Anda di halaman 1dari 50

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam ilmu tanah, dikenal dengan istilah profil tanah dimana profil tersebut
berkembang membentuk horizon. Horizon pada setiap profil tanah akan memliki
ciri-ciri yang berbeda baik dari warna, tekstur, stuktur, konsistensi dan hal lain yang
menjadi pencirinya.
Setiap lokasi memiliki jenis tanah yang berbeda-beda dimana jenis tanah
tersebut sangat mendukung kehidupan khususnya pada bidang pertanian. Dengan
adanya perbedaan jenis tanah, maka berbeda pula klasifikasi tanah pada tiap lokasi
dimana jenis tanah tersebut dapat mempengaruhi kemampuan lahan, kesesuaian
lahan dan cara pengeloaan lahannya. Untuk itu perlu dilakukannya survei tanah dan
evaluasi lahan.
Survei Tanah dan Evaluasi Lahan merupakan pekerjaan yang sangat
kompleks karena mencakup aspek fisik, ekonomi-sosial dan politik. Survei tanah
ini digunakan untuk mementukan jenis dan karakteristik tanah dalam suatu wilayah
dimana dengan mengetahui jenis dan krakteristik tanah maka dapat diketahui juga
pengelolaan dari suatu lahan. Sedangkan evaluasi lahan diperlukan untuk
menyusun rencana tata guna lahan disuatu wilayah dengan tepat dimana hal ini
sangat bermanfaat untuk pengembangan wilayah serta untuk melestarikan sumber
daya alam dan lingkungan.
Penetapan macam penggunaan lahan yang sesuai, harus mempertimbangkan
ketiga aspek yakni fisik, ekonomi sosial dan politik dengan bobot yang proporsional
dan seimbang. Oleh karena itu diperlukan adanya ketelitian dalam survei tanah dan
evaluasi lahannya.
Secara geografis Desa Tawangargo terletak pada posisi 7o53’ 35’ Lintang
Selatan dan 112o53’ 41’ Bujur Timur. Desa Tawangargo terletak di wilayah
Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang dengan posisi dibatasi oleh wilayah
desa dan Hutan. Desa Tawangargo merupakan sebuah Desa yang tidak terlepas
dari danya proses geomorfologi yang terjadi selama periode waktu tertentu. Desa
Tawangargo merupakan Desa yang terletak di dataran tinggi. Dari beberapa titik
yang diamati sebagai sampel, yang berpusat di salah satu areal budidaya memiliki
tingkat kelerengan yang tergolong kategori sedang sampai curam. Pada lahan

1
dengan kelerengan curam tentunya lebih banyak mengalami erosi dibandingkan
dengan lahan yang datar. Desa Tawangargo merupakan salah satu Desa yang
berbatasan langsung dengan Gunung Arjuno. Wilayah Desa Tawangargo secara
umum mempunyai ciri geologis berupa lahan tanah hitam yang sangat cocok
sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Bahan induk tanah di daerah desa ini
terbentuk dari batuan-batuan beku yang berasal dari kegiatan volkanik gunung
Arjuno. Sebagai objek observasi, Desa Tawangargo memiliki landform yang
bervariasi. Terdapat lima titik yang digunakan sebagai kajian objek observasi
yaitu mengenai bentang lahan, identifikasi jenis tanah,kemampuan lahan hingga
kesesuaian lahan.
Jika kita mengamati tanah secara detail, maka kita akan menemukan
bahwa tanah akan memiliki warna, tekstur, dan kondisi-kondisi lain yang
berbeda antara tempat satu dengan lainnya. Terkadang jarak 10 meter saja
tanah sudah memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh sebab itu, tanah yang
berbeda-beda tersebut di atas perlu untuk diklasifikasikan ke dalam lingkup yang
lebih spesifik agar dapat diketahui perbedaan-perbedaan tanah yang ada di wilayah
tersebut.
1.2 Tujuan
Adapun terdapat tujuan umum dan tujuan khusus dilakukannya fieldwork Survei
Tanah dan Evaluasi Lahan yaitu:
1. Untuk mengetahui sebaran jenis dan klasifikasi tanah
2. Untuk menganalisi kemampuan dan kesesuaian lahan untuk berbagai macam
penggunaan khususnya di bidang pertanian
3. Menghasikan peta zonasi suatu kawasan yang sesuai dengan kelas potensial
kopi, pinus dan jahe
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan survei tanah dan evaluasi lahan adalah
mahasiswa dapat menegtahui sebaran jenis tanah beserta klasifikasinya, dapat menganalisis
kemampuan dan kesesuaian lahan untuk berbagai macam penggunaan khususnya di bidang
pertanian dan dapat menghasilkan peta zonasi suatu kawasan yang sesuai dengan kelas
potensial kopi, pinus dan jahe

2
II. METODE PELAKSANAAN

2.1 Tempat dan Waktu


Kegiatan Fieldwork dilakukan di UB Forest, Dusun Sumbersari, Desa Tawangargo
Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada hari Jumat tanggal 28 April 2017 sampai
hari Minggu tanggal 30 April 2017.

2.2 Alat dan Bahan


2.2.1 Alat
Adapun dibawah ini alat-alat yang diperlukan dalam pelaksaan fieldwork survei
tanah dan evaluasi lahan, yang terdiri dari:
Tabel 1. Alat
No ALAT FUNGSI
1. Survei Set
- Tas survei set Untuk meletakkan sabuk profil, klinometer, kompas, botol,
buku munsell, pisau, panduan survei
- Sabuk Profil Untuk mengukur kedalaman horizon atau penanda batas
horizon
- Meteran Untuk pengukur ketebalan horizon
- Panduan Survei Untuk acuan dalam analisis survei tanah di lapang
- Botol Untuk wadah penampung air
- Pisau lapang Untuk menentukan batas horizon dan mengambil sample per
horizon
- GPS Untuk penentuan titik survei
- Klinometer Untuk pengukur kelerengan di sekitar titik survei
- Kompas Untuk menentukan arah mata angin
- Buku Munsel Untuk Acuan Pengukuran Warna dan struktur
Colour Chart
- Buku Kunci Untuk acuan pengklasifikasian jenis tanah
Taksonomi Tanah
2. Bor Untuk alat pengebor tanah dalam minipit
3. Cangkul Untuk menggali lubang minipit
4. Sekop Untuk merapikan (memapras) galian tanah yang akan atau
memudahkan dalam mengamati.
5. Spidol/ puplpen OHP Untuk mendeliniasi dan menandai setiap titik survei pada peta
dan memberi tanda pada setiap sampel tanah yang diambil
6. Fial film Untuk media sampel tanah yang akan diukur pH-nya
7. Buku metode Untuk panduan survei sumberdaya lahan
inventarisasi
8. Kamera Untuk mendokumentasi keadaan tanah dan fisiografi di lokasi
survei

3
2.2.2 Bahan
Adapun dibawah ini bahan-bahan yang diperlukan dalam pelaksaan fieldwork survei
tanah dan evaluasi lahan, yang terdiri dari:
Tabel 2. Bahan
No BAHAN FUNGSI
1. Peta Menunjukan gambaran lahan yang akan di survei
- Peta SPL Untuk menentukan persebaran lahan
- Peta hill shade Untuk melihat tinggi rendahnya permukaan (lembah atau
bukit)
- Peta kelerengan Untuk mengetahui kelas kelerangan pada setiap titik
- Peta google earth Untuk mengetahui gambaran umum yang ada di lahan
2. Plastik mika Untuk media deliniasi Peta dalam pembuatan peta hasil survei
3. Sampel tanah Untuk bahan atau sampel yang akan diamati
4. Aquades Untuk pelarut pada saat melarutkan senyawa untuk mengukur
pH
5. Air Untuk membantu dalam pengamatan morfologi dan fisiografi
yaitu mengetahui permeabilitas dan drainase pada titik
pengamatan
6. Plastik bening Untuk menyimpan sampel tanah
7. Kertas label Untuk memberi tanda pada setiap sampel tanah yang telah di
bor
8. pH universal Untuk alat pengukur pH tanah
9. Form pengamatan Untuk mencatat deskripsi pada lahan
fisiografi
10. Form pengamatan Untuk mencatat hasil morfologi tanah
morfologi
2.3 Metode Penentuan Titik Pengamatan
Survei tanah yang dilakukan di lereng Gunung Arjuno menggunakan metode grid
kaku. Metode grid kaku merupakan metode yang menggunakan prinsip pendekatan sintetik.
Skema pengambilan contoh tanah dirancang dengan jarak pengamatan yang dibuat secara
teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur atau bidang segi empat (rectangular grid)
di seluruh daerah survei. Pengamatan dilakukan dengan pola teratur (interval titik
pengamatan berjarak sama pada arah vertical dan horizontal).
Penggunaan metode grid kaku dikarenakan jarak pengamatan tergantung dari skala
peta. Metode ini sangat cocok untuk survei intensif dengan skala besar, dimana penggunaan
interpretasi foto udara sangat terbatas dan intensif pengamatan yang rapat memerlukan
ketepatan penempatan titik pengamatan di lapangan dan pada peta. Survei grid juga cocok di
lakukan pada daerah yang mempunyai pola tanah yang kompleks di mana pola detail hanya
dapat dipetakan pada skala besar yang kurang praktis. Survei ini cocok diterapkan pada
daerah yang posisi pemetaannya sukar ditentukan dengan pasti. Survei ini juga tidak
memerlukan penyurvei yang berpengalaman sehingga cocok untuk praktikan. Selain itu

4
survei ini di anjurkan pada survei intensif (detail - sangat detail) dan penggunaan hasil
interpretasi foto udara terbatas (misalnya pada daerah dengan konfigurasi permukaan kurang
beragam atau daerah yang relatif datar) atau di daerah yang belum ada foto udaranya (Rayes,
2011).
Namun pada pengaplikasiannya grid kaku mempunyai beberapa kekurangan antara
lain memerlukan waktu yang lebih lama karena medan yang berat dan kurang efektif karena
terlalu banyaknya titik, dan sebagian dari lokasi pengamatan tidak mewakili satuann peta
yang dikehendaki (Rayes,2011).
Pada titik yang di gali juga harus memperhatikan beberapa hal antara lain berada
jauh dari lokasi penimbunan sampah, tanah galian atau bekas bangunan, kuburan atau bahan-
bahan lainnya, berjarak >50 meter dari pemukiman, pekarangan, jalan, saluran air dan
bangunan lainnya, jauh dari pohon besar, dan pada daerah lereng, profil di buat searah lereng
(Rayes, 2011).

5
2.4 Metode Pengamatan Tanah
2.4.1 Minipit
Membuat lubang dengan kedalaman 50cm menggunakan cangkul dan
sekop

Menentukan batas horizon berdasarkan warna dan konsistensi

Memasang sabuk profil dan mendokumentasikan

Mengukur batas antar horizon

Mengambil sampel tanah tiap horizon

Mengamati warna, konsistensi, struktur, tekstur tiap sampel horizon

Mencatat hasil pengamatan

Sebelum melakukan pengamatan, hal yang pertama dilakukan yaitu membuat


minipit dengan kedalaman 200 cm menggunakan cangkul dan sekop. Lubang penampang
umumnya harus cukup besar, agar pengamat dapat dengan mudah mengamati di dalamnya
dan pemeriksaan dapat dilakukan dengan baik. Bagian sisi penampang yang akan diamati
adalah sisi yang terkena sinar matahari agar tampak terang dan sejajar dengan arah lereng
yang ada di lahan tersebut. Tanah bekas galian profil tidak boleh ditimbun di atas sisi
penampang yang akan diamati, karena akan mengganggu pengamatan/pemeriksaan dan
pengambilan contoh tanah dan diatas sisi penampang juda tidak boleh diinjak atau tertekan
agar struktur tanahnya tidak berubah. Setelah itu menentukan batas horizon berdasarkan
warna dan konsistensi. Memasang sabuk profil dan mendokumentasikan harus sejajar
dengan penampang, setelah itu mengukur batas antar horizon. Lalu mengambil sampel tanah
tiap horizon. Melakukan pengamatan warna dengan soil munsell chart colour. Penentuan
konsistensi lembab dengan menekan agregat tanah, dan penentuan konsistensi basah dengan
menambahkan air pada sampel tanah kemudian tanah digulung menjadi panjang dan
dibentuk cincin dan penentuan disesuaikan dengan buku panduan. Penentuan struktur tanah
dengan memecahkan agregat tanah hingga tidak dapat dipecahkan lagi kemudian ditentukan

6
sesuai dengan buku panduan. Penentuan tekstur dengan cara mengambil sampel tanah
kemudian ditambah air, memijat tanah dan merasakan kehalusan tanah dan disesuaikan
dengan buku panduan. Pengamatan itu dilakukan pada setiap sampel horizon. Setelah itu
mencatat hasil pengamatan.
2.4.2 Bor

Setelah membuat minipit, melakukan pengeboran sebanyak 6 kali dengan


mata bor 20cm

Memasang sabuk profil dan mendokumentasikan

Menentukan dan mengukur batas horizon hasil pengeboran

Mengamati warna dan tekstur tiap horizon hasil pengeboran

Mencatat hasil pengamatan


Pengamatan bor dilakukan setelah membuat minipit, pengeboran dilakukan
sebanyak 6 kali dengan mata bor 20 cm. Hasil pengeboran ditata pada alas yang datar
kemudian memasang sabuk profil dan mendokumentasikan. Setelah itu menentukan dan
mengukur batas horizon hasil pengeboran dengan mengamati perbedaan warna pada tanah
hasil pengeboran untuk kemudian diberi tanda pada setiap perubahan warna. Kemudian
melakukan pengamatan warna dan tekstur tiap horizon dari hasil pengeboran. Lalu mencatat
hasil pengamatan.

