100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan157 halaman

KTI

Karya tulis ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada dua klien dengan diagnosis gout arthritis yang mengalami nyeri akut. Penelitian menggunakan metode deskriptif dan menemukan bahwa kompres hangat menggunakan jahe dapat mengurangi skala nyeri pada kedua klien.

Diunggah oleh

Khofifah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan157 halaman

KTI

Karya tulis ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada dua klien dengan diagnosis gout arthritis yang mengalami nyeri akut. Penelitian menggunakan metode deskriptif dan menemukan bahwa kompres hangat menggunakan jahe dapat mengurangi skala nyeri pada kedua klien.

Diunggah oleh

Khofifah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GOUTH ATHRITIS DENGAN


NYERI AKUT DI DESA TANGGUNG KECAMATAN TUREN
KABUPATEN MALANG

Oleh :
FAUZA AKMAL FADHIL SYAH
18.100.12

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM DIPLOMA III


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
2020
KARYA TULIS ILMIAH

“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GOUTH ATHRITIS DENGAN


NYERI AKUT DI DESA TANGGUNG KECAMATAN TUREN
KABUPATEN MALANG”

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan


Gelar Ahli Madya (Amd. Kep)
Pada Program Studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

OLEH :
FAUZA AKMAL FADHIL SYAH
NIM 18.100.12

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM DIPLOMA III


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
KABUPATEN MALANG
2020
SURAT PERNYATAAN
ORISINALITAS KARYA TULIS ILMIAH

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Fauza Akmal Fadhil Syah


Tempat/tanggal lahir : Malang, 20 Agustus 2000
NIM : 18.100.12
Alamat : Jl.RA Kartini Desa Tanggung-Turen RT4/RW7
Kab. Malang

Menyatakan dengan bersumpah bahwa Karya Tulis Ilmiah ini adalah hasil
karya sendiri dan belum pernah dikumpulkan oleh orang lain untuk memperoleh
gelar dari berbagai jenjang pendidikan di perguruan tinggi manapun.Jika
dikemudian hari ternyata saya terbukti melakukan pelanggaran atas pernyataan
dan sumpah tersebut diatas, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dari
almamater

Malang, 01 November 2020

Fauza Akmal Fadhil Syah


18.100.12

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Gouth Athritis Dengan
Nyeri Akut Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang ” Telah
Disetujui.

Tanggal Persetujuan :

Oleh

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Tri Nurhudi Sasono, S.Kep,Ns.,M.Kep


Nia Agustiningsih, S.Kep,Ns.,M.Kep
NIK. 200811005
NIK. 201001021

LEMBAR PENGESAHAN

ii
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dengan Judul “Asuhan Keperawatan
Pada Klien Gouth Athritis Dengan Nyeri Akut Di Desa Tanggung Kecamatan
Turen Kabupaten Malang” telah Diujikan di Depan Penguji

Pada 08 Desember 2020


Tim Penguji

Nama Tanda Tangan

Ketua : Dr. Riza Fikriana S.Kep.Ns, M.Kep ……………...

Anggota :1. Tri Nurhudi Sasono, S. Kep. Ns, M.Kep ……………...

2. Nia Agustiningsih, S. Kep. Ns, M.Kep ……………...

Mengetahui,
Ketua Program Studi Keperawatan Program Diploma III

Galuh Kumalasari,S. Kep. Ns, M.Kep


NIK. 201501050

iii
CURRICULUM VITAE

A. Data Pribadi
1. Nama : Fauza Akmal Fadhil Syah
2. Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 20 Agustus 2000
3. Jenis Kelamin : Laki - laki
4. Agama : Islam
5. Status : Belum Menikah
6. Alamat :Tanggung-Turen , Jl.RA Kartini no
2 RT4/RW7
7. E-mail : akmalf457@gmail.com

B. Riwayat Pendidikan
 Tahun 2012 : Lulus SDS Taman Siswa Turen
 Tahun 2015 : Lulus SMPN 01 Turen
 Tahun 2018 : Lulus SMAN 01 Turen
 Tahun 2018 : Terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi
Diploma III Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Kepanjen

C. Pengalaman Organisasi
 Tahun 2018-2019 : UKM Padsu .

iv
MOTTO

“Teruslah semangat pantang menyerah untuk mencapai apa yang kamu cita-
citakan dan janganlah kau lupakan orang orang disekitarmu”

v
LEMBAR PERSEMBAHAN

Sembah sujud syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan terima kasih
sayang-Mu telah memberikan kekuatan, membekaliku dengan ilmu juga
memperkenalkanku dengan cinta. Atas karunia dan kemudahan yang Engkau
berikan akhirnya Karya Tulis Ilmiah yang sederhana ini bisa terselesaikan.
Sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW.
Kupersembahkan Karya Tulis Ilmiah yang sederhana ini kepada orang
yang sangat kukasihi dan kusayangi :
Ibu dan Ayah Tercinta
Sebagai tanda bakti, hormat dan tanda terima kasih yang tiada terhingga
kupersembahkan karya kecil ini kepada ibu ( Sunarti ) dan Ayah (Miseri) yang
telah memberikan kasih sayang, dukungan materil maupun doa. Terima kasih
yang tiada terhingga, yang tidak mungkin kubalas hanya dengan selembar kertas
yang bertuliskan kata persembahan. Untuk ibu dan ayah yang selalu memberikan
motivasi, mendoakan, menasehati dan selalu meridhoiku melakukan hal yang
baik, Terimakasih yang tiada batas untuk Ibu dan Ayah tercinta.
Orang Terdekatku
Sebagai tanda terima kasih saya persembahkan untuk orang yang telah
menemani saya sampai saat ini menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga
dukungan, doa dan semua hal yang terbaik yang Tuhan berikan menjadikanku
orang yang terbaik pula.
Teman - teman
Buat para sahabat yang telah memberikan motivasi, nasehat, dukungan dan
semangat untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini serta teman-teman kelasku
yang mulai dari semester 1-5 ini yang memberikanku banyak sekali pembelajaran
yang berharga serta kenangan yang tidak akan dapat aku ulang lagi dikehidupanku
mendatang. Terima kasih dan tetap menjadi keluarga D3 yang utuh seterusnya.

vi
ABSTRAK
Akmal, Fauza. 2021. Asuhan Keperawatan Gouth Athritis Dengan Nyeri Akut
Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Karya Tulis Ilmiah.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen. Pembimbing I : Tri Nurhudi
Sasono, S. Kep. Ns., M. Kep. Pembimbing II : Nia Agustiningsih, S. Kep. Ns.,
M. Kep

Gout artritis merupakan penyakit peradangan pada persendian dimana


dampak yang di timbulkan berupa nyeri. Hasil Riskesdas tahun 2018 Prevalensi
penyakit gout di Jawa Timur sebesar 17%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengurangi rasa sakit pada klien gouth artritis. Desain penelitian yang digunakan
adalah metode deskripsi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara,
observasi dan dokumentasi. Hasilnya ditulis dalam transkrip (catatan struktural).
Uji keabsahan data diperoleh dari klien, keluarga, dan catatan kesehatan lainnya.
Dalam penelitian ini diperlukan 2 klien, yaitu klien gouth athritis dengan nyeri
akut, waktu penelitian selama 3 hari kunjungan. Dari hasil penelitian ditemukan 2
klien dengan masalah keperawatan yang sama yaitu gouth arthritis yang
berhubungan dengan nyeri akut. Tindakan keperawatan dan tindakan
nonfarmakologis yang sama dilakukan, yaitu memberikan kompres hangat
menggunakan jahe untuk menurunkan nyeri. Dapat disimpulkan bahwa dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan gouth arthritis harus
dilakukan pemeriksaan kadar asam urat, kompres hangat menggunakan jahe untuk
mengurangi rasa nyeri pada sendi klien dan juga dorongan dari keluarga untuk
membantu pemulihan klien. Jadi kompres hangat menggunakan jahe memiliki
efek dalam mengurangi skala nyeri gouth artritis, sehingga kompres jahe dapat
menjadi alternatif sebagai pengobatan non-farmakologis.

Kata kunci: Gouth athritis, nyeri akut, kompres jahe

vii
ABSTRACT

Akmal, Fauza. 2021. Gouth Athritis Nursing Care with Acute Pain in
Tanggung Village, Turen District, Malang Regency. Scientific Papers. The
Health School Institution of Kepanjen. Supervisor I : Tri Nurhudi Sasono, S.
Kep. Ns., M. Kep. Supervisor II : Nia Agustiningsih, S. Kep. Ns., M. Kep

Arthritic gout is an inflammatory disease of the joints where the impact is


pain. Results of Riskesdas 2018 The prevalence of gout in East Java was 17%.
The purpose of this study was to reduce pain in clients with gouth arthritis. The
research design used is descriptive method. Data collection was carried out by
interview, observation and documentation. The results are written in transcripts
(structural notes). The data validity test was obtained from clients, family, and
other health records. In this study, two clients were needed, namely the client with
gouth arthritis with acute pain. The study time was 3 days. From the results of the
study found 2 clients with the same nursing problem, namely gouth arthritis
associated with acute pain. The same nursing and non-pharmacological actions are
carried out, namely applying warm compresses using ginger to reduce pain. It can
be concluded that in providing nursing care to clients with gouth arthritis, uric
acid levels should be checked, warm compresses using ginger to reduce pain in
the client's joints and also encouragement from the family to help the client's
recovery. So warm compresses using ginger have an effect in reducing the scale
of gouth arthritis pain, so ginger compresses can be an alternative as a non-
pharmacological treatment.
Keywords : Gouth arthritis, acute pain, ginger compress

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat, rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan
judul “Asuhan Keperawatan Klien Gouth Athritis Dengan Nyeri Akut Di Desa
Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang.”

Proposal Karya Tulis Ilmiah ini penulis susun sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan di Program Studi Keperawatan
Program Diploma III STIKes Kepanjen Malang. Dalam penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai
pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

1. Ibu Dr. Riza Fikriana, S.Kep,Ns., M.Kep Selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Kepanjen yang memberikan kesempatan kepada penulis
untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan di STIKes Kepanjen.
2. Ibu Galuh Kumalasari S.Kep, Ns.,M.Kep selaku Ketua Program Studi
Diploma III Keperawatan yang telah memberikan bantuan dan dukungan
kepada penulis untuk menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Bapak Tri Nurhudi Sasono S.Kep,Ns,M.Kep selaku pembimbing 1 dalam
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini yang sangat rutin dalam memberikan
arahan dan bimbingan serta memberikan banyak ilmu, kepada penulis
4. Ibu Nia Agustiningsih, S.Kep, Ns, M.Kep selaku pembimbing 2 dalam
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini yang sangat rutin dalam memberikan
banyak ilmu, bimbingan dan pengarahan kepada penulis.

ix
Penulis berusaha untuk menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini,
dengan sebaik-baiknya. Namun demikian menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu demi kesempurnaan, penulis mengharapkan
adanya kritis saran semua pihak untuk menyempurnakannya.

Turen, 20 Februari 2021

Fauza Akmal Fadhil Syah


NIM.1810012

x
DAFTAR ISI

COVER
SURAT PERNYATAAN........................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN..................................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN..................................................................................iii
CURRICULUM VITAE.......................................................................................iv
MOTTO..................................................................................................................v
LEMBAR PERSEMBAHAN...............................................................................vi
ABSTRAK............................................................................................................vii
ABSTRACT.........................................................................................................viii
KATA PENGANTAR...........................................................................................ix
DAFTAR ISI..........................................................................................................xi
DAFTAR TABEL...............................................................................................xiv
DAFTAR BAGAN................................................................................................xv
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Batasan Masalah........................................................................................4
1.3 Rumusan Masalah.....................................................................................4
1.4 Tujuan .......................................................................................................4
1.4.1 Tujuan Umum....................................................................................4
1.4.2 Tujuan Khusus...................................................................................4
1.5 Manfaat......................................................................................................5
1.5.1 Manfaat Teoritis.................................................................................5
1.5.2 Manfaat Praktis..................................................................................5
BAB 2TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................6
2.1 Konsep Gout Athritis Pada Lansia............................................................6
2.1.1 Definisi...............................................................................................6
2.1.2 Batasan Lansia...................................................................................6
2.1.3 Perubahan Yang Terjadi Pada lanjut Usia.........................................7
2.1.4 Ciri Ciri Lansia...................................................................................9
2.1.5 Permasalahan Pada Lansia...............................................................10
2.2 Konsep Gouth Athritis.............................................................................11
2.2.1 Pengertian.........................................................................................11
2.2.2 Etiologi.............................................................................................12
2.2.3 Klasifikasi Gouth Athritis................................................................13
2.2.4 Manifestasi Klinis............................................................................13
2.2.5 Patofisiologi.....................................................................................14
2.2.6 Pathway............................................................................................15
2.2.7 Pemeriksaan Diagnostik...................................................................15
2.2.8 Penatalaksanaan ..............................................................................16
2.2.9 Diet...................................................................................................16
2.2.10 Pengobatan.......................................................................................18
2.2.11 Pencegahan......................................................................................19
2.3 Konsep Nyeri Akut Pada Gouth Athritis.................................................19
2.3.1 Definisi Nyeri...................................................................................19

xi
2.3.2 Teori Nyeri.......................................................................................20
2.3.3 Fisiologi Nyeri.................................................................................21
2.3.4 Jenis Jenis Nyeri...............................................................................21
2.3.5 Mengkaji Presepsi Nyeri..................................................................23
2.3.6 Mengkaji Intensitas Nyeri................................................................23
2.3.7 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri.......................................25
2.3.8 Manajemen Nyeri.............................................................................27
2.4 Konsep Askep..........................................................................................30
2.4.1 Pengkajian........................................................................................30
2.4.2 Diagnosa Keperawatan....................................................................33
2.4.3 Intervensi Keperawatan....................................................................33
2.4.4 Implementasi....................................................................................36
2.4.5 Evaluasi............................................................................................37
2.4.6 Kerangka Konsep.............................................................................38
2.4.7 Penjelasan Kerangka Konsep...........................................................39
BAB 3 METODE PENELITIAN........................................................................40
3.1. Desain Penelitian.....................................................................................40
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................................40
3.3. Subyek Penelitian....................................................................................40
3.4. Pengumpulan Data..................................................................................41
3.4.1 Wawancara........................................................................................41
3.4.2 Observasi Langsung..........................................................................41
3.4.3 Dokumentasi......................................................................................41
3.4.4 Pemeriksaan Fisik ............................................................................41
3.5. Uji Keabsahan Data.................................................................................42
3.6. Analisa Data............................................................................................42
3.7. Etik Penelitian.........................................................................................43
3.8 Kerangka Kerja........................................................................................45
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................47
4.1 Hasil.........................................................................................................47
4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data...............................................47
4.1.2 Lokasi Pengambilan Data Klien......................................................47
4.1.3 Pengkajian........................................................................................49
4.1.4 Analisa Data.....................................................................................79
4.1.5 Diagnosa Keperawatan....................................................................80
4.1.6 Intervensi..........................................................................................80
4.1.7 Implementasi....................................................................................82
4.2 Pembahasan.............................................................................................89
4.2.1 Pengkajian........................................................................................90
4.2.2 Diagnosa...........................................................................................90
4.2.3 Intervensi..........................................................................................91
4.2.4 Implementasi....................................................................................92
4.2.5 Evaluasi............................................................................................93
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN................................................................95
5.1 Kesimpulan..............................................................................................95
5.2 Saran........................................................................................................96
5.2.1 Bagi Lahan Praktik...........................................................................96
5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan.................................................................96

xii
5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya.................................................................96
5.2.4 Bagi Klien Dan Keluarga.................................................................96
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................98

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pendekatan pengkajian nyeri PQRST

Tabel 2.2 Pendekatan pengkajian nyeri PQRST

Tabel. 2.3 Intervensi Keperawatan

Tabel 2.4 Implementasi pada Masalah Nyeri Akut

xiv
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Pathway Gout Artritis


Bagan 2.2 Kerangka Konsep Artritis Gout dengan Nyeri Akut
Bagan 3.1 Kerangka Kerja klien yang mengalami Gout Arthritis dengan masalah
nyeri Akut

xv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gouth Athritis adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin yang


ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut yang berulang.
Keanehanini berkaitan dengan penimbunan kristal urat monohidrat
monosodium dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan
sendi. Di Indonesia, arthritis gout menempati urutan ke-2 sesudah penyakit
rematik osteoarthritis (Tamher,2016). Berdasarkan data World Health
Organization (WHO), prevalensi gout arthritis di seluruh dunia sebanyak
34,2%. Gout arthritis banyak terjadi di negara maju contohnya Amerika.
Prevalensi gout arthritis di negara Amerika sebanyak 26,3% dari total
penduduk. Peningkatan kejadian gout arthritis tidak hanya terjadi di negara
maju saja. Akan tetapi, peningkatan juga terjadi di negara berkembang, salah
satunya di negara Indonesia (WHO, 2017).
Hasil Riskesdas tahun 2018 tercatat bahwa prevelensi penyakit sendi di
Indonesia berdasarkan wawancara diagnosis dokter (7.3%). Seiring dengan
bertambahnya umur, demikian juga yang diagnosis dokter prevalensi tertinggi
pada umur ≥ 75 tahun (18.9%). Prevalensi berdasarkan umur yang didiagnosis
dokter lebih tinggi pada perempuan (8.5%) dibanding laki-laki (6.1%)
(RISKESDAS, 2018). Prevalensi gout di Jawa Timur sebesar 17%. Hasil
Riskesdas jawa timur 2018, Proporsi tingkat ketergantungan lansia usia ≥60
tahun berdasarkan penyakit sendi tertinggi pada tingkat ketergantungan
mandiri (67,51%).Prevalensi terjadinya Gout Arthritis berdasarkan diagnosis
tenaga kesehatan di Jawa Timur sebesar (11,5%) sedangkan menurut kejadian
Gout Arthritis di Jawa Timur mencapai 26,9%. Sedangkan di wilayah kerja
Puskesmas Turen kab. Malang prevalensi Gout Arthritis pada tahun 2015
tercatat 189 kasus yang di bagi dalam kasus baru 115 kasus (63,1%), kasus
lama 67 kasus (36,8%), dan kunjungan kasus lama 7 kasus (3,7%).

1
2

Berdasarkan data yang diperoleh di Puskesmas Turen kab. Malang, angka


kejadian pasien lansia Artritis Gout tercatat pada bulan Agustus 2020
diperoleh sejumlah 9 pasien.

Kandungan normal asam urat dalam serum darah adalah 7,0 mg/dl pada
laki-laki dan 5,7 mg/dl pada perempuan. Kandungan asam urat di dalam urine
24 jam adalah 1000 mg/dl. Pada kondisi tertentu dapat menyebakan
penumpukan atau kelebihan asam urat dalam darah. Kondisi penumpukan
inilah yang dapat memicu rasa nyeri yang parah pada penderita gout arthritis
(Setiawan, 2017). Penanganan penderita gout arthritis difokuskan pada cara
mengontrol rasa sakit, khususnya mengontrol nyeri, hal tersebut merupakan
hal yang sering dialami oleh penderita dengan gout arthritis, mengurangi
kerusakan sendi, dan meningkatkan atau mempertahankan fungsi dan kualitas
hidup. Ada dua penanganan untuk gout arthritis yang pertama terapi
farmakologis dan yang kedua non farmakologis (Mellynda, 2017). Tindakan
non farmakologis selain diet purin, dapat juga diberikan terapi komplementer
yang menggunakan tanaman jahe. Jahe memiliki kandungan yang bermanfaat
mengurangi nyeri pada gout arthritis karena jahe memiliki sifat pedas, pahit
dan aromatic dari olerasin seperti zingeron, gingerol dan shogaol. Jahe dapat
diberikan cara kompres hangat maupun kompres parutan (Igga Dwi Rahayu,
2017).
Pemberian kompres jahe hangat merupakan mekanisme penghambat
reseptor nyeri pada serabut saraf besar dimana akan mengakibatkan terjadinya
perubahan mekanisme yaitu gerbang yang akhirnya dapat memodifidikasi dan
merubah sensasi nyeri yang datang sebelum sampai ke korteks serebri
menimbulkan persepsi nyeri dan reseptorotot sehingga nyeri dapat
berkurang.Analisa peneliti penurunan nyeri pada lansia setelah diberikan
kompres hangat memakai parutan jahe terjadi perubahan, karena kandungan
senyawa yang ada dalam jahe di antaranya minyak asiri, fenol, kalsium,
vitamin C, magnesium yang bersifat pedas dan hangat sehingga membantu
meredakan nyeri, dan perubahan tersebut tergantung pada respon lansia
masing-masing karena nyeri yang dirasakan individu bersifat pribadi yang
artinya antara individu satu dengan lainnya mengalami nyeri yang berbeda.
3

Nyeri akut merupakan pengalaman sensori dan emosional tidak


menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial,
atau yang digambarkan sebagai kerusakan (International Association For
Study of Pain), awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga
berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau di prediksi. Dan nyeri akut
sendiri di alami secara mendadak dan dalam kurun waktu yang singkat (sekitar
6 bulan) saja dan akan segera hilang.
Penanganan gout arhritis berpusat pada cara mengontrol nyeri, hal tersebut
merupakan hal yang kadang-kadang dialami oleh penderita gout arthritis,
menurunkan kerusakan sendi, dan meningkatkan atau menjaga fungsi kualitas
hidup. Penanganan meliputi terapi farmakologis dan non farmakologis,
penatalaksanaan nyeri terdiri atas intervensi yang bersifat independen atau
nonfarmakologis dan intervensi kolaboratif atau pendekatan secara individu
salah satu tindakan nonfarmakologis untuk penderita gout arthritis diantaranya
adalah kompres air hangat dengan jahe. Peran perawat dalam mengatasi
penderita gout arthritis yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan
kepada penderita seperti cara menangani asam urat yang kambuh, perawat
memberikan informasi atau pengetahuan kepada penderita tentang penyebab
dan penanganan penurunan skala nyeri gout arthritis (Mulfianda & Nidia,
2019).

Untuk membantu klien yang menderita gout arthritis tersebut maka sangat
diperlukan peran tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan
yang di butuhkan klien yang menderita Gout Arthritis. Namun, dengan adanya
kasus Covid-19 yang semakin marak ini masyarakat menjadi takut dan enggan
untuk berobat ke pelayanan kesehatan. Dengan adanya terapi kompres air
hangat disertai jahe ini masyarakat lebih mudah untuk mengontrol nyeri di
rumah. Dari permasalahan di atas, maka peneliti mengambil “Asuhan
Keperawatan pada Penderita Gout Arthritis dengan Nyeri Akut di Wilayah
Desa Tanggung Kec.Turen Kab.Malang.
4

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan Klien
Gout Artritis dengan Nyeri Akut di Wilayah Desa Tanggung Kecamatan
Turen Kab. Malang.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimana Asuhan Keperawatan Klien Gout Artritis dengan Nyeri Akut


di Wilayah Desa tanggung kecamatan Turen Kab. Malang?

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Melaksanakan Asuhan Keperawatan Klien Gout Artritis dengan Nyeri


Akut di Wilayah Desa Tanggung Kecamatan Turen Kab. Malang.

