Anda di halaman 1dari 71

Manajemen

Pengawakan Kapal
Ship’s Manning Management for
Recruitment, Placement and Repatriation
of the Seafarers
Konvensi Internasional
Sekilas tentang ILO
ILO atau International Labor Organization yang merupakan bagian dari United
Nation atau PBB yang berdiri tahun 1919 di Versailles Perancis yang khusus
menangani masalah perburuhan.
Tujuan berdirinya ILO adalah menegakkan hak-hak pekerja, peningkatan standar
hidup, kebijakan upah, jam kerja, kontrak kerja, pekerja anak, perawatan kesehatan
pekerja, standar lingkungan kerja hingga prosedur keselamatan dalam pekerjaan.
Tujuan strategis ILO adalah:
 Mempromosikan dan merealisasikan prinsip-prinsip dan hak-hak standar dasar dalam
pekerjaan.
 Mewujudkan kesempatan yang lebih besar bagi untuk wanita dan pria untuk upah yang lebih
layak.
 Meningkatkan jangkauan dan efektivitas jaminan perlindungan sosial bagi pekerja.
 Memperkuat tripartisme dan dialog sosial.
Keanggotaan ILO adalah negara-negara di dunia yang merupakan Anggota
Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN).
https://www.ilo.org/global/about-the-ilo/lang--en/index.htm
Sekilas tentang ILO
Sangat banyak Konvensi ILO yang sudah di ratifikasi oleh Indonesia menjadi Undang-Undang,
berikut dibawah ini adalah ratifikasi Konvensi terkait dengan Pengawakan Kapal dan Tenaga
Kerja Maritim:
 K-69 Konvensi Sertifikasi Bagi Juru Masak Di Kapal, 1946
 K-87 Konvensi Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi, 1948
 K-95 Konvensi Perlindungan Upah, 1949
 K-98 Konvensi Berlakunya Dasar-dasar dari Hak untuk Berorganisasi dan untuk Berunding Bersama, 1949
 K-105 Konvensi Penghapusan Kerja Paksa, 1957
 K-144 Konvensi Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan
Internasional, 1976
 K-185 Konvensi Dokumen Identitas Pelaut (Yang Telah Direvisi), 2003
 Konvensi Ketenagakerjaan Maritim, 2006 = Maritime Labour Convention, 2006
Hingga akhir 2009, ILO telah mengadopsi 188 Konvensi dan 199 Rekomendasi yang meliputi
beragam subyek: kebebasan berserikat dan perundingan bersama, kesetaraan perlakuan dan
kesempatan, penghapusan kerja paksa dan pekerja anak, promosi ketenagakerjaan dan pelatihan
kerja, jaminan sosial, kondisi kerja, administrasi dan pengawasan ketenagakerjaan, pencegahan
kecelakaan kerja, perlindungan kehamilan dan perlindungan terhadap pekerja migran serta
kategori pekerja lainnya seperti para pelaut, perawat dan pekerja perkebunan
https://www.ilo.org/global/standards/maritime-labour-convention/lang--en/index.htm
Sekilas tentang IMO
International Maritime Organization (IMO) yang berdiri tahun 1958 dan merupakan badan
khusus PBB yang bertanggungjawab untuk keselamatan dan keamanan aktivitas pelayaran
dan pencegahan polusi di laut.
IMO dalam menjalankan fungsinya mempunyai 5 Komite, yaitu:
1. Marine Safety Committee ( MSC )
2. Marine Environment Protection Committee ( MEPC )
3. Legal Committee
4. Technical Co-Operation Committee
5. Facilitation Committee

