0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
253 tayangan15 halaman

Alexandria Euclid

[Ringkasan] Makalah ini membahas tentang awal mula matematika Yunani Kuno dan Sekolah Alexandria Eubric. Matematika Yunani berkembang sejak abad ke-6 SM di sekitar Laut Tengah dengan tokoh-tokoh seperti Thales, Pythagoras, dan Euclid. Euclid kemudian mendirikan Sekolah Matematika di Alexandria yang menghasilkan karya monumentalnya yaitu Elements.

Diunggah oleh

Sakinah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
253 tayangan15 halaman

Alexandria Euclid

[Ringkasan] Makalah ini membahas tentang awal mula matematika Yunani Kuno dan Sekolah Alexandria Eubric. Matematika Yunani berkembang sejak abad ke-6 SM di sekitar Laut Tengah dengan tokoh-tokoh seperti Thales, Pythagoras, dan Euclid. Euclid kemudian mendirikan Sekolah Matematika di Alexandria yang menghasilkan karya monumentalnya yaitu Elements.

Diunggah oleh

Sakinah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

AWAL MULA MATEMATIKA YUNANI KUNO

DAN SEKOLAH ALEXANDRIA EUBRIC

DISUSUN OLEH :
NAMA : SUKMAWATI.S
NIM : H0218302

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya
kepada kami dan seijin-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
yang berjudul “SEJARAH MATEMATIKA YUNANI” dan “SEKOLAH ALEXANDRIA”
Sebagaimana amanat yang diberikan kepada kami di dalam memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Matematika.Sebuah penghargaan bagi kami atas diberikannya tugas ini, karena dengan
begitu kita akan dapat mengkaji kembali tentang hal-hal yang berkaitan dengan Tokoh Sejarah
Matematika dan distribusi terhadap matematika.
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Tokoh Sejarah
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun, selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang berperan serta dalam
menyusun makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala
usaha kita. Amin.

MAJENE , 03 Oktober 2019

Penyusun : sukmawati.s
DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR……………………………………………………………………………
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………….
A. LATAR BELAKANG……………………………………………………………………
B. TUJUAN………………………………………………………………………………….
C. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………………
D. MANFAAT……………………………………………………………………………….
BAB II ISI…………………………………………………………………………………………
A. SEJARAH YUNANI KUNO…………………………………………………………….
BAB III …………………………………………………………………………………………...
A. PENUTUP…………………………………………………………………………….
B. SARAN……………………………………………………………………………….
C. DAFTAR PUSAKA………………………………………………………………….
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Menurut bahasa kata “matematika” berasal dari kata (máthema) dalam bahasa Yunani
yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar” juga (mathematikos) yang
diartikan sebagai “suka belajar”.Bahasa simbol,matematika itu adalah bahasa numrik,
matematika itu adalah bahasa yang menghilangkan sifat kabur,majemuk, dan emosional,
matematika adalah metode berpikir logis , matematika adalah saran berpikir, matematika adalah
logika pada masa dewasa , matematika adalah ratunya ilmu dan sekaligus menjadi pelayannya,
matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran, matematika adalah sains yang bekerja
menarik mkesimpulan-kesimpulan yang perlu, matematika adalah sains formal yang murni,
matematika dalah sains yang memanipulsi simbol, matematika adalah ilmu tentang bilangan dan
ruang, matematika adalah ilmu yang mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur ,
matematika adalah imu yang abstrak dan deduktif .
Walau sekarang terdapat ungkapan “ Matematika Yunani”, maka yang kemungkinan terbayang
dalam pikiran seseorang bahwa yang dimaksud adalah matematika yang berkembang pada suatu
negeri tertentu yakni yunani. Tetapi pemikiran demikian tidaklah tepat karena daerah
perkembangan matematika yunani bukanlah hanya di yunani saja melainkan tersebar luas

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah Matematika zaman Yunani Kuno?
2. Siapa tokoh pelopor matematika pada zaman Yunani Kuno?
3. Siapakah Euclid sebenarnya ?
4. Apa saja karya – karya yang diciptakan Euclid ?

