0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
179 tayangan20 halaman

Survei Tanah: Deskripsi dan Profil

Dokumen tersebut membahas pelaksanaan survei tanah di lapangan, termasuk persiapan, deskripsi lokasi dan profil tanah, serta petunjuk pengamatan lapangan menggunakan formulir profil tanah. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat melakukan survei tanah di lapangan dan menjelaskan sifat-sifat tanah.

Diunggah oleh

ade gunawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
179 tayangan20 halaman

Survei Tanah: Deskripsi dan Profil

Dokumen tersebut membahas pelaksanaan survei tanah di lapangan, termasuk persiapan, deskripsi lokasi dan profil tanah, serta petunjuk pengamatan lapangan menggunakan formulir profil tanah. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat melakukan survei tanah di lapangan dan menjelaskan sifat-sifat tanah.

Diunggah oleh

ade gunawan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

BAB III
PELAKSANAAN SURVEI TANAH DI LAPANG

Tujuan Instruksional Khusus

 Setelah mengikuti pokok bahasan dari mata kuliah ini, mahasiswa dapat
membuat langkah-langkah survei tanah di lapang dan dapat menjelaskan sifat-
sifat tanah yang diukur/ditetapkan di lapang

Uraian Pokok Bahasan

 Persiapan lapangan
 Deskripsi lokasi
 Deskripsi sifat-sifat tanah
 Klasfikasi dan pembuatan satuan peta tanah sementara

3.1. Pendahuluan
Survei tanah pada dasarnya meliputi persiapan survei, survei lapang, analisis
tanah di laboratoium, kompilasi dan analisis data serta pembuatan laporan. Survei
lapang merupakan bagian penting dari pekerjaan survei tanah, kecuali pada survei
eksplorasi. Survei lapang ditujukan untuk mengumpulkan informasi tentang factor
fisik lingkungan serta data penunjang lainnya.
Survei lapang terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu deskripsi, klasifikasi dan
pemetaan. Deskripsi merupakan identifikasi dan uraian dari tanah-tanah yang terdapat
di daerah survei. Klasifikasi merupakan pengelompokan tanah-tanah kedalam kelas-
kelas. Pemetaan merupakan penarikan garis batas dari tiap-tiap kelas pada peta dasar.
Untuk menyempurnakan hasil dari survei lapang ini perlu ditunjang dengan hasil
analisis tanah laboratorium.

3.2. Deskripsi lokasi dan profil tanah

Deskripsi lokasi dan profil perlu dilakukan dalam bentuk yang seragam, dalam
upaya melakukan pengamatan factor fisik lingkungan. Upaya-upaya membakukan
istilah-istilah dan prosedur yang digunakan telah dilakukan agar dapat memudahkan
dalam menafsirkan data pengamatan yang dilakukan oleh penyurvei yang berbeda.

Suyadi, dkk 23
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Oleh karena itu telah diterbitkan berbagai buku panduan survei di banyak negara. Di
Indonesia, pencatatan pengamatan lapang pada umumnya dilakukan dengan mengikuti
petunjuk yang terdapat pada buku Soil Survey manual (Soil Survey Staff, 1951) dan
pedoman Pengamatan Tanah di Lapang (Staf Pemetaaan Lembaga Penelitian Tanah,
1969).
Berikut ini akan diuaraikan secara terinci panduan pengamatan dan pencatatan
tanah di lapang dengan menggunakan kartu deskripsi profil.(telah dimodifikasi)
berdasarkan Lembaga Penelitian Tanah (sekarang Puslitanak, Bogor).

3.2.1. Deskripsi lokasi


Deskripsi lokasi mencatat seperangkat data tentang lokasi , keadaan factor-
faktor pembentuk tanah dan penggunaan lahan sekarang. Data lokasi meliputi
keterangan nama pemeta, nomor lapang, tanggal, nomor lembaran peta dan letak
administratif.
Factor pembentuk tanah meliputi iklim, vegetasi, topografi, drainase, air
tanah/genangan, dan sebagainya. Penggunaan lahan yang dicatat, diantaranya tipe
penggunaan lahan, lama penggunaan, pola tanam dan cara pengelolaan.