7
2.5 Klasifikasi Tanah
Menurut Hardjowigeno (2015), klasifikasi tanah merupakan pembedaan tanah
berdasarkan atas sifat-sifat yang dimilikinya atau didasarkan pada hasil deskripsi dan
pencirian tanah dengan informasi yang diperoleh dari laboratorium. Klasifikasi tanah
dilakukan setelah data-data sampel dan hasil analisis di laboratorium terkumpul. Sifat tanah
yang sama atau serupa akan dimasukan pada kelas yang sama. Tujuan klasifikasi tanah ialah
untuk mencari hubungan tanah pada daerah tertentu dengan tanah di daerah lainnya.
Metode klasifikassi tanah yng digunakan untuk menentukan kelas dan penamaan
ialah berdasarkan Taksonomi Tanah USDA (United State Departement of Agriculture) yang
memiliki enam kategori, yaitu Ordo, Sub-ordo, Grup, Sub-grup, Famili dan Seri
(Hardjowigeno, 2015). Kategori yang dipakai untuk mengklasifikasikan tanah pada
pelaksanaannya hanya sampai kategori Sub-grup. Pengklasifikasian tanah dengan metode
Taksonomi Tanah USDA, mengacu pada buku Keys to Soil Taxonomy atau Kunci
Taksonomi Tanah versi terbaru dari buku tersebut. Selain itu, pada metode klasifikasi ini
dibutuhkan data deskripsi tanah (minipit atau profil) dan data iklim seperti rezim suhu dan
lenggas tanah yang menjadi data sekunder atau data yang tersedia terlebih dahulu.
Tahapan awal cara mengklasifikasikan tanah dengan metode taksonomi tanah
USDA ialah pengambilan deskripsi tanah dengan metode yang telah di tentukan sebelumnya
untuk mengetahui sifat morfologi berupa susunan horizon, sifat tanah di setiap horizon dan
penggambilan sampel tanah. Selanjutnya dengan data tersebut ditambah data penunjang lain
ditentukan horizon penciri yang terdiri dari epipedon dan endopedon atau horizon bawah,
sifat penciri lain dan dilanjutkan ke ordo tanah, subordo, grup tanah dan subgrup.
Penggunaan tata nama pada sistem taksonomi tanah selalu memiliki arti dan
menunjukan sifat-sifat utama tanah yang merupakan hasil dari proses pembentukan dan
perkembangan tanah. Ordo tanah merupakan tinggat tertinggi dalam taksonomi tanah yang
dibedakan berdasarkan adanya jenis penciri pada horizon. Kategori sub-ordo terdiri dari dua
suku kata dan grup tanah memiliki terdiri dari tiga suku yang masing-masing menunjukan
sifat-sifat utama dari tanah tersebut, suku kata terakhir menunjukan singkatan nama dari ordo
tanah. Pada penamaan subgrup digunakan dua kata, kata pertama menunjukan sifat utama
sub grup dan nama kedua merupakan nama grup tanah.

8
2.6 Evaluasi Lahan
2.6.1 Metode Analisis Kemampuan Lahan
Menurut Hadmoko (2012), beberapa metode klasifikasi kemampuan lahan adalah
sebagai berikut:
1. Metode kualitatif/deskriptif, Metode ini didasarkan pada analisis visual/pengukuran
yang dilakukan langsung dilapangan dengan cara mendiskripsikan lahan. Metode
ini bersifat subyektif dan tergantung pada kemampuan peneliti dalam analisis.
2. Metode statistik,Metode ini didasarkan pada analisis statistik variabel penentu
kualitas lahan yang disebut diagnostic land characteristic (variabel x) terhadap
kualitas lahannya (variabel y)
3. Metode matching, Metode ini didasarkan pada pencocokan antara kriteria
kesesuaian lahan dengan data kualitas lahan. Evaluasi kemampuan lahan dengan
cara matching dilakukan dengan mencocokkan antara karakteristik lahan dengan
syarat penggunaan lahan tertentu.
4. Metode pengharkatan (scoring), Metode ini didasarkan pemberian nilai pada
masing-masing satuan lahan sesuai dengan karakteristiknya
Klasifikasi kemampuan lahan (Land Capability Classification) adalah penilaian
lahan (komponen-komponen lahan) secara sistematik dan pengelompokannya ke dalam
beberapa kategori berdasarkan atas sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat
dalam penggunaannya secara lestari. Kemampuan lahan dipandang sebagai kapasitas lahan
itu sendiri untuk suatu macam atau tingkat penggunaan umum. Perbedaan dalam kualitas
tanah dan bentuk lahan (land form) seringkali merupakan penyebab utama terjadinya
perbedaan satuan peta tanah dalam suatu areal (Arsyad, 2006).
1. Kelas I
Lahan kelas I mempunyai sedikit hambatan yang membatasi
penggunaannya. Lahan kelas I sesuai untuk berbagai pertanian, mulai dari tanaman
semusim (dan tanaman pertanian pada umumnya), tanaman rumput, hutan dan cagar
alam. Tanah-tanah dalam kelas I umunya bertopografi datar – agak datar, bahaya
erosi termasuk ringan. Tanah memiliki kedalaman efektif yang dalam, berdrainase
baik dan mudah diolah. Kapasitas menahan air baik, kesuburan tanah cukup tinggi
dan tanggap terhadap pemupukan. Didaerah beriklim kering yang telah dibangun
fasilitas irigasi, suatu lahan dapat dimasukkan kedalam kelas I jika tofografi hampir

9
datar, daerah perakaran dalam, permeabilitas dan kapasitas menahan air baik, dan
mudah diolah. Beberapa dari lahan yang dimasukkan ke dalam kelas ini mungkin
memerlukan perbaikan pada awalnya seperti perataan, pencucian garam laut atau
penurunan permukaan air tanah musiman. Jika hambatan oleh garam, permukaan
air tanah ancaman banjir, atau ancaman erosi akan terjadi kembali, maka lahan
tersebut mempunyai hambatan alami permanen, oleh karenanya tidak dapat
dimasukkan kedalam kelas ini.
Tanah yang kelebihan air dan mempuyai lapisan bawah yang
permeabilitasnya lambat tidak dimasukkan kedalam kelas I. Lahan dalam kelas I
yang dipergunakan untuk penanaman tanaman petanian memerlukan tindakan
pengolaan untuk memelihara produktivitas, berupa pemeliharaan kesuburan dan
struktur tanah. Tindakan tersebut dapat berupa pemupukan dan pengapuran,
pengunaan tanaman penutup tanah dan pupuk hijau, pengunaan sisa-sisa tanaman
dan pupuk kandang, dan pergiliran tanaman. Pada peta kelas kemampuan lahan ,
lahan kelas I biasanya diberi warna hijau.
2. Kelas II
Lahan dalam kelas II memiliki beberapa hambatan atau mengakibatkan
memerlukan tindakan konservasi tanah sedang. Lahan kelas II memerlukaan
pengelolaan yang hati-hati, termasuk didalamnya tindakan-tindakan konservasi
tanah untuk mencegah kerusakan atau memperbaiki hubungan air dan udara jika
lahan diusahakan untuk pertaninan. Hambatan pada kelas II sedikit, dan tindakan
yang dilakukan mudah diterapkan. Lahan ini sesuai untuk penggunaan tanaman
semusim, tanaman rumput, padang pengembalaan, hutan produksi, hutan lindung
dan cagar alam. Hambatan atau ancaman kerusakan pada kelas II adalah salah satu
atau kombinasi dari pengaruh berikut:
- Lereng yang landai
- Kepekaan erosi atau ancaman erosi sedang
- Kedalaman tanah, efektif agak dalam
- Struktur tanah dan daya olah agak kurang baik
- Salinitas ringan sampai sedang atau terdapat garam natrium yang mudah
dihilangkan, meskipun besar kemungkinan timbul kembali

10
- Kelebihan air dapat diperbaiki dengan drainase, akan tetapi tetap ada
sebagai pembatas yang sedang tingkatannya, atau
- Keadaan iklim agak kurang sesuai bagi tanaman dan pengelolaan.
Lahan kelas II memberikan pilihan pengunaan yang kurang dan tuntutan
pengolahan yang lebih berat. Lahan dalam kelas ini mungkin memerlukan
konservasi tanah khusus, tindakan-tindakan pencegahan erosi, pengendalian air
lebih, atau metode pengelolaan jika diperlukan untuk tanaman semusim dan
tanaman yang memerlukan pengelolaan lahan sebagai contoh, tanah yang dalam
dengan lereng yang landai yang terancam erosi sedang jika dipergunakan untuk
tanaman semusim mungkin memerlukan salah satu atau kombinasi tindakan-
tindakan berikut ; guludan, penanaman dalam jalur pengelolaan menurut kontur,
pergiliran tanaman dengan rumput dan leguminosa dan pemberian mulsa. Secara
tepatnya tindakan atau kombinasi tindakan yang akan diterapkan, dipengaruhi oleh
sifat-sifat tanah, iklim dan sistem usaha tani. Pada peta kemampuan lahan, lahan
kelas II biasanya dibari warna kuning.
3. Kelas III
Lahan kelas III mempunyai hambatan yang berat yang mengurangi pilihan
penggunaan atau memerlukan tindakan konservasi tanah, khusus dan keduanya.
Lahan dalam kelas III mempunyai pembatas yang lebih berat dari lahan kelas II dan
jika dipergunakan bagi tanaman yang memerlukan pengelolaan tanah dan tindakan
konservasi tanah yang diperlukan biasanya lebih sulit diterapkan dan dipelihara.
Lahan kelas III dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang
memerlukan pengolahan tanah, tanaman rumput, padang rumput, hutan produksi,
hutan lindung dan suaka margasatwa.
Hambatan yang terdapat pada lahan kelas III membatasi lama
peggunaannya bagi tanaman semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman atau
kombinasi dari pembatas-pembatas tersebut. Hambatan atau ancaman kerusakan
mungkin disebabkan oleh salah satu relief atau beberapa sifat lahan berikut :
- Lereng yang agak miring atau bergelombang
- Peka terhadap erupsi atau telah mengalami erosi yang berat
- Seringkali mengalami banjir yang merusak tanaman
- Lapisan bawah tanah yang berpermeabilitas lambat

11
- Kedalaman tanah dangkal diatas batuan, lapisan padas keras (hardpan),
lapisan padas rapu (fragipan) atau lapisan lempung padat (claypan) yang
membatasi perakaran dan simpanan air
- Terlalu basah atau masih terus jenuh air setelah didrainase
- Kapasitas menahan air rendah
- Salinitas atau kandungan natrium sedang, atau
- Hambatan iklim yang agak besar
- Pada peta kemampuan lahan, lahan kelas III biasanya diberi warna merah.
4. Kelas IV
Hambatan atau ancaman kerusakan pada lahan kelas IV lebih besar dari
pada kelas III, dan pilihan tanaman juga lebih terbatas. Jika dipergunakan untuk
tanaman semusim diperlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan
konservasi tanah lebih sulit diterapkan dan dipelihara, seperti teras bangku, saluran
bervegetasi, dan dan pengendali, disamping tindakan yang dilakukan untuk
memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah. Lahan dikelas IV dapat dipergunakan
untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian pada umumnya, tanaman rumput,
hutan produksi, padang penggembalaan, hutan lindung dan suaka alam. Hambatan
atau ancaman kerusakan kelas IV disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari
faktor-faktor berikut :
- Lereng miring atau relief berbukit
- Kepekaan erosi yang besar
- Pengaruh erosi agak berat yang telah terjadi
- Tanahnya dangkal
- Kapasitas menahan air yang rendah
- Sering tergenang yang menimbulkan kerusakan berat pada tanaman
- Kelebihan air dan ancaman kejenuhan atau penggenangan yang terus terjadi
setelah didrainase
- Salinitas atau kandungan natrium yang tinggi
- Keadaan iklim yang kurang menguntungkan
- Pada peta kelas kemampuan lahan, lahan kelas IV biasanya diberi warna
biru.

