Anda di halaman 1dari 15

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembiayaan

1. Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan merupakan aktivitas bank syari’ah dalam menyalurkan

dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip syari’ah. Dimana

penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasarkan pada kepercayaan

yang diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana.1

Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara

bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk

mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu

dengan imbalan atau bagi hasil.

Pembiayaan dalam perbankan syariah menurut Al-Harran dalam

Ascarya dapat dibagi tiga:

a. Return bearing financing, yaitu bentuk pembiayaan yang secara


komersial menguntungkan, ketika pemilik modal mau menanggung
risiko kerugian dan nasabah juga memberikan keuntungan.
b. Return free financing, yaitu bentuk pembiayaan yang tdiak untuk
mencari keuntungan yang lebih ditujukan kepada orang yang
membutuhkan (poor), sehingga tidak ada keuntungan yang dapat
diberikan.
c. Charity financing, yaitu bentuk pembiayaan yang memang diberikan
kepada orang miskin dan membutuhkan, sehingga tidak ada klaim
terhadap pokok dan keuntungan.2

1
Ismail, Perbankan Syari’ah, (Jakarta: Kencana, 2013), hal. 105.
2
Ascarya, Akad & roduk Bank Syariah, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008),
hal.122

10
11

Istilah pembiayaan pa da intinya I bilieve, I trust, ‘saya percaya’

atau ‘saya menaruh kepercayaan’. Perkataan pembiayaan yang berarti

(trust). Dan tersebut harus digunakan dengan benar, adil dan harus disertai

dengan ikatan dan syarat-syarat yang jelas dan saling menguntungkan

bagi kedua pihak.3 Allah berfirman dalam surat An-Nisa: 29 yang berbunyi

sebagai berikut:

‫ل إِٓاَّل‬ ۡ َ ۡ َ
ِ ِ ‫منُوا ْ اَل ت َ أكُلُوٓا ْ أ ۡموَٰلَكُم ب َ ۡينَكُم ب ِ ٱل بَٰط‬
َ ‫ين ءَا‬ َ ِ‫يَٰٓأيُّهَا ٱلَّذ‬
َ َ
ۚۡ‫ُس ك ُ م‬ َ ‫منك ُ مۡۚ َواَل ت َ ۡقتُل ُ وٓا ْ أنف‬
ِّ ‫ج َرةً عَن ت َ َرا ٖض‬ َٰ ِ ‫ن ت‬َ ‫أن تَكُو‬
٢٩ ‫ما‬ ٗ ‫حي‬ِ ‫ن بِك ُ مۡ َر‬ َ ‫ه كَا‬َ َّ ‫ن ٱلل‬
َّ ِ ‫إ‬
Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan Yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang Berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. dan
janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhpnya Allah Maha
Penyayang Kepadamu.” (An- Nisa’: 29).4

Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat

dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan

pinjam meminjam antara lembaga keuangan dengan pihak lain yang

mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka

waktu tertentu, dengan imbalan atau bagi hasil.5

Pembiayaan dalam bank Islam adalah penyediaan dana atau

tagihan yang di persamakan dengan itu berupa:

1) Transaksi bagi hasil dalam bentuk Mudharabah dan Musyarakah.


2) Transaksi sewa dalam bentuk Ijaroh atau sewa dengan opsi
perpindahan hak milik dalam bentuk Ijaroh Muntahiyah bit Tamlik.
3) Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, Salam, dan
Istisnha.
3
Veithzal Rivai dan Andria Permata Veithzal, Islamic Financial Management, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 3
4
Depertemen Agama RI, Al-Qura’an Dan Terjemahan, (Bandung: CV. Penerbit J-ART,
2005) , hal. 83
5
Veithzal Rivai, Op.Cit., hal. 4
12

4) Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk Qardh


5) Transaksi multijasa dengan menggunakan akad Ijaroh atau Kafalah6.

Dari penjelasan diatas Pembiayaan merupakan penyediaan uang atau

tagihan,yang diberikan atas dasar kepercayaan, hal ini yang diberikan benar-

benar harus diyakini dapat dikembalikan oleh penerima pembiayaan sesuai

dengan waktu dan syarat-syarat yang telah disepakati bersama.

