Anda di halaman 1dari 37

BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.1 Tujuan

1. Mempelajari penggunaan alat ukur dasar


2. Menuliskan bilangan-bilangan berarti hasil pengukuran atau perhitungan
3. Menghitung besaran lain berdasarkan besaran yang terukur langsung.

2.2 Landasan Teori

Di dalam fisika, terdapat dua jenis pengukuran yaitu pengukuran tunggal


dan pengukuran berulang. Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dengan
satu kali pengukuran langsung diperoleh hasil ukurnya berupa (x ± Δx) satuan dan
jika dilakukan pengukuran berulang hasilnya tetap sama. Sedangkan pengukuran
berulang adalah pengukuran dimana untuk mendapatkan hasil (x ± Δx) satuan
harus dilakukan beberapa kali pengukuran karena disetiap kali pengukuran
memperoleh hasil yang berbeda.

Pengukuran tunggal dan pengukuran berulang hasil ukurnya ditulis ke


dalam bentuk (x ± Δx) dimana pada pengukuran tunggal nilai x merupakan angka
pasti sebuah pengukuran dan Δx merupakan nilai ketidakpastiannya atau ralat.
Sedangkan pada pengukuran berulang nilai x merupakan rata-rata perkiraan
terbaik dari setiap pengulangan pengukuran dan Δx merupakan nilai ralat yang
diperoleh dari nilai sebaran sekitar rata-rata atau standar deviasi.

A. Pengukuran Tunggal

Dalam pengukuran tunggal, penentuan hasil ukurnya tidak ada aturan


tertentu (tidak harus ½ Nilai Skala Terkecil) dan hasil ukurnya ditentukan oleh
keprofesionalitas si pengukur itu sendiri yang dilakukan secara logis dan rasional
berdasarkan intuisi dan pemahaman yang dikuasainya.

Untuk contoh pengukuran tunggal Anda bisa membacanya pada artikel


berjudul sistem pengukuran beserta alat ukur tentang pengukuran panjang benda
menggunakan mistar. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa penggunaan aturan ½
Nilai Skala Terkecil tidak bisa diterapkan disemua penguran alias tidak baku.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 1


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

B. Pengukuran Berulang

Ada beberapa sebab mengapa sebuah pengukuran dilakukan secara


berulang-ulang antara lain :

 Adanya kesulitan eksperimen dalam pengulangan pengukuran


 Besaran yang diukur bersifat fluktuatif (berubah-ubah)
 Adanya variasi dari medium pada saat eksperimen dilakukan

Nah disini kita dapat menentukan angka pastinya dengan cara mengambil
sejumlah data yang kemudian diambil nilai rata-ratanya. Sedangkan nilai
ketidakpastiannya dapat diambil dari nilai deviasinya.

Nilai rata-ratanya dapat kita tentukan menggunakan persamaan di bawah


ini:

Keterangan:

N merupakan jumlah data sedangkan ni merupakan banyaknya data xi


yang muncul.

Untuk nilai deviasinya dapat kita tentukan dengan persamaan akar kuadrat
dari ragam rerata sampel (averaged sample variance), yakni

Dimana s merupakan standar deviasinya, N merupakan jumlah data, xi


merupakan jumlah data ke-i dan rerata merupakan nilai rata-ratanya.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 2


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

Agar lebih mudah dalam perhitungan dan membuat Anda tidak bingung
hendaknya data hasil pengukuran yang Anda lakukan dimasukan kedalam tabel.

Sumber : Fisikazone.com

Besaran adalah sifat-sifat dari suatu benda atau kejadian yang kita ukur
dan dapat dinyatakan dengan angka. Misalnya panjang benda, massa benda,
lamanya waktu benda untuk menempuh suatu jarak.

