Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)


PADA ANAK

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 9

 ADE WIDIA
 CHRISTANTI INDRIANI PONTOH
 ROY STEFANUS DURUKA

DOSEN PENGAMPUH : TASNIM MAHMUD, S.Kep.,Ns.,M.M

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES HUSADA MANDIRI POSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berhasil menyelesaikan Asuhan
Keperawatan Respiratory Distress Syndrom pada anak ini tepat pada waktunya. Asuhan
Keperawatan ini di selesaikan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak 2. Tugas
ini dibuat untuk mempelajari dan mengetahui tentang asuhan keperawatan pada pasien anak yang
mengalami Respiratory Distress Syndrom.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa
sehingga selama penyusunan tugas asuhan keperawatan kami banyak menemui kesulitan
dikarenakan keterbatasan referensi dan keterbatasan kami sendiri. Sebagai manusia kami
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih
baik dimasa yang akan datang.
Selain itu kami mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang sudah
membantu sehingga kami dapat menyelesaikan asuhan keperawatan ini dengan baik. Semoga
asuhan keperawatan ini dapat bermanfaat bagi semua orang dan dapat menambah pengetahuan
tentang asuhan keperawatan Respiratory Distress Syndrom pada pasien anak .

Poso, 23 Mei 2018

Penyusun
Kelompok 9

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.. ........................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi Respiratory Distress Syndrom ................................................................... 3
B. Etiologi Respiratory Distress Syndrom ................................................................... 3
C. Patofisiologi Respiratory Distress Syndrom ........................................................... 4
D. Manifestasi Klinis Respiratory Distress Syndrom .................................................. 5
E. Komplikasi Respiratory Distress Syndrom ............................................................. 5
F. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang ....................................................................... 6
G. Pencegahan Respiratory Distress Syndrom ............................................................ 6
H. Penatalaksanaan Respiratory Distress Syndrom ..................................................... 7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan ......................................................................................... 10
B. Diagnosa Keperawatan ........................................................................................... 12
C. Intervensi Keperawatan .......................................................................................... 13
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................. 18
B. Saran ....................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Departemen Kesehatan (Depkes) mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat 401 bayi
baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya genap 1 tahun. Data bersumber
dari survey terakhir pemerintah, yaitu dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007
(SDKI). Berdasarkan survei lainnya, yaitu Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian
bayi baru lahir (neonatus) merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka
kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran hidup terenggut
nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pasca kelahirannya. Parahnya, dalam rentang
2002-2007 (data terakhir), angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab
kematian terbanyak pada periode ini, menurut Depkes, disebabkan oleh sepsis (infeksi
sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pemapasan atas.
Selaras dengan target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), Depkes telah
mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata 36 meninggal per 1.000
kelahiranhidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. AKB di indonesia
termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia. Hal itu tecermin dari perbandingan dengan
jumlah AKB di negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai 10per 1.000 kelahiran
hidup dan Singapura dengan 5 per 1.000 kelahiran hidup. Menurut Kirana, peran puskesmas
dan posyandu sejatinya menjadi kunci untuk menekan kejadian AKB. Antara lain
menurunkan angka kematian anak balita sebesar 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015. Pada
tahun 2015 diharapkanangka kematian bayi sebesar 23 bayi per 1.000 kelahiran hidup dan
32 anak balita per 1.000kelahiran hidup
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Badriul Hegar mengatakan,
penyebabkematian bayi berusia di bawah satu bulan, adalah sekitar 29 % disebabkan berat
badan rendah, 30 % gangguan pernapasan, dan sekitar 10 % masalah nutrisi. Dia
berpandangan, guna menekan angka kematian bayi dan anak balita, yang terpenting ialah
upaya preventif dan promotif. Usaha promotif antara lain melalui promosi penggunaan air
susu ibu, nutrisi adekuat, kebersihan diri, dan lingkungan. Upaya preventif antara lain
melalui imunisasi dasar. Selain itu, perlu pula fasilitas pengobatan tingkat komunitas melalui
fasilitas seperti puskesmas.