C.Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah Matematika zaman Yunani Kuno
2. Untuk mengetahui siapa saja tokoh pelopor Matematika zaman Yunani Kuno
3. Menyampaikan informasi mengenai tokoh matematika Euclid
4. Menyampaikan informasi mengenai karya-karya ciptaan Euclid
D.Manfaat
Dengan membaca makalah ini penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat. Terutama dalam
hal:

1. Mengetahui sejarah Matematika zaman Yunani Kuno


2. Mengetahui siapa tokoh pelopor Matematika zaman Yunani Kuno

BAB II
PEMBAHASAN
A.Sejarah Yunani Kuno

Matematika Yunani adalah matematika yang ditulis di dalam bahasa Yunani,


dikembangkan sejak abad ke-6 SM sampai abad ke-5 M di sekitar pesisir Timur Laut
Tengah.Matematikawan Yunani tinggal di kota-kota yang tersebar di sekitar Laut Tengah
bagian Timur, mulai dari Italia hingga ke Afrika Utara, namun dibersatukan oleh budaya dan
bahasa Yunani. Matematika Yunani pada periode setelah Iskandar Agung kadang-kadang
disebut matematika helenistik. Kata "matematika" sendiri diturunkan dari kata Yunani kuno (
mathema ), yang artinya "pelajaran tentang instruksi". Pelajaran matematika sendiri dan
penggunaan teori dan bukti matematika yang diperumum adalah perbedaan penting antara
matematika Yunani dan apa yang sudah diberikan oleh peradaban sebelumnya.Matematika
Yunani lebih berbobot daripada matematika yang dikembangkan oleh kebudayaan-
kebudayaan pendahulunya. Semua naskah matematika pra-Yunani yang masih terpelihara
menunjukkan penggunaan penalaran induktif, yakni pengamatan yang berulang-ulang yang
digunakan untuk mendirikan aturan praktis. Dalam tahun 212 S.M syracusp dikuasai oleh
bangsa romawi dan dalam tahun 146 S.M chartago juga jatuh ketangan kekuasaan Romawi
serta kota terakir yunani Gorinth juga dikuasai bangsa Romawi sehingga menjadikan Yunani
sebagai salah satu propinsi dari kekaisaran Romawi. Mulai saat itu kekuasaan Yunani mulai
menyebar keseluruh kehidupan bangsa Romawi. Kaisar Constantine Agung adalah penguasa
romawi pertama yang memeluk agama Kristen dan memerintahkan kepada seluruh pegawai
tinggi kerajaan untuk masuk Islam. Dalam tahun 330, konstantine memindahkan ibu kotanya
dari Roma ke Byzantium, yang kemudian merubah nama kota itu menjadi constantinopel.
Tahun 395, kekaisaran romawi dibagui atas dua wilayah, yaitu kekaisaran Timur dan
Kekaisaran Barat, dimana Yuanani termasuk kedalam wilayah Romawi Timur. Sistem
numerasi yang digunakan bangsa Yunani ada 2 macam yaitu sistem Attic (Herodianic) dan
sistem IoniaSistem numerasi Ionia digunakan setelah sistem numerasi Attic.

1.Bilangan Attick

Sistem numerasi ini berkembang sekitar tahun 600 SM. Tulisan ini ditemukan didaerah
reruntuhan Yunani yang bernama Attic. System numerasi attic dilambangkan sederhana, dimana
angka satu sampai empat dilambangka dengan lambang tongkat (misalnya dua dengan II).Angka
loteng digunakan oleh orang Yunani kuno , mungkin dari abad ke-7 SM. Mereka juga dikenal
sebagai angka Herodianic karena mereka pertama kali dijelaskan dalam sebuah naskah abad ke-2
oleh Herodes . Mereka juga dikenal sebagai angka acrophonic karena simbol-simbol berasal dari
huruf pertama dari kata-kata yang mewakili simbol:, lima sepuluh, seratus, ribu dan sepuluh
ribu.Berikut merupakan bilangan attic :

Angka Lambang dasar

1 I

10 ∆(deka)

100 H(Hskaton)

1000 X(Khilioi)

10000 M(Myrlon)

Lambang Bilangan Attic :


1. Menyerupai penulisan lambang bilang Mesir Kuno
2. Ditulis menurut sistem pengelompokkan
3. Menggunakan dasar bilangan desimal
4. Menggunakan lambang bilangan pengganti psa detiap pertengahan kelipatan sepuluh

