Anda di halaman 1dari 6

Mengembalikan Humor dalam Kehidupan Beragama

Pidato Sakdiyah Ma’ruf untuk Mimbar Selasar.

Selasar Soenaryo, Bandung, 20 September, 2019

Assalamualaikum, wr,wb.

Selamat Malam, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua

Greetings kepada VIP

Terima kasih kepada Selasar Soenaryo dan Mimbar Selasar atas kesempatan yang istimewa ini.
Bertahun-tahun saya hanya bisa membayangkan Selasar Soenaryo berdasarkan cerita rekan-rekan di
komunitas seni rupa di Yogyakarta, tempat tinggal saya dulu. Imajinasi memang gratis, begitupun
doa. Tak disangka terkabul. Alhamdulillah

Bangsa kita berduka.

Berbagai persoalan yang saat ini kita hadapi; Rancangan Amandemen KUHAP yang berpotensi
memberangus kebebasan dan memenjarakan korban, RUU PKS yang tidak segera disahkan, Revisi
UU KPK, dan banyak hal lain, dianggap berasal dari menguatnya konservatisme agama di parlemen,
pemerintahan, dan di tengah khalayak yang lebih luas.

Saat berhadapan dengan keyakinan atau tafsir agama tertentu, tidak banyak lagi ruang untuk kritik,
apalagi humor.

Dalam kehidupan beragama kekinian, humor lebih tabu daripada memukul istri. Memukul istri bisa
saja menemukan justifikasinya dalam tafsir yang rigid tentang kewajiban istri untuk patuh. Kalau
suami yang tidak patuh? Ya itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhannya. Toh, suami katanya
pemimpin bagi istri. Pemimpin sih bebas!

Apapun alasannya, anda yang tertawa seketika membuat pernyataan barusan menjadi “humor yang
melecehkan agama.”

Izinkan saya mengajak anda sekalian ke rumah saya,

Bangsa kita baru saja kehilangan putra terbaik Presiden B.J. Habibie. Saya bersama keluarga besar
sebagai rakyat jelata hanya bisa nonton bareng siaran langsung prosesi pemakaman sembari turut
mendoakan dan mengenang jasa beliau.

Selayaknya nonton bareng, ada saja celetukan-celetukan penonton. Saat Ibu Iriana Joko Widodo
memasuki rumah duka, ada yang bilang, “Apaan, Ibu Iriana berjilbabnya kalau acara begini aja.
Jilbabnya juga melorot-melorot.” Selanjutnya memasuki rumah duka, keluarga besar Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Terlihat Annisa Pohan merangkul dan cium pipi singkat menyatakan duka cita
pada putra Presiden Habibie. Penonton berikutnya, “Eh, bukan muhrim, ga boleh cipika cipiki!”

Sungguh khusyu suasana duka di keluarga kami.

Dalam konteks yang sangat pribadi atau keluarga, maupun konteks yang lebih luas di masyarakat
kita, beberapa tahun terakhir kita melihat praktik-praktik beragama yang sempit, rigid, dan penuh
penghakiman. Seolah tidak ada ruang untuk perbedaan cara mengabdi pada Tuhan, tidak ada ruang
untuk dialog antar kebenaran.
Terlahir di komunitas yang mengaku Keturunan Arab di Pekalongan, sesungguhnya tidak ada yang
asing dari berbagai fenomena yang akhir-akhir ini kita saksikan.

Restriksi terhadap perempuan, pernikahan anak, normalisasi kekerasan, pemisahan ruang privat dan
publik antara perempuan dan laki-laki, dibungkus tafsir agama yang sering monolitik, adalah
keseharian.

Anda pikir mengapa kita sering mendengar bahwa orang keturunan Arab harus menikah dengan
orang keturunan Arab juga? Ini salah satu alasan yang pernah saya dengar dari seorang Ibu-ibu, “Kita
harus menjaga kemurnian akidah. Kalau menikah dengan orang Jawa (orang di luar komunitas itu),
Islamnya masih campur-campur. “ Saya tidak tahu juga, mungkin dianggapnya setengah Islam,
setengah menyembah keris atau bagaimana.

