LAPORAN PRAKTIKUM
KALIBRASI ALAT PEMUSATAN (OPTICAL PLUMMET)
Mata Kuliah Pengenalan Alat Survei dan Pemetaan
Dosen pengampu : Bambang Kun Cahyono, ST., M.Sc
Disusun Oleh :
1. AGUS SETIAWAN ( 19/451000/SV/17277)
2. BERLIAN PUJI RAHMA H ( 19/451004/SV/17281 )
3. M FAIRUZ ZABADI EL-FATH ( 19/451014/SV/17291 )
4. RIZKA MIATI DARTANINGTYAS ( 19/451017/SV/17294 )
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI SURVEI DAN PEMETAAN DASAR
DEPARTEMEN TEKNOLOGI KEBUMIAN
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2019
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-
Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum kalibrasi alat pemusatan (optical
plummet) dengan baik dan tepat waktu.
Laporan praktikum ini disusun guna melengkapi salah satu mata kuliah Teknologi
Survei dan Pemetaan Dasar yakni Pengenalan Alat Survei dan Pemetaan. Laporan praktikum
ini secara garis besar berisi mengenai proses kalibrasi Total Sation yang meliputi kalibrasi nivo
kotak, nivo tabung, dan pemusataan sentering. Dalam proses pengerjaannya, penulis menemui
banyak kendala yang tanpa bantuan dari berbagai pihak tentu laporan praktikum ini tidak dapat
terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih serta memohon
maaf atas kesalahan yang telah penulis lakukan kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam pembuatan laporan praktikum ini.
1. Allah SWT, yang telah memberikan hidayah-Nya sehingga pada saat kami
mengerjakan laporan tidak ada kendala yang berarti.
2. Orang tua kami yang telah mendukung dan memberikan doa restu serta memberikan
fasilitas/sarana prasarana yang mendukung dalam pembuatan laporan ini.
3. Bapak Ir. Waljiyanto, M.Sc. selaku Ketua Program Studi Teknologi Survei dan
Pemetaan Dasar.
4. Bapak Bambang Kun Cahyono, S.T., M.Sc. selaku dosen pengampu mata kuliah
Pengenalan Alat Survei dan Pemetaan.
5. Semua pihak yang ikut terlibat dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan praktikum ini masih
terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak untuk sempurnanya laporan praktikum ini. Selain itu penulis
juga berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Yogyakarta, Oktober 2019
Penulis
2
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu alat untuk melakukan kegiatan survei dan pemetaan adalah Total Station.
Apabila alat ukur Total Station akan dipakai untuk pengukuran di lapangan, maka alat Total
Station harus memenuhi syarat pemakaian alat. Syarat pemakaian alat adaah syarat-syarat yang
harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum alat tersebut digunakan untuk pengukuran agar data
yang dihasilkan terbebas dari kesalahan sistematik. Kesalahan sistematik disini adalah
kesalahan yang bersumber dari alat. Adapun syarat pendirian alat Total Station adalah sentering
dan sumbu 1 vertikal.
Sentering adalah keadaan bahwa sumbu I Total Station segaris dengan garis gaya berat
yang melalui titik tempat berdiri alat atau titik silang di atas patok di tanah. Sedangkan sumbu
satu vertikal dapat ditandai dengan posisi gelembung nivo kotak dan tabung yang berada dalam
keadaan seimbang atau di tengah. Pendirian Alat Total Station harus memenuhi 2 syarat
tersebut sebelum digunakan agar saat alat digunakan dalam melakukan pengukuran, hasil
ukuran bisa akurat. Tetapi pada kenyataannya dalam melakukan syarat tersebut, sering
dijumpai adanya kesalahan. Alat tidak benar-benar sentering, jika dilihat dengan menggunakan
sentering optis dengan memutarnya secara 360 derajat, didapatkan kesalahan pemusatan pada
posisi tertentu. Begitu juga nivo kotak dan tabung yang kadang tidak benar-benar seimbang.
Jika kesalahan ini tidak direduksi tentu saat alat digunakan pengukuran, hasil pengukuran akan
dihinggapi kesalahan.
Kesalahan pemusatan, nivo tabung dan nivo kotak yang tidak seimbang dapat direduksi
dengan melakukan kalibrasi. Kalibrasi dilakukan dengan melakukan koreksi pada fisik alat
Total Station dengan bantuan pen ukur. Kalibrasi ini diharapkan mampu mereduksi kesalahan-
kesalahan tersebut, sehingga alat benar-benar sentering dan sumbu I benar-benar dalam
keadaan vertikal.
