0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
627 tayangan75 halaman

Pembuatan Dan Karakterisasi Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang Batu Dan Carboxymethyl Cellulosa (CMC) Yang Diperkuat Oleh Gum Arabic

Tesis ini membahas pembuatan dan karakterisasi bioplastik dari campuran serbuk daun pisang batu, CMC, dan gum arabic dengan variasi komposisi menggunakan metode melt intercalation. Bioplastik dengan komposisi 55%:15%:30% memiliki sifat fisis dan mekanik yang optimal dengan densitas 1,601 x 103 kg/m3, daya serap air 10,247%, biodegradasi 99,2%, kuat tarik 35,71 MPa, perpanjangan putus 273,14% dan modulus

Diunggah oleh

RaefyWarsRaefyWars
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
627 tayangan75 halaman

Pembuatan Dan Karakterisasi Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang Batu Dan Carboxymethyl Cellulosa (CMC) Yang Diperkuat Oleh Gum Arabic

Tesis ini membahas pembuatan dan karakterisasi bioplastik dari campuran serbuk daun pisang batu, CMC, dan gum arabic dengan variasi komposisi menggunakan metode melt intercalation. Bioplastik dengan komposisi 55%:15%:30% memiliki sifat fisis dan mekanik yang optimal dengan densitas 1,601 x 103 kg/m3, daya serap air 10,247%, biodegradasi 99,2%, kuat tarik 35,71 MPa, perpanjangan putus 273,14% dan modulus

Diunggah oleh

RaefyWarsRaefyWars
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Departemen Fisika Tesis Magister

2018

Pembuatan dan Karakterisasi Bioplastik


Berbasis Serbuk Daun Pisang Batu dan
Carboxymethyl Cellulosa (CMC) yang
diperkuat oleh Gum Arabic

Ikhwanuddin
Universitas Sumatera Utara

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/6383
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBASIS
SERBUK DAUN PISANG BATU DAN Carboxymethyl Cellulosa
(CMC) YANG DIPERKUAT OLEH GUM ARABIC

TESIS

Oleh

IKHWANUDDIN
167026008/FIS

PROGRAM STUDI MAGISTER (S2) FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBASIS
SERBUK DAUN PISANG BATU DAN Carboxymethyl Cellulosa
(CMC) YANG DIPERKUAT OLEH GUM ARABIC

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
dalam Program Studi Magister (S2) Fisika pada Program Pascasarjana
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara

Oleh

IKHWANUDDIN
167026008/FIS

PROGRAM STUDI MAGISTER (S2) FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


i

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


ii

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


iii

Telah diuji pada


Tanggal : 31 Juli 2018

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua : Dr. Kurnia Sembiring, MS
Anggota : 1. Dr. Syahrul Humaidi, M.Sc
2. Prof. Dr. Timbangen Sembiring, M.Sc
3. Dr. Kerista Tarigan, M.Sc
4. Dr. Kerista Sebayang, MS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


iv

RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI
Nama lengkap berikut gelar : Ikhwanuddin, S.Si.
Tempat dan tanggal lahir : Medan, 17 November 1991
Alamat Rumah : Jl. Tuar Gg. Astra No. 12 Medan
Telepon / HP : +62-821-6024-4326
e-mail : ikhwanuddin017@gmail.com

DATA PENDIDIKAN
SD : Negeri 064972 Medan Tamat : 2004
SMP : Negeri 15 Medan Tamat : 2007
SMA : Swasta Eria Medan Tamat : 2010
Strata-1 : Program Studi Fisika Fakultas MIPA USU Tamat : 2014
Strata-2 : Program Studi Fisika Fakultas MIPA USU Tamat : 2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta‟ala, yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang karena berkat rahmat dan nikmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis
yang berjudul “PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK
BERBASIS SERBUK DAUN PISANG BATU DAN Carboxymethyl Cellulosa
(CMC) YANG DIPERKUAT OLEH GUM ARABIC”. Shalawat serta salam Allah
limpahkan kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam serta kepada Kelurga dan
para Sahabatnya.
Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Magister Sains pada Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Sumatera Utara. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan berbagai
pihak, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu pada
kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya
kepada:

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H.,
M.Hum atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan program magister.

2. Dekan Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Kerista Sebayang,
MS atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menjadi mahasiswa
program studi magister fisika FMIPA USU.

3. Ketua program studi Bapak Dr. Kurnia Sembiring, MS dan sekretaris program
studi bapak Dr. Kerista Tarigan, M.Eng, Sc beserta seluruh Staf Pengajar pada
program Studi Magister Fisika Program Pascasarjana Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA-USU)

4. Bapak Dr. Kurnia Sembiring, MS sebagai Promotor/Pembimbing pertama yang


telah berkontribusi dalam meluangkan waktu, memberikan masukan-masukan,
pemikirannya dalam membahas hasil penelitian ini, ilmu yang telah diberikan
kepada saya dengan penuh kesabaran menuntun dan membimbing saya hingga
penelitian ini selesai.

5. Bapak Dr. Syahrul Humaidi, M.Sc sebagai Promotor/Pembimbing kedua yang


turut berkontribusi dalam meluangkan waktu, memberikan masukan, menuangkan
pemikirannya ketika membahas hasil penelitian serta memeriksa secara mendetail
tulisan ini dengan penuh kesabaran dalam membimbing saya hingga penelitian
dan tesis ini selesai.

6. Terkhusus kepada ayahanda Kamaruddin dan ibunda Nur’Aisyah, terimakasih


yang sebesar-besarnya atas kasih sayangnya sejak saya dilahirkan hingga saat ini,
jerih payah dalam mendidik, membimbing, menasehati, membiayai penelitian ini,
serta menyemangati dan memberikan kepercayaan kepada saya baik untuk urusan
belajar, kuliah sampai penulisan tesis ini. Tidak lupa juga kepada kakak tercinta
Hairunnisyah, SP yang telah mendukung saya baik dengan semangat, nasehat
maupun materil, juga kapada adik-adik tersayang Ahmad Ramadhan, dan Nur

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


vi

Rahimah, serta keponakan Alesya Novalin Rusmanto, dan Raihan Haikal


Rusmanto yang selalu menghibur dan mengisi hari-hari saya saat penulisan tesis
ini.

7. Adinda bimbingan Schneider Team USU, Wahid Nurhayat, Winelda Mahfud Z


H, Andika Pratama, Muhammad Ridwan, Muhammad Khoir Syahbana, Billy,
Azwin, Raju, Nurhasanah, Aisyah, Devi, Okta, Rini, Isra, Azhar, Yunita, Farhan,
Oanda, dan abangda Juliaster Marbun, S.Pd, M.Si yang setia membantu dan
memberi dukungan hingga finishing tesis ini.

8. Teman-teman yang menemani saya selama 1,5 tahun di program studi magister
fisika Arini Ulfa Mawaddah, S.Pd., Irwanto, S.Pd., Adi Saputra, S.Pd., Bapak
Liberti Tarigan, S.Si., Zehan Yuliana, S.Pd., dan lain-lain yang setia memberikan
semangat diluar kegiatan kampus.

9. Laboratorium Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe B Medan Belawan,


Laboratorium Kimia Dasar – LIDA USU, Laboratorium Material Test PTKI, dan
Laboratorium Komposit Fakultas Kehutanan.

10. Sahabat seperjuangan di FMIPA USU serta seluruh teman-teman yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu. Terimakasih atas saran dan dukungannya.

Akhirnya ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan, dukungan dan doanya, apabila ada kesalahan dan kekurangan pada penulisan
tesis ini kepada Allah saya mohon ampun dan kepada pembaca saya mohon maaf,
semoga tulisan ini mampu menjadi sumber ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi
kemajuan pendidikan dan penelitian di Indonesia.

Medan, 27 Juli 2018


Penulis

IKHWANUDDIN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


vii

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBASIS SERBUK


DAUN PISANG BATU DAN Carboxymethyl Cellulosa (CMC) YANG
DIPERKUAT OLEH GUM ARABIC

ABSTRAK

Telah dibuat bioplastik dari campuran bahan baku : serbuk daun pisang batu, CMC
dan gum arabic melalui metode melt intercalation dengan variasi komposisi serbuk
daun pisang batu : CMC : gum arabic 80%:15%:5%, 75%:15%:10%, 70%:15%:15%,
65%:15%:20%, 60%:15%:25%, dan 55%:15%:30%wt. Pembuatan sampel dilakukan
tiga tahap. Tahap pertama daun pisang batu ditreatment menggunakan metode ledakan
uap, kemudian serbuk daun pisang batu, CMC dan gum arabic diayak dengan ukuran
partikel 100 mesh kemudian serbuk tersebut dicampur sampai homogen selama 30
menit dengan metode pencampuran basah. Tahap kedua serbuk yang telah tercampur
homogen dicetak dengan cetakan kaca dan didinginkan. Tahap ketiga lembaran
bioplastik yang telah dingin kemudian dikompaksi agar meratakan permukaan dengan
wayer mesh ukuran 200 mesh pada tekanan 1 atm ditahan 20 menit pada suhu 60 oC.
Masing-masing sampel bioplastik yang telah siap dikarakterisasi yang meliputi : sifat
fisis (densitas, daya serap air, biodegredabilitas dan gugus fungsi) dan sifat mekanik
(kuat tarik, perpanjangan putus dan modulus young). Hasil karakterisasi menunjukkan
bahwa serbuk daun pisang batu : CMC : gum arabic yang optimum yaitu
55%:15%:30%wt dengan nilai densitas 1,601 x 103 kg/m3, daya serap air 10,247%,
dan biodegredabilitas 99,2% selama 45 hari. Sifat mekanik dengan kuat tarik 35,71
MPa, perpanjangan putus 273,14% dan modulus elastisitas 130,378 MPa. Sifat termal
dengan titik leleh 302,45 oC yang hasil karakterisasinya telah memenuhi standar SNI
7188.7:2016. Hasil dari bioplastik berbasis komposit serbuk daun pisang dan CMC
yang diperkuat gum arabic dapat diaplikasikan sebagai kemasan, dan sedotan.

Kata Kunci: Bioplastik, Carboxymethyl Cellulosa, Gum Arabic, Serbuk Daun Pisang
Batu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


viii

MANUFACTURE AND CHARACTERIZATION OF BIOPLASTIC BASED ON


STONE BANANA LEAVES POWDER AND Carboxymethyl Cellulosa (CMC)
REINFORCED GUM ARABIC

ABSTRACT

The bioplastic have been created by using mixture of material : stone banana leaves
powder, carboxymethyl cellulosa, and gum arabic through a melt intercalation with
variation of composition stone banana leaves powder : carboxymethyl cellulosa : gum
arabic 80%:15%:5%, 75%:15%:10%, 70%:15%:15%, 65%:15%:20%, 60%:15%:25%,
and 55%:15%:30%wt. The sample fabrication was done in three step. The first step of
banana stone leaves is treated using a steam explosion method, then stone banana
leaves, carboxymethyl cellulosa, and gum arabic powder sifted with particle of size
100 mesh. Then, powder is mixed about 30 minutes with wet mixing method. Second
step, the powder was homogenized then it moulded with a glass mould and cooled.
Third step, bioplastic sheets has been cold, then compacted to flatten the surface with a
mesh of 200 mesh at a pressure of 1 atm held for 20 minutes at 60 °C. The bioplastic
sampel were characterized such as : physical properties (density, water absorption,
biodegredability and functional groups) and mechanical properties (tensile strength,
elongation and modulus of Young). The characterization result show that the optimum
composition of stone banana leaves powder : carboxymethyl cellulosa : gum arabic
55%:15%:30%wt had the highest density 1,601 x 103 kg/m3, water absorption
10,247%, and biodegredability 99,2% for 45 days. Mechanical properties with tensile
strength 35,71 MPa, elongation break 273,14% and elastic modulus 130,378 MPa.
Thermal properties with melting point 302.45 oC whose characterization results have
fulfilled the standard of SNI 7188.7: 2016. The result of its characterization has
fulfilled the standard of SNI 7188.7: 2016. The results of bioplastic based stone
banana leaves and CMC composite reinforced gum arabic can be applied as
packaging, and straws.

Keywords: Bioplastic, Carboxymethyl Cellulosa, Gum Arabic, Stone Banana Leaves,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


ix

DAFTAR ISI

Halaman
Persetujuan iii
Pernyataan iv
Kata Pengantar v
Abstrak vii
Abstract viii
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii

BAB 1. Pendahuluan 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumuan Masalah 4
1.3 Batasan Masalah 4
1.4 Tujuan Penelitian 5
1.5 Manfaat Penelitian 5

BAB 2. Tinjauan Pustaka 6


2.1 Bioplastik 6
2.2 Metode Pembuatan Bioplastik 10
2.2.1 Eksfoliasi/Adsorpsi 10
2.2.2 Polimerisasi In Situ Interkalatif 10
2.2.3 Interkalasi Larutan/Interkalasi Prepolimer Dari Larutan 11
2.2.3 Melt Intercalation 11
2.3 Aplikasi Bioplastik 12
2.4 Material Penyusun Bioplastik 12
2.4.1 Tanaman Pisang Batu 12
2.4.1.1 Ketersediaan Daun Pisang Batu 14
2.4.1.2 Karakteristik Daun Pisang Batu 15
2.4.2 Carboxylmethyl Cellulose (CMC) 15
2.4.3 Gum Arabic 16
2.5.1 Karakterisasi Material Bioplastik 18
2.5.1 Karakterisasi Sifat Fisis 18
2.5.2 Karakterisasi Sifat Mekanik 21
2.5.3 Karakterisasi Sifat Thermal 23

BAB 3. Metode Penelitian 25


3.1 Tempat Penelitian 25
3.2 Peralatan dan Bahan 25
3.2.1 Peralatan 25
3.2.2 Bahan 26
3.3 Variabel Penelitian 26

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


x

3.4 Prosedur Penelitian 26


3.5 Diagram Alir Penelitian 29

BAB 4. Hasil dan Pembahasan 30


4.1 Material Bioplastik Berbasis Komposit Serbuk Daun Pisang
Batu dan CMC yang Diperkuat Gum Arabic 30
4.2 Karakteristik Sifat Fisis Material Bioplastik 31
4.2.1 Densitas (Massa Jenis) 31
4.2.2 Daya Serap Air 32
4.2.3 Uji Biodegredabilitas 33
4.2.4 Gugus Fungsi Ikatan/FTIR 34
4.3 Karakteristik Sifat Mekanik 38
4.3.1 Kuat Tarik 38
4.3.2 Perpanjangan Putus (Elongasi) 39
4.3.3 Modulus Elastisitas 40
4.4 Karakteristik Sifat Thermal 41
4.4.1 DSC (Differential Scanning Calorimetrt) 41