Penggunaan Η untuk 100 mencerminkan tanggal awal dari sistem penomoran: Η ( ETA ) dalam
abjad Attic awal mewakili suara / h /. Di kemudian, “klasik” Yunani, dengan penerapan alfabet
ionik seluruh mayoritas Yunani, surat eta datang untuk mewakili suara e panjang sementara
aspirasi kasar tidak lagi ditandai. Itu bukan ‘ t sampai Aristophanes Byzantium memperkenalkan
tanda aksen berbagai selama periode Helenistik bahwa asper spiritus mulai untuk mewakili / h /.
Jadi kata untuk seratus awalnya akan pernah ditulis ΗEΚΑΤΟΝ, dibandingkan dengan ἑκατόν
ejaan sekarang lebih akrab.

Modern fonem telah lenyap sama sekali, tetapi hal ini tidak berpengaruh pada ejaan dasar.
Berbeda dengan lebih akrab modern sistem Attic hanya berisi bentuk aditif. Dengan demikian,
jumlah 4 ditulis ΙΙΙΙ, tidak ΙΠ. Angka yang mewakili 50, 500, dan 5.000 adalah komposit dari
(sering kali dalam bentuk lama, dengan kaki kanan pendek) dan versi kecil dari kekuasaan yang
berlaku sepuluh.

Contoh Penulisan Bilangan Attic :

5 = IIIII → Γ

50 =∆∆∆∆∆ → ΓΔ

5000 = XXXXX → ΓX

5000 = MMMMM →ΓM


2. Sistem Ionik (Alfabetis)

Kira-kira tahun 450 SM. bangsa Ionia dari Yunani telah mengembangkan suatu sistem
angka, yaitu alphabet Yunani sendiri yang terdiri dari 27 huruf. Sejarah perkembangan ionik
merupakan tulisan tertua dari masyarakat purba yang telah melahirkan dua jalur proses
perkembangan sistem penulisan.

Jalur penulisan Phonetis yang pada akhirnya menjadi tulisan alphabetis adalah pilihan bagi
sistem menulis yang dikembangkan oleh dua pusat peradaban tertua di kawasan Asia Barat
(timur Tengah), yakni Mesir dan Mesopotania. Sedangkan bangsa Tionghoa di kawasan
Timur Jauh tetap mempertahankan sistem perlambangan gambar (pictografis-ideografis) dalam
penulisan mereka, bahkan sampai saat ini. Kira-kira tahun 450 SM. bangsa Ionia dari Yunani
telah mengembangkan suatu sistem angka, yaitu alphabet Yunani sendiri yang terdiri dari 27
huruf. Bilangan dasar yang mereka pergunakan adalah 10. Adapun sistem ionik sebagai berikut :

Lambang bilangan ionik :

1. Tidak mengenal sistem penulisan berdasarkan letak bilangan


2. Menggunakan dasar bilangan desimal dan seksagesimal
3. Bilangan dasar seksagesimal terutama dipergunakan untuk besaran sudut
4. Lambang bilangan nol tidak dikenal tetapi lambang untuk menunjukkan tempat kosong
pada sistem bilangan dasar seksagesimal mereka lukiskan dengan lingkaran.

Contoh-contoh:

1. 12 = 10 + 2 = ι β
2. 21 = 20 +1 = κ α
3. 247 = 200 +40 + 7 = σ μ ς

Sebagaimana kita lihat pada contoh-contoh di atas sampai ratusan, sistem angka alphabet yunani
ini mempunyai lambang tersendiri. Untuk menyatakan ribuan, di atas sembilan angka dasar yang
pertama (dari , sampai) dibubuhi tanda aksen (‘) sebagai contoh α’ = 1000, ε’ = 5000. Sedangkan
kelipatan 10.000 dinyatakan dengan menaruh angka yang bersangkutan di atas tanda M.

Contoh.

1. 5000 = ε ‘
2. 3567 = 3000 + 500 +60 +7 = γ’ φ ξ ς

Dibandingkan dengan sistem angka Mesir Purba, maka penulisan dengan sistem angka alphabet
Yunani ini lebih singkat dan sistematis. Sebagai contoh untuk penulisan bilangan 500 dalam
sistem angka Mesir Purba lambang 9 ditulis sampai 5 kali tetapi dalam sistem angka alphabet
yunani telah mempunyai lambang tersendiri yaitu φ.