http://www.imo.org/en/About/Pages/Structure.aspx

Secara teknis, IMO memiliki tugas dalam pemutakhiran legislasi yang ada atau untuk
mengembangkan dan mengadopsi peraturan baru, melalui pertemuan yang dihadiri oleh ahli
maritim dari negara Anggota, serta organisasi antar-pemerintah dan non-pemerintah lain
seperti BIMCO, ICS, INTERTANKO, OCIMF, Paris MoU, FONASBA, SIGTTO IACS, IALA dst…
http://www.imo.org/en/About/Membership/Pages/NGOsInConsultativeStatus.aspx
Sekilas tentang IMO
Sangat banyak Resolusi IMO yang sudah dilaksanakan oleh Indonesia
dan bahkan menjadikan Standar IMO adalah keharusan dalam dunia
Kemaritiman Indonesia
Silahkan klik berikut detail terkait Resolusi IMO
http://www.imo.org/en/KnowledgeCentre/IndexofIMOResolutions/Marine-Environment-Protection-
Committee-%28MEPC%29/Pages/default.aspx
http://www.imo.org/en/KnowledgeCentre/IndexofIMOResolutions/Maritime-Safety-Committee-
%28MSC%29/Pages/default.aspx
http://www.imo.org/en/KnowledgeCentre/IndexofIMOResolutions/Technical-Cooperation-Committee-
%28TC%29/Pages/default.aspx
http://www.imo.org/en/KnowledgeCentre/IndexofIMOResolutions/Legal-Committee-
%28LEG%29/Pages/default.aspx
http://www.imo.org/en/KnowledgeCentre/IndexofIMOResolutions/Facilitation-
%28FAL%29/Pages/default.aspx
Konvensi Internasional

ILO IMO
International Maritime
International Labor Organization
Organization

MLC-2006 STCW-1995 Amd 2010


Maritime Labor Convention Standards of Training,
Certification and
Watchkeeping for Seafarers
CBA
Collective Bargaining
Agreement
SOLAS 1974, as Amd
SID Safety Of Life At Sea
Seafarer Identity Documents
STCW – 1995, Amended 2010
Standards of Training, Certification and
Watchkeeping for Seafarers
Functions and levels of responsibility
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Competence
 This document is issued to masters, officers, radio operators and ratings forming part of a watch who meet
the standards of competence relevant to their particular functions and level of responsibility on-board.

Deck
Dept
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Competence

Engine
Dept
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General
Requirements
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements - MASTER
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – CHIEF MATE
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Officer in charge of a navigational watch
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Ratings forming navigational watch
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements –Able seafarer deck
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Radio Operators
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – CHIEF ENGINEER
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Second Engineer
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Officer in charge of an engineering watch
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Electro-Technical Officer
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Ratings forming of an engineering watch
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Able seafarer engine
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements – Electro-technical rating
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements
Other crew members with designated safety or pollution prevention
duties in the operation of the ship
STCW 1995, Amended 2010
Certificates and General Requirements
Other crew members that are not certified under the 2010 STCW
Convention or do not have designated safety or pollution prevention
duties in the operation of the ship
STCW 1995, Amended 2010
Other certificates according to function
performed on board and type of vessel
STCW 1995, Amended 2010
Other certificates according to function performed
on board and type of vessel
STCW 1995, Amended 2010
Other certificates according to function performed
on board and type of vessel
STCW 1995, Amended 2010
Additional non-mandatory training within the 2010 STCW
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency
for personnel working on a tanker
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency for personnel working on a tanker
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency for personnel working on a tanker
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency for personnel working on a tanker
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency for personnel working on a tanker
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency
for personnel working on passenger ships
engaged in international voyages
STCW 1995, Amended 2010
Certificate of Proficiency
for personnel working on passenger ships engaged in international voyages
STCW 1995, Amended 2010

DRUG & ALCOHOL ABUSE


STCW 1995, Amended 2010
DRUG AND ALCOHOL ABUSE
Penyalahgunaan narkoba – obat obatan dan alkohol secara langsung
mempengaruhi kebugaran dan kemampuan pelaut untuk melakukan
tugas dinas jaga.
Pelaut yang ditemukan berada di bawah pengaruh narkoba atau
alkohol tidak boleh diizinkan untuk melakukan tugas pengawasan
sampai mereka tidak lagi terganggu kemampuannya untuk
melaksanakan tugas-tugas mereka.
Pemerintah harus mempertimbangkan untuk mengembangkan
legislasi nasional:
1. menetapkan maksimum 0,08% tingkat alkohol darah (BAC- blood alcohol
content) selama tugas jaga sebagai standar keamanan minimum di kapal;
2. melarang konsumsi alkohol dalam waktu 4 jam sebelum melakukan dinas jaga.
Sekarang sebagian besar perusahaan pelayaran telah sepenuhnya
melarang kepemilikan obat-obatan/narkoba dan konsumsi
alkohol di atas kapalnya.
STCW 1995, Amended 2010
DRUG AND ALCOHOL ABUSE

