Survei Tanah: Deskripsi dan Profil
Survei Tanah: Deskripsi dan Profil
BAB III
PELAKSANAAN SURVEI TANAH DI LAPANG
Setelah mengikuti pokok bahasan dari mata kuliah ini, mahasiswa dapat
membuat langkah-langkah survei tanah di lapang dan dapat menjelaskan sifat-
sifat tanah yang diukur/ditetapkan di lapang
Persiapan lapangan
Deskripsi lokasi
Deskripsi sifat-sifat tanah
Klasfikasi dan pembuatan satuan peta tanah sementara
3.1. Pendahuluan
Survei tanah pada dasarnya meliputi persiapan survei, survei lapang, analisis
tanah di laboratoium, kompilasi dan analisis data serta pembuatan laporan. Survei
lapang merupakan bagian penting dari pekerjaan survei tanah, kecuali pada survei
eksplorasi. Survei lapang ditujukan untuk mengumpulkan informasi tentang factor
fisik lingkungan serta data penunjang lainnya.
Survei lapang terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu deskripsi, klasifikasi dan
pemetaan. Deskripsi merupakan identifikasi dan uraian dari tanah-tanah yang terdapat
di daerah survei. Klasifikasi merupakan pengelompokan tanah-tanah kedalam kelas-
kelas. Pemetaan merupakan penarikan garis batas dari tiap-tiap kelas pada peta dasar.
Untuk menyempurnakan hasil dari survei lapang ini perlu ditunjang dengan hasil
analisis tanah laboratorium.
Deskripsi lokasi dan profil perlu dilakukan dalam bentuk yang seragam, dalam
upaya melakukan pengamatan factor fisik lingkungan. Upaya-upaya membakukan
istilah-istilah dan prosedur yang digunakan telah dilakukan agar dapat memudahkan
dalam menafsirkan data pengamatan yang dilakukan oleh penyurvei yang berbeda.
Suyadi, dkk 23
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Oleh karena itu telah diterbitkan berbagai buku panduan survei di banyak negara. Di
Indonesia, pencatatan pengamatan lapang pada umumnya dilakukan dengan mengikuti
petunjuk yang terdapat pada buku Soil Survey manual (Soil Survey Staff, 1951) dan
pedoman Pengamatan Tanah di Lapang (Staf Pemetaaan Lembaga Penelitian Tanah,
1969).
Berikut ini akan diuaraikan secara terinci panduan pengamatan dan pencatatan
tanah di lapang dengan menggunakan kartu deskripsi profil.(telah dimodifikasi)
berdasarkan Lembaga Penelitian Tanah (sekarang Puslitanak, Bogor).
Suyadi, dkk 24
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
adalah panjang ,lebar, dalam berturut-turut 1,5 m, 1 m dan 1,5 m. Pada tanah yang
dangkal/liat berat, ukurannya dapat lebih kecil.
Apabila lokasi di tempat terbuka, pengamatan dilakukan pada sisi dinding yang
mendapat sinar matahari dan pada daerah yang miring pengamatan dipilih pada
dinding teratas. Tanah galian tidak boleh ditimbun diatas dinding pengamatan.
Beberapa hal harus diperhatikan sebelum melakukan pengamatan profil tanah,
diantaranya adalah: penampang harus bersih dan terang; jika lubang berair, maka air
harus dikeluarkan dengan ditimba dan dijaga agar permukaan air tetap rendah;
pengamatan tidak boleh dilakukan pada saat hujan atau intensitas matahari
masih/sudah lemah (sebelum pukul 09:00 atau setelah pukul 16:00); dilakukan
penyemprotan profil bila tanah sangat kering agar lembab.
Dalam mengamati profil pertama dengan menentukan batas-batas horisonnya.
Dengan cara pisau ditangan kanan dibuat tusukan-tusukan/cungkilan-cungkilan sambil
meremas gumpalan tanah dengan tangan kiri untuk mengetahui tektur dan konsistensi
serta perbedaanya. Selain itu diamati warna tanah, karatan dan struktur serta bahan
kasar. Selanjutnya dibuat batas-batas horizon/lapisan dengan mengamati dengan
adanya perbedaan-perbedaan pada pengamatan warna, tektur, konsistensi maupun
struktur. Horizon-horizon tersebut diberi simbol dan diukur tebal dan kedalamannya.
