Anda di halaman 1dari 32

SEJARAH PERISTIWA RAWA GEDE

Ditujukan untuk memenuhi nilai Ujian Tengah Semester matakuliah Jatidiri Bangsa

Disusun oleh :

Kelompok 3 Kelas TI 18 I

Ari Sudarmono 18416226201278


Dewih Adetia 18416226201223
Mulyadi 18416226201288
Nurhidayat 18416226201262
Taufik Silvian 18416226201285
Uswatun Khasanah 18416226201354
Yudha Eka Prakasa 18416226201254

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan
Karunia, Rahmat, dan Hidayah-Nya yang berupa kesehatan, sehingga makalah
tentanng Sejarah Peristiwa Rawa Gede ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Jati Diri Bangsa. Kami ucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan
baik dari segi penulisan maupun segi penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati demi perbaikan
makalah selanjutnya

Semoga makalah ini ini bisa memberikan informasi mengenai orang sebagai
subjek hukum dan hukum dikaitkan dengan hak dan kewajiban dapat bermanfaat bagi
para pembacanya. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan untuk membuat
makalah ini kami ucapkan terima kasih.

Karawang, 23 November 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hubungan antara Negara Indonesia dengan Belanda memiliki sejarah yang


panjang. Diawali dengan Pada tahun 1595 Belanda mengirimkan tim ekspedisi menuju
Nusantara dengan pimpinan Cornelis de Houtman yang melakukan penjelajahan dan
kemudian tiba di Banten pada tahun 1596. Cornelis de Houtman adalah seorang
Belanda yang telah lama bekerja dengan Portugis, dimana Pelaut-pelaut Portugis saat
itu sangat unggul dalam banyak hal. Satu tahun kemudian Cournelis mendarat di
Banten dimana merupakan pelabuhan utama ketika itu.

Pada tahun 1597 Cornelis de Houtman kembali ke Belanda dengan membawa


banyak muatan yang berisi rempah-rempah mendorong para penjajah lainnya yang
berasal dari Belanda untuk datang ke Indonesia. Kemudian penjajahan dilakukan oleh
Perusahaan asal Belanda yang dikenal dengan VOC atau Verenigde Oostindische
Compagnie Berdiri pada 20 Maret 1602 atas usul Johan van Olderbarnevelt. Sebuah
organisasi dagang yang kewenangannya sama dengan kewenangan sebuah Negara.
VOC yang memulai hubungan dengan Indonesia dengan 2 jalan perdagangan rempah-
rempah yang secara lambat laun mulai memonopoli perdagangan di Indonesia ketika
itu dan mulai menguasai wilayah Indonesia. Seluruh penguasa di Eropa, pedagang serta
Raja- Raja membahas mengenai Negeri Selatan yang sangat kaya.

Dengan terus melakukan monopoli terhadap perdagangan di wilayah Indonesia


banyak dari Pemimpin suatu wilayah Indonesia yang ditaklukan oleh VOC yang
kemudian dijadikan wilayah boneka oleh VOC. Selama hampir 200 tahun lamanya
VOC terus melakukan praktek monopoli sehingga Indonesia berada dibawah
pemerintah Belanda. Akan tetapi ke suksesan VOC dalam melakukan monopoli juga
berdampak buruk bagi VOC sendiri, VOC mengalami kemunduran yang disebabkan
oleh korupsi yang dilakukan oleh para anggota VOC sendiri dan ketidakmampuan
VOC untuk bersaing dengan organisasi lainnya. Sehingga VOC mengalami krisis
keuangan yang mengakibatkan dibubarkannya VOC pada 1799

Ternyata setelah dibubarkannya VOC penderitaan rakyat Indonesia tidak berhenti


begitu saja, akan tetapi sebaliknya penderitaan rakyat Indonesia semakin buruk.
kemudian Pemerintah Belanda memberlakukan sistem tanam paksa yang semakin
memperburuk keadaan rakyat Indonesia.

Hal tersebut terus berkelanjutan selama hampir ratusan tahun lamanya. Indonesia
terus berada dibawah penjajahan Belanda, hingga pada 8 Desember 1947 yakni lebih
tepatnya ketika terjadinya Agresi Militer Belanda I4, telah terjadi pembantaian yang
dilakukan oleh tentara Belanda kepada penduduk Indonesia yang bertempat tinggal di
Rawagede, wilayah yang terletak di Desa Balongsari , Rawamerta, Karawang yang
berlokasi diantara Karawang dan Bekasi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalahnya yaitu :
1 Bagaimana sejarah peristiwa Rawagede?
2 Bagaimana saksi dan bukti peristiwa Rawagede?

1.1 Tujuan

Tujuan dari makalah ini yaitu:

1 Untuk mengetahui bagaimana sejarah peristiwa Rawagede


2 Untuk mengetahui saksi dan bukti dari sejarah peristiwa Rawagede?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Peristiwa Rawagede

