Diverticulitis Makalah
Diverticulitis Makalah
DIVERTIKULITIS
Disusun oleh:
YOGYAKARTA
2019
Kata pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya,
baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Keperawatan
Medikal Bedah III dengan judul “Laporan Studi Kasus Pasien Dengan Masalah
Divertikulitis”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
COVER .............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2
C. Tujuan ..................................................................................................... 2
D. Manfaat ................................................................................................... 2
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Divertikulum sering disebut dengan istilah herniasi usus besar yang
menyerupai kantung yang terbentuk melalui defek pada lapisan otot tertentu.
(Brunner, 2016). Penyakit ini disebapkan karena kurangnya asupan serat pada
tubuh, misalnya diet tinggi lemak. Kebanyakan diera modern ini masyarakat
dunia termasuk di Indonesia kurang memperhatikan asupan serat bagi tubuh
dalam memenuhi nutrisi seharai-hari. Sehingga perlu adanya penyuluhan dan
deteksi dini terkait penyakit diverticular disease ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep penyakit pada pasien divertikulitis?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan divertikulitis?
3. Bagaimana hasil studi kasus pada pasien dengan divertikulitsi?
C. Tujuan
1. Mengetahui konsep penyakit divertikulitis
2. Mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan divertikulitis
3. Mengetahui pembahasan pada kasus pasien dengan divertikulitis
D. Manfaat
1. Diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai
divertiulitis
2. Dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai asuhan
keperawatan pada pasien dengan divertikulitis
2
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI
Divertikulitis adalah gangguan usus yang bersifat fokal yang melibatkan
peradangan dari divertikulasi (kantong yang menonjol keluar didalam dinding
kolon), terutama kolon sigmoid.
B. ETIOLOGI
Diet rendah serat menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen kolon,
menyebabkan herniasi mukosa melewati lapisan otot dinding kolon.
Penyakit divertikulitis merupakan penyakit yang biasanya terjadi
karena penyakit usus lainnya seperti diare, konstipasi yang berlebihan
pada usus besar khususnya colon. Bisa juga terjadi karena bakteri yang
ada dalam usus menyebar luas yang mengakibatkan pendarahan bagian
usus yang lain. Factor lain yang dapat menimbulkan yaitu diet yang
rendah serat yang mengakibatkan beban keras usus dalam eleminasi
tinja atau feses.
C. MANIFESTASI KLINIS
3
[pro banthine]), bed
rest, sedasi, dan
cairan peroral atau
parenteral pada
periode berat,
pembedahan untuk
komplikasi pada
perforasi atau
obstruksi
[colectomy,
colostomy
sementara]
Kebanyakan pasien yang menderita penyakit divertikulitis tidak menunjukkan gejala
yang serius seperti penyakit lainnya. Tanda dan gejala diverticular yaitu dengan pasien
mengalami nyeri perut, tanda dan gejala lain yaitu:
a. Rasa nyeri, sensitif, atau kram pada bagian perut, umumnya kiri bawah perut
(suprapubik) dan lebih terasa bila tubuh digerakkan. Nyeri tekan pada fosa iliaka
kiri
b. Demam menggigil
c. Sensasi kembung atau perut terasa dipenuhi gas.
d. Diare atau sembelit.
e. Mual dan kadang muntah.
f. Kehilangan nafsu makan
g. Tanpa massa yang teraba dan distensi abdomen
h. Perforasi
i. Obtruksi usus besar
j. Perdarahan saluran cerna bagian bawah
k. Perut buncit karena penumpukan fases di devertikula.
l. Masa diarea pelvis / bagian kiri bawah abdomen
4
D. PATOFISIOLOGI
Divertikulasi terbentuk ketika daerah yang lemah pada kolon terdorong ke arah
luar ke dalam bentuk kantung kantung oleh peningkatan tekanan didalam kolon.
