakaran basah adalah metode sederhana, sesuai untuk
penentuan nilai kalori dan dapat diterapkan pada sampel dengan berat
yang kecil, tetapi karena oksidasinya tidak lengkap, nilai kalori yang
diperoleh hanya diwakili 90% dari pengukuran kalorimeter langsung.
Koreksi yang cukup harus dilakukan untuk menentukan nilai kalori
sebenarnya. Keuntungan metode ini adalah untuk menentukan perkiraan
berat material yang dioksidasi lebih dan di atas tujuan utama dalam
menentukan kandungan kalori material.

b) Analisis Protein, Lemak dan Karbohidrat dalam Bahan Organik


Dalam penelitian hydrobiology, kandungan protein dalam dalam
organisme perairan biasanya ditentukan dari kandungan nitrogen yang
ditentukan oleh metode Kjeldahl. Metode ini tidak hanya menentukan
nitrogen dari protein tetapi juga kandungan nitrogen dalam senyawa organik
dan menghitung sejumlah protein dari perkiraan kandungan nitrogen yang
biasa dinamakan “protein kasar” dan kemungkinan kesalahannya adalah
kurang lebih 20%. Selain metode Kjeldahl, dikenal juga metode Photometrik,
Keller’s method, dan Lowry’s method.
Penentuan protein oleh metode pengujian direkomendasikan untuk
sebagian besar penentuan protein dari tubuh organisme perairan. Pilihan
terhadap metode yang digunakan tergantung pada pekerja itu sendiri. Hal
tersebut berguna karena reaksi biuret adalah sederhana dan mudah dilakukan.
Untuk sampel mikro kuantitatif maka metode Lowry’s lebih baik diterapkan.
Sebagian besar metode untuk menentukan kandungan lemak dari organisme
perairan adalah dengan ekstraksi lemak dengan peralatan Soxlet. Metode
Soxlet’s cukup dikenal dengan baik untuk mendeskripsikan prosedur lemak.
Untuk sampel kecil dapat menggunakan metode Ostapenya, metode tersebut
merupakan metode yang direkomendasikan untuk penentuan lemak dari
sampel kecil.
Teknik photometri dalam analisis biokimia, baru-baru ini telah
digunakan dengan sukses dalam menentukan kandungan karbohidrat dari
organisme perairan. Selain itu juga terdapat metode yang terakhir ini
merupakan metode sederhana dan direkomendasikan dalam menentukan
kandungan karbohidrat dan organisme perairan.

c) Respirasi (Laju Konsumsi Oksigen)


Pengukuran konsumsi oksigen sering dipakai untuk mempelajari suatu
metabolism. Ada du acara dalam pengukuran ini (Downing & Rigler, 1984
dalam Sutini, 1989) yaitu sebagai berikut:
a. Sistem Tertutup, konsentrasi oksigen diukur pada awal dan akhir
percobaan atau oksigen dimonitor secara terus menerus. Besarnya
respirasi diukur dari penurunan oksigen dan volume air.
b. Sistem Terbuka, ikan ditempatkan di suatu sistem terbuka dan mengalir
dimana air dapat lewat secara perlahan. Konsentrasi oksigen air diukur
sebelum dan setelah sistem tersebut di atas. Sistem ini cocok digunakan
untuk melihat konsumsi oksigen selama mingguan maupun bulanan
untuk melihat ritme konsumsi oksigen.
c. Sistem tertutup dan terbuka, oksigen dalam air diukur dengan metode
Winkler atau dengan polarography

d. Produksi dan Biomassa Ikan


Produksi ikan dari spesies (n) dihitung berdasarkan persamaan Allen
(1971) dalam Kartamihardja (2007) :

Pn = Bn x (Fn + Mn)

dengan:
Pn = Produksi ikan spesies n
Bn = Rata-rata biomassa spesies n
Fn = Mortalitas penangkapan spesies n
Mn = Mortalitas alami spesies n
= K0,65 x L∞0,279 x Tc0,463
Tc = Suhu rata-rata perairan (oC)
Total fraksi dari Pn yang ditangkap (Yn) atau hasil tangkapan spesies n
dihitung dari persamaan:

Fn
Yn= Fn+Mn = Bn x Mn

Biomassa ikan dari spesies n dihitung dari persamaan berikut:


Bn = Pn + Yn + Mnp
Dengan:
Bn = Biomassa ikan spesies n
Pn = Predasi terhadap spesies
Yn = Hasil tangkapan spesies n
Mnp = Mortalitas yang disebabkan bukan oleh predasi

d) Transfer Efisiensi Trofik


Transfer energi dari fitoplankton ke komunitas ikan herbivora dihitung
berdasarkan persamaan:

Bh = Cf – Ck – Rf - Fh

dengan:
Bh = Biomassa ikan herbivora
Cf = Konsumsi ikan herbivora terhadap fitoplankton
Ck = Konsumsi atau predasi ikan karnivora
Rh = Respirasi ikan herbivora
Fh = Mortalitas penangkapan

Produksi sekunder dihitung dari:

Ps = C – F – E – R = A – R
dengan:
Ps = Produksi sekunder
C = Rasio energi yang dikonsumsi dengan bahan organik
F = Energi yang tidak dicerna
E = Energi ekskresi
R = Energi respirasi
A = Energi asimilasi
3. Produktivitas Sekunder Bentik (Wetzel
a. Removal-Summation Method
Metode ini sangat penting dalam identifikasi pertumbuhan berdasarkan
statistik kesamaan populasi, dimana produksi adalah jumlah dari rata-rata
waktu per biomassa individu (bbobot) untuk setiap interval sampel.
P = LN∆W
b. Pembentukan biomassa heterotrofik secara bioenergik
I=A+E
Dimana:
I = Konsumsi
A = Asimilasi
E = Egestion
A=P+R+U
Dimana:
P = Produksi
R = Respirasi
U = Ekskresi
c. Instantaneous Growth Method
P = G(B)
Jika ukuran spesifiknya berbeda berdasarkan tingkat pertumbuhan untuk
sebuah populasi, cara terbaik untuk mengestimasikan produksi dapat
diperoleh dengan P = G1B1+ G2B2+…+(All sizes)
P = Produksi biomassa/area (g/m2)
G = Instantaneous rate of growth during this periode
B = rata-rata biomassa/are (g/m2) sepanjang interval

d. Allen Curve method


Peranan Produktivitas Sekunder
1. Untuk menentukan carrying capacity bagi ikan komersial dan kerang-kerangan
serta komponen aliran energy dan studi stock.
2. Untuk memperkirakan estimasi hasil perikanan dan aliran energi.
3. Produktivitas sekunder dapat menjadi alat untuk mengevaluasi keadaan ekosistem
dan menilai dampak dari perubahan lingkungan seperti: eutrofikasi, polusi, climate
change, pengenalan spesies invasive.
Tantangan utama bagi para ahli ekologi adalah memahami dinamika dan
fungsi ekosistem di bawah tekanan lingkungan dan antropogenik. Pendekatan
untuk mengatasi tantangan ini adalah analisis berbagai komponen yang
berkontribusi pada produksi sekunder (mis., Penggabungan konsumen bahan
organik atau energi per unit waktu) dan bagaimana produksi ini dipengaruhi oleh
faktor eksternal. Studi produksi telah diakui sebagai alat yang kuat dalam ekologi
akuatik, dengan aplikasi dalam studi aliran energi-biomassa, ekologi trofik,
pengelolaan sumber daya hayati, serta penilaian tekanan lingkungan (Dolbeth et
al., 2012).
4. Produktivitas sekunder tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi/mengetahui
secara langsung kualitas lingkungan dari suatu system, tetapi dapat menyediakan
lebih banyak informasi yang berasal dari pengukuran seperti kepadatan/biomassa
yang disajikan.
DAFTAR PUSTAKA
Asriyana, Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. PT. Bumi Aksara. Jakarta. ID.
Benke AC. 1994. Production dynamics of riverine chironomids: Extremely high
biomass turnover rates of primary consumers. Ecology. 79(4): 899-910.
Dolbeth, M., Cusson, M., Sousa, R., Pardal, M.A., 2012. Secondary production as a
tool for better understanding of aquatic ecosystem. Canadian Journal of
Fisheries and Aquatic Sciences. 69 (7): 1230-1253.
Downing, J.A, 1984. Assesment of Secondary Production: The first Step 1. In:
Downing JA and Rigler FH eds). A Manual on methods for assessment of
secondary productivity in fresh waters, second editions. Meulbourne.
Blackwell Scientific Publication. P 1-18.
Fleeger WJ, Palmer AM. 1982. Secondary production of the estuarine meiobenthic
copepod microarthridion littorale. Mareine ecology progress 7: 157-162.
George DG. 1975. Life cycles and production of Cyclops vicinus in a shallow
eutrophic reservoir. Oikos, 26, 101-110.
Momot WT. 1978. Annual production and production/biomass ratios of the
crayfish, Oronectes virilis, in two northern Ontario lakes. Trans Am Fish.
107: 776-784.
Rose LV, Rypel AL, Layman CA. 2011. Community secondary production as a
measure of ecosystem function: a case study with aquatic ecosystem
fragmentation. Bulletin of Marine Science. 87 (4): 913- 937.
Rose LV, Layman CA, Arrington DA, Rypel L. 2007. Habitat fragmentation decrease
fish secondary production in Bahamian Tidal Creeks. Bulletin of marine
science. 80(3): 863-877.

Sahami, F.M, Hamzah, SN., Panigoro, C., Hasim., 2014. Lingkungan Perairan dan
Produktivitas. Cetakan 1. Yogyakarta: Deepublish, XVI. 177 hlm.

Wetzel, R.G., Likens, D.F., 2000. Linological Analyses. Third Edition. NewYork.

Yuningsih, H. D., P. Soedarsono dan S. Anggoro. 2014. Hubungan Bahan Organik


Dengan Produktivitas Perairan Pada Kawasan Tutupan Eceng Gondok,
Perairan Terbuka Dan Keramba Jaring Apung Di Rawa Pening Kabupaten
Semarang Jawa Tengah. Journal of Maquares. 3(1): 37-43.