0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
199 tayangan20 halaman

Bab 2

Survei tanah merupakan studi untuk memetakan dan mengklasifikasikan tanah dengan mengelompokkan tanah berdasarkan sifatnya ke dalam satuan peta tanah. Tujuannya adalah mengidentifikasi dan memprediksi penyebaran tubuh tanah alami serta menentukan kesesuaian tanah untuk penggunaan tertentu. Metode survei tanah meliputi pengamatan morfologi tanah di lapangan, pengelompokkan tanah berdasarkan taksonomi, dan pemeta

Diunggah oleh

Rafael Rusdianto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
199 tayangan20 halaman

Bab 2

Survei tanah merupakan studi untuk memetakan dan mengklasifikasikan tanah dengan mengelompokkan tanah berdasarkan sifatnya ke dalam satuan peta tanah. Tujuannya adalah mengidentifikasi dan memprediksi penyebaran tubuh tanah alami serta menentukan kesesuaian tanah untuk penggunaan tertentu. Metode survei tanah meliputi pengamatan morfologi tanah di lapangan, pengelompokkan tanah berdasarkan taksonomi, dan pemeta

Diunggah oleh

Rafael Rusdianto
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

BAB II
METODE PENDEKATAN SURVEI TANAH

Tujuan Instruksional Khusus

 Setelah mengikuti pokok bahasan dari mata kuliah ini, mahasiswa dapat
menjelaskan dasar-dasar survei tanah, pendekatan dan metode survei tanah.

Uraian Pokok Bahasan

 Model system tanah


 Konsep tanah dalam survei tanah
 Tipe survei tanah
 Peta tanah
 Metode survei tanah
 Perencanaan dan tahapan survei tanah

2.1. Pendahuluan
Sebelum membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan survei tanah,
ada baiknya terlebih dahulu membicarakan tentang model teori dari sistem tanah.
Pengertian tentang sistem tanah sangat bermanfaat dalam mempelajari dan memahami
tanah itu sendiri sebagai subjek pada kegiatan survai tanah.
Di dalam mempelajari tanah, salah satu cabang ilmu tanah yang erat kaitannya
dengan survai tanah adalah pedologi ( pedology ) yang didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari genesis, ciri ( nature ), penyebaran dan penggunaan potensi sumberdaya
tanah ( Dijkerman, 1974 dalam Sitorus, 1989). Sebagai salah satu dari kelompok ilmu-
ilmu empirik, pedologi menggunakan metodologi ilmiah di dalam penelaahannya,
yang meliputi berbagai tahapan berikut : (1) seleksi sistem atau sistem-sistem yang
akan dipelajari, misalnya pedon, katena tanah, tubuh tanah- bentangan lahan ( soil
landscape body ); (2) pengukuran sifat-sifat ( properties ) dari sistem tersebut dan
lingkungannya; (3) pengaturan dan pemadatan (condensing) sejumlah besar dari data,
misalnya dengan klasifikasi ; (4) penjelasan (explanation) dari data dengan hipotesis;
(5) pengujian hipotesis dengan menggunakan seperangkat data baru; (6) penyusunan
hipotesis yang telah teruji (confirmed hypotheses) ke dalam hukum-hukum ilmiah,

Suyadi, dkk 3
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

yang secara bersama-sama membentuk teori formal; dan (7) penggunaan hukum-
hukum ilmiah dalam memprediksi fenomena baru yang belum diketahui.
Tahapan-tahpan di atas tidak selalu harus diikuti dalam urutan tersebut.
Beberapa tahapan mungkin dapat dilakukan secara bersama-sama atau tidak digunakan
sama sekali atau dihilangkan, tergantung dari jenis penelitian yang dilakukan. Sebagai
contoh, dalam survai tanah keperluan utama bukanlah untuk melakukan pengujian
hipotesis, akan tetapi untuk mengetahui ciri, jenis, dan penyebaran sumberdaya tanah
pada suatu daerah tertentu. Oleh karena itu ruang lingkup pekerjaan biasanya lebih
menitik beratkan pada tahap-tahap 1, 2 dan 3. Berbeda halnya dalam penelitian genesis
tanah, tujuannya adalah menjelaskan proses perkembangan dari suatu jenis tanah
tertentu atau sifat tanah tertentu. Dengan demikian bidang pekerjaan lebih ditekankan
pada penyusunan dan pengujian hipotesis (tahap 4 dan 5).

2.2. Pendekatan dan Pembuatan Model Sistem Tanah


Tanah merupakan suatu sistem terbuka ( open system ), karena secara terus-
menerus terjadi pertukaran bahan ( material ) dan enersi antara tanah dan tubuh alami
lainnya seperti atmosfer, batuan induk dan tanaman ( Rode, 1974 dalam Sitorus, 1989).
Dengan perkataan lain, tanah menerima dan kehilangan bahan dan energi dari batas
sistem tanah tersebut seperti telah dibahas dalam mata kuliah Klasifikasi Tanah.
Seperti halnya dengan banyak sistem terbuka lainnya, tanah dicirikan dengan adanya
suatu organisasi hirarki ( hierarchical organization ). Ini berarti tanah dapat dibagi ke
dalam subsistem-subsistem yang lebih kecil dengan tingkat kekomplekan yang
semakin menurun. Subsistem ini berhubungan satu dengan lainnya sehingga
membentuk sistem hirarki.
Sistem tanah merupakan sistem yang dinamis yang secara terus-menerus
dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya luar dan dalam. Perubahan dari sistem menurut
waktu merupakan studi genesis tanah ( Boul, Hole dan McCracken, 1980).
Meskipun ahli pedologi memandang tanah sebagai suatu sistem yang dinamik,
pada umumnya orang memandang tanah sebagai salah satu unsur atau komponen
lingkungan yang sifatnya lebih stabil. Perbedaan pandangan ini meliputi kurun waktu
dalam mempertimbangkan tanah atau dalam melibatkan keterincian pengamatan. Dari
titik tolak pandangan secara morfologik, terlihat bahwa hampir semua tanah hanya