In regard to prevention of drug and alcohol abuse, guidance


is contained in the STCW Code
(Section B-VIII/2 Part 5, paragraphs 34-36)
Guidance on Prevention of Drug and Alcohol Abuse is
contained as Appendix 12.
STCW 1995, Amended 2010
DRUG AND ALCOHOL ABUSE
STCW 1995, Amended 2010
DRUG AND ALCOHOL ABUSE –
Manning Agents Responsibility

In recruiting and offering seafarers to ship owners and managers for


employment, manning agents must ensure such seafarers are medically fit,
that they have undergone a medical examination and that they possess a valid
medical certificate which is issued by the competent authority.

Manning agents therefore have a responsibility not only to their clients (the
shipowner/manager) but also to the seafarer. The manning agent may be
regarded as a front line defence against the placement of seafarers with a
substance abuse problem.
STCW 1995, Amended 2010
DRUG AND ALCOHOL ABUSE
Shipping Company shall
perform the following drug
tests:
1. Pre joining testing.
2. Unannounced drug tests,
at least once (1) per year.
3. Monitoring of supply and
distribution of controlled
pharmaceuticals. PM No.40 TAHUN 2019 TENTANG
PEMERIKSAAN KESEHATAN PELAUT
Where to find more information on STCW

www.imo.org

www.dft.gov.uk/mca/

www.nautinst.org

www.safety4sea.com
Konvensi Internasional

ILO IMO
International Maritime
International Labor Organization
Organization

MLC-2006 STCW-1995 Amd 2010


Maritime Labor Convention Standards of Training,
Certification and
Watchkeeping for Seafarers
CBA
Collective Bargaining
Agreement
SOLAS 1974, as Amd
SID Safety Of Life At Sea
Seafarer Identity Documents
SOLAS Chapter IX
Management for the Safe Operation of Ships

ISM CODE
(International Safety Management)
ISM Code
International Safety Management
ISM mengatakan dalam Bagian 6. Sumber daya dan Personil

6.2 Perusahaan harus memastikan bahwa setiap kapal :


1. diawaki oleh pelaut yang memenuhi syarat, bersertifikat dan medikal
sesuai dengan persyaratan nasional dan internasional; dan
2. dalam rangka untuk mencakup semua aspek pemeliharaan operasi yang
aman di kapal