2. Landasan Hukum Pembiayaan

a. Al Qur’an

َ
ٰ‫لربَو‬
ِّ ‫م ٱ‬ َ َ‫ه ۡٱلب َ ۡيعَ و‬
َ ‫ح َّر‬ ُ َّ ‫ل ٱلل‬
َّ ‫ح‬
َ ‫وَأ‬
Artinya: “....Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan

riba (Q.S. Al-Baqoroh: 275).7

b. Al-Hadits

ِ ٌ َ‫ ثَال‬:‫ال‬َ َ‫لى اهللُ َعلَْي ِه َوآلِِه َو َسلَّ َم ق‬


‫البْي ُع‬
َ :‫البَر َكة‬ َ ‫ث فْي ِه َّن‬ َّ ‫ص‬َ ‫َن النَّيِب‬َّ ‫أ‬
‫ت الَ لِْلَبْي ِع‬ِ ‫ط البر بِالشَّعِ ِ لِْلبي‬
ْ َ ‫رْي‬ ّ ُ ُ ‫ َو َخ ْل‬,‫ضة‬ َ ‫ َواملقـَ َار‬,‫َج ٍل‬
َ ‫ىل أ‬
َ
ِ‫إ‬.
ُ
(‫اجه‬َ ‫)ر َواهُ ابْ ُن َم‬
َ
Artinya: “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: menjual
dengan pembayaran secara tangguh, muqaradhah (nama lain
dari mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk
keperluan rumah dan tidak untuk dijual” (HR. Ibnu Majah).8

c. Ijma’

Ijma’ mayoritas ulama tentang keabsahan jual beli dengan cara

murabahah. jual beli adalah salah satu jalan untuk mendapatkan secara

6
Ibid, hal. 4-5
7
Departemen Agama RI, Op. Cit., hal. 43
8
Hussein Bahreisj, Kumpulan Hadits-hadits, (Surabaya: CV Karya Utama, t.t), hal. 12
13

sah. Dengan demikian maka mudahlah bagi setiap individu untuk

memenuhi kebutuhannya.

3. Tujuan Pembiayaan

Tujuan pembiayaan mencakup lingkup yang luas. Pada dasarnya

terdapat dua fungsi yang saling berkaitan dari pembiayaan, yaitu:

profitability dan safety.9

a. Profitability, yaitu tujuan untuk memperoleh hasil dari pembiayaan

berupa keuntungan yang diraih dari bagi hasil yang diperoleh dari usaha

yang dikelola bersama nasabah.10

b. Safety, kemanan dari prestasi atau fasilitas yang diberikan harus benar-

benar terjamin sehingga tujuan Profitability dapat benar-benar tercapai

tanpa hambatan yang berarti.11

Disisi lain tujuan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah

untuk meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai

dengan nilai-nilai Islam. Pembiayaan tersebut harus dapat dinikmati oleh

sebanyak-banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang industri,

pertanian, dan perdagangan untuk menunjang kesempatan kerja dan

menunjang produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa dalam

rangka memenuhi kebutuhan.

4. Fungsi Pembiayaan

9
Veithzal Rivai dan Andria Permata Op. Cit., hal. 5
10
Ibid., hal. 5
11
Ibid., hal. 6
14

Pembiayaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam

perekonomian, fungsi pembiayaan adalah sebagai berikut:

a) Pembiayaan dapat meningkatkan Utility (Daya Guna) dari Modal /


uang.
b) Pembiayaan Meningkatkan Utility (Daya Guna) suatu barang.
c) Pembiayaan Meningkatkan Peredaran dan Lalu lintas Uang.
d) Pembiayaan Menimbulkan Gairah Usaha Masyarakat.
e) Pembiayaan sebagai Alat Stabilitas Ekonomi
f) Pembiayaan sebagai Jembatan untuk Peningkatan Pendapatan Nasional.
g) Pembiayaan sebagai Alat Hubungan Ekonomi Internasional. 12

5. Unsur Pembiayaan

Pembiayaan pada dasarnya diberikan atas dasar kepercayaan.

Dengan demikian pemberian pembiayaan adalah pemberian kepercayaan.