1
Berdasarkan perkiraan 30 % dari kematian neonatus diakibatkan oleh RDS atau
komplikasi yang dihasilkannya (Behrman, 2004 didalam Leifer 2007). Secara tinjauan
kasus, di negara-negara Eropa sebelum pemberian rutin antenatal steroid dan postnatal
surfaktan, terdapat angka kejadian RDS 2-3%, di USA 1,72% dari kelahiran bayi hidup
periode 1986-1987. Sedangkan jaman modern sekarang ini dari pelayanan NICU turun
menjadi 1%. Di Negara berkembang termasuk Indonesia belum ada laporan tentang kejadian
RDS.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Respiratory Distress Syndrom ?
2. Apa saja etiologi Respiratory Distress Syndrom ?
3. Bagaimana patofisiologi Respiratory Distress Syndrom ?
4. Apa tanda dan gejala Respiratory Distress Syndrom ?
5. Apa saja komplikasi Respiratory Distress Syndrom ?
6. Apa pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang Respiratory Distress Syndrom ?
7. Bagaimana pencegahan Respiratory Distress Syndrom ?
8. Bgaimana penatalaksanaan Respiratory Distress Syndrom ?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan Respiratory Distress Syndrom pada anak ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Respiratory Distress Syndrom
2. Untuk memahami etiologi Respiratory Distress Syndrom
3. Untuk memahami patofisiologi Respiratory Distress Syndrom
4. Untuk memahami tanda dan gejala Respiratory Distress Syndrom
5. Untuk memahami Komplikasi dari Respiratory Distress Syndrom
6. Untuk memahami Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang Respiratory Distress Syndrom
7. Untuk memahami Pencegahan Respiratory Distress Syndrom
8. Untuk memahami Penatalaksanaan Respiratory Distress Syndrom
9. Untuk memahami Asuhan Keperawatan Respiratory Distress Syndrom pada anak

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Respiratory Distress Syndrom
Sindroma gagal nafas (respiratory distress syndrom, RDS) adalah istilah yang
digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit
yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau tidak
adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Suriadi dan Yuliani, 2001). Gangguan ini biasanya
dikenal dengan nama hyaline membran desease (HMD) atau penyakit membran hialin
karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi alveoli.
Sindrom gawat napas (RDS) (juga dikenal sebagai idiopathic respiratory distress
syndrome) adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis, dan histologis yang terjadi terutama
akibat ketidakmaturan paru dengan unit pernapasan yang kecil dan sulit mengembang dan
tidak menyisakan udara diantara usaha napas. Istilah-istilah Hyaline Membrane Disease
(HMD) sering kali digunakan saling bertukar dengan RDS (Bobak, 2005).
Respiratory Distress Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakmaturan dari
sel tipe II dan ketidakmampuan sel tersebut untuk menghasilkan surfaktan yang memadai.
(Dot Stables, 2005).
Gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda
takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau
memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. Tanda-tanda klinik
sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah
melalui PDA (Stark 1986).
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak
nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap
dengan terapi oksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat
alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan,
edema paru, dan adanya hyaline membran pada saat otopsi.

B. Etiologi Respiratory Distress Syndrom


RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi
surfaktan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia

3
kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS. Ada 4 faktor penting penyebab
defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksual
sesaria.. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk
menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi
prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru
kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas. Gejala tersebut biasanya muncul segera
setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.
RDS merupakan penyebab utama kematian bayi prematur. Sindrom ini dapat terjadi
karena ada kelainan di dalam atau diluar paru, sehingga tindakan disesuaikan dengan
penyebab sindrom ini. Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah
pneumothoraks/pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH),

C. Patofisiologi Respiratory Distress Syndrom


Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh
alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna kerana
dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan
mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut
menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance)
menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting
intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan
asidosis respiratorik.
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein ,
lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap
mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna
kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang
tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga udara
bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga
menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli, tetapi
alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini.
Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan
keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan

4
pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari
darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah
lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah
lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami
sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut
menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).

D. Manifestasi Klinis Respiratory Distress Syndrom


Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :
1. Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali per menit)
2. Sianosis sentral pada suhu kamar yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam
kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik
3. Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi
4. Grunting : suara merintih saat ekspirasi
5. Pernapasan cuping hidung

E. Komplikasi Respiratory Distress Syndrom


Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi :
1. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi dengan
RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi
atau adanya asidosis yang menetap.
2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya
perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan
invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi.
3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan intraventrikuler
terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan
ventilasi mekanik.
4. PDA (Patent ductus arteriosus ) dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan
merupakan komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi
surfaktannya.

