LAPORAN PENDAHULUAN
SYOK KARDIOGENIK
DISUSUN OLEH:
NAMA NIM
Angga Saputra, S.Kep 4006200048
PROFESI NERS
PROGRAM SUTUDI SARJA KEPERAWATAN
STIKES DHARMA HUSADA BANDUNG
2021
A. Definisi
Syok kardiogenik adalah suatu kondisi dimana jantung secara tiba-
tiba tidak mampu memompa darah secara adekuat untuk memenuhi
kebutuhan tubuh. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis dan
memerlukan penanganan secara cepat. Penyebab paling umum syok
kardiogenik adalah kerusakan otot jantung akibat serangan jantung.
Namun, tidak semua pasien dengan serangan jantung akan mengalami syok
kardiogenik. Rata-rata, sekitar 7% pasien dengan serangan jantung akan
mengalami kondisi ini (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2011).
Syok kardiogenik adalah suatu sindroma yang diakibatkan oleh
gangguan sirkulasi, akibat utama dari aktivitas pompa jantung yang lemah.
Biasanya terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan efek yang sangat besar
terhadap organ-organ vital (Muttaqin 2010).
B. Klasifikasi syok kardiogenik
Menurut muttaqin (2010), syok dapat dibagi dalam 3 tahap
1. Tahap I : syok terkonpensasi (non progresif) ditandai dengan respon
kompensatorik, dapat menstabilkan sirkulasi, mencegah meunduan
lebih lanjut.
2. Tahap II : merupakan tahap progresif, ditandai dengan menifestasi
sistemis dari hipoperfusi dan kemunduran fungsi organ.
3. Tahap III : refrekter (irreversible) di tandai dengan kerusakan sel
yang hebat dan tidak dapat dihindari yang akhirnya menuju
kematian.
C. Etiologi dan Faktor Resiko Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik biasanya disebabkan oleh karena gangguan mendadak
fungsi jantung atau akibat penurunan fungsi kontraktilitas jantung kronik.
Secara praktis, syok kradiogenik timbul karena gangguan mekanik atai
miopatik. Etiologi syok kardiogenik adalah (Mayoclinic. 2014):
a. Infark miokard akut
Kebanyakan IMA terjadi akibat dari PJK. Plak menurunkan aliran darah
ke jantung sehingga akan menyebabkan sumbatan.
b. Miokarditis akut
c. Tamponade jantung akut
d. Endokarditis infektif
e. Trauma jantung
f. Ruptur septal ventrikular
g. Ruptur korda tendinea spontan
h. Kardiomiopati tingkat akhir
i. Stenosis valvular berat
j. Regurgitasi valvular akut
k. Miksoma atrium kiri
l. Komplikasi bedah jantung
D. Manifestasi Klinis
Timbulnya syok kardiogenik dalam hubungan dengan infark miokard akut
dapat dikategorikan dalam:
a. Timbul tiba-tiba dalam waktu 4-6 jam setelah infark akibat gangguan
miokard masif atau ruptur dinding ventrikel kiri.
b. Timbul secara perlahan dalam beberapa hari sebagai akibat dari infark
yang berulang.
c. Timbul tiba-tiba 2 hingga 10 hari setelah infark disertai timbulnya
nising mitral sistolik, ruptur septum atau disosiasi elektromekanik.
Episode ini daoat disertai atau tanpa nyeri dada, tapi sering disertai
dengan sesak napas akut.
Keluhan nyeri dada pada IMA biasanya di daerah substernal,
rasa seperti ditekan, diperas, seperti diikat, rasa dicekik. Rasa nyeri
menjalar ke leher, rahang, lengan, dan punggung, nyeri biasanya hebat,
ebrlangsung lebih dari ½ jam, tidak menghilang dengan obat-obatan
nitrat. Syok kardiogenik yang berasal dari penyakit jantung lainnya,
keluhannya sesuai dengan penyakit dasarnya (Muttaqin 2010).