BAB 5. Kesimpulan dan Saran 45


5.1 Kesimpulan 45
5.2 Saran 45

Daftar Pustaka 46

Lampiran 48

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


xi

DAFTAR GAMBAR

Nomor
Judul Halaman
Gambar

2.1 Ilustrasi Pembuatan Bioplastik Dengan Eksfoliasi 10


2.2 Ilustrasi Pembuatan Bioplastik Dengan Polimerisasi In Situ
Interkalatif 10
2.3 Tanaman Pisang Batu (Musa balbisiana Colla) 13
2.4 Struktur Ikatan Senyawa CMC 16
2.5 Pohon Akasia (Acacia senegal) 17
2.6 Bentuk Umum Kurva Tegangan-Regangan Bahan Biopolimer 22
2.7 Bentuk Alat DSC (Differential Scanning Calorimetry) 23

3.1 Diagram Alir Proses Pembuatan Bioplastik 29

4.1. Ilustrasi Ikatan Polimer Pada Bioplastik Dengan Metode


Melt Intercalation 30
4.2 Hasil Pengujian Densitas Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang
Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi 31
4.3 Hasil Pengujian Daya Serap Air Bioplastik Berbasis Serbuk Daun
Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi 32
4.4 Hasil Pengujian Biodegredabilitas Bioplastik Berbasis Serbuk Daun
Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi 34
4.5 Analisis FTIR Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum
Arabic Pada Variasi (80 : 15 : 5)%wt 35
4.6 Analisis FTIR Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum
Arabic Pada Variasi (65 : 15 : 20)%wt 35
4.7 Analisis FTIR Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum
Arabic Pada Variasi (55 : 15 : 30)%wt 36
4.8 Hasil Pengujian Kuat Tarik Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang
Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi 38
4.9 Hasil Pengujian Perpanjangan Putus (Elongasi) Bioplastik Berbasis
Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai
Variasi Komposisi 39
4.10 Hasil Pengujian Modulus Elastisitas Bioplastik Berbasis Serbuk
Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi
Komposisi 40
4.11 Analisis Termal (DSC) Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu
/CMC/Gum Arabic Pada Variasi (80 : 15 : 5)%wt 42
4.12 Analisis Termal (DSC) Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu
/CMC/Gum Arabic Pada Variasi (65 : 15 : 20)%wt 43
4.13 Analisis Termal (DSC) Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu
/CMC/Gum Arabic Pada Variasi (55 : 15 : 30)%wt 44

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


xii

DAFTAR TABEL

Nomor
Judul Halaman
Tabel

2.1 Standar Karakteristik Bioplastik 12


2.2 Daerah Penghasil Pisang Di Indonesia Tahun 2015 14
2.3 Karakteristik Sifat Fisika dan Kimia Daun Pisang Batu 15

3.1 Persentase Komposisi Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang


Batu dan CMC Dengan Matriks Gum Arabic 26

4.1 Perbedaan Serapan IR Antara Sampel S1, S3 dan S6 . 37

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor
Judul Halaman
Lampiran

A1.1 Data Tabel Perhitungan Hasil Pengujian Densitas Bioplastik 48


A1.2 Data Tabel Perhitungan Hasil Pengujian Daya Serap Air Bioplastik 49
A1.3 Data Tabel Perhitungan Hasil Pengujian Biodegredabilitas 50
A1.4 Gambar Hasil Pengujian Gugus Fungsi dengan FTIR 53
A1.5 Data Tabel Perhitungan Hasil Pengujian Kuat Tarik 56
A1.6 Data Tabel Perhitungan Hasil Pengujian Elongasi 57
A1.7 Data Tabel Perhitungan Hasil Pengujian Modulus Elastisitas 58

B1.1 Gambar Dokumentasi Penelitian 59

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan negara berkembang yang akan berdampak semakin
tingginya tingkat penggunaan plastik di negara tersebut. Berdasarkan data
Jambeck (2015) menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dunia
penghasil sampah plastik yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang
mencapai 262,9 juta ton per tahunnya. Setiap tahun produksi plastik menghasilkan
sekitar delapan persen hasil produksi minyak dunia atau sekitar 12 juta barel
minyak atau setara 14 juta batang pohon sebagai bahan baku dasarnya. Lebih dari
satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya dan 50 persen dari kantong
plastik tersebut dipakai hanya sekali lalu langsung dibuang. Dari angka tersebut,
hanya lima persen yang benar-benar di daur ulang (Selpiana, 2015).
Plastik merupakan bahan polimer sintetis yang dibuat melalui proses
polimerisasi yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Berdasarkan penelitian rata-rata setiap keluarga menggunakan 1.460 plastik per
tahun dan kurang dari 1% plastik dapat dihancurkan. Data dari Dinas Kementerian
Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa setiap individu menghasilkan rata-rata
0,8 kilogram sampah per harinya sebanyak 15 persennya adalah sampah plastik.
Ini mengindikasikan bahwa tingkat frekuensi penggunaan plastik sebagai bahan
kemasan semakin meningkat setiap harinya. Hal ini dikarenakan plastik memiliki
keunggulan diantaranya tidak mudah pecah, jauh lebih ringan dibandingkan bahan
kemasan lain dan mudah dibentuk (lembaran, kantong, atau sesuai desain yang
diinginkan). Akan tetapi, plastik konvensional memiliki kelemahan salah satunya
tidak dapat terurai secara alami dengan cepat oleh mikroorganisme yang ada di
lingkungan dikarenakan bahan penyusun dari plastik itu sendiri yang terbuat dari
hasil minyak bumi (hidrokarbon).
Oleh karena itu, dilakukan upaya pengurangan konsumsi plastik dengan cara
mensintesis bahan baku pembuatan plastik atau polimer yang dapat terdegredasi
baik oleh mikroorganisme tanah yang disebut plastik biodegradable atau dikenal

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2

sebagai bioplastik. Bioplastik merupakan plastik yang dapat diperbaharui karena


senyawa-senyawa penyusunnya berasal dari tanaman seperti pati, selulosa dan
lignin serta hewan seperti kasein, protein dan lipid. Bioplastik dewasa ini sangat
berkembang pesat sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan plastik non-
degredable seperti plastik konvensional polietilena (PE). Berbagai penelitian telah
dilakukan oleh negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Korea, Amerika
Serikat, Inggris, Pramcis dan Swiss untuk mengeksplorasi potensi bahan baku
biopolimer dari polyhydroxybutirat, chitin dari Crustaceae, zein dari jagung
maupun pullulan. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi
sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku biopolimer
berbasis selulosa untuk memproduksi bioplastik. Beberapa tumbuhan di antaranya
mengandung selulosa yang efektif untuk digunakan sebagai biopolimer plastik
seperti tongkol jagung, kulit pisang, kulit ubi dan lain-lain. Namun, dalam
pelaksananya untuk memperoleh limbah tersebut membutuhkan waktu relatif
lama karena menunggu bahan baku atau makanan tersebut dikonsumsi terlebih
dahulu (Saputra, 2017).
Hingga saat ini bioplastik masih perlu dikembangkan lagi untuk
menghasilkan kemasan plastik yang sifat fisis, mekanik maupun termal yang
hampir mendekati plastik konvensional yang berasal dari termoplastik. Hal ini
dikarenakan bioplastik masih memiliki kelemahan diantaranya proses manufaktur
yang masih mahal sehingga harganya lebih mahal, memiliki kekuatan dan daya
tahan mekanik yang rendah, tidak tahan terhadap panas, dan masa pakai yang
relatif singkat.
Pada penelitian sebelumnya, Ayu Sofia (2017) telah melakukan proses
pembuatan bioplastik dari kulit labu kuning-kitosan dengan plasticizer gliserol
minyak jelantah. Hasil dari penelitian diperoleh bahwa komposisi optimum
bioplastik pati labu : kitosan : gliserol (15 : 30 : 60) %b/b menghasilkan nilai kuat
tarik 1,73 MPa, elongasi 11,14%, modulus elastisitas 0,15 MPa dan daya serap air
yang sesuai SNI (21,5% pada suhu 25 oC dan 69,09% pada suhu 100 oC). Akan
tetapi persen degradabilitasnya masih tergolong rendah, yakni 30,76% dalam 10
hari dan belum memenuhi SNI.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3

Aripin Samsul (2017) melakukan suatu studi penelitian plastik biodegradable


dari pati ubi jalar, kitosan dan gliserol secara fisika dengan menggunakan metode
melt intercalation pada suhu 80 – 90 oC. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa
variasi konsentrasi gliserol yang optimum dengan komposisi pati ubi jalar 5 gram
dan 2% kitosan yaitu sebanyak 1% dengan nilai kuat tarik sebesar 8,83 MPa dan
uji biodegradabilitas mencapai 2,5% dalam waktu 8 hari.
Penelitian yang lain, Mishra Vika (2015) melakukan penelitian tentang
pembuatan bioplastik dari kulit pisang, gliserol dan sodium metabisulphat pada
suhu pemanasan 130 oC sebagai aplikasi kemasan kantongan. Hasil dari penelitian
diperoleh bahwa kemasan kantongan pada ketebalan 0,01 mm menghasilkan kuat
tarik 5,94 MPa. Akan tetapi bioplastik dari kulit pisang masih menggunakan
reagent untuk proses manufakturnya. Selain itu, bioplastik ini kurang tahan
terhadap air (hidrofilik) dan sifat mekaniknya masih rendah.
Dalam penelitian ini, dibuat suatu bioplastik dari bahan baku serbuk daun
pisang dan carboxymethyl cellulosa (CMC) yang diperkuat gum arab dengan
menggunakan metode melt intercalation. Kelayakan ekstrak daun pisang batu dan
CMC sebagai bahan dasar pembuatan bioplastik karena daun pisang batu
kandungan selulosa 10,85% , hemiselulosa 19,95%, lignin 18,21% dan protein
kasar 9,24% sehingga dapat berinteraksi dengan matriks sehingga memiliki sifat
mekanik yang baik. Kemudian memiliki kandungan senyawa kutikula yang
memiliki peran sebagai zat anti air dan anti penguapan. Selain itu daun pisang
batu juga mengandung senyawa polifenol epigallocatechin gallate (EGCG) yang
merupakan zat antioksidan serta juga memiliki zat flovanoid tannin yang
terpolimerisasi yang berfungsi sebagai zat anti bakteri (Mastuti, 2017). Sedangkan
CMC memiliki sifat hidrofilik yang tersusun oleh gugus karboksil (-COOH) dan
hidroksil (-OH). Kemudian gum arabic sebagai matriks dikarenakan memiliki
daya serap air 0,11%, kuat tarik 18,8 N/mm2 dan modulus elastisitas 140 N/mm2
sehingga dapat meningkatkan kekuatan bioplastik (Wekesa, 2009).
Campuran serbuk daun pisang batu dan CMC yang diperkuat oleh gum arabic
tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu bioplastik yang memiliki sifat fisis,
mekanik dan termal yang baik sesuai dengan standar bioplastik Standar Nasional
Indonesia (SNI) 7188.7:2016. Uji karakterisasi untuk bioplastik dari bahan serbuk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4

daun pisang batu dan CMC yang diperkuat oleh gum arabic meliputi : sifat fisis
(densitas, daya serap air dan sifat biodegredable), gugus fungsi menggunakan
Fourier Transform Infra Red (FTIR), sifat mekanik (kuat tarik, modulus
elastisitas dan elongasi) dan sifat thermal dengan Differential Scanning
Calorimetry (DSC). Diharapkan nantinya bioplastik ini memiliki keunggulan dari
bioplastik yang sudah beredar di pasaran, dengan harganya lebih murah, praktis,
ramah lingkungan serta dapat menciptakan lapangan kerja yang baru.

1.2. Perumusan Masalah


Dalam penelitian ini menyajikan beberapa perumusan masalah yang akan
diselesaikan antara lain:
1. Bagaimana proses pembuatan bioplastik yang dibuat dari serbuk daun pisang
batu dan carboxymethyl cellulosa (CMC) dengan yang diperkuat gum arabic
menggunakan metode melt intercalation secara fisika?
2. Bagaimana formulasi komposisi serbuk daun pisang batu, carboxymethyl
cellulosa (CMC) dan gum arabic sebagai material bioplastik sehingga
memiliki sifat fisis, mekanik dan thermal yang sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia (SNI) 7188.7:2016?
3. Bagaimana sifat-sifat biodegradable plastik berbasis filler serbuk daun pisang
batu dan carboxymethyl cellulosa (CMC) dengan matriks gum arabic sebagai
aplikasi bioplastik yang ramah lingkungan?

1.3. Tujuan Penelitian


Dalam penelitian ini memiliki tujuan, yaitu :
1. Membuat material bioplastik berbasis serbuk daun pisang batu dan
carboxymethyl cellulosa yang diperkuat oleh gum arabic dengan metode melt
intercalation.
2. Menentukan komposisi optimum material bioplastik sehingga memiliki sifat
fisis, mekanik dan termal yang memenuhi standar bioplastik yang berlaku.
3. Menentukan pengaruh ikatan material yang terjadi terhadap sifat fisis,
mekanik dan thermal dari bioplastik berbasis serbuk pisang batu dan
carboxymethyl cellulosa dengan perekat gum arabic.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


5

1.4. Pembatasan Masalah


Untuk mendapatkan suatu hasil penelitian dari permasalahan yang ditentukan,
maka perlu ada pembatasan masalah penelitian :
1. Daun pisang batu diperoleh dari hasil perkebunan pisang masyarakat daerah
Jl. Tuar Amplas Medan Amplas.
2. Ukuran serbuk daun pisang batu, CMC dan gum arabic sebesar 100 mesh.
3. Bioplastik yang diperkuat serbuk daun pisang batu, CMC dan matriks gum
arabic dibentuk dengan menggunakan metode melt intercalation.
4. Campuran pada proses pembuatan bioplastik ini divariasikan serbuk daun
pisang batu, carboxymethyl cellulosa dan perekat gum arabic yaitu pada
komposisi di Tabel 3.1 dengan massa total campuran 10 gr.
5. Proses kompaksi untuk bioplastik diperkuat serbuk daun pisang batu dan
carboxymethyl cellulosa dengan perekat gum arabic dilakukan dengan tekanan
1 atm ditahan selama 20 menit pada suhu 70 oC.
6. Pengujian untuk bioplastik serbuk daun pisang batu dan carboxymethyl
cellulosa dengan perekat gum arabic meliputi : sifat fisis (densitas, daya serap
air, sifat biodegredable dan gugus fungsi dengan FTIR), sifat mekanik (kuat
tarik, modulus elastisitas dan pertambahan putus) dan sifat thermal dengan
DSC (Differential Scanning Calorimetry)

