Anda di halaman 1dari 19

stela

Disusun Oleh:
Hasna Luthfiyyan F 155040201111215
Moh. Fathur Rizqi 155040201111221
Ivan Fardiansyah 155040201111255
Rokibatun Daniyah 155040201111256

Kelas: O

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
Makalah Survey Tanah dan Evaluasi Lahan, makalah ini membahas tentang
Pasca Suevey Tanah. Makalah ini diharapkan mampu menjadi bahan tinjauan
serta meningkatkan pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan.
Terimakasih kami sampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini masih banyak kekurangan sehingga
diharapkan untuk memberikan kritik dan saran bagi penyusun. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak khususnya bagi penyusun.

Malang, 30 Maret 2017

Tim Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1

1.2 Tujuan.............................................................................................................1

1.3 Manfaat..........................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................2

2.1 Penanganan Data Hasil Survey Tanah...........................................................2

2.1.1 Kompilasi Data.......................................................................................2

2.1.2 Penamaan / Klasifikasi Tanah.................................................................3

2.1.3 Pembuatan Kisaran Sifat Lahan............................................................10

2.2 Macam Analisis Laboraturium.....................................................................12

2.3 Pembuatan Peta Tanah.................................................................................14

BAB III PENUTUP...............................................................................................15

3.1 Kesimpulan..................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Survei tanah adalah pengamatan yang dilakukan secara sistematis, disertai


dengan mendeskripsikan, mengklasifikasikan dan memetakan tanah disuatu
daerah tertentu. Setelah melakukan survey tanah adalah melakukan analisis hasil
survey tanah agar didapatkan hasil yang tepat dan sesuai dengan teori. Data-data
hasil pengamatan di lapangan harus ditangani secara sistematis agar lebih mudah
dalam melakukan kompilasi data.
Klasifikasi tanah adalah cara mengumpulkan dan mengelompokkan tanah
berdasarkan kesamaan dan kemiripan sifat dan ciri-ciri tanah, kemudian diberi
nama agar mudah diingat dan dibedakan antara tanah yang satu dengan lainnya.
Setiap jenis tanah memiliki sifat dan ciri yang spesifik, potensi dan kendala untuk
penggunaan tertentu. Dalam pembuatan kisaran sifat lahan dapat dilihat dari hasil
analisis laboraturiun dan menentukan kunci jenis tanah.
Hasil dari survei tanah adalah peta tanah beserta legenda peta dan laporan.
Peta tanah menyajikan informasi tentang jenis (klasifikasi tanah), lokasi (sebaran)
dan luasan masing-masing tanah yang terdapat pada masing-masing satuan peta.
Uraian beberapa sifat tanah yang penting untuk tiap satuan peta disajikan pada
legenda peta tanah. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai hal-hal yang
terkait dengan kegiatan pasca survey tanah.
1.2 Tujuan

1. Mengetahui Penanganan Data Hasil Survey Tanah


2. Mengetahui Analisis laboraturium untuk hasil survey tanah
3. Mengetahui cara pembuatan peta tanah dari hasil survey tanah yang dilakukan
1.3 Manfaat

1. Menjadi mengerti tentang Penanganan Data Hasil Survey Tanah


2. Menjadi mengerti Analisis laboraturium untuk hasil survey tanah
3. Menjadi mengerti cara pembuatan peta tanah dari hasil survey tanah yang
dilakukan

1
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penanganan Data Hasil Survey Tanah

Menurut Rayes (2007), Penanganan data setelah pengamatan lapangan terdiri dari:
1. Penanganan awal contoh tanah yang akan dianalisis (pra-analisis).
2. Analisis contoh tanah di laboratorium.
3. Klasifikasi-ulang tanah berdasarkan data hasil analisis laboratorium.
4. Pembuatan peta tanah final serta legenda peta
5. Melakukan evaluasi lahan dan pembuatan peta evaluasi lahan.
6. Penyusunan laporan akhir.
Data-data hasil pengamatan di lapangan harus ditangani secara sistematis
agar lebih mudah dalam melakukan kompilasi data. Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya, bahwa setelah selesai melakukan deskripsi minipit di lapangan, akan
langsung dilakukan klasifikasi tanah pada kategori yang telah ditentukan
(seri/famili/subgroup) dan nama taksa tanah tersebut harus tercatat pada setiap
kartu minipit. Karena setiap survei tanah selalu terdiri dari beberapa regu, maka
keragaman di antara regu-regu tersebut akan selalu ada, terutama dalam penamaan
tanah. Oleh karena itu sebelum dilakukan proses lebih lanjut, perlu dilakukan
penyeragaman dan pemilahan tanah-tanah yang memiliki taksa yang sama.
(Rayes, 2007)