Refer to the Principles of minimum safe manning, by the IMO


Resolution A.1047(27) Adopted on 30 November 2011
ISM Code
Prinsip Pengawakan Aman Minimum
Mampu untuk:
1. Mempertahankan bernavigasi dengan aman, pelabuhan, permesinan dan dinas jaga radio
sesuai dengan aturan VIII/2 dari Konvensi STCW, sebagaimana telah diubah, dan juga
mempertahankan pengawasan umum kapal;
2. Sandarkan (ikat tali dan lepas tali) kapal dengan aman;
3. Mengelola fungsi keselamatan kapal;
4. Melaksanakan operasional yang sepantasnya, tindakan pencegahan kerusakan terhadap
lingkungan laut;
5. Menjaga pengaturan keselamatan dan kebersihan dari semua tempat yang bisa dimasuki
untuk meminimalkan resiko kebakaran;
6. Menyediakan perawatan medis di kapal;
7. Memastikan pengangkutan muatan secara aman selama pelayaran;
8. Memeriksa dan memelihara sebagaimana mestinya integritas structural kapal; dan
9. Beroperasi sesuai dengan Rancangan Keamanan Kapal (SSP-ISPS) yang telah disetujui.
ISM Code
Prinsip Pengawakan Aman Minimum
Bisa untuk:
1. Mengoperasikan seluruh pintu kedap air dan memastikannya selalu dijaga dalam kondisi
baik;
2. Mengoperasikan semua alat pemadam kebakaran yang ada di kapal dan perlengkapan
darurat, dan peralatan keselamatan, melakukan perawatan semua ini ketika dilaut, dan
berkumpul (muster) untuk meninggalkan kapal;
3. Mengoperasikan mesin induk dan pesawat bantu termasuk juga peralatan pencegahan
polusi dan perawatannya agar selalu dalam kondisi siap pakai.
ISM Code
PETUNJUK untuk Prinsip Pengawakan Aman Minimum
1. Dalam menetapkan pengawakan minimum kapal harus
mempertimbangkan semua faktor, termasuk sbb:
1. Ukuran dan jenis kapal;
2. Jumlah, ukuran dan jenis mesin induk dan pesawat bantu;
3. Tingkat otomatisasi kapal;
4. Konstruksi dan perlengkapan kapal;
5. Metode perawatan yang digunakan;
6. Muatan yang dibawa;
7. Frekuensi singgah di pelabuhan, lamanya dan sifat pelayaran yang dijalankan;
8. Area pelayaran, perairan dan operasi kapal dimana kapal berada;
9. Sejauh mana kegiatan pelatihan dilakukan di kapal;
10. Tingkat dukungan yang diberikan pihak darat kepada kapal oleh perusahaan;
11. Persyaratan pelaksanaan batas jam kerja dan atau jam istirahat; dan
12. Ketentuan dari Ship's Security Plan.
ISM Code
PETUNJUK untuk Prinsip Pengawakan Aman Minimum
2. Berdasarkan fungsi kinerja yang sesuai dengan tanggungjawab
seperti yang ditentukan dalam Kode STCW yang meliputi:
1. Navigasi.
2. Pengaturan dan penanganan muatan.
3. Pengoperasian kapal dan Pengurusan orang-orang yang ada di kapal
4. Permesinan.
5. Elektrikal, elektronika dan kontrol rekayasa (engineering).
6. Radio komunikasi.
7. Pemeliharaan dan perbaikan.
ISM Code
PETUNJUK untuk Prinsip Pengawakan Aman Minimum
3. Selain faktor yang disebutkan diatas, juga harus memperhitungkan:
1. Pengelolaan keselamatan, keamanan dan perlindungan lingkungan dilaut
ketika kapal tidak berlayar;
2. Ketentuan kualifikasi perwira dek untuk memastikan Nakhoda tidak perlu
ikut dinas jaga dengan sistim dinas jaga 3 jam, kecuali kapal ukuran terbatas;
3. Ketentuan kualifikasi perwira mesin untuk memastikan KKM tidak perlu ikut
dinas jaga dengan sistim dinas jaga 3 jam, kecuali kapal daya mesin terbatas
atau kamar mesin tanpa pengawasan (UMS-Unattended Machinery Spaces);
4. Pemeliharaan standar kesehatan dan kebersihan di kapal;
5. Ketentuan penyediaan makanan dan minuman untuk semua awak kapal;
6. Jumlah personel yang memenuhi syarat yang diperlukan dalam situasi beban-
kerja puncak; dan
7. Kemampuan Nakhoda dan awak kapal dalam mengkoordinasikan kegiatan
yang diperlukan dalam operasional dengan aman dan keamanan kapal serta
untuk perlindungan lingkungan laut.
ISM Code
ISM code said in Part 6. Resources and Personnel and the
conclusion:

What is Minimum Safe Manning?

How is Safe Manning level determined?

Who is responsibility for this?