5
Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen, tekanan yang
tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya oksigen yang menuju ke otak dan
organ lain.
Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :
1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan
pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan
dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan
ventilasi mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD
meningkat dengan menurunnya masa gestasi
2. Retinopathy prematur
Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang berhubungan dengan
masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya infeksi.

F. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang


Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami Distress Pernafasan
Pemeriksaan Kegunaan
Kultur darah Menunjukkan keadaan bakteriemia
Analisis gas darah Menilai derajat hipoksemia dan keseimbangan asam basa
Glukosa darah Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia dapat
menyebabkan atau memperberat takipnea
Rontgen toraks Mengetahui etiologi distress nafas
Darah rutin dan Leukositosis menunjukkan adanya infeksi
hitung jenis Neutropenia menunjukkan infeksi bakteri
Trombositopenia menunjukkan adanya sepsis
Pulse oximetry Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen

G. Pencegahan Respiratory Distress Syndrom


Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi
resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio
sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat

6
terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi. Tindakan yang efektif utntuk mencegah
RDS adalah:
1. Mencegah kelahiran < bulan (premature).
2. Mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis.
3. Pengendalian kadar gula darah ibu hamil yang memiliki riwayat DM.
4. Optimalisasi kesehatan ibu hamil.
5. Kortikosteroid pada kehamilan kurang bulan yang mengancam.
6. Obat-obat tocolysis (ß-agonist : terbutalin, salbutamol) relaksasi uterus Contoh :
Salbutamol (ex: Ventolin Obstetric injection) 5mg/5 ml (utk asma: 5 mg/ml) Untuk
relaksasi uterus : 5 mg salbutamol dilarutkan dalam infus 500 ml dekstrose/NaCl
diberikan i.v (infus) dgn kecepatan 10 – 50 µg/menit dgn monitoring cardial effect. Jika
detak jantung ibu > 140/menit kecepatan diturunkan atau obat dihentikan
 Steroid (betametason 12 mg sehari untuk 2x pemberian,
deksametason 5 mg setiap 12 jam untuk 4 x pemberian)
 Cek kematangan paru (lewat cairan amniotik pengukuran
rasio lesitin/spingomielin : > 2 dinyatakan mature lung function)

H. Penatalaksanaan Respiratory Distress Syndrom


Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan untuk mengatasi
masalah kegawatan pernafasan meliputi :
1. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2. Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3. Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5. Mencegah hipotermia.
6. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.
Penatalaksanaan secara umum :
1. Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan bila bayi
tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
a. Pantau selalu tanda vital
b. Jaga kepatenan jalan nafas

7
c. Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
2. Jika bayi mengalami apneu
a. Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
b. Lakukan penilaian lanjut
3. Bila terjadi kejang potong kejang
a. Segera periksa kadar gula darah
b. Pemberian nutrisi adekuat
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan
kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik atau
menajemen lanjut:
 Gangguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu lahir
tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient Tacypnea of the Newborn” (TTN).
Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan
sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus.
Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik.
 Gangguan nafas sedang
Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih sesak dapat
diberikan o2 4-5 liter/menit dengan sungkup. Bayi jangan diberi minum. Jika ada
tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi
kemungkinan besar sepsis.
a. Suhu aksiler <> 39°C
b. Air ketuban bercampur mekonium
c. Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini
(> 18 jam)
d. Bila suhu aksiler 34- 36,5 °C atau 37,5-39°C. tangani untuk masalah suhu
abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam:
e. Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan, berikan
antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis
Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi
tahapan tersebut diatas.Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali

8
bayi setelah 2 jam Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda
perburukan setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
f. Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara
bertahap . Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat
menyusu, berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum
g. Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi
kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan
tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan.
 Gangguan nafas berat
- Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya. Bila dalam
pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya. Terapi
untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan
segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
- Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras dengan
menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
- Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas.
- Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
Penatalaksanaan Medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
1. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru
3. Fenobarbital
4. Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
5. Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)
6. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan
RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya
manusia, didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk
surfaktan buatan.

