Anda di halaman 1dari 29

LEMBAR PERSETUJUAN

CONFIRMED COVID-19

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Dokter Internsip di RSUD
Siti Fatimah Palembang

Diajukan oleh :

dr. Cut Nindya Rizky

Menyetujui,

Dokter Pembimbing

dr. Rita Sriwulandari, Sp.PD FINASIM

Mengetahui,

Dokter Pendamping

dr. Rachmat Taufan

1
BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Cut Nindya Rizky

Nama Wahana : RSUD Siti Fatimah

Topik : CONFIRMED COVID-19

Tanggal (Kasus) : 19 september 2020 Presentan : dr. Cut Nindya Rizky

Nama Pasien : Ny. D No. RM : 00007453

Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Agus Salim


Dr. M. Taufan
Tempat Presentasi :

Obyektif Presentasi :

 Keilmuan O Keterampilan  Penyegaran Tinjauan Pustaka

 Diagnostik O Manajemen  Masalah O Istimewa

O Neonatus O Bayi O Anak O Remaja  Dewasa O Lansia O Bumil


Deskripsi :
Keluhan Utama :
Penurunan indera penciuman dan pengecapan
Riwayat Perjalanan Penyakit :
4 hari SMRS pasien mengeluh demam. Demam dirasakan sepanjang hari tidak terlalu
tinggi, demam tidak disertai menggigil dan keringat malam hari. Pasien juga mengeluh nyeri
tenggorokan, batuk (+) sekali-sekali sulit dikeluarkan, sesak (-), sesak tidak dipengaruhi
aktivitas, mual (-), muntah (-), badan terasa lemas (+) pasien merasa adanya penurunan indera
penciuman dan pengecapan . Pasien berobat ke praktek dokter keluhan berkurang.

1 hari SMRS pasien mengeluh masih merasa demam dan menggigil . Batuk (+) kering,
pasein juga mengeluh masih terasa penurunan indera penciuman dan pengecapan riwayat
pengobatan (+) tetapi tidak ada perubahan.

3 jam SMRS pasien merasa semakin nyaman karena keluhan yang dirasakan tidak
berkurang pasien masih merasakan adanya penurunan indera penciuman dan pengecapan.
Keluhan batuk lama disangkal, keluhan pilek disangkal, riwayat keluar kota tidak ada, riwayat
2
kontak dengan pasien terkonfirmasi Covid-19 (+) 4hari yang lalu. Pasien bekerja sebagai dokter
gigi disalah satu rumah sakit.Keluhan mual dan muntah juga tidak dirasakan oleh pasien. Buang
air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan.
Tujuan : Penegakan diagnosis dan tatalaksana yang sesuai. Mengumpulkan referensi ilmiah
untuk menghadapi kasus yang didapatkan. Menyelesaikan kasus yang dihadapi dengan solusi
yang terbaik
Bahan Bahasan  Tinjauan Pustaka O Riset  Kasus O Audit
 Presentasi dan
Cara Membahas O Diskusi O Email O Pos
Diskusi

Data Utama Untuk Bahan Diskusi

1. Diagnosis / Gambaran Klinis :


Kasus konfirmasi covid-19
- Penurunan indera penciuman dan pengecapan
- Demam

2. Riwayat Pengobatan :
-
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
Riwayat asma (+)
4. Riwayat Keluarga :
Ibu Os mengaku mempunyai penyakit yang asma
5. Riwayat Pekerjaan :
Dokter gigi

6. Lain-lain :
-
Hasil Pembelajaran
1. Kasus konfirmasi covid-19
2. Penatalaksanaan Kasus konfirmasi covid-19
3. Edukasi pada pasien Kasus konfirmasi covid-19

Rangkuman Hasil Pembelajaran


SUBJEKTIF
4 hari SMRS pasien mengeluh demam. Demam dirasakan sepanjang hari tidak terlalu

3
tinggi, demam tidak disertai menggigil dan keringat malam hari. Pasien juga mengeluh nyeri
tenggorokan, batuk (+) sekali-sekali sulit dikeluarkan, sesak (-), sesak tidak dipengaruhi
aktivitas, mual (-), muntah (-), badan terasa lemas (+) pasien merasa adanya penurunan indera
penciuman dan pengecapan . Pasien berobat ke praktek dokter keluhan berkurang.

1 hari SMRS pasien mengeluh masih merasa demam dan menggigil . Batuk (+) kering,
pasein juga mengeluh masih terasa penurunan indera penciuman dan pengecapan riwayat
pengobatan (+) tetapi tidak ada perubahan.

3 jam SMRS pasien merasa semakin nyaman karena keluhan yang dirasakan tidak berkurang
pasien masih merasakan adanya penurunan indera penciuman dan pengecapan. Keluhan batuk
lama disangkal, keluhan pilek disangkal, riwayat keluar kota tidak ada, riwayat kontak dengan
pasien terkonfirmasi Covid-19 (+) 4hari yang lalu. Pasien bekerja sebagai dokter gigi disalah
satu rumah sakit. Keluhan mual dan muntah juga tidak dirasakan oleh pasien. Buang air besar
dan buang air kecil tidak ada keluhan.

Pasien mempunyai riwayat penyakit asma dan ibu pasien mempunyai riwayat penyakit
yang sama dengan pasien.

4
OBYEKTIF
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : baik
TTV :
- Tekanan darah : 109/69 mmHg
- Nadi : 92x/ menit, reguler
- Pernapasan : 20x/ menit,
- Suhu : 38,5˚ C (aksilar)
- SpO2 : 99% dengan O2 bebas

Status Lokalis
 KEPALA
1. Ekspresi : normal
2. Simetris muka : simetris kiri = kanan
3. Deformitas : (-)
4. Hematom : (-)
5. Laserasi : (-)
6. Rambut : hitam, keriting, sukar dicabut

 MATA
1. Eksoftalmus/ endoftalmus: (-)
2. Gerakan : tidak dapat dinilai
3. Kelopak mata : ptosis (-)
4. Konjungtiva : anemis (-)
5. Sklera : ikterus (-)
6. Kornea : refleks kornea +/+
7. Pupil : refleks cahaya +/+, isokor, 2,5 mm

 TELINGA
1. Nyeri tekan di proc. Mastoideus : (-)
2. Pendengaran : tidak dapat dinilai

5
 HIDUNG
1. Perdarahan : (-)
2. Sekret : (-)

 MULUT
1. Bibir : kering (+), sianosis (-)
2. Gigi geligi : karies (-)
3. Gusi : perdarahan (-)
4. Tonsil : T1-T1, hiperemis (-)
5. Farings : hiperemis (-)
6. Lidah : kotor (-)