3.2.2. Deskripsi Profil Tanah


Profil tanah adalah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri dari
lapisan tanah (horizon-horison) dan lapisan bahan induk. Horison adalah lapisan-
lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan
Pemilihan tempat profil dilakukan dengan penjelajahan wilayah dengan
melakukan pemboran untuk mengetahui kondisi tanah. Profil dibuat pada lokasi yang
masih alami, tidak boleh dibuat pada tempat bekas timbunan, bekas jalan/rumah, dan
bekas-bekas penggunaan khusus seperti tempat percobaan, tempat sampah, dan lain-
lain. Profil sebaiknya pada  50 m dari penggunaan-penggunaan tersebut. Pada tempat
yang akan dibuat penempang dilakukan pemboran 2-3 tempat disekitar penampang
sedalam satu meter, untuk mengetahui keragaman tanah.
Ukuran lobang atau penampang bervariasi, tetapi yang penting bahwa lobang
cukup dalam dan lebar sehingga memudahkan pengamatan. Profil dengan ukuran ideal

Suyadi, dkk 24
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

adalah panjang ,lebar, dalam berturut-turut 1,5 m, 1 m dan 1,5 m. Pada tanah yang
dangkal/liat berat, ukurannya dapat lebih kecil.
Apabila lokasi di tempat terbuka, pengamatan dilakukan pada sisi dinding yang
mendapat sinar matahari dan pada daerah yang miring pengamatan dipilih pada
dinding teratas. Tanah galian tidak boleh ditimbun diatas dinding pengamatan.
Beberapa hal harus diperhatikan sebelum melakukan pengamatan profil tanah,
diantaranya adalah: penampang harus bersih dan terang; jika lubang berair, maka air
harus dikeluarkan dengan ditimba dan dijaga agar permukaan air tetap rendah;
pengamatan tidak boleh dilakukan pada saat hujan atau intensitas matahari
masih/sudah lemah (sebelum pukul 09:00 atau setelah pukul 16:00); dilakukan
penyemprotan profil bila tanah sangat kering agar lembab.
Dalam mengamati profil pertama dengan menentukan batas-batas horisonnya.
Dengan cara pisau ditangan kanan dibuat tusukan-tusukan/cungkilan-cungkilan sambil
meremas gumpalan tanah dengan tangan kiri untuk mengetahui tektur dan konsistensi
serta perbedaanya. Selain itu diamati warna tanah, karatan dan struktur serta bahan
kasar. Selanjutnya dibuat batas-batas horizon/lapisan dengan mengamati dengan
adanya perbedaan-perbedaan pada pengamatan warna, tektur, konsistensi maupun
struktur. Horizon-horizon tersebut diberi simbol dan diukur tebal dan kedalamannya.
Selanjutnya diamati keadaan perakaran, padas, kandungan garam karbonat, bahan
organik, pirit, dan lain-lain dari seluruh horizon. Pencatata hasil pengamatan ditulis
pada formulir pengamatan tanah. Pencatatan sedapat mungkin ditulis dalam bentuk
sandi/symbol.
Setelah seluruh sifat-sifat tanah diamati, kemudian dilakukan pengambilan
contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium. Untuk menghindari kontaminasi contoh
dari berbagai lapisan, pengambilan contoh dimulai dari lapisan paling bawah,
kemudian diikiuti dengan lapisan di atasnya hingga lapisan permukaan. Jumlah contoh
biasanya 1-2 kg per contoh. Contoh perlu diberi label pada saat pengambilan contoh,
menurut nomor profil dan lapisannya sesuai yang dicatatat pada kartu deskripsi. Kertas
label sebaiknya dimasukan dalam plastik label, agar tidak rusak.

Suyadi, dkk 25
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

3.2.3. Petujuk dalam Pengamatan Lokasi dan Profil Tanah


Berikut ini diuraikan secara terinci dalam mengamati dan mencatat data lokasi
dan profil tanah dengan menggunakan formilir profil tanah.

Suyadi, dkk 26
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Tabel 3.1. Formulir Pengamatan Profil Tanah

Pemeta : Relief : Penggunaan tanah:


No. lapang: Lereng: Lama penggunaan:
Lokasi : Vegetasi: Tanaman Utama:
Tanggal: Batu kecil: Pemupukan:
Iklim (Oldemann) Batu besar: Sistem rotasi:
(Schmidt & Ferguson): Drainase: Sumber air:
Erosi/genangan/banjir:

No. Lapisan
Simbol lapisan
Dalam lapisan
Batas lapisan
Warna
Tekstur Tanah/
Tingkat
Dekomposisi
Bahan organik
Konkresi/bahan
kasar
Struktur
Bentuk
Ukuran
Perkembangan
Pori makro
Mikro
Kematangan (n)
Konsistensi
Basah
Lembab
kerring
Karatan
Jumlah
Ukuran
Bentuk
Bandingan
PH lapang
Reaksi terhadap
HCl
Reaksi terhadap
H2O2
Perakaran
Halus
Kasar
Epipedon
Horison penciri
Horison tambahan
Padas
Sifat-sifat lain

