Anda di halaman 1dari 14

SEKOLAH ADIWIYATA

DAN MANDIRI ENERGI

NAMA KELOMPOK:

*TRI NANDA PAMUNGKAS*

*FAISAL MAULANA*

KELAS: X MIPA 5

SMA NEGERI 1 DONOROJO

TAHUN PELAJARAN 2018/2019


*ADIWIYATA*

%PENGERTIAN%

Kata ADIWIYATA berasal dari 2 (dua) Kata “ADI” dan “WIYATA”. Adi
memiliki makna: besar, agung, baik, ideal dan sempurna. Wiyata
memiliki makna: tempat dimana seorang mendapat ilmu pengetahuan,
norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Jika secara keseluruhan
ADIWIYATA mempunyai pengertian atau makna: tempat yang baik dan
ideal dimana dapat diperoleh secara ilmu pengetahuan dan berbagai
norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju
terciptanya kesejahteraan hidup kita menuju keada cita-cita
pembangunan berkelanjutan.

%TUJUAN%

Tujuan Program Adiwiyata adalah : menciptakan kondisi yang baik bagi


sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga
sekolah, sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut
bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan bagi sekolah
dasar dan menengah di Indonesia. Program Adiwiyata harus
berdasarkan norma-norma Kebersamaan, Keterbukaan, Kejujuran,
Keadilan, dan Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya
Alam.

%PRINSIP PRINSIP%

1.PartisipatifKomunitas sekolah terlibat dalam manjemen yang meliputi


keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sesuai
tanggung jawab dan peran.
2.BerkelanjutanSeluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan
terus menerus secara komprehensif.

%KONSEP KONSEP%

1.Recycle

Recycle atau mendaur ulang adalah kegiatan mengolah kembali atau


mendaur ulang. Pada perinsipnya, kegitan ini memanfaatkan barang
bekas dengan cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih
lanjut. Contohnya adalah memanfaatkan dan mengolah sampah
organik untuk dijadikan pupuk kompos.

2.Reuse

Reuse atau penggunaan kembali adalah kegiatan menggunakan


kembali material atau bahan yang masih layak pakai. Sebagai contoh,
kantong plastik atau kantng kertas yang umumnya didapa dari hasil kita
berbelanja, sebaiknya tidak dibuang tetapi dikumpulkan untuk
digunakan kembali saat dibutuhkan. Contoh lain ialah menggunakan
baterai isi ulang.

3.Reduce

Reduce atau Pengurangan adalah kegiatan mengurangi pemakaian atau


pola perilaku yang dapat mengurangi produksi sampah serta tidak
melakukan pola konsumsi yang berlebihan. Contoh menggunakan alat-
alat makan atau dapur yang tahan lama dan berkualitas sehingga
memperpanjang masa pakai produk atau mengisi ulang atau refill
produk yang dipakai seperti aqua galon, tinta printer serta bahan
rumah tangga seperti deterjen, sabun, minyak goreng dan lainnya. Hal
ini dilakukan untuk mengurangi potensi bertumpuknay sampah wadah
produk di rumah Anda.

4.Replace

Replace atau Penggantian adalah kegiatan untuk mengganti pemakaian


suatu barang atau memakai barang alernatif yang sifatnya lebih ramah
lingkungan dan dapat digunakan kembali. Upaya ini dinilai dapat
mengubah kebiasaan seseorang yang mempercepat produksi sampah.
Contohnya mengubah menggunakan kontong plastik atau kertas
belanjaan dengan membawa tas belanja sendiri yang terbuat dari kain.

5.Replant

Replant atau penamanan kembali adalah kegiatan melakukan


penanaman kembali. Contohna melakukan kegiatan kreatif seperti
membuat pupuk kompos dan berkebun di pekarangan rumah. Dengan
menanam beberapa pohon, lingkungan akanmenjadi indah dan asri,
membantu pengauran suhu pada tingkat lingkungan mikro (atau sekitar
rumah anda sendiri), dan mengurnagi kontribusi atas pemanasan
global. Dengan menerapkan konsep 5 R yang telah dibahas, kita dapat
ikut serta dalam melestarikan dan memelihara lingkungan agar tidak
rusak atau tercemar.

%CIRI CIRI%

1. Sekolahan bersih,hijau,sehat dan menyenangkan

2. Memiliki peraturan dan kebijakan menyangkut masalah lingkungan


( misalnya tentang sampah,effisiensi air,energi, kantin,dll)
3. Memiliki sarana dan prasarana yang memadai seperti :ruang
pembibitan, alat kebersihan /sapu dll, tempat sampah terpilah,
komposter ( sarana pengelola sampah organik ), Lubang Biopori (untuk
resapan dan pengolah sampah organik ) dan lainnya.

