Anda di halaman 1dari 32

PENDIDIKAN PANCASILA

A.Pendidikan Pancasila

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat.

Sedangkan Pancasila Secara etimologi istilah Pancasila berasal dari bahasa


Sansekerta yang memiliki arti Panca artinya lima Syila artinya batu sendi,
alas/dasar Syiila artinya peraturan tingkah laku yang baik Pancasila adalah dasar
filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945 and tercantum dalam Pembukaan UUD 1945,
diundangkan dalam Berita Republik Indonesia Tahun. II No. 7 tanggal 15
Februari 1946 bersama-sama dengan Batang Tubuh UUD 1945.

Jadi pendidikan pancasila sendiri merupakan sekumpulan materi didikan dan


pengenalan akan pancasila sebagai dasar negara, dan untuk menanamkan ideologi
pancasila itu sendiri kepada anak didik.

B.Latar Belakang Pendidikan Pancasila Di Perguruan Tinggi

Tahun 1945 – 2004 negara Indonesia menuju demokrasi. Pemilu belum luber,
masih menggunakan wakil rakyat ( DPR ). Tahun 1994 oleh AS baru
memasukkan Civic Education dalam pendidikan. Dewan erpa merespon dan
memprakarsai untuk mengembangkan kurikulum pendidikan kewarganegaraan.
Kecenderungan pembangunan kurikulum pendidikan di Eropa mempengaruhi
sikap Negara – Negara di Asia, mislanya jepang, Indonesia. Era goalisasi di
tingkat local maupun regional, pengembangan pendidikan Kewarganegaraan
menjadi tuntutan jaman. Generasi muda mengatakan “Bela Negara hanya menjadi
kewajiban para aparat Negara”. Kemudian muncul penelitian penelitian dari
berbagai Negara di Dunia, yaitu :

Perlunya melakukan kajian ulang terhadap prinsip – prinsip dan tujuan pendidikan
di Indonesia. UUD 1945 : 27( WNI wajib membela Negara)

Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang beragam tentang prakte


operasionalisasi pendidikan di berbagai Negara.

Pendidikan kewarganegaraan di Australia meliputi 3 mapel yaitu Sosiologi,


Geografi, dan Sejarah. Di hongkong pendidikan kewraganegaraan merupakan

1
mata pelajaran pilihan melalui pelajaran eksra kurikuler, papan display, dan
diskusi – diskusi tingkat sekolahan.

Di Jepang pendidikan Kewarganegaraan diberikan melalui pendidikan moral,


agama, serta ilmu social, ketiga maple tersebut merupakan mapel wajib.

Di Taiwan mapel wajibnya yaitu ; sejarah, politik, bidang studi ekonomi,


sosiologi, kewarganegaraan. Di Indonesia menggunakan separate approach
( berdiri sendiri ) melalui mapel khusus yaitu ; Pkn, Mata kuliah dasar khusus
untuk Perguruan Tinggi ( Pancasila dan kewiraan, penataran P4 ). Mata kuliah
tersebut gagal karena terlalu normative, materi cenderung militeristik, dan
pendidikan tak demokratis.

Beberapa kegagalan di atas memberikan gambaran bahwa perubahan paradigm


dalam civic education yang dikembangkan di lembaga pendidikanPerubahan
dalam paradigm materi diarahkan secara sistematis pada pengembangan wacana
demokrasi yang berkembang, sednagkan perubahan paradigm metodologis di
arahkan untuk mengembangkan daya nalar anak didik secara kritis dalam kelas –
kelas yang partisipatif sehingga mereka benar benar dapat mengalami demokrasi
dalam pembelajaran mereka.

Latar belakang di atas member pengertian akan pentingnya civic education di


Indonesia atas pertimbangan lemahnya nilai – nilai good citizen pada masyarakat
yang sedang mengalami transformasi dan nilai – nilai otoritarianisme ke nilai nilai
demokrasi.

Dengan demikian perlu civic education sebagai salah satu jalan terbaik mengubah
mentalitas masyarakat Indonesia agar menjadi warga Negara yang partisipatif di
negerinya sendiri.

Salah satu peluang dalam mengembangkan civic education di Indonesia adalah


melalui lembaga perguruan tinggi,Perguruan tinggi memiliki akses yang kuat
dengan masyarakat, akrena kepercayaan masyarakat bahwa perguruan tinggi
merupakan wadah bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang di aplikasikan
melalui Tri Dharama Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan
pengabdian pada masyarakat.Di samping itu perguruan tinggi juga memiliki
aksesa yang kuat untuk melibatkan elemen – elemen bangsa yang lain, seperti
LSM.Semangat dan jiwa yang tertuang dalam pembukaan dan batang tubuh UUD
1945 (antara lain pasal 30), serta pengalaman perjuangan bangsa Indonesia untuk
menjamin tetap tegaknya NKRI selama lebih dari setengah abad telah
menumbuhkan tekad dan keyakinan bangsa Indonesia serta merupakan suatu hal
yang tak terelakan, bahwa kelangsungan hidup bangsa dan Negara Indonesia.

2
Semangat demikian inilah yang tersirat dalam pasal 30 UUD 1945 yang
menegaskan bahwa “ Tiap-tiap warganegara Indonesia berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pembelaan Negara”. Rumusan pasal 30 UUD 1945 ini
mengandung makna adanya semangat semangat “demakratisasi” dalam
penyelenggaraan pembelaan Negara.

Dekratisasi dalam bidang aspek-aspek kehidupan bangsa, mempersyaratkan


tiap-tiap warganegara memiliki kesadaran akan hak dan kewajibannya itu. Namun
demikian disadari bahwa kesadaran warganegara terhadap hak dan kewajibannya
itu tidak dibawa sejak lahir, tetapi harus ditanamkan, ditumbuhkan serta
dikembangkan yaitu melalui upaya sosialisasi.

Sosialisasi adalah upaya memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada


seseorang agar ia dapat melaksanakan peranannya dalam kehidupan social
tertentu. Upaya sosialisasi yang terbaik adalah melalui pendidikan. Berdasarkan
pada pemikiran demikian itu, pendidikan kewiraan sebagai upaya untuk
menumbuh kembangkan kesadaran hak dan kewajiban warganegara dalam bela
Negara dimasukan dalam kurikulum pendidikan tinggi.

Dalam era reformasi, berturut-turut dengan keputusan Mendiknas


No.232/U/2000, Kep Dirjen Dikti No.38/Dikti/Kep/2002, ditentukan bahwa nama
mata kuliah Pendidikan kewiraan secara formal tidak lagi digunakan, istilah yang
digunakan Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam komponen kurikulum
Pendidikan tinggi. Pendidikan kewarganegaraan bersama-sama pendidikan
pancasila dan pendidikan Agama merupakan Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian (MPK).

C. Landasan Pendidikan Pancasila

Suatu bangsa memiliki ideologi dan pandangan hidup sendiri yang diambil dari
nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam bangsa itu sendiri. Bangsa
Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang sejak zaman
kerajaan Kutai, Sriwijaya, Majapahit sampai datangnya bangsa lain yang menjajah
serta menguasai bangsa Indonesia. Setelah melalui proses yang cukup panjang
dalam perjalanan sejarah, bangsa Indonesia menemukan jati dirinya, yang oleh
para pendiri Negara kita dirumuskan dalam suatu rumusan, yang meliputi lima
prinsip yang kemudian diberi nama Pancasila.

Bangsa Indonesia harus memiliki visi serta pandangan hidup yang kuat agar tidak
terombang-ambing di tengah-tengah masyarakat internasional. Bangsa Indonesia
harus memiliki nasionalisme serta rasa kebangsaan yang kuat. Hal ini dapat

3
terlaksana bukan melalui suatu kekuasaan atau hegemoni ideologi melainkan
suatu kesadaran berbangsa yang berakar pada sejarah bangsa.

Oleh karena itu secara historis bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap
sila Pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar Negara Indonesia
secara obyektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Makanya asal
mula nilai-nilai Pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri.
Oleh karena itu berdasarkan fakta obyektif secara historic kehidupan bangsa
Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai Pancasila. Setelah itu melalui
proses sejarah yang cukup panjang, nilai-nilai Pancasila itu telah melalui
pematangan, sehingga tokoh-tokoh bangsa Indonesia saat akan mendirikan
Negara Republik Indonesia menjadikan Pancasila sebagai dasar Negara.

Dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia telah terjadi perubahan dan pergantian


Undang-Undang Dasar, seperti UUD’45 digantikan kedudukannya oleh
Konstitusi RIS, kemudian berubah menjadi UUD Sementara tahun 1950 dan
kembali lagi menjadi UUD 1945. Dalam pembukaan ketiga Undang-Undang
Dasar itu tetap tercantum nilai-nilai Pancasila. Hal ini menunjukkan bahwa
Pancasila telah disepakati sebagai nilai yang dianggap paling tinggi
keberadaannya. Oleh sebab itu secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak
dapat dilepaskan dengan nilai-nilai Pancasila.

Setiap bangsa di dunia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara


senantiasa memiliki suatu pandangan hidup, filsafat hidup serta pegangan hidup
agar tidak terombang-ambing dalam kancah pergaulan masyarakat internasional.
Pandangan hidup bagi suatu bangsa adalah bangsa yang tidak memiliki
kepribadian dan jati diri, sehingga bangsa itu mudah terombang-ambing dari
pergaulan, dari pengaruh yang berkembang di luar.

Kemudian Pancasila sebagai kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia


merupakan pencerminan nilai-nilai yang telah lama tumbuh dalam kehidupan
bangsa Indonesia. Sebagai hasil pemikiran dari tokoh-tokoh bangsa Indonesia
yang digali dari budaya bangsa sendiri, Pancasila tidak mengandung nilai-nilai
yang kaku dan tertutup. Pancasila mengandung nilai-nilai yang terbuka bagi
masuknya nilai-nilai baru yang positif. Dengan demikian generasi penerus bangsa
dapat memperkaya nilai-nilai pancasila dengan perkembangan zaman. Sehingga
dari pemikiran tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Pancasila memiliki landasan
cultural yang kuat bagi bangsa Indonesia.

Landasan yuridis pendidikan Pancasila dapat dideskripsikan sebagai berikut:

4
Dalam peraturan pemerintah No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan tinggi pasal
13 (ayat 2) ditetapkan bahwa kurikulum yang berlaku secara nasional diatur oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Perkuliahan Pendidikan Pancasila diatur
dalam Surat Keputusan Dirjen Pendidikan tinggi Departemen Pendidikan
Nasional No. 467/DIKTI/1999, yang merupakan penyempurnaan Keputusan
Dirjen Dikti No. 356/DIKTI/1995.

Dalam SK Dirjen Dikti No. 467/DIKTI/1999 dijelaskan antara lain, (pasal 3)


bahwa Pendidikan Pancasila dirancang untuk memberikan pengertian kepada
mahasiswa tentang Pancasila sebagai filsafat/tata nilai bangsa, sebagai Dasar
Negara dan Ideologi Nasional dengan segala implikasinya. Sebelum dikeluarkan
PP No. 60 tahun 1999, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 30
tahun 1990 menetapkan status Pendidikan Pancasila dalam kurikulum Pendidikan
Tinggi, sebagai mana kuliah wajib untuk setiap program studi dan bersifat
nasional. Silabus Pendidikan Pancasila semenjak tahun 1983 sampai tahun 1999,
banyak mengalami perubahan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang
berlaku dalam masyarakat, bangsa dan Negara yang berlangsung serta sangat
pesat disertai dengan pola kehidupan masyarakat.

Selanjutnya Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi, didasarkan pada SK


Dirjen Dikti Depdiknas No. 265/DIKTI/KEP/2000 tentang penyempurnaan
Kurikulum Inti Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Pancasila
pada Perguruan Tinggi di Indonesia, yang kemudian diganti oleh SK Dirjen Dikti
Depdiknas No. 38/DIKTI/KEP/2002 tanggal 18 Juli 2002 tentang rambu-rambu
Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, yang
merupakan penjabaran dari SK Mendiknas No. 232 N/2000 dan ditopang oleh SK
Mendiknas No. 045 N/2002 tentang kurikulum inti pendidikan tinggi.

Notonagaro menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar Negara mempunyai


kebenaran ilmiah, filosofis dan religious.Kebenaran Pancasila secara filosofis
karena nilai-nilai Pancasila bersumber dari kodrat manusia. Nilai ketuhanan
bersumber dari kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan dan makhluk
pribadi. Sedangkan nilai kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, (demokrasi) dan
keadilan merupakan sesuatu yang didambakan oleh setiap manusia.

Pancasila dikatakan sebagai dasar filsafat Negara dan pandangan filosofis bangsa
Indonesia, oleh karena itu sudah merupakan suatu keharusan moral untuk secara
konsisten merealisasikannya dalam setiap aspek penyelenggaraan negara yang
harus bersumber pada nilai-nilai Pancasila. Dalam menghadapi tantangan
kehidupan bangsa memasuki globalisasi, bangsa Indonesia harus tetap memiliki
nilai-nilai yaitu Pancasila sebagai sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan
yang menjiwai pembangunan nasional. Kurangnya keteladanan dari

5
penyelenggara negara dalam bidang moral, juga menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan pendidikan kurang berhasil membentuk generasi muda menjadi
pribadi yang mulia.

Secara filosofis dan objektif, nilai-nilai yang dituang dalam sila-sila Pancasila
merupakan filosofis bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara Republik
Indonesia. Menurut pendirinya negara Indonesia, dimana bangsa Indonesia adalah
bangsa yang berketuhanan, bangsa berkemanusiaan yang adil dan beradab, dan
bangsa yang selalu berusaha mempertahankan persatuan bagi seluruh rakyat untuk
mewujudkan keadilan. Oleh karena itu sudah merupakan kewajiban moral untuk
merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan
bernegara.

D.Tujuan Pendidikan Pancasila

Melalui forum sidang BPUPKI dan PKI tahun 1945, oleh para pendiri negara
(The Founding Fathers) RI, diinginkan agar pancasila dapat menjadi “dasar yang
kekal dan abadi”, filosofisehe, gronslog, pengatur, pengisi, dan pengaruh
hubungan hidup kita terhadap pribadi sendiri, terhadap sesama bangsa,terhadap
pemilikan materil, terhadap alam semesta dan akhirnya terhadap Tuhan Yang
Maha Esa. Meskipun era reformasi sekarang ini, gugatan terhadap Pancasila
sedang ramai diperdebatkan dan dalam sidang istimewa tanggal 13 Desember
1998, MPR telah mengeluarkan TAP MPR/NO. II/MPR/1978 tentang P-4, namun
kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara dan ideologi negara disepakati oleh
anak bangsa untuk tetap dipertahankan, malahan mengusulkan agar reformasi itu
diorintasikan pada upaya pengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam
berbagai bidang kehidupan.

Sebagai konsekwensi lebih jauh ialah “Pendidikan Pancasila” di Perguruan Tinggi


di Indonesia masih terus dilaksanakan, namun sangat perlu dilakukan revisi dan
penyempurnaan baik metode maupun substansinya. Salah satu metode pengajaran
Pancasila di Perguruan tinggi ialah “metode saintifik” atau “metode filosofis”,
yang menempatkan kebebasan berfikir sebagai dasar utama bagi setiap dosen atau
mahasiswa yang hendak memahami Pancasila. Metode saintifik itu tentu harus
mengutanakan nilai objektif, sistematik, metodologis, rasional, empirik, dan
terbuka.

Sehubungan dengan itu maka tujuan dari pengajaran Pancasila di kelas adalah
untuk membangkitkan “daya kritis” mahasiswa atau dosen dalam rangka untuk
mencapai kebenaran dan kebaikan yang terdalam. Maksudnya disini adalah
pengajaran tidak boleh melakukan manipulasi terhadap nilai kebaikan.
Tafsir-tafsir terhadap Pancasila dan UU 1945 harus bersifat argumentative , yang

6
mengutamakan logika murni dan dasar-dasar verifikasi. Pengajaran Pendidikan
Pancasila di Perguruan Tinggi hendaknya dibawa menjadi “pendidikan dan
pengajaran Pancasila konsteksual”, yaitu menjadikan Pancasila berada dalam
kondisi riil dan fenomena faktual dalam kehidupan politik, ekonomi, hukum dan
sosial budaya. Artinya Pendidikan Pancasila dikaitkan/dihubungkan dengan
masalah-masalah yang aktual di masyarakat, negara, dan bangsa, lalu
dikaji/dianalisis melalui analisis mahasiswa itu sendiri. Dengan demikian dapat
membangkitkan daya kritis mahasiswa dalam rangka mencapai kebenaran dan
kebaikan yang terdalam Pancasila haruslah menjadi “lembaga kritis” terhadap
segala kehidupan negara dan bangsa ini secara emansipatoris.