12
5. Kelas V
Lahan kelas V tidak terancam erosi, akan tetapi mempunyai hambatan lain
yang tidak dihilangkan dan membatasi pilihan penggunaannya, sehingga hanya
sesuai untuk tanaman rumput, padang penggembalaan hutan produksi atau hutan
lindung dan suaka alam. Lahan didalam kelas V mempunyai hambatan yang
membatasi pilihan macam penggunaan dan tanaman, dan menghambat pengolahan
tanah bagi tanaman semusim. Lahan ini terletak pada tofografi datar atau hampir
datar tetapi tergenang air, sering terlanda banjir, berbatu-batu iklim yang kurang
sesuai, atau mempunyai kombinasi dari hambatan-hambatan tersebut. Contoh lahan
kelas V adalah :
- Lahan yang sering dilanda banjir, sehingga sulit dipergunakan untuk
penanaman tanaman semusim secara formal
- Lahan datar yang berada pada kondisi iklim yang tidak memungkinkan
produksi tanaman secara normal
- Lahan datar atau hampir datar yang berbatu-batu, dan
- Lahan tergenang yang tidak layak didrainase untuk tanaman semusim, tetapi
dapat ditumbuhi rumput atau pohon pepohonan.
- Pada peta kelas kemampuan lahan, lahan kelas V biasanya diberi warna
hijau tua
6. Kelas VI
Lahan dalam kelas VI mempunyai hambatan berat yang menyebabkan
lahan ini tidak sesuai untuk penggunaan pertanian, penggunaan terbatas untuk
tanaman rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau
cagar alam. Lahan kelas VI mempunyai pembatas atau ancaman kerusakan yang
tidak dapat dihilangkan,berupa salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut :
- Terletak pada lereng agak curam
- Bahaya erosi berat
- Telah tererosi berat
- Mengandung garam larut atau natrium
- Berbatu-batu
- Daerah perakaran sangat dangkal
- Atau iklim yang tidak sesuai

13
Lahan kelas VI yang terletak pada lereng agak curam jika dipergunakan
untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk
menghindari erosi. Beberapa tanah di dalam kelas VI yang daerah perakarannya
dalam, tetapi terletak pada lereng agak curam dapat dipergunakan untuk tanaman
semusim dengan tindakan konservasi tanah yang berat. Ada peta kelas kemampuan
lahan, lahan kelas VI biasanya diberi warna orange.
7. Kelas VII
Lahan kelas VII tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Jika digunakan
sebagai padang rumput atau hutan produksi harus dilakukan usaha pencegahan erosi
yang berat. Lahan kelas VII yang solumnya dalam dan tidak peka erosi jika
dipergunakan untuk tanaman pertanian harus dibuat teras bangku yang ditunjang
dengan cara-cara vegetatif untuk konservasi tanah, disamping tindakan pemupukan.
Lahan kelas VII mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan berat dan
tidak dapat dihilangkan seperti :
- Terletak pada lereng yang curam
- Telah tererosi sangat berat bahkan berupa erosi parit, dan
- Daerah perakaran sangat dangkal
- Pada peta kemampuan lahan, lahan kelas VII biasanya diberi warna coklat.
8. Kelas VIII
Lahan kelas VIII tidak sesuai untuk budidaya pertanian, tetapi lebih sesuai
untuk dibiarkan dalam keadaan alami. Lahan kelas VIII bermanfaat sebagai hutan
lindung, tempat rekreasi atau cagar alam. Pembatas atau ancaman kerusakan pada
kelas VIII berupa :
- Terletak pada lereng yang sangat curam
- Berbatu, atau
- Kapasitas menahan air sangat rendah
- Lahan kelas VIII biasanya berwarna putih atau tidak berwarna.
Contoh lahan kelas VIII adalah tanah mati, batu tersingkap, pantai pasir, dan
puncak pegunungan.

14
2.6.2 Metode Analisis Kesesuaian Lahan
Evaluasi lahan merupakam suatu proses pendugaan potensi sumber daya lahan
untuk berbagai kegiatan. Sedangkan kesesuaian lahan adalah kecocokan suatu lahan untuk
penggunaan tertentu, sebagai contoh untuk irigasi, tambak, pertanian tanaman tahunan atau
pertanian tanaman semusim (Rayes,2004). Kesesuaian lahan menunjukkan nilai kecocokan
suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Struktur klasifikasi kesesuaian lahan
menurut kerangka kerja FAO (1945) terdiri dari 4 kategori :
1. Ordo : menunjukkan keadaan kesesuaian secara umum
2. Kelas : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo
3. Sub kelas : menunjukkan keadaan tingkatan dalam kelas yang
didasarkan pada jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan
dalam kelas.
4. Satuan (Unit) : menunjukkan tingkatan dalam subkelas di dasarkan pada
perbedaan-perbedaan kecil yang berpengaruh dalam pengelolaannya.
Untuk kesesuaian lahan pada tingkat ordo kemudian dibedakan lagi menurut
kerangka kerja evaluasi ahan FAO (1976) :
1. Ordo S (Sesuai), Lahan ini dapat digunakan untuk penggunaan tertentu
secara lestari
2. Ordo N (Tidak sesuai), lahan ini mempunyai pembatas demikian ruppa
sehingga mencgaha penggunaan secara lestari untuk tujuan yang
direncanakan.
Kesesuaian pada tingkat kelas. Kesesuaian pada tingkat kelas menjelaskan tingkat
kesesuaian dari tingkat ordo. Tingkat dalam kelas ditunjukkan oleh nomor urut (angka) yang
ditulis dibelakang simbol ordo. Dianjurkan memakaia 3 dalam ordo S dan 22 kelas dala ordo
N dengan definisi sebaga berikut :
Kelas S1 : Sangat sesuai (pembatas tidak mengurangi produktivitas dan keuntungan)
Kelas S2 : Cukup sesuai (pembatas sedikit mempengaruhi produktivitas dan
keuntungan)
Kelas S3 : Sesuai marginal (pembatas sangat berat untuk mempertahankan tingkat
pengelolaan sehingga mengurangi produktivitas dan keuntungan

15
Kelas N1 : Tidak sesuai saat inni (pembatas lebh berat, namun masih mungkin untuk
diatasi, factor pembatasnya beegitu berat sehingga menghalangi keberhasilan penggunaan
lahan yang lestari dan panjang)
Kelas N2 : Tidak sesuai selamanya (mempunyai pembatas yang sangat berat,
sehingga tdak mungkin digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari)
Kesesuaian pada tingkat sub kelas menunjukkan jenis pembatas atau perbaikan yang
diperlukan ddalam suatu kelas kesesuaian. Jenis pembatas ditulis dengan simbol huruf kecil
yang diletakkan setelah symbol kelas. Misalnya S2n, artinya lahan tersebut mempunyai kelas
kesesuaian S2 (cukup sesuai) dengan pembatas n (keterediaan hara). Jika terdapat lenh dari
satu factor pembatas, ,aka pembatas yang paling utama ditempatkan diawal. Misal S2tn
dengan t (lereng) dan n (ketersediaan hara), hal ini menunjukkan embatas lereng (t)
merupakan pembatas yang paling dominan. Untuk kela S1 tidak ada pembagian sub kelas.
Kesesuaian pada tingkat unit merupakan pembagian lebih lanjut dari subkels
kesesuian lahan yang didasarkan pada besarnya faktor pembatas. Perbedaan antara satu unit
dengan unit yang lain merupakan perbedaan dalam sifat-sifat atau gatra tambahan dari
pengelolaan yang dipelukan dan seringkali merupakan perbedaan detail dari pembatas-
pembatasnya. Jumlah unit pada sub kelas tidak dibatasi. Pemberian kesesuaian lahan pada
tingkat unit dilakukan dengan angka setelah simbol subkelas dipisahkan oleh tanda
penghubung, misalnya S2n-1, S2n-2.
Kesesuaian Bersyarat merupakan kesesuaian yang dilakukan dalam hal-ha tertentu
untuk menyingkat atau menyederhanakan penyajian. Pada dasarnya sesuai bersyarat
merupakan fase dari ordo sesuai, yang ditandai dengan huruf kecil c diantara symbol ordo
dan kelas misalnya Sc2. Menurut FAO (1976), penggunaan fase bersyarat sedapat mungkin
dihindari dalamm survey tnah, kecuali jika :
a. Tanpa adanya kondisi yang dipenuhi, maka lahan tersebut termasuk tidak sesuai atau
termasuk ke dalam kelas sesuai yang paling rendah.
b. Jika kondisi dipenuhi, maka kelas kesesuaian lahan menjadi nyata meningkat (biasanya
paling sedikit meningkat 2 kelas)
c. Jika diandingkan dengan luas daerah survei secara keseluruhan, maka luas lahan yang
sesuai bersyarat tersebut sangat kecil.

16
III. KONDISI UMUM WILAYAH

3.1 Lokasi, Administrasi Wilayah


Pada kegiatan survei fieldwork II terletak di Dusun Sumbersari, Desa Tawangargo,
Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Secara geografis, Desa Tawangargo terletak
pada posisi 7o 53’ 35’ LS dan 112o 53’ 41’ BT. Topografi Desa Tawangargo memiliki
ketinggian sekitar 700 m – 1000 m dpl. Berdasarkan data stasiun klimatologi Karangploso,
rata-rata curah hujan sekitar 2074,4 mm/thn.
Secara administratif, Desa Tawangargo terletak di wilayah Kecamatan Karangploso
Kabupaten Malang, dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa dan hutan. Sesuai arah mata
angin, di sebelah utara berbatasan dengan perhutani, di sebelah barat berbatasan dengan Desa
Giripurno Kecamatan Bumiaji Kota Batu, di sisi selatan berbatasan dengan Desa Pendem
Kecamatan Junrejo Kota Batu, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Donowarih
Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Sedangkan, untuk luas wilayah Desa
Tawangargo kurang lebih 654.653 Ha. Luas lahan tersebut memiliki penggunaan lahan yang
berbeda-beda seperti untuk pemukiman, pertanian, perkebunan, dan lain-lain.

3.2 Fisiografi Lahan


Dari hasil Fieldwork 2 yang dilaksanakan di Desa Tawangargo, Kecamatan
Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur yaitu di UB Forest yang berada pada
lereng Gunung Arjuno. Bentuk lahannya yaitu berupa lereng pegunungan dan
formasi geologi yaitu Quarter Vulkanik Arjuno Welirang (QVAW), karena
dipengaruhi oleh aktivitas gunung arjuno. Data yang diperoleh dari stasiun iklim
Karangploso, daerah tersebut memiliki curah hujan rata-rata 2074,4 mm / tahun
dengan 6 bulan basah dan 6 bulan kering. Rezim suhu daerah tersebut yaitu
isohypertermic dengan rezim lengas tanah Udic Pada pengamatan fisiografi
dilakukan pada 5 titik berbeda dengan data yang diperoleh sebagai berikut:

1. Fisiografi Lahan Titik 1


Titik K2.1 berada pada 75 meter dari arah timur laut dari pertigaan basecamp
dengan elevasi 1.261 mdpl, zona UTM 49M, dengan kordinat x 0674182 LS dan
kordinat y 9134775 BT. Relief makro pada lahan tersebut yaitu berombak dengan
relief mikro nya teras. Kelerengannya 15 % dengan arah lereng ke utara dan
merupakan lereng tunggal. Aliran permukaannya tergolong sedang dengan drainase

17
alaminya dan permeabilitas yang sedang sehingga tidak ada genangan atau banjir
pada lahan tersebut. Pengelolaan air nya merupakan tadah hujan karena tidak
ditemukan sistem irigasi disekitar lahan tersebut dan diperkirakan tidak adanya
erosi maupun bahaya erosi yang terjadi. Penggunaan lahannya termasuk kedalam
agroforestri. Dengan vegetasi yang mendominasi yaitu pinus dan vegetasi spesifik
nya tanaman pisang.

2. Fisiografi Lahan Titik 2


Titik K2.2 berada pada 132 m dari arah timur laut dari pertigaan basecamp
dengan elevasi 1.628 mdpl, zona UTM 49M, latitude 0674121 LS dan longitude
9134827 BT. Relief makro pada lahan tersebut yaitu datar dengan relief mikro nya
teras. Kelerengannya 19 % dengan arah lereng ke timur laut dan merupakan lereng
tunggal. Aliran permukaannya tergolong sedang dengan drainase alaminya dan
permeabilitas yang sedang sehingga tidak ada genangan atau banjir pada lahan
tersebut. Pengelolaan air nya merupakan tadah hujan karena tidak ditemukan sistem
irigasi disekitar lahan tersebut dan diperkirakan ada erosi permukaan dengan kelas
ringan. Penggunaan lahannya termasuk kedalam agroforestri. Dengan vegetasi
yang mendominasi yaitu pinus dan vegetasi spesifik nya tanaman pisang.

3. Fisiografi Lahan Titik 3


Titik K2.3 berada pada 67 m dari arah barat laut dari pertigaan basecamp
dengan elevasi 1.235 mdpl, zona UTM 49M, latitude 0674053 LS dan longitude
9134828 BT. Relief makro pada lahan tersebut yaitu berombak dengan relief mikro
nya teras. Kelerengannya 18 % dengan arah lereng ke barat dan merupakan lereng
tunggal. Aliran permukaannya tergolong sedang dengan drainase alaminya dan
permeabilitas yang sedang sehingga tidak ada genangan atau banjir pada lahan
tersebut. Pengelolaan air nya merupakan tadah hujan karena tidak ditemukan sistem
irigasi disekitar lahan tersebut dan diperkirakan ada erosi permukaan dengan kelas
ringan. Penggunaan lahannya termasuk kedalam agroforestri. Dengan vegetasi
yang mendominasi yaitu pinus dan kopi dengan vegetasi spesifik nya tanaman
pisang.

18
4. Fisiografi Lahan Titik 4
Titik K2.4 berada pada 137 m dari arah barat laut dari pertigaan basecamp
dengan elevasi 1.250 mdpl, zona UTM 49M, latitude 0674062 LS dan longitude
9134838 BT. Relief makro pada lahan tersebut yaitu berombak dengan relief mikro
nya teras. Kelerengannya 23 % dengan arah lereng ke timur dan merupakan lereng
tunggal. Aliran permukaannya tergolong sedang dengan drainase alaminya baik dan
permeabilitas yang agak cepat sehingga tidak ada genangan atau banjir pada lahan
tersebut. Pengelolaan air nya merupakan tadah hujan karena tidak ditemukan sistem
irigasi disekitar lahan tersebut dan diperkirakan tidak adanya erosi maupun bahaya
erosi yang terjadi. Penggunaan lahannya termasuk kedalam agroforestri. Dengan
vegetasi yang mendominasi yaitu pinus dan kopi dengan vegetasi spesifik nya
tanaman pisang.

5. Fisiografi Lahan Titik 5


Titik K2.5 berada pada 162 m dari arah barat laut dari pertigaan basecamp
dengan elevasi 1.240 mdpl, zona UTM 49M, latitude 0673998 LS dan longitude
9134858 BT. Relief makro pada lahan tersebut yaitu berombak dengan relief mikro
nya teras. Kelerengannya 15 % dengan arah lereng ke timur laut dan merupakan
lereng majemuk. Aliran permukaannya tergolong sedang dengan drainase alaminya
dan permeabilitas yang agak cepat sehingga tidak ada genangan atau banjir pada
lahan tersebut. Pengelolaan air nya merupakan tadah hujan karena tidak ditemukan
sistem irigasi disekitar lahan tersebut dan diperkirakan ada erosi permukaan dengan
kelas ringan. Penggunaan lahannya termasuk kedalam agroforestri. Dengan
vegetasi yang mendominasi yaitu pinus dan vegetasi spesifik nya kopi. .