Selanjutnya diamati keadaan perakaran, padas, kandungan garam karbonat, bahan
organik, pirit, dan lain-lain dari seluruh horizon. Pencatata hasil pengamatan ditulis
pada formulir pengamatan tanah. Pencatatan sedapat mungkin ditulis dalam bentuk
sandi/symbol.
Setelah seluruh sifat-sifat tanah diamati, kemudian dilakukan pengambilan
contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium. Untuk menghindari kontaminasi contoh
dari berbagai lapisan, pengambilan contoh dimulai dari lapisan paling bawah,
kemudian diikiuti dengan lapisan di atasnya hingga lapisan permukaan. Jumlah contoh
biasanya 1-2 kg per contoh. Contoh perlu diberi label pada saat pengambilan contoh,
menurut nomor profil dan lapisannya sesuai yang dicatatat pada kartu deskripsi. Kertas
label sebaiknya dimasukan dalam plastik label, agar tidak rusak.
Suyadi, dkk 25
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Suyadi, dkk 26
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
No. Lapisan
Simbol lapisan
Dalam lapisan
Batas lapisan
Warna
Tekstur Tanah/
Tingkat
Dekomposisi
Bahan organik
Konkresi/bahan
kasar
Struktur
Bentuk
Ukuran
Perkembangan
Pori makro
Mikro
Kematangan (n)
Konsistensi
Basah
Lembab
kerring
Karatan
Jumlah
Ukuran
Bentuk
Bandingan
PH lapang
Reaksi terhadap
HCl
Reaksi terhadap
H2O2
Perakaran
Halus
Kasar
Epipedon
Horison penciri
Horison tambahan
Padas
Sifat-sifat lain
Suyadi, dkk 27
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
b). Drainase
Drainase tanah menunjukkan keadaan tanah yamg menunjukkan lamanya dan
seringnya tanah jenuh air, yang mencakup drainase permukaan, drainase penampang
dan permeabelitas. Pengelompukan kelas drainase dibedakan untuk tanah “bukan
sawah” dan tanah yang “:disawahkan”.
Pada tanah “ bukan sawah” yang bila profilnya tidak nampak adanya gejala
reduksi oleh air sawah, pengelompokan kelas drainasenya adalah sebagai berikut:
Suyadi, dkk 28
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Kelas 0: sangat cepat; air sangat mudah lepasdari masa tanah, seperti pada tanah
bertektur sangat kasar, sangat berpori, berbukit dan ber lereng curam
Kelas 1: Cepat; air mudah lepas dari masa tanah, bertektur pasir, sangat berpori,
daerah melandai.
Kelas 2: Agak Cepat; air mudah meresap kedalam solum, masa tanah dalam
keadaan lembab, tidak pernah jenuh air, kadang-kadang ditemukan
sedikit karatan di horizon B bagian bawah atau di horizon C, daerah
melandai atau berombak.
Kelas 3: Sedang; air ditahan olah masa tanah, penampang terlihat basah untuk
sementara waktu, ditemukan karatan di horizon B bagian bawah pada
kedalaman 80-120 cm, daerah daratan atau lereng bagian bawah.
Kelas 4: Agak Terhambat; tanah sering terlihat basah, karatan dan gejala reduksi
di seluruh profil, daerah datar/lereng bagian bawah.
Kelas 5: Terhambat; karatan Fe/Mn mulai di horizon Ap, sebagian profil
direduksi , lereng bawah/lembah.
Kelas 6: Sangat Terhambat; karatan Fe/Mn sedikit, tanah dalam keadaan reduksi,
daerah lembah.
Suyadi, dkk 29
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
c). Iklim
Iklim merupakan keadaan cuaca dalam jangka lama (15 tahun). Unsur-unsur
iklim yang penting adalah curah hujan dan suhu.
Tipe iklim yang digunakan adalah tipe iklim Koppen yang trediri dari 5 tipe
yaitu A, B, C, D dan E. sedangkan tipe curah hujan yang digunakan adalah tipe
Schmidt dan Ferguson, yang didasarkan atas nilai Q yaitu perbandingan bulan kering
( 60 mm/bulan) dan bulan basah ( 100 mm/bulan) dalam satu tahun. Nilai Q yang
digunakan adalah nilai Q rata-rata selama 15 tahun.
