ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU POSTPATUM
Hari/Tanggal : Senin, 07 Agustus 2017
Jam : 18.30 WITA
Tempat : PMB
A. DATA SUBJEKTIF
1. Identitas
Istri Suami
Nama Ny. A Tn. J
Umur 28 tahun 29 tahun
Agama Islam Islam
Suku/Bangsa Banjar/Indonesia Banjar/Indonesia
Penddikan SMP SD
Pekerjaan IRT Buruh
Alamat Jl. Sei Tabuk Jl. Sei Tabuk
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan baru melahirkan 6 jam yang lalu, dan mengeluh perutnya
masih terasa mulas.
3. Riwayat Perkawinan
Ibu mengatakan menikah 1 kali, menikah pertama kali pada umur 20
tahun dengan suami sekarang sudah hampir 8 tahun.
4. Riwayat Obstetri P1A0
Kehamilan Persalinan Bayi
Penyulit
No Tahun Tempat/ BB PB Keadaan Ket
UK Penyulit Cara Penyulit Seks Nifas
Penolong (gr) (cm) lahir
Pmb Tidak 3000 40 Segera Tidak
1 2010 40 mgg Tdk ada Spt BK LK
/Bidan ada gr cm menangis ada
41 Tidak Pmb Tidak 3200 41 Segera Tidak
2 2017 Spt BK PR -
minggu ada /Bidan ada gr cm menangis ada
5. Riwayat Persalinan Sekarang
a. Umur kehamilan saat melahirkan : 41 minggu
b. Tanggal/jam melahirkan : 07 - 08 - 2017/13.30 WITA
c. Tempat/penolong : pmb/Bidan
d. Lama proses persalinan
1) Kala I : ± 6 jam
2) Kala II : ± 20 menit
3) Kala III : ± 5 menit
4) Kala IV : ± 2 jam
e. Jenis persalinan : Normal
f. Penyulit saat persalinan : Tidak ada
g. Tindakan saat persalinan
1) Pelebaran jalan lahir : Tidak dilakukan
2) Penjahitan luka jalan lahir : Tidak dilakukan
h. Keadaan bayi yang dilahirkan
Hidup, segera menangis, BB : 3200 gram, PB : 41 cm, jenis kelamin
perempuan
6. Riwayat Keluarga Berencana
Ibu mengatakan tidak pernah memakai KB ( alat kontrasepsi )
sebelumnya
7. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Ibu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit keturunan seperti
kencing manis, darah tinggi, asma, penyakit menular seperti hepatitis,
TBC, HIV/AIDS dan penyakit kronis seperti jantung.
b. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak pernah menderita penyakit
keturunan seperti kencing manis, darah tinggi, asma penyakit penular
seperti hepatitis, TBC, HIV/AIDS dan penyakit kronis seperti jantung.
8. Pola kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
1) Pola Makan
Jenis yang dikonsumsi : Nasi, lauk-pauk, sayur dan buah-buahan
Frekuensi : 2x sehari
Porsi makan : 1 piring
Pantangan : tidak ada
2) Pola Minum
Jenis yang dikonsumsi : air putih dan susu
Frekuensi : 7–8 kali/hari
Porsi minum : ± 2 liter
Pantangan : tidak ada
b. Eliminasi
1) BAB
a) Frekuensi : Belum ada
b) Konsistensi : Tidak ada
c) Warna : Tidak ada
d) Masalah : Tidak ada
2) BAK
a) Frekuensi : 1 kali
b) Warna : Kuning jernih
c) Bau : Pesing
d) Masalah : Tidak ada
c. Personal Hygiene
1) Frekuensi mandi :-
2) Frekuensi gosok gigi :-
3) Frekuensi ganti pakaian : Sesuai kebutuhan
d. Aktivitas
Setelah melahirkan ibu berbaring di tempat tidur dan menyusui
bayinya.
e. Tidur dan Istirahat
1) Siang hari : Tidak ada
2) Malam hari : 1 jam
3) Masalah : Tidak ada
f. Pola seksual
Ibu belum melakukan hubungan seksual.