Syarat yang harus dimiliki suatu satuan agar bisa menjadi satuan standar,
ialah :

1. Nilai satuannya harus tetap.


2. Mudah diperoleh kembali (mudah ditiru).
3. Satuan harus dapat diterima secara internasional.

Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah didefinisikan terlebih


dahulu. Tujuan besaran pokok dalam sistem satuan SI adalah :

1. Panjang (meter)
2. Massa (kilogram)
3. Waktu (sekon)
4. Kuat arus listrik (ampere)
5. Suhu (kelvin)
6. Intensitas cahaya
7. Jumlah zat (mol)

Besaran turunan adalah besaran-besaran yang merupakan kombinasi dari


satuan-satuan besaran pokok yang satuannya ditentukan berdasarkan satuan-
satuan besaran pokok. Contoh luas suatu daerah persegi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian alat-alat ukur :


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 3
BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

a Titik nol alat ukur yaitu angka yang ditunjukan alat sebelum digunakan.
b Nilai skala terkecil alat yaitu skala terkecil yang diperlihatkan alat.
c Batas ukur alat yaitu batas maksimum yang dapat diukur alat ukur tersebut.
d Cara pemakaian alat.

Adapun macam - macam alat ukur yang biasa digunakan, antara lain :

a. Jangka Sorong (Vernier)

Jangka sorong diciptakan pada tahun 1631 oleh seorang bangsawan


Perancis yang bernama Pierre Vernier. Jangka sorong adalah alat yang digunakan
untuk mengukur tinggi, lebar, dan panjang serta alur dari suatu benda dan juga
diameter luar dan dalam dari suatu benda bulat. Ada tiga fungsi pengukuran
panjang yang dimiliki jangka sorong yaitu :

1. Pengukuran panjang bagian luar benda.


2. Pengukuran panjang bagian rongga dalam benda.
3. Pengukuran kedalaman lubang dalam benda.

Skala jangka sorong diperhalus dengan nonius, skala utamanya ada dalam
satuan cm atau inci. Adapun skala yang ada yaitu 9 skala utama menjadi 10 skala
nonius, ada yang 39 skala utama menjadi 40 skala nonius.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 4


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

Gambar 1.1 Jangka Sorong

b. Mikrometer Sekrup

Mikrometer sekrop adalah alat ukur yang digunakan dalam pembagian


decimal dalam sistem metrik dan imperial, dapat digunakan dalam mengambil
pengukuran yang sangat teliti. Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur
bagian luar saja.

Cara menggunakannya yaitu :

1 Dengan memutar sekrup C, benda anda letakkan antara bagian A dan B


sehingga tepat terjepit tetapi tidak perlu keras-keras.
2 Skala alat ukur ini terletak pada bagian batang utama S dengan ”Nonius”
(skala halus) pada bagian yang bergerak apabila sekrup C diputar. Satu skala
terkecil alat ukur ditempuh oleh bagian yang bergerak sebanyak satu putaran
penuh
3 Pembacaan skala pengukuran dengan melihat tepi nonius (bagian yang
berputar) telah sampai pada harga skala berapa dari skala pada bagian utama
S dan pembacaam “nonius” dengan melihat garis poros P pada skala utama S
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 5
BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

berimpit dengan harga skala berapa pada skala N. Hasil pengukuran diperoleh
dengan membaca skala S terdekat pada tepi silinder nonius dan pembacaan
skala terkecil dipilih dari skala yang berimpit dengan garis poros P.

Gambar 1.2 Mikrometer Sekrup

c. Neraca Teknis

Neraca teknis menggunakan prinsip kesetimbangan untuk itu bidang


kerjanya harus mendatar.

Adapun bagian - bagian dari Neraca teknis yaitu :

A Statip penumpu
B Lengan neraca yang dapat berayun di atas pisaunya
C Sekrup pengatur keseimbangan
D Jarum penunjuk keseimbangan dan skalanya
E Unting-Unting dan pasangannya
F Piringan neraca
G Meja alas neraca
H Pengatur naik turunnya lengan neraca
I Sekrup pengatur meja alas.
Mempersiapkan neraca sebelum dipakai :

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 6


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

a. Kedudukan lengan neraca yang horizontal ditunjukkan oleh keadaan ujung


unting-unting dan pasangannya tepat berimpit. Keadaan ini dapat diperoleh
dengan mengatur kedua sekrup pengatur meja alas neraca I sehingga tepat
ujung unting-unting atas E berimpit dengan pasangan di bawahnya.
b. Keadaan lengan neraca sudah setimbang, apabila lengan neraca dalam
keadaan terangkat oleh pengatur H, tampak lengan neraca bebas terayun
dengan besarnya simpangan jarum penunjuk D ke kiri hampir tepat sama
pada saat terayun ke kanan. Apabila keadaan ini belum tercapai, dapat
diusahakan dengan memutar kembali pengatur H agar lengan neraca
kembali istirahat lalu putar sekrup pengatur keseimbangan C agar bergeser
sedikit ke kiri atau ke kanan sampai tercapai keadaan setimbang pada saat
lengan terangkat oleh pengatur H.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 7


