7.
Gigi yang terletak salah
Penyebutan letak gigi yang digunakan diantaranya sebagai berikut:
a. Versi: mahkota gigi miring kearah tertentu tetapi akar gigi tidak.
b. Infraoklusi : gigi yang tidak mencapai garis oklusi dibandingkan dengan gigi lain dalam
lengkung geligi.
c. Supraoklusi : gigi yang melebihi garis oklusal dibandingkan dengan gigi lain dalam
lengkung geligi.
d. Rotasi: gigi berputar pada sumbu panjang gigi, bisa sentris atau eksentris.
e. Transposisi : dua gigi yang bertukar tempat
f. Ektostema : gigi yang terletak diluar lengkung gelig
Pengukuran free way space pasien dimaksudkan untuk mengetahui berapa besar jarak interocclusal
pasien pada saat posisi istirahat. Ini berguna untuk menentukan ketebalan bite plane jika diperlukan
pada perawatan nanti.
Cara pengukuran :
1. Pasien duduk tegak pandangan lurus kedepan sejajar lantai.
2. Dengan spidol beri tanda posisi titik:Subnasal (Sn) dan Pogonion (Pog).
3. Bibir tertutup pada posisi istirahat, dengan jangka sorong (sliding caliper) ukurlah jarak Sn –
Pog.
4. Kemudian pasien diinstruksikan oklusi sentrik, ukur lagi jarak Sn – Pog.
5. Catat selisih pengukuran tadi. Besar free way space normal 2- 4 mm
Free way space merupakan selisih jarak selisih jarak antara posisi mandibula saat berada
dalam keadaan istirahat dengan oklusi sentris. Nilai normalfreeway space menurut Houston (1989)
adalah 2-4 mm.
Tujuan dilakukannyapengkuran free way space adalah untuk menentukan apakah perlu
dibuatkanpeninggian gigit pada posterior apabila terdapat crossbite di anterior. Pemeriksaan free
way space dapat dilihat dengan cara pasien duduk dengan tegak, kemudiandiukur penghitungan
jarak dari ujung hidung ke ujung dagu. Pengukurandilakukan dengan menggunakan jangka
dan penggaris. Apabila free way space lebih kecil dari tumpang gigit, atau tumpang gigit lebih besar
dari free way space, maka perlu dibuatkan peninggian gigit posterior. Apabila free way space lebih
besar daripada tumpang gigit maka tidak perlu dibuatkan peninggian gigit di posterior.