3.3 Karakteristik Tanah


Untuk dapat memanfaatkan tanah sesuai dengan potensinya, diperlukan
pemahaman mengenai karakteristik dari suatu tanah. Tanah memiliki sifat yang bervariasi
yang terdiri dari sifat fisik, kimia, dan biologi yang berbeda. Kaitannya dengan bervariasinya
sifat-sifat tanah akan bergantung pada tingkat kesuburan tanah (Ferdinan et al., 2013; Tufaila
dan Syamsu, 2014).
Dari lima titik pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan kondisi umum dari
karakteristik tanah kelima titik tersebut yaitu didapatkan bahwa pada horizon atas kelima

19
titik pengamatan memiliki tekstur lempung, dan horizon-horizon dibawahnya memiliki
tekstur berkisar antara lempung berdebu dengan lempung liat berdebu. Pada horizon atas
indikator warna tanah dalam keadaan lembab yaitu pada kelima titik memiliki warna hitam
(10YR 2/1), untuk horizon tengah memiliki warna coklat gelap kekuningan (10YR 3/4),
sedangkan untuk horizon pengamatan paling bawah dengan kedalaman berkisar 100 cm –
170 cm pada titik pengamatan satu. dan empat memiliki warna abu-abu sangat gelap, untuk
horizon pengamatan bawah dengan kedalaman berkisar 100 cm – 170 cm di titik
pengamatan dua, tiga, dan lima memiliki warna coklat gelap (10YR 3/3). Pada horizon
pengamatan terbawah di titik dua dengan kedalaman 136 cm – 170 cm memiliki warna
coklat kekuningan (10YR 5/4).
Untuk karakteristik struktur tanah pada kelima titik pengamatan memiliki tekstur
gumpal membulat dengan ukuran 20 – 50 mm. Pada pengamatan konsistensi lembab,
karakteristik tanah memiliki konsistensi lembab yang sangat gembur pada horizon paling
atas dan konsistensi lembab yang gembur pada horizon-horizon di bawahnya pada kelima
titik. Sedangkan untuk konsistensi basah, karakteristik tanah dari kelima titik yaitu memiliki
konsistensi basah agak lekat dan agak plastis pada horizon atasnya.
Pada pengamatan pori tanah, titik satu memiliki pori biasa pada pori halus sedangkan
pori sedang dan kasarnya sedikit. Pada titik dua memiliki pori halus yang banyak pada
horizon satu dan pada horizon bawahnya memiki pori halus biasa. Sama seperti titik satu,
titik tiga memiliki pori halus yang banyak. Pada titik empat memiliki pori halus yang banyak
pada horizon teratas dan horizon di bawahnya. Pada titik lima memiliki pori halus yang
banyak pada horizon atas, dan pad horizon dibawahnya memiliki pori kasar yang (banyak).

3.4 Penggunaan Lahan


Pada daerah survei pengamatan yang berlokasi di Dusun Sumbersari, Desa
Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur didapatkan hasil
penggunaan lahan dari kelima titik yang diamati adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Penggunaan Lahan Dusun Sumbersari, Desa Tawangargo
Titik Penggunaan Lahan Vegetasi Dominan Vegetasi Spesifik
1 Agroforestri Pinus Kopi
2 Agroforestri Pinus Pisang
3 Agroforestri Pinus dan Kopi Pisang
4 Agroforestri Pinus dan Kopi Pisang
5 Agroforestri Pinus Kopi

20
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004, Penggunaan lahan adalah
wujud tutupan permukaan bumi baik yang merupakan bentukan alami maupun buatan
manusia. Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar, yaitu
penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Pada penggunsaan
lahan pertanian dapat dikelompokkan menjadi pekarangan, sawah, ladang berpindah, kebun
campuran, tegalan, dan perkebunan (Arsyad, 2000).
Pada kelima titik survei memiliki penggunaan lahan yang sama yaitu agroforestri,
namun dengan vegetasi dominan dan vegetasi spesifik yang berbeda-beda. Pada titik satu
vegetasi yang dominan adalah pinus dengan vegetasi spesifiknya kopi. Pada titik dua,
vegetasi dominannya berupa pinus dengan vegetasi spesifik berupa pohon pisang. Pada titik
tiga dan empat memiliki vegetasi dominan yang sama yaitu pinus dan kopi dengan vegetasi
spesifik berupa pohon pisang. Pada titik lima vegetasi dominannya adalah pinus dengan
vegetasi spesifiknya adalah kopi.

3.5 Sebaran SPT di Lokasi Survei


Pada Pada lokasi survei yang bertempat di daerah Tawangargo di temukan 39
Satuan Peta Tanah (SPT) yang di petakan berdasarkan kelerengannya. Berikut
adalah sebaran Satuan Peta Tanah (SPT) yang di peroleh di lokasi survei
berdasarkan pemetaan pada peta satuan peta tanah yang di peroleh :
Tabel 4. Sebaran SPT di Lokasi Survei
Satuan Peta Satuan Peta
Takasa Tanah
Lahan (SPL) Tanah (SPT)
1 Konsosiai Typic Humudept
2 Konsosiasi Typic Humudept
3 Asosiasi Typic Dystrudept - Pachic Humudept
Typic Dystrudept – Typic Humudept – Humic
4 Kompleks
Dystrudept
5 Asosisasi Typic Humudepts - Typic Dystrudepts
6 Konsosiasi Typic Humudepts
7 Konsosiasi Typic Humudepts
8 Asosiasi Typic Humudepts - Typic Dystrudept
9 Asosiasi Typic Humudepts - Typic Dystrudepts
10 Kompleks Typic Humudept –Andic Humudept

21
11 Konsosiasi Typic Humudepts
12 Kompleks Typic Humudepts - Typic Dystrudepts
13 Asosisasi Typic Humudepts - Typic Dystrudepts
Typic Humudepts –Andic Dystrudepts – Typic
14 Kompleks
Dystrudepts
15 Asosisasi Typic Humudepts - Typic Dystrudepts
16 Asosiasi Typic Humdepts - Andic Dystrudepts
17 Konsosiasi Typic Humdepts
18 Konsosiasi Typic Humdepts
19 Konsosiasi Typic Humdepts – Andic Humudepts
20 Konsosiasi Typic Humdepts
21 Konsosiasi Typic Humdepts
22 Asosiasi Typic Humdepts - Andic Dystrudepts
23 Asosiasi Typic Humudept - Andic Dystrudept
24 Konsosiasi Typic Humdepts
25 Asosiasi Typic Humdepts - Andic Dystrudepts
26 Konsosiasi Typic Humdepts
27 Konsosiasi Typic Humdepts
28 Kompleks Typic Humdepts – Typic Dystrudepts
29 Asosiasi Typic Humdepts - Andic Dystrudepts
Typic Humdepts - Typic Dystrudepts - Humic
30 Asosiasi
Dystrudepts - Typic Hapludalfs
31 Asosiasi Typic Humdepts - Andic Dystrudepts
32 Konsosiasi Typic Humdepts
33 Asosiasi Typic Humudept –Pachic Humudept
34 Konsosiasi Typic Humdepts
35 Konsosiasi Typic Humdepts
36 Kompleks Typic Humudepts - Typic Dystrudepts
37 Konsosiasi Typic Humdepts
38 Kompleks Typic Humudepts – Pachic Humudept
39 Konsosiasi Typic Humdepts
40 Konsosiasi Typic humudeps

22
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Morfologi Tanah


4.1.1 Titik 1
Berikut dibawah ini merupakan data morfologi tanah pada pengamatan minipit dan
pengeboran di titik 1.
Tabel 5. Morfologi Tanah Titik K2.1
A (0-10) cm 10YR 2/1; hitam; lembab; lempung; gumpal membulat, besar,
lemah; sangat gembur; agak lekat, tidak plastis; pori halus
biasa, pori sedang sedikit, pori kasar sedikit; perakaran halus
biasa; jelas, rata;
Bw1 (10-101 10YR 3/4; coklat gelap kekuningan; lembab; lempung liat
cm) berdebu; gumpal membulat, besar, lemah, cukup; gembur;
agak lekat, agak plastis; pori halus sedikit, pori sedang sedikit,
pori kasar sedikit; perakaran sedang sedikit; jelas, rata;

Bw2 (101-170 10YR 3/1; sangat gelap keabuan; lembab; liat berdebu;
cm) gembur; agak lekat, sangat plastis;

Pada titik 1 tersusun atas horison genetik A, Bw1 dan Bw2. Horizon A
karena horizon ini menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak mengalami perubahan
struktur dan warnanya tidak terlalu berubah nyata. Selanjutnya horizon Bw1 yang
menunjukkan bahwa tanah telah mengalami pengembangan yang ditandai dengan
perubahan warna. Penambahan simbol “w” pada huruf untuk menunjukkan adanya
perkembangan warna atau perkembangan struktur, atau perkembangan keduanya,
yang tidak secara jelas atau hanya sedikit memperlihatkan akumulasi bahan secara
iluvial (Badan Penelitian Tanah, 2004). Pada titik ini kami melakukan pemboran
dari kedalaman 50-170 cm dan menemukan 2 lapisan horizon yaitu Bw1 dan Bw2
kedua horizon tersebut menunjukkan adanya perubahan struktur dan warna dari
lapisan horizon diatasnya.
.

23
4.1.2 Titik 2
Berikut dibawah ini merupakan data morfologi tanah pada pengamatan minipit dan
pengeboran di titik 1.
Tabel 6. Morfologi Tanah Titik K2.2
A (0-29/39 cm) 10YR 2/1; hitam; lembab; lempung; gumpal membulat, besar,
sangat gembur; agak lekat, agak plastis; pori halus banyak, pori
sedang sedikit, pori kasar sedikit; akar halus banyak; jelas,ombak;

Bw1 (29/39-77 10YR 3/4; coklat gelap kekuningan; lembab; lempung berdebu;
cm) gumpal membulat, besar, cukup; gembur; agak lekat, agak plastis;
perakaran halus sedikit;
Bw2 (77 – 136 10YR 3/3; coklat gelap; lembab; liat berdebu; gembur; lekat, agak
cm) plastis;
A2 (136 – 170 10YR 5/4; coklat kekuningan; lembab; debu; agak lekat, sangat
cm) plastis;
Pada titik 2 tersusun atas empat lapisan horizon yaitu A, Bw1, Bw2 dan A2
pada horizon ke dua yaitu Bw1, pada horizon ini menunjukkan bahwa telah terjadi
perubahan warna yaitu pada hue-nya. Horizon selanjutnya adalah Bw2, horizon ini
merupakan perkembangan dari horizon sebelumnya yang ditandai dengan
perubahan tekstur tanah.

4.1.3 Titik 3
Berikut dibawah ini merupakan data morfologi tanah pada pengamatan minipit dan
pengeboran di titik 3.
Tabel 7. Morfologi Tanah Titik K2.3
A (0-7 cm) 10YR 2/1; hitam; lembab; Lempung; Gumpal membulat, besar, 20-
50 mm, lemah; sangat gembur, agak lekat, agak plastis; pori halus
banyak, pori sedang sedikit, pori kasar sedikit; akar sedang banyak;
jelas, rata;
Bw (7-170 cm) 10 YR 3/4; coklat gelap kekuningan; lembab; Lempung berdebu;
gumpal membulat, besar, 20-50 mm, cukup; gembur, lekat, sangat
plastis; pori halus sedikit, pori sedang sedikit, pori kasar sedikit;
akar halus sedang;

Pada titik ini terdapat dua lapisan horizon yaitu horizon A dan Bw pada
horizon Bw terlihat bahwa terjadi perubahan warna pada value dan chroma.

24
4.1.4 Titik 4
Berikut dibawah ini merupakan data morfologi tanah pada pengamatan minipit dan
pengeboran di titik 4.
Tabel 8. Morfologi Tanah Titik K2.4
A (0-25/29 cm) 10YR 2/1; hitam; lembab; Lempung; Gumpal membulat, besar, 20-
50 mm, lemah; sangat gembur, agak lekat, agak plastis; pori halus
banyak, pori sedang sedikit, pori kasar sedikit; akar halus banyak;
jelas, ombak;

Bw1 (25/29 – 10YR 3/4; coklat gelap kekuningan; lembab; Lempung berdebu;
145 cm) gumpal membulat, besar, 20-50 mm, cukup; gembur, lekat, sangat
plastis; pori halus banyak, pori sedang sedikit, pori kasar sedikit;
akar halus sedikit;

Bw2 (145 – 170 10YR 3/1; abu-abu sangat gelap; lembab; lempung; gembur, lekat,
cm) sangat plastis;

Pada titik ini terdapat tiga lapisan horizon yaitu horizon A, Bw1 dan Bw2,
pada horizon Bw1 terlihat adanya perubahan warna yang jelas yaitu pada nilai Value
dan chroma.