 LEHER
1. Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
2. Kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
3. Massa tumor : (-)
4. Nyeri tekan : (-)
5. Deviasi trakea : (-)
6. Kaku kuduk : (-)

 THORAKS
1. Inspeksi : simetris kiri = kanan, retraksi (-), luka (-), hematom (-)
2. Palpasi : nyeri tekan (-)
3. Perkusi : sonor
4. Auskultasi : vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/- pada semua lapang paru

 COR
1. Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
2. Palpasi : ictus cordis tidak teraba
3. Perkusi : pekak, batas atas jantung ICS II sinistra, batas kanan jantung ICS
IV linea parasternalis dextra, batas kiri jantung ICS V linea midclavicularis sinistra
4. Auskultasi : BJ I/II murni reguler, murmur (-), gallop (-)

6
 ABDOMEN
1. Inspeksi : datar
2. Palpasi : nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar
3. Perkusi : timpani (+)
4. Auskultasi : Bising usus (+) normal

 EKSTREMITAS
1. Edema : (-)
2. Akral : hangat
3. CRT : < 2 detik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Keterangan


Hasil Nilai normal
HEMATOLOGI
Hemoglobin (Hb) 12,9 g/dL 12-15 g/dL Normal
Eritrosit (RBC) 4,3 x 106/mm3 3,00-5,40x106/mm3 Normal
Leukosit (WBC) 8500/ mm3 5.000-10.000/mm3 Normal
Hematokrit (Ht) 37% 33-47% Normal
Trombosit 261 x 103/mL 150-450 x 103/mL Menurun
Hitung jenis leukosit

1. Basofil 0% 0-2% Normal

2. Eosinofil 2% 2-4% Normal

3. Neutrofil 45% 50-70% Normal

4. Limfosit 15% 25-40% Menurun

5. Monosit 7% 2-8% Normal

7
- Pemeriksaan swab TCM
Positif SARS CoV-2

ASSESSMENT
Dilakukan autoanamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk
menegakkan diagnosis atas keluhan Ny.D Seorang perempuan usia 30 tahun datang dengan
keluhan adanya penurunan indera pengecapan dan penciuman .

Berdasarkan anamnesis diperoleh pasien adalah seorang dokter gigi yang bekerja di salah
satu rumah sakit dipalembang dan pasien memiliki riwayat kontak dengan pasien confirmed
covid 19 (+).

Pada pemeriksaan fisis, pasien terdapat demam sejak 4 hari SMRS disertai nyeri
tenggorok. Berdasarkan dari identitas pasien, pasien bekerja dan tinggal di daerah zona merah
wabah covid-19 sehingga pneumonia belum dapat disingkirkan. Kemudian dilakukan
pemeriksaan penunjang berupa tes swab TCM dan laboratorium. Didapatkan hasil dari tes swab
TCM yaitu pasien positif SARS CoV-2 dan hasil laboratorium leukosit dalam batas normal dan
foto rontgen juga dalam batas normal

Terapi awal pada penderita ini pasien disarankan untuk melalukan isolasi mandiri dengan
prosedur ketat seperti tetap memakai masker, cuci tangan , dan menerapkan social distancing.

Pasien disarankan isolasi mandiri dan diberikan Azitromicin 1 x 500 mg PO, ACETIN
1x600mg PO, Curcuma 3x1 tab PO, Vitacee 1x1 PO, Seloxy 1x1 PO.. Hingga saat ini infeksi
Covid-19 belum memiliki tatalaksana yang spesifik sehingga tatalaksana yang diberikan sesuai
dengan pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19 Kementrian Kesehatan RI.

Daftar Masalah
1. Penurunan indera penciuman dan pengecapan
2. Demam

Diagnosis
1. Kasus konfirmasi covid-19

8
PLANNING
1. Medikamentosa dan non-medikamentosa:
 Isolasi mandiri
 Azitromicin 1 x 500 mg PO
 Acetin 1x600 mg PO
 Curcuma 3x1 PO
 Vitacee 1x1 PO
 Seloxy 1 x 1 PO
 Barotec 2dd ipuff
2. Pendidikan: mengedukasi pasien untuk tetap menjalani protokol kesehatan seperti
memakai masker, mencuci tangan 6 langkah dan social distancing minimal 1M.
Konsultasi: menjelaskan mengenai diagnosis konfirmasi covid-19 berdasarkan hasil
pemeriksaan, terapi yang diberikan, dan prognosis.
TINJAUAN PUSTAKA

I. CORONA VIRUS-DISEASE (COVID-19)


1.1. DEFINISI
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). (SARS-CoV-2)
merupakan coronavirus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada
manusia. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang
dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan
Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).1

1.2. EPIDEMIOLOGI1
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan
oleh Coronavirus jenis baru. Penyakit ini diawali dengan munculnya kasus pneumonia yang
tidak diketahui etiologinya di Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Berdasarkan hasil
penyelidikan epidemiologi, kasus tersebut diduga berhubungan dengan Pasar Seafood di
Wuhan. Pada tanggal 7 Januari 2020, Pemerintah China kemudian mengumumkan bahwa
penyebab kasus tersebut adalah Coronavirus jenis baru yang kemudian diberi nama SARS-
CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2).

9
Thailand merupakan negara pertama di luar China yang melaporkan adanya kasus
COVID-19. Setelah Thailand, negara berikutnya yang melaporkan kasus pertama COVID-19
adalah Jepang dan Korea Selatan yang kemudian berkembang ke negara-negara lain. Sampai
dengan tanggal 30 Juni 2020, WHO melaporkan 10.185.374 kasus konfirmasi dengan
503.862 kematian di seluruh dunia (CFR 4,9%).