Pendidikan Pancasila di era reformasi sekarang ini memang memerlukan


penyesuaian atau penyempurnaan yang mendasar, agar nilai dan substansi
pendidikan Pancasila, sesuai dengan tujuan reformasi total. Di era reformasi ini
sebaiknya segala sesuatu yang bertalian dengan kehidupan berbangsa dan
bernegara haruslah dikembalikan ke kawasan “kedaulatan rakyat”.

Reformasi moral dan akhlak harus di tempatkan di depan, dalam masyarakat


Indonesia. Pemahaman moral dan akhlak sebagai dasar sistem politik, ekomoni,
hukum dan sosial budaya hendaknya dilandasi oleh pemahaman tentang
pendekatan filsafat (ontology, pistemologi, dan aksiologi). Haruslah
dikembangkan keyakinan dan penghargaan terhadap nilai-nilai Ketuhanan Yang
Maha Esa dan Kemanusiaan. Tanpa adanya tumpuan moral dan akhlak yang baik
takkan dapat dibangun masyarakat madani yang religius dan yang disiplin.

E.Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa

Pancasila sebagai pandangan hidup sering juga disebut way of life, pegangan
hidup, pedoman hidup, pandangan dunia atau petunjuk hidup. Walaupun ada
banyak istilah mengenai pengertian pandangan hidup tetapi pada dasarnya
memiliki makna yang sama. Lebih lanjut Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa dipergunakan sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari – hari masyarakat
Indonesia baik dari segi sikap maupun prilaku haruslah selalu dijiwai oleh nilai –
nilai luhur pancasila.

Hal ini sangat penting karena dengan menerapkan nilai – nilai luhur pancasila
dalam kehidupan sehari-hari maka tata kehidupan yang harmonis diantara
masyarakat Indonesia dapat terwujud. Untuk dapat mewujudkan semua itu maka
masyarakat Indonesia tidak bisa hidup sendiri, mereka harus tetap mengadakan
hubungan dengan masyarakat lain. Dengan begitu masing – masing pandangan
hidup dapat beradaftasi artinya pandangan hidup perorangan / individu dapat

7
beradaptasi dengan pandangan hidup kelompok karena pada dasarnya pancasila
mengakui adanya kehidupan individu maupun kehidupan kelompok.

Selain sebagai dasar Negara, Pancasila juga merupakan pandangan hidup bangsa
Indonesia. Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila berarti konsepsi
dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani hidup. Dalam konsepsi dasar itu
terkandung gagasan dan pikiran tentang kehidupan yang dianggap baik dan benar
bagi bangsa Indonesia yang bersifat majemuk.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sebenarnya merupakan perwujudan


dari nilai-nilai budaya milik bangsa Indonesia sendiri yang diyakini kebaikan dan
kebenarannya. Pancasila digali dari budaya bangsa sendiri yang sudah ada,
tumbuh, dan berkembang berabad-abad lamanya. Oleh karna itu, Pancasila adalah
khas milik bangsa Indonesia sejak keberadaannya sebagai sebuah bangsa.
Pancasila merangkum nilai-nilai yang sama yang terkandung dalam adat-istiadat,
kebudayaan, dan agama-agama yang ada di Indonesia. Dengan demikian,
Pancasila sebagai pandangan hidup mencerminkan jiwa dan kepribadian bangsa
Indonesia.

Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila juga berperan sebagai pedoman dan
penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Dengan
demikian, ia menjadi sebuah ukuran/kriteria umum yang diterima dan berlaku
untuk semua pihak Secara sederhana, ideologi dipahami sebagai gagasan-gagasan
dan nilai-nilai yang tersusun secara sistematis yang diyakini kebenarannya oleh
suatu masyarakat dan diwujudkan di dalam kehidupan nyata. Nilai-nilai yang
tercermin di dalam pandangan hidup ditempatkan secara sistematis kedalam
seluruh aspek kehidupan yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, budaya
dan pertahanan keamanan didalam upaya mewujudkan cita-citanya. Jadi, dengan
kata lain ideologi berisi pandangan hidup suatu bangsa yang

menyentuh segala segi kehidupan bangsa. Setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh
dan mengetahui dengan jelas kearah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat
membutuhkan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup yang jelas, suatu
bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana mereka memecahkan
masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dalam gerak
masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman pada pandangan hidup sebagai
ideologi, sebuah bangsa akan membangun diri dan negerinya.

F. Pancasila sebagai Dasar Negara

8
Kedudukan pancasila sebagai dasar negara termaktub secara yuridis konstitusional
dalam pembukaan UUD 1945, yang merupakan cita-cita hukum dan norma
hukum yang menguasai hukum dasar negara RI dan dituangkan dalam pasal–pasal
UUD 1945 dan diatur dalam peraturan perundangan.Selain bersifat yuridis
konstitusional, pancasila juga bersifat yuridis ketata negaraan yang artinya
pancasila sebagai dasar negara, pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari
segala sumber hukum. Artinya segala peraturan perundangan secara material
harus berdasar dan bersumber pada pancasila. Apabila ada peraturan (termasuk di
dalamnya UUD 1945) yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur pancasila, maka
sudah sepatutnya peraturan tersebut dicabut.

Nilai–nilai luhur yang terkandung dalam pancasila memiliki sifat obyektif-


subyektif.Sifat subyektif maksudnya pancasila merupakan hasil perenungan dan
pemikiran bangsa Indonesia, sedangkan bersifat obyektif artinya nilai pancasila
sesuai dengan kenyataan dan bersifat universal yang diterima oleh bangsa-bangsa
beradab. Oleh karena memiliki nilai obyektif-universal dan diyakini
kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia maka pancasila selalu dipertahankan
sebagai dasar negara.Jadi berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat
disimpulkan bahwa pancasila sebagai dasar negara memiliki peranan yang sangat
penting dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga cita-cita
para pendiri bangsa Indonesia dapat terwujud.

9
PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA
INDONESIA
A. Pancasila dalam Konteks Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

Nilai–nilai Pancasila telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dulu kala
sebelumbangsa Indonesia mendirikan negara. Proses terbentuknya negara
Indonesia melalui proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman batu
hingga munculnya kerajaankerajaan pada abad keIV sampai pada zaman merebut
kemerdekaan Republik Indonesia.

1. Kerjaan Kutai ( 400 M )

Kerajaan kutai berdiri di Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai mahakam


desa Tenggarang pada abad ke5, atau 400M. Kerajaan kutai merupakan kerajaan
hindu tertua. Rajanya bernama Kudungga yang memiliki anak bernama
Asmawarman, serta memiliki cucu yang bernama Mulawarman. Masyarakat kutai
yang membuka zaman sejarah Indonesia pertama kali menampilkan nilainilai
sosial politik dan ketuhanan dalam bentuk kerajaan, kenduri, serta sedekah kepada
para Brahmana. Zaman kuno sekitar 400 – 1500 terdapatnya dua buah kerajaan
yang berhasil mencapai integrasi dengan wilayah hampir sepatuh Indonesia, dan
seluruh wilayah Indonesia. Kerajaan tersebut adalah kerajaan Sriwijaya di
Sumatra dan Majapahit yang berpusat di Jawa.

2. Kerajaan Sriwijaya ( 650 M )

Abad ke VII munculah suatu kerajaan di Sumatera yaitu kerajaan Sriwijaya yang
dibawah kekuasaan wangsa Syilendra. Kerajaan ini adalah kerajaan maritime
yang mengandalkan kekuatan lautnya seperti selat Sunda, selat Malaka. Dalam
sistim pemerintahannya terdapat pegawai pengurus pajak, harta benda. Pada saat
itu, kerajaan dalam menjalankan system negaranya tidak dapat dilepaskan dengan
nilai ketuhanan.