4. Memiliki program kegiatan yang reguler baik jangka


pendek,menengah dan panjang.

5. Memiliki pedoman pembelajaran siswa terkait pengelolaan


lingkungan baik secara monolitik maupun terintegrasi.

6. Memiliki sumberdaya manusia ( Kepala sekolah,guru,staf, dan


komite ) yang memiliki keahlian di bidang pendidikan lingkungan hidup,
setidaknya pernah dan selalu melakukan pelatihan atau bimbingan
tehnis yang berkesinambungan di tandai sertifikat kegiatan.

7. Memiliki perencanaan anggaran pelaksanaan kegiatan pengelolaan


lingkungan baik dalam mengembangkan kapasitas guru dan siswa
maupun terhadap kelengkapan sarana prasarana sekolah.

8. Memiliki Sekretariat khusus yang di dalamnya ada tim pengelola


kegiatan hingga penugasan untuk pendokumentasian menyeluruh

%VISI DAN MISI%

1.Kebijakan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran pendidikan


lingkungan hidup

2.Kebijakan peningkatan SDM (tenaga pendidikan dan non pendidikan)


dibidang pendidikan lingkungan hidup.

3.Kebijakan sekolah dalam upaya penghematan sumber daya alam


4.Kebijakan sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan sekolah
yang bersih dan sehat.

5.Kebijakan sekolah untuk mengalokasikan dan penggunaan dana bagi


kegiatan yang terkait dengan masalah lingkungan hidup.

%KEUNTUNGAN%

1.Meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan operasional


sekolah dan penggunaan berbagai sumber daya .

2.Meningkatkan penghematan sumber daya dan energi

3.Meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan


kondusif bagi semua warga sekolah.

4.Menciptakan kondisi kebersamaan bagi semua warga sekolah

5.Meningkatkan upaya menghindari berbagai resiko dampak


lingkungan negatif dimasa yang akan datang.

6.Menjadi tepat pemebelajaran bagi generasi muda tentang nilai-nilai


pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar.

7.Mendapatkan program Adiwiyata.

%SYARAT DAN KRITERIA%

A. Pengembangan Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya


Lingkungan

Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan


maka diperlukan beberapa kebijakan sekolah yang mendukung
dilaksanakannya kegiatan-kegiatan pendidikan lingkungan hidup oleh
semua warga sekolah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Program
Adiwiyata yaitu partisipatif dan berkelanjutan.

Pengembangan kebijakan sekolah tersebut antara lain:

1. Visi dan misi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

2. Kebijakan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran


pendidikan lingkungan hidup.

3. Kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (tenaga


kependidikan dan non kependidikan) di bidang pendidikan
lingkungan hidup.

4. Kebijakan sekolah dalam upaya penghematan sumber daya alam.

5. Kebijakan sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan


sekolah yang bersih dan sehat.

6. Kebijakan sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana


bagi kegiatan yang terkait dengan masalah lingkungan hidup.

B. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan

Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para siswa dapat


dilakukan melalui kurikulum secara terintegrasi atau monolitik.
Pengembangan materi, model pembelajaran dan metode belajar yang
bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa
tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan
sehari-hari (isu local).
Pengembangan kurikulum tersebut dapat dilakukan antara lain:
1. Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran.
2. Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan
hidup yang ada di masyarakat sekitar.
3. Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya.
4. Pengembangan kegiatan kurikuler untuk meningkatkan pengetahuan
dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.

C. Pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif


Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan,
warga sekolah perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran
lingkungan hidup. Selain itu sekolah juga diharapkan melibatkan
masyarakat disekitarnya dalam melakukan berbagai kegiatan yang
memberikan manfaat baik bagi warga sekolah, masyarakat maupun
lingkungannya.
Kegiatan-kegiatan tersebutantara lain:

1. Menciptakan kegiatan ekstra kurikuler/kurikuler di bidang


lingkungan hidup berbasis patisipatif di sekolah.

2. Mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh


pihak luar.

3. Membangun kegiatan kemitraan atau memprakarsai


pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

D. Pengelolaan dan atau Pengembangan Sarana Pendukung Sekolah


Dalam mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan
perlu didukung sarana dan prasarana yang mencerminkan upaya
pengelolaan lingkungan hidup, antara lain meliputi:
1. Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk
pendidikan lingkungan hidup.
2. Peningkatan kualitas penge-lolaan lingkungan di dalam dan di luar
kawasan sekolah.
3. Penghematan sumberdaya alam (listrik, air, dan ATK).
4. Peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat.
5. Pengembangan sistem pengelolaan sampah.

