Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...........................................................................................................1
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................1
DAFTAR TABEL..................................................................................................1
BAB I.......................................................................................................................2
PENDAHULUAN...................................................................................................2
A. Latar Belakang..................................................................................................2
B. Rumusan Masalah............................................................................................2
C. Tujuan Makalah...............................................................................................3
D. Manfaat Makalah..............................................................................................3
BAB II.....................................................................................................................4
PEMBAHASAN.....................................................................................................4
A. Pengukuran.......................................................................................................4
B. Menyatakan Ketidakpastian Pengukuran........................................................5
C. Ketepatan / akurasi (accuracy).........................................................................6
D. Ketelitian /Presisi (Precision)............................................................................7
E. Angka Berarti /Angka Penting.........................................................................8
a. Penjumlahan angka penting.........................................................................9
b. Perkalian dan Pembagian.............................................................................9
F. Kepekaan Alat Ukur / Sensitivitas (Sebsitifity)..............................................10
BAB III..................................................................................................................11
PENUTUP.............................................................................................................11
A. Kesimpulan.....................................................................................................11
B. Saran...............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 :mengukur panjang logam dengan penggaris.....................................................5
Gambar 2 :perbedaan skala penggaris................................................................................7
Gambar 3 :ketelitian pengamatan dalam pengukuran.........................................................8
Gambar 4 :mengukur dengan penggaris.............................................................................8

DAFTAR TABEL
Tabel 1 :pengukuran berulang laju bunyi di udara pada 20oC............................................6
Tabel 2 :pengukuran berulang panjang kertas 25,45 cm.....................................................7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemegang kekuasaan tertinggi dalam ilmu pengetahuan alam adalah
eksperimen, bukan “apa yang ada dalam buku”. Dalam eksperimen kita harus
melakukan pengukuran, karena itu pengukuran sangat penting dalam fisika.
Dalam pengukuran kita mengenal “Nilai” dan “Satuan”.
”Nilai” adalah besar dari besaran yang dinyatakan dalam satuan tertentu,
selain itu pengukuran memerlukan suatu sistem “satuan” agar hasil eksperimen
yang telah dilakukan di suatu tempat dapat diuji secara langsung oleh peneliti di
tempat lain dengan titik tolak penggunaan perangkat satuan yang sama
Dalam eksperimen, saat melakukan pengukuran tentunya kita menggunakan
berbagai macam alat ukur seperti penggaris, jangka sorong dan mikrometer
sekrup untuk menggukur panjang dan lebar suatu objek. Setiap alat ukur memiliki
skala dan ketelitian tertentu, karena itu di perlukan cara penulisan yang sesuai
untuk melaporkan nilai dari hasil pengukuran. Nilai ini disebut dengan angka
penting atau angka berarti dalam pengukuran.
Selain ketelitian, ketepatan dan kepekaan alat ukur juga sangat mempegaruhi
hasil pengukuran, karena itu diperlukan metode untuk memperkirakan atau
memperhitungkan seberapa besar kesalahan hasil pengukuran yang dapat terjadi
saat menggunakan alat ukur tertentu agar ketelitian dari hasil yang didapat
sangatlah tepat.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan tentang pengertian pengukuran.
2. Menjelaskan tentang ketepatan pengukuran dan kesalahan.
3. Menjelaskan tentang ketelitian pengukuran dan hubungannya dengan
ketepatan.
4. Menjelaskan tentang angka berarti.
5. Menjelaskan tentang kepekaan alat ukur.
C. Tujuan Makalah
1. Memahami tentang pengertian pengukuran.
2. Memahami tentang ketepatan pengukuran dan kesalahan.
3. Memahami tentang ketelitian pengukuran dan hubungannya dengan
ketepatan.
4. Memahami tentang angka berarti.
5. Memahami tentang kepekaan alat ukur.