Penyebab diduga akibat intake yang rendah dari diet yang mengandung serat,
sering ditemukan pada diet orang-orang yang hidup di masyarakat industri.
Kondisi non simptomatik dari keadaan ini disebut divertikulosis. Gejala-gejala
timbul ketika divertikula mengalami peradangan (divertikulitis). Menimbulkan
spasme yang sangat tinggi, motilitas usus mungkin lambat karena adanya
insuffisiensi serat, menimbulkan konstipasi, atau mungkin cepat karena adanya
peradangan menimbulkan diare.
5
E. PATHWAYS
6
F. PENATALAKSANAAN
Diet pada pasien dengan divertikulasi dikaji mengenai intake diet seratnya
(buah-buahan dan sayuran, semua makanan yang berasal dari padi-padian)
Pola eleminasi pada pasien dengan peradangan usus kronis dapat bervariasi
seperti pada divertikulasi konstipasi atau konstipasi diselingi diare; kotoran
dapat mengandung darah.
G. PEMERIKSAAN
Divertikulosis : enema barium (kolonoskopi)
Diverticulitis :
a. DPL, hitung jumlah sel darah putih , ureum + elektrolit ,
b. Masa divertikular / abses parakolika = CT Scan
c. Perforasi = foto polos abdomen , CT Scan
d. Obstruksi = gastrografin / enema barium encer , kolonoskopi untuk
menyingkirkan keganasan
e. Fistula = kolovesika – urin, sitoskopi , enema barium , kolovagina –
kolposkopi, sigmoidoskopi fleksibel.
f. Perdarahan = kolonoskopi , angiografi selektif
H. TERAPI
Pemasangan pipa isap lambung
Puasa
Pemberian antibiotic dan analgesic
7
BAB III
A. KASUS
Ny. Dolan adalah wanita berusia 46 tahun yang datang ke unit gawat darurat
dengan keluhan nyeri perut episodik, demam ringan, dan diare hampir dua
minggu. Ny. Dolan sedang berlibur di negara lain ketika dia berkembang rasa
sakit di kuadran kiri bawah perutnya. Ny. Dolan menunda mencari perawatan
kesehatan karena takut akan sistem medis negara yang asing dan asumsi bahwa
air atau makanan buruk yang dia miliki saat berlibur pasti telah memberikan
dia perut "bug." Ny. Dolan juga melaporkan timbulnya buang air kecil yang
menyakitkan baru-baru ini. Setelah diperiksa di ruang gawat darurat, Ny.
Dolan ditemukan mengalami dehidrasi demam 102,5 F (39,2C). Tanda-tanda
vital adalah tekanan darah (BP) 106/58, nadi 88, dan laju pernapasan 22. Level
kalium (K1) nya adalah 2,8 mEq / L, sedimentasi eritrosit rate (ESR) adalah 37
mm / jam, dan jumlah sel darah putih (WBC) adalah 16.000 sel / mm3.
Urinalisis menunjukkan infeksi saluran kemih positif (ISK) dan perut / panggul
CT scan mengungkapkan divertikulitis dengan ileus.
Ny. Dolan dirawat dan mulai menggunakan cairan intravena (IV) D51 / 2
normal saline (NS) dengan 20 mEq kalium klorida (KCl) pada 50 mL per jam.
Dua IV antibiotik (cefoxitin sodium dan metronidazole) diresepkan. Tidak
disarankan makan melalui mulut, tirah baring, IV morfin sulfat untuk
manajemen nyeri, tinja yang akan diperiksa untuk darah tersembunyi, asupan
dan keluaran yang ketat (I & O), dan pemeriksaan darah di pagi hari untuk
memonitor K +-nya. Tingginya dan berat saat masuk adalah 5 kaki 7 inci dan
170 lbs (77,3 kg). Dia diresepkan difenoksilat hidroklorida dengan atropin
sulfat, propantheline bromide, dan acetaminophen sebagai obat "sesuai
kebutuhan" pro re nata (prn).