Matematika Yunani terdiri dari sebuah periode besar di dalam sejarah matematika, sangat
mendasar dalam geometri dan gagasan bukti formal. Matematika Yunani juga berperan penting
bagi gagasan-gagasan teori bilangan, analisis matematika, matematika terapan, dan, pada periode
itu, mendekati capaian kalkulus integral.Matematika Yunani baru mulai berkembang kira-kira
abad ke 6 SM.Pelopor pertama yang terkenal pada matematika Yunani ini adalah
Thales,Pythagoras.Kemudian bermunculan tokoh-tokoh matematika Yunani lainnya seperti
Hippocrates,Eudoxus,Menaechmus dan lain-lain.
Sejarawan biasanya menempatkan permulaan matematika Yunani pada masa hidup
Thales dari Miletus (kira-kira 624-548 SM). Hanya sedikit yang diketahui tentang hidup dan
karya Thales, tipis kepastian bahwa kelahiran dan kematiannya berdekatan dengan gerhana pada
tahun 585 SM, yang mungkin muncul ketika dia masih dalam usia produktif. Meskipun
demikian, umumnya disepakati bahwa Thales adalah orang pertama dari tujuh pria bijak dari
Yunani. Thales menggunakan geometri untuk menyelesaikan soal-soal perhitungan ketinggian
piramida dan jarak perahu dari garis pantai. Dia dihargai sebagai orang pertama yang
menggunakan penalaran deduktif untuk diterapkan pada geometri, dengan menurunkan empat
akibat wajar dari teorema Thales . Hasilnya, dia dianggap sebagai matematikawan sejati pertama
dan pribadi pertama yang menghasilkan temuan matematika.
Teorema Thales, yang menyatakan bahwa sudut-sentuh-busur yang dilukiskan di dalam
setengah-lingkaran adalah sudut siku-siku, mungkin dipelajari oleh Thales pada saat dia berada
di Babilonia, tetapi tradisi yang melekat pada Thales adalah peragaan teorema itu. Dengan alasan
inilah Thales seringkali dielu-elukan sebagai bapak organisasi deduktif matematika dan sebagai
matematikawan sejati pertama.
Thales juga dianggap sebagai orang terdini di dalam sejarah, yang kepadanya temuan-
temuan khusus matematika disematkan. Meskipun tidak diketahui apakah Thales atau bukan
yang pertama memperkenalkan struktur logika ke dalam matematika, yang saat ini menjadi hal
yang berlaku di manapun, tetapi diketahui bahwa di dalam dua ratus tahun sesudah kematian
Thales bangsa Yunani memperkenalkan struktur logika dan gagasan pembuktian ke dalam
matematika.
Tokoh penting lainnya di dalam pengembangan matematika Yunani adalah Pythagoras
dari Samos (kira-kira 580-500 SM). Seperti Thales, Pythagoras juga berkunjung ke Mesir dan
Babilonia, kemudian Magna Graecia di bawah kekuasaan Nebukadnezar II, tetapi menetap di
Croton. Pythagoras mendirikan sebuah madzhab yang disebut Mazhab Pythagoras yang
menangani pengetahuan dan sifat-sifat wajar dan oleh karenanya semua temuan para pengikut
mazhab Pythagoras menjadi milik mazhab ini. Dan karena di zaman kuno adalah suatu
kelaziman untuk memberikan semua penghormatan bagi sang guru, Pythagoras sendiri dihargai
atas temuan-temuan yang dibuat oleh mazhabnya.
1. Euclid
Euclide adalah nama dari Arabisasi dari kata Εὐκλείδης Yunani, yang berarti "kemuliaan
baik." Euclide adalah tokoh ilmu ukur dari Yunani. Dia juga penyusun buku pelajaran yang
terbesar sepanjang abad. Euclide dikenal juga sebagai Euclid atau Euclid of Alexandria. Euclid
ini adalah salah satu murid dari akademi Plato di Athena. Selain kemasyhurannya, hampir tidak
ada keterangan terperinci mengenai kehidupan Euclid yang bisa diketahui. Dia pernah aktif
sebagai guru di Iskandaria, Mesir, pada sekitar 300 SM, tetapi kapan dia lahir dan meinggal
benar-benar tidak jelas. Bahkan, sulit diketahui di benua dan di kota mana dia dilahirkan.