4.1.5 Titik 5
Berikut dibawah ini merupakan data morfologi tanah pada pengamatan minipit dan
pengeboran di titik 5.
Tabel 9. Morfologi Tanah Titik K2.5
A (0 - 6/13 cm) 10YR 2/1; hitam; lembab; Lempung; Gumpal membulat, besar, 20-
50 mm, lemah; sangat gembur, agak lekat, agak plastis; pori halus
banyak, pori sedang sedikit, pori kasar sedikit; akar halus banyak;
jelas, ombak;
Bw1 (6/13 - 130 10YR 3/4; coklat gelap kekuningan; lembab; Lempung berdebu;
cm) gumpal membulat, besar, 20-50 mm, cukup; gembur, agak lekat,
agak plastis; pori halus banyak, pori sedang sedikit, pori kasar
sedikit; akar halus banyak;

Bw2 (130 – 170 10YR 3/3; coklat gelap; lembab; lempung liat berdebu; gembur,
cm) lekat, agak plastis;

Pada titik ini terdapat tiga lapisan horizon yaitu horizon A, Bw1 dan Bw2,
pada horison kedua yaitu horizon Bw1 terlihat perbedaan warna yang nyata yaitu
pada nilai valuenya antara horizon 1 dan 2. Pada titik ini kami melakukan pemboran
dari kedalaman 50 hingga 170 cm dan menemukan adanya dua lapisan horizon
yaitu Bw1 dan Bw2. Perbedaan horizon tersebut ditandai dengan perubahan warna
dan tekstur tanah.

25
4.2 Klasifikasi Tanah
4.2.1 Epipedon dan Endopedon
Dari survei dan pengamatan yang telah dilakukan didapatkan data epipedon dan
endopedon pada kelima titik survei adalah sebagai berikut.
Tabel 10. Epipedon dan Endopedon
Titik Epipedon Endopedon
Titik K2.1 Okrik Kambik
Titik K2.2 Umbrik Kambik
Titik K2.3 Okrik Kambik
Titik K2.4 Umbrik Kambik
Titik K2.5 Okrik Kambik
4.2.1.1 Epipedon
Epipedon pada titik 1,3, dan 5 yaitu okrik, hal ini dikarenakan
karakteristik dari tanah tidak sesuai dengan tujuh epipedon lainnya.
Walaupun lebih cendrung untuk diklasifikasikan sebagai umbrik/molik
karena kesesuaian value dan chromanya, namun tidak sesuai karena
kedalaman yang terlalu tipis. Syarat agar dapat dimasukan ke epipedon
umbrik/molik adalah memiliki value < 3 saat kering , < 5 saat lembab dan
chroma < 3. Syarat ini memang sudah terpenuhi karena titik ini sudah
memiliki value dan chromo 2/1 namun syarat lainnya dari epipedon
molik/umbrik adalah kedalaman > 18 cm, sedangkan pada titik satu hanya
10 cm. Hal ini lah yang menyebabkan tidak dapat diklasifikasikan sebagai
umbrik dan diklasfikasikan sebagai okrik karena tidak memenuhi
kedalamannya.
Epipedon pada titik 2 dan 4 adalah Umbrik. Syarat utama dari
epipedon umbrik adalah memiliki kedalaman > 18 cm, yang sudah
terpenuhi pada titik 2 karena memiliki kedalaman 29/39 cm. Syarat lainnya
adalah Tidak terdapat struktur batuan asli (termasuk juga stratifikasi halus).
Pada kondisi lembab mempunyai value dan chroma < 3, dan pada kondisi
kering < 5, pada kondisi lapang yang merupakan kondisi lembab, value dan
chroma pada titik 2 adalah 2/1 sehingga sudah memenuhi persyaratan.
Persyaratan terakhir adalah memiliki kecendrungan basa, hal ini yang
menjadi kunci utama untuk membedakan apakah merupakan epipedon
umbrik atau molik. Setelah didapatkan hasil dari analisa lab, menunjukan

26
hasil kejenuhan basa pada titik 2 adalah 40%. Sehingga diklasifikasikan
sebagai Umbrik, apabila memiliki kejenuhan basa lebih dari 50% maka
diklasifikasikan sebagai molik.
4.2.1.2 Endopedon
Endopedon pada titik 1 sampai 5 yaitu kambik, endopedon kambik
merupakan endopedon yang memiliki indikasi lemah seperti endopedon
argilik dan spodik namun tidak memenuhi kriterianya. Selain itu syarat dari
endopedon kambik adalah memiliki kedalaman lebih dari 15 cm. Ketentuan
lain yang sudah terpenuhi adalah memiliki tekstur yang lebih halus dari pasir
yaitu lempung, pada kondisi yang tidak akuik atau tergenang memiliki value
dan chroma yang lebih tinggi dibandingkan horizon diatasnya (Epipedon
memiliki warna 10YR 2/1 sedangkan endopedon ini memiliki warna 10YR
¾). Karakterisik yang terakhir adalah tidak memenuhi persyaratan dari tujuh
epipedon lain selain okrik dan bukan merupakan horizon genetik Ap.
4.2.2 Ordo – Sub Grub
Berdasarkan hasil survei pengamatan minipit yang telah dilakukan, didapatkan data
ordo hingga sub grup pada lima titik pengamatan sebagai berikut.
Tabel 11. Ordo – Sub Grub
Titik Rezim Suhu Rezim Ordo Sub-Ordo Grup Sub Grup
Lengas
K2.1 Isohypertermic Udik Inceptisol Udept Dystrudept Typic
Dystrudept

K2.2 Isohypertermic Udik Inceptisol Udept Humudept Typic


Humudept

K2.3 Isohypertermic Udik Inceptisol Udept Dystrudept Typic


Dystrudept

K2.4 Isohypertermic Udik Inceptisol Udept Humudept Typic


Humudept

K2.5 Isohypertermic Udik Inceptisol Udept Dystrudept Typic


Dystrudept

Pada seluruh daerah di UB Forest memiliki Rezim Suhu Isohypertermic, yang


artinya pada daerah ini memiliki suhu rata-rata lebih dari 220 C. Unutk Rezim lengas tanah
yang dimiliki pada tanah ini adalah Udik yang berarti tanah tidak pernah tergenangi lebih dari
90 hari secara kumulatif dalam tahun tahun normal. Lahan di UB Forest tidak pernah
tergenangi karena memang tidak adanya penggenangan untuk proses budidaya.

27
Ordo tanah pada titik adalah Inceptisol. Inceptisol berasal dari inceptum yang berarti
permulaan, tanah baru berkembang. Penciri lainnya adalah tanah ini merupakan tanah yang
memiliki epipedon umbrik, molik, histik dan memiliki endopedon kambik. Persyaratan
lainnya adalah “Memiliki salah satu ciri yang sesuai yaitu horizon kambik yang batas atasnya
di dalam 2100 cm dari permukaan tanah mineral dan batas bawahnya pada kedalaman 25
cm atau lebih dibawah permukaan tanah mineral”. Pada titik ini masih memiliki batas atas
yang kedalaman 100 cm yaitu 10cm. Pada awalnya tanah titik ini dapat diklasifikasikan
sebagai tanah andisol karena terletak pada lereng bawah gunung arjuno. Namun tidak
memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan tanah andik karena itu diklasifikasikan sebagai tanah
inceptisol dan belum memenuhi klasifikasi tanah andisol.
Untuk seluruh titik dari titik 1 sampai 5 memiliki subordo pada tanah ini adalah
Udept. Udept merupakan tanah inceptisol yang memiliki sifat yang tidak sesuai dengan sub
ordo lainnya. Ketidak sesuaian ini meliputi rezim suhu, rezim lengas tanah, epipedon,
endopedon dan penciri khususnya.
Untuk titik 1, 3, dan 5. Great Group pada tanah ini adalah Dystrudepts.
Dystrudepts merupakan tanah yang tidak sesuai dengan klasifikasi tanah lainnya. Tanah ini
tidak tergolong humudepts dikarenakan memiliki tidak epipedon umbrik dan molik. Tidak
diklasifikasikan ke dalam great group lain karena tidak sesuai dengan kriteria lainnya.
Terdapat Sub Group pada tanah ini Typic Dystrudepts. Sub group ini merupakan tanah yang
tidak sesuai dengan penciri tanah lainnya. Tanah tidak memenuhi kriteria lainnya sehingga
diklasifikasikan sebagai Typic Dystrudepts.
Great Group pada titik 2 dan 5 ini adalah Humudepts. Tanah ini memiliki great group
humudepts dikarenakan memiliki epipedon umbrik dan molik. Tidak diklasifikasikan ke
dalam great group lain karena tidak sesuai dengan kriteria lainnya.
Sub Group pada tanah ini Typic Humudepts. Sub group ini merupakan tanah yang
tidak sesuai dengan penciri tanah lainnya. Tanah tidak memenuhi kriteria lainnya sehingga
diklasifikasikan sebagai Typic Humudepts.

28
4.3 Kemampuan Lahan
Klasifikasi kemampuan (kapabilitas) lahan merupakan klasifikasi
potensi lahan untuk penggunaan berbagai sistem pertanian secara umum tanpa
menjelaskan peruntukan untuk jenis tanaman tertentu maupun tindakan-tindakan
pengelolaannya. Tujuannya adalah untuk mengelompokkan lahan yang dapat
diusahakan bagi pertanian (aracle land) berdasarkan potensi dan pembatasnya agar
dapat berproduksi secara berkesinambungan (Rayes,2007).
Berikut merupakan tabel hasil klasifikasi kemampuan lahan yang dianalisa
tiap titik nya:
Tabel 12. Kelas Kemampuan Lahan Titik K2.1
No. FaktorPembatas Kelas Kemampuan Lahan
Data Kode Kelas
1. Lereng (%) 15 % C III
2 Tingkat Erosi Tidak Ada Erosi e0 I
3 Kedalaman Tanah 170 cm k0 I
Tekstur tanah (t)
a. Lapisan Atas Lempung t3 I
b. Lapisan Bawah Lempung t3 I
4 Permeabilitas (p) Sedang P3 I
5 Drainase (d) Baik d1 I
6 Batu/Kerikil Tidak ada b0 I
7 Bahayabanjir Tidak pernah O0 I
Kelas Kemampuan Lahan III
Faktor Pembatas Lereng
Sub Kelas Kemampuan Lahan III (e)
Dari hasil analisis tabel diatas dapat diketahui bahwa titik K2.1 termasuk
kedalam kelas kemampuan lahan kelas III dengan faktor pembatas lereng, karena
data lereng mempunyai kelas tertinggi dari data lainnya sehingga didapatkan sub
kelas kemampuan lahan III(e), e merupakan kode untuk faktor pembatas lereng.
Menurut Rayes (2007), tanah-tanah dalam kelas III mempunyai kendala yang berat
sehingga mengurangi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan konservasi
yang khusus atau keduanya. Lahan kelas III dapat digunakan untuk tanaman
semusim, padang pengembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan suaka
margasatwa. Kendala yang terdapat pada tanah dalam kelas III adalah terbatasnya
waktu penggunaan dan waktu pengolahan, pilihan jenis tanaman semuasim atau
kombinasi dari ketiganya. Kendala-kendala tersebut dapat dapat disebabkan dari
sifat lereng yang agak curam atau miring (Rayes,2007). Jadi, kendala pada tanah

29
tersebut adalah lereng seperti yang didapatkan bahwa lereng merupakan faktor
pembatasnya.
Tabel 13. Kelas Kemampuan Lahan Titik K2.2
No. Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan
Data Kode Kelas
1. Lereng (%) 19 % D IV
2 Tingkat Erosi Ringan E1 II
3 Kedalaman Tanah 170 cm k0 I
Tekstur tanah (t)
a. Lapisan Atas Lempung t3 I
b. Lapisan Bawah Debu t3 I
4 Permeabilitas (p) Sedang P3 I
5 Drainase (d) Baik d1 I
6 Batu/Kerikil Tidak ada b0 I
7 Bahayabanjir Tidak pernah O0 I
Kelas Kemampuan Lahan IV
Faktor Pembatas Lereng
Sub Kelas Kemampuan Lahan IV (e)
Dari hasil analisis tabel diatas dapat diketahui bahwa titik K2.2 termasuk
kedalam kelas kemampuan lahan kelas IV dengan faktor pembatas lereng, karena
data lereng mempunyai kelas tertinggi dari data lainnya sehingga didapatkan sub
kelas kemampuan lahan IV(e), e merupakan kode untuk faktor pembatas lereng.
Menurut Rayes (2007), tanah-tanah dalam kelas IV mempunyai kendala yang
sangat berat sehingga mambatasi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan
pengelolaan yang sangat hati-hati atau keduanya. Tanah di dalam kelas IV dapat
digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, padang pengembalaan,
hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam. Dari data fisografi diketahui pada
titik 2 tanaman yang mendominasi adalah pinus dan pisang, seperti yang dijelaskan
Rayes (2007), bahwa tanah-tanah kelas IV mungkin hanya cocok untuk dua atau
tiga macam tanaman pertanian atau tanaman yang memiliki produksi rendah, dan
kendala disebabkan beberapa faktor seperti lereng agak curam atau berbukit.
Sehingga kendala pada tanah tersebut yaitu lereng karena faktor pembatasnya
merupakan lereng.

