LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL
Kelompok : 1 (Satu)
Kelas : 4D Farmasi
Anggota : Amelia Maulidasari 31116152
Gilang Armanthio T 31116167
Gina Nurfaridah 31116168
Hilman Fitriaji S.P 31116170
Kintan Sri Komala Dewi 31116173
Nuriawati 31116180
Risya Ayudia Hayat 31116186
Siti Arpiah 31116190
Sri Damayanti 31116192
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2019
I. JUDUL PRAKTIKUM
Sediaan Injeksi Natrii Thiosulfas
II. TANGGAL PRAKTIKUM
7 November 2019
III. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Mampu membuat dan memahami pembuatan sediaan steril bentuk obat suntik.
b. Mampu memahami macam-macam teknik sterilisasi.
c. Mampu melakukan evaluasi sediaan obat suntik.
IV. DASAR TEORI
Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang
dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan,
menunjukkan pemberian lewat suntikan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan disuntikan
(Ansel, 1989).
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikkan dengan
cara menembus atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir (Lukas, hal
36).
Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsi atau mensuspensikan sejumlah obat dalam
sejumlah pelarut atau dengan mengisikan sejumlah obat ke dalam wadah dosis tunggal atau wadah
dosis ganda (Anief, hal 190).
Menurut USP, sediaan obat suntik dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:
1. Larutan obat siap untuk disuntikkan.
2. Zat padat kering yang dinyatakan dengan istilah “untuk disuntikkan” yang telah
ditambahkan pelarut yang sesuai berupa larutan yang memenuhi syarat obat suntik.
3. Suspensi steril, berupa zat padat yang disuspensikan dalam Pembawa yang sesuai,
yang tidak boleh disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau ke dalam sumsum tulang
belakang.
4. Zat padat kering, yang dinyatakan sebagai “steril” untuk disuspensikan yang telah
ditambahkan zat pembawa yang sesuai, yang memberikan bahan-bahan yang
memenuhi syarat untuk suspensi steril.
5. Emulsi dari cairan dalam lengkungan cairan untuk disuntikkan. (Pjide, hal 82)
Selain dari pada itu sediaan obat suntik dapat dibagi beberapa kelompok, yaitu:
1. Larutan sejati dengan pembawa air, contohnya vitamin C.
2. Larutan sejati dengan pembawa minyak, contohnya Injeksi kamper.
3. Larutan sejati dengan pembawa campuran, contohnya Injeksi Phenobarbital.
4. Suspensi steril dengan pembawa air, contohnya Injeksi Calciferol.
5. Suspensi steril dengan pembawa minyak, contohnya Injeksi bismuth subsalisilat.
6. Emulsi steril, contohnya Infus Ivelip 20%.
7. Serbuk kering dilarutkan dengan air.
(Lukas, hal 39-41)
V. PREFORMULASI ZAT AKTIF
Na. Tiosulfat (Na2S2O3)
Rumus Struktur Natrium Tiosulfat
Pemerian : hablur besar, tidak berwana, atau serbuk hablur kasar.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dan tidak larut dalam etanol.
Penggunaan : antidotum atau penawar racun
VI. PREFORMULASI ZAT TAMBAHAN
Na. Pospat Monobasa/ Natrii Dihydrogen Phosphas (NaH2PO3)
Rumus Struktur Natrium Dihidrogen Fosfat
Pemerian : Kristal putih; tidak berbau.
Kelarutan : Mudah larut dala air; sangat mudah larut dalam etanol.
Fungsi : Dapar
pH : 4,1- 4,5
OTT : Aluminium, kalsium, garam magnesium.
Stabilitas : Dengan pemanasan pada suhu 100° C akan kehilangan air
kristal. (Excipient hal 457)
Na. Pospat dibasa/Dinatrii Hydrogen Phosphas (Na2HPO4)
Rumus Struktur Dinatrium Hidrogen Fosfat
Pemerian : Serbuk putih atau kristal putih atau hampir putih, tidak berbau.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, lebih larut dalam air panas, praktis tidak larut dalam
etanol.
pH : 9,1
Stabilitas : Higroskopis dengan pemanasan pada suhu 100°C akan kehilangan air
kristal.
OTT : Alkaloid, antipirin, kloral hidrat, pirogalol, resorsinol, kalsium glukonat.
