MAKALAH
“Kimia Darah”
Dosen Pengampu :
Disusun Oleh
Evita Rose 1913353039
PRODI SARJANA TERAPAN
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
POLTEKKES KEMENKES TANJUNG KARANG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
“Asam Urat”
Pengertian Asam Urat
Asam urat adalah asam berbentuk kristal yang merupakan produk akhir dari metabolisme
atau pemecahan purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat
yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara alamiah purin terdapat dalam tubuh dan dijumpai
pada makanan dari sel hidup, yaitu makanan dari tanaman (sayur,buah, kacang-kacangan) maupun
dari hewan (daging, jeroan, ikan sarden). Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, karena
pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat
Metabolisme Purin menjadi Asam Urat
Pembentukan asam urat dimulai dengan metabolisme dari DNA dan RNA menjadi
adenosine dan guanosine. Adenosine kemudian dimetabolisme menjadi hypoxanthine,
selanjutnya hypoxanthine dimetabolisme menjadi xanthine. Sedangkan guanosine sendiri
dimetabolisme menjadi xantine. Xantine hasil metabolisme dari hypoxanthine dan guanosine
kemudian menjadi asam urat dengan bantuan xanthine oxidase. Asam urat akan langsung
diekresi melalui glomerulus
Gambar 1. Metabolisme purin menjadi asam urat (Silbernagl, 2009)
Kadar Asam Urat
Kadar asam urat darah dibedakan menurut usia dan jenis kelamin. kadar asam urat normal
pada laki-laki dewasa 3,4-7,0 mg/dL dan pada perempuan dewasa 2,4-5-7 mg/dL, pada
perempuan biasanya tetap rendah karena memiliki hormon esterogen yang dapat mengeluarkan
asam urat dari dalam tubuh. Kadar asam urat pada perempuan mulai menunjukkan peningkatan
pada masa post menopause dan dapat mencapai 4,7 mg/dL.
Peningkatan Asam Urat
Meningkatnya asam urat dalam darah disebut hiperurisemia. Hiperurisemia
menimbulkan hipersaturasi asam urat, yaitu kelarutan asam urat dalam darah melewati ambang
batasnya sehingga menyebabkan timbunan asam urat dalam bentuk garam (monosodium urat)
di jaringan. Konsentrasi 7,0 mg/dl adalah batas kelarutan monosodium urat dalam plasma,
sehingga pada konsentrasi > 7,0 mg/dL monosodium urat cenderung mengendap dalam
jaringan (Pittman, 2009). Kondisi hiperurisemia yang disebabkan karena proses pembuangan
asam urat melalui ginjal yang berkurang dapat terjadi karena ketidak mampuan ginjal untuk
mengeluarkan asam urat. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor, seperti :
1. Konsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah
dalam waktu yang lama, seperti obat TB paru dan obat hipertensi.
2. Olah raga yang terlalu berat sehingga menyebabkan penumpukan asam
laktat di dalam otot.
3. Konsumsi alkohol yang berlebih.
4. Penyakit : hipertensi, gagal ginjal, hiperparatiroid.
Patofisiologi Asam Urat
Kondisi asam urat yang meningkat dalam tubuh menyebabkan terjadi penumpukan
asam urat pada jaringan yang kemudian akan membentuk kristal urat yang ujungnya
tajam seperti jarum. Kondisi ini memacu terjadinya respon inflamasi dan diteruskan
dengan serangan gout.
Menurut Michael A. Charter gout memiliki 4 tahapan klinis, yaitu :
a. Stadium I
Kadar asam urat darah meningkat tapi tidak menunjukkan gejala atau keluhan
(hiperurisemia asimtomatik).
b. Stadium II
Terjadi pembengkakan dan nyeri pada sendi kaki, sendi jari tangan, pergelangan tangan dan
siku (acut arthritis gout).
c. Stadium III
Kebanyakan orang mengalami serangan gout berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun
jika tidak diobati (intercritical stadium).
d. Stadium IV
Timbunan asam urat terus meluas selama beberapa tahun jika tidak dilakukan pengobatan,
hal ini dapat menyebabkan nyeri, sakit, kaku serta pembengkakan sendi nodular yang
besar (cronic gout).