1.2. Maksud dan Tujuan
Melakukan kalibrasi alat pemusataan dengan bantuan pen koreksi untuk mereduksi
kesalahan sentering, kesalahan sumbu I yang tidak benar-benar vertikal (posisi gelembung nivo
dan tabung yang tidak benar-benar di tengah) agar alat memeuhi syarat-syarat pendirian alat
sehingga jika dilakukan pengukuran, alat tidak dihinggapi kesalahan.
3
1.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum kalibrasi Total Sation
meliputi :
1. Statif
2. Tribach
3. Pen koreksi
4. Alat tulis menulis
1.3. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Praktikum kalibrasi alat pemusatan (optical plummet) dilakukan pada tanggal 25 Oktober
2019 di halaman Departemen Teknik Mesin Sekolah vokasi Universitas Gadjah Mada.
4
BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam penggunaan Total Station, akan ditemui beberapa kesalahan yang bisanya terjadi,
kesalahan tersebut bisa dikategorikan dalam tiga hal:
1. Kesalahan yang bersumber dari alat
Tipe kesalahan ini bisa dikategorikan dalam kesalahan yang bersifat tetap, dan
kesalahan yang bersifat sistematik dan bisa direduksi besamya kesalahan yang terjadi.
Yang termasuk dalam kategori kesalahan yang bersumber dari alat Total Station ini,
antara lain:
i. Kesalahan alat pemusatan (tetap)
ii. Kesalahan alat ukur sudut horisontal dan vertikal (sistematik)
iii. Kesalahan alat ukur jarak (Sistematik)
iv. Kesalahan karena tidak tegak lurus sumbu vertikal dan sumbu horizontal
(tetap)
v. Kesalahan karena garis bidik yang tidak tegak lurus terhadap sumbu horisontal
(tetap atau sistematik)
vi. Kesalahan karena tidak sejajarnya sumbu horisontal terhadap bidang nivo
(tetap)
vii. Kesalahan-kesalahan lain yang diakibatkan karena kondisi alat baik yang
diakibatkan pemakaian maupun usia
Kesalahan yang bersifat tetap tersebut, bisa dihilangkan dengan melakukan koreksi
pada fisik alat tersebut Hal tersebut dilakukan setelah melakukan serangkaian kegiatan
pengecekan sehingga diidentifikasi posisi yang seharusnya. Sedangkan kesalahan
yang bersifat sistematis, bisa direduksi dengan dua cara, yaitu dengan penggunaan
metode tertentu pada saat pengukuran data, atau dengan memberikan koreksi pada
data hasil pengukuran.
2. Kesalahan yang bersumber dari operator
Tipe kesalahan ini termasuk pada kesalahan blunder, oleh karenanya susah untuk
direduksi atau dihilangkan. Untuk menghindari ini maka diperlukan ketelitian baik
pada saat melakukan pembidikan target, maupun saat memasukkan data ke alat pada
saat pengukuran, baik pada saat memasukkan nomor titik, kode titik, tinggi alat, tinggi
5
reflektor, koordinat titik berdiri, maupun koordinat titik ikatan, dan data lainnya yang
sejenis.
3. Kesalahan yang bersumber karena alam
Tipe kesalahan ini termasuk pada kesalahan yang bisa direduksi, dengan melakukan
pengukuran tambahan. Termasuk dalam kesalahan ini adalah, kesalahan karena
refraksi atmosfer, kesalahan karena kelengkungan bumi, kesalahan karena perbedaan
suhu, tekanan, dan kelembaban, serta kesalahan lain yang sejenis. Pemberian koreksi
dari hasil pengukuran tambahan tersebut, akan mereduksi kesalahan yang terkandung
pada data hasil ukuran. Secara umum, besamya kesalahan merupakan perbedaan antara
data hasil pengukuran dengan data yang sebenarnya sebagaimana disajikan pada
Persamaan (2.1).