Tipe-tipe curah hujan tersebut adalah tipe A s/d H.
e). Erosi
Erosi yang terjadi dinyatakan dalam jenis dan tingkat erosi
Suyadi, dkk 30
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Tanah dalam beberapa waktu tergenang air yang disebabkan oleh air hujan atau
banjir. Banjir dinyatakan dalam jangka waktu banjir dalam setiap tahunnya:
Tanpa : tidak pernah ada banjir sepanjang tahun.
Jarang : < 2 bulan banjir setiap tahunnya.
Sering : 2-6 bulan banjir setiap tahun.
Selalu : >6 bulan banjir setiap tahun.
g). Salinitas
Suyadi, dkk 31
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Ada enam horison (dan lapisan) utama dalam tanah yang masing-masing diberi
simbol dengan satu huruf besar yaitu (dari atas ke bawah): O, A, E, B, C dan R. (Soil
Survey Staff, 1990).
Horison atau lapisan O : horison atau lapisan yang didominasi oleh bahan organik, baik
( Nama lama Ao; Aoo) yang selalu jenuh air, yang draenasenya telah dip[erbaiki,
ataupun yang tidakpernah enuh air.
Horison A : horison mineral di bawah permukaan tanah atau di bawah
(Nama lama A1) horison O dan mempunyai salah satru atau kedua sifat berikut:
(1) merupakan akumulasi bahan organik halus yang
tercampurdengan bahan mineral dan tidak didominasi ileh
sifat horison E atau B.
(2) menunjukkan sifat sebagai hasil pengolahan tanah.
Horison E : horison mineral dengan sifat utama terjadi pencucian liat, besi,
(Nama lama A2) alumunium, atau kombinasinya, bahan oraganik, dan lain-lain
sehingga tertinggal pasir dan debu, umnya berwarna pucat.
Warna tersebur lebih terang daripada horison A di atasnya
atau horison B dibawahnya.
Horison B : horison yang terbentuk di bawah horison A, E, atau O dan
(Nama lama B2) mempunyai salah satu atau lebih sifat berikut:
(1) terdapat penimbunan (illuviasi) liat, besi, alumunium,
humus, karbonat, gipsum atau silika (salah satu atau
kombinasinya);
(2) ada bukti terjadinya pemindahan karbonat;
(3) penimbuna relatif (rsidual seskuoksida Fe2O3 dan Al2O3)
akibat pencucian silika;
(4) selaput seskuosida sehingga mempunyai warna dengan
value lebih rendah, kroma lebih tinggi dan hue lebih merah
daripada horison di atas atau di bawahnya, tanpa adanya
iluviasi besi;
(5) perubahan (alterasi) yang menghsilkan liat, atau
membebaskan oksida atau kedua-duanya dan yang
mempunyai bentuk struktur granuler, gumpal, atau
prismatik bila perubahan volume menyertai perubahan
kelembaban tanah; atau
(6) mudah hancur atau rapuh (brittle) dan mempunyai bukti
alterasi lain seperti struktur prismaatik atau ada akumulasi
liat iluviasi.
Horison atau lapisan C : horison atau lapisan, tidak termasuk batuan keras, yang sedikit
Suyadi, dkk 32
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
(Nama lama) dipengaruhi oleh proses pedogenik, dan tiadak mempunyai sifat
horison O, A, E, atau B, bahan lapisan C dapat serupa ataupun
tidak serupa dengan bahan yang membentuk sollum diatasnya.
Ternasuk laisan C adaalah bahan endapan, saprolit, batuan yang
tidak padu (unconsilidated) dan bahan geologi yang agak keras
tetapi pcahan kering udara atau lebih kering dfapat hancur bila
direndam dalam air selama 24 jam, sedangkan bila lembab
dapat digali dengan cangkul.
Lapisan R: Batuan : lapisan batuan yang keras, pecahan kering udara atau lebih
keras kering tidak dapat hancur bila bila direndam dalam air selama
(Nama lama R atau D) 24 jam, dan batuan yang lembab tidak dapat digali dengan
cangkul. Batuan ini mungkin pecah-pecah tetapi jumlah retakan
sedikit sehingga hanya sedikit akar yang dapat menembus lewat
retakan.
c). Warna
Suyadi, dkk 33
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
yang meliputi He, value, chroma. Misalnya 10 YR 3/2. Warna-warna yang dicatat
meliputi:
Warna matriks
Warna karatan, konkresi.
