0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
151 tayangan23 halaman

Laporan Kasus Plasenta Previa

Laporan kasus ini membahas tentang plasenta previa pada seorang pasien dengan gejala perdarahan vagina. Plasenta previa adalah kondisi dimana plasenta berimplantasi terlalu rendah sehingga menutupi atau berdekatan dengan mulut rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan yang berbahaya selama kehamilan atau persalinan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
151 tayangan23 halaman

Laporan Kasus Plasenta Previa

Laporan kasus ini membahas tentang plasenta previa pada seorang pasien dengan gejala perdarahan vagina. Plasenta previa adalah kondisi dimana plasenta berimplantasi terlalu rendah sehingga menutupi atau berdekatan dengan mulut rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan yang berbahaya selama kehamilan atau persalinan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

PLASENTA PREVIA

Pembimbing:
dr. Arvitamuriany T Lubis, M.Ked(OG),Sp.OG

Disusun Oleh :
Zoe Badawi 130100080
Thariq May Ulfa 140100049
Yohanna Fransisca Sinuhaji 140100099
Daniel Ivan Sembiring 140100136
Rezky Ilham Saputra 140100156
Khairunisa Sinulingga 140100160

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DEPARTEMEN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-NYa sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Plasenta Previa”.
Selama penyusunan laporan kasus ini, penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa hormat kepada dr.
Arvitamuriany T Lubis, M.Ked(OG), Sp.OG selaku supervisor
pembimbing laporan kasus di Departemen Ilmu Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan
waktunya dalam membimbing dan membantu hingga laporan kasus ini
dapat selesai dengan baik.
Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui
pencapaian pembelajaran dalam kepaniteraan klinik senior. Penulisan
laporan kasus ini merupakan salah satu syarat untuk melengkapi
persyaratan Departemen Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penulis sangat menyadari makalah ini pasti tidak luput dari
kekurangan oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi perbaikan dalam penulisan selanjutnya. Semoga makalah
ini bermanfaat. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2 Tujuan............................................................................................................2
1.3 Manfaat..........................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................3
2.1. Plasenta Previa............................................................................................3
2.1.1 Definisi..........................................................................................................3
2.1.2 Epidemiologi...............................................................................................3
2.1.3 Klasifikasi....................................................................................................3
2.1.4 Faktor Risiko...............................................................................................5
2.1.5 Patofisiologi.................................................................................................5
2.1.6 Gejala Klinis................................................................................................6
2.1.7 Diagnosis......................................................................................................6
2.1.8 Tatalaksana..................................................................................................8
2.1.9 Komplikasi...................................................................................................9
2.1.10 Prognosis....................................................................................................10
BAB III STATUS PASIEN...........................................................................................11
BAB IV FOLLOW UP....................................................................................................15
BAB V DISKUSI KASUS..............................................................................................16
BAB VI KESIMPULAN................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................19

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perdarahan obstetri merupakan salah satu penyebab terbesar kematian
1
maternal dan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas perinatal yang tinggi. Hal
ini masih menjadi masalah kesehatan di negara maju terlebih di negara
berkembang.Perdarahan obstetri di Indonesia masih menduduki peringkat pertama
2
sebagai penyebab kematian maternal.
Pendarahan obstetri secara umum dibagi menjadi perdarahan antepartum dan
postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang
kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta
3
previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya.
Plasenta previa didefinisikan sebagai plasenta yang berimplantasi pada
segmen bawah rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri
internum. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20
1,4
cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram.
7
Angka kejadiannya berkisar 4-5 per 1000 kehamilan. Pada beberapa Rumah
Sakit Umum Pemerintah dilaporkan insidennya sekitar 1,7% sampai dengan 2,9%.
Di Negara maju insidennya lebih rendah yaitu kurang dari 1% mungkin
disebabkan berkurangnya perempuan hamil paritas tinggi. Meningkatnya insiden
bedah sesar dan bertambahnya usia ibu serta pembuahan in vitro,mengakibatkan
5
angka kejadian plasenta previa terus meningkat.
Penyebab pasti plasenta previa belum diketahui. Kondisi multi faktorial
yang berhubungan dengan multipara, kehamilan yang berulang – ulang, umur ibu
< 20 dan > 35 tahun, paritas, jarak kehamilan, pekerjaan, beresiko 2 kali
5
mengalami plasenta previa.
Perdarahan pada plasenta previa yang masif meningkatkan morbiditas dan
mortalitas baik pada ibu mapun janin. Hal ini karena perdarahan terjadi bukan
hanya pada masa kehamilan saja namun juga terjadi saat intrapartum dan
7
postpartum.