Unsur-unsur Pembiayaan tersebut adalah:

1) Adanya dua pihak,yaitu pemberi pembiayaan dan penerima


pembiayaan. Hubungan pemberi pembiayaan dan penerima pembiayaan
merupakan kerjasama yang saling menguntungkan, yang diartikan pula
sebagai kehidupan tolong menolong.
2) Adanya kepercayaan shahibul mal kepada penerima pembiayaan yang
didasarkan atas prestasi dan potensi penerima pembiayaan.
3) Adanya persetujuan, berupa kesepakatan pihak shahibul mal dengan
pihak lainnya yang berjanji membayar dari Mudharib kepada shahibul
mal. Janji membayar tersebut dapat berupa janji lisan, tertulis (akad
pembiayaan) atau berupa instrumen (Credit Instrument).
4) Adanya penyerahan barang,jasa atau uang dari shahibul mal kepada
Mudharib.
5) Adanya unsur waktu (time element). Unsur waktu merupakan unsur
esensial pembiayaan.
6) Adanya unsur resiko (degree of risk) baik di pihak shahibul mal
maupun di pihak penerima pembiayaan. 13

B. Modal Usaha

1. Pengertian Modal Usaha

12
Ibid., hal. 7-9
13
Ibid., hal. 5
15

Pengertian modal usaha menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

dalam Listyawan Ardi Nugraha “modal usaha adalah uang yang dipakai

sebagai pokok (induk) untuk berdagang, melepas uang, dan sebagainya;

harta benda (uang, barang, dan sebagainya) yang dapat dipergunakan

untuk menghasilkan sesuatu yang menambah kekayaan”.14 Modal dalam

pengertian ini dapat diinterpretasikan sebagai sejumlah uang yang

digunakan dalam menjalankan kegiatan-kegiatan bisnis. Banyak kalangan

yang memandang bahwa modal uang bukanlah segala-galanya dalam

sebuah bisnis. Namun perlu dipahami bahwa uang dalam sebuah usaha

sangat diperlukan. Yang menjadi persoalan di sini bukanlah penting

tidaknya modal, karena keberadaannya memang sangat diperlukan, akan

tetapi bagaimana mengelola modal secara optimal sehingga bisnis yang

dijalankan dapat berjalan lancar15

Menurut Bambang Riyanto, pengertian modal usaha sebagai

ikhtisar neraca suatu perusahaan yang menggunakan modal konkrit dan

modal abstrak.16 Modal konkrit dimaksudkan sebagai modal aktif

sedangkan modal abstrak dimaksudkan sebagai modal pasif.

2. Macam-macam Modal

a. Modal Sendiri

14
Listyawan Ardi Nugraha, Pengaruh Modal Usaha, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2011), hal. 9
15
Amirullah dan Imam Harjanto, Pengantar Bisnis, (Malang: Graha Ilmu, 2005), hal. 7
16
Bambang Riyanto, Pengantar Bisnis, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010), hal. 10
16

Modal Sendiri Menurut Mardiyatmo (2008) mengatakan bahwa

modal sendiri adalah modal yang diperleh dari pemilik usaha itu

sendiri. Modal sendiri terdiri dari tabungan, sumbangan, hibah,

saudara, dan lain sebagainya. Kelebihan modal sendiri adalah:

1) Tidak ada biaya seperti biaya bunga atau biaya administrasi


sehingga tidak menjadi beban perusahaan;
2) Tidak tergantung pada pihak lain, artinya perolehan dana diperoleh
dari setoran pemilik modal;
3) Tidak memerlukan persyaratan yang rumit dan memakan waktu
yang relatif lama;
4) Tidak ada keharusan pengembalian modal, artinya modal yang
ditanamkan pemilik akan tertanam lama dan tidak ada masalah
seandainya pemilik modal mau mengalihkan ke pihak lain.17

Kekurangan modal sendiri adalah:

1) Jumlahnya terbatas, artinya untuk memperoleh dalam jumlah


tertentu sangat tergantung dari pemilik dan jumlahnya relatif
terbatas;
2) Perolehan modal sendiri dalam jumlah tertentu dari calon pemilik
baru (calon pemegang saham baru) sulit karena mereka akan
mempertimbangkan kinerja dan prospek usahanya ;
3) Kurang motivasi pemilik, artinya pemilik usaha yang
menggunakan modal sendiri motivasi usahanya lebih rendah
dibandingkan dengan menggunakan modal asing.

b. Modal Asing (Pinjaman)

Modal asing atau modal pinjaman adalah modal yang biasanya

diperoleh dari pihak luar perusahaan dan biasanya diperoleh dari

pinjaman. Keuntungan modal pinjaman adalah jumlahnya yang tidak

terbatas, artinya tersedia dalam jumlah banyak. Di samping itu, dengan

menggunakan modal pinjaman biasanya timbul motivasi dari pihak

manajemen untuk mengerjakan usaha dengan sungguh-sungguh.