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.3 Metodologi Praktikum

2.3.1 Skema Proses

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 8


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.3.2 Penjelasan Skema Proses

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 9


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.4 Alat dan Bahan

2.4.1 Alat

 Jangka sorong
 Mikrometer sekrup
 Neraca teknis

2.4.1 Bahan

 Besi
 Kuningan
 Tembaga

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 10


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.5 Pengumpulan dan Pengolahan Data

2.5.1 Pengumpulan Data

a. Benda Kerja 1 : Besi

 Mengukur dengan jangka sorong


Tabel 2.5 Mengukur Besi dengan jangka sorong

BAGIA PANJANG LEBAR (L) TINGGI/TEBAL(T)


N (P)

1 35,35 mm 17,9 mm 9,05 mm

2 35,25 mm 17,9 mm 8,85 mm

3 35,40 mm 17,85 mm 8,9 mm

4 35,25 mm 17,9 mm 8,9 mm

5 35,20 mm 17,85 mm 8,9 mm

∑ 176,45 mm 89,4 mm 44,6 mm

X 35,29 mm 17,88 mm 8,92 mm

∑xi2 6226,94 mm2 1598,42 mm2 397,85 mm2

(∑xi)2 31134,6 mm2 7992,36 mm2 1989,16 mm2

- Volume Besi V   P  L  T mm3

= 35,29 x 17,88 x 8,92 mm3

= 5628,38 mm3

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 11


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

 Mengukur menggunakan mikrometer sekrup

Tabel 2.6 Mengukur Tembaga dengan Mikrometer Sekrup

Bagian Tinggi/Tebal

1 8,9 mm

2 9,40 mm

3 9,42 mm

4 9,40 mm

5 9,41 mm

 Menimbang menggunakan neraca teknis


Massa Benda Kerja 1 (m1) = 13,4 gram

b. Benda Kerja 2 : Kuningan

 Mengukur dengan jangka sorong

Tabel 2.7 Mengukur Kuningan dengan Jangka Sorong

BAGIA PANJANG LEBAR (L) TINGGI/TEBAL(


N (P) T)

1 35,05 mm 18,10 mm 9,45 mm

2 35,05 mm 18,05 mm 9,50 mm

3 35,10 mm 18,15 mm 9,50 mm

4 34,90 mm 18,00 mm 9,40 mm

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 12


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

5 35,10 mm 18,05 mm 9,45 mm

∑ 175,2 mm 90,35 mm 47,3 mm

X 35,04 mm 18,07 mm 9,46 mm

∑xi2 6111,27 1632,63 mm2 447,464 mm2


mm2

(∑xi)2 30695,69 8163,1225 2237,29 mm2


mm2 mm2

- Volume Kuningan V   P  L  T mm3

= 34,04 x 18,07 x 9,46 mm3

= 5989,81 mm3

 Mengukur dengan mikrometer sekrup


Tabel 2.8 Mengukur Kuningan dengan Mikrometer Sekrup

BAGIAN TINGGI/TEBAL
(T)

1 9,45 mm

2 9,40 mm

3 9,43 mm

4 9,40 mm

5 9,41 mm

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 13


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

 Menimbang dengan neraca teknis


Massa benda kerja 2 (m2) = 46,85 gram

c. Benda Kerja 3 : Tembaga

 Mengukur menggunakan jangka sorong

Tabel 2.9 Mengukur Tembaga dengan Jangka Sorong

BAGIA PANJANG LEBAR (L) TINGGI/TEBAL(T)


N (P)