9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas klien
Insiden sering terjadi pada bayi prematur dengan berat badan 1000 - 2000 gram dan
masa kehamilan kurang dari 36 minggu.
2. Keluhan utama : Sesak nafas atau pemafasan cepat.
3. Riwayat penyakit sekarang
Sesak nafas atau pemafasan cepat. Frekuensi pernafasan lebih dari 60 x / menit,
pernafasan cepat dan dan dangkal timbul setelah 6 – 8 jam pertama setelah lahir dan
gejala karakteristik mulai terlihat pada umur 24 – 72 jam
4. Riwayat penyakit dahulu
h.Pre natal : lbu mengalami ganggualn perfusi darah uterus kehamilan mis : DM,
Teksomia gravidium, Hipotensi, dan perdarahan ante partum.
i. Natal: Bayi dengan riwayat astiksiapada waktu lahir dan lahir melalui seksio sesar
akan memperberat keadaan.
j. Post Natal :
5. Riwayat penyakit keluarga Keluarga yang mempunyai penyakit DM atau Hipotensi.
6. Riwayat Psikososial spiritual : ADL (Activity daily life)
7. Nutrisi : Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau
menghisap
8. Istirahat tidur Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun
kebutulan nyaman tergangu akibat tindakan medis
9. Eliminasi Penurunan pengeluaran urine
10. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan umum
Suhu : Bayi sangat mudah kedinginan, dapat terjadi hipotermia dengan suhu 35oC
Nadi : Takikardi 170 x/menit
RR : 60 x/menit
BB: 1000-2000 gram atau kurang dari 1500 gram

10
b. Pemeriksaan fisik
 Kepala
 Hidung : terdapat pemafasan cuping hidung, adanya sekret pada jalan nafas
 Mulut : mukosa bibir kering
 Dada Hipertimpani Bising usus meningkat
 Ekstremitas :
- Dapat terjadi edema setelah beberapa jam
- Adanya sianosis
c. Pemeriksaan penunjang
 Foto rontgen thorak
k. Pola retikulo granular difus bersama bromkogram udara yang saling tumpang
tindih.
l. Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk.
m. Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkepa (bayi dari ;
ibu diabetes, hipoksia, gagal jantung kongestif).
n. Bayangan timus yang besar .
o. Bergranul merata pada bronkogram udara, yang menandakan penyakit berat
jika terdapat pada beberapa jam pertama.
 Pemeriksaan darah
p.Asidosis metabolik
PH menurun (N : PH 7,35- 7,45)
Penurunan Bicarbonat (N : 22-26 meg/L)
PaCO2 Normal (N : 35-45 mmHg)
Peningkatan serum K
q.Asidosis respiratorik
PH menurun (N : PH 7,35-7,45)
Peningkatan PaCO2 (N : 35-45 mmHg)
Penurunan PaO2 (N : 80-100 mmHg)
Imatur lecithin / sphingomylin (L/S)

11
B. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret atau
sputum
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas paru, imaturitas SSP, defisiensi
surfaktan dan ketidakstabilan alveolar
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai O2 ke jaringan menurun, saturasi
O2 dalam darah menurun

12
C. Intervensi Keperawatan
NO DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
HASIL
1. Bersihan jalan Tujuan : Mandiri : Mandiri :
napas tidaak fektif Setelah dilakukan asuhan 1. Auskultasi bunyi napas, catat adanya 1. Untuk mengetahui obstruksi jalan
b/d peningkatan keperawatan selama 1x24 mengi, krekels, dan ronki napas dan dimana letaknya
produksi sekret jam diharapkan bayi dapat : 2. Aspirasi (hisap) sekresi dari jalan 2. Untuk memungkinkan
atau sputum - Mempertahankan jalan napas, batasi setiap penghisapan reoksigenasi
napas paten sampai 5 detik dengan waktu yang 3. Untuk menghindari hiperekstensi
dengan bunyi napas cukup diantara tindakan leher dan mencegah aspirasi
bersih atau jelas 3. Beri posisi terlentang dengan kepala sekresi
- Menunjukkan perilaku pada posisi mengendus dengan leher 4. Untuk mempermudah drainase
untuk memperbaiki seditik ekstensi dan hidung sekresi
bersihan jalan napas. menghadap ke atas. 5. Memberikan kelembaban
Misalnya : batuk efektif 4. Posisikan anak semi telungkup dan membran mukosa dan membantu
dan mengeluarkan posisi miring pengenceran sekret untuk
sekret. 5. Lakukan perkusi, vibrasi, dan memudahkan pembersihan
drainase postural 6. Untuk mencegah aspirasi karena
6. Berikan nebulasi dengan larutan dan volume yang besar dan sputum
alasan yang tepat sesuai kebutuhan dapat tiba-tiba mengental
7. Observasi anak dengan ketat setelah 7. Untuk mencegah aspirasi cairan
terapi aerosol misal: anak dengan takipnea hebat