Warna plintit
Dalam mementukan warna tanah harus diperhatikan:
Tanah dalam keadaan lembab.
Terlindung dari matahari langsung dan intensitas matahari cukup kuat.
Tanah tidak boleh mengkilap akibat cungkilan.
d). Tekstur
Di lapangan tekstur ditentukan dengan memijat tanah dengan jari-jari dan dirasakan
kasar halusnya sebagai berikut:
Suyadi, dkk 34
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
e). Struktur
Struktur tanah merupakan susunan butir tanah secara alami membentuk
agregat, antara agregat-agregat tersebut dibatasi oleh suatu bidang belah alami.
Struktur tersebut meliputi bentuk, ukuran dan perkembangan.
Bentuk-bentuk struktur tanah:
Lempeng (platy): pl : sumbu bidang horizontal lebih panjang dari sumbu vertikal.
Prisma (prismatic): p: sumbu vertikal lebih panjang dari sumbu horizontal, bidang-
bidang membentuk sudut.
Tiang (columnar): cp: seperti prisma, namun bidang-bidang membentuk sudut
membulat.
Sudut (angular blocky): ab: sumbu vertikal sama panjang dengan sumbu
horinzontal, batas dua bidang membentuk sudut lancip.
Kubus (blocky): b: seperti sudut, namun batas dua bidang membentuk sudut tegak
lurus
Gumpal (sub-angular blocky): sb: seperti kubus, batas bidang-bidang membentuk
sudut membulat
Butir (granular): g: seperti bola, sedikit berpori
Remah (crumb): cr: seperti bola dengan ukuran agak besar, sangat berpori.
Suyadi, dkk 35
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Ukuran struktur: tergantung pada bentuk struktur seperti pada tabel berikut:
e). Konsistensi
Konsistensi tanah merupakan manesfestasi gaya adhesi dan kohesi yang
bekerja pada masa tanah pada kondisi basah, lembab maupun kering yang diamati
dengan cara meremas, memijat atau memirid dengan tangan.
Konsistensi dalam keadaan basah (kadar air lebih dari kapasitas lapang) ditunjukan
oleh adanya kelekatan (derajat adhesi) dan plastisitas (derajat kohesi) yang ditentukan
dengan memijit atau memirid tanah diantara ibu jari dan telunjuk.
Derajat kelekatan
Tidak lekat (so) : Tidak ada tanah tertinggal
Agak lekat (ss) : Tanah tertinggal pada salah satu jari
Lekat (s) : Tanah tertinggal pada kedua jari
Sangat lekat (vs) : sukar untuk melepaskan kedua belah jari
Plastisitas
Tidak plastis (po) : Tidak dapat terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah
berubah bentuk
Agak plastis (sp) : terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah berubah bentuk
Sangat plastis (vp) : dapat terbentuk grlintir tanah, tahan terhadap tekanan
Suyadi, dkk 36
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Konsistensi dalam keadaan lembab (kadar air sekitar kapasitas lapang) ditentukan
dengan meremas masa tanah dengan telapak tangan
Lepas (l) : butir-butir tanah tidak terikat, melekat bila ditahan
Sangat gembur (vf) : dengan sedikit tekanan bisa bercerai, bila digenggam mudah
bergumpal, meleket bila ditekan
Gembur (f) : bila diremas dapat bercerai, bila digenggam masa tanah
bergumpal, melekat bila ditekan
Teguh (t) : masa tanah tahan terhadap remasan, hancur dengan trkanan
besar
Sangat teguh (vt) : masa tanah tahan terhadap remasan, tidak mudah berubah
bentuk
Ektrem teguh (et) : masa tanah sangat tahan terhadap remasan, bila digenggam
bentuk tidak berubah
Konsistensi dalam keadaan kering (kadar air kurang dari titik layu permanen)
ditentukan dengan meremas/ menekan masa tanah dengan telapak tangan
Lepas (l) : butir-butir tanah lepas, satu dengan lainnya tidak terikat
Lunak (s) : dengan sedikit tekanan tanah bercerai menjadi butir
Agak keras (sh) : agak tahan terhadap tekanan, masa tanah rapuh
Keras (h) : tahan terhadap tekanan masa tanah dapat dipatahkan dengan
tangan (tidak dengan jari)
Sangat keras (vh) : masa tanah sukar dipatahkan dengan tangan
Ektrem keras (eh) : masa tanah tidak dapat dipatahkan dengan tangan
f). Karatan
Karatan adalah gejala kelainan warna pada tanah, akibat proses oksidasi daan
reduksi. Karatan dalam penampang tanah ditentukan: jumlah, ukuran, bandingan, batas
dan bentuknya.