Suyadi, dkk 4
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

mengalami perubahan yang sangat sedikit selama kurun waktu umur seorang manusia,
apabila tanah tersebut, tidak mendapat gangguan manusia. Sebaliknya, susunan atau
komposisi larutan tanah senantiasa berubah sebagai akibat dari sebagai akibat dari
berbagai hal seperti pengambilan hara oleh tanaman, pelapukan, reaksi absorpsi-
absorpsi, pencucian, atau perubahan dalam kadar air tanah ( Smeck, Runge dan
Makintosh, 1983 dalam Sitorus, 1989).
Kedinamikan dalam sistem tanah, dapat terlihat antara lain dari sifat-sifat
morfologi tanah yang berkembang sebagai hasil dari proses-proses yang bekerja
sebagai bahan induk. Pengertian akan kepentingan relatif berbagai proses-proses
tersebut akan menghasilkan prediksi yang lebih cepat tentang sejauh mana pengaruh
manusia pada tanah melalui tindakan pengelolaan.
Secara tradisional, ahli pedologi telah mengalami secara langsung perubahan
fungsional komponen-komponen sistem tanah melalui percobaan di lapangan atau di
laboratorium. Pendekatan empirik dalam menyusun model ini akan efisien apabila
komponen (variabel) dari sistem yang dipelajari dalam jangka waktu yang pendek
jumlahnya relatif sedikit.

2.2. Konsep Tanah dalam Survai Tanah


Ada dua pemikiran dalam pertimbangan geografi tanah. Di satu pihak tanah di
pertimbangkan sebagai suatu kontinum dari bahan-bahan di permukaan yang
memenuhi terhadap defenisi tanah, sehingga bentangan lahan dibagi-bagi ke dalam
jenis tanah yang berbeda. Seperti halnya pada setiap metode yang membagi-bagi
sesuatu yang sifatnya kontinum, dalam hal ini perhatian lebih dipusatkan pada
sejumlah profil yang terbatas atau pada batas-batas yang dihasilkan dengan
menggunakan batas-batas kelas pada kontinum tersebut. Di pihak lain, tanah
dipertimbangkan sebagai kumpulan dari tubuh alami yang memusatkan perhatian pada
konsep pusat atau tipikal dari tubuh alami. Dalam pandangan ini tanah dideskripsikan
atau diuraikan dengan sejumlah kisaran penyimpangan sifat-sifat dari konsep pusat,
dalam hal ini tanah sebagai tubuh alami bukanlah hanya sebagai profil, teta[i juga
sebagai bentangan lahan yang menempati ruang ( Arnold, 1983 dalam Sitorus, 1989).
Model dasar (basic model) tanah yang umum disepakati yaitu tanah merupakan
fungsi dari iklim, bahan induk, tofografi, organisme dan waktu, dapat diartikan bahwa

Suyadi, dkk 5
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

tanah bersifat dinamis, sistem geografikal dan memberikan dasar bagi distribusi atau
penyebaran geografik tanah itu sendiri. Masing-masing faktor pembentuk tanah
mempunyai penyebaran geografik tertentu pada permukaan bumi. Polanya dihasilkan
dari tumpang tindih faktor-faktor tersebut, yang menghasilkan kombinasi khas dan
pada akhirnya dikenal sebagai tanah yang berbeda. Dengan adanya tumpang tindih
geografi ini berarti bahwa tanah bukan hanya tersebar menurut arealnya tetapi tanah
juga membentuk kontinum proses pembentukan tanah, atau hubungan fungsional
dalam bentangan lahan. Di dalam kontinum ini, tidak ada dua titik yang mempunyai
baik kombinasi atau interaksi faktor-faktornya yang betul-betul sama, sehingga
keragaman geografik tercakup (inherent) dalam model tanah tersebut.

2.3. Pengertian Survei Tanah


Survai tanah merupakan studi prediksi tanah sebagai tubuh geografik
(geographic bodies), dan menentukan hubungan-hubungan yang khas dari seperangkat
sifat-sifat tanah yang diamati di alam. Survai tanah mengidentifikasikan tubuh tanah
yang dapat dikenal sebagai satuan alami, yang arealnya dapat diprediksi dan dibatasi
pada peta, dan mengidentifikasikan daerah-daerah yang sudah dibatasi menurut
batasan penanaman jenis tanah yang telah ditentukan (Sitorus, 1989).
Survei tanah dapat dipandang sebagai kegiatan mengklasifikasikan dan
memetakan tanah dengan mengelompokkan tanah-tanah yang sama atau hampir sama
sifatnya kedalam satuan peta tanah yang sama serta melakukan interpretasi kesesuaian
tanah dari masing-masing satuan peta tanah tersebut untuk penggunaan-penggunaan
tanah tertentu (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2001).
Hampir semua survai tanah dilakukan dengan menggunakan suatu sistem
taksonomi tertentu sebagai pedoman dalam penamaan satuan-satuan tanah yang
dibatasi. Meskipun tanah pada umumnya dianggap sebagai bagian dari suatu
kontinum, akan tetapi mereka juga dapat dipertimbangankan sebagai kumpulan tubuh
alami yang berbeda dari suatu tempat ke yempat lain. Dengan menggunakan konsep
ini, setiap tanah dianggap mempunyai kisaran keragaman yang terbatas, baik dalam
bentangan lahan maupun dalam komposisi atau susunan dalamnya.
Bagi pemeta tanah, kelas taksonomi umumnya dipandang sebagai kelompok
fisik secara keseluruhan dan meskipun ide dari kelompok adalah konsep atau model,

Suyadi, dkk 6
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

penyusun tubuh tanah adalah merupakan benda nyata. Bagi mereka tubuh tanah alami
dipelajari untuk menentukan hubungan-hubungan yang dapat diterima untuk dapat
memprediksi penyebarannya dan kemudian areal dikelaskan dan diberi nama menurut
sisten penamaan (taxa) yang sebelumnya telah diberi batasan-batasannya. Di dalam
pengklasan tubuh tanah alami tersebut prinsip dasar yang digunakan adalah bahwa
satuan tanah yang sama mempunyai keseragaman-dalam (internal homogeneity) yang
optimum, seta berbeda dengan satuan-satuan lainnya secara optimum (Schelling, 1970
dalam Sitorus, 1989).
Hasil dari kegiatan survei tanah berupa peta tanah dan peta-peta kesesuaian
atau kemampuan lahan yang memberikan informasi tentang sifat-sifat dari masing-
masing satuan peta. Uraian lebih detail dari hasil survei tanah disajikan dalam laporan
survei tanah yang selalu menyertai peta tanah tersebut.
Agar dihasilkan peta tanah yang baik dan benar diperlukan suatu survei tanah
yang cermat dan teliti baik dari segi kartografik maupun klasifikasi tanahnya. Hal ini
berarti: (a) harus menggunakan peta dasar dan peta rencana kerja yang baik dan benar
baik dari skala maupun intensitas pengamatannya, (b) pengamatan lapang harus teliti
dan penggambaran hasil pengamatan di lapang ke dalam peta harus tepat, (c)
pengambilan contoh tanah dan analisis laboratorium harus benar, (d) klasifikasi tanah
dan interpretasi datanya harus tepat. Oleh karena itu diperlukan persiapan pelaksanaan
lapang, pelaksanaan lapang dan pengolahan data yang sebaik-baiknya.