Suyadi, dkk 27
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

3.2.3.1. Deskripsi lokasi

a). Relief Makro dan Mikro


Relief makro merupakan bentuk permukaan wilayah dipandang dari segi
lereng(%) dan perbedaan tinggi yang diukur dari puncak hingga dasar lereng (m)
Relief Mikro merupakan bentukan-bentukan tertentu dalam satuan wilayah
seperti bukit rayap, galangan-galangan akibat erosi, relief gilgai, dan lain-lain. Yang
berpengaruh terhadap morfologi dari penggunaan tanah.
Pembagian kelas begitu wilayah adalah sebagai berikut:

Simbol Bentuk wilayah Lereng (%) Beda Tinggi(m)


L Datar sanpai agak datar 0-3 5
U/L (level) 0-3 15
S/L Berombak agak datar 0-3 15-50
U Agak melandai (sloping) 3-8 5-15
R/U Berombak 3-8 15-50
R Bergelombang agak 8-15 15-50
H/R berombak 8-15 50-200
H/M Bergelombang 8-15 >200
H Berbukit agak bergelombang 15-30 50-200
M/H Berbukit agak bergunung 15-30 >200
M Berbukit >30 >200
Bergunung agak berbukit
Bergunung

b). Drainase
Drainase tanah menunjukkan keadaan tanah yamg menunjukkan lamanya dan
seringnya tanah jenuh air, yang mencakup drainase permukaan, drainase penampang
dan permeabelitas. Pengelompukan kelas drainase dibedakan untuk tanah “bukan
sawah” dan tanah yang “:disawahkan”.
Pada tanah “ bukan sawah” yang bila profilnya tidak nampak adanya gejala
reduksi oleh air sawah, pengelompokan kelas drainasenya adalah sebagai berikut:

Suyadi, dkk 28
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Kelas 0: sangat cepat; air sangat mudah lepasdari masa tanah, seperti pada tanah
bertektur sangat kasar, sangat berpori, berbukit dan ber lereng curam
Kelas 1: Cepat; air mudah lepas dari masa tanah, bertektur pasir, sangat berpori,
daerah melandai.
Kelas 2: Agak Cepat; air mudah meresap kedalam solum, masa tanah dalam
keadaan lembab, tidak pernah jenuh air, kadang-kadang ditemukan
sedikit karatan di horizon B bagian bawah atau di horizon C, daerah
melandai atau berombak.
Kelas 3: Sedang; air ditahan olah masa tanah, penampang terlihat basah untuk
sementara waktu, ditemukan karatan di horizon B bagian bawah pada
kedalaman 80-120 cm, daerah daratan atau lereng bagian bawah.
Kelas 4: Agak Terhambat; tanah sering terlihat basah, karatan dan gejala reduksi
di seluruh profil, daerah datar/lereng bagian bawah.
Kelas 5: Terhambat; karatan Fe/Mn mulai di horizon Ap, sebagian profil
direduksi , lereng bawah/lembah.
Kelas 6: Sangat Terhambat; karatan Fe/Mn sedikit, tanah dalam keadaan reduksi,
daerah lembah.

Pada tanah “disawahkan”, pembagian kelas drainase adalah sebagai berikut:


Kelas 3: Sedang; air mudah meresap ke dalam tanah, tetapi masa tanah hanya
dalam keadaan lembab, tidak pernah kenyang air.Karatan besi/mangan
atau gejala reduksi air hanya sedikit di lapisan atas meliputi kurang dari
setengah penampang; daerah landai atau berombak.
Kelas 4: Agak Terhambat; air sering ditahan oleh masa tanah, tanah kelihatan
basah. Karatan dan gejala reduksi di seluruh penampang. Daerah
dataran atau leeng bagian bawah.
Kelas 5: Terhambat; air lambat terlepas dari masa tanah, karatan mulai dari
lapisan atas/lapisan Ap. Gejala reduksi hanya di bagian atas, kurang
lebih separoh penampang. Daerah depresi atau lembah
Kelas 6: Sangat Terhambat; karatan Fe/Mn sedikit, tanah dalam keadaan reduksi,
daerah lembah.

Suyadi, dkk 29
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

c). Iklim
Iklim merupakan keadaan cuaca dalam jangka lama (15 tahun). Unsur-unsur
iklim yang penting adalah curah hujan dan suhu.
Tipe iklim yang digunakan adalah tipe iklim Koppen yang trediri dari 5 tipe
yaitu A, B, C, D dan E. sedangkan tipe curah hujan yang digunakan adalah tipe
Schmidt dan Ferguson, yang didasarkan atas nilai Q yaitu perbandingan bulan kering
( 60 mm/bulan) dan bulan basah ( 100 mm/bulan) dalam satu tahun. Nilai Q yang
digunakan adalah nilai Q rata-rata selama 15 tahun.
Tipe-tipe curah hujan tersebut adalah tipe A s/d H.

d). Keadaan Batu


Keadaan batu di dibedakan menurut jenisnya, jumlahnya dan letaknya dalam
penampang.