Gambar 1. Peta Sebaran Covid-19

Indonesia melaporkan kasus pertama COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020 dan
jumlahnya terus bertambah hingga sekarang. Sampai dengan tanggal 30 Juni 2020
Kementerian Kesehatan melaporkan 56.385 kasus konfirmasi COVID-19 dengan 2.875 kasus
meninggal (CFR 5,1%) yang tersebar di 34 provinsi. Sebanyak 51,5% kasus terjadi pada laki-
laki. Kasus paling banyak terjadi pada rentang usia 45-54 tahun dan paling sedikit terjadi
pada usia 0-5 tahun. Angka kematian tertinggi ditemukan pada pasien dengan usia 55-64
tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh CDC China, diketahui bahwa kasus paling
banyak terjadi pada pria (51,4%) dan terjadi pada usia 30-79 tahun dan paling sedikit terjadi
pada usia <10 tahun (1%). Sebanyak 81% kasus merupakan kasus yang ringan, 14% parah,
dan 5% kritis (Wu Z dan McGoogan JM, 2020). Orang dengan usia lanjut atau yang memiliki
penyakit bawaan diketahui lebih berisiko untuk mengalami penyakit yang lebih parah. Usia
lanjut juga diduga berhubungan dengan tingkat kematian. CDC China melaporkan bahwa
CFR pada pasien dengan usia ≥ 80 tahun adalah 14,8%, sementara CFR keseluruhan hanya
2,3%. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian di Italia, di mana CFR pada usia ≥ 80
tahun adalah 20,2%, sementara CFR keseluruhan adalah 7,2% (Onder G, Rezza G, Brusaferro
S, 2020). Tingkat kematian juga dipengaruhi oleh adanya penyakit bawaan pada pasien.
Tingkat 10,5% ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular, 7,3% pada pasien
dengan diabetes, 6,3% pada pasien dengan penyakit pernapasan kronis, 6% pada pasien

10
dengan hipertensi, dan 5,6% pada pasien dengan kanker.

1.3. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif, berkapsul dan tidak
bersegmen. Coronavirus tergolong ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae. Coronaviridae
dibagi dua subkeluarga dibedakan berdasarkan serotipe dan karakteristik genom. Terdapat
empat genus yaitu alpha coronavirus, betacoronavirus, deltacoronavirus dan gamma
coronavirus.2

Coronavirus memiliki kapsul, partikel berbentuk bulat atau elips, sering pleimorfik

dengan diameter sekitar 50-200m.5 Semua virus ordo Nidovirales memiliki kapsul, tidak

bersegmen, dan virus positif RNA serta memiliki genom RNA sangat panjang.3 Struktur
coronavirus membentuk struktur seperti kubus dengan protein S berlokasi di permukaan
virus. Protein S atau spike protein merupakan salah satu protein antigen utama virus dan
merupakan struktur utama untuk penulisan gen. Protein S ini berperan dalam penempelan dan

masuknya virus kedalam sel host (interaksi protein S dengan reseptornya di sel inang).2,3

Gambar 2. Struktur Coronavirus13

Coronavirus bersifat sensitif terhadap panas dan secara efektif dapat diinaktifkan oleh
desinfektan mengandung klorin, pelarut lipid dengan suhu 56°C selama 30 menit, eter,
alkohol, asam perioksiasetat, detergen non-ionik, formalin, oxidizing agent dan kloroform.

11
Klorheksidin tidak efektif dalam menonaktifkan virus.3

1.4. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


Kebanyakan Coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di hewan. Coronavirus
menyebabkan sejumlah besar penyakit pada hewan dan kemampuannya menyebabkan
penyakit berat pada hewan seperti babi, sapi, kuda, kucing dan ayam. Coronavirus disebut
dengan virus zoonotik yaitu virus yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Kelelawar,
tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa ditemukan untuk Coronavirus.
Secara umum, alur Coronavirus dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia melalui

transmisi kontak, transmisi droplet, rute feses dan oral.4

Berdasarkan penemuan, terdapat tujuh tipe Coronavirus yang dapat menginfeksi


manusia saat ini yaitu dua alphacoronavirus (229E dan NL63) dan empat betacoronavirus,
yakni OC43, HKU1, Middle East respiratory syndrome-associated coronavirus (MERS-
CoV), dan severe acute respiratory syndrome-associated coronavirus (SARS- CoV). Yang
ketujuh adalah Coronavirus tipe baru yang menjadi penyebab kejadian luar biasa di Wuhan,
yakni Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV).4

Gambar 3. Ilustrasi Transmisi Coronavirus (PDPI)

Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel host-nya. Virus tidak bisa
hidup tanpa sel host. Berikut siklus dari Coronavirus setelah menemukan sel host sesuai
tropismenya. Pertama, penempelan dan masuk virus ke sel host diperantarai oleh Protein S
yang ada dipermukaan virus. Protein S penentu utama dalam menginfeksi spesies host-nya

12
serta penentu tropisnya. Pada studi SARS-CoV protein S berikatan dengan reseptor di sel
host yaitu enzim ACE-2 (angiotensin- converting enzyme 2). ACE-2 dapat ditemukan pada
mukosa oral dan nasal, nasofaring, paru, lambung, usus halus, usus besar, kulit, timus,
sumsum tulang, limpa, hati, ginjal, otak, sel epitel alveolar paru, sel enterosit usus halus, sel
endotel arteri vena, dan sel otot polos. Setelah berhasil masuk selanjutnya translasi replikasi
gen dari RNA genom virus. Selanjutnya replikasi dan transkripsi dimana sintesis virus RNA
melalui translasi dan perakitan dari kompleks replikasi virus. Tahap selanjutnya adalah
perakitan dan rilis virus.4

Setelah terjadi transmisi, virus masuk ke saluran napas atas kemudian bereplikasi di sel
epitel saluran napas atas (melakukan siklus hidupnya). Setelah itu menyebar ke saluran napas
bawah. Pada infeksi akut terjadi peluruhan virus dari saluran napas dan virus dapat berlanjut
meluruh beberapa waktu di sel gastrointestinal setelah penyembuhan. Masa inkubasi virus

sampai muncul penyakit sekitar 3-7 hari. 4

Studi pada SARS menunjukkan virus bereplikasi di saluran napas bawah diikuti
dengan respons sistem imun bawaan dan spesifik. Faktor virus dan sistem imun berperan
penting dalam patogenesis. Pada tahap pertama terjadi kerusakan difus alveolar, makrofag,
dan infiltrasi sel T dan proliferasi pneumosit tipe 2. Pada rontgen toraks diawal tahap infeksi
terlihat infiltrat pulmonar seperti bercak-bercak. Pada tahap kedua, organisasi terjadi
sehingga terjadi perubahan infiltrat atau konsolidasi luas di paru. Infeksi tidak sebatas di
sistem pernapasan tetapi virus juga bereplikasi di enterosit sehingga menyebabkan diare dan
luruh di feses, juga urin dan cairan tubuh lainnya.4

Studi terbaru menunjukkan peningkatan sitokin proinflamasi di serum seperti IL1B,