Saya jadi ingat salah satu pengalaman keluarga besar kami; menjelang pernikahan paman saya
dengan tetangga yang keturunan Arab juga, nenek saya yang keturunan Arab juga menyarankan
dengan sungguh-sungguh untuk calon istri paman saya melemparkan celana dalamnya ke atas atap.
Untuk mencegah turun hujan saat resepsi pernikahan. Sungguh murni akidah kami.

Hidup di tengah lingkungan yang penuh kontradiksi, krisis identitas, serta tekanan terhadap
perempuan, saya tumbuh dewasa merindukan “Indonesia.”

“Indonesia” dalam pandangan saya adalah ruangan yang luas, lega, dimana saya bisa berkarya,
bebas berekspresi, dan boleh punya pacar.

“Indonesia” adalah imajinasi saya tentang hidup dan masa depan.

Saya menyadari bahwa sebagian hidup saya akan saya persembahkan untuk perlawanan, saat SMA
dulu, menyatakan pada Ibu saya, bahwa saya tidak akan pernah mau menikah.

Ibu saya hanya bilang, “Huss, nanti ada malaikat lewat dan mencatat, kau beneran ga nikah lho!”

Saya berpikir, “Hmm, di Madrasah saya diajarkan ada malaikat di kiri-kanan saya yang selalu
mencatat, Rakib dan Atid, yang ini kok cuma lewat ya?”

Ironi dalam kehidupan yang serba ketat membawa saya ke panggung saat saya tidak berhasil
bertemu dengan “Indonesia” yang saya impikan.

Pertama kali dalam hidup, saya bertemu dengan teman-teman yang menolak saling bersalaman.
Saya pikir mungkin ini kesadaran kesehatan level terbaru. Masuk akal juga tidak mau menjabat
tangan teman laki-laki di kampus. Ya, anak kampus kan! Kita ga tahu tanggannya habis kemana aja,
dicuci atau nggak. Jijik juga.

Pertama kali dalam hidup saya bertemu dengan teman-teman bercadar, mereka yang menurut saya
lebih visioner menangkap potensi pencemaran udara dibandingkan orang urban yang baru berisik
setalah ada aplikasi pembaca polusi.

Pertama kali dalam hidup, saya duduk berseberangan dengan teman-teman laki-laki dibatasi tirai.
Saya pikir, mungkin di seberang sana adalah kumpulan penyiar radio. Ga ganteng-ganteng amat, tapi
suara empuk dan seksi. Lumayan untuk imajinasi siang bolong sambil menunggu kiriman uang dari
orang tua.

Pertama kali dalam hidup, ada teman laki-laki yang menolak melihat wajah saya saat berbicara,
menunduk saja dia, saya bilang, “Hey kamu, mau bicara dengan saya atau lihatin dada saya, kok
nunduk terus!”
Pertama kali dalam hidup, saya merasa tidak hanya ingin berjuang dan melawan untuk perempuan
di komunitas saya, tapi lebih penting lagi untuk “Indonesia” dalam mimpi saya.

Jika anda yang ingin merenggut, kita ajak tertawa saja.

Iya, sering kita resah soal ideologi khilafah misalnya. Saya pikir, itu persoalan marketing saja kurang
halus. Daripada demo , mungkin bisa bikin iklan TV aja.

Saya beri contoh

Anak perempuan bertanya pada Ibunya,

“Ibu, rambutku kering dan lepek!” Tenang anakku, solusinya KHILAFAH

Khilafah, menyelesaikan segala problem rambut dengan menutupnya selamanya. Dapat dipakai 24
jam sehari, tujuh hari seminggu. Kalau hijab kamu yang jadi lepek, solusinya hijab shampoo. Masa
kecil dulu tulisannya Hair Shampoo ya, untuk mencuci rambut. Sekarang tulisannya hijab shampoo,
untuk mencuci hijab!

Anak perempuan bertanya lagi pada Ibunya,

“Ibu, aku memiliki problem bau badan! Tenang anakku, solusinya khilafah! Sabun khilafah anti bau
badan, dengan aroma Kasturi karena aroma lain mengundang fitnah!

Anak perempuan ini bertanya lagi pada Ibunya, kalau bertanya pada bapaknya itu Bimbo.