Tahun 1947 Tentara Belanda kembali datang ke Indonesia mendompleng dengan


Tentara Sekutu, mereka berhasil menguasai wilayah Jawa Barat. Dalam kondisi seperti
itu para pejuang RI dan Tentara Republik Indonesia (TRI) banyak yang mundur ke
pedesaan dan bergabung dengan rakyat untuk membangun pertahanan dari serbuan
Tentara Belanda. Diantaranya ada yang bermarkas di Desa Rawagede, Kecamatan
Rawamerta, Kabupaten Karawang, sebuah tempat yang mudah dijangkau dari berbagai
jurusan. Karena itu, Rawagede yang sangat strategis dijadikan Markas Gabungan
Pejuang (MGP). Di tempat ini para pejuang dari berbagai kesatuan seperti: Lasykar
Rakyat, Hisbullah, Pesindo, BBRI, dan lain-lain berkumpul dan mengadakan
pertemuan. Dalam pertemuan dibahas bagaimana cara untuk melakukan penyerangan
dan mempertahankan diri dari serangan Belanda.
Setelah Tentara Republik Indonesia (TRI) hijrah ke Jawa Tengah (Yogyakarta),
pemerintah Pamongpraja RI kedudukannya selalu berpindah-pindah, karena Belanda
terus membayangi dengan membentuk pemerintahan sipil yang dinamakan
Pamongpraja Recomba untuk memecah belah kekuatan Pemerintah Pamongpraja RI.
Pemerintah Pamongpraja RI di Kecamatan Rawamerta saat itu berkedudukan di Desa
Rawagede dengan camatnya Wangsadijaya yang mendapat dukungan para pemuda dari
berbagai kelompok yang tergabung dalam Kesatuan Pertahanan Pamongpraja RI.
Adanya markas pejuang di Desa Rawagede ternyata diketahui oleh antek antek
Belanda yang menghianati perjuangan bangsa bahwa Desa Rawagede telah dijadikan
Markas Pertahanan Gerilya Pejuang RI yang terdiri dari berbagai kesatuan pertahanan
yang tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah. Sebelum peristiwa pembantaian masal di Desa
Rawagede terjadi, pihak Belanda telah beberapa kali mencoba membuktikan kebenaran
adanya Markas Gabungan Pejuang (MGP), tetapi upaya Belanda selalu gagal berkat
kesiapsiagaan para pemimpin MGP dan anggotanya. Mata-mata yang disusupkan
Belanda selalu berhasil diketahui oleh para pejuang. Tetapi keadaan demikian ternyata
tidak berlangsung lama, karena pada suatu saat ada mata-mata Belanda yang tertangkap
oleh para pejuang tetapi berhasil
Berdasarkan informasi tersebut, Belanda segera merencanakan akan melakukan
penyerangan dan membumi hanguskan markas pejuang di Rawagede. Tetapi rencana
tersebut dapat disadap oleh Kepala Desa Tunggakjati, Saukim yang berpura-pura
memihak kepada tentara Belanda. Kemudian Lurah Saukim dengan cepat memberitahu
kepada MGP yang ada di Rawagede. Para pemimpin MGP segera mengadakan kontak
dengan seluruh pejuang dan menginstruksiksn untuk menutup seluruh akses jalan
menuju Desa Rawagede. Mereka memblokir jalan yang menghubungkan Rawagede
seperti: dari arah Barat memutuskan Jalan Cilempuk dan dari arah Selatan memutuskan
Jalan Palawad, dari arah Utara dan Timur membongkar jembatan Garunggung, namun
tidak berhasil dibongkar karena beton jembatan tidak dapat diruksak. Akhirnya
dilakukan pemutusan jalan yang menghubungkan jembatan dari dua arah. Upaya
tersebut berhasil menggagalkan serangan Belanda ke Rawagede.
Selanjutnya para pejuang semakin meningkatkan kewaspadaannya sebagai
antisipasi tiba-tiba terjadi lagi penyerangan secara mendadak, patroli pun dilakukan
secara bergiliran siang dan malam. Suatu saat ketika sedang berpatroli, para pejuang
menangkap salah seorang intel Belanda berkebangsaan Indonesia. Orang tersebut
dibawa ke markas untuk diinteriograsi dan saat itu di markas ada Pak Lukas Kustaryo,
Komandan Brigade I, Resimen 6 Divisi Siliwangi dengan pasukannya. Mereka adalah
salah satu pasukan yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta dan bertugas menjaga front
Karawang-Bekasi.
Sementara itu yang ditawan berhasil melarikan diri dan melaporkan segala
pengalamannya ke pihak Belanda termasuk melaporkan adanya Lukas Kustaryo
dengan pasukannya di Rawagede. Dengan adanya laporan tersebut pihak Belanda pada
malam itu juga berunding mengenai rencana penyerangan ke Rawagede. Dilain
pihakrencana tersebut tersadap oleh Lurah Saukim dan langsung diberitahukan melalui
surat kepada para pejuang yang ada di Rawagede. Isi surat tersebut menyebutkan
bahwa Belanda pada tanggal 9 Desember 1947 akan melakukan penyerbuan secara
besar-besaran ke Kampung Rawagede. Setelah mendapat berita tentang rencana
penyerbuan tersebut, seluruh pimpinan dan anggota MGP mencoba meloloskan diri
dan keluar dari Rawagede, namun karena cuaca pada malam itu hujan sangat lebat,
sehingga sebagian besar pejuang sulit untuk melaksanakan evakuasi keluar dari
Rawagede.