Kekurangan oksigen pada otak, ginjal, kulit, dan bagian tubuh lainnya akan
menimbulkan tnda dan gejala syok kardiogenik. Bebarapa tanda gejala
dibawah ini biasanya timbul dua atau lebih ttanda gejala, yaitu:
a. Penurunan kesadaran sampai kehilangan kesadaran
b. Denyut jantung yang tiba-tiba cepat
c. Diaforesis
d. Kulit pucat
e. Nadi lemah
f. Napas cepat
g. Penurunan atau tidak ada produksi urin
h. Tangan dan kaki dingin
Menurut Mubin (2010), diagnosis syok kardiogenik adalah berdasarkan
1) Keluhan Pokok
• Oliguri (urin < 20 mL/jam).
• Mungkin ada hubungan dengan IMA (infark miokard akut).
• Nyeri substernal seperti IMA.
2) Tanda Penting
• Tensi turun < 80-90 mmHg
• Takipneu dan dalam
• Takikardi
• Nadi cepat
• Tanda-tanda bendungan paru: ronki basah di kedua basal paru
• Bunyi jantung sangat lemah, bunyi jantung III sering terdengar
• Sianosis
• Diaforesis (mandi keringat)
• Ekstremitas dingin
• Perubahan mental
3) Kriteria
Adanya disfungsi miokard disertai :
• Tekanan darah sistolis arteri < 80 mmHg.
• Produksi urin < 20 mL/jam.
• Tekanan vena sentral > 10 mmH2O
• Ada tanda-tanda: gelisah, keringat dingin, akral dingin, takikardi (Mubin,
2010).
E. Patofisiologi
Ayok merupakan gangguan sistem sirkulasi dimana sistem
kardiovaskuler tidak mampu mengalirkan darah keseluruh tubuh baik
disebapkan oleh sumbatan maupun penyampitan alitan darah yang
menyebabkan ketidak mampuan mengalirkan darah keseluruh tubuh
dalam jumlah yang memadai yang menyebapkan ketidak adekuatan
perfusi dan oksigenasi jaringan. ,( Mayoclinic. 2014)
Gejala utama daari syok yaitu :
1. Hipotensi : systole < 80 mmhg atau MAP < 60mmhg
atau pun menurun >30%
2. Oliguria : produksi urin <30 ml/j
3. Perfusi perifer yang beruk: CRT >3 detik
Tahap syok terbagi menjadi 3 yaitu: kompensasi, Dekompensasi
dan Irreversibel. Kompensasi yaitu tubuh masih mampu menjaga fungsi
normalnya. Tanda dan gejalanya kulit pucat, nadi meningkat ringan, TD
normal, gelisa dan CRT > 2 detik. Dekompensasi yaitu tubuh tidak
mampu lagi menja fungsi normalnya. Tubuh mengutamakan aliran
darah ke otak, jantung dan paru dengan mengurangi aliran darah ke
ekstermitas. Tanda dan gejalanya rasa haus hebat, hipotensi, akral
dingin, dan kesadaran mulai menurun. Irreversible yaitu kerusakan
organ yang telah terjadi menetap dan tidak dapat di perbaiki ,(
Mayoclinic. 2014)
Kerusakan jantung mengakibatkan penurunan curah jantung
yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah kealteri ke organ-
organ viral. Aliran darah ke arteri coroner berkurang sehingga asupan
o2 ke jantung menurun. Yang pada giliranya meningkatkan iskemia dan
penurunan lebih lanjut kemampuan jantung untuk memompa. Tanda
klinis syok kardiogenik adalah tekanan darah rendah, nadi cepat dan
lemah, hipoksia otak yang termenifestasi dengan adanya kofusi dan
agitasi, penurunan pengeluran urin dan kulit yang dingan dan lembab,(
Mayoclinic. 2014)
Disrimia sering terjadi akibat penurunan o2 ke jantung. Seperti
pada gagal jantung, penurunan kateter arteri purmonal untuk mengukur
tekanan ventrikel kiri dan curah jantung dilakukan. Peningkatan tekanan
akhir diastolic ventrikel kiri yang berkelanjutan (LVEDP = Left
ventrikel End Diastolik Pressure) menunjukan bahwa jantung gagal
untuk berfungsi sebagai pompa yang efektif (Mayoclinic. 2014).