𝜀 = 𝑦 − 𝜇 ........................................................................................... (2.1)
Untuk mengetahui kualitas alat ukur yang kita gunakan dalam pemetaan, maka
sebelum alat tersebut dipakai, sangat dianjurkan untuk melakukan serangkaian
kegiatan pengecekan terlebih dahulu. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi
apakah alat tersebut terdapat kesalahan dalam pengukuran atau tidak, jika ternyata
masih terdapat kesalahan, apakah kesalahan tersebut masih dalam toleransi yang
diizinkan atau memang sudah harus dilakukan kalibrasi. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan, dijelaskan sebagai berikut:
II.1. Kesalahan Alat Pemusatan
Alat pemusatan akan memberikan kesalahan baik dalam pengukuran sudut maupun
pengukuran jarak. Kesalahan alat pemusatan ini, baik yang terdapat pada Total Station itu
sendiri maupun alat pemusatan pada prisma/target.
II.1.1. Kesalahan Pemusatan pada Alat Total Station
Setiap kali Total Station didirikan di atas sebuah titik, akan memungkinkan terjadi
kesalahan pemusatan, sehingga posisi alat tersebut tidak berdiri tepat di atas titik yang
sebenarnya. Kesalahan ini bisa jadi diakibatkan karena keterampilan surveyor saat melakukan
pemusatan dan pemasangan alat (centering) atau karena terjadinya pergeseran pada kaki tripot
baik karena tersentuh, tersenggol, ataupun kurang kokohnya kaki tripot tersebut berdiri di
tanah. Kesalahan yang terjadi bisa diilustrasikan pada Gambar 2.1 berikut:
6
Gambar 2.1. Ilustrasi kesalahan yang diakibatkan alat pemusatan pada alat Total Station
(Sumber: Ghilani, 2010)
Berdasarkan Gambar 2.1 tersebut, diketahui sudut yang sebenarnya adalah yang bisa dihitung
mengikuti Persamaan (2.2) sebagai berikut :
𝛼 = (𝑃2 + 𝜀2 ) − (𝑃1 + 𝜀1 ) = (𝑃1 − 𝑃2 ) + (𝜀1 + 𝜀2 ) ............................................... (2.2)
Dimana, PI dan P2 arah target yang sedang diamati ke arah titik backsight dan foresight.
Sedangkan 𝜀1 dan 𝜀2 adalah besarnya error kesalahan ke arah target masing-masing akibat
kesalahan pemusatan total station. Besarnya error kesalahan yang ditimbulkan disajikan
Persamaan (2.3) berikut:
𝜀 = 𝜀2 − 𝜀1 .................................................................................................................. (2.3)
Analisis kesalahan dalam pengukuran sudut yang diakibatkan oleh salahan alat pemusatan, bisa
diselesaikan dengan pendekatan kesalahan berdasarkan pada persamaan yang mendasarkan
pada posisi x, dan . Jika sumbu x adalah garis yang dibentuk oleh titik pusat yang sebenarnya
kearah titik foresight, dan sumbu y tegak lurus terhadap sumbu x melewati titik proyeksi sumbu
vertikal alat total station, maka besarnya pergeseran posisi karena kesalahan pemusatan
ditunjukkan pada Gambar 2.2 adapun pergeseran yang terjadi dapat dihitung mengikuti
Persamaan 2.4 berikut:
𝑖ℎ = 𝑖𝑞 − 𝑞
𝑖ℎ = 𝑖𝑞 cos 𝛼 − 𝑠𝑞 sin 𝛼 .............................................................................................. (2.4)
Jika sq = x dan iq = y, maka persamaan terebut bisa dituliskan sebagai mana diuraikan pada
Persamaan 2.5 berikut:
𝑖ℎ = 𝑦 cos 𝛼 − 𝑥 sin 𝛼 ................................................................................................. (2.5)
7
Gambar 2.2. Efek pergeseran posisi dikarenakan kesalahan pemusatan
(sumber: Ghilani, 2010)
Dari Gambar 2.2 tersebut juga bisa didapatkan Persamaan 4.6 dan Persamaan 2.7 berikut:
𝑖ℎ 𝑦 cos 𝛼−𝑥 sin 𝛼
𝜀1 = = .............................................................................................. (2.6)
𝐷1 𝐷1
𝑦