1 47,5 mm 27,5 mm 18,35 mm

2 47,40 mm 27,45 mm 18,40 mm

3 47,55 mm 27,45 mm 18,40 mm

4 47,50 mm 27,55 mm 18,35 mm

5 47,55 mm 27,50 mm 18,30 mm

∑ 237,5 mm 137,45 mm 91,8 mm

X 47,5 mm 27,49 mm 18,36 mm

∑xi2 11281,26 3778,5 mm2 1685,45 mm2


mm2

(∑xi)2 56406,25 18892,5 mm2 8427,24 mm2


mm2

- Volume Tembaga V   P  L  T mm3

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 14


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

= 47,5 x 27,49 x 18,36 mm3

= 23947,029 mm3

 Mengukur dengan Mikrometer sekrup


Tabel 3.0 Mengukur Tembaga dengan Mikrometer Sekrup

Bagian Tinggi/Tebal

1 18,40 mm

2 19,25 mm

3 18,42 mm

4 19,38 mm

5 18,41 mm

 Menimbang dengan neraca teknis

Massa Benda Kerja 3 (m3) = 213,86 gram

2.5.2 Pengolahan Data

a. Benda kerja 1 : Besi

 ∑ P = P1 + P2 + P3 + P4 + P5
= 35,5 + 35,25 + 35,40 + 35,25 + 35,20
= 176,45 mm
∑P 176,45
 P = = = 35.29 mm
𝑛 5
 ∑ P2 = P12 + P22 + P32 + P43 + P52
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 15
BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

= (35,5)2 + (35,25)2 + (35,40)2 + (35,25)2 + (35,20)2


= 6226,947 mm2
 (∑Pi)2 = (176,45)2
= 31134,6 mm2
 ∑ L = L1 + L2 + L3 + L4 + L5
= 17,9 + 17,9 + 17,85 + 17,9 + 17,85
= 89,4 mm
∑L 89,4
 L = = = 17.88 mm
𝑛 5
 ∑ L2 = L12 + L22 + L32 + L43 + L52
= (17,9)2 + (17,9)2 + (17,85)2 + (17,9)2 + (17,85)2
= 1598,425 mm2
 (∑Li)2 = (89,4)2
= 7992,36 mm2
 ∑ T = T1 + T2 + T3 + T4 + T5
= 9,05 + 8,85 + 8,9 + 8,9 + 8,9
= 44,6 mm
∑T 44,6
 T = = = 8.92 mm
𝑛 5
 ∑ T2 = T12 + T22 + T32 + T43 + T52
= (9,05)2 + (8,85)2 + (8,9)2 + (8,9)2 + (8,9)2
= 397,85 mm2
 (∑Ti)2 = (44,6)2
= 5628,38 mm2

 Nilai Ketidakpastian dan Nilai Intervalnya


 Nilai Ketidakpastian panjang

1 n  Pi   pi 
2 2
P 
n n 1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 16


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

I 56226,94  31134,6
=
5 5 1

= ± 0,051 → Nilai Ketidakpastian

P1 = P + ΔP

= 35,29 + 0,051

= 35,341 mm

P2 = P - ΔP

= 35,29 – 0,051

= 35,239 mm

Nilai Interval panjang

P2 < P < P1

35,239 < P < 35,341

 Nilai Ketidakpastian Lebar

1 n  Li   Li 
2 2
L 
n n 1

I 51598,425  7992,36
=
5 5 1

= ± 0.035 mm → Nilai Ketidakpastian

L1  L  L

= 17,88 + 0,035

= 17,915 mm

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 17


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

L2  L  L

= 17,88 – 0,035

= 17,845 mm

L2 < L < L1 → Nilai Interval

17,845 < L < 17,915

 Nilai Ketidakpastian Tinggi

1 n  Ti   Ti 
2 2
T 
n n 1

1 5.397,855  (1989,16)