F. Patway
kardiak
Ketidak adekuataan Volume darah Peningkatan kerja
pengisian pentrikel kiri meningkat janting
Kongesti Preload, volume, & HR, TD
paru Penurunan kontraktilitas
pulmonary
edema Kebutuhan
O2 otot
dipnea Cardiac jantung
output meningkat
menurun
GANGGUAN PERTUKARAN GAS
Perfusi jaringan menurun
PENURUNAN CURAH Metabolism tubuh Ventrikel kiri gagal bekerja sebegai
JANTUNG anaerob pemompa dan tifak mampu
menyediakan curah jantung
PERFUSI PERIFER TIDAK
Menghasilkan 2ATP +
EFEKTIF
Asam laktat merangsang ASAM LAKTAT
distributor nyeri
Kematian Kegagalan
Fase syok (kompensasi, sel
Nyeri dada organ
dekompensasi,
irreversible)
G. Penatalaksanaan Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik merupakan kondisi yang mengancam nyawa dan
memerluka penangan secara cepat. Kondisi ini akan terdiagnosa setelah pasien
masuk rumah sakit karena serangan jantung. Tujuan utama pertolongan
kegawatdaruratan adalah untuk meningkatkan aliran darah (oksigen dan nutrisi)
ke organ tubuh (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2011).
a. Emergency Life Support
Penatalaksanaan emergency life support dibutuhkan pada semua tipe
syok. Tindakan ini akan membantu mengalirkan darah kaya oksigen ke otak,
ginjal, dan organ lainnya. Mempertahankan aliran darah ke organ akan
mencegah kerusakan organ jangka panjang. Tindakan ini meliputi:
Berikan oksigen pada pasien.
No O2 device O2 flow (L/M) O2%
1. NASAL KANUL 1-6 24-50
2. SIMPELE MASK 5-10 40-60
3. REBREATHING MASK 8-12 35-60
4. NON REBREATHING MASK 10-15 80-95
Berikan bantuan napas jika diperlukan.
Berikan cairan melalui IV
b. Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan meliputi (National Heart, Lung, and Blood Institute,
2011):
Obat-obatan yang mencagah pembentukan blood clot
Obat-obatan untuk meningkatkan kontraksi otot jantung
berikan dopamin 2-15 µg/kg/m, norepinefrim 2-20 µg/kg/m atau dobutamin
2,5-10 µg/kg/m untuk meninggikan tekana perfusi srterial dan kontraktilitas
Obat-obatan untuk mengatasi syok kardiogenik bekerja untuk
meningkatkan aliran datrah ke jantungg dan meningkatkan daya pompa
jantung, antara lain (Mayoclinic, 2014):
Aspirin
Aspirin dapat menurunkan proses pembentukan blood clot dan membantu
menjaga aliran darah.
Agen trombolitik
Ageen trombolitik akan menghancurkan blood clot yang menyumbat aliran
darah ke jatung. Semakin cepat pasien mendapatkan agen trombolitik,
maka semakin besar pula kesempatan hidupnya. Trombolitik akan
diberikan jika emergency cardiac catheterization tidak tersedia.
Superaspirin
Obat ini akan mencegah permbentukan blood clot, misalnya clopidogrel
oral, platelet glycoprotein Iib/IIIa receptor blocker.
Antikoagulan
Oat-obatan ini misalnya heparin, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya
blood clot. Heparin dberikan secara IV atau injeksi yang diberikan selama
beberapa hari pertama setelah serangan jantung.