IL6, IL12, IFNγ, IP10, dan MCP1 dikaitkan dengan inflamasi di paru dan kerusakan luas di
jaringan paru-paru pada pasien dengan SARS. Pada infeksi MERS-CoV dilaporkan
menginduksi peningkatan konsentrasi sitokin proinflamasi seperti IFNγ, TNFα, IL15, dan
IL17. Patofisiologi dari tingginya patogenitas yang tidak biasa dari SARS-CoV atau MERS-

CoV sampai saat ini belum sepenuhnya dipahami. 2 Virus SARS-CoV-2 merupakan
Coronavirus, jenis baru yang menyebabkan epidemi, dilaporkan pertama kali di Wuhan

Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019.5 Analisis isolat dari saluran respirasi bawah
pasien tersebut menunjukkan penemuan Coronavirus tipe baru, yang diberi nama oleh WHO
COVID-19. Pada tanggal 11 Februari 2020, WHO memberi nama penyakitnya menjadi

13
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).3 Coronavirus tipe baru ini merupakan tipe ketujuh

yang diketahui di manusia. SARS-CoV-2 diklasifikasikan pada genus betaCoronavirus. 4


Pada 10 Januari 2020, sekuensing pertama genom SARS-CoV-2 teridentifikasi dengan 5
subsekuens dari sekuens genom virus dirilis. Sekuens genom dari Coronavirus baru (SARS-
CoV-2) diketahui hampir mirip dengan SARS-CoV dan MERS-CoV. Secara pohon evolusi

sama dengan SARS-CoV dan MERS-CoV tetapi tidak tepat sama.2

Evolusi group dari SARS-CoV-2 ditemukan di kelelawar sehingga diduga host alami
atau utama dari SARS-CoV-2 mungkin juga kelelawar. Coronavirus tipe baru ini dapat
bertransmisi dari kelelawar kemudian host perantara kemudian manusia melalui mutasi

evolusi.4 Ada kemungkinan banyak host perantara dari kelelawar ke manusia yang belum

dapat diidentifikasi.4 Coronavirus baru, memproduksi variasi antigen baru dan populasi
tidak memiliki imunitas terhadap strain mutan virus sehingga dapat menyebabkan
pneumonia. Pada kasus ini ditemukan kasus “super-spreader” yaitu dimana virus bermutasi
atau beradaptasi di dalam tubuh manusia sehingga memiliki kekuatan transmisi yang sangat
kuat dan sangat infeksius. Satu pasien menginfeksi lebih dari 3 orang dianggap super-

spreader, jika lebih dari 10 lebih tepat lagi dikatakan super spreader.5

Secara patofisiologi, pemahaman mengenai COVID-19 masih perlu studi lebih lanjut.

Pada SARS-CoV-2 ditemukan target sel kemungkinan berlokasi di saluran napas bawah. 2
Virus SARS-CoV-2 menggunakan ACE-2 sebagai reseptor, sama dengan pada SARS-CoV.
Sekuens dari RBD (Reseptor-binding domain) termasuk RBM (receptor- binding motif) pada
SARS-CoV-2 kontak langsung dengan enzim ACE 2 (angiotensin-converting enzyme 2).
Hasil residu pada SARS-CoV-2 RBM (Gln493) berinteraksi dengan ACE 2 pada manusia,
konsisten dengan kapasitas SARS-CoV-2 untuk infeksi sel manusia. Beberapa residu kritis
lain dari SARS-CoV-2 RBM (Asn501) kompatibel mengikat ACE2 pada manusia,
menunjukkan SARS-CoV-2 mempunyai kapasitas untuk transmisi manusia ke manusia.

1.5. MANIFESTASI KLINIS


Infeksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau berat. Gejala klinis

utama yang muncul yaitu demam (suhu >38 oC), batuk dan kesulitan bernapas. Selain itu
dapat disertai dengan sesak memberat, fatigue, mialgia, gejala gastrointestinal seperti diare

14
dan gejala saluran napas lain. Beberapa pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit,
hidung tersumbat, pilek, nyeri kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, hilang
penciuman dan pembauan atau ruam kulit. Setengah dari pasien timbul sesak dalam satu
minggu. Pada kasus berat perburukan secara cepat dan progresif, seperti ARDS, syok septik,
asidosis metabolik yang sulit dikoreksi dan perdarahan atau disfungsi sistem koagulasi dalam
beberapa hari. Pada beberapa pasien, gejala yang muncul ringan, bahkan tidak disertai
dengan demam. Kebanyakan pasien memiliki prognosis baik, dengan sebagian kecil dalam
kondisi kritis bahkan meninggal.4

1.6. DEFINISI KASUS1


1. Kasus Suspek
Seseorang yang memiliki salah satu dari kriteria berikut:
a. Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir
sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah
Indonesia yang melaporkan transmisi local.
b. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum
timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable
COVID-19.
c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di
rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang
meyakinkan.
2. Kasus Probable
Kasus suspek dengan ISPA Berat/ARDS/meninggal dengan gambaran klinis yang
meyakinkan COVID-19 DAN belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.
3. Kasus Konfirmasi
Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus COVID-19 yang dibuktikan
dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR.
Kasus konfirmasi dibagi menjadi 2:
a. Kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik)
b. Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik)
4. Kontak Erat
Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-
19. Riwayat kontak yang dimaksud antara lain:

15
a. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi
dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
b. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti
bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain).
c. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau
konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai standar.
d. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian
risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat
(penjelasan sebagaimana terlampir).
Pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simptomatik), untuk
menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum kasus timbul
gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.
Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik), untuk menemukan
kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum dan 14 hari setelah
tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi.

5. Pelaku Perjalanan
Seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri (domestik) maupun luar
negeri pada 14 hari terakhir.
6. Discarded
Discarded apabila memenuhi salah satu kriteria berikut:
a. Seseorang dengan status kasus suspek dengan hasil pemeriksaan RT- PCR 2
kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu >24 jam.
b. Seseorang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina
selama 14 hari.
7. Selesai Isolasi
Selesai isolasi apabila memenuhi salah satu kriteria berikut:
a. Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan
pemeriksaan follow up RT-PCR dengan ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak
pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi.
b. Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak
dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset
dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam
dan gangguan pernapasan.

16
c. Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang
mendapatkan hasil pemeriksaan follow up RT-PCR 1 kali negatif, dengan
ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan
gangguan pernapasan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria selesai isolasi pada kasus probable/kasus
konfirmasi dapat dilihat dalam Bab Manajemen Klinis.