𝜀2 = ........................................................................................................................ (2.7)
𝐷2
Sehingga besarnya kesalahan yang terjadi bisa dihitung dengan mensubstitusikan kedua
persamaan tersebut pada persamaan 2.3. schingga dihasilkan Persamaan 2.8 berikut:
𝐷1 𝑦+𝐷2 𝑥 sin 𝛼− 𝐷2 𝑦 cos 𝛼
𝜀= ............................................................................................ (2.8)
𝐷1 𝐷2
Karena kesalahan/error ini merupakan kesalahan yang bersifat tetap selama pengukuran pada
titik tersebut, maka besarnya kesalahan rata-rata sudut akan sama dengan besarnya kesalahan
pada pengukuran sebuah sudut tunggal . Sehingga bisa diasumsikan besarnya kesalahan pada
arah x akan sama dengan kesalahan pada arah y, sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar
2.3. dan besarnya disajikan pada Persamaan 2.9 berikut:
8
Gambar 2.3. Besarnya kesalahan pemusatan pada titik berdiri Total Station
𝜎𝑖
𝜎𝑥 = 𝜎𝑦 = ............................................................................................................... (2.9)
√2
Apabila 𝜎𝜀 = 𝜎𝛼1 bisa didapatkan Persamaan 2.10 berikut:
𝐷1 2 +𝐷2 2 (cos2 𝛼+ sin2 𝛼)− 2 𝐷1 𝐷2 cos 𝛼 𝜎𝑖
𝜎𝛼1 2 = .............................................................. (2.10)
𝐷1 2 𝐷2 2 √2
Untuk menghasilkan besarnya kesalahan yang terjadi, hasil 𝜎𝛼1 dikalikan dengan 𝜌, dimana
1
besamya 𝜌 adalah sin 1" = 206.264,806.
II.1.2. Kesalahan Pemusatan Target/Prisma
Ketika target/prisma dipasang dan diatur di atas sebuah titik tetap, kemungkinan akan
terjadi kesalahan akibat pemusatan (centering). Hal ini bisa jadi dikarenakan kesalahan
operator saat melakukan pemusatan prisma, atau karena kaki tripot tergeser selama
pengukuran, atau juga karena kualitas alat optical plummet yang kurang baik. Pada saat
kalibrasi alat biasanya pergeseran akibat pemusatan ini hanya sebesar 0,001 feet sampai dengan
0,01 feet. Meskipun besarnya kesalahan ini nampak konstan, akan tetapi arah kesalahnnya akan
bervariasi, apalagi dikombinasikan dengan kesalahan pemusatan pada Total Station yang
memiliki karakter yang sama.
Dalam memperkirakan kesalahan jenis ini pada sebuah pengukuran sudut, dapat dilakukan
dengan menganalisis kontribusi kesalahannya pada satu arah tertentu, sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 2.4. Sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 2.4, besarnya
kesalahan sudut karena kesalahan pemusatan tergantung pada posisi target. Jika targetnya
berada satu garis dengan garis bidik, namun letaknya di luar titik pusat, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.4 (a), maka kesalahan pemilahan target tidak berkontribusi pada
kesalahan sudut. Namun, karena target bergerak ke kedua sisi garis penglihatan, maka nilai
9
kesalahan akan meningkat. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4 (d), kesalahan terbesar terjadi
ketika target diimbangi tegak lurus terhadap garis bidik. Dengan memisalkan o untuk mewakili
jarak target dari lokasi stasiun yang benar, besarnya kesalahan maksimum karena
ketidakpastian arah yang diakibatkan kesalahan pemusatan target dijelaskan pada Persamaan
2.11.
𝜎𝑑
𝑒=± (𝑟𝑎𝑑) ......................................................................................................... (2.11)
𝐷
Dimana e adalah besarnya ketidakpastian dalam arah karena kesalahan pemusatan target, 𝜎𝑑
jumlah kesalahan pemusatan pada saat pengamatan/pengukuran sudut (seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.5), dan D adalah jarak dari pusat instrumen ke target.