2.5. Tipe Survei Tanah


Survei tanah dapat dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan pada
intensitasnya dan tinjauan kegunaan. Smith (1965 dalam Sitorus, 1989) membagi
survei tanah kedalam tiga tipe yaitu eksplorasi, tinjau, dan detail. Tipe yang terakhir ini
dibagi lagi kedalam survei-survei dengan intensitas rendah, sedang dan tinggi. Dia
menguraikan masing-masing tipe dengan satuan peta tanah dan skala yang digunakan
untuk publikasi. Webster (1981 dalam Sitorus, 1989 ) dengan mengikuti hal praktis
yang dilakukan FAO, membagi intensitas survai kedalam empat kelompok yaitu survai
intensif, detail, semi-detail dan tinjau. Pembagian yang hampir sama dengan Smith
juga dikemukakan oleh Dent dan Young (1981), akan tetapi menggunakan sedikit
perbedaan istilah dalam tipe survai detail. Dent dan Young membagi langsung survai

Suyadi, dkk 7
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

tanah kedalam lima tipe yaitu eksplorasi, tinjau, semi-detail, detil dan intensif seperti
terlihat pada Tabel 2.1. Seperti yang ditunjukan pada Tabel 2.1, dapat ditarik suatu
pegangan umum bahwa makin intensif dan detail tingkat survai yang dibutuhkan maka
makin tinggi intensitas pengamatan persatuan luas yang diperlukan. Berikut ini akan
dikemukakan uraian singkat dari masing-masing tipe survai.
Survai eksplorasi. Survai ini umumnya dilakukan untuk memberikan
keterangan yang sifatnya sangat umum tentang keadaan tanah dari suatu daerah yang
belum diketahui sebelumnya. Survai ini biasanya dilakukan melalui pengamatan di
sepanjang jalan atau dengan bantuan helikopter pada tempat-tempat tertentu tanpa
mempertimbangkan cakupan pengamatan yang seragam di seluruh daerah survai. Peta
yang dihasilkan berkisar antara 1 : 500.000 dan 1 : 5.000.000.
Survai ini dapat juga dilakukan dengan bantuan interpretasi foto udara atau
citra satelit dengan tigkat pengamatan lapang yang sangat rendah. Sebagian besar
pekerjaan pada tingkat survai yang demikian berupa kompilasi dari peta-peta tanah
yang ada dengan berbagai tingkat skala. Kekosongan informasi pada tempat-tempat
tertentu diisi melalui ekstrapolasi dari daerah disekitarnya. Biasanya tipe survai ini
digunakan untuk menyusun peta tanah tingkat dunia seperti yang disusun oleh FAO-
UNESCO, atau peta tanah ditingkat nasional dari suatu negara. Peta hasil survai
eksplorasi ini tidak dapat digunakan untuk keperluan praktis dan biasanya digunakan
untuk keperluan penyusunan atlas nasional atau keperluan lainnya pada tingkat
nasional serta untuk keperluan pendidikan.
Survai tinjau. Survai ini biasanya dilakukan pada suatu areal yang luas, seperti
negara, propinsi atau wilayah pada tingkat skala yang kecil, umumnya dengan skala 1 :
250.000. Satuan peta biasanya didasarkan atas satuan-satuan tanah-bentuk lahan ( land
form ) atau sistem lahan (land system) dan sebagian besar dilakukan melalui
interpretasi foto udara dan/atau citra satelit dengan hanya sedikit sekali pengecekan di
lapangan. Survai tinjau ini biasanya dilakukan untuk tujuan inventarisasi sumber daya
dari suatu daerah yang luas. Hasil survai ini dapat menunjukkan daerah-daerah yang
berpotensi untuk dikembangkan dalam pengertian yang luas terutama didasarkan atas
keadaan iklim, topografi dan tanah, untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian
berikutnya yang lebih detail.

Suyadi, dkk 8
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

Perencanaan penjelajahan di lapangan sangat dibantu oleh hasil interpretasi


foto udara sehingga pengamatan yang dilakukan dapat tersebar pada seluruh satuan
peta yang dianggap penting. Jumlah pengamatan atau penjelajahan yang dilakukan
sangat ditentukan oleh sejumlah faktor, terutama kekompleksan pola bentangan lahan
(landscape) dan jumlah waktu dan tenaga yang tersedia. Sebagai pegangan umum
dapat dikatakan bahwa tidak lebih dari satu persen dari jumlah luasan seluruh areal
survai yang di survai di lapangan dan sebaiknya penjelajahan dilakukan mengikuti
konsep katena atau tegak lurus terhadap garis kontur (Stobbs, 1970 dalam Sitorus,
1989).
Pekerjaan lapang harus dapat diusahakan seminimum mungkin dan
dipertimbangkan dapat dilakukan sesuai dengan keadaan medan (terrain). Sebagai
konsekuensinya, keberhasilan survai tinjau ini sangat tergantung dari pengalaman dari
anggota tim, baik dalam menginterpretasi foto udara maupun dalam penjelajahan di
lapangan. Penjelajahan di lapangan sedapat mungkin memanfaatkan jaringan jalan
raya atau jalan setapak yang ada. Penjelajahan di lapangan menurut jalur (grid) yang
teratur dimana dibutuhkan waktu dan tenaga yang banyak sedapat mugkin dihindari.
Survai semi-detail. Survai ini merupakan kelanjutan dari survai tinjau. Setelah
survai tinjau selesai dilakukan dan menunjukkan adanya kemungkinan pengembangan,
selanjutnya diikuti dengan survai semi-detail yang ditujukan untuk mengetahui potensi
daerah secara lebih terinci serta lokasi proyek yang akan dilakukan. Survai semi-detail
seharusnya dapat memberikan dasar yang lebih tepat tentang potensi pertaniannya atau
penggunaan untuk berbagai jenis tanaman dan bentuk penggolongannya.
Dalam survai ini, meskipun keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan
hasil interpretasi penginderaan jauh dapat terus dilakukan, akan tetapi nampak dengan
jelas adanya peningkatan yang cukup tinggi dari jumlah pekerjaan lapang. Ini berarti
intensitas dan jumlah pekerjaan lapang secara jelas meningkat sehingga waktu yang
diperlukan juga lebih banyak, sedangkan waktu untuk pekerjaan interpretasi
penginderaan jauh menjadi menurun. Penjelajahan di lapangan sering dilakukan
dengan mengikuti jalur penjelajahan (grid tranverse) yang disesuaikan dengan jalan
raya atau jalan setapak yang ada. Jarak antar jalur penjelajahan atau jalur pengamatan
sangat beragam tergantung dari kekomplekan medan, tetapi umumnya berkisar antara
1.5-2.0 km.

