Anda di halaman 1dari 17

DIET HATI

Novita Triliyanty Magdalena


111170050

PENDAHULUAN
Hati merupakan salah satu alat tubuh penting yang

berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan


protein. Kelainan atau kerusakan pada hati berpengaruh
terhadap fungsi saluran cerna dan penggunaan makanan
dalam tubuh sehingga sering menyebabkan gangguan
gizi.
Diet hati diberikan pada pasien dengan penyakit hati yaitu
hepatitis dan sirosis

Pendahuluan
Beberapa orang dengan penyakit hati harus makan diet
khusus. Diet ini membantu fungsi hati dan melindungi dari
bekerja terlalu keras.
Pada orang dengan hati yang rusak parah, protein tidak
diproses dengan benar. Produk limbah dapat membangun
dan mempengaruhi otak.

Tujuan Diet Hati


1. Mencegah kerusakan jaringan hati lebih lanjut
2. Mengurangi beban kerja hati
3. Memperbaiki jaringan hati yang rusak
4. Memperbaiki/mempertahankan status gizi pasien
5. Menghindari komplikasi

Syarat Diet Hati


1. Energi : 40 45 kkal/kg BB per hari
2. Lemak : 20 25% dari kebutuhan energi total
3. Protein : 1,25 1,5 g/kg BB. Pada pasien Hepatitis Fulminan dengan
nekrosis dan gejala ensefalopati yang disertai peningkatan amoniak dalam
darah protein dibatasi 30 40 g/hari. Pada Sirosis hati terkompensasi protein
diberikan 1,25 g/kg BB. Asupan minimal protein sehari 0,8 1 g/kg BB/hari
4. Bila ada anemia diberikan suplementasi vitamin B kompleks, C dan K
5. Pemberian garam dibatasi apabila ada oedema dan asites
Oedema : bengkak pada bagian tubuh terutama kaki dan tangan
Ascites : bengkak pada bagian perut, karena cairan tertimbun di bawah kulit
perut
6. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan saluran cerna

Terdapat 3 jenis diet khusus penyakit hati. Hal ini didasarkan pada gejala

dan keadaan penyakit pasien. Jenis diet penyakit hati tersebut adalah Diet
Hati I (DH I), Diet Hati II (DH II), dan Diet Hati III (DH III). Selain itu
pada diet penyakit hati ini juga menyertakan Diet Garam Rendah I.

Diet Garam Rendah I (DGR I), diet garam rendah I diberikan kepada pasien

dengan edema, asites dan atau atau hipertensi berat. Pada pengolahan
makanannya tidak menambahkan garam dapur. Dihindari bahan makanan
yang tinggi kadar natriumnya. Kadar Natrium pada Diet garam rendah I ini
adalah 200-400 mg Na.

Diet Hati I
Diet Hati I (DH I), diet Hati I diberikan bila pasien dalam keadaan akut atau bila

prekoma sudah dapat diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan.
Melihat keadaan pasien, makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak.
Pemberian protein dibatasi (30 g/hari) dan lemak diberikan dalam bentuk mudah
dicerna. Formula enteral dengan asam amino rantai cabang (Branched Chain
Amino Acid /BCAA) yaitu leusin, isoleusin, dan valin dapat digunakan. Bila ada
asites dan diuresis belum sempurna, pemberian cairan maksimal 1 L/hari.
Makanan ini rendah energi, protein, kalsium, zat besi, dan tiamin; karena itu
sebaiknya diberikan selama beberapa hari saja. Menurut beratnya retensi garam
atau air, makanan diberikan sebagai Diet Hati I Garam rendah. Bila ada asites
hebat dan tanda-tanda diuresis belum membaik, diberikan Diet Garam Rendah I.