Jumlah
Sedikit (sd) : < 2 % dari luas permukaan
Biasaa (bi) : 2-10 %
Suyadi, dkk 37
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Suyadi, dkk 38
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
Beasr : 1-2 cm
Jumlah
Sedikit : < 3 %
Sedang: 3-15 %
Banyak : 15-50%
Banyak sekali : >50%
Kekerasan
Lunak : dapat dipecah dengan ibu jari ddan telunjuk
Sedang : dapat dipecah dengan kuku, tidak pecah kalau dipijit
Keras : baru pecah kalau dipukul dengan palu
Penyebarannya
Tersebar rata dalam penampang
Tersebar di sebagian tempat dalam penampang
Merupakan suatu lapisan
g). Perakaran
Ditemukan ukuran, jumlah dan dalamnya akar-akar yang ada dalam penampang
Ukuran
Halus : < 2 mm
Sedang: 2-10 mm
Kasar : > 10 mm
Jumlah :
Sedikit :<2%
Sedang : 2-20 %
Banyak : > 20 %
Suyadi, dkk 39
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
i). Padas
Padas adalah peningkatan kerikil , konkresi autu bagian-bagian tanah oleh bahan
pengikat seperti besi/aluminium, karbonat, silikat kecuali liat. Keadaannya tidak
tergantung pada kadar air.
Lunak : rapuh dan mudah dipecahkan dengan tangan, mudah ditembus bor
tanah.
Sedang : keras, tahan tekanan mudah dipecah dengan palu, sukar ditembus bor
tanah.
Keras : sukar dipecah dengan palu, tidak dapat ditembus bor tanah
Uji pirit dilakukan dengan menambahkan larutan H2O2 30 % pada contoh tanah
dengan perbandingan 1:4, kemudian diaduk, dibiarkan 15 menit dan diukur pH-nya.
Jika pH tanah < 2,5 menunjukan tanah tersebut banyak mengandung pirit. Selain itu
untuk pengecekan awal cukup banyak atau tidaknya pirit dapat dilihat dari derajat
pembuihanseperti uraian berikut:
1.1. : tidak berbuih, tidak berbau
1.2 : tidak berbuih, berbau
2.1. : berbuih lambat, tidak berbau
2.2. : berbuih lambat, berbau
3.1 : berbuih cepat, tidak berbau (< 1 menit)
3.2 : berbuih cepat, berbau (< 1 menit)
R Matang Teguh, tidak melekat pada tangan, dan apabila n< 0,7
diperas tidak dapat lewat sela jari-jari
Suyadi, dkk 40
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
NR Hampir matang Agak teguh, cenderung melekat pada tangan, 0,7 < n < 1
adan bila diperas dapat melalui sela jari-jari
HR Setengah matang Agak lunak,melekat pada tangan, dan apabila 1< n< 1,4
dipers dapat melalui sela jari-jari dengan
mudah
NU Hampir mentah 1,4 < n < 2
Lunak, tetap melekat pada tangan dan apabila
diperas dapat dengan mudah melalui sela jari-
jari tangan
U Mentah n>2
Lumpur encer, tidak dapat diremas
Suyadi, dkk 41
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan Pelaksanaan Survei Tanah
3. Jelaskan cara pembuatan profil tanah yang mewakili suatu jenis tanah! Untuk
satuan tanah yang luas berapa sebaiknya dibuat profil pewakil?
4. Kapan pencatatan warna tanah sebaiknya dilakukan?. Unsure apa saja yang perlu
dicatat dalam pengamatan warna tanah?
5. Bagaimanakan cara membatasi horizon-horizon tanah di lapang?
6. Dalam survei tanah di daerah rawa sifat tanah apa saja yang harus dicatat?
Daftar Pustaka
1. Sarwono Hardjowigeno, 1985. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Materi Pelatihan
2. Sitorus, S.R.P. 1989. Survei Tanah dan Penggunaan Lahan. Jurusan Tanah,
Faperta, IPB.
3. Soil Survey Staff. 1951. Soil Survey Manual. USDA. Agriculture Handbook No.
18, Washington, D.C
Suyadi, dkk 42