1
1.2 Tujuan
Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas tentang definisi, klasifikasi,
epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gambaran klinis, diagnosis, tatalaksana,
komplikasi dan prognosis dari plasenta previa.

1.3 Manfaat
Dengan adanya laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dan memperjelas tentang definisi, klasifikasi, epidemiologi, etiologi,
patofisiologi, gambaran klinis, diagnosis, tatalaksana, komplikasi dan prognosis
dari plasenta previa agar kemudian dapat diterapkan dan dilaksanakan pada
praktiknya di lapangan ketika menghadapi pasien sebagai seorang dokter.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plasenta Previa


2.1.1 Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim sedemikian rupa sehingga berdekatan atau menutupi ostium uteri internum
secara partial maupun total, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan
lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina
tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trimester terakhir, khususnya pada bulan
8
kedelapan.

2.1.2 Epidemiologi
Angka kejadian plasenta previa beriksar 4-5 per 1000 kehamilan. Angka
kejadiannya berkisar 2,8/1000 persalianan pada kehamilan tunggal dan 3,9/1000
persalinan pada kehamilan kembar. Penelitian yang dilakukan oleh Ristyanto di
RSUP Dr Kariadi pada tahun 2000 menunjukkan angka kejadian plasenta previa
9
75 dalam 2367 persalianan atau sekitar 3,16%.
Menurut WHO kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan khususnya
akibat plasenta previa berkisar 15-20% kematian ibu dan insidennya adalah 0,8-1 ,
2% untuk setiap kelahiran. Di Negara- negara berkembang berkisar antara 1 -2,4%
dan di negara maju lebih rendah yaitu kurang dari 1 %.

2.1.3 Klasifikasi
6
Terdapat beberapa kemungkinan implantasi plasenta pada plasenta previa:
1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi
seluruh ostium uteri internum. Pada jenis ini, jelas tidak mungkin bayi
dilahirkan secara normal, karena risiko perdarahan sangat hebat.

3
2. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium
uteri internum. Pada jenis inipun risiko perdarahan sangat besar, dan
biasanya janin tetap tidak dilahirkan secara normal.
3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada
pinggir ostium uteri internum. Hanya bagian tepi plasenta yang
menutupi jalan lahir. Janin bisa dilahirkan secara normal, tetapi risiko
perdarahan tetap besar.
4. Plasenta letak rendah, plasenta lateralis, atau kadang disebut juga
dangerous placenta adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen
bawah rahim sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2
cm dari ostium uteri internum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap
plasenta letak normal. Risiko perdarahan tetap ada namun tidak besar,
dan janin bisa dilahirkan secara normal asal tetap berhati-hati.

Gambar 2.1 Klasifikasi plasenta previa.

6
Klasifikasi lain dari plasenta previa adalah sebagai berikut:
1. Tipe I : tepi plasenta melewati batas sampai segmen bawah rahim dan
berimplantasi < 5 cm dari ostium uteri internum
2. Tipe II : tepi plasenta mencapai pada ostium uteri internum namun tidak
menutupinya
3. Tipe III : plasenta menutupi ostium uteri internum secara asimetris
4. Tipe IV : plasenta berada di tengah dan menutupi ostium uteri internum

4
Tipe I dan II disebut juga sebagai plasenta previa minor sedangkan tipe III
dan IV disebut plasenta previa mayor.

Gambar 2.2 Tipe plasenta previa.