13
8. Pastikan untuk memasukkan cairan 8. Untuk mengencerkan sekresi
yang adekuat
Kolaborasi : Kolaborasi :
1. Berikan ekspektoran jika diresepkan 1. Untuk mengencerkan sekret
2. Lakukan fisioterapi (Misal: drainase 2. Memudahkan upaya pernapasan
postural, dan perkusi area yang sakit, dalam dan meningkatkan drainase
tiupan botl atau spirometri insentif) sekret
bila diinstruksikan 3. Untuk menghilangkan spasme
3. Berikan bronkodilator (Misal: bronkus
amonifilin, alboterol, asetikistein)
2. Pola nafas tidak Tujuan : Mandiri : 1.Mandiri :
efektif b/d Setelah dilakukan asuhan 1. Posisikan untuk pertukaran udara 1. Karena posisi ini menghasilkan
imaturitas paru, keperawatan selama 1x24 yang optimal : perbaikan oksigenasi, pemberian
imaturitas SSP, jam diharapkan bayi dapat : - Tempatkan pada posisi makanan ditoleransi dengan lebih
defisiensi surfaktan - Menunjukkan oksigenasi telungkup bila mungkin baik, lebih mengatur pola tidur atau
dan ketidakstabilan yang adekuat - Tempatkan posisi telentang istirahat dan mencegah adanya
alveolar - Menunjukkan frekuensi dengan kepala pada posisi penyempitan jalan napas
dan pola napas dalam batas mengendus dengan leher sedikit 2. Karena akan mengurangi diameter
yang sesuai dengan usia ekstensi dan hidung menghadap trachea
dan berat badan ke atas 3. Untuk mengenali tanda-tanda
2. Hindari hiperekstensi leher distress

14
3. Observasi adanya penyimpangan 4. Untuk menghilangkan mukus yang
dari fungsi pernapasan (Misal: terakumulasi dari nasofaring,
mengorok, sianosis, pernapasan trachea, dan selang endotracheal
cuping hidung, apnea) 5. Untuk memastikan bahwa jalan
4. Lakukan penghisapan napas bersih
5. Penghisapan endotracheal sebelum 6. Untuk menghemat penggunaan O2
pemberian surfaktan
6. Pertahankan suhu lingkungan yang
netral
Kolaborasi : Kolaborasi :
1. Beri surfaktan sesuai petunjuk 1. Untuk menurunkan tegangan
pabrik permukaan alveolar
2. Hindari penghisapan sedikitnya 1 2. Untuk meningkatkan absorbsi ke
jam setelah pemberian surfaktan dalam alveolar
3. Lakukan regimen yang diresepkan 3. Untuk mempertahankan konsentrasi
untuk terapi oksigen suplemental O2 sampai pada tingkat FiO2
4. Pantau pengukuran gas dan minimum berdasarkan gas darah
pembacaan SaO2 arteri, SaO2 dan oksigen transkutan
(tePO2)
4. Untuk memantau respon bayi
terhadap terapi

15
3. Gangguan perfusi Tujuan : Mandiri : Mandiri :
jaringan b/d suplai Setelah dilakukan asuhan 1. Auskultasi frekuensi dan irama 1. Takikardia sebagai akibat
O2 ke jaringan jantung, catat terjadinya irama
keperawatan selama 1x24 hipoksemia dan kompensasi upaya
menurun, saturasi
jam diharapkan bayi dapat : jantung ekstra peningkatan aliran darah dan
O2 dalam darah
menurun - Menunjukkan tingkat 2. Observasi perubahan status mental perfusi jaringan. Gangguan irama
perfusi sesuai secara 3. Observasi warna dan suhu kulit atau berhubungan dengan hipoksemia.
individual, (Misal: status membran mukosa Ketidakseimbangan elektrolit, atau
mental biasa atau normal, 4. Ukur haluaran urin dan catat berat peningkatan regangan jantung
irama jantung atau jenisnya kanan. Bunyi jantung ekstra misal:
frekuensi dan nadi perifer 5. Evaluasi ekstremitas untuk ada atau S1 dan S4 terlihat sebagai
dalam batas normal, tidak tidaknya kualitas nadi. Catat nyeri peningkatan kerja jantung atau
adanya sianosis sentral dan tekan betis atau pembengkakan terjadinya dekompensasi
perifer, kulit hangat atau 6. Tinggikan kaki atau telapak bayi bila 2. Gelisah dan perubahan sensori atau
kering, haluaran urine dan di tempat tidur motorik dapat menunjukkan
berat jenis dalam batas gangguan aliran darah, hipoksia,
normal dan cedera vaskuler serebral (CVS)
sebagai akibat emboli sistemik
3. Kulit pucat atau sianosis, kuku,
membran bibir atau lidah
menunjukkan vaskontriksi atau
syok dan gangguan aliran darah