Tanda dan Gejala Penyakit Asam Urat
Terdapat banyak gejala penyakit asam urat diantaranya:
a) Kesemutan dan Linu
b) Nyeri sendii terutama pada pagi dan malam hari
c) Sendi yang terkena gout terlihat bengkak,kemerahan,panas, dan nyeri luar biasa
d) Gejala lain yaitu demam, menggigil, tidak enak badan, dan jantung berdenyut cepat
Pengobatan Asam Urat
Pengobatan untuk asam urat / gout dapat dikelompokkan menjadi 3 cara, yaitu :
1. Pengobatan Medis : pengobatan menggunakan obat-obat kimia.
2. Pengobatan Non Medis: menjalankan pola hidup sehat yang dapat dilakukan melalui :
diet makanan, yaitu dengan mengurangi konsumsi makanan tinggi purin dan disetai dengan
pola hidup sehat dengan cara melakukan olah raga secara teratur
3. Pengobatan Herbal: pengobatan dengan memanfaatkan tanaman obat yang mempunyai
khasiat anti inflamasi seperti : kunyit, sambiloto dan daun sendok atau tanaman obat yang
mempunyai khasiat penghilang rasa sakit (analgesik) seperti : sandiguri dan biji adas.
Metode Pemeriksaan Asam Urat
Pemeriksaan kadar asam urat di laboratorium dapat dilakukan dengan:
1. Tes Darah.
Tes ini ditujukan untuk mengukur kadar asam urat dan kreatinin dalam darah. Mereka
yang mengidap asam urat memiliki kreatinin hingga 7 mg/dL. Namun, tes ini tidak selalu
memastikan penyakit asam urat, karena beberapa orang diketahui memiliki kadar asam
urat tinggi, tetapi tidak menderita penyakit asam urat.
2. Tes Urine 24 jam.
Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa kadar asam urat dalam urine yang dikeluarkan
pasien selama 24 jam terakhir.
3. Tes cairan sendi. Prosedur ini akan mengambil cairan sinovial pada sendi yang terasa
sakit, kemudian akan diperiksa di bawah mikroskop.
4. Tes Pencitraan. Pemeriksaan foto Rontgen akan dilakukan guna mengetahui penyebab
radang pada sendi. Sementara itu, USG juga bisa dilakukan untuk mendeteksi kristal
asam urat pada sendi
“UREUM”
Pengertian Ureum
Sampah utama metabolisme protein adalah ureum atau urea.
Ureum merupakan senyawa nitrogen non protein yang ada di dalam darah (Sumardjo, 2008).
Ureum adalah produk akhir katabolisme protein dan asam amino yang diproduksi oleh hati
dan didistribusikan melalui cairan intraseluler dan ekstraseluler ke dalam darah untuk
kemudian difiltrasi oleh glomerulus dan sebagian direabsorbsi pada keadaan dimana urin
terganggu.
Jumlah ureum dalam darah ditentukan oleh diet protein dan kemampuan ginjal
mengekskresikan urea. Jika ginjal mengalami kerusakan, urea akan terakumulasi dalam darah.
Peningkatan urea plasma menunjukkan kegagalan ginjal dalam melakukan fungsi filtrasinya..
Kondisi gagal ginjal yang ditandai dengan kadar ureum plasma sangat tinggi dikenal dengan
istilah uremia. Keadaan ini dapat berbahaya dan memerlukan hemodialisa atau tranplantasi
ginjal (Verdiansah. 2016).