2.1.4 Faktor Risiko


Etiologi plasenta previa sebagian besar masih tidak jelas, tetapi beberapa
studi klinis dan epidemiologis telah mengamati peningkatan kejadian plasenta
previa pada perempuan dengan usia lanjut, multiparitas, janin laki-laki, kehamilan
ganda, kelahiran sesar sebelumnya dan aborsi spontan atau induksi sebelumnya.
Selain itu, faktor perilaku yang terlibat dengan peningkatan kejadian plasenta
previa termasuk ibu yang merokok dan penggunaan narkoba selama kehamilan.
Perempuan dengan riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya berisiko
10
lebih tinggi mengalami kondisi ini pada kehamilan berikutnya.

2.1.5 Patofisiologi
Plasenta previa memiliki tanda yang khas, yaitu pendarahan tanpa rasa sakit.
Perdarahan diperkirakan terjadi dalam hubungan dengan perkembangan segmen
bawah uterus pada trimester ketiga. Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen
bawah uterus akan lebih melebar lagi, dan serviks mulai membuka. Apabila
plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan
pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa
terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu mulailah terjadi
perdarahan. Darahnya berwarna merah segar berlainan dengan darah yang
disebabkan solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber

5
perdarahannya ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari
dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahannya
tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot
uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya
normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena
itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada
11
plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.

2.1.6 Gejala Klinis


Gejala yang paling menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan
pervaginam pada akhir trimester dua ke atas, tanpa disertai dengan rasa nyeri.
Selain itu, darah yang keluar umumnya berwarna merah segar. Umumnya
perdarahan akan berhenti akibat proses koagulasi dan akan berulang karena proses
pembentukan segmen bawah rahim. Pada setiap pengulangan akan terjadi
perdarahan yang lebih hebat. Pada plasenta previa totalis, perdarahan biasanya
terjadi lebih awal. Sedangkan pada plasenta previa parsialis dan plasenta letak
rendah, perdarahan terjadi saat mendekati atau saat persalinan dimulai.
Pada kehamilan dengan plasenta previa, sering ditemukan janin tidak dalam
letak memanjang. Hal ini disebabkan oleh janin yang tidak dapat berotasi secara
leluasa akibat adanya hambatan oleh plasenta yang terletak di bagian bawah uterus.
3
Selain itu, tidak dijumpai nyeri maupun tegang perut saat dilakukan palpasi.

2.1.7 Diagnosis
1. Anamnesis
Terdapat beberapa hal yang perlu ditanyakan kepada ibu mengenai
perdarahan, seperti sejak kapan, banyak, warna, konsistensi, dan
karakteristik dari perdarahan. Informasi mengenai nyeri seperti letak,
sejak kapan, frekuensi, dan keparahan nyeri juga dapat memperkuat
diagnosis. Beberapa pertanyaan seperti faktor pencetus, misalnya

6
aktivitas seksual sebelumnya dan trauma juga dapat membantu
12
menyingkirkan diagnosis lain.

2. Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi dapat dilihat banyaknya darah yang keluar melalui vagina.
Apabila dijumpai perdarahan yang banyak, maka ibu akan terlihat pucat.
Pada pemeriksaan leopold, dapat ditemukan kelainan letak janin dan
posisi terendah janin belum turun. Selain itu, pada palpasi perut perlu
12
diinterpretasikan apakah perut terasa lunak atau tegang dan keras.

3. Pemeriksaan Dalam
Indikasi pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum yaitu jika
terdapat perdarahan yang lebih dari 500 cc, perdarahan yang telah
berulang, his telah mulai, dan janin sudah dapat hidup di luar rahim.
Pada kehamilan dengan curiga plasenta previa, tidak boleh dilakukan
pemeriksaan dalam karena akan mencetus perdarahan yang lebih banyak.
Oleh karena itu, pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan di kamar
operasi dengan segala persiapan rencana caesar. Pemeriksaan dalam
berfungsi untuk mengetahui sumber dari perdarahan dan tipe dari
12
plasenta previa.

