Anda di halaman 1dari 6

Nama : Aulia Rosdiana Tufliha

NPM : 230110160220
Kelas : Perikanan C
Kelompok :2
1. Siklus Hidup Artemia

Siklus hidup Artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15-20
jam pada suhu 250 C kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio
ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan tetap menyelesaikan
perkembanganya kemudian berubah menjadi naupli yang akan bisa berenang bebas. Pada
awalnya naupli aka berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur.
Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum
terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva
kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga, bakteri,
dan detritus organic lainya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidak memilih) jenis
pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia dalam air dengan ukuran yang
sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam kurun
waktu 8 hari.
Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 cm, meskipun demikian pada kondisi yang
tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. pada kondisi demikian biomasnya
akan mencapai 500 kali dibandingkan biomas pada fase naupli. Dalam tingkat salinitas rendah
dan pakan yang optimal, betina Artemia bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari.
Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak
10-11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan
memproduksi naupli atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari.
Kista akan terbentuk apabila lingkungnya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakan
sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam. Artemia dewasa
toleran terhadap selang -18 derajat hingga 40 derajat. Sedangkan temperature optimal untuk
penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25-300C. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan
oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30-35 ppt, dan mereka
dapat hidup dalam air tawar selama 5 jam sebelum akhirnya mati. Variable lain yang penting
adalah pH, cahaya, dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik,
sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal
diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi perumbuhan mereka.
Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus
dijaga dengan baik untuk pertumbuhan artemia. Artemia dengan supply oksigen yang baik,
Artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan
apabila mereka banyak mengkonsumsi mikro algae.pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia
akan tumbuh dah beranak-pinak dengan cepat. Sehingga supply Artemia untuk ikan yang kita
pelihara bisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah dan air
banyak mengandung bahan organic, atau apabila salinitas meningkat, artemia akan memakan
bacteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan berwarna
merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi kista.
( Anonymous, 2008 ).
2. Habitat Artemia
Artemia sp secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu antara 25-30oC,
berbeda dengan kista Artemia kering yang dapat tahan pada suhu -273 hingga 100oC
(Mudjiman 1989).
Artemia sp dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi yang biasa disebut
dengan brain shrimp. Kultur biomassa Artemia sp yang baik pada kadar garam antara 30-50
ppt. Untuk Artemia sp yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100
ppt (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).
Kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan agar Artemia sp dapat tumbuh dengan baik ialah
sekitar 3 ppm. Media untuk penetasan kista, diperlukan air yang pH-nya lebih dari 8, jika pH
kurang dari 8 maka efisiensi penetasan akan menurun atau waktu penetasan menjadi lebih
panjang (Mudjiman 1989).
3. Contoh Penggunaan Artemia dalam Kegiatan Aquakultur
Penggunaan Artemia sebagai pakan yang penting banyak dilaksanakan di unit-unit
pembenihan ikan dan udang. Umumnya Artemia yang diberikan untuk larvae udang dan ikan
dalam bentuk cyste atau nauplius instar I (berumur 2 jam).
Berikut ini beberapa contoh penggunaan Artemia diberbagai kegiatan usaha:
1. Pembenihan Udang Galah
Pembenihan udang galah, anak Artemia sangat dibutuhkan sebagai makanan larvanya.
Larva udang galah PL I – V membutuhkan anak Artemia sebanyak 4 ekor/ml/hari atau 2
ekor/ml/hari, jika padat penebaran 75 ekor/liter. Untuk larva yang lebih besar (tiap hari diberi
pakan tambahan) membutuhkan anak Artemia sebanyak 5 ekor/ml. Untuk larva PL VII dan
seterusnya, pemberian anak Arrtemia cukup 3 – 4 kali sehari (Mudjiman, 1983).
2. Pembenihan udang Penaeus
Lumenta dan Christensen (1992) pemberian pakan Artemia pada udang windu dimulai
pada tingkat mysis sampai PL-15. Pemberiannya setiap 3 – 4 jam sekali dengan kepadatan 1 –
5 nauplius/ml (mulai tingkat mysis) dan dinaikkan terus sampai 10 nauplius/ml (pada
pemeliharaan di Taiwan). Untuk pemeliharaan di Philippina pemberiannya hanya sampai
tingkat PL-10 dengan jumlah Artemia yang diberikan 0,5 individu/ml dan dinaikkan sampai 5
ind/ml.
Telah diperlihatkan bahwa ketika Artemia yang lebih besar menjadi pakan, dimulai
dengan Artemia yang baru ditetaskan (0.6 mm) pada PL-1 and berakhir dengan brine shrimp
pra-dewasa (6.0 mm) pada PL-20, kekenyangan, kejenuhan dapat dihasilkan oleh volume
Artemia di dalam perut udang, lebih baik dibandingkan beberapa organisme lain sebagai
pakan.Misalnya, ketika ukuran mangsa yang tersedia adalah 4 mm malahan sampai kurang
lebih 2 mm, jumlah artemia yang dikonsumsi lebih dari setengah (separuhnya). Dalam
pengertian secara luas bahwa kandungan nutrisi Artemia setelah beberapa jam dari proses
penetasan, harus diperkaya jika hendak dijadikan pakan larva untuk mencegah difesiensi
nutrisi. Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa pemberian pakan Artemia tanpa melalui
proses pengkayaan nutrisi menghasilkan ukuran udang lebih rendah dibanding udang yang
diberi pakan Artemia yang baru ditetaskan. Hal ini memperlihatkan penggunaan artemia
sebagai pakan pada budidaya larva udang stadia mysis 3 dan udang PL yang lebih lanjut,
dimana diberikan pakan Artemia hasil pengkayaan selama 12 sampai 24 jam
4. Merek komersil Artemia dan Prosedur Pengunaan
Nama Produk dan asal negara
1. Chaplin Lake Kanada
2. Great Salt Lake USA
3. Great Wall RRC
4. Margherita di Savona Itali
5. Lavalduc Perancis
6. Boenos Aires Argentina
7. Barotac Nuevo Filipina
8. Shark Bay Australia
9. San Pablo Bay USA
10. San Fransisco Bay USA
11. Macau Brazil
Sumber: Anonim (1989)
Salah satu prosedur penggunaan artemia yaitu Great Salt Lake (USA)
Apa pedoman untuk kista Artemia?
- Salinitas
Salinitas 20 - 30 bagian per seribu (ppt) larutan garam atau sekitar 1-2 sendok makan garam
batu per liter (atau liter) air. Ini setara dengan sekitar 1,015-1,020 berat jenis. Konsentrasi
garam Epson atau magnesium sulfat 20% (atau sekitar 1/2 sendok teh per liter) dapat
ditambahkan untuk penyangga larutan penetasan lebih lanjut.
- Suhu
Suhu optimum untuk menetas 24 jam sempurna 26-28 ° C. Menurunkan suhu akan
menghasilkan waktu penetasan lebih lama. Jangan melebihi 30 ° C. Cahaya - Iluminasi
diperlukan untuk memicu mekanisme penetasan dalam embrio dalam beberapa jam
pertama inkubasi. Mempertahankan sumber cahaya selama masa inkubasi
direkomendasikan untuk mendapatkan hasil penetasan optimal dan untuk pengendalian
suhu.
- Aerasi
Aerasi konstan juga diperlukan untuk memberikan tingkat oksigen yang cukup bagi
kista untuk memetabolisme dan menetas. Minimal 3 bagian per juta oksigen terlarut selama
inkubasi dianjurkan. Aerasi yang kuat tidak akan merusak atau menyakiti kista udang air
asin atau nauplii.
- pH
pH awal 8,0 atau lebih tinggi dianjurkan. Jika pH turun di bawah 7,5 selama inkubasi,
tambahkan satu sendok teh sodium bicarbonate atau buffer pH untuk menaikkannya di atas
8,0. Stocking Density - 2 gram per liter atau kira-kira satu sendok makan kista per liter
dianjurkan. Kerapatan tebar yang lebih tinggi akan menghasilkan penetasan% lebih rendah.
- Penetasan Cone
Kapal penetasan dasar datar harus dihindari. Cone atau "V" wadah terbawah adalah
yang terbaik untuk memastikan bahwa kista tetap berada dalam suspensi saat menetas.
Pastikan untuk benar-benar mencuci kerak penetasan dengan sabun dan air dan biarkan
udara kering di antara kegunaan
PROSEDUR DECAPSULATION
Bahan:
500 gram kista Artemia (jangan gunakan kista asal Rusia)
4,77 liter natrium hipoklorit (pemutih rumah tangga)
75 gram natrium hidroksida
2,2 liter air
1) Hidrasi
Kista kering menyerupai bola basket kempes di bawah mikroskop. Kista harus
sepenuhnya terhidrasi atau bulat sebelum dekapsulasi dimulai. Cukup hidratkan kista dalam
setengah ember air tawar dengan aerasi selama satu jam.