Rumus bangun ureum adalah NC = (=O)N dengan struktur atom sebagai berikut:
O
H2N NH2
Gambar 1. Rumus Bangun Ureum (Sunarya, Y., Setiabudi, A., 2007)
Metabolisme Ureum
Gugus amino dilepas dari asam amino bila asam amino itu didaur ulang menjadi
sebagian dari protein atau dirombak dan dikeluarkan dari tubuh, amino transferase
(transminase) yang ada diberbagai jaringan mengkatalisis pertukaran gugusan asam amino
antara senyawa-senyawa yang ikut serta dalam reaksi-reaksi sintesis. Deminasi oksidatif
memisahkan gugusan amino dari molekul aslinya dan gugusan asam amino yang dilepaskan
diubah menjadi ammonia. Ammonia diantar ke hati dan dirubah menjadi reaksi-reaksi
bersambung.
seluruh urea hampir dibentuk di hati, dari katabolisme asam-asam amino dan merupakan
produk ekskresi metabolisme protein yang utama. Konsentrasi urea dalam plasma darah
terutama menggambarkan keseimbangan antara pembentukan urea dan katabolisme protein
serta ekskresi urea oleh ginjal : sejumlah urea dimetabolis lebih lanjut dan sejumlah kecil
hilang dalam keringat dan feses (Baron D. N, 1995). Nilai rujukan untuk ureum adalah 20 - 35
mg/dl (Urea FS, 2016)
Tinjauan Klinis Ureum
a. Urea Plasma yang Rendah (Uremia)
Uremia adalah keadaan dimana kadar ureum di dalam darah sangat rendah dan keadaan ini
bersifat toksik yang disebabkan oleh penyakit gagal ginjal. Uremia dapat menyebabkan
gangguan pada keping darah dan dapat mengakibatkan hipersomnia. Penderita diindikasikan
terkena uremia apabila komponen pada urin sekunder merembes ke dalam plasma darah.
Keadaan ini terjadi pada penderita gagal ginjal (Verdiansyah, 2016).
b. Urea Plasma yang Tinggi (Azotemia)
Azotemia merupakan kondisi medis yang ditandai dengan terjadinya abnormalitas level
senyawa yang mengandung ureum, kreatinin, senyawa hasil metabolisme tubuh dan senyawa
yang kaya akan nitrogen di dalam darah. Keadaan ini meningkatkan kadar ureum dalam darah
yang bersifat patologis (Nuari, Widayati, 2017).
Faktor yang Mempengaruhi Kadar Ureum dalam Darah
Nilai rujukan pada pemeriksaan kadar ureum BUN adalah:
Dewasa : 5 – 25 mg/dl
Bayi : 5 – 15 mg/dl
Anak-anak : 5 – 20 mg/dl
Lansia : kadar ureum ditemukan sedikit lebih tinggi daripada dewasa.
Kadar ureum dalam darah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya sebagai berikut :
a. Asupan Protein dalam Tubuh
Ureum di dalam tubuh merupakan produk akhir dari metabolisme protein yang diekskresikan
melalui ginjal dalam bentuk urin. Semakin banyak asupan protein ke dalam tubuh, maka akan
mengalami peningkatan kadar ureum. Metabolisme ureum dilakukan pada organ ginjal,
sehingga apabila asupan protein seseorang terlalu tinggi dan tidak diimbangi dengan asupan
gizi yang lain maka ginjal akan bekerja keras untuk merombak protein tersebut menjadi asam
amino, sehingga kadar ureum dalam darah akan meningkat.
b. Kerusakan pada Ginjal
Kerusakan pada organ ginjal sering disebabkan karena menurunnya fungsi ginjal. Fungsi
ginjal menurun ditandai dengan peningkatan kadar ureum. Apabila hanya 10% dari ginjal yang
berfungsi maka pasien sudah berada pada tahap end- stage renal disease (ESRD) yaitu penyakit
ginjal tahap akhir. Ginjal yang rusak tidak mampu menyaring ureum yang masuk, sehingga
kadar ureum akan masuk ke dalam aliran darah (Baradeno M, Mary dkk, 2009). Keadaan ini
menyebabkan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan
elektrolit sehingga menyebabkan uremia yaitu retensi urea dan sampah nitrogen lain di dalam
darah.