1.4.2 Tujuan Khusus

a.) Melakukan pengkajian keperawatan pada lansia yang mengalami Gout


Arthritis dengan nyeri akut di wilayah Desa Tanggung Kec.Turen Kab.
Malang.

b.) Merumuskan diagnosis keperawatan pada lansia yang mengalami Gout


Arthritis dengan nyeri akut di wilayah Desa Tanggung Kec.Turen Kab.
Malang.

c.) Melakukan rencana keperawatan pada lansia yang mengalami Gout


Arthritis dengan nyeri akut di wilayah Desa Tanggung Kec.Turen Kab.
Malang.

d.) Melakukan tindakan keperawatan pada lansia yang mengalami Gout


Arthritis dengan nyeri akut di wilayah Desa Tanggung Kec.Turen Kab.
Malang.

e.) Melakukan evaluasi keperawatan Pada Penderita Gout Arthritis dengan


Nyeri Akut di wilayah Desa Tanggung Kec.Turen Kab. Malang.
5

1.5 Manfaat

a) Manfaat Teoritis
Untuk pengembangan ilmu keperawatan berkaitan dengan asuhan
keperawatan gerontik pada penderita Gout Artritis dengan nyeri akut di
wilayah Desa Tanggung Kec.Turen Kab. Malang.

b) Manfaat Praktis
1.) Bagi perawat
Diharapkan studi kasus ini bisa menambah pengetahuan dan
ketrampilan terkait dengan asuhan keperawatanpada klien Gout Artritis
dengan nyeri akut.
2.) Bagi puskesmas
Diharapkan studi kasus ini bisa memberikan manfaat terkait dengan
asuhan keperawatan yang akan diberikan kepada klien ataupun
masyarakat.
3.) Bagi penelitian berikutnya
Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam proses belajar-
mengajar dan mengembangkan ilmu tentang asuhan keperawatan pada
klien Gout Artritis dengan nyeri akut.
4.) Bagi klien
Diharapkan studi kasus ini memberikan manfaat untuk pemberian
tindakan keperawatan pada klien maupun keluarga.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Gouth Arthritis Pada Lansia

2.1.1 Definisi
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Menua bukanlah suatu penyakit, akan tetapi merupakan proses yang
berangsur-angsur mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses
menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam
dan luar tubuh, seperti didalam Undang-Undang No 13 tahun 1998 yang
isinya menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan nasional yang
bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi
sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin
meningkat, sehingga jumlah lanjut usia semakin bertambah. Banyak
diantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia pada


hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai keagamaan dan budaya
bangsa. Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi di
dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang
hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan, anak, dewasa dan tua
(Nugroho, 2006).

2.1.2 Batasan Lansia


WHO (1999) menyatakan batasan lansia adalah sebagai berikut :

1) Usia lanjut (elderly) sekitar usia 60 sampai 74 tahun,


2) Usia tua (old) :75 sampai 90 tahun, dan

6
7

3) Usia sangat tua (very old) adalah usia lebih dari 90 tahun.

Depkes RI (2005) menyatakan bahwa batasan lansia dibagi menjadi tiga katagori,
yaitu:

1) Usia lanjut presenilis yaitu sekitar usia 45 sampai 59 tahun,


2) Usia lanjut merupakan usia 60 tahun ke atas,
3) Usia lanjut beresiko merupakan usia 70 tahun ke atas atau usia 60 tahun ke
atas dengan masalah kesehatan

2.1.3 Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia


Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial,
dan psikologis.

1.) .Perubahan Fisik


a. Sel : jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh
menurun, dan cairan intraseluler menurun.
b. Kardiovaskuler : katub jantung menebal dan kaku, kemampuan
memompa darah menurun serta meningkatnya retensi
pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.
c. Respiratory : otot pernafasan kekuatan menurun dan kaku,
kemampuan saltisitas paru menurun, kemampuan batuk
menurun serta menjadi penyempitan pada bronkus.
d. Persyarafan : saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya
menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi
khususnya yang berhubungan dengan stress.
e. Muskuloskeletal : cairan yang mudah menurun sehingga
mudah rapuh, bungkuk, persendian membesar, dan menjadi
kaku, kram, tremor, tendon mengkerut dan mengalami
sklerosis.
f. Gastrointestinal : esophagus melebar dan asam lambung
menurun, rasa lapan menurun, dan peristaltic menurun
sehingga daya absorbs juga ikut menurun sehingga
menyebabkan berkurangnya produksi hormone dan enzim
pencernaan.
8

g. Genitourinaria : ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal


menurun, penyaringan di gromelurus menurun dan fungsi
tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urine
ikut menurun.
h. Vesika urinaria : otot-otot melemah kapasitasnya menurun dan
retensi urine. Prostat hipertrofi pada 75% lansia.
i. Vagina : selaput lendir menurun dan sekresi menurun.
j. Pendengaran : membrane timpani atrofi sehingga terjadi
gangguan pendengaran, tulangtulang pendengaran mengalami
kerusakan.
k. Pengelihatan : respon terhadap sinar menurun, adaptasi
terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang
menurun, dan katarak.
l. Endokrin : produksi hormone menurun.
m. Kulit : keriput serta kulit kepala dan rambut menipis, rambut
dalam hidung dan telinga menebal, elastisitas menurun,
vaskularisasi menurun, rambut memutih, kelenjar keringat
menurun, kuku kaku dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh keras
seperti tanaduk.
n. Belajar dan memori : kemampuan belajar tetap ada tapi relative
menurun. Memori (daya ingat) menurun karena proses
encoding menurun.
o. Inteligensi : secara umum tidak dapat berubah

2.) Perubahan Sosial


a.Peran : post power syndrome, single woman, dan single parent.
b. Keluarga : kesendirian, kehampaan
c.Teman : ketika lansia meninggal muncul perasaan kapan akan
meninggal. Berada di rumah terus menerus akan cepat pikun.
d. Abuse : Kekerasan berbentik verbal (di bentak) dan nonverbal (di
cubit tidak di beri makan).
9

e. Masalah Hukum : berkaitan dengan perlindungan asset dan


kekayaan pribadi yang di kumpulkan sejak masih muda.
f. Pensiun : kalau menjadi PNS aka nada tabungan (dana pension).
Kalau tidak anak dan cucu yang akan menberikan uang.
g. Ekonomi : kesempatan untuk mendapatkan kerjaan yang cocok bagi
lansia dan income security.
h. Rekreasi : untuk ketenangan batin.
I.Keamanan : jatuh terpeleset
j. Transportasi : kebutuhan akan sistem transportasi yang cocok bagi
lansia.
k. Politik : kesempatan yang sama untuk terlibat dan memberikan
masukan pada sistem politik yang berlaku.
l. Pendidikan : berkaitan dengan pengatasan buta aksara dan kesempata
untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia.
m. Agama : melaksanakan ibadah.
n. Panti Jompo : merasa di buang atau di asingkan.

3. Perubahan Psikologis

Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory,


frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi
kematian, perubahan keinginan, depresi dan kecemasan.(Noor, 2016)

2.1.4 Ciri–Ciri Lansia


Ciri-ciri lansia adalah sebagai berikut :

a. Lansia merupakan periode kemunduran.

Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan


faktor psikologis. Motivasi mempunyai peran yang penting dalam
kemunduran pada lansia. Contohnya lansia yang memiliki motivasi yang
rendah dalam melakukan kegiatan, maka akan mempercepat proses
kemunduran fisik, akan tetapi ada juga lansia yang memiliki motivasi yang
tinggi, maka kemunduran fisik pada lansia akan lebih lama terjadi.
10

b. Lansia mempunyai status kelompok minoritas.

Kondisi ini karena akibat dari sikap sosial yang tidak


menyenangkan terhadap lansia dan diperkuat oleh pendapat yang kurang
baik, contohnya lansia yang lebih senang mempertahankan pendapatnya
maka sikap sosial di masyarakat menjadi negatif, akan tetapi ada juga
lansia yang mempunyai tenggang rasa kepada orang lain sehingga sikap
sosial masyarakat menjadi positif.

c. Menua membutuhkan perubahan peran.

Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami


kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya
dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari
lingkungan. Misalnya lansia menduduki jabatan sosial di masyarakat
sebagai Ketua RW, sebaiknya masyarakat tidak memberhentikan lansia
sebagai ketua RW karena usianya.

d. Penyesuaian yang buruk pada lansia.

Perlakuan yang buruk terhadap lansia menyebabkan mereka


cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat
memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Akibat dari perlakuan yang
buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk pula. Misalnya
lansia yang tinggal bersama keluarga sering tidak dilibatkan untuk
pengambilan keputusan karena dianggap pola pikirnya kuno, kondisi
inilah yang menyebabkan lansia menarik diri dari lingkungan, cepat
tersinggung dan bahkan mempunyai harga diri yang rendah.

2.1.5 Permasalahan Pada Lansia


Pendapat lain mengatakan bahwa lansia menjalani perubahan
dalam kehidupannya sehingga menimbulkan sejumlah masalah.
Permasalahan tersebut diantaranya merupakan :

a. Masalah fisik
11

Masalah yang dihadapi lansia merupakan fisik yang mulai


melemah, umumnya terjadi radang persendian ketika melakukan aktivitas
yang berat, pengelihatan yang mulai kabur,pendengaran yang mulai
berkurang serta daya tahan tubuh yang menurun, sehingga terkadang sakit.

b. Masalah kognitif ( intelektual )

Masalah yang dihadapi lansia terkait dengan perkembangan


kognitif, adalah melemahnya daya ingat kepada sesuatu hal (pikun), dan
sulit bersosialisasi dengan masyarakatsekitar.

c. Masalah emosional

Masalah yang dihadapi terkait dengan perkembangan emosional,


contohnya rasa ingin berkumpul dengan keluarga sangat kuat, sehingga
tingkat perhatian lansia kepada keluarga menjadi sangat besar. Selain itu,
lansia kerap marah apabila ada sesuatu yang kurang sesuai dengan
kehendak pribadi dan sering stres akibat masalah ekonomi yang kurang
terpenuhi.

d. Masalah spiritual

Masalah yang dihadapi terkait dengan perkembangan spiritual,


adalah kesulitan untuk menghafal kitab suci lantaran daya ingat yang
sudahberkurang, merasa resah ketika mengetahui anggota keluarganya
belum mengerjakan ibadah, dan merasa gelisah ketika menemui
permasalahan hidup yang cukup serius.

2.2 Konsep Gouth Athritis

2.2.1 Pengertian
Gout Athritis atau yang lebih dikenal dengan asam urat merupakan
suatu peradangan sendi sebagai manifestasi dari akumulasi endapan
Kristal monosodium erat, yang terkumpul di dalam sendi sebagai resiko
dari tingginya kadar asam urat darah (hiperurisemia). Peningkatan
12

hiperurisemia di dapatkan dari kondisi yang di dapat sebelum artritis gout


yaitu gout yang memiliki pengertian yaitu sekelompok kondisi inflamasi
kronis yang berkaitan dengan efek metabolism purin secara genetic dan
menyebabkan hiperurisemia. (Smeltzer,2013; Noor, 2016).
2.2.2 Etiologi
Gangguan metabolic dengan meningkatnya konsentrasi asam urat
ini di timbulkan dari penumpukan kristal di sendi oleh monosodium urat
(MSU, gout) dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout), dan
pada fase yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi.
Klasifikasi gout dibagi 2 yaitu:
1. Gout Primer : Dipengaruhi oleh aspek genetic. Terdapat produksi/skresi
asam urat yang berlebihan dan tidak di ketahui penyebabnya.
2. Gout Sekunder
a. Pembentukan asam urat yang berlebihan.
i. Kelainan-kelainan mieloproliteratif (polisitemia,
leukemia,myeloma retikularis).
ii. Sindroma Leeh-Nyhan merupakan suatu keanehan akibat
defisiensi hipoxantin guanine fosforibosil transferase yang
terjadi pada anak-anak dan pada sebagian orang dewasa.
iii. Gangguan penyimpanan glikogen.
iv. Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh maturasi sel
megloblastik menstimulasi pengeluaran asam urat.
b. Sekresi asam urat yang berkurang contohnya pada :
i. Kegagalan ginjal kronik
ii. Penggunaan obat slisilat, tiazid, beberapa jenis diuretic dan
sulfonamide
iii. Keadaan-keadaan alkoholik,asidosis laktik, hiperparatioridisme
dan pada miksedema (Nurarif & Kusuma, 2015).

Faktor predisposisi terjadinya gout meliputi, umur, jenis kelamin


lebih banyak terjadi pada pria, iklim, iklim, herediter dan keadaan-keadaan
yang menyebabkan timbulnya hiperurisemia. Penyakit ini di sangkut
pautkan dengan adanya abnormalitas kandungan asam urat dalam serum
13

darah dengan akumulasi endapan kristal monosodium urat, yang tergabung


di dalam sendi. Keterkaitan gout dengan hiperurisemia urat melalui ginjal,
atau sepertinya karena keduanya.(Noor,2016)

2.2.3 Klasifikasi Gouth Athritis

Klasifikasi artritis gout berdasarkan manifestasi:

a. Artritis Gout Tipikal

Gambaran klinik yang spesifik adalah dengan adanya sifat rasa nyeri di
deskripsikan sebagai excruciating pain dan mencapai puncak dalam 24
jam. Tanpa pengobatan pada serangan permulaan dapat sembuh dalam 3-4
hari. Serangan biasanya bersifat monortikuler dengan tanda inflamasi yang
jelas contohnya merah, bengkak, nyeri, terasa panas, dan sakit jika
digerakkan. Faktor pencetusnya adalah trauma sendi, alchohol, obat-
obatan dan tindakan pembedahan.

b. Artritis Gout Atipikal

Gambaran klinik yang spesifikcontohnya athritis berat, monoartikuler,


dan remisi sempurna tidak di temukan. Tofi yang biasanya timbul
beberapa tahun setelah serangan pertama ternyata di temukan bersama
dengan serangan pertama ternyata di temukan bersama dengan serangan
akut. Jenis antipikal ini jarang di temukan. Dalam menghadapi kasus gout
yang atipikal, diagnosis harus dilakukan secara cermat. Untuk hal ini
diagnosis dapat dipastikan dengan melakukan punksi cairan sendi dan
selanjutnya secara mikrokopis dilihat kristal urat. (Noor,2016)

2.2.4 Manifestasi klinis

Terdapat empat stadium perjalanan klinis gout yang tidak diobati:


14

1. Stadium pertama adalah hiperurisemia asimtomik, pada stadium ini asam


urat serum laki-laki meningkat dan tanpa gejala selain dari peningkatan
asam urat serum.
2. Stadium kedua artritis gout akut terjadi awitan seketika mengalami
pembengkakan dan nyeri yang luar biasa, kebanyakan pada sendi ibu jari
kaki dan metatarsophalangeal.
3. Stadium ketiga sesudah serangan gout akut adalah tahap intrekritis. Tidak
terjadi gejala-gejala pada tahap ini. Yang dapat berlangsung dari beberapa
bulan sampai tahun. Mayoritas orang mengalami serangan gout berulang
dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak di obati.
4. Stadium keempat adalah tahap gout kronik, dengan tumpukan asam urat
yang terus meluas beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai.
Peradangan kronik akibat kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri,
sakit, dan kaku, juga pembesaran dan benjolan sendi bengkok (Nurarif &
Kusuma, 2015).

2.2.5 Patofisiologi
Dalam keadaan normal, kandungan asam urat (gout) di dalam darah pada
pria dewasa kurang dari 7 mg/dl dan pada wanita kurang dari 6 mg/dl. Apabila
konsentrasi asam urat dalam serum lebih besar dari 7,0 mg/dl dapat
mengakibatkan penumpukan kristal monosodium urat. Serangan gout tampaknya
berhubungan dengan peningkatan atau penurunan secara tiba-tiba kandungan
asam urat dalam serum. Jika kristal asam urat mengendap dalam sendi, akan
terjadi respons inflamasi dan diteruskan dengan terjadinya serangan gout. Dengan
adanya serangan yang berulang-ulang, penumpukan kristal monosodium urat yang
dinamakan thopi akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaski,
tangan dan telinga. Dampak penumpukan asam urat yang terjadi secara sekunder
dapat menimbulkan Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan disertai penyakit ginjal
kronis. Gambaran kristal urat dalam cairan sinovial sendi yang asimtomatik,
menunjukkan bahwa faktor-faktor non-kristal 26 mungkin berhubungan dengan
reaksi inflasi. Kristal monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan
immunoglobulin yang terutama berupa 1gG. Dimana igG akan meningkatkan
15

fagositosis kristal dan dengan demikian dapat menunjukan aktifitas imunologik.


(Manampiring, 2011).

2.2.6 Pathway

Primer: Sekunder:
Kelainan metabolisme a. Diit
Purin bawaan b. Obat-obatan
c. Proses penyakit

Purin tinggi

Metabolisme di hati (teroksidasi)

Asam urat tinggi

Gangguan filtrasi di ginjal

Darah

Hiperuricemia

Penumpukan di sendi

Pembentukan kristal

Inflamasi

Nyeri
16

Bagan 2.1 Pathway Gout Artritis


Sumber : Arina Malya (2003)

2.2.7 Pemeriksaan Diagnostik

1.Laboratorium

a. Pemeriksaan cairan sinova didapatkan adanya kristal monosodium urat


intraselular.
b. Pemeriksaan serum asam urat meningkat >7 mg/dl.
c. Urinalisis 24 jam didapatkan ekskresi >800 mg asam urat.
d. Urinalisis untuk mendeteksi risiko batu asam urat.
e. Pemeriksaan kimia darah untuk mendeteksi fungsi ginjal, hati
hipertrigliseridemia, tingginya LDL, dan adanya diabetes mellitus.
f. Leukositosis didapatkan pada fase akut

2.Radiologi

a. Radiografi untuk mendeteksi adanya klasifikasi sendi.


b. Radiografi didapatkan adanya erosi pada permukaan sendi dan kapsul
sendi.

2.2.8 Penatalaksanaan

Sasaran terapi gout arthritis adalahuntuk mempertahankan


kandungan asam urat dalam serum di bawah 6mg/dL dan nyeri yang di
sebabkan oleh penumpukan asam urat. Tujuan terapi yang di capai adalah
untuk mengurangi peradangan dan nyeri sendi yang di timbulkan oleh
penumpukan kristal monosodium urat monohidrat. Kristal tersebut
ditemukan pada jaringan kartilago, subkutan dan jaringan particular,
tendon, tulang, ginjal, serta beberapa tempat lainya.

Selain itu, terapi gout juga bertujuan untuk mencegah


tingkatkeparahan penyakit lebih lanjut karena penumpukan kristal dalam
medulla ginjal akan menyebabkan Cbronic urate Neobropathy
meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal. Terapi obat dilakukan dengan
17

mengobati nyeri yang timbul terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan


dengan pengontrolan dan penurunan kadar asam urat dalam semua darah.

2.2.9 Diet

Penyebab kelebihan asam urat / hiperurikemia yaitu diettinggi


purin, obesitus, konsumsi alcohol, dan penggunaa beberapa obat seperti
tiazid dan diuretic kuat akan menghambat ekskresi asam urat di ginjal,
serta aspirin dosis rendah <3 g memperburuk hiperurisemia.Diet bagi para
penderita gangguan asam urat mempunyai syarat – syarat sebagai berikut.

1. Pembatasan purin. Apabila telah terjadi pembengkakan sendi, maka


penderita gangguan asam urat harus melakukan diet bebas purin. Tindakan
yang harus dilakukan adalah membatasi asupan purin menjadi 100-150 mg
purin per hari (diet normal biasanya mengandung 600-1.000 mg purin per
hari).
2. Kalori sesuai dengan kebutuhan jumlah asupan kalori harus benar
disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat
badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat
badanya harus diturunkan dengan tetap mempertahankan jumlah konsumsi
kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar
asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi pengeluaran
asam urat melalui pengeluaran asam urat melalui urine.
3. Tinggi karbohidrat. Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan
ubi sangat baik di konsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena
akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urine. Konsumsi
karbohidrat kompleks ini sebaiknya tidak kurang dari 100 gr per hari.
Karbohidrat sejenis fruktsa seperti gula, permen, arum manis, gulali dan
sirup sebaiknya dihindari karena fruktuso akan meningkatkan kadar asam
urat dalam darah.
4. Rendah protein. Protein terutama yang berasal dari hewan dapat
meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang
mempunyai kandungan protein hewani dalam jumlah yang tinggi,
contohnya hati, ginjal otak, paru dan limpa. Asupan protein yang di
18

anjurkan bagi pnderita gangguan asam urat adalah sebesar 50-70 g/hari
atau 0,8-1 g/kg berat badan/hari. Sumber protein yang di sarankan yaitu
protein nabati yang berasal dari susu, keju, dan telur.
5. Rendah lemak. Lemak dapat menhambat ekskresi asam urat melalui urine.
Makanan di goreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya di
jauhi. Konsumsi lemak sebaiknya sekitar 15% dari total kalori.
6. Tinggi cairan. Mengkonsumsi cairan yang tinggi dapat membantu
membuang asam urat melalui urine. Oleh sebab itu, disarankan untuk
menghabiskan minuman minimal sebanyak 2,5 L atau sebanyak 10 gelas
per hari. Air minum ini bisa berupa air putih masak, teh, atau kopi selain
dari minuman, cairan bisa di peroleh dari buah-buahan yang disarankan
adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air.
Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh di
konsumsi karenabuah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-
buahan yang sebaiknya di hindari adalah alpukat dan durian karena
keduanya memiliki kandungan lemak yang tinggi.
7. Tanpa alcohol. Berdasarkan penelitian di ketahui bahwa kandungan asam
urat mereka yang mengkonsumsi alcohol lebih tinggi dibandingkan
mereka yang tidak mengkonsumsi alcohol. Hal ini adalah karena alcohol
akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat
pengeluaran asam urat dari tubuh
.
2.2.10 Pengobatan
1. Nonsteroid Anti-inflamatory Drugs (NSAIDs). Terdapat beberapa NSAID,
namun tidak semuanya mempunyai efektivitas keamanan yang baik untuk
terapi gout akut. Beberapa NSAID yang di klasifikasikan untuk
melampaui gout artritis akut dengan kejadian efek samping yang jarang
terjadi yaitu: naproxen dan natrium diklofenak.
2. Colchicine, colchocine tidak direkomendasikan untuk terapi jangka
panjang gout akut. Colchicine hanya di gunakan selama saat kritis untuk
mencegah serangan gout.
19

3. Corticosteroid Kortikosteroid sering digunakan untuk menghilangkan


gejala gout akut dan akan mengontrol serangan. Kortikostiroid ini sangat
berguna bagi pasien yang di kontraindikasikan terhadap golongan NSAID.
Jika goutnya monartikular, pemberian intraarticular yang paling efektif.
4. Proenecid. Digunakan terutama pada kondisi insufisiensi ginjal (GFR<50
ml/min).
5. Allopurinol. Sebagai penghambat xantin oksidase, allopurinol sebagai
meredakan plasma urat dan konsentrasi asam urat di saluran urine, serta
memfasilitasi mobilitas benjolan. Obat ini sangat bermanfaat bagi pasien
dengan gagal ginjal atau batu urat yang tidak dapat di beri urosicuric.
Rata-rata obat ini di berikan sekali sehari karena metabolit aktif
allopurinol waktu paruhnya panjang. Dosis awalnya 100 mg di berikan
selama satu minggu kemudian dinaikan jika kadar asam urat masih tinggi.
Kadar asam urat serum akan di capai dengan dosi harian 200-300 mg.
seringkali kombinasi allopurinol dengan uricosiuric akan sangat
membantu. Allopurinol tidak dianjurkan sebagai pengobatan hiperurisemia
asimtomatik dan gout yang aktif.
6. Uricosuric. Obat memblok reabsorpsi tubular dimana urat disaring
sehingga menurunkan jumlah urat metabolic, mencegah pembentukan
benjolan baru, dan memperkecil ukuran benjolan yang ada. (Noor,2016)

2.2.11 Pencegahan
a. Kurangi konsumsi makanan yang bebas atau sedikit purin atau protein
b. Penderita yang kelebihan berat badan harus menurunkan berat badanya
dengan tetap memperhatikan jumlah asupan kalori.
c. Mengkonsumsi tinggi karbohidrat dan menjauhi karbohidrat sederhana.
d. Kurangi makan makanan yang sedikit lemak.
e. Mengkonsumsi lebih banyak cairan.
f. Hindari dan kurangi meminum alcohol.