8
B. ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Identitas pasien
Nama : Ny Dolanis
Umur : 46 th
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
a) POLA NUTRISI
Kebiasaan makan sembarangan dan kurang bersih selama dua minggu
b) POL ELIMINASI
Mengalami dire selama dua mingu serta mengalami kencing yang
meyakitkan baru-baru ini
c) POLA AKTIVITAS
Pasien melakukan tirah baring
9
Ancaman terhadap konsep diri : penyakit
10
Tidak terdapat perbesaran jantung
11. Payudara
Payudara simetris
12. Abdomen
Terdapat nyeri tekan, distensi , bising usus
13. Musculoskeletal
Tidak ada deformitas tulang
14. Genitor-urinari
Tidak terdapat pengeluaran berupa darah atau cairan yang berbau
15. Neurologis
Respon saraf normal
DO:
Tanda-tanda vital adalah
tekanan darah (BP)
106/58
Demam
Diare +- 2 minggu
UTI
Demam 102.58F (39.2
8C)
ESR 37 mm/hr,
Nilai WBC 16,000 cells/
mm3
P : Nyeri terasa saat
ditekan
Q : Nyeri terasa seperti
ditusuk
R : Nyeri terasa di perut
bagian bawah
S : Skala nyeri 8
T :Nyeri berlangsung ±5
menit
2. Senin, 4 Ds : Resiko ketidakseimbangan Diare
november 2019 Klien mengatakan diare elektrolit
selama hampir 2 minggu.
Do :
Mrs. Dolan
11
mengalami dehidrasi
Suhu 39,20 C
Tekanan darah
106/58 mmHg
Nadi 88x/menit
Rr 22x/menit
3. Senin, 4 Ds : Ketidakseimbangan nutrisi Factor biologis
November 2019 Do : kurang dari kebutuhan tubuh
Mrs. Dolan
mengalami dehidrasi
Suhu 39,20 C
Tekanan darah
106/58 mmHg
Diare -+ 2 minggu
Divertikulitis
4. Senin, 4 Ds : Gangguan eliminasi urin Infeksi gangguan
November 2019 Ny Dolan mengatakan pada kemih
saat buang air kecil terasa
sakit
Do :
Urinalisis menunjukkan
infeksi saluran kemih positif
(ISK )
T : 39,20c
Td : 106/58
Hr : 88x/menit
Rr : 22x/menit
Potassium (K1) : 2,8 mEq/L
ESR : 37 mm/jam
Demam 102.58F (39.2 8C)
ESR 37 mm/hr,
Nilai WBC 16,000 cells/
mm3
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis dibuktikan dengan nyeri
pada perut, pengukuran skala nyeri, diare.
12
Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan infeksi saluran kemih dibuktikan
dengan nyeri saat buang air kencing.