5 5 1

= ± 0,033 mm → Nilai Ketidakpastian

T1  T  T

= 8,92 + 0,033

= 8,953 mm

T2  T  T

= 8,92 – 0,033

= 9,887 mm

T2 < T < T1 → Nilai Interval

9,887 < T < 9,953

 Nilai Ketidakpastian Volume dan Nilai Intervalnya

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 18


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

- Nilai Ketidakpastian Volume

 V L T 
V      xV
 P L T 

 0,051 0,035 0,033 


    x5628,38
 35,29 17,88 8,92 

= ± 39,937 mm3 → Nilai Ketidakpastian

V1  V  V

= 5628,38 + 39,937

= 5668,317 mm3

V2  V  V

= 5628,38 – 39,937

= 5588,443 mm3

V2 < V < V1 → Nilai Interval

5588,443 < V < 5668,317

 Nilai Massa Jenis dan Intervalnya

Nilai Massa Jenis

m
1 
V1

13,4
  0,00236 gr/mm3
5668

m
2 
V2

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 19


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

13,4
  0,00239 gr/mm3
5588

Nilai Interval Massa Jenis

2    1

b. Benda kerja 2 : Kuningan

 ∑ P = P1 + P2 + P3 + P4 + P5
= 35,05 + 35,05 + 35,10 + 34,90 + 35,10
= 175,2 mm
∑P 175,2
 P = = = 35.04 mm
𝑛 5
 ∑ P2 = P12 + P22 + P32 + P43 + P52
= (35,05)2 + (35,05)2 + (35,10)2 + (34,90)2 + (35,10)2
= 6111,27 mm2
 (∑Pi)2 = (175,2)2
= 30695,6 mm2
 ∑ L = L1 + L2 + L3 + L4 + L5
= 18,10 + 18,05 + 18,15 + 18,00 + 18,05
= 90,35 mm
∑L 90,35
 L = = = 18.07 mm
𝑛 5
 ∑ L2 = L12 + L22 + L32 + L43 + L52
= (18,10)2 + (18,05)2 + (18,15)2 + (18,00)2 + (18,05)2
= 1632,6375 mm2
 (∑Li)2 = (90,35)2
= 8163,12 mm2

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 20


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

 ∑ T = T1 + T2 + T3 + T4 + T5
= 9,45 + 9,50 + 9,50 + 9,40 + 9,45
= 47,30 mm
∑T 47,30
 T = = = 9.46 mm
𝑛 5
 ∑ T2 = T12 + T22 + T32 + T43 + T52
= (9,45)2 + (9,50)2 + (9,50)2 + (9,40)2 + (9,45)2
= 447,46 mm2
 (∑Ti)2 = (47,3)2
= 2237,29 mm2

 Nilai Ketidakpastian dan Nilai Intervalnya


 Nilai Ketidakpastian panjang

1 n  Pi   pi 
2 2
P 
n n 1

I 56111,27  30695
=
5 5 1

= ± 1,177 → Nilai Ketidakpastian

P1 = P + ΔP

= 35,04 + 1,177

= 36,217 mm

P2 = P - ΔP

= 35,04 – 1,177

= 33,863 mm

Nilai Interval panjang

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 21


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

P2 < P < P1

33,863 < P < 36,217

 Nilai Ketidakpastian Lebar

1 n  Li   Li 
2 2
L 
n n 1

I 51632,67  8163
=
5 5 1

= ± 0.0254 mm → Nilai Ketidakpastian

L1  L  L

= 18,07 + 0,0254

= 18,095 mm

L2  L  L

= 18,07 – 0,0254

= 18,044 mm

L2 < L < L1 → Nilai Interval

18,044 < L < 18,095

 Nilai Ketidakpastian Tinggi

1 n  Ti   Ti 
2 2
T 
n n 1

1 5.447,464  (2237,29)

5 5 1
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 22
BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