2.3 Konsep Nyeri Akut Pada Gouth Athritis

2.3.1 Definisi Nyeri


20

Nyeri adalahsituasi berupa perasaan yang tidak menyenangkan,


bersifat sangat subjektif. Perasaan nyeri pada beberapa orang berbeda
dalam hal skala ataupun tingkatannya, dan hanya orang tersebut yang
dapat menjelaskanrasa nyeri yang dialaminya (Tetty, 2015). Menurut
Smeltzer & Bare (2002), definisi keperawatan tentang nyeri yaitu apapun
yang menyakitkan tubuh yang diungkapkan individu yang mengalaminya,
yang ada kapanpun individu mengatakkannya. Nyeri kerap sekali
dijelaskan dan istilah destruktif jaringan seperti ditusuk-tusuk, panas
terbakar, melilit, seperti emosi, pada perasaan takut, mual dan mabuk.
Terlebih, setiap perasaan nyeri dengan kekuatan sedang sampai kuat
disertai bersamaan rasa cemas dan keinginan kuat untuk melepaskan diri
dari atau menghilangkan perasaan itu.

2.3.2 Teori Nyeri


1. Teori Intensitas (The Intensity Theory)

Nyeri merupakan hasil rangsangan berlebihan pada receptor. Setiap rangsangan


sensori mempunyai potensi untuk menimbulkan nyeri jika intensitasnya cukup
kuat (Saifullah, 2015).

2. Teori Kontrol Pintu (The Gate Control Theory)

Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) menjelaskan bahwa impuls nyeri
bisa diatur dan dihambat oleh mekanisme pertahanan disepanjang struktur saraf
pusat, dimana impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls
dihambat saat sebuah pertahanan ditutup (Andarmoyo, 2013)

3. Teori Pola (Pattern theory)

Teori pola dipublikasikan oleh Goldscheider (1989), teori ini mengatakan bahwa
nyeri di sebabkan oleh berbagai reseptor sensori yang di rangsang oleh pola
tertentu, dimana nyeri ini merupakan produk dari stimulasi reseptor yang
menghasilkan pola dari impuls saraf (Saifullah, 2015).

Teori pola yaitu rangsangan nyeri yang masuk melewati akar ganglion dorsal
medulla spinalis dan rangsangan aktifitas sel T. Hal ini mengakibatkan suatu
21

respon yang merangsang bagian yang lebih tinggi yaitu korteks serebri dan
menimbulkan persepsi, lalu otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri.
Pemahaman dipengaruhi oleh modalitas respon dari reaksi sel T (Margono, 2014).

4. Endogenous Opiat Theory

Teori ini dikembangkan oleh Avron Goldstein, ia menyuarakan bahwa terdapat


subtansi seperti opiet yang terjadi selama alami didalam tubuh, subtansi ini
disebut endorphine yang memengaruhi transmisi impuls yang diinterpretasikan
seperti nyeri. Endorphine memengaruhi transmisi impuls yang diinterpretasikan
sebagai nyeri. Endorphine kemungkinan bertindak sebagai neurotransmitter
maupun neuromodulator yang menghambat transmisi dari pesan nyeri (Hidayat,
2014).

2.3.3 Fisiologi Nyeri

Terjadinya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya


rangsangan. Reseptor nyeri tersebar pada kulit dan mukosa dimana
reseptor nyeri memberikan respon jika adanya stimulasi atau rangsangan.
Stimulasi tersebut bisa berbentuk zat kimia contohnya histamine,
bradikinin, prostaglandin dan berbagai macam asam yang terbebas apabila
ada kerusakan di jaringan karena kurangnya oksigen. Stimulasi yang lain
dapat berbentuk termal, listrik, atau mekanis (Smeltzer & Bare, 2002).
Nyeri bisa dirasakan jika reseptor nyeri itu menginduksi serabut saraf
perifer aferen merupakan serabut A-delta dan serabut C. Serabut A delta
mempunyai myelin, mengimpulskan nyeri dengan cepat, sensasi yang
tajam, jelas melokalisasi sumber nyeri dan mendeteksi intensitas nyeri.
Serabut C tidak memiliki myelin, berukuran sangat kecil, menyampaikan
impuls yang terlokalisasi buruk, visceral dan terus-menerus (Potter &
Perry, 2005). Saat serabut C dan A-delta memberikan rangsang dari
serabut saraf perifer maka akan melepaskan mediator biokimia yang aktif
terhadap respon nyeri, seperti : kalium dan prostaglandin yang keluar jika
ada jaringan yang rusak. Transmisi stimulus nyeri berlanjut di sepanjang
22

serabut saraf aferen sampai berhenti di bagian kornu dorsalis medulla


spinalis. Didalam kornu dorsalis, neurotransmitter seperti subtansi P
dilepaskan sehingga mengakibatkan suatu transmisi sinapsis dari saraf 16
perifer ke saraf traktus spinolatamus. Selanjutnya informasi di sampaikan
dengan cepat ke pusat thalamus (Potter & Perry, 2005).

2.3.4 Jenis-Jenis Nyeri


1. Nyeri Akut

Nyeri Akut adalah nyeri yang berlangsung dari beberapa detik hingga
kurang dari 6 bulan umumnya dengan awitan tiba-tiba dan umumnya
berkaitan dengan cidera fisik. Nyeri akut mengisyaratkan bahwa kerusakan
atau cidera telah terjadi. Jika kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada
penyakit sistemik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadinya
penyembuhan. Nyeri ini umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan
biasanya kurang dari satu bulan. Salah satu nyeri akut yang terjadi adalah
nyeri pasca pembedahan.

2. Nyeri Kronik

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermitern yang menetap


sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung di luar waktu
penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak bisa dikaitakan dengan
penyebab ataupun cidera fisik. Nyeri kronis bisa tidak memiliki awitan
yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit untuk diobati karena
umumnya nyeri ini sering tidak memberikan respon terhadap pengobatan
yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronik ini juga sering di
definisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih,
meskipun enam bulan 18 merupakan suatu periode yang dapat berubah
untuk membedakan nyeri akut dan nyeri kronis (Potter & Perry, 2005).
Berdasarkan lokasinya Sulistyo (2013) dibedakan nyeri menjadi:

1. Nyeri Perifer
23

Nyeri ini ada tiga macam, yaitu :

a. Nyeri superfisial, adalah nyeri yang muncul akibat rangsangan pada kulit dan
mukosa

b. Nyeri viseral, adalah rasa nyeri yang muncul akibat stimulasi dari reseptor nyeri
di rongga abdomen, cranium dan toraks.

c. Nyeri alih, adalah nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh dari
penyebab nyeri.

2.Nyeri Sentral : Nyeri yang muncul karena stimulasi pada medulla spinalis,
batang otak dan talamus.

3. Nyeri Psikogenik : Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata
lain nyeri ini timbul karena pikiran penderita itu sendiri.

2.3.5 Mengkaji Presepsi Nyeri

. Cara pendekatan yang digunakan dalam mengkaji nyeri adalah


dengan PQRST.

P (provoking atau Yaitu faktor yang


pemacu) memperparah atau
meringankan nyeri
Q (quality atau Yaitu kualitas nyeri
kualitas) (misalnya : tumpul,
tajam, merobek)
R (region atau radiasi, Lokasi dimana keluhan
lokasi) nyeri tersebut dirasakan
dan penyebaran nyeri
S (severity atau Yaitu intensitasnya
keparahan)
T (time atau waktu) Yaitu serangan,
lamanya, frekuensi

Tabel 2.1 Pendekatan pengkajian nyeri PQRST (Mubarak, dkk, 2015)


24

2.3.6 Mengkaji Intensitas Nyeri


A. Subyektif (self report)
1. Skala Penilaian Numerik (NRS)

Skala penilaian numerik atau numeric rating scale (NRS) lebih


digunakan untuk pengganti alat pendeskripsi kata. Klien menilai nyeri
dengan memakai skala 0-10 (Meliala & Suryamiharja, 2007).

Gambar 2.2 Numerical Rating Scale (Potter & Perry, 2006)

B. Obyektif

Pada pasien yang tidak dapat mengkomunikasikan rasa nyerinya, yang


perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku pasien. Pendekatan dengan
PQRST merupakan instrumen yang terbukti dapat digunakan untuk
menilai adanya perubahan perilaku tersebut.

a) Cara pendekatan yang digunakan dalam mengkaji nyeri adalah dengan


PQRST.

P (provoking atau Yaitu faktor yang


pemacu) memperparah atau
meringankan nyeri
Q (quality atau Yaitu kualitas nyeri
kualitas) (misalnya : tumpul,
tajam, merobek)
R (region atau radiasi, Lokasi dimana keluhan
lokasi) nyeri tersebut dirasakan
dan penyebaran nyeri
25

S (severity atau Yaitu intensitasnya


keparahan)
T (time atau waktu) Yaitu serangan,
lamanya, frekuensi

Tabel 2.2 Pendekatan pengkajian nyeri PQRST (Mubarak, dkk, 2015)

2.3.7 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nyeri


1. Usia

Usia mempengaruhi seseorang bereaksi terhadap nyeri. Misalnya anak-


anak kecil yang belum bisa mengucapkan kata-kata mengalami kesusahan
dalam mengungkapkan secara verbal dan mengekspresikan rasa nyerinya,
sementara lansia mungkin tidak akan melaporkan nyerinya dengan alasan
nyeri merupakan sesuatu yang harus mereka terima (Potter & Perry, 2006).

2. Jenis kelamin

Secara umum jenis kelamin pria dan wanita tidak berbeda secara
bermakna dalam merespon nyeri. Beberapa kebudayaan mempengaruhi
jenis kelamin contohnya ada yang menganggap bahwa seorang anak laki-
laki perlu berani dan tidak boleh menangis sedangkan seorang anak
perempuan boleh menangis dalam situasi yang sama.

3. Kebudayaan

Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengruhi individu mengatasi


nyeri. Individu mempelajari apa yang ajarkan dan apa yang diterima bagi
kebudayaan mereka.

4. Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri bisa


mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan
dengan nyeri yang meningkat. Sedangkan upaya pengalihan (distraksi)
dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Konsep ini adalah salah
26

satu konsep yang perawat terapkan di berbagai terapi untuk


menghilangkan nyeri, seperti relaksasi, teknik imajinasi terbimbing
(guided imaginary) dan mesase, dengan memfokuskan perhatian dan
konsentrasi klien pada stimulus yang lain, contohnya pengalihan pada
distraksi.

5. Ansietas

Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri. Akan tetapi nyeri


juga dapat menimbulkan ansietas. Stimulus nyeri mengaktifkan bagian
system limbik yang diyakini mengendalikan emosi seseorang khususnya
ansietas (Wijarnoko, 2012). 6. Kelemahan

6. Kelemahan atau keletihan

meningkatkan persepsi nyeri. Rasa kelelahan mengakibatkan sensasi


nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping (Fatmawati,
2011).

7. Pengalaman sebelumnya

Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri. Seandainya individu


sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah
sembuh maka ansietas atau rasa takut dapat muncul. Sebaliknya jika
individu mengalami jenis nyeri yang sama berulang-ulang tetapi nyeri
tersebut dengan berhasil dihilangkan akan lebih mudah individu tersebut
menginterpretasikan sensasi nyeri.

8. Gaya koping

Gaya koping mempengaruhi individu dalam mengatasi nyeri. Sumber


koping individu diantaranya komunikasi dengan keluarga, maupun
melakukan latihan atau menyanyi (Ekowati, 2012).

9. Dukungan keluarga dan social

Kehadiran dan sikap orang-orang terdekat sangat berpengaruh untuk


dapat memberikan dukungan, bantuan, perlindungan, dan meminimalkan
27

ketakutan karena nyeri yang dirasakan, misalnya dukungan keluarga


(suami) dapat menurunkan nyeri kala I, hal ini dikarenakan ibu merasa
tidak sendiri, diperhatikan dan mempunyai semangat yang tinggi
(Widjanarko, 2012).

10. Makna nyeri

Individu akan berbeda-beda dalam mempersepsikan nyeri apabila nyeri


tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan hukuman dan
tantangan. Misalnya seorang wanita yang bersalin akan mempersepsikan
nyeri yang berbeda dengan wanita yang mengalami nyeri cidera kepala
karena dipukul pasangannya. Derajat dan kualitas nyeri yang
dipersepsikan klien berhubungan dengan makna nyeri (Potter & Perry,
2006).

2.3.8 Manajemen Nyeri


1. Teknik Non Farmakologi

Tindakan Non farmakologi mandiri menurut Bangun & Nur’aeni


(2013), yaitu tindakan pereda nyeri yang bisa dilakukan perawat secara
mandiri tanpa tergantung pada petugas medis lain yang khusunya sedang
dalam kondisi pandemi seperti ini, dimana dalam pelaksanaanya perawat
dengan mempertimbangan dan keputusannya sendiri. Banyak klien dan
anggota tim kesehatan cenderung untuk memandang obat sebagai satu-
satunya metode untuk menghilangkan nyeri. Namun banyak aktifitas
keperawatan nonfarmakologi yang dapat membantu menghilangkan nyeri,
metode pereda nyeri nonfarmakologi memiliki resiko yang sangat ringan.
Meskipun tidakan tersebut bukan merupakan pengganti obat-obatan
(Smeltzer & Bare, 2002).

Menurut Junaidi (2008), Kompres hangatr jahe dilakukan pada


penderita asam urat karena dapat mengurangi nyeri, menambah kelenturan
sendi, mengurangi penekanan atau kompresi dan nyeri pada sendi,
melemaskan otot dan melenturkan jaringan ikat.

2. Konsep Kompres Air Hangat Jahe


28

a. Definisi kompres hangat jahe


Pemberian Kompres hangat merupakan mekanisme penghambat
reseptor nyeri pada serabut saraf besar dimana akan mengakibatkan
terjadinya perubahan mekanisme yaitu gerbang yang akhirnya dapat
memodifikasi dan merubah sensasi nyeri yang datang sebelum sampai
ke kortes serebri menimbulkan persepsi nyeri dan reseptor otot
sehingga nyeri dapat berkurang (Potter & Perry,2005).

b. Kandungan Jahe
Jahe memiliki efek antiradang sehingga dapat digunakan untuk
mengatasi peradangan dan mengurangi rasa nyeri akibat asam urat.
Efek aktif jahe terdiri dari gingerol,gingerdione dan zingeron yang
berfungsi menghambat leukotriene dan prostaglandin yang merupakan
mediator radang (Herliana,2013).

c. Manfaat Kompres hangat jahe


Menurut Junaidi (2008), Manfaat kompres pada asam urat adalah
sebagai berikut :
a. Melancarkan peredaran darah.
b. Memberikan perasaan nyaman, segar dan kehangatan pada tubuh.
c. Melemaskan otot dan melenturkan jaringan ikat.
d. Mengurangi penekanan atau kompresi dan nyeri pada sendi.

d. Indikasi Kompres Hangat jahe


Menurut Junaidi (2008), Kompres dilakukan pada penderita asam urat
karena dapat mengurangi nyeri, menambah kelenturan sendi,
mengurangi penekanan atau kompresi dan nyeri pada sendi,
melemaskan otot dan melenturkan jaringan ikat. Selain itu menurut
Rusnonto (2015), kompres hangat jahe juga dapat digunakan pada
perut kembung.
29

e. Kontraindikasi kompres hangat jahe


Menurut Perry & Potter (2005), kompres hangat tidak dianjurkan pada
klien dengan kondisi Trauma 12-24 jam pertama, Perdarahan,
Bengkak, Gangguan pembuluh darah, Memar.

f. Teknik Kompres Hangat Jahe Yang Di Gunakan


Kompres Hangat Jahe yang efektif memerlukan waktu 15 sampai 20
menit (Anna, 2016). Pemberian Kompres hangat jahe selama 15-20
menit selama 3 hari saat pagi dan sore hari karena melakukan kompres
hangat jahe tidak bisa menghilangkan rasa nyeri jika hanya dilakukan
sekali. (Rusnonto,2015). Pelaksanaan Kompres Hangat jahe
memerlukan beberapa persiapan alat, persiapan klien dan persiapan
lingkungan serta persiapan perawat.

a) Persiapan alat
Alat-alat yang perlu adalah handuk atau washlap untuk
mengkompres, panci dan kompor, termometer air, baskom, parutan, arloji
dan alat ukur nyeri (NRS).

b) Persiapan lingkungan
Mempersiapkan tempat atau kursi yang nyaman bagi klien. Selain
mengatur cahaya, suhu dan suasana dalam ruangan untuk meningkatkan
relaksasi klien, persiapkan posisi klien.

c) Persiapan klien
Mengatur posisi yang nyaman bagi klien serta tetap menjaga
privasi klien. Posisi duduk adalah posisi yang baik untuk mendapatkan
kompres hangat jahe pada daerah kaki, dengan posisi semi duduk juga bisa
di gunakan. Sebelum melakukan kompres hangat jahe, perawat perlu
mendentifikasi terkait kondisi klien :
30

1) Mengkaji kondisi kulit, apakah ada kemerahan pada kulit klen atau
inflamasi, luka bakar atau luka terbuka.
2) Mengkaji nyeri klien.

d) Persiapan perawat
Perawat perlu menjelasakan tujuan terapi kepada klien, mengkaji
kondisi klien dan mencuci tangan sebelum melakukan tindakan untuk
mempertahankan kebersihan dan menghindari mikroorganisme.

e) Langkah-langkah pelaksanaan kompres hangat jahe yaitu :


1) Beritahu klien bahwa tindakan akan segera dilakukan.
2) Cek alat-alat yang akan digunakan.
3) Dekatkan alat ke pasien.
4) Posisikan klien senyaman mungkin.
5) Cuci tangan.
6) Ukur suhu air menggunakan termometer (40-50°C)
7) Masukkan washlap atau handuk kecil ke dalam air hangat (suhu 40-50
°C)
8) Peras washlap atau handuk kecil sampai lembab
9) Letakan 100gr parutan jahe diatas washlap tersebut kemudian
tempelkan washlap pada area yang sakit hingga panas dari washlap atau
handuk kecil terasa berkurang.
10) Ulangi langkah Tersebut sampai ±15-20 menit
11) Beritahu bahwa tindakan sudah selesai.
12) Berikan reinforcement positif pada klien.
13) Akhiri kegiatan dengan baik.

Penelitian oleh Rusnonto,Cholifah Noor, Retnosari Indah (2015)


dengan judul pemberian kompres hangat memakai jahe untuk
meringankan skala nyeri pada pasien asam urat di desa Kedungwungu
kecamatan Tegowanu kabupaten Grobogan, bahwa kompres hangat jahe
31

efektif dan memiliki pengaruh untuk meringankan skala nyeri pada pasien
asam urat, selain itu bisa memperbaiki sirkulasi darah.

2.4 Konsep Asuhan Keperawatan

2.4.1 Pengkajian

Menurut Sunaryo (2016), Status Kesehatan pada lansia dikaji secara


komprehensif, akurat, dan sistematik. Informasi yang dikumpulkan selama
pengkajian harus bisa dimengerti dan didiskusikan dengan anggota tim, keluarga
klien, dan peberi pelayanan interdisipliner. Tujuan melaksanakan pengkajian
adalah untuk menentukan kemampuan klien saat memelihara diri sendiri,
melengkapi data dasar untuk membuat rencana keperawatan serta memberi waktu
pada klien untuk berkomunkasi. Pengkajian tersebut meliputi aspek fisik, psikis,
sosial, dan spiritual dengan melaksanakan kegiatan pengumpulan data melalui
wawancara, obsevasi, dan pemeriksaan (CGA : Comprehensive Geriatric
Assesment).

Prasetyo (2010) menjelaskan tindakan perawat yang perlu dilakukan oleh


perawat dalam melaksanakan pengkajian pada pasien Gout Artritis dengan nyeri
akut yaitu :

a. Mengkaji perasaan klien (respon psikologi yang ada).

b. Menetapkan respon fisiologis klien terhadap nyeri dan letak nyeri.

c. Mengkaji tingkat keparahan dan bobot nyeri.

Pengkajian selama episode nyeri akut hendaknya tidak


dilaksanakan saat klien dalam keadaan waspada (perhatian penuh pada
nyeri), hendaknya perawat berusaha untuk menurunkan kecemasan klien
terlebih dahulu sebelum mencoba mengkaji kuantitas persepsi klien
terhadap nyeri.
32

Beberapa komponen yang harus diperhatikan seorang perawat di dalam


memulai mengkaji respon nyeri yang dialami oleh klien. Girton (1984) dalam
Prasetyo (2010), mengidentifikasikan komponen-komponen tersebut, diantaranya:

1. Penentuan ada atau tidaknya nyeri:

Dalam melakukan pengkajian terhadap nyeri, perawat harus


mempercayai ketika pasien mengungkapkan adanya nyeri, meskipun
adanya obsevasi perawat tidak menemukan adanya cedera atau luka.
Setiap nyeri yang diungkapkan oleh klien adalah nyata. Sebaliknya, ada
sebagian pasien yang terkadang justru menyembuyikan rasa nyerinya
untuk menolak pengobatan.

2. Karakteristik nyeri (Metode P,Q,R,S,T)

a) Faktor pencetus (P: Provocate)

Perawat mengkaji tentang pemicu atau stimulus-stimulus nyeri


pada klien, dalam hal ini perawat juga bisa melakukan observasi bagian-
bagian tubuh yang sedang mengalami cidera. Apabila perawat mencurigai
adanya nyeri psikogenetik maka perawat harus bisa mengeksplor perasaan
klien dan menayakan perasaan-perasaan apa yang dapat mencetuskan
nyeri.

b) Kualitas (Q: Quality)

Kualitas nyeri adalah suatu yang subjektif yang diungkapkan oleh


klien, seringkali klien mendeskripsikan nyeri dengan kalimat-kalimat
contohnya : tajam, tumpul berdenyut, berpindah-pindah, seperti tertindih,
perih, tertusuk dan lain-lain, dimana tiap-tiap klien mungkin berbeda-bada
dalam melaporkan kualitas nyeri yang dirasakan klien tersebut.

c) Lokasi (R: Region)


33

Untuk mengkaji lokasi nyeri maka perawat harus meminta klien


untuk menunjukan semua bagian yang dirasakan tidak nyaman oleh klien.
Untuk melokalisasi nyeri lebih spesifik, maka perawat bisa meminta klien
untuk melacak daerah nyeri dari titik yang paling terasa nyeri,
kemungkinan hal ini akan sulit apabila nyeri yang dirasakan bersifat difus
(menyebar).

d) Keparahan (S: Severe)

Tingkat keparahan paisen tentang nyeri merupakan karakteristik


yang paling subjektif. Pada pengkajian ini klien diminta untuk
mengilustrasikan nyeri yang di rasakan nya sebagai nyeri ringan, nyeri
sedang, atau berat. Skala Intensitas Nyeri (0-10)

e) Durasi (T: Time)

Perawat menanyakan pada pasien untuk memilih durasi, dan


rangkaian nyeri. Pengkajian pada lansia yang ada di keluarga dilakukan
dengan melibatkan keluarga menjadi orang terdekat yang mengetahui
masalah kesehatan lansia. Sedangkan pengkajian pada kelompok lansia di
panti ataupun di masyarakat dilakukan dengan melibatkan penanggung
jawab kelompok usia, cultural, tokoh masyarakat, serta petugas kesehatan.
Untuk itu, format pengkajian yang digunakan yaitu format pengkajian
pada lansia yang dikembangkan minimal terdiri dari : biodata diri, data
psikososial, spiritualkultural, lingkungan, status fungsional, fasilitas
penunjang kesehatan yang ada, serta pemeriksan fisik.