30
Tabel 14. Kelas Kemampuan Lahan Titik K2.3
No. Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan
Data Kode Kelas
1. Lereng (%) 18 % D IV
2 Tingkat Erosi Ringan e1 II
3 Kedalaman Tanah 170 cm k0 I
Teksturtanah (t)
a. Lapisan Atas Lempung t3 I
b. Lapisan Bawah Lempung t3 I
4 Permeabilitas (p) Sedang P3 I
5 Drainase (d) Baik d1 I
6 Batu/Kerikil Tidak ada b0 I
7 Bahaya banjir Tidak pernah O0 I
Kelas Kemampuan Lahan IV
Faktor Pembatas Lereng
Sub Kelas Kemampuan Lahan IV (e)
Dari hasil analisis tabel diatas dapat diketahui bahwa titik K2.3 termasuk
kedalam kelas kemampuan lahan kelas IV dengan faktor pembatas lereng, karena
data lereng mempunyai kelas tertinggi dari data lainnya sehingga didapatkan sub
kelas kemampuan lahan IV(e), e merupakan kode untuk faktor pembatas lereng.
Menurut Rayes (2007), tanah-tanah dalam kelas IV mempunyai kendala yang
sangat berat sehingga mambatasi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan
pengelolaan yang sangat hati-hati atau keduanya. Tanah di dalam kelas IV dapat
digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, padang pengembalaan,
hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam. Dari data fisografi diketahui pada
titik 3 tanaman yang mendominasi adalah pinus dan kopi, seperti yang dijelaskan
Rayes (2007), bahwa tanah-tanah kelas IV mungkin hanya cocok untuk dua atau
tiga macam tanaman pertanian atau tanaman yang memiliki produksi rendah, dan
kendala disebabkan beberapa faktor seperti lereng agak curam atau berbukit.
Sehingga kendala pada tanah tersebut yaitu lereng karena faktor pembatasnya
merupakan lereng.

31
Tabel 15. Kelas Kemampuan Lahan Titik K2.4
No. Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan
Data Kode Kelas
1. Lereng (%) 23 % D IV
2 Tingkat Erosi Ringan e1 II
3 Kedalaman Tanah 170 cm k0 I
Teksturtanah (t)
a. Lapisan Atas Lempung t3 I
b. Lapisan Bawah Lempung t3 I
4 Permeabilitas (p) Agak Cepat P4 III
5 Drainase (d) Baik d1 I
6 Batu/Kerikil Tidak ada b0 I
7 Bahayabanjir Tidak pernah O0 I
Kelas Kemampuan Lahan IV
Faktor Pembatas Lereng
Sub Kelas Kemampuan Lahan IV (e)
Dari hasil analisis tabel diatas dapat diketahui bahwa titik K2.4 termasuk
kedalam kelas kemampuan lahan kelas IV dengan faktor pembatas lereng, karena
data lereng mempunyai kelas tertinggi dari data lainnya sehingga didapatkan sub
kelas kemampuan lahan IV(e), e merupakan kode untuk faktor pembatas lereng.
Menurut Rayes (2007), tanah-tanah dalam kelas IV mempunyai kendala yang
sangat berat sehingga mambatasi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan
pengelolaan yang sangat hati-hati atau keduanya. Tanah di dalam kelas IV dapat
digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, padang pengembalaan,
hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam. Dari data fisografi diketahui pada
titik 4 tanaman yang mendominasi adalah pinus dan kopi, seperti yang dijelaskan
Rayes (2007), bahwa tanah-tanah kelas IV mungkin hanya cocok untuk dua atau
tiga macam tanaman pertanian atau tanaman yang memiliki produksi rendah, dan
kendala disebabkan beberapa faktor seperti lereng agak curam atau berbukit.
Sehingga kendala pada tanah tersebut yaitu lereng karena faktor pembatasnya
merupakan lereng.

32
Tabel 16. Kelas Kemampuan Lahan Titik K2.5
No. Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan
Data Kode Kelas
1. Lereng (%) 15 % C III
2 Tingkat Erosi Ringan E1 II
3 Kedalaman Tanah 170 cm k0 I
Teksturtanah (t)
a. Lapisan Atas Lempung t3 I
b. Lapisan Bawah Lempung t3 I
4 Permeabilitas (p) Agak Cepat P4 III
5 Drainase (d) Baik d1 I
6 Batu/Kerikil Tidak ada b0 I
7 Bahayabanjir Tidak pernah O0 I
Kelas Kemampuan Lahan III
Faktor Pembatas Lereng,
Permeabilitas
Sub Kelas Kemampuan Lahan III (e,p)
Dari hasil analisis tabel diatas dapat diketahui bahwa titik K2.1 termasuk
kedalam kelas kemampuan lahan kelas III dengan faktor pembatas lereng dan
permeabilitas, karena data lereng dan permeabilitas mempunyai kelas tertinggi dari
data lainnya sehingga didapatkan sub kelas kemampuan lahan III(e,p), e merupakan
kode untuk faktor pembatas lereng dan p merupakan kode untuk faktor penghambat
permeabilitas. Menurut Rayes (2007), tanah-tanah dalam kelas III mempunyai
kendala yang berat sehingga mengurangi pilihan penggunaan atau memerlukan
tindakan konservasi yang khusus atau keduanya. Lahan kelas III dapat digunakan
untuk tanaman semusim, padang pengembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan
suaka margasatwa. Kendala yang terdapat pada tanah dalam kelas III adalah
terbatasnya waktu penggunaan dan waktu pengolahan, pilihan jenis tanaman
semusim atau kombinasi dari ketiganya. Kendala-kendala tersebut dapat dapat
disebabkan dari sifat lereng yang agak curam atau miring (Rayes,2007). Jadi,
kendala pada tanah tersebut adalah lereng dan permeabilitas seperti yang
didapatkan bahwa lereng dan permeabilitas merupakan faktor pembatasnya.

4.4 Kesesuaian Lahan


Berikut ini data kesesuaian lahan yang merupakan hasil survei yang dibandingkan
berdasarkan kriteria kesesuaian lahan tanaman kopi dan pinus BBSDLP. Menurut Ritung et
al. (2007), kesesuaian lahan merupakan sebuah penilaian kondisi saat ini yang disebut juga
kondisi lahan aktual atau setelah diadakan perbaikan yang disebut juga kesesuaian lahan

33
potensial. Kesesuaian lahan aktual adalah merupakan kesesuaian lahan yang didasarkan pada
data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberikan perlakuan
khusus yang pada lahan. Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang
berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan
potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-
usaha perbaikan.

4.4.1 Kesesuaian Lahan Aktual


Berikut Berikut di bawah ini merupakan data hasil kesesuaian lahan aktual pada lima
titik pengamatan. Kelas kesesuaian lahan merupakan pembagian lebih lanjut dari ordo
kesesuaian lahan dan menggambarkan tingkat kesesuaian dari suatu ordo. Tingkat
kesesuaian lahan tersebut ditunjukkan dalam kelas yang dilambangkan oleh angka yang
berupa nomor urut yang ditulis dibelakang simbol ordo. Nomor urut tersebut menunjukkan
tingkatan kelas yang menurun dalam suatu ordo.Pembagian dan definisi secara kualitatif
masing-masing kelas jika menggunakan tiga kelas untuk ordo sesuai, adalah sebagai berikut:
(a) Kelas S1: sangat sesuai (highly suitable). Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat
untuk penggunaannya atau hanya mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh
nyata terhadap produksi serta tidak meyebabkan kenaikan masukan yang diberikan pada
umumnya. (b) Kelas S2: cukup sesuai (moderately suitable). Lahan mempunyai pembatas
agak berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan
mengurangi produktivitas dan keuntungan, serta meningkatkan masukan yang diperlukan.
(c) Kelas S3: sesuai marginal (marginally suitable) Lahan mempunyai pembatas yang sangat
berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan
mengurangi produktivitas dan keuntungan dari suatu tanaman budidaya sehingga guna
meningkatkan kesesuaian lahan maka perlu ditambahkan masukan bagi tanah yang
diperlukan (Amalia, 2012).
Tabel 17. Kelas Kesesuaian Lahan Aktual pada Lima Titik Pengamatan K2 berdasarkan
pada Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman BBSDLP (2014)
Titik Sub Kelas Kesesuaian Lahan Aktual
Pengamatan Pinus Kopi Jahe
K2.1 S3eh S2oa,eh S2wa,eh
K2.2 S3eh S3eh S3eh
K2.3 S3eh S3eh S3eh
K2.4 S3eh S3eh S3eh
K2.5 S3eh S2oa,eh S2wa,eh

34
4.4.1.1 Titik 1
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan
tanaman pinus pada titik K2.1 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas
S3eh. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini, bahaya erosi yang
berupa kelerengan dan bahaya erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang
sesuai secara marginal (marginal suitable) bagi tanaman pinus.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.1 adalah S yaitu suitable dengan kelas S2 (cukup sesuai) bagi tanaman kopi.
Kelas S2 merupakan lahan yang mempunyai pembatas agak berat untuk
mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan (Rayes 2006). Dan
untuk subkelas S2oa,eh yaitu ketersediaan oksigen dan bahaya erosi.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan
tanaman jahe pada titik K2.1 adalah S yaitu suitable dengan kelas S2 dan subkelas
S2wa,eh. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini ketersediaan air,
kelerengan, dan bahaya erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang cukup
sesuai (moderately suitable) bagi tanaman jahe.
4.4.1.2 Titik 2
Kesesuaian lahan merupakan kecocokan suatu lahan untuk penggunaan
tertentu, seperti lahan untuk irigasi, tambak, pertanian tanaman tahunan atau
pertanian tanaman semusim. Untuk lebih spesifik kesesuaian lahan dapat ditinjau
dari sifat- sifat fisik lingkungannya, yang terdiri atas iklim, tanah, topografi, hidrologi
dan atau drainase yang sesuai untuk usaha tani atau komoditas tertentu yang
produktif (Rayes 2007).
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di UB Forest, Desa
Tawangargo, pada pengamatan titik K2.2 vegetasi yang dominan adalah tanaman
kopi dan pinus. Pada karakteristik lahan bahaya erosi terdapat data lereng sebesar
19% dan bahaya erosi sedang yang keduanya masuk kedalam rating kelas
kesesuaian lahan aktual S3. Untuk bahaya banjir didapatkan rating kelas kesesuaian
lahan yaitu S1. Pada data penyiapan lahan rating kelas kesesuaian lahannya adalah
S1.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan
tanaman pinus pada titik K2.2 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 atau marginal

35
suitable dan subkelas S3eh. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini,
bahaya erosi yang berupa kelerengan dan bahaya erosi menjadi kualitas dan
karakteristik lahan yang kurang sesuai bagi tanaman pinus karena dapat menjadi
faktor pembatas yang akan menghambat peningkatan produktifitas tanaman.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan
tanaman kopi pada titik K2.2 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 sesuai secara
marginal. Menurut Widiatmaka (2011), kelas S3 merupakan lahan yang mempunyai
faktor pembatas, dan faktor pembatas ini akan berpengaruh terhadap
produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan (input). Pembatas tersebut
biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri. Dan untuk subkelas S3eh bahaya erosi.
Data ketersediaan oksigen berupa drainase yaitu sedang dengan rating S1.
Drainase yang baik akan mencegah tanaman dari serangan penyakit seperti penyakit
layu akibat tergenang air disekitar areal tanam karena tidak baiknya drainase.
Sedangkan aerasi yang baik akan memberi ruang gerak bagiakar untuk
menyerap unsur hara dan air, serta mengurangi pembentukan senyawa - senyawa
anorganik dalam tanah yang bersifat racun (Paimin dan Murhananto, 2004).
Pada karakteristik lahan bahaya erosi terdapat data lereng sebesar 19% dan bahaya
erosi sedang yang keduanya masuk kedalam rating kelas kesesuaian lahan aktual S3.
Untuk bahaya banjir didapatkan rating kelas kesesuaian lahan yaitu S1. Pada data
penyiapan lahan rating kelas kesesuaian lahannya adalah S1.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.2 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas S3eh untuk tanaman
jahe. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini kelerengan, dan bahaya
erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang sesuai secara marginal (marginal
suitable) bagi tanaman jahe.
4.4.1.3 Titik 3
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di UB Forest, Desa
Tawangargo, pada pengamatan titik K2.3 data ketersediaan oksigen berupa drainase
yaitu sedang dengan rating S2. Pada karakteristik lahan bahaya erosi terdapat data
lereng sebesar 18% dan bahaya erosi sedang yang keduanya masuk kedalam rating
kelas kesesuaian lahan aktual S3.