3. Kerjaan Majapahit ( 1365 M )

10
Pada tahun 1923 berdirilah kerajaan Majapahit yang mencapai zaman
keemasannya pada pemerintahan raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah
Mada yang di bantu oleh Laksamana Nala dalam memimpin armadanya untuk
menguasai nusantara. Wilayah kekuasaan Majapahit semasa jayanya itu
membentang dari semenanjung Melayu (Malaysia sekarang) sampai Irian Barat
melalui Kalimantan Utara.

Pada waktu itu agama Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan damai
dalam satu kerajaan. Empu Prapanca menulis Negarakertagama. Dalam kitab
tersebut telah telah terdapat istilah “Pancasila”. Empu tantular mengarang buku
Sutasoma, dan didalam buku itulah kita jumpai seloka persatuan nasional, yaitu
“Bhineka Tunggal Ika”, yang bunyi lengkapnya “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana
Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda , namun satu jua adanya sebab
tidak ada agama yang memiliki tuhan yang berbeda.

Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gaja Mada dalam sidang ratu
dan menterimenteri di paseban keprabuan Majapahit pada tahun 1331, yang berisi
citacita mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut : “Saya baru akan
berhentui berpuasa makan pelapa, jikalau seluruh nusantara bertakluk di bawah
kekuasaan negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali,
Sunda, Palembang dan Tumasik telah dikalahkan” (Yamin, 1960 : 60).

Dalam tata pemerintahan kerajaan Majapahit terdapat semacam penasehat seperti


Rakryan I Hino , I Sirikan, dan I Halu yang bertugas memberikan nasehat kepada
raja, hal ini sebagai nilainilai musyawarah mufakat yang dilakukan oleh sistem
pemerintahan kerajaan Majapahit

B. Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

1. Kebangkitan Nasional

Dengan kebangkitan dunia timur pada abad XX di panggung politik internasional


tumbuh kesadaran akan kekuatan sendiri, seperti Philipina (1839) yang dipelopori
Joze Rizal, kemenangan Jepang atas Rusia di Tsunia (1905), adapun Indonesia

11
diawali dengan berdirinya Budi Utomo yang dipelopori oleh dr. Wahidin
Sudirohusodo pada 20 Mei 1908. Kemudian berdiri Sarekat Dagang Islam (SDI)
tahun 1909, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Soekarno, Cipto
Mangunkusumo, Sartono dan tokoh lainnya. Sejak itu perjuangan nasional
Indonesia mempunyai tujuan yang jelas yaitu Indonesia merdeka. Perjuangan
nasional diteruskan dengan adanya gerakan Sumpah Pemuda pada tanggal 28
Oktober 1928 yang menyatakan satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air
Indonesia.

2. Penjajahan Jepang
Janji penjajah Belanda tentang Indonesia merdeka hanyalah suatu kebohongan
belaka, sehingga tidak pernah menjadi kenyataan sampai akhir penjajahan
Belanda tanggal 10 Maret 1940. Kemudian penjajah Jepang masuk ke Indonesia
dengan propaganda “Jepang pemimpin Asia, Jepang saudara tua bangsa
Indonesia”. Pada tanggal 29 April 1945 bersamaan dengan ulang tahun Kaisar
Jepang, penjajah Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa
Indonesia, janji ini diberikan karena Jepang terdesak oleh tentara Sekutu. Bangsa
Indonesia diperbolehkan memperjuangkan kemerdekaannya, dan untuk
mendapatkan simpati dan dukungan bangsa Indonesia maka Jepang menganjurkan
untuk membentuk suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki usahausaha
persiapan kemerdekaan Indonesia yaitu Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi Tioosakai. Pada hari
itu juga diumumkan sebagai Ketua (Kaicoo) Dr. KRT. Rajiman Widyodiningrat,
yang kemudian mengusulkan bahwa agenda pada siding BPUPKI adalah
membahas tentang dasar negara.

3. Kronologi Perumusan Pancasila, Naskah Proklamasi dan Pembacaan Teks


Proklamasi

_ Tanggal Peristiwa 29 Mei 1945 Perumusan materi Pancasila oleh Mr. M. Yamin
(sidang I BPUPKI)

12
_ 31 Mei 1945 (sidang I BPUPKI)

_ 1 Juni 1945 (sidang I BPUPKI)

_ 22 Juni 1945 10 16 Juni 1945 (sidang II PUPKI) 16 Agustus 1945 Jam 04.30
Perumusan materi Pancasila oleh Mr. Supomo Ir. Soekarno pertama kali
mengusulkan nama/istilah Pancasila untuk dasar Negara Indonesia. Beliau
mengatakan bahwa nama Pancasila itu atas petunjuk teman kita ahli bahasa.
Piagam Jakarta disusun oleh Panitia Kecil yang terdiri 9 orang yaitu : M.Hatta,
A.Soebardjo, A.A.Maramis, Soekarno, Abdul Kahar Muzakir, Wachid Hasjim,
Abikusno Tjokrosujoso, A.Salim, M. Yamin.

_ Dibentuk Panitia Perancang UUD yang diketuai oleh Soekarno dan


beranggotakan 19 orang yaitu: Soekarno, AA. Maramis, Otto Iskandardinata,
Purbojo, A. Salim, A. Soebardjo, Soepomo, Maria Ulfah Santoso, Wachid
Hasjim, Parada Harahap, J.Latuharary, Susanto Tirtoprodjo, Sartono,

_ Panitia Perancang UUD kemudian membentuk Panitia Kecil Perancang UUD


yang beranggotakan 7 orang yaitu : Soepomo, Wongsonegoro, Soebardjo, AA.
Maramis, RP.Singgih, A.Salim, Sukiman.

_ Dibentuk Panitia Penghalus Bahasa, terdiri dari Soepomo dan Hosein


Djajadiningrat.

_ Perumusan terakhir materi Pancasila disahkan Jam 18.00 Jam 23.30 17 Agustus
1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai bagian dari
Pembukaan UUD 1945.

_ Pengamanan (“penculikan”) Ir. Soekarno dan Drs.Moh. Hatta ke


Rengasdengklok oleh tokohtokoh pemuda dengan tujuan menghindari pengaruh
dan siasat Jepang dan mendesak bangsa Indonesia harus segera merdeka. Tokoh
pemuda terdiri : Sukarni, Winoto Danu Asmoro, Abdulrochman dan Yusuf Kunto.
Rombongan yang terdiri dari Mr. A.Soebardjo, Sudiro dan Yusuf Kunto tiba di
Rengasdengklok dengan tujuan untuk menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh.
Hatta kembali ke Jakarta. Rombongan dari Rengasdengklok tiba di Jakarta

13
langsung menuju rumah Laksamana Maeda di jln. Imam Bonjol no. 1. Di tempat
ini tokohtokoh bangsa Indonesia berkumpul untuk menyusun teks proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Teks versi terakhir proklamasi yang telah diketik
ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs.Moh Hatta.

Pembacaan teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno di Pegangsaan Timur no. 56


(sekarang gedung Pola). Sidang I PPKI tanggal 18 Agustus 1945 menghasilkan
keputusan sebagai berikut :

 mengesahkan berlakunya UUD 1945


 memilih Presiden dan Wakil Presiden
 menetapkan berdirinya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai
badan musyawarah darurat. Pembentukan KNIP dalam masa transisi dari
pemerintah jajahan kepada pemerintah nasional seperti yang diatur dalam
pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945

C.Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Definisi pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu satu kesatuan yang saling
berhubungan untuk satu tujuan tertentu, dan saling berkualifikasi yang tidak
terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi pancasila pada dasarnya satu bagian
atau unitunit yang berkaitan satu sama lain, dan memiliki fungsi serta tugas
masingmasing.

D.Pancasila Sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia

Pancasila pada hakikatnya adalah system nilai (value system) yang merupakan
kristalisasi nilainilai luhur bangsa Indonesia sepanjang sejarah, yang berakar dari
unsureunsur kebudayaan luar yang sesuai sehingga secara keseluruhannya terpadu
menjadi kebudayaan bangsa Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari proses terjadinya
pancasila yaitu melalui suatu proses yang disebut kausa materialism karena nilai-
nilai dalam pancasila sudah ada dan hidup sejak zaman dulu yang tercermin dari
kehidupan sehari haripandangan yang diyakinikebenarannya itu menimbulkan
tekad bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan dalam sikap dan tingkah laku

14
serta perbuatannya. Disisi lain, pandangan itu menjadi motor penggerak bagi
tindakan dan perbuatan dalam mencapai tujuannya

15
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

A. Defenisi Filsafat

Secara Etimologi

Kata falsafah/filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu: philosophia,


philo/philos/philein yang artinya cinta /pencinta/mencintai dan Sophia, yang
berarti kebijakan/ wisdom /kearifan/ hikamah / hakikat kebenaran. Jadi filsafat
artinya cinta akan kebijaksanaan atau hakikat kebenaran.