4. Pemeriksaan Ultrasonography (USG)


USG telah menjadi gold standard pada diagnosa plasenta previa.
Transabdominal sonography (TAS) memberikan kepastian diagnosis
plasenta previa dengan ketepatan hingga 96-98%. Transvaginal
sonography (TVS) juga memiliki tingkat ketepatan yang tinggi hingga
mencapai 98-100%. Selain kedua jenis USG tersebut, terdapat
transperineal sonography yang juga dapat membantu menegakkan
diagnosis dengan tingkat ketepatan 90%. Kehamilan dengan plasenta
previa letak rendah yang persisten atau plasenta previa pada usia gestasi
32 minggu tanpa adanya gejala, pemeriksaan TVS direkomendasikan

7
pada usia gestasi 36 minggu untuk menentukan mode kelahiran. Ukuran
panjang servikal janin yang pendek pada pemeriksaan TVS di usia
gestasi kurang dari 34 minggu meningatkan risiko lahir prematur dan
12,13
perdarahan masif pada operasi caesar.

2.1.8 Tatalaksana
Penatalaksanaan pada plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu:14
A. Ekspektatif
Ekspektatif dilakukan apabila janin masih kecil. Sikap ekspektasi tertentu
hanya dapat dibenarkan jika keadaan ibu baik dan perdarahannya sudah
berhenti atau sedikit sekali. Menurut Scearce (2007), syarat terapi
ekspektatif yaitu:
1) Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti
2) Belum ada tanda-tanda inpartu
3) Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal)
4) Janin masih hidup

B. Terapi aktif
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif
dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang
maturitas janin. Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa:
1) Seksio sesaria
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk
menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya
harapan hidup, tindakan ini tetap dilakukan. Indikasi dilakukannya
persalinan seksio sesarea pada plasenta previa adalah:
a. Dilakukan pada semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau
meninggal, serta semua plasenta previa lateralis, posterior, karena
perdarahan yang sulit dikontrol.
b. Semua plasenta pevia dengan perdarahan yang banyak, berulang dan
tidak berhenti dengan tindakan yang ada.

8
c. Plasenta previa yang disertai dengan panggul sempit, letak lintang.

Menurut Winkjosastro (1997) dalam Sihaloho (2009) gawat janin maupun


kematian janin dan bukan merupakan halangan untuk dilakukannya
persalinan seksio sesarea, demi keselamatan ibu. Tetapi apabila dijumpai
gawat ibu kemungkinan persalinan seksio sesarea ditunda sampai keadaan
ibunya dapat diperbaiki, apabila fasilitas memungkinkan untuk segera
memperbaiki keadaan ibu, sebaiknya dilakukan seksio sesarea jika itu
merupakan satu-satunya tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan
yang banyak pada plasenta previa totalis.

2) Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Seperti
amniotomi, akselerasi, traksi dengan Cunam Willet, versi braxton hicks.

Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien yaitu penatalaksanaan aktif


dipersiapkan terminasi perabdominam. Pemantauan tanda-tanda vital ibu,
denyut jantung janin, His; Ampicillin 1 gram/8 jam. Pemilihan
penatalaksanaan aktif dikarenakan berdasarkan HPHT dan USG usia
kehamilan sudah cukup bulan > 37 minggu, TBJ janin normal sesuai masa
kehamilan, lalu didapatkan perdarahan yang merupakan
kegawatdaruratan obstetrik. Dilakukan terminasi perabdominal karena
3
jenis plasenta previa totalis sehingga seluruh OUI tertupi oleh plasenta.