1. Batu Kecil (, 30 cm) – stone (s)


s1 (sedikit): 1% menutup permukaan, terserak dalam jarak 10-30 m, agak
mengganggu pengolahan tanah.
s2 (sedang): 1-3% menutup permukaan tanah, terserak dalam jarak 1,5-10 m,
sangat mengganggu pengelolaan tanah.
s3 (banyak): 3% menutup permukaan tanah, terserak dalam jarak 0,5 m,
pengolahan tanah hampir tidak dapat dilakukan.
2. Batu besar (.30 cm) – rock (r)
r1 (sedikit): 10% di permukaan, terserak dengan jarak 35-100 m, agak mengganggu
pengolahan tanah.
r2 (sedang): 10-25% di permukaan terserak dalam jarak 10-35 m,sangat
mengganggu pengolahan tanah.
r3 (banyak): . 25% di permukaan, terserak dengan jarak 35-100 m, tanah hampir
tidak dapat diolah.

e). Erosi
Erosi yang terjadi dinyatakan dalam jenis dan tingkat erosi

Suyadi, dkk 30
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

e1: sebagian kecil horizon a telah tererosi


erosi ringan
e2: sebagian besar horizon a telah tererosi
e3: semua horizon a telah tererosi erosi sedang
e4: sebagian besar solum tanah telah tererosi erosi berat

f). Bahaya Banjir

Tanah dalam beberapa waktu tergenang air yang disebabkan oleh air hujan atau
banjir. Banjir dinyatakan dalam jangka waktu banjir dalam setiap tahunnya:
Tanpa : tidak pernah ada banjir sepanjang tahun.
Jarang : < 2 bulan banjir setiap tahunnya.
Sering : 2-6 bulan banjir setiap tahun.
Selalu : >6 bulan banjir setiap tahun.

g). Salinitas

Menunjukkan adanya garam-garam di dalam tanah. Salionitas dinyatakan dalam


kadar garam atau daya hantar listrik.
Tidak bergaram : kadar garam <0,15% atau DHL < mmhos/cm.
Agak bergaram : kadar garam 0,15-0,35% atau DHL 2-4 mmhos/cm.
Bergaram : kadar garam 0,35-0,65% atau DHL 4-8 mmhos/cm.
Bergaram kuat : kadar garam > 0,65% atau DHL >8 mmhos/cm.

3.2.3.2. Deskripsi Profil

a). Nama Horizon


Horizon yang diberi simbol adalah horizon gnetik yaitu lapisan-lapisan di dalam
tanah yang kuarang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk sebagai akibat
dari roses pembentukan tanah. Horison genetik tidak setrara dengan horison penciri.
Horison genetik mencerminkan jenis perubahan sifdat tanah yang telah terjadi akibat
dari proses pembentukan tanah. Sedagkan horison penciri adalah horison yang
mungkin terdiri dari beberapa horison genetik yang sifat-sifatnya dinyatakan secara
kuantitatif dan digunakan sebagai penciri dalam klasifikasi tanah.

Suyadi, dkk 31
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Ada enam horison (dan lapisan) utama dalam tanah yang masing-masing diberi
simbol dengan satu huruf besar yaitu (dari atas ke bawah): O, A, E, B, C dan R. (Soil
Survey Staff, 1990).

Horison atau lapisan O : horison atau lapisan yang didominasi oleh bahan organik, baik
( Nama lama Ao; Aoo) yang selalu jenuh air, yang draenasenya telah dip[erbaiki,
ataupun yang tidakpernah enuh air.
Horison A : horison mineral di bawah permukaan tanah atau di bawah
(Nama lama A1) horison O dan mempunyai salah satru atau kedua sifat berikut:
(1) merupakan akumulasi bahan organik halus yang
tercampurdengan bahan mineral dan tidak didominasi ileh
sifat horison E atau B.
(2) menunjukkan sifat sebagai hasil pengolahan tanah.
Horison E : horison mineral dengan sifat utama terjadi pencucian liat, besi,
(Nama lama A2) alumunium, atau kombinasinya, bahan oraganik, dan lain-lain
sehingga tertinggal pasir dan debu, umnya berwarna pucat.
Warna tersebur lebih terang daripada horison A di atasnya
atau horison B dibawahnya.
Horison B : horison yang terbentuk di bawah horison A, E, atau O dan
(Nama lama B2) mempunyai salah satu atau lebih sifat berikut:
(1) terdapat penimbunan (illuviasi) liat, besi, alumunium,
humus, karbonat, gipsum atau silika (salah satu atau
kombinasinya);
(2) ada bukti terjadinya pemindahan karbonat;
(3) penimbuna relatif (rsidual seskuoksida Fe2O3 dan Al2O3)
akibat pencucian silika;
(4) selaput seskuosida sehingga mempunyai warna dengan
value lebih rendah, kroma lebih tinggi dan hue lebih merah
daripada horison di atas atau di bawahnya, tanpa adanya
iluviasi besi;
(5) perubahan (alterasi) yang menghsilkan liat, atau
membebaskan oksida atau kedua-duanya dan yang
mempunyai bentuk struktur granuler, gumpal, atau
prismatik bila perubahan volume menyertai perubahan
kelembaban tanah; atau
(6) mudah hancur atau rapuh (brittle) dan mempunyai bukti
alterasi lain seperti struktur prismaatik atau ada akumulasi
liat iluviasi.
Horison atau lapisan C : horison atau lapisan, tidak termasuk batuan keras, yang sedikit