1.5. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini nantinya diharapkan memberikan manfaat bagi
masyarakat:
1. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai material
bioplastik sebagai bahan kemasan yang memiliki sifat tahan lama, kuat dan
ramah lingkungan yang pada akhirnya mampu mendukung dunia industri.
2. Sebagai bahan masukan kepada pemerintah untuk mengolah dan
memanfaatkan serbuk daun pisang batu dan carboxymethyl cellulosa sebagai
bioplastik bahan kemasan yang bernilai ekonomis, terjangkau dan ramah
lingkungan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1. Bioplastik
Plastik biodegradable atau bioplastik merupakan plastik yang dapat digunakan
seperti layaknya plastik konvensional, namun akan hancur terurai oleh aktivitas
mikroorganisme menjadi air dan karbondioksida setelah habis terpakai dan
dibuang ke lingkungan. Bioplastik tidak hanya terdiri dari satu zat tetapi meliputi
beberapa material dengan sifat dan aplikasi yang berbeda. Menurut European
bioplastics, material plastik didefinisikan sebagai bioplastik jika material tersebut
berbasis bio, bersifat biodegradable atau mencakup keduanya. Maksud dari
berbasis bio atau biobased adalah material atau produk yang berasal dari biomassa
(tumbuhan) seperti protein, lipid, mikrobiota dan polisakarida. Seiring
perkembangan zaman telah ditemukan plastik ramah lingkungan atau disebut
plastic biodegradable yang terbuat dari bahan-bahan alami antara lain selulosa,
pati, kolagen, kasein, protein, khitosan, khitin, atau lipid dari hewan. Bahan-bahan
alami ini termasuk sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sampah plastik
yang dihasilkan dapat didegradasi oleh alam dan mikroorganisme sehingga tidak
menjadi beban lingkungan (Esy, 2015).
Plastik biodegradable merupakan polimer yang dapat berubah menjadi
biomassa, H2O, CO2 dan atau CH4 melalui tahapan depolimerisasi dan
mineralisasi. Depolimerisasi terjadi karena kerja enzim seluler yang terdiri atas
endo dan ekso enzim. Endo enzim memutus ikatan internal pada rantai utama
polimer secara acak, sedangkan ekso enzim memutus unit monomer pada rantai
utama secara berurutan. Bagian-bagian oligomer yang terbentuk dipindahkan ke
dalam sel dan mengalami mineralisasi membentuk CO 2, CH4, N2, air, garam-
garam mineral dan biomassa. Definisi polimer biodegradable dan hasil akhir yang
terbentuk dapat beragam bergantung pada polimer, organisme, dan lingkungan.
Proses dari biodegradasi tergantung pada kondisi lingkungan sekitar (contohnya
lokasi atau temperatur), bahan material dan pengaplikasiannya. Pamilia, dkk

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


8

(2014), mengklasifikasi 3 kelompok polimer yang menjadi bahan dasar dalam


pembuatan bioplastik, yaitu :
a. Campuran biopolimer dengan polimer sintetis : film jenis ini dibuat dari
campuran granula pati (5-20%) dan polimer sintetis serta bahan tambah.
Plastik ini dapat dimakan oleh mikroba dalam tahan dan matriks plastik dapat
hancur sampai partikel-partikel kecil.
b. Polimer mikrobiologi (poliester) : biopolimer ini dihasilkan secara
bioteknologis atau fermentasi dengan mikroba genus Alcalogenes. Berbagai
jenis ini diantaranya polihidroksi butirat (PHB), polihidroksi valerat (PHV),
asam polilaktat dan asam poliglikolat. Bahan ini dapat terdegradasi secara
penuh oleh bakteri, jamur dan alga. Tetapi karena proses produksi bahan
dasarnya yang rumit mengakibatkan harga kemasan bioplastik ini relatif
mahal.
c. Polimer pertanian : biopolimer ini tidak dicampurkan dengan bahan sintetis
dan diperoleh secara murni dari hasil pertanian. Polimer pertanian ini
diantaranya selulosa (bagian dari dinding sel tanaman), kitin (pada kulit
Crustaceae) dan pullulan (hasil fermentasi pati oleh Pullularia Pullulans).
Polimer ini memiliki sifat termoplastik, yaitu mempunyai kemampuan untuk
dibentuk atau dicetak menjadi film kemasan. Kelebihan dari polimer jenis ini
adalah keteserdiaan sepanjang tahun (renewable) dan mudah hancur secara
alami, namun memiliki kekurangan dalam hal penyerapan air yang tinggi
(Gill, 2014).
Vilpoux dan Averous (2006) mengungkapkan bahwa potensi penggunaan pati
sebagai bahan baku pembuatan plastik biodegradable berkisar 80-90%. Selama
ini pembuatan plastik biodegradable yang dikembangkan adalah berbasis pati,
baik pati alami ataupun pati yang telah dimodofikasi. Beberapa keunggulan dari
bioplastik diantaranya adalah :

a. Dapat mengurangi emisi CO2. Satu metrik ton bio-plastik menghasilkan antara

0,8 sampai 3,2 metrik ton lebih sedikit karbon dioksida dari satu metrik ton
plastik berbasis minyak bumi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


9

b. Mengatasi masalah semakin berkurangnya sumber minyak bumi dengan


kenaikan harga minyak yang semakin meningkat sebagai bahan pembuatan
plastik konvensional.
c. Mengurangi limbah yang dihasilkan oleh plastik konvensional seperti gas
metana yang dapat menyebabkan efek rumah kaca.
d. Meningkatkan perekonomian di pedesaan, harga tanaman seperti jagung telah
meningkat tajam di tengah kepentingan global dalam produksi biofuel dan
bio-plastik. Negara-negara di seluruh dunia telah memanfaatkan beberapa
tanaman sebagai bahan baku alternatif untuk menjaga lingkungan dan
ketersediaan energi.
Berdasarkan proses pembuatannya, plastik yang mudah terurai dibedakan atas
3 tipe yaitu: (Jannah, 2015).
a. Plastik yang dihasilkan dari suatu bahan akibat kerja dari suatu jenis
mikroorganisme (prekursor).
b. Plastik yang dibuat berdasarkan hasil rekayasa kimia dari bahan polimer alami
seperti serat selulosa dan bahan berpati (amilum).
c. Plastik dengan bahan baku polimer sintetik sebagai hasil dan sintesa minyak
bumi seperti poliester kopolimer.
Faktor utama polimer yang dapat terdegradasi secara alamiah adalah polimer
alam yang mengandung gugus hidroksil (-OH) dan gugus karboksil (=CO) dan
proses degradasi terutama dikarenakan serangan mikroorganisme. Tingkat
degradasi bioplastik bervariasi tergantung suhu, stabilitas polimer, dan tersedianya
oksigen. Akibatnya, sebagian besar bioplastik dapat terurai pada kondisi yang
dikontrol ketat dalam unit industri kompos. Dalam tumpukan sampah, tanah atau
di air, bioplastik masih sulit terdegradasi.
Proses degradasi secara kimia lingkungan terbagi atas 2 lingkungan degradasi,
yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Degradasi dalam lingkungan biotik umumnya
terjadi karena serangan mikroba seperti bakteri, kapang, ganggang dan lainnya,
sedangkan proses degradasi pada lingkungan abiotik meliputi degradasi karena
sinar UV, panas, hidrolisis, oksidasi dan lainnya. Proses yang terjadi pada
degradasi bioplastik aerobik : (Mandal, 2017)
Cbioplastik + O2  CO2 + H2O + Cresidu + Biomassa 2.1

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


10

Proses yang terjadi pada degradasi bioplastik anaerobik


Cbioplastik  CH4 +H2O + Cresidu + Biomassa 2.2

2.2. Metode Pembuatan Bioplastik


Ada beberapa metode pembuatan bioplastik dapat dijelaskan sebagai berikut :
2.2.1 Eksfoliasi/Adsorpsi
Pertama-tama, sekumpulan lapisan (layered host) mengalami pengelupasan
dalam pelarut (air, toluena, dan lain-lain) yang polimernya dapat larut pada larutan
tersebut. Polimer kemudian diserap kedalam lapisan dan melapisinya ketika
pelarut diuapkan, dan lembaran disusun seperti susunan sandwich. Kerugian
proses ini adalah penggunaan pelarut dalam jumlah yang besar. Ilustrasinya dapat
diperlihatkan pada Gambar 2.1 (Mishra et all, 2015).

Gambar 2.1. Ilustrasi Pembuatan Bioplastik Dengan Eksfoliasi

2.2.2 Polimerisasi In Situ Interkalatif


Polimerisasi in situ merupakan proses konvensional untuk sintesa
nanokomposit untuk thermoset dan thermoplastik. Dengan menggunakan teknik
ini pembentukan polimer dapat terjadi dalam lembaran yang terinterkalasi. Reaksi
polimerisasi ini dapat terjadi dengan proses pemanasan, radiasi, atau
menggunakan inisiator

Gambar 2.2. Ilustrasi Pembuatan Bioplastik Dengan Polimerisasi In Situ


Interkalatif (Mishra et all, 2015).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


11

2.2.3 Interkalasi Larutan/Interkalasi Prepolimer Dari Larutan


Metode ini didasarkan pada pengembangan sistem pelarut dimana biopolimer
atau bio-prepolimer, seperti pati dan protein terlarut dan nanofillers anorganik
(biasanya silikat). Metode interkalasi dalam larutan melibatkan polimer yang
terlarut dalam pelarut organik. Selanjutnya pelarut tersebut diuapkan atau polimer
diendapkan. Metode ini membutuhkan pelarut dalam jumlah banyak. Semakin
banyak pelarut yang digunakan maka akan membuat lapisan dispersi filler lebih
baik. Teknik ini banyak digunakan dalam kasus polimer yang larut dalam air.
Proses akhir metode ini adalah penghilangan pelarut, baik dengan cara penguapan
maupun pengendapan. Keuntungan dari metode ini adalah nanokomposit
terinterkalasi dapat disintesis dengan menggunakan polimer dengan polaritas
rendah atau tanpa polaritas.

2.2.4 Melt Intecalation


Metode melt intercalation pertama kali dilaporkan oleh Vaia et al. Proses
pembuatan biokomposit pada metode ini dilakukan secara fisika tanpa
memerlukan penambahan pelarut lainnya. Silikat berlapis dicampur dengan
matriks polimer dalam molten state, ikatan polimer akan bergerak perlahan-lahan
ke dalam ruang antar lapisannya. Proses penyebaran ikatan polimer ke dalam
galeri lapisan silikat menjadi bagian penting pada proses melt intercalation.
Sehingga melt intercalation merupakan metode yang ramah lingkungan karena
tidak digunakannya pelarut organik yang nantinya dapat menjadi limbah,
sementara metode eksfoliasi, polimerisasi in situ interkalatif dan interkalasi
larutan menggunakan pelarut tersebut. Selain itu, melt intercalation juga
kompatibel dengan proses industri seperti pada injection molding. Pada melt
intercalation, pembuatan bionanokomposit dilakukan dengan tujuan untuk
menguatkan material, yaitu dengan cara memanaskan dan mendinginkan material
(Aripin, 2017).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


12

2.3. Aplikasi Bioplastik


Bioplastik secara konvensional sering digunakan sebagai bahan kemasan
makanan dan minuman, kantong plastik, pengemas souvenir, sedotan air minum
(pipet), dan lain-lain. Ada beberapa parameter yang harus diperhatikan
karakterisasi bioplastik yang dapat digunakan berdasarkan standar dapat disajikan
pada tabel antara lain : (Arini, dkk, 2017 dan Saptorahardjo, 2016)
Tabel 2.1 Standar Karakteristik Bioplastik
Plastik Konvensional Bioplastik Bioplastik
Parameter
SNI 7188.7:2016 Novamont Enviplast
Densitas (g/cm3) 0,95 - 1,27 – 1,32
WVTR
- 200 – 900 -
(g.20µm/m2.24h)
21,5% (Suhu 25 oC) - -
Daya Serap Air
69,09% (Suhu 100 oC)
Kuat tarik (MPa) 24,7 - 302 22 – 36 12 – 18
Perpanjangan
21 - 220% 21 - 220% 225 – 300%
putus (%)
Modulus
117 – 137 90 – 700 5,3 – 6
Elastisitas (MPa)
Hambatan pada
permukaan - - 107.5 - 1010
(Ω.mm)
MFR (g/10‟) - 3,5 – 7 -
Titik Leleh - - 140 – 160 oC

2.4. Material Penyusun Bioplastik


2.4.1. Tanaman Pisang Batu
Pisang batu (Musa balbisiana Colla) merupakan tanaman yang termasuk ke
dalam suku Musaceae dan dapat tumbuh di alam bebas. Tanaman yang termasuk
ke dalam grup genom BB ini dikategorikan sebagai salah satu tanaman asli yang
belum mengalami persilangan. Tanaman pisang ini memiliki genom AA.
Klasifikasi dari pisang klutuk menurut Borborah dkk. (2016) adalah sebagai
berikut :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Scitaminae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Musaceae

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


13

Marga : Musa
Jenis : Musa balbisiana Colla
Nama lokal : Pisang batu, pisang klutuk.
Pisang batu dapat tumbuh tinggi dan panjang dari batang semunya (tampak di
atas tanah) dapat mencapai tinggi 7,5 m atau bisa mencapai ± 13 m. Berikut ini
gambar tanaman pisang sebagai berikut : (Gunamantha, 2014).

Gambar 2.3 Tanaman Pisang Batu (Musa balbisiana Colla)

Di atas batang semu tersebut terdapat banyak daun yang menggerombol


dengan pelepah daun 1-2 m dan mudah robek. Selubung daun dari tanaman ini
merupakan pembentuk pelepah pisang, tunas biasanya tumbuh tak jauh dari
tanaman induk umumnya tunas tumbuh sekitar 6–10 disekitar tanaman induk,
tanaman yang telah dewasa umumnya memiliki tinggi yang dapat mencapai 6,25
– 7, 20 m dan dengan diameter yang dapat mencapai 40,5. Pada bagian dasar
tanaman ini memiliki warna hijau muda yang memiliki selubung yang berlilin,
dan memiliki warna merah muda keungunan pada bagian luar, bagian luar yang
licin dengan getah yang agak berair. Pelepah daun dapat tumbuh hingga sepanjang
71 cm.
Buah bertumbuh melengkung ke arah pelepah. Bunga keluar dari ujung
batang, dekat daun berbentuk tandan, warna bunga putih. Buah juga berbentuk
tandan setelah masak berwarna kuning. Pisang biji rasanya manis, tetapi banyak
sekali bijinya, dalam 1 buah pisang terdapat ± 50 biji, biji kecil, berwarna hitam
(seperti biji kapuk randu). Habitat tanaman ini tumbuh di dataran rendah sampai
ketinggian ± 2200 m dibawah permukaan air laut. Tanaman pisang ini menyukai
daerah yang panas, subur atau sedikit berbatu, dekat dengan pembuangan sampah.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


14

2.4.1.1. Ketersediaan Daun Pisang Batu Di Sumatera Utara


Tanaman pisang batu (Musa balbisiana Colla) merupakan salah satu komoditi
Perkebunan Unggulan, hal ini tergambar dari banyaknya permintaan bibit tunas
pisang yang bermutu dari petani/kelompok tani. Hal ini didukung oleh banyak
potensi lahan yang cocok secara ekologis untuk tanaman ini disamping harga yang
cukup stabil dan baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani/masyarakat pertanian.
Tanaman pisang di Sumatera Utara memiliki peran penting sebagai
komoditas sosial karena 50% dari luas arealnya merupakan perkebunan rakyat,
disamping komoditi ekspor. Pada tahun 2015 produksi pisang sebesar 363.061 ton
dengan jumlah tanaman yang menghasilkan sebesar 4.044.320 rumpun. Produksi
pisang menurun sebesar 15,49% dibanding tahun 2016 sebesar 429.628 ton.
Selama 6 (enam) tahun terakhir produksinya menunjukkan kenaikan dengan rata-
rata pertahun sebesar 11,36%. Berikut ini tabel penghasil daun pisang di Sumatera
Utara yaitu : (Manimarn, 2016)
Tabel 2.2 Daerah Penghasil Pisang Di Indonesia 2015
Provinsi Jumlah Produksi (Ton)
Jawa Barat 1.068.875
Jawa Timur 873.616
Jawa Tengah 455.031
Lampung 319.081
Banten 179.616
Sumatera Utara 118.808
*Sumber Biro Pusat Statistik dalam Angka 2015