2.1.1 Kompilasi Data


Kompilasi data menurut Kbbi adalah suatu kegiatan pengumpulan data
untuk diseleksi, ditabulasi, dan dikelompokkan secara sistematis sesuai dengan
kebutuhan data yang diperlukan. Dalam survey tanah kompilasi data diperlukan
dalam pembuatan peta tanah yang benar. Pengelolaan data bisa menggunakan
software pada komputer seperti MSAcces, Excel, Tabel dalam word, dan aplikasi
yang memiliki fasilitas sortasi lainnya.
langkah dalam pengelolaan data yaitu:
1. Memasukan data kedalam database pada log book atau spreadsheet dalam
komputer
2. Data ditata sesuai kebutuhan yang dikehendaki

2
3. Data diarsip dan dijaga agar selalu siap saat digunakan
2.1.2 Penamaan / Klasifikasi Tanah
Klasifikasi tanah adalah cara mengumpulkan dan mengelompokkan tanah
berdasarkan kesamaan dan kemiripan sifat dan ciri-ciri tanah, kemudian diberi
nama agar mudah diingat dan dibedakan antara tanah yang satu dengan lainnya.
Setiap jenis tanah memiliki sifat dan ciri yang spesifik, potensi dan kendala untuk
penggunaan tertentu (Subardja, 2014).
Tujuan dari klasifikasi tanah adalah:
1. Menata ataupun lebih mengorganisasi tanah.
2. Mengetahui sebuah hubungan antara individu dengan tanah.
3. Lebih memudahkan mengingat berbagai macam sifat tanah menurut
penggolongannya.
4. Mengelompokkan berbagai tanah.

Manfaat klasifikasi tanah itu sendiri adalah:


1. Jika kita sudah mengetahui tanah jenis apa lahan kita, kita dapat menaksir
sifat tanah itu sendiri.
2. Kita dapat mengetahui lahan mana yang termasuk lahan terbaik.
3. Dapat mengira-ira produktivitas yang akan di hasilkan apabila kita
memanfaatkan lahan tersebut.
4. Kita pun mampu menentukan jenis apakah yang cocok ditanami di lahan

tersebut.
Macam Sistem Klasifikasi Tanah
1. Pusat Penelitian Tanah Bogor
Sistem Klasifikasi Tanah yang digunakan oleh Pusat Penelitian Tanah
Bogor adalah sistem yang dikembangkan oleh Dudal- Soepraptohardjo (1957),
sistem tersebut sebenarnya mirip dengan sistem yang berkembang di AS oleh
Baldwin, Kellogdan Thorp (1938) : Thorn dan Smith (1949) dengan beberapa
modifika.
Sistem klasifikasi tanah oleh Dudal dan Soepraptohardjo (1957) direvisi
oleh Soepraptohardjo (1961), dan Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981).
Kemudian Suhardjo et al. (1983) untuk keperluan survei dan pemetaan tanah
mendukung Proyek Transmigrasi di luar Jawa. Sistem klasifikasi tanah terakhir