PENGHARGAAN ADIWIYATA 
Pada dasarnya program Adiwiyata tidak ditujukan sebagai suatu
kompetisi atau lomba. Penghargaan Adiwiyata diberikan sebagai
bentuk apresiasi kepada sekolah yang mampu melaksanakan upaya
peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar, sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan. Penghargaan diberikan pada tahapan
pemberdayaan (selama kurun waktu kurang dari 3 tahun) dan tahap
kemandirian (selama kurun waktu lebih dari 3 tahun).
Pada tahap awal, penghargaan Adiwiyata dibedakan atas 2 (dua)
kategori, yaitu:

1. Sekolah Adiwiyata adalah, sekolah yang dinilai telah berhasil


dalam melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup.

2. Calon Sekolah Adiwiyata adalah. Sekolah yang dinilai telah


berhasil dalam Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup.
*MANDIRI ENERGI*

%PENGERTIAN%

Mandiri Energi adalah suatu energy yang memiliki kemampuan


memenuhi lebih dari 60 % kebutuhan energi (listrik dan bahan bakar)
dari energi terbarukan yang dihasilkan melalui pendayagunaan potensi
sumberdaya setempat.

%TUJUAN%

Mandiri Energi bertujuan untuk membuka lapangan kerja, mengurangi


kemiskinan, dan menciptakan kegiatan ekonomi produktif. Sedangkan,
tujuan utama pengembangan Desa Mandiri Energi adalah mengurangi
kemiskinan dan membuka lapangan kerja untuk mensubstitusi bahan
bakar minyak (Fitrin 2010).

%KONSEP%

Mandiri energi merupakan konsep baru yang sedang dikembangkan di


Indonesia. Pengembangan mandiri energi berdasar pada usaha menuju
swasembada energi dalam arti mencukupi kebutuhan energi,tanpa
harus mengimpor sumber energi dari luar. Konsep kemandirian energi
ini berpijak pada pemanfaatan energi terbarukan dan pemberdayaan
masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan pula sebagai
upaya peningkatan kemampuan atau kapasitas masyarakat agar dapat
mendayagunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan
kesejahteraan, martabat, dan keberdayaan (Nasdian
2006).Pemberdayaan masyarakat merupakan langkah
mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional
dengan melibatkan masyarakat dalam keseluruhan proses,
keterampilan analitis dan perencanaan pembangunan yang dimulai dari
daerah tempat mereka berkarya (Moeliono et al.1994).Sedangkan,
Energi terbarukan (renewable energy) yang dimanfaatkan haruslah
memiliki syarat yang mencakup aspek keberlanjutan, regional
development, dan ramah lingkungan.

Keberlanjutan diartikan sebagai energi yang dapat dimanfaatkan secara


terus menerus tanpa batas waktu, sehingga tidak terbentur dengan
permasalahan keterbatasan sumber daya energi. Sedangkan regional
development merupakan pembangunan bersifat regional yang
berupaya mengembangkan kemadirian berbasis kelebihan yang ada
pada masing-masing daerah. Kemudian, selain itu aspek ramah
lingkungan menyempurnakan konsep kemandirian energi yang
berusaha untuk selaras dengan lingkungan, tidak berdampak buruk di
kemudian hari, dan tidak bersifat eksploitasi.

Konsep mandiri energi dirasa sesuai dengan kondisi Indonesia yang


memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan kondisi geografis yang
beragam. Kondisi ini menyebabkan terpencar terkadang tidak bisa
mengakses sumber energi seperti BBM dan listrik sehingga
pembangunan menjadi tersendat. Dalam mandiri energi, masyarakat
dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri tanpa harus membayar
biaya transportasi yang tinggi dan dapat dialihkan sebagai opportunity
cost untuk memproduksi energi sendiri. Opportunity cost yang berputar
di lingkungan masyarakat sendiri memberikan manfaat berlipat ganda
(multiplier effect). Selain meningkatkan kemandirian masyarakat
terhadap energi, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat
karena uang akan berputar di lingkup desa tersebut dengan
menciptakan lapangan kerja baru yang pada akhirnya menggerakkan
roda perekonomian desa secara keseluruhan (Suryadi 2011).