Suyadi, dkk 32
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

(Nama lama) dipengaruhi oleh proses pedogenik, dan tiadak mempunyai sifat
horison O, A, E, atau B, bahan lapisan C dapat serupa ataupun
tidak serupa dengan bahan yang membentuk sollum diatasnya.
Ternasuk laisan C adaalah bahan endapan, saprolit, batuan yang
tidak padu (unconsilidated) dan bahan geologi yang agak keras
tetapi pcahan kering udara atau lebih kering dfapat hancur bila
direndam dalam air selama 24 jam, sedangkan bila lembab
dapat digali dengan cangkul.
Lapisan R: Batuan : lapisan batuan yang keras, pecahan kering udara atau lebih
keras kering tidak dapat hancur bila bila direndam dalam air selama
(Nama lama R atau D) 24 jam, dan batuan yang lembab tidak dapat digali dengan
cangkul. Batuan ini mungkin pecah-pecah tetapi jumlah retakan
sedikit sehingga hanya sedikit akar yang dapat menembus lewat
retakan.

b). Batas Horizon/Lapisan


Batas horizon dinyatakan dalam kejelasan dan batas topografi:
Kejelasan:
Abrupt (a) : sangat jelas, lebar peralihan < 2 cm.
Clear (c) : jelas, lebar peralihan 2-5 cm.
Gradual (g) : berangsur, lebar peralihan 2-5 cm.
Diffuse (d) : baur, lebar peralihan > 12 cm.
Bentuk topografi:
Snooth (s) : rata, lurus teratur.
Wavy (w) : berombak, berbentuk kantong.
Irreguler (I) : tidak teratur
Broken (b) : terutus, batas horizon tidak dapat disambungkan dalam satu
bidang datar.

c). Warna

Warna tanah merupakan cerminan kondisi tanah. Warna gelap mencerminkan


kandungan bahan organik tinggi. Warna kelabu mencerminkan draenase buruk, warna
merah mencerminkan draenase baik. warna tanah ditentukan dengan sistem Munsell

Suyadi, dkk 33
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

yang meliputi He, value, chroma. Misalnya 10 YR 3/2. Warna-warna yang dicatat
meliputi:
Warna matriks
Warna karatan, konkresi.
Warna plintit
Dalam mementukan warna tanah harus diperhatikan:
Tanah dalam keadaan lembab.
Terlindung dari matahari langsung dan intensitas matahari cukup kuat.
Tanah tidak boleh mengkilap akibat cungkilan.

d). Tekstur
Di lapangan tekstur ditentukan dengan memijat tanah dengan jari-jari dan dirasakan
kasar halusnya sebagai berikut:

Pasir - rasa kasar sangat jelas


- tidak membentuk bola dan gulungan
- tidak melekat
Pasir berlempung - rasa kasar jelas
- membentuk bola yang mudah sekali dihancurkan.
- sedikit sekali melekat.
Lempung berpasir - rasa kasar agak jelas
- membuat bola agak keras, mudah hancur.
- sedikit lekat.
Lempung - rasa tidak kasar dan tidak licin.
- membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan
permukaan mengkilat.
- agak melekat.
Lempung berdebu - rasa licin.
- agak melekat.
- dapat dibentuk bola agak teguh, gulungan dengan
permukaan mengkilat.
- rasa licin sekali.
debu - rasa licin sekali.
- membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan
permukaan mengkilat.
Lempung liat - rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar.
berpasir - membentuk bola agak teguh, membentuk gulungan jika
dipirit, gulungan mudah hancur.
Lempung liat - rasa halus agak licin.
berdebu - membentuk bola teguh, gulungan mengkilat
- melekat.