8. Kematian
Kematian COVID-19 untuk kepentingan surveilans adalah kasus konfirmasi/probable
COVID-19 yang meninggal.

1.7. DIAGNOSIS
1. ANAMNESIS
Pneumonia Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah peradangan pada
parenkim paru yang disebabkan oleh Severe acute respiratory syndrome coronavirus
2 (SARS-CoV-2). Sindrom gejala klinis yang muncul beragam, dari mulai tidak
berkomplikasi (ringan) sampai syok septik (berat).
Pada anamnesis gejala yang dapat ditemukan yaitu, tiga gejala utama: demam,
batuk kering (sebagian kecil berdahak) dan sulit bernapas atau sesak. Tapi perlu
dicatat bahwa demam dapat tidak didapatkan pada beberapa keadaan, terutama pada
usia geriatri atau pada mereka dengan imunokompromis. Gejala tambahan lainnya
yaitu nyeri kepala, nyeri otot, lemas, diare dan batuk darah. Pada beberapa kondisi
dapat terjadi tanda dan gejala infeksi saluran napas akut berat (Severe Acute
Respiratory Infection-SARI). Definisi SARI yaitu infeksi saluran napas akut dengan
riwayat demam (suhu≥ 38 C) dan batuk dengan onset dalam 10 hari terakhir serta
perlu perawatan di rumah sakit. Tidak adanya demam tidak mengeksklusikan infeksi
virus.
2. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tergantung ringan atau beratnya
manifestasi klinis.
a. Tingkat kesadaran: kompos mentis atau penurunan kesadaran
b. Tanda vital: frekuensi nadi meningkat, frekuensi napas meningkat, tekanan
darah normal atau menurun, suhu tubuh meningkat. Saturasi oksigen dapat

17
normal atau turun.

c. Dapat disertai retraksi otot pernapasan

d. Pemeriksaan fisis paru didapatkan inspeksi dapat tidak simetris statis dan
dinamis, fremitus raba mengeras, redup pada daerah konsolidasi, suara napas
bronkovesikuler atau bronkial dan ronki kasar.

3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan diantaranya:
a. Pemeriksaan radiologi: foto toraks, CT-scan toraks, USG toraks Pada
pencitraan dapat menunjukkan: opasitas bilateral, konsolidasi subsegmental,
lobar atau kolaps paru atau nodul, tampilan ground- glass. Pada stage awal,
terlihat bayangan multiple plak kecil dengan perubahan intertisial yang jelas
menunjukkan di perifer paru dan kemudian berkembang menjadi bayangan
multiple ground-glass dan infiltrate di kedua paru. Pada kasus berat, dapat

ditemukan konsolidasi paru bahkan “white-lung” dan efusi pleura (jarang).2,5


b. Pemeriksaan spesimen saluran napas atas dan bawah
 Saluran napas atas dengan swab tenggorok(nasofaring dan orofaring)
 Saluran napas bawah (sputum, bilasan bronkus, BAL, bila
menggunakan endotrakeal tube dapat berupa aspirat endotrakeal)
Untuk pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2, (sequencing bila
tersedia). Ketika melakukan pengambilan spesimen gunakan APD
yang tepat. Ketika mengambil sampel dari saluran napas atas, gunakan
swab viral (Dacron steril atau rayon bukan kapas) dan media transport
virus. Jangan sampel dari tonsil atau hidung. Pada pasien dengan
curiga infeksi COVID-19 terutama pneumonia atau sakit berat, sampel
tunggal saluran napas atas tidak cukup untuk eksklusi diagnosis dan
tambahan saluran napas atas dan bawah direkomendasikan. Klinisi
dapat hanya mengambil sampel saluran napas bawah jika langsung
tersedia seperti pasien dengan intubasi. Jangan menginduksi sputum
karena meningkatkan risiko transmisi aerosol. Kedua sampel (saluran
napas atas dan bawah) dapat diperiksakan jenis patogen lain. Bila
tidak terdapat RT-PCR dilakukan pemeriksaan serologi. Pada kasus

18
terkonfirmasi infeksi COVID-19, ulangi pengambilan sampel dari
saluran napas atas dan bawah untuk petunjuk klirens dari virus.
Frekuensi pemeriksaan 2- 4 hari sampai 2 kali hasil negative dari
kedua sampel serta secara klinis perbaikan, setidaknya 24 jam. Jika
sampel diperlukan untuk keperluan pencegahan infeksi dan transmisi,
specimen dapat diambil sesering mungkin yaitu harian.
c. Bronkoskopi
d. Pungsi pleura sesuai kondisi
e. Pemeriksaan kimia darah
 Darah perifer lengkap
Leukosit dapat ditemukan normal atau menurun; hitung jenis limfosit
menurun. Pada kebanyakan pasien LED dan CRP meningkat.
 Analisis gas darah
 Fungsi hepar (Pada beberapa pasien, enzim liver dan otot meningkat)
 Fungsi ginjal
 Gula darah sewaktu
 Elektrolit
 Faal hemostasis ( PT/APTT, d Dimer), pada kasus berat, D-dimer
meningkat
 Prokalsitonin (bila dicurigai bakterialis)
 Laktat (Untuk menunjang kecurigaan sepsis)
f. Biakan mikroorganisme dan uji kepekaan dari bahan saluran napas (sputum,
bilasan bronkus, cairan pleura) dan darah. Kultur darah untuk bakteri
dilakukan, idealnya sebelum terapi antibiotik. Namun, jangan menunda terapi
antibiotik dengan menunggu hasil kultur darah)
g. Pemeriksaan feses dan urin (untuk investasigasi kemungkinan penularan).

1.8. DIAGNOSIS BANDING


1. Pneumonia bacterial
Gejala umum yang muncul diantaranya batuk, batuk berdahak, atau memberat
seperti muncul dahak purulen, dahak berdarah, dengan atau tanpa adanya nyeri
dada. Pada umumnya tidak bersifat infeksius, dan bukan penyakit infeksius.
2. SARS/MERS

19
Jenis virus baru ini memiliki kemiripan dengan virus SARS dan MERS namun
analisis genetik menunjukkan serupa tetapi tidak sama. Virus jenis baru ini sudah
mengalami evolusi. Studi menunjukkan virus baru ini kemampuan penyebaran dan
patogenisitasnya lebih rendah daripada SARS.
3. Pneumonia Jamur
4. Edema paru kardiogenik (gagal jantung)

1.9. TATALAKSANA1
Penatalaksanaan klinis dilakukan pada pasien COVID-19 tanpa gejala, sakit ringan,
sakit sedang, sakit berat, kondisi kritis, dan pada kondisi tertentu. Berikut tata laksana klinis
pasien terkonfirmasi COVID-19:

1. Tatalaksana Klinis Pasien terkonfirmasi COVID-19 Tanpa Gejala, Sakit Ringan Atau
Sakit Sedang
a. Pasien terkonfirmasi tanpa gejala.
Pada prinsipnya pasien terkonfirmasi COVID-19 yang tanpa gejala tidak memerlukan
rawat inap di Rumah Sakit, tetapi pasien harus menjalani isolasi selama 10 hari sejak
pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi, baik isolasi mandiri di rumah maupun di
fasilitas publik yang dipersiapkan pemerintah. Isolasi ini penting untuk mengurangi
tingkat penularan yang terjadi di masyarakat. Pasien yang menjalani isolasi harus
menjalankan aturan- aturan terkait PPI dan dilakukan monitoring secara berkala baik
melalui kunjungan rumah maupun secara telemedicine oleh petugas FKTP. Pasien
sebaiknya diberikan leaflet berisi hal-hal yang harus diketahui dan dilaksanakan,
pasien diminta melakukan pengukuran suhu tubuh sebanyak dua kali sehari. Setelah
10 hari pasien akan kontrol ke FKTP terdekat.
b. Pasien terkonfirmasi sakit ringan
Pada prinsipnya tatalaksana pasien terkonfirmasi COVID-19 yang mengalami sakit
ringan sama dengan pasien terkonfirmasi yang tanpa gejala. pasien harus menjalani
isolasi minimal selama 10 hari sejak muncul gejala ditambah 3 hari bebas gejala
demam dan gangguan pernafasan. Isolasi dapat dilakukan mandiri di rumah maupun
di fasilitas publik yang dipersiapkan Pemerintah. Pasien yang sakit ringan dapat
diberikan pengobatan simptomatik misalnya pemberian anti-piretik bila mengalami
demam. Pasien harus diberikan informasi mengenai gejala dan tanda perburukan yang
mungkin terjadi dan nomor contact person yang dapat dia hubungi sewaktu-waktu

20
apabila gejala tersebut muncul. Petugas FKTP diharapkan proaktif untuk melakukan
pemantauan kondisi pasien. Setelah melewati masa isolasi pasien akan kontrol ke
FKTP terdekat.
c. Pasien terkonfirmasi sakit sedang dan pasien sakit ringan dengan penyulit
Pasien terkonfirmasi COVID-19 yang mengalami sakit sedang dan pasien yang sakit
ringan tetapi memiliki faktor penyulit atau komorbid akan menjalani perawatan di
Rumah Sakit. Prinsip tatalaksana untuk pasien yang sakit sedang adalah pemberian
terapi simptomatis untuk gejala yang ada dan fungsi pemantauan, dilaksanakan
sampai gejala menghilang dan pasien memenuhi kriteria untuk dipulangkan dari
Rumah Sakit.
2. Tatalaksana Pasien Terkonfirmasi COVID-19 yang Sakit Berat
a. Terapi Suportif Dini dan Pemantauan
Pemberian terapi suplementasi oksigen segera pada pasien ISPA berat dan pasien yang
mengalami distress pernapasan, hipoksemia, atau syok.
1) Terapi oksigen dimulai dengan pemberian 5 L/menit dengan nasal kanul dan titrasi
untuk mencapai target SpO2 ≥90% pada anak dan orang dewasa, serta SpO2 ≥
92% - 95% pada pasien hamil.
2) Pada anak dengan tanda kegawatdaruratan (obstruksi napas atau apneu, distres
pernapasan berat, sianosis sentral, syok, koma, atau kejang) harus diberikan terapi
oksigen selama resusitasi untuk mencapai target SpO2 ≥ 94%;
3) Semua pasien dengan ISPA berat dipantau menggunakan pulse oksimetri dan
sistem oksigen harus berfungsi dengan baik, dan semua alat-alat untuk
menghantarkan oksigen (nasal kanul, sungkup muka sederhana, sungkup dengan
kantong reservoir) harus digunakan sekali pakai.
b. Terapkan kewaspadaan kontak saat memegang alat-alat untuk menghantarkan oksigen
(nasal kanul, sungkup muka sederhana, sungkup dengan kantong reservoir) yang
terkontaminasi dalam pengawasan atau terbukti COVID-19. Lakukan pemantauan
ketat pasien dengan gejala klinis yang mengalami perburukan seperti gagal napas,
sepsis dan lakukan intervensi perawatan suportif secepat mungkin.
1) Pasien COVID-19 yang menjalani rawat inap memerlukan pemantauan vital sign
secara rutin dan apabila memungkinkan menggunakan sistem kewaspadaan dini
(misalnya NEWS2) untuk memantau perburukan klinis yang dialami pasien.
2) Pemeriksaan darah lengkap, kimia darah dan EKG harus dilakukan pada waktu
pasien masuk perawatan untuk mengetahui dan memantau komplikasi yang
21
mungkin dialami oleh pasien seperti: acute liver injury, acute kidney injury, acute
cardiac injury atau syok.
3) Setelah melakukan tindakan resusitasi dan stabilisasi pasien yang sedang hamil,
harus dilakukan monitoring untuk kondisi janin.
c. Pahami pasien yang memiliki komorbid untuk menyesuaikan pengobatan dan
penilaian prognosisnya.
Perlu menentukan terapi mana yang harus dilanjutkan dan terapi mana yang harus
dihentikan sementara. Berkomunikasi secara proaktif dengan pasien dan keluarga
dengan memberikan dukungan dan informasi prognostik.
d. Melakukan manajemen cairan secara konservatif pada pasien dengan ISPA berat tanpa
syok.
Pasien dengan ISPA berat harus hati-hati dalam pemberian cairan intravena, karena
resusitasi cairan yang agresif dapat memperburuk oksigenasi, terutama dalam kondisi
keterbatasan ketersediaan ventilasi mekanik.
3. Tatalaksana Pasien Terkonfirmasi COVID-19 Pada Kondisi Tertentu
a. Pemberian antibiotik empirik berdasarkan kemungkinan etiologi pada kasus yang
dicurigai mengalami sepsis (termasuk dalam pengawasan COVID-19) yang diberikan
secepatnya dalam waktu 1 jam setelah dilakukan asesmen.
Berikut tabel pilihan antibiotik untuk terapi awal pasien rawat jalan dengan
Community-acquired pneumonia (CAP).