Sementara itu,  ada dua tipe pengembangan mandiri energi. Pertama


tipe yang dikembangkan dengan sumber non pertanian seperti
penggunaan mikrohidro, tenaga surya, dan biogas. Kedua tipe yang
dikembangkan dengan sumber pertanian seperti biofuel dan agrofuel.
Untuk mandiri energi yang berbasih bahan bakar nabati diperlukan
kehati-hatian dalam pengelolaannya agar tidak mengganggu
keseimbangan ekosistem karena memanfaatkan sumber yang sudah
dikela sebagai seumber pangan yakni tetumbuhan. Untuk mendukung
konsep mandiri energi diperlukan juga perangkat, peraturan, dan
dukungan finansial yang memberikan kemudahan bagi pengembangan
mandiri energi.

Konsep Mandiri Energi

Konsep pengembangan mandiri energi dilakukan dengan melihat


potensi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Dengan
demikian, pengamatan terhadap potensi lingkungan dan
karakteristiknya sangat penting. Oleh karenanya ada beberapa hal yang
perlu direncanakan seperti pendekatan pengembangan kelembagaan
masyarakat, pengembangan teknologi konversi yang digunakan dan
pengembangan ekonomi produktif, monitoring dan evaluasi (Fitrin
2010).

Pengembangan kelembagaan masyarakat penting dilakukan untuk


membangun sebuah desa mandiri. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
karakteristik masyarakat sebagai dasar untuk pembentukan lembaga
pengelola sistem pembangkit energi terbarukan. Karakteristik
masyarakat yang perlu diketahui antara lain adalah tingkat pendidikan,
mata pencaharian, waktu kerja, hierarki sistem hukum desa setempat,
dan kebudayaan/kebiasaan masyarakat.

Pengembangan teknologi untuk membangun pembangkit sumber


energi diawali dengan identifikasi potensi energi terbarukan di desa
setempat, perancangan sistem pembangkit, dan pelaksanaan
pembangunan sistem pembangkit. Untuk keberlangsungan sistem
pembangkit dan jaringannya, dilakukan pelatihan yang melibatkan
tokoh masyarakat, perangkat desa, dan pengurus kelembagaan yang
bertugas sebagai pengelola yang telah dibentuk sebelumnya. Pelatihan
yang diberikan meliputi prosedur perawatan yang terangkum
dalam Standard Operating Procedure (SOP), cara penanggulangan
kerusakan, dan pembukuan. Diharapkan melalui pelatihan tersebut,
masyarakat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya demi
keberlangsungan sistem pembangkit energi.

Pengembangan ekonomi produktif berkaitan dengan usaha bisnis dan


lingkungan. Olahan energi terbarukan dapat dimanfaatkan oleh
kegiatan ekonomi produktif yang memanfaatkan energi terbarukan
untuk siang hari. Sedangkan di malam hari dapat dipergunakan untuk
kebutuhan dasar energi rumah tangga seperti penerangan.

Pendampingan dalam rangka pengembangan beberapa aspek yang


telah disebutkan diatas berdasar pada konsep partisipatif yang
melibatkan semua stakeholder dan menempatkan masyarakat sebagai
stakeholder primer. Prinsip tersebut dituangkan dalam bentuk
pelaksanaan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang
terintegrasi dengan kegiatan pemberdayaan yang dilengkapi dengan
proses Monitoring dan Evaluasi. Monitoring dan Evaluasi secara
sederhana dilaksanakan dengan mencatat dan melaporkan setiap
kegiatan, agar dapat dipakai untuk perbandingan rencana yang sudah
ditetapkan. Jika terjadi penyimpangan dengan rencana segera
ditindaklanjuti.

Keberlangsungan dan Keberhasilan Desa Mandiri Energi

Prasyarat penting menuju terwujudnya desa mandiri energi yakni


terciptanya keberlangsungan dan keberhasilan program yang
dijalankan. Keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat dalam
kerangka Desa Mandiri Energi didasarkan atas hasil monitoring dan
evaluasi, yang merangkum perjalanan program sehingga dapat lakukan
proses perbaikan secara berkala untuk terus menyempurnakan
program sesuai dengan hasil yang diharapkan. Sementara itu,
keberhasilan program dapat dinilai dengan beberapa indikator seperti
pertumbuhan kesadaran masyarakat, terciptanya pembangunan yang
didasarkan atas partisipasi aktif masyarakat, terciptanya masyarakat
yang independen, tersedianya lapangan kerja yang memadai bagi
segenap penduduk, dan terciptanya kondisi kebersamaan dan keadilan
serta keharmonisan dengan alam.