2. Aristoteles
adalah seorang yang menolak penghormatan apapun yang khusus bagi Pythagoras sebagai
pribadi, dan menganggap bahwa karya mazhab Pythagoras adalah karya sebuah kelompok. Salah
satu persifatan terpenting dari mazhab Pythagoras adalah bahwa mazhab ini memelihara
persepakatan bahwa pengkajian matematika dan filsafat adalah landasan akhlak untuk menjalani
kehidupan. Jelas, bahwa kata-kata "filsafat" (cinta akan kebijaksanaan) dan "matematika" (yang
dipelajari) dianggap digulirkan oleh Pythagoras. Dari cinta akan pengetahuan ini datanglah
banyak pencapaian. Menjadi kewajaran untuk dikatakan bahwa mazhab Pythagoras menemukan
sebagian besar bahan di dalam dua pertama buku Euklides, Elemen.

3. Pythagoras dihargai dengan pengakuan dasar matematika pada


Harmoni musik dan menurut tanggapan Proclus terhadap Euklides dia menemukan teori
kesetaraan danpadatan beraturan. Beberapa sejarawan modern telah mempertanyakan apakah dia
benar-benar membangun kelima-lima padatan beraturan itu, alih-alih para sejarawan itu lebih
menganggap masuk akal bahwa Pythagoras hanya membuat tiga dari lima yang diakui. Beberapa
sumber kuno menerakan temuan teorema Pythagoras bagi Pythagoras, padahal sumber lain
mengakuinya sebagai bukti dari teorema yang dia temukan. Sejarawan modern percaya bahwa
prinsip itu sendiri sudah diketahui oleh bangsa Babilonia dan mungkin saja diperoleh dari sana.
Mazhab Pythagoras memandang numerologi dan geometri sebagai hal yang paling mendasar
untuk memahami sift-sifat semesta dan oleh karenanya menjadi kiblat bagi gagasan-gagasan
filsafat dan keagamaan mereka. Mazhab Pythagoras dihargai dengan beberapa pengembangan
matematika tingkat lanjut, seperti penemuan bilangan irasional. Sejarawan menghargai mereka
atas peran utamanya di dalam pengembangan matematika Yunani (khususnya teori bilangan dan
geometri) ke dalam sistem logika utuh menurut definisi-definisi yang jelas dan teorema-teorema
yang terbuktikan, yang dianggap sebagai subjek yang pantas dari pengkajian di dalam
kebenarannya sendiri, tanpa memandang terapan praktis yang menjadi perhatian utama bagi
bangsa Mesir dan Babilonia.

4. Hippocrates
Hippocrates semula adalah seorang pedagang yang memutuskan untuk belajar geometri
yang kemudian mengalami kesuksesan dalam bidang matematika.Hippocrates menulis buku
yang berjudul “Elements of Geometry”, mendahului karya Euclid “Elements”.
Salah satu bagian dari karya Hippocrates ini kemudian muncul dalam buku “Sejarah
Matematika” Eudemus, adalah yang berhubungan dengan kuadratur suatu “lune” yaitu bangun
yang dibatasi oleh dua busur lingkaran yang mempunyai jari-jari yang tidak sama. Menurut
teorema Hippocrates segmen-segmen yang sebangun dari lingkaran-lingkaran mempunyai
ratioyang sama dengan kuadrat-kuadrat alasnya.Hippocrates mendemonstrasikan teoremanya ini
dengan memperlihatkan bahwa luas dua lingkaran adalah berbanding lurus dengan kuadrat
diameter-diameternya.