g. Pemberian ASI
1) Kapan memberikan ASI : 1 jam setelah melahirkan
2) Frekuensi menyusui : Sesering mungkin
3) Masalah : Tidak ada
9. Data Psikososial dan Spiritual
a. Tanggapan ibu dan keluarga terhadap kelahiran bayinya : Sangat
senang dan bersyukur.
b. Tanggapan ibu terhadap perubahan fisiknya : Ibu merasa biasa saja
dengan perubahan fisiknya.
c. Tanggapan ibu terhadap peristiwa persalinan yang telah dialaminya :
ibu mengatakan persalinan merupakan suatu pengalaman yang sangat
berharga baginya.
d. Pengetahuan ibu terhadap perawatan bayi : Ibu mendapatkan
informasi mengenai perawatan bayi dari orang tua dan bidan.
e. Hubungan sosial ibu dengan mertua, orang tua, keluarga : Baik.
f. Pengambil keputusan dalam keluarga : Suami.
g. Orang yang membantu ibu merawat bayi : Orang tua dan keluarga.
h. Adat atau kepercayaan ibu yang berkaitan dengan kelahiran dan
perawatan bayi : Tasmiyah dan Aqiqah.
i. Kegiatan spiritual yang dilakukan ibu pada masa nifas : Berdoa.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos menthis
c. Berat badan
d. Tanda vital
TD : 120/80 mmHg Nadi : 84 x / menit
Pernapasan : 24 x / menit Suhu : 36,80C
2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Kepala : Rambut bersih, tidak rontok, tidak berketombe,tidak
tampak bekas operasi.
Muka : Tidak tampak pucat, tidak tampak oedema.
Mata : Simetris, konjungtiva merah muda, sklera tidak kuning.
Telinga : Simetris, tampak bersih, tidak ada pengeluaran serumen.
Hidung : Bersih, tidak ada polip, tidak ada sekret, tidak ada
pernapasan cuping hidung.
Mulut : Bibir tidak tampak pucat, tidak ada caries gigi, tidak ada
sariawan.
Leher : Tidak tampak pembesaran vena jugularis dan
Pembengkakan kelenjar tiroid, kelenjar limfe, kelenjar
paratiroid, dan kelenjar ludah.
Dada : Tampak simetris, tidak ada retraksi dada saat inspirasi dan
ekspirasi.
Payudara : Tampak simetris, tampak hyperpigmentasi kulit pada
areola yang disebabkan oleh hormon MSH, putting susu
Menonjol, kolostrum sudah keluar.
Abdomen : Perut tampak mengecil sesuai dengan keadaan tinggi
fundus uteri.
Tungkai : Tidak tampak oedema dan tidak tampak adanya varises.
Genetalia : Terdapat pengeluaran darah segar yang berwarna merah
(lochea rubra) yang normal, tidak ada tanda-tanda infeksi.
b. Palpasi
Kepala : Tidak teraba adanya benjolan yang abnormal.
Muka : tidak teraba adanya oedema pada daerah tulang pipi
(zigomatikum).
Mata : Kelopak mata tidak teraba panas dan palpebra tidak
meninggi setelah ditekan.
Hidung : Tidak teraba adanya benjolan dan tidak ada nyeri tekan.
Leher : Tidak teraba pembesaran vena jugularis dan tidak teraba
pembengkakan kelenjar tyroid, kelenjar limfe, kelenjar
paratiroid dan kelenjar ludah.
Payudara : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan yang abnormal,
dan sudah ada pengeluaran kolostrum.
Abdomen : Tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat dan kontraksi
baik.
Tungkai : Tidak teraba adanya oedema pada pretibia, maleolus, dan
dorso pedis.
Genetalia : Tidak teraba oedema.
3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
C. ANALISA DATA
1. Diagnosa Kebidanan : P2A0 post partum 6 jam.
2. Masalah : Perut Mulas
3. Kebutuhan : KIE
D. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa keadaan
ibu sehat, yaitu TD : 120/80 mmHg, Nadi : 84 x/menit, Pernapasan : 24
x/menit, Suhu : 36,80C, kontraksi uterus baik, tinggi fundus uteri 2 jari di
bawah pusat.