c. Dehidrasi
Dehidrasi adalah gangguan keseimbangan cairan dimana tubuh mengalami kekurangan
cairan tetapi tubuh mengeluarkan lebih banyak cairan. Ginjal berfungsi memproduksi urin
sehingga berkaitan langsung dengan cairan di dalam tubuh. Tubuh membutuhkan cairan yang
cukup untuk metabolisme, jika cairan di dalam tubuh kurang maka darah dan tekanan darah
terganggu. Dehidrasi mempengaruhi kinerja ginjal menjadi lebih berat. Dehidrasi kronis akan
menyebabkan gangguan pada ginjal (Patrick D., 2006).
d. Konsumi Obat-obatan
Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah seperti, Nefrotoksik, Diuretik
{Hidroklorotiazid (Hydrodiuril)}, Asam etakrinat (Edecrin), Furosemid (Lasix), Triamteren
(Dyrenium), Antibiotik {Basitrasin, Sefaloridin (dosis besar), Gentamisin, Kanamisin},
Kloramfenikol (Chloromycetin), Anti http://repository.unimus.ac.id/ 11 hipertensif {Metildopa
(Aldomet), Guanetidin (Ismelin)}, Sulfonamid, Propranolol, Morfin, Litium karbonat, dan
Salisilat (Joyce L. K, 2014).
Pemeriksaan Kadar Ureum
Pemeriksaan kadar ureum serum dapat digunakan sebagai parameter tes fungsi ginjal,
status hidrasi, menilai keseimbangan nitrogen, menilai progesivitas penyakit ginjal, dan
menilai hasil hemodialisis (Verdiansah, 2016). Bahan pemeriksaan kadar Ureum diantaranya:
Plasma darah, Serum. dan Metode yang digunakan untuk pemeriksaan kadar ureum serum
adalah metode enzimatik.
Prinsip kerja adalah urea dikatalisis menjadi ammonium karbonat oleh enzim urease
dimana laju reaksinya bergantung pada konsentrasi glutamat dehidrogenase. Reaksi selanjutnya
akan mengubah NADH menjadi NAD yang diabsorbansikan pada panjang gelombang 340 nm.
Skema prinsip kerja Urea FS adalah sebagai berikut : Urea + 2 H2O Urease 2 NH4+ + 2 HOC3
- 2-Oxoglutarate + NH4+ + NADH GLDH L-Glutamate + NAD+ + H2O
Faktor - faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan kadar ureum :
1) Hasil palsu dapat terjadi pada spesimen yang mengalami hemolisis.
2) Nilai-nilai agak terpengaruh oleh hemodilusi. 11
3) Berbeda dengan tingkat kreatinin, asupan protein (diet rendah protein) dapat mempengaruhi
kadar urea nitrogen sehingga menurunkan nilai BUN.
4) Kadar kreatinin dan kadar urea nitrogen harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi fungsi
ginjal. Apabila terjadi peningkatan atau penurunan yang signifikan, hasil dapat dibandingkan
dengan rasio BUN : Kreatinin sebelum mengevaluasi fungsi ginjal (Chernecky dan Berger,
2013).
”KREATININ”
Pengertian Kreatini
Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme keratin otot kreatinin fosfat (protein),
disisntesa dalam hati, ditemukan dalam otot rangka dan darah yang direaksikan oleh ginjal
kedalam urine , Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada
massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein walaupun keduanya
juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi
cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot
(Riswanto, 2010).