= ± 0,172 mm → Nilai Ketidakpastian

T1  T  T

= 9,46 + 0,172

= 9,632 mm

T2  T  T

= 9,46 – 0,172

= 9,288 mm

T2 < T < T1 → Nilai Interval

9,288 < T < 9,632

 Nilai Ketidakpastian Volume dan Nilai Intervalnya

Nilai Ketidakpastian Volume

 V L T 
V      xV
 P L T 

 1,177 0,0254 0,172 


    x5989,81
 35,04 18,07 9,46 

= ± 317,45 mm3 → Nilai Ketidakpastian

V1  V  V

= 5989,81 + 317,937

= 6307,26 mm3

V2  V  V

= 5989,81 – 317,45

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 23


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

= 5672,36 mm3

V2 < V < V1 → Nilai Interval

5672,36 < V < 6307,26

 Nilai Massa Jenis dan Intervalnya

Nilai Massa Jenis

m
1 
V1

46,85
  0,00742 gr/mm3
6307,26

m
2 
V2

46,85
  0,00825 gr/mm3
5672,36

Nilai Interval Massa Jenis

2    1

b. Benda kerja 3 : Tembaga

 ∑ P = P1 + P2 + P3 + P4 + P5
= 47,5 + 47,40 + 47,55 + 47,50 + 47,55
= 237,5 mm

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 24


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

∑P 237,5
 P = = = 47.5 mm
𝑛 5
 ∑ P2 = P12 + P22 + P32 + P43 + P52
= (47,5)2 + (47,40)2 + (47,55)2 + (47,50)2 + (47,55)2
= 11281,26 mm2
 (∑Pi)2 = (237,5)2
= 56406,25 mm2
 ∑ L = L1 + L2 + L3 + L4 + L5
= 27,5 + 27,45 + 27,45 + 27,55 + 27,50
= 137,45 mm
∑L 137,45
 L = = = 27.49 mm
𝑛 5
 ∑ L2 = L12 + L22 + L32 + L43 + L52
= (27,5)2 + (27,45)2 + (27,45)2 + (27,55)2 + (27,50)2
= 3778,505 mm2
 (∑Li)2 = (137,45)2
= 18892,5 mm2
 ∑ T = T1 + T2 + T3 + T4 + T5
= 18,35 + 18,40 + 18,40 + 18,35 + 18,30
= 91,8 mm
∑T 91,8
 T = = = 18.36 mm
𝑛 5
 ∑ T2 = T12 + T22 + T32 + T43 + T52
= (18,35)2 + (18,40)2 + (18,40)2 + (18,35)2 + (18,30)2
= 1685,45 mm2
 (∑Ti)2 = (91,8)2
= 8427,24 mm2

 Nilai Ketidakpastian dan Nilai Intervalnya


 Nilai Ketidakpastian panjang

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 25


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

1 n  Pi   pi 
2 2
P 
n n 1

I 511281,27   56406,25
=
5 5 1

= ± 0,112 → Nilai Ketidakpastian

P1 = P + ΔP

= 47,5 + 0,112

= 47,612 mm

P2 = P - ΔP

= 47,5 – 0,112

= 47,388 mm

Nilai Interval panjang

P2 < P < P1

47,388 < P < 47,612

 Nilai Ketidakpastian Lebar

1 n  Li   Li 
2 2
L 
n n 1

I 53778  18892
=
5 5 1

= ± 0.141 mm → Nilai Ketidakpastian

L1  L  L

= 27,49 + 0,141

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 26


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

= 27,631 mm

L2  L  L

= 27,49 – 0,141

= 27,349 mm

L2 < L < L1 → Nilai Interval

27,349 < L < 27,631

 Nilai Ketidakpastian Tinggi

1 n  Ti   Ti 
2 2
T 
n n 1

1 5.1685,45  (8427,24)

5 5 1

= ± 0,01 mm → Nilai Ketidakpastian

T1  T  T

= 18,36 + 0,01

= 18,37 mm

T2  T  T

= 18,36 – 0,01

= 18,35mm

T2 < T < T1 → Nilai Interval

18,35 < T < 18,37

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 27


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

 Nilai Ketidakpastian Volume dan Nilai Intervalnya

Nilai Ketidakpastian Volume

 V L T 
V      xV
 P L T 

 0,112 0,141 0,01 


    x 23947,029
 47,5 27,9 18,36 

= ± 192,03 mm3 → Nilai Ketidakpastian

V1  V  V

= 23947,029 + 317,937

= 24166,05 mm3

V2  V  V

= 23947,029 – 317,45

= 23781,99 mm3

V2 < V < V1 → Nilai Interval

24166,05 < V < 23781,99

 Nilai Massa Jenis dan Intervalnya

Nilai Massa Jenis

m
1 
V1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 28


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

213,85
  0,008849 gr/mm3
24166,05

m
2 
V2

213,86
  0,00899 gr/mm3
23781,99

Nilai Interval Massa Jenis

2    1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 29


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

 Grafik

Benda Kerja 1 : Besi

1. Panjang

35.45

35.4

35.35
Pi
35.3
P1
35.25

35.2 P2

35.15

35.1
1 2 3 4 5

2. Lebar

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 30


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

3. Tinggi

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

Benda Kerja 2 : Kuningan

1. Panjang

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 31


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2. Lebar

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

3. Tinggi

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 32


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

c. Benda Kerja 3 : Tembaga

1. Panjang

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

2. Lebar

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 33


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

3. Tinggi

18.42

18.4

18.38

18.36
Ti
18.34
T1
18.32
T bar
18.3 T2
18.28

18.26

18.24
1 2 3 4 5

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 34


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.6 Analisa

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilaksanakan, maka dapat dilihat


tidak satupun hasil pengukuran yang benar-benar akurat. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor, antara lain :