3
telah disesuaikan dengan perkembangan ilmu tanah di Indonesia yang banyak
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanah dunia.
Pada tahun 1974 dan 1975, mulai diperkenalkan sistem klasifikasi tanah
dunia, yaitu Soil Unit dari FAO/UNESCO (1974) dan Soil Taxonomy dari
USDA (1975). Praktis sejak tahun 1975 berkembang tiga sistem klasifikasi tanah
di Indonesia. Sistem Soil Taxonomy dinilai oleh para pakar memiliki banyak
kelebihan, sehingga lebih banyak dipelajari dan dipromosikan oleh para peneliti
dan staf pengajar perguruan tinggi lulusan dari Amerika Serikat dan Eropa untuk
diterapkan pada kegiatan pemetaan tanah di Indonesia.
Gencarnya promosi Penggunaan Soil Taxonomy di lembaga lembaga
penelitian dan perguruan tinggi serta kebutuhan mendesak untuk tujuan survei dan
pemetaan tanah, maka pada Kongres Nasional V Himpunan Ilmu Tanah Indonesia
di Medan tahun 1989 telah memutuskan penggunaan Soil Taxonomy sebagai
sistem klasifikasi tanah yang formal digunakan secara nasional untuk keperluan
survei dan pemetaan tanah, pendidikan ilmu tanah di pe guruan tinggi dan
praktek-praktek pertanian di Indonesia (Hardjowigeno 193).
Secara besar-besaran penggunaan klasifikasi Taksonomi Tanah melalui
kegiatan survei dan pemetaan tanah tingkat tinjau P. Sumatera (Proyek LREP-I,
1986-1990) dan pemetaan tanah tingkat semidetil di daerah pengembangan di 18
provinsi di luar P. Sumatera (Proyek LREP-II, 1992-1996), serta kegiatan-
kegiatan survei dan pemetaan tanah sampai saat ini. Dalam Kongres Nasional
Himpunan Ilmu Tanah 2011 di Surakarta, para pakar telah sepakat untuk
menggunakan kembali Sistem Klasifikasi Tanah Nasional dan secara bertahap
sistem tersebut disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna sesuai
dengan kondisi sumberdaya tanah yang ada dan perkembangan IPTEK tanah di
Indonesia.

2. FAO/UNESCO (1974)
Sistem klasifikasi tanah FAO atau lebih dikenal dengan satuan tanah FAO
dibangun tahun 1974 dalam rangka penyusunan peta tanah dunia skala

4
1:5.000.000 oleh Sistem ini dikembangkan dengan dua kategori yaitu satuan tanah
(soil units) dan sub-unit yang setara dengan Jenis Tanah dan Macam Tanah
menurut sistem klasifikasi tanah nasional. Dalam sistem ini, pengklasifikasian
tanah menggunakan horison penciri. Nama dan kriteria horison penciri sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanah di dunia, dan
sebagian merujuk kepada sistem Taksonomi Tanah. Nama-nama tanah diambil
terutama dari nama-nama tanah Rusia serta Eropa Barat, Canada dan Amerika
Serikat, dan beberapa nama baru yang dikembangkan untuk tujuan khusus agar
dapat menampung dan mewadahi semua jenis tanah di dunia.
Sistem ini dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi tanah
dan potensi penggunaannya terkait dengan pertanian khususnya dalam pemenuhan
kebutuhan pangan dunia. Dalam sistem ini dikenal nama-nama tanah yang
umumnya juga sudah dikenal di Indonesia, antara lain Gleysol, Regosol, Lithosol,
Renzina, Andosol, Podzol. Nama tanah lainnya yang agak asing diantaranya
adalah Solonetz, Yermosol, Xerolsol, Kastanozem, Chernozem, Phaeozem, dan
lain sebagainya. Dalam perkembangannya, sistem FAO ini ikut mewarnai sistem
klasifikasi tanah nasional.
3. USDA = Soil Taxonomy (USDA, 1975; Soil Survey Satff, 1999; 2003).
Sistem Soil Taxonomy merupakan sistem klasifikasi tanah yang
dibangun oleh para pakar ilmu tanah dunia, secara komprehensif, sistematik dan
menggunakan pendekatan morfometrik (kuantitatif). Sistem ini menuntut data
yang lengkap dengan metode analisis yang baku. Tata nama dibuat dari bahasa
Latin dan atau Inggris. Revisi buku panduan dilakukan sangat cepat hampir setiap
dua tahun sekali. Kondisi ini menghambat perluasan penggunaan sistem tersebut
serta menyulitkan pengguna data. Versi terakhir dari publikasi buku kunci
taksonomi tanah Keys to Soil Taxonomy adalah Edisi-12 tahun 2014.
Klasifikasi tanah dibagi dalam enam kategori, yaitu Ordo, Sub-Ordo, Great group,
Sub-Group, Famili dan Seri (Soil Survey Staff 2010). Secara umum taksonomi
tanah juga membagi tanah berdasarkan asal bahan induknya menjadi dua bagian,
yaitu tanah organik (Histosol) dan tanah-tanah mineral. Di Indonesia telah
diinventarisir sebanyak 10 Ordo tanah dari 12 Ordo tanah yang ada di dunia,