Suyadi, dkk 9
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

Survai semi-detail ini biasanya untuk irigasi, perbaikan lahan, dan sebagainya,
yang dapat meliputi areal beberapa ratus kilometer bujur sangkar, sehingga terlalu
besar untuk pekerjaan survai detil. Selain itu survai ini dapat dilakukan untuk
mengetahui potensi pertanian dari suatu areal yang luas yang telah disurvai
sebelumnya secara tinjau. Survai ini sering dilakukan dengan skala 1 : 50.000.
Survai detail. Survai ini merupakan kelanjutan dari survai semi-detail.
Meskipun interpretasi foto udara masih tetap digunakan, tetapi kegiatan dan
pelaksanaan survai sebagian besar dilakukan sebagai pekerjaan lapang. Survai detail
ini ditujukan untuk persiapan pelaksanaan suatu proyek melalui penilaian kesesuaian
kesesuaian tanah atau lahan dari suatu daerah yang terbatas untuk suatu proyek
pembangunan tertentu. Oleh karena itu, keadaan tanah perlu diuraikan secara
mendetail. Sesuai dengan keadaan dan jenis proyek yang akan dilakukan, maka
beberapa proyek memerlukan lebih dari satu aspek yang perluditeliti secara detail.
Sebagai contoh, survai irigasi akan memerlukan peta topografi yang detail sebagai
tambahan dari peta tanah detail.
Pengamatan di lapangan harus cukup untuk dapat menentukan satuan peta
tanah, sehingga satuan tersebut dianggap seragam, sebagai petunjuk, kemurnian
(purity) satuan peta sebaiknya mencapai 85 persen atau lebih.
Skala yang umum digunakan adalah 1 :25.000 dan 1 : 10.000. Sebagian dari
peta hasil survai detail dipublikasikan dengan skala yang ideal untuk berbagai
keperluan seperti untuk penyuluh pertanian, perencanaan detail proyek pembangunan,
proyek irigasi, proyek transmigrasi dan sebagainya. Mengingat intensitas pekerjaan
lapang yang sangat tinggi, maka survai detail ini memerlukan biaya yang cukup tinggi
pula.
Survai intensif. Survai ini biasanya dilakukan pada skla lebih besar dari 1 :
10.000. Oleh karena survai ini memerlukan intensitas pengamatan yang sangat tinggi,
maka biaya persatuan luas juga sangat tinggi. Survai intensif ini umumnya dilakukan
pada luasan yang relatif kecil ( beberapa hektar ) yang ditujukan untuk suatu tujuan
khusus, misalnya untuk mengetahui keragaman respon tanaman terhadapa alternatif
pengelolaan.
Tipe survai dan skala peta yang akan dihasilkan sangat berhubungan erat
dengan intensitas pengamatan lapangan yang akan dilakukan, serta berhubungan

Suyadi, dkk 10
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

dengan biaya survai secara keseluruhan. Semakin detail survai dilakukan atau semakin
besar skala yang akan dihasilkan, maka semakin tinggi intensitas pengamatan lapang
yang diperlukan sehingga biaya persatuan luas akan semakin tinggi pula..
Penetapan tipe survai dan skala peta yang akan dipublikasikan biasanya
dilakukan pada saat perencanaan pendahuluan suatu survai. Tipe survai dan skala peta
ditentukan oleh tujuan dan keperluan survai terutama menyangkut tingkat ketelitian
yang diperlukan. Dalam kaitannya dengan biaya, maka biasanya skala yang terkecil
yang dapat memenuhi kebutuhan si pemakai sesuai dengan keperluannya. Pemakai
biasanya memerlukan suatu pengelolaan minimum, yaitu suatu luasan terkecil yang
secara praktis dapat diperlakukan atau diberikan perlakukan yang berbeda. Oleh karena
itu, satuan pengelolaan minimum yang dibutuhkan untuk dipetakan sebagai satuan peta
tanah. Pada suatu usaha pertanian yang menggunakan mekanisasi misalnya, satuan
pengelolaan minimum ini mungkin memerlukan luasan 5 hektar atau lebih. Mekipun
diketahui adanya kemungkinan keragaman dalam berbagai sifat tanah dalam satuan
luasan tersebut, akan tetapi luasan yang 5 hektar tersebut secara keseluruhan harus
dikelola secara bersama-sama sebagai satu kesatuan.

2.6. Peta Tanah


Peta tanah adalah suatu peta yang menggambarkan penyebaran jenis-jenis
tanah di suatu daerah. Peta tanah ini dihasilkan dari kegiatan survei tanah, seperti telah
diuraikan pada subbab 2.5, oleh karena itu jenis-jenis peta ditentukan oleh tipe survei
tanah yang dilakukan.
Peta ini dilengkapi dengan legenda yang secara singkat menerangkan sifat-sifat
tanah dari masig-masing satuan peta. Masing-masing satuan peta diberi warna yang
sedapat mungkin sesuai dengan warna tanah yang sebenarnya. Disamping itu,
dicantumkan simbol-simbol atau nomor urutnya untuk memudahkan membacanya.
Walaupun demikian, batas-batas persamaan tersebut sudah barang tentu dibatasi oleh
ketelitian ( skala ) dari peta tersebut.
Pada waktu ini dikenal beberapa jenis peta tanah, sebagai mana disajikan pada
tabel 2.2