2) Decapsulation
Larutkan natrium hidroksida dalam 2,2 liter air dan biarkan dingin. Jangan
menambahkan hipoklorit sampai siap untuk didekomposisi. Kumpulkan kista terhidrasi dalam
saringan 125 mesh dan tiriskan. Tambahkan larutan natrium hipoklorit ke natrium hidroksida
dan air yang diikuti oleh kista terhidrasi.
Warna kista harus berubah dari coklat - abu - putih - oranye dalam beberapa menit,
tergantung pada kekuatan bahan kimia dan ketebalan cangkang atau corion. Bila kista 90%
oranye, segera hentikan reaksi tersebut dengan menuangkan larutan kista yang didepapsulasi
ke dalam kantung jala halus dan bilas dengan baik dengan banyak air tawar. Untuk memastikan
bahwa reaksi dekapsulasi dihentikan, larutan 1 asam hidroklorida normal (HCl) siap mengaduk
kista dalam satu menit. Siapkan larutan ini dengan menambahkan 65 ml asam klorida (35%
aktif) menjadi 6,5 liter air. Larutan natrium tiosulfat yang lemah juga dapat digunakan untuk
menetralisir klorin.
5. Kandungan Gizi Artemia
Protein Lemak Serat Kasar Kadar Abu Air

55% 18,9% 2,04% 7,2% 81,9%


Sumber :
http://www.alamikan.com/2014/05/kandungan-gizi-artemia-sebagai-pakan (Diakses pada 23
oktober 2017 pukul 03.14 WIB)
http://wicaramina.blogspot.co.id/2015/05/penetasan-kista-artemia(Diakses pada 23 oktober
2017 pukul 03.00 WIB)
http://www.artemia-international.com/ (Diakses pada 23 oktober 2017 pukul 02.40 WIB)
http://www.budidayaperikanan-perikanan.blogspot.co.id (Diakses pada 23 oktober 2017 pukul
02.30 WIB)
http://triyramadhani.blogspot.co.id/2015/06/laporan-praktikum-kultur-pakan-alami (Diakses
pada 23 oktober 2017 pukul 02.35 WIB)