Beberapa istilah filsafat dalam berbagai bahasa, misalnya “falsafah” dalam bahasa
arab, “philosophie” bahasa belanda, “philosophy” dalam bahasa inggris dan masih
banyak lagi istilah dalam bahasa lain, yang pada hakekatnya semua istilah itu
mempunyai arti yang sama.

Arti Filsafat Menurut Para Ahli

• Harold H. Titus

Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam
yg biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau
pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yg dijunjung tinggi;

• Hasbullah Bakry

Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam
mengenai KeTuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan
pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai
pengetahuan itu.

• Prof. Dr.Mumahamd Yamin

Filsafat ialah pemusatan pikiran, sehingga manusia menemui kepribadiannya


seraya didalam kepribadiannya itu dialaminya kesungguhan.

• Prof. Dr. Ismaun, M.Pd

Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya
secara sungguhsungguh, yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal,
integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki
(pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati).

• Pudjo Sumedi AS., Drs.,M.Ed. & Mustakim, S.Pd.,MM

16
Istilah dari filsafat berasal bahasa Yunani: ”philosophia”. Seiring perkembangan
zaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti:
”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis;
“philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan
“falsafah” dalam bahasa Arab.

• Plato

Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran


yang asli.

• Aristoteles

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung


didalamnya ilmuilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan
estetika.

• Cicero

Filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “ (the mother of all the arts). Ia juga
mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan ).

• Johann Gotlich Fickte

Filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmuilmu , yakni ilmu umum, yg


jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan.
Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran
dari seluruh kenyataan.

• Paul Nartorp

Filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan


pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yg sama, yg memikul
sekaliannya .

• Imanuel Kant

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala
pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan, yakni : Apakah yang
dapat kita kerjakan? (jawabannya metafisika); Apakah yang seharusnya kita
kerjakan (jawabannya Etika ); Sampai dimanakah harapan kita? (jawabannya
Agama ); Apakah yang dinamakan manusia? (jawabannya Antropologi).

• Notonegoro

17
Filsafat menelaah halhal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak,
yang tetap tidak berubah, yang disebut hakikat.

Filsafat Dalam Arti Umum

Dalam arti ini, filsafat digunakan untuk menyebut berbagai petanyaan yang
muncul dalam pikiran manusia tentang bebagai kesulitan yang dihadapinya, serta
berusaha untuk menemukan solusi yang tepat. Misalnya ketika menanyakan:
“siapakah kita?”, ”mengapa kita ada di sini?”, “kemana kita akan berlalu”,
“apakah kebaikan dan kejahatan itu”, “bagaimanakah karakter alam, “apakah ia
memiliki tujuan?”, “bagaimanakah kedudukan manusia di alam ini?”, dan
seterusnya.

Beginilah seorang ahli yang bernama Aristoteles memahami filsafat, ketika ia


menyebutnya sebagai sebuah nama dari ilmu dalam arti yang paling umum.

Sistem Filsafat

Sistem adalah suatu kesatuan bagianbagian yang saling berhubungan, saling


bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Secara keseluruhan merupakan
suatu kesatuan yang utuh. Suatu system filsafat sedikitnya mengajarkan tentang
sumber dan hakikat realitas, falsafat hidup, dan tata nilai (etika),termasuk teori
terjadinya pengetahuan manusia dan logika.

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Silasila Pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan


suatu kesatuan organik. Silasila dalam pancasila saling berkaitan, saling
berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Sila yang satu senantiasa
dikualifikasikan oleh silasila lainnya. Dengan demikian, Pancasila pada
hakikatnya merupakan suatu sistem, dalam pengertian bahwa bagianbagian (sila-
silanya) saling berhubungan secara erat sehingga membentuk suatu struktur yang
menyeluruh. Pancasila sebagai suatu sistem juga dapat dipahami dari pemikiran
dasar yang terkandung dalam Pancasila, yaitu pemikiran tentang manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan dirinya sendiri, dengan
sesama manusia, dengan masyarakat bangsa dan negara.

Kenyataan Pancasila yang demikian ini disebut kenyataan yang obyektif, yaitu
bahwa kenyataan itu ada pada Pancasila sendiri terlepas dari sesuatu yang lain
atau terlepas dari pengetahuan orang. Sehingga Pancasila sebagai suatu sistem
filsafat bersifat khas dan berbeda dengan sistemsistem filsafat yang lain misalnya:
liberalisme, materialisme, komunisme, dan aliran filsafat yang lain.

18
Kesatuan silasila Pancasila pada hakekatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan
yang bersifat formal logis saja, namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis,
dasar epistimologis, serta dasar aksiologis dari sila Pancasila.

a. Dasar Ontologis

Dasar Ontologis Pancasila pada hakekatnya adalah manusia yang memiliki


hakekat mutlak. Subyek pendukung pokokpokok Pancasila adalah manusia, hal
ini dijelaskan sebagai berikut :

“Bahwa yang berkeTuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan
beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah
permusyawaratan/perwakilan, serta yang berkeadilan social adamah manusia
(Notonegoro, 1975:23). Demikian juga jikalau kita pahami dari segi filsafat
Negara, adapun pendukung pokok Negara adalah rakyat, dan unsure rakyat adalah
manusia itu sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat Pancasila bahwa
hakekat dasar ontopologis silasila pancasila adalah manusia. Manusia sebagai
pendukung pokok silasila pancasila secara ontologism memiliki halhal yang
mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani, sifat
kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk social, serta
kedudukan kodrat manusia sebagai pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kedudukan kodrat manusia sebagai
makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan inilah maka secara
hirarkis sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa mendasari dan menjiwai

keempat silasila pancasila lainnya (notonegoro, 197553).

b. Dasar Epistemologis

Dasar epistimologis Pancasila sebagai suatu system filsafat pada

hakekatnya juga merupakan suatu system pengetahuan. Dalam kehidupan

seharihari pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa

Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia,

masyarakat, bangsa dan Negara tentang makna hidup serta sebagai dasar

bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup

dan kehidupan. Pancasila dalam pengertian yang demikian ini telah

menjadi suatu system citacita atau keyakinankeyakinan yang telah

19
menyengkut praksis, karena dijadikan landasan bagi cara hidup manusia

atau suatu kelompok masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan

masyarakat. Hal ini berarti filsafat telah menjelma menjadi ideology

(Abdul Gani, 1998). Sebagai suatu ideology maka panasila memiliki 3

unsur pokok agar dapat menarik loyalitas dari para pendukungnya yaitu :

1. Logos, yaitu rasionalitas atau penalarannya

2. Pathos, yaitu penghayatannya

3. Ethos, yaitu kesusilaannya (Wibisono, 1996:3)

Sebagai suatu system filsafat atau ideology maka pancasila harus memiliki unsur
rasional terutama dalam kedudukannya sebagai suatu system pengetahuan.

c. Dasar Aksiologis

Silasila pancasila sebagai suatu system filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar
aksiologisnya, sehingga nilainilai yang terkandung dalam pancasila pada
hakekatnya juga merupakan satu kesatuan. Pada hakekatnya segala sesuatu itu
bernilai, hanya nilai macam apa saja yang ada serta bagaimana hubungan nilai
tersebut dengan manusia.

Nilainilai pancasila termasuk nilai kerohanian, tetapi nilainilai kerohanian yang


mengakui nilai material dan vital. Dengan demikian nilainilai pancasila tergolong
nilai kerohanian, yang juga mengandung nilainilai lain secara lengkap dan
harmonis, yaitu nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan, atau
estetis, nilai kebaikan atau nilai moral ataupun nilai kesucian yang secara
keseluruhan bersifat sistematik hierarkhis, dimana sila pertama sebagai basisnya
sampai sila kelima sebagai tujuannya (Darmo diharjo).