Menurut Banerjee A (2005), kreatinin merupakan hasil metabolisme dari kreatin dan
fosfokreatin. Kreatinin memiliki berat molekul 113-Da (Dalton). Kreatinin difiltrasi di
glomerulus dan direabsorpsi di tubular. Kreatinin plasma disintesis di otot skelet sehingga
kadarnya bergantung pada massa otot dan berat badan. Menurut Siregar CT (2009) hasil akhir
saat pembentukan kreatinin pada saat energy dari pospat kreatinin yang didapatkan pada proses
metabolisme yang terdapat didalam otot rangka. Kreatinin merupakan bahan ampas dari
metabolisme tenaga otot, yang seharusnya di saring oleh ginjal dan dimasukkan pada air seni
(Spiritia Y, 2009).
Metabolisme Kreatinin
Kreatin ditemukan di jaringan otot (sampai dengan 94%). Kreatin dari otot diambil dari
darah karena otot sendiri tidak mampu mensintesis kreatin. Kreatin darah berasal dari makanan
dan biosintesis yang melibatkan berbagai organ terutama hati. Proses awal biosintesis kreatin
berlangsung di ginjal yang melibatkan asam amino arginin dan glisin. Menurut salah satu
penelitian in vitro kreatin secara hampir konstan akan diubah menjadi kreatinin dalam jumlah
1,1% per hari (Wulandari W, 2015).
Pembentukan kreatinin dari kreatin berlangsung secara konstan dan tidak ada
mekanisme reuptake oleh tubuh, sehingga sebagian besar kreatinin yang terbentuk dari otot
diekskresi lewat ginjal sehingga ekskresi kreatinin dapat digunakan untuk menggambarkan
filtrasi glomerulus walaupun tidak 100% sama dengan ekskresi inulin yang merupakan baku
emas pemeriksaan laju filtrasi glomerulus. Meskipun demikian, sebagian (16%) dari kreatinin
yang terbentuk dalam otot akan mengalami degradasi dan diubah kembali menjadi kreatin.
Sebagian kreatinin juga dibuang lewat jalur intestinal dan mengalami degradasi lebih lanjut oleh
kreatininase bakteri usus. Kreatininase bakteri akan mengubah kreatinin menjadi kreatin yang
kemudian akan masuk kembali ke darah (Sireger CT, 2009).
Metabolisme kreatinin dalam tubuh menyebabkan ekskresi kreatinin tidak benar-benar
konstan dan mencerminkan filtrasi glomerulus, walaupun pada orang sehat tanpa gangguan
fungsi ginjal, besarnya degradasi dan ekskresi ekstrarenal kreatinin ini minimal dan dapat
diabaikan (Wyss, 2000).
Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Kadar Kreatinin
Terdapat beberapa paktor yang dapat mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah diantaranya :
a. Perubahan massa otot.
b. Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setelah makan.
c. Aktifitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin dalam darah.
d. Obat-obatan yang dapat mengganggu sekresi kratinin sehingga meningkatkan kadar kreatinin
dalam darah
e. Peningkatan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal.
f. Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada orang muda, serta
kadar kreatinin pada laki-laki lebih tinggi dari pada kadar kreatinin wanita (Corwin, 2009)
Nilai Normal Kreatinin
Wanita biasanya memiliki kadar kreatinin lebih rendah dibandingkan laki-laki karna
wanita memiliki jaringan otot yg lebih sedikit.
Nilai Normal kreatinin pada orang dewasa:
Laki-laki: 0,6-1,2 mg/Dl
Perempuan: 0,5-1,1 mg/dl
Gejala kreatinin tinggi beberapa orang yang memiliki penyakit ginjal sehingga kadar kreatinin
darah menjadi tinggi, mereka tidak merasakan gejala apapun, namun ada beberapa orang dapat
mengalami gejala kreatinin tinggi sebagai berikut:
1. Rasa lelah
2. Dehidrasi
3. Kebingungan
4. Sesak napas
Pemeriksaan kadar Kreatinin
Pemeriksaan kadar kreatinin darah dapat diukur absorbansinya dengan panjang
gelombang tertentu menggunakan spektrofotometer dan prinsip pembacaanya terbentuk sinar
dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan memiliki alat pengurai seperti prisma
yang dapat menyeleksi panjang gelombang tertentu dari sinar putih (Nur Intan Pertiwi, 2016 ).