“Ibu, aku memiliki masalah kewanitaan! Tenang anakku, solusinya khilafah!

Pembersih kewanitaan khilafah, membersihkan otak wanita dari segala keinginan keluar rumah,
mengejar karir, dan menolak poligami. Dengan estrak bengkuang untuk daerah kewanitaan lebih
putih agar menyala dalam gelap sehingga tidak salah masuk. Pembersih kewanitaan khilafah. Untuk
rumah tangga sakinah ma waddah wa rohmah.”

Memilih jalan “Beragama dengan santai” seperti judul Mimbar Selasar kali ini, tak urung menuai
banyak reaksi.

Saya sering mendapat kritik, “Sebagai seorang Muslim, kamu tidak boleh berkiblat ke Barat. Saya
pikir, sebagai seorang Muslim, kalau tidak berkiblat ke Barat, saya sholatnya hadap ke arah mana?”

You are not supposed to joke about Islam is an all too familiar comment and/or advise that I
received in my profession working as standup comic.

This comment is of course a much more subtle and kind version of many other hateful remarks
directed towards me including;

You are not following the path of the wives of Prophet Muhammad, I said I never recall words from
the Prophet saying the their wives never laugh

I will be happily watching you burn in hell, I said; doesn’t it mean that you will also be in hell?

You are an evil because you have an evil teeth; I said; Thank you for recognizing the one feature that
will make me look eternally beautiful

And of course, you are not a woman speaking out your mind in public unless you receive a comment;
what an embarrassment to Islam, I can see the bra under your dress.
Terlepas dari tanggapan negatif tersebut, saya meyakini kekuatan humor untuk kebaikan dan sikap
mawas diri seperti yang akan saya bicarakan berikutnya. Selain refleksi diri dan internal komunitas
Muslim, saya juga bicara soal berbagai kesalahpahaman dan stigma tentang Muslim. Saya lebih
sering membawakannya di tengah English speaking audience, karena isunya ada di sana, bukan di
sini, dimana kita mayoritas. Manja sekali sampai harus membela diri menggunakan humor.

Bersama English speaking audience saya bercerita:

I talked about travel experiences and attending conferences only to find Caucasian Women asked
me “Oh, you are a Muslim women from Indonesia? Life must be hard out there

Oh you speak a very good English

But you are from a tropical country isn’t that hot? -- > Air Conditioning

Or, this is a country of freedom, your husband or father is not here, why don’t you take it off?

When a guy caught you without your hijab do you have to marry him?

I also talked about how terrorists are completely different from Muslims, they are more similar to
The Kardashian, desperate for attention and like to post video online.

What is interesting is that these people, not only do they believe that they have the right to pass
such comment, they are also certain that what they are doing is noble as it is part of Muslim
religious duties to “advised others.”

What we often forgot is the verse of the Qur’an Surah Al Ashr (Surah 103) order us not only to advise
others but also advised others in truth and advised others in patience.

With this in mind, is humor the answer or better yet antidote to the widespread hate across religious
community and the nation in general? Is humor part of religious tradition? Is it justifiable to
communicate/propagate religion with laughter? Can we joke about religion and religious
community? WHY ARE WE SO AFRAID OF HUMOR, and why humor is important?

Humor is a space of play, but more than that, it is a place of thoughts, aspiration, voice, and a space
for dialogue

With few lines of jokes, we can talk about issues that we have been reluctant to talk about for years
or even centuries.

Humor throughout the history also have allows the lowest of the low; those who are marginalized
and discriminated on the basis of race, skin color, religion, to stand and fight, sending message
without being aggressive, establishing group identity while embracing diversity, DISMANTLING
MYTH, BROKE DOWN WALLS AND STEREOTYPES, CHALLENGED THE POWERFUL AND COMPLACENT,
SURVIVE AND THRIVE !