ISM Code
What is Minimum Safe Manning?
Minimum safe manning is the level of manning that will ensure that
a ship is sufficiently, effectively and efficiently manned to provide as
follows:

 Safety and security of the ship


 Safe navigation and operation at sea
 Safe operation in port
 Prevention of human injury or loss of life
 The avoidance damage to the marine environment and property
 The welfare and health of seafarers through the avoidance of fatigue
ISM Code
How is Safe Manning level determined?
To determined Minimum Safe Manning the following factors must
be considered:

 Cargo handling and stowage


 Ship operations, included ship specific operations.
 Navigation
 Maintenance and repair
 Marine engineering task and duties
 Electrical duties
ISM Code
Who is responsibility for this?
The company is responsible for the operation of the ship to prepare and
submit its proposal for the minimum safe manning specified by the
Administration.
In preparing a proposal for the minimum safe manning of a ship, the
company should be:
1. make an assessment of the tasks, duties and responsibilities of the ship’s complement.
2. ensure that fitness for duty provisions and record of hours
3. make an assessment of numbers and grades/capacities in the ship’s complement
required for its safe operation, for its security, for protection of the marine
environment, and for dealing with emergency situations
4. prepare and submit to the Administration a proposal for the minimum safe manning
based upon the assessment.
5. ensure that the minimum safe manning is adequate at all times
6. prepare and submit to the Administration a new proposal for the minimum safe
manning of a ship in the case of changes in trading area(s), construction, machinery,
equipment, operation and maintenance or management of the ship, which may affect
the safe manning
ISM Code
Who is responsibility for this?

The safe manning is approval by the Administration is DJPL –


Direktorat Jenderal Perhubungan Laut

KM No. 70 – 1998 tentang


Pengawakan Kapal
Minimum manning requirements does not mean the
minimum number in the sense of the fewest tolerable,
but means the minimum number that will be adequate
for the safety of the ship, crew and passengers, property
and the environment at all times.

Every vessel shall be sufficiently manned for the


purpose of preventing excessive strain upon the crew
and avoiding or minimizing as far as practicable the
working of overtime.
Konvensi Internasional

ILO IMO
International Maritime
International Labor Organization
Organization

MLC-2006 STCW-1995 Amd 2010


Maritime Labor Convention Standards of Training,
Certification and
Watchkeeping for Seafarers
CBA
Collective Bargaining
Agreement
SOLAS 1974, as Amd
SID Safety Of Life At Sea
Seafarer Identity Documents
MLC – 2006
Maritime Labor Convention
MLC – 2006
Maritime Labor Convention

Apakah Konvensi Tenagakerja Maritim (MLC)?

“ Konvensi Tenagakerja Maritim 2006 (MLC) adalah perjanjian


internasional dari Organisasi Buruh Internasional (' ILO ') yang
menetapkan hak pelaut atas kondisi kerja yang layak. Hal ini
kadang disebut ‘ Seafarer Bill of Rights '. Ini berlaku untuk semua
pelaut, termasuk mereka yang berkerja di hotel dan layanan
penumpang lainnya di atas kapal pesiar dan yacht komersial”
MLC – 2006
Maritime Labor Convention
Apa yang ditetapkan dalam Konvensi Tenagakerja Maritim
(MLC)?

MLC 2006 menetapkan persyaratan minimum untuk hampir setiap aspek kerja dan
kondisi hidup bagi pelaut termasuk: (1) praktik perekrutan dan penempatan, (2)
kondisi kerja, jam kerja dan istirahat, (3) repatriasi, (4) cuti tahunan, (5) pembayaran
upah, (6) akomodasi, (7) fasilitas rekreasi, makanan dan katering, (8) perlindungan
kesehatan, keselamatan dan kesehatan kerja, (9) perawatan medis, layanan
kesejahteraan di darat, dan perlindungan sosial