5
yaitu: Histosol, Entisol, Inceptisol, Andisol, Mollisol, Vertisol, Alfisol, Ultisol,
Spodosol, Oxisol. Hanya dua Ordo tanah yang tidak dijumpai di Indonesia yaitu:
Aridisol, tanah pada daerah iklim sangat kering (aridik), dan Gelisol, tanah pada
daerah sangat dingin (gelik,es).
Untuk memudahkan penggunaan sistem klasifikasi Taksonomi Tanah di
Indonesia, para peneliti dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat telah
mengalih6 bahasakan buku Keys to Soil Taxonomy ke dalam bahasa Indonesia.
Alih bahasa ini terwujud melalui kerjasama internasional yang menangani
masalah klasifikasi termasuk klasifikasi tanah tropika. Buku pertama yang
dialihbahasakan adalah Keys to Soil Taxonomy edisi keempat (Soil Survey Staff
1990), selanjutnya Keys to Soil Taxonomy edisi kedelapan (Soil Survey Staff
1998) dialihbahasakan menjadi Kunci Taksonomi Tanah Edisi Kedua (Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat 1999). Buku ini berbentuk buku saku yang
sangat praktis untuk digunakan di lapangan.

Konsep Dasar Klasifikasi Tanah


1 Pendekatan Morfogenesis
Konsepsi dasar membangun sistem klasifikasi tanah pada awalnya lebih ditujukan
untuk keperluan pertanian dalam arti luas. Namun akhir-akhir ini klasifikasi tanah
tidak hanya untuk pertanian tetapi juga untuk tujuan non-pertanian, antara lain
untuk perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jalan dan bangunan gedung
(engineering), pemukiman, septic tank, bahan tambang, bahan industri, dan lain-
lain. Sistem klasifikasi tanah nasional yang dibangun harus sederhana, bermanfaat
bagi masyarakat luas, mudah dipahami dan dipraktekkan oleh para pengguna. Hal
lain yang sangat penting adalah bahwa semua jenis tanah yang ada di Indonesia
dapat ditampung dalam sistem tersebut.
Sistem klasifikasi tanah yang telah ada sebelumnya, telah dikenal dan digunakan
secara luas untuk keperluan survei dan pemetaan tanah serta praktek pertanian di
Indonesia. Sebelumnya dikenal sebagai sistem Dudal dan Soepraptohardjo (1957),
kemudian direvisi oleh Soepraptohardjo (1961, 1978). Sistem ini dibangun
dengan pendekatan kualitatif berdasarkan morfogenesis tanah, yaitu sifat

6
morfologi tanah dan proses pembentukannya (genesis). Faktor pembentuknya
terutama bahan induk tanah yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap
sifat dan jenis tanah yang terbentuk. Dalam perkembangannya Suhardjo dan
Soepraptohardjo (1981) dan Staf
Peneliti Pusat Penelitian Tanah (1983) menyusun klasifikasi tanah khusus untuk
mendukung Proyek Transmigrasi di luar Jawa. Sistem ini disusun menggunakan
pendekatan semi-morfometrik, yaitu peralihan dari morfogenesis ke morfometrik.

2 Perkembangan Morfologi Tanah


Berdasarkan bahan induk pembentuknya, tanah dibedakan atas dua kelompok
besar, yaitu tanah organik (tanah gambut) dan tanah mineral. Tanah organik dapat
dibedakan lebih rinci berdasarkan tingkat dekomposisi atau kematangannya.
Sedangkan tanah mineral dibedakan berdasarkan tingkat perkembangannya
menurut susunan horison yang terbentuk, terbagi atas: (1) Tanah-tanah yang
belum berkembang, memiliki susunan horison (A)R dan atau A-C, dan (2) Tanah-
tanah yang sudah berkembang, memiliki susunan horison lengkap A-B-C atau A-
E-B-C. Klasifikasi tanah nasional ditetapkan berdasarkan sifat-sifat horison
penciri (diagnostic horizon). Sifat penciri dapat diukur dan diamati secara
kualitatif dari sifat morfologi tanah di lapangan, dan secara kuantitatif dari hasil
analisis tanah di laboratorium.
Tata nama tanah terbagi dalam dua tingkatan/kategori, yaitu Jenis Tanah dan
Macam Tanah. Nama-nama Jenis Tanah mengacu pada sistem klasifikasi Dudal
dan Soepraptohardjo (1957) dengan sedikit modifikasi dan penambahan yang
disesuaikan dengan perkembangan klasifikasi tanah dunia. Sedangkan pada
tingkat/kategori Macam Tanah menggunakan warna tanah pada horison penciri
bawah (B-warna). Hasil kajian beberapa peneliti menyimpulkan bahwa pada
tanah-tanah tertentu penggunaan warna tanah pada Macam Tanah kurang
mencerminkan karakteristik dan potensi tanah yang sesungguhnya. Sebagai
contoh, warna tanah merah mencerminkan sifat Oxisols yang telah mengalami
perkembangan lanjut, tetapi pada tanah Mediteran warna merah tidak
mencerminkan sifat perkembangan lanjut. Oleh karena itu Suhardjo dan