2.4.2 Diagnosa keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai


status kesehatan atau masalah aktual atau resiko dalam rangka
mengidentifikasi, menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi,
menghilangkan, atau mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada
34

tanggung jawabnya (Sunaryo, 2016). Masalah keperawatan yang mungkin


muncul pada klien Artritis Gout adalah nyeri akut (Chang, 2010).

Nyeri akut adalah penagalaman sensori dan emsoional tidak


menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau
yang digambarkan sebagai kerusakan (International Association fot The study of
pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat,
dengan berakhirnya dapat diantisipasi atau diprediksi, dan dengan durasi kurang
dari 3 bulan. Batasan karakteristik pada diagnosa keperawatan nyeri akut antara
lain : perubahan selera makan, perubahan pada parameter fisiologis, diaphoresis,
perilaku distraksi, bukti nyeri dengan mebggunakan standar daftar periksa nyeri
untuk pasien yang tidak dapat mengungkapkannya, perilaku ekspresif, ekspresi
wajah nyeri, sikap tubuh melindungi, putus asa, focus menyempit, sikap
melindungi area nyeri, perilaku protektif, laporan tentang perilaku nyeri, dilatasi
pupil, focus pada diri sendiri, keluhan tentang intensitas menggunakan standar
skala nyeri, keluhan tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standar
instrument nyeri. Faktor yang berhubungan antara lain : Agens cedera biologis,
agens cedera kimiawi, agens cedera fisik (Herdman & Kamitsuru, 2018).

2.4.3 Intervensi Keperawatan

Perencanaan merupakan proses penyusunan strategi atau intervensi


keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, mengurangi atau
mengatasi masalah kesehatan klien yang telah diidentifikasi dan divalidasi
pada tahap perumusan diagnosis keperawatan. Perencanaan disusun
dengan penekanan pada partisipasi klien, keluarga dan koordinasi dengan
tim kesehatan lain. Perencanaan mencakup penentuan prioritas masalah,
tujuan, dan rencana tindakan.

Tabel. 2.3 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


(SDKI) Hasil (SIKI)
(SLKI)
35

Nyeri akut Setelah dilakuan Terapi Relaksasi


tindakan keperawatan Observasi:
selama 3x24 jam 1. Identifikasi
diharapkan Tingkat lokasi,
Nyeri Akut dapat karakteristik,
menurun dengan Kriteria durasi, frekuensi,
Hasil : kualitas, intensitas
1. Keluhan nyeri nyeri.
menurun (5) 2. Identifikasi skala
2. Perilaku gelisah nyeri.
menurun (5) 3. Identifikasi
3. Perilaku gelisah respons nyeri non
menurun (5) verbal.
4. Keluhan 4. Monitor
kesulitan tidur keberhasilan
menurun (5) terapi
5. Ketegangan otot komplementer
menurun (5) yang sudah
6. Pola tidur diberikan
membaik (5) (Kompres hangat
Keterangan skala: Jahe).
1: meningkat Terapeutik:
2: cukup meningkat 5. Berikan teknik
3: sedang nonfarmakologis
4: cukup menurun untuk mengurangi
5: menurun rasa nyeri (mis.
Terapi kompres
Keterangan skala: hangat jahe).
1: memburuk 6. Gali bersama
2: cukup memburuk klien faktor yang
3: sedang dapat menurunkan
4: cukup membaik atau mempererat.
36

5: membaik 7. Fasilitasi istirahat


dan tidur.

Edukasi:
8. Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri.
9. Jelaskan strategi
meredakan nyeri.
10. Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri.
11. Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat.
12. Anjurkan klien
untuk
menghindari diet
dan aktivitas fisik.
Makanan yang
perlu dihindari
seperti (Makanan
laut, daging
merah)

2.4.4 Implementasi

Pada kegiatan implementasi, perawat harus melakukan kontrak


sebelumnya supaya klien (penderita) dapat menerima asuhan keperawatan
secara fisik maupun psikologi, kontrak tersebut meliputi waktu
37

pelaksanaan, materi, siapa yang melaksanakan. Siapa anggota keluarga


yang perlu mendapatkan pelayanan, serta peralatan yang dibutuhkan,
kegiatan selanjutnya yaitu implementasi sesuai dengan rencana yang telah
disusun berdasarkan diagnosis yang diangkat (Widyanto, 2014).

Pada diagnosa ini kekuatan dari intervensinya adalah nyeri yang


dirasakan pasien dapat berkurang dengan menggunakan teknik kompres
air hangat menggunakan jahe, diharapkan klien yang merasakan nyeri
dapat berkurang.

Tabel 2.4 Implementasi pada Masalah Nyeri Akut

Diagnosa Keperawatan Implementasi TTD


Nyeri akut 1. Mengidentifikasi lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri.
2. Melakukan pemeriksaan
kadar asam urat.
3. Mengukur tanda-tanda
vital.
4. Memonitor keberhasilan
terapi komplementer yang
sudah diberikan.
5. Memberikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(mis. Terapi pijat, aroma
terapi, kompres
hangat/dingin).
6. Melaporkan nyeri yang
terkontrol lingkungan
yang memperberat rasa
nyeri (mis. Suhu ruangan,
38

pencahayaan).
7. Menggunakan pakaian
longgar.
8. Menjelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri.
9. Menjelaskan strategi
meredakan nyeri.
10. Memonitor nyeri secara
mandiri dan mengkaji
secara komprehensif.
11. Menganjurkan
menggunakan analgetik
secara tepat.

2.4.5 Evaluasi

Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur


keberhasilan dari rencana yang telah di lakukan. Apabila tidak / belum berhasil
perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin
tidak dapat dilaksanakan dalam satu kali kunjungan rumah ke klien. Untuk itu
dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan klien yang
telah di sepakati bersama (Widyanto, 2014). Pada kasus ini diharapkan pasien
dapat mengenal kapan terjadinya nyeri, menggambarkan faktor penyebab, mampu
mencegah nyeri, melaporkan perubahan gejala nyeri, nyeri dilaporkan berkurang,
ekspresi nyeri wajah berkurang, dapat istirahat.

2.4.6 Kerangka Konsep

Faktor- faktor yang


memengaruhi :
1. Kelainan
metabolisme purin Asam urat tinggi
bawaan
2. Diit
3. Obat-obatan Penumpukan di sendi
4. Proses penyakit
39

Pembentukan
kristal

Inflamasi

Nyeri akut

SIKI ( Manajemen nyeri) :


Tindakan nonfarmakologi
(Kompres hangat jahe)

Evaluasi hasil keperawatan :


1. Keadaan umun cukup
2. Klien tampak memahami
penyakitnya
Keterangan : 3. Klien mampu untuk melakukan
terapi nonfarmakologis sendiri
: Diteliti
: Tidak diteliti

Bagan 2.2 Kerangka Konsep Artritis Gout dengan Nyeri Akut

2.4.7 Penjelasan Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka konseptual yang telah dibuat dapat diuraikan


beberapa hal berikut ini. Di antaranya kerangka konseptual tersusun atas
input, proses, dan output. Input yang diambil yakni lansia yang mengalami
arthritis gout. Masalah keperawatan yang diambil yaitu nyeri akut.
Selanjutnya proses mencakup komponen pengkajian, diagnosa keperawatan,
intervensi, implementasi, serta evaluasi. Tindakan keperawatan yang
dilakukan yaitu manajemen nyeri. Sedangkan output mencakup hasil yang
diharapkan setelah proses asuhan keperawatan klien yaitu keadaan umun
cukup, klien tampak memahami penyakitnya, klien mampu untuk melakukan
terapi nonfarmakologis sendiri
40

.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah Asuhan
Keperawatan Klien Gout Athritis Dengan Nyeri Akut di Desa Tanggung Kecamatan
Turen Kabupaten Malang dengan menggunakan proses asuhan keperawatan yaitu
pengkajian, menetapkan diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Menurut Nursalam (2008) lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah
dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun pada studi kasus ini peneliti
mengambil lokasi di Desa Tanggung Kecamatan Turen. Kompres hangat jahe yang
efektif memerlukan waktu 15 sampai 20 menit (Anna, 2016). Pemberian Kompres
hangat jahe selama 15-20 menit selama 3 hari saat pagi dan sore hari karena
melakukan kompres hangat jahe tidak bisa menghilangkan rasa nyeri jika hanya
dilakukan sekali. (Rusnonto,2015).

3.3 Subjek Penelitian

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 klien yang di diagnose
Gouth Athritis dengan masalah nyeri akut di Desa Tanggung Kecamatan Turen.
Adapun kriteria partisipan adalah sebagai berikut :

2 klien dengan batasan karakteristik Gout Arthritis skala nyeri 6 dengan gambaran klinik
yang khas yaitu adanya nyeri di daerah persendian

2 klien yang berusia lanjut

2 klien dan keluarga yang bersedia untuk dilakukan penelitian studi kasus

41
42

3.4 Pengumpulan Data

3.4.1 Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara mewawancarai


langsung keluarga responden yang diteliti, sehingga metode ini memberikan hasil
secara langsung. Metode ini dapat dilakukan bila peneliti ingin mengetahui hal-hal
dari responden secara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap hal-hal yang perlu
diketahui baik aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan, lingkungan dan
sebagainya (Hidayat, 2014)

3.4.2 Observasi langsung

Observasi langsung ini dilakukan dengan mengadakan kunjungan rumah


terhadap klien gouth arthritis dengan nyeri akut secara langsung untuk mengetahui
keadaan klien, ekpresi dan tingkah laku serta kebiasaan klien dalam mengatasi
keluhananya, terutama yang berhubungan dengan nyeri gouth atrhitis.

3.4.3 Dokumentasi

Studi dokumentasi yang telah dilakukan oleh penulis terkait dengan


pengumpulan data pada kedua klien yang mengalami Gouth Athritis dengan masalah
nyeri akut adalah mengambil data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli
tersebut dapat berupa tabel atau daftar periksa dan dokumenter (Hidayat, 2014).

3.4.4 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksan fisik dilakukan untuk mengetahui adanya masalah kesehatan pada


penderita Gout Arthritis. pemeriksaan fisik dilakukan dengan dengan melakukan pendekatan
IPPA : inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada sistem tubuh klien. Sebagai data penunjang
dalam penegakan diagnose dan penyusunan intervensi. untuk klien yang menderita Gout
Arthritis pada saat pengakjian awal dan evaluasi hasil asuhan keperawatan. (Jhonson dan
Leny, 2010)
43

3.5 Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data yaitu untuk menguji kualitas data atau informasi yang
diperoleh sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Disamping integritas
peneliti (karena peneliti menjadi instrumen utama), uji keabsahan data dilakukan
dengan:

1. Sumber informasi tambahan menggunakan trigulasi dari dua sumber data utama yaitu
perawat, dan keluarga klien yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Triangulasi
dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai
sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan begitu maka dalam karya
tulis ini akan dilakukan triagulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan
data.Triagulasi sumber data yaitu pasien, perawat dan keluarga klien yang berkaitan
dengan masalah yang diteliti.Sedangkan triagulasi teknik yaitu wawancara, observasi
dan dokumentasi (Hidayat, 2014).

3.6 Analisis Data

Analisa data pada pendekatan kualitatif merupakan analisis yang bersifat


subjektif karena peneliti adalah instrumen utama untuk pengambilan data dan analisis
data penelitiannya (Afiyanti dan Rachmawati, 2014).

1) Anamnesa
Semua informasi tentang riwayat kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik mulai dari kepala
sampai ke kaki, pengkajian keperawatan, pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan
darah dan foto rontgen, serta pemeriksaan penunjang lainya saat pertama kali pasien
masuk ke rumah sakit. Informasi yang di dapat dari pasien di rumah sakit dikategorikan
dalam dua kategori subjektif dan objektif. Data subjektif adalah data yang diambil dari
pasien saat wawancara. Dan data objektif adalah data yang di dapatkan berdasarkan hasil
pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
2) Wawancara
44

Wawancara atau juga yang disebut kegiatan bertanya atau tanya jawab yang
berhubungan dengan masalah yang di hadapi pasien. Wawancara merupakan suatu
komunikasi yang direncanakan. Dalam komunikasi ini, perawat mengajak pasien dan
keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaanya, yang diistilahkan teknik komunikasi
terapeutik.
3) Observasi
Perilaku Selama pengkajian, baik wawancara maupun pemeriksaan fisik, perawat harus
mengobservasi perilaku pasien pada tingkat fungsi dan konsistensi. Tingkat fungsi
meliputi fisik, perkembangan dan psikososial, serta aspek sosial. Observasi dapat
dilakukan melalui apa yang diteliti dan di lakukan pasien. Kemudian di bandingkan
dengan apa yang di keluhkan atau ditanyakan.
4) Dokumentasi
Tahap akhir dari pengkajian adalah pendokumentasian data yang meliputi pencatatan dan
pelaporan. Satu hal yang harus diingat, tidak ada seorangun dapat membaca tentang
pasien, bila catatan itu hanya di simpan untuk sendiri. Oleh karena itu anda harus mampu
melakukan pencatatan dan pelaporan pengkajian anda. Hal-hal yang harus diingat dalam
mencatat adalah sebagai berikut :

a) Akurat Catatan anda akan akurat bila ditulis saat masih segar dalam ingatan
anda.
b) Berpikir kritis Menulis informasi dan melakukan evaluasi akan membantu
anda dalam menginterprestasikan makna dan data-data yang hilang, dan akan
meningkatkan kemampuan berpikir kritis. (Deswani, 2009)

3.7 Etik Penelitian

Menurut Siswati (2013) Etika dalam penyusunan sebuah studi kasus terdiri dari :
1. Respect
Respect adalah perilaku perawat yang menghormati/atau menghargai
pasien/atau klien atau keluarganya. Perawat harus menghargai hak-hak
pasien/klien seperti hak untuk pencegahan bahaya mendapat penjelasan yang
benar sesuai kewenangan perawat. Penghargaan perawat pada pasien/atau klien
diwujudkan dalam pemberian asuhan keperawatan yang bermutu secara ramah
dan penuh perhatian.

2. Autonomy
45

Autonomy berkaitan dengan hak seseorang untuk memilih yang terbaik bagi
dirinya sendiri, meskipun demikian terdapat berbagai keterbatasan, terutama
yang berkaitan dengan situasi dan kondisi, latar belakang individu, campur
tangan hukum, tenaga kesehatan professional yang ada. Dalam hal ini perawat
memberikan hak otonomi pasien menerima atau menolak tindakan yang
diberikan.

3.Non-malifiance
Non-malifiance adalah kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja
menimbulkan kerugian atau cidera. Kerugian atau cidera dapat diartikan adanya
kerusakan fisik seperti nyeri, kecacatan, kematian, atau gangguan emosi antara
lain perasaan tidak berdaya, merasa emosional, merasa terisolasi, dan adanya
kekesalan. Maka perawat harus memberikan tindakan sesuai SOP dan tidak
boleh lalai secara sengaja.
4. Honesty
Honesty adalah kewajiban perawat untuk menyatakan suatu kebenaran, tidak
berbohong atau menipu orang lain. Yang bisa dilakukan dengan inform consent
kebenaran bisa diungkapkan sepanjang tidak membahayakan pasien dan sesuai
kewenangan perawat.
5. Secrecy
Secrecy adalah sikap menjaga infomasi yang ada. Sikap perawat terhadap
semua informasi tentang klien yang harus dijaga kerahasiaannya.
6. Informed Consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan
responden penelitian yang memberikan lembar persetujuan. Informed consent
diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan
untuk menjadi responden.
7. Anonimity
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan
dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau
mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan
kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
8. Justice
46

Justice adalah kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang dengan kata
lain tidak memihak. Maka perawat harus memberikan pelayanan yang sama
sesuai kebutuhan terhadap pasien yang dirawat.
9. Accountability
Accountabilityadalah bertindak secara konsisten sesuai dengan standar praktik
dan tanggung jawab profesi. Maka perawat harus memberikan asuhan
keperawatan bukan tindakan medis

3.8 Kerangka Kerja


Menurut Hartono (2010), kerangka kerja merupakan rencana penulisan yang
memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan
rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
Di bawah ini merupakanbatasan kerangka studi kasus pada klien yang mengalami
Gout Arthritis dengan masalah nyeri akut.
47

Klien dengan Gout Arthritis dengan masalah nyeri


Akut

Pengkajian

Wawancara, observasi, dan dokumentasi

Triangulasi data

Diagnosa

Intervensi

Implementasi

Evaluasi

Analisa data kedua partisipan

Penyajian data

Kesimpulan
48

Bagan 3.1 Kerangka Kerja klien yang mengalami Gout Arthritis dengan masalah nyeri Akut
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data
Sebuah kecamatan di Kabupaten Malang yang terletak
paling selatan, yang mempunyai kontur berbukit. Kecamatan Turen
adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang luas
wilayah ± 6.041 km2, terletak ± 18 km dari pusat kota atau pusat
pemerintahan kabupaten malang. Dalam struktur pemerintahan
Kecamatan Turen terdiri dari : 2 kelurahan,15 desa, 36 dusun, 168
RW dan 706 RT dengan ketingian ± 528 mm di atas permukaan
laut. Batas wilayah Kecamatan Turen : utara dengan Kecamatan
Wajak dan Bululawang, timur dengan Kecamatan Wajak dan
Dampit, selatan dengan Kecamatan Sumber Manjing Wetan, dan
bagian barat dengan Kecamatan Gondang Legi dan Pagelaran.
(Wati,2017)

4.1.2 Lokasi Pengambilan Data Klien


Dalam proses pengambilan data klien, dilakukan kunjungan
ke rumah klien sebanyak 4 kali selama 2 minggu. Partisipan klien I
tinggal di Desa Tanggung RT 03 RW 07 yang padat penduduk dan
terdapat sebelah kanan dan kiri rumah Ny. M ada tetangga dan Ny.
M pada sebelah belakang paling pojok, jarak rumah klien ±1 Km
dari pelayanan kesehatan. Luas bangunan rumah klien sekitar 6:2,
klien tinggal bersama dengan suaminya saja karena anaknya sudah
menikah semua, bentuk rumah petak dengan jenis bangunan atap
rumah menggunakan atap genteng berdinding tembok, lantai
keramik. Kebersihan lantai cukup, ventilasi<10% luas lantai,
pencahayaan kurang karena ada ventilasi kurang, cara pengaturan
dalam hal menata perabotan kurang, karena ruang tamu cukup
sempit dan perabotan rumah ada yang terletak di ruang tamu.

47
48

Sedangkan rumah klien II atas nama Ny. S tinggal di Desa


Tanggung, RT 02 RW 05 yang padat penduduk, rumah klien ±1,5
Km dari pelayanan kesehatan. Luas bangunan rumah klien 9:4,
klien tinggal bersama suami, 2 anak tetapi anaknya yang 1 bekerja
dan jarang pulang, bentuk rumah petak dengan jenis bangunan atap
rumah menggunakan atap genteng berdindingkan tembok, lantai
keramik. Kebersihan lantai cukup, ventilasi <15%, pencahayaan
cukup alat rumah tangga lengkap termasuk kursi tempat duduk
tamu ada dan fasilitas lainnya.
49

4.1.3 Pengkajian

KLIEN 1

FORMAT PENGKAJIAN LANSIA


ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER

Nama lansia : Ny. M Tanggal Pengkajian : 05-02-2020

1. IDENTITASKLIE
N
Nama : Ny. M
Umur : 56 Tahun
Agama : Islam
2 STATUS KESEHATAN SEKARANG
.
Keluhan utama : Klien mengatakan kaki klien sering cekot-
cekot
Keluhan saat pengkajian : Klien mengatakan kaki merasa pegal linu dan
sering cekot-cekot, sering berulang-ulang. Klien
mengtakan kurang lebih 2 bulan yang lalu
terlebih saat melakukan aktivitas, skala nyeri 2,
nyeri yang dirasakan hilang timbul, nyeri seperti
ditusuk-tusuk. Klien juga mengatakan
mempunyai riwayat hipertensi.
Aktivitas sehari-hari : klien mengatakan aktivitas sehari-hari
tergangganggu saat nyeri asam urat kambuh.
Klien mengatakan setiap hari klien memakan
makanan yang sudah disediakan keluarga,
keluarga juga sudah mengetahui makanan apa
saja yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita
asam urat (kacang, bayam, kembang kol, daging
merah yang berlebihan). Klien juga mengatakan
sering meminum jamu tradisional seperti air
rebusan daun salam dan daun sereh. Klien
mengatakan makan 3 kali dalam sehari dan klien
mempunyai hipertensi.
50

Menu makan :

Pagi : nasi putih ±10 sendok dengan lauk pauk


ikan tongkol, tempe goreng. Minum air
putih ±7 gelas/hari.
Siang : nasi ±10 sendok dengan daging ayam dan
sayur sawi.
Malam : nasi ±5 sendok dengan telur dadar.

Pengetahuan :
a. Klien tidak mengetahui cara mencegah dan mengatasi jika nyeri
itu muncul.
usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan :
a. Klien hanya istirahat dan tidur ketika nyeri itu berlangsung.
b. Klien hanya berobat satu bulan sekali mengikuti posyandu lansia.
c. Obat-obatan: Indomethacin 2x50mg, Captopril 2x50mg, Asam
Fenamat 3x1 (hanya diminum pada saat nyeri pada kaki)

4. AGE RELATED CHANGES (PERUBAHAN TERKAIT PROSES


MENUA) :

FUNGSI FISIOLOGIS

1. Kondisi Umum
Ya Tidak
Kelelahan : Ya -
Perubahan BB : Ya -
Perubahan nafsu : Ya -
makan
Masalah tidur : Ya -
Kemampuan ADL : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan pilih-pilih dalam hal
makanan karena takutnya akan
mengakibatkan kadar asam uratnya
tinggi, klien juga sering terbangun saat
51

malam hari, klien saat ini membatasi


aktifitas berat karena takut asam
uratnya meningkat.

2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka : - Tidak
Pruritus : - Tidak
Perubahan pigmen : - Tidak
Memar : - Tidak
Pola penyembuhan : - Tidak
lesi
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada
kulitnya.