Agen inotropik
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Mayoclinic (2014), sebagai pegangan diagnosis syok kardiogenik adalah:
a. Hipotenssi
Tekanan darah sistolik < 90 mmHg atau 60 mmHg dibaah tekanan darah yang
biasa sebelumnya.
b. Gejala hipoperfusi jaringan:
1) Kulit (gejala vasokonstriksi perifer) pucat, basah, dingin, sianosis, vena-
vena pad punggung tangan dan kaki kolaps.
2) Ginjal oliguria, prosukdi urine < 30 ml/jam.
3) Otak gangguan fungsi mental, gelisah, berontak, apatis, bingung,
penurunan kesadaran hingga koma.
4) Seluruh tubuh asidosis metabolik.
c. Tanpa penyebab hipotensi lainnya (misalnya aritmia jantung primer atau
bradikardia berat, berkurangnya volume intravaskuler, nyeri hebat,
hipoksemia, asidosis, efek toksik obat-obatan seperti vasodilator antihipertensi
atau obat anti-arithmia).
d. Sindrom syok menetap setelah:
1) Aritmia diatasi
2) Rasa nyeri dihilangkan
3) Pemberian oksigen
4) Trial of c\volume expansion
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan (Bakta dan Suastika, 1999) (National
Heart, Lung, and Blood Institute, 2011):
Langkah pertama dalam mendiagnosa syok kardiogenik adalah dengan
mengidentifikasi apakah pasien tersebut benar-benar dalam keadaan syok. Pada
waktu tersbut, penatalaksanaan emergensi harus segera dilakukan. Kemduian
diidentifikasi penyebab syok tersebut. Jika penyebab terjadinya syok karena
jantung tidak dapat memompa darah secara adekuat, berarti diagnosisnya
merupakan syok kardiogenik. Prosedur untuk mendiagnosa yok dan
penyebabnya adalah:
a. Pemeriksaan tekanan darah
Pemeriksaan tekanan darah dilakukan untuk mengetahui apakah pasien
mengalami hiptensi. Ini merupakan tanda ayok yang paling umum.
b. Foto toraks
Umumnya normal atau kardiomegali ringan hingga sedang
Edema paru intersisial/alveolar
Mugnkin ditemukan efusi pleural
c. Elektrokardiogram
Umumnya menujukkan infark miokard akut dengan tau tanpa gelombang Q
Electrical alternans menunjukkan adanya efusi perikardial dengan
tamponade jantung
d. Elektrokardiografi
Ekokardiogram menggunakan gelombang usra untuk membentuk sebuha
gambaran jantung. Pemeriksaan ini memberikan informasi mengenai ukuran
dan bentuk jantung dan bagaimana kinerja jantung. Pemeriksaan ini penting
untuk menilai:
Hipokinesis berat ventrikel difus atau segmental (bila berasal dari infark
miokard)
Efusi perikardial
Katup mitral dan aorta
Ruptur septum
e. Kateterisasi jantung
Umumnya tidak perlu kecuali pad aksus tertentu untuk mengetahui anatomi
pembuluh darah koroner dan fungsi ventrikel kiri untuk persiapan bedah
pintas krooner atau angioplastu koroner transluminal perkutan.
Untuk menunjukkan defek mekanik pada septum ventrikel atau regurgitasi
mitrala kiabat disfungsi atau ruptur otot papilaris.
f. Cardiac Enzyme Test
Ketika sel jantung ada yang mengalami kematian, maka tubuh akan
mengelurakan enzim ke darah. Enzim tersebut disebut biomarker.
Pemeriksaan enzim ini dapet menunjukkan apakah jantung mengalami
kerusakan.
g. Tes darah
Pemeriksaan gas darah arteri pemeriksaan ini mengukur kadar oksigen,
karbon dioksida, dan pH dalam darah.