Hari, Perencanaan
Dx. Keperawatan
tanggal NOC NIC Rasionalisai
Senin, 4 Nyeri akut Setelah dilakukan Perlindungan infeksi :
November berhubungan tindakan perawatan
2019 dengan agen cedera selama 3x24jam, pasien a. Berikan informasi a. Agar pasien
biologis dibuktikan dapat menunjukan mengenai nyeri, mendapatkan
dengan nyeri pada kepuasan pasien : seperti penyebab informasi sebelum
perut, pengukuran manajemen nyeri dengan nyeri, berapa lama mendapat
skala nyeri, diare. indicator : nyeri akan penanganan lebi
1. Nyeri terkontrol (sk1- dirasakan, dan lanjut
sk 4) antisipasi dari
2. Pemberian analgetik ketidaknyamanan
(1-sk 4) akibat prosedur
3. Mengambil tindakan b. Berikan individu b. Untuk
untuk mengurangi penurun nyeri yang mengurangi rasa
nyeri (1-Sk 4) optimal dengan nyeri terhadap
4. Memberikan pilihan peresepan analgetik pasien
untuk manejemen c. Dorong pasirn
nyeri (1-Sk 5) menggunakan obat-
5. Mengambilkan obatan penurun c. Agar pasien rasa
tindakan utuk nyeri yang adekuat. nyeri yang
memberikan d. Dukung dirasakan pasien
kenyamanan (1-Sk 5) istrahat/tidur yang sedikit berkurang
adekuat untuk
membantu d. Agar pasien dapat
penurunan nyeri meminimalisir
e. Ajarkan prinsip- rasa nyeri
prinsip nyeri
e. Untuk
memberitahu
pasien lebih lanjut
bagaimana prinsip
nyeri
Senin, 4 Resiko Setelah dilakukan Manajemen diare : a. Untuk
November ketidakseimbangan rawatan 3x24 jam pasien a. Tentukan riwayat mengetahui
2019 elektrolit b/d diare mampu menunjukkan diare tanda dan
d/d klien hidrasi dengan indicator : b. Ajari pasien cara gejala diare
mengatakan diare a. Intake cairan penggunaan obat b. Agar klien
selama hampir 2 ( skala 3 – 5 ) antidiare secara mengerti cara
minggu b. Output urin tepat pengunaan
13
( skala 3 – 5 ) c. Instruksikan obat diare
c. Penurunan pasien atau yang benar
tekanan darah anggota keluarga c. Untuk
( skala 2 – 3 ) untuk mencatat mengetahui
d. Diare ( skala 2 – warna, volume, input dan
4) frekuensi, dan output
e. Peningkatan suhu konsistensi tinja
tubuh ( skala 2 – d. Berikan makanan d. Untuk
3) dalam porsi kecil meningkatkan
dan lebih sering nafsu makan
Keseimbangan elektrolit : serta tingkatkan klien
a. Keseimbangan porsi secara
elektrolit dan bertahap
asam basa klien
dapat kembali Manajemen elektrolit :
seimbang ( sk 3 – a. Monitor serum a. Mengumpulk
5) elektrolit an dan
Kadar kalsium serum abnormal menganalisis
pasien dapat membaik b. Pertahankan data pasien
( sk 3 – 5 ) kepatenan akses untuk
IV mengatur
c. Berikan cairan keseimbangan
sesuai kebutuhan elektrolit
d. Catat intake dan b. Memeberikan
output secara dan
akurat memantau
e. Berikan cairan cairan dan
intravena yang obat intravena
berisi elektrolit c. Meningkatka
dengan aliran n
yang konstan kesimbangan
f. Konsultasikan cairan dan
dengan dokter mencegah
tentang medikasi komplikasi
elektrolit akibat kadar
g. Ambil specimen cairan yang
untuk analisis abnormal
laboratorium d. Mengetahui
( AGD, urin, seberapa
serum ) banyak cairan
yang
diberikan dan
dikeluarkan
e. Meningkatka
14
n kebutuhan
keseimbangan
elektrolit dan
mencegah
komplikasi
akibat kadar
elektrolit
serum yang
tidak normal
f. Mengidentifk
asi kebutuhan
cairan dan
elektrolit
yang tepat
untuk klien
g. Mengidentifik
asi adanya
gangguan
pada gas
darah, arteri,
urin dan
serum
Senin, 4 Ketidakseimbangan Manajemen nutrisi :
November nutrisi a. Kaji pemenuhan a. Mengetahui
2019 berhubungan Setelah dilakukan kebutuhan nutrisi kekurangan