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan abnormal : - Tidak
Pembengkakan kel. : - Tidak
Limfe
Anemia : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah
perdarahan ataupun mengalami
pembengkakan.

4 Kepala
.
Ya Tidak
Sakit kepala : - Tidak
Pusing : Ya -
Gatal pada kulit : - Tidak
kepala
KETERANGAN : Klien mengatakan terkadang merasa pusing,
pusing bertambah saat kebanyakan pikiran

5 Mata
.
Ya Tidak
Perubahan : Ya -
penglihatan
Pakai kacamata : - Tidak
52

Kekeringan mata : - Tidak


Nyeri : - Tidak
Gatal : - Tidak
Photobobia : - Tidak
Diplopia : - Tidak
Riwayat infeksi : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan pandangan sudah sedikit
kabur namun klien tidak menggunakan
kacamata

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan : - Tidak
pendengaran
Discharge : - Tidak
Tinitus : - Tidak
Vertigo : - Tidak
Alat bantu dengar : - Tidak
Riwayat infeksi : - Tidak
Kebiasaan : Ya -
membersihkan telinga
Dampak pada ADL : Tidak ada dampak ADL yang terganggu.
KETERANGAN : Klien mengatakan pendengaran menurun
karena factor usia, klien juga terkadang
membersihkan telinganya.

7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea : - Tidak
Discharge : - Tidak
Epistaksis : - Tidak
Obstruksi : - Tidak
Snoring : - Tidak
Alergi : - Tidak
Riwayat infeksi : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada
hidung.

8. Mulut, tenggorokan
Ya Tidak
53

Nyeri telan : - Tidak


Kesulitan menelan : - Tidak
Lesi : - Tidak
Perdarahan gusi : - Tidak
Caries : - Tidak
Perubahan rasa : - Tidak
Gigi palsu : Ya -
Riwayat Infeksi : - Tidak
Pola sikat gigi : Klien mengatakan sikat gigi setiap
mandi.
KETERANGAN : Klien mengatakan giginya sudah mulai
berkurang/lepas sebagian karena faktor
usia.

9 Leher
.
Ya Tidak
Kekakuan : - Tidak
Nyeri tekan : - Tidak
Massa : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada
leher,

10 Pernafasan
.
Ya Tidak
Batuk : - Tidak
Nafas pendek : - Tidak
Hemoptisis : - Tidak
Wheezing : - Tidak
Asma : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak memiliki
gangguan dalam pernafasan

11 Kardiovaskuler
.
Ya Tidak
Chest pain : - Tidak
Palpitasi : - Tidak
Dipsnoe : - Tidak
Paroximal nocturnal : - Tidak
Orthopnea : - Tidak
Murmur : - Tidak
54

Edema : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada kelainan atau
masalah pada kardiovaskuler.

12 Gastrointestinal
.
Ya Tidak
Disphagia : - Tidak
Nausea / vomiting : - Tidak
Hemateemesis : - Tidak
Perubahan nafsu : Ya -
makan
Massa : - Tidak
Jaundice : - Tidak
Perubahan pola : Ya -
BAB
Melena : - Tidak
Hemorrhoid : - Tidak
Pola BAB : Klien BAB 1 hari sekali lancar, BAB lunak.
KETERANGAN : Klien mengatakan nafsu makan klien menurun
akhir-akhir ini.

13 Perkemihan
.
Ya Tidak
Dysuria : - Tidak
Frekuensi : Frekuensi 800-1000 ml
Hesitancy : - Tidak
Urgency : - Tidak
Hematuria : - Tidak
Poliuria : - Tidak
Oliguria : - Tidak
Nocturia : - Tidak
Inkontinensia : - Tidak
Nyeri berkemih : - Tidak
Pola BAK : Klien BAK 3-4 kali dalam sehari.
KETERANGAN : Klien mengatakan BAK sesuai dengan klien
minum.

14 Reproduksi
(Perempuan)
Lesi : - Tidak
Discharge : - Tidak
Postcoital bleeding : - Tidak
55

Nyeri pelvis : - Tidak


Prolab : - Tidak
Aktivitas sexsual
Tidak
Pap smear :

KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada


Reproduksinya.

15 Muskuloskelet
. al
Ya Tidak
Nyeri Sendi : Ya -
Bengkak : Ya -
Kaku sendi : Ya -
Deformitas : - Tidak
Spasme : - Tidak
Kram : Ya -
Kelemahan otot : Ya -
Masalah gaya : - Tidak
berjalan
Nyeri punggung : - Tidak
Pola latihan : Klien sering jalan-jalan waktu pagi, untuk
membantu melemaskan otot-otot kaki.
Dampak ADL : Klien mengatakan kegiatan sehari-hari sering
terhambat karena penyakit gout arthitis.
KETERANGA : Klien mengatakan jika berjalan terlalu lama
N karena klien sering merasakan nyeri pada kaki
akibat penyakit gout arthritis.

16 Persyarafan
.
Ya Tidak
Headache : - Tidak
Seizures : - Tidak
Syncope : - Tidak
Tic/tremor : - Tidak
Paralysis : - Tidak
Paresis : - Tidak
Masalah : - Tidak
56

memori
KETERANGA : Klien mengatakan tidak ada masalah
N persyarafannya.

5 POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :


.
Psikososial YA Tidak
Cemas : - Tidak
Depresi : - Tidak
Ketakutan : - Tidak
Insomnia : - Tidak
Kesulitan dalam : - Tidak
mengambil
keputusan
Kesulitan : - Tidak
konsentrasi
Mekanisme koping : Keluarga klien yang tinggal serumah
mendukung dalam hal kesembuhan klien.
Persepsi tentang kematian : klien mengatakan semua orang yang hidup
akan meninggal begitu juga saya, suatu saat nanti pasti akan meninggal
entah itu kapan.
Dampak pada ADL : klien mengatakan tidak berdampak apa-apa pada
kegiatan sehari-harinya.
Spiritual
 Aktivitas ibadah : klien sholat lima waktu dengan rutin setiap hari
di rumah dan terkadang mengikuti kumpulan tahlil bersama
warga sekitar
 Hambatan : klien mengatakan ada hambatan jika klien duduk
terlalu lama karena nyeri asam uratnya kambuh.

6 LINGKUNGAN :
.
 Kamar :Kondidi kamar klien sedikit berantakan ada baju-baju yang
tidak digantung.
Kamar mandi :Kondisi kamar mandi klien bersih.
 Dalam rumah :Kondisi dalam rumah bersih, lantai bersih,
pencahayaan cukup.
 Luar rumah :Di area luar rumah bersih, karena kanan rumah klien
adalah rumah tetangganya. Dan kiri rumah pasien ada kebun
57

singkong.

7. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No Kriteria Dengan Mandir Skor Yang
Bantuan i Didapat

1 Makan 5 10 10

2 Berpindah dari kursi roda ke tempat 5-10 15 15


tidur, atau sebaliknya

3 Personal toilet (cuci muka, menyisir 0 5 5


rambut, gosok gigi)

4 Keluar masuk toilet (mencuci 5 10 5


pakaian, menyeka tubuh,
menyiram)

5 Mandi 0 5 5

6 Berjalan di permukaan datar (jika 0 5 5


tidak bisa, dengan kursi roda )

7 Naik turun tangga 5 10 5

8 Mengenakan pakaian 5 10 10

9 Kontrol bowel (BAB) 5 10 10

10 Kontrol Bladder (BAK) 5 10 10

2. Aspek Kognitif

MMSE (Mini Mental Status Exam)

No Aspek Nilai Nilai Kriteria


Kognitif Maksima Klien
l
1 Orientasi 5 3 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : 2021
Hari : hari ini hari apa ya?
Musim : Musim hujan
Bulan : Bulan berapa ya sekarang?
58

Tanggal : Tanggal berapa yak kok lupa?


2 Orientasi 5 5 Dimana sekarang kita berada ?
Negara : Indonesia
Propinsi : Jawa Timur
Kabupaten/kota : Malang
3 Registrasi 3 3 Sebutkan 3 nama obyek (misal : kursi,
meja, kertas), kemudian
ditanyakankepada klien, menjawab
1) Kursi 2). Meja 3).
Kertas
4 Perhatian 5 4 Meminta klien berhitung mulai dari 100
dan kemudia kurangi 7 sampai 5 tingkat.
kalkulasi Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72
5). 65
5 Mengingat 3 3 Minta klien untuk mengulangi ketiga
obyek pada poin ke- 2 (tiap poin nilai 1)
6 Bahasa 9 9 Menanyakan pada klien tentang benda
(sambil menunjukan benda tersebut).
1). ...................................
2). ...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata
berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :

Minta klien untuk mengikuti perintah


berikut yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut
(bila aktifitas sesuai perintah nilai satu
poin.
7). “Tutup mata anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk
menulis kalimat dan

9). Menyalin gambar 2 segi lima yang


saling bertumpuk

Total nilai 30 27

Interpretasihasil :
59

24 – 30 : tidak ada gangguan kognitif


18 – 23 : gangguan kognitif sedang
0 - 17 : gangguan kognitif berat
Kesimpulan : Ny. M tidak ada gangguan kognitif.

3. Tes Keseimbangan
Time Up Go Test

No Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik)


1 12-07-2019 >45 detik
2 15-07-2019 >30 detik

Rata-rata Waktu TUG >30 detik

Interpretasi hasil Diperkirakan membutuhkan


bantuan dalam mobilisasi dan
melakukan ADL.
Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
>13,5 detik Resiko tinggi jatuh
>24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun
waktu 6 bulan
>30 detik Diperkirakan membutuhkan
bantuan dalam mobilisasi dan
melakukan ADL
(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer & Woolacott: 2000; Kristensen,
Foss & Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991)

4. Kecemasan, GDS
Pengkajian Depresi
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tdk Hasil
1. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 0
2. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan 1 0 1
kesenangan
3. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0 1
4. Anda sering merasa bosan 1 0 1
5. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 1
7. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 0
60

9. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar 1 0 1


melakukan sesuatu hal
10 Anda merasa memiliki banyak masalah dengan 1 0 0
. ingatan anda
11 Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1 1
.
12 Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0 0
.
13 Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1 1
.
14 Anda merasa tidak punya harapan 1 0 0
.
15 Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri 1 0 1
. anda
Jumlah 10
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam
Gerontological Nursing, 2006)
Interpretasi :
Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

5. Status Nutrisi

Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:

No Indikators Score Pemeriksaan


1. Menderita sakit atau kondisi yang 2 2
mengakibatkan perubahan jumlah dan jenis
makanan yang dikonsumsi
2. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3 2
3. Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu 2 1
4. Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum 2 0
minuman beralkohol setiap harinya
5. Mempunyai masalah dengan mulut atau 2 2
giginya sehingga tidak dapat makan makanan
61

yang keras
6. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk 4 2
membeli makanan
7. Lebih sering makan sendirian 1 1
8. Mempunyai keharusan menjalankan terapi 1 1
minum obat 3 kali atau lebih setiap harinya
9. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam 2 1
enam bulan terakhir
10 Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik 2 0
. yang cukup untuk belanja, memasak atau
makan sendiri
Total score 12
(American Dietetic Association and National Council on the Aging, dalam
Introductory Gerontological Nursing, 2001)

Interpretasi:
0 – 2 : Good
3 – 5 : Moderate nutritional risk
6≥ : High nutritional risk
6. Hasil pemeriksaan Diagnostik

No Jenis pemeriksaan Tanggal Hasil


Diagnostik Pemeriksaan
1 Tensi 05-02-2021 200/80 mmHg
Asam urat 11 mg/dL
Suhu 37,5ºc
Respiratory rate 22x/menit
Nadi 85x/menit
2 Tensi 10-02-2021 190/80 mmHg
Asam urat 9 mg/dL
Suhu 37,0ºc
Respiratory rate 20x/menit
Nadi 89x/menit
3 Tensi 15-02-2021 200/90 mmHg
Asam urat 7 mg/dL
Suhu 37,0ºc
Respiratory rate 21x/menit
Nadi 87x/menit

7. Fungsi sosial lansia


62

APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA

Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

N URAIAN FUNGSI SKORE


O
1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada ADAPTATION 1
keluarga (teman-teman) saya untuk
membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman- PARTNERSHI 1
teman)saya membicarakan sesuatu dengan P
saya dan mengungkapkan masalah dengan
saya
3. Saya puas dengan cara keluarga (teman- GROWTH 0
teman) saya menerima dan mendukung
keinginan saya untuk melakukan
aktivitas / arah baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman- AFFECTION 1
teman) saya mengekspresikan afek dan
berespon terhadap emosi-emosi saya
seperti marah, sedih/mencintai
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya RESOLVE 1
dan saya meneyediakan waktu bersama-
sama
Kategori Skor: TOTAL 4
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 22). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik
Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

KLIEN 2

FORMAT PENGKAJIAN LANSIA


ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER

Nama lansia : Ny. S Tanggal Pengkajian : 05-02-2021


63

2. IDENTITASKLIE
N
Nama : Ny. S
Umur : 60 Tahun
Agama : Islam
2 STATUS KESEHATAN SEKARANG
.
Keluhan utama : Klien mengeluh sering merasa nyeri pada
kakinya.
Keluhan saat pengkajian : Klien mengatakan (±) 2,5 bulan yang lalu
kedua lututnya sering mengalami nyeri terutama
saat bangun tidur. Skala nyeri 3 , nyeri yang
dirasakan menjalar, nyeri terus menerus.
Aktivitas sehari-hari : klien mengatakan aktivitas sehari-hari sangat
tergangganggu saat nyeri asam urat kambuh.
Klien mengatakan setiap hari memakan makanan
yang sudah disediakan keluarga, keluarga belum
sepenuhnya mengetahui makanan apa saja yang
tidak boleh dikonsumsi oleh penderita asam urat.
Klien juga mengatakan tidak pernah meminum
jamu tradisional. Klien hanya mengkonsumsi
obat dari dokter dan perawat desa saja. Klien
mengatakan makan 3 kali dalam sehari.
Menu makan :
Pagi : nasi pecel dengan lauk pauk tahu tempe dan
ampela.
Siang : nasi dengan porsi besar ditambah sayur
yang bersantan
Sore : soto daging
Malam : nasi dengan kuah bersantan (kacang-
kacangan)
Pengetahuan:
a. klien bingung cara mengatasi nyeri pada kakinya
Usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:
64

a. klien kadang hanya menghindari makanan yang akan mengakibatkan


asam uratnya kambuh.
b. Klien hanya pergi ke posyandu lansia 1x dalam satu bulan.
c. Obat-obatan: Ketoprofen 3x50mg (hanya diminum pada saat nyeri
kambuh), Viostin DS 3x1

4. AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES


MENUA) :

FUNGSI FISIOLOGIS

1. Kondisi Umum
Ya Tidak
Kelelahan : Ya -
Perubahan BB : Ya -
Perubahan nafsu : Ya -
makan
Masalah tidur : Ya -
Kemampuan ADL : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan makannya hanya
sedikit karena saat makan bayak perut
klien terasa sakit, klien juga sering
terbangun saat malam hari karena nyeri
sendi yang dialami, klien saat ini
membatasi aktifitas berat karena takut
kondisinya semakin menurun dan takut
penyakitnya kambuh.

2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka : - Tidak
Pruritus : - Tidak
Perubahan pigmen : - Tidak
Memar : - Tidak
Pola penyembuhan : - Tidak
lesi
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada
kulitnya.
65

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan abnormal : - Tidak
Pembengkakan kel. : - Tidak
Limfe
Anemia : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah
perdarahan ataupun pembengkakan.

4 Kepala
.
Ya Tidak
Sakit kepala : - Tidak
Pusing : Ya -
Gatal pada kulit : - Tidak
kepala
KETERANGAN : Klien mengatakan terkadang merasa pusing,
karena terlalu capek bekerja.

5 Mata
.
Ya Tidak
Perubahan : Tidak
penglihatan
Pakai kacamata : - Tidak
Kekeringan mata : - Tidak
Nyeri : - Tidak
Gatal : - Tidak
Photobobia : - Tidak
Diplopia : - Tidak
Riwayat infeksi : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada
matanya.

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan : - Tidak
pendengaran
Discharge : - Tidak
Tinitus : - Tidak
Vertigo : - Tidak
Alat bantu dengar : - Tidak
Riwayat infeksi : - Tidak
Kebiasaan : Ya -
66

membersihkan telinga
Dampak pada ADL : Tidak ada dampak ADL yang terganggu
saat pendengarannya menurun
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah
dalam pendengaran

7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea : - Tidak
Discharge : - Tidak
Epistaksis : - Tidak
Obstruksi : - Tidak
Snoring : - Tidak
Alergi : - Tidak
Riwayat infeksi : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada
hidung sinus.

8. Mulut, tenggorokan
Ya Tidak
Nyeri telan : - Tidak
Kesulitan menelan : - Tidak
Lesi : - Tidak
Perdarahan gusi : - Tidak
Caries : - Tidak
Perubahan rasa : - Tidak
Gigi palsu : - Tidak
Riwayat Infeksi : - Tidak
Pola sikat gigi : Klien mengatakan sikat gigi setiap
mandi.
KETERANGAN : Klien mengatakan giginya masih utuh di
usianya yang lanjut ini

9 Leher
.
Ya Tidak
Kekakuan : - Tidak
Nyeri tekan : - Tidak
Massa : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah di
leher.
67

10 Pernafasan
.
Ya Tidak
Batuk : Ya -
Nafas pendek : Ya -
Hemoptisis : - Tidak
Wheezing : - Tidak
Asma : Ya -
KETERANGAN : Klien mengatakan terkadang batuk saat
salah makan, klien juga mengatakan saat
berjalan jauh nafas pendek, dan saat ada
asap dan kelelahan dada terasa sesak

11 Kardiovaskuler
.
Ya Tidak
Chest pain : - Tidak
Palpitasi : - Tidak
Dipsnoe : - Tidak
Paroximal nocturnal : - Tidak
Orthopnea : - Tidak
Murmur : - Tidak
Edema : - Tidak
KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada kelainan atau
masalah pada kardiovaskuler.

12 Gastrointestinal
.
Ya Tidak
Disphagia : - Tidak
Nausea / vomiting : - Tidak
Hemateemesis : - Tidak
Perubahan nafsu : Ya -
makan
Massa : - Tidak
Jaundice : - Tidak
Perubahan pola : Ya -
BAB
Melena : - Tidak
Hemorrhoid : - Tidak
Pola BAB : Klien BAB 1 hari sekali tetapi tidak lancar,
BAB lancar.
KETERANGAN : Klien mengatakan nafsu makan klien menurun
68

akhir-akhir ini

13 Perkemihan
.
Ya Tidak
Dysuria : - Tidak
Frekuensi : Frekkuensi 500-800 ml
Hesitancy : - Tidak
Urgency : - Tidak
Hematuria : - Tidak
Poliuria : - Tidak
Oliguria : - Tidak
Nocturia : - Tidak
Inkontinensia : - Tidak
Nyeri berkemih : - Tidak
Pola BAK : Klien BAK 3-4 kali dalam sehari.
KETERANGAN : Klien mengatakan BAK sesuai dengan klien
minum.

14 Reproduksi
(Perempuan)
Lesi : - Tidak
Discharge : - Tidak
Postcoital bleeding : - Tidak
Nyeri pelvis : - Tidak
Prolab : - Tidak
Pap smear :

KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada masalah pada


Reproduksinya.

15 Muskuloskelet
. al
Ya Tidak
Nyeri Sendi : Ya Tidak
Bengkak : - Tidak
Kaku sendi : Ya Tidak
Deformitas : - Tidak
Spasme : - Tidak
Kram : Ya -
Kelemahan otot : Ya -
Masalah gaya : - Tidak
berjalan
69

Nyeri punggung : - Tidak


Pola latihan : Klien sering jalan-jalan waktu pagi, untuk
membantu melemaskan otot-otot kaki.
Dampak ADL : Klien mengatakan kegiatan sehari-hari sering
terhambat karena badan terasa lesu.
KETERANGA : Klien mengatakan dirumah masih bisa
N beraktifitas seperti biasanya.

16 Persyarafan
.
Ya Tidak
Headache : - Tidak
Seizures : - Tidak
Syncope : - Tidak
Tic/tremor : - Tidak
Paralysis : - Tidak
Paresis : - Tidak
Masalah : Ya -
memori
KETERANGAN : Klien sulit untuk mengingkat peristiwa jarak
lama.

5 POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :


.
Psikososial YA Tidak
Cemas : - Tidak
Depresi : - Tidak
Ketakutan : - Tidak
Insomnia : Ya -
Kesulitan dalam : - Tidak
mengambil
keputusan
Kesulitan : - Tidak
konsentrasi
Mekanisme koping : Tidak ada masalah dalam koping keluarga.
Persepsi tentang kematian : klien mengatakan semua orang yang hidup
akan meninggal begitu juga saya, suatu saat nanti pasti akan meninggal
entah itu kapan.
Dampakpada ADL : klien mengatakan tidak berdampak apa-apa pada
kegiatan sehari-harinya.
70

Spiritual
 Aktivitas ibadah : klien sholat lima waktu, klien juga rajin sholat
tahajud dan berdzikir,
 Hambatan :klien mengatakan jika melakukan aktivitas terlalu
lama nyeri di kaki akan mucul
KETERANGAN :Klien masih aktif bekerja, klien tidak bekerja ketika
asam uratnya kambuh.

6 LINGKUNGAN :
.
 Kamar : Kondisi kamar klien cukup rapi, baju-baju tertata.
 Kamar mandi : Kondisi kamar mandi klien cukup berssih,
terdapat sedikit lumut, air yang digunakan juga bersih.
 Dalam rumah : Kondisi dalam rumah bersih, lantai sedikit
bersih, pencahayaan kurang, ventilasi rumah setiap pagi dibuka.
 Luar rumah : Di area luar rumah bersih, karena kanan kiri
rumah pasien adalah rumah tetangganya.

7. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No Kriteria Dengan Mandir Skor Yang
Bantuan i Didapat

1 Makan 5 10 10

2 Berpindah dari kursi roda ke tempat 5-10 15 15


tidur, atau sebaliknya

3 Personal toilet (cuci muka, menyisir 0 5 5


rambut, gosok gigi)

4 Keluar masuk toilet (mencuci 5 10 5


pakaian, menyeka tubuh,
menyiram)

5 Mandi 0 5 5

6 Berjalan di permukaan datar (jika 0 5 5


tidak bisa, dengan kursi roda )
71

7 Naik turun tangga 5 10 5

8 Mengenakan pakaian 5 10 10

9 Kontrol bowel (BAB) 5 10 10

10 Kontrol Bladder (BAK) 5 10 10

2. Aspek Kognitif

MMSE (Mini Mental Status Exam)

No Aspek Nilai Nilai Kriteria


Kognitif Maksimal Klien
1 Orientasi 5 3 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : 2021
Hari : hari ini hari apa ya?
Musim : Musim hujan
Bulan : Bulan berapa ya sekarang?
Tanggal : Tanggal berapa yak kok lupa?
2 Orientasi 5 5 Dimana sekarang kita berada ?
Negara : Indonesia
Propinsi : Jawa Timur
Kabupaten/kota : Malang
3 Registrasi 3 3 Sebutkan 3 nama obyek (misal : kursi, meja,
kertas), kemudian ditanyakan kepada klien,
menjawab
2) Kursi 2). Meja 3). Kertas
4 Perhatian 5 4 Meminta klien berhitung mulai dari 100
dan kemudia kurangi 7 sampai 5 tingkat.
kalkulasi Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72 5).
65
5 Mengingat 3 3 Minta klien untuk mengulangi ketiga obyek
pada poin ke- 2 (tiap poin nilai 1)
6 Bahasa 9 9 Menanyakan pada klien tentang benda (sambil
menunjukan benda tersebut).
1). ...................................
2). ...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata
berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :

Minta klien untuk mengikuti perintah berikut


yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut (bila
72

aktifitas sesuai perintah nilai satu poin.