Gambar 2.5. Kemungkinan letak yang terjadi akibat kesalahan pemusatan
(sumber: Ghilani, 2010)
Gambar 2.4. Kesalahan dalam pengukuran sudut karena kesalahan
pemusatan target. (Sumber: Ghilani, 2010)
10
Karena setiap pengamatan sudut harus dilakukan ke kedua arah, maka kontribusi kesalahan
pemusatan target terhadap total kesalahan sudut bisa dihitung dengan Persamaan 2.12 berikut:
𝜎 2 𝜎 2
𝜎𝛼𝑡 = √( 𝐷𝑑1 ) + ( 𝐷𝑑2 ) ......................................................................................... (2.12)
1 2
Di mana 𝜎𝛼𝑡 merupakan kesalahan sudut karena kesalahan pemusatan target, 𝜎𝑑1 dan 𝜎𝑑2
adalah kesalahan pemusatan target di titik 1 dan 2, dan D dan D adalah jarak dari instrumen ke
target di titik dan 2. Dengan mengasumsikan kemampuan pemusatan target di atas suatu titik
tidak tergantung pada arah tertentu, maka dapat dikatakan bahwa 𝜎𝑑1 =𝜎𝑑2 =𝜎𝛼𝑡 . Hasil akhir
dari Persamaan (2.12) tidak memiliki satuan. Untuk mengubah hasilnya menjadi detik busur,
1
maka harus dikalikan dengan 𝜌 dimana besarnya 𝜌 adalah sin 1" = 206.264,806.
11
BAB III
PELAKSANAAN
Kesalahan alat pemusatan (optical plummet) dapat dilakukan dengan pengecekan
terlebih dahulu. Hal ini berlaku pada alat Total Station maupun pada Target Prisma dalam
pengukuran. Langkah pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Mendirikan tripot dengan posisi yang stabil, kaki tripot membentuk segitiga sama sisi
dengan panjang sisi yang cukup sehingga alat berdiri kokoh dan tidak mudah bergerak
seperti yang disajikan pada Gambar 3.1 dan memastikan kepala tripot dalam kondisi
mendatar serta lubang tripot tepat diatas titik yang telah dibuat.
Gambar 3.1. Posisi kaki tripot (a) dan kepala tripot (b) pada saat pemasangan
Alat Total Station dan target Prisma (sumber: manual Leica TPS800)
2. Memasang alat pemusatan (optical plummet) kemudian melakukan sentering dengan
cara memutar sekrup ABC pada kaki tribrach hingga titik tepat berada di tengah-tengah
alat pemusatan.
3. Menyeimbangkan gelembung nivo pada alat (nivo kotak dan nivo tabung) dengan cara
menaikkan atau menurunkan kaki-kaki tripot serta memutar sekrup ABC hingga nivo
benar-benar seimbang di semua posisi saat diputar 360o seperti yang disajikan pada
Gambar 3.2(melakukan penyeimbangan nivo) dan Gambar 3.3(nivo kotak dan nivo
tabung sudah di tengah)
12
Gambar 3.2. Menyeimbangkan Gambar 3.3. Posisi nivo tabung dan
gelembung nivo pada alat kotak sudah di tengah
4. Apabila gelembung nivo tabung tepat di tengah namun nivo kotak bergeser maka perlu
dilakukan koreksi nivo dengan menggunakan pen koreksi seperti yang dilakukan
Gambar 3.4. menaikkan atau menurunkan sekrup pengaturan nivo kotak yang berada
dibawahnya hingga tepat berada ditengah. Nivo tabung dan nivo kotak keduanya harus
berada ditengah-tengah.
Gambar 3.4. Koreksi nivo kotak dengan pen koreksi
5. Pengecekan alat pemusatan dilakukan dengan cara mengamati posisi titik pada alat
pemusatan (optical plummet) secara berputar360o penuh terhadap sumbu I. mengamati
posisi titik terhadap lingkaran alat pemusatan dengan toleransi pergeseran yang
diijinkan maksimal 3mm pada tinggi alat 1,5 meter.
13
6. Alat pemusatan yang baik jika titik tetap berada pada posisinya (di tengah lingkaran
penanda alat pemusatan). Jika titik bergeser maka perlu diukur besar penyimpangan
yang terjadi dengan menggambarkan posisi penyimpangan pada titik dan melakukan
koreksi. Ilustrasi mengenai hal ini disajikan pada Gambar 3.5
Gambar 3.5. Ilustrasi ketepatan (a) dan ketidaktepatan (b) yang terjadi pada alat
Pemusatan (optical plummet) pada Total Station dan Prisma (sumber: manual Leica TPS800)
7. Koreksi optical plummet dapat dilakukan dengan sekrup adjustment diagframa yang
ada pada alat pemusatan seperti yang disajikan pada Gambar 3.6 pemberian koreksi ini
dilakukan secara bertahap dikoreksi setiap setengah nilai kesalahan.