Suyadi, dkk 34
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Lempung berliat - rasa agak licin.


- membentk bola agak teguh, membentuk gulugan bila
di[pirit, gulungan mudah hancur.
- agak melekat.
Liat berpasir - rasa halus, berat, tertapi terasa sedkit kasar.
- membentuk bola, muah digulung
- melekat sekali

Liat berdebu - rasa halus, berat, agak licin


- membentuk bola, mudah digulung
- sangat lekat
Liat - rasa berat
- membentuk bola dengan baik
- sangat lekat
Liat berat - rasa berat sekali
- membentuk bola dengan baik
- sangat lekat

e). Struktur
Struktur tanah merupakan susunan butir tanah secara alami membentuk
agregat, antara agregat-agregat tersebut dibatasi oleh suatu bidang belah alami.
Struktur tersebut meliputi bentuk, ukuran dan perkembangan.
Bentuk-bentuk struktur tanah:
 Lempeng (platy): pl : sumbu bidang horizontal lebih panjang dari sumbu vertikal.
 Prisma (prismatic): p: sumbu vertikal lebih panjang dari sumbu horizontal, bidang-
bidang membentuk sudut.
 Tiang (columnar): cp: seperti prisma, namun bidang-bidang membentuk sudut
membulat.
 Sudut (angular blocky): ab: sumbu vertikal sama panjang dengan sumbu
horinzontal, batas dua bidang membentuk sudut lancip.
 Kubus (blocky): b: seperti sudut, namun batas dua bidang membentuk sudut tegak
lurus
 Gumpal (sub-angular blocky): sb: seperti kubus, batas bidang-bidang membentuk
sudut membulat
 Butir (granular): g: seperti bola, sedikit berpori
 Remah (crumb): cr: seperti bola dengan ukuran agak besar, sangat berpori.

Suyadi, dkk 35
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Ukuran struktur: tergantung pada bentuk struktur seperti pada tabel berikut:

Kelas Ukuran Lempeng Prisma dan Kubus, Sudut Butir dan


Tiang dan Gumpal Remah
Sangat halus , 1 mm < 10 mm < 5 mm <1 mm
Halus 1 –2 mm 10 – 20 mm 5 – 10 mm 1 – 2 mm
Sedang 2 – 5 mm 20 – 50 mm 10 – 20 mm 2 – 5 mm
Kasar 5 – 10 mm 50 – 100 mm 20 – 50 mm 5 – 10 mm
Sangat kasar > 10 mm > 100 mm > 50 mm > 10 mm

Tingkat perkembangan struktur:


0 : tidak berstruktur (masive atau butir tunggal
1: lemah, kalau diremas jadi butir-butir.
2: cukup, bentuk jelas, kalau diramas bentuknya satuan sebagian besar tetap.
3: kuat, bentuk jelas,kalau diremas bentuknya tetap.

e). Konsistensi
Konsistensi tanah merupakan manesfestasi gaya adhesi dan kohesi yang
bekerja pada masa tanah pada kondisi basah, lembab maupun kering yang diamati
dengan cara meremas, memijat atau memirid dengan tangan.

Konsistensi dalam keadaan basah (kadar air lebih dari kapasitas lapang) ditunjukan
oleh adanya kelekatan (derajat adhesi) dan plastisitas (derajat kohesi) yang ditentukan
dengan memijit atau memirid tanah diantara ibu jari dan telunjuk.
Derajat kelekatan
Tidak lekat (so) : Tidak ada tanah tertinggal
Agak lekat (ss) : Tanah tertinggal pada salah satu jari
Lekat (s) : Tanah tertinggal pada kedua jari
Sangat lekat (vs) : sukar untuk melepaskan kedua belah jari
Plastisitas
Tidak plastis (po) : Tidak dapat terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah
berubah bentuk
Agak plastis (sp) : terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah berubah bentuk
Sangat plastis (vp) : dapat terbentuk grlintir tanah, tahan terhadap tekanan

Suyadi, dkk 36
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Konsistensi dalam keadaan lembab (kadar air sekitar kapasitas lapang) ditentukan
dengan meremas masa tanah dengan telapak tangan
Lepas (l) : butir-butir tanah tidak terikat, melekat bila ditahan
Sangat gembur (vf) : dengan sedikit tekanan bisa bercerai, bila digenggam mudah
bergumpal, meleket bila ditekan
Gembur (f) : bila diremas dapat bercerai, bila digenggam masa tanah
bergumpal, melekat bila ditekan
Teguh (t) : masa tanah tahan terhadap remasan, hancur dengan trkanan
besar
Sangat teguh (vt) : masa tanah tahan terhadap remasan, tidak mudah berubah
bentuk
Ektrem teguh (et) : masa tanah sangat tahan terhadap remasan, bila digenggam
bentuk tidak berubah