7). “Tutup mata anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk menulis
kalimat dan
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang saling
bertumpuk

Total nilai 30 27

Interpretasihasil :
24 – 30 : tidak ada gangguan kognitif
18 – 23 : gangguan kognitif sedang
0 - 17 : gangguan kognitif berat
Kesimpulan : Ny. S tidak ada gangguan kognitif.

3. Tes Keseimbangan

Time Up Go Test

No Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik)


1 12-07-2019 >45 detik

2 15-07-2019 >30 detik

Rata-rata Waktu TUG >30 detik

Interpretasi hasil Diperkirakan membutuhkan


bantuan dalam mobilisasi dan
melakukan ADL.
Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
>13,5 detik Resiko tinggi jatuh
>24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun
waktu 6 bulan
>30 detik Diperkirakan membutuhkan
bantuan dalam mobilisasi dan
melakukan ADL
73

(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer & Woolacott: 2000; Kristensen,


Foss & Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991

4. Kecemasan, GDS
Pengkajian Depresi
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tdk Hasil
1. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 0
2. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan 1 0 1
kesenangan
3. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0 0
4. Anda sering merasa bosan 1 0 1
5. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 1
7. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 1
8. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 1
9. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar 1 0 1
melakukan sesuatu hal
10 Anda merasa memiliki banyak masalah dengan 1 0 0
. ingatan anda
11 Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1 1
.
12 Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0 0
.
13 Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1 1
.
14 Anda merasa tidak punya harapan 1 0 0
.
15 Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri 1 0 1
. anda
Jumlah 10
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam
Gerontological Nursing, 2006)
Interpretasi :
Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

5. Status Nutrisi
74

Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:

No Indikators Score Pemeriksaan


1. Menderita sakit atau kondisi yang 2 2
mengakibatkan perubahan jumlah dan jenis
makanan yang dikonsumsi
2. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3 2
3. Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu 2 2
4. Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum 2 0
minuman beralkohol setiap harinya
5. Mempunyai masalah dengan mulut atau 2 2
giginya sehingga tidak dapat makan makanan
yang keras
6. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk 4 0
membeli makanan
7. Lebih sering makan sendirian 1 1
8. Mempunyai keharusan menjalankan terapi 1 1
minum obat 3 kali atau lebih setiap harinya
9. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam 2 2
enam bulan terakhir
10 Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik 2 0
. yang cukup untuk belanja, memasak atau
makan sendiri
Total score 12
(American Dietetic Association and National Council on the Aging, dalam
Introductory Gerontological Nursing, 2001)

Interpretasi:
0 – 2 : Good
3 – 5 : Moderate nutritional risk
6≥ : High nutritional risk

6. Hasil pemeriksaan Diagnostik

No Jenis pemeriksaan Tanggal Hasil


Diagnostik Pemeriksaan
1 Tensi 05-02-2021 130/90 mmHg
Asam urat 10 mg/dL
75

Suhu 37,2ºc
Respiratory rate 22x/menit
Nadi 88x/menit
2 Tensi 10-02-2021 120/80 mmHg
Asam urat 9 mg/dL
Suhu 37,0ºc
Respiratory rate 20x/menit
Nadi 85x/menit
3 Tensi 15-02-2021 130/80 mmHg
Asam urat 7 mg/dL
Suhu 37,5ºc
Respiratory rate 21x/menit
Nadi 88x/menit

7. Fungsi sosial lansia

APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA

Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

N URAIAN FUNGSI SKORE


O
1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada ADAPTATION 1
keluarga (teman-teman) saya untuk
membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman- PARTNERSHI 1
teman)saya membicarakan sesuatu dengan P
saya dan mengungkapkan masalah dengan
saya
3. Saya puas dengan cara keluarga (teman- GROWTH 0
teman) saya menerima dan mendukung
keinginan saya untuk melakukan
aktivitas / arah baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman- AFFECTION 1
teman) saya mengekspresikan afek dan
berespon terhadap emosi-emosi saya
seperti marah, sedih/mencintai
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya RESOLVE 1
dan saya meneyediakan waktu bersama-
sama
Kategori Skor: TOTAL 4
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
76

1). Selalu : skore 22). Kadang-kadang : 1


3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik
Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

4.1.4 Analisa Data

Analisa data Etiologi Masalah


Klien 1
Data Subyektif : Arthritis Gout Nyeri
- Ny. M mengatakan kaki klien sering cekot-cekot Akut
- Ny. M mengatakan kakinya nyeri pada saat
malam hari dan mengakibatkan tidak bisa tidur Penumpukan
- Ny. M mengatakan lutut sakit saat kaki ditekuk di sendi
- Nyeri kambuh jika beraktivitas secara
berlebihan, nyeri terasa seperti di tusuk – tusuk
dan terus-menerus, nyeri di kaki kanan dan kiri Pembentukan
di bagian lutut dengan skala ringan (2), nyeri
muncul secara hilang timbul saat sesudah
melakukan aktivitas yang berlebihan Inflamasi

Data Obyektif :
- Kesadaran umum cukup Nyeri
- Odem (+)
- Kesadaran composmentis, GCS 4,5,6
- Wajah tampak grimace
- TTV :
TD : 200/80 mmHg
N : 85x per menit
RR : 22x per menit
S : 37,5ºc
- Asam urat:11 mg/dL
- Terapi
Indomethacin 2x50mg
Captopril 2x50mg
Asam Fenamat 3x1
Klien 2

Data Subyektif : Arthritis Gout Nyeri


77

- Ny. S mengatakan kedua lutunya sering Akut


mengalami nyeri
- Ny. S mengatakan kakinya sakit 2,5 bulan yang Penumpukan
lalu. di sendi
- Ny. S mengatakan kedua lututnya seing
mengalami kesemutan
- Ny. S mengatakan kakinya nyeri pada saat dibuat Pembentukan
jongkok dan duduk terlalu lama
- Nyeri sering kambuh saat terlalu banyak
beraktivitas, nyeri seperti di tusuk-tusuk dan terus- Inflamasi
menerus, nyeri dibagian kedua lutut, dengan skala
nyeri ringan (3), nyeri terasa terus-menerus saat
bangun tidur terasa seperti di tusuk-tusuk Nyeri

Data Obyektif :
- Kesadaran umum cukup
- Kesadaran composmentis, GCS 4,5,6
- Odem (+)
- Wajah tampak grimace
- TTV :
TD : 130/90 mmHg
N : 88x per menit
RR : 22x per menit
S : 37,2ºc
- Asam urat : 10 mg/dL
- Terapi
Ketoprofen 3x50mg
Viostin DS 3x1

4.1.5 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik

4.1.6 Intervensi
78

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


(SDKI) Hasil (SIKI)
(SLKI)
Nyeri akut Setelah dilakuan Terapi Relaksasi
tindakan keperawatan Observasi:
selama 3x24 jam 13. Identifikasi
diharapkan Tingkat lokasi,
Nyeri Akut dapat karakteristik,
menurun dengan Kriteria durasi, frekuensi,
Hasil : kualitas, intensitas
7. Keluhan nyeri nyeri.
menurun (5) 14. Identifikasi skala
8. Perilaku gelisah nyeri.
menurun (5) 15. Identifikasi
9. Perilaku gelisah respons nyeri non
menurun (5) verbal.
10. Keluhan 16. Monitor
kesulitan tidur keberhasilan
menurun (5) terapi
11. Ketegangan otot komplementer
menurun (5) yang sudah
12. Pola tidur diberikan
membaik (5) (Kompres hangat
Keterangan skala: Jahe).
1: meningkat Terapeutik:
2: cukup meningkat 17. Berikan teknik
3: sedang nonfarmakologis
4: cukup menurun untuk mengurangi
5: menurun rasa nyeri (mis.
Terapi kompres
Keterangan skala: hangat jahe).
1: memburuk 18. Gali bersama
2: cukup memburuk klien faktor yang
79

3: sedang dapat menurunkan


4: cukup membaik atau mempererat.
5: membaik 19. Fasilitasi istirahat
dan tidur.

Edukasi:
20. Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri.
21. Jelaskan strategi
meredakan nyeri.
22. Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri.
23. Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat.
24. Anjurkan klien
untuk
menghindari diet
dan aktivitas fisik.
Makanan yang
perlu dihindari
seperti (Makanan
laut, daging
merah)

4.1.7 Implementasi
80

Klien 1 , Klien 2 ,
Nyeri Akut Nyeri Akut

D Implementas Evaluasi D Implementasi Evaluasi


x ai x

05-02-2021 S: klien 05-02-2021 S : klien


mengatakan mengatakan
14.30 masih mengalami 16.00 kedua lututnya
nyeri yang masih terasa nyeri
1. Melakukan 1. Melakukan
bengitu pada saat bangun
BHSP BHSP
menyakitkan, dan tidur dan klien
- klien masih - mengatakan
mengucap belum paham mengucapkan masih belum
salam cara mengatasi salam ingat teknik yang
nyeri tanpa diajarkan, hanya
- mengkonsumsi - ingat sedikit
memperkenal obat memperkenal
kan diri kan diri O:
O:
- - - TTV :
menanyakan - klien menanyakan
kabar tampak kabar TD :
kebingun 130/90mm
14.45 gan 16.10 Hg

2. Melakukan - TTV : 2. Melakukan N :


pengkajian pengkajian 88x/menit
keadaan TD : keadaan
umum 200/80 umum klien S : 37,2ºc
klien mmHg RR :
- TD :
- TD : N : 130/90mmHg 22x/mnt
200/80 85x/menit - Klien
mmHg - N :
S : 37,5ºc 88x/menit kembali
-N: menjelask
85x/menit RR : - S : 37,2ºc an tehnik
22x/mnt kompres
- S : 37,5ºc - RR : hangat
- Wajah 22x/menit mengguna
- RR : klien kan jahe
22x/menit tampak 16. 15
tapi hanya
grimace ingat
14.50 3.
Menjelaskan sedikit
- Kadar
3. asam urat pada klien dan
- Kadar
menjelaskan 11mg/dL keluarga
asam urat
pada klien tentang
10 mg/dL
dan keluarga tindakan apa
(masih
tentang yang harus
81

tindakan apa A : Tingkat nyeri dilakukan jika tinggi)


yang harus Belum Teratasi mengalami
dilakukan jika nyeri yang A : Tingkat nyeri
mengalami P : Lanjutkan kambuh pada Belum Teratasi
nyeri yang intervensi kaki klien
menjelaskan cara P : lanjutkan
kambuh pada dengan cara
mengurangi nyeri intervensi
kaki klien kompres
dengan tehnik menjelaskan
dengan cara hangat dengan
nonfarmakologi tehnik
kompres jahe
(kompres hangat nonfarmakologi
hangat dengan
menggunakan 16.35 untuk mengurangi
jahe
jahe) nyeri dengan
15.15 4. Sediakan kompres hangat
informasi menggunakan
4. Sediakan pada klien jahe
informasi tentang
pada klien kondisi klien
tentang
kondisi klien - cek asam
urat
- cek asam (10mg/dL)
urat
(11mg/dL) - menjelaskan
pantangan
- menjelaskan yang tidak
pantangan boleh
yang tidak dikonsumsi
boleh klien
dikonsumsi
klien 16.40

15.25 5.
Menganjurk
5. an pada
Menganjurkan klien agar
pada klien tetap
agar tetap meminum
meminum obat yang
obat yang telah
telah dianjurkan
dianjurkan (Ketoprofen
(Indomethacin 3x50mg,
2x50mg, Viostin DS
Captopril 3x1)
2x50mg, asam 16.45
fenamat 3x1)
6.
Mendiskusika
15.30 n kontrak
pertemuan dan
82

6. jadwal
Mendiskusika pertemuan
n kontrak selanjutnya
pertemuan
dan jadwal
pertemuan
selanjutnya

10-02-2021 S: 10-02-2021 S : klien


Klien mengatakan nyeri
15.00 mengatakan nyeri 16.45 pada lututnya
sudah berkurang. 1. sudah mendingan.
1. mengucap
O: kan salam O:
mengucapkan - Keadaan -
menanya - Keadaan
salam umum
kan kabar umum cukup
cukup
- - Klien - Klien dapat
menanya dapat 16.48
menjawab
kan kabar menjawa 2. Melakukan
pertanyaan
15.05 b pengkajia
tapi masih
2.Melakukan pertanya n
terlihat
pengkajian an keadaan
kebingungan
keadaan - TTV : umum
umun klien TD : klien - TD : 120
- TD : 190/80 - TD : mmHg
190/80 mmHg 120/80
mmHg N : mmHg N :
- N: 89x/menit - N : 85x/menit
89x/m S : 37,0ºc 85x/meni
t S : 37,0ºc
enit RR :
- S: 20x/menit - S : 37,0ºc RR :
37,0ºc Kadar asam urat - RR : 20x/menit
- RR : 10 20x/meni
20x/m mg/dL t
enit
16.55 A : Tingkat nyeri
A : Tingkat nyeri
15.15 3. Melakukan mulai menurun
mulai
3. Melakukan menurun tindakan
P : Lanjutkan
tindakan P : lanjutkan kompres
Intervensi
kompres intervensi hangat
hangat menggun
mengguna akan jahe
kan jahe pada lutut
pada klien (±)
punggung 20 menit.
kaki klien
(±) 20 17.15
4.
83

menit Menanya
kan
15.40 bagaiman
4. a
Menanyakan kenyama
bagaimana nan
kenyamanan setelah
setelah dilakukan
dilakukan kompres
kompres hangat
hangat menggun
menggunakan akan
jahe jahe.

16.10 17.20
5. Sediakan 5. Sediakan
informasi informasi
pada klien pada
tentang klien
kondisinya tentang
- cek asam kondisiny
urat klien 9 a
mg/dL - cek asam
urat klien
16.15 9 mg/dL
6.Menganjurk 17.25
an pada klien 6.
agar tetap menganju
rkan pada
meminum
klien agar
obat yang tetap
telah meminu
dianjurkan m obat
(Indomethacin yang
2x50mg, telah
Captopril dianjurka
n
2x50mg, asam
(Ketoprof
fenamat 3x1) en
3x50mg,
16.20 Viostin
7.KIE klien DS 3x1)
agar tetap
menjaga 17.28
diit asam 7. KIE klien
urat dan agar tetap
istirahat menjaga
klien diit asam
84

dengan urat dan


cukup istirahat
dengan
cukup
16.22
8. 17.30
Mendiskusik 8.
an kontrak Mendiskusika
pertemuan n kontrak
dan jadwal pertemuan dan
pertemuan jadwal
selanjutnya pertemuan
selanjutnya

15-02-2021 S : klien 15-02-2021 S : klien


mengatakan kaki mengatakan
14.00 sudah terasa enak 15.15 lutunya sudah
1. dibuat berjalan 1. tidak sesakit
-mengucapkan skala nyeri 2 - mengucapkan seperti dulu skala
salam salam nyeri 3
O: - menanyakan
-menanyakan kabar O:
kabar - keadaan umum
cukup 15.18 - keadaan umum
14.10 2.Melakukan cukup
- Klien tampak
2.Melakukan pengkajian
memahami - klien sudah
pengkajian keadaan umum
penyakitnya memahami makan
keaadaan klien
apa saja yang
umum klien - klien bisa - TD : 130/80
tidak boleh
- TD : 200/90 melakukan mmHg
dikonsumsi
mmHg pengompresan - N : 88x/menit
-N: sendiri - S : 37,5ºc - klien mampu
87x/menit - RR : melakukan
- S : 37,0ºc - TTV 21x/menit kompres hangat
- RR : menggunakan
21x/menit TD : 200/90
jahe sendiri
mmHg
- TTV
N : 87x/menit
15.25
14.20 3.Melihat klien TD : 130/80
S : 37,0 ºc
3. Melihat melakukan N : 88x/menit
klien RR : 21x/menit tindakan
melakukan kompres S : 37,5 ºc
tindakan A : Tingkat nyeri
hangat
kompres menurun RR : 21x/menit
menggunakan
hangat P : Hentikan jahe
menggunakan A : Tingkat nyeri
Intervensi menurun
jahe sendiri 15.45
- KIE klien 4. menanyakan
85

14.40 dan bagaimana P : Hentikan


4.Menanyakan keluarga kenyamanan Intervensi
bagaimana untuk setelah
kenyamanan mengomp dilakukan - KIE klien
setelah res hangat kompres dan
dilakukan mengguna hangat keluarga
kompres kan jahe menggunakan untuk
hangat saat nyeri jahe mengompr
menggunakan timbul es hangat
jahe. 15. 50 mengguna
- KIE klien 5. Sediakan kan jahe
14.45 untuk informasi pada saat nyeri
5. Sediakan beristirah klien tentang timbul
informasi at cukup kondisinya
- KIE klien
pada klien - cek asam urat
- KIE klien untuk
tentang klien 7 mg/dL
kondisinya untuk beristiraha
- cek asam menjaga 15.55 t cukup
urat klien 7 diit 6. - KIE klien
arthritis - KIE klien
mg/dL agar tetap untuk
gout menjaga diit menjaga
14.50 asam urat dan diit
6. - KIE klien istirahat arthritis
agar tetap dengan cukup gout
menjaga diit - KIE klien
asam urat dan untuk tetap
istirahat berolahraga
dengan cukup - KIE klien
- KIE klien untuk minum
untuk tetap air 7-8 gelas
berolahraga perhari
- Kie klien
untuk minum
air putih 7-8
gelas perhari

16.00
7.
15.05 Menganjurkan
7.Menganjurk klien untuk
an klien untuk tetap
tetap meminum obat
meminum yang telah
obat yang dianjurkan
telah (Ketoprofen
dianjurkan 3x50mg,
(Indomethacin Viostin DS
2x50mg, 3x1)
86

Captopril
2x50mg, asam 16.05
fenamat 3x1) 8. KIE klien
tatap
15.10 melakukan
8. KIE klien kopres air
tetap hangat
melakukan menggunakan
kompres air jahe ketika
hangat klien
menggunakan merasakan
jahe ketika nyeri dan
klien sebelum nyeri
merasakan bertambah
nyeri dan berat
sebelum nyeri
bertambah
berat

4.2 Pembahasan
Berdasarkan pengkajian dan hasil penelitian studi kasus yang
telah dilakukan dengan judul Asuhan Keperawatan Klien Gouth Athritis
Dengan Nyeri Akut Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten
Malang. Pada bab ini tentang kesenjangan antara teori, fakta, dan opini.
Kasus yang sudah dikelola yaitu Ny. M berumur 56 tahun berjenis kelamin
perempuan dan Ny. S berumur 60 tahun berjenis kelamin perempuan yang
memiliki diagnose medis yang sama yaitu Gout Atritis. Kedua klien ini
memiliki masalah yang sama yaitu nyeri akut. Pembahasan ini disusun
berdasarkan teori, fakta, dan opini dengan menggunakan manajemen
asuhan keperawatan yaitu pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi,
implementasi dan evaluasi.
Fakta yang didapatkan saat pengkajian BHSP (Bina Hubungan
Saling Percaya) komunikasi terapeutik. Ny. M sangat kooperatif dan
sangat senang saat dikunjungi oleh mahasiswa. Ny. M sangat
berterimakasih atas kunjungan mahasiswa dating kerumahnya dengan
begitu klien bisa melakukan tehnik kompres hangat menggunakan jahe
untuk mengurangi nyeri. Sedangkan Ny. S juga sangat kooperatif saat
dikunjungi mahasiswa dan klien dapat bercerita banyak tentang apa yang
87

sedang dirasakan klien. Menurut teori (Damayanti, 2010) tehnik BHSP


(Bina Hubungan Saling Percaya) komunikasi terapeutik adalah tehnik
untuk mendekati pasien. Dari pengkajian ini tidak menimbulkan begitu
perbedaan dikarenakan Ny. M dan Ny. S sangat kooperatif dengan adanya
kunjungan mahasiswa untuk penelitian.
Pada kedua klien dilakukan intervensi yang sama selama tiga hari
mendapat perbedaan antara dua responden yaitu, Klien 1 Ny. M
mengatakan (±) 2 bulan yang lalu sudah menderita penyakit asam urat,
jika beraktivitas terlalu lama klien sering mengalami nyeri pada kaki, skala
nyeri 2, nyeri yang dirasakan hilang timbul, nyeri seperti ditusuk-tusuk.
Klien juga mengatakan mempunyai riwayat hipertensi. dan klien 2 Ny. S
mengatakan (±) 2,5 bulan yang lalu sudah menderita asam urat, kedua
lututnya sering nyeri terutama saat bangun tidur. Skala nyeri 3, nyeri yang
dirasakan menjalar, nyeri tidak terus menerus. Kedua klien dikatakan nyeri
akut apabila nyeri itu tidak lebih dari 3 bulan (Prasetyo; 2010)
Dari data di atas dapat di simpulkan bahwa dari 2 responden yang
telah di lalakukan penelitian dengan diagnosa nyeri Akut dan memberikan
intervensi yang sama dalam waktu 3 hari. Bahwa ada beberapa faktor yang
palingn berpengaruh untuk proses penyembuhan dan yang paling
berpengaruh dalam proses penyembuhan nyeri kronis. Dimana usia juga
berpengaruh dengan kekuatan fisik dan metabolisme seseorang yang
berbeda .Persepsi nyeri dipengaruhi oleh usia, karena semakin bertambah
usia maka semakin mentoleransi rasa nyeri yang timbul sehingga proses
penyembuhan juga sangat berpengaruh.
4.2.1 Pengkajian
Pengkajian klien dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Proses pengkajian berfokus pada klien sehingga data yang
didapatkan bisa maksimal. Pada kasus klien gout arthritis dengan nyeri
akut klien tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang ada,
dikarenakan kurangnya pengetahuan atau kurangnya informasi mengenai
kesehatan.
4.2.2 Diagnosa
88

Setelah melakukan pengkajian dan proses analisa data didapatkan


dua klien dengan nyeri akut yang ditandai pada saat pengkajian dua klien.
Kedua klien tersebut belum begitu memahami tehnik nonfarmakologi
kompres hangat menggunakan jahe untuk mengurangi nyeri.
Dengan data yang demikian dimana terdapat kecocokan antara
fakta dan teori maka diagnosa keperawatan yang dapat diangkat adalah
Lansia Gout Arthitis dengan Nyeri Akut.
4.2.3 Intervensi
Dari data dan pengkajian yang di dapat dari kedua klien ditemukan
masalah keperawatan yang sama yaitu nyeri kronis, sehingga intervensi
yang akan diberikan juga sama dengan menggunakan intervensi
SDKI,SLKI,SIKI.