Suyadi, dkk 11
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

Tabel 2.2. Jenis-jenis Peta Tanah


Jenis peta Skala Satuan uraian
tanah
Di Amerika serikat
Orde 1 < 1 : 12.000 Fase dari seri tanah
Orde 2 1 : 12.000 – 1: 30.000 Fase dari seri tanah
Orde 3 1 : 24.000 – 1 : 100.000 Fase dari seri atau famili
Orde 4 1 : 100.000 – 1 : 300.000 Fase dari famili atau subgroup
Orde 5 1 : 250.000 – 1.000.000 Fase dari subgroup, greatgroup, sub ordo, ordo
Orde 6 < 1.000.000 Ordo, subordo
DI Indonesia ( Pusat Penelitian Tanah )
Detil 1 : 5.000 - 1 : 25.000 Seri, lereng ( fase )
Semi-detil 1 : 25.000 – 1 : 100.000 Rupa (famili), bentuk wilayah (fase)
Tinjau 1 : 100.000 – 1 : 300.000 Macam tanah*), bentuk wilayah, fisiografi/bahan induk
Eksplorasi 1 : 1.000.000 – 1 : 2.500.000 Jenis tanah*), bentuk wilayah, bahan induk
Bagan < 1 : 2.500.000 Jenis tanah atau ordo tanah.
*) macam tanah = Sub-group, jenis tanah = Great-group

Dari tabel 2.2 terlihat bahwa peta tanah tidak hanya mencanumkan nama-nama
tanah yang terdapat didaerah-daerah tersebut, tetapi juga beberapa sifat penting dari
tanah tersebut. Disamping itu dicantumkan pula faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi potensi penggunaan dari tanah tersebut seperti curam lereng, bentuk
wilayah dan sebagainya, yang dalam hal ini disebut fase tanah.
Berikut ini disajikan jenis-jenis peta tanah menurut Lembaga Penelitian Tanah
Bogor (sekarang Puslitanak). Perlu dicatat bahwa unsur-unsur satuan peta tanah yang
dicantumkan dalam legenda peta kadang-kadang lebih rinci daripada uraian berikut,
misalnya dengan memasukkan drainase tanah, kedalaman tanah, pH tanah, dan lain-
lain.

A. Peta tanah bagan (skala< 1: 2.5000.000)


Maksud : petunjuk kasar penyebaran jenis tanah
Pembuatan : atas dasar literatur (analisis potret udara, geologi, peta topografi, iklim,
bentuk wilayah dan peta tanah yang telah ada
Satuan peta : jenis tanah atau beberapa jenis tanah (ordo)

B. Peta tanah eksplorasi

Maksud:
 gambaran penelitian tanah,

Suyadi, dkk 12
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

 petunjuk potensi sumber daya tanah,


 problem area serta kemungkinan pengembangannya

Pembuatan:

 identifikasi di lapang terhadap satuan peta


 Dua profil tiap 100.000 ha, tiap boring mewakili 2500-5000ha
 Batas-batas satuan peta dari potret udara, geologi, iklim dan sebagainya

Satuan peta : jenis tanah (great group, subordo, ordo}, bentuk wilayah , bahan
induk
Bentuk wilayah : bentuk permukaan suatu wilayah dalam hubungannya dengan
lereng dan perbedaan tinggi

Jenis tanah – bentuk wilayah


Bahan induk

Contoh : A – L A : Aluvial, L: Levee (datar), A : bahan induk aluvium


A

C. Peta tanah Tinjau

Maksud:
 petunjuk tanah untuk menaikan produksi
 Menyusun kebutuhan pupuk
 Perbaikan tanah
 Perencanaan penggunaan wilayah
Pembuatan :
 penjelajahan ke seluruh wilayah
 Tiap titik bor mewakili 250-500 ha dan tiap profil mewakili 5000 ha
 Batas satuan peta dengan foto udara , di lapang, dan peta topografi, geologi,
bentuk wilayah dan iklim
Satuan peta : macam tanah (great group)– fisigrafi (bahan induk)
Bentuk wilayah

D. Peta tanah semi detil

Maksud : untuk tujuan tertentu dari wilayah dengan ukuran tertentu


Pembuatan:
 penjelajahan di lapang dan foto uadara
 1 bor mewakili 25-50 ha dan tiap profil mewakili 500 ha

Satuan peta : rupa tanah dan bentuk wilayah


Rupa tanah : macam tanah (subgroup, famili), klas tekstur, klas drainase
Klas tekstur:
 kasar (s, ls)
 agak kasar (sl)

Suyadi, dkk 13
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

 sedang (sil, si, l)


 agak halus (scl, sicl, cl)
 halus (sc, sic, c)
klas drainase : cepat (1), sedang (2), terhambat (3)
contoh: Re.db-s-1 Regosol coklat tua, tekstur kasar, drainase cepat
L-U bentuk wilayah datar-berombak

E. Peta tanah detil

Maksud : untuk proyek khusus seperti transmigrasi, pengairan, kebun percobaan,


perkebunan
Pembuatan:
 penjelajahan di lapang
 1 bor mewakili 0,5-5 ha dan tiap profil mewakili 50 ha atau tiap seri tanah
 peta dasar : fotoudara & peta topografi

Satuan peta : seri tanah


Seri tanah : macam tanah, klas tekstur (12 klas), klas drainase ( 7 klas) atau
tanah yang berasal dari bahan induk yanga sama dan mempunyai
sifat-sifat dan susunan horison yang serupa kecuali tekstur lapisan
atas.
Klas drainase:
Sangat cepat, Cepat, baik, cukup baik, terhambat, jelek, sangat jelek

Seri tanah diberi nama sesuai dengan nama lokasi dimana tanah tersebut pertama kali
ditemukan
Contoh: seri Bogor : Lc-Lli-3 ( Lc: latosol coklat, Lli: lempung liat , 3: drainase baik)

Berdasarkan peta tanah tersebut, semakin besar skala peta semakin banyak
informasi yang disajikan, demikian juga satuan peta tanahnya makin homogen.
Walaupun demikian, satuan peta tanah yang benar-benar homogen sulit ditemukan,
berhubung kompleksnya penyebaran tanah di alam. Karena itu, dibedakan 3 jenis
satuan peta tanah yaitu (1) Konsosiasi, (2) asosiasi, dan (3) kompleks ( Hardjowigeno
dan Widiatmaka, 2001).
1. Konsosiasi adalah satuan peta tanah, dimana ditemukan satu jenis tanah utama
yang luasnya lebih dari 75% luas satuan peta tanah tersebut.
2. Asosiasi adalah satuan peta tanah, dimana dalam satuan peta tanah tersebut
ditemukan 2 atau 3 jenis tanah utama, tetapi tidak satupun dari jenis tanah itu
yang luasnya lebih dari 75 % luas satuan peta tanah tersebut. Pada peta dengan