36
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.3 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas S3eh. Hal ini
menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini, bahaya erosi yang berupa
kelerengan dan bahaya erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang kurang
sesuai bagi tanaman pinus.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan
pada titik K2.3 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 (sesuai marginal).
Dan untuk subkelas S3eh yaitu bahaya erosi. Romananda (2014), dari hasil
penelitian menunjukkan tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman kopi
Arabika pada kemiringan 13% kesesuaian lahan aktual termasuk kelas
cukup sesuai dengan faktor pembatas kemiringan lereng (S2s). Pada
kemiringan 25% dan kemiringan 35% termasuk kelas yaitu sesuai marginal
dengan faktor pembatas kemiringan lereng (S3s). Kualitas buah kopi lebih
tinggi pada kemiringan 35% dan 25% dengan kesesuaian S3 dibandingkan
pada kemiringan 13% dengan kesesuaian S2.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.3 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas S3eh untuk tanaman
jahe. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini, kelerengan, dan bahaya
erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang sesuai secara marginal (marginal
suitable) bagi tanaman jahe. Tanaman jahe menghendaki tanah yang cukup subur,
gembur, banyak mengandung humus bahan organik tinggi serta yang
berdrainase baik. Tanah rawa, tanah Hat berat dan tanah yang banyak mengandung
pasir kasar atau kerikil tidak baik untuk pertumbuhan tanaman ini. Tekstur
tanah yang dikehendaki adalah lempung berpasir lempung berliat, liat
berpasir dan liat berdebu (Paimin dan Murhanto, 2004).
4.4.1.4 Titik 4
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.4 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas S3eh yaitu
kelerengan. Kelerengan merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh
terhadap aliran permukaan dan erosi (Arsyad, 2000). Lereng permukaan tanah tidak
selalu seragam kemiringannya. Keadaan kemiringan lereng yang tidak seragam,
artinya lereng-lereng curam diselingi dalam jarak pendek oleh lereng-lereng yang

37
lebih datar, pada titik K2.4 ini mememiliki kelerengan yang paling curam diantara
keempat titik lainnya. Sumaryono (2000) menyatakan bahwa, pada wilayah yang
berlereng, sifat mekanis pohon kurang menunjang untuk dapat berdiri tegak karena
perakaran yang mendatar. Keadaan demikian akan memberikan pengaruh negatif
terhadap ukuran pohon besar, oleh karena itu kelerengan memiliki hubungan yang
erat dengan sistem perakaran suatu tanaman. Akar memiliki peran sebagai
penyediaan unsur hara dan air yang diperlukan tanaman untuk metabolisme
tanaman.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.4 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 (sesuai marginal). Dan untuk
subkelas S3eh yaitu bahaya erosi. Bahaya erosi pada tanah tanaman kopi kurang
sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi karena lereng dan bahaya erosi tanaman
kopi di titik K2.4 dikategorikan di subkelas S3eh yaitu sesuai marginal, dimana lahan
tersebut mempunyai pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat
pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan
keuntungan. Perlu ditingkatkan masukan yang diperlukan (Djaenudin, 1994).
Pada karakteristik lahan bahaya erosi terdapat data lereng sebesar 23% dan
bahaya erosi sedang yang keduanya masuk kedalam rating kelas kesesuaian lahan
aktual S3. Untuk bahaya banjir didapatkan rating kelas kesesuaian lahan yaitu S1.
Pada data penyiapan lahan rating kelas kesesuaian lahannya adalah S1.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.1 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas S3eh. Hal ini
menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini kelerengan dan bahaya erosi menjadi
kualitas dan karakteristik lahan yang sesuai secara marginal (marginal suitable) bagi
tanaman jahe.
Jahe dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m di atas permukaan laut
(dpi), tetapi yang optimum antara 300-900 m dpi (Bautista dan Aycardo,
1979). Suhu optimum 25-30°C. Daerah-daerah dengan jumlah curah hujan
tahunan 2500-4000 mm dengan bulan basah 7-9 bulan baik untuk pertumbuhan
jahe. Selama fase pembentukan anakan, tanaman jahe membutuhkan sinar
matahari yang cukup. Apabila jahe ditanam di tempat yang agak

38
terlindung, maka tanaman ini akan berdaun lebar dengan rimpang yang lebih
kecil (Effendi, 2000).
4.4.1.5 Titik 5
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.5 adalah S yaitu suitable dengan kelas S3 dan subkelas S3eh. Hal ini
menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini, bahaya erosi yang berupa
kelerengan dan bahaya erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang kurang
sesuai bagi tanaman pinus. Karena, subkelas S3eh menunjukkan kesesuain marginal
(marginally suitable) Lahan mempunyai pembatas berupa kelerengan. Faktor
pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan sehingga guna
meningkatkan kesesuaian lahan maka perlu ditambahkan masukan bagi tanah yang
diperlukan (Amalia, 2012).
Pada karakteristik lahan bahaya erosi terdapat data lereng sebesar 18% dan
bahaya erosi berat yang keduanya masuk kedalam rating kelas kesesuaian lahan
aktual S3. Untuk bahaya banjir didapatkan rating kelas kesesuaian lahan yaitu S1.
Pada data penyiapan lahan rating kelas kesesuaian lahannya adalah S1.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.5 adalah S yaitu suitable dengan kelas S2 (cukup sesuai). Dan untuk
subkelas S2oa,eh yaitu ketersediaan oksigen dan bahaya erosi.
Untuk karakterisitik lahan media perakaran pada titik K2.5 yang dilihat dari
teksturnya pada minipit ini adalah lempung berdebu (SiL) dengan rating kelas
kesesuaian lahan yaitu S1 dan kedalaman tanah dengan rating S1. Pada data kualitas
dan karakteristik lahan retensi hara, didapatkan data KTK liat sebesar 39,28 cmol,
KTK suatu tanah adalah kemampuan tanah untuk menyerap kation-kation
yang dapat dipertukarkan pada kompleks pertukaran. Besarnya KTK sangat
dipengaruhi oleh jumlah dan jenis mineral liat serta jumlah kandungan bahan
organik. Oleh karena itu tanah-tanah yang mempunyai tipe mineral liat dan
kandungan bahan organik yang berada akan mempunyai KTK yang berbeda
pula (Soepardi, 1983). Kejenuhan basa 40%, pH H2O 5,5, dan C-organik 4,42%
yang semuanya termasuk kedalam rating kelas kesesuaian lahan aktual S1 (sangat
sesuai). Pada karakteristik lahan bahaya erosi terdapat data lereng sebesar 15% dan
bahaya erosi sedang yang keduanya masuk kedalam rating kelas kesesuaian lahan

39
aktual S2. Untuk bahaya banjir didapatkan rating kelas kesesuaian lahan yaitu S1.
Pada data penyiapan lahan rating kelas kesesuaian lahannya adalah S1.
Berdasarkan data tersebut didapatkan bahwa ordo kesesuaian lahan pada
titik K2.1 adalah S yaitu suitable dengan kelas S2 dan subkelas S2wa,eh. Hal ini
menunjukkan bahwa pada titik pengamatan ini ketersediaan air, kelerengan, dan
bahaya erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang cukup sesuai (moderately
suitable) bagi tanaman jahe.
4.4.2 Kesesuaian Lahan Potensial
Berikut dibawah ini adalah data tabel sub kelas kesesuaian lahan potensial untuk
tanaman pinus, kopi, dan jahe pada lima titik pengamatan.
Tabel 18. Sub Kelas Kesesuaian Lahan Potensial
Titik Sub Kelas Kesesuaian Lahan
Pengamatan Pinus Kopi Jahe
K2.1 S3eh S2eh S2wa,eh
K2.2 S3eh S3eh S3eh
K2.3 S3eh S3eh S3eh
K2.4 S3eh S3eh S3eh
K2.5 S3eh S2eh S2wa,eh
4.4.2.1 Pinus
Keadaan kesesuaian lahan aktual pada titik 1,2,3,4 dan 5 termasuk kedalam
kelas S3eh yaitu kelas yang sesuai marginal (marginally suitable), yaitu lahan yang
mempunyai pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat
pengelolaan yang harus dilakukan. Pada semua titik kesesuaiaan lahannya S3
dengan faktor pembatas kelerengan (eh). Untuk memperbaiki kesesuaian lahan dan
meningkatkan kesesuaian lahan dari S3eh ke kelas yang lebih baik maka perlu
diperhatikan pembenahan pada faktor pembatasnya. Faktor pembatas pada tiap titik
untuk kesesuaian pinus yaitu kelerengan. Dari kondisi aktual tadi langkah yang bisa
dilakukan untuk meningkatkan kelas kesesuaian lahan menggunakan pengolahan
lahan.yang baik. Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2001) asumsi tingkat
perbaikan kualitas lahan aktual untuk menjadi potensial menurut tingkat
pengelolaannya, bahaya erosi atau tingkat kelerengan lahan membutuhkan tingkat
pengelolaan yang sedang sampai tinggi. Hal ini membuktikan bahwa perbaikan
kesesuaian lahan bisa dilakukan. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara pembuatan
terasering. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan aliran
permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah

40
berkurang. Namun pengaplikasian perbaikan pada pembatas kelerengan agak sulit
dilakukan sebab membutuhkan tenaga dan biaya yang lebih banyak.
4.3.2.2 Kopi
Pada kelas kesesuaian lahan aktual kopi pada titik 1 termasuk
kedalam kelas kesesuaian lahan S2oa,eh dengan faktor pembatas
ketersediaan oksigen yang berkaitan dengan drainase (oa) dan kelerengan
(eh). Dari titik satu yang dapat diperbaiki adalah pembatas berupa
drainasinya. Menurut Djaenudin dkk (1994) harus ada upaya perbaikan
drainase dengan memberikan saluran irigasi. Sedangkan unntuk
memperbaiki pembatas kelerengan (eh) memerlukan tingkat pengolahan
yang tinggi, menurut Arsyad (1973) perbaikan dengan pengelolaan berat
adalah lereng, bahaya erosi, kedalaman sulfidik, alkalinitas, C-Organik,
KB dan KTK. Meskipun untuk kelerengan bisa dilakukan perbaikan
dengan upaya pembuatan terasering, namun hal ini membutuhkan energi
dan biaya yang cukup tigggi. Sehingga perubahan kelas kesesuaian pada
titik satu menjadi S2eh.
Pada titik 2,3 dan 4 memiliki kelas kesesuaian S3 dengan pembatas
kelerengan (eh). Masing-masing titik memiliki pembatas yang sama, untuk
memperbaiki kelas kesesuaian diperlukan perbaikan pada factor
pembatasnya. Sama seperti penjelasan sebelumnya pembatas kelerengan
butuh enerrgi yang lebih tinggi. Sehingga kelas kesesuaian pada titik 2,3
dan 4 masih kedalam kelas S3eh.
Pada titik 5 termasuk kedalam kelas kesesuaian lahan S2eh yaitu kondisi
cukup sesuai dengan faktor pembatas kelerengan (eh). Sama seperti halnya
titik lain yang memiliki faktor pembatas kelerengan. Pada titik ini
perbaikan faktor kelerengan memiliki tingkat pengelolaan yang tinggi.
Menurut Djaenuddin et al ( 1994) tingkat pengelolaan tinggi hanya dapat
dilakukan dengan modal yang relatif permanen. Sehingga kelas kesesuaian
lahan masih masuk kedalam kelas S2eh.
4.3.2.3 Jahe
Keadaan kesesuaian lahan aktual pada titik 1 dan 5 termasuk kedalam kelas
S2wa,eh yaitu cukup sesuai (pembatas sedikit mempengaruhi produktivitas dan

41
keuntungan). Faktor pembatas untuk kelas kesesuaian lahan S2 yaitu ketersediaan
air (wa) yang berkaiatan dengan curah hujan dan kelerengan (eh). Untuk
memperbaiki kesesuaian lahan menjadi kelas yang lebih baik maka perlu
diperhatikan pembenahan pada faktor pembatasnya. Menurut Hardjowigeno dan
Widiatmaka (2001) asumsi tingkat perbaikan kualitas lahan aktual untuk menjadi
potensial menurut tingkat pengelolaannya bahaya erosi atau tingkat kelerengan lahan
membutuuhkan tingkat pengelolaan yang sedang sampai tinggi dan untuk
ketersediaan air juga memerlukan tingkat pengelolaan yang sedang-tinggi.
Perbaikan kesesuaian lahan bisa dilakukan. Namun pengaplikasian perbaikan agak
sulit sebab membutuhkan tenaga dan biaya yang lebih banyak. Dapat disimpulkan
bahwa perbaikan kelas dari pembatas ketersediaan air dan kelerengan berat untuk
dilakukan.
Pada titik 2,3 dan 4 memiliki kelas kesesuaian lahan aktual S3eh yaitu kelas
kesesuaian yang termasuk kedalam kelas sesuai marginal dengan faktor pembatas
berupa kelerengan (eh). Untuk memperbaiki kelas kesesuaian lahan menjadi lebih
baik perlu dilakukan perbaikan pada faktor pembatasnya. Sama seperti halnya titik
lain yang memiliki factor pembatas kelerengan (eh), pada pembatas ini diperlukan
tingkat pengolahan yang sedang-tinggi. Meskipun bisa diperbaiki dengan
pembuatan terasering namun untuk melakukannya membutuhkan energi dan biaya
yang cukup tinggi. Sehingga kelas kesesuaian lahan potensial untuk titik 2, 3 dan 4
tetap masuk kedalam kelas S3eh.
4.4.3 Rekomendasi
Pada titik K2.2, K2.3, dan K2.4 faktor pembatas kelerengannya masuk
dalam kelas kesesuaian lahan S3 dengan faktor pembatas kelerengan. Rekomendasi
mengenai upaya perbaikan dapat di lakukan pada faktor pembatas lereng dari kelas
S3 menjadi S2 dengan cara menggunakan pola lahan terasering jenis teras bangku
yang cocok di aplikasikan pada kelerengan antara 10-23 % agar mengurangi bahaya
erosi. Menurut Sukartaatmadja (2004), terasering adalah bangunan konservasi
tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan
atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan
tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi

42
kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga
kehilangan tanah berkurang.
Tanaman yang cocok ditanami pada titik K2.2, K2.3, dan K2.4 adalah Pinus
Merkusii. Pinus Merkusii merupakan jenis tanaman yang tidak memerlukan syarat
tumbuh yang tinggi. Jenis tanaman ini mampu tumbuh baik di lahan yang tidak
subur hingga lahan yang subur. Pinus mampu tumbuh pada ketinggian mulai dari
200-1700 mdpl dengan curah hujan diatas 1.600 mm/th. Tanaman ini sifatnya
mudah tumbuh, mudah membuat bibit, tahan kebakaran dan mempunyai nilai
ekonomi yang tinggi dapat dikembangkan untuk kepentingan konservasi (Gintings,
2007). Pinus merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk reboisasi, karena
pinus memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai tanaman pelindung tanah
secara ekologis dan sebagai penghasil kayu (Harahap dan Aswandi, 2006;
Senjayadan Surakusumah, 2010). Menurut Supangat (2008), yang melakukan
penelitian mengenai pengaruh hutan pinus terhadap kualitas air, hutan pinus juga
dapat menjaga kualitas air sehingga airnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti mandi, mencuci dan pertanian.
Selain itu, adanya tegakan vegetasi dapat berperan dalam mengurangi gempuran
energi kinetik hujan melalui tiga cara yaitu strata tajuk (kanopi), serasah hutan dan
pori-pori tanah sehingga aliran dapat diatur (Asdak, 2007). Tanaman kedua yang
dapat direkomendasikan ialah kopi. Kopi mempunyai akar tunggang yang kuat
sampai kedalaman hingga 3 meter dan akar lateral sampai sepanjang 2 meter dengan
ketebalan sekitar 0,5 m dari permukaan tanah dan membentuk anyaman kesegala
arah (Wrigley, 1998). Sifat ini dapat melindungi dan memegang tanah dari daya
erosi air hujan. Selain keutungan secara ekologis, pinus juga memiliki keuntungan
ekonomis yaitu kayu pinus dapat dipakai sebagai bahan bangunan, perkakas, venit,
tripleks, papan dan kotak/batang korek api sedangkan seratnya dapat digunakan
sebagai bubur kayu untuk kertas, sutera tiruan, bahan pelarut, kertas kaca, seluloida
dan sebagainya (Fua et. al. 1998).
Pada titik K2.1, dan K2.5 untuk kesesuain lahan tanaman pinus sama seperti
titik K.2, K2.3, dan K2.4. Yang membedakan berada pada titik K2.1, dan K2.5,
dimana pada tanaman kopi dan jahe termasuk kelas S2 dengan faktor pembatas
kelerengan, oksigen dan ketersediaan air. Faktor pembatas oksigen dan

43
ketersediaan air tidak bisa dirubah maka kita merekomendasikan mengenai upaya
perbaikan pada faktor pembatas lerengnya dari S2 menjadi S1 dengan cara
menggunakan pola lahan terasering bangku sama seperti pada titik K2.2, K2.3, dan
K2.4 karena kelerengannya masih berada pada 15%. Tanaman yang
direkomendasikan pada titik K2.1 dan K2.5 adalah tanaman Pinus, Kopi, dan Jahe.
Untuk penjelasan pinus dan kopi sudah tertera di atas, dan untuk jahe sendiri
direkomendasikan karena cocok dengan kondisi lahan pada titik 1 dan 5. Tanaman
jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun,
Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35°C dan jahe tumbuh
baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 mdpl (Paimin,1999).