Theoretically, the functions of humor are most importantly subversion, building “counter-narrative”
or “turning the table.” At the same time, it allows tension release, involving everyone in celebration
of laughter when we realized that all of us are actually flawed. It allows INCLUSION, not only
INTEGRATION or worse yet forced homogenization, but INCLUSION. It is also effective to build in
group and in group – out group cohesion based on solidarity of the marginalized and the awareness
and realization of the powerful.
Semuanya dimungkinkan oleh sifat humor yang lain yaitu memberikan ruang dan jarak.
Memungkinkan siapapun untuk melihat dari sudut pandang berbeda tanpa harus setuju seketika.
Dipikir-pikir saja dulu, tidak perlu buru-buru, seperti masa kekuasaannya akan berakhir saja.

Humor tidak bisa terlibat dalam kekuasaan, misalnya, karena humor adalah senjata dan kekuatan
mereka yang lemah. Mungkin itulah mengapa humor amat sangat ditakuti.

Srimulat salah satunya, terkenal dengan guyonan cara membuat 1 buah telur bertahan selama satu
bulan. (Diceritakan guyonannya)

Terasa lucu padahal sesungguhnya sangat pahit. Rakyat yang terlampau miskin tidak bisa lagi
menangis, hanya menahan lapar dengan kelakar.

Dalam konteks yang lain, khususnya dalam kehidupan beragama, adalah kealpaan sejarah apabila
kita melewatkan humor Gus Dur. Saya ingat beberapa diantaranya, semoga saya tidak salah
menceritakannya.

Guyonan soal supir bus malam yang masuk surga dan ulama yang tidak masuk surge

Guyonan soal anak Tuhan masuk Kristen

Guyonan soal pendeta dan kyai saling meminjam motor dan mobilnya

Sedemikian bermanfaatnya humor, bisakah kita percaya bahwa humor tidak ada dalam tradisi
agama? Bahkah Rasulullah Muhammad SAW pun bercanda. (Diceritakan soal hadith tentang Ibu Tua
yang mengadu kepada Rasulullah)

Saya pernah menyampaikan hadith ini dalam pidato yang lain di sebuah forum yang dihadiri Rabbi
Yahudi dari Amerika Serikat yang sudah amat tua. Rabbi tersebut baru saja mengikuti program
Interfaith dengan Pendeta Kristen Ortodoks dan Kyai Pesantren selama 3 minggu. Ketika ditanya,
pengalaman apa yang paling berkesan, Rabbi tersebut menjawab, pengalaman hari ini! Saya gembira
mendengar di surga nanti kita semua akan muda kembali. Saya sudah lelah menjadi orang tua. 3
minggu pengalaman dibandingkan 1 hadith berisi sedikit canda dari Rasul yang mulia. Kita ternyata
bisa bicara hati ke hati.

Rabbi tersebut kemudian melanjutkan, kamu tahu apa artinya Ishak dalam Bahasa Hebrew? Ishak
artinya tawa. Tawa adalah hadiah dan anugerah Tuhan. Mengapa tidak kita gunakan? Kita harus
menggangap hidup kita ini secara serius. Dalam tradisi Islam kita mengenal hidup sebagai amanah,
tugas manusia sebagai khalifah dan konsep takwa sebagai komitmen dan loyalitas, kesungguhan
menjalani hidup, ibadah, mengabdi pada Gusti Allah. Tapi kita tidak perlu mengganggap diri kita
sendiri ini terlalu serius sehingga tidak bisa ditertawakan. Seolah megah padahal cuma tanah atau
segumpal darah.

Memang humor itu pisau mata dua, bisa sangat jahat dan berbahaya. Filsuf kuno seperti Aristoteles
atau di masa awal modernitas seperti Thomas Hobbes dalam bukunya On Laughter, merujuk pada
humor sebagai sumber perasaan superior. Olok-olok. Merendahkan mereka yang rendah. Mirip
seperti kekuasaan berhadapan dengan rakyat, apalagi perempuan yang sudah jatuh, ditimpa suami,
ditimpa tetangga, ditimpa masyarakat, ditimpa Negara, terakhir ditimpa pengembang.

Humor yang demikian adalah humor yang aku menertawakan kamu. Humor yang kita bicarakan
sedari tadi adalah humor yang mengajak tertawa bersama, merefleksikan kekurangan dan
kekonyolan diri sebagai sesama manusia. Kegembiraan bersama seberapapun pahitnya. Bisakah
kita? Bisa, tapi mungkin masih jauh, kalau siluet pinokio saja demikian gaduh.***