dengan agen cedera tindakan 2 x 24 jam klien nutrisi klien
biologis pasien mampu b. Jelaskan b. Dengan
menunjukkan status pentingnya pengetahuan
nutrisi dengan indicator : makanan bagi yang baik
Status nutrisi : asupan proses tentang
makanan dan cairan : penyembuhan nutrisi akan
a. Asupan cairan c. Ukur tinggi dan memotivasi
intravena ( sk 1- berat badan klien untuk
4) d. Kolaborasi meningkatkan
Status nutrisi : asupan dengan ahli gizi pemenuhan
nutrisi : untuk untuk nutrisi
a. Asupan kalori ( sk menentukan diet c. Membantu
1–4) yang tepat bagi dalam
b. Asupan natrium pasien identifikasi
( sk 1 – 4 ) e. Monitor hasil lab, malnutrisi
c. Asupan serat ( 1 – seperti glukosa, protein kalori,
4) elektrolit, khususnya
albumin, bila berat
hemoglobin, badan kurang
15
kolaborasi dari normal
dengan dokter d. Diet sesuai
dengan
kebutuhan
nutrisi pasien
e. Monitor
status nutrisi
Senin, 4 Gangguan Manajemen eliminasi a. untuk mengetahui
November eleminasi urin urin tingkat ISK yang
Setelah dilakukan
2019 berhubungan a. pantau eliminasi pasien alami
tindakan keperawatan
dengan infeksi urin,meliputi b. untuk mencegah
selama 3x24 jam pasien
saluran kemih frekuensi,konsistensi, terjadinya
mampu menunjukkan
dibuktikan dengan bau,volume,dan dehidrasi pada
eliminasi urin dengan
nyeri saat buang air warna. pasien
indikator :
kencing. b. ajarkan pasien untuk c. untuk
a. pola eliminasi (3-
minum 200 ml cairan memberikan
5)
pada saat makan, edukasi kepada
b. mengosongkan
diantara waktu pasien sehingga
kandung kemih
makan, dan di awal pasien dapat
sepenuhnya (3-5)
petang mengurangi
c. Nyeri saat
c. ajarkan pasien faktor resiko
kencing (2-4)
tentang tanda dan penyebab ISK
d. frekuensi
gejala infeksi saluran d. untuk mengetahui
berkemih (3-4)
kemih balance cairan
e. intake cairan (3-4)
d. Catat waktu eliminasi pasien
urin terakhir
16
terapuetik untuk ditusuk tusuk
mengkaji R : nyeri terasa diperut
pengalaman nyeri bagian bawah
klien S : skala nyeri 8
d. Memberikan T : nyeri berlangsung
cairan intravena kurang lebih 5 menit
( IV ) D51/2 Telah diberikan obat
saline normal penghilang nyeri morfin
( NS ) dengan 20 dosis 5mg setiap 12 jam
mEq kalium via oral
klorida ( KCL ) e. Telah diberikan
pada 50 ml/ 2 Memberikan cairan
jam. intravena ( IV ) D51/2
saline normal ( NS )
dengan 20 mEq kalium
klorida ( KCL ) pada 50
ml/ 2 jam.
P : Lanjutkan intervensi
Gali bersama pasien
factor-faktor yang dapat
menurunkan atau
memperberat nyeri
Gunakan tindakan
pengontrol nyeri sebelum
nyeri bertambah berat
Manajemen cairan dan
elektrolit
Evaluasi pemeberian
terapi
2. Resiko Senin, 4 08.15 : S : pasien mengatakan diare
ketidakseimbangan November a. Memberikan sedikit berkurang
elektrolit 2019 antibiotic IV O:
berhubungan cefoxitin sodium dan pasien masih tampak
dengan diare metronidazole lemas
b. Memberikan obat Suhu 39,20 C
antidiare Tekanan darah 106/58
( loperamide ) mmHg
c. Monitor tanda tanda Nadi 88x/menit
vital Rr 22x/menit
d. mengkonsultasikan Telah diberikan
17
dengan dokter antibiotic IV cefoxitin
tentang medikasi sodium dan
elektrolit metronidazole
Telah diberikan obat
antidiare ( loperamide )
18
waktu makan, dan di O:
awal petang T : 38.20c
b. Mengajarkan pasien Td : 106/58
tentang tanda dan Hr: 88x/menit
gejala infeksi saluran Rr : 22x/menit
kemih Potassium (K1) : 2,8 mEq/L
c. Pantau eliminasi ESR : 37 mm/jam
urin,meliputi
frekuensi,konsistensi, A : masalah gangguan eliminasi
bau,volume,dan urin teratasi sebagian
warna.