7
Soepraptohardjo (1981) menggunakan nama-nama atau istilah dari sifat atau
horison penciri dari Sistem Taksonomi Tanah USDA dan atau Unit Tanah
FAO/UNESCO. Sifatsifat tersebut tetap dilanjutkan dipakai dalam klasifikasi
tanah nasional dengan berbagai revisi dan penyesuaian.

3 Horison Penciri
Horison penciri yang digunakan dalam penetapan klasifikasi tanah terdiri
dari horison A (horison atas, epipedon) dan horison B (horison bawah
permukaan). Horison A merupakan lapisan tanah permukaan setebal 25 cm atau
kurang, berwarna lebih gelap dibanding horison di bawahnya, dan banyak
dipengaruhi oleh aktivitas biologi. Beberapa epipedon yang umum ditemukan dan
memiliki sifat-sifat penciri sebagai berikut:
1. Okrik : Ketebalan 18 cm atau berwarna cerah (value/chroma > 3).
2. Umbrik : Ketebalan 18 cm, berwarna gelap (value/chroma 3), kadar C
organik > 2,5%, atau 0,6% lebih tinggi dari horison C, dan Kejenuhan
Basa (KB) < 50%.
3. Molik : Ketebalan 18 cm, berwarna gelap (value/chroma 3), kadar C organik
2,5% atau 0,6% lebih tinggi dari horison C, dan KB 50%.
4. Histik : Bahan tanah organik dengan ketebalan 20-60 cm, mengandung 75%
serat-serat spagnum atau ketebalan 20-60 cm dan berat volume (lembab)
< 0,1 gr/cm3, atau ketebalan 20-40 cm; atau horison Ap dengan ketebalan
sampai 25 cm, kadar C organik 16% jika kadar liat > 60%, atau 8%
tanpa kadar liat, atau 8 ditambah (persentase liat dibagi 7,5) persen atau
lebih jika fraksi liat kurang dari 60%.

Horison B merupakan lapisan di bawah epipedon, ketebalan 25 cm atau


lebih dan memiliki sifat-sifat penciri sebagai berikut:
1. Kambik : Tidak mempunyai kenaikan liat secara nyata, dan Kapasitas Tukar
Kation (KTK) liat > 16 cmol(+)/kg.
2. Oksik : Ketebalan 30 cm, tidak mempunyai kenaikan liat secara nyata, KTK
liat 16 cmol(+)/kg.