2.1.9 Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi pada ibu dan bayi yaitu selama kehamilan pada ibu
dapat menimbulkan perdarahan antepartum yang dapat menimbulkan syok,
kelainan letak pada janin sehingga meningkatnya letak bokong dan letak lintang.
Selain itu juga dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Selama persalinan
plasenta previa dapat menyebabkan ruptur atau robekan jalan lahir, prolaps tali
pusat, perdarahan postpartum, perdarahan intrapartum, serta dapat menyebakan

9
melekatnya plasenta sehingga harus dikeluarkan secara manual atau bahkan dilakukan
kuretase. Sedangkan pada janin plasenta previa ini dapat mengakibatkan bayi lahir
dengan berat badan rendah, munculnya asfiksia, kematian janin dalan uterus, kelainan
3
kongenital serta cidera akibat intervensi kelahiran.

2.1.10 Prognosis
Prognosis ibu pada plasenta previa dipengaruhi oleh jumlah dan kecepatan
perdarahan serta kesegeraan pertolongannya. Kematian pada ibu dapat dihindari
apabila penderita segera memperoleh transfusi darah dan segera lakukan
pembedahan seksio sesarea. Prognosis terhadap janin lebih burik oleh karena
kelahiran yang prematur lebih banyak pada penderita plasenta previa melalui
proses persalinan spontan maupun melalui tindakan penyelesaian persalinan.
Namun perawatan yang intensif pada neonatus sangat membantu mengurangi
3
kematian perinatal.

10
BAB III

STATUS PASIEN

ANAMNESA PRIBADI

Nama : Ny. Syahrida (10.70.67)


Umur : 36 tahun
Suku : Jawa
Alamat : Jl. Persatuan No. 273
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : S1
Status Pernikahan : Menikah
Tanggal Masuk : 04 November 2019
Jam Masuk : 10.48 WIB

ANAMNESA PENYAKIT
Ny. S, 36 tahun, G6P3023, Jawa, Islam, S1, IRT, menikah dengan Tn.S, 36 tahun,
Jawa, Islam, SMA, Wiraswasta datang ke RS Universitas Sumatera Utara pada
tanggal 04 November pukul 10.48 dengan:
Keluhan Utama : Keluar darah dari kemaluan
Telaah : Hal ini telah dialami pasien sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit dengan
volume ± 2x ganti pembalut. Riwayat keluar gumpalan darah disangkal.
Riwayat nyeri disangkal. Riwayat mules-mules mau melahirkan disangkal.
Riwayat keluar lendir darah disangkal. Riwayat keluar air-air dari
kemaluan tidak dijumpai. Riwayat darah tinggi tidak dijumpai. Riwayat
trauma disangkal. BAB dan BAK dalam batas normal.
RPT : Tidak Ada
RPO : Tidak Ada
Riwayat operasi: Tidak Ada

11
Riwayat pekerjaan, sosio ekonomi dan psikososial: Pasien seorang ibu rumah
tangga, ekonomi cukup dan tidak ada riwayat gangguan psikososial.

RIWAYAT MENSTRUASI
Menarche : 14 tahun
Lama : 5-7 hari
Siklus : 28 hari
Volume : ± 2 doek/hari
Nyeri : Ada
HPHT : 11/04/2019
TTP : 18/01/2020
ANC : 1x ke SpOG dan 3x ke Bidan

RIWAYAT PERNIKAHAN
Pasien menikah 1 kali pada usia 25 tahun dengan suami berusia 25 tahun

RIWAYAT PERSALINAN
1. 2010, laki-laki, cukup bulan, 3700 gram, PSP, di bidan, saat ini anak sehat
berusia 9 tahun
2. Abortus
3. 2014, perempuan, cukup bulan, 3400 gram, PSP, di bidan, saat ini anak sehat
berusia 5 tahun.
4. Abortus
5. 2017, perempuan, cukup bulan, 3200 gram, PSP, di bidan, saat ini anak sehat
berusia 2 tahun.
6. Hamil ini