Peristiwa Berdarah di Rawagede


Pembantaian yang terjadi sehari setelah ditanda tanganinya perjanjian Renville
memakan korban sebanyak 431 penduduk Indonesia yang betempat tinggal di
Rawagede. Dengan tujuan melakukan pembersihan terhadap TNI yang melakukan
perlawanan terhadap pemerintahan Belanda . Tokoh yang paling dicari saat itu adalah
Kapten Lukas Kustaryo yang merupakan Komandan Kompi Siliwangi dan juga
menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi. Beliau berkali-
kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda.
Sebagian pejuang memang telah berhasil keluar dari Rawagede pergi ke
kampung lain untuk menyelamatkan diri dari serangan tentara Belanda. Hal itu
mengingat mereka sudah tidak bersenjata lagi, karena sudah di pindahkan ke
Tunggakjati. Tetapi karena pada malam itu turun hujan yang sangat lebat, jadi sebagian
besar pejuang tidak sempat berangkat dan memilih diam di rumah masingmasing dan
ada juga di markas. Menurut anggapan mereka tidak mungkin tentara Belanda akan
menyerang Desa Rawagede dalam keadaan hujan yang sangat lebat hingga sampai larut
malam. Ternyata anggapan mereka keliru, tepat hari Selasa tanggal 9 Desember 1947,
pukul 04.00 WIB Desa Rawagede sudah terkepung oleh militer Belanda dengan posisi
siap tempur. Menurut keterangan beberapa saksi, hanya dari arah Barat yaitu jalur
Tanjungpura (Tunggakjati) pasukan militer Belanda agak terlambat menutup jalur,
sekitar jam 06.00 pagi jalan ini baru bisa ditutup. Dalam keadaan darurat tersebut, para
pejuang dibawah pimpinan Serma Pulung dari Angkatan Laut, termasuk di antaranya
Syukur dan Suminta (Lurah Rawagede) berhasil meloloskan diri.
Pengepungan tersebut diketahui oleh beberapa penduduk yang akan memulai
aktifitasnya pagi itu seperti petani, anak-anak gembala, dan para pedagang. Ternyata
begitu akan ke luar dari Kampung Rawagede, mereka dicegat oleh tentara Belanda dan
semuanya disuruh kembali ke rumah masing-masing. Mereka ketakutan dan lari ke
rumahnya masing-masing sambil memberitahu kepada penduduk lainnya, bahwa
tentara Belanda telah mengepung Desa Rawagede. Adanya berita tersebut membuat
penduduk panik, apalagi setelah mendengar suara tembakan yang terus-menerus dari
arah Timur. Penduduk berhamburan untuk menyelamatkan diri, akibatnya banyak
penduduk yang terkena peluru dan tewas seketika.
Penjaga ronda yaitu Siang, Ki Ranta, dan Karna begitu mendengar suara
tembakan bertiga langsung turun ke sungai untuk berlindung. Malang bagi Ki Ranta,
ketika akan menyeberangi sungai terkena tembakan tepat mengenai dadanya dan
seketika itu langsung rubuh meninggal dunia. Adapun Siang dan Karna selamat dan
bersembunyi di tepi sungai, di balik rerumputan. Mereka berdua dari tempat
persembunyian dapat melihat tembakan-tembakan diarahkan ke kampung yang padat
penduduknya. Jenis senjata yang digunakan oleh tentara Belanda adalah Mortier,
Bregun, Bren, dan Sten.
Selesai menembakkan senjatanya, tentara Belanda mulai masuk ke kampung
untuk mencari para pejuang, penduduk laki-laki dewasa, dan terutama Lukas Kustaryo
beserta pasukannya. Mereka berjalan sambil menembakkan senjata secara serabutan.
Peluru banyak yang nyasar seperti: ke rumah-rumah penduduk, ke pohon-pohon yang
ada di pekarangan, dan binatang peliharaan seperti domba, sapi, dan kerbau. Suara
tumbangnya pohon dan berdesingnya peluru, menambah kepanikan penduduk
Rawagede. Mereka menggeledah rumah-rumah penduduk untuk mencari para pejuang
dan penduduk laki-laki dewasa. Bila ditemukan lakilaki dewasa, ia akan disuruh ke
luar sambil tangan di atas kepala. Apabila melawan atau melarikan diri langsung
tentara Belanda akan menembaknya hingga mati. Adapun mereka yang tertangkap
dikumpulkan di pekarangan rumah atau di tempat yang cukup luas. Mereka disuruh
berbaris menghadap ke belakang. Setelah itu satu per satu mereka ditembaki dengan
jarak tembak hanya 3 meter.
Sebelum dilakukan penembakan, mereka ditanya satu per satu oleh tentara
Belanda mengenai keberadaan para pejuang dan Lukas Kustaryo beserta pasukannya.
Mereka tidak memberi tahu di mana para pejuang dan Lukas Kustaryo berada,
semuanya melakukan gerakan tutup mulut. Tentara Belanda makin murka dan benci
kepada penduduk atas jawaban tersebut. Untuk melampiaskan kebenciannya, akhirnya
penduduk ditembak dengan sadis. Satu per satu disuruh baris kemudian setelah
berkumpul sekitar 10-15 orang ditembaki oleh militer Belanda. Selain mencari laki-
laki dewasa, tentara Belanda pun membakar rumah penduduk jika menemukan
lambang-lambang Republik atau simbol-simbol dari badan kelasykaran. Rumah-rumah
yang dibakar antara lain milik Lurah Suminta, Iyob Armada, Gouw Kim Wat
(keturunan Cina), dan beberapa rumah lainnya. Selain masuk ke rumah-rumah
penduduk, juga mencari ke kandang-kandang domba, semak/belukar, tepi-tepi sungai
sambil membawa anjing pelacak. Dengan menggunakan anjing pelacak, banyak
penduduk yang sedang bersembunyi tertangkap dan langsung dibawa ke tempat yang
agak luas untuk kemudian dieksekusi dengan kejam. Ada juga yang langsung ditembak
di tempat.
Tentara yang dikerahkan dalam aksi pembantaian berjumlah sekitar 300 orang
dan diperkirakan serdadu-serdadu Belanda itu adalah mantan algojo-algojo yang telah
membantai rakyat di Sulawesi Selatan dan ditempatkan di wilayah Cikampek dan
Karawang. Oleh karena itu, dalam aksi pembantaian mereka sangat kejam, ganas, dan
tidak berperikemanusiaan. Nyawa manusia diibaratkan seperti nyawa binatang yang
tidak ada artinya bagi mereka.
Walaupun Desa Rawagede telah hancur, namun pihak Belanda masih kurang
puas, karena sebagian pejuang terutama Lukas Kustaryo tidak berhasil dibunuh. Untuk
mencari terus para pejuang dan Lukas Kustaryo, pihak Belanda mendatangkan lagi
pasukannya sebanyak 9 truk. Dalam operasinya tentara Belanda mendapat bantuan dari
orang-orang pribumi yang menjadi pengkhianat bangsa, dengan cara menunjukkan
tempat-tempat persembunyian warga desa dan para pejuang, sehingga operasi ini
berjalan dengan cepat.
Korban dalam peristiwa naas tersebut bukan hanya penduduk Rawagede saja,
tetapi ada juga warga lain seperti penumpang Kereta Api jurusan
KarawangRengasdengklok. Mereka tidak tahu di Rawagede sedang terjadi
pembantaian yang dilakukan oleh tentara Belanda. Para penumpang terjebak di Stasiun
Rawagede dan menjadi sasaran keganasan tentara Belanda. Mereka ditangkap dan
dibariskan di jalan Kereta Api sambil disuruh jongkok, setelah itu langsung ditembak
dengan senjata bregun. Mereka langsung roboh dan bergelimpangan di sepanjang jalan
rel Kereta Api. Menurut saksi mata korban kebiadaban itu berjumlah 62 orang.
Keadaan di seluruh sudut Rawagede sejak penyerangan jam 04.00 subuh sampai
malam hari, tidak seorangpun yang berani menampakkan diri untuk keluar rumah. Baru
pada keesokan harinya setelah keadaan cukup aman masyarakat baru berani keluar dan
melihat banyak mayat bergelimpangan dimana-mana, di jalan, di halaman rumah,
sawah dan yang terbanyak terdapat di sungai. Pada saat itu sungai dalam keadaan
banjir. Ratap tangis dan jerit histeris memecah keheningan pagi. Dengan peralatan dan
tenaga seadanya mereka mengurus dan menguburkan jenazah-jenazah tersebut. Semua
hanya dilakukan oleh para perempuan. Menurut perkiraan jumlah mayat yang
dikuburkan pada saat itu sekitar 431 orang, termasuk orang-orang yang tidak dikenal
identitasnya.
Setelah itu Tentara Belanda pergi meninggalkan Rawagede dikarenakan tidak
berhasil menemukan atau mengetahui keberadaan dari Kapten Lukas Kustario. Para
korban pembantaian ditinggalkan begitu saja. Membuat sungai menjadi sungai yang
dialiri darah. Para wanita kemudian menguburkan dan menggali liat kubur untuk para
korban laki-laki dengan peralatan seadaannya sehingga dalam beberapa hari bau anyir
dari para korban masih tercium di wilayah Rawagede.