Sumber dana dari modal asing dapat diperoleh dari:


17
Ibid., hal. 10
17

1) Pinjaman dari dunia perbankan, baik dari perbankan swasta


maupun pemerintah atau perbankan asing;
2) Pinjaman dari lembaga keuangan seperti perusahaan pegadaian,
modal ventura, asuransi leasing, dana pensiun, koperasi atau
lembaga pembiayaan lainnya;
3) Pinjaman dari perusahaan non keuangan.

Kelebihan modal pinjaman adalah:

1) Jumlahnya tidak terbatas, artinya perusahaan dapat mengajukan modal


pinjaman ke berbagai sumber. Selama dana yang diajukan perusahaan
layak, perolehan dana tidak terlalu sulit. Banyak pihak berusaha
menawarkan dananya ke perusahaan yang dinilai memiliki prospek
cerah;
2) Motivasi usaha tinggi. Hal ini merupakan kebalikan dari
menggunakan modal sendiri. Jika menggunakan modal asing,
motivasi pemilik untuk memajukan usaha tinggi, ini disebabkan
adanya beban bagi perusahaan untuk mengembalikan pinjaman.
Selain itu, perusahaan juga berusaha menjaga image dan
kepercayaan perusahaan yang memberi pinjaman agar tidak
tercemar.

Kekurangan modal pinjaman adalah:

1) Dikenakan berbagai biaya seperti bunga dan biaya administrasi.


Pinjaman yang diperoleh dari lembaga lain sudah pasti disertai
berbagai kewajiban untuk membayar jasa seperti: bunga, biaya
administrasi, biaya provisi dan komisi, materai dan asuransi;
2) Harus dikembalikan. Modal asing wajib dikembalikan dalam
jangka waktu yang telah disepakati. Hal ini bagi perusahaan yang
sedang mengalami likuiditas merupakan beban yang harus
ditanggung;
3) Beban moral. Perusahaan yang mengalami kegagalan atau masalah
yang mengakibatkan kerugian akan berdampak terhadap pinjaman
sehingga akan menjadi beban moral atas utang yang belum atau
akan dibayar.18

c. Modal Patungan

Selain modal sendiri atau pinjaman, juga bisa menggunakan

modal usaha dengan cara berbagai kepemilikan usaha dengan orang

lain. Caranya dengan menggabungkan antara modal sendiri dengan


18
Kasmir, Manajemen Perbankan. (Jakarta: PT Raaj Grafindo Persada, 2007), hal. 91
18

modal satu orang teman atau beberapa orang (yang berperan sebagai

mitra usaha). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa modal

usaha adalah harta yang dimiliki untuk digunakan dalam menjalankan

kegiata usaha dengan tujuan memperoleh laba yang optimal sehingga

diharapkan bisa meningkatkan pendapatan pedagang kecil.

C. Jaminan

1. Pengertian Jaminan

Istilah jaminan merupakan terjemahan dari Bahasa Belanda

yaitu “zekerheid” atau “cautie”, yang secara umum merupakan cara-

cara kreditur menjamin dipenuhinya tagihannya, disamping

pertanggungan jawab umum debitur terhadap baramg-barangnya.

Selain istilah jaminan, dikenal juga istilah atau kata-kata agunan.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, tidak membedakan pengertian

jaminan maupun agunan, yang sama-sama memiliki arti yaitu

“tanggungan”. Agunan pembiayaan atau jaminan adalah hak dan

kekuasaan atas barang agunan yang diserahkan oleh anggota kepada

lembaga keuangan guna menjamin pelunasan pembiayaan yang

diterimanya tidak dapat dilunasi sesuai waktu yang diperjanjikan

dalam perjanjian pembiayaan.19

Sedangkan menurut Surat keputusan Direksi Bank Indonesia

No.23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1961 menyebutkan bahwa

agunan pembiayaan adalah agunan material, surat berharga, garansi


19
H. Veithzal Rivai dan Andria Permata Veitzal, Islamic Financial Management, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 663
19

risiko yang disediakan nasabah untuk menanggung pembayaran

kembali suatu pembiayaan. Agunan dapat berupa barang, proyek/hak

tagih yang dibiayai dengan pembiayaan yang bersangkutan dengan

barang lain, surat berharga/garansi risiko yang ditambahkan sebagai

agunan tambahan.20

Pada dasarnya, jaminan atau agunan bukanlah salah satu rukun

atau syarat yang mutlak untuk dipenuhi dalam akad pembiayaan.