Dari Tabel 2.2 tersebut menunjukkan daerah penghasil komoditi tanaman jenis
pisang Sumatera Utara menjadi salah satu dari 6 daerah penghasil pisang
terbanyak di Indonesia sebanyak 118.808 ton” (BPS 2015). Dimana dari tanaman
pisang akan dihasilkan daun pisang sebesar sebesar 55%. Ini artinya jumlah total
produksi daun pisang dapat mencapai 30 kali lipat dari produksi buah pisang.
Sehingga diperlukan diversifikasi produk daun pisang selain untuk pembungkus
tempe, makanan, pakan ternak, kompos maupun menjadi biogas menjadi suatu
produk yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, ekonomis dan ramah
lingkungan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


15

2.4.1.2. Karakteristik Daun Pisang Batu


Daun tanaman pisang batu, berbentuk lanset panjang yang memiliki tangkai
panjang berkisar antara 30-40 cm. Tangkai daun pisang ini bersifat agak keras dan
kuat serta banyak mengandung air. Daun pisang memiliki pelepah daun yang
membesar dan mengumpul berselang seling membentuk suatu struktur seperti
batang yang disebut psudostem atau batang semu. Di bawah permukaan daun
memiliki lapisan kutikula untuk mencegah terjadinya penguapan berlebih
sedangkan permukaan bawahnya dilapisi oleh suatu lapisan lilin tebal yang
berfungsi menahan air agar tidak membasahi daun. Secara anatomi daun
tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata atau
trikoma. Kutikula ini memiliki fungsi sebagai zat penahan laju penguapan air.
Tabel 2.3 Karakteristik Sifat Fisika dan Kimia Daun Pisang Batu
Parameter Nilai
Ukuran partikel 2 – 5 mm
Protein kasar 9,24%
Lemak 11,36%
Serat kasar 11,74%
Abu 15,52%
Selulosa 10,85%
Hemiselulosa 19,95%
Lignin 18,21%
Kandungan air 68,96%
Total solid (TS) 31,04%
Volatil solid 88,71%
Kandungan C dalam TS (basis kering) 3,55%
Kandungan N dalam TS (basis kering) 0,75%
Kandungan Ca 0,19%
Kandungan F 0,33%
Sumber : (Mastuti, 2017, Nisa, et all 2017)

2.4.2. Carboxyl Methyl Cellulose (CMC)


Struktur CMC (Carboxyl Methyl Cellulose) merupakan rantai polimer yang
terdiri dari unit molekul sellulosa. Setiap unit anhidroglukosa memiliki tiga gugus
hidroksil dan beberapa atom Hidrogen dari gugus hidroksil (-OH) tersebut
disubstitusi oleh carboxymethyl. Gugus hidroksil yang tergantikan dikenal dengan
derajat penggantian (degree of substitution) disingkat DS. Jumlah gugus hidroksil
yang tergantikan atau nilai DS mempengaruhi sifat kekentalan dan sifat kelarutan
CMC dalam air.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


16

Gambar 2.4 Struktur Ikatan CMC

CMC yang sering digunakan adalah yang memiliki nilai DS sebesar 0,7 atau
sekitar 7 gugus Carboxymethyl per 10 unit anhidroglukosa karena memiliki sifat
sebagai zat pengental cukup baik (aqualonCMC.Herculesincorporated). CMC
merupakan molekul polimer berantai panjang dan karakteristiknya bergantung
pada panjang rantai atau derajad polimerisasi (DP). Nilai DS dan nilai DP
ditentukan oleh berat molekul polimer, dengan bertambah besar berat molekul
CMC maka sifatnya sebagai zat pengental semakin meningkat.Sifat dan fungsi
CMC antara lain mudah larut dalam air dingin maupun air panas, dapat
membentuk lapisan, bersifat stabil terhadap lemak dan tidak larut dalam pelarut
organik, baik sebagai bahan penebal, sebagai zat inert dan bersifat sebagai
pengikat (Kamal, 2014).
Berdasarkan sifat dan fungsinya maka CMC dapat digunakan sebagai bahan
aditif pada produk minuman dan juga aman untuk dikonsumsi. CMC mampu
menyerap air yang terkandung dalam udara dimana banyaknya air yang terserap
dan laju penyerapannya bergantung pada jumlah kadar air yang terkandung dalam
CMC serta kelembaban dan temperatur udara disekitarnya.

2.4.3. Gum Arabic


Gum arabic (GA) merupakan campuran kompleks yang tersusun dari
komponen karbohidrat hidrofilik dan komponen protein hidrofobik yang diperoleh
dari batang dan cabang pohon akasia (Acacia senegal). GA memiliki karakteristik
diantaranya mempunyai kandungan polisakarida dan kalsium dengan berat
molekul yang tinggi. GA larut dalam air dan membentuk larutan dengan pH 4,5
serta tidak larut dalam alkohol. Pada umumnya gum arabic memiliki beragam

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


17

aplikasi seperti bertindak sebagai stabilizer, zat pengental dan pengemulsi dalam
industri makanan juga tekstil, litografi, kosmetik dan farmasi
Gom arab, dikenal pula sebagai gum acacia adalah salah satu produk getah
(resin) yang dihasilkan dari penyadapan getah pada batang tumbuhan legum
(polong-polongan) dengan nama sama (nama ilmiah Acacia senegal). Nama gom
arab secara harfiah berarti getah arab. Kemungkinan besar tumbuhan ini berasal
dari oasis padang pasir di Afrika utara, dan barangkali juga di Asia barat daya.
Sudan merupakan penghasil 70% produksi gom arab sedunia (Alhassan, 2015).

Gambar 2.5 Pohon Akasia (Acacia senegal)

Gum arab memiliki berat molekul antara 250.000–1.000.000. Gum arab jauh
lebih mudah larut dalam air dibanding hidrokoloid lainnya. Gum arab dapat
meningkatkan stabilitas dengan peningkatan viskositas. Jenis pengental ini juga
tahan panas pada proses yang menggunakan panas namun lebih baik jika
panasnya dikontrol untuk mempersingkat waktu pemanasan, mengingat gum arab
dapat terdegradasi secara perlahan-lahan dan kekurangan efisiensi emulsifikasi
dan viskositas.
Gum arab tersusun dari senyawa kompleks heteropolisakarida yang terdiri
dari L-arabinosa, L-ramnosa, D-galaktosa, dan D-asam glukoronat serta
mengandung ion kalsium, magnesium, dan kalium. Unit monosakarida gum arab
terdiri dari D-galaktosa (36,8%), L-arabinosa (30,3%), asam D-glukoronat
(13,8%) dan L-ramnosa (11,4%). Fungsi gum arab adalah untuk memperbaiki
viskositas, tekstur, dan bentuk makanan. Gum arab juga mempertahankan aroma
dari bahan yang akan dikeringkan karena gum arab dapat melapisi senyawa
aroma, sehingga terlindungi dari pengaruh oksidasi, evaporasi, dan absorbs air
dari udara terbuka terutama untuk produk-produk yang higroskopis (Hindi, 2017).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


18

Masalah utama dari penggunaan gum arab ini adalah terbentuknya larutan
yang kental pada konsentrasi gum di atas 10% meskipun kekentalan maksimum
gum arab baru tercapai pada konsentrasi 40–50% dan sering sulit disebarkan
secara merata dalam air. Jika tidak dijaga, gum ini akan membentuk gumpalan
dalam air, sehingga hanya bagian luar saja yang basah, sedangkan bagian dalam
tidak basah dan sulit untuk dilarutkan. Terdapat beberapa cara yang biasa
digunakan untuk memudahkan penyebaran gum arab dalam air dan menghindari
penggumpalan, antara lain : (1) menambahkan gum sedikit demi sedikit dan kalau
memungkinkan dibarengi dengan pengadukan cepat, (2) bila mungkin gum
dicampurkan terlebih dahulu dengan bahan kering lainnya dalam formula sebelum
penambahan air (Ibekwe, 2017).

2.5. Karakterisasi Bioplastik


Penelitian tidak bisa lepas dari kegiatan karakterisasi atau pengukuran.
Dengan karakterisasi kita bisa yakin bahwa material bioplastik pada penelitian ini
sudah memenuhi kriteria standar yang ditujukan. Karakterisasi juga memberikan
informasi tentang sifat-sifat fisis, mekanik maupun termal dari bioplastik berbasis
komposit matriks polimer tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi
untuk mengetahui sifat-sifat fisis, mekanik serta termal pada komposit matriks
polimer yaitu bioplastik dari serbuk daun pisang batu dan carboxyl methyl
cellulose yang diperkuat oleh gum arabic. Pada karakterisasi bioplastik dilakukan
beberapa analisis, yaitu analisis sifat fisis meliputi densitas, daya serap air, sifat
biodegredabilitas dan gugus fungsi ikatan menggunakan Fourier Transform Infra
Red (FTIR), untuk analisis sifat mekanis dilakukan uji tarik, perpanjangan putus,
dan modulus young menggunakan Universal Testing Machine (UTM), serta untuk
analisis sifat termal dilakukan uji termal menggunakan Differential Scanning
Calorimetry (DSC).

2.5.1. Karakterisasi Sifat Fisis


2.5.1.1 Densitas
Densitas merupakan pengukuran massa suatu benda per unit volume.
Semakin tinggi densitas (massa jenis) suatu benda, maka semakin besar pula

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


19

massa setiap volumenya. Dimana pengujian densitas dengan ASTM D 792-08


untuk geometri material yang berbentuk seperti potongan film bioplatik berbentuk
persegi dapat dihitung dengan persamaan :

(2.3)

Dengan ρ : densitas (gram/cm3), Mk: massa sampel (gram) dan V: volume


sampel (cm3). Densitas bioplastik secara teori dapat diukur dengan hukum
pencampuran (Rule Of Mixture) yaitu :

Untuk fraksi volume dirumuskan sebagai berikut :

Dengan mm : Massa matriks (gram), mf : Massa filler (gram), ρm : Densitas


matriks (gram/cm3), ρf : Densitas matriks (gram/cm3), Vf : Fraksi volume filler
(%) dan Vm : Fraksi volume matriks (%)

2.5.1.2 Daya Serap Air


Daya serap air merupakan kemampuan suatu bioplastik dalam menyerap air.
Semakin besar air yang diserapnya maka semakin banyak pori-pori yang terdapat
dalam material tersebut. Prosedur pengujian daya serap air ini mengacu pada
ASTM E 96. Daya serap air juga berpengaruh dengan laju transmisi uap air yang
masuk kedalam bioplastik. Pengujian ini bertujuan untuk menentukan besarnya
persentase air yang terserap oleh sampel yang direndam selama 24 jam.:

(2.6)

Dengan DSA : Daya serap air (%), mk: massa sampel uji sebelum perendaman
(gr), mb : massa sampel uji sesudah perendaman (gr).

2.5.1.3 Sifat Biodegredable


Biodegredable merupakan kemampuan suatu bioplastik untuk mengalami
degredasi (pemutusan rantai utama membentuk fragmen-fragmen dengan berat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


20

molekul rendah/oligomer) yang disebabkan oleh mikroba yang ada dilingkungan


luar baik di tanah maupun di air. Uji degradabilitas dilakukan berdasarkan
EN13432 menggunakan metode soil burial test dengan memanfaatkan mikroba
tanah dengan mengubur sampel di dalam tanah, dimana waktu penguburan
dilakukan selama 45 hari. Setelah dilakukan penguburan, massa sampel ditimbang
lagi untuk melihat pengurangan massanya. Persen pengurangan massa didapatkan
dengan menggunakan persamaan :

(2.7)

Dengan massa sampel sebelum proses biodegradasi mi (g) dan massa sampel
setelah proses biodegradasi mf (g). Degradasi sampel didapatkan dengan membagi
persen massa dengan waktu penguburan, yaitu 45 hari dirumuskan :

(2.8)

2.5.1.4 Gugus Fungsi Dengan FTIR (Fourier Transform Infrared


Spectroscopy)
Jika seberkas sinar inframerah dilewatkan pada suatu sampel polimer, maka
beberapa frekuensinya diabsorpsi oleh molekul sedangkan frekuensi lainnya
ditransmisikan. Transisi yang terlibat pada absorpsi IR berhubungan dengan
perubahan vibrasi yang terjadi pada molekul. Jenis ikatan yang ada dalam molekul
polimer (C-C, C=C, C-O, C=O) memiliki frekuensi vibrasi yang berbeda. Adanya
ikatan tersebut dalam molekul polimer dapat diketahui melalui identifikasi
frekuensi karakteristik sebagai puncak absorpsi dalam spektrum IR. Menurut
Hardjono (2007), intensitas pita serapan dalam penentuan gugus fungsi dalam
kimia organik cukup dengan intensitas kuat (s), medium (m), dan lemah (w).
Manfaat informasi/data yang dapat diketahui dari FT-IR untuk dianalisis adalah
identifikasi material yang tidak diketahui, menentukan kualitas sampel, dan
menentukan banyaknya komponen dalam suatu campuran. Gugus fungsi
bioplastik dapat diidentifikasi berdasarkan metode ASTM E 1252-88, yaitu
menggunakan pellet-KBr (Kalium Bromida) pada bilangan gelombang antara
5000 – 400 cm-1 (2 – 25 μm). Dari analisis gugus fungsi ini dapat diketahui
perubahan ikatan yang terjadi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


21

Spektrum inframerah berupa sidik jari dari suatu sampel menunjukkan


puncak absorbsi yang sesuai dengan frekuensi dari getaran yang dihasilkan antara
ikatan atom dari sampel. Karena setiap material berbeda antara satu dengan yang
lain yang memiliki masing-masing kumpulan atom yang berbeda, maka tidak ada
dua senyawa yang menghasilkan spektrum inframerah yang sama. Oleh karena
itu, spektroskopi inframerah dapat digunakan untuk analisis kualitatif dari setiap
jenis material yang berbeda. Selain itu, ukuran puncak pada spektrum
menunjukkan langsung jumlah dari material yang ada.