Pancasila sebagai sistem filsafat yaitu suatu konsep tentang dasar negara yang
terdiri dari lima sila sebagai unsur yang mempunyai fungsi masingmasing dan
satu tujuan yang sama untuk mengatur dan menyelenggarakan kehidupan
bernegara di Indonesia. Filsafat negara kita ialah Pancasila, yang diakui dan
diterima oleh bangsa Indonesia sebagai pandangan hidup. Dengan demikian,
Pancasila harus dijadikan pedoman dalam kelakuan dan pergaulan seharihari.

Sebagaimana telah dirumuskan oleh Presiden Soekarno, Pancasila pada


hakikatnya telah hidup sejak dahulu dalam moral, adat istiadat, dan kebiasaan
masyarakat Indonesia. “Dengan adanya kemerdekaan Indonesia, Pancasila

20
bukanlah lahir, atau baru dijelmakan, tetapi sebenarnya Pancasila itu bangkit
kembali”.

Sebagaimana pandangan hidup bangsa, maka sewajarnyalah asasasas pancasila


disampaikan kepada generasi baru melalui pengajaran dan pendidikan. Pansila
menunjukkan terjadinya proses ilmu pengetahuan, validitas dan hakikat ilmu
pengetahuan (teori ilmu pengetahuan).

Pancasila menjadi daya dinamis yang meresapi seluruh tindakan kita, dan kita
harus merenungkan dan mencerna arti tiaptiap sila dengan berpedoman pada
uraian tokoh nasional, agar kita tidak memiliki tafsiran yang bertentangan.
Dengan pancasila sebagai filsafat negara dan bangsa Indonesia, kita dapat
mencapai tujuan bangsa dan negara kita.

Pancasila sebagai sistem filsafat memberi arah agar kesejahteraan dan


kemakmuran bertolak dari keyakinan manusia yang percaya kepada kebesaran
Tuhan, kesejahteraan yang berlandaskan paham kemanusiaan, kesejahteraan yang
memihak pada kesatuan dan persatuan serta kebersamaan sebagai suatu kesatuan
bangsa yang utuh dan bulat.

Fungsi Pancasila Sebagai Filsafat

Fungsi pancasila sebagai sistem filsafat dalam kehidupan bangsa dan negara

Indonesia seperti berikut :

a. Memberikan jawaban yang mendasar tentang hakikat kehidupan bernegara.

b. Memberikan dan mencari kebenaran yang substansif tentang hakikat negara,


ide negara, dan tujuan negara.

c. Sebagai pedoman yang mendasar bagi warga negara Indonesia dalam bertindak
dan bertingkah laku dalam kehidupan sosial masyarakat

21
PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

Pengertian Etika

Sebagai suatu usaha ilmiah, filsafat dibagi, menjadi beberapa cabang menurut
lingkungan masing-masing. Cabang-cabang itu dibagi menjadi dua kelompok
bahasan pokok yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat pertama berisi
tentang segala sesuatu yang ada sedangkan kelompok kedua membahas
bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada tersebut. Misalnya hakikat
manusia, alam, hakikat realitas sebagai suatu keseluruhan, tentang pengetahuan,
tentang apa yang kita ketahui dan tentang yang transenden.

Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi. dua kelompok yaitu
etika umum dan etika khusus. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan
mendasar tentang ajaran-ajaran danpandangan-pandangan moral. itu dalam
hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia (Suseno, 1987). Etika
adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita
mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita  harus menggambil
sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno,
1987). Etika umum merupakan prinsip- prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan
manusia sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip Etika khusus dibagi
menjadi etika individu yang membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri
dan etika sosial yang membahas tentang kewajiban manusia terhadap manusia lain
dalam hidup masyarakat, yang merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus.

Etika berkaitan dengan berbagai masalah nilai karena etika pada pada umumnya
membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai "susila" dan
"tidak susila", "baik" dan "buruk". Kualitas-kualitas ini dinamakan kebajikan yang
dilawankan dengan kejahatan yang berarti sifat-sifat yang menunjukan bahwa
orang yang memilikinya dikatakan orang yang tidak susila. Sebenarnya etika
banyak bertangkutan dengan Prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan
dengan, tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986). Dapat juga dikatakan bahwa etika
berkaitan dengan dasar-dasar filosofis dalam hubungan dengan tingkah laku
manusia.

Etika adalah kelompok filsafat praktis (filsafat yang membahas bagaimana


manusia bersikap terhadap apa yang ada) dan dibagi menjadi dua kelompok. Etika
merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan
pandangan-pandangan moral. Etika adalah ilmu yang membahas tentang
bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran tertentu atau bagaimana kita
bersikap dan bertanggung jawab dengan berbagai ajaran moral. Kedua kelompok
etika itu adalah sebagai berikut :

22
1.Etika Umum, mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap
tindakan manusia.

2.Etika Khusus, membahas prinsip-prinsip tersebut di atas dalam hubungannya


dengan berbagai aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu (etikaindividual)
maupun mahluk sosial (etikasosial).

Pengertian Nilai,  Norma, dan Moral

Pengertian Nilai

Nilai  (value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda
untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik
minat seseorang atau kelompok. Jadi nilai itu pada hakikatnya adalah sifat dan
kualitas yang melekat pada suatu obyeknya. Dengan demikian,maka nilai itu
adalah suatu kenyataan yang tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan lainnya.

Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan


sesuatu dengan sesuatu yang lain kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan.
Keputusan itu adalah suatu nilai yang dapat menyatakan berguna atau tidak
berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik, dan seterusnya. Penilaian itu
pastilah berhubungan dengan unsur indrawi manusia sebagai subjek penilai, yaitu
unsur jasmani, rohani, akal, rasa, karsa dan kepercayaan.

Nilai atau “value” (bahas Inggris) termasuk bidang kajian filsafat, persoalan-
persoalan tentang nilai dibahas dan dipelajari salah satu cabang filsafat yaitu
filsafat nilai (Axiology, theory of value). Filsafat sering juga diartikan sebagai
ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai di dalam bidang filsafat dipakai untuk
menunjuk kata benda abstrak yang artinya “kebiasaan” (wath) atau kebaikan
(goodness) dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tentu dalam
menilai atau melakukan penilaian (Frankena, 229)

Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin dan
menyadarkan manusia akan harkat, martabatnya. Nilai bersumber pada budi yang
berfungsi mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai
suatu sistem (sistem nilai) merupakan salah satu wujud kebudayaan, disamping
sistem sosial dan karya. Cita-cita, gagasan, konsep dan ide tentang sesuatu adalah
wujud kebudayaan sebagai sistem nilai.

Oleh karena itu, nilai dapat dihayati atau dipersepsikan dalam konteks
kebudayaan, atau sebagai wujud kebudayaan yang abstrak. Manusia dalam
memilih nilai-nilai menempuh berbagai cara yang dapat dibedakan menurut
tujuannya, pertimbangannya, penalarannya, dan kenyataannya. Nilai sosial

23
berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan menekankan pada segi-segi
kemanusiaan yang luhur, sedangkan nilai politik berpusat pada kekuasaan serta
pengaruh yang terdapat dalam kehidupan masyarakat maupun politik.

Dengan demikian, nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, memperkaya


bathin dan menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai bersumber
pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan (motivator) sikap dan
perilaku manusia.Nilai sebagai suatu system merupakan salah satu wujud
kebudayaan di samping system social dan karya.Oleh karenaitu,  Alport
mengidentifikasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan masyarakat pada
enam macam, yaitu: nilaiteori, nilaiekonomi, nilaiestetika, nilaisosial,
nilaipolitikdannilaireligi.

Di dalam Dictionary of sosiology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai


adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan
manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau
kelompok, ( the believed capacity of any object to statistfy a human desire). Jadi
nilai itu pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek
itu sendiri.Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita – cita, harapan – harapan,
dambaan – dambaan dan keharusan. Berbicara tentang nilai berarti berbicara
tentang das Sollen, bukan das Sein, kita masuk kerokhanian bidang makna
normatif, bukan kognotif, kita msuk ke dunia ideal dan bukan dunia real.
Meskipun demikian, diatara keduannya saling berhubungan atau saling berkait
secara erat, artinya bahwa das Sollen itu harus menjelma menjadi das Sein, yng
ideal harus menjadi real, yang normatif harus direalisasikan dalam perbuatan
sehari – hari yang merupakan fakta.