1. Tingkat ketelitian dan alat ukur itu tersebut.


2. Cara penggunaan alat ukur tersebut pada saat praktikum.
3. Cara membaca hasil pengukuran.
4. Ukuran Spesimen yang tidak proporsional

Selain itu umumnya penyebab ketidakpastian pengukuran disebabkan oleh


kesalahan praktikan (Human Error). Jadi ketelitian dari hasil pengukuran
benda sangat dipengaruhi oleh sejauh mana praktikan tersebut memahami
alat, cara pengerjaannya dan ketelitian orang tersebut. Satu hal lagi yang
sangat penting dalam menentukan ketelitian dari hasil pengukuran adalah
posisi titik nol dimana sebelum dilakukan pengukuran, posisi titik awal
pengukuran harus selalu diperiksa. Apabila titik nol dari alat tersebut tidak
benar posisinya, maka alat tersebut harus dikalibrasikan kembali sesuai
patokan alat tersebut (posisi awal).

Dalam pengukuran dengan jangka sorong pada setiap bagiannya berbeda,


faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :

1. Panjang

Pada saat melakukan pengukuran panjang dilakukan lima kali pengukuran


untuk menghasilkan ketelitian pengukuran dan didapatkan panjang yang
berbeda-beda.

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 35


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2. Lebar

Pada saat melakukan pengukuran lebar dilakukan lima kali pengukuran


untuk menghasilkan ketelitian pengukuran dan didapatkan lebar yang
berbeda-beda.

3. Tinggi

Pada saat melakukan pengukuran tinggi dilakukan lima kali pengukuran


untuk menghasilkan ketelitian pengukuran dan didapatkan tinggi yang
berbeda-beda.

Hasil pengukuran dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup akan


berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :

1. Ketelitian alat ukur pada saat melakukan pengukuran dasar.


2. Kesalahan pembacaan hasil akhir (rata-rata) sehingga mengakibatkan data
tidak tepat dan pasti.
3. Alat ukur yang digunakan tidak dikalibrasi terlebih dahulu sehingga hasil
pengukuran kurang tepat.

Pada saat penimbangan dengan menggunakan neraca teknis, hasil yang


didapatkan kurang akurat karena neraca teknis tidak dikalibrasi terlebih
dahulu.

Dalam pengukuran menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup


dilakukan pengukuran berulanh yaitu lima kali pengukuran pada sisi yang
berbeda. Hal ini bertujuan agar hasil pengukuran akurat

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 36


BAB II PENGUKURAN DASAR KELOMPOK 26

2.7 Kesimpulan

 Tingkat keakuratan alat-alat ukur yang dipakai berbeda-beda.


 Pengukuran dasar dapat dilakukan dengan menggunakan jangka sorong,
mikrometer sekrup, dan neraca teknis.
 Pada benda kerja 1 yaitu balok besi hasil pengukuran didapatkan :
 Panjang rata-rata = 242,2 mm
 Lebar rata-rata = 112 mm
 Tinggi/tebal rata-rata = 91,5 mm
 Volume = 19856,52 mm3
 Massa = 212 gram
 Massa jenis = 10,68 gr/cm3
 Pada benda kerja 2 yaitu balok kuningan hasil pengukuran didapatkan :
 Panjang rata-rata = 225 mm
 Lebar rata-rata = 125 mm
 Tinggi/tebal rata-rata = 87,5 mm
 Volume = 19687,5 mm3
 Massa = 160 gram
 Massa jenis = 8,13 gr/cm3
 Pada benda kerja 3 yaitu balok tembaga hasil pengukuran didapatkan :
 Panjang rata-rata = 176 mm
 Lebar rata-rata = 94 mm
 Tinggi/tebal rata-rata = 45mm
 Volume = 5955,84 mm3
 Massa = 50 gram
 Massa jenis = 8,4 gr/cm3

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIKA DASAR T.A 2017/2018 37