2.5.2 Karakterisasi Sifat Mekanik


Sifat mekanik biopolimer merupakan salah satu sifat yang sering digunakan
untuk karaterisasi suatu bahan polimer. Sifat mekani merupakan gabungan antara
kekuatan yang tinggi dan elastisitas yang baik, sifat ini disebabkan oleh adanya
dua macam ikatan dalam bahan biopolimer, yakni ikatan yang kuat antara atom
dan interaksi antara rantai polimer yang lemah. Pengukuran sifat mekanik
meliputi kekuatan tarik (tensile strength), modulus elastisitas (young’s modulus),
dan perpanjagan putus (elongation at break).

2.5.2.1 Kekuatan Tarik (Tensile Strength)


Kekuatan tarik (tensile strength) adalah kemampuan bahan untuk menerima
beban tanpa menjadi rusak atau putus. Tensile strength suatu bahan ditetapkan
dengan membagi gaya maksimum dengan luas penampang mula-mula sebelum
terdeformasi. Prosedur pengujian kekuatan tarik ini mengacu pada ASTM D882
dengan menggunakan persamaan :
Fmaks (2.9)

A0
Dengan  adalah kekuatan tarik bahan (N.m-2), Fmaks adalah tegangan
maksimum (N) dan A0 adalah luas penampang mula-mula (m2). Perilaku
bioplastik secara umum adalah elastik non-linear yang tergantung pada waktu
(time-dependent), ada dua mekanisme yang terjadi pada daerah elastis, yaitu:
- Distorsi keseluruhan bagian yang mengalami deformasi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


22

- Regangan dan distorsi ikatan-ikatan kovalennya.


Melalui pengujian tarik diperoleh kurva tegangan (stress) terhadap regangan
(strain). Bentuk umum kurva tegangan-regangan ditunjukkan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.6 Bentuk Umum Kurva Tegangan-Regangan Bahan Biopolimer

2.5.2.2 Modulus Elastisitas (Young’s Modulus)


Modulus elastisitas adalah ukuran suatu bahan yang diartikan ketahanan
material tersebut terhadap deformasi elastik. Semakin besar modulusnya maka
semakin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan. Sifat
mekanik bahan juga diamati dari sifat regangannya (E) yang didefinisikan sebagai
pertambahan panjang yang dihasilkan oleh ukuran panjang spesimen akibat gaya
yang diberikan. Prosedur pengujian modulus elastisitas mengacu ASTM D 882-97.
Besaran regangan ini berguna untuk mengamati sifat plastis dari bahan polimer.
Stress 
E  (2.10)
Str sin 
Dengan E adalah modulus elastisitas(N.m-2),  adalah tegangan (N.m-2) dan 
adalah regangan.

2.5.2.3 Perpanjangan Putus (Elongation at Break)


Perpanjangan putus (elongatioin at break) merupakan pertambahan panjang
dari spesimen uji, oleh karena beban penarikan sampai sesaat sebelum spesimen
uji tersebut mengalami perpatahan. Perpanjangan putus juga merupakan total
perpanjangan pada potongan uji pada waktu ketika mengalami perputusan, diukur
oleh penambahan dalam jarak antara dua garis yang ditempatkan dalam potongan
uji sebelum proses pemotongan dimulai :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


23

I f  I0 (2.11)
Perpanjangan putus() 
I0

Dengan  adalah regangan, I0 adalah panjang spesimen mula-mula (m) dan If


adalah panjang spesimen setelah diberi beban (m).

2.5.3 Karakterisasi Sifat Thermal


2.5.3.1 DSC (Differential Scanning Calorimetry)
DSC adalah suatu teknik analisis termal yang mengukur energi yang diserap
atau diemisikan oleh sampel sebagai fungsi waktu atau suhu. Ketika transisi
termal terjadi pada sampel, DSC memberikan pengukuran kalorimetri dari energi
transisi dari temperatur tertentu. Untuk mengukur energi yang diperlukan untuk
mengukur energi yang diperlukan untuk membuat perbedaan temperatur antara
sampel dan pembanding mendekati nol, yang dianalisis pada daerah suhu yang
sama, dalam lingkungan panas atau dingin dengan kecepatan yang teratur.
Terdapat dua tipe sistem DSC yang umum digunakan, yaitu :
- Power – Compensation DSC : pada Power – Compensation DSC, suhu sampel
dan pembanding diatur secara manual dengan menggunakan tungku
pembakaran yang sama dan terpisah..
- Heat – Flux DSC : pada Heat – Flux DSC, sampel dan pembanding
dihubungkan dengan suatu lempengan logam. Sampel dan pembanding
tersebut ditempatkan dalam satu tungku pembakaran. Perubahan entalpi atau
kapasitas panas dari sampel menimbulkan perbedaan temperatur sampel
terhadap pembanding, laju panas yang dihasilkan nilainya lebih kecil
dibandingkan dengan Differential Thermal Analysis (DTA).

Gambar 2.7 Bentuk Alat DSC (Differential Scanning Calorimetry)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


24

Prinsip dasar yang mendasari teknik ini adalah, bila sampel mengalami
transformasi fisik seperti transisi fase, lebih (atau kurang) panas harus mengalir ke
referensi untuk mempertahankan keduanya pada temperatur yang sama. Lebih
atau kurang panas yang harus mengalir ke sampel tergantung pada apakah proses
ini eksotermik atau endotermik. Pada polimer, khususnya plastik, definisi
temperatur tinggi adalah suhu diatas 135 oC. Pada temperatur tinggi, polimer tidak
hanya melunak, tetapi juga dapat mengalami degradasi termal. Sebuah plastik
yang mengalami pelunakan pada temperatur tinggi tetapi mulai mengalami
degradasi termal pada suhu yang jauh lebih rendah hanya dapat digunakan pada
suhu di bawah suhu dia mulai mengalami degradasi. Data yang diperoleh dari
analisis DSC dapat digunakan untuk mempelajari kalor reaksi, kinetika, kapasitas
kalor, transisi fase, kestabilan termal, kemurnian, komposisi sampel, titik kritis,
dan diagram fase. Termogram hasil analisis DSC dari suatu bahan polimer akan
memberikan informasi titik transisi kaca (Tg), yaitu suhu pada saat polimer
berubah dari bersifat kaca menjadi seperti karet, titik kristalisasi ( Tc), yaitu pada
saat polimer berbentuk kristal, titik leleh (Tm), yaitu saat polimer berwujud cairan,
dan titik dekomposisi (Td), yaitu saat polimer mulai rusak.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat Penelitian


Pada penelitian ini, proses pembuatan bioplastik berbasis serbuk pisang batu dan
carboxymethyl cellulosa dengan matriks gum arabic dilakukan di Laboratorium
Kimia Dasar LIDA USU, pengujian sifat gugus fungsi ikatan (FTIR) di
Laboratorium Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe B Medan Belawan,
pengujian sifat mekanik di Laboratorium Komposit Fakultas Kehutanan USU, dan
pengujian sifat thermal (DSC) di Laboratorium Material Test PTKI.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Peralatan
1. Ayakan 100 mesh: untuk memisahkan butiran sesuai ukuran yang diperlukan.
2. Neraca Digital : untuk menimbang massa sampel.
3. Beaker Glass : untuk mengukur volume dan sebagai wadah sampel.
4. Spatula : sebagai alat mengambil sampel.
5. Oven : sebagai alat untuk mengeringkan sampel.
6. Hot Plate dan magnetic stirer : untuk memanaskan campuran dan mengaduk
bahan agar tercampur merata (homogen).
7. Mixer : untuk mengaduk bahan yang kental agar tercampur rata
8. Cetakan Sampel (Moulding) : sebagai tempat mencetak sampel.
9. Wayer mesh ukuran 200 mesh: sebagai layar untuk memuluskan permukaan.
10. Hidraulik Hot Press : untuk menekan sampel agar permukaan rata.
11. Jangka Sorong : untuk mengukur tebal dan panjang sampel.
12. Stopwacth : untuk menghitung lamanya waktu.
13. Ultimate Tensile Machine (UTM) : sebagai alat untuk menguji sifat mekanik
bahan meliputi uji tarik, perpanjangan putus, dan modulus young.
14. DSC (Differential Scanning Calorimetry): sebagai alat untuk menguji sifat termal
suatu material meliputi suhu transisi, suhu kristalisasi, dan suhu leleh.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


26

15. Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) : sebagai alat untuk mengetahui
gugus fungsi struktur ikatan sampel.

3.2.2. Bahan
1. Serbuk daun pisang batu sebagai penguat (filler) pada pembuatan bioplastik.
2. Carboxymethyl cellulosa merk Merck sebagai filler untuk pengental bioplastik.
3. Gum Arabic Elnasr sebagai matriks (perekat) pada pembuatan bioplastik.
4. Aquadest untuk membersihkan kotoran yang melekat pada bahan.
5. Asam Cuka 2% untuk memecahkan ikatan agar bahan lebih homogen.
6. Etanol sebagai larutan untuk mentreatment zat flovanoid dan kutin pada serbuk
daun pisang batu

3.3. Variabel Penelitian


Variabel penelitian pada pembuatan material batu bata antara lain variasi jenis
pengisi (filler) dan variasi matriks antara serbuk daun pisang batu dan CMC yang
diperkuat oleh gum arabic. Pada penelitian ini menggunakan rancangan percobaan
yaitu dengan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial.
Tabel 3.1 Persentase Komposisi Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang Batu
dan CMC Dengan Matriks Gum Arabic
Kode Serbuk Daun CMC Gum Arabic
Sampel Pisang Batu (%wt) (%wt)
(%wt)
A 80 15 5
B 75 15 10
C 70 15 15
D 65 15 20
E 60 15 25
F 55 15 30

Sedangkan untuk karakterisasi material bioplastik meliputi: sifat fisis (densitas,


daya serap air, biodegredable dan gugus fungsi), sifat mekanik (kuat tarik, modulus
elastisitas dan perpanjangan putus) dan sifat thermal (titik leleh).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


27

3.4. Prosedur Penelitian


Prosedur penelitian pembuatan dan karakterisasi bioplastik serbuk daun pisang
batu dan carboxymethyl cellulosa (CMC) yang diperkuat gum arab terbagi secara
fisika yaitu metode melt intercalation dan dikarakterisasi bioplastik tersebut
kemudian hasilnya dibandingkan dengan standar bioplastik pada umumnya
berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7188.7:2016, Novamont dan
Enviplast.

3.4.1 Preparasi Serbuk Daun Pisang Batu


1. Diambil daun pisang batu yang berwana hijau sedikit tua di perkebunan pisang
masyarakat daerah Amplas.
2. Dibersihkan daun pisang batu dengan air yang mengalir dan direndam daun
pisang batu dalam air selama 24 jam.
3. Dipotong-potong daun pisang batu ukuran persegi dengan ukuran 3 x 3 cm.
4. Kemudian daun pisang batu dimasukkan kedalam beaker gelas kemudian
direndam dengan larutan NaOH 2% selama 1 malam
5. Setelah itu disaring, ditambahkan NaOH 2% dan dimasukkan dalam
autoclave pada tekanan 168,9 kPa dan temperatur 130 oC selama 4 jam.
6. Dihentikan tekanan secara mendadak dan dikeluarkan daun pisang batu dari
autoclave dan dicuci dengan air sampai pH netral.
7. Dikeringkan daun pisang batu yang telah diautoclave ke dalam oven pada suhu
40 oC selama 4 jam.
8. Setelah kering, daun pisang batu diblender dan diayak dengan ukuran 100 mesh.
9. Serbuk daun pisang batu kemudian dimaserasi dengan melarutkan serbuk daun
pisang batu dengan etanol 100 mL sambil diguncang-guncang selama 1 hari
dengan mesin soaking untuk mengambil zat flovanoid dan kutin.

3.4.2 Pembuatan Bioplastik


1. Ditimbang bahan dasar sebagai penguat yaitu: serbuk daun pisang batu dan CMC
dengan variasi komposisi (lihat Tabel 3.1).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


28

2. Dilarutkan terlebih dahulu gum arabic dengan aquadest bervolume 50 mL diatas


hotplate stirer pada suhu 80 oC.
3. Dicampurkan bahan larutan ekstrak serbuk daun pisang batu dan CMC pada
tempat terpisah dengan larutan gum arabic dengan pencampuran basah (wet
mixing) pada aquadest volume 100 mL sambil diaduk kemudian ditambahkan
asam cuka 2% sebanyak 5 cc sambil diaduk kembali sampai campuran tersebut
mengental selama 30 menit menggunakan spatula diatas hotplate pada suhu 80 oC.
4. Setelah bahan tersebut mengental kemudian dimasukan larutan gum arabic
sambil diaduk dengan mixer agar homogen selama 10 menit. Perbandingan
komposisi serbuk daun pisang batu, CMC dan gum arabic dilihat Tabel 3.1.
5. Dituang bahan yang telah tercampur kedalam cetakan dari akrilik kemudian
dikeringkan kedalam oven pada suhu 70 oC.
6. Setelah kering, diangkat lembaran bioplastik kemudian dimasukkan kedalam
wayer mesh ukuran 200 mesh untuk meratakan permukaan.
7. Dikompaksi (press) bioplastik pada tekanan 1 atm dengan waktu penahanan 20
menit pada suhu 70 oC.
8. Dikeluarkan sampel yang telah dikompaksi dari cetakan kemudian dikeringkan
selama 5-7 hari diudara bebas.
9. Dikarakterisasi sampel tersebut meliputi sifat fisis (densitas, daya serap air, sifat
biodegredable dan gugus fungsi), sifat mekanik (kuat tarik, modulus elastisitas
dan perpanjangan putus) dan sifat thermal (DSC).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


29

3.5 Diagram Alir Penelitian


Berikut ini diagram alir penelitian yang dirancang untuk penelitian bioplastik
berbasis komposit serbuk daun pisang batu dan CMC yang diperkuat gum arabi
sebagai berikut :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


30

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Material Bioplastik Berbasis Komposit Serbuk Daun Pisang Batu dan CMC
yang Diperkuat Gum Arabic
Bioplastik berbasis komposit serbuk daun pisang batu dan CMC dengan matriks
gum arabic sebagai material plastik kemasan yang ramah lingkungan telah berhasil
dibuat dengan menggunakan teknik melt intercalation yang dicampur dengan metode
pencampuran basah (wet mixing) yang kemudian didinginkan. Variasi komposisi
serbuk daun pisang batu, CMC dan gum arabic dibuat dengan perbandingan yaitu
(80:15:5)%wt, (75:15:10)%wt, (70:15:15)%wt, (65:15:20)%wt, (60:15:25)%wt dan
(55:15:30)%wt dengan massa total 50 gram yang dilarutkan pada suhu 70 oC dan
dikompaksi sebesar 1 atm selama 10 menit pada suhu 60 oC dengan wayer mesh
setelah didinginkan. Karakterisasi material bioplastik berbasis komposit serbuk daun
pisang jati dan CMC yang dengan diperkuat gum arabic bertujuan untuk melihat
bagaimana interaksi antar bahan dalam membentuk bioplastik terhadap sifat fisis :
densitas, daya serap air, biodegredable dan gugus ikatan fungsi, sifat mekanik : kuat
tarik, perpanjangan putus, dan modulus elastisitas dan sifat thermal meliputi titik
leleh yang hasilnya akan dibandingkan dengan plastik konvensional yang berstandar
eco SNI 7188.7:2016, dan bioplastik pasaran seperti Novamont dan Enviplast.
Berikut gambaran pembentukan bioplastik yang dipreparasi menggunakan metode
melt intecalation :
Lapisan Kutin
dan Selulosa