Pengertian Norma

Kesadaran akan hubungan yang ideal akan menumbuhkan kepatuhan terhadap


peraturan atau norma. Norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dijalankan
dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan motivasi tertentu.

Norma sesungguhnya perwujudkan martabat manusia sebagai makhluk budaya,


sosial, moral dan religi. Norma merupakan suatu kesadaran dan sikap luhur yang
dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi. Oleh sebab itu, norma  dalam
perwujudannya dapat berupa norma agama, norma filsafat, norma kesusilaan,
norma hukum, dan norma sosial. Norma memiliki kekuatan untuk dapat dipatuhi,
yang dikenal dengan sanksi, misalnya:

a.  Norma agama, dengan sanksinya dari Tuhan

24
b. Norma kesusilaan, dengan sanksinya rasa malu dan menyesal terhadap diri
sendiri,

c. Norma kesopanan, dengan sanksinya berupa mengucilkan dalam pergaulan


masyarakat,

d.  Norma hukum, dengan sanksinya berupa penjara atau kurungan atau denda
yang dipaksakan oleh alat Negara.

Pengertian Moral

Moral berasal dari kata mos (mores) yang artinya kesusilaan, tabiat, kelakuan.
Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah
laku dan perbuatan manusia. Seorang yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-
kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya ,dianggap sesuai dan
bertindak benar secara moral. Jika sebaliknya terjadi, pribadi itu dianggao tidak
bermoral.  Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan, prinsip-prinsip
yang benar, baik, terpuji, dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan
terhadap nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan
atau agama, moral, filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan
sebagainya. Nilai, norma dan moral secara bersama mengatur kehidupan
masyarakat dalam berbagai aspeknya.

Pengertian Hierarkhi Nilai

Hierarkhi nilai sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandang individu –
masyarakat terhadap sesuatu obyek. Misalnya kalangan materialis memandang
bahwa nilai tertinggi adalah nilai meterial. Max Scheler menyatakan bahwa nilai-
nilai yang ada tidak sama tingginya dan luhurnya. Menurutnya  nilai-nilai dapat
dikelompokan dalam empat tingkatan yaitu :

1. Nilai kenikmatan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan indra yang


memunculkan rasa senang, menderita atau tidak enak,

2. Nilai kehidupan yaitu nilai-nilai penting bagi kehidupan yakni : jasmani,


kesehatan serta kesejahteraan umum,

3. Nilai kejiwaan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebenaran, keindahan


dan pengetahuan murni,

4.  Nilai kerohanian yaitu tingkatan ini terdapatlah  modalitas  nilai dari yang suci.

Walter G . everet menggolongkan nilai – nilai manusiawi kedalam delapan


kelompok yaitu:

25
a) Nilai – nilai ekonomis

b) Nilai – nilai kejasmanian

c) Nilai – nilai hiburan

d) Nilai – nilai sosial

e) Nilai – nilai watak

f) Nilai – nilai estetis

g) Nilai – nilai intelektual

h) Nilai – nilai keagamaan

Sementara itu, Notonagoro membedakan menjadi tiga, yaitu :

1.   Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia,

2.  Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan
suatu aktivitas atau kegiatan, 

3.  Nilai kerokhanian yaitu segala sesuatu yang bersifat rokhani manusia yang
dibedakan dalam empat tingkatan sebagai berikut :

a. Nilai kebenaran yaitu nilai yang bersumber pada rasio, budi, akal atau cipta
manusia.

b. Nilai keindahan/estetis yaitu nilai yang bersumber pada perasaan manusia.

c. Nilai kebaikan atau nilai moral yaitu nilai yang bersumber pada unsur kehendak
manusia.

d. Nilai religius yaitu nilai kerokhanian tertinggi dan bersifat mutlak.

Dalam pelaksanaanya, nilai-nilai dijabarkan dalam wujud norma, ukuran dan


kriteria sehingga merupakan suatu keharusan  anjuran atau larangan, tidak
dikehendaki atau tercela. Oleh karena itu, nilai berperan sebagai  pedoman yang
menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai manusia berada dalam hati nurani,
kata hati dan pikiran sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan yang bersumber
pada berbagai sistem nilai.

Dari uraian mengenai macam – macam nilai diatas, dapat dikemukakan pula
bahwa yang mengandung nilai itu bukan hanya sesuatu yang bewujud material
saja, akan tetapi juga sesuatu yang berwujud non material atau immatrial.
Notonagoro berpendapat bahwa nilai – nilai pancasila tergolong nilai – nilai

26
kerokhanian, tetapi nilai – nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material
dan vital. Dengan demikian nilai – nilai lain secara lengkap dan harmonis, baik
nilai matrial, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan atau nilai
moral, maupun nili kesucian yang sistematika-hierarkis, yang dimulai dari sila
Ketuhanan yang Maha Esa sebagai ‘dasar’ sampai dengan sila Keadilan Sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai ‘tujuan’.

Hubungan antara Nilai, Norma dan Moral

Keterkaitan nilai, norma dan moral merupakan suatu kenyataan yang  seharusnya
tetap terpelihara di setiap waktu pada hidup dan kehidupan manusia. Keterkaitan
itu mutlak digaris bawahi bila seorang individu, masyarakat, bangsa dan negara
menghendaki fondasi yang kuat tumbuh dan berkembang.

Sebagaimana tersebut di atas maka nilai akan berguna menuntun sikap dan
tingkah laku manusia bila dikongkritkan dan diformulakan menjadi lebih obyektif
sehingga memudahkan manusia untuk menjabarkannya dalam aktivitas sehari-
hari. Dalam kaitannya dengan moral maka aktivitas turunan dari nilai dan norma
akan memperoleh integritas dan martabat manusia. Derajat kepribadian itu amat
ditentukan oleh moralitas yang mengawalnya. Sementara itu, hubungan antara
moral dan etika kadang-kadang atau seringkali disejajarkan arti dan maknanya.
Namun demikian, etika dalam pengertiannya tidak berwenang menentukan apa
yang boleh dan tidak  boleh dilakukan seseorang. Wewenang itu dipandang
berada di tangan pihak yang memberikan ajaran moral.

Pengertian Etika Politik Dan Politik

Pengertian Etika Politik

Etika, atau filsafat moral mempunyai tujuan menerangkan kebaikan dan


kejahatan. Etika politik yang demikian, memiliki tujuan menjelaskan mana
tingkah laku politik yang baik dan mana yang jelek. Apa standar baik? Apakah
menurut agama tertentu? Tidak! Standar baik dalam konteks politik adalah
bagaimana politik diarahkan untuk memajukan kepentingan umum. Jadi kalau
politik sudah mengarah pada kepentingan pribadi dan golongan tertentu, itu etika
politik yang buruk. Sayangnya, itulah yang terjadi di negeri ini.Etika politik
bangsa Indonesia dibangun melalui karakteristik masyarakat yang erdasarkan
Pancasila sehingga amat diperlukan untuk menampung tindakan-tindakan yang
tidak diatur dalam aturan secara legal formal. Karena itu,  etika politik lebih
bersifat konvensi dan berupa aturan-aturan moral. Akibat luasnya cakupan etika
politik itulah maka seringkali keberadaannya bersifat sangat longgar, dan mudah
diabaikan tanpa rasa malu dan bersalah. Ditunjang dengan alam kompetisi untuk

27
meraih jabatan (kekuasaan) dan akses ekonomis (uang) yang begitu kuat, rasa
malu dan merasa bersalah bisa dengan mudah diabaikan.

Akibatnya ada dua hal: (a) pudarnya nilai-nilai etis yang sudah ada, dan (b) tidak
berkembangnya nilai-nilai tersebut sesuai dengan moralitas publik. Untuk
memaafkan fenomena tersebut lalu berkembang menjadi budaya permisif, semua
serba boleh, bukan saja karena aturan yang hampa atau belum dibuat, melainkan
juga disebut serba boleh, karena untuk membuka seluas-luasnya upaya mencapai
kekuasaan (dan uang) dengan mudah.

Tanpa disadari, nilai etis politik bangsa Indonesia cenderung mengarah pada
kompetisi yang mengabaikan moral. Buktinya, semua harga jabatan politik setara
dengan sejumlah uang. Semua jabatan memiliki harga yang harus dibayar si
pejabat. Itulah mengapa para pengkritik dan budayawan secara prihatin
menyatakan arah etika dalam bidang politik (dan bidang lainnya) sedang berlarian
tunggang-langgang (meminjam Giddens, “run away”) menuju ke arah “jual-beli”
menggunakan uang maupun sesuatu yang bisa dihargai dengan uang.

