Anda di halaman 1dari 6

Donald Hamonangan Siregar

031811133198
HAPTUN A-4

REPLIK
Perkara Nomor: 29/G/2015/PTUN.SBY

Surabaya, 20 April 2015


KepadaYth.
Ketua Majelis Hakim Pengadilan TUN Surabaya
Jalan Raya Ir. H.Juanda No.89, Semambung,
Gedangan, Kabupaten Sidoarjo,
Di Tempat

Perihal : Replik atas Jawaban Tergugat dan Tergugat II Intervensi

Dengan hormat,
Untuk dan atas nama Penggugat dengan ini mengajukan REPLIK atas JAWABAN TERGUGAT
dan TERGUGAT II INTERVENSI, sebagai berikut:

1. DALAM EKSEPSI
1. Bahwa, berdasarkan ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah disempurnakan terakhir dengan
Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009, antara lain menegaskan bahwa "seseorang atau
Badan merasa kepentingannya dirugikan oleh Keputusan Tata Usaha Negara dapat
mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang, berisi
tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau
tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau rehabilitasi”.

Bahwa, sedangkan dalam penjelasannya, menegaskan antara lain bahwa "Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara tidak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata
Usaha Negara untuk menggugat Keputusan Tata Usaha Negara ".

Bahwa, berdasarkan uraian tersebut di atas, tergugat berpendapat bahwa Bupati


Kediri tidak dapat menjadi subyek hukum sebagai Penggugat dalam perkara a quo,
karena tidak memenuhi syarat sebagai Badan Hukum yang dapat mengajukan gugatan
Tata Usaha Negara sebagaimana ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-undang Nomor 5
Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah disempurnakan terakhir
dengan Undang- Undang Nomor 51 Tahun 2009.
Berdasarkan eksepsi Tergugat diatas maka Penggugat berpendapat bahwa bupati/walikota
adalah merupakan kepala daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang
memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangan daerah
otonomi sebagaimana disebutkan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan rumusan pasal tersebut, maka
sepanjang melaksanakan urusan pemerintahan daerah yang menjadi kewenangannya
tersebut, maka tindakan bupati/walikota menurut hukum publik sehingga dikualifikasikan
bupati/walikota merupakan badan atau pejabat tata usaha Negara.

Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menyebutkan bahwa daerah
kabupaten/kota selain berstatus sebagai daerah juga merupakan wilayah administratif
yang menjadi wilayah kerja bagi bupati/ walikota dalam menyelenggarakan urusan
pemerintahan umum di wilayah daerah kabupaten/kota, dengan demikian suatu daerah
kabupaten/kota yang dikepalai oleh seorang bupati/ walikota dengan status sebagai suatu
daerah yang merupakan wilayah kerja dari bupati/walikota, menunjukkan bahwa seorang
bupati/walikota memiliki hak-hak kebendaan yang merupakan hak dibidang hukum
perdata untuk mempertahankan daerahnya dan wilayah kerjanya tersebut. Berdasarkan
pertimbangan tersebut maka bupati/walikota dapat berkedudukan sebagai kepala daerah
memiliki dua fungsi yaitu sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang
memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonomi
dan sebagai kepala daerah yang memiliki daerah sebagai wilayah kerjanya

Dengan demikian pada saat Penggugat yakni Bupati Kediri mempertahankan


kepentingannya menyangkut daerah sebagai wilayah kerjanya yang merupakan hak
keperdataannya, Penggugat dalam kedudukannya tersebut, apabila terdapat keputusan
yang dikeluarkan oleh pejabat TUN tertentu yang merugikan kepentingan
keperdataannya, maka Penggugat sebagai kepala daerah dapat mewakili pemerintah
daerahnya dalam kedudukan sebagai badan hukum perdata dapat mengajukan gugatan
dalam sengketa Tata Usaha Negara sesuai ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004 jo. Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009.

2. Tergugat dalam jawabannya berpendapat bahwa keputusan TERGUGAT yang dijadikan


objek gugatan tidak dapat dijadikan objek gugatan dalam perkara a quo, karena tidak
memenuhi unsur final, sebagaimana ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah disempurnakan terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009.
Pengertian unsur final dalam sebuah Keputusan Tata Usaha Negara, dengan merujuk pada
penjelasan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menyebutkan bahwa
bersifat final artinya sudah definitif dan karenanya dapat menimbulkan akibat hukum. Keputusan
yang masih memerlukan persetujuan instansi atasan atau instansi lain belum bersifat final karena
belum menimbulkan suatu hak atau kewajiban pada pihak yang bersangkutan

Pasal 4 ayat (1) huruf g Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas Dan
wewenang Serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Di
WilayahPropinsi, Gubernur sebagai wakil pemerintah memiliki wewenang yang meliputi:
menyelesaikan perselisihan dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan antar kabupaten/kota
dalam satu provinsi

Pasal 9 ayat (1) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 disebutkan: Gubernur
dalam melaksanakan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d melalui: c. Penyelesaian perselisihan yang
timbul dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan antar kabupaten/kota di wilayah provinsi
yang bersangkutan

Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 disebutkan:


(1) Dalam menyelesaikan perselisihan antar kabupaten/ kota sebagaimana dimaksud dalamPasal
9 ayat (1) huruf c gubernur melakukan langkah antara lain:
a. persuasi dan negosiasi; dan
b. membangun kerja sama antar daerah;
(2) Perselisihan antar kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup antara lain:
a. perbatasan antar kabupaten/kota;
b. sumber daya alam antar kabupaten/kota;
c. aset;
d. transportasi;
e. persampahan; dan
f. tata ruang.