Polimer

Rantai Alifatik

Interaksi Intermolekul

Gambar 4.1 Ilustrasi Ikatan Polimer Pada Bioplastik Dengan Metode Melt
Intercalation

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


31

4.2.Karakterisasi Sifat Fisis Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang


Batu/CMC/Gum Arabic
4.2.1 Densitas
Uji densitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar kerapatan atom-atom penyusun material yang saling berikatan atau berinteraksi
antara satu atom dengan atom lainnya yang diukur melalui pengukuran massa setiap
satuan volume material tersebut. Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan
menggunakan persamaan 2.5

1,8 1,601 x 103


1,6
1,4
Densitas (kg/m 3 )

1,2 0,971 x 103


1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
80:15:5 75:15:10 70:15:15 65:15:20 60:15:25 55:15:30

Variasi Komposisi Serbuk Daun Pisang Batu : CMC : Gum Arabic


(%wt)

Gambar 4.2 Hasil Pengujian Densitas Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang
Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa nilai densitas meningkat sebanding dengan


penambahan komposisi gum arabic. Ini ditunjukan dari hasil penelitian bahwa
kondisi optimum bioplastik diperoleh pada komposisi serbuk daun pisang batu :
CMC : gum arabic (55:15:30)%wt. Komposisi ini mampu menghasilkan densitas
sebesar 1,601 x 103 kg/m3. Kondisi variasi yang paling jelek terjadi pada komposisi
serbuk daun pisang batu : CMC : gum arabic (80:15:5)%wt dengan densitas sebesar
0,971 x 103 kg/m3. Hasil pengujian densitas bioplastik dalam penelitian ini telah
memenuhi standar plastik konvensional ecogreen dengan densitas 0,95 x 103 kg/m3
dan produk bioplastik pasaran merk Enviplast dengan interval densitas (1,2 – 1,32) x
103 kg/m3.
Peningkatan nilai densitas ini tidak hanya dipengaruhi oleh struktur mikro
material, yang meliputi rongga udara dan goresan yang terbentuk pada saat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


32

pencetakan dan pendinginan, tetapi juga dipengaruhi oleh sifat penyusun material
tersebut seperti ikatan kohesivitas (adesi-kohesi) antar muka (interface) dan
kekasaran permukaan serbuk daun pisang batu. Dapat kita simpulkan, pada saat
kondisi bioplastik yang memiliki densitas rendah, terlihat bahwa komposisi serbuk
daun pisang batu lebih dominan dibandingkan dengan gum arabic yang sebagai
matriks sehingga ikatan senyawa kutin dan selulosa yang tersusun oleh gugus ester
yang merupakan gabungan gugus hidroksil (-OH) dan karboksil (-COOH) yang
memiliki luas permukaan spesifik yang tinggi tidak mampu mengikat secara optimal
ikatan gum arabic yang menyebabkan kerapatan antar molekul polimer lebih rendah
dibandingkan dengan densitas bioplastik yang optimal pada komposisi penambahan
30% gum arabic yang memiliki densitas yang lebih tinggi. Gum arabic tergolong
heteropolisakarida yang tersusun oleh senyawa arabinosa yang terdiri dari gugus
aldehid (C=O) dan gugus alkohol (-OH) serta memiliki densitas sebesar 1,485 x 103
kg/m3.

4.2.2 Daya Serap Air


Uji daya serap air merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar bahan tersebut menahan maupun menyerap air yang mana daya serap air ini
sangat penting dalam pembuatan bioplastik sebagai bahan kemasan. Dari hasil
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan persamaan 2.6

25
20,689%
20
Daya Serap Air (%)

15

10
10,241%
5

0
80:15:5 75:15:10 70:15:15 65:15:20 60:15:25 55:15:30

Variasi Komposisi Serbuk Daun Pisang Batu : CMC : Gum Arabic (%wt)

Gambar 4.3 Hasil Pengujian Daya Serap Air Bioplastik Berbasis Serbuk Daun
Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


33

Gambar 4.3 menggambarkan hubungan antara pengaruh variasi komposisi


dengan nilai daya serap air. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa nilai daya
serap air bioplastik yang optimum terjadi pada komposisi serbuk daun pisang batu :
CMC : gum arabic (55:15:30)%wt dengan nilai daya serap air 10,241%. Sedangkan
sifat fisis yang kurang optimum pada komposisi serbuk daun pisang batu : CMC :
gum arabic (80:15:5)%wt dengan nilai daya serap air 20,689%. Hasil pengujian daya
serap air bioplastik dalam penelitian ini telah memenuhi standar plastik konvensional
ecogreen SNI 7188.7:2016 dengan daya serap air sebesar 21,5% pada suhu
peredaman air sebesar 25 oC.
Nilai daya serap air pada material bioplastik berbanding terbalik dengan nilai
densitas dan berbanding lurus banyaknya komposisi serbuk daun pisang batu. Hal ini
disebabkan karena komposisi yang kurang optimum memiliki gugus hidroksil yang
belum tersubtitusi (masih bebas) sehingga sangat peka terhadap air dikarenakan
gugus hidroksil bersifat polar dan hidrofilik. Selain itu, ketidakhomogenitas pada
saat proses pencampuran maka partikel-partikel yang menyusun bioplastik berikatan
sangat lemah akibatnya molekul-molekul oksigen masuk dan membentuk rongga-
rongga. Sedangkan bioplastik yang baik memiliki komposisi gum arabic yang
optimum dimana gum arabic memiliki kandungan protein yang memiliki gugus
fungsional yang mempunyai kemampuan mengikat air paling rendah yaitu hanya
berkisar 7,49%. Selain itu, serbuk daun pisang memiliki kandungan kutikula berupa zat
kutin yang bersifat kedap air.

4.2.3 Sifat Biodegredable


Uji biodegradabilitas merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah
suatu bahan tersebut dapat terdegradasi dengan baik atau tidak di lingkungan. Proses
biodegradabilitas dapat terjadi dengan proses hidrolisis (degradasi kimiawi),
bakteri/jamur, enzim (degradasi enzimatik), oleh angin dan abrasi (degradasi
mekanik), cahaya (fotodegradasi). Proses ini juga dapat dilakukan melalui proses
secara anaerobik dan aerobik. Pada penelitian ini uji biodegradasi dilakukan pada
kondisi aerobik dengan bantuan bakteri pada tanah dengan menggunakan metode
pengujian soil burial test dengan tujuan untuk mengetahui berapa persen laju

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


34

degredasi bioplastik dengan berbagai variasi komposisi sehingga akan bisa


diramalkan berapa lama bioplastik tersebut akan terurai oleh mikroorganisme dalam
tanah. Pada metode ini hanya dilakukan dengan mengubur bioplastik ke dalam tanah
yang terkontrol sifat fisika dan kimianya kemudian menghitung fraksi berat residual
dari bioplastik dalam setiap satuan waktu (gram/hari)
S1 S2 S3 S4 S5 S6
120
91,2% - 99,2%
Biodegredabilitas (%)

100

80

60

40

20

0
0 10 20 30 40 50
Lamanya Waktu Penguburan (Hari)

Gambar 4.4 Hasil Pengujian Biodegredabilitas Bioplastik Berbasis Serbuk Daun


Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi

Gambar 4.4 menunjukan hubungan lamanya waktu penguburan terhadap persen


laju biodegredabilitas bioplastik yang mengacu pada standar EN13432. Hasil yang
diperoleh untuk uji biodegredabilitas yang dikubur dalam tanah jenis kompos selama
45 hari menunjukkan tingkat laju degredasi bioplastik pada masing-masing
komposisi yaitu menghasilkan interval biodegredabilitas 91,2% - 99,2% dan
memenuhi syarat SNI yaitu tercapainya biodegredabilitas 90% tidak lebih dari 180
hari. Ini disebabkan bahan penyusun bioplastik berupa zat kutin, selulosa, dan
arabinosa yang memiliki struktur ikatan gugus fungsi C-O ester dan C=O karbonil
yang bersifat hidrofilik sehingga dapat mengikat molekul air dari sekitar lingkungan
dan memudahkan terjadinya degradasi.

4.2.4 Gugus Fungsi Ikatan/FTIR (Fourier Transform Infra Red)


Karakterisasi gugus fungsi ikatan kimia pada bioplastik serbuk daun pisang batu -
CMC yang diperkuat oleh gum arabic di uji FTIR dengan menggunakan alat Nicolet
iS10 menunjukkan puncak - puncak vibrasi bilangan gelombang tertentu dari bahan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


35

yang digunakan untuk pembuatan bioplastik berdasarkan gugus fungsional yang


dimiliki oleh masing - masing bahan pembuat bioplastik.

Gambar 4.5 Analisis FTIR Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Pada Variasi (80 : 15 : 5)%wt

Gambar 4.6 Analisis FTIR Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Pada Variasi (65 : 15 : 20)%wt

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


36

Gambar 4.7 Analisis FTIR Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Pada Variasi (55 : 15 : 30)%wt

Pada spektra IR bioplastik dengan komposisi serbuk daun pisang yang lebih
dominan sebesar 80%wt yang dikarakterisasi muncul pita serapan kuat dan lebar
pada bilangan gelombang 3286 cm-1 yang menunjukkan tumpang tindihnya vibrasi
rentang gugus –OH yang merupakan gugus gum arabic, fenol dan senyawa flovanoid
yang berfungsi sebagai antimikroba. Pita serapan pada bilangan gelombang 2938,84
cm-1 menunjukkan vibrasi rentangan C-H dari alkana yang diperkuat dengan
munculnya serapan pada bilangan gelombang 2886,41 cm -1. Pada spektra IR
bioplastik hasil preparasi juga memunculkan vibrasi C=O dari ester pada bilangan
gelombang 1635,19 cm-1 dan merupakan gugus kutin yang merupakan salah satu
senyawa kutikula yang berfungsi sebagai zat anti air dan termal, serta vibrasi >CO
aldehid yang merupakan gugus senyawa gum arabic pada bilangan gelombang
1590,06 cm-1. Pita serapan dari rentangan C-H simetris dari CH3 muncul pada
bilangan gelombang 1455,54 cm-1 1413,84 cm-1 dan dan asimetri pada bilangan
gelombang 1323,21 cm-1 dengan intensitas yang lebih rendah dan vibrasi rentangan
C-O-C teridentifikasi bilangan gelombang 1243,37 cm -1 dan 1210,58 cm-1 pada
intensitas yang lebih rendah juga. Pita serapan tajam C-O asimetris teridentifikasi
dibilangan 1108,57 cm-1 dan 1037,38 cm-1. Pita serapan tajam pada bilangan
gelombang 1037,38 cm-1 merupakan vibrasi C-O alkohol primer. Vibrasi sedang dari
CH3 muncul pada gelombang 847,14 cm-1. Dan pada bilangan gelombang -720 cm-1

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


37

merupakan senyawa lainnya –(CH2)n. Bioplastik tersebut bersifat biodegredable


(mudah terurai) dibuktikan dengan adanya gugus C=O dan C-O-C pada struktur
ikatannya.
Hasil ini jika dibandingkan dengan bioplastik dengan penambahan variasi
kontrol massa CMC pada dasarnya menunjukkan kesamaan dalam gugus
fungsionalnya. Dikarenakan penambahan CMC dalam hal ini sebagai zat yang
menstabilkan pembentukan larutan serbuk daun pisang batu dan gum arabic untuk
pembentukan bioplastik. Dan sebagai zat tambahan, keberadaan CMC tidak serta
merta merubah struktur kimia larutan bioplastiknya. Ini bersesuaian dengan hasil
karakterisasi dengan FTIR yang ditampilkan pada gambar 4.5, 4.6 dan 4.7. Untuk
melihat perbandingan pita serapan pada masing-masing sampel hasil karakterisasi
FTIR disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Perbedaan Serapan IR Antara Sampel S1, S3 dan S6
Bilangan Gelombang (cm-1) Pada
Bilangan
Variasi Sebuk Daun Pisang Batu :
Gelombang Intensitas Vibrasi
CMC : GumArabic
Referensi Referensi Referensi
(80:15:5) (65:15:20) (55:15:30)
(cm-1)
%wt %wt %wt
OH
Sedang/ intermolekul
3286,17 3342,75 3285,58 3280 - 3650
Tajam dari Alkohol
primer
2938,84 2937,68 2936,27 Rentangan CH
3000 - 2962 Sedang
2886,41 2885,79 2887,38 dari alkana
Vibrasi C=O
1635,19 - 1633,68 1680 - 1630 Tajam
dari Ester
Rentangan >CO
1590,06 1507,17 1589,41 1580 - 1490 Lemah
dari Aldehid
CH asimetris
1455, 54 1457,12 1413,99 1465 - 1410 Sedang
CH3
Sedang/
1323,21 1322,76 1373,34 1390 - 1320 CH simetris CH3
Tajam
Rentangan C-O-
1243,37 1221,99 1216,67 1230-1270 Sedang
C dari Eter
Tajam Rentangan C-O
1108,57 1110,05 1108,34 1150 - 1050
Sekali asimetris
C-O dari alkohol
1037,38 1041,46 1037,26 1085 – 1030 Tajam
primer
994,71 995,00 994,99 998 – 848 Sedang Vibrasi CH3
Senyawa Lain -
653,02 672,78 672,25 - 722 Sedang
(CH2)n

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


38

4.3.Karakterisasi Sifat Mekanik Bioplastik


4.3.1 Kuat Tarik
Uji kuat tarik merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
kemampuan bioplastik dalam menahan beban atau gaya mekanis vertikal yang
diberikan sampai terjadinya rusak atau putus dimana pengujian kuat tarik
menggunakan Universal Testing Machine (UTM) dengan ASTM D 882. Dari hasil
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan persamaan 2.9.