Pemeriksaan untuk mengukur fungsi beberapa organ, misalnya ginjal dan
hati. Jika organ-organ tersebut tidak bekerja dengan baik, maka mungkin
menunjukkan bahwa organ terebut tidak mendapatkan suplai nutrisi dan
oksigen yang cukup dan hak tersebut bisa menunjang tanda-tanda
terjadinya syok kardiogenik.
I. Asuhan Keperawatan
a. Data fokus pengkajian
1. Aktifitas
- Gejala: kelelahan
- Tanda: takikardia, dispenea pada saat istirahat atau aktifitas,
perubahan warna kulit dan kelembapan
2. Sirkulasi
- Gejala: riwayat AMI sebelumnya, penyakit arteri karoner,
GJK, masalah TD dan DM
- Tanda: td turun <90 mmhg atau dibawahnya, nadi cepat dan
lemah, gejala hipoperfusi jaringan kulit
3. Eliminasi
- Gejala: produksi urin <30ml / jam
- Tanda: oliguria
4. Pernafasan
- Gejala: dyspnea dengan atau tanpa kerja, dyspnea nocturnal,
batuk dengan atau tanpa sputum, penggunaan bantuan
pernafasan, riwayat merokok dan penyakit pernafasan
kronis.
- Tanda: takipnea dan nafas dangkal
b. Analisa data (SDKI DPP PPNI 2018)
No Data Etiologi Problem
1. Ds : Kebutuhan o2 penurunan curan
Do : jantung meningkat jantung
- Perubahan irama
jantung (bradikardi penurunan cardiac
/takikardi)(gambaran output
EKG aritmia atau
gangguan konduksi) pefusi jaringan
- Perubahan preload menurun
(edema, distensi vena
juguralis, CVP penurunan curan
meningkat/menurun, jantung
hepatomegaly
- Perubahan afterload (td
meningkat/menurun,
nadi perifer teraba
lemah, CRT>3 DETIK,
warna kulit
pucat/sianosis
- Perubahan kontraktilitas
( terdengar suara
jantung s3 dan atau s4,
ejection fraction
menurun
2. Ds : parastesia, nyeri Kardiak output perfusi perifer
ekstermitas tidakefektif
Do: Volume darah
- pengisian kapiler >3
detik Preload, stroke,
- nadi perifer menurun hate rate & TD
/tidak teraba
- akral dingin Kebutuhan o2
- warna kulit pucat jantung
- turgorkulit menurun
- edema Cardiac output
Tekanan darah
perfusi perifer
tidakefektif
3. Ds: - dyspnea, Ortopnea Kardiak output Gangguan
Do: pertukaran gas
- PCO2 Volume darah
meningkat/menurun
- Po2 menurun Preload, stroke,
- Takikardia hate rate & TD
- Ph arteri meningkat /
menurun SYTEMIC &
- Bunyi nafas tambahan pulmonary edema
- Sianosis
- Kesadaran menurun Dyspnea
- Gelisa
- Pola nafas abnormal Gangguan
- Warna kulit abnormal pertukaran gas
c. DIAGNOSA KEPERAWATAN/PRIORITAS MASALAH
(SDKI DPP PPNI 2018)
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan cardiac
output ditandai dengan perubahan irama jantung, perubahan preload,
perubahan afterload dam perubahan kontraktilitas
b. perfusi perifer tidakefektif berhubangan dengan gangguan aliran
darah sekunder akibat gangguan vaskuler ditandai dengan nyeri,
cardiac out put menurun, sianosis, edema (vena).