D. Manfaat Makalah
1. Dapat memberi pengetahuan bagi penulis dan teman-teman yang lain
tentang Pengukuran dan Kesalahan.
2. Menjadi salah satu sumber informasi atau bahan ajar tentang Pengukuran
dan kesalahan.
3. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Alat Ukur dan Metoda Pengukuran
dalam Fisika.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengukuran
Pengukuran yaitu segala cara yang dilakukan untuk menentukan ukuran atau
kapasitas suatu besaran dengan cara membandingkannya dengan besaran lain
yang sejenis yang digunakan sebagai satuan. Contohnya panjang pena
dibandingkan dengan panjang meja, berapa pena yang dibutuhkan agar
panjangnya sama dengan panjang meja?
Setiap pengukuran selalu disertai oleh ketidakpastian, berikut ini beberapa
sumber ketidakpastian dalam pengukuran:
1. Ketidakpastian Skala Alat (Scale Uncertainty), Ketidakpastian skala adalah
batas ketelitian pengukuran yang dibatasi oleh alat ukur.
2. Kesalahan nol, sebelum digunakan penunjukan alat tidak pada skala nol.
Sebagian besar alat sudah dilengkapi dengan sekrup pengatur.
3. Ketidakpastian Aproksimasi (Approximation Uncertainties), dimana persisnya
posisi pusat massa? Seberapa teliti bisa ditentukan? Panjang juga akan
berbeda bila diukur pada keadaan vertikal dengan keadaan horizontal.
4. Masalah Defenisi, apa yang dimaksud oleh suatu pengukuran? Ukur “panjang
papan”. Dimana harus diukur? Disisi kiri, kanan, tengah atau dimana?
5. Ketidakpastian Random (Random Uncertainties), ketidakpastian yang berasal
dari pengaruh yang tidak dapat diprediksi dan dikontrol. Seperti: fluktuasi
pada besaran listrik, getaran landasan, radiasi latar belakang, gerak acak
molekul udara.
6. Ketidakpastian Pengamatan (Paralax), merupakan ketidakpastian pengukuran
yang bersumber dari kekurangterampilan manusia saat melakukan kegiatan
pengukuran. Misanya: metode pembacaan skala tidak tegak lurus atau
paralaks.
B. Menyatakan Ketidakpastian Pengukuran
Ketidakpastian Pengukuran Tunggal
Ketidakpastian pengukuran tunggal dinyatakan dengan setengah nilai skala
terkecil (NST)

Gambar 1 :mengukur panjang logam dengan penggaris

Angka pasti: 2,7 cm


Angka pasti +1 angka tebakan: 2,74 cm
NST alat ukur: 1mm = 0.1 cm
1
/2 NST alat ukur: 0,5 mm atau 0,05 cm.
Hasil pengukuran dinyatakan sebagai: 2,74 ± 0,05 cm

Pengukuran berulang
Langkang-langkah melaporkan hasil pengkuran berulang:
1. Hitung nilai terukur diperoleh dari rata-rata data pengukuran

2. Hitung range data.


Range = Nilai Terbesar – Nilai Terkecil
3. Hitung ketakpastian dalam nilai rata-ratanya.

4. Nyatakan nilai rata-rata dan ketakpastian itu ke jumlah angka yang sesuai.
5. Cantumkan besaran tersebut.
Tabel 1 :pengukuran berulang laju bunyi di udara pada 20oC

Nilai rata-rata data = 341,775 m/s


Range= 345,5 -338,5 = 7
Ketakpastian = 7/8 = 0,875
Lajubunyi (pada 20oC) = (341,775 ±0,875) m/s ??

Ketakpastian berfungsi untuk menguantisasi range yang mungkin bagi


terdapatnya nilai suatu besaran berdasarkan alat ukur yang digunakan. Dari Tabel
tampak bahwa nilai-nilai yang tercatat itu memiliki satu angka di belakang koma.
Itu berarti, tingkat ketelitian alat ukur yang digunakan adalah hingga “satu angka
di belakang koma”. Tidak masuk akal bila hasil akhirnya ditulis dalam bentuk
“lebih dari satu angka di belakang koma”. Di sinilah pentingnya dipahami
pengertian angka penting (significant figure). Kalau begitu, nilai rata-rata dan
ketakpastiannya harus dinyatakan dalam bentuk “satu angka di belakang koma”.
Nilai 341,775 ditulis mejadi 341,8 dan 0,875 menjadi 0,9. Jadi, penulisan hasil
akhir yang benar adalah:
Laju bunyi = (341,8 ±0,9) m/s

C. Ketepatan / akurasi (accuracy)

Gambar 2 :perbedaan skala penggaris


 Akurasi menyatakan seberapa dekat hasil pengukuran dengan nilai benar
(accepted value)-nya.
 Diperiksa dengan metode /alat yang berbeda.
 Akurasi yang rendah berasal dari kesalahan prosedur atau alat.

D. Ketelitian /Presisi (Precision)

Tabel 2 :pengukuran berulang panjang kertas 25,45 cm

 Ketelitian menyatakan tingkat keyakinan terhadap hasil pengukuran.


 Diperksa dengan pengukuran berulang.
 Pengkuran “presisi tinggi” maka hasil pengukuran berulang berada pada
rentang nilai yang sempit.
 Ketelitian yang rendah berasal dari teknik pengukuran yang tidak baik.
Gambar 3 :ketelitian pengamatan dalam pengukuran

