Anda di halaman 1dari 17

KOMUNIKASI KEPERAWATAN

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ASUHAN


KEPERAWATAN LANSIA DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN

OLEH : KELOMPOK I

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
TAHUN 2019
ANGGOTA KELOMPOK I

Anita Rahma Sari Artha NIM 1914201130


Dewa Ayu Sri Angelia SPB NIM 1914201131
Dewa Ayu Candra Dewi NIM 1914201132
I Gusti Ayu Sri Wulandari NIM 1914201133
I Gusti Bagus Darmawan Sudewa NIM 1914201134
I Gusti A. A. Suciptawati NIM 1914201135
I Kadek Agus Darmawan NIM 1914201136
I Kadek Ariyoga Putra NIM 1914201137
I Kadek Wiradana NIM 1914201138
I Kadek Yogiswara NIM 1914201139
I Komang Cakra Wibawa Yuti NIM 1914201140
I Made Suarjana NIM 1914201141
I Wayan Sumaryana NIM 1914201142
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
KOMUNIKASI TERAPEUTIK
PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN

A. Pengertian Komunikasi Terapiutik


Indrawati (2003) mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah
komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan
untuk kesembuhan pasien.
Komunikasi terapeutik adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan
tukar menukar perilaku, perasaan, fikiran dan pengalaman dalam membina hubungan
intim terapeutik (Stuart dan Sundeen).
Komunikasi dengan lansia harus memperhatikan faktor fisik, psikologi,
(lingkungan dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi
yang tepat. disamping itu juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan
waktu yang tepat.

B. Manfaat Komunikasi Terapeutik


Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan
kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.
Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan
yang dilakukan oleh perawat (Indrawati, 2003 : 50).

C. Karakteristik Lansia
Berdasarkan usianya, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengelompokan usia
lanjut menjadi empat macam meliputi:
1. Usia pertengahan (middle age) kelompok usia 45 samapai 59 tahun
2. Usia lanjut (elderly) kelompok usia antara 60 samapai 70 tahun
3. Usia lanjut usai (old) kelompok usia antara 75 sampai 90 tahun
4. Usaia tua (veryold) kelompk usia di atas 90 tahun
Meskipun batasan usia sangat beragam untuk menggolongkan lansia namun
perubahan-perubahan akibat dari usai tersebut telah dapat di identifikasi, misalnya
perubahan pada aspek fisik berupa perubahan neurologi dan sensorik, perubahan
visual, perubahan pendengaran. Perubahan- perubahan tersebut dapat menghambat
proses penerimaan dan interprestasi terhadap maksud komunikasi. Perubahan ini juga
menyebabkan klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Belum lagi
perubahan kognetif yang berpengaruh pada tingkat intelegensi, kemampuan belajar,
daya memori dan motivasi klien.
Perubahan emosi yang sering terlihat adalah berupa reaksi penolakan terhadap
kondisi yang terjadi. Gejala-gejala penolakan tersebut misalnya:
1. Tidak percaya terhadap diagnose, gejala, perkembangan serta keterangan yang
di berikan petugas kesehatan
2. Mengubah keterangan yang di berikan sedemikian rupa, sehinga di terima
keliru
3. Menolak membicarakan perawatanya di rumah sakit
4. Menolak ikut serta dalam perawatan dirinya secara umum khususnya tindakan
yang mengikut sertakan dirinya
5. Menolak nasehat-nasehat misalnya, istirahat baring, berganti posisi tidur,
terutama bila nasehat tersebut demi kenyamanan klien.

D. Pendekatan Perawatan Lansia Dalam Konteks Komunikasi


1. Pendekatan fisik
Mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian, yang
dialami, peruban fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai
dan di kembangkan serta penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya.
Pendekatan ini relative lebih mudah di laksanakan dan di carikan solusinya
karena riil dan mudah di observasi.
2. Pendekatan psikologis
Karena pendekatan ini sifatnya absrak dan mengarah pada perubahan
prilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk
melaksanakan pendekatan ini perawat berperan sebagai konselor, advokat,
supporter, interpreter terhadap sesuatu yang asing atau sebagai penampung
masalah-masalah yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.
3. Pendekatan social
Pendekatan ini di lakukan untuk meningkatkan keterampilan berinteraksi
dalam lingkungan. Mengadakan diskusi, tukar pikiran, bercerita, bermain, atau
mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok merupakan implementasi dari
pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama klien maupun dengan
petugas kesehatan.
4. Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubunganya dengan
Tuhan atau agama yang dianutnya terutama ketika klien dalam keadaan sakit.