Konsistensi dalam keadaan kering (kadar air kurang dari titik layu permanen)
ditentukan dengan meremas/ menekan masa tanah dengan telapak tangan
Lepas (l) : butir-butir tanah lepas, satu dengan lainnya tidak terikat
Lunak (s) : dengan sedikit tekanan tanah bercerai menjadi butir
Agak keras (sh) : agak tahan terhadap tekanan, masa tanah rapuh
Keras (h) : tahan terhadap tekanan masa tanah dapat dipatahkan dengan
tangan (tidak dengan jari)
Sangat keras (vh) : masa tanah sukar dipatahkan dengan tangan
Ektrem keras (eh) : masa tanah tidak dapat dipatahkan dengan tangan

f). Karatan
Karatan adalah gejala kelainan warna pada tanah, akibat proses oksidasi daan
reduksi. Karatan dalam penampang tanah ditentukan: jumlah, ukuran, bandingan, batas
dan bentuknya.
Jumlah
Sedikit (sd) : < 2 % dari luas permukaan
Biasaa (bi) : 2-10 %

Suyadi, dkk 37
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Banyak (ba) : > 20 % matrik masih nampak jelas


Ukuran
Kecil (k) : diameter < 0.5 cm
Sedang (s) : diameter 0,5-1,5 cm
Biasa (b) : diameter > 1,5 cm, matrik masih nampak jelas
Bandingan
Baur (b) : warna matrik dan karatan hampir sama
Jelas (d) : warna matrik dan karatan berbeda dalam hue dan kroma
Nyata (n) : bintik-bintik karatan merupakan gejala utama dari horison
Batas
Jelas (j) : warna beralih tiba-tiba
Sedang (s) : warna peralihan < 2 mm
Kabur (k) : warna peralihan > 2 mm
Bentuk
Bintik (b) : hampir membulat, satu dengan yang lainnya tidak bersambungan
Bintik berganda (bs) : hampir membulat, satu dengan lainnya bersambungan
Lidah (li) : memanjang kecil, mebujur dari atas ke bawah
Api (ap) : lebar atau besar arahnya tidak menentu
Pipa (pi) : bulat memanjang

g). Kandungan bahan kasar


Bahan kasar adalah masa dalam tanah berukuran 0,2-2 cm, terdiri dari
konkresi-konkresi, kerikil, gumpalan-gumpalaaaaan garam, yang berpengaruh terhadap
penggunaan tanah dan pertumbuhan tanaman. Kandungan bahan kasar yang perlu
dicatat adalah jenis, ukuran, jumlah, kekerasan dan penyebaranya dlam penampang
Jenis
Fe : konkresi besi berwarna merah, coklat, umumnya berbentuk benjol atau bulat
Mn : konkresi mangan mirip konkresi besi berwarna kehitamaan
Ca : konkresi kapur, berwarna keputihan, umumnya membuih dengan HCl
B : pecahan batu
Ukuran
Kecil : 0,2-1 cm

Suyadi, dkk 38
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

Beasr : 1-2 cm
Jumlah
Sedikit : < 3 %
Sedang: 3-15 %
Banyak : 15-50%
Banyak sekali : >50%
Kekerasan
Lunak : dapat dipecah dengan ibu jari ddan telunjuk
Sedang : dapat dipecah dengan kuku, tidak pecah kalau dipijit
Keras : baru pecah kalau dipukul dengan palu
Penyebarannya
 Tersebar rata dalam penampang
 Tersebar di sebagian tempat dalam penampang
 Merupakan suatu lapisan

g). Perakaran
Ditemukan ukuran, jumlah dan dalamnya akar-akar yang ada dalam penampang
Ukuran
Halus : < 2 mm
Sedang: 2-10 mm
Kasar : > 10 mm
Jumlah :
Sedikit :<2%
Sedang : 2-20 %
Banyak : > 20 %

h) Reaksi terhadap HCl


Uji ini untuk mengetahui adanya bahan kapur dan karbonat, yaitu dengan melihat
tingkat pembuihan yang terjadi setelah pemberian HCl. Pembuihan akan terjadi jika
terdapat kapur.