Intervensi yang dilakukan di lapangan diawali dengan melakukan


BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya) pada klien dan keluarga. Dalam
BHSP perawat menggunakan teknik komunikasi terapeutik agar tujuan
tindakan yang akan dilakukan bisa terlaksana. Intervensi atau perencanaan
adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, dan
mengatasi masalah-masalah yang telah diidentifikasi dalam diagnose
keperawatan (Budiono, 2015). Menurut Ningsih (2012, hal. 226-238)
rencana asuhan keperawatan pada diagnosa keperawatan nyeri akut dapat
dilakukan tindakan sebagai berikut untuk mencapai tujuan dan kriteria
hasil : mengungkapkan dan menunjukkan nyeri hilang, terlihat rileks dan
dapat istirahat tidur. Kaji keluhan nyeri, skala nyeri serta cacat lokasi,
faktor-faktor yang mempercepat, dan respons rasa sakit non verbal. Berikan
kompres air hangat menggunakan jahe untuk mengurangi nyeri. Menurut
(Senna Qobita Dwi Putri et all, 2017) efek panas dari jahe tersebut dapat
menyebabkan terjadinya vasodilatasi pembulu darah sehingga terjadi
peningkatan sirkulasi darah dan menyebabkan penurunan nyeri dengan
menyingkirkan produk-produk inflamasi seperti bradikinin, histamine dan
prostaglandin yang menimbulkan nyeri, panas akan merangsang sel saraf
menutup, sehingga transmisi impuls nyeri medulla spinalis dan otak dapat
dihambat. Berdasarkan teori tersebut saya berhasil menurunkan atau
89

mengurangi rasa nyeri yang dialami oleh klien 1 dan klien 2 dalam kurun
waktu 2 minggu.

4.2.4 Implementasi
Implementasi pada klien merupakan proses pengelolaan dan
perwujudan dari intervensi yang telah disusun sebelumnya. Implementasi
dilakukan sebanhyak 3 kali kunjungan yang bertujuan untuk mencakup
semua intervensi. Implementasi yang dilakukan pada klien I dan II sama.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien 1 dan klien 2 yang
mengalami Nyeri akut sesuai dengan rencana intervensi yang mengacu
pada SDKI,SLKI,SIKI. Pada kunjungan pertama peneliti melakukan
tindakan yang dilakukan berupa melakukan BHSP (Bina Hubungan Saling
Percaya) pada klien dan keluarga, memberikan pendidikan kesehatan
kepada klien dan keluarga. Dan tidak lupa melakukan tindakan
pemeriksaan keadaan umum (tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan) dan
cek kadar asam urat.
Pada pertemuan ke 2 peneliti melakukan tindakan pemeriksaan
keadaan umum (tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan) dan cek kadar
asam urat pada kedua klien. Serta melakukan tindakan 2 kali kompres
hangat menggunakan jahe. Serta memberi pendidikan kesehatan tentang
penyakit arthritis gout, mulai dari makanan yang tidak boleh dikonsumsi,
berolahraga secara rutin.
Pada pertemuan ke 3 peneliti melakukan cek kadar asam urat dan
pemeriksaan keadaan umum (tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan) klien
dan melihat klien melakukan kompres hangat menggunakan jahe sendiri.
Dalam melakukan kompres hangat menggunakan jahe perlu
diperhatikan frekuensi pengkompresan, waktu yang tepat untuk
pengkompresan yaitu 20 menit dan kompres hangat menggunakan jahe
dilakukan dengan 3 kali seminggu agar dapat berhasil. Disini peran
keluarga juga sangat penting untuk kesembuhan klien. Mengevaluasi
tindakan yang sudah dilakukan, dan meninjau kembali tindakan pada
pertemuan kedua yang berfokus pada tingkat nyeri, menganjurkan klien
agar rutin untuk memeriksa kadar asam urat, menganjurkan keluarga dan
90

klien agar tetap mengkonsumsi obat yang sudah diberikan oleh perawat
desa.

4.2.5 Evaluasi

Hasil evaluasi yang dilakukan terhadap kedua klien menunjukkan


bahwa berjalan sesuai kriteria standart dari perencanaan dengan hasil
skala nyeri pada kedua klien mengalami penurunan.

1.) Pada Klien 1 (Ny.M)


Pada pertemuan pertama klien bisa membina hubungan saling
percaya Pada pertemuan kedua, klien dan keluarga sudah mulai paham
tata cara kompres hangat menggunakan jahe. Pertemuan ketiga, klien
sudah bisa melakukan kompres hangat menggunakan jahe dengan
bantuan keluarga. Pada tahap evaluasi ini didapatkan bahwa nyeri yang
terjadi pada klien (Ny.M) terjadi penurunan 1. Terjadi peningkatan
kemampuan secara individu dibeberapa aspek diantaranya, klien
mampu membina hubungan saling percaya, peningkatan pengetahuan,
sehingga klien mampu melakukan atau mengatasi nyeri dengan cara
kompres hangat menggunakan jahe dengan waktu pengompresan yang
tepat. Seperti tujuan yang telah direncanakan yaitu setelah dilakukan
tindakan asuhan keperawatan klien menunjukkan skala nyeri
berkurang.

2.) Pada Klien 2 (Ny.S)


Pada saat pertemuan pertama klien bisa membina hubungan saling
percaya. Pada pertemuan kedua, klien masih bingung bagaimana cara
kompres hangat menggunakan jahe. Pertemuan ketiga, klien sudah bisa
melaksanakan terapi kompres jahe hangat sendiri. Pada tahap evaluasi
ini didapatkan bahwa nyeri yang terjadi pada klien berkurang, pada
klien (Ny.S) mengalami penurunan 2. Karena klien melakukan
kompres hangat dengan jahe tidak bisa secara rutin, karena pekerjaan
klien yang sebagai pembantu rumah tangga. Terjadi peningkatan
91

kemampuan secara individu dibeberapa aspek diantaranya, klien


mampu membina hubungan saling percaya, mampu memahami atau
mengerti apa yang telah diajarkan, mampu melakukan kompres hangat
menggunakan jahe sendiri, mampu meminum obat secara teratur,
mampu menghindari apa yang bisa menyebakan kadar asam urat naik,
mampu beristirahat secara cukup, mampu berolahraga dengan teratur.
Langkah selanjutnya adalah mempertahankan perubahan yang telah
diperoleh klien dengan baik.
Dari hasil yang didapatkan pada klien I dan II sesuai dengan
kriteria hasil SDKI SIKI SLKI yaitu:
1. Klien menyatakan memahami tentang penyakit, kondisi,
prognosis, dan program pengobatan
2. Klien menyatakan memahami tentang makanan yang
diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan
3. Klien memahami tentang porsi dan jenis makanan yang
direkomendasikan
4. Klien dapat mengontrol tingkat nyeri
5. Klien memahami manfaat olahraga teratur
6. Klien mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
peneliti.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan serangkaian proses penelitian, dari pengkajian,
diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi
keperawatan dan evaluasi keperawatan maka didapatkan hasil yang
cukup berbeda. Diantaranya yaitu :
1. Pada saat pengkajian dengan klien yang mengalami gout arthritis
dilakukan dengan menggunakan teknik BHSP dengan
menggunakan komunikasi terapeutik, dikarenakan teknik BHSP
dengan menggunakan komunikasi terapeutik adalah teknik yang
sangat baik digunakan untuk pendekatan dengan klien maupun
keluarga dan menggali informasi baik dari keluarga maupun dari
klien, karena saat klien mulai terbuka dan mau bercerita berarti
klien sudah percaya dengan peneliti.
2. Setelah dilakukan analisa data didapatkan lebih dari satu diagnose
keperawatan sesuai dengan pengkajian yang dilakukan. Dari
berbagai diagnosa yang muncul peneliti hanya berfokus pada satu
diagnose keperawatan saja, yaitu nyeri kronis.
3. Intervensi yang dilakukan dapat diawali dengan melakukan teknik
BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya) pada klien dan keluarga
yang terlibat. Dalam BHSP perawat menerapkan teknik komunikasi
terapeutik agar tujuan dan tindakan yang akan dilakukan dapat
berjalan dengan sesuai yang diharapkan. Tindakan keperawatan
yang dilakukan pada klien gout arthritis dengan nyeri kronis
menggunakan kompres air hangat dengan jahe untuk mengurangi
skala nyeri, menganjurkan untuk beristirahat dengan cukup,
menjaga pola makan dan makanan apa saja yang boleh dikonsumsi
sesuai dengan rencana intervensi yang mengacu pada
SDKI,SLKI,SIKI.
4. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada kedua klien sesuai
dengan rencana keperawatan yang sudah ditentukan sebelumnya.

92
93

5. Setelah melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana


intervensi, maka peneliti melakukan evaluasi keperawatan kepada
kedua klien, dimana hasilnya adalah pada klien 1 setelah dilakukan
tindakan keperawatan skala nyeri berkurang, kadar asam urat
menurun, mengurangi aktivitas yang akan mempengaruhi pada
proses penyembuhan. Pada klien 2 setelah dilakukan tindakan
keperawatan skala nyeri klien berkurang, kadar asam urat menurun,
bisa melakukan kompres hangat dengan jahe, beristirahat dengan
cukup.
5.2 Saran
Dari studi kasus Asuhan Keperawatan Klien Gouth Athritis
Dengan Nyeri Akut Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten
Malang saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut:

5.2.1 Bagi Lahan Praktik


Bagi lahan praktek khususnya Puskesmas Turen diharapkan
mampu meningkatkan pelayanan kesehatan secara komperhensif
yang diberikan kepada klien Gout Arthitis dengan Nyeri Akut agar
derajat kesehatannya lebih meningkat.
5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Bagi institusi pendidikan diharapkan mampu
mengembangkan ilmu keperawatan gerontik sehingga bisa
memberikan ide-ide baru dalam peningkatan derajat kesehatan
gerontik menggunakan Asuhan Keperwatan Gerontik.
5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini bisa
dijadikan pedoman dalam menyusun penelitian dan bisa
menegmbangkan ke arah yang lebih baik lagi.
5.2.4 Bagi Klien Dan Keluarga

Bagi klien diharapkan setelah diberikan asuhan keperawatan


mampu menjaga kondisinya agar derajat kesehatan yang sudah
dicapai bisa ditingkakan, dan bagi kesehatan keluarga klien
94

diharapkan selalu mendukung segalanya. Dan waktu pengompresan


yang yang tepat adalah 30 menit dan dilakukan secara rutin.
DAFTAR PUSTAKA

Mulfianda, R., & Nidia, S. (2019). Perbandingan Kompres Air Hangat Dengan
Rendam Air Garam Terhadap Penurunan Skala Nyeri Penderita Arthritis
Gout. Semdi Unaya, 217–225.

Mellynda. (2017). Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Penurunan Skala Nyeri


Pada Penderita Gout Arthritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Bahu Manado.
STIKES Manado.

Rahayu, I. D., Budiharto, I., & Herman. (2018). Perbandingan Efektivitas


Pemberian Kompres Hangat Jahe dan Kompres Parutan Jahe Putih (Zingiber
Officinale R) Terhadap Skor Nyeri Penderita Gout di Wilayah Kerja
Puskesmas Sungai Durian Kubu Raya. Universitas Tanjungpura Pontianak.
Retrieved from file:///C:/Users/ACER/Downloads/27303-75676585298-1-PB
(3).pdf

Samsudin, A., Kundre, R., & Onibala, F. (2016). Pengaruh Pemberian Kompres
Hangat Memakai Parutan Jahe Merah (Zingiber Officinale Roscoe Var
Rubrum) Terhadap Penurunan Skala Nyeri Padapenderitagout Artritis Di
Desa Tateli Dua Kecamatan Mandolang Kabupeten Minahasa. Jurnal
Keperawatan UNSRAT, 4(1), 114041.

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
MediAction

Manampiring, A. E. (2013). Hiperurisemia Dan Respons Imun. Jurnal Biomedik


(Jbm), 3(2). https://doi.org/10.35790/jbm.3.2.2011.865

Saifullah, A. 2015. Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Tindakan


Perawat dalam Managemen Nyeri Post Operasi di Bangsal Bedah RSUD
DR Suehadi Prijonegoro Sragen

95
Andarmoyo, S. (2013). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Ar-Ruzz:
Yogyakarta

Hidayat, A.A..(2014). Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknis Analisis Data.


Jakarta : Salemba Medika

Smeltzer, Susan C. 2013. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &Suddarth ; Alih


Bahasa, Devi Yulianti, Amelia Kimin ; editor edisibahasa Indonesia, Eka
Anisa Mardella. –Ed. 12. Jakarta : EGC

Potter, P.A, Perry, A.G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik. Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata
Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.

Potter and Perry. (2009). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Alih bahasa.
Jakarta: EGC

Noor, Juliansyah, 2016. Metodologi Penelitian. Jakarta :Kencana Prenada Media.


Group. Panjika 2000. Alfabeta.

Fatmawati, Lis. 2011. Pengaruh Teknik Relaksasi Pernafasan Terhadap Tingkat


Rasa Nyeri Pada Ibu Bersalin Kala I di BPS Mu’rofah, Amd.Keb. Universitas
Muhammadiyah Surabaya.

Parulian, T. S., Sitompul, J., & Oktrifiana, A. N. (n.d.). PENGARUH TEKNIK


EFFLEURAGE MASSAGE TERHADAP PERUBAHAN NYERI PADA IBU
POST PARTUM DI RUMAH SAKIT SARININGSIH BANDUNG.

PEMBERIAN KOMPRES HANGAT MEMAKAI JAHE UNTUK MERINGANKAN


SKALA NYERI PADA PASIEN ASAM URAT DI DESA KEDUNGWUNGU
KECAMATAN TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN. (n.d.).
http://www.dinkesgrobogan.co.id

96
Prabasari, N. A., Fakultas, P., Universitas, K., Widya, K., Surabaya, M., Raya, J.,
& Selatan, K. (2019). LITERATURE REVIEW: PENGARUH JAHE
TERHADAP SKALA NYERI PADA LANSIA DENGAN ARTRITIS
GOUT (A Literature Review: Effect of Ginger to Decrease Scale of Pain
Gout Arthiris in Elderly). In Jurnal Ners LENTERA (Vol. 7, Issue 2).

Chang, Ester. Daily, Jhon dan Elliot, Doug. 2010. Patofisiologi Aplikasi Pada
Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC

Anna, et al. 2016. Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Memakai Parutan Jahe
Merah Terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Penderita Gout Arthritis di
Desa Taleti Dua Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa. Vol. 4 No.
1
Noor, Zairin. 2016. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba
Medika

Prasetyo. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kusyati (2006). Keperawatan Dasar. Jakarta : ECG

LeMone, Burke, & Bauldoff, (2016). Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa.

Jakarta: EGC

Rosdahl, C. B, dan Kowalski, M. T. (2014). Buku Ajar Keperawatan Dasar. Edisi


10. Jakarta : EGC.
Setiadi, 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu

97
LAMPIRAN LAMPIRAN

1.1Lampiran Informed Consent

INFORMED CONSENT

Kepada :
Yth. Bapak / Ibu / Sdr
Desa Tanggung
di Tempat

Dengan hormat,

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir Program Studi Keperawatan


Program Diploma III Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen, maka saya :

Nama : Fauza Akmal Fadhil Syah

NIM : 1810012

Semester : V ( Lima )

Bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul “Asuhan Keperawatan


Hipertensi Pada Lansia Dengan Ketidakpatuhan Program Pengobatan Di Desa
Tempursari”. Demi kelancaran penelitian ini saya mengharapkan partisipasi
saudara-saudari dengan menjawab semua pertanyaan yang diberikan sesuai
pertanyaan yang telah disediakan.

Adapun hal-hal yang bersangkutan dengan data diri anda saya jamin atas
kerahasiannya. Oleh karena itu dalam pengisian kuisioner ini tidak perlu
mencantumkan nama terang demi menjaga kerahasiaan tersebut

Mengetahui,
Kepala Desa Tanggung Hormat Saya,

Fauza Akmal Fadhil Syah


NIM. 1810012
1.2 Lampiran Inform Consent

INFORMED CONSENT

(PERNYATAAN PERSETUJUAN SEBAGAI RESPONDEN)

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Pekerjaan :

Alamat :

Setelah mendapatkan penjelasan tentang manfaat, tujuan dan resiko dari


pelaksanaan proses penelitian, maka saya menyatakan bersedia menjadi responden
dalam keadaan sadar, jujur dan tidak ada paksaan dari penelitian

Nama : Fauza Akmal Fadhil Syah

NIM : 1810012

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat : Desa Tanggung RT.04 RW.07 Kec. Turen

Judul : Asuhan Keperawatan Gouth Athritis Dengan Nyeri Akut


Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang

Surat ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Atas perhatiannya saya ucapkan
terimakasih.

Turen, 01 Oktober 2020

(...............................................)

Nama terang dan tanda tangan


1.3 Lampiran Format Pengkajian

FORMAT PENGKAJIAN LANSIA


ADAPTASI TEORI MODEL CAROL A MILLER
STIKES KEPANJEN

Nama wisma : Tanggal Pengkajian :


1. IDENTI :
TAS
KLIEN
Nama : ...................................................................................................
................................
Umur : ...................................................................................................
................................
Agama : ...................................................................................................
................................
Alamat : ...................................................................................................
asal ................................
Tanggal : .......................................... Lama Tinggal di
datang Panti ...................................................
2 DATA :
. KELUA
RGA
Nama : ...................................................................................................
...............................
Hubungan : ...................................................................................................
...............................
Pekerjaan : ...................................................................................................
...............................
Alamat : ...................................................................Telp : ....................
...............................
3 STATUS KESEHATAN SEKARANG :
.
Keluhan utama:

Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:

Obat-obatan:

4. AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES


MENUA) :
1. Kondisi Umum
Ya Tidak
Kelelahan :
Perubahan BB :
Perubahan nafsu :
makan
Masalah tidur :
Kemampuan ADL :
KETERANGAN : ......................................................................................................

......................................................................................................
FUNGSI FISIOLOGIS
2. Integumen
Ya Tidak
Lesi / luka :
Pruritus :
Perubahan :
pigmen
Memar :
Pola :
penyembuhan lesi
KETERANGAN : ..........................................................................................................

..........................................................................................................

3. Hematopoetic
Ya Tidak
Perdarahan :
abnormal
Pembengkakan :
kel. Limfe
Anemia :
KETERANGAN : .....................................................................................................

4 Kepala
.
Ya Tidak
Sakit kepala :
Pusing :
Gatal pada kulit :
kepala
KETERANGA : ..............................................................................................................................
N .

..............................................................................................................................
.

5 Mata
.
Ya Tidak
Perubahan :
penglihatan
Pakai kacamata :
Kekeringan mata :
Nyeri :
Gatal :
Photobobia :
Diplopia :
Riwayat infeksi :
KETERANGA : .....................................................................................................................
N ...

.....................................................................................................................
...

6. Telinga
Ya Tidak
Penurunan pendengaran :
Discharge :
Tinitus :
Vertigo :
Alat bantu dengar :
Riwayat infeksi :
Kebiasaan membersihkan :
telinga
Dampak pada ADL : ..........................................................................................
KETERANGAN : ..........................................................................................

..........................................................................................

7. Hidung sinus
Ya Tidak
Rhinorrhea :
Discharge :
Epistaksis :
Obstruksi :
Snoring :
Alergi :
Riwayat infeksi :
KETERANGAN : ...................................................................................................................

...................................................................................................................

8. Mulut,
tenggorokan
Ya Tidak
Nyeri telan :
Kesulitan menelan :
Lesi :
Perdarahan gusi :
Caries :
Perubahan rasa :
Gigi palsu :
Riwayat Infeksi :
Pola sikat gigi : ........................................................................................................
KETERANGAN : ........................................................................................................

........................................................................................................

9 Leher
.
Ya Tidak
Kekakuan :
Nyeri tekan :
Massa :
KETERANGA : ...............................................................................................................
N ..........

...............................................................................................................
..........

10 Pernafasan
.
Ya Tidak
Batuk :
Nafas pendek :
Hemoptisis :
Wheezing :
Asma :
KETERANGA : ...........................................................................................................
N ........
...........................................................................................................
........

11 Kardiovaskuler
.
Ya Tidak
Chest pain :
Palpitasi :
Dipsnoe :
Paroximal :
nocturnal
Orthopnea :
Murmur :
Edema :
KETERANGA : ..........................................................................................................
N .....

..........................................................................................................
.....

12 Gastrointestinal
.
Ya Tidak
Disphagia :
Nausea / :
vomiting
Hemateemesis :
Perubahan nafsu :
makan
Massa :
Jaundice :
Perubahan pola :
BAB
Melena :
Hemorrhoid :
Pola BAB : .........................................................................................................
..
KETERANGA : .........................................................................................................
N ..

.........................................................................................................
..

13 Perkemihan
.
Ya Tidak
Dysuria :
Frekuensi : .......................................................................................................
Hesitancy :
Urgency :
Hematuria :
Poliuria :
Oliguria :
Nocturia :
Inkontinensia :
Nyeri berkemih :
Pola BAK : .........................................................................................................
..
KETERANGA : .........................................................................................................
N ..

.........................................................................................................
..
14 Reproduksi (laki-
. laki)
Ya Tidak
Lesi :
Disharge :
Testiculer pain :
Testiculer massa :
Perubahan gairah :
sex
Impotensi :

Reproduksi
(perempuan)
Lesi :
Discharge :
Postcoital bleeding :
Nyeri pelvis :
Prolap :
Riwayat menstruasi : ..............................................................................................
Aktifitas seksual :
Pap smear :
KETERANGAN : ...........................................................................................................

...........................................................................................................

15 Muskuloskeletal
.
Ya Tidak
Nyeri Sendi :
Bengkak :
Kaku sendi :
Deformitas :
Spasme :
Kram :
Kelemahan otot :
Masalah gaya :
berjalan
Nyeri punggung :
Pola latihan : ............................................................................................
Dampak ADL : ..................................................................................................
KETERANGAN : ...........................................................................................................

...........................................................................................................

16 Persyarafan
.
Ya Tidak
Headache :
Seizures :
Syncope :
Tic/tremor :
Paralysis :
Paresis :
Masalah memori :

5 POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :


.
Psikososial YA Tidak
Cemas :
Depresi :
Ketakutan :
Insomnia :
Kesulitan dalam mengambil :
keputusan
Kesulitan konsentrasi :
Mekanisme koping : ............................................................
....................

............................................................
....................
Persepsi tentang
kematian :..................................................................................................
.............

................................................................................................................
Dampak pada
ADL :.......................................................................................................
..................

.................................................................................
........................................

Spiritual
 Aktivitasibadah :..........................................................................
......................................
.........................................................................
.......................................

 Hambatan :........................................................................
........................................
..........................................................................
........................................
KETERANGAN :....................................................................................
........................................

...................................................................................................................
........................................

6 LINGKUNGAN :
.

 Kamar :................................................................................................
..........................................

 Kamarmandi :......................................................................................
.........................................

 Dalamrumah.wisma :...........................................................................
........................................

 Luarrumah :.........................................................................................
........................................