E. Teknik Komunikasi Pada Lansia


Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada lansia, selain
pemahaman yang memadai tentang karakteristik lansia, petugas kesehatan atau
perawat juga harus mempunyai teknik-teknik khusus agar komunikasi yang di
lakukan dapat berlangsung secara lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Beberapa teknik komunikasi yang dapat di terapkan antara lain:
1. Teknik asertif
Asertif adalah sikap yang dapat menerima, memahami pasangan bicara
dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan
ketika pasangan bicara agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapat di
mengerti. Asertif merupakan pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini
akan sangat membantu petugas kesehatan untuk menjaga hubungan yang
terapeutik dengan klien lansia.
2. Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien
merupakana bentuk perhatian petugas kepada klien. Ketika perawat mengetahui
adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya
menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan tersebut misalnya dengan
mengajukan pertanyaan ‘apa yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini, ‘apa yang
bisa bantu…? berespon berarti bersikap aktif tidak menunggu permintaan
bantuan dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan
perasaan tenang bagi klien.
3. Fokus
Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap konsisten terhadap materi
komunikasi yang di inginkan. Ketika klien mengungkapkan pertanyaan-
pertanyaan di luar materi yang di inginkan, maka perawat hendaknya
mengarahkan maksud pembicaraan. Upaya ini perlu di perhatikan karena
umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan
untuk kepentingan petugas kesehatan.
4. Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis
secara bertahap menyebabkan emosi klien relative menjadi labil perubahan ini
perlu di sikapi dengan menjaga kesetabilan emosi klien lansia, mesalnya dengan
mengiyakan , senyum dan mengagukan kepala ketika lansia mengungkapkan
perasaannya sebagai sikap hormat menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini
dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak menjadi
beban bagi keluarganya. Dengan demikaian di harapkan klien termotivasi untuk
menjadi dan berkarya sesuai dengan kemampuannya. Selama memberi dukungan
baik secara materiil maupun moril, petugas kesehatan jangan terkesan menggurui
atau mangajari klien karena ini dapat merendahan kepercayaan klien kepada
perawat atau petugas kesehatan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang bisa memberi
motivasi, meningkatkan kepercayaan diri klien tanpa terkesan menggurui atau
mengajari misalnya: ‘saya yakin bapak/ibu lebih berpengalaman dari saya, untuk
itu bapak/ibu dapat melaksanakanya……. dan bila diperlukan kami dapat
membantu’.
5. Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses
komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara mengajukan
pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu kali perlu di lakukan
oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat di terima dan di persepsikan
sama oleh klien ‘bapak/ibu bisa menerima apa yang saya sampaikan tadi..? bisa
minta tolong bapak/ibu untuk menjelaskan kembali apa yang saya sampaikan
tadi…?.
6. Sabar dan Ikhlas
Seperti diketahui sebelumnya klien lansia umumnya mengalami
perubahan-perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan
perubahan ini bila tidak di sikapai dengan sabar dan ikhlas dapat menimbulkan
perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang di lakukan tidak
terapeutik, namun dapat berakibat komunikasi berlangsung emosional dan
menimbulkan kerusakan hubungan antara klien dengan petugas kesehatan.