Beberapa metode yang digunakan untuk pemeriksaan kreatinin darah adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan kreatinin menggunakan Metode Jaffe tanpa deproteinasi
Prinsip Reaksi : pH alkalis
Creatinine + Picric acid Creatinine picric complex
Pemeriksaan kreatinin metode Jaffe tanpa deproteinasi ini sekarang yang banyak
digunakan karena dari prosedur pemeriksaan lebih praktis dan mudah, apalagi pada laboratorium
yang menggunakan alat otomatis, dimana satu sampel pemeriksaan digunakan bermacam-
macam parameter.
2. Pemeriksaan kreatinin menggunakan metode jaffe dengan deproteinasi
Metode ini menggunakan sampel serum yang telah dideproteinasi terlebih dahulu menggunakan
TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N dengan perbandingan 1:1. Metode ini sudah jarang dilakukan
karena prosedurnya kurang praktis, apalagi pada laboratorium dengan alat otomatis.
Sampel yang digunakan pada pemeriksaan ini diantaranya: Serum, Plasma
Manfaat pemeriksaan kreatinin
Pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang
digunakan untuk menilai fungsi ginjal, karena konsentrasi dalam plasma dan ekskresinya di urin
dalam 24 jam relatif konstan. Kadar kreatinin darah yang lebih besar dari normal
mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. Nilai kreatinin normal pada metode jaffe
reaction adalah laki-laki 0,8-1,2 mg/dl, sedangkan wanita 0,6-1,1 mg/dl (Sodeman, 1995).
Pemeriksaan kreatinin darah dengan kreatinin urin biasanya digunakan untuk menilai
kemampuan laju filtrasi glomerolus, yaitu dengan melakukan tes kreatinin klirens. Tinggi
rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya gangguan
fungsi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada gangguan fungsi ginjal yang berat yaitu jika kadar
kreatinin lebih dari 7 mg/dl serum. Hemodialisis sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk
menghambat progresifitas penyakit.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan sebagai berikut :
1. Konsentrasi Substrat Kecepatan reaksi enzimatik terus meningkat dengan bertambahnya
konsentrasi substrat dan sampai batas tertentu kecepatan reaksi tidak lagi meningkat. Hal ini
menunjukkan bahwa substrat sudah mencapai titik jenuh.
2. Suhu ingkubasi Makin tinggi suhu ingkubasi 37 0 C pada sampel maka semakin cepat suatu
reaksi kimia berlangsung, hingga suatu saat reaksi berhenti karena enzim mengalami denaturasi
(kerusakan) seperti : aktivitas enzim yang paling baik bekerja pada suhu 25o C – 37o C. Pada
suhu 37o C enzim mulai mengalami denaturasi.
3. pH Reaksi kimia enzimatik akan berlangsung baik pada pH tertentu yang disebut pH
optimum untuk masing-masing enzim berbeda-beda. Keadaan pH di atas atau di bawah pH
optimum akan menyebabkan kecepatan reaksi kimia enzimatik berkurang.
4. Larutan Buffer/Dapar Selain pH larutan, maka sifat daya ion jenis larutan buffer/dapar tempat
reaksi kimia berlangsung juga berpengaruh pada kecepatan reaksi.
5. Kofaktor Sebagai protein maka enzim dapat diaktifkan dengan adanya koenzim atau kofaktor.
Kofaktor berupa golongan protein organik seperti NAD (P) dan vitamin seperti piridoksal fosfat.
6. Efektor/Inhibitor Selain kofaktor yang berbentuk protein organik maka dikenal pula efektor
yang dapat mengaktifkan reaksi kimia enzimatis efektor ini adalah protein organik yang umumn
ya berupa ion zat esensial untuk tubuh (Ardian A, 2015).