Suyadi, dkk 14
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

skala 1 : 25.000. masing-masing jenis tanah utama tersebut dapat dipisahkan


satu sama lain menjadi satuan peta tanah tersendiri;
3. Kompleks adalah satuan peta tanah seprti asosiasi, tetapi pada skla 1 : 25.000,
masing-masing jenis utamanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain menjadi
satuan peta tersendiri.
Kecuali itu, dalam masing-masing satuan peta tanah tersebut ditemukan juga
inklusi, yaitu jenis tanah lain yang tidak disebutkan dalam legenda satuan peta tanah
tersebut, yang luasnya kurang dari 25 persen luas satuan peta tanah yang dimaksud.
Inklusi umumnya berupa jenis tanah lain yang ditemukan dalam suatu satuan peta dan
mempunyai sifat yang berbeda dengan sifat tanah utama dalam satuan peta tersebut.
Asosiasi, kompleks dan inklusi dapat terjadi karena masing-masing jenis tanah luasnya
terlalu kecil untuk dapat digambarkan sebagai saruan peta tersendiri. Dalam teknik
penggambaran peta, pada umumnya disepakati bahwa luasan yang terlalu kecil tidak
perlu digambarkan tersendiri di dalam peta karena terlalu sulit meletakkan simbol-
simbol tertentu didalamnya. Di Amerika Serikat, digunakan ketentuan bahwa luasan
terkecil dapa dibatasi tersendiri adalah yang didalam peta berukuran 0.25 inchi x 0.25
inchi ( 0.625 cm x 0.625 cm ) atau kurang lebih 0.4 cm 2 ( Soil Survey Staff, 1993 ). Di
Indonesia, luasan ini sering dibulatkan menjadi 0.5 cm x 0.5 cm atau 0.25 cm 2, karena
dengan luasan ini pun masih dapat diletakkan simbol-simbil didalamnya. Luas
sebenarnya di lapang sudah barang tentu tergantung dari skala peta yang dibuat,
bahwa makin kasar suatu survai tanah, yaitu makin kecil skala peta, inklusinya
semakin luas.

2.7. Metode Survei Tanah


Informasi dan peta tanah yang dihasilkan dari suatu survei tanah apabila
dikerjakan cukup detil, pada umumnya dapat diinterpretasikan untuk berbagai
keperluan. Akan tetapi untuk dapat memenuhi keperluan si pemakai, maka konsep
survei tanah harus jelas. Konsep survei tanah tersebut meliputi: jenis dan sekala peta,
satuan peta, intensitas pengamatan dan bentuk laporan.
Berdasarkan keperluannya, maka survei tanah dibedakan menjadi survei tanah
umum dan survei tanah khusus. Survei tanah umum ditujukan untuk memberikan
informasi dan peta untuk interpretasi berbagai penggunaan yang berbeda. Hasil survei

Suyadi, dkk 15
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

ini meliputi penyebaran jenis-jenis tanah, dan sifat-sifat dari masing-masing satuan
peta tanah. Selanjutnya dari masing-masing satuan peta tanah diinterpretasikan untuk
tujuan berbagai penggunaan dengan memperhatikan factor-faktor fisik, ekonomi dan
social lainnya.
Survei tanah khusus ditujukan untuk suatu penggunaan tertentu, misalnya
untuk irigasi, perkebunan karet ataupun reklamasi tanah. Dalam hal ini perlu
ditetapkan sebelumnya criteria sifat-sifat tanah yang sesuai serta prasyarat untuk
penggunaan tersebut.
Survei tanah umum sangat baik dan berguna apabila dilakukan pada daerah-
daerah yang belum berkembang, dimana data yang tersedia masih sedikit. Survei tanah
khusus sangat bermanfaat jika sebelumnya telah cukup banyak data tanah yang
tersedia, terutama pada daerah yang telah berkembang dan berpenduduk padat.
Terdapat tiga metode survei yang umum digunakan, yaitu (1) survei fisiografi
atau interpretasi foto udara, (2) survei bebas, dan (3) survei jalur atau grid (Young,
1976 dalam Sitorus, 1985).
Dasar deleniasi satuan peta tanah pada survei fisiografi atau interpretasi foto
udara adalah bentuk lahan atau fisiografi hasil interpretasi foto udara serta hasil
pengamatan lapang yang kerapatannya relatif rendah. Pekerjaan dilakukan untuk
memperjelas batas-batas fisiografi yang tidak jelas, seperti pada daerah yang datar.
Metode ini sesuai dilakukan pada survei tanah dengan intensitas rendah (ekplorasi)
hingga sedang (semi detil). Pada survei tanah dengan sekala yang besar (detil), dimana
satuan petanya adalah seri atau famili tanah, sering terjadi korelasi antara bentuk
wilayah dengan seri tanah kurang nyata. Sehingga dalam satu bentuk wilayah masih
dijumpai beberapa seri atau famili tanah.
Pada survei bebas tempat-tempat pengamatan disesuaikan dengan kondisi
lapang wilayah survei dan interpretasi foto udara. Hal ini akan sangat tergantung pada
kemampuan penyurvei dalam menentukan lokasi-lokasi pengamatan yang paling
mewakili. Kerapatan pengamatan disesuaikan dengan tingkat survei yang dilakukan
dan kekomplekan tanah, sehingga diperlukan peta dasar yang baik dan sesuai dari segi
sekala dan informasi yang disajikan. Bagi penyurvei yang berpengalaman system ini
lebih disukai dan lebih efisien pada skala kecil dan sedang.