5. Eudoxus
Dalam bidang matematika Eudoxus memperkenalkan sesuatu hal yang baru tentang
perbandingan seharga.Eudoxus memberikan definisi yang baru dan lebih akseptabel untuk
perbandingan seharga.Yang mengatakan bahwa a/b = c/d, jika dan hanya jika diketahui bilangan
m dan n, bilamana ma / nb, maka mc < nd, atau apabila ma = nb, maka mc = nd, atau apabila ma
> nb, maka mc > nd. Kemudian Eudoxus menemukan lagi suatu aksioma, yaitu sering disebut
dengan nama “Axioma Kontinuitas”, yang merupakan basis untuk metode penghausan
(exhaustion),yang ekivalen dengan integral kalkulus.Aksioma ini menyatakan bahwa apabila
diketahui dua besaran yang mempunyai suatu ratio (artinya masing-masing besaran tidak boleh
sama dengan nol).
6. Menaechmus
Menaechmus adalah salah seorang murid dari akademi Eudoxus dan merupakan
matematician yang terkemuka. Menaechmous menemukan lagi kurva-kurva baru yang dikenal
dengan ellips.,parabola,dan hiperbola. Dengan mengenal kurva baru ini maka problem delion
dengan mudah dapat diselesaikan.Dalam memperlihatkan sifat-sifat irisan kerucut, menaechmus
mulai dengan kerucut tegak siku-siku (sudut puncak 90 0 ). Apabila kerucut ini dipotong oleh
bidang datar tegak lurus pada suatu unsur kerucut maka kurva dari irisan yang terjadi
persamaannya dapat dituliskan dalam bentuk y 2 =1x,dimana 1 suatu konstanta yang besarnya
tergantung dengan jarak antara titik puncak dengan perpotongan bidang.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Menurut bahasa kata “matematika” berasal dari kata (mathema) dalam bahasa Yunani
yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar” juga (mathematiks) yang diartikan
sebagai “suka belajar”. Matematika Yunani pada periode setelah Iskandar Agung kadang-kadang
disebut matematika helenistik. Kata "matematika" sendiri diturunkan dari kata Yunani kuno
(mathema), yang artinya "pelajaran tentang instruksi".Bangsa Yunani juga mengembangkan
sistem numerasinya sendiri.Sistem numerasi yang digunakan bangsa Yunani ada 2 macam yaitu
sistem Attic (Herodianic) dan sistem Ionia. .Matematika Yunani baru mulai berkembang kira-
kira abad ke 6 sebelum masehi dengan pelapor pertama matematika Yunani Kuno adalah Thales
dan Pythagoras.Kemudian bermunculan tokoh-tokoh matematika Yunani yang lain seperti
Archimedes,Plato,Aristoteles dan lain-lain.
B. SARAN
Perkembangan matematika zaman Yunani Kuno mulai memperlihatkan kemajuannya
setelah banyaknya kaum pedagang dan ilmuwan Yunani merantau serta belajar ke Mesir dan
Babilonia. Sehingga mengakibatkan matematika berkembang sangat luas dan terdapat interaksi
bermanfaat antara matematika dan sains seperti yang kita ketahiu sampai saat ini.Oleh karena itu
penting bagi kita untuk mengetahui sumber asal pengetahuan tentang sejarah perkembangan
Matematika pada zaman Yunani Kuno

DAFTAR PUSTAKA

G, Muchtar, Sejarah Matematika .1988.Universitas Negeri Padang. Institut Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan (IKIP), Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan alam.

http://bambang1988.wordpress.com/matematika-yunani kuno.

Jannah, Miiftahul. 2011. Lambang Bilangan. matematika/LAMBANG%20BILANGAN%20-


%20Miftachul%20Jannah.ht

Pradinata,Hendra.2013.SistemNumerasi.
BERBAGI%20ILMU%20%20Sistem%20Numerasi.htm.

Tejowati. 2013. Sejarah matematika lambang bilangan (yunani kuno dan romawi.
/sejarah%20matematika/Sejarah%20matematika%20lambang%20bilangan%20%28yunani%20k
uno%20dan%20romawi%29.htm

Common questions

Didukung oleh AI

Greek mathematics was significantly influenced by interactions with the Egyptians and Babylonians, as Greek scholars traveled to these regions and integrated their advanced mathematical knowledge. The Greeks adopted inductive reasoning from these cultures and further developed it into a more abstract and deductive system of thought. This exchange of knowledge contributed to the broader and more systematic approach seen in Greek mathematics, marking a transition from empirical to theoretical mathematics, exemplified by mathematicians such as Thales and Pythagoras .