40,00 35,71
35,00
27,91
30,00
Kuat Tarik (MPa)

25,00
26,65
20,00
15,00
10,00
5,00
0,00
80:15:5 75:15:10 70:15:15 65:15:20 60:15:25 55:15:30

Variasi Komposisi Serbuk Daun Pisang Batu : CMC : Gum Arabic


(%wt)

Gambar 4.8 Hasil Pengujian Kuat Tarik Bioplastik Berbasis Serbuk Daun Pisang
Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi

Dari hasil pengamatan grafik diatas menunjukkan bahwa nilai kuat tarik
meningkat sebanding dengan peningkatan komposisi matriks gum arabic. Ini
ditunjukan dari hasil penelitian bahwa kondisi optimum diperoleh nilai kuat tarik
yang optimum pada komposisi serbuk daun pisang batu : CMC : gum arabic
(55:15:30)%wt yaitu 27,91 MPa dan kondisi kurang optimum pada komposisi serbuk
daun pisang batu : CMC : gum arabic (80:15:5)%wt menghasilkan kuat tarik sebesar
35,71 MPa. Akan tetapi, terjadi kenaikan dan penurunan sifat kuat tarik bioplastik
yang dimulai pada komposisi (75:15:10)%wt dengan kuat tarik 26,65 MPa naik pada
komposisi (70:15:15)%wt dengan kuat tarik sebesar 28,91 MPa. Ini disebabkan
kandungan kutin pada daun pisang batu kering lebih sedikit dari pada daun pisang
batu pada keadaan yang masih basah. Nilai kuat tarik yang dihasilkan oleh pengujian
telah memenuhi standar SNI ecoplastik konvensional 24,7 – 302 MPa, bioplastik
Novamont 22 – 36 MPa dan bioplastik Enviplast 12 – 18 MPa.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


39

Nilai kuat tarik semakin menurun pada saat peningkatan massa fillernya serbuk
daun pisang batu sehingga menyebabkan terbentuknya ikatan hidrogen (H2) dan
membuat jarak antar rantai-rantai polimer bioplastik semakin renggang. Dimana
ikatan hidrogen merupakan ikatan yang sangat lemah, lebih lemah dari ikatan
kovalen yang menyebabkan peningkatan kecepatan respon viskoelastis dan mobilitas
molekuler rantai polimer pada bioplastik.

4.3.2 Perpanjangan Putus (Elongasi)


Uji perpanjangan putus (elongatioin at break) merupakan bagian dari pengujian
kuat tarik, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa panjang perenggangan
bioplastik setelah mengalami gaya penarikan sebelum dan sesudah mengalami
perputusan. Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan persamaan
2.11 menghasilkan bentuk grafik sebagai berikut :

600 515,82
Perpanjangan Putus (%)

500 455,01

400
273,14
300

200

100

0
80:15:5 75:15:10 70:15:15 65:15:20 60:15:25 55:15:30

Variasi Komposisi Serbuk Daun Pisang Batu : CMC : Gum Arabic


(%wt)

Gambar 4.9 Hasil Pengujian Perpanjangan Putus (Elongasi) Bioplastik Berbasis


Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi

Gambar 4.9 menunjukkan bahwa nilai perpanjangan putus menurun sebanding


dengan penambahan komposisi gum arabic. Ini ditunjukan dari hasil penelitian
bahwa bioplastik yang memiliki tingkat persentase perpanjangan putus terendah
diperoleh pada komposisi serbuk daun pisang batu : CMC : gum arabic
(55:15:30)%wt yaitu sebesar 273,14%. Sedangkan kondisi variasi yang memiliki
tingkat persentase perpanjangan putus tertinggi pada komposisi serbuk daun pisang
batu : CMC : gum arabic (75:15:10)%wt sebesar 515,82%. Akan tetapi, hasil

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


40

pengujian perpanjangan putus bioplastik dalam penelitian ini masih memenuhi


standar plastik konvensional ecogreen dan bioplastik Enviplast dengan
perpaanjangan putus 21-220% dan produk bioplastik Novamont 225 – 300%.
Tingkat persentase perpanjangan putus berbanding terbalik dengan kekuatan tarik
bioplastik dan peningkatan massa matriksnya gum arabic. Penurunan elongasi
disebabkan oleh menurunnya jumlah ikatan hidrogen yang terbentuk akibat matriks
tidak optimal dalam mengikat filler serbuk daun pisang batu dan CMC menyebabkan
pori-pori pada bioplastik terbentuk, sehingga respon viskoelastisitaspun menurun.
Dimana respon tersebut menyebabkan bioplastik lebih kaku, keras dan tidak elastis.
Pernyataan ini didukung oleh Hammer (1978) yang dikutip Ibekwe (2017) bahwa
prinsip kerja gum arabic adalah membentuk interaksi molekuler rantai polimer untuk
meningkatkan kecepatan viskoelastis dan mobilitas rantai pada polimer.

4.3.3 Modulus Young (Elastisitas)


Uji modulus elastis merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui
seberapa tahan suatu material bioplastik mengalami regangan terhadap deformasi
elastik pada saat diberikan tegangan luar secara vertikal. Dimana prosedur pengujian
modulus elastisitas mengacu pada ASTM D 882-97 yang dilakukan dengan
menggunakan persamaan 2.10 menghasilkan bentuk grafik sebagai berikut :

140 130,738 MPa

120
Modulus Young (MPa)

100
80 61,339 MPa
60
40 51,665 MPa
20
0
80:15:5 75:15:10 70:15:15 65:15:20 60:15:25 55:15:30

Variasi Komposisi Serbuk Daun Pisang Batu : CMC : Gum Arabic


(%wt)

Gambar 4.10 Hasil Pengujian Modulus Young Bioplastik Berbasis Serbuk Daun
Pisang Batu/CMC/Gum Arabic Pada Berbagai Variasi Komposisi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


41

Gambar 4.10 menunjukkan bahwa nilai modulus elastisitas meningkat sebanding


dengan penambahan komposisi gum arabic. Hasil penelitian diperoleh bahwa
bioplastik yang memiliki nilai modulus elastisitas yang optimum pada komposisi
serbuk daun pisang batu : CMC : gum arabic (55:15:30)%wt yaitu sebesar 130,738
MPa. Sedangkan kondisi variasi yang memiliki modulus elastisitas yang kurang
optimum pada komposisi serbuk daun pisang batu : CMC : gum arabic
(75:15:10)%wt sebesar 51,665 MPa. Dimana modulus elastisitas bioplastik dari hasil
penelitian masih memenuhi standar plastik konvensional ecogreen 117-137 MPa dan
bioplastik Enviplast 5,3-6 MPa dan produk bioplastik Novamont 90 – 700 MPa.
Modulus elastisitas dipengaruhi oleh pertambahan gum arabic yang memicu
terjadinya respon viskoelastis dan mobilitas molekul rantai selulosa dan zat kutin
serbuk daun pisang batu yang menyebabkan tingkat elastisitas bioplastik meningkat
dan tingkat kekakuan material bioplastik menurun. Menurut Wakesa (2009) gum
arabic sebagai matriks memiliki sifat yang dapat meningkatkan fleksibilitas, elongasi
dan kekuatan polimernya sehingga mengurangi kekerasan dan kekakuan polimer
karena meningkatkan jarak antar rantai dengan mengurangi ikatan antar molekul
sekunder.

4.4.Karakterisasi Sifat Termal Bioplastik


4.4.1 Differential Scanning Calorimetry (DSC)
Sifat termal bioplastik ditentukan dengan metode Differential Scanning
Calorimetry (DSC) dimana sampel uji akan dipanaskan mulai dari suhu ruang
sampai 500 oC dengan kecepatan pemanasan 10 oC/menit. Hasil analisa ini akan
memberikan informasi berupa titik transisi kaca (Tg), titik kristalisasi (Tc), titik
leleh (Tm) dan titik dekomposisi (Td) melalui grafik hubungan antar parameter suhu
pemanasan (oC) pada sumbu-x terhadap energi kalor yang diberikan permenit (mW)
pada sumbu-y ditampilkan pada Gambar 4.10 sampai dengan Gambar 4.12.
Hasil pengujian dengan DSC pada masing - masing sampel bioplastik serbuk
daun pisang batu – CMC yang diperkuat gum arabic menunjukkan perubahan kondisi
termalnya melalui enam tahapan yang sama yang ditunjukkan oleh puncak - puncak
yang dihasilkan oleh alat DSC yaitu puncak lembah dan puncak bukit. Dimana
perubahan puncak - puncak oleh DSC ini terjadi akibat perubahan dan reaksi kimia

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


42

yang diikuti oleh perubahan suhu pada sampel uji. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi
pada alat DSC yaitu reaksi eksotermik dan endotermik.

Peak : 294,71oC
Onset : 259,78oC
Endset : 314,98 oC
Heat : - 1,21 J
- 117,37 J/g
- 288,74 mcal

Peak : 114,94oC
Onset : 94,82 oC
Endset : 141,12 oC
Heat : - 4,82 J
- 478,70 J/g
- 1,17 cal

Gambar 4.11 Analisis Termal (DSC) Bioplastik Serbuk Daun Pisang


Batu/CMC/Gum Arabic Pada Variasi (80 : 15 : 5)%wt

Berdasarkan hasil pengujian DSC, pada tahapan I yaitu Gambar 4.11


menunjukan hasil analisis sifat termal bioplastik pada variasi komposisi Serbuk Daun
Pisang Batu, CMC, dan Gum Arabic (80:15:5)%wt diberikan oleh puncak
maksimum pertama untuk proses perubahan termal material absorber (bioplastik)
yang di awali pada suhu 94,82°C-141,12°C menghasilkan puncak lembah yang
menginformasikan titik kristalisasi (Tc) dimana polimer berbentuk kristal pada suhu
114,94°C kemudian terjadi proses endotermik dimana komposisi material absorber
mulai menyerap panas dengan besar energi kalor yang diserap yaitu 4,82 Joule. Pada
proses endotermik material material absorber mengalami perubahan bentuk
(deformasi) bersifat karet pada titik transisi kaca (Tg) sebesar 141,12 oC.
Setelah itu, terbentuk puncak tertinggi maksimum pada suhu 259,78 oC - 314,98
o
C dimana pada suhu tersebut material absorber sudah mengalami proses eksotermik
yang mana material mulai mengeluarkan panas sebesar 1,21 Joule sehingga terjadi
perubahan fisika dan kimia. Hasil data yang diperoleh menginformasikan pada suhu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


43

294,71 oC merupakan titik leleh (Tm) material absorber tersebut yang merupakan
suhu batas material menahan panas luar yang diberikan. Sedangkan pada suhu
314,98 oC material absorber tersebut mulai rusak dan terbakar menjadi abu. Pada
titik tersebut merupakan dekomposisi material absorber.

Peak : 305,21 oC
Onset : 271,08oC
Endset : 319,28 oC
Heat : - 1,21 J
- 117,37 J/g
- 288,74 mcal

Peak : 102,59oC
Onset : 58,72oC
Endset : 140,82 oC
Heat : - 4,49 J
- 422,33 J/g
- 1,08 cal

Gambar 4.12 Analisis Termal (DSC) Bioplastik Serbuk Daun Pisang


Batu/CMC/Gum Arabic Pada Variasi (65 : 15 : 20)%wt

Berdasarkan grafik Gambar 4.12 menunjukan hasil analisis sifat termal


bioplastik pada variasi komposisi serbuk daun pisang batu, CMC, dan gum arabic
(65:15:20)%wt diberikan oleh puncak maksimum pertama untuk proses perubahan
termal material absorber (bioplastik) yang di awali pada suhu 58,72°C-140,82°C
menghasilkan puncak lembah yang menginformasikan titik kristalisasi (Tc) dimana
polimer berbentuk kristal pada suhu 102,59°C kemudian terjadi proses endotermik
dimana komposisi material absorber mulai menyerap panas dengan besar energi
kalor yang diserap yaitu 4,49 Joule. Pada proses endotermik material material
absorber mengalami perubahan bentuk (deformasi) bersifat karet pada titik transisi
kaca (Tg) sebesar 140,82 oC dan puncak tertinggi maksimum untuk reaksi eksoterm
pada suhu 271,08 oC - 319,28 oC dengan energi panas yang dikeluarkan sebesar 1,21
Joule menghasilkan titik leleh sebesar 305,21 oC.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


44

Peak : 302,45 oC
Onset : 275,28 oC
Endset : 314,19 oC
Heat : - 1,21 J
- 114,97 J/g
- 284,84 mcal

Peak : 103,45 oC
Onset : 68,71 oC
Endset : 119,42 oC
Heat : - 8,34 J
- 794,19 J/g
- 1,96 cal

Gambar 4.13 Analisis Termal (DSC) Bioplastik Serbuk Daun Pisang


Batu/CMC/Gum Arabic Pada Variasi (55 : 15 : 30)%wt

Berdasarkan grafik Gambar 4.13 menunjukan hasil analisis sifat termal


bioplastik pada variasi komposisi serbuk daun pisang batu, CMC, dan gum arabic
(55:15:30)%wt diberikan oleh puncak maksimum pertama untuk proses perubahan
termal material absorber (bioplastik) yang di awali pada suhu 68,71°C-119,42°C
menghasilkan puncak lembah yang menginformasikan titik kristalisasi (Tc) dimana
polimer berbentuk kristal pada suhu 103,45°C kemudian terjadi proses endotermik
dimana komposisi material absorber mulai menyerap panas dengan besar energi
kalor yang diserap yaitu 8,34 Joule. Pada proses endotermik material material
absorber mengalami perubahan bentuk (deformasi) bersifat karet pada titik transisi
kaca (Tg) sebesar 119,42 oC dan puncak tertinggi maksimum untuk reaksi eksoterm
pada suhu 275,28 oC - 314,19 oC dengan energi panas yang dikeluarkan sebesar 1,21
Joule menghasilkan titik leleh sebesar 302,45 oC. Dimana titik leleh (melting point)
bioplastik Enviplast sebesar 140 - 160 oC.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Telah dilakukan pembuatan material bioplastik berbasis komposit serbuk daun
pisang batu dan CMC yang diperkuat gum arabic sebagai aplikasi plastik ramah
lingkungan menggunakan metode melt intercalation secara fisika tanpa
memerlukan penambahan pelarut lainnya (pelarut organik).
2. Pada penelitian diperoleh bioplastik berbasis komposit serbuk daun pisang batu
dan CMC yang diperkuat gum arabic menghasilkan komposisi yang optimum
yaitu variasi komposisi (55:15:30)%wt memiliki sifat fisis yang baik dengan nilai
densitas 1,601 x 103 kg/m3, dan daya serap air 10,247%.. Sifat mekanik dengan
kuat tarik 35,71 MPa, perpanjangan putus 273,14% dan modulus elastisitas
o
130,378 MPa. Sifat termal dengan titik leleh 302,45 C yang hasil
karakterisasinya telah memenuhi standar SNI 7188.7:2016 ecoplastik
konvensional dan standar bioplastik yang sudah dipasarkan seperti bioplastik dari
Italy Novamont, dan bioplastik dari Indonesia Enviplast.
3. Diperoleh variasi komposisi serbuk daun pisang batu, CMC dan gum arabic yang
optimum pada komposisi (55:15:30)%wt yang memiliki sifat biodegredabiltas
sebesar 99,2% yang dikubur selama 45 hari, telah memenuhi standar sebagai
bioplastik ramah lingkungan yang sifat biodegredabilas 90% tidak lebih dari 180
hari. Dimana bioplastik tersebut dibuktikan dari hasil pengujian FTIR yang mana
gugusnya terdapat ikatan C=O dan C-O-C yang memiliki sifat mudah
terdegredasi.

5.1. Saran
1. Pada penelitian selanjutnya disarankan melakukan pembuatan bioplastik berbasis
nanopartikel agar memiliki kuat fisis, mekanik dan termal yang lebih unggul dari
bioplastik yang hanya berukuran mikropartikel.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR PUSTAKA

Alhassan, S Paul, A Mamza, P et all. 2015. Effect of Pure and Modified Gum
Arabic on The Mechanical Properties of Poly (Vinyl Chloride)

Arini, D Syahrul, U & Kasman, 2017. Pembuatan dan Pengujian Sifat Mekanik
Plastik Biodegradable Berbasis Tepung Biji Durian. Journal of Science and
Technology, vol. 6, eds. 3, issn. 2338-0950, hh. 276-283.