Suyadi, dkk 16
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

Survei jalur atau grid umum dilakukan sebelum penggunaan foto uadara secara
meluas. Pada metode ini pengamatan dilakukan pada jarak tertentu, misalnya 100 m x
200 m, pada seluruh daerah survei. Metode ini sesuai untuk survei intensif dengan
sekala besar, dimana kerapatan pengamatan yang tinggi memerlukan ketepatan dalam
penempatan titik pengamatan di lapang dan di peta. Selain itu survei jalur baik
digunakan apabila peta dasar kurang memenuhi syarat untuk navigasi, sehingga cara
untuk mengetahui posisi di lapangan dengan pengukuran jarak. Survei jalur juga cocok
dilakukan pada daerah-daerah yang mempunyai pola tanah yang komplek, pada
daerah-daerah yang datar atau pasang surut dimana penggunaan interpretasi foto udara
sangat terbatas.
Keuntungan dari metode ini dapat mempekerjakan penyurvei yang kurang
berpengalaman. Namun demikian tidak berarti bahwa lokasi pengamatan harus selalu
sama terutama apabila menjumpai daerah-daerah yang tidak mewakili, seperti sungai,
kampung ataupun jalan. Bila hal-hal dijumpai, maka dapat dilakukan pengamatan
tambahan atau memperpangjang atau memperpendek jarak pengamatan dan dicatat
dalam peta kerja secara jelas. Penyurvei yang kurang berpengalamanpun harus
dibekalai dengan pengatahuan tentang genesa tanah, bahwa penyebaran dan sifat-sifat
tanah tidak secara acak tetapi selalu dipengaruhi oleh factor-faktor pembentuk tanah,
seperti iklim, topografi, bahan induk, organisme dan waktu.
Kerugian dari metode ini adalah tidak seluruhnya data pengamatan berguna,
terutama pada daerah yang tanahnya relatif homogen. Pada daerah dengan medan yang
sulit dilalui akan memerlukan waktu yang lama untuk mencapai lokasi tertentu..

2.8. Perencanaan dan Tahapan Survei


Perencanaan survei tanah pada hakekakatnya merupakan diskusi dan penetapan
kesepakatan antara pemberi pekerjaan dengan tim survei yang meliputi tujuan dan
manfaat survei, lokasi dan luas daerah survei, metode dan sekala peta, jenis informasi
yang diperlukan atau permasalahan yang akan dipecahkan, bentuk dan penyajian hasil
yang diinginkan, biaya dan waktu yang tersedia. Hal ini penting karena menyangkut
kerapatan pengamatan, jumlah staf yang diperlukan serta biaya survei.
Ada tiga tahapan dalam kegiatan survei tanah yaitu: (1) persiapan, (2)
pekerjaan lapang, dan (3) pengolahan data dan pembuatan laporan.

Suyadi, dkk 17
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

2.8.1. Persiapan
Kegiatan dalam tahap persiapan diantaranya adalah melakukan diskusi dan
negoisasi tentang kerangka acuan dan perjanjian kerja sama dengan pihak pemberi
pekerjaan. Kegiatan lainnya adalah studi pustaka, mempelajari pustaka tentang
keadaan tanah dan lingkungan di daerah tersebut. Pada kegiatan ini berbagai data perlu
dipelajari terutama: peta topografi, foto udara/ortofoto, peta padu serasi (RTRW), peta
sistem lahan, peta geologi, iklim dan hidrologi, penduduk dan sarana prasarana yang
ada.
Dalam tahap persiapan ini, perlu dibuat peta dasar. Sekala peta dasar minimal
sama dengan atau lebih besar peta tanah yang akan dibuat. Tidak diperbolehkan sekala
peta dasar lebih kecil dari peta tanah yang akan dihasilkan.
Foto udara perlu diinterpretasikan untuk mendapatkan informasi mengenai
bentuk wilayah, penggunaan lahan dan fisiografi daerah tersebut. Selain itu perlu
dibuat mosaik dari foto udara. Mosaik adalah foto udara yang disambung satu sama
lain sehingga mencakup daerah yang cukup luas. Hasil dari interpretasi ini digunakan
sebagai dasar dalam membuat peta rencana kerja yang memuat letak geografis, jalur
jalan dan sungai, lokasi titik-titik pengamatan, lereng, jalur-jalur rintisan, tempat
menginap dan sebagainya.
Apabila foto udara tidak tersedia, maka diperlukan peta topografi sebagai peta
dasar yang sesuai sekalanya. Peta ini harus lengkap dengan garis kontur, sehingga
dapat dibedakan bentuk-bentuk wilayah daerah tersebut. Berdasarkan bentuk-bentuk
wilayah ini, selanjutnya dibuat peta rencana kerja.
Survei pendahuluan biasanya dilakukan melalui kunjungan singkat ke daerah
survei.. Pada survei ini ditekankan pada menyelesaikan segi administrasi dan aspek
legalitas, mengetahui gambaran menyeluruh kondisi lapang dan identifikasi
permasalahan yang ada. Pada tahap ini perlu diidentifikasi mengenai tempat
menginap/perkemahan, jumlah tenaga lokal yang tersedia, keadaan tanah dan
penggunaan/penguasaan lahan secara umum, sarana transportasi, penyediaan logistik
dan lain-lain. Modifikasi rencana kerja mungkin dilakukan sesuai dengan survei
pendahuluan ini.

Suyadi, dkk 18
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

2.8.2. Pekerjaan lapang


Pekerjaan lapang pada dasarnya ditentukan oleh metode survei yang dipilih,
apakah survei fisiografi, survei bebas, survei grid atau kombinasinya sesuai dengan
hasil kesepakatan antara pihak pemberi kerja dengan tim survei. Kegiatan–kegiatan
serta keuntungan dan kerugian dari metode survei ini telah dibahas pada sub-bab 2.2.
Pekerjaan lapang terutama ditujukan untuk pemetaan tanah. Kegiatan ini
diantaranya adalah identifikasi jenis-jenis tanah melalui pengamatan profil tanah dan
diikuti dengan deskripsi sementara penyusunan satuan peta. Kegiatan berikutnya
adalah penelitian tentang pola penyebaran tanah, dengan memperhatikan faktor-faktor
pembentuk tanah seperti bentuk lahan dan vegetasi hasil interpretasi foto udara.
Pola penyebaran tanah sering beragam. Pada beberapa tempat dapat dijumpai
keadaan tanah yang relatif seragam atau mempunyai hubungan katena sederhana
dengan bentuk lahan, sedangkan di tempat lain polanya lebih kompleks dengan
perubahan tanah yang sangat jelas dan relatif dekat. Hal tersebut dijumpai bila terjadi
perubahan bahan induk tanah.
Pengamatan tanah dalam pekerjaan lapang pada umumnya merupakan
deskripsi hasil pemboran yang dilakukan secara berulang kali hingga kedalaman 120
cm. Pada setiap pemboran yang pada umumnya mencapai ketebalan 10-20 cm diamati
warna tanah, tekstur, konsistensi, karatan dan sifat-sifat lainnya yang dapat diamati
dari hasil pemboran. Setiap perubahan sifat-sifat tanah sesuai dengan kedalamannya
harus dicatat, sehingga diperoleh gambaran tentang sifat profil dari tanah tersebut.
Profil tanah dibuat dengan menggali lobang sampai kedalaman 150-200 cm atau
sampai lapisan batuan asal atau bahan induk jika tebal solum kurang dari batas
tersebut. Setiap satuan peta tanah harus dibuat oleh satu profil pewakil, dan satuan peta
tanah yang luas perlu dibuat lebih dari satu profil pewakil. Deskripsi dari profil
tersebut mengikuti kaidah dan simbol-simbol tertentu seperti yang diuraikan dalam
Soil Taxonomy (USDA, 1975; 1998).
Satuan peta tanah terdiri dari unsur tanah dan unsur faktor lingkungan yang
mempengaruhi kemampuan dari tanah tersebut (fase). Jenis dari unsur satuan peta ini
ditentukan oleh ketelitian atau jenis peta tanah yang dibuat..
Contoh tanah perlu diambil dari lokasi masing-masing satuan peta tanah.
Contoh tanah utuh dan agregat utuh untuk pengamatan sifat-sifat fisik tanah diambil