F. Hambatan Berkomunikasi Dengan Lansia


Proses komunikasi antara petugas kesehatan dengan klien lansia akan
terganggu apabila ada sikap agresif dan sikan nonasertif.
1. Agresif
Sikap agresif dalam berkomunikasi biasanya di tandai dengan prilaku-prilaku
di bawah ini:
a. Berusaha mengontrol dan mendominasi orang lain (lawan bicara)
b. Meremehkan orang lain
c. Mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain
d. Menonjolkan diri sendiri
e. Pempermalukan orang lain di depan umum, baik dalam perkataan maupun
tindakan.
2. Non asertif
Tanda tanda dari non asertif ini antara lain :
a. Menarik diri bila di ajak berbicara
b. Merasa tidak sebaik orang lain (rendah diri)
c. Merasa tidak berdaya
d. Tidak berani mengungkap keyakinaan
e. Membiarkan orang lain membuat keputusan untuk dirinya
f. Tampil diam (pasif)
g. Mengikuti kehendak orang lain
h. Mengorbankan kepentingan dirinya untuk menjaga hubungan baik dengan
orang lain.
Adanya hambatan komunikasi kepada lansia merupkan hal yang wajar seiring
dengan menurunya fisik dan pskis klien namun sebagai tenaga kesehatan yang
professional perawat di tuntut mampu mengatasi hambatan tersebut untuk itu perlu
adanya teknik atau tips-tips tertentu yang perlu di perhatikan agar komunikasi
berjalan gengan efektif antara lain
a. Selalu mulai komunikasi dengan mengecek pendengaran klien
b. Keraskan suara anda jika perlu
c. Dapatkan perhatian klien sebelum berbicara. Pandanglah dia agar dia
dapat melihat mulut anda.
d. Atur lingkungan sehinggga menjadi kondusif untuk komunikasi yang
baik. Kurangi gangguan visual dan auditory. Pastikan adanya pencahayaan
yang cukup.
e. Ketika merawat orang tua dengan gangguan komunikasi, ingat
kelemahannya. Jangan menganggap kemacetan komunikasi merupakan
hasil bahwa klien tidak kooperatif.
f. Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan
orang yang tidak mengalami gangguan. Sebaliknya bertindaklah sebagai
partner yang tugasnya memfasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaan
dan pemahamannya.
g. Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya gunakan
kalimat pendek dengan bahasa yang sederhana.
h. Bantulah kata-kata anda dengan isyarat visual.
i. Serasikan bahasa tubuh anda denagn pembicaraan anda, misalnya ketika
melaporkan hasil tes yang di inginkan, pesan yang menyatakan bahwa
berita tersebut adalah bagus seharusnya di buktikan dengan ekspresi,
postur dan nada suara anda yang menggembirakan (misalnya denagn
senyum, ceria atau tertawa secukupnya).
j. Ringkaslah hal-hal yang paling penting dari pembicaraan tersebut.
k. Berilah klien waktu yang banyak untuk bertanya dan menjawab
pertanyaan anda.
l. Biarkan ia membuat kesalahan jangan menegurnya secara langsung, tahan
keinginan anda menyelesaikan kalimat.
m. Jadilah pendengar yang baik walaupun keinginan sulit mendengarkanya.
n. Arahkan ke suatu topic pada suatu saat.
o. Jika mungkin ikutkan keluarga atau yang merawat ruangan bersama anda.
Orang ini biasanya paling akrab dengan pola komunikasi klien dan dapat
membantu proses komunikasi.

G. Teknik Perawatan Lansia Pada Reaksi Penolakan


Penolakan adalah ungkapan ketidakmampuan seseorang untuk mengakui
secara sadar terhadap pikiran, keinginan, perasaan atau kebutuhan pada kejadiaan-
kejadian nyata atau sesuatu yang merupakan ancaman. Penolakan merupakan reaksi
ketidaksiapan lansia menerima perubahan yang terjadi pada dirinya. Perawat dalam
menjamin komunikasi perlu memahami kondisi ini sehingga dapat menjalin
komunikasi yang efektif, tidak menyinggung perasaan lansia yang relatif sensitif.
Ada beberapa langkah yang bisa di laksanakan untuk menghadapi klien lansia
dengan reaksi penolakan, antara lain :
1. Kenali segera reaksi penolakan klien
Membiarkan klien lansia bertingkah laku dalam tenggang waktu tertentu. Hal
ini merupakan mekanisme penyesuaian diri sejauh tidak membahayakan
klien, orang lain serta lingkunganya.
2. Orientasikan klien lansia pada pelaksanan perawatan diri sendiri
Langkah tersebut bertujuan untuk mempermudah proses penerimaan klien
terhadap perawatan yang akan di lakukan serta upaya untuk memandirikan
klien.
3. Libatkan keluarga atau pihak keluarga terdekat dengan tepat
Langkah ini bertujuan untuk membantu perawat atau petugas kesehatan
memperoleh sumber informasi atau data klien dan mengefektifkan rencana /
tindakan dapat terealisasi dengan baik dan tepat

H. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi pada lansia


1. Menunjukkan rasa hormat, seperti “bapak”, “ibu”, kecuali apabila sebelumnya
pasien telah meminta anda untuk memanggil panggilan kesukaannya.
2. Hindari menggunakan istilah yang merendahkan pasien
3. Pertahankan kontak mata dengan pasien
4. Pertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa dan mendengarkan adalah kunci
komunikasi efektif
5. Beri kesempatan pasien untuk menyampaikan perasaannya
6. Berbicara dengan pelan, jelas, tidak harus berteriak, menggunakan bahasa dan
kalimat yang sederhana.
7. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti pasien
8. Hindari kata-kata medis yang tidak dimengerti pasien
9. Menyederhanakan atau menuliskan instruksi
10. Mengenal dahulu kultur dan latar belakang budaya pasien
11. Mengurangi kebisingan saat berinteraksi, beri kenyamanan, dan beri
penerangan yang cukup saat berinteraksi.
12. Gunakan sentuhan lembut dengan sentuhan ringan di tangan. Lengan, atau
bahu.
13. Jangan mengabaikan pasien saat berinteraksi.
I. Teknik – Teknik Berkomunikasi Terapeutik Pada Pasien Gangguan
Penglihatan
Berikut adalah teknik-teknik yang perlu diperhatikan selama berkomunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan :
1. Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami
kebutaan persial atau sampaikan secara verbal keberadaan / kehadiran perawat
ketika anda berada didekatnya.
2. Indentifikasi diri anda dengan menyebut nama(dan peran)anda.
3. Berbicara menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak
memungkinkan menerima pesan verbal secara visual.Nada suara anda
memagang peranan besar dan bermakna bagi klien.
4. Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucaokan kata-kata sebelum
melakukan sentuhan pada klien.
5. Informasikamn kepada klien ketika anda akan menggilakannya / memutus
komunikasi
6. Orientasikan klien dengan suara-suara yang terdengar disekitarnya.
7. Orientasikan klien pada lingkungan bila klien dipindah kelingkungan/ruangan
yang baru.
Agar komunikasi dengan orang dengan gangguan sensori penglihatan dapat
berjalan lancar dan mencapai sasarannya , maka perlu juga diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam berkomunikasi pertimbangan isi dan mata nada suara
2. Periksa lingkungan fisik
3. Perlu adanya ide yang jelas sebelum berkomunikasi
4. Berkomunikasikan pesan secara singkat
5. Komunikasikan hal-hal yang berharga saja
6. Dalam merencanakan komunikasi,berkonsultasilah dengan pihak lain agar
memperoleh dukungan.
J. Syarat – Syarat Yang Harus Dimiliki Perawat Berkomunikasi Dengan
Pasien Gangguan Penglihatan
Dalam melakukan komunikasin terapeutik dengan pasien dengan gangguan
sensori penglihatan,perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehingga
terjalin hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dan klien,untuk itu syarat
yang harus dimilki oleh perawat dalam berkomunikasi dengan pasien dngan
gangguan sensori penglihatan adalah :
1. Adanya kesiapan artinya pesan atsun informasi, cara penyampaian dan
salurannya harus dipersiapkan terlebih dahulu secara matang.
2. Kesungguhan artinya apapun wujud dari pesan atau informasi tersebut tetap
harus disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius.
3. Ketulusan artinya sebelum individu memberikan informasi atau pesan kepada
individu lain pemberi informasi harus merasa yakin bahwa apa yang
disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan menang perlu serta berguna
untuk pasien
4. Kepercayaan diri artinya jika perawat mempunyai kepercayaan diri maka hal
ini akan sangat berpengaruh pada cara penyampaiannya kepada pasien.
5. Ketenangan artinya sebaik apapun dan sejak apapun yang akan
disampaikan,perawat harus bersifat tenang,tidak emosi maupun memancing
emosi pasien,karena dengan adanya ketenangan maka informasi akan lebih
jelas baik dan lancar.
6. Keramahan artinya bahwa keramahan ini merupakan kunci sukses dari
kegiatan komunikasi,karena dengan keramahan ya ng tulus tanpa dibuat-buat
akan menimbulkan perasaan tenang,senang dan aman bagi penerima
7. Kesederhanaan artinya didalam penyampaian informasi,sebaiknya dibuat
sederhana baik bahasa, pengungkapan dan penyampaiannya.Meskipun
informasi itu panjang dan rumit akan tetapi kalau dberikan secara sederhana
berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan secara sederhana
berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan informasi dengan baik.
BAB II
ROLEPLAY KOMUNIKASI TERAPEUTIK
PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN

A. Fase Pra Interaksi


Pada suatu pagi di Rumah Sakit Mata BM di Denpasar di ruangan Wijaya
Kusuma terdapat seorang lansia yang berumur 60 tahun, pasien tersebut mengalami
gangguan penglihatan dan telah dilakukan tindakan operasi katarak pada mata kanan
di hari sebelumnya. Pasien tersebut dirawat dan ditemani oleh kedua anaknya, pagi
hari pukul 07.30 wita Perawat akan melakukan Perawatan luka pada mata pasca
operasi dan pemeriksaan tajam penglihatan serta tekanan bola mata pada pasien
lansia tersebut, Perawat pun menyiapkan alat yang akan digunakan saat tindakan di
ruang tindakan.

B. Fase Orientasi
Perawat mendatangi ruangan tempat pasien dirawat. Saat itu anak pertama
pasien sedang menemani pasien.
Perawat : Selamat pagi Ibu B.
Pasien : Selamat pagi, Dik.
Anak 1 : Selamat pagi, Bli.
Perawat : Bagaimana kabar Ibu pagi ini? Apakah masih ada rasa sakit pada
mata yang telah dioperasi?
Pasien : Kabar Saya baik, Dik. Rasa sakitnya sudah tidak terasa lagi. Saya
juga sudah minum obat sesuai yang dianjurkan.
Perawat : Wah bagus sekali Ibu, semoga proses penyembuhan selanjutnya bisa
berjalan baik ya Bu. Ibu, pagi ini Saya akan melakukan perawatan
pada mata yang telah dioperasi kemarin, pertama-tama balutan akan
dIbuka, lalu area di sekitar mata akan Saya bersihkan Bu. Setelah
dibersihkan, Saya akan melanjutkan dengan melakukan pemeriksaan
tajam penglihatan Ibu pagi ini serta pemeriksaan tekanan bola mata
Ibu.
Pasien : Oh ya silahkan, Dik.
Anak 1 : Dimana nanti perawatannya, Bli?
Perawat : Perawatannya nanti di ruang tindakan, kurang lebih nanti selama 15
menit saja. Bagaimana apa bisa kita langsung ke sana?
Anak 1 : Mari Bli. Saya boleh ikut kan, Bli?
Perawat : Tentu saja boleh. Ayo Ibu kita ke ruang tindakan.
Perawat bersama Pasien dan Anak pertamanya berjalan menuju ruang tindakan
yang tidak jauh dari ruang Perawatan pasien.