Gugatan Korban Peristiwa Rawa Gede


Setelah 64 tahun lamanya kisah pembantaian yang keji dilakukan oleh Tentara
Belanda terkubur begitu saja, tidak ada satupun yang memperdulikan akan nasib dan
kelangsungan hidup dari para janda-janda korban pembantaian yang terjadi di
Rawagede. Pemerintahpun seakan-akan tidak memperdulikan para janda korban
Rawagede.
Pemerintah hanya berdiam diri atas penderitaan yang dirasakan oleh para korban
Rawagede yang selamat hingga saat ini. Pemerintah Indonesia hanya memberikan
perhatian simbolik saja, seperti pembuatan monument Rawagede dan Pemerintah
menyalurkan masalah ini serta memberikan wewenang atas kasus Rawagede kepada
Komisi Jasa Baik untuk Indonesia (Committee of Good Offices for Indonesia) serta
mendukung tindakan para korban dengan memberikan kritikan terhadap kejahatan
yang telah dilakukan oleh Tentara Belanda yang disebut sebagai Delibrate and ruthless.
Sejak terjadinya pembantaian hingga saat dimana para janda berinisiatif sendiri
untuk meminta keadilaan atas kejahatan yang dilakukan oleh Tentara Belanda hingga
ke pengadilan di Den Hag, Belanda. Pemerintah sendiri selaku Badan yang seharusnya
melindungi hak rakyatnya, tidak berupaya untuk melakukan lobby atau perundingan
dengan pemerintah Belanda atas tindakan yang dilakukan oleh Tentara Belanda di
Rawagede ketika itu yang memakan korban 431 penduduk Indonesia.
Hingga pada pertengahan tahun 2011 para janda korban pembantaian yang terjadi
pada 9 Desember 1947 di Rawagede memiliki inisiatif sendiri untuk meminta keadilan
dan menuntut pihak Belanda untuk bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan
pada korban Rawagede dan memberikan ganti rugi yang sepadan atas penderitaan yang
dialami oleh para korban Rawagede. Sebenarnya para janda korban Rawagede sudah
menuntut pihak Belanda sejak tahun 2008, akan tetapi tuntutan tersebut selalu kandas
dan dinyatakan sudah kadaluwarsa oleh pengadilan Belanda.
Dengan meminta dukungan kepada Pemerintah Indonesia melalui DPR, DPR
memberikan dukungan walaupun secara tidak resmi. Hal tersebut cukup
mengecewakan para janda korban pembantaian Rawagede, namun dengan tekad yang
kuat akhirnya para korban terus maju untuk menuntut pihak Belanda atas kejahatan
yang telah merugikan penduduk Rawagede hingga saat ini.
Penantian panjang para keluarga korban pembantaian Rawagede sejak tahun
2008 akhirnya dapat terwujud, karena pertengahan September 2011, tepatnya pada 14
September 2011, pengadilan sipil Den Haag telah menjatuhkan vonis pada negara
Belanda untuk bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh keluarga korban
pembantaian di Rawagede dengan membantai 430 warga Rawagede. Dengan putusan
ini, Pemerintah Belanda diwajibkan untuk memberikan kompensasi terhadap keluarga
korban dan meminta maaf secara resmi atas peristiwa tersebut, untuk itu negara harus
membayar ganti rugi kepada tujuh janda korban.
Sidang ini dipimpin oleh D.A. Schreuder dan memenangkan tuntutan sembilan
orang keluarga korban tragedi Rawagede. Sebelumnya, kasus ini selalu kandas dengan
alasan bahwa perkaranya sudah kadaluwarsa untuk disidangkan. Hal ini dikarenakan
dalam hukum Belanda, korban perang yang menuntut haknya harus dalam jangka
waktu tertentu (lima tahun setelah kejadian) untuk bisa memulai proses perdata. Jika
tidak, kasus tersebut dianggap kedaluwarsa atau tidak layak diperkarakan. Namun kali
ini pengadilan menetapkan pengecualian demi alasan keadilan.
Upaya mencari keadilan ini didampingi oleh Liesbeth Zegveld, seorang
pengacara dan guru besar Hukum Humaniter Internasional serta penggagas Yayasan
Belanda Nuhanovic Foundation. Perjuangan mereka mendapatkan hasil dengan
putusan bahwa Pemerintah Belanda akan melakukan permintaan maaf secara terbuka
pada 9 Desember 2011 dan adanya kompensasi dana sebesar USD27 ribu atau sekira
Rp 244 juta. Permintaan maaf tersebut diwakili oleh Tjeerd de Zwaan, Duta Besar
Belanda untuk Indonesia, yang akan dilakukan dihadapan para keluarga korban di
Rawagede. Berdasarkan data yang diperoleh, ada enam orang yang akan mendapatkan
kompensasi dari negara Belanda, yaitu Cawi, Wanti Sariman, Taslem, Ener, Bijey, dan
Ita. Kementerian Luar Negeri Belanda melaporkan bahwa negara Belanda bersedia
memenuhi tuntutan keluarga korban peristiwa pertumpahan darah di Rawagede tahun
1947.
Hakim pengadilan Belanda memutuskan jumlah ganti rugi adalah 20.000 euro
sekitar 240 juta rupiah untuk masing-masing ahli waris korban. Keluarga korban yang
kini menerima kompensasi adalah delapan orang janda dan seorang anak dari keluarga
korban, yaitu Tasmin bin Saih putra dari Saih bin Sakam satusatunya korban selamat
Rawagede yang meninggal Mei 2011. Ketika terjadi peristiwa Rawagede, Saih bin
Sakam pada waktu itu dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah, karena itulah
Belanda mengira ia telah mati. Tasmin sendiri tidak mengalami kekejaman tentara
Belanda di Rawagede, karena saat itu ia belum lahir. Namun demikian Tasmin
merupakan salah satu yang hadir ketika pembacaan pleidoi di Gedung Pengadilan Den
Haag 20 Juni 2011. Pleidoi Komite Utang Kehormatan Belanda saat itu menuntut
tanggung jawab Pemerintah Belanda terhadap pembantaian dan penculikan penduduk
Rawagede.
Sebanyak enam janda korban tragedi Rawagede menerima kompensasi dari
pemerintah Belanda. Pemberian kompensasi dilakukan secara simbolik di Monumen
Perjuangan Rawagede, di Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat. Duta Besar Belanda
untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan, dan pengacara dari ahli waris korban, Liesbeth
Zegveld, menghadiri pemberian kompensasi ini. Pada tahun 2008 janda korban tragedi
Rawagede 9 orang dan pada tahun 2011 tinggal 6 orang lagi. Adapun mengenai jumlah
korban terjadi perbedaan pendapat, menurut versi Indonesia jumlah korban adalah 431
orang, sementara pemerintah Belanda mengatakan korbannya 150 orang.
. Kemudian hasil dari investigasi yang dilakukan oleh Tim Kepolisian Belanda
untuk kasus Rawagede dituangkan kedalam buku De Excessennota dimana didalam
buku tersebut dituliskan bahwasanya korban yang terbunuh di Rawagede ketika itu
adalah 150 orang, namun para janda korban perbantaian yang ketika itu menjadi saksi
mata mengatakan bahwa jumlah korban tersebut salah dan yang benar adalah 431 orang
sesuai dengan angka yang tertulis pada batu peringatan yang terdapat di Rawagede.
Hal tersebut kemudian menjadi perdebatan dikalangan para sejarawan Belanda karena
para sejarawan menemukan bukti yang berbeda dengan yang tertulis di buku De
Excessennota.
Kurangnya peran Pemerintah Indonesia dalam mencari keadilan dari kasus
pembantaian yang terjadi di Rawagede pada tahun 1947 sangatlah memprihatinkan,
dimana suatu Negara seharusnya melindungi hak hidup para penduduk sipil. Menurut
ahli sejarah kejahatan perang, Stef Scagliola, Pemerintah Indonesia tak pernah
mengutik-utik kejahatan perang Belanda guna menutupi kejahatan di negeri sendiri.
Pemerintah Indonesia tak pernah mengutik-utik kejahatan perang Belanda guna
menutupi kejahatan di negeri sendiri. Dimana tindakan yang dilakukan oleh Tentara
Belanda ketika itu sangatlah salah dan termasuk pelanggaran keras yang dilakukan oleh
pihak militer kepada rakyat sipil dan hal tersebut haruslah diberi sanksi yang keras agar
tidak terulang kembali kepada Negara lainnya kelak. Tetapi hal tersebut berbanding
terbalik dengan tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia yang hanya
berdiam diri dan hanya sekedar memantau apa yang dilakukan oleh para janda korban
Rawagede tanpa sedikitpun memberikan kemudahan bagi para korban, sungguh
memprihatinkan dimana Pemerintah Indonesia hanya dapat memberikan peringatan
berupa kritikan kepada Pemerintah Belanda atas pembantaian yang terjadi ketika itu
dikarenakan ketakutan pemerintah Indonesia atas kejahatan HAM dalam negeri yang
dikhawatirkan akan dibuka oleh pihak Belanda apabila pemerintah Indonesia terlalu
ikut campur dalam masalah HAM dan hingga saat ini pihak pemerintah Indonesia tidak
memberikan bantuan materil maupun non materil kepada para janda korban Rawagede,
sehingga para janda korban Rawagede harus mencari keadilan sendiri hingga ke
pengadilan di Den Hag, Belanda guna melanjutkan hidup.