PEMERIKSAAN FISIK
VITAL SIGN
Status Presens:
Sensorium : Compos mentis Anemis : -
Tekanan darah : 110/70 mmHg Ikterik : -
Nadi : 80 x/menit Sianosis: -
Pernapasan : 20 x/menit Dyspnoe : -
o
Temperatur : 36,7 C Oedema: -
12
`
Keadaan umum : Baik
Status Nutrisi : Baik
Keadaan Penyakit : Sedang

Status Generalisata :
Kepal : Dalam batas normal
a
: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+),
Mata
pupil isokor, kanan = kiri
: Pembesaran KGB tidak dijumpai
Leher
: Inspeksi : Simetris fusiformis
Thorax
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Jantung: S1(+) S2(+) S3(-) S4(-) reguler, murmur (-)
Paru : Suara pernafasan : vesikuler
Suara tambahan : (-)
Ekstremitas : LLA: 27 cm, akral hangat, CRT< 2 detik, clubbing finger (-), oedem
pretibial(-/-)

Status Obstetrik:
Abdomen : Membesar asimetris
TFU : 3 jari di atas umbilikus(36 cm)
Teregang :
:
Terbawah
: (+)
Pergerakan janin
: (-)
HIS
: (+) 140 x/menit, regular
DJJ

PEMERIKSAAN USG TAS


Janin tunggal, intrauterine, Letak lintang, anak hidup
Gerakan janin (+), DJJ (+) 140 x/menit, regular
Plasenta anterior Grade II menutupi OUI

13
Kesimpulan : Plasenta previa totalis+GMG + KDR (29-30 minggu) + LL+ AH

LABORATORIUM (16/09/2019)
Jenis Pemeriksaan Satuan Hasil Rujukan
Hemoglobin g/dL 10,0 12-16
Eritrosit Juta/µL 4,77 3,8-5,2
Leukosit /µL 13.310 3.600 -11.000
Hematokrit % 32,20 38-44
Trombosit /µL 321.000 150.000-440.000

DIAGNOSA KERJA
Plasenta previa totalis + GMG + KDR (29-30 minggu) + LL + AH

RENCANA TATALAKSANA
TERAPI MEDIKAMENTOSA
- IVFD RL 20 gtt/menit
- Nifedipine 4 x10 mg
- Inj. Asam tranexamat 500 mg/8 jam

RENCANA TINDAKAN
- Rawat Inap Ekspektatif

14
BAB IV

FOLLOW UP PASIEN

Tanggal Follow Up
4/11/2019 S : Keluar darah dari vagina
O : Sensorium : CM
TD : 110/70 mmHg
HR : 80 x/i
RR : 20 x/i
T : 36,7 oC

Abdomen : soepel, peristaltik (+), membesar asimetris


TFU : 3 jari di atas umbilikus
Teregang :
Terbawah :
His : -
DJJ : 140 x/i
P/V : +
A: Plasenta previa totalis + MG + KDR (29-30) minggu + LL + AH
P: IVFD RL 20 gtt/i
Nifedipine 4 x 10 mg
Inj. Asam tranexamat 500 mg/8 jam
5/11/2019 S: Nyeri (-)
O: Sensorium : CM
TD : 120/80 mmHg
HR : 81 x/i
RR : 18 x/i
T : 36,8 oC

Abdomen : soepel, peristaltik (+), membesar asimetris


TFU : 3 jari di atas pusat
Teregang :
Terbawah :
His : -
DJJ : 148 x/i
P/V : -
A : Plasenta previa totalis + MG + KDR (29-30) minggu + LL + AH
P : IVFD RL 20 gtt/i
Nifedipine 4 x 10 mg
B. comp 2 x 1