Suyadi, dkk 19
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

dari lapisan atas (0-20 cm atau 0-25 cm) dan lapisan bawah (20-40 cm atau 25-50 cm).
Contoh tanah komposit perlu diambil untuk evaluasi kesuburan tanah.

2.8.3. Pengolahan data dan penyusunan laporan


Pada tahapan ini hasil interpretasi foto udara disempurnakan dengan hasil
pengamatan lapangan. Contoh-contoh tanah yang dikumpulkan selama pekerjaan
lapangan dianalisis di laboratorium. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan hasil
analisis laboratorium ditentukan satuan-satuan peta tanah serta batas-batas satuan peta,
walaupun satuan-satuan peta tanah sementara telah dapat dibuat di lapang. Setelah
peta tanah selesai dibuat, dilakukan pula interpretasi kemampuan/kesesuaian lahan dan
penulisan laporan survei sesuai dengan kerangka acuan yang telah dibahas pada tahap
persiapan. Laporan survei menguraikan secara lebih rinci dari uraian/ legenda peta
tanah dan peta-peta hasil interpretasinya.
Pada dasarnya laporan survei disusun agar si pemakai dapat dengan mudah
membaca keterangan-keterangan yang terdapat dalam laporan tersebut. Selain itu,
laporan survei harus dapat menunjukan kepentingan praktis dari informasi yang
disajikan.
Bentuk laporan survei tanah sangat bervariasi, tergantung apakah kegiatn
survei tersebut merupakan kegiatan yang berdiri sendiri atau merupakan bagian
kegiatan survei yang lebih luas. Jika laporan survei tanah merupakan bentuk laporan
yang bediri sendiri dan bukan merupakan bagian kegiatan yang lebih luas, maka
contoh daftar isi dalam laporan survei seperti dalam tabel berikut. Namun demikian
contoh tersebut bukan merupakan hal yang mutlak, tergantung pada keperluannya.
Laporan ini menguraikan lebih detil tentang cara-cara pelaksanaan survei, peta
dasar yang digunakan dan hasil dari survei tersebut. Sifat-sifat dari masing-masing
satuan peta tanah perlu diuaraikan secara lebih rinci dan diinterpretasikan
kemampuannya untuk penggunaan-penggunaan tertentu. Kriteria yang digunakan
dalam interpretasi perlu dijelaskan. Rekomendasi dan cara-cara pengelolaan lahan
perlu diberikan sesuai dengan sifat-sifat tanah yang ditemukan.

Suyadi, dkk 20
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

Contoh daftar isi suatu laporan survei


Kata Pengantar
Ringkasan
Kesimpulan dan Saran
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Bab I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan dan Metode Kerja
Bab II. Keadaan Umum Lingkungan
2.1. Lokasi daerah Studi
2.2. geologi dan Topografi
2.3. Iklim dan hidrologi
2.4. Vegetasi dan Penggunaan lahan
2.5. Agronomi dan Keadaan Pertanian
2.6. Penduduk, Struktur Pemerintahan dan Sosial Ekonomi
Bab III. Tanah
3.1. Metode Survei
3.2. Proses Pembentukan Tanah
3.3. klasifikasi Tanah
3.4. Satuan Peta Tanah
3.5. Kimia dan Kesuburan Tanah
3.5. Fisika Tanah
Bab IV. Evaluasi Kesesuaian Lahan
4.1. Metode Evaluasi
4.2. Kesesuaian Lahan untuk berbagai Penggunaan Lahan Utama
Daftar Pustaka
Peta-Peta
Lampiran

Test Formatif
1. Jelaskan model sistem tanah dalam survei tanah!
2. Jelaskan pendekatan dalam model sistem tanah !

Suyadi, dkk 21
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Metode Pendekatan Survei Tanah

3. Apakah yang dimaksud dengan survei tanah yang cermat dan teliti dari segi
kartogarfik dan klasifikasinya?
4. Apakah yang dimaksud dengan survei detil ? Jelaskan tujuan, dan cara
pedekatannya
5. Jelaskan jenis peta tanah detil ditinjau dari skala peta, dan informasi yang
disajikan!
6. Apakah perbedaan dan persamaan antara asosiasi, komplek dan inklusi?
7. Apakah yang dimaksud dengan survei tanah umum dan survei tanah khusus?
8. Jika anda akan melakukan survei tanah semi detil metode survei tanah yang
manakah yang paling sesuai?. Jelaskan!
9. Jelaskan keuntungan dan kerugian jika dilakukan survei tanah dengan metode/
cara grid !
10. Jelaskan beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam tahap persiapan survei
tanah!

Daftar Pustaka

1. Dent, D. and A. Young. 1981. Soil Survey and Land Evaluation. George Allen &
Unwin, London.

2. Hardjowigeno, S dan Widiatmaka. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata


Guna lahan. Faperta IPB

3. Sitorus, S.R.P. 1989. Survei Tanah dan Penggunaan Lahan. Jurusan Tanah, Faperta,
IPB.

Suyadi, dkk 22

Anda mungkin juga menyukai