C. Fase Kerja
Setelah sampai di ruang tindakan, Perawat menyilahkan pasien untuk duduk di
kursi pasien. Anak pasien dipersilahkan memnemani di sebelahnya. Perawat
melakukan cuci tangan terlebih dahulu, kemudian menggunakan handscoen.
Perawat : Ibu, sesuai yang Saya jelaskan tadi, Saya akan melakukan Perawatan
pada mata Ibu terlebih dahulu. Apabila Ibu merasakan sakit saat Saya
memBuka perban Ibu, mohon ditahan sedikit ya.
Pasien : Baik Dik.
Perawat memBuka balutan pada mata pasien secara perlahan. Kemudian
memperhatikan secara seksama mata pasien mulai dari kelopak hingga bola mata
psien.
Perawat : Bu, dari yang Saya lihat pada area mata Ibu tidak nampak tanda
infeksi ya Bu. Apakah Ibu melihat dengan terang apa masih terasa
kaBur? Tapi lebih baik dari sebelum operasi.
Pasien : Masih Saya rasa kaBur Dik.
Anak 1 : Apakah ini wajar Bli? Kan mata Ibu sudah dioperasi, kenapa masih
kaBur?
Perawat : Baik Saya jelaskan dulu ya. Pada hari pertama setelah operasi akan
wajar apabila pasien masih merasakan penglihatannya kaBur, ini
karena di bilik depan mata pasien masih terdapat udara yang berfungsi
sebagai penahan agar lensa yang dipasang di dalam mata posisinya
tetap stabil sampai mata pasien mampu beradaptasi dengan baik.
Biasanya ini berjalan selama 2 minggu. Mulai dari hari ini,
penglihatan Ibu akan perlahan-lahan membaik, tentunya dengan
Perawatan yang optimal serta kontrol rutin ya.
Anak 1 : Oh jadi begitu Bli, baiklah Bli.
Perawat : Sekarang Saya akan lanjutkan dengan pemeriksaan tajam penglihatan
Ibu hari ini ya.
Pasien : Baik Dik.
Perawat kemudian memeriksa visus pasien. Didapatkan hasil visus 6/24 pada mata
kanan dan 6/120 pada mata kiri.
Perawat : Ibu, dari hasil pemeriksaan, didapatkan hasil 6/24 ya Bu. Sudah ada
kemajuan dari visus sebelumnya yang HM atau Ibu sebelumnya hanya
bisa melihat lambaian tangan saat ini sudah cukup jelas.
Pasien : Iya Saya rasa memang sudah lebih baik dari sebelum operasi
Perawat : Sekarang Saya lanjutkan dengan pemeriksaan tekanan bole mata ya
Bu.
Pasien : Ya silahkan, Dik
Perawat melakukan pemeriksaan tekanan bole mata dengan tonometri non kontak.
Didapatkan hasil 16 pada mata kanan dan 15 pada mata kiri.
Perawat : Bu, hasil pemeriksaan tekanan bola mata Ibu baik. Tekanan bola
mata kanan 16 dan mata kiri 15. Dalam rentang normal Bu, di bawah
21.
Pasien : Wah terimakasih dik. Saya senang sekali.
Perawat kemudian merapikan peralatan, melepas handscoen dan mencuci tangan
kemudian menulis hasil pemeriksaan pada rekam medik pasien.

D. Fase Terminasi
Perawat : Bu, Saya telah selesai melakukan Perawatan pagi ini pada mata Ibu.
Bagaimana rasanya saat ini? Apakah Ibu merasakan sakit?
Pasien : Tidak dik, saat ini Saya tidak merasakan sakit. Saya senang mata
Saya sudah agak terang melihat. Terimakasih atas Perawatannya ya
dik.
Perawat : Sama-sama Bu. Itu sudah menjadi kewajiban kami disini
memberikan Perawatan pada Ibu. Apakah ada hal-hal yang ingin Ibu
tanyakan pada Saya?
Pasien : Untuk saat ini tidak dik.
Perawat : Baiklah Bu, sekarang Ibu bisa kembali ke ruang Perawatan Ibu. Saya
kan melanjutkan pemerikasaan pada pasien yang lain.
Pasien : Ya terimakasih dik.
Anak 1 : Terimakasih Bli.
Pasien dan Anaknya kembali ke ruang Perawatan dan Perawat melanjutkan
pemeriksaab pada pasien lainnya.
BAB III
SIMPULAN

Komunikasi terapeutik adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan


tukar menukar perilaku, perasaan, fikiran dan pengalaman dalam membina hubungan
intim terapeutik (Stuart dan Sundeen). Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk
mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui
hubungan perawat dan pasien. Berdasarkan usianya, organisasi kesehatan dunia
(WHO) mengelompokan usia lanjut menjadi empat macam meliputi:usia
pertengahan, usia lanjut, usia lanjut usia dan usia tua.
Pendekatan perawatan lansia dalam konteks komunikasi ada pendekatan fisik,
psikologis, social, dan spiritual. Teknik komunikasi pada lansia terdiri dari : teknik
asertif, responsif, focus, supportif , klarifikasi, sabar dan ikhlas.
Hambatan berkomunkasi dengan lansia : agresif, non-asertif. Teknik perawatan
lansia pada reaksi penolakan : kenali segera reaksi penolakan klien, orientasikan klien
lansia pada pelaksanan perawatan diri sendiri, libatkan keluarga atau pihak keluarga
terdekat dengan tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi pada lansia:
menunjukkan rasa hormat hindari menggunakan istilah yang merendahkan
pasien, pertahankan kontak mata dengan pasien dan lainnya.