Penyimpanan : wadah tertutup baik. Di tempat sejuk dan kering.
(Exp Hal : 454)
Aqua Pro Inject (Bebas Pirogen)
Sinonim : Aqua Pro Injeksi
Fungsi : sebagai bahan pembawa sedian iv
OTT : Dalam sedian farmasi, air dapat beraksi dengan obat dan zat tambahan
lainnya yang mudah terhidrolisis
Stabilitas : air stabil dalam setiap keadaan
Bentuk : Larutan bebas pirogen
Warna : Jernih
Bau : Tidak berbau
Rasa : Tidak berasa
VII. ALAT DAN BAHAN
No Alat dan Bahan Sterilisasi Waktu
1. Beaker Glass Autoklaf 121°C 30’
2. Corong Autoklaf 121°C 30’
3. Vial Autoklaf 121°C 30’
4. Kaca Arloji Autoklaf 121°C 30’
5. Spatel Logam Api Langsung 20’’
6. Batang Pengaduk Api Langsung 20’’
7. Natrium Tiosulfat Oven 105°C 30’
8. Natrium Dihidrogen Fosfat Oven 105°C 30’
9. Dinatrium Hidrogen Fosfat Oven 105°C 30’
VIII. PENDEKATAN FORMULA
No. Bahan Jumlah Fungsi/Alasan Penambahan
1. Natrium Tiosulfat 10% Zat Aktif
2. Dinatrium Hidrogen Fosfat 0,9% Buffering Agent
3. Natrium Dihidrogen Fosfat 0,04% Buffering Agent
4. Aqua Pro Injection Ad 10 mL Mencegah adanya pirogen dan menghambat
pertumbuhan mikroorganisme
IX. PERHITUNGAN
Perhitungan Tonisitas
Kelengkapan:
Zat ∆tb C
Natrium Dihidrogen Fosfat 0,207 0,04
Dinatrium Hidrogen Fosfat 0,126 0,9
Natrium Tiosulfat 0,181 10
0,52−(∆tb x C)
W = 0,576
0,52−[(0,207 x 0,04)+(0,126 x 0,9)+(0,181 x 10)]
= 0,576
0,52−1,93168
= 0,576
−1,41168
= 0,576
= -2,450% (Hipertonis)
Perhitungan Dapar
Dalam 10 mL larutan mengandung Natrium Tiosulfat
pH stabilitas = 6 - 9,5
Dalam dapar pH = 8
([H3O+] = 10-8)
Dapar fosfat pH = 6 - 8,2
pKa1 = 2,15
pKa2 = 7,20
pKa3 = 12,38
Untuk dapar yang baik adalah jika pH - pKa < 1 maka dipilih H2PO4 dan HPO4
pKa2 = 7,20 (Ka = 6,3 × 10-8)
Kapasitas dapar yang umum = 0,01
𝐾𝑎 . [𝐻3 𝑂+ ]
β = 2,303 . C . (𝐾𝑎 + [𝐻3 𝑂+ ])2
6,3 . 10−8 .10−8
0,01 = 2,303 . C . (6,3 .10−8 + 10−8 )2
6,3 . 10−16
0,01 = 2,303 . C . (7,3 . 10−8 )2
6,3 . 10−16
0,01 = 2,303 . C . 5,329 . 10−15
0,01 = 2,303 . C . 0,118
0,01 = 0,271 . C
0,01
C = 0,271 = 0,037𝑀
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
pH = pKa + log [𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
8 = 7,20 + log [𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
8 - 7,20 = log [𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
0,8 = log [𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
= antilog 0,8
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
= 6,30
[𝑎𝑠𝑎𝑚]
[garam] = 6,30 [asam]
[asam] + [garam] = 0,037
[asam] + 6.30 [asam] = 0,037
7.30 [asam] = 0,037
0,037
[asam] = 0,0050 𝑚𝑜𝑙/𝐿
7,30
𝑔𝑟𝑎𝑚
n= 𝐵𝑀
Gram = n × BM NaH2PO4
= 0,0050 × 119,98
= 0,6 g/L = 0,6 mg/mL
[garam] = 6,30 . [asam]
= 6,39 . 0,0050
= 0,0315 mol/L
𝑔𝑟𝑎𝑚
n= 𝐵𝑀
Gram = n × BM Na2HPO4
= 0,0315 × 141,96
= 4,47 g/L = 4,47 mg/mL
Perhitungan Bahan
Dibuat 9 vial @10 mL + 2 vial untuk evaluasi = 11 vial @10 mL
Volume untuk 11 vial = 10 mL × 11 vial = 110 mL
Kelebihan volume yang dianjurkan untuk penandaan 10 mL adalah 0,5 mL, jadi:
0,5 mL × 10 mL × 11 vial = 55 mL
Total volume = 110 mL + 55 mL = 165 mL
Dilebihkan 10% untuk antisipasi kehilangan saat proses produksi
10% × 165 mL = 16,5 mL