Aripin, S Bungaran, S & Elvi, K 2017. Studi Pembuatan Bahan Alternatif Plastik
Biodegradable Dari Pati Ubi Jalar Dengan Plasticizer Gliserol Dengan
Metode Melt Intercalation. Jurnal Teknik Mesin, vol. 6, issn.2549-2886.

Esy, N Novesar, J Diana V, 2015. Pengaruh Penambahan Gliserol Dan Variasi


Berat Pati Terhadap Sifat Mekanik Bioplastik Dari Pati Umbi Talas. Jurnal
Kimia Unand, vol.4, no.4, issn.2303-3401, hh. 116-121.

Gill, M 2014, Bioplastic : A Better Alternative To Plastics, International Journal of


Research In Applied Natural and Social Science, vol. 2, issue. 8, issn 2321-
8851, pp. 115-120

Gunamantha, M & Ni Wayan, Y 2014. Studi Potensi Biogas Dari Sampah Daun
Pisang Melalui Penguraian Secara Anaerobik, Jurnal Sains dan Teknologi,
vol.3, no.1, issn 2303-3142, hh. 312-323

Hindi, S Mona, O Attieh, A et all, 2017. Synthesis, Characterization and


Biodegradation of Gum Arabic-Based Bioplastic Membranes. Journal
Nanoscience and Nanotechnology Research, vol. 4, no.2, pp.32-42

Ibekwe, C Grace, M Temitope, A et all, 2017. Syntesis and Characterization of


Chitosan/Gum Arabic Nanopartikel for Bone Regenaration.American
Journal of Material Science and Engineering, vol. 5, no. 1, pp. 28-36.

Jannah, R Novesar, J & Yulia, E 2017. Pengaruh Variasi Konsentrasi Gliserol dan
Berat Pati Terhadap Sifat Mekanik Bioplastik Dari Pati Biji Durian (Durio
zibethinus Murr). Jurnal Kimia Unand, vol.4, no.4, isssn.2303-3401, hh. 41-
46.

Kamal, N 2014, Pengaruh Bahan Aditif CMC (Carboxylmethyl Cellulose)


Terhadap Beberapa Parameter Pada Larutan Sukrosa. Jurnal Teknologi. vol.
1, eds 7. hh. 78- 84

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


47

Mandal, S Durgesh, D & Tumane, P 2017, Optimization And Characterization Of


Bioplastic Produce By Bacillus Cereus. International Journal of Recent
Scientific Research, vol. 8, issue. 4, issn 0976-3031, pp. 16565-16571.

Manimarn, D & Kavin, R et all, 2016, Production Of Biodegradable Plastic From


Banana Peel, Journal of Petrochemical Engineering, vol 1, issue 1, issn
2289-8395, pp 1-7.

Mastuti, T & Ratna H 2017. Senyawa Kimia Penyusun Ekstrak Ethyl Asetat Dari
Daun Pisang Batu dan Ambon Hasil Distilasi Air. Prosiding Kimia, issn
978-602-99334-3-7, hh. 60-64

Mishra, V Akash, P Darshan, R et all, 2015. Preparation of Bio-Bag Using Banana


Peel As An Alternative of Plastic Bag. International Journal for Scientific
Research and Development, vol.3, issue. 4, issn : 2321-0613, pp. 452-455.

Nisa, O Anggita, V Hidayatul, K dkk. 2017. Uji Stabilitas Pada Gel Ekstrak Daun
Pisang (Gelek Usang). The 6th University Research Colloqium, issn. 2407-
9189, hh. 223-228.

Saptorahardjo, A 2016. Enviplast Stratch Based Bioplastik Compound. Prosiding


Seminar Nasional Kulit, Karet dan Plastik Kelima, issn.2477-3298, hh. 1-10

Saputro, A & Arruum, L 2017. Sintesis dan Karakterisasi Bioplastik Dari Kitosan-
Pati Ganyong (Canna edulis). Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia, vol.2,
no.1, isssn. 2503-4154, hh. 13-21.

Selpiana, Taufik B & Naufal, 2015. Sintesa Bioplastik Komposit Limbah Ampas
Tahu dan Ampas Tebu dengan Teknik Solution Casting. Seminar Nasional
Teknik Kima Indonesia, hh.19-24

Sofia, A Agung, T & Ella, K 2017. Komparasi Bioplastik Kulit Labu Kuning-
Kitosan Dengan Plasticizer dari Berbagai Variasi Sumber Gliserol.
Indonesia Journal of Chemical Science, vol. 6, no.2, e-issn 2502-6844, hh.
110-116.

Wekesa, C Makenzi, B.N Chikamai et all, 2009. Gum Arabic Yield In Different
Varieties of Acacia Senegal (L.) Wild In Kenya. African Journal of Plant
Science, vol. 3, no.11, issn 1996-0824, pp. 263-276.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


LAMPIRAN A
CONTOH TABEL PERHITUNGAN

Tabel A.1 Hasil Pengukuran Densitas Suatu Material Bioplastik Serbuk Daun Pisang
Batu/CMC/Gum Arabic
Variasi Komposisi
Serbuk Daun Luas
Tebal Volume Densita
Pisang Batu : CMC Massa (gr) Penampang
(cm) 2
(cm3) (g/cm3)
: Gum Arabic (cm )
(%wt)
80 : 15 : 5 0,1953652 0,0503 4 0,2012 0,971
75 : 15 : 10 0,2251456 0,0508 4 0,2032 1,108
70 : 15 : 15 0,2459648 0,0512 4 0,2048 1,201
65 : 15 : 20 0,2822144 0,0512 4 0,2048 1,378
60 : 15 : 25 0,3008808 0,0522 4 0,2088 1,441
55 : 15 : 30 0,3445352 0,0538 4 0,2152 1,601

A.1.1 Densitas
Sampel 1 Bioplastik untuk variasi komposisi serbuk daun pisang : CMC : Gum
Arabic 80%:15%:5%wt
Diketahui : m = 0,1953652 gram
t = 0,0503 cm
A = 4 cm2
V = (A x t) = 0,2012 cm3
Ditanya : ρ ..........?
Jawab

Densitas secara teori (Hukum Pencampuran/Rule Of Mixture)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


49

[ ] [ ] [ ]

[ ] [ ] [ ]

[ ] [ ] [ ]

Sehingga Densitas Komposit Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum


Arabic yaitu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


50

Tabel A.2 Hasil Pengukuran Daya Serap Air Suatu Material Bioplastik Serbuk Daun
Pisang Batu/CMC/Gum Arabic

Variasi Komposisi Serbuk


Massa Kering Massa Daya Serap Air
Daun Pisang Batu : CMC :
(gr) Jenuh (gr) (%)
Gum Arabic (%wt)
80 : 15 : 5 0,116 0,14 20,68966
75 : 15 : 10 0,123 0,147 19,5122
70 : 15 : 15 0,174 0,203 16,66667
65 : 15 : 20 0,201 0,231 14,92537
60 : 15 : 25 0,277 0,311 12,27437
55 : 15 : 30 0,332 0,366 10,24096

A.1.2 Daya Serap Air


Sampel 1 Bioplastik untuk variasi komposisi serbuk daun pisang : CMC : Gum
Arabic 80%:15%:5%wt
Diketahui : mk = 0,116 gram
mj = 0,14 gram
Ditanya : DSA ..........?
Jawab :

( )

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


51

Tabel A.3 Hasil Pengukuran Biodegredabilitas Suatu Material Bioplastik Serbuk


Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Variasi Komposisi Serbuk Daun Pisang Batu : CMC : Gum
Waktu
Arabic (%wt)
Penguburan
80 : 15 : 75 : 15 : 70 : 15 : 65 : 15 : 60 : 15 : 55 : 15 :
(hari)
5 10 15 20 25 30
1 0 0 0 0 0
2 1,28 2,47 3,659 5,099 7,889 9,28
3 8,9 10,09 11,279 12,719 15,509 16,9
4 12,2 13,39 14,579 16,019 18,809 20,2
5 19,8 20,99 22,179 23,619 26,409 27,8
6 24,3 25,49 26,679 28,119 30,909 32,3
7 29,8 30,99 32,179 33,619 36,409 37,8
8 30,8 31,99 33,179 34,619 37,409 38,8
9 32,1 33,29 34,479 35,919 38,709 40,1
10 34,2 35,39 36,579 38,019 40,809 42,2
11 34,9 36,09 37,279 38,719 41,509 42,9
12 33,4 34,59 35,779 37,219 40,009 41,4
13 36,3 37,49 38,679 40,119 42,909 44,3
14 38,7 39,89 41,079 42,519 45,309 46,7
15 40,7 41,89 43,079 44,519 47,309 48,7
16 42,3 43,49 44,679 46,119 48,909 50,3
17 45,1 46,29 47,479 48,919 51,709 53,1
18 48,2 49,39 50,579 52,019 54,809 56,2
19 51,2 52,39 53,579 55,019 57,809 59,2
20 54,7 55,89 57,079 58,519 61,309 62,7
21 59,7 60,89 62,079 63,519 66,309 67,7
22 60,6 61,79 62,979 64,419 67,209 68,6
23 62,4 63,59 64,779 66,219 69,009 70,4
24 63,1 64,29 65,479 66,919 69,709 71,1
25 67,2 68,39 69,579 71,019 73,809 75,2
26 68,9 70,09 71,279 72,719 75,509 76,9
27 70,12 71,31 72,499 73,939 76,729 78,12
28 71,4 72,59 73,779 75,219 78,009 79,4
29 72,8 73,99 75,179 76,619 79,409 80,8
30 73,2 74,39 75,579 77,019 79,809 81,2
31 73,9 75,09 76,279 77,719 80,509 81,9
32 74,9 76,09 77,279 78,719 81,509 82,9
33 75,7 76,89 78,079 79,519 82,309 83,7
34 76,6 77,79 78,979 80,419 83,209 84,6
35 78,8 79,99 81,179 82,619 85,409 86,8
36 79,1 80,29 81,479 82,919 85,709 87,1
37 80,4 81,59 82,779 84,219 87,009 88,4
38 81,9 83,09 84,279 85,719 88,509 89,9
39 82,4 83,59 84,779 86,219 89,009 90,4
40 83,1 84,29 85,479 86,919 89,709 91,1

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


52

41 84,2 85,39 86,579 88,019 90,809 92,2


42 85 86,19 87,379 88,819 91,609 93
43 85,9 87,09 88,279 89,719 92,509 93,9
44 86,1 87,29 88,479 89,919 92,709 94,1
45 91,2 92,39 93,579 95,019 97,809 99,2

A.1.3 Sifat Biodegredable


Sampel 1 Bioplastik untuk variasi komposisi serbuk daun pisang : CMC : Gum
Arabic 80%:15%:5%wt
Diketahui : mk = 0,1953652 gram
mj = 0,108154 gram
t = 45 hari
Ditanya : % Degredasi ..........?
Jawab :

( )

( )

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


53

A.1.4 Sifat Gugus Fungsi (FTIR)


Berikut ini hasil pengujian gugus fungsi menggunakan alat FTIR untuk
komposisi yang optimum, kurang optimum dan yang jelek pada bioplastik serbuk
daun pisang batu/CMC/Gum Arabic sebagai berikut :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


54

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


55

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


56

Tabel A.4 Hasil Pengukuran Kuat Tarik Suatu Material Bioplastik Serbuk Daun
Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Variasi Komposisi Serbuk Luas
Gaya Tarik Kuat Tarik
Daun Pisang Batu : CMC : Penampang
(N) (MPa)
Gum Arabic (%wt) (mm2)
80 : 15 : 5 240 6698,4 27,91
75 : 15 : 10 240 6396 26,65
70 : 15 : 15 240 6938,4 28,91
65 : 15 : 20 240 7380 30,75
60 : 15 : 25 240 7788 32,45
55 : 15 : 30 240 8570,4 35,71

A.1.5 Kuat Tarik


Sampel 1 Bioplastik untuk variasi komposisi serbuk daun pisang : CMC : Gum
Arabic 80%:15%:5%wt
Diketahui : F = 6698,4 N
A = 240 mm2 = 24 x 10-5 m2
Ditanya : Kuat Tarik ..........?
Jawab :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


57

Tabel A.5 Hasil Pengukuran Perpanjangan Putus (Elongasi) Suatu Material


Bioplastik Serbuk Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Variasi Komposisi Serbuk
L0 Lt Elongasi
Daun Pisang Batu : CMC :
(mm) (mm) (%)
Gum Arabic (%wt)

80 : 15 : 5 116 643,8116 455,01

75 : 15 : 10 116 714,3512 515,82

70 : 15 : 15 116 589,3612 408,07

65 : 15 : 20 116 537,1264 363,04

60 : 15 : 25 116 460,4504 296,94

55 : 15 : 30 116 432,8424 273,14

A.1.6 Elongasi (Perpanjangan Putus)


Sampel 1 Bioplastik untuk variasi komposisi serbuk daun pisang : CMC : Gum
Arabic 80%:15%:5%wt
Diketahui : L0 = 116 mm
Lt = 643,8116 mm
Ditanya : %Elongasi..........?
Jawab :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


58

Tabel A.6 Hasil Pengukuran Modulus Elastisitas Suatu Material Bioplastik Serbuk
Daun Pisang Batu/CMC/Gum Arabic
Variasi Komposisi Serbuk Modulus
Stress Elongasi
Daun Pisang Batu : CMC : Elastisitas
(MPa) (mm)
Gum Arabic (%wt) (MPa)
80 : 15 : 5 27,91 455,01 61,33931122
75 : 15 : 10 26,65 515,82 51,6653096
70 : 15 : 15 28,91 408,07 70,84568824
65 : 15 : 20 30,75 363,04 84,70141031
60 : 15 : 25 32,45 296,94 109,2813363
55 : 15 : 30 35,71 273,14 130,7388153

A.1.7 Modulus Young (Modulus Elastisitas)


Sampel 1 Bioplastik untuk variasi komposisi serbuk daun pisang : CMC : Gum
Arabic 80%:15%:5%wt
Diketahui : σ = 27,91 MPa
ε = 455,01
Ditanya : Modulus Elastisitas..........?
Jawab :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


59

LAMPIRAN
DOKUMENTASI PENELITIAN

Bahan - Bahan Penelitian Peralatan Penelitian Bioplastik


Bioplastik

Alat Preparasi Daun Pisang Proses Penimbangan Sampel


Batu Dengan Ledakan Uap
(Autoclave)

Proses Pelarutan Campuran Proses Pencampuran dan


Pengadukan (Hotplate Stirer)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


60

Proses Pencetakan Proses Pengeringan

Sampel Bioplastik

Alat Mekanik (UTM) Alat Uji Gugus Fungsi (FTIR)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Anda mungkin juga menyukai