22
Tabel 1. Pilihan antibiotik pasien rawat jalan dengan CAP

Pengobatan antibiotik empirik berdasarkan semua etiologi yang memungkinkan


(pneumonia komunitas, pneumonia nosokomial atau sepsis) berdasarkan data
epidemiologi, peta kuman penyebab, serta pedoman pengobatan yang berlaku. Terapi
empirik harus di deekskalasi apabila sudah didapatkan hasil pemeriksaan
mikrobiologis dan penilaian klinis.
Selain itu, dapat pula terjadi koinfeksi (bakteri dan virus bersamaan). Pemberian
antivirus sebagai terapi empiris seperti golongan inhibitor neuraminidase untuk
tatalaksana influenza juga dapat diberikan jika terdapat faktor risiko seperti riwayat
perjalan atau paparan hewan virus influenza. Terapi empiris berdasarkan data

mikrobiologi dan dugaan klinis.26,28


Terapi pada pasien rawat inap bergantung tingkat keparahan pasien. Berikut
ringkasan Terapi antiobiotik pada pasien rawat inap berdasarkan tingkat keparahan

pasien.28

Tabel 2. Terapi Antibiotik Pneumonia Pasien Rawat Inap


b. Tatalaksana pada pasien hamil, dilakukan terapi suportif dan sesuai dengan kondisi
kehamilannya.
Pelayanan persalinan dan terminasi kehamilan perlu mempertimbangkan beberapa
faktor seperti usia kehamilan, kondisi ibu dan janin. Perlu dikonsultasikan ke dokter
kandungan, dokter anak, dokter lain sesuai kondisi kehamilannya, dan konsultan
23
intensive care.
c. Jangan memberikan kortikosteroid sistemik secara rutin untuk pengobatan pneumonia
karena virus atau ARDS di luar uji klinis kecuali terdapat alasan lain.
Penggunaan jangka panjang sistemik kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan
efek samping yang serius pada pasien dengan ISPA berat/SARI, termasuk infeksi
oportunistik, nekrosis avaskular, infeksi baru bakteri dan replikasi virus mungkin
berkepanjangan. Oleh karena itu, kortikosteroid harus dihindari kecuali diindikasikan
untuk alasan lain.
d. Perawatan pada Pasien Terkonfirmasi COVID-19 yang berusia lanjut
1) Perawatan pasien terkonfirmasi COVID-19 berusia lanjut memerlukan
pendekatan multidisipliner antara dokter, perawat, petugas farmasi dan tenaga
kesehatan yang lain dalam proses pengambilan keputusan mengingat masalah
multi-morbiditas dan penurunan fungsional tubuh.
2) Perubahan fisiologis terkait umur akan menurunkan fungsi intrinsik
3) pasien seperti malnutrisi, penurunan fungsi kognitif dan gejala depresi. Deteksi
dini mengenai kemungkinan pemberian obat yang tidak tepat harus dilakukan
untuk menghindari munculnya kejadian tidak diharapkan dan interaksi obat
untuk pasien lanjut usia. Orang berusia lanjut memiliki resiko yang lebih besar
mengalami polifarmasi, dengan adanya pemberian obat-obat baru terkait
COVID-19 maka diperlukan koordinasi dengan caregiver atau keluarga selama
proses tatalaksana COVID-19 untuk menghindari dampak negatif terhadap
kesehatan pasien.
e. Perawatan pada Pasien COVID-19 anak
Terapi definitif untuk COVID-19 masih belum diketahui, tidak ada obat yang efikasi
dan keamanannya terbukti. Beberapa terapi masih dalam evaluasi (terutama pada
dewasa), penggunaan pada kasus COVID-19 pada anak masih dalam penelitian.
Pemberian antivirus maupun hidroksiklorokuin harus mempertimbangkan derajat
beratnya penyakit, komorbid dan persetujuan orang tua. Perawatan isolasi pada pasien
balita dan anak yang belum mandiri dilakukan sesuai dengan standar.
4. Tatalaksana Pasien Terkonfirmasi COVID-19 yang Sakit Kritis
a. Manajemen Gagal Napas Hipoksemi dan ARDS
1) Mengenali gagal napas hipoksemi ketika pasien dengan distress pernapasan
mengalami kegagalan terapi oksigen standar
2) Oksigen nasal aliran tinggi (High-Flow Nasal Oxygen/HFNO) atau ventilasi
24
non invasif (NIV), hanya pada pasien gagal napas hipoksemi tertentu, dan
pasien tersebut harus dipantau ketat untuk menilai terjadi perburukan klinis.
3) Intubasi endotrakeal harus dilakukan oleh petugas terlatih dan berpengalaman
dengan memperhatikan kewaspadaan transmisi airborne Pasien dengan
ARDS, terutama anak kecil, obesitas atau hamil, dapat mengalami desaturasi
dengan cepat selama intubasi.
4) Ventilasi mekanik menggunakan volume tidal yang rendah (4-8 ml/kg
prediksi berat badan, Predicted Body Weight/PBW) dan tekanan inspirasi
rendah (tekanan plateau <30 cmH2O).
5) Pada pasien ARDS berat, lakukan ventilasi dengan prone position > 12 jam
per hari
6) Manajemen cairan konservatif untuk pasien ARDS tanpa hipoperfusi jaringan
7) Pada pasien dengan ARDS sedang atau berat disarankan menggunakan PEEP
lebih tinggi dibandingkan PEEP rendah
8) Pada pasien ARDS sedang-berat (td2/FiO2 <150) tidak dianjurkan secara rutin
menggunakan obat pelumpuh otot.
9) Pada fasyankes yang memiliki Expertise in Extra Corporal Life Support
(ECLS), dapat dipertimbangkan penggunaannya ketika menerima rujukan
pasien dengan hipoksemi refrakter meskipun sudah mendapat lung protective
ventilation.
10) Hindari terputusnya hubungan ventilasi mekanik dengan pasien karena dapat
mengakibatkan hilangnya PEEP dan atelektasis.
b. Manajemen Syok Septik
1) Kenali Syok Septik
Pada orang dewasa saat infeksi dicurigai atau dikonfirmasi DAN vasopressor
diperlukan untuk mempertahankan mean arterial pressure (MAP) ≥65 mmHg
dan kadar laktat ≥2 mmol/L tanpa hipovolemi merupakan tanda syok sepsis.
Pada anak, kenali syok sepsis ditandai hipotensi (tekanan darah sistolik (SBP)

<5th persentil atau >SD dibawah normal untuk usia yang sesuai) atau terdapat
2- 3 dari:
 Perubahan status mental
 Takikardi atau bradikardi (<90 atau >160 kali per menit pada bayi dan
denyut jantung <70 atau >150 kali per menit pada anak)

25
 Capillary refill time memanjang (>2 detik) atau vasodilatasi hangat
dengan denyut nadi yang keras (bounding pulse)
 Takipneu
 Mottled skin atau petekhie atau lesi purpura
 Peningkatan laktat
 Oliguria
 Hipertermi
Pentingnya deteksi dini dan tatalaksana adekuat dalam kurun waktu satu jam
sejak deteksi syok meliputi: terapi antimikroba, loading cairan, vasopressor
untuk hipotensi. Jika tidak tersedia pengukuran laktat, gunakan MAP dan
tanda klinis perfusi untuk mengidentifikasi syok. Jika dibutuhkan dan sumber
daya tersedia dapat dilakukan pemasangan CVC.