Suyadi, dkk 39
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

i). Padas
Padas adalah peningkatan kerikil , konkresi autu bagian-bagian tanah oleh bahan
pengikat seperti besi/aluminium, karbonat, silikat kecuali liat. Keadaannya tidak
tergantung pada kadar air.
Lunak : rapuh dan mudah dipecahkan dengan tangan, mudah ditembus bor
tanah.
Sedang : keras, tahan tekanan mudah dipecah dengan palu, sukar ditembus bor
tanah.
Keras : sukar dipecah dengan palu, tidak dapat ditembus bor tanah

j). Reaksi terhadap H2O2 (Uji Pirit):

Uji pirit dilakukan dengan menambahkan larutan H2O2 30 % pada contoh tanah
dengan perbandingan 1:4, kemudian diaduk, dibiarkan 15 menit dan diukur pH-nya.
Jika pH tanah < 2,5 menunjukan tanah tersebut banyak mengandung pirit. Selain itu
untuk pengecekan awal cukup banyak atau tidaknya pirit dapat dilihat dari derajat
pembuihanseperti uraian berikut:
1.1. : tidak berbuih, tidak berbau
1.2 : tidak berbuih, berbau
2.1. : berbuih lambat, tidak berbau
2.2. : berbuih lambat, berbau
3.1 : berbuih cepat, tidak berbau (< 1 menit)
3.2 : berbuih cepat, berbau (< 1 menit)

k). Kematangan tanah (nilai n):


Kematangan tanah menunjukan daya dukung tanah atau besarnya penurunan
tanah akibat drainase. Kematangan tanah berkaitan erat dengan kadar air di lapang,
bahan organic tanah, dan tekstur tanah. Kematangan diukur dengan cara meremas
tanah dengan criteria sebagai berikut:

R Matang Teguh, tidak melekat pada tangan, dan apabila n< 0,7
diperas tidak dapat lewat sela jari-jari

Suyadi, dkk 40
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

NR Hampir matang Agak teguh, cenderung melekat pada tangan, 0,7 < n < 1
adan bila diperas dapat melalui sela jari-jari

HR Setengah matang Agak lunak,melekat pada tangan, dan apabila 1< n< 1,4
dipers dapat melalui sela jari-jari dengan
mudah
NU Hampir mentah 1,4 < n < 2
Lunak, tetap melekat pada tangan dan apabila
diperas dapat dengan mudah melalui sela jari-
jari tangan
U Mentah n>2
Lumpur encer, tidak dapat diremas

l) Tingkat Dekomposisi Bahan organic


Bagi tanah organic, deskripsi yang perlu dilakukan adalah tingkat kematangan bahan
organic.
Cara 1.
Diperas dengan tangan :
Fibrik : Kurang dari 0,33 bagian bahan organik keluar dari tangan, sisa perasan tidak
berubah, bentuk struktur tanaman sangat jelas
Hemik : 0,33 - 0,67 bagian bahan organik keluar dari tangan, sisa perasan sangat
berlumpur atau yang tertinggal akar tanaman, bentuk struktur tanaman telah
berubah
Saprik : Lebih dari 0,67 bagian bahan organik keluar dari tangan, bentuk struktur
tanaman tidak dapat dikenali
Cara 2:
Warna 10 YR pada kertas filter yang dicelupkan pada larutan Na-pirofosfat jenuh.
Indeks warna (IP) yaitu value - chroma:
 Fibrik : IP Lebih atau sama dengan 5 = (7/1, 7/2, 8/1, dst)
 Hemik : IP = 4 (8/4, 7/3, 6/2, dst)
 Saprik : IP kurang atau sama dengan 3 = (8/6, 8/8, 4/4, 3/1, dst)
Test Formatif
1. Kegiatan apa saja yang perlu diperhatikan sebelum pekerjaan survei tanah di
lapang
2. Sifat-sifat apa yang perlu dicatat dalam deskripsi lokasi?

Suyadi, dkk 41
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah

3. Jelaskan cara pembuatan profil tanah yang mewakili suatu jenis tanah! Untuk
satuan tanah yang luas berapa sebaiknya dibuat profil pewakil?
4. Kapan pencatatan warna tanah sebaiknya dilakukan?. Unsure apa saja yang perlu
dicatat dalam pengamatan warna tanah?
5. Bagaimanakan cara membatasi horizon-horizon tanah di lapang?
6. Dalam survei tanah di daerah rawa sifat tanah apa saja yang harus dicatat?

Daftar Pustaka

1. Sarwono Hardjowigeno, 1985. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Materi Pelatihan

2. Sitorus, S.R.P. 1989. Survei Tanah dan Penggunaan Lahan. Jurusan Tanah,
Faperta, IPB.

3. Soil Survey Staff. 1951. Soil Survey Manual. USDA. Agriculture Handbook No.
18, Washington, D.C

4. Staf Pemetaan Lembaga Penelitian Tanah. 1969. Pedoman Pengamatan Tanah di


Lapang. Lembaga Penelitian Tanah, Bogor. No4/1969.

Suyadi, dkk 42

Anda mungkin juga menyukai