E. Angka Berarti /Angka Penting

Gambar 4 :mengukur dengan penggaris

Pada gambar 4. Panjang logam tersebut pasti melebihi 2,7 cm dan kurang dari
2,8 cm. Kalau kita mengikuti aturan penulisan hasil pengukuran hingga setengah
skala terkecil, panjang logam dapat dituliskan 2,75 cm. Angka terakhir (angka 5)
merupakan angka taksiran, karena terbacanya angka tersebut hanyalah dari hasil
menaksir atau memperkirakan saja. Berarti hasil pengukuran 2,75 cm terdiri dari
dua angka pasti, yaitu angka 2 dan 7, dan satu angka taksiran yaitu angka 5.
Seandainya tepi logam berada tepat pada garis 2,7 cm, maka hasil pengukuran
harus ditulis 2,70 cm bukan 2,7 cm. Penulisan angka nol pada 2,70 cm
menunjukkan bahwa :
• hasil pengukurannya tidak kurang dan tidak lebih dari 2,7 cm.
• angka 7 masih merupakan angka pasti.
Bila hanya ditulis 2,7 cm, maka angka 7 merupakan angka taksiran. Karena
memberikan informasi atau makna tertentu, maka angka nol pada 2,70 termasuk
angka penting.
Untuk mengidentifikasi apakah suatu angka tertentu termasuk angka penting
atau bukan, dapat diikuti beberapa aturan berikut :
a. Semua angka bukan nol termasuk angka penting,
Contoh: 2,45 memiliki 3 angka penting.
b. Semua angka nol yang tertulis setelah titik desimal termasuk angka
penting,
Contoh: 2,50 memiliki 3 angka penting
16,00 memiliki 4 angka penting.
c. Angka nol yang tertulis di antara angka-angka penting (angka-angka
bukan nol), juga termasuk angka penting
Contoh: 207 memiliki 3 angka penting
10,50 memiliki 4 angka penting
d. Angka nol yang tertulis sebelum angka bukan nol dan hanya berfungsi
sebagai penunjuk titik desimal, tidak termasuk angka penting,
Contoh: 0,5 memiliki 1 angka penting
0,0860 memiliki 3 angka penting

Operasi Angka Penting


a. Penjumlahan angka penting
Bila angka-angka penting dijumlahkan atau dikurangkan, maka hasil
penjumlahan atau pengurangan tersebut memiliki ketelitian sama dengan
ketelitian angka yang dijumlahkan atau dikurangkan, yang paling tidak teliti.

Ditulis :10,3
b. Perkalian dan Pembagian
Bila beberapa hasil pengukuran yang jumlah angka pentingnya tidak sama
dibagi atau dikalikan, maka jumlah angka penting hasil operasi perkalian atau
pembagian paling banyak sama dengan jumlah angka penting terkecil dari
bilangan-bilangan yang dioperasikan.
3,22 cm x 2,1 cm = 6,762 cm2
3,22 cm x 2,1 cm = 6,762 cm2 ditulis 6,8 cm2

Jumlah angka penting dalam penulisan hasil pengukuran dapat dijadikan


indikator tingkat ketelitian pengukuran yang dilakukan. Semakin banyak angka
penting yang dituliskan, berarti pengukuran yang dilakukan semakin teliti.
Berikut beberapa contoh penulisan hasil pengukuran dengan memperhatikan
angka penting:
a. Satu angka penting :2; 0,1; 0,003; 0,01 x 10-2
b. Dua angka penting :1,6; 1,0; 0,010; 0,10 x 102
c. Tiga angka penting :101; 1,25; 0,0623; 3,02 x 104
d. Empat angka penting :1,000; 0,1020; 1,001 x 108

F. Kepekaan Alat Ukur / Sensitivitas (Sebsitifity)


Sensitifitas adalah rasio antara perubahan pada output terhadap perubahan
pada input. Pada alat ukur yang linier, sensitivitas adalah tetap. Dalam beberapa
hal harga sensitivitas yang besar menyatakan pula keunggulan dari alat ukur yang
bersangkutan. Alat ukur yang terlalu sensitif adalah sangat mahal, sementara
belum tentu bermanfaat untuk maksud yang kita inginkan.

Kepekaan (sensitivitas) menyatakan berapa besarnya harga pengukuran untuk


setiap satuan harga sinyal input. Sinyal input yang paling kecil yang memberikan
sinyal output dan dapat diukur dinamakan sensitivitas alat ukur.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam setiap eksperimen dalam Ilmu Pengetahuan Alam terutama Fisika
selalu ada yang namanya pengukuran. Pengukuran dapat dilakukan dengan
berbagai peralatan tergantung satuan yang akan diukur. Setiap alat ukur memiliki
skala dan ketelitian tertentu, dan dalam setiap pengukuran selalu disertai oleh
ketidakpastian.

B. Saran
Bagi pembaca disarankan supaya makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan
referensi dan sumber bahan ajar mengenai Pengukuran dan kesalahan. Bagi
penulis lainnya diharapkan agar makalah ini dapat dikembangkan lebih lanjut
guna menyempurnakan makalah yang telah dibuat sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Afdal, Bab 1 Besaran, Satuan, Dan Pengukuran, Padang: Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Andalas, 2016.