2) Resusitasi syok septik pada dewasa: berikan cairan kristaloid isotonik 30


ml/kg.
3) Resusitasi syok septik pada anak-anak: pada awal berikan bolus cepat 20
ml/kg kemudian tingkatkan hingga 40-60 ml/kg dalam 1 jam pertama.
4) Jangan gunakan kristaloid hipotonik, kanji, atau gelatin untuk resusitasi.
5) Resusitasi cairan dapat mengakibatkan kelebihan cairan dan gagal napas. Jika
tidak ada respon terhadap pemberian cairan dan muncul tanda-tanda kelebihan
cairan (seperti distensi vena jugularis, ronki basah halus pada auskultasi paru,
gambaran edema paru pada foto toraks, atau hepatomegali pada anak-anak)
maka kurangi atau hentikan pemberian cairan.
6) Vasopresor diberikan ketika syok tetap berlangsung meskipun sudah diberikan
resusitasi cairan yang cukup.
7) Pertimbangkan pemberian obat inotrop (seperti dobutamine) jika perfusi tetap
buruk dan terjadi disfungsi jantung meskipun tekanan darah sudah mencapai
target MAP dengan resusitasi cairan dan vasopresor.
Kriteria discharge atau keluar dari ruang isolasi. Beberapa kondisi berikut dapat
menjadi acuan untuk kriteria pasien discharge atau keluar dari ruang isolasi :

 Kondisi stabil
 Tanda vital: kompos mentis; pernapasan stabil; komunikasi normal; bebas demam
selama 3 hari

26
 Gejala respirasi perbaikan
 Tidak ada disfungsi organ
 Perbaikan secara pencitraan
 Dua hasil negatif dari test asam nukleat pathogen COVID-19 (interval setidaknya 1
hari)
Rekomendasi untuk pasien rawat jalan

 Triase dan identifikasi dini


 Prinsip hand hygiene, etika batuk atau bersin dan masker bedah
 digunakan pada pasien dengan gejala infeksi saluran napas
 Penerapan kewaspadaan kontak dan droplet pada semua kasus
 suspek
 Prioritas penanganan gejala pasien
 Jika pasien harus menunggu, pastikan terdapat ruang tunggu
 terpisah
 Edukasi pasien dan keluarga terkait deteksi dini gejala,
 kewaspadaan dasar yang dilakukan dan kunjungan ke fasilitas layanan kesehatan.

1.10. PENCEGAHAN
Saat ini masih belum ada vaksin untuk mencegah infeksi COVID- 19.26 Cara terbaik
untuk mencegah infeksi adalah dengan menghidari terpapar virus penyebab. Lakukan
tindakan-tindakan pencegahan penularan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Beberapa
upaya pencegahan yang dapat dilakukan pada masyarakat :
 Cuci tangan anda dengan sabun dan air sedikitnya selama 20 detik.
 Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol yang setidaknya mengandung alcohol 60 %,
jika air dan sabun tidak tersedia.
 Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.
 Sebisa mungkin hidari kontak dengan orang yang sedang sakit.
 Saat anda sakit gunakan masker medis. Tetap tinggal di rumah saat anda sakit atau
segera ke fasilitas kesehatan yang sesuai, jangan banyak beraktifitas di luar.
 Tutupi mulut dan hidung anda saat batuk atau bersin dengan tissue. Buang tissue pada
tempat yang telah ditentukan.
 Bersihkan dan lakukan disinfeksi secara rutin permukaan dan benda yang sering

27
disentuh.
 Menggunakan masker medis adalah salah satu cara pencegahan penularan penyakit
saluran napas, termasuk infeksi COVID-19. Akan tetapi penggunaan masker saja
masih kurang cukup untuk melindungi seseorang dari infeksi ini, karenanya harus
disertai dengan usaha pencegahan lain. Pengunaan masker harus dikombinasikan
dengan hand hygiene dan usaha-usaha pencegahan lainnya.
 Pengunaan masker medis tidak sesuai indikasi bisa jadi tidak perlu, karena selain
dapat menambah beban secara ekonomi, penggunaan masker yang salah dapat
mengurangi keefektivitasannya dan dapat membuat orang awam mengabaikan
pentingnya usaha pencegahan lain yang sama pentingnya seperti hygiene tangan dan
perilaku hidup sehat.
 Cara penggunaan masker medis yang efektif:
- Pakai masker secara seksama untuk menutupi mulut dan hidung, kemudian
eratkan dengan baik untuk meminimalisasi celah antara masker dan wajah
- Saat digunakan, hindari menyentuh masker.
- Lepas masker dengan tehnik yang benar (misalnya; jangan menyentuh bagian
depan masker, tapi lepas dar belakang dan bagian dalam.)
- Setelah dilepas jika tidak sengaja menyentuh masker yang telah digunakan
segera cuci tangan.
- Gunakan masker baru yang bersih dan kering, segera ganti masker jika masker
yang digunakan terasa mulai lembab.
- Jangan pakai ulang masker yang telah dipakai.
- Buang segera masker sekali pakai dan lakukan pengolahan sampah medis
sesuai SOP.
- Masker pakaian seperti katun tidak direkomendasikan.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian


Covid-19 Kementerian Kesehatan RI [Internet]. 2020 [updated 2020 July). Available
from: https:// infeksiemerging.kemkes.go.id/.
2. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Zang Li, Fan G, etc. Clinical features of patients
infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet. 24 jan 2020.

3. Fehr AR, Perlman S. Coronavirus: An Overview of Their Replication and Pathogenesis.


Methods Mol Biol. 2015 ; 1282: 1– 23.

4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2020. Pneumonia Covid-19, Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia.

5. WHO. Novel Coronavirus (2019-nCoV) Situation Report-1. Januari 21, 2020.

29