2.2 Saksi dan Bukti peristiwa Rawagede


Monumen Perjuangan Rawagede

Gambar 2.1 Monumen Perjuangan Rawagede


Gambar 2.2 Relief Monumen Rawa Gede

Gambar 2.3 Taman Makam Pahlawan Sampoerna Raga

Monumen Rawagede adalah wisata di Karawang yang herada di tepi jalan paling
Utara Desa Rawagede, Kecamatan Rawa Merta. Atau berjarak sekitar 10 km dari Pusat
Kota Karawang, Munumen Rawagede adalah kenangan sebuah peristiwa yang menjadi
tengara pembantaian dari rutusun rakyat sipil Karawang uleh tentara Pemerintahan
Kolonial Belanda pada tahun 9 Desember 1948. Atau hanya selisih sepuluh hari
sebelum terjadinya Agresi Militer Belanda II.
Monumen Rawagede dihangun pada bulan Novemher 1995. Setelah itu
diresmikan pada tanggal 12 Juli 1996. Areal dari bangunan bersejarah ini herada dekat
dengan berbagai perkebunan dan persawahan penduduk yang ada di pinggaran Timur
perkampungan. Monumen ini hanya dibatasi dengan pagar sehingga sungat mudah
ditemukan. Tercatat Monumen Rawagede memiliki 17 anak tangga pada undakan
menuju lantai dua. Angka ini melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan
Indonesia. Sedangkan bentuk hangunan pada lantai dasar berbentuk persegi delapan
yang melarmbangkan bulan Agustus. Puncak monumen berbentuk piramid yang
terbagi menjadi 4 bagian dengan ketinggian sekitar 5 m yang clambangkan tahun
kemerdekaan, 1945.
Di kiri dan kanan dinding luar bagian bawah Monumen Rawagede, kita bisa
menjumpai relief yang menyimbolkan peristiwa perjuangan masyarakat Karawang
dalam perang merebutkan kemerdekaan. Setelah puas meniti lantai pertama. Naik ke
lantai atas, kita akan menemui ada patung seorang ihu yang terbuat dari perunggu.
Patung ini bersama dengan jasad dua anaknya yang terbujur tewas dipangkuannya yang
berlumur darah. Di belakang patung terdapat panil yang berisi penggalan puisi karya
dari Chairil Anwar dengan judul Antara Karawang Bekasi. Nuansa yang dihadirkan
dalam lantai bawah menggambarkan sebuah peristiwa pembantaian dari rakyat
Karawang oleh tentara Belanda yang kejam. Pada belakang monumen ada halaman
untuk tempat upacara dan akses ke Sampurna Raga yang menampung sekitar 181 jasad
pahlawan nasional.
Dibelakang monumen ini terdapat 181 makam pahlawan yang disebut dengan
makam pahlawan sumpoerna raga. Makam ini udalah makan dari korban pembantaian
di Rawagede oleh Belanda pada tahun 1947. Sebelumnya jasad dikburkan di halaman
rumah masing-masing oleh wanita dan istrinya. Makam ini merupakan makam
pindahan dari yang semulanya adalah di lingkungan rumah korhan. Sehingga ukuran
dari makamnya sendiri sangat kecil
Cerita Versi Bapak. Sutarman (Narasumber)

Kami cuma tulang tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kanmi melayang untuk kemerdekaan

Kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Dua penggal buit puisi karawang-bekasi karya sang penyair ternama Chairil Anwar
menghiasi patung seorang ibu. Ibu yang sedang memangku dua anaknya yang tewas
dalam kejadian pembantaian yang menewaskan empat ratus tiga puluh satu [431] urung
yang diantaranya terdapat pejuang dan warga sipil.
Ibu tersebut adalah ibu martem dan dua unaknya adalah atung dan adul. Dibawah
mata ibu martem terlihat garis-garis kecil yang menggambarkun airmata yang
berlinang. Hanya dengan melihat patung itu cukup untuk menggambarkan kekejaman,
kesedihan yang terjadi di Rawa Gede.
Patung ini herada di lantai dua dari monumen Rawa Gede. Monumen ini unik
karena seperti lambang garuda indonesia yang ada hubungannya dengan tanggal
kemerdekaan indonesia, begitu juga dengan monumen ini. Monumen ini memiliki dua
lantai, lantnai bawah merupakan diorama dengun isinya boneka patung belanda dan
warga desa Diorama ini dilapisi kaca sepuluh milimeter. dan lantai atas ada patung ibu
martem. Tangga menuju lantai keatas berjumlah 17 anak tangga.Lantai dasar hersisi 8,
bagian atas seperti piramid bersisi 4 an tinggi monumen 5 meter. Monumen ini
diresmikan 12 juli 1996.
Soeroto Koento pria kelahiran bandung 1922 tumbuh hesar di jogja, mahasiswa
UI angkatan 42. Menulak menjadi anggota PETA karena jepung licik membuat PETA
untuk melindungi Jepang sehingga Soeruto Koento membuat PETA yang herani
melawan Jepang. Akihat keberaniannya ini Soeroto Knento diangkat menjadi
komandan resimen jakarta dengan pangkat letnan kolone Markas besar tentara dulu
beruda di cikampek karena Jakarta saat itu hanya kresidenan dimanu buru padu tahun
1967 dijadikan provinsi dengan gurbernur Ali Sadikin 15 september 1945 helanda
masuk diboncengi oleh sekutu. 5 Oktoher 1945 Soeroto Koento menyatukan semua
laskar laskar rakyat yang kemudian herganti nama jadi tentara keumanan rakyat, oleh
sebab itu 5 oktober dijadikan hari ABRI Tahun 1946 sekutu meninggalkan indonesia.
Tanggal 25 november tahun 1946 Soeroto Koento diundang ke Jakarta didampingi dua
ajudannya yaitu kapten mursid dan kapten sulyan dan dua prajurit lagi. Sueroto Kuento
diundang untuk membahas kedatangan belandu yang akan melakukan agresi militer.
Pak mursid yang pulang duluan menanti kabar kepulangan atasannya. Jam
sepuluh malam helum ada kahar, jam sebelas belum ada kabar. Kapten mursid
menyusuri jalan perhatasan karawang hekasi lehih tepatnya di rawa gahus warung
bambu dan jam satu malam menemukan mubil kusong penuh dengan noda darah dan
kaca pecah tertembus peluru numun mayat Sueroto Kuento tidak pemah ditemukan.
Pembunuhan sang komandan ini diduga oleh orang indonesia yang pro terhadap
belanda. Kapten mursid kemudian meninggal tahun 2011. Patung Soeroto Kuento
dibangun didepan BNI cikampek yang diresmikan oleh jendral Wiranto pada tahun
1998.
Kematian sang komandan menjadi titik awal dari kejadian pembantaian di Rawa
Gede. Setelah kematian Soeroto Koento, Komandan kompi karawang bekasi Lukas
Kustario yang masih satu mertua dengan jendral Kharis Suhud, ketua dpr mpr tahu
1987-1992 yang juga pemah menjati prajurit kompi Lukas Kustary Minimnya senjata
pada saat itu membuat Lukas Kustaryo harus merebut senjata dari markas tentara
Belanda. "Ya kalo ada markas belanda 8-10 orang di cikampek. ditembak satu, Buju
belandanya di pake mendekelin belanda yang lain," kala seorang bapak tua kelahiran
tahun 1949, Pak Karman, mantan lurah, anggota legislatif sekaligus pekerja sosial yang
memperjuangkan kasus rawa gede ke negeri kincir angin. "Pernah di Pabuaran, dia
ngehantem belanda, malah anak buahnya seorang letnan nutmanya pak sanib pernuh
nembak 20 meter kok ini belanda kecil gak launya kumandannyu kan?" cerila pak
Karman kepada saya. Saya yang terjekut dan bertanya "yah, ketembak?woo gak kena
kena" kata pak karman. "Hah kok bisu?" saya lanjut bertanya, pak kurman sambil
menyentuh bahu saya dia mengatakan, "yu gatau ya faktor x mungkin ya. Yang
langsung terlintas dikepala saya Lukas Kustaryo ini kebal peluru tapi ada kemungkinan
pak sanih meleset. Karman yang dia dapati langsung dari pak sanib sendiri.
Pak sanib lantas langsung meminta maaf kepada komandanya. 600 militer
pasukan helanda siap dikirim ke Jakarta dari Surabaya menggunakan kereta api Begitu
mendengar tentang kabar ini Lukas Kustaryo mengumpulkan anak buahnya untuk
siaga di cikampek dan setelah itu dia langsung pergi stasiun kereta Cipinang Satu
lokomotif dengan tujuh gerbang kosong sedang parkir disana. Masinis yang
berhadapan dengan orang bersenjata langsung menurut saja begitu diperintahkan untuk
menajalankan kereta.
Pasukan-pasukan Lukas sudah disiagakan dicikampek. Sesampainya distasiun
gede citarum, lukas yang seorang diri lapor ke kepala stasiun untuk menanyakan kapan
kereta dari surabaya yang mengangkut militer belanda sampai disini. Karena kepala
masinis menganggap Lukas itu seorang masinis ya di kasih tau menit berapa jam
berapa. Tidak lama selelah itu kereta Lukas keluar dari karawang, di tanjung pura
kereta langsung dihalaukan ke jalur yang berlawanan. Memasuki jermbatan citarum
kereta langsung diperepat ke kecepatan maksimurn tepat ditengah jembatan citarum
kedua kereta tersebut hertabrakan. "tetapi pak lukas tuh loncat ke atas, nyebur ke air,
diam di air aja” kata pak karman yang terlihat asik menceritakannya kepada saya.
Tentara pak lukas yang sudah bersiaga lantas menjaruh isi kereta tersebut, oleh
sebah itu persediaan senjata mulai banyak. Banyak orang yang mengira pak lukas
meninggal pada kejadian itu, tapi faktanya dia masih hidup. Tindakan-indakan
heroiknya ini yang membuatnya dicap sebugai "Begundal dari Karawang" oleh
belunda. bahkan di sulah sutu gedung belanda tepatnyu di denghag uda patung setengah
hadan Iukas dengan julukan Begundal dari karawangan.
Belanda mulai memburu Lukas, dimana terdengar ada keberadaan lukas, militer
belanda langsung dikerahkan untuk mencarinya. Desa Rawa Gede karawang, sebuah
desa yang menjadi tempat berkumpulnya laskar laskar rakyat karena didesa ini banyak
berkelimpahan atau banyak orang kaya. Logistik tidak menjadi persoalan bagi desa ini
sehingga satu rumah mampu menampung sepuluh sampai dua puluh pejuang untuk
tinggal disitu.
Tanggal desemher 1947, Lukas melarikan diri dari Pamanukan ke Pabuaran dan
sampai di Cikampek sore hari dia pergi jalan kaki ke desa lebang melalui jalan wadas
terus ke telaga sari lalu sampai di desa ruwa gede pukul tujuh pagi tanggal 8 desember
1947. Lukas bergabung dengan pejuang yang adu dirawa gede. Di rawa gede Lukas
mengatur penyerangan lapangan udara Cililitan yang sekarang menjadi bandara Halim
Perdana Kusuma
Senjata yang ada di desa itu hanya 4 senapan. Lukas hanya membawa sebagian
duri pejuang pejuang yang udah di situ. Jam 3 Lukas dan buahnya berangkat menuju
suka tani sampai jarm 6 sore. Rombongan Lukas berhenti istirahat untuk makan dan
jam 7 malam perjalanan kembali dilanjutkan menuju ciburusah bogor sampai tengah
malam, dari cibarusah bergerak ke pondok gede sampai pagi dan menyerang lapangan
udara cililitan. Pak lukas tidak tahu rawa gede diserang saat dia menyerang lapangan
udara cililitan 9 desember 1947. Tanggal 8 desember 1947 jam 9 pagi mata mata
belanda mengetahui ada Lukas bergabung dengan para pejuang di Rawa Gede. Markas
belanda satu satunya di karawang ada dibelakang alun alun karawang yang sekarang
menjacli asrama polres karawang. Begitu ada laporan masuk, markas belanda
karawang merasa tidak mampu dan melapor ke kantor pusat. "jam 3 jam setengah 4
surat perintah datang, surat perintah kalau begitu rawa gede harus dibumihanguskan
malam ini" kata pak karman menceritakan kronologisnya.
Di karawang ada lurah tanjung pura,pak Sokin, lurah yang diangkat oleh belanda
yang masih memiliki jiwa patriot hegitu mendengar kabar bahwa rawa gede akan
dibumihunguskan, ia langsung naik sepeda untuk memperingati luruh desa rawa gede.
TKR TKR yang ada di rawa gede langsung bergegas membongkar jalan agar
tidak dapat dilalui kendaraan helanda. Jam 5- sore TKR mulai memhongkar namun jam
7 malam hujan derus. Jum 10 malan hujan pun mereda, jan setengah sebelas malam
mobil belunda ke kalangsari, rengas dengklok berjalan kaki berseragam militer belanda
hersepatu hoot, haju putih krem dengan loreng loreng coklat membawa senjata
menembus pekat malam melewati hutan dan sawah.
Pada tanggal 9 desember setengah satu malum 300 tentara belanda sudah
melingkari desa rawa gede. Bulan desember adalah bulan penggarapan sawah,
masyarakat rawa gede sudah bersiap untuk membajak sawah subuh jam 4 pagi.
Dimana-mana mereka bertemu dengan tentara belanda. Ditinggalnya seluruh perlatan
dan kerbau mereka untuk memperingati pejuang-pejuang untuk menyembunyakan diri.
Sebagian besar pejuang jam 4 subuh mereka masuk ke kali rawa gede mereka
berkelompok bersembunyi 20 orang 30 orang ngumpet dibawah semak semak, enceng
gondok. Sekitar dua rutus orang bersembunyi sepanjang kali itu. 20 pejuang
bersembunyi dirumah warga, mereka bersembunyi dihelakang henda benda yung ada
dirumah itu. karena pintu dibuka dan jendela dibuka. Belanda mengira rumah itu rumah
kusung yang ditinggalkan pemiliknya. Namun warga yang panik bersembunyi dengan
mengunci rumahn ya. Hal ini membuat helanda berpikir mereka menyembunyikan
lukas dirumah ini. Didobrak pintu kayu rumah itu, didapatinya orang orang yang
bersembunyi. Semua laki laki berumur 14 tahun keatas di kelompokan sementara
dibawah 14 tahun dibiarkan bersama para wanita.
Belanda menanyakan keberudaan pejuang dan keberudaan pak Lukas Namun
mereka semua menjawab tidak tahu walaupun mereka tahu dimana pejuang
bersembunyi dan mereka tahu bahwa lukas sudah tidak ada di rawa gede. Hal ini
membuat gerang belanda.
Tiga puuluh orang laki laki berjejer menghadap tembok, suara letusan senapan
api mengelora hingga kepenjuru desa. Satu demi satu orang berjatuhan setelah badan
mereka dihujam peluru. Belanda terus melanjutkan penyisiran mereka, masih ada 8
kelompok lagi yang akan dibantai namun mereka tidak tahu karena sistemnya
dikumpulkan. Rumah yang tetap dikunci rumahnya dibakar, lebih dari duapuluh rumah
dibakar.
Pembantaian terus berlanjut. kiru kira jam 8 pagi pengantin baru bu Ini(14) keluar
dari rumah dan melihat kejadian pemhantaian tersebut. Lekas ia masuk lagi dan
memheri tahu suaminya pak Ridam(18) agar jangan keluar karena laki laki sedang
dibantai. Pak ridam memakai baju kebaya pengantin wanita dengun penutup kamar dan
tetap berada di kamar. Naas, disaat sedang bersembunyi, rumah yang berada
dibelakang rumah mereka terbakar dan menyambar rumah mereka. Iantas pak ridam
keluar rumah melarikan diri. Tidak jauh dari umah pak ridam bertemu belanda dan
langsung ditembuk. Puk ridam pun tewas. Jam 12 siang. 20 pejuang yang bersembunyi
tetapi pintu da jendela rumah dibuka tadi diketahui oleh belanda. 30 prajurit belanda
langsung memaksa keluar pejuang itu dan menjajarkan ke tembok sau persatu
ditembak. "malah suaranya tekdung tekdung" kata pak karman. Saya merasa geli
dengan suara yung dia keluarkan tapi disatu sisi saya bisa merusakan kengerian dari
peristiwa itu.
Surya suanda, laki laki terakhir dari barisan yang akan ditembak, dia berlari
meloncat pagar namun tertembak pahanya. Dia merayap ke kali rawa gede yang tidak
jauh dari situ. Satu jam belanda mencari surya suanda namun nihil hasilnya.Sejak sat
itu belanda mulai berpikir banyak pejuang yang bersembunyi di kali ini Dari 300
prajurit helanda diantaranya membawa anjing pelacak 3. Setiap kali anjing pelacak
menggonggong di sekitaran kali, prajurit helanda langsung memberondong kali iu tanp
sasaran yang pusti. Mayat mayat mulai bermunculan, belanda menyisir sepanjang kali
itu dan menembaki ratusan dari pejuang. "dua puluh paling nyisa tiga, sepuluh paling
nyisa satu atau dua" kata pak karman.
Seratus delapan puluh satu makam dengan batunias putih berbaris di belakang
monumen rawa gede. Meskipun yang terhitung 181 namun jumlah korban. sebenarnya
adalah 431 orang. Lebih dari dua ratus orang yang terhanyut.
Sekitar jam 4 sore belanda menyudahi pembantaian ini dan pulang kembali ke
markasnya. Para wanita berhamburan dijalanan mencari suami, anak dan kerabat
mereka. Dari hari rabu sampai jumat proses pemakaman belum selesai karena menggali
tanah para wanita ini menggunakan golok.
Pak karman sebagai anak dari janda akibat pembantaian dan ayahnya seorang
pejuang yang selamat dari penembakan kali tidak tinggal diam. Beliau menggugat Ham
ke negara belanda dengan modalnya sendiri dan tanpa ada bantuan diplomatis duri
negara indonesia. Bahkan kedutaan indonesia di belanda menolak kehadiran pak
karman. Usaha pak karman tidak sia sia, dari empat gugatan yang diajukan diantaranya
helanda harus mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto, mengakui agresi
militer belanda ke satu dan ke dua, mengakui pembantaian rawa gede karawang).
westerling(sulsel) dengan kurbun 40 ribu jiwa dan peristiwa bondowoso,meminta duna
komnpensusi atus korban pembantuian, pak karman memenangkan gugatan belanda
mengakui pembantaian rawa gede dan bersedia memberikan kompensasi kepada 9
janda yang masih hidup pada waktu gugatan itu dimenungkan. Belanda memberikan
kompensasi senilai 20 ribu euro atau sekitar240 juta rupiah.
Pak Lukas Kusturyo hadir suat monumen rawa gede diresimkan tahun 1996 ada
kejadian rutin yang dimulai sejak saat itu yang dilakukan oleh pak Lukas. Setiap kali
ia melihat buneka belanda di ruang dierama, pak Lukas selalu menonjok kaca itu dan
meludah ke arah honeka itu. 8 januari 1997 pak Lukas Kustaryo meninggal dengan
pangkat terakhir sebagai Brigadir Jendral.