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membrane alveoli kapiler di tandai dengan AGD abnormal,
peningkatan frekuensi pernafasan, hipoksemia.
d. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI DPP PPNI 2018)
No DIAGNOSA Rencana Keperawatan
KEPERAWATAN Tujuan Intervensi
1. Penurunan curah Setelah dilakukan tindakan Observasi
jantung berhubungan keperawatan 3x24 jam di
dengan penurunan harapkan Penurunan curah 1. Memfiksasi gejala
jantung dapat teratasi penurunan curah jantung
cardiac output
Kh: 2. Monitor tekanan darah
1. Tekanan darah sistolik, 3. Monitor keluhan nyeri
diastole dan MAP dalam dada
batas normal (sistol 100- 4. Monitor nilai
130, diastole 60-90, MAP laboratorium
60-100)
2. HR dalam rentang normal Teurapeutik
( 60-90 x/m)
3. CRV dalam batasnoemal 1. Posisikan pasien semi
<2 detik fowler dengan kaki
4. AGD dalam rentang kebawah atau posisi
normal nyaman
2. Fasilitasi pasien dan
keluarga untuk
memodifikasi gaya hidup
sehat
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian anti
aritmia jika perlu
2. perfusi perifer Setelah dilakukan tindakan - Lihat pucat, sianosis,
tidakefektif b.d keperawatan 3x24 jam di belang, kulit dingin atau
gangguan aliran darah harapkan perfusi jaringan lembab. Catat kekuatan nadi
sekunder akibat perifer efektif. perifer.
gangguan vaskuler di
tandai dengan nyeri, KH : - Dorong latihan kaki aktif
atau pasif, hindari latihan
cardiac out put 1. Klien tidak isometric
menurun, sianosis, nyeri - Kolaborasi Pantau data
edema(vena) 2. Cardiac out put
normal laboratorium, contoh : GBA,
3. Tidak terdapat BUN,ureum, creatinin dan
sianosis elektrolit
4. Tidak ada - Kolaborasi Beri obat sesuai
edema(vena) indikasi : heparin atau
natrium warfarin(coumadin)
Intervensi pendukung
- Monitor status kardio
purmonal ( frekuensi
dan kekuatan nadi,
frekuensi nafas,td dan
MAP)
- Monitor status
oksigenasi ( oksimetri
nadi dan agd)
- Monitor status cairan
- Monitor tingkat
kesadaran dan pupil
3. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan intervensi Pemantauan respirasi
gas berhubungan selama ... X... maka status
dengan perubahan pernafasan meningkat, dengan 1. Moitor frekuensi, irama,
kedalaman dan upaya
membrane alveoli kriteria hasil :
nafas
kapiler
1. Dispnea menurun 2. Monitor pola nafas
2. Bunyi tambahan 3. Auskultasi bunyi nafas
menurun 4. Monitor saturasi oksigen
3. PCO2 membaik Manajemen asam basa
4. PO2 Membaik
5. Pola nafas 1. Monitor frekuensi dan
membaik kedalaman nafas,
6. Rasa nyaman monitor status neurologis
meningkat 2. Monitor irama dan
frekuensi jantung
3. Monitor perubahan PH,
PaO2,PaCO2, dan HCO3
4. Berikan oksigen sesuai
indikasi
Dukungan ventilasi
1. Berikan posisi semi
fowler
2. Ajarkan melakukan
teknik relaksasi nafas
dalam
- Kolaborasi tim medis
untuk pemberian terapi
oksigen, diuretik, dan
bronkodilator
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, A. 2009. Buku Ajar Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan
Hematologi. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, A. 2010. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.
Mayoclinic. 2014. Diseases and Conditions: Cardiogenic Shock Treatments and Drugs (Online)
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cardiogenic-
shock/basics/treatment/con-20034247 (Diakses 04 maret 2021).
National Heart, Lung, and Blood Institute. 2011. What is Cardiogenic Shock? (Online)
http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/shock (Diakses 04 maret 2021).
Panja, M., Panja, M., Madal, S., dan Kumar, D. 2010. Cardiogenic shock-management,
Medicine Update, 20 (3): 301-308.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia EDISI 1. Jakarta
selatan: DPP PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI 2018 Standar Intervensi Keperawatan Indonesia EDISI 1. Jakarta
selatan: DPP PPNI