16
sistemik
4. Syok lanjutan atau penurunan curah
jantung menimbulkan penurunan
perfusi ginjal. Dimanifestasikan
oleh penurunan haluaran urin
dengan berat jenis normal atau
meningkat
5. EP sering dicetuskan oleh trombus
yang naik dari vena profunda
(pelvis atau kaki), tanda dan gejala
mungkin tak tampak
6. Tindakan ini dilakukan untuk
menurunkan statis vena di kaki dan
pengumpulan darah pada vena
pelvis untuk menurunkan resiko
pembentukan thrombus
Kolaborasi : Kolaborasi :
1. Berikan cairan IV atau oral sesuai 1. Untuk menurunkan hiperviskositas
indikasi darah (potensial pembentukan
2. Pantau pemeriksaan diagnostik atau thrombus) atau mendukung volume
laboratorium (Misal: EKG, sirkulasi atau perfusi jaringan
elektrolit, BUN/kreatinin, GDA, 2. Mengevaluasi perubahan fungsi
PTT, dan PT) organ dan mengawasi efek terapi

17
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sindroma gagal nafas (respiratory distress syndrom, RDS) adalah istilah yang
digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit
yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau tidak
adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Suriadi dan Yuliani, 2001). Gangguan ini
biasanya dikenal dengan nama hyaline membran desease (HMD) atau penyakit membran
hialin karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi alveoli.
RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi
surfaktan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda
usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS. Ada 4 faktor penting
penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal
diabetes, seksual sesaria.
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan
oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang
sempurna kerana dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna.
Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :Takipnea, Sianosis
sentral pada suhu kamar yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan
dengan x-ray thorak yang spesifik, retraksi, grunting dan pernapasan cuping hidung.
Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi : Ruptur alveoli, dapat timbul
infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya perubahan
jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan invasiv
seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi. Perdarahan intrakranial
dan leukomalacia periventrikular : perdarahan intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi
prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik. PDA
(Patent ductus arteriosus ) dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan
komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.
Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami, distress pernafasan kultur
darah, analisis gas darah, glukosa darah, rontgen toraks, darah rutin dan hitung jenis
Pulse oximetry. Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi
pada bayi resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah
tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan
manajemen yang tepat terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi. Pengobatan
18
yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah: Antibiotika, furosemid,
fenobarbital, vitamin E dan metilksantin ( teofilin dan kafein ). Salah satu pengobatan
terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian
surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari cairan
amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan.

B. Saran
Dengan asuhan keperawatan ini diharapkan seluruh komponen tenaga kesehatan
pada khususnya dapat memberikan asuhan keperawatan kepada anak dengan respiratory
distress syndrome dengan baik dan sesuai dengan prosedur keperawatan serta tentunya
memperhatikan aspek-aspek tertentu yang berhubungan dengan prosedur yang
dilakukan. Semoga Bermanfaat

19
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Lowdermik. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC
Brunner & Suddarth.2003. Medical Surgical Nursing (Perawatan Medikal Bedah). Jakarta:
EGC
Budiman Arief.2008. Asuhan Keperawatan Pada Neonatus Dengan Gangguan Sistem
Pernafasan Respiratory Distress Syndrom (Rds) Diruang Nicu Rsud Gunung Jati Kota
Cirebon.Icoel’s Blog. 5 april 2010
Carpenito, L.J.1999.Hand Book Of Nursing (Buku Saku Diagnosa Keperawatan).Jakarta :
EGC
Latief, Abdul dkk. 1985. Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 1. FKUI; Jakarta
Leifer, Gloria. 2007. Introduction to maternity & pediatric nursing. Saunders Elsevier : St.
Louis Missouri
Mansjoer. (2002). Kapita selekta kedokteran. Edisi III. Jakarta: FKUI.: EGC
Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1. FKUI; Jakarta
Prwawirohardjo, Sarwano. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Wong. Donna L. (2004). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Jakarta: EGC.

20