8
3. Argilik :
- Jika horison A mempunyai kadar liat 15%, maka kenaikan liat horison
B adalah 3% secara absolut (misal: 10% + 3% = 13%).
- Jika horison A mempunyai kadar liat 15-40%, maka kadar liat horison B
adalah 1,2 kali horison A (misal: 30% + 6% = 36%).
- Jika horison A mempunyai kadar liat > 40%, maka kenaikan liat horison
B adalah 8% secara absolut (misal: 40% + 8% = 48%).
4. Natrik : Mengalami akumulasi liat dengan kandungan Na tinggi (15%).
5. Kandik : Mempunyai KTKliat < 16 cmol(+)/kg, dan KTK efektif 12
cmol(+)/kg, dan memiliki salah satu dari sifat-sifat berikut:
- Jika horison A mempunyai kadar liat 20%, maka kenaikan liat horison
Badalah 4% secara absolut (misal: 20% + 4% = 24%).
- Jika horison A mempunyai kadar liat 20-40%, maka kadar liat horison B
adalah 1,2 kali horison A (misal: 30% + 6% = 36%).
- Jika horison A mempunyai kadar liat > 40%, maka kenaikan liat horison
B adalah 8% secara absolut (misal: 40% + 8% = 48%).
6. Albik : Mengalami pencucian liat dan unsur lainnya dari horison A (eluviasi),
warna kelabu putih.
7. Sulfurik : Ketebalan 15 cm, mengandung asam sulfat, pH 3,5.
8. Sulfidik : Ketebalan 15 cm, mengandung pirit 1,46%, pH buih (H2O2) < 2,5.
9. Spodik : Ketebalan > 2,5 cm tersementasi kontinyu oleh senyawa komplek
organikbesi atau organik-aluminium, berpasir atau berlempung kasar.
10. Kalkarik : Mengandung bahan kapur, membuih jika ditetesi larutan HCl 15%.
11. Kalsik : Ketebalan 15 cm, mengandung kalsium karbonat (CaCO3) 15%,
atau 5% lebih tinggi dari horison C.
12. Gipsik : Ketebalan 15 cm, mengandung senyawa gipsum (MgCO3) 5%
lebih tinggi dari horison C.
13. Duripan : Tersementasi Si kontinyu secara lateral, padas keras, tidak pecah
jika direndam dalam air.
14. Fragipan : Ketebalan 15 cm, horison tersementasi Si, padas tidak keras,
pecah jika direndam dalam air.

9
15. Plintik : Mengandung kongkresi dan kerikil besi > 5% berdasarkan volume.
16. Vertik : Mempunyai rekahan selebar >1 cm sedalam 50 cm.
17. Ortoksik : Mempunyai KTK liat 16 < 24 cmol(+)/kg.

2.1.3 Pembuatan Kisaran Sifat Lahan


Dalam pembuatan kisaran sifat lahan dapat dilihat dari hasil analisis
laboraturiun dan menentukan kunci jenis tanah. Kunci penetapan Jenis Tanah
berdasarkan pada perkembangan horison tanah dan sifat penciri lainnya, secara
ringkas disajikan pada Tabel 1, sedangkan uraiannya disajikan pada Lampiran 1.
Perkembangan Susunan Horison: AR, AC, ABC atau AEBC, dimana: A (Horison
Atas), E dan B (Horison Bawah), C (Bahan Induk), dan R (Batuan Induk). Sifat
penciri tanah lainnya adalah: KTK-liat, Kejenuhan Basa (KB), kenaikan liat,
kandungan C-organik tanah. Pada Jenis Tanah terdapat beberapa perubahan nama
dan penambahan nama baru, yaitu Ranker menjadi Umbrisol, Brunizem menjadi
Molisol, dan menambah atau memunculkan kembali Jenis Tanah Lateritik
(Subardja, Djadja et all. 2014).

10
11
Tabel diperoleh dari (Subardja, Djadja et all. 2014).

2.2 Macam Analisis Laboraturium

Dalam melaukan analisis laboraturium terlebih dahulu memilih Contoh


Tanah yang Akan Dianalisis. Dari semua horizon dalam setiap profil pewakil
(pedon tipikal) dan satelitnya, diambil 1 kg contoh tanah untuk dianalisis
dilaboratorium. Macam analisis yang dilakukan terdiri atas: tekstur, C-organik, N-
total, P-tersedia, KTK (NH4OAc pH 7), Basa-basa tukar (NH4OAc pH 7), Al 1N
KCI (bila pH H2O <5.0), pH H2O dan pH KCl (1:1) dan lain-lain seperti
dijelaskan dalam subbab 5.4. Analisis laboratorium dilakukan menurut metoda
baku (ISRIC, 1992; USDA-NCRS, 1996; Puslittan Bogor, 1971 dalam Rayes,
2007), atau lainnya. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan terhadap seri-seri tanah
yang dijumpai di daerah survei. Kriteria penilaian sifat dan penentuan kendala
tanah mengacu pada sistem klasifikasi kemampuan kesuburan tanah (FCC)
(Sanchez, et al., 1982 dan Sanchez and Buol, 1985; Sanchez, et al.,2003 dalam
Rayes, 2007).