14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil pengamatan pemusatan Nivo Kotak
Setelah dilakukan pengaturan sentering nivo kotak kemudian pada nivo tabung
diketahui perubahan yang sangat minimal. Tidak adanya perubahan yang signifikan tersebut
menandakan kesalahan nivo kotak dianggap kecil atau minimal sehingga tidak diperlukan
proses kalibrasi pada nivo kotak.
IV.2. Hasil pengamatan pemusatan Nivo Tabung
Setelah dilakukan pengaturan sentering nivo kotak kemudian pada nivo tabung
diketahui perubahan yang sangat minimal. Tidak adanya perubahan yang signifikan tersebut
menandakan kesalahan nivo tabung dianggap kecil atau minimal. Pada pengamatan nivo
tabung gelembung tidak keluar pada garis-garis bar sehingga menandakan seimbangnya nivo
tabung sehingga tidak diperlukan proses kalibrasi pada nivo kotak.
15
IV.3. Hasil pengamatan pemusatan optical plummet
Ǿ Maksimal 2 mm
Pada pengecekan kondisi pemusatan pada optical plummet tidak diperoleh
penyimpangan yang besar. Ketika alat survei dilakukan pemutara secara 3600 penuh titik
kembali pada posisi center titik. Namun, pada saat dilakukan pemutaran instrumen dan
dilakukan pengamatan telah terjadi penyimpangan sehingga titik pusat optimal plummet
mengalami perubahan posisi dan melakukan rotasi dengan jarak penyimpangan terjauh sebesar
Ǿ maksimal sebesar 2mm dengan ketinggian alat 1,4meter. Kemudian dari pembandingan nilai
penyimpangan dengan batasan toleransi penyimpangan maksimal yang diijinkan sebesar 3mm
pada tinggi alat 1,5meter telah memenuhi batasan tersebut. Untuk melakukan koreksi dari
penyimpangan di atas perlu diukur besar penyimpangan yang terjadi, dan dilakukan koreksi
sebagaimana dilakukan dengan pengaturan 4 skrup koreksi pada optical plummet. Dari hasil
pengamatan diperoleh hasil bahwa alat survei telah memenuhi syarat dengan keadaan baik dan
dapat digunakan dalam pengukuran lapangan.
16
BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
Dari praktikum kalibrasi alat pemusatan (optical plummet) yang sudah dilaksanakan dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Sebelum alat ukur digunakan, alat ukur harus memenuhi syarat-syarat pendirian alat
yaitu sentering dan sumbu 1 vertikal.
b. Berdasarkan sumber kesalahan, kesalahan ada 3 macam yaitu kesalahan dari alat,
pengguna (blunder), dan random.
c. Kesalahan yang berasal dari alat meliputi kesalahan alat pemusatan (tetap), kesalahan
tidak seimbangnya nivo kotak dan tabung (tetap).
d. Kesalahan yang bersumber dari alat yang bersifat tetap dapat dihilangkan dengan
melakukan koreksi pada fisik alat.
e. Kesalahan pemusatan dapat direduksi dengan menggunakan sekrup koreksi pada
optical plummet dengan bantuan pen koreksi.
f. Kesalahan ketidak seimbangan nivo kotak dan tabung dapat direduksi dengan
menggunakan sekrup koreksi dengan bantuan pen koreksi.
g. Dari hasil praktikum pemusatan alat , diperoleh hasil penyimpangan jarak terjauh (Ǿ )
maksimal sebesar 2mm dengan ketinggian alat 1,4meter sehinga dapat disimpulkan
bahwa alat survei telah memenuhi syarat dengan keadaan baik dan dapat digunakan
dalam pengukuran lapangan.
V.2. Kritik dan Saran
Adapun kritik dan saran pada praktikum kalibrasi alat pemusatan (optical plummet) adalah:
a. Merupakan praktikum yang beresiko sehingga dibutuhkan pendampingan
b. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsentrasi tinggi dalam pelaksanaan kalibrasi
alat survei.
17
DAFTAR PUSTAKA
Ghilani, Charles D. dan Wolf, Paul., 2006, Adjusment Computations Spatial Data Analysis,
fourth edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey-US.
Leica Geosystems, 2008, Leica TPS800 Series User Manual, Version 4.0 English, Leica
Geosystems AG, Heerbrugg-Switzerland.
Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Modul Praktikum Kalibrasi Alat Total Station, Minggu
ke-5 dan 6, 2019.
18