Volume total yang dibuat = 165 mL + 16,5 mL = 181,5 mL
Perhitungan penimbangan
Natrii Thiosulfas = 100 mg × 181,5 mL = 18150 mg × 5% = 907,5 mg
18150 mg + 907,5 mg = 19057,5 mg = 19,0575 gram
Natrii Dyhidrogen Phosphas = 0,6 mg/mL × 181,5 mL = 108,9 mg
Dinatrii Hidrogen Phosphas = 4,47 mg/mL × 181,5 mL = 811,305 mg
Aqua pro injection ad 181,5 Ml
X. PENIMBANGAN BAHAN
Satuan Volume Paraf
Bahan
Bahan Produksi
10 mL 181,5 mL
Natrii Thiosulfas 100 mg 19,06 gram
NaH2PO4 0,04 mg 108,9 mg
Na2HPO4 9 mg 811,305 mg
XI. PROSEDUR PENGOLAHAN
XII. EVALUASI SEDIAAN
XIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan injeksi Natrium thiosulfat.
Natrium thiosulfat merupakan garam yang dapat diberikan secara empiris pada orang yang
keracunan sianida, zat ini pun stabil dalam larutan pembawa air. Bahan pembawa yang
digunakan adalah aqua pro injection bebas CO2 dan O2 yang dibuat dengan penambahan
carbon aktif membunuh pirogen. Carbon aktif (adsorben) mampu memegang molekul lain pada
permukaannya dengan cara fisika ataupun kimia (kemisorpsi). Dengan adanya CO2 dapat
bereaksi dengan salah satu bahan obat dalam sediaan, dan bisa membentuk endapan. Hal ini
pulalah yang mungkin dapat menyebabkan sediaan yang dibuat terdapat endapan didalamnya,
yaitu karena pada waktu pembuatan sediaan, aqua yang digunakan terlalu lama kontak dengan
udara sehingga CO2 dalam aqua pro inject akan bereaksi dengan zat aktif dari sediaan.
Sediaan injeksi ini mempunyai stabilitas pH antara 8-9,5 menurut USP. Dapar yang
digunakan yaitu larutan pendapar yang digunakan adalah kombinasi antara Na2HPO4 dengan
NaH2PO4, fungsi dari penambahan dapar ini untuk menahan perubahan pH sediaan supaya
berada dalam rentang pH stabil dan apabila pH bergeser, pergeserannya tidak jauh dari pH
stabilnya. Selain itu larutan pendapar dapat mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan pada saat
penyuntikan. Dapar phospat mempunyai selisih pH yang tidak boleh melebihi 3, dikarenakan
dapar harus mempunyai rentang tipis yang berupa penyangga agar tidak terjadi lingkungannya
terlalu asam, sebab dapar mempunyai sifat yang agak sedikit basa yang sedikit basa yang
fungsinya untuk menstabilkan pH thiosulfat yakni 8 – 9,5
Metode sterilisasi yang digunakan untuk membuat injeksi ini pun dibuat dengan
metode aseptis. Metode aseptis ini diperlukan jika bahan produk parenteral yang akan dipakai
harus bebas dari mikrorganisme. Metode ini didasarkan pada kestabilan bahan pada pemanasan,
dimana berdasarkan literatur resmi bahwa natrium thiosulfat tidak tahan pemanasan dan akan
terurai, sehingga dengan pertimbangan tersebut dilakukan dengan metode aseptis. Metode
aseptis ini bertujuan untuk menjaga kemungkinan terkontaminasinya sediaan dengan
mikroorganisme pada saat pembuatan. Dalam pembuatan injeksi ini terlebih dahulu alat-alat
yang akan digunakan disterilkan terkecuali bahan karena dalam hal ini tidak tahan pemanasan
dan zat aktif bisa dianggap steril. Pada pembuatan injeksi metode sterilisasi metode aseptis
kemungkinan sediaan terkontaminasi dengan mikroorganisme harus diperkecil untuk menjaga
agar sediaan yang dihasilkan nantinya tetap dalam keadaan steril.
