Halaman 18- 23
Tabel 4. Pola Pernafasan Abnormal pada Pasien Penurunan Kesadaran
Jenis Deskripsi Implikasi klinis
Cheyne strokes Pola pernafasan ditandai Dijumpai pada enselopati
dengan periode hipernepa metabolic dan lesi pada
yang berselang – seling forebrain atau diensefalon
dengan periode apnea 10-20
detik.
Hiperventilasi neurogenic Pola napas yang disebabkan Paling sering dijumpai pada
sentral oleh terangsangnya enselopati metabolic. Pada
kemoreseptor di batang otak konsisi jarang, bisa
karena beberapa keadaan disebabkan oleh lesi
metabolic yang merubah nilai mesenfalon.
PH (sepsis, koma hepatic, atau
asidosis metabolic) atau lesi
intracranial (infeksi
intracranial atau perdarahan
subaraknoid). Hiperventilasi
terjadi terus menerus, bahkan
saat tidur.
apneusis Pola napas yang ditandai Terdapat lesi di pons bilateral.
dengan henti napas, selama 2-
3 detik saat puncak inspirasi
dan akhir ekspirasi.
Klaster dan ataksik Pernapasan yang terengah Lesi di perbatasan pons dan
engah (gasping), dengan pola medulla oblongata.
seperti roda gigi
berkelompok/klaster yang
diselingi dengan henti napas.
Apnea Tidak ada inspirasi dan Lesi di ventral respiratory
ekspirasi group yang berada di kedua
sisi ventrolateral medulla
oblongata.
Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik umum bertujuan untuk mencari etiologi penurunan kesadaran (table 5). Hal ini
dilakukan setelah tanda vital stabil, secara menyeluruh dari kepala hingga ekstremitas bawah.
Table 5. Temuan Klinis yang Bermakna pada Penurunan Kesadaran
System Temuan klinis Kondisi medis terkait
Kepala dan leher Jejas, luka, bengkak, tanda battle, cedera kepala
raccon eyes
Kulit Bekas suntikan (needle track) Overdosis obat, HIV, hepatis C
Hipoksia, keracunan sianida,
Sianosis penyakit jantung
Intoksikasi karbon monoksida
Berwarna merah pucat (cherry red)
Ikterik Ensefalopati hepatikum, hemolysis
Anemia, peirdarahan hebat,
Pucat renjatan, sinkop vasomotor
Disseminated intravascular
Petekie coagulopathy, infeksi
meningokokus, alergi obat,
trombositopenia, emboli lemak
SLE, toxic shock syndrome
Ruam makulopapular Trauma, koagulopati
Lebam / memar Demam, hipoglikemi
Berkeringat Polisitemia, demam, intoksikasi
alcohol
Eritema, flushing
Paru Edema paru Gagal jantung, edema paru
neurogenic, enselopati anoksik
Jantung Aritmia Stroke iskemik karena emboli
Murmur Endocarditis bakteri
Abdomen dan Hametesis melena Perdarahan saluran cerna,
saluran cerna enselopati hepatikum
Inkonensia alvi Anemia, koagulopati
Saluran kemih Anuria, oliguria Enselopati uremikum
Hematuria Anemia, koagulopati
Ekstremitas Asteriksis enselopati hepatikum, enselopati
uremikum
Kedutan (twitching) status epileptikus nonkonvulsif
Pemeriksaan Neurologis
Semua pemeriksaan yang membutuhkan atensi pasien tidak dapat dilakukan pada kasus penurunan
kesadaran, anatara lain pemeriksaan sensorik, keseimbangan, dan koordinasi. Pemeriksaan tanda
rangsang meningeal, beberapa saraf kranial, dan motoric masih dapat dikerjakan untuk mengetahui
letak lesi penurunan kesadaran.
Pemeriksaan tanda rangsang meningeal bertujuan mencari adanya kaku kuduk, yang dapat menjadi
tanda adanya iritasi meningen di daerah subaraknoid, misalnya pada penyakit meningitis,
perdarahan subarknoid, atau tumor didaerah meninges. Selanjutnya, pemeriksaan saraf kranial
meliputi pupil, gaze, dan reflek batang otak. Adapun pemeriksaan terhadap rangsang nyeri.
A. Pemeriksaan Saraf Kranial
- Pupil
Pemeriksaan reflek pupil dapat menentukan letak lesi intracranial yang menyebabkan
penurunan kesadaran (gambar 7). Reflek ini memiliki komponen aferen N.II dan eferen
N.III. Hasil pemeriksaan pupil dikatakan anisokor bila terdapat perbedaan diameter
pupil >2 mm antara kiri dan kanan . Selain gambaran berikut, terdapat pula gambaran
pupil bereaksi lambat (sluggish pupils) yang bisa terjadi akibat pengaruh obat penyekat
neuromuscular, tets mata midratik, atau penggunaan albuterol.