12
Menurut Esrawan (1981), dalam manalisis laboraturium untuk hasil survey
tanah ada dua macam yaitu:
1. Macam analisis tanah untuk keperluan klasifikasi berdasarkan Soil Taxonomy
a. Analisis Umum: Untuk semua horison pada semua propil
1.Tekstur
2. C-Organik, N-Total, C/N
3. KTK
4. Basa Tukar
5. pH (H2O) dan pH (KCL) (1:1 atau 1:25)
6. AL-Terekstrak 1 N KCL
7. H+ -BaCL2-Inethanolamine
8. Fe2O2 terekstrak CBD
b. Analisis Khusus: Untuk propil tertentu dalam memenuhi persyaratan Soil
Taxonomy
c. Analisis Khusus: Untuk horison tertentu dalam memenuhi persyaratan Soil
Taxonomy
2. Macam analisis tanah untuk tujuan khusus
a. Sifat fisik dan kerekayasaan
1. Infiltrasi
2. Permeabilitas
3. Air tersedia
4. Daya tahan / bearing capacity
5. Sifat kerekayasaan lainnya
b. Sifat Kimia tanah
1. Salinitas, alkalinitas
2. pH tanah segar, tanah yang dikeringkan, atau tanah yang dioksidasi
3. Zat toksik
4. Sifat-sifat berkaitan dengan kesuburan tanah dengan pengestrak berlain-
lainan
5. Eh
c. Sifat kimia air, air setempat dan yang masuk

13
1. Bahan padatan
2. Garam larut (EC, SAR)
3. Zat Toksik
4. pH

2.3 Pembuatan Peta Tanah

Peta tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran


taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari
permukaan bumi (Subardja, 2014). dalam setiap peta tanah berisikan lebih dari
satu satuan peta. pada setiap satuan peta tanah dapat terdiri atas satuan tanah
tertentu baik berupa asosiasi atau kompleks tanah.
Menurut Rayes (2007), Peta tanah final (peta yang dipublikasikan) dibuat
di atas peta dasar. Skala peta dasar ini harus mempunyai skala yang sama dengan
peta tanah final. Jika peta dasar telah memenuhi syarat, maka semua batas satuan
peta tanah yang diperoleh pada saat kegiatan survei lapangan harus dapat diplot
dengan teliti pada peta dasar publikasi. Beberapa karakteristik penting peta tanah
yang harus diperhatikan adalah kemudahan dibaca (map legibility), batasan
ukuran minimal dan tekstur peta.
Sifat kemudahan pembacaan peta dipengaruhi oleh beberapa hal berikut:
Jumlah poligon batasan satuan peta tanah. Pemilihan warna untuk membedakan
satuan peta. Tanda-tanda alam yang digambarkan pada peta. Kualitas penyajian
peta. Peta tanah yang baik harus mudah dibaca, berketelitian tinggi, mempunyai
satuan peta tanah (SPT) yang jelas, serta simbol dan legenda yang lengkap dan
sistematis

14
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kegiatan pasca survey tanah adalah melakukan analisis hasil survey tanah
agar didapatkan hasil yang tepat dan sesuai dengan teori. Data-data hasil
pengamatan di lapangan harus ditangani secara sistematis agar lebih mudah dalam
melakukan kompilasi data. Data hasil kompilasi dapat digunakan dalam
pembuatan klasifikasi tanah dan pembuatan kisaran sifat tanah. Setelah
pembuatan klasifikasi dan pembuatan kisaran sifat tanah akan dapat menghasilkan
peta tanah. Beberapa karakteristik penting peta tanah yang harus diperhatikan
adalah kemudahan dibaca (map legibility), batasan ukuran minimal dan tekstur
peta.

15
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, K. 2000. Tanggapan Tanaman Terhadap Kekurangan Air Makalah Seminar.


Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Rayes, Luthfi. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit Andi:
Yogyakarta
Soepraptohardjo, M. 1961. Sistim Klasifikasi Tanah di Balai Penyelidikan Tanah.
Kongres Nasional Ilmu Tanah (KNIT) I. Bogor.
Subardja, Djadja et all. 2014. Petunjuk Teknis Klasifikasi Tanah Nasional. Balai
Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian: Bogor.
Suhardjo, H. dan M. Soepraptohardjo. 1981. Jenis dan Macam Tanah di Indonesia
untuk Keperluan Survai dan Pemetaan Tanah Daerah Transmigrasi. Publ.
No. 28/1981. Proyek P3MT, Pusat Penelitian Tanah. Bogor.

16