Gambar 1. Terasering Bangku

4.5 Zonasi
Penyusunan dari zonasi komoditas pada evaluasi lahan menggunakan kelas
kesesuaian lahan potensial pada komoditas pinus, kopi dan jahe beserta faktor
pembatas dari pedontipikal setiap SPT. Dengan mempertimbangkan kesesuaian
potensial kita dapat mengetahui SPT tersebut dapat berpotensi dalam budidaya
tanaman tertentu.
Fungsi utama dari zonasi ialah membantu pengguna atau pengambil
keputusan penggunaan ruang untuk dapat mengidentifikasi dan mengenal
perbedaan penggunaan dalam suatu ruang wilayah atau kawasan (Baja, 2012).
Zonasi dapat menjadi hasil penilaian evaluasi lahan untuk pengembangan dan
pemanfaatan lahan sesuai dengan kesesuaian potensi lahan terhadap suatu
komoditas.

44
Tabel 19. Zonasi
Zonasi SPL
Pinus SPL 8, SPL 16, SPL 25, SPL 26, SPL 27, dan SPL 37
Pinus dan Kopi SPL 2, SPL 3, SPL 4, SPL 5, SPL 6, SPL 9, SPL 10, SPL 11, SPL
12, SPL 13, SPL 14, SPL 17, SPL 18, SPL 23, SPL 24, SPL 28,
SPL 29 SPL 31, dan SPL 40.
Pinus dan Jahe SPL 1, SPL 7, SPL 19, SPL 34, SPL 38 dan SPL 39
Pinus, Kopi dan Jahe SPL 15, SPL 20, SPL 21, SPL 22, SPL 30, SPL 32, SPL 33, dan
SPL 35
Berdasarkan data kesesuaian lahan potensial, zonasi untuk komoditas pinus
saja tanpa tanaman bawah terdapat pada SPL 8, SPL 16, SPL 25, SPL 26, SPL 27,
dan SPL 37 karena pada lahan tersebut memiliki kelas kesesuaian potensial
tanaman pinus, kopi dan jahe N dengan faktor pembatas bahaya erosi (eh).
Selanjutnya SPL 36 cocok dan potensial ditanami pinus karena pada lahan tersebut
faktor pembatas dari kesesuaian potensial kopi yaitu ketersediaan air (wa) dan fakor
pembatas pada jahe yaitu temperatur (tc) yang ketidak dapat di perbaiki dan pada
SPT 37 memiliki tingkat kelas kesesuaian faktor pembatas ketersediaan air (wa).
Pada SPL 3 dan SPL 6 cocok dan potensial ditanami tanaman budidaya kopi
dengan pinus, kelas kesesuaian potensial yang dimiliki untuk tanaman kopi ialah
Sangat Sesuai (S1) sehingga pada lahan tersebut tidak ditemukan pembatas yang
berpengaruh nyata. Pada SPL 4, SPL 5, SPL 9, SPL 10, SPL 12, SPL 17, SPL 18,
SPL 28, SPL 29 dan SPL 40 cocok dan potensial ditanami tanaman budidaya kopi
dengan pinus, karena untuk tanaman kopi tingkat kelas kesesuaian potensial lebih
baik dibanding dengan tanaman jahe. Tanaman kopi dan pinus juga potensial dan
cocok pada SPL 2, SPL 13, SPL 14, SPL 23, SPL 24, dan SPL 31 karena pada lahan
ini memiliki tingkat kelas kesesuaian yang sama tetapi faktor pembatasnya bahaya
erosi (eh) yang dapat di perbaiki dengan pembuatan terasering.
Pada SPL 7, SPL 19, dan SPL 34 memiliki potensial dan cocok ditanami
tanaman budidaya jahe di bawah pinus karena tingkat kelas kesesuaian potensial
kopi pada lahan ini lebih rendah dan bahkan tidak sesuai dibandingkan dengan jahe,
dan pada SPL 34 memiliki faktor pembatas bahaya erosi (eh) yang masih dapat
diperbaiki dengan terasering. SPL 1 dan 38 potensial ditanami tanaman jahe dan
pinus karena kelas kesesuaian potensial jahe ialah S3 dengan faktor pembatas
temperatur (tc) sedangkan kelas kesesuaian potensial kopi ialah S3 dengan faktor
pembatas tekstur (rc). SPL 39 lebih cocok dan potensial terhadap tanaman jahe

45
karena faktor pembatas kopi ialah teksur (rc) yang membutuhkan bertahun-tahun
untuk dapat berubah sedangkan faktor pembatas jahe ialah kelerengan (eh) dan
temperatur (tc).
Pada SPL 15, SPL 20, SPL 21, SPL 22, SPL 30, SPL 32, SPL 33 dan SPL
35 memiliki potensial dan cocok ditanami pinus dengan tanaman bawah kopi dan
jahe karena kedua tanaman bawah pinus tersebut memiliki kelas keseuaian yang
sama yaitu S3 serta faktor pembatas bahaya erosi (eh) yang dapat diperbaiki dengan
penggunaan terasering.

46
5. PENUTUP

5.2 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan fieldwork II survei tanah dan evaluasi lahan
yang dilakukan di Lereng Gunung Arjuno, diketahui bahwa secara umum, pada lima titik
pengamatan kelompok K2 taksa tanahnya didominasi oleh ordo tanah Inceptisols, adapun
berdasarkan batas alami berupa kelerengan, terdapat 40 sebaran peta tanah pada daerah
tersebut yang terdiri atas tiga jenis satuan peta utama, yaitu konsosiasi, kompleks dan asosiasi.
Sebaran peta tanah tersebut terdiri dari 14 Konsosiasi Typic Humudept, 9 Kompleks Typic
Humudept, 5 Kompleks Typic Dystrudept, 1 Kompleks Andik Humdept, 1 Kompleks
Humic Dystrudept , 2 Kompleks Pachic Humudept,1 Kompleks Andic Dystrudepts, 14
Asosiasi Typic Humudept, 7 Asosiasi Typic Dystrudept, 2 Asosiasi Pachic Humudept, 6
Asosiasi Andic Dystrudepts, 1 Asosiasi Andic Humudept, 1 Asosiasi Humic Dystrudept, 1
Asosiasi Typic Hapludalf.
Dari hasil proses identifikasi kemampuan lahan, pada lima titik pengamatan
kelompok K2 sebaran kemampuan lahannya secara umum memiliki faktor pembatas utama
yaitu kelerengan. Pada titik yang diamati rata-rata didapatkan lereng dengan kemiringan 15-
23%.
Lalu berdasarkan hasil proses identifikasi kesesuaian lahan, kelas kesesuaian lahan
aktual maupun potensial pohon pinus pada titik pengamatan kelompok K2 adalah pada titik
pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima kesesuaian lahannya sama yaitu S3eh. Hal
tersebut menunjukkan bahwa pada titik pengamatan, bahaya erosi yang berupa kelerengan
dan bahaya erosi menjadi kualitas dan karakteristik lahan yang sesuai secara marginal bagi
tanaman pinus. Sedangkan untuk kesesuaian lahan aktual maupun potensial kopi yaitu pada
titik pertama dan kelima yaitu S2oa,eh. Sedangkan pada titik kedua, ketiga dan keempat yaitu
S3eh. Sedangkan untuk kesesuaian lahan actual maupun potensial jahe titik pertama dan
kelima yaitu S2wa,eh. Sedangkan pada titik kedua, ketiga dan keempat yaitu S3eh.
Sebagian lahan yang mempunyai kelas lebih rendah dalam kesesuaian lahan aktual
dapat ditingkatkan kelasnya dalam kesesuaian lahan potensial asalkan faktor-faktor
pembatas lahan dapat diperbaiki. Faktor pembatas kelerengan permanen sehingga tidak
dapat diperbaiki, faktor pembatas pH yang terlalu rendah dapat diperbaiki dengan upaya
pengapuran, faktor pembatas drainase dapat diperbaiki dengan pembuatan saluran drainase.

47
5.3 Saran
Dari hasil evaluasi lahan yang telah disimpulkan, maka disarankan adanya perbaikan
lahan untuk memperbaiki faktor pembatas yang dapat diupayakan dengan perbaikan lahan
supaya dapat mendukung kehidupan tanaman dan mempertahankan keberlanjutan lahan itu
sendiri. Untuk praktikum sudah berjalan dengan baik dan tertib namun untuk pengumpulan
laporan untuk ditoleransi lebih lama.

48
6. DAFTAR PUSTAKA

Amalia, R.F. 2012. Kesesuaian Lahan Pinus Merkusii Jungh Et De Vriese Pada
Areal Bekas Tegakan Tectona Grandis Linn. F. (Studi Kasus Di Rph
Wanareja Kph Banyumas Barat).
http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/62477/9/E13rfa.pdf.
Diakses pada 17 Mei 2017 Pukul 21:00 WIB.
Arsyad, S. 1973. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Tanah. Bogor: IPB.
Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. UPT Produksi Media Informasi.
Lembaga Sumberdaya Informasi. Institut Pertanian Bogor, IPB Press,
Bogor.
Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Baja, Sumbangan. 2012. Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah:
Pendekatan Spesial & Aplikasinya. Yogyakarta: ANDI, Yogyakarta.
Djaenudin, D., H. Basuni, S. Hardjowigeno, H. Subagyo, 1994. Kesesuaian Lahan
untuk Tanaman Pertanian dan Tanaman Kehutanan. Laporan Teknis No.7
Versi 1.0 LREP-II Part C.Bogor: CSAR, Bogor.
Fua, Yohanes, Prayitno dan Sunyata, A. 1998. Degradasi Komponen Kimia Kayu
Tusan (Pinus Merkusii Jung Et De Vriese) oleh Jamur Noda Biru Menurut
Waktu dan Posisi Radial. Buletin Agro Industri No. 05/1998.
Gintings, A Ngaloken. 2007. Pengaruh Hutan Pinus Merkusii Terhadap Tata Air.
Makalah. Purworejo: Gelar Teknologi “Pemanfaatan IPTEK untuk
Kesejahteraan Masyarakat”.
Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Hadmoko, D. S. 2012. Evaluasi Sumber Daya Lahan Prosedur dan Teknik Evaluasi
Lahan : Aplikasi teknik skoring dan matching. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada Press.
Harahap, Rusli dan Aswandi. 2006. Pengembangan dan Konservasi Tusam (Pinus
Merkusii Jungh. Et de Vriese) Strain Tapanuli dan Kerinci. Ekspose Hasil-
hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Padang,
20 September 2006.
Hardjowigeno, S dan Widiatmaka. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan
Pembangunan Tanah. Jurusan Tanah. Faperta, IPB. Bogor
Hardjowigeno, Sarwono. 2015. Ilmu Tanah. Bekasi: Akademia Pressindo.
Hukum Online. 2017. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004.
http://hukumonline.com . Diakses pada Tanggal 7 Mei 2017 Pukul 20:00
WIB.
Rayes L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta: Andi
Yogyakarta.
Rosmarkam, A., dan N. W. Yuwono. 2011. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta:
Kanisius.

49
Samingan, M. T. 1980. Dunia Tumbuhan: Bagian Ekologi. Departemen Botani.
Bogor: IPB Press.
Sumaryono. 2000. Sebaran diameter pohon ditinjau dari oksilasi residu persamaan
regresinya di HPH PT. Limbang Ganeca. Jurnal Ilmiah Kehutanan
RIMBA Kalimantan 4(1):1-4.
Tufaila, M., dan S. Alam. 2014. Karakteristik Tanah Dan Evaluasi Lahan Untuk
Pengembangan Tanaman Padi Sawah Di Kecamatan Oheo, Kabupaten
Konawe Utara. J. Agriplus 24(2): 184-194, ISSN 0854-0128
Widiatmaka, Sarwono H. 2011. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan
Tataguna Lahan. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.

50