Pada 2019 Januari, Total 94 negara telah meratifikasi MLC 2006, yang yang mewakili
lebih dari 91% dari total GT armada pelayaran dunia . Untuk informasi selengkapnya,
kunjungi situs web ILO
https://www.ilo.org/dyn/normlex/en/f?p=NORMLEXPUB:11300:0::NO::P11300_INSTRU
MENT_ID:312331
MLC – 2006
Maritime Labor Convention
Hak pelaut untuk kondisi kerja yang layak. Ini mencakup hampir setiap
aspek pekerjaan dan kehidupan di atas kapal termasuk:
 Usia minimum
 Perjanjian kerja laut
 Jam kerja atau istirahat
 Pembayaran upah
 Cuti tahunan yang dibayarkan
 Repatriasi pada akhir kontrak
 Perawatan medis di kapal
 Penggunaan agen perekrutan dan penempatan yang berlisensi
 Akomodasi, makanan, dan katering
 Perlindungan kesehatan dan keselamatan
 Penanganan keluhan pelaut
MLC – 2006 Maritime Labor Convention
Kewajiban Umum – Pasal I
1. Setiap Negara Anggota yang meratifikasi Konvensi ini harus
memberlakukan ketentuan-ketentuan ini secara penuh dengan
cara sebagaimana diatur dalam Pasal VI guna menjamin hak
semua awak kapal atas pekerjaan yang layak;
2. Negara-negara Anggota harus saling bekerja sama dengan tujuan
memastikan pelaksanaan dan penegakkan Konvensi ini secara
efektif.
MLC – 2006 Maritime Labor Convention
Hak Bekerja dan Sosial bagi Awak Kapal - Pasal IV
1. Setiap awak kapal mempunyai hak atas tempat kerja yang aman dan
terlindungi sesuai dengan standar keselamatan.
2. Setiap awak kapal mempunyai hak atas syarat-syarat kerja yang adil.
3. Setiap awak kapal mempunyai hak atas kondisi kerja dan kehidupan yang
layak di atas kapal.
4. Setiap awak kapal mempunyai hak atas perlindungan kesehatan, perawatan
medis, tingkat kesejahteraan dan bentuk-bentuk perlindungan sosial
lainnya.
5. Setiap Negara Anggota harus memastikan, dalam batas-batas wilayah
hukumnya, bahwa hak kerja dan sosial para awak kapal yang diatur pada
ayat sebelumnya dalam Pasal ini telah diterapkan sepenuhnya sesuai
dengan ketentuan dalam Konvensi ini. Kecuali dinyatakan lain dalam
Konvensi, penerapan tersebut dapat dicapai melalui hukum atau peraturan
nasional, melalui perjanjian kerja bersama atau melalui kebijakan lain atau
sesuai praktik yang berlaku.
MLC – 2006 Maritime Labor Convention
Pelaksanaan dan Penegakkan Tanggung Jawab – Pasal V
1. Setiap Negara Anggota harus melaksanakan dan menegakkan hukum atau peraturan atau
kebijakan yang telah diadopsi untuk memenuhi komitmen terhadap Konvensi ini.
2. Setiap Negara Anggota harus melaksanakan kewenangan hukum secara efektif dan
mengawasi kapal-kapal yang mengibarkan bendera Negaranya melalui pembentukan
sebuah sistem untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan Konvensi ini, termasuk
pemeriksaan rutin, pelaporan, pemantauan dan proses hukum sesuai hukum yang berlaku.
3. Negara Anggota harus memastikan bahwa kapal-kapal yang mengibarkan bendera
Negaranya memiliki sertifikat ketenagakerjaan maritim dan deklarasi kepatuhan
ketenagakerjaan maritim sebagaimana dipersyaratkan dalam Konvensi ini.
4. Suatu kapal di mana Konvensi ini berlaku dapat, sesuai dengan hukum internasional,
diperiksa oleh Negara Anggota lainnya selain Negara benderanya sendiri.
5. Setiap Negara Anggota wajib mencegah pelanggaran atas persyaratan dalam Konvensi ini.
Setiap Negara Anggota harus melaksanakan tanggungjawabnya Menurut Konvensi ini
untuk memastikan kapal yang mengibarkan bendera Negaranya yang belum meratifikasi
Konvensi ini tidak menerima perlakuan yang lebih menguntungkan dari kapal-kapal yang
mengibarkan bendera Negara yang telah meratifikasi Konvensi ini
MLC – 2006 Maritime Labor Convention
Struktur Konvensi
Terdiri atas 5 Judul, 21 Peraturan
• Judul 1. Persyaratan Minimum bagi Pelaut yang Bekerja di atas Kapal

• Judul 2. Kondisi Kerja

• Judul 3. Akomodasi, Fasilitas Rekreasi, Makanan, dan Katering

• Judul 4. Perlindungan Kesehatan, Perawatan Medis, Kesejahteraan dan


Perlindungan Jaminan Sosial

• Judul 5. Kepatuhan dan Penegakkan