d. Memberikan P:
antibiotik(cefotaxim Lanjutkan intervensi
sodium dan a. Pantau eliminasi urin,
metronidazole) meliputi frekuensi,
konsistensi, bau, volume, dan
warna.
b. Anjurkan pasien untuk
minum 200 ml cairan pada
saat makan, diantara waktu
makan, dan di awal petang
19
C. PEMBAHASAN STUDI KASUS
1. Apa perbedaan divertikulitis dengan divertikulosis?
Divertikulitis adalah ketika divertikulosis atau dinding usus besar yang
membentuk kantung-kantung tersebut mengalami infeksi.
Sedangkan, divertikulosis adalah sebuah kondisi ketika dinding pada
usus besar memiliki kantung-kantung kecil yang menonjol.
Divertikulosis yang terjadi pada seseorang seharusnya tidak
menimbulkan masalah, karena kantong tersebut tidak menyebabkan
bahaya dan jarang membuat seseorang terserang gejalanya. Namun, hal
yang dapat membuat penyakit tersebut menjadi berbahaya adalah ketika
kantung tersebut mengalami infeksi.
20
Faktor infeksi
Divertikula yang sehat umumnya merupakan tempat untuk bakteri baik
(probiotik) berlindung di usus. Namun ketika bakteri jahat tumbuh
berlebih, asam yang dihasilkannya akan melubangi jaringan pelapis
dinding dalam usus. jenis bakteri yang sering bertumbuh liar dalam
usus adalah Escherichia coli dan Clostridium coccoides. Namun,
sebagian besar penelitian sampai saat ini belum menemukan bukti valid
bahwa kedua bakteri tersebut menjadi satu-satunya dalang penyebab
peradangan dalam usus.
Jarang makan makanan berserat
Kurangnya makan makanan yang berserat diduga dapat memicu
seseorang terkena divertikulitis. Sebuah studi tahun 2012 dari
Universitas Oxford menunjukkan bahwa pola makan tinggi serat dapat
mencegah beberapa komplikasi divertikulitis yang lebih serius.
Penelitian tersebut melaporkan orang yang sering makan makanan
berserat tinggi minim risiko diopname karena sakit divertikulitis.
Usia
Risiko terkena divertikulitis akan semakin tinggi seiring pertambahan
usia.
4. Penyedia perawatan kesehatan gawat darurat juga menganggap bahwa
gejala Mrs. Dolan bisa menjadi indikasi diagnosis gastroenteritis.
Secara singkat menggambarkan gambaran klinis gastroenteritis dan
divertikulitis. Bagaimana presentasi klinis diagnosa ini serupa?
Persentasi klinis gastroenteritis dan divertikulitis bisa serupa karena
gastroenteritis dan divertikulitis sama-sama menyerang usus penderita
sehingga menyebabkan tanda dan gejala nya nyeri perut
epidosik,diare,terasa nyeri pada perut kiri bagian bawah.
21
Bakteri seperti Staphylococcus aureus, Salmonella, Shigella,
Clostridium botulinum, Clostridium pefringens dan Escherichia coli
22
Ileus adalah menurunnya pergerakan pada saluran pencernaan yang
menyebabkan penumpukan atau penyumbatan zat makanan yang
merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera membutuhkan
pertolongan atau tindakan.
23
d. Antibiotic spectrum luas dan analgesic diresepkan, opioid
diresepkan untuk meredakan nyeri. Asupan oral ditingkatkan
setelah gejala reda. Diet rendah serat harus diberikan sampai
tanda-tanda infeksi berkurang.
e. Antipasmodik seperti propantelin bromide dan oksifensiklimina
diresepkan.
