Anda di halaman 1dari 4

KODE ETIK PSIKOLOGI PASAL 29

NAMA :RYAN PRAKASA

NIM :1511418141

ROMBEL :3
PENGANTAR

Kode etik psikologi adalah tata aturan yang harus dipatuhi setiap psikolog di
indonesia. Kode etik ini harus di laksanakan tanpa terkecuali dan tidak boleh
dilanggar.jika kode etik ini di langgar oleh psikolog maka yang bersangkutan
akan terkena sanksi.kode etik ini dibuat oleh HIMPSI.

Pada BAB VI IKLAN DAN PERNYATAAN PUBLIK kode etik psikologi


pasal 29 menjelaskan tentang hubungan yang diatur antara psikolog
dengan pihak pihak lainnya (biro iklan).
BAB VI
IKLAN DAN PERNYATAAN PUBLIK

PASAL 29
KETERLIBATAN PIHAK LAIN TERKAIT

(1) Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi yang melibatkan orang atau pihak lain untuk
menciptakan atau menempatkan pernyataan publik yang mempromosikan praktek
profesional, hasil penelitian atau aktivitas yang bersangkutan, tanggung jawab
profesional atas pernyataan tersebut tetap berada di tangan Psikolog dan atau Ilmuwan
Psikologi.

(2) Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi berusaha mencegah orang atau pihak lain yang
dapat mereka kendalikan, seperti lembaga tempat bekerja, sponsor, penerbit, atau
pengelola media dari membuat pernyataan yang dapat dikategorikan sebagai penipuan
berkenaan dengan jasa dan atau praktik psikologi. Bila mengetahui adanya pernyataan
yang tergolong penipuan atau pemalsuan terhadap karya mereka yang dilakukan orang
lain, Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi berusaha untuk menjelaskan kebenarannya.

(3) Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi tidak memberikan kompensasi pada karyawan
pers, baik cetak maupun elektronik atau media komunikasi lainnya sebagai imbalan
untuk publikasi pernyataannya dalam berita.
Contoh Pelanggaran Pasal 29:
Psikolog A adalah seorang psikolog yang memiliki izin praktek secara resmi. Dia juga
telah satu tahun ini melakukan praktek dan menanggani beberapa konseling terkait dengan
masalah psikis. Untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat, psikolog A bekerja sama
dengan salah satu biro iklan yang cukup ternama di wilayahnya serta di media sosial yang
ternama.
Dalam kerja sama itu psikolog A memberikan sejumlah uang kepada biro iklan
sebagai kompensasi untuk pemberitaan tentang dirinya. Pihak pengiklan menerima tawaran
tersebut kemudian mengiklankan psikolog A sebagai psikolog terbaik di Indonesia dengan
kualifikasi dan keahlian yang berlebihan. Ilkan tersebut juga mengatakan bahwa psikolog A
telah berpengalaman menangani anak dengan gangguan klinis lebih dari 10 tahun.
Mengetahui tentang pemberitaannya itu psikolog G justru semakin senang dan tetap
membiarkan iklan itu dipublikasikan pada masyarakat,karena dinilai dapat menarik minat
orang banyak

Analisis Penyelesaian Kasus

Tindakan yang dilakukan psikolog A itu tidak tepat, tindakan tersebut akan
mencoreng nama baik psikolog indonesia dikarenakan melanggar kode etik psikolog
Yang tidak diperbolehkan menyewa biro iklan maupun memberikan royalti kepada pihak
pengiklan supaya dirinya diiklankan.kebenaran iklan itu harus sesuai dengan psikolog itu
sendiri dan tidak diperbolehkan di palsukan atau hoax terhadap kemampuannya, seorang
psikolog harus menjamin dan bertanggung jawab tentang keakuratan data.