‘’Ibu mengetahui hasil pemeriksaan’’
2. Menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan adalah normal
karena rahim yang keras dan sakit menandakan rahim sedang berkontraksi
dan sangat dibutuhkan sekali dalam proses penyembuhan alat kandungan
menjadi seperti sewaktu sebelum hamil.
“Ibu mendengarkan dengan baik penjelasan bidan dan sudah paham”
3. Menganjurkan ibu untuk melakukan diet seimbang, termasuk daging atau
pengganti daging, buah-buahan dan sayuran, roti dan biji-bijian, tahu,
tempe, lauk pauk dan lain-lain.
“Ibu mengerti dan akan melakukan diet seimbang yang baik”
4. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup contohnya tidur ketika
bayinya tidur.
“Ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan”
5. Menganjurkan ibu untuk membersihkan daerah kelaminnya dengan air
bersih serta cebok dengan cara yang benar yaitu dari arah depan ke
belakang dan cuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah
menyentuh daerah kelamin.
“Ibu mengerti dengan apa yang dijelaskan bidan dan akan melakukan apa
yang telah dianjurkan oleh bidan”
6. Memberitahu ibu untuk memberikan ASI saja selama 6 bulan karena ASI
merupakan makanan yang terbaik untuk bayinya, idealnya ASI diberikan
2 jam sekali jika saatnya diberikan ASI bangunkan bayinya jika ia
tertidur. Ibu dapat mengkonsumsi susu untuk ibu menyusui dan
memperbanyak mengkonsumsi sayur-sayuran sesering mungkin
memberikan ASI pada bayinya kalau bisa sampai usia bayi 2 tahun agar
produksi ASI semakin lancar dan bayi selalu sehat.
“Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Bidan”
7. Mengajarkan ibu tentang perawatan tali pusat yaitu hanya dengan
menggunakan kasa tanpa dibubuhi bapapun termasuk betadin tetapi
sebelumnya dibersihkan dulu dengan menggunakan kapas yang sudah
dicelupkan di air DTT (air matang), biasanya dilakukan 2 kali sehari.
“Ibu mendengarkan dengan baik dan dapat mempraktekkannya”
8. Memberitahu kepada ibu tentang tanda bahaya masa nifas, yaitu :
a. Perdarahan pervaginam yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah
banyak.
b. Pembengkakan di daerah wajah, tangan dan kaki.
c. Payudara berubah menjadi merah, panas dan terasa sakit (sakit tidak
hilang dengan istirahat).
“Ibu mengerti dan paham dengan tanda bahaya pada masa nifas dan
apabila tanda bahaya itu terjadi maka ibu akan memeriksakan dirinya ke
tenaga kesehatan terdekat”
9. Memberitahu kepada ibu jika menemukan salah satu tanda bahaya pada
masa nifas tersebut maka dianjurkan untuk menghubungi bidan dan
memberitahu kepada ibu tentang kunjungan ulang 6 hari kemudian atau
jika ada keluhan.
“Ibu bersedia menghubungi petugas kesehatan terdekat jika mengalami
salah satu hal tersebut dan ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang
atau jika ada keluhan”
A. Pengertian
Masa nifas atau puerperium adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung lama kira-kira 6 minggu. (Sarwono, 2013)
Kala puerperium (nifas) adalah yang berlangsung selama 6 minggu atau
42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya organ kandungan
pada keadaan normal.(Manuaba, 2010)
B. Pembagian Masa Nifas
Masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu:
1. Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh
bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis
yang lamanya 6 – 8 minggu.
3. Remote puerperium, waktui yang diperlkan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
mempunyaikomplikasi.
C. Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas
1. Sistem reproduksi
a. Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Bayi lahir fundus uteri setinggi
pusat dengan berat uterus 1000 gr. Akhir kala III persalinan tinggi
fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan berata uterus 750 gr. Satu
minggu post partum tinggi fundus uteri teraba pertengan pusat simpisis
dengan berat uterus 500 gr. Dua minggu post partum tinggi fundus uteri
tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350 gr. Enam minggu
postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 gr.
(Prawirohardjo C, 2008).
b. Lochia
Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina
dalam masa nifas. Macam–macam Lochia, yaitu:
1) Lochia rubra, berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel-
sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dam mekonium, selama 2 hari
post partum.
2) Lochia Sanguinolenta : berwarna kuning berisi darah dan lendir,
hari 3 – 7 post partum.
3) Lochia serosa : berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada
hari ke 7 – 14 post partum.
4) Lochia alba : cairan putih, setelah 2 minggu
5) Lochia purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau
busuk
6) Lochiastasis : lochia tidak lancar keluarnya.
c. Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan,
ostium eksterna dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6
minggu persalinan serviks menutup.
d. Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat
besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama
sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan
kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan
tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan
muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol.
e. Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena
sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju.
Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali
sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan
sebelum melahirkan.
f. Payudara
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
1) Penurunan kadar progesteron secara tepat dengan peningkatan
hormon prolaktin setelah persalinan.
2) Kolostrum sudah ada saat persalinan produksi Asi terjadi pada
hari ke-2 atau hari ke-3 setelah persalinan.
3) Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses
laktasi.
2. Sistem Perkemihan
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam peratama.kemungkinan terdapat
spasine sfingter dan edema leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami
kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan.
Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam
sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen
yang bersifat menahan air akan memgalami penurunan yang mencolok.
Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali
normal dalam tempo 6 minggu.
3. Sistem Gastrointestinal
Kerapkali diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kembali normal.
Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan
makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh
berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan
diberikan enema. Rasa sakit didaerah perineum dapat menghalangi
keinginan ke belakang.
4. Sistem Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen,
volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah
merah dan hemoglobin kembali normal pada hari ke-5.
Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama
masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal.
Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian daya
koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan penanganan
yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini
5. Sistem Endokrin
a. Kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam post partum.
Progesteron turun pada hari ke 3 post partum.
b. Kadar prolaktin dalam darah berangsur-angsur hilang.
6. Sistem muskulusskeletal
Ambulasi pada umumnya dimulai 4 – 8 jam post partum. Ambulasi dini
sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses
involusi.
7. Sistem Integumen
a. Penurunan melanin umumnya setelam persalinan menyebabkan
berkurangnya hyperpigmentasi kulit
b. Perubahan pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan
dan akan menghilang pada saat estrogen menurun.
D. Perawatan Pasca Persalinan
1. Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8
jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri
ubtuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke 2
diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan, dan hari ke 4 atau 5 sudah
diperbolehkan pulang. Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung
pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.
2. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan
makanan yang mengandong protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan
buah-buahan.
3. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang
wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala
janin dan spasme oleh iritasi m.sphincer ani selama persalinan. Bila
kandungan kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan
kateterisasi.
4. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit
buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan
obat laksans per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan
klisma.
E. Perawatan payudara (mamae)
Perawatan mamae telah dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu
lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya.
Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara :
1. Pembalutan mamae sampai tertekan.
2. Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan
parlodel
Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik
untuk kesehatan bayinya yaitu memberikan laktasi untuk menghadapi
masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-
perubahan pada kelenjar mamae yaitu :
a. Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak
bertambah.
b. Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum,
berwarna kuning putih susu.
c. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-
vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
d. Setelah persalinan, pengaruh supresiastrogen dan progesteron hilang.
Maka timbul pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang
akan merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin
menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu
keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan.
F. Adaptasi Psikologis Pada Masa Nifas
Periode masa nifas merupakan waktu untuk terjadi stres, terutama ibu
primipara. Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa
transisi menjadi orang tua. Respon dan support dari keluarga dan teman dekat.