Beberapa medikamentosa yang dapat diberikan pada pasien
divertikulitis adalah obat antiinflamasi, probiotik, dan antibiotic
a. Obat Anti inflamasi
Beberapa studi menyarankan penggunaan mesalazine
800 mg dua kali sehari dengan atau tanpa probiotik.
Studi melaporkan bahwa mesalazine mampu mengontrol
gejala dan menurunkan rekurensi divertikulitis.
b. Probiotik
Probiotik diduga dapat memodifikasi keseimbangan
mikroba usus dan menimbulkan efek antiinflamasi dan
antiinfeksi.
c. Antibiotik
Jenis antibiotik yang sering diresepkan bagi pasien
dengan divertikulitis antara lain kombinasi
fluoroquinolone (ciprofloxacin atau levofloxacin)
atau kotrimoksazol dengan metronidazole. Pilihan lain
adalah moxifloxacin atau amoxicillin-clavulanate
sebagai antibiotik tunggal.
24
Diagnosik : biopsy atau laparatomi eksplorasi
Kuratif : Eksisi akut atau mengangkat apendiks yang
meningkat inflamasi
Reparatif : Memperbaiki luka multiple
Rekonstruktif : Mamoplasti, atau bedah plastic
Palliatif : Seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki
masalah
Menurut urgensi dialakukan timdakan pembedahan, maka
tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkat.
25
14. Ny. Dolan meminta morfin sulfat. Apa harus dilakukan perawat
sebelum memberikan obat?
Mengecak kebutuhan/ indikasi klien terhadap pemberian obat
Adakah kontraindikasi yang dimiliki pasien sehingga tidak dapat diberi
obat
Memberikan edukasi tentang obat khususnya morfin sulfat bahwa obat
tersebut tidak dapat dikonsumsi secara sembarangan, obat tidak boleh
langsung berhenti dikonsumsi sebab klien dapat mengalami gejala
putus obat seperti pilek, mual, gelisah, mata berair, dan nyeri otot)
apabila obat akan berhenti dikonsumsi makan aka nada penurunan
dosis serta menjelaskan manfaat dan efek samping obat.
26
BAB IV
A. KESIMPULAN
B. SARAN
Diharapkan untuk meningkatkan konsumsi buah-buah dan sayuran yang
mengandung tinggi serat untuk mengurangi risiko terkena divertukala dan
pemeriksaan kesehatan secara teratur.
27
Sumber :
Moorhead, S., Jhonson, M., Maas, M., & Swanson, L. (2008). Nursing Outcomes
Classification (NOC) (5th ed.). United States of America : Mosby Elsevier
Sabiston, & David. 2000. Buku Teks Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
Comparato G,Pilotto A, Franze A,et al. (2007). “Diverticular Disease In The Elderly”.
Digestive diseases (Basel,Switzerland). 25(2):151-9
Firmansyah, M Adi dan Abdullah Murdani. (2012). Jurnal Diagnostic Approach And
Managemeny Of Acute Abdominal Pain. 44 (4
28
Rezapour, Mona. Ali, Saima., dan Stollman Neil. 2018. Diverticular Disease: An
Update on Pathogenesis and Management. Department of Internal
Medicine, California Pacific Medical Center, San Francisco, CA, and 3
Division of Gastroenterology, Alta Bates Summit Medical Center, East Bay
Center for Digestive Health, Oakland, CA, USA. 12(2): 125-132. Diakses
di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5832336/
Riddle, M., DuPont, H. and Connor, B. (2016). ACG Clinical Guideline: Diagnosis,
Treatment, and Prevention of Acute Diarrheal Infections in Adults. The
American Journal of Gastroenterology. 111(5), pp.602-622.
Sifri CD, Lawrence CM. Diverticulitis and Typhlitis. In Mandell, Douglas and
Benntte’s Principles and Practice of Infectious Diseases7th.
29