Diet Hati II
Diet Hati II (DH II), diet hati II diberikan sebagai makanan perpindahan dari

diet hati I kepada pasien dengan nafsu makannya cukup. Menurut keadaan
pasien, makanan diberikan dalam bentuk lunak / biasa. Protein diberikan 1
g/Kg berat badan dan lemak sedang (20-25% dari kebutuhan energi total)
dalam bentuk yang mudah dicerna. Makanan ini cukup mengandung energi,
zat besi, vitamin A & C, tetapi kurang kalsium dan tiamin. Menurut beratnya
retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai diet hati II rendah garam.
Bila asites hebat dan diuresis belum baik, diet mengikuti pola Diet Rendah
Garam I.

Diet Hati III


Diet Hati III (DH III), diet Hati III diberikan sebagai

makanan perpindahan dari Diet Hati II atau kepada


pasien hepatitis akut (Hepatitis Infeksiosa/A dan Hepatitis
Serum/B) dan sirosis hati yang nafsu makannya telah
baik, telah dapat menerima protein, lemak, mieneral dan
vitamin tapi tinggi karbohidrat. Menurut beratnya tetensi
garam atau air, makanan diberikan sebagai Diet Hati III
Garam Rendah I.

Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2011

Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2011

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


Masaklah dengan cara merebus, mengukus, memanggang, mengungkep, pepes
Hindarkan menggoreng, dianjurkan menggunakan minyak kedelai atau minyak
jagung untuk menumis
Sayuran dimasak matang
Masak sayuran jangan jangan menggunakan santan kental

Pagi

Siang

Malam

Nasi tim

Nasi tim

Nasi tim

Telur dadar

Semur ayam

Perkedel daging bakar

Asem-asem buncis

Tahu bumbu kuning

Tempe bacem

Teh manis

Cah wortel dan jagung


muda

Sup Sayuran

Pepaya

Pisang

Selingan
Selada buah dan sirup

Selingan
Puding susu dan sari
buah jeruk

Selingan
Roti bakar dan teh
manis

Terapi Asites

1. Diet garam.
Diet garam harus dibatasi 5,2 gram/hari
2. Diuretik
Diuretik meningkatkan ekskresi (pengeluaran) air dan garam dari ginjal-ginjal.
Regimen (aturan) diuretic yang direkomendasikan dalam setting dari ascites yang
berhubungan dengan hati adalah kombinasi dari spironolactone dan furosemide.
Dosis tunggal harian spironolacton yaitu 100 mg dan untuk furosemide 40 mg.
3. Parasentesis
Untuk pasien-pasien yang tidak merespon dengan baik pada atau tidak dapat
dikoreksi dengan pengobatan.

4. Transjugular intrahepatic portosystemic shunts (TIPS)


Adalah prosedur yang dilakukan melalui internal jugular vein (vena utama
pada leher) dibawah pembiusan lokal oleh interventional radiologist. Shunt
ditempatkan diantara portal venous system dan systemic venous system (venavena yang mengalirkan balik darah ke jantung), dengan demikian akan
mengurangi tekanan portal. Prosedur ini dicadangkan untuk pasien-pasien
yang mempunyai respon yang minimal pada perawatan medis yang agresif.
5. Transplantasi hati
Transplantasi hati untuk sirosis yang telah lanjut harus dipertimbangkan
sebagai perawatan untuk asites yang disebabkan oleh gagal hati.

Obat untuk Asites

Daftar Pustaka
Medline Plus. (n.d). Diet-liver disease. Retrieved from

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002441.htm. Diakses
pada tanggal 26 Mei 2015.
Diet Hati.(2011).Retrieved from www.gizi.depkes.go.id. Diakses pada
tanggal 26 Mei 2015.
Moore,K.P., Aithal, G.P. (2006). Retrieved from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1860002/. Diakses
pada tanggal 26 Mei 2015.
Shah, Rahil. (2014). Ascites Treatment and Management. Retrieved
from http://emedicine.medscape.com/article/170907-treatment.
Diakses pada tanggal 26 Mei 2015.