Namun demikian, perlu dibedakan antara etika politik dengan moralitas politisi.
Moralitas politisi menyangkut mutu moral negarawan dan politisi secara pribadi
(dan memang sangat diandaikan), misalnya apakah ia korup atau tidak (di sini
tidak dibahas). Etika politik menjawab dua pertanyaan:

1.    Bagaimana seharusnya bentuk lembaga-lembaga kenegaraan seperti hokum


dan Negara (misalnya: bentuk Negara seharusnya demokratis); jadi etika politik
adalah etika institusi.

2.    Apa yang seharusnya menjadi tujuan/sasaran segala kebijakan politik, jadi


apa yang harus mau dicapai baik oleh badan legislatif maupun eksekutif.

Etika politik adalah perkembangan filsafat di zaman pasca tradisional. Dalam


tulisan para filosof politik klasik: Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Marsilius
dari Padua, Ibnu Khaldun, kita menemukan pelbagai unsur etika politik, tetapi
tidak secara sistematik. Dua pertanyaan etika politik di atas baru bisa muncul di
ambang zaman modern, dalam rangka pemikiran zaman pencerahan, karena
pencerahan tidak lagi menerima tradisi/otoritas/agama, melainkan menentukan
sendiri bentuk kenegaraan menurut ratio/nalar, secara etis. Karena itu, sejak abad
ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti:

a.      Perpisahan antara kekuasaan gereja dan kekuasaan Negara (John Locke)

b.      Kebebasan berpikir dan beragama (Locke)

c.      Pembagian kekuasaan (Locke, Montesquie)

28
d.      Kedaulatan rakyat (Rousseau)

e.      Negara hokum demokratis/republican (Kant)

f.      Hak-hak asasi manusia (Locke, dsb)

g.     Keadilan sosial

Pengertian Politik

Pengertian ‘politik’ berasal dari kosakata ‘politics’, yang memiliki makna


bermacam – macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau ‘ negara’, yang
menyangkut proses penentuan tujuan – tujuan dari sistem itu dan diikuti dengan
pelaksanaan tujuan itu. Berdasarkan pengertian – pengertian pokok tentang politik
maka secara operasional bidang politik menyangkut konsep – konsep pokok yang
berkaitan dengan negara ( state), kekuasaan ( power), pengambilan keputusan
( decision making), kebijaksanaan ( policy), pembagian ( distribution), serta
alokasi ( allocation).

Pengertian politik secara sempit, yaitu bidang politik lebih banyak berkaitan
dengan para pelaksana pemerintahan negara, lembaga – lembaga tinggi negara,
kalangan aktivis politik serta para pejabat serta birokrat dalam pelaksanaan dan
penyelengaraan negara. Pengertian politik yang lebih luas, yaitu menyangkut
seluruh unsur yang membentuk suatu persekutuan hidup yang disebut masyarakat
negara.

Definisi Dimensi Politisi Manusia

Manusia sebagai Makhluk Individu – Sosial

Paham individualisme yang merupakan cikal bakal paham liberalisme, memandan


manusia sebagai makhluk individu yang bebas. Segala hak dan kewajiban dalam
kehidupan bersama senantiasa diukur berdasarkan kepentingan dan tujuan
berdasarkan paradigma sifat kodrat manusia sebagai individu.

Kalangan kolektivisme merupakan cikal bakal sosialisme dan komunisme


memandang sifat kodrat manusia sebagai makhluk sosial saja. Manusia di
pandang sebagai sekedar srana bagi masyarakat. Segala hak dan kewajiban baik
moral maupun hukum, dalam hubungan masyarakat, bangsa dan negara senantiasa
diukur berdasarkan filosofi manusia sebagai makhluk sosial.

Manusia sebgai makhluk yang berbudaya, kebebasan sebagai individu dan segala
aktivitas dan kreativitas dalam hidupnya senantiasa tergantung pada orang lain,
hal ini di karenakan manusia sebagai warga masyrakat atau sebagai makhluk

29
sosial. Manusia di dalam hidupnya mampu ber-eksistensi karena orang lain dan ia
hanya dapt hidup dan berkembang karena dalam hubungannya dengan orang lain.
Segala keterampilan yang dibutuhkannya agar berhasil dalam segal kehidupannya
serta berpartisipasi dalam kebudayaan diperolehnya dari masyarkat.

Dasar filosofis sebagai mana terkandung dalam pancasila yang nilainya terdpt
dalm budaya bangsa, senantiasa mendasarkan hakikat sifat kodrat manusia adalah
bersifat ‘monodualis’. Maka sifat serta ciri khas kebangsan dan kenegaraan
indonesia, bukanlah totalitas individualistis ataupun sosialistis melainkan
monodualistis.

Dimensi Politis Kehidupan Manusia

Berdasarkan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, dimensi
politis mencakup lingkaran kelembagan hukum dan negara, sistem – sitem nilai
serta ideologi yang memberikan legitmimasi kepadanya. Dalam hubungan dengan
sifat kodrat manusia sebagi makhluk individu dan sosial, dimensi politis manusia
senntiasa berkaitan dengan kehidupan negara dan hukum, sehingga senantiasa
berkaitn dengan kehidupan masyrakat secara keseluruhan. Sebuah keputusan
bersifat politis mnakala diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat
sebagai suatu keseluruhan. Dengan demikian dimensi politis manusia dapat
ditentukan sebagai suatu kesadarn manusia akan dirinya sendiri sebagai anggota
masyarakat sebagai sutu keseluruhan yang menentukan kerangka kehidupannya
dan di tentukan kembali oleh kerangka kehidupanny serta ditentukan kembali oleh
tindakan – tindakannya.

Dimensi politis manusia ini memiliki dua segi fundmental, yaitu pengertian dan
kehendak untuk bertindak. Sehingga dua segi fundamental itu dapat diamati
dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dua aspek ini yang senantiasa berhadapan
dengan tindakkan moral manusia.

Nilai-nilai Tergandung Dalam Pancasila Sebagai Sumber Etika Politik

Sila pertama ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ serta sila kedua ‘ Kemanusiaan yang
Adil dan Beradab’ adalah merupakan sumber nilai –nilai moral bagi kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan.

Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, etika politik menuntut agar


kekuasaan dalam negeri di jalankan sesuai dengan:

a) Asas legalitas ( legitimasi hukum).

b) Di sahkan dan dijalankan secara demokratis ( legitimasi demokratis)

30
c) Dilaksanakan berdasarkan prinsip – prinsip moral / tidak bertentangan
dengannya (legitimasi moral).

Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki tiga dasar tersebut. Dalam
pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, baik menyangkut kekuasan,
kenijaksanan yang menyangkut publik, pembagian serta kewenangan harus
berdasarka legitimasi moral religius ( sila 1 ) serta moral kemanusiaan ( sila 2).
Negara Indonesia adalah negara hukum, oleh krena itu ‘ keadilan’ dalam hidup
bersama ( keadilan sosial ) sebgai mana terkandung dalam sila 5, adalah
merupakan tujuan dalam kehidupan negara. Oleh karena itu dalam pelaksanaan
dan pnyelenggraan negara, segala kebijakan, kekuasaan, kewenangan, serta
pembagian senantiasa harus berdasarkan atas hukum yang berlaku

Negara adalah berasal dari rakyat dan segala kebijaksanaan dan kekuasaan yang
dilakukan senantiasa untuk rakyat ( sila 4). Oleh karena itu rakyat adalah
merupakan asal mula kekuasan negara. Oleh karena itu pelaksanaan dan
pnyelenggraan negara segala kebijaksanaan, kekuasaan, serta kewenangan harus
dikembalikan pada rakyat sebagai pendukung pokok negara.

DAFTAR PUSTAKA

Syarbaini H.syahrial. Dr., M.A. 2011. Pendidikan pancasila. Jakarta: Ghalia


Indonesia
TIM. (2010). Pendidikan Pancasila. Tondano: Universitas Negeri Manado.

31
Ubaedillah A & Abdul Rozak, Pancasila, Demokrasi, HAM dan Masyarakat
Madani, Icce. UIN Jakarta, 2003

32