Hanya saja agunan yang dimaksutkan untuk menjaga agar nasabah

atau anggota tidak main-main dengan perjanjian pembiayaan yang

telah disepakati oleh kedua belah pihak lembaga keuangan dan

nasabah/anggota.21 Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

ketika BMT memberikan pembiayaan selalu mensyaratkan ada

agunan untuk mengikat anggota pembiayaan. Dalam memberikan

pembiayaan BMT wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan

anggotanya untuk melunasi pembiayaan sesuai yang telah disepakati.

2. Dasar Hukum Jaminan

Al-Qur’an
        
       
   
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai)

sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada

20
Ibid, hlm. 663
21
Ibid, hlm. 663
20

barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).…” (al-

Baqarah: 283)22

Al-Hadits

‫عن عائشة رضى اهلل عنه أن النىب صلى اهلل عليه وسلم أشرتى طعا‬
ْ
‫ ور هنه در عامن حد يد‬,‫مامن يهو دو إىل أجل‬
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa

Sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo

(kredit) dan beliau menggadaikan kepadanya baju besi.” (HR Bukhari

no.1962, dalam kitab Al-Buyu’, dan Muslim).

3. Rukun dan Syarat Jaminan

Menurut mazhab Hanafi, rukun kafalah itu hanya satu, yaitu ijab dan

qabul. Sedangkan menurut ulama yang lainnya, rukun dan syarat kafalah adalah

sebagai berikut :

a. Dhamin, kafil atau za’im, yaitu orang yang menjamin dimana ia


disyaratkan sudah baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan
hartanya (mahjur) dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri.
b. Madmunlah, yaitu orang yang berpiutang, syaratnya ialah bahwa yang
berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin, sebab watak manusia
berbeda-beda dalam menghadapi orang yang berhutang, ada yang
keras, dan ada yang lunak. Penetapan syarat ini terutama sekali
dimaksudkan untuk menghindari kekecewaan dibelakang hari bagi
penjamin, bila orang yang dijamin membuat ulah dan salah.
c. Orang yang berhutang, orang yang berhutang, tidak disyaratkan
baginya kerelaannya terhadap penjamin karena pada prinsipnya hutang
itu harus lunas, baik orang yang berhutang rela atau tidak. Namun
lebih baik dia rela.
d. Obyek jaminan hutang, berupa uang , barang, atau orang. Obyek
jaminan hutang disyaratkan bahwa keadaannya diketahui dan telah
ditetapkan. Oleh sebab itu tidak sah dhamaan (jaminan) jika obyek

22
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: CV. J-ART, 2005,
hlm.6
21

jaminan hutang tidak diketahui dan belum ditetapkan, karena ada


kemungkinan hal ini ada gharar (penipuan).
e. Sighat, yaitu pernyataan yang diucapkan penjamin. Disyaratkan
keadaan sighat mengandung makna jaminan, tidak digantungkan
pada sesuatu.23

4. Pengertian Kredit Tanpa Jaminan

Kredit berasal dari bahasa latin “Credere” yang artinya


kepercayaan dari kreditur terhadap debitor yang berarti kreditur percaya
bahwa debitor akan mengembalikan pinjaman beserta bunganya sesuai
perjanjian kedua belah pihak. Sedangkan bagi penerima kredit berarti ia
menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar
kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya.24 .

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu pemberian kredit dapat

terjadi apabila di dalamnya terkandung ada kepercayaan orang atau badan

yang memberi kredit kepada orang yang menerima kredit.