The ancient Greeks employed two primary numeral systems: the Attic (or Herodianic) and the Ionic (or Alphabetic) systems. The Attic system, used from around 600 BCE, was based on additive principles similar to Egyptian hieroglyphics, using symbols derived from the first letter of the Greek words for each numeral. The Ionic system, developed around 450 BCE by the Ionians, was more systematic, using the Greek alphabet to represent numbers up to 999, which was more efficient than the Attic system. These numeral systems reflect the Greeks' transition from practical arithmetic to more abstract mathematical concepts .

Pythagorean philosophy profoundly influenced Greek mathematics by introducing the idea that numbers were the ultimate reality and the foundation of all relationships in the universe. The Pythagoreans pursued mathematics for philosophical reasons, viewing it as a key to understanding the natural world. This led to significant advancements, such as the discovery of irrational numbers and the concept of numerical harmony in music. Their abstraction of mathematical thought allowed for the development of theories and principles that extended beyond practical applications, integrating mathematics with broader philosophical inquiries .

Ancient Greek mathematicians introduced a more formalized system of mathematics rooted in deductive reasoning, unlike earlier civilizations such as the Egyptians and Babylonians, who primarily used inductive reasoning based on repeated observations. Thales is credited with being the first to use deductive reasoning in geometry, which allowed for the derivation of new theorems from established truths, a fundamental departure from the empirical methods of earlier cultures. His work laid the groundwork for the formalization of mathematical proofs, distinguishing Greek mathematics as more theoretical and abstract .

Eudoxus of Cnidus made significant contributions to mathematics by refining the theory of proportions and developing the method of exhaustion, a precursor to integral calculus. His theory of proportions provided a firm foundation for handling irrational numbers and enabled the comparison of unequal quantities. The method of exhaustion was an early form of limit calculations, used for determining areas and volumes, which greatly influenced the development of calculus. Eudoxus' work represented a critical advance in mathematical abstraction and precision, which shaped subsequent developments in mathematical science during the Hellenistic period .

In the Greek world, mathematics was not only a subject of scientific inquiry but also a crucial part of intellectual and educational life, symbolizing logical rigor and abstract thought. Institutions such as the Academy of Plato placed significant emphasis on mathematics as part of a broader philosophical and scientific education. Mathematics was seen as essential for developing critical thinking skills and understanding the universe. This integration of mathematics into educational curricula reinforced its importance as a liberal art, influencing the Western educational system and emphasizing the centrality of reason and empirical evidence as tools for intellectual advancement .

Euclid's work, particularly his compilation 'Elements', is one of the most significant contributions to mathematics, serving as the primary textbook for teaching mathematics for centuries. It systematically presented the geometric knowledge of his time, organized into definitions, postulates, and mathematical proofs, creating a structural blueprint that formalized mathematics. His method of logical deduction and proof significantly influenced the study and teaching of mathematics, establishing a standard for rigor and clarity that is still used today. Euclid's Elements not only consolidated prior mathematical knowledge but also laid the foundation for future developments in mathematics .

Euclid's 'Elements' was influenced by predecessors such as Thales, Pythagoras, and Hippocrates. Thales' initial use of deductive reasoning laid the foundation for Euclid's structured proofs. Pythagorean contributions influenced Euclid's exploration of number theory and geometrical axioms. Hippocrates' work on the quadrature of lunes demonstrated early geometric problem-solving techniques that likely informed Euclid's systematic approach. Furthermore, Eudoxus' theories on proportions deeply impacted Euclidean geometry, providing methodologies that Euclid refined and formalized in his comprehensive presentation of mathematical principles .

The discovery of irrational numbers by the Pythagorean school marked a critical turning point in mathematics, challenging the foundational belief that all numbers could be expressed as a ratio of integers. This discovery occurred while investigating the diagonal of a square, specifically the existence of numbers that cannot be represented as a fraction. This realization forced a re-evaluation of the Pythagorean worldview and led to significant philosophical and mathematical reassessments. It spurred the development of a more comprehensive number theory and advanced the abstraction of mathematical thought .

Hippocrates of Chios is credited with pioneering efforts in the area of geometry, particularly with his work on the quadrature of lunes, which involved calculating the area of crescent-shaped figures. His contributions are notable for their logical structure, paving the way for Euclidean geometry. This work exemplified early deductive methods similar to those later systematized by Euclid. Hippocrates' use of geometric proofs helped establish a methodological approach to problems, acting as a precursor to the more comprehensive 'Elements' by Euclid .

Anda mungkin juga menyukai