Berdasarkan rangkaian ketentuan normatif tersebut di atas, maka gubernur sebagai wakil
pemerintah secara atributif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku memiliki
wewenang menyelesaikan perselisihan antar kabupaten/kota yang mencakup perselisihan
perbatasan antar kabupaten/ kota dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan
dalam bentuk surat keputusan tanpa meminta pertimbangan maupun persetujuan instansi atasan
maupun instansi lainnya, maka berdasar asas contrarius actus gubernur juga memiliki wewenang
untuk mencabut atau membatalkan surat keputusan yang dikeluarkannya tersebut tanpa
memerlukan pertimbangan danpersetujuan instansi atasan maupun instansi lainnya
Wewenang yang dimiliki gubernur didasarkan pemberian peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan dalam pelaksanaan wewenang tersebut tidak memerlukan pertimbangan dan
persetujuan instansi atasan maupun instansi lainnya, maka surat keputusan dalam penyelesaian
perselisihan antar kabupaten/kota mengenai perselisihan perbatasan antar kabupaten/kota dalam
provinsi yang dikeluarkan gubernur, merupakan keputusan yang bersifat final maka surat
keputusan pencabutan atau pembatalan terhadap surat keputusan tersebut juga bersifat final

Bahwa obyek sengketa yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur in casu Tergugat yaitu Surat
Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/828/KPTS/013/2014 Tentang Pencabutan
Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/KPTS/013/ 2012 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Batas Daerah Antara Kabupaten Blitar Dengan Kabupaten Kediri Yang Terletak
Pada Kawasan Gunung Kelud Di Provinsi Jawa Timur tanggal 11 Desember 2014 telah
memenuhi unsur final karena telah definitif dan telah menimbulkan akibat hukum bagi
Penggugat

2. DALAM POKOK PERKARA


1. Bahwa Penggugat tetap berpegang teguh pada dalil-dalil Gugatan Penggugat dan
menolak seluruh dalil-dalil dari jawaban tergugat dan tergugat II intervensi, kecuali
bila Penggugat akui secara tegas dalam replik ini;

2. Bahwa Tergugat dan Tergugat II Intervensi dalam Eksepsinya berpendapat bahwa


gugatan Penggugat tidak berdasar. Penggugat memiliki dasar untuk mengajukan
gugatanya itu Tergugat dalam mengeluarkan obyek sengketa tidak berdasar hukum
dan bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik khususnya asas
kepastian hukum, asas kecermatan dan asas profesionalitas;

3. Bahwa, tindakan Tergugat yang secara sepihak mengeluarkan obyek sengketa


bertentangan dengan azas - azas umum Pemerintahan yang baik khususnya azas
kepastian hukum dan azas kecermatan, karena dalam mengeluarkan obyek sengketa
Kepastian hukum atas penyelesaian sengketa kawasan Gunung kelud menjadi mentah
kembali dan tidak pasti dan pada saat mengeluarkan obyek sengketa Tergugat
bertindak tidak cermat, serta terdapat kesengajaan dari Tergugat untuk tidak
menghormati proses peradilan yang di lakukan di Pengadilan Tata Usaha Negara;

4. Bahwa, Berdasaran surat keterangan dari Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya
Nomor : W3-TUN1/840/K.Per.02.06/111/2013 tanggal 19 Maret 2013, yang
menerangkan bahwa putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap, dengan
demikian Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/ KPTS/013/2012, tentang
Penyelesaian Perselisihan Batas Daerah Antara Kabupaten Blitar Dengan Kabupaten
Kediri Yang Terletak Pada Kawasan Gunung Kelud di Provinsi Jawa Timur secara
hukum berlaku sah dan mengikat serta telah diberi status oleh Pengadilan;

5. Bahwa, sebagai langkah pendahuluan maka pada tanggal 07 Januari 2015 Penggugat
telah melakukan upaya administrasi dengan mengajukan keberatan kepada Tergugat
agar obyek sengketa di cabut atau setidak - tidaknya ditinjau ulang, karena disamping
merugikan kepentingan Penggugat juga bertentangan dengan AAUB in casu. Azas
kepastian hukum dan azas kecermatan, ternyata keberatan yang diajukan oleh
Penggugat sampai saat ini tidak ada respon dan jawaban dari Tergugat;

6. Bahwa Tergugat tidak mengupayakan penyelesaian sengketa secara administratif


sehingga merugikan kepentingan Penggugat;

Berdasarkan uraian dan alasan hukum tersebut diatas dengan ini Pengugat mohon dengan hormat
kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara ini sebagai berikut:

DALAM EKSEPSI:
1. Menolak eksepsi dari Tergugat dan Tergugat II Intervensi untuk seluruhnya;
2. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
3. Menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor:
188/828/KPTS/013/2014, tanggal 11 Desember 2014, tentang Pencabutan Atas
Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/KPTS/013/2012, tentang Penyelesaian
Perselisihan Batas Daerah Antara Kabupaten Blitar Dengan Kabupaten Kediri Yang
Terletak Pada Kawasan Gunung Kelud di Provinsi Jawa Timur;
4. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara atas timbulnya perkara ini.

DALAM POKOK PERKARA:


1. Menerima Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menolak jawaban dari Tergugat dan Tergugat II Intervensi untuk keseluruhan.
Atau jika Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya.
Kuasa Hukum Penggugat

Joshua Bonar, S.H.

Auliyah, S.H.