15
BAB V

DISKUSI KASUS

Teori Kasus
Faktor Resiko
 Usia >35 tahun  Usia 36 tahun
 Multiparitas  Multiparitas
 Jarak kehamilan yang pendek  Jarak antar kehamilan <2 tahun
 Gemeli  Riwayat abortus
 Riwayat SC  Suku jawa
 Riwayat abortus
 Selain kulit putih
Gejala Klinis
 Perdarahan pervaginam pada akhir  Keluar darah dari kemaluan
trimester dua ke atas  Tidak nyeri
 Tanpa rasa nyeri  Darah bewarna merah segar
 Darah bewarna merah segar
Tatalaksana
A. Tatalaksana ekspektatif, syarat:  IVFD RL 20 gtt/menit
 Kehamilan preterm dengan  Nifedipine 4 x10 mg
perdarahan sedikit yang kemudian  Inj. Asam tranexamat 500 mg/8 jam
berhenti  Rawat inap ekspektatif
 Belum ada tanda-tanda inpartu
 Keadaan umum ibu cukup baik
(kadar hemoglobin dalam batas
normal)
 Janin masih hidup

B. Tatalaksana aktif
 Perdarahan pervaginam aktif dan
banyak

16

Komplikasi
 Perdarahan antepartum  Janin letak lintang
 Syok  Perdarahan antepartum
 Kelainan letak janin
 Kelahiran prematur
 Robekan jalan lahir
 Prolaps tali pusat
 Perdarahan postpartum
 Perdarahan intrapartum
 Janin BBLR
 KJDK

17
BAB VI

KESIMPULAN

Pada kasus seorang perempuan berusia 36 tahun, G6P3023 datang ke Rumah


Sakit Universitas Sumatera Utara pada tanggal 04 November 2019 pukul 11.00
dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak ±5 jam sebelum masuk rumah sakit
dengan volume 2x ganti pembalut. Pasien ini didiagnosis dengan Plasenta previa
totalis + GMG + KDR (29-30) mgg + LL+ AH. Diagnosis ini ditegakkan
berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik obstetrik dan pemeriksaan
penunjang USG. Selanjutnya pasien ini dilakukan rawat inap ekspektatif.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Maurya A, Arya S. Study of Antepartum Haemorrhage and its Maternal and


Perinatal Outcome. International Journal of Scientific and Research
Publications 2014;4.
2. Tim Penyusun. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2013.
3. Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse, Spong. Obstetri William, 23ed:
Penerbit buku kedokteran EGC, 2013.
4. Ngeh N, Bhide A. Antepartum haemorrhage. Current Obstetrics &
Gynaecology 2006:79-83.
5. Rosenberg T, Pariente G, Sergienko R, Wiznitzer A, Sheiner E. Critical
analysis of risk factors and outcome of placenta previa. Archives of
Gynecology and Obstetrics 2011;284:47-51.
6. Manuaba, Manuaba C, Manuaba F. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC,
2007.
7. Hasegawa J, Nakamura M, Hamada S, et al. Prediction of hemorrhage in
placenta previa. Taiwanese Journal of Obstetrics & Gynecology 2012:3-6
8. Cunningham FG. 2006.Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC. pp:685-704.
9. Jatiningrum T, Wiyati PS, Wijayahadi N. Luaran maternal dan perinatal pada
persalinan dengan perdarahan antepartum akibat lokasi implatasi plasenta di
RSUP dr. Kariadi Semarang tahun 2013-2014. Media Medika Muda. 2015:4.
1542-1551.
10. Faiz AS, Ananth CV. Etiology and risk factors for placenta previa: an
overview and meta-analysis of observational studies. J Matern Fetal Neonatal
Med. 2003; 13(3):175-90
11. Oxorn, H. Patologi dan fisiologi persalinan. 2003; Jakarta: Yayasan Essentia
Medika: 425-39.
12. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Placenta Praevia, Placenta
Praevia Accreta and Vasa Praevia: Diagnosis and Management. Green-top
Guideline No. 27. London: RCOG; 2011.

19
13. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Placenta Praevia and
Placenta Accreta: Diagnosis and Management. Green-top Guideline No. 27a.
London: RCOG; 2018.
14. Mose JC. Perdarahan Antepartum. Dalam: Sastrawinata S. Ilmu Kesehatan
Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta. EGC; 200: 483-91.

20

Anda mungkin juga menyukai