Tentara yang dikerahkan dalam aksi pembantaian herjumlah sekitar 300 orang
dan diperkirakan serdadu-serdadu Belanda itu adalah mantan algojo-algojo yang telah
membantai rakyat di Sulawesi Selatan dan ditempatkan di wilayah Cikampek dan
Karawang. Oleh karena itu, dalam aksi pemhantaian mereka sangat kejam, ganas, dan
tidak herperikemanusiaan. Nyawa manusia diharatkan seperti nyawa binatang yang
tidak ada artinya bagi mereka.
Walaupun Desa Rawagede telah hancur, namun pihak Belanda masih kurang
puas, karena sebagian pejuang terutama Lukas Kustaryo tidak berhasil dibunuh Untuk
mencari terus para pejuang dan Lukas Kustaryo. pihuk Belanda mendatangkan lagi
pasukannya sehanyak 9 truk. Dalam operasinya tentara Belanda mendapat bantuan dari
orang-orang pribumi yang menjadi pengkhianat hangsa, dengan cara menunjukkan
tempat-tempat persembunyian warga desa dan para pejuang. sehingga operasi ini
berjalan dengan cepat.
Korban dalam peristiwa naas tersebut bukan hanya penduduk Rawagede saja.
tetapi ada juga warga lain seperti penumpang Kereta Api jurusan Karawang-
Rengasdengklok. Mereka tidak tahu di Rawagede sedang terjudi pembuntaian yang
dilakukan oleh tentara Belanda. Para penumpang terjebak di Stasiun Rawagede dan
menjaid sasaran keganasan tentar Bulanda. Mereka ditangkap dan dibariskan dijalan
Kereta Api sambil disuruh jongkok, setelah itu langsung ditembak dengan senjata
bregun. Mereka langsung roboh dan bergelimpangan di sepanjang jalan rel Kereta Api.
Menurut saksi mata korban kebiadaban itu berjumlah 62 orang.
Keadaan di seluruh sudut Rawagede sejak penyerangan jam 04.00 subuh sampai
malam hari, tidak seorangpun yang berani menumpakkan diri untuk keluar rumah.
Banu pada keesokan harinya setelah keadaan cukup aman masyarakat harus berani
keluar dan melihat hanyak mayat bergelimpangan dimana-mana, di jalan, dihalaman
rumah, sawah dan yang terbanyak terdapat di sungai. Pada saat itu sungai dalam
keadaan banjir. Ratap tangis dan jerit histeris memecah keheningan pagi. Dengan
peralatan dan tenaga seadanya mereka mengurus dan menguburkan jenazah-jenazah
tersebut. Semua hanya dilakukan oleh para perempuan. Menurut perkiraan jumlah
mayat yang dikuburkan pada saat itu sekitar 431 orang, termasuk orang-orang yang
tidak dikenal identitasnya.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Peristiwa Rawagede adalah merupakan suatu kasus kejahatan perang yang


dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia tepatnya pada 9 Desember 1947. Yang
menewaskan 431 Orang warga sekitar.

Peristiwa itu digugat ke Pengadilan Sipil Belanda dan Hakim memutuskan


memenangkan gugatan dengan beberapa syarat diantaranya masih ada saksi hidup
peristiwa tersebut, hal ini dimulai ketika Belanda membuka penggantian kepada
Negara-negara dunia akibat perang yang dilakukan oleh Kerajaan Belanda.

3.2 Kritik dan Saran

Monumen yang seharusnya menjadi asset sejaharah ini jangan sampai


terbengkalai. Dengan adanya Monumen ini bukti bahwa peristiwa tragis yang
dilakukan oleh Belanda pernah terjadi disini. Sudah semestinya Pemerintah Karawang
harus berperan aktif menjaga dan menormalisasi monument ini. Dimana tempat yang
sangat berharga ini perlu dijaga kelestariannya. Jangan sampai sikap acuh Pemerintah
dan sikap arogan generasi penerus menjadi pencetus hancurnya situs bersejarah ini.

Selain perhatian Pemerintah, elemen masyarakat juga harus digiatkan serta


disadarkan guna menjamin monumen ini ini tetap berdiri. Pendidikan sejarah dan moral
yang sudah merosot penyebab utama masalah ini. Sudah seharusnya kita sebagai
bangsa yang besar harus selalu menghargai sejarah dan pengorbanan para
pahlawannya.
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Karawang#Toponomi_dan_sejarah (Di
Akses 9 Oktober 2017 Pukul 11:00) http://www.karawangkab.go.id/selayang-
pandang/lambang (Di Akses 10 November 2019 Pukul 11:12)

http://jprmikarawang.blogspot.co.id/2012/02/sejarah-dan-asal-usul-karawang.html
(Di Akses 9 Oktober 2017 Pukul 11:12) http://pelitakarawang-
budi.blogspot.co.id/2011/07/terdapat-tiga-pendapatmengenai-asal.html (Di Akses 10
November 2019 Pukul 11:12)
LAMPIRAN