Riwayat pengalaman hamil dan melahirklan yang lalu. Harapan/keinginan dan
aspirasi ibu saat hamil dan melahirkan. Periode ini diexpresikan oleh reva
rubin yang terjadi 3 tahap yaitu :
1. Talking In periode
Terjadi pada hari 1-2 setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat
tergantung, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat
pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, kebutuhan tidur
meningkat, nafsu makan meningkat.
2. Taking Hold Period
Berlangsung 3-4 hari post partum, ibu lebih berkonsentrasi pada
kemampuannya menerima tanggungjawab sepenuhnya terhadap perawatan
bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif sehingga membutuhkan
bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami
ibu.
3. Letting Go Period
Dialami setelah tiba dirumah secara penuh merupakan pengaturan bersama
keluarga, ibu menerima tanggung jawab sebagai ibu dan ibu menyadari
atau merasa kebutuhan bayi yang sangat tergantung dari kesehatan sebagai
ibu.
G. Progam Kebijakan Teknis
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai
keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan
menangani masalah – masalah yang terjadi.
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6 – 8 jam - Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
setelah uteri
persalinan - Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk
bila perdarahan berlanjut
- Memberikan konseling pada ibu atau salah satu
anggota keluarga, bagaimana mencegah
perdarahan masa nifas karena atonia uteri
- Pemberian ASI awal
- Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir
- Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermi
- Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia
harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk
2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu
dan bayi dalam keadaan stabil.
2 6 hari setelah - Memastikan involusi uterus berjalan normal,
persalinan uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus,
tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
- Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal
- Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit
- Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat
dan merawat bayi sehari-hari.
3 2 minggu Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan)
setelah
persalinan
4 6 minggu - Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit
setelah yang ia dan bayi alami
persalinan - Memberikan konseling untuk KB secara dini
H. Komplikasi
Persalinan menyebabkan terjadinya komplikasi setelah masa nifas yang
di sebabkan oleh beberapa hal. Berikut beberapa komplikasi yang biasa
terjadi pada masa nifas.
1. Perdarahan postpartum
Perdarahan postpartum adalah perdarahan dengan jumlah lebih dari 500
ml setelah bayi lahir. Ada dua jenis perdarahan menurut waktunya, yaitu
perdarahan dalam 24 jam pertama setelah melahirkan dan perdarahan
nifas. Penyebab tersering karena atonia uteri, yakni otot rahim tidak
berkontraksi sebagaimana mestinya segera setelah bayi lahir.
2. Infeksi postpartum
Infeksi postpartum adalah infeksi yang terjadi setelah ibu melahirkan.
Keadaan ini di tandai dengan meningkatnya suhu tubuh, yang dilakukan
pada dua kali pemeriksaan, selang waktu enam jam dalam 24 jam pertama
setelah persalinan. Jika suhu tubuh mencapai 38°C dan tidak ditemukan
penyebab lain misalnya bronkitis, maka dikatakan telah terjadi infeksi
postpartum. Infeksi yang secara langsung berhubungan dengan proses
persalinan adalah infeksi rahim, daerah sekitar rahim, atau vagina. Infeksi
ginjal juga terjadi segera setelah persalinan.
3. Ruptur uteri
Secara sederhana ruptur uteri adalah robekan pada rahim atau rahim tidak
utuh. Terdapat keadaan yang meningkatkan kejadian ruptur uteri,
misalnya ibu yang mengalami operasi caesar pada kehamilan sebelumnya.
Selain itu, kehamilan dengan janin yang terlalu besar, kehamilan dengan
peregangan rahim yang berlebihan, seperti pada kehamilan kembar, dapat
pula menyebabkan rahim sangat regang dan menipis sehingga robek.
Gejala yang sering muncul adalah nyeri yang sangat berat dan denyut
jantung janin yang tidak normal.
4. Trauma perineum
Perineum adalah otot, kulit, dan jaringan yang ada diantara kelamin dan
anus. Trauma perineum adalah luka pada perineum sering terjadi pada
proses persalinan. Hal ini terjadi karena desakan kepala atau bagian tubuh
janin secara tiba-tiba, sehingga kulit dan jaringan perineum robek.