7. NEGATIVE FUNCTIONAL CONSEQUENCES

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No Kriteria Dengan Mandir Skor
Bantuan i Yang
Didapat
1 Makan 5 10
2 Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, atau 5-10 15
sebaliknya
3 Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, gosok 0 5
gigi)
4 Keluar masuk toilet (mencuci pakaian, menyeka 5 10
tubuh, menyiram)
5 Mandi 0 5
6 Berjalan di permukaan datar (jika tidak bisa, dengan 0 5
kursi roda )
7 Naik turun tangga 5 10
8 Mengenakan pakaian 5 10
9 Kontrol bowel (BAB) 5 10
10 Kontrol Bladder (BAK) 5 10

2. Aspek KognitifdenganMMSE (Mini Mental Status Exam)

N Aspek Nilai Nil Kriteria


o Kognitif Maksi ai
mal Kli
en
1 Orientasi 5 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : .............................
Hari :................................................
Musim : ............................
Bulan : .............................................
Tanggal :
2 Orientasi 5 Dimanasekarangkitaberada ?
Negara: …………………… Panti :
………………………………..
Propinsi: ………………….. Wisma :
……………………………..
Kabupaten/kota :
…………………………………………
………….
3 Registrasi 3 Sebutkan 3 namaobyek (misal : kursi,
meja, kertas), kemudian
ditanyakankepadaklien, menjawab :
1) Kursi 2). Meja 3).
Kertas
4 Perhatiandankal 5 Meminta klien berhitung mulai dari 100
kulasi kemudian kurangi 7 sampai 5 tingkat.
Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72
5). 65
5 Mengingat 3 Mintaklienuntukmengulangiketigaobyek
padapoinke- 2 (tiappoinnilai 1)
6 Bahasa 9 Menanyakan pada klien tentang benda
(sambil menunjukan benda tersebut).
1). ...................................
2). ...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata
berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :

Minta klien untuk mengikuti perintah


berikut yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut
(bila aktifitas sesuai perintah nilai satu
poin.
7). “Tutup mata anda”
8). Perintahkan kepada klien untuk
menulis kalimat dan
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang
saling bertumpuk

Total nilai 30
Interpretasihasil :
24 – 30 : tidakadagangguankognitif
18 – 23 : gangguankognitifsedang
0 - 17 : gangguankognitifberat

Kesimpulan :
…………………………………………………………………………………..
3. Tes Keseimbangan
Time Up Go Test

N Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik)


o

Rata-rata Waktu TUG


Interpretasi hasil

Interpretasi hasil:
Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut:
>13,5 detik Resiko tinggi jatuh

>24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun


waktu 6 bulan

>30 detik Diperkirakan membutuhkan


bantuan dalam mobilisasi dan
melakukan ADL

(Bohannon: 2006; Shumway-Cook,Brauer & Woolacott: 2000; Kristensen,


Foss & Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991)

4. Kecemasan, GDS
Pengkajian Depresi
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tdk Hasil
1. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1
2. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan 1 0
3. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0
4. Anda sering merasa bosan 1 0
5. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1
8. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0
7. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1
8. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0
9. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan 1 0
sesuatu hal
10 Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda 1 0
.
11 Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1
.
12 Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0
.
13 Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1
.
14 Anda merasa tidak punya harapan 1 0
.
15 Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda 1 0
.
Jumlah
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam
Gerontological Nursing, 2006)
Interpretasi :
Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

5. Status Nutrisi

Pengkajian determinan nutrisi pada lansia:

No Indikators score Pemeriksaan


1. Menderita sakit atau kondisi yang mengakibatkan perubahan 2
jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi
2. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3
3. Makan sedikit buah, sayur atau olahan susu 2
4. Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum minuman 2
beralkohol setiap harinya
5. Mempunyai masalah dengan mulut atau giginya sehingga tidak 2
dapat makan makanan yang keras
6. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk membeli makanan 4
7. Lebih sering makan sendirian 1
8. Mempunyai keharusan menjalankan terapi minum obat 3 kali 1
atau lebih setiap harinya
9. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam enam bulan 2
terakhir
10. Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik yang cukup untuk 2
belanja, memasak atau makan sendiri
Total score
(American Dietetic Association and National Council on the Aging, dalam
Introductory Gerontological Nursing, 2001)

*centang pada kolompemeriksaanjikaditemukanindikastor pada lansia


Interpretasi:

0 – 2 : Good

3 – 5 : Moderate nutritional risk

6≥ : High nutritional risk

6. Hasil pemeriksaan Diagnostik

No Jenis pemeriksaan Tanggal Hasil


Diagnostik Pemeriksaan

7. Fungsi sosial lansia

APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA

Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

NO URAIAN FUNGSI SKOR


1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman- ADAPTATION
teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu
menyusahkan saya
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)saya PARTNERSHI
membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan P
masalah dengan saya
3. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya GROWTH
menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
aktivitas / arah baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya AFFECTION
mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi
saya seperti marah, sedih/mencintai
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya RESOLVE
meneyediakan waktu bersama-sama
Kategori Skor: TOTAL
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 22). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik
Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

LEMBAR KONSULTASI

Nama Mahasiswa : Fauza Akmal Fadhil Syah


NIM : 1810012
Judul KTI : Asuhan Keperawatan Gouth Athritis Dengan Nyeri Akut
Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang

Pembimbing 1 : Tri Nurhudi S, M. Kep

No Tanggal BAB Isi/Bimbingan Tanda Tangan


1 27-08-2020 Bab 1 Konsul Judul dan
Bab 1
2 6-09-2020 Bab 1 Acc bab 1
Lanjut bab 2
3 16-09-2020 Bab 2 Konsul bab 2
4 16-10-2020 Bab 2 Acc bab 2
Lanjut bab 3
ditambahkan
daftar pustaka
5 25-11-2020 Bab 3 Konsul bab 3
Acc bab 3 dan
siapkan uji
proposal

LEMBAR KONSULTASI

Nama Mahasiswa : Fauza Akmal Fadhil Syah


NIM : 1810012
Judul KTI : Asuhan Keperawatan Gouth Athritis Dengan Nyeri Akut
Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang

Pembimbing 2 : Nia Agustiningsih, S.Kep.,Ns.,M.Kep


N Tanggal Bab Rekomendasi Tanda
O Tangan
1. 20 – 8 – I Cari jurnal tentang tema yang akan diteliti
2020

2 23 – 8 – I Pertimbangkan keberadaan pasien gout artritis, jika pasien


2020 dalam pengobatan hasil akan bias karena apakah nyerinya
berkirang karena pengobatan atau karena kompres?
Tambahkan jurnal pendukung
3 27 – 8 – I Isi latar belakang:
2020 Introduction langsung fokus pada masalah
Justifikasi masalah yang diambil...uraikan bisa dengan
data atau hasil dari jurnal
Kronologis uraiakan secara singkat ttg manajemen nyeri
yang akan dilakukan dibandingkan dengan yang telah ada
Solusi uraikan askep (manajemen nyeri yang akan
diberikan pada pasien)
4 8–9 I Referensi jurnal maksimal 5 tahun terakhir
-2020 Referensi buku minimal 5 tahun terakhir
Pertimbangkan pasien yang digunakan apakah pasien yang
akut / kronis---harus konsisten dan pertimbangkan faktor2
yang mempengaruhi jika menggunakan pasien diantara
kedua pasien tersebut----tambahkan pada latar belakang
Lanjut bab 2
5 14 – 9 – II Perbaiki dan susun latar belakang
2020 Bab 2 ----fokus pada konsep yang akan diteliti
Perhatikan susunan, penulisan tata bahasa, tanda baca---
baca buku panduan kti

6 28 – 9 - II Kerangka konsep---uraian dengan jelas, perhatikan arah


2020 panah kerangka konsep karena mengandung makna
Kompres jahe jelaskan secara detail penggunaannya seperti
apa, kapan digunakan, selama berapa lama kompresnya,
kompresnya menggunakan apa,dilakukan berapa kali dalam
sehari, apakah setiap hari???-----cari dasarnya dari jurnal
----sebagai bahan membuat SOP sebelum dilaksanakan
pada partisipan
Tuliskan pengkajian nyeri hanya yang digunakan dalam
penelitian ini/tdk semua skala nyeri dituliskan dalam bab 2
Faktor2 yang mempengaruhi nyeri gout arthritis jelaskan
pada bab 2 sebagai pendukung dalam membuat pembahasan
7 20 – 10 III Tentukan partisipannya siapa-----masukkan dalam latar
– 2020 belakang
Uraikan tehnik pengambilan data sesuai dengan yang akan
dilaksanakan pada penelitian bukan hanya secara teori
Etik penelitian----uraikan secara aplikatif bagaimana prinsip
N Tanggal Bab Rekomendasi Tanda
O Tangan
etik yang dilakukan
Seluruh kutipan yang ada pada bab 1 sampai 3 harus masuk
dalam daftar pustaka

8 10 – 11 I- Konsistensi siapa yang akan diteliti -----gout yang akut atau


– 2020 III kronis ---mulai dari judul sampai akhir
Susun SOP kompres yang akan dilakukan
Buat leaflet ttg gout
Lengkapi draft

9 27 – 11 I- Cek kelengkapan draft---perbaiki draft proposal


– 2020 III ACC Ujian

22-02- Full Penulisan evaluasi harus jelas---apa yang dievaluasi---


2021 Dra untuk hasil evaluasi---kembali pada luaran—cek
ft Tambahkan penjelasan pada impelementasi dan evaluasi---
apakah dari kedua pasien hasilnya sama atau beberapa
faktor yang mempengaruhi---kaitkan dengan bab 2---
tambahkan jurnal

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


TERAKREDITASI “B” BAN-PT
Jl. Trunojoyo No. 16, Panggungrejo, Kepanjen – Malang Telp. (0341) 397644 – Fax. (0341)
396625
Website: http://stikeskepanjen-pemkabmalang.ac.id; E-mail: stikeskpj@stikeskepanjen-
pemkabmalang.ac.id

LEMBAR REVISI
Nama Mahasiswa : Fauza Akmal Fadhil Syah
NIM : 1810012
Judul : Asuhan Keperawatan Klien Gouth Athritis Dengan Nyeri
Akut Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten
Malang.
Tanggal Ujian : 08 Desember 2020
Pembahas I : Dr. Riza Fikriana, S.Kep,Ns.,M.Kep

NO BAB/HALAMAN URAIAN REKOMENDASI


1. Bab II Edukasi menyesuaikan Tinjau ulang untuk kriteria
partisipan, menyesuaikan
Intervensi disesuaikan
dengan SIKI & SLKI
(Terapi Jahe di perjelas
terkait berapa gramnya)

Sebutkan kandungan Sesuaikan yang ada di jurnal


2. Bab II
yang terkandung di
dalam jahe itu apa saja
Pembahas I

Dr. Riza Fikriana,S.Kep,Ns.,M.Kep


NIK.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


TERAKREDITASI “B” BAN-PT
Jl. Trunojoyo No. 16, Panggungrejo, Kepanjen – Malang Telp. (0341) 397644 – Fax. (0341)
396625
Website: http://stikeskepanjen-pemkabmalang.ac.id; E-mail: stikeskpj@stikeskepanjen-
pemkabmalang.ac.id

LEMBAR REVISI
Nama Mahasiswa : Fauza Akmal Fadhil Syah
NIM : 1810012
Judul : Asuhan Keperawatan Klien Gouth Athritis Dengan Nyeri
Akut Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten
Malang.
Tanggal Ujian : 08 Desember 2020
Pembahas II : Nia Agustiningsih, S.Kep,Ns.,M.Kep

NO BAB/HALAMAN URAIAN REKOMENDASI


1. Bab II Implementasi di Tujuan penelitian lebih di
sesuaikan kembali focuskan
dengan dengan masalah
keperawatan
(Gout Arthritis).

Tinjau ulang untuk kriteria


2. Bab II dan III Intervensi disesuaikan
partisipan, menyesuaikan
dengan SIKI & SLKI

3. Bab IV BHSP untuk pertemuan Cek implementasi


pertama saja
Pembahas II

Nia Agustiningsih,S.Kep,Ns.,M.Kep

NIK.201001021

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


TERAKREDITASI “B” BAN-PT
Jl. Trunojoyo No. 16, Panggungrejo, Kepanjen – Malang Telp. (0341) 397644 – Fax. (0341)
396625
Website: http://stikeskepanjen-pemkabmalang.ac.id; E-mail: stikeskpj@stikeskepanjen-
pemkabmalang.ac.id

LEMBAR REVISI
Nama Mahasiswa : Fauza Akmal Fadhil Syah
NIM : 1810012
Judul : Asuhan Keperawatan Klien Gouth Athritis Dengan Nyeri
Akut Di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten
Malang.
Tanggal Ujian : 08 Desember 2020
Pembahas III : Tri Nurhudi S., S.Kep,Ns.,M.Kep
NO BAB/HALAMAN URAIAN REKOMENDASI
1. Bab II& III Kolaborasi dipenuhi Menyesuaikan dengan SIKI &
secara Komprehensif SLKI, bisa mengenal masalah
kesehatan, merawat dan
meningkatkan kesehatan

Sesuaikan evaluasi
2. Bab II Menyesuaikan dengan SIKI &
kerangka konsep dengan
SLKI, bisa mengenal masalah
SLKI
kesehatan, merawat dan
meningkatkan kesehatan

Pembahas III
Tri Nurhudi S.,S.Kep,Ns.,M.Kep
NIK.200811005

Standart Operasional Prosedur


Kompres Hangat Menggunakan Jahe

A. Topik
Kompres Hangat Menggunakan Jahe untuk meringankan skala nyeri pada
klien gouth athritis

B. Kompres Hangat Jahe


Kompres jahe hangat dapat menurunkan nyeri atritis rhematoid. Kompres
jahe merupakan pengobatan tradisional atau terapi alternative untuk mengurangi
nyeri artritis rhematoid. Kompres jahe hangat memiliki kandungan enzim siklo-
oksigenasi yang dapat mengurangi peradangan pada penderita artritis rhematoid,
selain itu jahe juga memiliki efek farmakologis yaitu rasa panas dan pedas,
dimana rasa panas ini dapat meredakan rasa nyeri, kaku, dan spasme otot atau
terjadinya vasodilatasi pembuluh darah, mamfaat yang maksimal akan dicapai
dalam waktu 20 menit sesudah aflikasi panas .

C. Manfaat
Dari hasil Kegiatan ini diharapkan responden dapat menerapkan kompres
hangat menggunakan jahe, untuk menurunkan skala nyeri pada klien gouth athritis

D. Prosedur Kerja
a. Alat
1. Parutan jahe
2. Baskom kecil
3. Handuk kecil
b. Bahan
1. Jahe 100gram
2. Air secukup nya
c. Cara kerja
Untuk pelaksaan kompres hangat jahe dapat mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut
1. Infrm consent
2. Siap kan jahe 100 gram.
3. Cuci jehe dengan air sampai bersih
4. Parut Jahe
5. Siapkan wadah dan isi dengan air hangat suhu 30-400C (suam-suam kuku)
secukup nya
6. Masukan handuk kecil ke dalam air hangat tersebut kemudian tunggu beberapa
saat sebelum handuk di peras
7. Peraskan handuk kemudian tempelkan ke daerah sendi yang terasa nyeri klien.
8. tambahkan parutan jahe di atas handuk tersebut.
9. Pengompresan dilakukan selam 20 menit
10. Setelah selasai bereskan semua peralatan yang telah dipakai.
E. Evaluasi

Respons Klien
SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPIKOMPRES HANGAT
MEMAKAI JAHE PADA PENDERITA GOUTH ATHRITIS

Pokok Bahasan : Terapi kompres hangat dengan Jahe


Sub Pokok Bahasan :
1. Pengertian kompres jahe
2. Tujuan kompre sjahe
3. Pengaruh kompres jahe
4. Alat dan bahan kompres jahe
5. Cara terapi kompres jahe
Sasaran : Tn. T, Ny.M dan keluarga
Hari/Tanggal : 1 Oktober 2020
Waktu : 15 menit
Tempat : Kediaman Tn.T

A. LATAR BELAKANG
Kompres Jahe, karena jahe mengandung minyak asiri, gingerol dan
oleoresin yang bersifat menghangatkan. Kompres jahe baik digunakan
bagi penderita asam urat yang telah mengalami pembengkakan yang
berfungsi untuk memperlebar pembuluh darah dan memperlancar aliran
darah, sehingga bengkak dan nyeri dapat berkurang atau hilang.
B. TUJUAN PENYULUHAN UMUM
Setelah dilakukan penyeluhan selama ±15 menit di harapkan Tn.T, Ny. M
dan keluarga dapat memahami kompres hangat dengan jahe.
C. TUJUAN PENYULUHAN KHUSUS
Setelah dilakukan penyeluhan selama ±15 menit di harapkan Tn. T, Ny. M
dan keluarga dapat memahami kompres hangat dengan jahe.
1. Pengertian kompres jahe
2. Tujuan kompres jahe
3. Pengaruh kompres jahe
4. Alat dan bahan kompres jahe
5. Cara terapi kompres jahe
D. TEMPAT
Penyeluhan di lakukan di rumah Tn. T
E. MEDIA DAN ALAT
1. SAP
2. Leaflet
F. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
G. KISI-KISI MATERI
1. Pengertian kompres jahe
2. Tujuan kompres jahe
3. Pengaruh kompres jahe
4. Alat dan bahan kompres jahe
5. Cara terapi kompres jahe
H. KEGIATAN PENYULUHAN

KEGIATAN
NO
WAKTU PENYULUHAN PESERTA

1 2Menit Pembukaan - Menjawab


a. Salam pembukaan - salam
b. Perkenalan - Memperhati
c. Mengkomunikasikant kan
tujuan

2 8 Menit Kegiatan inti penyuluhan - Memperhati


a. Menjelaskandan kan
menguraikan materi - Bertanya
b. Membuka sesi Tanya
jawab
c. Menjawab
pertanyaan materi
penyuluhan
3 5 Menit Penutup - Menjawab
a. Menyimpulkan - pertanyaan
materi yang telah di - Menjawab
sampaikan - Salam
b. Melakukan evaluasi
penyuluhandengan
pertanyaan secara
lisan
c. Mengakhiri kegiatan
penyuluhan

I. EVALUASI
1. Evaluasi struktur
a. Kesiapan mahasiswa dalam memberikan materi penyuluhan
b. Media dan alat yang memadai
c. Settingan waktu sesuai dengan kegiatan
2. Evaluasi proses
a. Kegiatan penyuluhan di lakukan oleh mahasiswa sesuai dengan
jadwal yang sudah direncanakan
b. Peserta penyuluhan aktif berpartisipasi selama proses
penyuluhan berlangsung
c. Seluruh mahasiswa berperan aktif selama proses penyuluhan
berlangsung
3. Pertanyaaan
a. Apa tujuan kompres jahe ?
b. Apa pengaruh kompres hangat ?

MATERI PENYELUHAN
A. Pengertian
Kompres jahe dapat menurunkan nyeri pada asam urat. Kompres
jahe merupakan pengobatan tradisional atau terapi alternative untuk
mengurangi nyeri atau bengkak pada penderita asam urat. Kompres jahe
hangat memiliki kandungan enzim siklooksigenasi yang dapat
mengurangi peradangan pada penderita asam urat, selain itu jahe juga
memiliki efek farmakologis yaitu rasa panas dan pedas, dimana rasa
panas ini dapat meredakan rasa nyeri, kaku, spasme otot atau terjadinya
vasodilatasi pembuluh darah, manfaat yang maksimalakan di capai
dalam waktu 20 menit sesudah afikasi panas(Agustin, 2016).
B. Tujuan kompres hangat dengan Jahe
1. Memperlancar sirkulasi darah
2. Mengurngi bengkak dan nyeri
3. Merangsangperistaltic usus
4. Memperlancar pengeluaran getah radang (cairan eksudan)
5. Memberikan rasa hangat dan nyaman, (smeltzer, 2015)
C. Pengaruh Kompres Jahe
Efek dari kompres hangat untuk meningkatkan aliran darah.
Pemberian kompres hangat yang berkelanjutan berbahaya terhadap sel
epitel, menyebabkan kemerahan, kelemahan lokal, dan bisa terjadi
kelumpuhan. Kompres hangat Apabila diberikan satu jam atau lebih.
D. Alat dan Bahan
1. Waslap/handuk kecil
2. Parutan
3. Mangkuk/ wadah
4. Jahe 3-5 ruas

E. Cara mengompres
Untuk pelaksaan kompres hangat menggunakan jahe dapat mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut
1. Inform consent
2. Siap kan jahe 100 gram.
3. Cuci jehe dengan air sampai bersih
4. Parut Jahe
5. Siapkan wadah dan isi dengan air hangat suhu 40-500Csecukupnya
6. Masukan handuk kecil ke dalam air hangat tersebut kemudian tunggu
beberapa saat sebelum handuk di peras
7. Peraskan handuk kemudian tempelkan ke daerah sendi yang terasa nyeri
klien.
8. Tambahkan parutan jahe di atas handuk tersebut.
9. Pengompresan dilakukan selam 20 menit
10. Setelah selasai bereskan semua peralatan yang telah dipakai.
Sebaik kompres hangat jehe dilakukan dua kali dalam sehari pagi
dan sore agar mendapatkan hasil yang optimal. (An, 2015)
 
DAFTAR PUSTAKA

Anustina, 2016 .Kompres hangat asam urat.Jakarta


Smeltzer, 2015Program Study S-1 Keperawatan STIKES
Banyuwangi.2011.Panduan Keterampilan Prosedur Lab KDM 2.Jawa
Timur : EGC

Ns. Kusyati, Eni, S.Kep, dkk.2016.Ketermpilan Dan prosedur laboratorium.


Jakarta: EGC
Penanganan nyeri dengan Persiapan alat dan bahan :
terapi non-farmakologis  Parutan jahe
 Baskom kecil
 Handuk kecil
 Jahe 100 gr
 Air hangat
Kompres jahe merupakan
pengobatan tradisional atau Prosedur :
terapi alternative untuk
 Siapkan jahe 100 gr
mengurangi nyeri gouth  Parut jahe dengan air bersih lalu
atrhitis , jahe juga memiliki parut jahe
 Siapkan wadah dan isi air hangat
efek farmakologis yaitu rasa
suhu 30-60C
panas dan pedas, dimana  Masukan handuk kecil ke dalam air
rasa panas ini dapat hangat tersebut kemudian tunggu
meredakan rasa nyeri, kaku, beberapa saat sebelum handuk dip
eras
dan spasme otot  Peraskan handuk lalu tempelkan ke
daerah sendi klien yang terasa nyeri
 Tambahkan parutan jahe diatas
handuk tersebut
 Pengompresan dilakukan selama 15
menit TERIMAKASIH
 Setelah selesai bereskan peralatan
yang telah dipakai 
. Faktor Penyebab :
Athritis Gout adalah penyakit yang terjadi
GOUTH akibat adanya endapan Kristal-kristal
Faktor genetic
Jenis kelamin dan umur
monosodium rate dalam sendi yang akan
ATHRITIS / ASAM URAT berdampak terjadinya inflamasi dan nyeri
Berat badan
Mengkonsumsi alcohol berlebih
pada sendi
Makanan yang tinggi purin

Gejala yang sering muncul :

 Sendi terasa nyeri terutama pada


FAUZA AKMAL FADHIL SYAH
malam atau pagi hari
1810012
 Sendi terasa ngilu bahkan tampak
bengkak dan meradang (berwarna
kemerahan)
Penanganan Gout Athritis :
 Nyeri sendi berulang kali pada jari
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN Hindari makanan yang berkadar purin
kaki, jari tangan, tumit, siku dan
PROGRAM DIPLOMA III tinggi seperti (bayam, kangkung, jeroan,
pergelangan tangan ikan laut)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
 Pada kasus yang sangat parah Hindari mengkonsumsi alcohol istirahat
KEPANJEN yang cukup
persendian akan mengalami nyeri
2020 hebat saat bengkak

Anda mungkin juga menyukai