Injeksi yang dibuat harus isotonis dengan cairan tubuh ataupun hipertonis dalam
keadaan tertentu. Isotonis adalah kondisi dimana suatu larutan konsentrasinya sama besar
dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga tidak terjadi pertukaran cairan diantara
keduanya. Perlunya sediaan injeksi ini dibuat isotonis ataupun hipertonis agar pada saat
penyuntikan tidak meninmbulkan rasa sakit. Untuk membuat injeksi yang isotonis dapat
menggunakan NaCl dalam jumlah tertentu sesuai perhitungan tonisitas sediaan. NaCl
merupakan salah satu bahan pembantu untuk tonisitas.
Pada proses penimbangan bahan untuk sediaan parenteral, bahan yang digunakan
dilebihkan sebanyak 5%. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya hilangnya volume
bahan saat pembuaan sediaan tersebut. Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan adanya
penguapan yang terjadi pada waktu proses sterilisasi yang mana menggunakan sterilisasi uap
panas. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk mengganti kehilangan bahan pada waktu
proses pembuatan yaitu pada waktu penyaringan atau adanya bahan yang tertinggal pada alat-
alat praktikum.
Selanjutnya larutan injeksi di strerilisasi akhir dengan autoklap pada suhu 121oC
selama 15 menit. Tujuan sterilisasi adalah menjamin sterilitas produk maupun karakteristik
kualitasnya, termasuk stabilitas produk. Pada saat sterilitasi uap (autoklaf) terjadi pemaparan
uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek sehingga
terjadi pelepasan energi laten uap yang mengakibatkan pembunuhan mikroorganisme secara
irreversible akibat denaturasi atau koagulasi protein sel. Metode sterilisasi ini merupakan
metode yang paling efektif karena uap merupakan pembawa energy termal paling efektif dan
semua lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakan sehingga memungkinkan
terjadinya koagulasi, bersifat nontoksis dan relative mudah dikontrol.
Hasil evaluasi yang didapatkkan pada praktikum kali ini yang berjumlah 11 vial yaitu
memiliki penampilan fisik yang baik, larutan jernih dan memiliki keseragaman volume yang
sama. Persyaratan utama dari larutan yang diberikan secara parenteral yaitu kejernihan. Sediaan
itu harus jernih dan bebas dari semua zat-zat khusus yaitu semua yang bergerak, senyawa yang
tidak larut. Termasuk pengotoran-pengotoran seperti debu, serat-serat baju, dan mungkin lain-
lain yang masuk kedalam produk selama proses pembuatan, penyimpanan dan pemberian.
XIV. KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan injeksi Natrium thiosulfat. Bahan
pembawa yang digunakan adalah aqua pro injection bebas CO2 dan O2 yang dibuat dengan
penambahan carbon aktif membunuh pirogen. Sediaan injeksi ini mempunyai stabilitas pH
antara 8-9,5 menurut USP.. Dapar yang digunakan yaitu larutan pendapar yang digunakan
adaah kombinasi antara Na2HPO4 dengan NaH2PO4. Berdasarkan hasil evaluasi, sediaan
memiliki penampilan fisik yang baik, larutan jernih dan memiliki keseragaman volume yang
sama sehingga secara visual sediaan yang telah dibuat memenuhi syarat.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen kesehatan RI, (1995). Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta: Depkes RI
Harjasaputra, Purwanto, dkk. (2002). Data Obat di Indonesia. Jakarta: Grafidian Mediapress
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. (1998). ISO Indonesia. Volume 32. Jakarta: PT. Widia
Reynold, James E F. (1982). Martindale The Extra Pharmacopoeia. Twenty Eight edition. London:
The Pharmaseutical Press.
Tjay, Tan Hoan,dkk. (2003). Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia
Waide, Ainley, and Waller, Paul J. (1994). Handbook of Pharmaseutical Exipients. Second edition.
Washington: American Pharmaseutical Association