- Gaze dan Gerakan Ekstraokular
Pemeriksaan gaze diawali dengan memegang kedua kelopak mata pada pasien agar
tetap terbuka, kemudian diamati posisi kedua bola mata pada keadaan netral. Adanya
kelainan gaze berupa deviasi konjugat menandakan kemungkinan lesi frontal eye field
(FEF) lobus frontal atau pons.
Lesi pada salah satu FEF lobus frontal dapat berupa lesi destruktif atau iritatif. Lesi
destruksi, misalnya karena stroke atau neoplasma, akan menimbulkan deviasi konjugat
kearah ipsilateral lesi atau kontralateral sisi hemiparesis. Lesi iritatif, misalnya kejang
yang bersumber dari salah satu lobus frontal, akan menimbulkan deviasi konjugat
kearah kontralateral lesi. Adapun lesi pada salah satu sisi pons akan menimbulkan
deviasi konjugat kearah kontralateral lesi atau ipsilateral sisi hemiparesis.
Pemeriksaan gerakan bola mata dilakukan untuk mengevaluasi adanya fiksasi, tracking
pada suatu objek, raving eye movement, atau nistagmus yang dapat menunjukan lokasi
lesi.
Tabel 6. Deskripsi Temuan Klinis pada Pemeriksaan Gerak Bola Mata
Temuan klinis Keterangan
Fiksasi Mata melihat ke suatu objek dan tidak
bergerak dari posisi tersebut.
Tracking Mata melihat ke suatu objek sekitarnya,
dan kemudian matanya melirik mengikuti
gerakan objek tersebut.
Raving eye movemonet Gerakan konjugat kedua bola mata yang
pelan dan bolak – balik.
Down- beat nystagmus Dapat ditemukan pada lesi folikulus
serebelum atau craniocervical junction.
Up- beat nystagmus Dapat ditemukan pada lesi vermis
serebelum dan medulla oblongata
Ocular bobbing Gerakan kedua bola mata menyentak
kearah bawah dengan diikuti gerakan kea
rah atas yang lambat. Hal ini bisa
disebabkan oleh lesi akut di pons.
- Reflek Okulosefalik
Sebelum pemeriksaan, harus dipastikan dulu tidak terdapat cedera vertebra servikal.
Pemeriksaan menahan kedua kelopak mata pasien tetap terbuka, lalu menggerakkan
kepla pasien secara cepat berotasi kearah horizontal dan vertical. Hasil positif ditandai
dengan gerakan kedua bola mata kearah berlawanan dari rotasi kepala. Misalnya, jika
pasien menoleh ke kanan, maka kedua mata normal akan bergerak kearah kiri. Adapun
hasil negative apabila tidak ada gerakan bola mata saat kepala digerakkan.
- Reflek Okulovestibular
Komponen aferen reflek ini adalah N.VIII dengan eferen N.III dan N.VI. Reflek ini
dilakukan dengan sebelumnya memastikan patensi membrane timpani. Jika tidak ada
rupture membrane, pemeriksa dapat mengalirkan air dingin pada salah satu telinga.
Posisi pasien saat tes kalori adalah elevasi kepala 30 derajat. Setiap telinga diirigasi
sekitar 50 mL air dingin selama 1 menit. Tindakan dilakukan pula pada telinga sisi
yang lain dengan interval selama 5 menit dari telinga sebelumnya. Hasil positif berupa
nistagmus fase cepat kea rah berlawanan dengan telinga yang diirigasi. Hal ini
menunjukan lingkar reflek yang melalui mesencepalondan pons dalam keadaan intak.
Adapaun hasil negative ditandai dengan tidak adanya gerakan bola mata selama 1 menit
observasi pascairigasi.
- Reflek Ancam
Reflek ini memiliki komponen aferen N.II dan eferen N.VII. Cara pemeriksaannya
adalah dengan memegang kedua kelopak mata pasien agar tetap terbuka, kemudian
tangan pemeriksa digerakan secara cepat kedalam lapang pandang pasien hingga
tampak seperti hamper mengancam mata pasien,. Hasil positif yang ditandai dengan
kedipan mata menunjukan lingkar reflek melalui jaras penglihatan, area visual di lobus
oksipital hingga pons masih dalam keadaan intak. Adapun hasil negatif berupa tidak
adanya kedipan mata saat tangan pemeriksa bergerak cepat kea rah mata pasien.
- Funduskopi
Pada pasien penurunan kesadaran, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi
diskus optikus dan N.II. Dengan pemeriksaan ini, klinisi dapat mengetahui adanya
papil edema yang sering menjadi tanda peningkatan tekanan intracranial. Selain itu,
komplikasi retinopati pada hipertensi dan diabetes mellitus bisa terdeteksi pada
penurunan kesadaran yang dicurigai diakibatkan oleh stroke. Pada perdarahan
subaraknoid, gambaran yang ditemukan dapat berupa perdarahan subhialoid.