Menurut Undang-undang Pokok Perbankan No. 10 Tahun 1998,


Kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam
antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam
untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian
bunga.25
Malayu S. P Hasibuan menjelaskan bahwa Kredit adalah semua

jenis pinjaman yang harus dibayar kembali bersama bunganya oleh

peminjam sesuai dengan pengertian yang telah disepakati. 26

Apabila diartikan secara ekonomi, kredit berarti “penundaan

pembayaran” artinya uang atau barang yang diterima sekarang akan

dikembalikan pada masa yang akan datang. Bisa 1 minggu 1 bulan bahkan

beberapa tahun. Oleh karena itu dalam pemberian kredit selalu terkandung

23
Institut Bankir Indonesia, Konsep, Produk dan Implementasi Operasional Bank
Syari’ah, (Jakarta : Djambatan, t.th.), h. 262
24
Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan. (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1998), hal. 12
25
Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lain. (Jakarta :
Salemba Empat, 2006), hal. 114
26
Malayu Hasibuan, Dasar-dasar Perbankan. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005), hal. 76
22

resiko, yaitu resiko bagi pemberi kredit bahwa uang atau barang yang telah

diberikan kepada penerima kredit tidak kembali sepenuhnya. Dalam ruang

lingkup kredit maka kontra prestasi yang akan diterima kreditur berupa

sejumlah nilai ekonomi tertentu yang dapat berupa uang, barang, dan

sebagainya. Kondisi demikian maka tidak berlebihan apabila dari konteks

ekonomi kredit mempunyai pengertian sebagai suatu penundaan

pembayaran dari prestasi yang diberikan sekarang dimana prestasi yang

diberikan sekarang, dimana prestasi tersebut pada dasarnya akan berbentuk

nilai uang.

Kredit berfungsi koperatif antara pemberi kredit dan si penerima

kredit atau antara kreditur dan debitor. Mereka menarik keuntungan dan

saling menanggung resiko. Singkatnya kredit dalam arti luas didasarkan

atas komponen-komponen kepercayaan, resiko dan pertukaran ekonomi di

masa mendatang.

Beberapa pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa intisari

dari arti kredit sebenarnya adalah kepercayaan, suatu unsur yang harus

dipegang sebagai benang merah melintasi falsafah perkreditan dalam arti

sebenarnya, sebagaimana pun bentuk, macam dan ragamnya dan dari

manapun asalnya serta kepada siapapun diberikan. Di dalam pengertian

suatu kredit terkandung dua aspek, yaitu aspek ekonomis dan aspek

yuridis. Aspek ekonomis ialah adanya bunga oleh yang menerima

pinjaman sebagai imbalan yang diterima kreditur sebagai keuntungan.

Sedangkan aspek yuridisnya adalah adanya dua pihak yang mengikatkan


23

diri dalam suatu perjanjian, dimana masing-masing pihak mempunyai hak

dan kewajiban.

5. Dasar Hukum Pembiayaan Tanpa Jaminan

Pada dasarnya perjanjian kredit dapat kita bagi atas perjanjian

kredit yang memiliki agunan dan perjanjian yang tidak/tanpa agunan.

Persoalan agunan ini berkaitan dengan ketentuan pasal 1131 dan 1132

KUHPer. Kedua pasal ini membahas tentang piutang-piutang yang

diistimewakan. Pasal 1131 mengatakan bahwa segala kebendaan si

berutang, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada

maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk

segala perikatan perseorangan. Dan pasal 1132 mengatakan bahwa

kebendaan teersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang

yang mengutangkan padanya; pendapaan penjualan benda-benda itu

dibagi-bagikan menurut keseimbangan, yaitu menurut besar-kecilnya

piutang masing-masing, kecuali apabila diantara para piutang itu ada

alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.

Pihak bank biasanya dalam memberikan kredit akan menentukan

terlebih dahulu apa yang menjadi jaminan atau agunan dari kredit yang

dikeluarkan, misalnya dalam kredit pembelian kendaraan yang menjadi

agunan biasanya adalah BPKB dari kendaraan tersebut. Buat pihak bank

dengan ditentukan dari awal tentang apa yang menjadi jaminan terhadap

kredit yang diberikan akan memudahkan bagi bank untuk melakukan


24

eksekusi bila terjadi wanprestasi karena sudah tertentu apa yang menjadi

agunannya.

Untuk Kredit tanpa agunan, karena pihak bank tidak menentukan

dari awal apa yang menjadi agunannya, maka berdasarkan pasal 1131 dan

1132 KUHPer, harta kekayaan milik dari debitur seluruhnya menjadi

jaminan terhadap jumlah utang yang harus dibayarkan oleh debitur.

Sehingga dasar dari Bank melakukan eksekusi apabila debitur wanprestasi

adalah kedua pasal tersebut, pasal 1131 san 1132 KUHPer.